The Moon and The Sun

Naruto Fanfiction

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pairing : Naruto & Sakura

Genre(s) : Romance, Hurt/comfort, Family,Drama

Rate : T

Warning : OOC,AU,Siscon,Typo(s),gaje, nonsense, bosenin, bikin naik darah(maybe?)

Summary :

"Seumur hidup, hanya Kakashi-nii saja yang akan kupanggil Oniichan, Bakaniki! SELAMANYA! " Itu pernyataan sakura terhadap kakak keduanya― Sasori.,yang batas sisconnya sudah hampir melampaui batas normal. Hal itulah yang membuat Sakura agak berjaga jarak dengan kakaknya itu, gara-gara sikap sasori pula Sakura tak bisa mendapatkan kisah cinta yang berkesan sampai ia bertemu seseorang..

Yeee~~~ Akhirnyaaa akhirnya akhirnyaa setelah sekian lama engga ngeupdate fanfic, akhirnya bisa update juga:') Jangan pada bosen nungguin fic Miu update yaaa~ Maaf banget, WiFi Miu sudah habis masanya, harus bayar lagi tehehe~ Dan Miu engga sempet ke warnet,soalnya tiap hari Miu pulang sekolah tuh nyampe rumah maghrib terus u.u Tapi, seneng deh waktu liat review ternyata banyak yang suka fic dan nunggu update-an fic ini:'') Miu jadi ceria hehehe~ Semoga readers juga ikutan ceria kaya Miu yaa^^ Nah, bales review di akhir aja ya, saking lamanya Miu absen nyaris 3 minggu *hiks* ternyata banyak yang review^^ Biar engga kelamaan untuk readers buat baca ini fic^^ Miu bikin chap ini lebih panjang ya~ PLUS double chapter update^^!

Oke, lanjut ke chapter 13^^! Enjoy it,minna^^

Chapter 13 : When i knew it

"SAKU-CHAAAANNN!" Suara teriakan yang terdengar membahagiakan ditelinga seseorang telah memekikkan telinga Sakura yang masih asyik meringkuk didalam selimutnya. Entah kenapa, hari ini Sakura sepertinya bisa menghabiskan waktu tidur yang lebih lama dari hari-hari sebelumnya.

"Umm.. Suara apa ini.. Berisik sekali~" Sakura mengerang kesal.. Beraninya membangunkannya saat ia masih tertidur nyenyak seperti ini..

"Sa-ku-chan! Ayo banguun~ Hayaku,hayaku!" Ternyata, suara Sasori.. Seharusnya Sakura bisa menebak dengan mudah siapa orang yang selalu berteriak seperti itu disaat pagi hari.. Orang yang SELALU membuat Sakura kesal..

'Benar-benar menyebalkan..' Pikir Sakura seraya menggaruk kepalanya karena merasa terganggu.. Hal itu biasa dilakukan orang-orang sebagai suatu kebiasaan,bukan?

Ne,Sakura.. Apakah kau benar-benar menganggap Sasori mengganggu? Jadi.. Untuk apa kau menangisinya dan berkata Okaerinasai berkali-kali? Hem hem... Aku tak berpikir kalau kau benar-benar merasa terganggu karenanya. Ne, Sakura?^^

"Berisik kau,bakaniki..Aku butuh tidur sekarang. Pergilah dari kamarku,dan.. HEI!" Sakura baru saja akan menyelimuti dirinya lagi,sampai suatu ketika ia merasakan hal yang 'benar-benar' janggal yang ada di hadapannya.

"Sa-Sa-Sasori! Bagaimana caranya kau bisa memasuki kamarku?! Seingatku aku mengunci pintuku kemarin?!" Sakura menunjuk Sasori dan pintu beberapa kali secara bergantian

"Ja.. Jangan bilang kau.. Membobol pntu kamarku? Kau harus segera diikat erat-erat,Sasori.." Sakura menyiapkan kepalan tangan di sisi pinggangnya

"Ah, bukan.. Bukan.. Aku masuk sini lewat jendela" Oke, Sasori.. Kau menjawab pertanyaan Sakura segitu entengnya kah? Dengan gaya 'peace' dan senyum innocent itu.

"Kau.. Benar-benar berbahaya.. Sasori.." Sakura memicingkan matanya dalam-dalam.

"Ah, kau bisa saja.." Entah kenapa, tiba-tiba Sasori menggaruk belakang kepalanya dengan ekspresi wajah malu-malu selayaknya anak kecil yang baru saja dipuji.

"Itu bukan pujian!" Teriak Sakura frustasi

'Haaah.. Aku agak menyesali tangisanku kemarin sore.. Tahu akan begini, aku takkan bicara dengannya. Menyebalkan' Pikir Sakura. Sakura beranjak dari tempat tidurnya,dan melangkahkan kaki ke kamar mandi yang berada di kamarnya.

"Mau kemana,Saku?" Tanya Sasori heran. Kenapa heran? Padahal Sakura kan akan mandi..

Oke,Sasori heran bukan karena Sakura akan mandi.. Sakura adalah cewek yang senang mandi, kalau Sasori kaget hanya karena Sakura akan mandi pagi.. Kok kesannya Sakura jarang mandi? Oke, balik lagi, Sasori heran karena di tangan Sakura terdapat seragam sekolah yang selalu ia pakai setiap hari senin sampai jumat.

"Mandi lah,bodoh.. Ini sudah jam enam tepat. Kalau aku tak lekas mandi sekarang, aku akan terlambat berangkat ke sekolah!" Sakura mendelik sinis. Apa-apaan Sasori itu? Sudah jelas pagi ini aku akan bersiap untuk ke sekolah,bukan? Untuk apa ia bertanya lagi?

"Uh... Umm.. Ya sudah.. Aku tak tanggung jawab apa-apa ya jika kau marah padaku nanti,Saku-chan.." Sasori pun melengos pergi dengan sebuah seringai tipis yang tiba-tiba muncul di wajahnya yang tampan itu.

"Untuk apa senyam senyum segala? Menggelikan" Tak lama kemudian, terdengar suara pintu tertutup dan suara wanita yang bersiul dari kamar mandi.

-Ruang keluarga di rumah keluarga Hatake-

"Saso, siapa yang mandi? Kok ada suara shower menyala dari atas?" Tanya Akako yang sedang sedang sibuk memindahkan channel TV ke acara telenovela spanyol yang dulu sedang booming. Katanya sih, ia rindu menonton telenovela. Bahkan sampai keliling Konoha untuk mencari kaset DVDnya.

"Ah,itu.. Sakura yang mandi.." Sasori yang baru saja datang di ruang keluarga itu pun langsung duduk di sofa tepat sebelah Kaa-san nya

"Hee, benarkah? Tumben Sakura jam segini sudah mandi lagi? Biasanya setiap hari ini dan besok ia selalu ngaret mandinya." Akako mengambil se-pack tisu yang ada di meja sebelah dan menyimpannya diatas pahanya. Berhubung cerita telenovela ini sangat sedih, ia mengira akan menangis nantinya. Jadi ia sudah menyiapkan barang yang tepat untuk mengantisipasinya.

"Ah, kalau dia sudah turun,pasti kaa-san sudah tahu apa alasannya.." Ujar Sasori sambil menunjukkan mata bosan ketika melihat tayangan yang muncul di televisinya.

"Hee,begitu.." Akako memutar tubuhnya ke belakang,dan menunggu anak gadis satu-satunya itu untuk turun dan datang ke ruang keluarga ini.

Lalu,secara diam-diam Sasori mengambil remote televisi dari meja yang arahnya bertolak belakang dengan kaa-san nya. Ia segera mengecilkan volume dengan berhati-hati, takutnya Kaa-sannya sadar bahwa volume TV menjadi pelan. Tapi, sepertinya dugaan Sasori benar.. Akako langsung membalikkan tubuh ke arah semula dan merebut remote TV dari tangan Sasori secepat kilat..

"K-Kaa-san! " Keluh Sasori saat mendapati remote yang tadinya ada dalam genggamannya kini sudah berpindah tangan.

"Jangan coba-coba untuk mengganti channelnya,Saso.. Kau tahu? Episode ini adalah episode yang paling seru!" Akako mengambil secarik tisu, dan memegangnya dengan erat. Matanya terpaku pada sebuah adegan tangis menangis yang dilakukan oleh aktor dan aktris spanyol yang ada di layar TV.

"Ck.. alasan yang sama setiap hari.." Sasori berdecak kesal. Pasalnya, Kaa-san nya itu selalu memberikan alasan yang sama setiap kali ia akan mengganti channel telenovela yang selalu tayang pada hari Sabtu pagi mulai pukul 5.30 am sampai 7.00 am. Cukup lama dan cukup membuat para lelaki―khususnya remaja, untuk merasa bosan,bukan?

"Biar saja! Telenovela itu benar-benar seru,lho..! Tonton saja kalau tak percaya!" Akako menarik tangan Sasori dengan maksud agar Sasori mau mencoba menonton telenovela yang sangat digemari oleh Kaa-san nya itu. Mau tak mau, sebagai anak yang baik, Sasori menuruti keinginan dari Kaa-san nya ini..

*1 jam kemudian*

Telenovela berakhir dengan adegan disaat si wanita tokoh utamanya harus pergi dari sisi sang pemuda yang sangat dicintainya. Bagaimanapun juga, kisah mereka adalah kisah cinta terlarang antara majikan dan pembantu. Reaksi mengejutkan datang dari Sasori..

"Hehemm.. Bagaimana,Saso? Menarik bukan?" Akako memberikan senyuman kemenangan diatas kekalahan Sasori.

"Ti.. Tidak buruk.. Ma-maksudku, aktris wanitanya lumayan cantik juga" Sasori berusaha menyangkal dari kemenangan yang sudah jelas didapatkan oleh Kaa-san nya. Ia berkata bahwa aktrisnya cantik, padahal dalam hatinya ia berkata bahwa aktrisnya biasa saja.. Kenapa begitu jawabannya? Karena ia membandingkan aktris itu dengan adik perempuannya.

"Kau berusaha menyangkal,Sasori!" Akako menyikut bahu Saso pelan

"Ka-Kaa-san..!" Wajah Sasori memerah.. Kenapa? Soalnya,yang sedari tadi heboho dengan adengannya itu bukan Akako,melainkan Sasori sendiri. Padahal Akako Cuma mengatakan satu hal dan hcuma sekali..

'Saso! Kau jangan melewatkan adegan itu! Adegan ini sangat menyentuh!' dengan siku Akako yang menyikut bahu Sasori dengan cukup keras

Tapi, setelahnya.. Sasori yang heboh sendiri

'Kaa-san! Aku kasihan sekali sama ceweknya! kenapa dia *bla bla bla*' Dengan tatapan dan raut wajah sedihnya itu,awalnya Akako mengira bahwa Sasori sudah mulai terpengaruh adegan mengharukan yang sering disajikan oleh film Telenovela.

Atau contoh lain..

'Kaa-san! Aku sedih banget! Kasian banget sama itu cewek! Miris banget ya hidupnya, Kaa-san!' Tiba-tiba, setetes air mata jatuh ke pipi Sasori. Hal ini semakin meyakinkan Akako bahwa Sasori mulai menyukai Telenovela..

Yah, baguslah, setidaknya tak ada lagi yang bisa melarangnya menonton telenovela. Soalnya, suaminya saja sudah angkat tangan..

"Kaa-san! Hari ini tidak ada sarapan? Aku hampir terlambat!" Tiba-tiba sebuah teriakan pelan terdengar dari dapur.

"Te-terlambat apa,Saku..?" Akako beranjak dari sofa ruang tengah, lalu ia pergi menemui anaknya yang berada di dapur

Mata Akako terbelalak.. Oke, Sakura.. Pakai seragam?

"Ka-Kaa-san, ada yang aneh dengan seragamku? Kenapa menatapku seperti itu?" Sakura mengernyit, seingatnya ia memakai seragamnya dengan benar, tidak ada kesalahan sekecil apapun walaupun hal itu adalah tinggi kaus kaki yang harus berjarak 3 cm dari lutut.. Sakura benar-benar mengukurnya dengan tepat, dengan milimeternya juga.. Oke,ini.. berlebihan.

"Ngg, seragamnya sih tidak salah.. Tapi harinya salah.." Akako menggaruk kepala belakangnya eperlahan sambil sedikit tertawa 'tak niat'

"Eh? Salah hari?" Sakura terdiam menatap ibunya heran.. Perasaan hari ini hari jumat dan tak ada pelajaran olahraga hari ini..

"Sekarang kan.. Hari sabtu.." Suara berat etrdengar dari lantai dua. Sakura hanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka

"Ah, kashi! Kau sudah bangun? Pasti kau lelah sekali menyelesaikan tugasmu.." Akako menghampiri Kakashi yang turun dari tangga.

"Ng, tidak juga.. Tugas ini mudah.. Maaf aku bangun terlalu siang, Kaa-san.." Jawab Kakashi santai sambil mengangkat sebelah tangannya

"Ah, tak apa.. Kaa-san mengerti tugas mahasiswa memang banyak kok.." Akako menunjukkan senyum bijaknya pada Kakashi. Setidaknya, senyuman tulus ibunya itu membuat dirinya tenang..

Berbeda dengan Sakura.. Ia masih sedikit kaget, sejak tadi ia menyiapkan segala sesuatu dengan sempurna. Tetapi, yang dilakukannya hari ini sia-sia..

"Hari.. Sabtu?" Mata Sakura tak berkedip sejak tadi, hanya mulut yang terbuka lalu tertutup berulang kali. Seperti akan mengucapkan sesuatu tapi selalu tidak jadi. Tasnya yang sejak tadi bertengger di bahunya kini terjatuh perlahan ke lantai rumah.

"Ya, kau lupa Saku?" Sasori kini datang dari balik dinding ruang keluarga dengan tampang innocent yang (lagi-lagi) ditunjukkannya

"Ke.. Kenapa kau tidak mengatakannya sejak tadi SA-SO-RIII?!" aura hitam keluar dari balikk Sakura.. Menyeramkan memang, tapi sepertinya Sasori cukup menikmati sikap adiknya yang seperti ini. Jadi ia terlihat tenang dan hanya senyum senyum saja.

"Biar kuberi tahu sekarang, Saku-chaan~" Sasori mendekat ke arah Sakura, tiba-tiba Kakashi muncul diantara Sasori dan Sakura

"Heeei, Kakashi-nii! Apa yang kau lakukan? Lihat, aku dan Saku-chan sekarang terpisah jauh beginii" Sasori merengut, bibirnya maju beberapa senti.

"Apa yang kau bicarakan? Terlalu melebihkan deh.. Jangan mengusik Sakura. Kalian baru saja berbaikan,apa kau mau bertengkar lagi? Ne, Sakura?" Kakashi menoleh ke arah Sakura, Sakura pun menyetujui perkataan Kakashi dan menganggukkan kepalanya dengan tatapan death glare yang masih tertuju pada Sasori.

"Lagipula,sepertinya Sakura mempunyai suatu urusan penting pagi ini.." Ujar Kakashi sambil sibuk membaca mail dari ponsel yang ada di tangannya. Sakura menoleh pada Kakashi heran. Urusan apa? Seingatnya tak ada hal penting yang harus ia lakukan hari ini setelah ia tahu hari ini hari Sabtu dan sekolah libur. Sakura memicingkan matanya saat melihat ponsel yang berada di tangan kakaknya itu.

'Ponsel siapa itu? Kelihatannya familiar, dan sepertinya aku pernah melihatHEI!'

"Kakashi-nii! Itu 'kan ponselku! Darimana kau mendapatkan ponselku?!" Sakura menyambar ponselnya dengan cepat, ia takut emailnya dengan seseorang terbaca oleh kakaknya―apalagi Sasori.

'Ka-Kakashi-nii tidak melihat emailku dan Naruto 'kan? Ia tak melihat apapun 'kan?' Sakura sibuk menatap Kakashi dari ujung kaki sampai ujung rambutnya yang memang arahnya berlawanan dengan gravitasi.. Malah dulu Sakura pikir kakaknya itu korban kesetrum listrik yang menyebabkan rambutnya berdiri semua seperti itu..

"Ah.. Aku tak baca semua, hanya mail yang baru saja masuk 2 menit lalu.." Kakashi nyengir kuda dengan mata tertutup. Oke bukan nyengir kuda, tapi nyengir ganteng.. Ia mengerti apa arti dari tatapan 'curiga' yang diberikan Sakura padanya.

Mendengar kata mail baru, Sakura langsung mengecek mail yang ada di ponselnya. Benar saja, mail itu diterima oleh ponselnya kira-kira 2 menit lalu..

From : Naru_Maki

To :

Subject : ayo!

Sakura-chan, ayo kita pergi bermain hari ini! Mumpung sekolah libur, ayo kita bersenang-senang bersama..

-Naruto-

Senyuman manis mengembang di wajahnya. Entah kenapa, ia selalu ingin tersenyum sendiri saat ia mendapatkan email baru dari Naruto. Padahal isi email itu tidak mengandung suatu unsur humor. Itulah yang membuat Sakura heran. Sakura menggerakan jarinya diatas keypad ponselnya dengan cepat

From :

To : Naru_Maki

Subject : re : ayo!

Ayo! Ketemu dimana?

-Sakura-

Tiba-tiba jantung Sakura berdetak lebih kencang daripada biasanya. Padahal sebelumnya kalau ia membalas email tidak pernah sampai jantungnya seperti ini.. Tak lama kemudian, ponsel Sakura bergetar. Dengan segera, Sakura membuka ponselnya dan langsung melihat mail yang baru saja masuk itu.

From : Naru_Maki

To :

Subject : re : re : ayo!

Pukul 10 pagi ini di tempat biasa aku menunggumu saat sekolah! Aku sudah tidak sabar menunggu hari ini,Sakura-chan!

-Naruto-

Semburat merah muncul di pipi Sakura entah untuk yang keberapa kalinya. Rasanya ingin sekali Sakura menonjok sebuah dinding sampai rusak untuk pelampiasan kebahagiaannya ini. Bahagia? Kenapa?

Sementara pandangan kakak-kakak dan ibunya―ah juga ayahnya yang baru saja bangun itu,terlihat heran dengan sikap Sakura yang tiba-tiba berubah mood dari kesal menjadi terlihat sangat.. Gembira?

Entah setan apa yang merasuki Sakura hari ini. Jika biasanya Sakura berpakaian layaknya gadis tomboy, kini ia memakai wedges putih dengan pita hijau muda berhak 5cm―yah, lumayan untuk ukuran Sakura, rok jeans selutut yang memiliki frill putih manis yang dijahit di bagian bawah rok, t-shirt polos tanpa lengan berwarna soft pink yang lebih sot dari warna rambutnya, dan juga jaket jeans.

Untuk wajah, Sakura tak memakai make-up berlebihan. Karena ia hanya suka make-up berwarna natural. Hari ini pun, ia hanya memakai lip gloss pink. Walaupun bibirnya sudah berwarna pink.

Sakura melirik jam yang ada di tangannya dengan wajah gugup yang sangat 'berlebih'

"Hemm, jam 9.47 am. Aku kecepatan 13 menit.." Gumamnya. Kemudian ia melihat kaki jenjangnya yang beralaskan wedges yang baru saja dibelikan Kaa-san nya sebagai hadiah kepindahan sekolahnya. Untuk apa pakai hadiah segala?

'Sepatu ini.. Tidak terlalu tinggi memang. Semoga saja kakiku tidak lecet atau aku jatuh.. Aku tak mau terlihat memalukan di hadapan Naruto..' Sakura menggigit bibirnya agak keras, sehingga biibrnya berdarah

"Ah, ittai!" Sakura segera mengobrak abrik isi tasnya,mungkin ia menemukan sapu tangan merahnya. Tapi, tidak ada.. Lalu,tiba-tiba terdengar suara yang agak berat yang memanggilnya. Suara itu serasa familiar di telinganya.

"Ah, Sakura?" Sakura membalikkan tubuhnya, ternyata orang yang memanggilnya itu adalah Gaara

"Ga-Gaara-senpai? Sedang apa disini?" Ujar Sakura sambil tersenyum, ia melupakan luka yang ada di bibirnya.

"Sakura, bibirmu berdarah.." Gaara mengambil sapu tangan dari sakunya, ia menyodorkan sapu tangan yang sepertinya baru dicuci itu pada Sakura "Ini, pakailah.."

"A-Ah, tak usah.. Nanti sapu tanganmu kotor,senpai.. Luka begini sih, tinggal dijilat saja sudah hilang kok darahnya" Tolak Sakura halus.

"Jangan begitu, nanti infeksi.. Pakailah,aku masih punya banyak di rumah.." Gaara kembali menyodorkan sapu tangannya pada Sakura

"Ah, u-um.. Terima kasih,senpai.." Malu-malu, Sakura akhirnya menerima sapu tangan yang disodorkan Gaara padanya.

Keheningan terjadi di antara mereka. Baik Gaara maupun Sakura, tak ada yang dapat memulai pembicaraan. Mulut keduanya tertutup rapat,hingga saat Gaara memulai percakapan kecill diantara mereka.

"Sakura sedang apa disini? Kau mau kencan ya? Bajumu rapi.. Seperti anak perempuan" Gaara menatap Sakura dari bawah hingga atas. Sedikitnya, ia cukup terkesima dengan penampilan Sakura yang agak 'lain' hari ini.

"Ken―Eeeh? Bu-bukan! Hanya berjalan-jalan dengan teman saja,kok! Ini bukan kencan! La-Lagipula senpai! Aku sejak lahir memang anak perempuan! Senpai jahat,ah.." Sakura mengayunkan kedua tangannya dengan wajah yang memerah seperti kepiting rebus di siang hari.

"Dengan Naruto?" Tiba-tiba Gaara menyebutkan nama yang sejak tadi berada di pikirannya. Entah kenapa ia merasa Naruto lah yang menyebabkan Sakura berpakaian manis layaknya perempuan seperti ini.

"Eh? Darimana..."

"Aku hanya menebak. Benar,'kan?" Tanya Gaara sambil menatap Sakura serius

"Em.. I-iya.." Dengan sedikit perasaan tidak enak, akhirnya Sakura menjawab pertanyaan Gaara dengan jujur

"Aaah, sou ka! Sudah kuduga sih, hanya dia yang bisa membuatmu seperti ini.. Dia benar-benar ber'efek' besar padamu ya?" Gaara menepuk pundak Sakura pelan untuk beberapa kali.

"Berefek? Maksudnya?" Tanya Sakura heran. Apakah kakak kelas yang sebentar lagi lulus itu selalu membuat kalimat yang 'berat'?

"Ah, nanti juga kau tahu.. Ah,mungkin sebentar lagi kau sadar,sih.. Sudahlah, aku menyerah kalau sama dia.. Lagipula,, dari dulu aku sudah tak tega kalau berhadapan dengan dia.." Gaara menghembuskan nafas lega sambil tertawa kecil, sementara Sakura hanya terdiam dengan heran. Melihat itu, Gaara mengacak rambut gadis yang disayanginya itu.

"Aaah sudahlah tak perlu berpikir keras.. Aku yakin tanpa diberitahu clue juga sebentar lagi kau akan sadar dengan sendirinya.."

"Senpai, berhenti mengacak rambutku!" Protes Sakura

"Iya,iya.. Nah, sebaiknya aku segera pergi sebelum aku membuat seseorang berada di ambang kemarahan.. Jaa!" Gaara melambaikan tangannya ketika ia melihat sosok pirang yang berada kira kira dalam posisi 200 meter dari mereka.

"Ambang kemarahan?" Ujar Sakura yang lagi-lagi heran

"Yaa~ Misalnya jika aku melakukan ini.." Gaara mengangkat punggung tangan Sakura, kemudian kecupan singkat mendarat di tangan putih Sakura. Sakura hanya membuka mulutnya, tanda speechless. Gaara melirik sosok pirang itu, matanya sudah tertutup dengan poninya yang sebenarnya tak terlalu panjang itu.

'Hihihi, kena dia..' Gaara tersenyum jahil, kemudian ia segera pergi dan melambaikan tangannya ke arah Sakura. Sakura tidak membalas lambaian tangan Gaara karena masih sedikit shock.

Tiba-tiba, suara yang Sakura tunggu-tunggu sejak tadi terdengar dari arah belakang. Sakura berjengit

'Se.. Sejak kapan Naruto berada di belakangku? Apakah ia melihat...' Sakura mulai berpikiran negatif. Naruto mendekati Sakura,kemudian berjongkok dengan suara hembusan nafas yang terdengar berat dan kepala yang tertunduk begitu dalam.

"Haaaaaaaahh..." Suara Naruto menyadarkan Sakura, lalu ia segera bertanya pada Naruto

"Na.. Naruto.. Ada apa? Kenapa tiba-tiba.." Sakura segera berjongkok ,menyamai tingginya dengan Naruto

"Padahal aku menunggu-nunggu hari ini dengan tidak sabar.. Tahunya saat aku sudah datang malah diberi pemandangan menyebalkan seperti itu.. Kau jahat, Sakura-chan.." Naruto menyembunyikan semburat merah yang kini menghiasi pipinya dengan tangannya yang berlipat di atas lututnya

Sakura terdiam, ia tak mampu berkata-kata.. Entah kenapa.. Walaupun Naruto sedang kesal yang entah kenapa dan Naruto pernah berkata di mail sebelumnya tentang ia yang menunggu hari ini, tapi ketika Sakura mendegar hal itu dari mulut Naruto sendiri.. Entah kenapa.. Rasanya.. Senang―Eh bukan.. Bahagia.. Yah, lebih dari bahagia.. Seakan-akan Sakura sudah lama menunggu hal ini keluar dari mulut Naruto.

"A-Ah.. Do-Doumo.." Sakura terduduk lemas di tempat ia berjongkok sebelumnya. Naruto menatap Sakura, dan lagi-lagi pipinya memerah..

"Kau hari ini berbeda.. Sangat manis,Sakura-chan.." Naruto tersenyum dengan mata tertutup. Menambah kesan menggemaskan yang ada di wajahnya.

Rasanya kepala Sakura akan meledak sekarang.. Uap panas sudah menguap keluar dari kepalanya.. Wajahnya semakin memerah

"He.. Hentikan itu, ,Naruto.. Kau membuatku malu!" Ujar Sakura sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangan

Naruto hanya tertawa puas, kemudian Naruto beranjak dari tempat berjongkoknya.. Ia menepuk pelan celananya yang kotor karena debu. Kemudian ia mengulurkan tangannya pada Sakura

"Ayo kita pergi.. Kita akan bersenang-senang seharian penuh!" Sakura mendongak, wajah tampan Naruto dengan hiasan senyumannya yang teduh semakin membuat Sakura menjadi tergila-gila pada wajah itu..

Tu.. Tunggu, tergila-gila?!

"Ng!" Sakura menerima uluran tangan Naruto, ia segera berdiri dan masuk ke bus yang kebetulan baru saja datang tak lama setelah mereka berdiri.

-Sakura POV-

Kira-kira sudah berjam-jam kita mengitari setiap jalan sampai kesudut-sudut kota Tokyo hari ini.. Tadi Naruto memaksaku memakai baju lelaki.. Katanya,dengan sifat tomboyku aku pasti bisa menjadi sosok lelaki yang dapat dikagumi setiap gadis.. Tentu saja aku menolak.. Karena hari inilah aku berpakaian manis seperti ini.. Untuk siapa lagi selain.. Eh? A-Apa yang kupikirkan?! Sejak tadi Naruto Naruto terus.. Saking seringnya aku bersamanya, sepertinya aku tak bisa melupakan nama cowok serampangan itu dari otakku..

"Sakura, ayo kita makan! Sudah jam 3 nih.." Naruto menarik tanganku pelan.

'Hemm.. Tangannya cukup halus untuk ukuran seorang pria.. Tapi, tangannya besar juga.. Dan juga.. HEI! Untuk apa kau mendeskripsikan Naruto, dasar Sakura bodoh!'

"Ah, oke..! Aku juga sudah mulai lapar.. Mau kemana kita sekarang?" Tanyaku sambil menyamakan langkahku dengannya

"Aku sih.. Sukanya ramen.. Kau mau? Kita makan sampai bermangkuk-mangkuk!" Oke, hari ini aku menemukan salah satu hal baru dari Naruto.. Ia penyuka ramen tingkat akut..

"Ayo! Siapa takut! Kita bertarung! Siapa yang paling banyak memakan ra-Kyaa―!" Tiba-tiba aku terjatuh. Aku memegangi pergelangan kaki kananku. Sakit, sepertinya keseleo deh.. Astaga, padahal hari ini aku sudah bertekad takkan terlihat memalukan di mata Naruto.. Ternyata, aku malah jatuh dengan konyol seperti ini..

"Sa-Sakura-chan! Maafkan aku! Kau jatuh gara-gara kutarik terlalu keras ya? Go-Gomen ne! Ayo kita obati keseleomu!" Naruto terlihat sangat panik dimataku.. Kenapa aku bisa tahu? Buktinya,dia mondar-mandir gak jelas begini..

"Ah, aku tak apa kok.. Cuma keseleo sih besok juga sembuh kok..!"

"Besok itu lama! Harus sekarang!" Tiba-tiba Naruto menggendongku dengan gaya bridal style, ia membawaku ke sebuah kedai ramen. Mendebarkan bukan, jika digendong oleh seseorang seperti ini? Apakah setiap aku digendong aku selalu berdebar seperti ini? Rasanya jantungku akan meledak.. Rasanya ingin terus-terusan tersenyum seperti orang gila,

"Ooh, Naruto! Apakah itu gadismu?" Ujar paman pemilik ramen sambil menunukkan jari kelingkingnya

"Paman! Apa-apaan itu? Hahaha" Naruto tertawa lepas, lalu ia melihatku jadi ia teringat bahwa ia akan mengobati kakiku yang keseleo

"Ah, iya.. Paman! Punya kotak P3K? Kalau iya, aku pinjam dong.. Sakura-chan keseleo!" Naruto kemudian mendudukkanku di sebuah kursi yang ada di kedai ramen itu.. Untung saja kedainya sedang tidak terlalu ramai, jadi aku bisa sedikit tenang bersama Naruto disini..

Lho.. Bukan berarti aku ingin berdua saja dengannya! Aku hanya malu saja kalau Naruto mengobati kakiku yang keseleo dihadapan orang banyak yang ingin makan di kedai ini! Bisa-bisa pada ga nafsu makan semua-_-

"Aah, ya, ya! Paman punya kok.. Tunggu sebentar ya, Naruto.." Lalu paman itu masuk ke dalam rumahnya yang hanya dibatasi dengan sebuah kain. Tak lama kemudian, paman itu kembali dengan sebuah kotak yang berada di paman itu menyerahkan kotak itu pada Naruto

"Terima kasih, paman! Kupakai dulu,ya!" Naruto pun membuka kotak itu. Ia mengeluarkan perban dan alat-alat yang aku lupa namanya apa untuk mengobati keseleoku

"Na-Naruto.. Apakah alat-alat seperti itu bisa mengobatinya? Tidak pakai obat merah ya?" Tanyaku.

"Tentu saja tidak, Sakura-chan.. Keseleo itu bukan luka luar.." Jawabnya dengan wajah tersenyum seperti biasa. Itu tersenyum tulus atau tersenyum karena menahan tawa ya? Oke, aku sadar bahwa aku telah menanyakan sesuatu hal yang bodoh.. Aku menyesal telah menanyakan hal itu. Lagi-lagi aku sudah berbuat hal yang memalukan..

"Maaf, Naruto.. Seharusnya hari ini menyenangkan.. Tapi sejak tadi pagi aku malah.." Aku tertunduk. Setelah dipikir-pikir, semenjak pagi tadi bertemu Naruto, akulah orang yang sudah mengacaukan suasana diantara kami. Apakah Naruto sebenarnya kesal padaku? Wajar saja kalau orang merasa kesal,tapi tak berani mengungkapkannya..

Naruto mendongak, kelihatannya ia terkejut dengan ucapanku.. Ah, begitu.. Jangan-jangan ia kaget karena tebakanku benar? Naruto.. Maaf..

"Kau ini bicara apa,Sakura-chan?" Naruto kembali menyibukkan dirinya membalut kakiku dengan senyuman yang terhias di wajahnya.

"Eh? Bukannya kau.. Marah padaku? Gara-gara aku mengacaukan hari ini.."

"Tentu saja tidak Sakura-chan.. Aku tak mungkin kesal padamu.. Malah aku merasa senang, aku bisa melihat berbagai macam sikap maupun sisi dari dirimu.. Aku jadi merasa semakin dekat denganmu,Sakura-chan.. Terima kasih"

Aku terdiam.. Aku agaknya merasa bersalah juga telah menuduh ia marah padaku..

"Ke-Kenapa malah kau yang berterima kasih? Seharusnya aku yang berterim kasih padamu.. Aku kan selalu.. Mengecewakanmu.. Selalu menyusahkanmu selama ini.." Tak terasa, air mata mengalir ke pipiku.. Sungguh, Narutolah yang bisa membuat hatiku luluh seperti ini..

"Ja-Jangan menangis Sakura-chan.." Naruto mengusap air mataku dengan ibu jarinya. Aku hanya terisak kecil.. Aku tersenyum simpul.

Memang bukan sapu tangan yang ia pakai untuk menghapus air mataku seperti Gaara-senpai yang memberikan sapu tangannya padaku untuk membersihkan lukaku. Memang ia tidak sekalem Gaara-senpai, dan mungkin ia lebih jaim daripada Gaara-senpai.. Tapi aku menyukai dirinya yang seperti itu..

Naruto yang sederhana.. Apapun akan ia lakukan agar aku tak bersedih.. Naruto yang tulus, Naruto yang ceria.. Aku suka Naruto apa adanya..

Dia yang seperti itu, sikapnya dan perlakuannya yang apa adanya seperti mengusap air mataku hanya menggunakan ibu jarinya seperti itu, membuat hatiku tersentuh.. Sederhana memang,namun sangat.. Sangat.. Mengesankan.. Mendebarkan..

Naruto itu.. Ajaib.. Seburuk apapun mood yang sedang kurasakan, dengan adanya kehadiran dia, aku pasti akan segera ceria lagi.. Hanya karena Naruto..

Senyumanku mendadak hilang. Kenapa? Aku terlanjur terkejut dengan setiap kalimat yang kukatakan didalam pikiranku..

Apakah aku.. Menyukai Naruto? Naruto yang.. Ini?

-Tsuzuku-

Hontou nih Gomennasai untuk semua readers,revewers yang udah lama nunggu fic ini update. Tugas dan ulangan yang diberikan sekolah Miu numpuk bangeet.. Mana internet mati lagi-_- Gyaaaa~! Makin makin stress aja nih u.u Tapi, seperti yang Miu katakan, Miu update double chap sekaligus^^ Chap 13 lebih panjang daripada yang lainnya yaa *keprok* kita intip chap 14 yuuk *kyaa! intip-intip! pervert!* *lempar bakiak*

Bales review ya^^

.indohackz : Gomen, kali ini kurang kilat . Tapi Miu bikin ficnya lebih panjang sekarang^^ Double chap update juga:3

Aurora Borealix : Ehehehe iyaa,memang chap 11 hampir full POV ya gomeen. Gimana chap ini? Maaf ya kalo lama.

Guest (1) : Siip ini udah lanjut meskipun ngaret super.

Viva La Vida : Hohoho Thanks^^ Jadi malu dibilang ficnya bagus. Iyaa lanjut nih,maaf ngaret:''''(

Guest(2) : Aaaah hontou ni arigatou. Update muncul niih kyahahaha

Guest (3) : Kira-kira chap 14-15-16an pertanyaanmu kejawab :D

Guest (4) : Gak akan lama lagi kok, tunggu saja:3 Bagaimanapun ini fic NaruSaku, pasti mereka jadian.

Pidaucy : Lah, pidaucy tuh.. Ucy-chan? Waaa~ di akhir chap 12 Sasori ada di puncak kebahagiaan yaa:') gadis itu seems muncul di chap 15^^ Chap14 full NaruSaku sih rencananya:3 Okeee~ Gomen sudah menunggu lama.

Seiko 'Rye' Heiiran : Waaa. Makin nyebelinkah? Bagian mananya? *cek dari atas sampai bawah* Ah,yokatta kalau lebih baik:D yaaa~ memang masih ada hoho Miu kurang teliti nih:') brown haired girl akan muncul di chap15^^

Aurora Borealix : Waa~ sampe ngereview 2x saking lamanya Miu update yaa gomen gomen. Iyaa udah baikan lagi :') Chap ini muncul lagi dan akan teruuus muncul:3

Guest (5) : Waah terima kasih karena sudah senang baca fic Miu^^ Waah bener juga~ Makasih atas semua sarannya^^ Miu akan coba lebih baik lagi^o^)/

Namenamikaze : Iyaaa sudah dilanjut ini^^ Aah terima kasih banyak^^

Guest (6) : Heemm, pertanyaanmu terjawab di chap ini^^

Yola-ShikaIno : Aah,tak apa^^ Terima kasih sudah sempat-sempatnya mereview fic Miu^^ Hahaha bukan hanya ke Sasori lhoo;;) Penasaran ya sama endingnya? Jalan mereka memang rumit,nak.. *tepuk pundak Yola-chan yang mungkin lebih tua dari Miu* Ah nanti juga banyak slight ShikaIno kok^^ Mengingat Yola-chan suka ShikaIno, aku tambahin deh kisah cinta mereka tehehe~ OSH! Tapi gomen next chapter yang Yola-chan ganbattein malah ngaret update :''( Ah,menarik ya^^ Hahaha terima kasih,terima kasih^^ *tebar pesona*

NS : Kyaaa~ Update nih update. Gomen sudah membuat NS-chan menunggu :'3

Bales review beres, sekarang tinggal salam untuk para reviewers dan readers^^ Berkali-kali bilang gomen kayanya engga cukup yaa bagi Miu garagara ngaret update. Apapun deh buat minasan. well, bye and thanks

With gomennasai,Miu

Chuu~