Terinspirasi dari ANBU karya THE Tazzy Devil. Silakan dibaca fanfic tersebut di situs ffn ini.
.
Aaaa jadi Nai ingin menucapkan terimakasih untuk reviewers di chapter sebelumnya. Khusus untuk Guest (?) terimakasih atas kritiknya. Akan Nai baca nanti fic tersebut sebagai bahan pembelajaran.
.
WARNING : Tidak ada lemon eksplisit. Rate-M untuk penggunaan bahasa dan beberapa tindakan menjurus(?).
.
Disclaimer : I only own the story
.
.
.
Lavender and Kitsune
.
.
.
CHAPTER 12
Siang ini suasana cukup panas di SMA Konoha sehingga begitu bel jam istirahat berdering, hampir seluruh siswa berlari keluar kelas menuju ke kantin untuk sekedar bisa menikmati air mineral atau mungkin juga dengan makan siang. Hanya beberapa orang saja yang memilih tinggal di dalam kelas. Mereka mulai membuka kotak bekal yang dibawa dari rumah dan memakannya sambil sesekali berbincang.
Naruto dengan bantuan tongkatnya berjalan menyusuri koridor sekolah yang terlihat cukup ramai. Matahari yang bersinar kuat sedikit menyusup melalui jendela ruangan di sisi kanan dan kiri membuat koridor terlihat lebih terang. Ini memang merupakan desain khusus sebagian besar sekolah di Jepang, yaitu dengan menempatkan koridor tepat di bagian dalam bangunan. Jadi, di kedua sisi sepanjang koridor adalah ruang-ruang yang berjajar berfungsi sebagai pelindung sehingga keadaan di dalam sekolah tidak terlalu dipengaruhi oleh perubahan cuaca di luar.
Suara gesekan karet alas uwabaki dengan lantai terdengar sedikit riuh karena padatnya populasi manusia di sepanjang koridor. Naruto terus berjalan dengan sedikit menundukkan kepalanya. Menghindari tatapan mata curiga dari siswa lain yang berpapasan dengannya. Menulikan telinganya dari bisik-bisik di kedua sisinya. Sesekali dia menabrak siswa lain karena memang dia tidak melihat ke arah depan, membuat siswa lain itu atau bahkan dirinya sendiri sedikit terpental.
Tetapi lagi-lagi dia tidak peduli. Tubuhnya yang sedikit oleng dengan cepat menegak kembali dan dia melanjutkan langkahnya hingga sampai di depan tangga. Sejenak mendongakkan kepalanya, Naruto mendesah kasar. Lalu mulai menapaki satu persatu anak tangga yang entah mengapa tiba-tiba menjadi lebih banyak daripada sebelumnya-tentu saja itu hanya halusinasinya.
Dengan tangan kanan bertumpu pada tongkat dan tangan kiri menyusuri hand trail, Naruto berjalan naik secara perlahan. Hingga sampailah pemuda itu pada tempat yang dia tuju. Atap sekolah.
Saat tangannya menyentuh kenop pintu menuju atap, angin semilir tiba-tiba berhembus pelan, menerbangkan helaian kuningnya ke samping. Selintas ingatannya kembali ke masa lalu. Masa dimana dirinya sering menghabiskan waktu di tempat ini bersama gadis itu. Gadis yang bertemu pandang dengannya pagi tadi.
Naruto tersenyum. Benar-benar senyum. Bukan seringai yang biasa menghiasi bibirnya. Begitu tulus saat perlahan kenop pintu berputar. Seolah dirinya sudah siap menyongsong hidup baru. Membuka lembaran baru seperti yang Ayahnya katakan. Lembaran baru tanpa seorang Hyuuga Hinata di hatinya.
Perlahan tapi pasti seperti hatinya saat ini, pintu kayu itu mulai terbuka. Menampilkan sebuah area yang cukup luas dan lapang dengan dikelilingi pagar tinggi dari jalinan kawat berdiameter kecil (tidak semua atap sekolah di Jepang menggunakan pagar jenis ini). Di sudut kanan dari tempatnya berdiri, terdapat sebuah bangku panjang yang biasa dia gunakan untuk tidur-tiduran saat membolos jam pelajaran sekolah. Sebuah senyuman kembali tersungging di bibirnya saat kakinya melangkah dengan mantap ke bangku tersebut.
Sebuah bangku kayu yang dipelitur begitu halus yang saat ini tengah dijadikan tempat tidur oleh seseorang.
Tunggu!
Seseorang?
Iris pemuda itu membelalak lebar saat mengetahui ada seorang gadis yang sedang tertidur di atas bangku itu. Sambil mendecih pelan, Naruto bergegas mendekat demi membangunkan gadis itu dan mengusirnya. Namun langkahnya terhenti, tangannya mengepal erat pada genggaman kruk. Tubuhnya memutar dengan cepat berniat untuk meninggalkan tempat tersebut secepatnya sebelum gadis itu memergoki keberadaannya.
"Naruto-kun."
Terlambat.
Naruto berhenti sejenak kemudian kembali meneruskan langkahnya. Mengabaikan panggilan tersebut. Tapi lagi-lagi langkah kaki kekar itu terhenti saat Naruto merasakan cengkeraman pada lengannya yang bebas.
"Tu-tunggu." Ucapan lirih yang merdu itu justru terdengar seperti lantunan kidung kematian bagi Naruto.
"Mau apa kau, Hyuuga?"
Tanpa menoleh pemuda itu menjawab dengan ketus. Lalu dia merasakan cengkeraman pada lengannya mulai mengendur, dan perlahan terlepas.
"A-aku hanya ingin menanyakan kabarmu."
Naruto mendecih kasar.
"Kau masih peduli? Bukankah kau membuangku karena tujuanmu sudah tercapai?"
Pemuda itu sempat mendengar cekatan nafas dari sang gadis tetapi memilih untuk mengabaikannya.
"Apa yang kau katakan, Naruto?"
Entah pendengarannya sedikit terganggu atau memang suara gadis itu bergetar? Naruto mendongak memandang birunya langit yang saat ini terlihat lebih menarik. Kelopak matanya menutup, memenjarakan manik safirnya selama sepuluh detik. Kemudian membuka.
"Apa yang kau inginkan, Hyuuga? Katakan saja."
Kali ini suaranya terdengar lebih lembut.
"A-aku ingin kau menemaniku di sini-"
Kedua alis Naruto bertaut.
"-sampai jam sekolah berakhir."
Pandangan matanya kini menurun, menatap tajam iris amethyst yang tengah memandang sendu dirinya.
.
.
.
Beberapa jam berikutnya, tepat saat berakhirnya jam sekolah
.
"..."
"Moshi-moshi. Hinata, kau dimana?"
"..."
"Aaaa, baiklah. Aku tunggu di depan sekolah ya."
Pria muda itu memutus sambungan teleponnya dan memasukkan ponsel pintarnya ke dalam saku kemeja. Tubuh atletisnya dia sandarkan pada pagar sekolah. Raut mukanya terlihat cerah menandakan dia tengah berbahagia. Senyum tak henti-henti menghiasi bibirnya.
Sejenak tangannya merogoh saku celana, mengambil sebuah kotak mungil dari bahan beludru berwarna indigo. Jemarinya membuka benda tersebut, menampilkan sebentuk cincin emas putih yang tampak berkilau.
"Nii-san."
Pria itu terkejut hingga pegangan tangannya pada kotak itu terlepas. Matanya menatap horor pada cincin yang kini tengah menggelinding meninggalkannya. Dan dengan tidak elitnya, pria itu mengejar benda tersebut.
Setelah berhasil mendapatkan cincin itu kembali, pria itu berjalan mendekati gadis yang baru saja mengagetkannya. Matanya mendapati bahwa gadis itu tidak sendirian. Pria itu memutar bola matanya malas.
'Cih, kenapa ada pengganggu di sini?' umpatnya dalam hati.
"Hinata. Kau mengagetkanku tahu?"
Hinata terkikik geli melihat bibir pria itu yang mengerucut kesal.
"Go-gomen, Neji-nii." Ucapnya di sela-sela tawanya.
Neji menyembunyikan kotak mungil beserta cincinnya dengan cepat. Tapi matanya melirik ke arah pemuda bertongkat yang tengah berdiri di samping Hinata. Pemuda berrambut kuning itu tampak menatap tajam padanya membuat Neji balas menatap tajam.
"Siapa dia, Hinata?"
"A-ano, namanya Naruto."
Bibir Neji kembali mencebik saat mengetahui siapa pemuda di hadapannya ini.
"Naruto-kun, ini Neji-nii."
Hinata berusaha mengenalkan Neji kepada Naruto, tetapi pemuda kuning itu justru berbalik pergi.
"Hn. Kapan-kapan saja kenalannya. Aku tidak mau mengganggu acara kencan kalian."
Hinata menatap bingung atas kepergian Naruto. Otaknya mendadak lemot untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Sepertinya ada yang salah.
"Tu-tunggu, Naruto-kun!"
Hinata berlari mengejar Naruto, mengabaikan Neji yang kini menatap marah pada sepasang remaja itu.
"Ck! Sialan! Kenapa aku dicuekin sih?"
Meski begitu pria itu memilih untuk turut andil dalam aksi kejar-kejaran itu.
Tentu saja dalam kondisi Naruto yang masih seperti saat ini, Hinata dan Neji mudah sekali mengejar dirinya. Hingga kini ketiganya berjalan berjajar, berjarak cukup dekat, meski tidak ada satupun yang berinisiatif membuka percakapan. Tampaknya mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing.
Beberapa orang yang mereka lewati sepanjang perjalanan, hanya menatap bingung pada ketiganya. Entah apa yang ada di pikiran orang-orang itu, yang jelas kini berbagai jenis asumsi mulai terbentuk di kepala orang-orang itu.
"Kenapa kalian mengikutiku?" sergah Naruto.
"A-ano, aku mau pulang bersamamu, Naruto-kun." Lirih Hinata.
"Aku hanya mengikuti Hinata." Jawab Neji cuek.
Naruto menautkan alisnya. Dia yang tetap bodoh atau gadis ini yang menjadi bodoh? Kenapa Hinata malah mau pulang bersamanya, jika sang tunangan sudah menjemputnya? Dan itu kenapa pria cantik itu tenang saja padahal jelas-jelas tunangannya malah mengejar laki-laki lain?
Naruto menghentikan langkahnya. Matanya menatap tajam pada gadis indigo, membuat gadis itu mengkeret.
"Kenapa kalian mengikutiku? Bukannya kalian mau kencan?" geram Naruto sedikit tertahan.
"Kencan?" beo Hinata dan Neji.
Tidak butuh waktu lama bagi duo Hyuuga itu untuk memahami apa yang dimaksud oleh pemuda berkumis di samping mereka.
Hinata tertawa lepas sementara Neji menggeram menahan amarah. Kakinya melangkah dengan cepat kemudian menarik Naruto, mengunci leher pemuda malang itu dengan lengannya.
"Ho-hoi!"
"Kau pikir aku mau kencan dengan Hinata? BAKA!"
Naruto terbatuk-batuk karena kuncian Neji yang cukup erat. Hinata yang menyadari keadaan pemuda itu segera bertindak cepat. Melerai Naruto dari cengkeraman Neji dan menariknya pelan.
"Hahhh... Hinata, kau pulang sendiri saja nanti. Sialan! aku sudah berbaik hati menjemputmu malah bocah kuning ini membuatku kesal. Ck!"
"Ha-hai. Arigato, Neji-nii. Titip salam untuk Tenten ya."
Dan Nejipun berlalu pergi meninggalkan sepasang remaja yang menatapnya dengan pandangan berbeda. Hinata tersenyum mengalihkan pandangannya pada Naruto, membuat pemuda itu sedikit salah tingkah.
"Err-jadi..."
Pemuda itu menggaruk pipinya yang sedikit memerah.
"Itu Neji-nii, sepupuku. Sekarang aku tinggal di rumahnya."
Naruto membolakan matanya lalu menatap penasaran pada Hinata. Mereka kembali berjalan dengan pelan. Sengaja mengulur waktu agar dapat berdua lebih lama.
Hinata menghela nafas dalam sebelum memulai ceritanya.
Tentang bagaimana dirinya yang harus menghadapi kemarahan Ayahnya lantaran berani melarikan diri dari upacara pernikahan dan menipunya. Walau pada kenyataannya Hiashi telah mengetahui dari awal jika gadis yang mengucap ikrar di depan altar itu bukanlah puterinya. Kau kira orang tua tidak bisa membedakan yang mana darah dagingnya sendiri? Hinata tersenyum kecut saat mengingat bahwa dia dengan polosnya menerima bantuan Shion untuk menggantikan dirinya, berpikir bisa mengelabui sang Ayah.
Tentang bagaimana sang Ayah terpaksa mengusirnya demi melindungi Hinata dari hujatan keluarga besar. Tetapi diam-diam Hyuuga tua itu menghubungi Neji, memohon agar mau menampung Hinata di rumahnya sampai sang gadis bisa berdiri sendiri.
Hinata merasa sedih, tetapi dia tidak munafik mengakui bahwa dirinya sangat bahagia. Bahagia karena akhirnya bisa hidup bebas, menjadi dirinya sendiri tanpa mempedulikan aturan keluarga yang begitu menyiksa. Bahagia mengikuti jejak Neji yang telah terlebih dahulu keluar dari cengkeraman Hyuuga. Meski jalan yang ditempuh Neji tidak seterjal dirinya karena pria itu bukan berasal dari keluarga utama.
Bahagia karena kini bisa mengejar kembali cintanya.
Tanpa sadar air mata menetes menuruni pipi porselennya. Namun dengan cepat Hinata menghapusnya. Tersenyum menatap hamparan langit biru di atas sana.
"A-Ano, Hinata."
Panggilan Naruto membuat gadis itu menoleh, sedikit memiringkan kepalanya.
"Ja-jadi, kau tidak bertunangan dengan pria cantik itu?"
Hinata tertegun, selanjutnya tergelak. Badannya sedikit membungkuk dengan tangan mencengkeram erat perutnya yang terasa sakit. Sedangkan Naruto mendecih kesal, mengumpat dan mengeluarkan makian kasar.
"Sialan kau!, Hyuuga. Jangan mempermalukanku!"
Hinata berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan tawanya. Tangannya mengusap sudut mata yang kembali mengeluarkan air. Setelah tawanya terhenti barulah dia berbicara dengan nada terhibur.
"Satu : Aku tidak mungkin bertunangan dengan kakakku sendiri, Naruto. Dua : Neji-nii sudah punya kekasih dan hari ini dia akan melamarnya. Tiga : jangan pernah memanggilnya pria cantik atau Nii-san akan memenggalmu dengan katananya."
Detik Hinata selesai mengucapkan kalimat tersebut, Naruto langsung mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya dan mulai menyentuh beberapa tombol dengan gerakan cepat.
.
.
.
Sementara itu di rumah sakit Konoha
Kelopak mata itu membuka untuk yang kesekian kalinya. Perlahan namun pasti. Bibirnya tersenyum miris saat matanya menatap lurus ke arah langit-langit. Pria itu menghela nafas pelan kemudian memiringkan tubuhnya sedikit. Terasa nyeri yang merambat ke sekujur tubuhnya tetapi dia abaikan. Lalu pandangannya terhenti pada sosok seorang gadis yang tengah duduk membelakanginya di tepi ranjang.
Sepertinya gadis itu terlalu sibuk menatap telepon pintar di tangannya sehingga tidak menyadari gerakan pria itu.
"Hey..."
Gadis itu terkejut dan segera menoleh ke belakang.
"Kau sudah bangun? Tidurmu lama sekali."
Pria itu tertawa pelan saat sang gadis justru menggembungkan pipinya kesal.
"Jadi, kau sedang apa? Atau sedang menghubungi siapa?" tanyanya menyelidik, membuat gadis itu sedikit salah tingkah.
"A-ahh... ti-tidak ada!"
"Jangan membohongiku, Shion!"
"A-aku tidak membohongimu! La-lagipula kenapa kau tidak percaya pada istrimu sendiri?"
Pria itu tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat yang dilontarkan gadis berrambut pirang pucat itu.
"Se-sejak kapan kau jadi istriku?" tanyanya dengan tatapan horor.
"Sejak kita menikah, Toneri-kun." Jawab Shion dengan polosnya. Gadis itu kini bahkan dengan nekatnya mendekatkan wajahnya pada wajah pucat Toneri.
"Ka-kapan kita menikah?"
Shion mendesah kesal. Matanya menatap tajam iris biru sang pria.
"Kau lupa atau pura-pura amnesia kalau kita sudah pernah mengikat janji pernikahan?"
Toneri tidak bisa lagi menahan tawanya. Dia keluarkan segala yang ditahannya beberapa menit lalu itu.
"Kita memang sudah mengikat janji di depan altar, Shion. Tapi saat itu pendeta tidak menyebut namamu, melainkan Hina-hmmpph."
Ucapan Toneri terpotong saat bibir tipis Shion membungkamnya. Cukup singkat karena Shion kini menatapnya dengan pandangan malas.
"Jangan sebut nama itu lagi. Arrghhh... Aku jadi kesal. Kenapa aku tidak seberuntung dia sih? Padahal aku lebih cantik. Aishhh!"
Gerutuan Shion yang menyapa gendang telinganya membuat Toneri tersenyum geli. Sepertinya gadis ini bernasib sama dengannya. Tidak mampu menggapai cintanya. Dengan lembut ditariknya dagu Shion agar matanya bisa menatap mata gadis itu.
"Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa pernikahan itu tidak sah. Jadi maukah kau mengulang lagi pernikahan itu bersamaku dan sebagai dirimu sendiri, hm?"
Awalnya gadis itu tak percaya dengan yang ia dengar. Lalu sejenak matanya membelalak lebar, sebelum menyipit meneteskan air mata ke pipinya yang tengah merona. Kepalanya mengangguk dengan cepat membuat Toneri terkekeh dan menariknya pelan ke dalam pelukannya.
Cukup lama mereka bertahan dalam posisi itu hingga bisikan sang pria membuat tubuh Shion menegang.
"Jadi, kau sudah siap menghadapi amukan pemuda itu?"
Shion meneguk ludahnya dengan kasar. Kepalanya kembali memutar pesan teks yang baru saja dia terima tepat sebelum Toneri bangun.
.
From : Naruto
'Kau menipuku! Aku akan membunuhmu, Shion!"
.
.
.
END
.
.
.
Omake
"Kau sedang apa, Naruto-kun?"
"Mengirim email pada setan pirang."
"Huh?"
Hinata mengernyitkan dahinya keheranan. Kini sepasang remaja itu tengah duduk di halte menunggu bus yang akan membawa mereka pulang. Kebetulan rumah Iruka memang searah dengan flat sederhana milik Neji.
"Siapa?"
Naruto memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celana. Lalu menoleh ke samping. Pandangan mereka bersirobok. Saling terpana, tenggelam dalam pesona masing-masing. Menimbulkan gelenyar aneh yang merambat sepanjang tulang punggung. Hingga suhu pipi mereka mendadak meningkat.
Menyadari itu mereka saling membuang muka. Entah mengapa kini sepasang remaja itu justru malu-malu. Seperti melupakan segala keagresifan mereka di masa lalu.
Apapun itu, kini keduanya menyadari bahwa cinta mereka kembali bersemi.
Pepatah berkata cinta tak harus memiliki.
Tetapi akan lebih manis jika cinta itu saling memiliki bukan?
.
.
.
Yoshaa! Tamat beneran!
Alhamdulillah... Semoga menghibur ya teman-teman. Terimakasih untuk yang sudah setia membaca fic ini, untuk yang sudah berkenan menorehkan "tinta" di kolom review, untuk yang sudah mendukung Nai, baik berupa kalimat penyemangat ataupun kritik saran.
Thank you so much.
Sekarang Nai mau fokus ke ff Nai yang lain, Love Inscription. Yang berkenan silakan mampir hehehe...
*Mba Ana : special requestnya langsung ditindak ya mba. Arigato sudah setia mengikuti fic-fic Nai.
