Desclaimer: Masashi Kishimoto

Judul: Innocent Liar

Rate: T-M

Warning: OOC, crack pair, semi-canon, Gaje, Typo(s) de-el-el.

Summary: Tim 7 generasi ini sungguh berwarna. Yui si misterius Raven, Hatake Irie yang dewasa sebelum waktunya dan Natsu Uzumaki pembuat onar wahid. Kiba rasa ini akan menarik terlebih lagi mengetahui sebuah genjutsu rahasia Yui.

.

.

"Kami di bangkitkan melalui jurus edo tensei yang disempurnakan. Kami benar-benar seperti manusia. Bisa berdarah dan memerlukan makanan"

"Aku juga melihat bagaimana mereka menghidupkan kembali seseorang. Caranya dengan menukar nyawa dari seorang tumbal. Tubuh orang yang menjadi tumbal akan menjadi wadah dari nyawa yang akan dibangkitkan. Mirip edo tensei, tapi ini lebih sempurna. Cara mereka menyimpan pasukan edo tensei ini berbeda dengan yang sebelumnya. Mereka menyimpannya di ruangan-ruangan. Aku punya mangekyou sharingan dan bisa lolos dari kendali. Ini juga kelemahan dari jurus ini. Aku juga bisa menyadarkan yang lain. Tapi sayang yang ku bisa bawa adalah dua orang"

Yuki dan Yui mengangguk mengerti.

"Lalu bagaimana cara kalian melarikan diri dari tempat itu?"

"Kami mengandalkan byakuugan Neji dan menyelinap di saluran air"

"Begitu. Omong-omong siapa perempuan itu?" tanya Yuki penasaran dengan wanita pingsan yang mereka letakkan di sofa.

"Namanya Deidara. Salah satu anggota Akatsuki yang bisa kubawa. Aku yakin anggota Akatsuki juga ada di sana"

Yui menghela nafas. Ia tidak suka urusan orang dewasa. Tapi kali ini ia terjebak dengan urusan orang dewasa yang merepotkan.

"Kurasa urusanku di sini sudah selesai, aku akan pulang ke mansion Hyuuga" kata Neji.

Itachi setuju. Setelahnya Neji pun pergi. Perhatiannya tertuju pada dua bocah di hadapannya dengan senyum kecil.

"Saat ini sudah berapa tahun sejak perang besar dunia shinobi berakhir?" tanya Itachi.

"Sudah sekitar sepuluh tahun, paman" sahut Yuki.

Itachi masih tak percaya bahwa adik tersayangnya bisa mempunyai dua anak tanpa pernikahan.

"Boleh kutanya siapa ibu kalian?"

Yui dan Yuki saling pandang.

"Sebenarnya aku masih ragu padamu. Bisa saja kau adalah adalah ancaman. Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan ini besok ketika ayah kami sudah sehat" ucap Yui tegas.

Yuki mengangguk membenarkan ucapan Yui.

Itachi tersenyum lagi. Kedua keponakannya memang ajaib. Di dalam hati ia memikirkan siapa ibu dari keduanya.

Apa Sakura yang mengejar Sasuke sedari kecil? Atau Ino? Tapi setelah dilihat lagi, Itachi melihat ada kemiripan antara Neji dan Yuki. Yui juga mirip dengan gadis yang dijodohkan dengan Sasuke dulu. Kalau tidak salah namanya... Hinata.

Entahlah.

.

.

.

Neji tidak pulang ke mansion Hyuuga. Ia tidak sengaja melihat bayangannya di sebuah cermin. Dan yang mengejutkan adalah tanda kutukannya hilang. Mungkin Itachi tidak mengetahui tentang tanda kutukan ini jadi tidak memberitahunya.

"Aku tidak bisa pulang" gunamnya.

Rambut selututnya bergerak ditiup angin. Pakaiannya hanyalah jubah berwarna merah marun yang bahkan belum ia ganti selama seminggu ini.

"Mungkin aku harus menumpang di tempat bocah Uchiha itu"

Kemudian langkahnya berbalik menuju rumah susun tempat Yui tinggal.

"Lee! Seharusnya kau tidak ceroboh tadi! Katanya ingin mentraktirku, tapi malah kelupaan membawa dompet!"

Neji memelankan langkahnya saat mendengar suara familiar itu.

"Iya...maaf...maaf... tadi Metal meminta uang lalu aku tinggalkan dompetnya di meja"

Kini langkah Neji terhenti. Jantungnya berdetak kencang mendengar suara perempuan yang khas itu.

Lama kelamaan suara itu menjauh. Neji kembali melanjukan langkahnya.

.

.

.

Keesokan harinya...

"Wah... pagi ini ramai sekali ya" ucap Yuki dengan nada kagum.

Itachi tersenyum mendengarnya. Kedua tangannya sibuk memasak nasi goreng untuk lima orang. Neji yang selesai mandi duduk di meja makan bersama Yuki.

"Pagi, paman"

"Hn"

"Kau tidak membangunkan Yui? Ini sudah siang untuk ukuran seorang gadis" tanya Itachi saat melihat jam dinding.

"Membangunkan Yui sangat susah. Kau harus menarik kakinya agar ia jatuh dari ranjang. Tapi tidak semudah itu, Yui sangat susah untuk dibangunkan" jawab Yuki

"Biar aku saja" Neji berdiri dan memasuki kamar Yui.

Jadi di rumah susun itu terdapat dua kamar tidur yang masing-masing sudah berisi kamar mandi. Ada juga ruang tamu dan dapur.

Kemarin Yui tidur bersama Neji. Deidara tidur bersama Itachi dan Yuki dipanggil secara tiba-tiba oleh Chojuro.

Kenapa Itachi tidur bersama Deidara padahal Deidara adalah seorang wanita? Karna Itachi tidak mau Deidara kabur dan meledakkan sesuatu di luar sana.

Dini harinya Yuki kembali dengan kantung matanya yang mirip panda.

"Oi!" Neji menggoncangkan tubuh Yui yang tertidur dengan pose telungkup.

"Bangun gadis pemalas!" Neji semakin menggoncangkan tubuh mungil Yui.

"Tidak mau!" kata Yui yang menenggeakan wajahnya di bantal. Kedua tangannya memegang ujung ranjang.

Neji mengikuti saran Yuki untuk menarik kaki Yui. Sayangnya sesuai dengan apa yang dikatakan Yuki, itu tidak mudah.

Adegan tarik menarik itu terhenti ketika Yui terjatuh dari ranjang.

Dengan keadaan setengah sadar, Yui menajamkan matanya melihat Neji. Pengelihatannya masih kabur.

"Oh jadi kau ya" gunam Yui lalu masuk ke kamar mandi.

.

.

.

"Selamat pagi, Sasuke-san" sapa Shan-Shan saat mengecek keadaan Sasuke.

Sasuke tidak menjawab. Pria itu masih memikirkan insiden penyerangan itu sambil mengira-ngira kemampuan musuh.

Pintu dibuka tepat setelah Shan-Shan membereskan peralatan makan Sasuke.

"Pagi, Hinata-san" sapa Shan-Shan.

Hinata tersenyum ke arah Shan-Shan. Setelah murid Sakura itu pergi, Hinata menghampiri ranjang tempat Sasuke berbaring.

"Apa sudah baikan?"

Sasuke mengangguk.

"Apalagi setelah melihatmu. Rasanya aku semakin sehat saja" goda Sasuke.

Sasuke tertawa kecil melihat Hinata yang memerah. Hinata lalu meletakkan bunga lily putih yang ia bawa di vas bunga yang ada di samping ranjang Sasuke.

"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang rahasia" bisik Sasuke sembari memberi isyarat agar Hinata mendekat.

Hinata mendekatkan telinganya ke arah Sasuke. Setelah jarak mereka dekat, Sasuke meletakkan tangannya di tengkuk Hinata dan mengecup kilat bibir wanita itu.

Hinata terdiam dengan wajah memerah. Sasuke yang gemas kembali mendaratkan bibirnya disana dengan waktu yang lebih lama.

'Astaga manis sekali' batin Sasuke.

Setelah memisahkan kedua bibir itu, Sasuke dan Hinata saling pandang.

"Sasuke"

Hampir saja Hinata jatuh di lantai kalau Sasuke tidak menahannya.

"Kenapa malah pingsan di saat seperti ini? Hum?" ucap Sasuke sambil terkekeh pelan.

.

.

.

"Sayang sekali. Aku ada urusan dengan Mizukage-sama"

Yui memejamkan mata mendengar alasan Yuki. Gadis itu menoleh ke arah Itachi.

"Aku akan menemui Hokage untuk membicarakan jutsu pembangkit ini" kata sang paman.

"Aku? Kau yakin mau bersamaku? Itachi sialan ini pasti akan membawaku" kali ini Deidara yang badannya kembali dililit tali agar tidak berbuat macam-macam.

Yui menghela nafas. Niatnya akan mencari obat-obatan di hutan untuk ditukar dengan bahan makanan yang semakin menipis. Tapi semua orang sibuk. Kecuali...

"Apa? Jangan menatapku seperti itu!" kata Neji saat semua menatapnya.

"Hah... baiklah"

Yui dan Neji pun berangkat ke hutan di tempat ia sering mengambil tanaman obat.

"Gendong aku!"

"Dasar pemalas!"

"Kakiku sakit jika dibawa berjalan!"

Neji menatap Yui dengan kesal. Merepotkan tapi Neji sadar bahwa ia, Deidara dan Itachi sudah merepotkan gadis kecil yang bahkan sedang pusing dengan kebutuhan hidupnya.

"Kita akan kembali sebelum jam tiga sore. Karna kita akan menjual tanaman obatnya jam dua sore. Setelahnya aku akan bermain kartu di tempat judi selama satu jam" ucap Yui memberitahu rencananya pada Neji.

"Berjudi itu tidak baik"

"Tapi aku tidak punya pilihan lain tau. Setelah jadi genin, semua tunjangan yang kuterima dicabut. Biaya sewa rumah susun juga mahal. Ditambah lagi uang listrik dan air. Rasanya aku sudah seperti ibu-ibu" keluh Yui.

Mereka berhenti setelah Yui memberi tanda tempat tujuan mereka sudah dekat.

"Kau diam saja disana! Aku yang akan mencari tanaman obatnya" kata Yui.

"Memangnya siapa yang mau membantu?"

Perempatan imajiner muncul di dahi Yui.

"Berbalik sana! Jangan melihatku!"

Neji berbalik sesuai dengan instruksi Yui. Karna tidak ada yang harus ia lakukan, pria berumur dua puluh tujuh tahun namun dengan badan berusia tujuh belas tahun itu menjalankan hobinya. Meditasi. Ditambah lagi suasana yang tenang.

Setelah yakin Neji tidak akan melirik kearahnya, Yui menghilangkan tanda segel di dahinya membuat ia bisa menggunakan byakuugan.

Yui tersenyum senang melihat banyak tanaman obat yang mahal ada di tempat itu.

Sekitar satu jam kemudian, Neji mencari Yui yang terlihat tidak jauh dari sana.

"Bagaimana caranya membawa obat-obatan itu?" tanya Neji saat melihat banyak tanaman obat yabg didapat oleh Yui. Oh! Jangan lupa buah blueberry yang jumlahnya tidak sedikit itu.

"Dengan jikkuka ninjutsu. Aku memang baru belajar, tapi aku pasti bisa menyimpan ini"

Yui membuka gulungannya dan meletakkan tanaman obat diatasnya. Setelah membentuk tanda segel, tanaman obat itu hilang bergantikan dengan rumusan segel. Neji hanya diam melihatnya.

"Bagaimana? Hebat bukan?"

"Tidak terlalu. Aku kenal dengan orang yang lebih hebat melakukan itu"

Yui menatap Neji tidak suka. Ia menyimpan lagi blueberry-nya di gulungan berbeda dan memasukkannya di dalam ransel.

.

.

.

"I-Itachi-san"

Naruto hanya bisa menganga dengan ekspresi kaget yang tidak elit. Bahkan nanadaime itu menampar pipinya beberapa kali.

"Kau benar-benar Itachi?"

Itachi menghembuskan nafas melalui mulutnya dengan kesal. Entah sudah berapa kali Naruto melakukan hal konyol semacam itu.

"Ada yang ingin kubicarakan padamu" kata Itachi mengakhiri tingkah konyol Naruto.

Kemudian semua yang terjadi pada Itachi mulai dari ia dibangkitkan lalu keluar dari tempat itu sampai ia berada di hadapan rival sang adik mengalir dari mulut Itachi.

"Apakah akan terjadi perang lagi?"

Itachi mengangguk.

"Siapapun itu, ia adalah orang yang hebat. Dia juga mengumpulkan ninja pelarian dari tingkat D sampai S. Saat ini mungkin ia menyiapkan pasukannya"

Naruto mengangguk dan mejatuhkan wajahnya ke meja.

"Ini pasti melelahkan"

"Lalu siapa wanita seksi ini?" tanya Naruto setelah mengangkat wajahnya.

"Kau mungkin tidak percaya, tapi dia adalah Deidara"

Deidara menatap Naruto kesal karna sedari tadi ia diabaikan. Jangan lupa pandangan tidak sopan Naruto pada tubuhnya.

"Eh??!! Maksudmu Deidara yang menangkap Gaara dan yang dulu suka ledakan itu?"

Naruto melihat Deidara dari ujung kaki sampai ujung rambut pirangnya yang dikuncir sebagian. Seingat Naruto, Deidara adalah laki-laki. Dan Naruto cukup percaya Deidara adalah perempuan saat melihat dadanya.

"Jangan pandangi dia seperti itu! Tidak sopan sekali bocah ini" geram Itachi.

"Bocah katamu? Badanmu saja seperti lebih muda dariku beberapa tahun"

Naruto berpikir sejenak.

"Aku akan membicarakan ini dengan aliansi. Tepat sekali kau datang. Karna saat lima Kage sedang berkumpul. Kau bisa pulang... eh-kau tidak punya rumah ya?"

"Aku tinggal di tempat keponakanku" jawab Itachi cepat.

"Ah... kau sudah tau rupanya"

.

.

.

"Ini cocok untukmu!"

Neji hanya diam. Di depannya Yui sedang sibuk memilih pakaian untuk Neji.

"Bukankah biaya hidup di Konoha itu mahal?" sindir Neji.

"Aku menang banyak hari ini. Pikirkan saja, lima juta ryo! Dengan uang ini aku bisa hidup setidaknya sampai dua bulan kedepan. Tapi karna aku ingin kau berganti baju, aku membelikannya. Jubahmu itu bau tau"

Neji pasrah. Ditangannya sudah banyak tas belanja yang berisi pakaian untuknya dan gadis itu sendiri.

"Ayo kita pulang dan buat mereka yang kabur itu menyesal tidak membantuku!" ucap Yui semangat.

"Kau punya cara balas dendam yang unik ya"

Yui tersenyum miring.

"Sekarang, gendong aku lagi"

.

.

.

Sudah jam setengah tiga sore. Sesuai dengan janji, Tenten berangkat untuk melatih Yui. Ia sengaja datang lebih awal karna tidak ada pekerjaan di rumahnya.

Di tengah perjalanan Tenten tak sengaja melihat Yui bersama dengan seorang remaja pria. Umurnya sekitar tujuh belas tahun.

"Kukira Yui tidak punya saudara" gunam Tenten.

Gadis bercepol dua itu menggidikan bahunya.

"Mungkin itu kerabat dari ibunya"

.

.

.

Sakura menganga melihat pemandangan ajaib di depannya. Seingatnya yang sakit hanya Sasuke. Lantas kenapa Hinata juga ada di ranjang itu?

"Apa yang terjadi pada Hinata? Ku kira hanya kau yang sakit"

Sasuke tidak menjawab Sakura dan membuat wanita yang sedang hamil itu kesal. Sakura meletakan telunjuknya di dagu dan menatap Sasuke dengan senyum penuh arti.

"Jangan menatapku seperti itu!" kata Sasuke lalu memalingkan muka.

Suasana hati Sasuke sedang berbunga sebelum Sakura datang. Dan sekarang bunga-bunga itu menjadi layu. Pasti setelah ini Sakura memberitahu Naruto, lalu Naruto menyebarkan pada Kakashi, Yamato dan Sai.

"Jadi... apa yang terjadi antara kalian?"

"Bukan urusanmu!" jawab Sasuke ketus.

Bukannya menyerah, Sakura malah semakin gencar menanyai Sasuke setelah melihat sikap Sasuke.

"Hentikan Sakura! Kau bisa membuatnya terbangun"

Sakura tertawa melihat ekspresi merajuk Sasuke. Terlebih lagi mengetahui alasannya. Dipikirannya sudah banyak pertanyaan mengenai hubungan kedua sahabatnya.

Kemarin Hinata bilang bahwa mereka tak sengaja bertemu beberapa kali dan menjadi akrab. Tapi jawaban itu malah membuatnya curiga. Sejak kapan Sasuke cepat akrab dengan seseorang yang tidak sengaja beberapa kali ia temui.

"Apa pun yang terjadi memang bukan urusanku, tapi janinku ingin tau Sasuke-kun. Mungkin aku sedang ngidam"

Sasuke pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan Sakura dan menutup kedua matanya.

"Kau belum makan siang, Sasuke-kun"

"Hn"

Sakura memutar bola matanya melihat kelakuan Sasuke. Setelah meletakkan makan siang Sasuke di meja, wanita itu pergi dengan gerutuannya yang tak habis-habis.

Sasuke lega melihat Sakura pergi. Dunianya kembali damai dan berbunga-bunga seperti sebelumnya. Senyum muncul di wajahnya saat melihat wajah Hinata yang dekat dengannya. Tambahan bahwa mereka berada di satu ranjang membuatnya ingin menghentikan waktu agar bisa melihat wajah wanitanya.

Tapi wajah tidur Hinata tak berlangsung selama yang Sasuke inginkan.

"Kau sudah sadar? Tadi kau pingsan setelah kita berciuman"

Wajah Hinata memerah lagi. Dengan agak tergesa, wanita itu turun dari ranjang.

"Ini sudah siang ya?"

Sasuke mengangguk.

"Aku ingin makan siang" kata Sasuke sambil melirik makan siangnya di meja.

"Dan suapi aku" perintahnya lagi dengan senyum tipis.

.

.

.

"Simpan belanjaan ini di lemari es dan ganti bajumu. Sementara aku berlatih, kau jaga rumah" titah Yui pada Neji.

Setelahnya Yui pun berangkat ke tempat latihan.

"Maaf aku terlambat, sensei" ucap Yui saat melihat Tenten sudah ada di tempat latihan.

Gurunya itu terlihat serius membaca buku. Disamping Tenten ada dua buah gulungan besar yang Yui yakini bahan ajaran hari ini.

"Tidak apa. Aku saja yang datang lebih awal"

Tenten menyimpan kembali bukunya di kantung senjatanya.

"Kemarin kita sudah bekajar memindahkan barang yang kecil. Tapi sekarang kita akan belajar cara memindahkan barang yang besar"

"Besar?"

Tenten mengangguk. Ia merasa seperti melihat dirinya sewaktu menjadi genin.

"Seperti gunung?" tanya Yui cepat dengan mata berbinar.

Tenten meletakkan jarinya di dagu. "Mungkin juga... tapi itu terlalu besar"

Yui berpikir. Sesuatu yang besar yang dimaksud Tenten itu apa. Kalau gunung terlalu besar...

"Dengan jikkuka ninjutsu, kita bisa menyimpan benda apa pun. Bentuk penyimpanan pun bisa berbeda. Ada gulungan, kartu atau bahkan kain yang dilipat di pergelangan tangan"

"Lalu sekarang kita akan menyimpan apa?"

"Air. Bisa air berukuran segelas, sekolam atau selautan. Itu jika kau bisa"

"Tadi kau bilang gunung terlalu besar, tapi lautan lebih besar dari gunung"

Tenten tertawa mendengarnya.

.

.

.

Malam harinya, Kiba menuju tempat tinggal Yui bersama Akamru. Tujuannya adalah untuk memberi hadiah ulang tahun. Karna ada misi jadi ia baru bisa memberinya sekarang.

"Sensei"

Baru saja ingin mengetuk pintu, ia sudah dikagetkan dengan Yui yang berdiri disampingnya.

"Hai Akamaru"

Kiba memberikan hadiahnya pada Yui. "Aku terlambat memberinya. Tapi akan kupastikan hadiah ini adalah hadiah terbaik sepanjang hidupmu"

Yui tersenyum.

"Terima kasih, Sensei. Untuk ujian chunnin, aku akan berusaha agar lulus dan membuatmu bangga"

Kiba tertawa. Tanpa sadar tangan kanannya terangkat untuk menyentuh rambut Yui. Yui menghindar dengan memundurkan kepalanya.

"Aku tidak suka rambutku disentuh"

Kiba tertawa lagi.

"Baiklah... baiklah. Aku pergi dulu. Kakakku sedang aneh belakangan ini. Besok malam kita makan bersama Irie dan Natsu ya"

Yui hanya menatap kelergian Kiba dan Akamaru. Ia melirik hadiah yang Kiba berikan.

Pintu dibuka dari dalam menampilkan Neji dengan pakaian santainya. Rambut panjangnya dikuncir kuda membuat Yui hampir tidak mengenalinya.

"Kau sudah pulang? Deidara hampir meledakkan dapur tadi"

Kedua mata Yui membesar. Tidak! Cukup Yuki yang hobi membuat dapur meledak!

Dan disinilah mereka sekarang. Itachi dan Neji sedang memasak, Yuki yang bersiap-siap akan pergi karna tugas dadakan dari Mizukage, Yui dan Deidara duduk di meja makan.

Tali yang membelit tubuh Deidara sudah dilepas karna wanita itu sudah berjanji tidak akan membuat masalah. Deidara juga berjanji akan berada di pihak mereka.

Pakaian Itachi dan Deidara juga sudah berubah karna Itachi sempat meminjam uang pada Naruto. Kasihan sekali Itachi, turunlah harga diri Uchiha-nya.

"Sayang sekali kau tidak bisa masak, onee-chan"

"Aku memang tidak bisa memasak karna aku hanya bisa meledakkan, un!"

Yuki terlihat terburu-buru.

"Aku mungkin tidak pulang malam ini. Rapat lima Kage biasanya sangat lama. Terlebih lagi kalau dadakan"

"Hati-hati ya" teriak Itachi dari dapur.

"Iya"

Neji membawa makan malam mereka ke meja makan. Mata bulannya tak sengaja melihat gulungan di meja.

"Itu kan milik Yuki"

"Eh? Mungkin gulungan itu penting. Yui, bawa sana untuk kakakmu, un!" perintah Deidara.

"Tidak mau"

Dengan sedikit paksaan dari Deidara dan Neji, Yui membawa gulungan Yuki ke kantor Hokage.

Sebenarnya Yui mengantuk. Setelah latihan yang melelahkan, Yui langsung mandi dan itulah yang membuatnya mengantuk.

Setelah bertanya pada Shikamaru yang juga punya tujuan yang sama dengannya, Yui pun menemui Yuki.

"Lain kali tolong gunakan otakmu"

"Iya... iya... dasar cerewet"

Tidak sengaja Yui melihat seorang laki-laki yang kira-kira dua tahun lebih tua darinya. Laki-lakiitu berjubah hitam dan Yui rasa ia pernah melihatnya dulu.

"Siapa itu?" tanya Yui pada Yuki.

"Putra Kazekage. Dia senasib denganku dan hanya kita yang masih bocah di ruang rapat lima kage"

Yui mengangguk.

"Sebenarnya rapat akan mulai setengah jam lagi. Aku tadi terburu-buru karna Chojuro-sama meminta barang rahasia" bisik Yuki.

"Aku tidak tanya"

"Astaga galak sekali. Sana pulang! Tidak baik gadis sepertimu berkeliaran malam-malam"

"Iya... iya.."

Ketika berjalan pulang, Yui merasa diikuti. Beruntung tempat tinggalnya dekat. Sebenarnya Yui tidak takut diikuti. Tapi Yui takut hantu. Apalagi setelah melihat sendiri kedua pamannya yang meninggal hidup lagi.

"Apa-apaan ini? Dadaku sakit"

.

.

TBC

Ngebet di update. Maaf kalau banyak typo.

Thanks yang udah review