(A/N) Here you go, the final chapter, jauh lebih panjang dari sebelum-sebelumnya and have a little bonus. Saran saya jangan dibaca pas waktu puasa ya :P
Oh, dan judul lagu yang saya kutip saya rekomendasikan buat coba didengarkan. 8)
More notes see below~
When darkness is no less than everything you've built become undone
There's no fight and no flight, disaster leaves your passion overrun
It's time to let go, time to carry on with the show
Don't mourn what is gone, greet the dawn, and I'll be standing by your side
Together we'll face the turning tides
[Poets of The Fall – Dawn]
. . .
Puas?
Warning: M for obvious reasons. AU. OOC possibility: positive. Non-baku. Final.
Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime
Cover art by F_Crosser on Twitter
. . .
12. Subuh
. . .
Buram.
Terang.
Aku di mana?
Kedip.
Sepi. Tenang. Nyaman sekali...
Buram.
"... Jean?"
Ditolehkan kepalanya dengan lemas ke sisi kanan, di mana ada seorang pria sedang duduk di samping tempatnya berbaring.
Siapa...?
"Jean? Kamu dengar, nak?" panggil pria itu lagi pelan.
Jean...? Siapa?
Kedip. Kedip.
"Jean? Ini pamanmu, Om Nile. Jean?"
Ah, iya. Itu namaku...
Hembusan kelegaan keluar dari sela bibir Om Nile. "Baguslah..." ungkapnya.
"Aku... di mana, Om?" tanya Jean dengan suara serak.
"Rumah sakit. Enam jam kamu pingsan... Kamu kehilangan banyak darah. Baguslah dokter dan perawatnya menanganimu cepat. Kalau tidak..."
"Kenapa mata kiriku gelap...?"
"Diperban. Luka bacok di wajahmu itu cukup berat..."
Sekilas bayangan raut inosen yang diselimuti kegelapan itu nampak di visualnya, kepanikan tiba-tiba menyusul naik ke raut wajah. "Aku nggak akan buta sebelah kan, Om?!"
Om Nile menggeleng. "Nyaris... entah beberapa mili lagi bacokannya mengenai matamu."
Jean mendesah lega, mengucapkan syukur dari dalam lubuk hatinya. Ia sudah cukup dengan kondisinya yang sekarang, tak ingin lagi cobaan dimana ia mendapatkan cacat permanen pada salah satu organ tubuhnya. Teringat sesuatu, sejenak ia memperhatikan pamannya yang masih berseragam polisi lengkap minus topi yang diletakkan di atas duvet samping ranjang sebelum bertanya, "Dia gimana?"
"Siapa?" tanya Om Nile balik.
"Om tahu lah, siapa yang kumaksud."
"Anak pejabat yang sudah membuatmu babak belur begini?"
"Persetan dia anak pejabat atau anak tukang pungut sampah. Dia... sahabatku."
Sepasang kelopak mata milik satu-satunya pria dewasa di ruangan itu menajam. "Setelah apa yang sudah terjadi, kamu masih sebut orang seperti dia 'sahabat'?"
"Om..." balas Jean pelan.
Om Nile menatap langit-langit, jeda beberapa saat lalu menjawab, "Tentunya dia langsung dikeluarkan dari sekolah. Tapi satu hal yang pasti..."
"... Apa?"
"Dia kelihatan... sangat trauma."
Jean mengangguk lemas lalu memindah pandangan ke arah berlawanan.
"Apa setelah keluar nanti kamu mau membalas?"
Jean menggeleng. "Enggak."
Om Nile mengerenyitkan dahi. "Kamu yakin?"
"Iya. Udahlah, Om... Nggak usah dibahas," ucap Jean kemudian menghadapkan wajahnya ke langit-langit.
Kepala polisi itu terkejut melihat keponakannya yang bibirnya kini mengulum senyum—sebuah senyuman tulus yang begitu langka muncul dari seorang Jean Kirschtein.
"Kita udah impas."
.
=sirupmarjan=
.
Seminggu telah berlalu.
Masih di suasana yang sama sejak setelah kejadian itu—dingin dan kosong. Meski filamen lampu mengisi ruangan dengan cahayanya, dia senantiasa diselimuti kegelapan.
Hampir tak ada sesuatu yang ia ingin sampaikan—memang apa pula yang akan bibirnya katakan? Ia seperti membeku di dalam bongkahan es sementara semua kejadian dimainkan berulang-ulang di depannya.
Polisi pun tak perlu menanyai banyak-banyak mengenai alasan Marco untuk hampir membunuh (atau bahkan ia sudah tiada di tengah jalan? Kira-kira siapa yang mampu bertahan dengan luka separah itu?) remaja lelaki yang seumuran dengannya itu. Melihat si (mantan) siswa SMA Shiganshina yang duduk tenang, kedua tangan berbekas cipratan darah saling terpaut erat, pandangan lurus ke bawah, kelopak mata terbuka lebar dengan pupil mengecil, dan tubuh serta helaan nafas yang gemetaran sejak dimasukkan ke dalam mobil patroli (bahkan sampai ia duduk di kursi interogasi!) sudah cukup menjadi jawaban.
Bukan sesuatu yang tepat untuk dipermasalahkan, sebenarnya. Semua orang mengakui kalau kekuatan emosi itu luar biasa kuat. Jika orang-orang selama ini mengenal dia sebagai pribadi bermental baja, terbukti bisa patah juga, akhirnya.
Marco hanyalah manusia, makhluk paling sempurna di dunia ini karena akal dan nuraininya—yang karena sebuah kekhilafan telah menurunkan derajatnya menjadi makhluk yang hina.
Maka, sudah tidak pantas lagi ia miliki kemegahan hidup yang telah diraihnya.
"Ayah sungguh kecewa padamu, Marco." Hanya satu itu kalimat yang keluar dari mulut sang bapak. Ibunya hanya mampu menangisi kebohongan putra satu-satunya itu dan terus menerus bertanya akan apa yang selama ini anaknya pikirkan.
Ketika para pihak berwenang itu mengenali status ayahnya sebagai pejabat negara, tambahlah corengan di wajah keluarganya. Tak ada orang lain yang patut disalahkan, tak mungkin pula orang tuanya sendiri. Marco hanya bisa diam dan merenungi nasibnya sebagai anak durhaka.
Ia ingat betul wajah teman-teman dan kakak-kakak kelasnya ketika ia datang ke sekolah bersama kedua orang tua untuk mengurus surat-surat terakhirnya. Tanpa mereka ucapkan, sudah jelas cemooh dan berbagai kalimat-kalimat miring lain yang tertulis dari ekspresi mereka untuknya.
Pengecualian bagi Eren, saudara angkatnya Mikasa dan sahabat mereka Armin, misalnya. Tak lupa juga (mantan) anak-anak buahnya. Namun saat-saat terakhir yang mengharukan itu tak berlangsung lama karena Marco harus segera dibawa ke 'penjara'.
Ketika ia sampai di tempat, Levi hanya menyapanya dengan muka dingin sebelum mengantarkan Marco ke ruangannya. Marco tidak mau tahu apa yang sedang dipikirkan pria pendek ini.
Tidak perlu jauh-jauh ia diasingkan. Cukup kamar tidur sendiri saja sementara orang tua beserta Levi yang menjadi (semacam) sipirnya.
Paling tidak, ayah-ibunya tetap tidak melupakan kebutuhan pendidikan Marco. Homeschooling pun ia jalani meski seberapa kaku dan sepinya situasi 'kelas' pada tiap pertemuannya.
.
"Lalu apa?! Puas lihat harga diriku hancur?! Kamu anak baru nggak tahu apa-apa!"
.
Tidak, Jean. Aku sudah tahu.
Silahkan jika kamu mau mengejar dan meneror dalam tidurku, Jean. Tak apa. Aku pantas mendapatkannya.
Meski bibirnya mengatup, ia bisa merasakan jelas bagaimana tetesan demi tetesan asin yang sudah tidak berhenti turun sejak saat itu tengah menuruni pipinya.
.
=sirupmarjan=
.
Entah sudah berapa lama ia berdiri menghadap pantulan cermin di pojok kamar yang mempertontonkan jari-jemari sedang menelusuri alur jahitan melintang di wajahnya. Ketika orang-orang mengatakan 'aksesoris' ini membuatnya terlihat keren dan gahar, itu sama sekali tidak bagi Jean.
Baguslah bekasnya sudah membaik. Dengan demikian, ia tidak perlu malu lagi keluar rumah mengenakan perban yang hampir menutup separuh muka kirinya.
Ya, malu. Jean sadar betul luka yang didapatnya ini bukan karena kecelakaan biasa. Ini adalah manifestasi akibat dari perbuatan-perbuatannya selama ini. Jika saja waktu tidak menunjukkan padanya peristiwa 'itu', Jean takkan pernah sadar bahwa jalan yang telah ia pilih untuk menyembuhkan luka-luka lain di dalam dirinya selama ini adalah salah dan sia-sia.
Tapi mau bagaimana lagi? Dia hanyalah seorang remaja yang sedang belajar bertahan dari kerasnya hidup tanpa pembekalan yang cukup. Layaknya tes kelulusan di sekolah—jika seorang siswa tidak mempersiapkan diri, ada dua hal yang kemungkinan terjadi: Nilai jelek yang pantas ia dapatkan atau nilai bagus karena beruntung.
Jean bersyukur mendapatkan kemungkinan yang pertama. Andaikan ia justru beruntung, mungkin ia akan terus menyakiti Marco lebih dari itu.
Marco...
Bagaimana keadaannya sekarang? Apa yang terjadi setelah peristiwa itu? Dia baik-baik saja, kan? Marco nampaknya tipe orang yang bisa menghadapi semua masalah dengan senyuman. Marco adalah orang yang baik—tapi namanya juga manusia tak pernah luput dari kesalahan, bukan? Setelah apa-apa yang terjadi, orang-orang pasti memaafkannya. Jean yakin itu.
Tapi aku tak pantas lagi olehnya.
"Jean!" seru Om Nile dari lantai bawah.
"Ya, Om?"
"Kemari."
Penasaran, Jean berjalan keluar kamar dan menuruni tangga menemui pamannya di ruang tengah bersama... seorang wanita paruh baya.
Apakah obat penghilang nyerinya telah membuatnya berhalusinasi?
Om Nile tampak sedikit kaku, ia menoleh bolak-balik dari keponakannya, pada si wanita dan kembali lagi. "Jean..." mulai Om Nile, "Kamu masih ingat ibu ini, kan?"
Wanita beruban mengenakan setelan pakaian panjang krem ala tahun 90'an itu menatap Jean cukup lama sebelum berucap sambil tersenyum nanar, "Nak?"
Bercanda kalau Jean tidak bisa ingat. Ia kenal betul garis wajahnya dan tentu saja sorotan mata cokelat keemasan yang diturunkan kepadanya. Mungkin wanita tua ini tampak jauh lebih kurus dari saat terakhir ia lihat, namun Jean takkan bisa menahan sebutan yang tujuh tahun lamanya tidak ia ucapkan dalam kesehariannya.
"Ma...?"
"Baiklah... kurasa kalian butuh waktu sejenak. Kuambilkan minum dulu," sela Om Nile, dan sebelum ia lanjut melangkah ke dapur, ditepuknya pundak Jean dan berbisik, "Andai saja justru kakakku yang datang, mungkin sudah aku usir."
Jean hanya melongo memperhatikan pamannya hingga tak terlihat di balik dinding dapur hingga disadarkan oleh satu panggilan nama dirinya yang ibu itu ucapkan. Namun yang disebut tetap di tempat, masih mempelajari kumpulan perasaan yang tengah memusat dan menyatu yang tidak dimengertinya ini.
Wanita itu pun berjalan mendekat perlahan dan berhenti tepat di depannya. Meski senyum yang sama masih saja terpampang di wajah keriputnya, kehangatan yang sudah begitu lama tidak dirasakan oleh si pemuda Kirschtein memancar dan tertanam jauh ke dalam kalbunya. Ketika tangan yang berkerut-kerut itu membelai pipinya lembut, dadanya terasa sesak—penuh akan untai-untaian emosi yang terus mendesak untuk keluar.
Kenapa? Kenapa baru sekarang?
"Kamu sudah besar ya, Jean?" bisik ibu itu.
Setelah jeda untuk mengkondisikan emosinya berakhir, Jean pun bertanya balik, "Ma... ke mana aja selama ini?"
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya mengalihkan pandangan ke lantai, bingung akan apa yang harus ia katakan membuat bibirnya bergetar.
"Ma. Tolong jawab."
"Mama... tidak berdaya, nak," ungkapnya. Berurai air mata, ia melanjutkan, "Mama sungguh gelap mata. Mama tidak tahu apa yang waktu itu sedang merasukiku—semuanya berjalan begitu cepat... Kamu tidak tahu rasanya hidup dihantui rasa bersalah, nak."
"Terus kenapa Mama malah pergi? Harus?" retorika Jean menampakkan duri di tiap sisinya.
"T-tidak, Mama—"
"Guru-guru SD-ku dulu sering bilang kalau kita harus bisa mendamaikan orang yang sedang berselisih. Tapi apa setiap saat bisa? Enggak, kan?"
Wanita tua itu tidak membalas.
"Realita. Melerai teman seumuran yang berantem aja dikira ikut campur. Mama kira bisa apa seorang bocah cilik buat meleraikan kedua orang tuanya sendiri yang sibuk lempar-lemparan beling? Gimana rasanya jadi orang yang nggak bisa berbuat apa-apa?"
"Nak, kamu nggak tahu rasanya ketika ayahmu—"
Tiba-tiba Jean mencengkeram kedua bahu ibunya dan menyela keras, "Aku memang nggak perlu tahu, Ma!" Kedua pasang iris sedarah daging itu melihat jelas gunungan beban yang dipikul masing-masing pemiliknya. Tumpukan itu kini tengah dirundung kepanikan akan puncaknya yang kian goyah. "Tapi Mama harus tau... Mama juga harus tahu apa yang selama ini aku rasakan sejak Mama pergi begitu aja. Aku mungkin tinggal bersama Om Nile sekarang, tapi Mama nggak tahu kalau aku nggak bisa menutup satu ruang kosong yang harusnya Mama sendiri juga tahu itu harus diisi apa."
Tetesan asin kembali menuruni wanita paruh baya yang masih terbungkam akan pengakuan putra semata wayangnya.
"Kenapa Mama nggak mau cerita? Apa susahnya? Apa karena waktu itu aku masih bocah?! Mungkin kalau Mama ngomong lebih awal, aku nggak bakalan mengalami hal-hal yang lebih buruk dari itu seperti yang udah Mama lihat di wajahku ini!"
Sakitnya dada membuat si pemuda Kirschtein tak mampu lagi membendung butiran-butiran air yang sudah menumpuk. Dipeluk eratlah ibunya, Jean benamkan wajahnya diantara ujung pundak dan leher sang ibu, membiarkan titik-titik air di kedua matanya untuk terjun bebas.
"A-aku... aku nggak b-bisa menghitung lagi..." isaknya tertahan-tahan. "Banyak... banyak sekali orang-orang y-yang... u-udah a-aku... uuh... M-Marco... Marco!"
Kapan terakhir kali ia menangis di pundak ibunya? Ketika makan siangnya diambil oleh anak kelas tetangga waktu SD kelas satu? Tentunya terdapat perbedaan mencolok antara saat itu dan sekarang. Menumpahkan segala emosinya dengan belaian sang bunda yang bertahun-tahun ia rindukan membuat semua terasa jauh lebih melegakan dan nyaman. Paling tidak ia bisa sedikit melupakan rasa bersalahnya pada satu orang tertentu itu.
Marco... Kau baik-baik saja, kan?
Setelah dirasa puas, Jean akhirnya melepas rengkuhan pada ibunya. Meski matanya terasa begitu sembab dan hidungnya basah, semua beban telah terbang bebas dari bertenggernya mereka di atas pundak Jean. Sang ibu pun tersenyum sembari mengambil sehelai sapu tangan untuk diusapkan ke wajah anak semata wayangnya dengan lembut.
"Maafkan Mama ya, nak?" ucapnya.
Jean mengangguk lemas, segaris senyum tipis mencerahkan wajahnya kembali. "Iya... Mama."
"Sudah selesai reuninya?" potong Om Nile dari ambang pintu dapur sambil menyeringai tipis. Di kedua tangannya terdapat sebuah nampan dengan tiga gelas kaca berisi sirup beraroma buah yang khas. "Aku lelah memegang ini terus."
Ketiganya pun tertawa.
Waktu minum keluarga pun menjadi pencair suasana. Tentu ketika Jean mulai menceritakan petualangan-petualangannya selama menjadi pentolan geng sekolahan membuat sang ibu tidak bisa menerimanya. Tapi, Jean sudah memutuskan bahwa itu sudah menjadi masa lalu.
Ya, masa lalu. Takkan ada lagi adu jotos, sabet-sabetan pisau, lempar-lemparan bata atau tong sampah dan segala macamnya. Sementara ini dia belum menemukan pengganti itu semua, tapi Jean yakin saat itu akan segera datang. Ini pun membuat ibunya kembali tersenyum.
"Oh iya, Jean."
"Apa, Ma?"
"Marco itu siapa?"
DEG
Wajah Jean mendadak menghangat. "Oh... Uh, dia... temanku."
"... Teman?"
"I-iya... Ya sebenarnya, dia yang membuat wajahku menjadi begini." Ketika ibunya hendak merespon, Jean segera menyela, "Udah, Ma. Nggak apa-apa. Gara-gara aku juga yang membuatnya begitu."
"Lho? Memangnya kamu apain dia, nak?" nada sang ibu terdengar meninggi.
Jean menghela nafas. "Ceritanya panjang... Sebenarnya dia orang yang baik. Benar-benar baik. Di sekolahnya pun dia sangat dihargai. Gampangnya, aku membuatnya nggak lagi percaya denganku dan itu membuatnya marah... Sangat, sangat marah."
Ibunya terdiam.
"Dia tinggal di dekat sini... Tapi aku nggak yakin dia mau menerimaku kalau aku datang ke rumahnya. Aku nggak yakin dia mau memaafkanku setelah peristiwa itu..."
"Tidak ada salahnya mencoba."
Jean menoleh menatap Om Nile.
"Kamu sudah mengakui kesalahanmu sendiri, kan?" lanjut Om Nile. Jean hanya menunduk. "Jangan tiru pamanmu ini waktu dulu. Jangan pernah kabur dari masalah."
"Perlihatkan padanya kalau kamu memang merasa demikian," sambung sang ibu. "Kamu bilang Marco orang baik, kan? Mama yakin dia akan mengerti."
Jean tersenyum ketika sebuah keputusan muncul dari dalam kepalanya.
.
=sirupmarjan=
.
Suara pintu gerbang rumah terbuka sampai ke telinga Marco. Penasaran siapa tamu malam ini, dengan lesu ia turun dari ranjangnya dan berjalan menuju jendela. Tak ada siapapun—langkahnya yang lamban membuat ia terlambat melihat orangnya yang mungkin sudah masuk ke ruang tamu sekarang ini.
Mendadak ia ingin ke kamar mandi.
Marco ketuk pintu kamarnya lalu mengucapkan, "Levi... aku butuh ke toilet."
Bunyi kunci pintu yang dibuka dari luar hanya menjadi satu-satunya respon sebelum Marco menarik gagang pintu ke dalam. Ia perhatikan sejenak Levi yang menatapnya datar dari posisi bersandarnya di tembok, saat itu juga ia mendengar suara ibunya yang tengah menyambut tamu.
"Maaf ya, Marco sedang tidak bisa ditemui sekarang. Dia sangat sibuk malam ini."
Marco mendecak sinis lalu melanjutkan langkahnya ke depan pintu masuk kamar mandi. Ketika tangannya hendak membuka pintunya...
"Oh... Ya sudah, bu. Saya permisi dulu."
Aku sedang tidak bermimpi, kan?
Marco mendengar pintu depan yang kembali tertutup disusul suara deritan gerbang besi di luar, menangkal pikirannya barusan. Kemudian, satu guyuran toilet menjadi penangkal pamungkas.
Di saat Marco hendak kembali masuk ke kamarnya yang dingin dan membosankan, tiba-tiba Levi berkata, "Erwin sudah mendengar ini."
Marco menaikkan alisnya bingung. "Erwin siapa?"
"Erwin Smith. Dia menceritakannya padaku beberapa waktu lalu."
Mendengar nama Jendral Kepolisian itu justru membuat Marco merasa lelah. "Kabar apapun itu menyebar sangat cepat, Levi. Siapa yang nggak tahu ada berita anak pejabat berkasus seperti aku sekarang, terutama di kalangan elit?"
Levi hanya menghela nafas.
"Ngomong-ngomong Levi, serius dia bicara langsung? Memang dia siapamu?"
"Ah. Aku belum menceritakannya secara detail, ya... Saat aku masih di masa-masa awal, Erwin yang waktu itu adalah ketua angkatan pertama sering memintaku untuk menjadi senjata pamungkas."
"Oh... Lalu, satu hal yang membuatku bingung—bukannya dia bisa punya record berkasus pula? Gimana dia bisa lolos masuk ke kepolisian?"
Levi memutar bola matanya. "Yaah, sebut saja dia Si Brengsek Jenius di mana hampir tak ada satupun orang termasuk diriku sendiri yang paham cara-caranya mengatasi masalah yang berhubungan dengan geng sekolah lain atau kegiatan-kegiatan akademiknya dengan cara sedemikian rupa sehingga nampak di mata orang banyak kalau dia tak berkasus sama sekali. Erwin dulu itu sepertimu, Bodt—masuk area terlarang atas kemauan sendiri dan tujuan yang sama."
"Tapi dia beruntung. Nggak seperti aku sekarang ini," sela Marco, memalingkan wajah sementara tangannya bergerak untuk membuka pintu penjaranya.
"Tapi Erwin justru memujimu setelah mendengar kasusmu ini."
Pergerakan Marco terhenti, ia tolehkan kepalanya dan mendapati Levi yang tengah menatapnya sambil... tersenyum (sangat) tipis?
"Kebanyakan orang akan menganggapmu sebagai manusia kurang kerjaan. Namun baginya, kamu ini spesial. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa ada orang yang memegang posisi tinggi mampu menyesuaikan diri dengan sangat baik di lingkungan yang berbeda seratus delapan puluh derajat. Dulu Erwin hanyalah ketua klub jurnalistik, kerjaannya meliput sana-sini. Sementara kamu, meski hanya menjadi orang nomor dua, kau berdiri di depan seluruh anak-anak seusiamu—entah dari mereka yang 'normal' maupun yang menjadi anak-anak buahmu. Mereka begitu mengagumimu—bahkan kudengar... kamu jauh lebih populer daripada ketuanya sendiri. Dengan dirimu yang demikian, kamu menjadi lebih terbuka dan mampu mengerti orang-orang di sekitarmu... meski itu harus merusak dirimu sendiri. Paham?"
Marco tersenyum kaku dan memalingkan muka. "Levi, itu berlebihan," ungkapnya.
"Itu bukan aku. Erwin yang bilang. Kurang-lebih," balas Levi.
Marco terkekeh pelan dan mengedikkan bahu. "Aku lelah menjadi aktor di dunia nyata."
"Sekarang kamu jadi tahu, kan?" balas Levi, tangannya ia silangkan di dada.
Paling tidak Marco mendapat sebuah mutiara mahal yang takkan ia jatuhkan. Ulahnya selama mencari benda itu mungkin telah memupuskan impiannya. Namun ketika bola putih mengkilap itu telah disimpannya ke dalam peti, Marco tak bisa menahan senyumnya lagi untuk merekah lebih lebar.
Marco belum pernah merasa sepuas ini seumur hidupnya.
"Sekarang, habiskan masa hukumanmu."
"Levi... itu merusak mood."
"Nggak peduli. Sana masuk."
.
=sirupmarjan=
.
Jean hanya mau menjadi normal. Datang baik-baik dari pintu depan, mengetuk lalu menanyai tuan rumah tentang bisa atau tidaknya bertemu dengan orang yang ingin ia jumpai malam itu. Sayang sepasang iris cokelat keemasan itu bisa melihat hal lain di balik jawaban Nyonya Bodt.
Marco sedang dalam masalah besar dan tentu Nyonya Bodt pasti sedang menghukumnya.
Tak ada jalan lain. Setelah ia balik badan dan mendengar pintu ditutup, ia tunggu beberapa saat sebelum mengendap-endap ke jalan setapak yang mengarah ke taman samping, 'jalan masuk' favoritnya. Didongakkan kepalanya ke arah pohon besar yang biasa dijadikan pijakan kemudian beralih ke jendela tertutup rapat yang memancarkan cahaya ruangan dari dalam. Pandangannya ia alihkan ke tanah—sepertinya kerikil-kerikil di sisi tembok bisa membantu. Ia ambil beberapa butir untuk dimasukkan ke saku jaketnya sebelum beranjak memanjat ke atas pohon seperti biasa.
Kamar Marco terlihat kosong ketika Jean berhasil mencapai titik pijakannya yang biasa. Mungkin Marco sedang keluar sejenak—dan ya, tak lama ia lihat Marco berjalan masuk dan merebahkan diri di ranjang. Perlahan Jean merogoh saku jaketnya, ia lempar sebutir kerikil mengenai kaca lalu cepat-cepat bersembunyi di balik tirai ranting dan dedaunan. Nampaknya kurang efektif, terlihat dari bagaimana Marco hanya mengangkat kepalanya sedikit sebelum kembali ke atas kasur. Kerikil kedua Jean lemparkan, Marco mulai tampak waspada. Kerikil ketiga dilempar dengan kekuatan lebih dan menghasilkan benturan yang cukup keras. Jean meringis lebar dari balik dedaunan atas keberhasilannya membuat Marco kesal hingga membuka jendela kamarnya lebar-lebar untuk mencari sumber masalah.
Marco hendak menutup kembali jendelanya, namun tak secepat Jean yang nekat melempar sebutir kerikil ke kepala si pemuda berbintik wajah itu.
Marco tetap sabar. Ditatapnya arah kira-kira batu kecil tadi melayang dengan kedua tangan ia silangkan di dada. "Siapapun kamu, apa maksudmu melempariku kerikil? Apa masalahmu?" tanyanya ke arah pohon rindang di samping kamarnya itu dengan nada menahan panasnya emosi.
Pintu kamar Marco lalu diketuk kasar dari luar. "Oi, Bodt! Bicara sama siapa kau?"
"Aku bicara dengan diriku sendiri, Levi!" balas Marco.
"Belum ada sebulan menjalani hukuman kamu sudah mulai hilang akal, Bodt?"
"Mungkin. Tapi semoga dugaannya salah."
Jean tak bisa menahan kekehan tawanya lagi.
"Ayolah, kawan," ucapan Marco menghentikan tawa Jean dalam sekejap. "Lampu ruangan ini nyorot sampai situ, tahu."
Kali ini Jean tertawa lepas dan muncul dari balik dedaunan. Pemuda berambut cokelat kepirangan itu hanya menyeringai melihat sepasang piringan mahoni Marco di sana melebar. Gigi-giginya mulai nampak ketika si pemuda berbintik hanya mampu menganga tanpa satu katapun terucap.
"Kangen, eh?" goda Jean.
"JEAN?!" ucap Marco pada akhirnya.
"Sssssst!" desis Jean, lalu berbisik, "Boleh kan, aku masuk?"
"S-sebentar... K-k-kamu... Jean? Jean Kirschtein?!" tuding Marco terbata-bata.
Jean menaikkan alisnya bingung.
"G-gimana—gimana bisa—kamu bukannya—Jean kan—"
"Mati kehabisan darah?" bantu Jean. "Plis, Marco. Kalau begitu jadinya, harusnya orang yang ada di depanmu ini udah di dalam liang lahat dari seminggu lalu."
Marco berjalan mundur perlahan tanpa melepas sorotan matanya. Tubuhnya semakin terlihat lunglai perlangkah. Jean pun terdorong untuk segera melompat masuk dan memapah Marco yang nyaris kehilangan keseimbangan tubuhnya yang melemas. Dituntunnya pemuda itu ke ranjang, mempersilakan Marco untuk duduk tenang dan menata kembali pikirannya.
Mendadak pintu kamar diketuk lagi disusul suara Levi yang kembali terdengar dari luar, "Bodt? Ada apa barusan?"
Jean mengumpat sebelum melangkah cepat ke arah lemari baju Marco dan sembunyi di dalamnya. Dari balik celah kecil daun pintu lemari, Jean amati Marco yang menghela nafas berat sebelum beranjak ke hadapan pintu kamarnya.
"Nggak apa-apa, Levi... Aku cuma jatuh dari tempat tidur."
"... Huh?"
"Levi, aku... aku cuma butuh waktu sendiri. Tolong. Tolong jangan sekalipun bertanya apa yang sedang terjadi di dalam sini. Jangan pula Levi membuka pintu ini kalau aku nggak memintanya. Aku sungguh minta tolong... untuk malam ini saja."
Wajah lelah Marco yang meski Jean hanya lihat tepiannya saja membuat dirinya merasa bersalah. Mungkin ada benarnya kata-kata Nyonya Bodt. Bukan di saat begini seharusnya dia datang.
Hening beberapa saat terpecah setelah Marco menjauh dari pintu dan berjalan ke arah lampu kamar untuk mematikan saklar, biar sinar bulan yang menjadi penggantinya. Ia lalu berjalan ke arah lemari bajunya, berkata, "Kamu nggak perlu sembunyi, sebenarnya."
Ekspresi Marco yang belum berubah nampak jelas sekarang. Perlahan, Jean dorong pintu lemari ke luar hingga muat baginya untuk melangkah keluar. Kini keduanya saling bertatapan, Jean dengan rasa canggung sementara Marco masih mencari jawaban dari sederet pertanyaan yang berlarian dalam hatinya.
Jean berdehem lalu membalik tubuhnya menghadap jendela. "Uh, mungkin... lain waktu aja aku mampir..."
"Hei." Marco tiba-tiba menangkap lengan Jean, menghentikan gerakan pemuda bersurai cokelat kepirangan itu seketika.
Rasanya sama seperti terakhir kali kugenggam.
"Apa, Marco?"
"Ini memang Jean."
"Memangnya siapa lagi?"
Marco tidak menjawab sementara melemaskan genggaman tangannya hingga lengan Jean terbebaskan.
"Yah, nampaknya aku udah bikin anak orang tambah menderita malam ini. Ibumu tadi benar bilang kamu sibuk—meski itu cuma 'bungkusan' yang di dalamnya berisi, 'Marco masih trauma karena kejadian waktu itu dan tolong jangan ganggu dia karena saat ini dia sedang dalam proses menyembuhkan traumanya'—"
"Justru dengan cara begini, kapan traumaku sembuh, Jean?"
Jean berbalik menghadap Marco.
"Aku kesetanan. Aku masih ingat jelas tanganku yang dengan sendirinya mengayun-ayunkan pisau itu. Aku ingat pula gimana darahmu mengucur deras dari hasil ukiranku. Aku nggak bisa mencegahnya... sama sekali. Baru setelah kamu jatuh, aku sadar kalau itu semua diriku," ungkap Marco pelan.
"Kamu bisa begitu karena aku yang menarik 'setanmu' keluar, Marco," bantah Jean. "Kamu tahu sendiri seegois dan sebrengsek apa aku ini. Aku berhasil menemukan celah untuk menarik keluar setan itu demi kepentinganku sendiri. Pastinya kamu juga tahu, yang namanya setan itu pasti selalu minta imbalan... dan kita berdua udah tahu mahalnya imbalan itu."
Sekali lagi keduanya berkomunikasi dalam diam. Marco kemudian memfokuskan perhatiannya pada bekas luka melintang yang terlihat sangat kontras dengan kulit wajah Jean yang pucat. Tangan Marco pelan-pelan terangkat, semakin dekat dengan luka itu hingga akhirnya berhasil mendarat mulus di sana tanpa halangan apapun.
Berat sekali rasanya ketika jempol Marco menelusuri garis luka itu dari ujung dahi sampai dagu.
"Mau tahu sesuatu, Marco? Teman-temanku bilang bekas luka ini membuatku kelihatan makin keren," pamer Jean basa-basi.
Marco menghela nafas lelah dan membalas, "Membuat makin keren sama ngerusak muka orang itu dua hal yang berbeda, Jean..."
Jean terkekeh kaku.
"Ini aku yang bikin...?"
"Bukan, Marco. 'Setanmu'."
Selesai menelusuri hingga ujung luka, Marco meletakkan tangannya di pundak Jean kemudian ia tarik dirinya hingga pemuda bersurai cerah itu berada dalam pelukan eratnya. Sementara Marco membenamkan wajahnya di antara pundak dan leher sahabatnya, Jean turut membalas dengan perlakuan yang sama. Seiring mengeratnya pelukan Marco, tubuh pemuda berambut gelap ini terasa bergetar. Jean tergerak untuk memberinya elusan lembut di punggung setelah merasakan pundaknya basah.
"Kukira... kamu udah nggak ada..." ungkap Marco.
Jean membalas dengan meyakinkan Marco, "Aku di sini, Marco... Aku di sini."
Kalimat itu Jean bisikkan layaknya mantra hingga berhasil menghentikan isakan Marco. Meskipun Marco mengangkat wajahnya nampak matanya yang merah dan sembab, senyumnya terpampang menutupi segala kesedihan dan menyingkirkan kegelapan yang selama ini menyelubungi dirinya. Ia merasa lega. Amat sangat lega. Setelah mengkondisikan diri, ia persilahkan Jean untuk duduk bersebelahan dengannya di tepi kasur.
"Hahaha, udaah... Nggak usah nangis, dasar cengeng," canda Jean sambil menepuk-nepuk punggung Marco.
Marco terkeheh sementara menghapus sisa-sisa air mata dengan ujung kaos yang dikenakannya.
Sempat hening sesaat—yang menenangkan, tentunya—Jean memulai, "Aku bersyukur masih diberi kesempatan buat ketemu kamu. Kukira kamu bakal nolak kedatanganku mentah-mentah karena... kamu tau sendiri, lah."
Senyum pahit Marco pun mengembang, "Harusnya aku juga tahu kalau di dunia macam itu apapun memang bisa terjadi." Marco menolehkan menghadap Jean, "Apapun, Jean. Termasuk yang kemarin itu."
Jean mengalihkan pandangan, menyesal.
"Jujur aku dilema, Jean. Waktu itu kita di posisi yang berseberangan, kan? Menjalin pertemanan beda kubu itu aku harus ekstra hati-hati atau kawan-kawan kita akan tabrakan."
Jean menyeringai dan menyeletuk, "Bener-bener skandal, ya? Eeeh, mungkin buatku nggak terlalu, tapi lebihnya kamu. Bayangin; udah anak OSIS, posisi nggak main-main pula, jadi ketua geng... Berapa kali coba aku mikir kamu memang udah error dari awal?"
"Hahaha! Ya, ya, ya, bolehlah..." tawa Marco sambil membenamkan wajah di telapak tangannya.
Tiba-tiba Jean bergeser mendekat hingga lutut mereka bersentuhan, kemudian melingkarkan lengannya di kedua pundak Marco. "Hei. Tahu nggak? Tadi aku ketemu Mama di rumahnya Om Nile," katanya pelan.
Marco nampak terkejut, sorotan matanya meminta Jean untuk cerita lebih lanjut.
"Meski awal-awal agak susah, akhirnya kami bisa damai. Mama juga udah minta maaf."
Marco tersenyum. "Syukurlah kalau begitu. Apa berarti habis ini kamu mau tinggal sama ibumu?"
Jean menggeleng. "Enggak. Mama bolehin aku tetap tinggal di rumahnya Om Nile. Suruh nemenin, katanya, hahaha! Tapi diusahain seminggu sekali mampir ke rumahnya Mama. Agak jauh memang, tapi nggak masalah."
Marco merespon dengan menganggukkan kepalanya.
"Hari ini..." Jean tersenyum sembari menggeleng heran "... benar-benar spesial buatku."
Jantung Jean nyaris keluar sangkar mendapati Marco yang mendadak merangkul pinggangnya.
"Waktu di tangga itu..." Marco menatap sepasang piringan cokelat keemasan yang memantulkan sinar bulan. "... kamu sungguhan?"
Jean hanya menelan ludah, tidak menjawab. Ia bersyukur rona merah di wajahnya tak terlihat akibat kurangnya pencahayaan.
"Nggak apa-apa, Jean. Bilang aja."
Tangan Jean yang masih berada di pundak Marco pun jemarinya bergerak untuk mengenggam erat. Dengan sedikit terbata, Jean berkata, "M-makasih. Terima kasih sudah mau menerimaku, Marco. Nggak peduli apa aja yang udah terjadi."
Marco membalasnya dengan sebuah senyuman tulus kemudian disusul dengan, "Sama-sama, Jean."
"... Boleh?"
Marco mengangkat alisnya bingung sebelum dikejutkan oleh Jean yang bibirnya mendadak menyambar milik Marco kilat dan memalingkan muka diliputi rasa malu dan canggung. Marco terkikik geli, lalu mencondongkan punggungnya hingga kedua wajah mereka berhadapan. Sejenak ia nampak ragu, namun tekad kuat menyingkirkan itu dan ia sambar balik ke si pemuda bersurai dua warna.
Tidak seperti kemarin, lepasnya beban ke atmosfir dari pundak mereka membuat keduanya jauh lebih nyaman untuk menjelajahi tiap senti kulit dibalik baju yang mereka kenakan. Masih serampangan, memang. Namun apa yang bisa diharapkan lebih dari sepasang remaja lelaki enam belas tahunan hormonal? Ketika Marco mulai sedikit hilang kendali saja, jemari nakalnya yang hendak merogoh masuk satu bagian itu sudah dicegah niatnya oleh cengkeraman tangan Jean.
Sadar, Marco segera bergerak mundur dan menjauh. "A-astaga—Maaf Jean, a-aku... Uuh, nyaris..."
Jean terkekeh kaku di sela-sela nafasnya yang terengah. "S-sori. Aku c-cuma agak kaget," ucapnya. Selesai menghela nafas, ia berkata, "Oke... sampai mana kita tadi?"
"Jangan, Jean. Jangan. Makasih udah mencegahku, Jean. Aku nggak mau sampai keterusan. I-itu... Uh... Kita belum siap."
Raut muka Jean pun meluntur.
"Maaf, Jean," ucap Marco.
Dengan sedikit menyesal, Jean berdiri turun dari kasur dan membalas, "Ya udahlah kalau itu maumu. Sabar sedikit nggak masalah, kan?" Marco tersenyum canggung dan mengangguk. Jean melanjutkan lagi, "Oke, aku pulang dulu. Om Nile nanti nyariin, lagi. HP-mu aktif, nggak?"
"Aktif, tapi cuma boleh dipakai dari jam tiga sampai lima sore."
Jean menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Buset. Napi aja boleh dikunjungi di jam-jam tertentu... Terus aku harus gimana kalau begini?"
"Nanti biar kutanyakan orang tuaku," usul Marco.
"Hah? Yakin?"
"Lihat aja. Pokoknya harus ada waktu di mana aku boleh bertemu teman. Nggak baik juga kan, kalau dilarang? Aku kabari kamu nanti."
"Sip." Saat Jean hendak melompat keluar jendela, ia teringat sesuatu. "Jadi... kita sekarang jadian, ceritanya?"
Marco hanya meringis.
Jean balas tersenyum dan mengucapkan, "Selamat malam, Marco. Stay strong, 'right? You'll be okay." Melesatlah ia keluar, meninggalkan setengah jiwanya untuk beristirahat dalam kedamaian malam ini.
.
=sirupmarjan=
.
"Oke... Udah berapa tahun, ini?"
"Satu... dua... tiga... 'pat... lima. Bayangin; lima tahun lewat, Thomas. Sekarang udah pada kuliah semester tiga dan kuda liar sahabat kita ini selalu berhasil dijinakkan Si Joki Culun dari Ilmu Hukum. Heheheh."
"Haha... Connie, tidak perlu memberiku nickname, oke?"
"S-SIAPA YANG KAMU SEBUT KUDA, CONNIE?!"
Tawa lepas menggema di ruangan yang luas itu.
"Jean, jangan teriak-teriak. Konsentrasi. Giliranmu, oi."
"Marlo Freudenberg, diamlah..."
"Jean, Kak Marlo benar. Konsentrasi. Kita semua ingin tahu siapa yang akan dipecundangi malam ini, kan?"
Pria muda bersurai cokelat kepirangan itu menatap jengkel pada lelaki berbintik wajah yang tengah tersenyum penuh arti padanya, beberapa kartu dipegang tangannya santai. "Diam, Marco," desisnya.
Masih tersenyum, Marco menggerakkan tangan satunya yang kosong di depan bibir layaknya menutup risleting. Kemudian, ia gerakkan jari telunjuknya melingkar, merujuk pada kondisi Jean saat ini yang terlucuti hampir semua pakaiannya kecuali boxer hitam yang masih ia kenakan.
Sementara Marco sendiri? Utuh seratus persen. Seluruh penghuni ruangan itu terkikik kecuali Jean yang tentu terbakar emosi lalu ia lemparkan seluruh isi tangannya.
Ratu-club, Ratu-love, sepuluh-diamond, sepuluh-club, sepuluh-love. Full house.
"Lagi? Ckckckck... Oh Jean Kirschtein..." Marco menggeleng-geleng tak percaya, namun nada bicaranya berbunyi lain. Ia turut lemparkan semua kartu yang dipegangnya, berkata, "Apa selama ini kamu tidak belajar dari sejarah, Jean?"
Sepuluh. Sepuluh. Jack. Ratu. Raja. Hitam seluruhnya. Royal Flush.
Seluruh isi ruangan hampir meledak oleh suara sorak-sorai dan seruan penderitaan Jean. Sebelum kaca-kaca mulai retak, Marco berhasil menenangkan mereka kembali, "Tunggu, tunggu. Jean tidak perlu melepas sisa pakaiannya. Aku punya sesuatu yang lebih baik."
"Lho, kok bisa? Kan aturannya begitu, kan?" sela Connie.
"Iya. Tapi aku pemenangnya, kan?" balas Marco. Tak seorangpun menyerangnya balik. "Jadi begini... Aku dulu pernah janji, tapi karena waktu itu kondisinya tidak mendukung jadinya kuundur hari ini."
Seluruh pasang mata menatap Marco penasaran.
Dengan tangan dikatupkan dan punggung yang dicondongkan ke depan, Marco berkata, "Nah, Jean... Penantianmu lima tahun sejak 'hari itu' terpuaskan hari ini. Ayo duel."
"Hah? Duel?"
"Duel apaan?"
"Ayolaaah, katanya kalian nggak akan berantem-beranteman lagi setelah lulus SMA."
Senyuman Marco tidak meluntur, masih menatap pemuda malang itu. "Aku sangat menghargai orang yang sabar, Jean. Tentunya duel ini nggak kita lakukan detik ini, di tempat ini juga, kan? Kamu yang menentukan berapa ronde, deh."
Darah pun terpompa membanjiri wajah Jean. "B-BRENGSEK! BUKAN SETAN LAGI KALAU GINI! DASAR IBLIS!"
= = = = FIN = = = =
(A/N)
Sebelumnya, saya sebagai author mohon maaf atas update yang super telat... habis mau gimana lagi... deadline final project kuliah ditambah deadline project visual novel disambung UAS bener-bener bikin saya KO. Yang jelas...
WOOOOHOOOOO! FINALLY IT'S DONE! PUAS DIRI INI! MY FIRST COMPLETE MULTICHAPTER FIC! 8'D *sujud syukur*
Perjuangan saya untuk mendorong diri ini menulis terbayar sudah. Jujur, bagian paling susah di chapter ini adalah mendapatkan bagian Jean yang ketemu ibunya. Saya harap yang puas nggak cuma saya tapi teman-teman pembaca juga, hehehe.
Makasih banyak buat yang udah setia membaca dan menunggu fic ini untuk terus update, semua temen-temen readers yang menyempatkan diri untuk nulis review, ada Ai Kazoku, fallenmoka, Hatake Ichisan, 7th Commander, AlayChildren, Mirotic dan siapapun yang sudah-sudah saya gak bisa nyebut satu-satu hahahaha... Makasih juga buat DeBeilschmidt yang udah ngasih saya banyak inspirasi dan segala macemnya, entah kalo kita nggak nge-crack bareng semangat saya buat menggali ide-ide bisa ilang hehe :')
Tak lupa juga yang +fav dan +follow fic ini! Saya terkejut, benar-benar terkejut. Saya nggak nyangka fic yang berawal dari sekedar iseng-iseng ini bisa diterima teman-teman readers semua. Dan oke, saya makin bersyukur lagi ketika lihat fic ini muncul di daftar teratas fic MarJan berbahasa Indonesia. Terima kasih semuanya... Saya terharuuu :'D
Mungkin segini aja yang bisa saya ungkapkan, yang jelas saya bahagia dan sangat berterima kasih. Buat temen-temen yang pingin ngobrol-ngobrol sama saya, saya ada twitter, F_Crosser (ya, F_Crosser itu saya hahahahaha). Saya juga ada main di Tumblr di f-x-er . tumblr . Oke, sampai ketemu di sana (dan fic2 saya berikutnya), ya! :D
Tak lupa juga, di akhir ini saya mengharapkan kritik/saran/review dari pembaca semuanya supaya di fic-fic saya berikutnya menjadi lebih baik lagi. Saya masih belajar. :)
P.S. Ayo perbanyak pasokan stok Sirup MarJan! :D
