.
.
Spica Zoe
Present
AKKG Fiction
.
Disclaimer
Chara : Kadokawa Games
Story : Spica Zoe
.
"Dengar. Miliki aku sepuasmu. Tubuhku, nafsuku, napasku, perasaanku, jiwaku, semuanya. Tapi dengan satu syarat. Hembuskan sedesah kebahagianmu padaku setiap kita bercumbu."
.
Akagi - Kaga
.
.
Ingin ia akui bahwa ada rasa sakit tak terkira dan tak berwujud yang kini tengah ia rasakan.
Yukimura bukanlah pria pertama yang membuatnya merasa malang tak terbantahkan. Yukimura adalah pria kesekian yang berhasil menelanjangi ego cinta yang susah payah ia bungkus dan kubur dalam gelapnya perasaan.
Dan Yukimura adalah pria berengsek yang beruntung karena pada akhirnya Akagi sadar ia pernah begitu mencintai pria itu dulu, bahkan sampai mengkhianati sahabatnya sendiri.
.
.
"Duduklah."
Akagi menurut.
Ruang praktek yang sedang ia pijak saat ini memang cukup besar dan luas. Sudah lama ia tidak pernah mengunjungi wanita yang kini sedang menatapnya hangat saat ini untuk sekedar bertegur sapa sebagai seorang sahabat.
"Padahal jadwal periksamu harusnya kemarin, Akagi."
Akagi hanya diam.
Dulu Akagi pernah memiliki harapan besar dalam hidupnya.
Jauh sebelum ia merasa dikalahkan oleh takdir seperti saat sekarang ini.
Mimpi yang begitu ia harapkan harusnya tidak begitu mewah dari kebanyakan mimpi seorang gadis pada umumnya, itu yang ia pikir.
Mimpi untuk memiliki kebahagiaan yang semua orang pasti inginkan.
.
"Kau dari mana, pulang sepagi ini, nee-san?"
Fubuki menatap Akagi penuh tanya. Ini sudah kesekian kali gadis itu membukakan pintu meski Akagi tidak pernah mengharapkannya.
"Maaf jika aku membangunkanmu." Tanpa memandang, Akagi melangkah melewati posisi dimana Fubuki berdiri dan menatapnya.
"Bagaimana mungkin bisa aku terlelap ketika kau masih berada di luar sana, ditempat yang tidak aku tahu."
Akagi berhenti melangkah.
.
"Baiklah. Sepertinya aku harus menghukummu, Akagi."
Akagi bangkit, dengan bantuan wanita itu sendiri. Dirapikannya pakaiannya setelah ritual medis yang baru saja ia jalani, dan kembali melangkah mengikuti langkah sahabatnya menuju meja kerja tempat dimana tadi mereka memulai.
"Ini bukan hal yang kuinginkan dari sahabatku." Fusou meraih pena di sisi mejanya dan meraih kertas yang baru saja diberikan salah satu asisten yang membantunya bekerja di sana.
Ia memasang senyum.
"Apa terjadi sesuatu, Sou-san." Menatap gelisah, Akagi menyentuh perutnya yang kini ia khawatirkan. Sejujurnya, meski tidak sepenuhnya ingin menerima kenyataan, ada satu rasa dimana Akagi begitu menderita saat memikirkan bagaimana jika janin yang sedang ia kandung mengalami kelemahan hanya karena kebodohannya sendiri sebagai seorang calon Ibu.
"Sudah kuperingatkan padamu, jika dikehamilan pertama, semua wanita pasti akan canggung akan keadaan. Tapi, bukan berarti kau harus banyak pikiran untuk berpikir ini-itu hingga kau lupa jika itu bisa berdampak pada janinmu." Fusou memberikan selembar kertas itu pada Akagi dan tersenyum. "Tapi tidak masalah. Keadaan janinmu baik-baik saja. Hanya saja, kondisi tubuhmu lemah. Aku takut ini berdampak pada janinmu jika kau merasa terbeban seperti ini secara terus menerus. Bagaimana? Apa yang menjadi bahan pikirmu kali ini?" rasanya, Fusou begitu peduli pada Akagi.
Akagi menunduk diam. Diabaikannya lembaran pemeriksaan ditangannya. Dan menatap perutnya penuh penyesalan. Sekalipun ia memiliki sifat tanpa kompromi, biar bagaimanapun, Akagi menyayangi kandungannya.
"Tidak ada."
Akagi menggeleng pelan berusaha berdusta. Sekilas senyum tipis tanpa keikhlasan ia tunjukan pada Fusou yang menatapnya.
Kekhawatiran dihatinya tak pernah bisa sirna.
"Yukimura dipecat,"
Dan ketika mendengar kalimat terakhir Fusou, kekhawatiran Akagi bertambah. "Apa pendapatmu?" tanya Fusou menatap wajah Akagi lekat.
Tidak menjadi sebuah rahasia lagi bagi Fusou tentang bagaimana hubungan suaminya dengan wanita yang kini masih menunduk di depan matanya. Tapi, sekalipun tak pernah terbesit dalam hati Fusou untuk menghakimi Akagi, sahabatnya.
"Aku pun begitu." Sedikit perih, tapi Akagi harus mengakuinya.
Fusou mengerutkan keningnya. Bagian ini tidak ia dengar dari siapapun kecuali bibir Akagi sendiri yang berucap. Memikirkan bagaimana masa depan Akagi tanpa pekerjaan membuat Fusou menatapnya khawatir dan gelisah.
"Ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian melakukan kesalahan hingga dipecat bersamaan?" tanya Fusou. Ia bangkit dari kursinya dan mendekati posisi dimana Akagi menunduk, dan kini lebih memilih duduk di atas meja di hadapan Akagi. Menyilang kakinya dan melipat tangannya di dada.
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu, Sou-san."
Fusou mendengus tawa.
"Bahkan kau telah mengakui jika anak yang kaukandung adalah anak dari suamiku, apa masih ada yang bisa kau sembunyikan dariku?" tanyanya lembut.
Akagi meringis sakit.
Ucapan dari Fusou, seorang dokter kandungan yang telah ia percayakan untuk bertanggung jawab atas kesehatan kandungannya, membuat dadanya terasa sesak.
Kenyataannya, Fusou telah mengetahui segalanya.
Bagaimana seharusnya kepercayaannya dihancurkan oleh sahabatnya sendiri yang pada akhirnya malah lebih dulu mengandung benih dari sang suami.
"Yukimura curiga bahwa janin yang kukandung merupakan miliknya."
Fusou terdiam.
.
"Kau mau kemana?"
Akagi mengabaikan pertanyaan Yukimura. Pagi ini ia ingat bahwa ia harus memenuhi panggilan untuk sebuah pertemuan yang menunjuknya sebagai pengawas yang mewakili perusahaan tempatnya bekerja.
"Akagi-san, kau mau kemana? Bukannya ini masih terlalu cepat untuk beranjak pergi meninggalkanku?"
Sebuah sikap membisu sebagai pengabaian belum tentu membuat Yukimura diam dan menurut apa maunya Akagi. Buktinya kini, Akagi sudah berada dalam dekapan pria tak berbusana itu seperti malam yang telah mereka lalui beberapa jam tadi. Malam dimana ada desahan yang mengisi ruangan tempat mereka memadu kasih sebagai sepasang nafsu yang saling mencengkeram.
"Aku ada rapat pagi ini, Yukimura." Akagi berusaha melepas dekapan pria yang malam tadi membuatnya melayang berkali-kali. Dekapan yang awalnya biasa saja, hangat. Namun kali ini dilengkapi dengan intrik seksual yang dikendalikan nafsu.
Tidak lagi, batin Akagi.
Yukimura, mengecup kembali bibir Akagi. Membiarkan tangannya melepas kembali kaitan kancing kemeja yang baru saja Akagi rapikan ditubuhnya. Meraba tengkuk Akagi setelah kemeja itu berhasil ia lempar menjauh dari posisi mereka.
Nafsu.
Akagi mendorong pelan tubuh telanjang Yukimura yang mendekapnya. Memberikan waktu pada dirinya sendiri untuk bernapas.
"Masih ada waktu untuk melakukannya beberapa kali lagi, Akagi-san." Bisik Yukimura, memanfaatkan keadaan untuk mengangkat tubuh Akagi dan kembali membaringkannya di atas ranjang yang sama dengan ranjang yang menyerap peluh mereka tadi malam.
"Yukimura, aku harus menghadiri rapat hari ini." Seru Akagi yang berusaha melawan keinginan tubuhnya, meski ia sendiri sadar betapa besar nyala api yang Yukimura bakarkan pada sumbu nafsunya kini.
"Setelah aku berhasil mendengar kau mendesah beberapa kali lagi, maka aku akan melepaskanmu." Dan pada akhirnya, Akagi pun sadar, jika ia pun menginginkannya.
.
Fusou meraih jemari Akagi dan menggenggamnya erat. Ada rasa kepedulian yang bisa Akagi rasakan hingga tanpa ia sadar air matanya lolos begitu saja ketika Fusou memandangnya dengan sebuah senyuman.
Dalam hati kecil Akagi, ia menyesal telah melakukan tindakan sehina ini untuk sahabatnya. Tapi, berulang kali Fusou menyangkal bahwa ia baik-baik saja meskipun ia tahu segalanya.
"Aku akan mengantarmu pulang." Bisik Fusou, mendekap Akagi.
Jika ingin mengatakan siapa yang jahat diantara mereka, Fusou ingin menunjuk dirinya sendiri. Menikahi Yukimura bukan kemauannya. Ia tidak punya perasaan apapun dengan pria itu. Sekepingpun tidak. Mengetahui bahwa Yukimura menyakiti Akagi menjadi puncak dimana Fusou akhirnya menerima pinangan pria yang ia tahu sejak dulu sebenarnya begitu mencintai dan menginginkannya.
"Tidak perlu."
"Jangan katakan apapun untuk menolakku, Akagi. Karena itu tidak ada gunanya."
Dan sepenuhnya, inilah alasan mengapa Akagi benci dirinya sendiri.
.
.
Kaga tak hentinya merasa bahwa Fubuki pun tak hentinya menerornya dengan tatapan. Tak diberi masuk, Kaga melakukan aksi di depan pintu apartement Akagi dengan caranya sendiri. Sampai pada akhirnya, Fubuki merasa muak dan bersikeras bediri di tempat dimana Kaga berdiri saat ini. Mengawasinya.
Fusou membuka pintu mobilnya. Meraih beberapa kantung belanjaan yang tadi sempat ia belikan untuk memenuhi kebutuhan Akagi selama beberapa hari. Meskipun begitu banyak penolakan yang Akagi berikan atas niat baik Fusou, tapi tak ada satupun yag berhasil untuk membuat istri dari pria yang ia cintai itu berhenti memikirkan kebutuhannya.
"Jangan malu meminta bantuanku Akagi. Buang jauh harga dirimu, pikirkan kandunganmu. Dan, akan kuusahakan untuk mencarikanmu pekerjaan yang cocok. Jangan cemaskan masalah kebutuhan dan apapun yang bisa membuat beban pikirmu bertambah. Biar bagaimanapun, anak Yukimura adalah anakku." Bisik Fusou berhati-hati dengan barang bawaannya, dan ikut melangkah menemani langkah Akagi menuju pintu apartement di lantai atas bangunan tersebut.
"Dan aku pikir, kau sudah bisa mencari tempat tinggal yang tidak akan membebanimu seperti ini kelak. Biar bagaimanapun, menaiki anak tangga seperti ini dikehamilan besarmu nanti tidak akan membuatmu-"
Fusou seketika terdiam ketika langkah Akagi terhenti.
Bayangan Akagi yang mematung membuat Fusou menarik kesimpulan bahwa pandangan mata itu kini terikat pada pandangan mata seorang gadis di hadapan mereka yang sama tajamnya dengan pandangan mata Akagi.
"Fu-neesan‼" sontak Fubuki menjerit ketika diujung sana ada sosok yang ia kenal cukup lama sejak dulu. Fusou tersenyum menyambut langkah kaki Fubuki yang mennghampirinya. Diangkatnya kantung belanjaan di kedua sisi tangannya, memberi isyarat pada Fubuki bahwa ia tidak sedang dalam keadaan bisa mendekap saat ini.
Fubuki tersenyum.
"Banyak sekali bawaanmu, Fu-neesan. Apa kita akan melakukan pesta kecil malam nanti?" tanya Fubuki antusias. Diraihnya beberapa kantung dari tangan Fusou untuk meringankan beban dari wanita yang ia kenal sejak lama itu.
"Pesta kecilnya nanti saja. Ini hanya beberapa kebutuhan yang harus Akagi miliki untuk kehamilannya." Terang Fusou tanpa tahu ada mimik berbeda dari Kaga yang tanpa sengaja mereka abaikan di posisinya.
Terabaikan karena Kaga lebih memilih mengikat Akagi dengan pandangan matanya.
Mendengar kalimat Fusou, ada satu panggilan dalam batin Kaga. Panggilan yang memaksanya bertanya dalam hati tentang, bagaimana, siapa, mengapa dan lainnya untuk menerangkan keadaan yang tak ia mengerti saat ini.
Bagaimana caranya ada orang lain yang Kaga tidak tahu siapa, namun tahu kebenaran tentang kehamilan Akagi.
Siapa wanita ini?
Mengapa ia memenuhi kebutuhan Akagi?
Kapan ia dan Akagi memiliki waktu menjalin hubungan tanpa Kaga tahu?
Kaga benar-benar cemas memikirkan segalanya. Seharusnya, jika semua hal itu berhubungan dengan Akagi. Kaga yang akan bertanggung jawab sepenuhnya. Kebutuhan Akagi, temannya, tujuan hidup Akagi, kenyamanannya, kehamilannya, semua hal tentang Akagi bahkan masa depan wanita itu, harus menjadi tanggung jawab Kaga sepenuhnya. Karena Kaga telah berusaha menyakinkan dirinya bahwa Akagi adalah miliknya.
"Akagi?" Fusou memandang Akagi yang sejak tadi hanya diam membalas tatapan Kaga. Ada apa dengan keadaan ini, Fusou sendiri tidak tahu bagaimana mempertanyakannya. Sampai ketika Fubuki yang sudah belajar dari pemahamannya tentang hubungan Akagi dan Kaga mencoba membuka suara.
"Ah! Masuklah, Fu-neesan. Aku akan membuatkanmu teh-"
Kantung belanjaan di tangan Fusou terjatuh tanpa ia duga bagaimana bisa. Akagi menarik tangannya dan mendekapnya erat di depan semua orang yang berada di sana.
Kaga menggeram.
Dekapan Akagi pada wanita lain yang terjadi di depan matanya membuat tangannya mengepal kesal. Ini tidak bisa dibiarkan. Bagaimana bisa ia membiarkan Akagi mendekap wanita lain di depannya seperti ini.
Rasa cemburu dalam diri Kaga bagaikan bara api yang membakar arang. Dan kini, Akagi seperti menghembuskan angin di bara itu hingga baranya semakin menyala.
"Bantu aku untuk mengusir gadis itu, Sou-san." Bisikan yang Fusou dengar sebelum langkah kaki gadis yang Akagi maksud semakin mendekat.
"Lepaskan dia!" Kaga menahan amarahnya. Ditariknya tangan Fusou keras sampai dekapan wanita yang tidak ia kenal itu melepas dekapannya dari Akagi. Sontak, Akagi marah.
"Apa yang kau lakukan?" Akagi mendorong tubuh Kaga kasar. Membuat Fubuki hanya menahan diri untuk mengawasi mereka di posisinya. Sedang Fusou masih tak tahu harus berbuat apa. Tapi meski Fusou tak tahu harus bersikap bagaimana, ia tidak mungkin membiarkan Akagi memandang marah gadis yang kini ia tatap bingung, Kaga.
"'Apa yang kulakukan?' tanyamu?" Balas Kaga berusaha menahan amarahnya.
.
"Aku tidak mau."
Fubuki sedikit takut. Menyaksikan pertengkaran kecil antara Akagi dan Ayahnya membuatnya sedikit resah. Ia tidak tahu apa yang sedang mereka bahas pada saat itu. Tapi, melihat raut wajah Akagi yang terlalu berbeda dari Akagi yang ia kenal, membuatnya mengurungkan niat untuk mendekat.
"Akagi-san. Aku tidak mungkin membawa pergi muridku seperti yang kau mau." Pria itu menarik tangan Akagi. Memaksa gadis berseragam sekolah itu untuk memandangnya. Akagi menepis tangannya keras.
"Aku mencintaimu. Aku pikir itu sudah cukup untuk menghancurkan cara pandangmu yang masih saja menganggapku sebagai muridmu."
"Akagi-san‼"
Fubuki menutup telinganya. Memejamkan mata dan meringkuk takut ketika suara Ayahnya berhasil membuat Akagi terdiam. Tidak pernah seperti ini. Fubuki tidak pernah mendengar atau menyaksikan Ayahnya meninggikan suara pada siapapun, selain kali ini. Begitupun Akagi sendiri.
Ada kekecewaan dalam hati Akagi.
Kekecewaan yang membuatnya menatap angkuh pria beranak satu itu sambil menahan ketakutannya. Tidak hanya Fubuki, Akagi pun sama takutnya. Sebab ini pertama kali ia merasakan amarah dari kekasihnya.
"Aku pun sama mencintaimu. Tapi ini bukan caraku untuk membuatmu yakin jika aku pun tak ingin berpisah denganmu." Pria itu masih meninggikan suaranya. Menatap Akagi sama kecewa. "Kembalilah pada orangtuamu. Masa depanmu masih panjang. Apa yang kau harapkan dari pria sepertiku? Kau masih belum paham makna cinta yang berdefinisi rendah di dalam kepalamu jika kau pikir aku setuju untuk membawamu lari dari orang tuamu!"
Akagi meradang.
Kekecewaan yang telah ia rasa, bertambah berlipat kali ganda. Padahal ia sudah begitu jauh melangkah. Begitu jauh berulah sampai ia menyakiti hati orang tuanya. Bahkan menyakiti dirinya sendiri yang merendahkan diri mencintai pria dihadapannya kini.
Mencintai setulus hati.
"Aku tidak ingin kembali."
Ucapan yang tak ingin pria itu dengar.
"Kalau begitu, aku yang akan mengusirmu."
Dan selanjutnya, Akagi memaksa dirinya untuk tidak percaya bahwa itu adalah kenangan yang paling menyakitkan baginya.
.
Fubuki menutup pintu kamarnya.
Membiarkan Kaga, Fusou dan Akagi duduk di ruang tamu kecil apertemen mereka. Tidak ada yang meminta ia meninggalkan mereka bertiga. Tapi mungkin ini hanya inisiatif kecilnya ketika ia tahu, kemungkinan besar ia sedikit terkenang akan kenangan masa kecilnya.
Sebelum ada kalimat yang terucap untuk memulai percakapan mereka, Kaga menelusuri sekali lagi kantung belanjaan yang terletak belum tersusun di atas meja makan di ruang dapur.
Bukankah tadi ia mendengar jika itu semua adalah untuk memenuhi kebutuhan Akagi? Rasanya, jika ia harus mengulang lagi hal itu dikepalanya, ia benar-benar akan mengamuk saat ini.
"Aku Fusou, sahabat Akagi. Senang berkenalan denganmu." Sebuah ramah-tama dari seorang Fusou yang membuat Akagi menundukan kepalanya semakin dalam. Ia tidak pernah ingin kejadian ini terjadi diantara Kaga dan Fusou. Perjumpaan yang akan memperkenalkan kedua orang yang tak pernah ia harap untuk bertemu.
Kaga menolak memandang, apalagi merespon. Dialihkannya tatapnya cepat ke arah Akagi, dan mulai kembali mengkhawatirkan kekasihnya.
"Akagi, bukankah kita sudah berjanji akan memeriksakan kandunganmu? Aku akan menemanimu." Ucapnya berharap Akagi membalas pandangannya.
Akagi terdiam.
Fusou meraih kotak minum berisi nutrisi buah di atas meja di depannya. Menyedot isinya sedikit lebih lama sambil menyaksikan percakapan sepihak antara Kaga dan Akagi di sampingnya. Mengawasi.
"Pulanglah Kaga-san." dua kata yang membuat Kaga terdiam.
Tidak tahu malu kah Kaga akan keadaan? Ia baru saja memecat Akagi kemarin, dan kini menampakan wajahnya tanpa sepatah kata akan sesuatu yang telah membuat Akagi terluka? Ini yang Akagi sebut dengan kepedihan. Bahkan, Akagi masih lekat mengingat bagaimana ia membutuhkan uluran tangan Kaga saat itu. Dimana ia benar-benar merasa jatuh dan hanya nama dan bayangan Kaga yang terbesit dalam pikirnya.
"Aku ingin minta maaf-"
"Pulanglah‼!"
Fubuki tak mungkin bisa mengabaikan teriakan yang barusan ia dengar. Ditutupnya kedua telinganya dan matanya. Merosot jatuh penuh trauma akan masa lalu yang kini tercampur di kepalanya. Ada rasa gelisah yang tak mampu ia gambarkan.
Sedang di sisi lain, Kaga terkejut bukan main. Itu bukan hanya sekedar penolakan. Itu teriakan Akagi. Teriakan yang membuat Kaga seperti mati di tempat. Teriakan yang diujungnya Akagi tambahkan dengan isakan. Membuat Fusou diam menatap.
"Aku tidak akan pulang."
Seperti skenario yang telah diatur takdir. Ucapan Kaga yang sederhana itu membuat Fubuki Akagi sontak membuka mata dan terperangah di tempat mereka berada. Kaga berdiri tanpa peduli, melangkahkan kakinya menuju dapur dan memeriksa apa yang ingin ia pastikan. Diabaikannya tatapan Akagi yang telah basah oleh air mata. Dan tak ingin ia pedulikan satu wanita lain lagi yang berada di sisi Akagi saat ini.
"Aku akan merawatmu. Aku yang akan selalu berada di sisimu. Aku yang harusnya memenuhi kebutuhanmu. Bukan orang lain." Tak peduli. Tak penting baginya berbicara sambil memandang kini. Kaga menyalakan api. Dibongkarnya kantung belanjaan yang Fusou bawa tadi. Mencari beberapa bahan makanan yang bisa ia olah menjadi makanan. Memeriksa lemari es. Memeriksa peralatan memasak dan segala hal lainnya.
Setelah merebus air, Kaga melepas blazer kerjanya dan meletakannya di sudut ruangan. Disingsingkannya lengan kemeja panjangnya dan meraih sebilah pisau untuk memotong beberapa bahan sayur yang telah ia kumpulkan.
"Mulai hari ini, kau tidak perlu membantah apa yang aku perintahkan. Aku yang akan memasakanmu makanan. Jika kau mau pergi, aku yang akan menemanimu. Aku yang akan menyiapkan air hangat untukmu. Aku yang akan menyuci pakaianmu. Aku yang akan membiayai hidupmu. Kau tidak perlu melakukan apapun. Apapun. Hanya tetaplah menerima kehadiranku dan mengakuiku, itu sudah cukup untukku." Kaga terdiam sejenak ketika semua yang ingin ia katakan sudah ia ucapkan. Meski tanpa memandang, tapi ia rasa ia sudah begitu terbawa perasaan sampai air matanya ingin jatuh menetes.
Kaga menggenggam pisau ditangannya dengan keras. Berharap rasa sakit dihatinya bisa ia gantikan dengan rasa sakit ditangannya, tapi mungkin percuma. Percuma, karena tetap saja hatinya merasa begitu sakit, saat ia mengingat Akagi begitu ingin mengusirnya beberapa menit tadi.
Keheningan yang Fusou rasa saat ini bukanlah tanpa sebab. Entah mengapa, Fusou merasa sikap Akagi memang terlalu keras kali ini. Ia tidak bisa pungkiri jika Akagi memang wanita yang memiliki sikap seperti itu. Tapi, Akagi terkadang juga bisa luluh dengan segala jenis perhatian yang berbeda dari kebanyakan orang-orang pada umumnya. Dan salah satu yang Fusou saksikan ini adalah jenis perhatian yang sebenarnya Akagi suka.
Seumur hidup Fusou bercinta dengan beberapa pria, baru ini ia terpikat dengan kejujuran hati seorang gadis seperti Kaga. Penasaran, kenapa tiba-tiba ia disajikan dengan tontonan penuh kasih seperti ini. Apa sebabnya Akagi ingin mengusir gadis ini tadi? Bukankah terlalu kejam membiarkan gadis sebaik Kaga harus mendapati bahwa harapannya untuk membahagiakan Akagi menjadi sebuah kesia-siaan? Fusou tersenyum.
Sepertinya Fusou harus menjauh dari drama ini. Ia tidak akan sanggup berada di antara Kaga dan Akagi yang sampai saat ini ia tidak tahu mengapa mereka berselisih. Mengabaikan bayangan Kaga yang sudah kembali melanjutkan kegiatannya, Fusou bangkit sambil mendekap tubuh Akagi yang masih terduduk ditempatnya.
"Sepertinya aku harus pulang. Akagi." Bisiknya. Lembut. Bukankah ia juga punya satu masalah di rumah? Yukimura pun sama terpuruknya dengan Akagi saat ini. Entah mengapa, Fusou merasa malang melihat dua orang terdekatnya menjadi tak berdaya seperti ini.
"Yukimura juga butuh penghiburan saat-"
Fusou menoleh cepat ke arah dimana Kaga berada. Suara pecahan itu tentunya berasal dari sana. Akagi langsung mengangkat wajahnya dan menarik tangan Fusou entah kenapa lebih cepat sebelum Kaga bersuara.
"Aku akan mengantarmu-"
"Tunggu!"
Kaga memotong lebih cepat dari yang Akagi kira.
Akagi sudah bisa menduga, mendengar nama Yukimura akan membuat Kaga merespon cepat. Saat ini, semua kekacauan ini hanya karena pria itu. Tidak mungkin Kaga bisa mengabaikan seberapa bajingan Yukimura sampai membuat Kaga terpaksa mengambil keputusan menyakitkan bahkan untuk dirinya sendiri.
Sekejap saja, Akagi jadi bisa memahami apa maksud tersembunyi Kaga yang membiarkan dirinya merasa perih beberapa hari yang lalu. Memecatnya, mengabaikan uluran tangannya yang perlu pertolongan, bahkan seakan membiarkannya terhina di depan semua orang saat di perusahaan.
"Kau kenal Yukimura?" tanya Kaga. Ekspresi wajahnya terlihat jauh lebih serius kali ini. Dia padamkannya api masakannya tanpa ia peduli. Melangkah pasti menuju Fusou yang menatapnya bingung tanpa tahu. Sambil meraih kain untuk membersihkan tangannya, ia berjalan.
"Dia.. suamiku." Ucap Fusou bingung, ketika Kaga berhenti tepat di hadapannya.
Kaga mendengus tawa.
"Ada apa?" tanya Fusou mengimbangi.
"Tidak apa, pulanglah Sou-san."
"Tidak bisakah kau melayani suamimu dengan baik di atas ranjang, sampai ia berlarian meniduri wanita lain di luar sana?" Kaga setengah mencibir ketika berucap. Membuat perasaan Fusou menjadi berubah sedikit tertantang untuk meladeni Kaga berbicara.
"Apa yang kau tahu tentang suamiku?" Fusou menatap Kaga tajam.
Kaga mendengus remeh, "Apa kau punya pikiran untuk bertanya itu padaku? Dia suamimu. Jangan bertanya pada wanita lain bagaimana mereka tahu tentang suamimu. Apa kau memang jenis wanita seperti itu? Bertanya pada wanita lain tentang suami sendiri, karena kau tahu jika suamimu mungkin lebih menunjukan sisi aslinya pada wanita lain dibandingkan istrinya sendiri-"
"Cukup Kaga-san."
Tamparan keras Akagi membuat Kaga terdiam.
"Akagi.." bisik Kaga tidak percaya.
"Aku mohon hentikan semua omong kosongmu ini. Kau sedang memasak 'kan? Pergilah ke dapur dan selesaikan."
Kaga pikir, Akagi akan memakinya sekali lagi. Kaga sadar ia yang salah. Terkadang ia tidak bisa menjaga bagaimana caranya bicara dengan orang lain sampai mungkin perkataannya bisa membuat orang-orang tersakiti karenanya. Kaga menatap Akagi lega. Sekali lagi ia ingin menyesali perbuatannya. Apa ia tidak cukup bersyukur jika Akagi sudah ingin bicara padanya saat ini? Kaga menarik tangannya yang menyentuh pipinya yang panas. Ditatapnya Akagi penuh harap, sedang sedikit ekspresi bahagia yang ia tahan karena Fusou masih berada disekitarnya. Lalu setelah mengangguk, ia kembali melangkah ke dapur dan melanjutkan kegiatannya.
.
.
AN : MAAF, CERITANYA JADI TIDAK BISA SAYA LANJUTKAN.
.
.
"Maafkan aku Sou-san." Ucap Akagi mengajak Fusou melangkah menuju pintu. Menyesal sudah Akagi dengan apa yang terjadi saat ini. Meskipun Fusou adalah sahabat terbaiknya, tapi sebenarnya Akagi tidak ingin menunjukan kehidupan sebenarnya bagi wanita ini. Menghitung berapa banyak hal yang tak terduga terjadi di depan Fusou saat ini membuat Akagi benar-benar menyesal.
"Sepertinya gadis itu sangat menyayangimu, Akagi." Fusoi tersenyum, membuat penyesalan di hati Akagi sedikit sirna, meski tak seluruhnya.
"Dia adikku."
Fusou terkejut.
"Aku tidak pernah tahu jika kau memiliki adik." Tanya Fusou heran.
Akagi tersenyum.
"Dan sekarang kau tahu kan?"
Fusou mendekap tubuh Akagi sekali lagi sebelum berpisah. Dilambaikannya tangannya pada Akagi sebelum banyangan mereka terpisah oleh jarak mata.
Sekarang, semua hal yang akan terjadi dalam hidup Akagi akan penuh dengan perbedaan. Kaga telah kembali menampakan diri setelah Akagi pikir jika Kaga mungkin tak lagi ingin melihatnya. Namun kali ini. Saat ini juga. Akagi sadar, jika Kaga sebenarnya begitu menyayanginya. Lihat saja senyumannya. Membuat Akagi tidak tahu harus bagaimana.
"Makanlah. Kau butuh makan yang banyak Akagi."
Entah Akagi harus marah atau tidak. Selalu saja, Kaga bersikap seolah segalanya tidak pernah terjadi. Kekesalan hati Akagi tidak akan pernah ingin Kaga mengerti. Hanya dengan menjadikan semua keadaan menjadi baik-baik saja, Kaga kembali seperti sedia kala.
Tapi, bukan karena Kaga tak ingin mengerti sebenarnya. Hanya saja, Akagi mulai paham jika sebenarnya Kaga tak terlalu ingin menyakiti hatinya.
"Aku merindukanmu, Kaga-san." Bisik Akagi pelan. Entah kenapa Akagi ingin mengucapkan hal itu saat ini. Jujur saja sebenarnya ia tersiksa. Sangat tersiksa sampai Akagi tidak begitu tahu bagaimana membendungnya.
"Akagi?" Kaga terpanah. "Kau mengucapkan sesuatu?" tanyanya penasaran.
Akagi menggeleng pelan. Meraih kursi dan menariknya untuk duduk. Sebelum Kaga lebih cepat meraih tangannya dan melempar Akagi dalam pelukannya. Hangat.
"Aku juga merindukanmu!" jeritnya tertahan. Mendekap tubuh kekasihnya. Merasakan kehangatannya. Dan membuat Akagi terlena untuk tetap berada di sana.
.
.
.
.
Fubuki meletakan pelan segelas susu untuk Akagi yang sedang melakukan sesuatu di atas meja ruang tamu. Lalu setelahnya, ia memilih duduk di atas sofa tepat di atas Akagi yang lebih memilih duduk di bawah.
"Besok aku ingin pergi seharian." Bisik Fubuki pelan.
Akagi meletakan penanya. Mengalihkan pandang ke arah Fubuki sambil melepas kaca matanya.
"Apa ada sesuatu di kampusmu?" tanya Akagi penasaran.
Fubuki menggeleng. Ada beban yang ingin ia sembunyikan. Tapi, tidak mudah melakukannya di depan Akagi kali ini.
"Aku ingin berdoa di makam Ayah. Sudah enam belas tahun ia meninggalkanku." Serunya sambil bangkit dan berlalu. Meninggalkan Akagi yang kini sudah terperangah diam.
Enam belas tahun lalu, kekasihnya meninggalkannya untuk selamanya.
.
.
