Persona 4 : Birth Of Tragedy

Genre : Suspense/ romance

Synopsis : Dan semuanya telah siap

Author's note : Well, akhirnya sampai juga di chapt 12....apa yang mau dikatakan kayanya lagi ga ada..well review dan masukan please...


BAB 12

Naoto Shirogane berlari menyusuri koridor sekolah Yasogami High School yang ramai dipenuhi oleh siswa-siswi sekolah itu yang kini sedang menikmati jam istirahatnya yang tinggal 15 menit lagi saat akhirnya sang Detective Prince itu menghentikan langkahnya di depan pintu kelas 3-1 yang terbuka lebar, menampilkan keadaan di dalamnya yang kondusif dengan hanya sekitar 5 orang siswa di dalamnya yang tampak sibuk dengan urusannya masing-masing.

Ia tidak ada di sini!! Ujar Naoto dalam hati, perlahan ia merasakan detak jantungnya yang berdebar kencang saat ini bersamaan dengan nafasnya yang semakin berat, lebih-lebih saat ia menghampiri sosok Kou Ichijou yang berdiri di belakangnya dan mengajukan sebuah pertanyaan saat tiba-tiba dari arah bawah sana , sebuah teriakan histeris terdengar begitu keras..begitu kerasnya hingga membuat banyak siswa yang ada di daerah itu segera berlarian kebawah untuk turun...melihat apa yang terjadi.

CJBSMBI QFEBOH JOJ QBEB PSBOH ZBOH TBMBI

BIARLAH PEDANG INI PADA ORANG YANG SALAH

Dan dengan segera ia berlari sekuat tenaga menuju ke lantai bawah tanpa buang waktu lagi, hanya untuk mendapati sesosok pelajar teman sekelasnya yang telah tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah segar bewarna merah dari dagunya lengkap dengan sosok Yukiko Amagi yang terjatuh dengan badan yang gemetar melihatnya—melihat ke arah Ayane Matsunaga yang kini telah tidak bernyawa, begitu pula dengan dirinya saat ia mengingat pesan di balik foto senpainya itu.


Laksana naga hitam besar, mobil BMW X5 yang dinaiki oleh Vladimir Alexandrov Dostoyevsky perlahan-lahan melaju di sepanjang jalanan Inaba yang sepi ketika Vladimir Alexandrov Dostoyevsky mencondongkan tubuh ke arah jendela untuk mengambil dua lembar kertas kecil yang ada di sakunya untuk selanjutnya diamatinya sambil mencoret sebuah nama di kertas itu bertuliskan

Ayane Matsunaga

Sambil mengamati beberapa nama yang telah dicoretnya sejauh ini, yaitu:

Sayoko Uehara

Hisano Kuroda

Taro Namatame

Toru Adachi

Souji Seta

Ai Ebihara

Fox

Eri Minami

Shu Nakajima

Sudah sepuluh orang...Pikirnya dalam hati seraya mengamati dua lembar kartu bergambarkan 'The Fortune' dan 'The Priestess' yang dikeluarkannya dari balik jas seragam sekolahnya sembari menghela nafas dan melemparkan pandangannya ke arah langit biru yang ada di luar dengan pandangan dari kedua mata merahnya yang hampa.

"Jadi karena pernah disakiti, balas menyakiti? Karena dibunuh, lantas mau membunuhnya?"

Ucapan Yukiko Amagi bergema di dalam pikiran pria Rusia itu.

"Kamu itu seperti anak kecil saja..."

Pria itu memejamkan matanya tanpa berkata apa-apa ketika di balik kaca jendela mobilnya, sekumpulan pejalan kaki berjalan menyusuri trotoar kota dengan damai.

"...kau masih punya masa depan.."

Senpai...ujarnya dalam hati seraya tersenyum. Kau sama sekali tidak tahu....aku sudah tidak punya masa depan. Ia lalu memalingkan tatapannya ke arah langit luas, Kenapa kau begitu mirip dengannya? Ia lalu tertawa kecil, "Jika kau masih hidup, apa yang akan kau katakan?" Ia lalu menggelengkan kepalanya perlahan ketika mobil itu berbelok perlahan di sebuah tikungan, meneruskan perjalanannya...menuju ke arah sebuah bukit yang menjulang tinggi di hadapannya dari kejauhan saat pikirannya kembali berbicara,

"Dan apa yang akan senpai lakukan setelah kau tahu siapa aku sebenarnya...."


Naoto Shirogane menghampiri mayat Ayane Matsunaga dari klub musik yang kini telah terbujur kaku di atas lantai kayu parkit yang dingin dengan darah yang menggenang di atasnya, saat di belakangnya...sosok Yukiko Amagi yang dicarinya tampak tertegun dengan berwajah pucat—wanita berambut panjang itu tampak shock...shock yang amat sangat, bagaimana tidak...ini adalah kali keduanya ia mendapati seonggok mayat yang tergeletak dengan kondisi yang begitu mengerikan, membuat siswa berambut biru itu terperanjat begitu ia sadar jika pembunuh itu adalah orang yang selalu membuktikan ancamannya.

LBVMBI QFNFHBOH LPJOOZB

KAULAH PEMEGANG KOINNYA

Gertakan yang hebat...Pikirnya dalam hati saat ia mengamati sosok mayat itu sambil menelan ludah dan menyeka keringatnya yang mengucur dingin di wajahnya. Kondisi mayat itu sangat menyedihkan, dengan wajah gadis yang polos bagaikan Chibi Maruko-chan...kedua matanya terbelalak lebar, dagunya terus mengeluarkan darah menyentuh lantai sekolah yang dingin—tanda jika ia ditembak pada tempat itu yang berhasil membuat pelurunya menembus tempurung kepala sang pemain saxophone kecil itu, membuat otaknya berhamburan keluar dan mati seketika.

KJLB IBEFT LFNCBMJ NFODVMJL QFSTFQIPOF

JIKA HADES KEMBALI MENCULIK PERSEFONE

Naoto lalu mengalihkan pandangannya ke arah Yukiko yang tampak hancur di belakangnya, wajahnya yang tampak tenang kini begitu hampa dan rapuh....entah apakah itu semua terjadi karena ia menemukan mayat untuk kedua kalinya atau....sesuatu telah terjadi padanya, yang jelas sosoknya yang seperti ini agaknya adalah untuk yang kedua kalinya ia temui sejak hari pertama usai pemakaman dulu.

VOUVL LFEVB LBMJOZB

UNTUK KEDUA KALINYA

Kini ia tahu, kenapa jawabannya adalah seperti itu...kenapa ia tidak menjawab panggilannya sebelumnya. Ia lalu bergumam dalam hati dengan geram. Matanya lalu tertuju ke arah tangan mayat gadis itu yang memegang selembar kartu dengan gambar 'The Sun' yang agak kotor terkena darah untuk kemudian diambilnya untuk diamati. Dan untuk kesekian kalinya ia mendapatkan sebuah alur di balik kartu itu.

MDAKASAAAAPATENNTNANMBAJABYDA

ABAHUAINGAHALNLUAIARAGISIKTINAHIMD?

Kaulah pemegang koinnya...

Sekolah kini bukan tempat aman lagi—itulah yang dihadapinya sekarang. Dengan kesal, saat di belakangnya, Yukiko mulai terisak, membuat sang Detective Prince hanya bisa menatapnya tanpa bicara apa-apa kecuali hanya berjalan mendekatinya perlahan dan merangkulnya sambil mengusap-ngusap kepala gadis berbando merah itu dengan penuh perasaan dan membiarkan bahunya dibasahi oleh air mata gadis itu ketika samar-sama ia mendengarkan gadis itu berkata dengan pelan...mengabaikan kumpulan orang di sekitarnya yang berkerumun, tak peduli tua dan muda..

"Aku malu pada diriku sendiri..."

Dan Naoto tahu betul, percuma saja mengajaknya bicara saat ini ketika beberapa saat kemudian sekumpulan polisi mendatangi tempat itu dan menutupnya sebagai TKP dengan garis polisi yang kontan menghentikan kegiatan belajar mengajar di tempat itu seketika itu juga.


Tokyo, Jepang

Laju Aston Martin di jalanan kota Tokyo itu melambat ketika mobil buatan Inggris itu berbelok di sebuah tikungan saat Mitsuhiro Seta kembali berbicara melalui teleponnya.

"Ya...pastikan saja orangnya.."

Ia lalu tersenyum lebar, sebelum akhirnya kembali berkata.. "Tidak....tidak masalah, meskipun tanpa kepala" saat mobil itu memasuki area basement sebuah gedung pencakar langit di kota itu saat suara guntur menggelegar di angkasa...di balik langit hitam yang bagaikan menangis meratapi bumi yang ada di bawahnya sementara beratus-ratus kilometer dari tempat itu, di atas aspal jalanan pinggiran kota Inaba, Vlad mengakhiri percakapan teleponnya. Ketika radio di mobilnya menyiarkan sebuah berita..

'Seorang siswi Yasogami High School ditemukan tewas terbunuh...'

Saat ia mengeluarkan sebatang rokok dari balik jaket seragamnya yang bewarna abu-abu dan menghisapnya seusai menyalakannya dengan korek api gas yang disimpannya.


Suasana di Yasogami High School kini sontak diselimuti oleh suatu hal yang bernama ketakutan sejak mayat bernama Ayane Matsunaga ditemukan, itulah yang kiranya didapati oleh seorang Ryoutarou Doujima saat ia tiba di sekolah ini.

Terlihat dengan jelas wajah-wajah yang saling tidak percaya dan ragu antara satu siswa dengan siswa lain, antara guru yang satu dengan guru yang lain dan begitulah yang terjadi dengan seluruh orang di tempat itu. Mungkin ucapan Thomas Hobbes tentang Homo Homini Lopus—manusia adalah serigala bagi manusia yang lain cukup tepat untuk menggambarkan situasi yang tengah terjadi kali ini.

Dan Ryoutarou tahu betul apa yang ada di benak mereka sekarang,

"Jangan-jangan orang yang ada di dekatku itu adalah sang pembunuh.."

Dan pikiran itu tentunya datang bersamaan dengan rasa kecewa mereka pada polisi mengingat dalam satu minggu ini, pembunuhan di kota yang seharusnya aman dan damai itu sering terjadi tanpa memandang korban. Miris memang, terutama bagi seorang polisi teladan semacamnya...ini adalah sebuah tamparan keras.

Tapi itulah kenyataannya, kenyataan yang membuatnya geram tanpa bisa berbuat apa-apa saat ia menoleh ke arah seorang anggota tim forensik yang tengah melakukan pengecekan terhadap mayat tersebut.

"Apa kau sudah dapatkan data korban??"

"Sudah.." jawab anggota tim forensik itu, "Korban bernama Ayane Matsunaga, umur 18 tahun...dia adalah siswi kelas 3 sekolah ini.." Ia lalu menulis sebuah tulisan di atas sebuah papan yang dibawanya, "Agaknya pelakunya adalah orang yang sama..."

"Orang yang sama!?"

Anggota tim forensik itu mengangguk, "Jika dilihat dari cara membunuhnya..." Ia lalu memperlihatkan sebuah luka menganga pada dagu gadis kecil itu (ya, gadis kecil meski ia sudah 18 tahun), "Agaknya korban dibunuh dengan sebuah tembakan di sini..." Kemudian ia lalu memperlihatkan tempurung kepala gadis itu yang hancur pada bagian atasnya, "Dan menembus keluar di tempat ini...tanda jika korban dihabisi dengan jarak tembak yang dekat..."

"Lalu jenis pelurunya?"

"FMJ .45 ACP..." Kata pria itu seraya berdiri, "Tipe yang sama dengan korban yang lain..." ia lalu menghela nafas, "Dan sialnya begitu samanya hingga kami sama sekali tidak mendapatkan serpihan alur peluru itu, sidik jari atau apapun yang mengindikasikan pada sang pembunuh..."

"Hanya itu?"

"Ya, untuk selanjutnya kami harus mengadakan otopsi pada mayat ini.."

Mendengar hal itu, Ryoutarou hanya terdiam membisu...ia lalu mengamati keadaan di sekitarnya sebelum akhirnya kembali bertanya pada pria di hadapannya itu.

"Kemana Shirogane?!"

"Dia sedang berada di dalam kelas ini bersama dengan saksi yang menemukan mayat ini pertama kali..." ujarnya sambil menujuk ke arah kelas kosong yang ada di belakangnya yang tertutup, membuat duda itu menatap ke arah kelas itu.

"Percaya atau tidak...saksi yang menemukannya sama dengan kasus Ai Ebihara beberapa hari yang lalu..." Pria itu menambahkan, memancing Ryoutarou Doujima untuk bertanya.

"Siapa?"

"Yukiko Amagi..."


Vladimir Alexandrov Dostoyevsky berjalan keluar dari mobil SUV hitam itu dengan ketenangan yang luar biasa setelah laju mobil SUV hitam yang membawanya itu berhenti di depan sebuah pintu penjara yang hitam dan kokoh. Ia lalu berdiri sejenak di hadapan pintu besar itu untuk mengamati sekitarnya.

Dua puluh orang. Ujarnya dalam hati saat dua orang sipir penjara berjalan menemuinya dengan wajah tahu sama tahu saat pintu besar di hadapannya itu terbuka, menandakan jika orang-orang yang dijanjikan oleh Mitsuhiro telah bertindak sesuai dengan yang direncanakan. Dengan ramah, pemuda itu lalu menyerahkan secarik kertas kecil pada seorang sipir itu yang kemudian berjalan mengantarnya. ke bagian dalam bangunan itu, ke arah gedung yang ditujunya—Gedung 2 sel 8, dimana pria yang dianggap bertanggung jawab atas semua ini berada, menunggu hukuman dari kedua mata pria bermata merah itu saat di atas sana; di antara tiang-tiang besi penyangga atap penjara itu, seekor serigala berdiri dengan tegap sambil mengamati langkah pria Rusia itu dengan seringainya yang lebar dan buas meminta darah.


Author's Sez:

Well kayaknya sekian dulu chapter gila dan aneh ini...(ya, aneh karena kayaknya kali ini chaptnya ga baguz....dan saya entah kenapa baru sadar kalo rupanya menyelesaikan satu masalah dari sekian banyak masalah itu adalah susah...well sedikit penjelasan...di sini ada dijelaskan kalo Hisano Kuroda ama Sayoko Uehara udah RIP tapi ga dijelasin kan sebabnya kenapa...well sebenernya berdasarkan crita ini, mereka tu udah dibunuh sebelum korban pertama crita ini (yaitu : Souji, Namatame dan Adachi)...sebabnya dan cara dibunuhnya tu bakalan dijelasin di chapt yang akan datang)...well review dan masukan serta hujatan atas chapt aneh ini...^^

Nah sekarang saya akan berburu dua orang itu (tekan b4-6 -keluar AWP- kayak di CS) bersiaplah...-bidik, tembak-

DUAR!! -meleset-

Cih!! (tekan b 4-2 -keluar AK 47-) tunggu!!! -ngejer tapi target dah masuk hutan-

Sedikit tambahan...sebenernya tokoh Vlad yang saya pasang di crita ini sbagai OC tu, punya kelainan psikologis (yah, pokoknya berhubungan sama kejiwaan gitu)....coba tebak, apa?

Dan well apa Kashiwagi saya pasangkan dengan Ryoutarou itu baik?(kasian ga ya Nanako??) ...dan apakah kalian merasa bingung? Kalau bingung, brarti saya sukses...karena membuat pembaca bingung dengan crita ini, dengan alur ini dan dengan sikap para tokoh (Vlad terutama) adalah tujuan utama crita ini dibuat..tapi ga taw c...prasaan pembaca kebawa2 ga c kalo baca ni fanfic..well...'till the next chapt..(mikir lagee cari ide....)