Do You Remember?

Disclaimer: I only own the plot

Pair: Kai/Kyungsoo

Length: Chapters

Genre: Angst/Hurt/Comfort

Warning: Typos. Krystal as the cameo.

If you don't like it then just go back and don't read

Summary: Because we are just meant to be. Do you remember?

Part 12 - A Confession


Jongin bersandar pada dinding yang dingin dengan tatapan kosong. Sudah sekitar 15 menit ia dalam posisi seperti itu dan tak bergeming sedikit pun, semuanya terasa seperti mimpi. Mimpi buruk, lebih tepatnya sangat buruk. Entah sejak kapan ia merasa hidupnya menjadi serumit ini, sangat rumit sampai ia bahkan tak tahu lagi apa ia masih ingin bertahan hidup atau tidak.

"Jongin?"

Suara itu membangunkan Jongin dari alam bawah sadarnya, mengembalikannya untuk berpijak di alam nyata. Ia menoleh dan mendapati lelaki mungil itu berdiri di hadapannya dengan muka sedikit ragu.

"H-hyung?! Sedang apa kau disini?!" Jongin sedikit panik, kaget karena namanya dipanggil oleh sosok yang sangat ia rindukan itu dan kaget karena melihat lelaki yang harusnya masih didalam kamarnya sekarang sudah berjalan dengan bebas bahkan menghampirinya.

"Dokter bilang aku sudah boleh berjalan-jalan asal tidak jauh-jauh, lagipula aku tak mau memanjakan tubuhku. Dokter sendiri kaget melihat kondisi tubuhku yang sangat segar padahal baru saja bangun dari koma." Ucap Kyungsoo santai sambil duduk disamping Jongin, lelaki berkulit sedikit gelap itu segera menyingkir dari Kyungsoo, ia menyembunyikan dalam-dalam keinginannya untuk memeluk Kyungsoo. Ia hanya tak mau membuat lelaki itu takut.

"Oh... baguslah."

Kyungsoo menatap Jongin membuat lelaki dihadapannya itu sedikit salah tingkah. Kyungsoo kemudian tersenyum manis, sangat manis.

"Dokter bilang kau selalu datang setiap hari dan menjagaku, dia menceritakan bagaimana kau menghabiskan waktumu bersamaku. Katanya kau sering bercerita padaku ya? Hahaha itu sangat bodoh, tapi... terimakasih. Terimakasih sudah menjagaku selama ini." Ucap Kyungsoo, menatapa kedua manik mata lelaki di hadapannya.

Jongin terdiam, tanpa perintahnya kedua tangannya meraih Kyungsoo. Memeluknya erat. Ia tak bisa menahannya lagi, tidak setelah mendengar Kyungsoo mengucapkan "terimakasih", tidak setelah ia melihat Kyungsoo tersenyum lagi. Senyum yang ia rindukan. Kyungsoo membalas pelukan Jongin, membiarkan lelaki yang lebih muda dihadapannya itu memeluknya dengan sangat erat, entah kenapa ia menyukainya. Ia menyukai wangi tubuh Jongin dan hangatnya pelukan Jongin. Ia merasa... ada hal yang ia sangat rindukan sejak lama. Dalam diam, Jongin menangis di balik pundak Kyungsoo.

###

"Sebenarnya, kita ini ada hubungan apa?"

Pertanyaan ini membuat Jongin menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah Kyungsoo. Lelaki dengan mata besar itu sedang menatap keluar jendela tanpa menoleh sedikit pun ke arah Jongin

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya hal itu?"

"Karena aku merasa ada yang sesak disini." Ucap Kyungsoo sembari menunjuk dirinya sendiri. Jongin tertegun.

"Apa sangat sesak?"

"Tiap aku melihatmu rasanya aku sangat senang tapi juga sangat sesak. Sangat sesak hingga aku ingin menangis dan berteriak, seperti aku pernah merasakan sakit karenamu. Karena itu aku bertanya, sebenarnya kita ini ada hubungan apa?"

Diam. Jongin tak menjawab pertanyaan Kyungsoo, ia terlalu takut bahkan untuk sekedar menatap Kyungsoo.

"Hey Jongin, jawablah! Aku hanya ingin tahu."

"Kau tidak perlu tahu." Ucap Jongin dengan parau. Ia berusaha terdengar tenang namun gagal.

"Kenapa?"

"Karena aku percaya kau akan mengingatnya lagi."

"Jongin, ayolah."

"Kau hanya perlu tahu satu hal mengenaiku."

Jongin menarik nafasnya panjang, berpikir berjuta-juta kali lagi untuk mengucapkan kalimat ini. Tapi pada akhirnya ia menemukan jalan buntu di pikirannya, Ia memejamkan matanya sejenak kemudian menatap manik mata Kyungsoo

"Aku akan selalu berada disisimu dan ini sebuah janji." Ucap Jongin, seakan mengulang kisah lamanya. Ia berucap janji lagi, tapi Kyungsoo hanya menatapnya bingung. Lagi-lagi perasaan aneh itu datang, rasa rindu dan juga sakit. Ia hanya menatap Jongin dengan seksama

"Bagaimana bisa aku mempercayai sebuah janji darimu, Jongin? Aku bahkan baru mengenalmu."

"Kau boleh tidak mempercayaiku, kali ini biarkan aku yang membuktikannya. Kau tak perlu memegang janjiku, biar aku yang buktikan pada hyung."

Kyungsoo mengangguk-angguk, ia memainkan jarinya dan kemudian tersenyum

"Aku tahu, kau orang yang baik Kim Jongin."

Jongin tersenyum, lagi-lagi ia menangis dalam diam. Ia tahu, Kyungsoo berkata begitu karena ia masih lupa, ia tak ingat apa yang terjadi di antara mereka. Jongin tahu ia akan menerima konsekuensi lebih saat Kyungsoo mengingat semuanya.

###

"Bagaimana keadaan Kyungsoo?" Tanya sebuah suara berat begitu ia tiba di apartemen Jongin.

"Baik, ia tersenyum setiap hari"

"Bodoh. Maksudku, bagaimana keadaan dia DENGANMU"

"Chanyeol hyung, bukankah sudah sangat jelas? Dia tidak ingat denganku dan menganggapku ini orang baik dan blablabla" Jawab Jongin sambil terus mengganti channel TV dihadapannya dengan malas.

"Kau tidak memberitahunya kalo kalian... ehm sepasang kekasih ehm"

Jongin menggeleng pelan, ia meletakkan remote TV dan menoleh ke arah Chanyeol.

"Aku takut ia akan pergi dariku lagi."

"Tapi Jong-"

"Aku takut jika aku memberitahu semuanya dia akan mengecapku sebagai orang jahat dan pergi dariku. Aku takut aku tidak akan punya kesempatan untuk bersamanya lagi."

"Jong-"

"Aku pengecut, iya kan? Menyakitinya tapi tak mau kehilangannya, begitu ia punya kesempatan untuk pergi aku tak mau membiarkannya ia pergi. Aku terus berlindung dalam topeng amnesia-nya agar ia tak ingat apa-apa soal kami. Agar ia tahu aku ini 'bersih' dan menerimaku." Jongin terkekeh sendiri dan menatap Chanyeol dengan nanar.

"Aku takut hyung... Aku takut ia akan menemukan orang yang lebih baik dariku dan pergi meninggalkanku. Aku takut, sangat takut."

Chanyeol mengusap pelan pundak Jongin, menatap lelaki dihadapannya yang juga teman baiknya itu. Entah kenapa semua terasa sudah begitu lama, terlalu banyak hal yang terjadi. Chanyeol tahu hal ini berat untuk Jongin, tapi ia tak mau membiarkan temannya itu terus bersikap seperti ini.

"Kalau mengatakan yang sejujurnya pada Kyungsoo, aku jamin itu akan membantu ia mengingat semuanya."

"Apa maksudmu?"

"Kaulah yang paling tahu seberapa besar rasa cinta Kyungsoo padamu Jongin, sejak awal seandainya ia tak mencintaimu ia takkan mau menemanimu jalan-jalan tepat sebelum kecelakaan kan?"

Jongin terdiam, ia merasa ingatannya dibawa kembali pada masa itu. Ia tertunduk, berpikir lagi dan ia bahkan tak mengerti sejak kapan ia menjadi seorang pemikir.

"Jongin, aku tahu kau lelaki kuat. Kalau kau memang mau memperbaiki semuanya, hadapilah. Bukan berlari seperti ini."

###

"Aku mantan pacarmu."

Kalimat itu sukses membuat Kyungsoo menghentikan kegiatannya menggambar dan menaruh spidolnya diatas kertas berukuran A4 itu. Ia menatap lelaki dihadapannya dengan tatapan yang tak bisa diartikan dengan kata-kata.

"A-apa?"

"Aku mantan pacarmu."

Sekali lagi, lelaki dihadapannya mengucapkan kalimat yang sama. Kyungsoo semakin melebarkan kedua bola matanya dan menatap lelaki dihadapannya itu dengan gusar, panik, atau malah bisa dibilang marah?

"Apa maksudmu, Kim Jongin?" Tanya Kyungsoo sambil berusaha bersikap tenang. Ia tak mau terlihat panik mendengar kalimat dari lelaki dihadapannya.

"Aku mantan pacarmu yang pernah menyelingkuhimu, aku pergi meninggalkanmu dan pacaran dengan seorang gadis. Namanya Krystal. Kau tak tahan dan pergi dari apartemen kita. Kau meninggalkanku. Kau bilang kau tidak akan bisa kembali bersamaku tapi aku tetap mengejarmu. Sampai akhirnya aku mengajakmu untuk bertemu tapi kau tertabrak mobil dan koma."

Kyungsoo terbelalak mendengar semuanya, ia kaget mendengar semua perkataan Jongin, pengakuan Jongin. Kepalanya terasa sangat sakit tapi lebih dari itu, hatinya kembali merasakan sakit.

"Hyung pasti sangat marah padaku sekarang dan membenciku, bukan? Aku sudah menyakiti hyung dan membuat hyung menangis terus menerus. Aku memang pantas dibenci karena aku sudah berbuat sangat jahat."

"Apa yang kau inginkan dariku sekarang dengan mengatakan semua hal itu?" Tanya Kyungsoo sambil menahan amarahnya, ia ingin berteriak dan menangis. Ada rasa sakit yang seakan memaksa untuk keluar. Seakan menyuruhnya untuk segera mendorong dan menampar Jongin tapi ia bahkan tak tahu kenapa. Kyungsoo meremas tangannya dengan kuat, ia menatap Jongin dengan nanar, menyembunyikan tangisnya.

"Apa yang kau inginkan dariku, Kim Jongin...?"

Jongin menatapnya dalam-dalam, ia menggelengkan kepalanya pelan.

"Tidak ada."

"Lalu?"

Jongin menangkupkan kedua tangannya di wajah mungil Kyungsoo dan mempersempit jarak diantara mereka.

"Aku tak menginginkan apa-apa, aku hanya... aku mencintaimu." Ucapnya sebelum menghapus jarak diantara mereka.

Bibir itu mendarat tepat didahi Kyungsoo, membuat air mata yang sedari tadi ditahannya keluar. Ia membiarkan tangannya bergerak dengan sendirinya, memeluk erat pinggang lelaki didepannya. Jongin tersenyum, ia menjauhkan bibirnya dari dahi Kyungsoo dan menatap lelaki itu

"Aku akan membuat hyung ingat semuanya, walaupun hyung akan membenciku tapi aku akan membuat hyung ingat semuanya."


"Love will never find a way if you keep running from the truth. Even if the truth will make you cry and hurt, even if it will just make everything getting harder, just face it. No matter how terrible things have happened and how many barriers come & go. If you really face it and love it, you will find a way. A way to confess everything, to be opened about everything, to be stronger to face cruel truth. To be with the one that you love the most"