Summary: Naruto adalah anak yang selalu dianiaya dan disakiti karena kyuubi yang disegel dalam tubuhnya. saat keadaan semakin kejam tak terkendali, seorang pria datang menolong. akankah pria ini membuat hidup Naruto berubah?

Warning: OC, tapi bukan kayak Gary Stu; juga ada penampilan karakter yang jarang bakal tampil atau sekali pakai (emang barang, bisa sekali pakai…), good Kyuubi, FemKyuubi and GoodParentKyuubi.

Oh iya, di fic ini naruto lebih tua 1 tahun dari rookie 9 lainnya.

Disclaimer: Not mine!

Chapter 13… Start!

Disclaimer: not mine!

Baka Tantei Seishiro Amane present…

ANOTHER LIFE CHANCE

CHAPTER 13: MISIION TO THE WAVE (ARC 1: ENCOUNTER WITH THE DEMON)

Sebelumnya…

Kakashi mengangguk-angguk. Dia menatap langit. "Cukup cerah... Aku merasakan firasat baik..." katanya.

Naruto menggeleng. "Entah kenapa, aku merasakan sebaliknya. Walau aku jarang mempercayai firasatku..." Mereka saling pandang.

"...Aku akan mengecek para genin. Mereka biasanya memulai pertengkaran." Kakashi menjauh.

"Aku akan menemani klien." Kata Naruto. Namun, mereka memikirkan hal yang sama.

'Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk...'

Mereka berjalan dengan tenang melewati padang pinggiran hutan di daerah perbatasan. Sakura menatap pemandangan sekitar dengan penuh kekaguman. Hisakata menanyakannya. "Kenapa, Sakura? Kau menghela napas dari tadi..."

"Tentu saja. Ini pemandangan yang bagus. Areal utara memang bagus, seperti cerita orang-orang..." Sakura menghela napas senang.

Hisakata memiringkan kepalanya. "Begitu ya? yah, bukan berarti aku bakal melihatnya, sih..." Sakura memberikan pandangan simpati. "Jangan memandangku seperti itu. Walau aku dapat transplantasi sekalipun, tetap tidak berguna. Syaraf mataku lah yang tak berfungsi. Aku telah terbiasa dengan hal ini."

Sakura memandangnya aneh. Lalu, dia mendekati Naruto. "Kalau dia buta, kenapa dia bisa tahu aku memandanginya dengan simpati?"

Naruto menjelaskan. "Hisakata mengetahui dari perubahan emosi. Dia... punya semacam indera keenam, yang membuatnya bisa mendeteksi perubahan emosi pada seseorang. Inderanya itu pula, yang membentenginya secara sempurna dari genjutsu... singkatnya, bisa dibilang dia bisa mendeteksi apa yang kebanyakan orang tidak bisa."

Sakura mengangguk-angguk. Mereka kembali berjalan dalam diam. Tiba-tiba, Naruto bertanya pada Tazuna. "Nami no Kuni ada di dekat Mizu no Kuni kan? Kenapa tidak minta bantuan ninja Kirigakure?"

Tazuna sedikit tegang, namun menjawab dengan tenang. "Bayaran yang diminta Kirigakure lebih tinggi. Lagipula, urusanku ke Hi no Kuni. Aku dengar, ninja Kirigakure tertutup."

Naruto mengangguk-angguk. Penasaran, Hisakata bertanya. "Apa maksudnya tertutup?"

Kakashi menjawabnya. "Ini informasi yang ada diluar buku sejarah ninja. Ninja Kirigakure menutup diri sejak Mizukage keempat mereka diangkat. Ada desas-desus kalau terjadi kekacauan di dalam kirigakure itu sendiri. Yah, dilihat dari jumlah ninja buronan mereka, banyak yang berpikir kalau itu benar." mereka mengangguk-angguk.

Naruto menambahkan. "Aku mendengar rumor saat bertualang dengan paman Randou dulu. Katanya, Mizukage keempat menerapkan metode dan aturan baru pada para shinobinya. Yang katanya bahkan diluar manusiawi. Bahkan, para orang yang berhasil keluar dari sana mendapat trauma luar biasa, atau menjadi pembunuh berdarah dingin yang haus darah.

Ada yang bilang, mereka pernah menemukan jasad ratusan anak disana. Dikatakan juga, mereka menemukan jasad-jasad orang yang berposisi tinggi disana dibuang begitu saja. Dan dilihat dari lukanya, dia dibunuh secara kejam. Desa Kirigakure sampai dikenal sebagai desa kabut darah, karena hal-hal tersebut." Sakura memucat mendengarnya.

"Yah, sepertinya keputusan mempercayakan hal ini pada ninja Konoha adalah hal yang tepat." Kata Tazuna. Hisakata langsung bersemangat dan berkata akan menjaganya sekuat tenaga.

Semua berjalan lancar. Bahkan, tak ada tanda-tanda kehadiran bandit, saat mereka keluar dari perbatasan Hi no Kuni dan masuk ke negara kecil tak dikenal, yang memisahkan Hi no Kuni dan Nami no Kuni.

Saat mereka tengah berjalan, baik Kakashi maupun Naruto menyadari ada yang aneh di jalan dihadapan mereka. 'Genangan air?' Kakashi memberi kode tak terlihat pada Naruto. Naruto mengangkat alisnya, namun membalas dalam kode tak terlihat juga.

Mereka melewati genangan air itu. Tiba-tiba, Hisakata tegang. "Ada yang datang!" Sasuke dan Sakura segera bersiaga di sekitar Tazuna.

"Terlambat. Dua ekor tumbang."

Mereka melihat dengan horor, saat tubuh Kakashi dan Naruto diikat oleh rantai berduri yang terikat pada cakar besi dua Shinobi, lalu terpotong hancur.

Sakura berteriak ketakutan. Dua Shinobi itu menyerang, namun Sasuke menusukkan kunai di rantai mereka, yang lalu menghujam dahan pohon. Dengan sekali putaran tangan, keduanya melepas rantai mereka. "Aku lawan dikanan, kau lawan dikiri! Sakura, jaga klien!" Sasuke berteriak. Hisakata langsung menarik pedangnya, lalu menyerang Shinobi bertopeng yang memakai cakar besi di tangan kanan. Sasuke menerjang dengan serangan shuriken dan kunai.

Hisakata menendang wajah musuhnya. Sasuke, menghindari serangan cakar besi, memukul mundur dengan pukulan. Mereka berhasil memukul mundur mereka, namun tidak dapat memberikan luka yang berarti. Di lain pihak, Hisakata terkena sedikit luka di tangannya.

"Cukup sampai disini main ninja-ninjaan nya, bocah. Iblis bersaudara Kirigakure bukanlah shinobi yang bisa kalian kalahkan." Salah seorang dari berkata sambil mengambil kuda-kuda.

"Ayo cepat habisi dia, lalu target kita kakak." Kata yang satunya.

"Mungkin itu benar. Tapi, kami lebih kuat dari kalian." Suara di belakang mereka mengejutkan mereka. Kakashi Dan naruto segera menyerang dan mengalahkan mereka. Bahkan Kakashi hanya perlu memakai satu tangan.

"Sensei, Naruto! Kalian hidup!" Sakura melihat ke arah tempat mereka sebelumnya hancur berantakan. Alih-alih darah dan potongan tubuh, Sakura hanya menemukan potongan kayu. 'Kawarimi! Cepatnya...'

Kakashi kini mengikat mereka. "Aku sudah menginformasikan hal ini pada Hokage. ANBU akan segera datang," Naruto mengangguk. "Namun, sepertinya ada yang berbohong pada kita... Misi level c semestinya hanya meliputi serangan bandit dan penjarah dalam perjalanan, bukan serangan ninja selevel Chuunin," Dia menunjukkan orang yang terikat. "Mereka iblis bersaudara, Chuunin buronan dari Kiri."

Tazuna bergerak dengan tidak nyaman. "Ceritakan sejelasnya, paman." Naruto berkata dengan serius.

Dia menghela napas. "Baiklah... Kalian tahu aku adalah pembuat jembatan, kan?"

Kakashi mengangguk. "Tapi, kau tidak datang kesini untuk urusan bisnis."

Tazuna mengangguk. "Negara Nami sangat miskin. Masalah utama dari kekurangan kami, adalah karena sulitnya sarana transportasi kesana. Kapal satu-satunya alat transportasi menuju Nami. Aku, demi kesejahteraan negaraku, membangun jembatan penghubung dengan negara lain, yang akan membuka kesempatan untuk memperbaiki ekonomi negara kami..."

Kakashi mengangguk-angguk. Hisakata yang bingung, bertanya. "Lalu? Apa hubungannya dengan serangan ninja ini?"

Tazuna menghela napas panjang. Setelah terdiam beberapa saat, dia bertanya, "Kalian tahu Gatou?"

Kakashi menjawab. "Salah satu dari sedikit bandit besar yang dikenal di negara elemental. Dia memiliki usaha kotor, seperti prostitusi dan penjualan obat terlarang. Kalau dia mengganggu kalian dengan usaha kotornya, Daimyo kalian semestinya bisa minta tolong pada Daimyo Hi no Kuni. Beliau pasti akan membantu kalian."

Tazuna tersenyum kecut. "Yang dijalankan Gatou di Nami adalah usaha perkapalan. Dan legal, karena dia memiliki hak pelayaran penuh yang diberika oleh Daimyo sebelumnya." Kakashi ber 'ohh', sedangkan Naruto menepuk keningnya.

"Senpai, tolong jelaskan. Aku tak mengerti." kata Hisakata.

"Dia menguasai hal yang paling vital bagi Nami, yaitu transportasi utama, dan perhubungan juga, semenjak Nami berada di tengah perairan. Artinya, dia menguasai seluruh kegiatan negara, dan negara mau tak mau bergantung padanya. Dia bisa mengatur harga jasa pelayarannya sesuai keinginannya…

Dan karena paman ini membangun jembatan penghubung, dia merasa terganggu akan hal itu. Kalau disuruh memilih, kau akan lebih memilih berjalan di jembatan yang gratis, dari pada berlayar dengan tujuan yang sama, dengan bayaran selangit, kan? Baginya, itu berarti hilangnya sumber uang." jelas Naruto.

"Ditambah lagi, mungkin saja usaha itu diamnfaatkan untuk menyelundupkan 'barang-barang' yang dia pakai untuk usaha kotornya. Makanya, dia segera bertindak." Tambah kakashi. Para genin mengangguk-angguk.

"Bagaimana, Kakashi sensei?" Tanya Naruto.

Kakashi berpikir dengan serius. "Misi ini bisa naik dari sekedar misi level b... Dengan Gatou sebagai lawan, besar kemungkinan dia akan menyewa seseorang yang lebih kuat dari iblis bersaudara... Ini bisa naik menjadi misi level A, paling tidak." Sakura memucat, sampai seputih salju.

"Kita tidak bisa membiarkan mereka begitu saja, Kakashi sensei!" Hisakata berdiri dengan ekspresi penuh tekad "Kita harus menolong mereka!"

Sasuke menatap Kakashi. "Aku setuju dengan si bodoh. Kita tidak boleh meninggalkan misi ini begitu saja. Itu bukanlah cara shinobi." 'Dan ini akan bagus sebagai latihan.' Tambahnya dalam hati.

Kakashi terlihat agak ragu. Tazuna kembali berbicara. "Tak apa-apa. Kalian boleh meninggalkan aku. Aku mungkin akan segera mati oleh utusan berikutnya sesaat setelah kalian pulang… hanya meninggalkan cucuku sendirian, dan anakku dalam kesediahan dan kebenciannya pada ninja Konoha… Tapi tidak apa-apa!" Dia berbalik membelakangi mereka, terlihat menangis.

'Oh, sial...' Pikir Kakashi. "Baiklah, baiklah... Tak ada yang bisa kita perbuat juga... kita menerima misi, dan kita memang harus menyelesaikannya... kami akan menjagamu." Kakashi berkata sambil menggaruk belakang kepalanya.

Tazuna menyeringai. 'heh, bodoh...' "Terima kasih, tuan ninja...!" Dia menjabat tangan Kakashi.

Kakashi menginstruksikan agar mereka bersiap untuk melanjutkan. Semua mengikuti dengan tenang. "Aku hanya mengatakan ini sekali. Musuh yang muncul berikutnya, kemungkinan Chuunin setara Naruto, atau bahkan Joonin. Disaat itu, kami mungkin tak punya kesempatan untuk memberi instruksi. Jadi, mulai sekarang tetap waspada. Saat musuh muncul, buat formasi perlindungan swastika di sekitar klien. Dan bersiap melindungi klien dan anggota tim kalian yang lain, juga diri kalian sendiri. Kalian mengerti?" semua mangangguk atas perintah Kakashi.

Di ruangan gelap, tiga figur duduk di beberapa kursi berlengan. Yang satu kecil, yang satu sedang dan yang satunya lagi cukup besar.

"Iblis bersaudara lama sekali..." Kata figur sedang itu.

"Ayo pergi. Kalau mereka tidak kembali, berarti mereka sudah kalah. Oi, ambil pedangku kemari." kata figur besar itu.

Figur kecil itu segera pergi, lalu kembali denga sebilah pedang besar. "Silahkan, master."

Figur besar itu mengambilnya, lalu memasangnya di punggungnya.

"Tampaknya ini akan sedikit menyenangkan..."

"Whoa... besar...!" Kata Sakura saat melihat jembatan buatan Tazuna dengan kagum. Sasuke dan Naruto pun diam-diam setuju akan hal itu. 'Ini baru setengah jadi? Bagaimana kalau sudah selesai...' pikir mereka. Tazuna terlihat bangga akan hal itu.

Orang yang mengantar mereka dengan perahu boat, terlihat sebaliknya. "Diamlah! Kau tahu, aku mematikan mesin boat perahu ini agar tidak terdengar!" Dia berbisik keras. Sakura menutup mulutnya dengan segera.

Setelah mendayung kira-kira satu jam lamanya, mereka telah cukup jauh dari tempat itu. Lelaki itu kembali memasang mensin boatnya. Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.

Mereka akhirnya sampai di dermaga kecil, yang jauh dari pemukiman. "Maaf, Tazuna-san. Aku hanya mampu mengantar hingga disini saja." Tazuna mengangguk mengerti.

Tazuna menjelaskan pada mereka. "Setelah melewati hutan kecil ini, kita akan bertemu pemukiman penduduk. Rumahku, ada di pinggir pemukiman satunya." semua mengangguk.

Naruto dan Kakashi merasakan perasaan tidak menyenangkan sejak sampai di tempat itu. Insting mereka yang terlatih, mengatakan pada mereka bahwa mereka berjalan ke dalam bahaya yang mendekat..

Mereka bersiap akan terburuk, namun tetap merasa tidak nyaman. Ketiga geninnya, bersiaga di sekitar mereka.

Kakashi dan Naruto merasakan keberadaan seseorang. Hisakata melempar kunai ke tempat dimana mereka merasakan keberadaan itu. "Apa yang kau lakukan!" Sakura berteriak histeris.

Hisakata mendekati semak-semak tempatnya melempar kunai. "Lho?" Dia mengeluarkan seekor kelinci berwarna putih. Sakura langsung mengomel tentang 'menjaga alam' dan 'menyakiti hewan kecil', namun ucapannya terhenti karena Naruto menutup mulutnya.

Kakashi menatap sekitarnya. Tiba-tiba, dia berteriak. "Merunduk!" Dia berlari dan menarik jatuh Tazuna. Sasuke dan Hisakata langsung menunduk. Sakura ditarik oleh Naruto karena dia hanya bisa terdiam melihat zanbato melayang ke arahnya.

Mereka berhasil menghindari serangan brutal itu. Lalu, Naruto melihat seorang pria besar berdiri di atas zanbato itu. Tidak menggunakan atasan, dengan perban menutupi setengah wajahnya. Dia mengenakan ikat kepala Kiri yang di gores di bagian lambangnya. 'Mata itu... Seberapa banyak orang yang telah dia bunuh...' Pikir Naruto.

Kakashi memberikan kode, ketiga genin memasang pertahanan swastika. Naruto mendekat. Tiba-tiba, muncul seseorang lagi. Seorang wanita dalam baju Joonin, namun tanpa ikat kepala. Dia memanggul kotak besar yang terbuat dari besi.

"Wah-wah... Lihat siapa yang datang... Kakashi Hatake si ninja peniru..." Lelaki besar itu berkata. "Pantas saja Iblis bersaudara tidak kembali... Aku benar-benar terkejut saat melihatmu."

"Oh, jadi dia? Pahlawan perang di perang besar ninja ketiga? Yang ditakuti hingga ke seluruh penjuru negara elemental? Menarik..." Wanita itu berkata, menilai Kakashi.

Kakashi maju selangkah. "Yang mestinya kaget itu kami, tahu... Tahu-tahu harus berhadapan dengan Zabuza Momochi sang iblis Kirigakure... Dan juga Chiharu Yamaguchi, kunoichi bebas yang tak terikat... Sepertinya, kau tertarik pada bau darah dan pertarungan..." Dia memasang kuda-kuda.

Hisakata dan Sasuke mencoba menyerang, namun ditahan Kakashi. "Jangan. Mereka sengkat Joonin. Naruto, tolong lawan wanita itu. Hati-hati, dia menggunakan ramuan aneh yang memperkuat dirinya. Juga racun untuk melemahkan musuh." Naruto mengangguk.

"Huhuhu... Aku tersanjung, Kakashi sang Sharingan mengenalku..." Wanita bernama Chiharu itu berkata. Kakashi diam saja, dan langsung mengangkat ikat kepala yang menuttupi mata kirinya, memperlihatkan mata kirinya yang merah menyala, dengan tiga tomoe berwarna hitam.

Semua terkejut, terutama Sasuke. "Sharingan? Apa itu Sharingan?" Tanya Sakura.

"Kemampuan penglihatan khusus yang diturunkan secara turun temurun. Dengan mata itu, kita bisa menebak dengan tepat ninjutsu, genjutsu dan taijutsu." Jawab Sasuke. 'Namun, itu hanya diturunkan pada keturunan Uchiha saja... Dari mana dia...?'

"Ya... Dan kemampuan itu membuatnya mampu menebak, mematahkan, bahkan meniru jutsu lawan..." Zabuza berkata.

"Jangan banyak bicara dan mulailah bertarung..." Chiharu berkata dengan bosan.

Naruto segera maju. "Ayo pindah tempat, nona. Disini agak sempit." Chiharu tertawa, dan mereka melompat pergi sambil mengawasi masing-masing."

Zabuza tertawa kecil. "Setidaknya, salah satu anak buahmu tidak hanya main ninja-ninjaan saja. Memisahkan ahli racun dari klien dan anggota lainnya..." dia melompat dari pohon, lalu berdiri di atas air. "Bagaimanapun juga, Sharingan itu percuma kalau kau tidak bisa melihat musuhmu. Kirigakure no jutsu."

Sementara itu...

Naruto berpindah ke areal terbuka di tengah hutan. Dia memasang kuda-kuda, saat musuh mengeluarkan botol kecil. "Sedikit doping sebelum bertarung~" dia meminum habis isinya.

Tubuhnya diselimuti chakra yang pekat. Dia menjadi kekar dan ekspresi wajahnya yang tadi santai menjadi agak buas. "Oh, sial." Naruto bergumam. Dia merasakan tubuhnya berteriak minta istirahat karena lelah.

"Khukhukhu... Maju...!" Chiharu meraung. Naruto mengambil kuda-kuda, lalu menyerang dengan kagebunshin. Wanita itu hanya mengibaskan tangannya, dan gelombang chakra menghantam Naruto dan seluruh klonnya. Dia terlempar hingga masuk hutan.

"Ukh... Terpaksa harus kelakukan... Sialan..." Dia melakukan satu segel tangan, lalu membuka sedikit jaket Chuunin yang dia pakai. Disana, ada kalung baja yang memiliki kunci, dan sekarang bersinar kemerahan. "Ini akan benar-benar sakit."

Dia melukai ujung jempolnya, lalu mengusapkan darah ke bagian kuncinya. Lalu, dengan sekali tarik, memaksa membukanya.

"ARRRRGGGHHH... ROARRRRRRRGGGGHHHH...!" Suara raungan terdengar jelas di seluruh hutan. Lalu, bunyi hantaman dan bunyi pohon yang patah memenuhi hutan bersama raungan itu.

Chiharu terdiam di tempatnya. Kemudian, dia melihat sesosok makhluk muncul dari hutan gelap. 'Bocah itu... Tapi, ada yang beda...?' Naruto masuk ke areal terbuka. Dia terlihat kesakitan, namun bukan itu yang membuatnya terlihat aneh.

Rambutnya menjadi lebih keemasan dan lebih panjang. Tanda seperti kumis di pipinya menghilang. Lalu, pupil matanya mengecil secara vertikal. 'Ini...' Chiharu tak bisa menyimpulkan, karena Naruto menyerang dalam kecepatan yang sama dengannya.

'Berat!' dia menahan serangan Naruto. Dia lalu menendang perutnya, melemparnya lagi ke dalam hutan. Tak lama, dia muncul dan menerjang Chiharu hingga menyeretnya ke pepohonan. Dia menggeram dengan marah. Chiharu memanfaatkan kesempatan, dan melepas gas asap.

Dia menyingkir dari hadapan Naruto. Dia mengeluarkan satu botol kecil lagi, dan meminumnya. Tubuhnya berubah menjadi setengah kucing. Naruto keluar dari dalam hutan saat Chiharu selesai bertransformasi. "Siap untuk ronde dua...?"

Dia meraung dengan penuh kebuasan. Kuku-kukunya tumbuh, matanya berubah menjadi merah. Chakra merah berkobar di sekitarnya. Chiharu terlihat puas akan hal itu.

"Kalau tidak begini, tidak seru. Maju, bocah...!"

"RRROOOAAAAAARRRRGGGGHHHH!"

Konoha, waktu yang sama.

Ranmaru sedang meminum sake dari botolnya dengan tenang. Beberapa anggota muda patroli yang diperintahnya tertidur kelelahan. 'Yah, itu wajar. Perjalanan pulang-pergi dari Konoha ke Dunia siluman dalam 5 hari adalah sesuatu yang terlalu besar untuk mereka... Dasar bos... Memerintahkan sesuatu yang nyaris tak dapat dicapai oleh mereka...' Ranmaru berpikir sambil menatap anak buahnya dengan tenang.

Mereka baru saja pulang dari mengantar Tamamo kembali ke klan Rubah. Namun, Tamamo yang mengkhawatirkan keselamatan anggota keluarganya di Konoha, langsung memerintahkan mereka kembali. Di hadapan Ranmaru, seorang gadis dengan kulit kecolatan dan mata hijau toska minum teh dengan santai.

"Kau menjalankan tugasmu, kan?" dia mengangguk. "Baiklah... Lanjutkan. Jaga gadis itu, karena dia menarik perhatian Naruto." Dia mengagguk, lalu berdiri. Dia lalu menghilang dalam lingkaran api. Ranmaru menghela napas. "Kalau saja dia belajar berbicara... Ini akan lebih mudah..."

Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu. "Bocah itu... Memaksa membuka segel pertama! Argh! Dasar bodoh…! Hei, bangun!" perlahan, anak buahnya terbangun. "Kalian, entah bagaimana caranya, kembali bugar dan bertugas. Aku harus pergi, ada urusan."

Dia melompat pergi sebelum anak buahnya menjawab. Setelah keluar desa, dia berubah jadi rubah. "Jangan melakukan hal bodoh sebelum aku datang, Naruto." dan dia melompat pergi dalam kecepatan luar biasa.

Kakashi mendapat hari yang buruk. Bukan hanya tiba-tiba menjalankan misi yang levelnya naik hingga ke level A, dia juga melibatkan anggota timnya dalam bahaya. Dan anggota tim yang dia andalkan mengendalikan situasi saat dia bertarung, dalam keadaan tidak fit.

"Percuma. Kau hanya akan mengurangi napasmu saja," Suara dingin menghentikan usahanya melepaskan diri. Zabuza memandang dingin dari luar penjara air yang mengurung Kakashi. "Kita lihat, apa murid-muridmu yang manis itu bisa mengalahkan mizubunshinku... khukhukhu..."

Sasuke terengah engah. Hawa membunuh yang dipancarkan lelaki bernama Zabuza itu sudah membuat udara berat. Sekarang, dia menghadapi Zabuza sendiri, sementara Kakashi terkurung. Hisakata mencoleknya. "Apa!" bisiknya.

"Ayo kita bebaskan Kakashi sensei." Katanya mantap.

"Bagaimana caranya? Kita tidak tahu yang mana yang Zabuza asli." Balas Sasuke, mundur mendekati Hisakata.

"Itu yang dia duga. Yang melawan kita adalah mizubunshin. Yang asli itu, sedang mengurung Kakashi sensei. Sepertinya, dia lebih mengkhawatirkan Kakashi sensei daripada kita. Aku punya rencana, pinjam telingamu." Hisakata membisikkan sesuatu pada Sasuke.

"Menarik... Tapi, apa bisa digunakan? Aku cuma punya satu." Kata Sasuke.

"Aku punya satu, itu biasa dipakai olehku. Bagaimana?" Hisakata membalas. Sasuke terdiam sejenak, lalu mengangguk.

Zabuza menyerang dengan cepat. Tapi, kedua genin itu sudah siap. Sasuke melompat mundur, sedangkan Hisakata menahan dengan pedangnya. "Kau punya nyali, bocah."

Sasuke berlari berputar, lalu menembakkan bola api. "Katon! Endan!" bola api itu langsung ditebas zanbatonya dengan sekali putar. Dia melempar Hisakata yang menahannya dengan garakan yang sama. Hisakata mendarat sambil melempar sesuatu pada Sasuke. Sasuke menerimanya, sambil melempar bola api pada Zabuza yang mendekat ke Tazuna.

Tanpa disadari, Hisakata sudah berada di belakangnya. Saat dia sedang menebas bola api, dia langsung ditusuk dari belakang. "Satu jatuh, satu lagi." Kata Hisakata, saat tubuh Zabuza berubah menjadi air.

Sasuke membuka benda yang diterima oleh Hisakata. "Fuuma Shuriken. Kagefusha." Dia memutar shuriken itu. Bunyi desingannya terdengar, walau samar. Dia mlemparnya ke arah Zabuza.

"khukhukhu... Apa dia bisa...?" Dia akan menghindar, saat menyadari bahwa ada shuriken berwarna hitam dibawah shuriken yang dia lihat. "serangan rahasia... Tapi percuma." dia melompat menghindar.

Sakura langsung lemas. "Bagaimana ini?" namun Sasuke dan Hisakata tidak.

Hisakata yang berdiri di dekat Sakura menghilang. Sasuke memandang siluet Zabuza dari kabut yang kembali menebal. "Kuserahkan padamu, Hisakata."

Dari dalam air, Hisakata muncul Zabuza menghantamnya dengan Zanbato, namun dia tidak terpengaruh. 'ini...!' Dia melihat sekilas, sisik hitam berkilauan keluar dari bagian tubuh tempatnya menyerang. Zabuza menghindari tebasan Hisakata, terpaksa melepas jutsu yang menyerang Kakashi.

Dia mundur selangkah, lalu menyerang dengan kecepatan yang laur biasa. Namun, Kakashi manahannya dengan besi sarung tangannya. Hisakata dibawa kembali dengan kagebunshin.

"Tenang saja. Dari sini, biar aku yang bereskan." Kagebunshinnya menghilang setelah mengatakan itu.

Kabut yang menutupi mereka menghilang, memperlihatkan sosok Zabuza dan Kakashi yang berdiri di atas air. "Mati!" dia menyerang dengan serangan elemen air, yang dibalas dengan jutsu yang sama oleh Kakashi. "Jangan meniruku, menyet peniru!" Zabuza meraung dengan frustasi.

Kakashi hanya diam saja. Sharingan berputar dengan cepat. "Hebat... Jadi, ini yang namanya Sharingan... Mereka seakan bergerak dalam pola yang sama..." Hisakata berkata dengan kagum.

Sementara itu...

Chiharu berlari dengan lengan terluka. Dia menginjeksikan sesuatu ke lengannya. 'Bagus... pendarahannya berhenti... Tapi, benar-benar sial sekali... lawannya seperti ini...' dia membalut lukanya.

"RRRROOOAAAARRGGGGHHH!" dari kejauhan, terdengar raungan. Tak lama, Naruto muncul dengan membelah salah satu pohon.

Chiharu mengerang. "Kau benar-benar tak tahu istilah, 'time out' ya?" Naruto hanya menggeram. Dia kemudian sedikit terhuyung. "Sepertinya, kekuatanmu pun beresiko saat digunakan... Atau, segel itu menyakitimu?"

Naruto kembali menjejak. Namun, matanya tidak lagi merah. Alih-alih merah, malah berwarna biru. Dia menggeram dalam. Chiharu kembali melempar bom berisi obat yang melumpuhkan.

'Kuharap, Zabuza bisa membantu... Ini benar-benar diluar dugaanku...' Dia melompat sekuat tenaga. Berlari secepat yang dia bisa, sebelum Naruto bisa mengejar. 'Ah, benar-benar hari yang buruk.'

Terdengar ledakan dan suara pohon yang patah. 'Semakin lama, semakin kebal... sial.' Dia mempercepat larinya.

Kakashi berada di atas angin sekarang. Dia menghempaskan Zabuza dengan gelombang besar yang semestinya dikeluarkan Zabuza. Tak mau menghilangkan kesempatan, dia menahan kaki dan tangannya dengan kunai dan Shuriken.

Tiba-tiba, dari hutan muncul ledakan. Dari sana, Chiharu terlempar ke pohon tempat Zabuza tertahan. Tangan dan kakinya terluka cukup parah. Dia melihat Zabuza. "Hei.. Sepertinya, nasib kita sama, ya?" Zabuza menjawabnya dengan geraman. "Oh, jangan menggeram. Aku sudah banyak mendapatnya dari bocah itu."

Naruto keluar dari arah ledakan tadi. Dia terlihat sangat lelah. Hisakata langsung mendatanginya, lalu bersama-sama menuju Tazuna. Naruto memandangi Chiharu dengan tajam.

"Hei, sudah kembali ke alam sadar? Dasar... Tiba-tiba memakai wujud seperti itu..." Chiharu menyapa seakan tidak terjadi apa-apa. Naruto memberikan pandangan kesal.

Kakashi akan melakukan serangan akhir, saat leher Zabuza dan Chiharu tertusuk jarum besar. Seorang lelaki muda, terlihat seumuran dengan Naruto, berdiri di atas pohon. Dia memakai topeng dengan lambang Kirigakure di bagian atasnya.

"Terima kasih, ninja Konoha. Lelaki ini, bersama partnernya telah menjadi incaran kami sejak lama. Baru kali ini kami berhasil mendapatkannya." Katanya dengan halus. Kakashi mengangguk.

"Siapa dia? Seenaknya masuk…" Hisakata mengeluh.

Naruto berkata. "Ninja pemburu. Perekrutan mereka seperti ANBU, namun tugas mereka dikhususkan pada mengejar buronan. Tak heran dia ada disini, Zabuza adalah buronan internasional setelah percobaan pembunuhan yang dia lakukan kepada Mizukage Kirigakure." Jawab Naruto.

"Dia... Terlihat tidak lebih tua dari kita." Kata Sasuke.

Naruto menghela napas. "Banyak ninja yang kuat tumbuh seiring perkembangan zaman. Melihat seorang dengan kemampuan sekaliber ini dalam usia semuda ini, bukan hal yang aneh dariku. Aku bahkan yakin, ada anak-anak yang telah mencapai kekuatan melebihi dariku di usia lebih muda dariku." Kakashi menjawab. Dia telah berdiri di sebelah mereka.

"Aku akan segera membawa mereka. Terima kasih sekali lagi, ninja Konoha." ninja itu mengangkat tubuh Zabuza dan Chiharu, lalu menghilang dalam badai daun.

"Yah... Ayo lanjutkan perjalanan..." Kakashi roboh setelah berkata. Mereka segera memeriksanya.

"Cuma kelelahan akibat kehabisan chakra. Ukh...! Aku juga, sepertinya.." Naruto jatuh terduduk. Dia terlihat seperti kesakitan. Hisakata langsung membuat kagebunshin, membawa Kakashi dan memapah Naruto bersama Sasuke.

"Tazuna-san, rumahmu masih jauh?" Tanya Sasuke pada Tazuna. Tazuna segera memberi arah. Mereka segera pergi dari tempat bertarung itu.

Di pinggir sungai, jauh dari tempat pertarungan.

Ninja itu membaringkan tubuh Zabuza dan Chiharu. Dia mengeluarkan peralatan dari tas kecilnya. "Nah, saatnya bekerja…"

Dia meneliti jarum yang tertusuk. Lalu, mendekatkan tangannya, bermaksud mengambilnya. Tiba-tiba, sebuah tangan menahannya.

"Biar aku cabut sendiri." Zabuza berkata, sambil membuka perbannya. Dia mencabut jarum tersebut dengan kasar, lalu membuang darah yang dari tadi memenuhi mulutnya.

"Master Zabuza, jangan menariknya sekasar itu… nanti bisa terkena pembuluh darah utama," Ninja itu mengingatkan. Dia lalu melepas Jarum yang terhujam ke leher Chiharu dengan hati-hati. "Chiharu-dono, anda dapat bergerak sekarang."

Chiharu tertawa kecil. "Bukannya tidak mau, tapi bocah tadi melukaiku cukup parah." Ninja itu memeriksa lukanya.

"Lepaskan topengmu, Haku. Jangan berbicara menggunakan topeng laknat itu." Ninja itu, Haku melepas topengnya, memperlihatkan wajahnya yang cantik. Dia tersenyum lembut.

"Baik, master. Sebaiknya, kita segera kembali ke rumah peristirahatan untuk mengobati luka-luka anda." Zabuza hanya menjawab dengan 'Hnn'. Haku membuat mizubunshin, lalu membawa kedua ninja terluka itu.

Mereka akhirnya sampai di rumah Tazuna. "Tsunami, aku pulang. Cepat buka pintunya." Kata Tazuna. Terdengar langkah dari dalam, dan pintu terbuka. Seorang wanita berumur sekitar 20-an berambut hitam menyambut mereka.

"Ayah! Syukurlah, ayah selamat… Kalian… Ninja konoha yang disewa ayah?" Kata Tsunami.

Tazuna mengangguk. "Kedua orang ini roboh setelah bertarung dengan orang sewaan Gatou. Mereka telah menyelamatkan nyawaku." Tsunami segera mempersilahkan mereka masuk. Kakashi dan Naruto segera dibawa ke kamar untuk dirawat.

(Mulai dari sini agak... Apa ratenya mesti dinaikin ya?)

Naruto segera tak sadarkan diri setelah ditaruh di atas tatami. Kakashi pun tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera sadar. Tsunami memeriksa lukanya bersama Sakura. "Luka mereka harus segera diobati. Sakura-san, tolong buka pakaian mereka." kata Tsunami.

Sakura langsung panik. 'Bagaimana ini!' 'Ini kesempatan mengetahui tubuh lelaki, outer! Sebagai latihan untuk menghadapi Sasuke-kun...!' 'Kau gila, inner! Itu namanya mesum! Tidak! Aku bukan mesum!' tsunami tertawa kecil melihat kepanikan Sakura.

"Sakura-san, bisakah kau membawa air panas untuk membasuh mereka? Dapurnya ada di sebelah kiri, setelah melewati ruang keluarga." Sakura yang lega segera bergegas menuju dapur.

Dia kembali membawa air panas, nyaris menjatuhkannya. Tsunami sedang membuka pakaian Kakashi. Di sebelahnya, Naruto yang sudah tinggal memakai boxer saja berbaring. "Oh, terima kasih Sakura-san. Tolong basuh tubuhnya, sementara aku membuka bajunya.

Sakura duduk terdiam dengan handuk basah ditangannya. Ragu-ragu, dia mulai mengusap tubuhnya. 'Dia terlihat cukup seksi dengan otot-otot itu... huhuhu...' 'Diamlah, inner!' 'Tapi, kau tidak bisa memungkiri kalau dia memang seksi, kan? Aku ingin tahu, tubuh Sasuke-kun seseksi apa...' memutuskan mengacuhkan inner-nya, Sakura berkonsentrasi pada membersihkan kotoran di luka-luka Naruto, agar menghindari infeksi pada luka.

'Ng? Bekas luka ini... Be-besar sekali!' Sakura memperhatikan tubuh itu sekali lagi. Bekas-bekas luka, besar dan kecil, memenuhi tubuh Naruto. Dari perkiraannya, beberapa diantaranya juga cukup fatal.

Tsunami yang sedang membersihkan tubuh Kakashi menghela napas. "Shinobi itu seperti ini ya... Bekas luka-luka fatal... Entah bagaimana caranya mereka bisa bertahan dari luka-luka ini." Sakura melihat Kakashi. Sama seperti Naruto, tubuhnya dipenuhi bekas luka.

Tsunami dengan cekatan membalut luka-luka mereka. "Syukurlah lukanya hanya luka gores ringan..." gumamnya. Sakura memandangnya, lalu mengangguk. Dia lalu memakaikan yukata tua pada Naruto dan Kakashi. "Nah, dengan ini beres. Ayo, kita periksa dua temanmu lagi."

Sakura memperhatikan perban yang membalut Kakashi dan Naruto. Dia bertanya pada Tsunami saat sedang turun. "Anu, tsunami-san... Anda pernah bekerja sebagai dokter?"

Tsunami tersenyum. "Aku sebelumnya adalah perawat di rumah sakit kecil di dekat tempat ini. Rumah sakit itu sekarang ditutup, karena kekurangan obat-obatan setelah Gatou menaikkan biaya transportasi." dia berkata sambil tersenyum sedih.

Sakura hanya diam saja sampai mereka menuju ruang keluarga, tempat Sasuke Dan Hisakata duduk. Tsunami memeriksa Sasuke. Sakura, baik inner maupun outer, bersorak dalam hati, saat Sasuke dengan ekspresi yang terlihat sedikit kesal membuka bajunya.

Saat Tsunami selesai mengobati Sasuke dan beralih ke Hisakata, Hisakata berdiri. "Aku tidak terluka kok. Tidak usah diperiksa." Sasuke melayangkan tinju yang tidak keras ke tubuh Hisakata, yang langsung membuat Hisakata kesakitan.

"Dia berbohong. Periksa dia, kemungkinan lukanya lebih berat dariku." kata Sasuke tanpa ekspresi. Tsunami segera memaksa membuka pakaian Hisakata. Pemandangan yang dilihat membuat Sakura menahan napas.

Jejak besar terpatri di sepanjang tubuh Hisakata. Dia seakan dipukul oleh sebatang logam panjang, sampai logam itu patah. Tsunami segera memeriksa tulangnya. "empat tulang rusuk retak, dan kamu bilang kamu tidak apa-apa? Jangan main-main, nak." Dia memandang serius pada Hisakata. Dia segera menahan rusuknya dengan benda keras.

"Kemampuan alaminya adalah regenarasi super cepat. Jadi, dia menganggap itu biasa saja," Sasuke berkata. Sakura memandangnya bingung. "Dia memberi tahu saat kita latihan 2 minggu lalu. Dia terkena jutsu apiku, dan besoknya lukanya sudah hilang." Jelas Sasuke.

"Tetap saja, retak atau patah tulang harus diurus sebelum tulangnya bersatu kembali, atau bentuknya akan aneh. Kau mengerti, nak? Jangan main-main lagi dengan hal ini." Hisakata mengangguk karena Tsunami menatapnya dengan ekspresi serius.

Sakura memperhatikan. Dia baru sadar, Hisakata pun memiliki bekas luka dalam jumlah yang cukup banyak.

Tsunami menghela napas. "Apa yang kau alami, nak? Luka-luka ini, apa orang tuamu membiarkan hal ini begitu saja?" Tanya Tsunami.

Hisakata memandang jauh ('bagaimana caranya, dia kan buta!' pikir Sakura), lalu menghela napas. "Ayah saya meninggal sebelum saya lahir, dan ibu saya meninggal saat saya masih kecil. Saya sudah lama hidup sendiri." Dia memasang senyum bijak.

Tsunami segera memandangnya dengan iba. "Maafkan aku, aku..." Hisakata menggelengkan kepalanya.

"Tidak apa-apa, Tsunami-san. Aku sudah terbiasa akan hal semacam ini," Dia berkata, lalu berdiri. "Aku... akan berpatroli sebentar. Permisi, semua." Dia pergi sebelum semua sempat membalas.

"Aku akan menemaninya." Sasuke pergi mengikuti Hisakata.

"Aku akan mempersiapkan makan malam untuk semuanya." Tsunami bangkit dan membawa peralatannya. 'Anak itu... Apa yang terjadi padanya...? Di usia semuda itu...' Sakura mengikutinya, membantu Tsunami mempersiapkan makan malam.

Tazuna bersandar di kursi berlengan. Dia menenggak Sake di tangannya sampai habis. "Apa yang akan direncanakan Gatou selanjutnya... Aku harus bersiap untuk yang terburuk..." Dia tenggelam dalam lamunan, yang perlahan berubah jadi kantuk. Tak lama, terdengar dengkuran halus dari ruang keluarga.

Part 1 selesai!

Mengenai OC, ini data lengkapnya:

Nama: Chiharu Yamaguchi. (Secara harfiah, artinya seribu mata air dari mulut pegunungan)

Umur, ukuran dan berat: 28 tahun. 175 cm, 65 kg. 3size: 85-68-75

Kemampuan: ramuan. Dari obat, racun, sampai ramuan pengubah bentuk.

Sifatnya santai dan suka tidak pernah serius. Karena itulah dia diusir dari klannya (Sudah hancur saat perang ninja besar), tapi karena itu dia selalu tenang, dan selalu lolos dari usaha pembunuhan. Rambut cokelat gelap(hampir hitam), dengan mata yang sama. Kulitnya cokelat karena sengatan matahari.

Apakah yang terjadi selanjutnya?

Tunggu chapter selanjutnya ya...

Baka Tantei Seishiro Amane sign out.