Desclaimer : Yana Toboso
Ini dia FINAL CHAPTER … maaf kalo panjang banget, padahal uda saya usahain pendek lho…beneran T-T hope you enjoy this fic…
Makasih banyak yang udah nyempetin review, here's the Reply Review :
#earlcivon : ahaha iya tuh si grey. Silahkan hajar #dibunuh duluan# makasih udah RnR :-D
#Ve : ch 10 : ahihihi mungkindia bakat gombal XD
Ch 11 : hu um, abis kalo gak dia sapa lagi yang koplak XD #dbunuh will
Ch 12 : dia emang si raja tega huhuhu T.T #dihajar sebas# thehehe abisnya ya begitu si Hannah XD karena ampir finalmakanya runyam XP
Makasih banyak udah read n review :-D
#Mitty : makasih banyak...
Hah? Oh? Mungkin typo. Makasih koreksinya... makasih juga uda RnR :-D
And makasi juga bwt yg uda nyempetin log in bwt review :
fetwelve, sukikawai-chan, Vermthy, StainedSculpture, EmperorRed, red0jewel, sellarosella, Devi Mich Phantomhive, PoppedOutKirika, Jo Anya, seiya aya, cavana1412, Himeji Arisa, Kaori Suruga, Aihsire Atha, PratiwiPutri. Author bales lewat PM :-v
Chapter 12 : Final Destination
.
.
.
"Ciel…Ciel…coba lihat ini. Lucu kan?" riang gadis berambut pirang itu, memperlihatkan gumpalan bulu di tangannya.
"Hah? Ya…" jawab Ciel sambil menutupi hidung dan mulutnya dengan telapak tangan. "Kau mau membeli yang itu, Lizzie?"
"Boleh?"
"Tentu saja."
"Asyiiikkk…Ciel baik deh. Ah, tolong pegang sebentar ya, aku mau ambil yang pasangannya," Lizzie memaksa Ciel memegang hamster itu.
"Eh, tu-tunggu…Lizz-…Hachiii…"
"Eh?" Lizzie kaget melihat Ciel yang tiba-tiba bersin.
"Hachiiii…i-ini…" Ciel memberikan kembali hamster di tangannya pada Lizzie.
"Ah, maaf. Bukannya Ciel allergy kucing?" Lizzie mengernyit heran.
"Entahlah, sepertinya aku allergy dengan segala jenis hewan berbulu," Ciel kembali menutupi hidungnya.
"Kalau begitu aku tak jadi beli," Lizzie kembali menaruh hamster itu ke dalam kandang.
"Tidak apa-apa. Kau kan-…"
"Tidak mau. Kalau Ciel tidak suka ya sudah," senyum Lizzie. "Ayo lanjutkan jalan-jalan," Lizzie menarik Ciel keluar dari pet shop itu.
Mereka berjalan di sepanjang district Fuyashi yang terkenal ramai itu sambil melihat-lihat toko-toko di kiri kanan jalan. Dan langkah Ciel terhenti saat melihat monitor iklan yang terpasang di sebuah gedung toko, tengah mengiklankan produk air mineral yang dibintangi oleh Sebastian.
Mata Ciel berubah sayu, tapi tak lepas dari iklan itu.
"Ada apa Ciel?" tanya Lizzie, ikut menatap iklan itu dan berganti menatap Ciel. Ia tak mengerti, sepertinya gadis itu tidak begitu mengenali sosok yang dicium Ciel pada foto yang diterimanya.
"Ah, tidak apa-apa," ucap Ciel. "Ayo kita kesana, aku melihat barang bagus," Ciel menggandeng tangan Lizzie memasuki sebuah toko yang disambut anggukan ceria oleh Lizzie.
Dan selama berbelanja, Ciel terus menanamkan satu hal dalam benaknya. Ia sudah memutuskan akan bersama Lizzie dan meninggalkan Sebastian.
~OoooOoooO~
Grell menopang dagu Be-Te sambil mendengarkan senandung sumbang dari orang di sampingnya. Ia melirik sosok bersurai perak yang tengah menggendong seekor kucing hitam sambil bersenandung entah apa.
"Dengar ya, kalau kau tidak bisa menyanyi dengan lebih benar, sebaiknya diam saja!" akhirnya Grell buka suara.
Sosok perak itu menoleh ke arah Grell. "Memangnya suaramu bagus?" ejeknya.
Grell langsung naik darah.
"Heh! Kalau suaraku tidak bagus mana mungkin aku masuk boyband ini, bodoohh!" raung Grell sambil menarik kasar kerah baju si surai perak.
"Huaaa…" raung si surai perak, apalagi karena kucing yang dipegangnya pergi.
"Ada apa, Grell, Grey?" tanya Sebastian yang memasuki ruangan itu.
"Huh!" Grell mendengus kesal dan mulai menggonta-ganti chanel TV.
"Sebas-chan, dia menggangguku," adu Grey pada coretkekasihnyacoret itu.
"Heeeii! Cuma aku yang boleh memanggilnya dengan nama itu!" kesal Grell.
"Karena kau berbuat kenakalan lagi?" tuduh Sebastian tapi dengan senyum dan sambil menyentil hidung Grey, mengacuhkan Grell begitu saja.
"Aku tidak nakal. Aku Cuma sedang bermain dengan Ciel…"
Baik Sebastian ataupun Grell terdiam. Memang sih, yang Grey sebutkan adalah nama kucing hitam tadi, tapi…
Sebastian mengernyit aneh, lalu ikut duduk di sofa di samping Grey. Tak berap lama kemudian, Claude juga memasuki ruang TV itu dan duduk di sofa yang bersebrangan dengan ketiga kawannya.
"Kau kenapa, Claude?" tanya Sebastian melihat wajah Claude ditekuk. "Mana Alois?"
"Kencan!" dengus Claude kesal.
"Kenapa kau tidak menghentikannya?" tanya Grell tanpa menatap Claude, ia masih sibuk dengan remote-nya.
"Cih!" hanya itu yang keluar dari mulut Claude.
"Dan kau…" Grell beralih menatap Grey. "Sampai kapan kau mau berada disini!" omelnya sambil mendorong dahi Grey dengan remote TV.
"Kan terserah aku, aku tidak mengganggumu!" balas Grey.
"Kau sangat menggangguku tauk! Mengganggu pemandangan!"
"Sebby-chan…" Grey lagi-lagi merajuk, kali ini sambil memeluk Sebastian. Sebastian diam saja, ia tak bisa menyalahkan Grey atas kelakuan manjanya, memang sudah dari dulu begitu. Tapi ia juga mengerti perasaan Grell yang pastinya kesal terhadap Grey, apalagi setelah kejadian dengan Ciel waktu itu. Grell seakan mewakili perasaan Ciel padanya.
Grell menggeram kesal, lalu keluar ruangan sambil menghentak-hentakkan kaki. Ia menuju dapur dimana William dan Undertaker tengah menikmati ice cream dengan rakusnya. Tiba-tiba saja Grell menarik kerah baju kedua temannya itu.
"Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi tapi ini sangat menyebalkan! Kita harus lakukan sesuatu!" omel Grell tiba-tiba, yang membuat William dan Undertaker hanya saling pandang tidak mengerti.
~OoooOoooO~
"Hei lihat, yang ini juga kelihatan enak. Kau mau coba?" tanya wanita bersurai violet itu riang pada sosok blonde di hadapannya. Sementara si blonde Cuma bisa tersenyum aneh.
"Ano, Hannah-chan, ada apa kau tiba-tiba mengajakku makan disini?" tanya si bocah blonde.
"Memangnya kenapa? Kau tidak suka ya, Alois?" sahut Hannah, sang wanita bersurai violet.
"Bukannya tidak suka sih. Tapi tumben sekali…"
Hannah hanya tersenyum menanggapinya. "Eh, setelah ini kita ke Mall ya?" ucap Hannah kemudian. "Tenang saja, aku tidak akan memintamu membayarkan belanjaanku. Aku hanya ingin ditemani olehmu saja."
"Oh…"
Dan disinilah mereka selanjutnya. Mall terbesar di kota London.
"Sugeee…" kagum Alois menatap ke arah kidzone. Dasar anak-anak. "Hannah-chan, aku mau ke…"
"Alois, ayo kesana. Banyak baju-baju model baru lho…" semangat Hannah dan langsung menyeret Alois pergi.
"Kyaaa yang ini bagus, ini juga, ini juga…" Hannah sibuk mengambil baju ini dan itu dan ini dan ini, bolak-balik ke kamar ganti untuk mencobanya, sementara Alois dengan Be-Te menunggu, hingga tiba-tiba ia diseret oleh beberapa orang untuk pergi.
"Alois, menurutmu bagus yang ini atau yang ini?" tanya Hannah begitu keluar dari kamar ganti, tapi ia tak mendapati Alois. "Alois?" panggilnya sambil celingak-celinguk, tapi tetap tak melihat Alois. Ia kembali menaruh pakaian itu dan melangkah untuk mencari Alois, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti saat seorang pemuda menghampirinya.
"Ada apa, lady? Kau tampak kebingungan?" ucap si pemuda.
"I-iya, aku mencari seseorang. Tadi dia bersamaku, tapi begitu aku selesai mencoba pakaian, dia sudah tidak ada," terang Hannah.
"Ah~ dasar laki-laki tidak bertanggung jawab. Maunya hanya senang sendiri tanpa mau menemani lady-nya bersenang-senang," ucap si pemuda. "Sudahlah lady, lupakan laki-laki itu dan pergilah bersamaku. Pangeran Clayton akan menuruti apapun permintaanmu," pemuda yang mengaku bernama Clayton itu pun berjongkok ala pangeran dan mencium tangan Hannah.
Sedangkan Hannah yang biasanya judes namun ternyata kurang kasih sayang (baca : jablay) ini pun langsung ber-blushing-blushing-ria, tampaknya ia menyukai si Clayton.
Sementara Alois yang sempat 'diculik' tadi hanya bisa menatap sweatdrop pada adegan Hannah-Clayton. Ia lalu berbalik dan menatap ketiga orang yang barusan menculiknya.
"Jadi…ini rencana kalian?" tanya Alois.
"Tentu saja. Clayton itu artis tidak tenar yang mata keranjang, pasti mau untuk merayu gadis hoeksecantikhoek Hannah," ucap yang bersurai merah, Grell Sutcliffe.
"Kami hanya ikut-ikutan," sahut dua orang sisanya, William dan Undertaker.
"Nah, sekarang kau sudah bebas dari nenek sihir itu kan? Cepat temui Claude dan berbaikan, biar kami bisa mengurus masalah selanjutnya," Grell berkacak pinggang.
"Masalah selanjutnya?" bingung Alois.
"Tentu saja, masalah si Grey bodoh, lalu Sebastian dan Ciel…"
~OoooOoooO~
Pangeran bersurai keemasan itu tampak sedang menenggak wine-nya dengan anggun, lalu kembali pada keempat sosok yang kini duduk di sofa yang berhadapan dengannya.
"Jadi, ada apa kalian menemui aku yang awesome ini?" ucapnya dan…
"DASAR BRENGSEEKK! KAU TIDAK MENDENGAR PENJELASANKU YA?!" bentak si shinigami merah dengan satu kaki dinaikkan ke meja dan siap menghajar pangeran itu kalau ketiga temannya tidak menghalangi.
"Sabar Grell-san, sabar…" Alois berusaha menenangkan. Grell pun terpaksa duduk kembali meski dengan sebuah geraman.
"Begitulah, Aleister," ucap William menengahi. "Jadi, kau kembalilah pada-…"
"Ck ck ck ck…" Aleister menggoyang-goyangkan telunjuknya. "Jangan panggil aku Aleister, panggil aku Viscount d' Druitt…ohh, tidakkah kau melihat pesonaku yang menggairahkan ini (?)," ucap Aleister lebay, dan kali ini giliran William yang bertampang membunuh.
"Baiklah, Vis-count-d'-Dru-itt," ucap William dengan penekanan di setiap suku kata. "Bisakah kau kembali pada kekasihmu, Grey!"
"Hm…" Aleister tampak berpikir, seolah dia punya otak saja. "No no no, sebenarnya aku sangat menyukainya, dia begitu imut dan manis di atas ranjang."
Jlegeeerrr…
Sontak membuat Alois cs membatu.
"Tapi dia sedikit menyebalkan, hiks…" Aleister menutup mulut dan hidungnya dengan telapak tangan, matanya terpejam seolah menyiratkan kesedihan. "Kami bertengkar karena masalah besar…tidak mudah untuk memperbaikinya."
"Memangnya masalah apa?" tanya Alois.
"Kau ingin tahu, manis?" Aleister menumpukan tangannya di dagu, tersenyum manis pada Alois. Entah kemana ekspresi sedihnya barusan.
Grr…
Kali ini Alois yang berniat ingin membunuhnya.
"Kukuku jadi kalau masalah kalian terselesaikan, kalian masih mau berbaikan?" sambung Undertaker.
"Ya, tentu saja. Tapi masalah yang kami hadapi cukup besar. Oohhh…" Aleister menaruh tangan di dahinya, seolah mau pingsan. "Ini adalah perbedaan yang sungguh sangat besar…"
"Memangnya perbedaan apa?" tanya keempatnya.
"Grey menyukai kucing, sedangkan aku tidak."
Krik…krikk…
"HHIIIIIEEEEHHHH…!"
Benar-benar deh, kalau bukan karena ingin mendamaikan pasangan ababil ini, Grell cs pasti sudah membunuhnya.
"Jadi yang harus kami lakukan hanyalah membuatmu suka kucing, eh?" seringai Grell.
"Ya…kurasa…" jawab Aleister.
"Baiklah, kami akan bawakan kucing dari yang terlembut, supaya kau tahu betapa me-…"
"No no no," Aleister kembali menolak. "Kalau langsung kucing asli aku tidak bisa."
"Lalu mulai dari boneka kucing?" tanya Undertaker heran.
"Hm hm…" Aleister tampak tersenyum aneh setelahnya.
~OoooOoooO~
Ngek!
Dan disinilah kini mereka berempat. Shock berat saat menatap cermin, shock dengan pakaian yang mereka kenakan. Pakaian yang mirip baju renang wanita, ditambah buntut dan kuping kucing serta sarung tangan dan boot yang mirip kaki kucing. Yap! Benar! Neko mimi.
"WHAT THE HELL!" raung William kesal sambil menatap pakaian yang dikenakannya.
"Sudahlah Will, ini demi kebaikan juga," ucap Grell yang tampak menikmati pakaian itu. "Kurasa ini manis juga, chuu~…"
Dan untunglah ketiga temannya tidak muntah karena itu.
"Ne~ ne~ sepertinya kucing-kucingku yang manis sudah siap…" ucap Aleister yang tiba-tiba muncul lalu duduk di sofa sambil memegang segelas wine. "Here's kitty kitty…" panggilnya.
Jleggaarr…
Alois, William dan Undertaker kembali membeku, tapi tidak dengan Grell yang seolah benar-benar menikmatinya. Iapun segera menghampiri Aleister dan bergelayut manja padanya.
"Ohh…kau manis sekali…" Aleister mengelus dagu Grell. "Ayo, panggil teman-temanmu kemari, kita bersenang-senang…"
Dan dengan langkah beraaaaattttt, Alois, Undertaker dan William pun menghampiri Aleister. Tanpa ba bi bu, Aliester langsung merengkuh mereka.
"Owh…kitty kitty…" ucap Aleister, mengelus-elus paha para 'kitty' nya.'
"Hei! Kau menyentuh kemana huh!" omel Alois sambil menampik tangan Aleister yang meraba paha nya.
"Owh…kucing yang pemalu," desah Aleister, tapi tangannya tak berhenti. "Mari kita lanjut ke permainan selanjutnya…"
JDDEEERR!
'Mampus!' batin Alois dan William, sedangkan Grell tetap bersemangat menggoda Aleister, dan Undertaker tengah terbahak-bahak karena geli Aleister meraba-raba tubuhnya.
"Miaw…"
"Eh?"
Tiba-tiba terdengar suara kucing asli. Semuanya menoleh ke arah pintu dan mendapati seekor kucing angora berbulu putih lebat dengan pita biru di lehernya tengah memasuki ruangan.
"Ohh…Cassie, kemarilah sayang…" serta merta Aleister menghambur ke kucing itu dan menggendongnya.
"EEEHHHH?" kejut Alois cs. "Ka-kau bilang kau ti-dak suka kucing…"
"Iya, soalnya waktu itu kucing ini datang waktu aku mau membawa Grey ke ranjang, dan Grey malah lebih memilih kucing ini. Huuuh…kitty kitty…" Aleister kembali mengelus kucingnya. "Tapi aku tidak pernah membencimu, sayang…mmmhhh…"
Gleggaarrr…!
Jadi untuk apa Alois cs harus berdandan seperti itu? Habis sudah kesabaran mereka—minus Grell—dan kini dengan 'sedikit' memaksa, mereka menyeret Aleister pergi.
~OoooOoooO~
Claude, Sebastian dan Grey tengah bersantai di atap dorm. Claude hanya diam di kursi yang agak terpisah dari Sebastian, sementara Grey berisik dengan bicara ini itu pada Sebastian yang hanya menanggapinya sesekali.
"Claude…" teriakan melengking itu tiba-tiba terdengar dan…Grep! Sebuah dekapan erat pada tubuh Claude.
"Mau apa kau? Bukannya kau sedang kencan," sewot Claude pada sosok yang memeluknya, Alois.
"Aish, Claude galak sekali. Aku kan tidak kencan, aku tidak menyukai Hannah, yang kusukai Claude. Tadi aku pergi untuk mempertemukan Hannah dengan orang yang menyukainya, sekarang mereka sudah jadian," ucap Alois sedikit berbohong.
Claude hanya diam.
"Claude memaafkanku kan?" Alois melepas dekapannya dan menatap Claude lurus. Menatap iris turquoise itu, Claude luluh. Tatapannya melembut…
"Yey, Claude memang baik, mmch…" Alois mengecup bibir Claude singkat, tak peduli ada Sebastian dan Grey, menganggap mereka tidak ada.
"Dasar," celetuk Claude dan mengacak rambut blonde Alois.
"Hehe berarti kita jadian kan Claude?" ucap Alois senang.
"Sudah sejak lama kan?" ucap Claude lalu mengecup bibir Alois.
"Ne~ ne~ Sebby-chan, mereka mesra sekali," ucap Grey terdengar iri.
"Hn…lalu?" goda Sebastian dengan senyum nakal.
"Aku…jadi ingat Aleister…"
Dan kata-kata itu memudarkan senyum jahil di bibir Sebastian. Keduanya terdiam sesaat hingga sebuah suara kembali terdengar.
"Darliiing…aku datang menjemputmu…"
Grey mengernyit dan segera menatap pintu, dari sana muncul sang pangeran bersurai keemasan dan berparas tam-…ehm, sedikit babak belur.
"Aleister!" girang Grey dan langsung menyambut sosok itu dengan pelukan. Keduanya berpelukan dengan lebay-nya sambil berceloteh seberapa rindunya mereka.
"Ayo kita ke bulan, darling. Kita tuntaskan rindu kita disana," ucap Aleister dan merangkul Grey. Grey hanya mengangguk bersemangat dan menurut saja saat Aleister merangkulnya pergi, bahkan tanpa berpamitan pada Sebastian.
Tapi Sebastian tampak tersenyum menatap kepergian mereka.
"Nah, masalah selesai," ucap Grell yang tiba-tiba muncul bersama William dan Undertaker. "Sebastian, sekarang giliranmu untuk menjemput Ciel," kerlingnya.
"Tidak," jawab Sebastian dengan sebuah senyum, ia menopang dagunya dengan tatapan menerawang.
"A-apa maksudmu?" tanya Alois.
"Aku sudah terlalu dalam menyakitinya, dan aku tidak akan kembali dalam kehidupannya. Aku bukanlah orang yang pantas…" jawab Sebastian, lagi-lagi dengan seulas senyum. Seakan-akan sudah merelakan Ciel dari hidupnya, walau kenyataannya hatinya teriris saat mengatakan itu.
"Jadi biarkan aku sendiri…selamanya…" bisiknya pada hembusan angin.
~OoooOoooO~
Dan dengan begitu, buntu sudah pemikiran Grell dkk. Bagaimana lagi cara untuk mempersatukan mereka, sedangkan keduanya seolah sudah merelakan satu sama lain. Tidak ada bukti kuat yang menyatakan mereka masih ingin kembali. Sebastian? Jangan ditanya lagi, dia sudah tidak mau membahas apapun setelah mengucapkan hal itu di atap beberapa hari yang lalu. Sedangkan Ciel? Dari pengamatan Alois, Ciel semakin menikmati hari-harinya bersama Lizzie.
Lalu harus bagaimana? Benarkah takdir mereka bukan untuk bersama?
Sore itu, Alois dan member Kuroshitsuji minus Sebastian kembali ngobrol di atap. Membicarakan apa benar sudah tidak ada jalan lain untuk menyatukan Ciel dan Sebastian. Padahal mereka yakin keduanya masih saling cinta.
"Ne~ Alois, bagaimana kalau kau mulai mengamati Ciel dan mencari bukti tentang perasaannya pada Sebastian?" ucap Grell. "Kami akan melakukan hal yang sama pada Sebastian. Jika dari hal ini tidak terbukti, barulah kita menyerah untuk menyatukan mereka."
Alois hanya diam, tapi kemudian ia mengangguk setuju.
Malamnya, Alois pergi ke rumah Ciel tanpa memberitahu dulu. Seperti biasa, sudah menganggap rumah Ciel adalah rumahnya. Otak jahilnya bekerja, ia ingin mengagetkan Ciel dengan masuk melalui jendela. Biasanya kan Ciel melamun di depan jendela, kalau tiba-tiba Alois muncul pasti seru.
Alois pun mengendap-endap naik ke lantai dua dengan tangga besi yang memang menghubungkan lantai satu dan lantai dua. Dia juga sudah meminta izin pada para penjaga supaya ia tidak diteriaki maling karenanya. Begitu sampai lantai dua, Alois segera mengendap ke bawah jendela kamar Ciel yang terbuka lebar, bersiap mengagetkannya namun batal karena ia mendengar Ciel tengah bercakap-cakap dengan Tanaka.
"Sebenarnya ada apa, Bocchan? Akhir-akhir ini Anda terlihat murung," ujar Tanaka penuh kasih sayang.
"Murung bagaimana? Aku malah banyak bersenang-senang dengan Lizzie," jawab Ciel, tapi dengan nada sendu.
"Saya tahu, tapi…meskipun Anda tampak ceria, saya melihat kesedihan yang mendalam di mata Anda. Kalau tidak keberatan, Anda bisa menceritakannya pada saya."
Ciel terdiam sejenak. "Tidak apa-apa Tanaka-san, aku baik-baik saja," ucap Ciel kemudian.
"Bocchan…" panggil Tanaka lembut. "Orang tua Anda tidak akan senang bila-…"
"Persetan dengan mereka!" bentak Ciel, membuat Tanaka dan Alois—yang masih setia menguping—terkejut. Pasalnya, Ciel tidak pernah berbicara kasar tentang orang tua nya, ia sangat menyayangi mereka, tapi sekarang…? Bagaimana bisa ia…
"Kebahagiaan…mereka bilang mereka ingin aku bahagia! Tapi apa! Apa! Mereka malah melakukan semua ini padaku!" lanjut Ciel lagi.
Alois mengintip ke dalam, dilihatnya Tanaka yang terdiam, tapi lalu tersenyum lembut dan kemudian mengelus surai kelabu Ciel.
"Bocchan, Anda pasti waktu itu tidak mendengarkan ucapan saya secara keseluruhan," ucap Tanaka.
Ciel tercengang, lalu menatap Jiiya di hadapannya yang masih senantiasa menyunggingkan senyum menenangkan.
"Saya pernah bilang, nona Elizabeth itu gadis yang baik…orang tua Anda pasti menginginkan yang terbaik untuk Anda. Tapi…" Tanaka menghentikan ucapannya sejenak supaya Ciel mengingat kalau saat itu ucapannya terpotong di bagian ini. Memastikan kali ini Ciel tetap memperhatikan, Tanaka melanjutkan ucapannya.
"…tapi…jika nona Elizabeth bukanlah yang terbaik untuk Anda, orangtua Anda pasti mengizinkan Anda bersama orang lain…karena seperti yang saya bilang, mereka menginginkan yang terbaik untuk Anda, menginginkan kebahagiaan untuk Anda…"
Permata sebiru laut milik Ciel membola, menatap lurus kedua manic butler sekaligus Jiiya-nya itu untuk memastikan tidak ada kebohongan di sana.
"Ta-Tanaka-san…kau…" suara Ciel tersendat.
Tanaka tersenyum hingga kedua manic matanya tersembunyi, "Pergilah Bocchan…temui orang yang Anda cintai dan mencintai Anda. Aku yakin kedua orangtua Anda di surga…juga keluarga Marquess Midford…pasti akan mengerti, jika memang hal itu adalah hal yang Bocchan percayai benar."
"Ta-Tanaka-san…" tanpa sadar, sebuah senyum tulus tersungging di bibir mungil Ciel, matanya yang besar nyaris menitikkan air langit, namun terbendung saat kelopak matanya tertutup dan ia sembunyikan di dada bidang sang butler.
"Arigato…Tanaka-san…Arigato…" ucap Ciel berulang-ulang yang mendapat belaian lembut dari Tanaka. Sementara tanpa diketahuinya, sosok bersurai blonde di bawah jendela sudah menitikkan air mata bahagia. Tapi ia segera tersadar begitu mendengar suara Ciel lagi.
"Baiklah Tanaka-san, aku akan menemuinya sekarang. Aku akan menjelaskan semuanya padanya," ucap Ciel, kali ini dengan suara riang. Untuk kemudian terdengar suara gedebrak gedebruk dan derik kunci mobil, lalu langkah menjauh.
"Hati-hati…Bocchan," ucap Tanaka meski mungkin bocchan-nya sudah tak mendengar pesannya lagi. Alois yang berniat turun dari tempat itu, terpaksa merapatkan diri ke tembok di bawah jendela saat mendengar langkah kaki Tanaka mendekati jendela.
"Hm…tampaknya Bocchan sudah menemukan kebahagiaannya," gumam Tanaka. "Sekarang saya harus menemui keluarga Midford untuk menyatakan kalau pertunangan mereka sudah tidak bisa dilanjutkan," dan dengan itu, Tanaka menutup jendela kamar Ciel.
Alois bergegas turun ke lantai satu begitu terdengar langkah Tanaka menjauh dan juga melihat sebuah mobil sport hitam meninggalkan gerbang mansion Phantomhive.
"Itu pasti Ciel. Ah, aku harus kembali ke dorm Kuroshitsuji. Sebaiknya aku menelfon mereka dulu supaya Sebastian dapat menyambut Ciel," Alois mengeluarkan HPnya dan segera menelfon nomor Claud-…err…sepertinya yang berguna untuk saat seperti ini justru Grell. Dan ia pun beralih menelfon nomor Grell.
Tuuuuutt…tuuuuuttt…
Untuk beberapa saat hanya bunyi nista itu yang terdengar.
"Argh! Grell-san, cepat angkat telfonnya!" kesal Alois sambil memasuki mobil.
Klap! "Hallo…" sapa Grell.
"Grell-san. Ciel sedang dalam perjalan-…" tut tut tut tut! Tiba-tiba telfon terputus. Alois menatap HPnya dan seketika frustasi karena ternyata HPnya low bat. "Aaaargh! Aku nggak bawa charger lagi!" kesal Alois dan segera tancap gas, berharap bisa mendahului Ciel atau setidaknya datang secara bersamaan.
~OoooOoooO~
"Aish, apa-apaan bocah blonde ini," gerutu Grell, menatap ponselnya dimana Alois tiba-tiba memutus telfon.
"Siapa Grell?" tanya Claude yang mendengar kata 'bocah blonde'.
"Alois, tadi dia menelfon. Tapi-…" Grell menghentikan ucapannya ketika ia merasakan hawa dingin menguar dari tubuh Claude. "Ayolah Claude, Alois tidak mungkin selingkuh denganku. Lagian dia bukan tipe ku," ucap Grell yang mengerti arti sikap bodoh Claude barusan.
Claude hanya membuang muka menanggapi itu.
"Grell!" tiba-tiba sebuah bentakan terdengar dari lantai dua. Suara Sebastian. Grell mendongak dan mendapati Sebastian—dengan tampang murka—menenteng (?) dua makhluk yang diketahui bernama William dan Undertaker. "Apa-maksud-semua-ini!" tanya Sebastian dengan penuh penekanan.
"Memangnya apa Sebas-chan?" ucap Grell pura-pura tak tahu.
"Mereka ada di kamarku dan menempel poster, selebaran, dan segala pernak-pernik tentang bocah biru itu. Apa-…"
"Kan mereka yang melakukannya, kenapa aku yang disalahkan?" ucap Grell.
"Hei! Kami kan disuruh olehmu!" kesal William.
"Yeah, ini rencanamu yang katanya ingin memastikan bagaimana perasaan Sebastian yang sebenarnya," sambung Undertaker.
"Huuuh, kalian payah. Seharusnya jangan sampai ketahu-…"
"Bereskan kamarku sekarang juga!" potong Sebastian tegas.
"Tapi Sebas-chan…kami hanya ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya pada-…"
"Jangan ikut campur urusanku! Bereskan kamarku sekarang juga!"
"Tidak mau!" rajuk Grell.
Sebastian tampak benar-benar murka, tapi…alih-alih terjun dan meninju Grell, ia malah berbalik ke kamarnya. Melihat itu, Grell pun segera mengejar.
"Sebas-chan, kau…"
"Sudah kubilang berapa kali. Jangan ikut campur masalahku!" omel Sebastian sembari memberesi dengan ganas (?) segala macam benda berbau Ciel yang ditempel Grell—dengan bantuan William dan Undertaker—di kamarnya.
"Aku hanya sebal melihatmu begini terus! Kau ini tetap tidak mau jujur dengan perasaanmu!"
"Tahu apa kau tentang perasaanku!" Sebastian membopong keluar barang-barang yang baru dihabisinya itu, Grell tetap mengejar di belakangnya.
"Aku memang tidak tahu. Tapi aku yakin kau sebenarnya masih mencintai Ciel kan?!"
Tak ada jawaban. Sebastian hanya terus melangkah sambil menghentak-hentakkan kakinya. Lalu begitu keluar dorm, ia membuang barang-barang itu ke tempat sampah dan menyalakan korek.
"Sebastian!" seru Grell sembari mencekal lengan Sebastian. Si raven berbalik, menatap tajam pada shinigami merah di hadapannya.
"Dengar Grell, aku sudah tidak akan kembali lagi pada kehidupan Ciel. Kau mengerti?!"
Grell terdiam, menatap iris crimson sahabatnya yang kemudian berpaling untuk membakar tumpukan sampah di hadapannya.
"Itu berarti…kau hanya takut menyakiti Ciel kan, Sebastian?" tanya Grell, kali ini dengan suara pelan.
Sebastian tak menjawab. Ia menatap nyala api yang perlahan meredup.
"Kau masih mencintainya kan, Sebastian?" lanjut Grell. "Kau ingin kembali padanya, hanya saja kau takut dia akan terluka lagi karenamu. Kau-…"
"Grell…" potong Sebastian tanpa menatap Grell, kali ini dengan suara rendah. "Aku tidak mencintainya…" terdiam sejenak. "Aku sangat sangat mencintainya…" dan iris crimson itu terpejam bersamaan dengan sebulir air mata yang menuruni pipinya.
Pim…pim…!
Suara klakson mobil membuyarkan keheningan yang menyelimuti mereka beberapa saat lalu. Sebuah mobil porsche biru berhenti di dekat mereka dan menampakan sosok bocah bersurai blonde begitu kaca mobil dibuka.
"Apa Ciel sudah sampai disini? Apa dia sudah bicara dengan kalian?" tanya si blonde yang tak lain adalah Alois.
"Ciel? Dia tidak kemari," jawab Grell.
"Apa? Tidak mungkin! Dia tadi mau kemari. Dia mendahuluiku. Dia mau bilang soal perasaannya pada Sebastian, Tanaka bilang dia bisa memutuskan pertunangannya dengan Lizzie," cerocos Alois yang sontak membuat Grell dan Sebastian terbelalak.
"Ta-tapi Ciel belum kemari," ujar Grell. "Kecuali…"
"Kecuali?" tanya Alois.
Grell menatap Sebastian. "Kecuali dia langsung pergi lagi begitu mendengar ucapanmu tadi…"
Sebastian terbelalak untuk kedua kalinya.
"Ya, kurasa memang tadi kulihat ada mobil sport hitam yang mendekat, tapi pergi lagi," tambah Grell. "Kukira itu mobil Ron, jadi aku tidak mempedulikannya."
"Mobil sport hitam? Ya, itu pasti mobil Ciel. Tadi aku melihat-…ah, sudahlah ayo cepat kita kejar. Tadi dia pergi ke arah mana, Grell-san?"
Untuk kemudian mobil Porsche biru milik Alois melaju dengan kecepatan tinggi menapaki jejak ban mobil sport hitam milik Ciel.
~OoooOoooO~
Ia terisak. Mata biru-nya yang biasa bersinar kini tertutup kabut air mata.
"Sebastian!"
Teriakan sang shinigami merah kembali terngiang di telinganya.
"Dengar Grell, aku sudah tidak akan kembali lagi pada kehidupan Ciel. Kau mengerti?!"
Nyuuuut…!
Dan rasa sakit di dadanya kembali mengiris. Ia tak mampu lagi mendengar kata-kata lain setelah itu. Tubuhnya bergerak sendiri untuk memutar kemudi dan menginjak pedal gas. Ia tak ingin mendengar lebih lanjut lagi. Terlalu menyakitkan.
Ia menggigit bibirnya erat, mencoba menahan sakit. Air mata masih terus menuruni pipinya. Sudah berapa lama ia tak menangis seperti ini? Sudah berapa kali orang itu membuatnya menangis? Sedangkan sahabat yang sudah dikenalnya seumur hidup saja, belum pernah membuatnya menangis.
Pim…pim…
Suara klakson mobil kembali menyadarkannya yang nyaris menabrak mobil lain. Kemudinya tak focus dan mobilnya nyaris zig zag di jalan raya. Tapi ia tak mengurangi kecepatan. Ia harus pergi, ke tempat yang jauh, agar rasa sakitnya hilang, atau sekedar menenangkan goncangan jiwanya.
Tak terasa, mobil yang ia bawa sudah berhenti di kaki bukit karang. Dengan langkah terbata dan sesekali terjatuh karena bebatuan yang tajam dan juga karena pikirannya yang tak focus, ia terus mendaki ke atas bukit karang itu. Berharap angin malam dan suara deburan ombak bisa sedikit menenangkannya.
Tapi salah. Di sana, di atas bukit. Memory yang dulu justru terputar kembali dengan sangat jelas. Memory dimana saat sang pangeran beriris crimson berlutut di hadapannya dan mengatakan cinta, kali pertama saat pemuda itu mengucapkan cinta dengan lidahnya. Menyakitkan bila dihubungkan dengan kejadian yang saat ini terjadi.
Tanpa sadar, langkah kaki kecilnya membawanya ke tepi tebing, menatap ombak yang tengah mengamuk di bawah sana. Suara deburannya sama sekali tak mampu menenangkan hatinya yang tengah remuk.
Ah…mungkin ia kurang dekat. Ya, mungkin kalau ia lebih dekat dengan suara deburan itu, ia akan dapat merasakan betapa merdunya suara sang ombak, atau merasakan sejuknya air yang mungkin akan mendinginkan kepalanya.
Kaki kecil itu terus melangkah, berniat mengejar sang ombak di bawah sana. Tak ada maksud lain, ia hanya ingin bermain bersama ombak yang tampak menyanyi untuknya itu. Ya…tak ada maksud lain. Tak salah kan jika ia terus melangkahkan kakinya? Meski…wah, lihat, batu yang ia pijak menjatuhkan kerikilnya ke bawah sana, tanda seberapa rapuh tempat yang ia pijaki, tanda seberapa jauh ia menepi dari kokohnya karang.
Ia terus melangkah…
"Ciell…!"
Dan panggilan itu tak ia dengarkan, tak ia hiraukan. Panggilan ombak lebih menarik hatinya.
"Ciell! Berhenti! Ciel…!"
Ombak di bawah sana kembali bernyanyi, dan ia terjerat dalam nyanyiannya. Ia tinggalkan pijakannya pada batu karang yang kokoh, demi menapaki awang-awang untuk mendatangi ombak yang bernyanyi itu.
Dan ingatan terakhir yang ia punya adalah saat tubuhnya merasakan dekapan erat, dan ia melihat sepasang iris crimson menatapnya, lalu tubuhnya dan tubuh seseorang yang mendekapmu itu…membaur bersama nyanyian sang ombak.
~OoooOoooO~
Pagi yang cerah telah menyambut, seorang bocah bersurai blonde tampak berdiri di depan cermin. Ia memakai pakaian serba hitam, matanya pun sayu seperti orang yang tak tidur beberapa hari. Ia melirik karangan bunga di dekatnya. Ya, karangan bunga yang akan ia berikan kepada kedua sahabatnya. Kedua sahabatnya yang telah…
Karangan bunga itu agak berantakan memang, berhubung ia merangkainya sendiri dan dia sama sekali tak ada skill soal merangkai bunga.
Ia mengambil karangan bunga itu, lalu memakai sepatunya yang juga berwarna hitam, ia keluar dari kamar begitu ia menyambar kunci mobil. Tak berapa lama, ia melesat dengan jaguar hitamnya menuju ke tempat yang ia tuju. Cukup jauh memang, tapi ia tak keberatan.
Ia menatap spion, agak terkejut dengan penampilannya yang berantakan. Ia lupa tak menyisir rambutnya, dan kantung matanya itu membuatnya benar-benar terlihat parah. Tapi ia tak peduli.
Tiba-tiba ponselnya berdering, dan ia menekan tombol answer dengan tidak begitu minat.
"Ada apa Claude?" tanyanya begitu mengangkat telefon.
"Cepatlah Alois, acaranya akan segera dimulai," sahut suara di ujung telfon.
"Ya, aku sedang di perjalanan," jawabnya lalu mematikan telfon. Ia terlalu malas berbicara dengan siapapun, termasuk dengan kekasihnya itu. Tapi meski begitu, ia menambah kecepatan mobilnya supaya cepat sampai, dan tidak perlu disuruh cepat-cepat lagi tentunya.
"Jadi…Alois…" ucap pemuda beriris golden spider itu ketika si bocah blonde sudah memasuki ruangan dan diam mematung dengan tampang kusut beserta karangan bunga berantakan di tangannya. "…kenapa kau berpakaian serba hitam begitu?" lanjut si pemuda beriris golden spider—Claude Faustus, kekasihnya—.
"Hah? Aku tidak ingat aku memakai baju apa. Aku terlalu ngantuk," jawab si blonde yang ditanya—Alois Trancy —lalu mendekat ke sebuah ranjang dimana seorang bocah bersurai kelabu berbaring—setengah duduk—disana. "Ini untukmu," Alois menyodorkan karangan bunga nya.
"Kau tau Alois, bukannya keberatan, tapi…" jawab si surai kelabu. "…KAU SEPERTI MAU MENGHADIRI UPACARA PEMAKAMANKU DENGAN SEBASTIAN TAUK!" omel si bocah kelabu yang tak lain adalah Ciel Phantomhive.
"Hah? Masa sih?" lagi-lagi Alois menjawab lesu. "Kau tahu, aku hampir tidak tidur selama sebulan menunggu kalian sadar, tapi begitu aku mau tidur, Claude menelfon katanya kalian sudah sadar dan menyuruhku segera ke rumah sakit untuk merayakannya."
Si iris crimson—Sebastian Michaelis—yang terbaring di ranjang sebelah malah tertawa menanggapinya.
"Itu ide dia!" bela Claude kesal sambil menunjuk shinigami merah—Grell Sucliffe—yang tengah asyik ribut di pojokan bersama dua cecunguknya—William T. Spears dan Undertaker—untuk menyiapkan pesta perayaan sadarnya Ciel dan Sebastian setelah sebulan koma. Yeee…(?)
"Heeeh, lagian memangnya kalian sudah boleh ini dan itu ya?" tanya Alois sambil duduk di kursi samping ranjang Ciel dan meletakkan kepalanya di ranjang.
"Sebenarnya belum sih. Dokter menyuruh kami banyak istirahat, dan para penjenguk saja hanya dibolehkan paling lama 15 menit," jawab Ciel. "Tapi Grell-san keras kepala," lanjutnya.
"Tapi yah…syukurlah kau sudah sadar, Ciel…" lirih Alois degan seulas senyum tulus di bibirnya.
Melihat itu, Ciel balas tersenyum.
"Terimakasih, Alois…"
Alois memejamkan matanya, "Kau tahu, jantungku hampir berhenti saat melihatmu loncat dari tebing. Syukurlah, tim penyelamat yang sedang patroli berhasil menyelamatkanmu dan Sebastian—yang melompat untuk menangkapmu—meskipun kondisi kalian sudah sangat buruk karena menghantam karang."
Ciel lagi-lagi hanya terdiam.
"Yuhuuuu akhirnya selesai juga~" girang Grell sambil menunjukkan persiapan pesta-nya.
"Maaf, jam besuk sudah selesai," ucap seorang suster yang tiba-tiba masuk dan sontak ngebuat Grell cengo.
"Baiklah, bye Sebastian, Ciel…" ujar Claude sambil menggiring Grell—yang terus saja berontak dan menjerit-jerit karena pestanya gagal—bersama William dan Undertaker, sementara Alois yang tertidur dibiarkan saja disana.
Untuk beberapa saat, ruangan itu hening. Sampai Ciel membuka suara.
"Aku minta maaf…" ujarnya.
"Soal apa?" tanya Sebastian.
"Aku…aku tidak berniat melompat. Hanya saja entah kenapa…"
"Sudahlah, yang penting kita selamat. Iya kan?" senyumnya.
Ciel balas tersenyum. Ia nyaris berucap lagi saat pintu ruangan kembali terbuka, dan seseorang dengan langkah ragu memasuki ruangan itu sambil membawa parcel buah.
"Li-Lizzie…" lirih Ciel begitu melihat gadis pirang itu masuk.
"Hai Ciel…" sapa Lizzie lirih dengan senyum dipaksakan. Ia menghampiri Ciel. "Syukurlah kau sudah sembuh…" ucapnya.
"…" terdiam sesaat, "Lizzie, aku…"
Lizzie menggeleng sehingga Ciel tak jadi melanjutkan ucapannya.
"Tanaka-san sudah menceritakan semuanya. Tidak apa-apa kok…" Lizzie memberikan senyuman terbaiknya. "Dan aku…" Lizzie beralih menatap Sebastian. "…suatu saat aku akan menemukan pangeranku sendiri, pangeran yang kucintai dan mencintaiku. Lalu menjalin kisah cinta yang indah seperti kalian…"
"Lizzie…"
"Ah, sudahlah, aku malah meracau. Hihihi…ya sudah, Ciel. Jam besuk sudah habis, tadi saja aku memaksa masuk. Sampai jumpa ya…aku akan datang lagi," ucap Lizzie dan segera berbalik, meninggalkan ruangan, dan Ciel tahu kalau Lizzie menangis…
Ciel kembali terdiam selepas kepergian Lizzie, hingga ia merasakan belaian lembut di pipinya. Ciel menoleh, dan mendapati Sebastian sudah berdiri di tepi ranjangnya—dengan menyeret slang infus—tengah tersenyum lembut padanya.
"Mulai sekarang…aku takkan pernah meninggalkanmu lagi…tak akan pernah. Sampai kapanpun…" ucap Sebastian dengan mata penuh kesungguhan. Ia memegang dagu Ciel dengan lembut, menatapnya lurus sebagaimana Ciel menatapnya.
"Iya…aku juga janji…" jawab Ciel.
'Aku mencintaimu…' kata itu terucap seiring gerak bibir mereka yang bertautan, menautkan perasaan cinta mereka, menautkan janji mereka…lalu…
"Hei, tidak bisakah kalian menungguku pergi dulu," ucap Alois yang tiba-tiba bangun sambil mengucek matanya.
"A-Alois…" gelagap Ciel dan Sebastian dengan wajah memerah karena tertangkap basah sedang berciuman..
"Ne~ ne~ kalian sudah ingin sekali aku pergi ya…" ucap Alois dengan suara orang yang baru bangun tidur sambil berjalan keluar ruangan dengan tetap mengucek mata kantuknya.
Sementara Ciel dan Sebastian hanya bisa tertawa malu sekaligus bahagia karenanya…
.
.
.
~ The End ~
.
.
.
Akh, akhirnya tamat juga. Maaf kalau panjaaaaaannnggg banget T.T
Hope you enjoy this fic.
Mind to review?
