Perhatian! bahasa sesuka hati. Alur ribet. thanks untuk pengertiannya.
Warn of typo(s) dan ini genderswitch. DLDR* No Bash! No Bash (mohon dibaca) DLDR!
Happy reading, guys!
.
.
.
"AAAAGGHHH….."
BRAK. BRAK. BRAK.
"Dasar Bajingan!"
Baekhyun melempar benda-benda yang ada di sekitarnya dengan brutal dan tak terkendali. Hatinya sarat oleh kemarahan dan kesedihan. Air mata membasahi wajahnya akibat luapan emosi dalam dirinya yang sangat kalap. Baekhyun—wanita itu duduk di sudut apartemennya. Begitu terpuruk dan merasa sangat dikhianati. Dewi batinnya mengamuk dan menghancurkan kesadarannya—melemahkan pertahanan jiwanya hingga ia jatuh terperosok ke dalam jurang gelap, pengap, sempit, dan tak terjamah di dalam jiwanya sendiri.
"Tidak. Tidak. Tidak." Kembali Baekhyun bergeleng untuk menghilangkan segala kemungkinan yang terjadi. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya gemetar. Ia tak tahu harus berbuat apa. Semuanya terjadi tanpa sepengetahuannya. Chanyeol bahkan tak memperlihatkan sikap yang berbeda selama ini. Laki-laki itu juga tidak jarang membuat Baekhyun harus merasa bersalah atas perbuatannya dengan Sehun. Selama ini Chanyeol selalu bertingkah seolah-olah dirinya adalah korban dan Baekhyun adalah tersangka. Pembohong munafik! Geram Baekhyun dalam lubuk hati terdalamnya.
.
.
.
Flashback
Bip-bip.
Ponsel Baekhyun bergetar sebentar sebelum akhirnya kembali diam. Ia mengambil ponselnya. Membuka lock screen layar ponselnya dengan menggeser foto dirinya dan Chanyeol saat mereka sedang berbulan madu. Ada satu pesan suara dari teman kuliahnya dulu, Minseok. Baekhyun segera membuka pesan suara itu dan menempelkan ponselnya cepat-cepat di telinga.
Pesan suara itu berbunyi, "Halo, Baekhyun. Aku sekarang bekerja di perusahaan suamimu. Maafkan aku karena baru bisa menghubungi dirimu sekarang. Aku sangat sibuk karena beberapa hal." Jeda beberapa detik kemudian kembali Minseok mengatakan, "Sebenarnya aku ingin menyampaikan, aku turut bersedih atas hubungan pernikahanmu. Aku tidak percaya kalau pada akhirnya kalian berpisah." Baekhyun terkejut dan menautkan alisnya. "Padahal kau dan Chanyeol itu sangat cocok dan aku kira perpisahan tidak ada dalam buku cinta kalian. tetapi siapa yang tahu, aku percaya ini mungkin yang terbaik bagi dirimu dan Chanyeol. Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk kita, bukan? Yah, tapi satu hal yang harus kau tahu, Chanyeol sangat bersedih dan dia sangat depresi. Tetapi untungnya ada Xi Luhan, apa kau mengenalnya? Dia istrinya Sehun, iya, Xi Luhan dan Sehun juga sedang dalam masalah rumah tangga. Dan yang aku tahu, sejak kepergianmu yang entah kemana ini, Chanyeol dan Luhan dikabarkan menjadi dekat. Mereka juga seperti memiliki hubungan khusus. Keakraban mereka menurutku bukan hanya sebagai anak buah dan atasan saja. mereka lebih dari itu."
Baekhyun sesak. Dadanya naik turun mendengarnya. Bahkan air matanya telah membasahi pipinya. Kepalanya mendadak pening dan kakinya menjadi gemetar. Baekhyun merasa seperti telah terjadi gempa. Dia terduduk lemas dalam balutan ketidak percayaan dan keterkejutan yang luar biasa. Saat dikiranya pesan suara itu sudah puas mengoyak jiwanya, suara Minseok kembali terdengar mengatakan, "Maafkan aku kalau aku terdengar lancang padamu. tapi kau harus kembali, Baekhyun. Kau tidak bisa kabur begitu saja seperti ini. Kau meninggalkan Chanyeol dan lari dari tanggung jawabmu sebagai seorang istri. Luhan itu sudah bersuami. Apa kau tidak kasihan melihat Sehun? Dulu kau meninggalkannya karena Chanyeol, sekarang? Kau ingin Luhan meninggalkannya juga? Kau dimana selama ini, Baekhyun? Pulanglah."
Aku dan Chanyeol berpisah? Chanyeol depresi? Hubungan Khusus? Aku kabur dan lari dari tanggung jawab? Baekhyun menatap depan dengan pandangan kosong dan tangan memegang ponsel dengan gemetar. Jantungnya berdebar tak karuan dan benar-benar tak mengerti mendengar ucapan Minseok. Apa yang terjadi dan kenapa Minseok berkata demikian, membuat kepalanya hampir pecah.
Flashback off
.
.
.
Luhan menerobos masuk meskipun beberapa satpam telah mengatakan jika Chanyeol tidak datang ke kantor. Dia tak percaya. Sekali lagi, kepercayaannya hancur lebur karena seorang laki-laki. Pertama Sehun, lalu Chanyeol. Luhan sempat berfikir dalam perjalanan ke kantor, apakah memang dirinya yang bodoh atau memang semua laki-laki itu adalah seorang penipu brengsek. Dia tidak habis fikir dengan semua kejadian yang menimpa rumah tangganya dengan rumah tangga Chanyeol. Bagaimana bisa Baekhyun mendekati Sehun dan Chanyeol mendekati dirinya. Semua pertanyaan tentang Baekhyun dan Chanyeol terngiang di telinganya dan membuatnya pusing tak karuan. Dia seharusnya tahu kalau meninggalkan Sehun adalah pilihan salah tapi saat itu dia sangat kalap dan saat ini pun juga sama.
Dengan melangkahkan kaki selebar-lebarnya, Luhan berlari menaiki tangga dan kemudian dengan tergesa-gesa dan kasar membuka ruangan Chanyeol yang ternyata hanya ruangan kosong tak berpenghuni.
Luhan menutup kembali pintunya dengan keras dan menimbulkan bunyi berdebam yang cukup nyaring. Dia memegangi gagang pintu dengan tangan gemetar. Menatap ke sekeliling dengan liar sebelum pada akhirnya tumpuannya pada kaki melemah lalu dia merosot dan terduduk dengan kepala tertunduk. Air matanya masih berlinangan meskipun dirinya sudah lebih tenang. Di koridor sepi itu, Luhan hanya bisa merenungi semuanya. Menatap ke masa lalunya dimana ketika rumah tangganya dan Sehun masih bahagia. Ia menyesal.
Ketika dirasa sudah cukup untuk merenung, Luhan segera menghapus air matanya dan hendak pergi mencari dimana Chanyeol ataupun Jongdae. baru saja akan berdiri, ponsel yang dibawanya berdering. Luhan tak melihat siapa penelponnya dan hanya langsung menyapa. Belum selesai dia menyapa penelponnya, jantungnya kembali dibuat terkejut. Dia membulatkan matanya dan tubuhnya tersentak ke belakang saat mendengar suara wanita yang tidak asing di dengarnya—Baekhyun.
Luhan terdiam dan kembali bersandar di dinding. Ia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menggenggamnya erat di kedua tangan di depan dadanya. Kemudian Luhan menempelkan kembali ponselnya tetapi Baekhyun berteriak histeris kepadanya—maksudnya pada Chanyeol. Karena terlalu kalap oleh emosinya sendiri kepada Chanyeol, Luhan tidak mau ambil pusing dan hanya kembali berteriak, "Heh, diam kau wanita jalang!" sentaknya penuh dengan kemarahan lalu segera mengakhiri panggilannya.
Wanita itu kembali menangis sambil memeluk lututnya sendiri. Kemudian terpikir olehnya untuk menghubungi Sehun.
.
.
.
Ruangan persegi yang tidak terlalu luas itu kini terasa dingin tanpa penghangat ruangan. Seorang laki-laki duduk di tengah-tengahnya dengan kedua tangan di borgol. Keadaannya kacau seperti badai baru saja menimpa dirinya. Seorang penyidik duduk berhadapan dengan laki-laki itu dengan hanya dibatasi oleh meja tanpa taplak. Beberapa pertanyaan diajukan tetapi tidak satupun dijawab oleh lelaki tersebut. Dia hanya diam dan menunduk, menatap sepasang sepatu kulit yang tidak bersih miliknya.
"Baiklah," kata si penyidik dengan wajah lelah. "Apa kau benar-benar tidak ingin menjawab apapun?"
Laki-laki itu masih diam tak bergeming sedikit pun.
"Tuan Oh?!" Bentak si penyidik dengan frustasi. "Kau harus tahu kalau tugasku bukan hanya mengurusi kasusmu saja. Aku masih banyak tugas lainnya. Ayolah, mari kita selesaikan semua ini. Kau mengelak pada awalnya dan kenapa kau tidak mau menjelaskannya sekarang? Kalau kau memang telah menggelapkan uang perusahaan, aku yakin ada yang terlibat selain hanya dirimu. Katakan siapa? Dan jika kau tidak terima dengan tuduhan ini, kau harus jelaskan alasanmu. Kalau memang kau dijebak, siapa yang kau curigai? Meskipun pada kenyataannya semua bukti-bukti pembayaran dan kepemilikan aset-aset ini tidak dalam waktu dekat, tetapi apa kau tidak memiliki pembelaan atas dirimu? Ayolah, kumohon kerja samanya."
"Kau ingin aku mengatakan apa? Bukannya akan lebih mudah kalau aku mengakui saja semua kebohongan ini?" lelaki itu mendongak sambil menatap tajam ke si penyidik. "Apapun yang kukatakan, kalian tidak akan percaya. Kalian telah dibayar dan hentikan semua formalitas konyol ini. Aku hanya akan menghabiskan tenagaku sia-sia untuk menjelaskan kebenarannya. Karena pada dasarnya kalian tidak peduli dan hanya mementingkan uang darinya."
Penyidik itu menyipitkan matanya dan meneliti Sehun dengan seksama. "Siapa yang kau maksud ini?"
Sehun mendengus dan tersenyum sekilas kemudian pintu ruangan tersebut terbuka dan seseorang melambaikan tangan pada si penyidik untuk mengisyaratkannya keluar. lantas si penyidik itu berbungkuk hormat pada Sehun sebelum kemudian pergi. Setelah kepergian si penyidik tersebut, Sehun kembali menyandarkan punggung tegangnya di sandaran kursi kayu yang di dudukinya. Dia menengadahkan kepala dan memejamkan mata untuk sekejap. Dia tidak tahu harus senang atau sedih. kalaupun dia harus masuk penjara, itu artinya dia tidak perlu bingung mengurusi masalah dunianya tetapi bagaimana dengan Baekhyun ataupun Luhan setelah dirinya masuk penjara. Dirinya yakin kalau Chanyeol akan meninggalkan salah satu diantaranya dan kemudian mencampakkannya. Tujuan Chanyeol melakukan ini hanya karena kebencian dan ambisi gilanya. Entah Baekhyun ataupun Luhan, Sehun tak yakin Chanyeol memiliki perasaan yang sebenarnya pada salah satu dari dua wanita itu.
Pintu terbuka dan derap langkah serta bunyi alas sepatu yang beradu dengan lantai tidak membuat Sehun membuka matanya atau hanya mengubah posisi duduknya. Sehun tetap menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya dengan kepala menengadah. Sekarang semuanya tidak penting bagi dirinya. Sekalipun itu adalah malaikat maut yang akan mencabut nyawanya.
"Kau pasti sangat lelah."
Sehun sedikit terkejut mendengar suara yang tak asing di telinganya. Ia membuka matanya seketika dan terduduk dengan punggung tegak. Giginya bergemelatuk dan dadanya seakan-akan ombak yang mengamuk, naik-turun dengan nafas memburu.
"Aku membawakanmu makan siang tetapi karena sesi penyidikkannya tadi sedikit memakan waktu jadi kurasa makanannya sudah dingin. Tidak masalah 'kan?" Chanyeol menyunggingkan senyum dan membuka kotak makanan kemudian menyodorkannya pada Sehun. "Kau harus tahu kalau aku juga tidak mau kau mati di sini. Itu sebabnya aku membawakan makanan ini."
Sehun membuang muka dan kembali menyandarkan punggungnya.
"Kau tidak mau memakannya?" tanya Chanyeol dengan wajah polos lalu tersenyum. "Ya sudah. Sebenarnya tujuanku kemari hanya ingin minta maaf atas semua yang terjadi. Aku tidak merencanakannya." Sehun mendongak dan menatap Chanyeol. "Tidak. Tidak. Bukan seperti itu maksudku." Chanyeol menggeleng sambil tersenyum lebar. "Maksudku ide ini muncul begitu saja dan hanya sebuah kebetulan aku—tidak maksudku rekanku, ya, dia bisa meretas rekeningmu dan sedikit cek dengan nominal yang tidak terlalu banyak, dia bisa memanipulasi tanggal pembelian apartemen-apartemen dan mobil-mobil itu dan juga beberapa lainnya."
Sehun mengeraskan rahangnya dan mengepalkan tangan. Dia bisa kapan saja melayangkan pukulan di wajah Chanyeol atau dimulutnya yang sangat bajingan itu. tetapi Sehun mencoba meredam emosinya dan hanya memalingkan wajahnya dari Chanyeol.
"Oh, ya, aku dengar kau tidak mau mengatakan apa-apa kepada penyidik tadi? Kenapa? Apa kau berfikir aku menyuap mereka?" Chanyeol menaikkan satu alisnya dan menatap Sehun dengan pandangan mencemooh.
"Ah, ayolah, Oh Sehun. sampai kapan kau bungkam seperti ini? katakan sesuatu. Apa kau tidak berniat memukulku?" Chanyeol mencondongkan wajahnya dan menepuk pipinya di depan Sehun. "Loser."
"Sekarang kau puas?" Tiba-tiba Sehun bersuara dan membuat Chanyeol sedikit terkejut.
Lelaki tinggi itu diam untuk berfikir dan kemudian tersenyum remeh. "Puas? Tidak. Sejujurnya aku menyesal. Aku menyesal kenapa aku menjadi seperti ini. Setiap malam aku tak bisa tidur dengan nyenyak. Fikiranku melayang ke mana-mana. Mimpi buruk itu tidak pernah absen untuk menakutiku. Aku tidak tahu semua ini salah siapa. Aku membunuh kakekku karena rasa iri. Tetapi kau menyembunyikan fakta itu. Entahlah. Awalnya kukira kau jujur dan baik hati sebagaimana kakekku menganggapmu. Tapi pada kenyataannya kau tidak. Kau melindungiku dari hukuman yang seharusnya kuterima. Kau menyembunyikan diriku di balik kata-kata lugu serta wajah polosmu."
Sehun mengerutkan dahinya dan menatap tajam ke Chanyeol.
"Apa kau selama ini tak berfikir jika semua itu salah dan tak benar? Tapi akhirnya aku sadar kalau Oh Sehun yang kukenal tidak sebaik kelihatannya. Dia melakukan hal yang tidak benar dengan kedok kasihan ataupun tak tega. Dia membuat kakekku menyukainya lalu menghasut kakekku dan karena dia tahu sifatku yang mudah iri dan serakah, dia memanfaatkannya. Aku lengah dan aku masuk ke dalam perangkapnya. Aku melakukan sebuah kejahatan karena dirinya dan dia melindungiku dari hukumanku. Dia menenangkanku saat aku ketakutan tetapi dia tertawa dalam hatinya. Dia senang. Oh Sehun sudah merancangnya sedemikian rupa dan sesempurna mungkin. Dia membuatku tertekan setiap saat dan gila setiap malam menjelang. Dia adalah penyebab dari mimpi burukku." Chanyeol mencondongkan wajahnya dan berbisik, "Hanya perlu kau jujur. Jika saja kau jujur sejak awal pada mereka, semua ini takkan terjadi. kemudian, mungkin kau juga akan bahagia bersama dengan Baekhyun saat ini. duduk berdua bersama sambil menikmati teh hangat dan melihat anak-anak kalian bermain."
Sehun mengepalkan tangannya dan Chanyeol kembali menegakkan tubuhnya. "Kau tahu aku bodoh dan gegabah. Kau tahu itu, Oh Sehun! tapi kenapa?! Kenapa kau tidak jujur pada polisi saat itu?! kenapa kau tega memberikanku mimpi buruk itu setiap malam?! Apa yang kulakukan padamu dulu hingga kau tidak menjebloskanku saja ke penjara?! Kenapa?! Kau tahu, bukan, kalau dikejar-kejar oleh dosa dan dihantui rasa bersalah itu lebih menyakitkan daripada hanya masuk ke dalam tahanan?! Kau tahu semua itu kan, Oh Se—"
"Tidak, Chanyeol! Kau salah menilaiku!" bentak Sehun dan Chanyeol semakin tajam menatap Sehun. "Apa yang kau katakan tadi tidaklah lebih dari hanya pelampiasan rasa kesalmu padaku saja. Kau memintaku jujur saat itu?! yang benar saja! tapi bagaimana ke depannya? Apa kau akan berterima kasih padaku setelah bebas dari penjara? Tidak! Aku bahkan tidak tahu hal gila seperti apa yang dapat kau lakukan. Kau mengatakan ini semua karena memang kau sudah merasakannya sendiri. Kau menyesali perbuatanmu, itulah kebenarannya."
"Diam, Sehun!" geram Chanyeol ketika telinganya tak setuju dengan ucapan Sehun.
"Chanyeol, kau bisa memulainya lagi dari awal. Sangat bagus kalau kau telah sadar akan kesalahanmu. Dan sekarang belum terlambat, kau bisa menyerahkan dirimu pada polisi."
"Hah?!" Chanyeol terkejut kemudian terkekeh. "Kau salah faham, Sehun. semuanya sudah terlambat. Aku bukan Chanyeol yang selalu mendengarkan perkataanmu lagi. Aku tidak akan mengakuinya," katanya. Kemudian kembali menambahi setelah jeda beberapa detik, "Atau kalaupun harus aku mendapat hukuman, biarkan Tuhan sendiri yang menghukumku. Aku akan mati dan kalaupun itu terjadi, kau boleh mendapatkan Baekhyun kembali."
Chanyeol meninggalkan ruangan dengan kedua tangan di dalam saku celana depan. Menarik gagang pintu dan kemudian bebalik mengatakan, "Apa kau tahu, sekarang aku sedang berfikir bagaimana caranya untuk meninggalkan salah satu dari mereka." Sehun sontak menatap Chanyeol dengan tatapan bengis dan Chanyeol hanya tersenyum. "Kalau boleh minta saran, menurutmu siapa yang lebih menarik? Baekhyun ataukah Luhan?"
.
.
Baekhyun memesan penerbangan pertama dari Inggris dan sudah berada di bandara Korea. Dia bahkan tak peduli dengan apartemen yang belum terkunci ataupun barang-barang mahal miliknya. Yang ada di fikirannya hanya segera menemui Chanyeol dan menuntut penjelasan dari lelaki itu atau dia bisa menemui Luhan dan menyuruh wanita itu pergi atau dia juga bisa langsung menemui Sehun kemudian meminta Sehun untuk mengurusi Luhan agar tak mengganggu suaminya lagi.
Baekhyun keluar dan berjalan menuju sebuah taksi yang terparkir tak jauh dari posisinya. Sambil melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa, ia menelfon Chanyeol tetapi tidak mendapatkan hasil. Kemudian ia mencoba menghubungi nomor lainnya. Tidak terlalu lama menunggu nada sambung, akhirnya panggilannya diangkat dan segara setelah itu Baekhyun menyalak dengan sedikit berteriak, "Chanyeol kau dimana? Kau sedang apa sekarang? Dengan siapa dirimu saat ini?" tidak ada jawaban dan Baekhyun semakin kalut. "Chanyeol?! dasar penipu! Pembohong! Kau pasti sedang bersama dengan wanita itu?! iya 'kan?! Kau kurang ajar, Chanyeol! Brengsek!"
Tiba-tiba saja terdengar sahutan dari arah sana. Baekhyun sangat terkejut bahkan dirinya langsung menjatuhkan ponselnya dan berteriak semakin histeris sambil menginjak ponsel malang tersebut. Beberapa orang memerhatikan Baekhyun yang seperti kesurupan dengan rambut dan pakaian compang-camping.
Setelah puas dengan kemarahannya, wanita itu mempercepat langkahnya dan langsung menuju tempat taksi. Jantungnya berdetak-detak cepat dan nafasnya ngos-ngosan. Dia yakin kalau itu tadi adalah Luhan. Baekhyun membuka pintu taksi dan segera melompat duduk lalu berfikir kemana dirinya akan pergi. Kantor Chanyeol? Tidak. Chanyeol tidak mungkin berada di kantor. Sehun!
Baekhyun menuju kantor Sehun dan tak begitu lama akhirnya wanita itu sampai. Ia berlari menuju kantornya dulu dan dilihatnya Jongin baru saja keluar dari tempat parkir mobil. Baekhyun menghampirinya dan menanyakan keberadaan Sehun atau mungkin lainnya.
"Apa semua itu benar?" gumam Baekhyun untuk dirinya sendiri setelah duduk di teras kantor bersama Jongin yang telah menceritakan apa yang sudah terjadi selama ini. "Jadi, siapa menurutmu yang bersalah?"
Jongin diam menatap Baekhyun yang duduk dengan tangan gemetar. Sendirinya juga tidak tahu siapa yang salah di sini. Entah Chanyeol, Sehun, ataukah Luhan. Jongin tak tahu.
"Lalu di mana Sehun?" tanya Baekhyun.
"Kau mau menemuinya?" Baekhyun mengangguk semangat. "Aku akan mengantarmu."
.
.
"Apa kau yakin tidak ingin mengatakan sesuatu?" seorang polisi bernama Chansung bertanya sekali lagi pada Sehun dan lelaki itu kembali menggeleng. "Jawaban yang sama. Baiklah. Ayo ikut aku."
Sehun menurut saja. Dia berjalan dengan kepala tertunduk dan langkah kaki yang pendek-pendek. Polisi itu menuntun Sehun atau lebih tepatnya sedikit menyeret lelaki itu. Baru mereka akan berbelok untuk memasuki ruang khusus sel tahanan, seseorang memanggil Sehun.
"Luhan?!" gumam Sehun setelah melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
Luhan berlari dan langsung memeluk tubuh Sehun dengan erat. Menempelkan sisi kepalanya di dada Sehun dan menangis di sana. "Maafkan aku. Maafkan aku. Sehun? Apa kau mau memaafkan aku?"
Sehun memandang Luhan dengan tatapan bingung dan tak bisa membalas pelukan istrinya karena kedua tangannya di borgol di belakang.
"Sehun?! katakan sesuatu! Apa kau mau memaafkanku?" kembali Luhan bertanya dengan air mata membasahi wajahnya serta kemeja depan Sehun.
"Apa yang terjadi? Kau?" Sehun masih menatap Luhan dengan lekat-lekat.
"Sehun?!" kembali Sehun terkejut saat seseorang memanggil namanya. Ia mendongak dan menatap depan dimana seorang wanita dan seorang laki-laki berdiri tak jauh darinya. Luhan pun ikut mendongak.
"Jongin dan Baekhyun?!" gumam Luhan. wanita itu menatap bergantian Jongin, Baekhyun, dan Sehun secara bergantian. Keningnya berkerut dan pegangannya pada kerah kemeja Sehun melonggar.
"Baekhyun ada di sini?" tanya Luhan dalam hatinya.
.
.
TBC
Update-nya cepet kan?
Yes, kayaknya udah mau ending nih.. thanks a lot ya. Kalian semua the best.
Absurd?
Yaudah, maaf deh, ya. namanya juga masih belajar. Kekeke. Tapi btw, makasih banget udah komen. Aku bakal balajar lagi dan buat summary (yg selama ini bikin masalah), muaaf sebesar-besarnya but once again, makasih untuk kepeduliannya dan perhatian kalian. love you. Mua-mua.
Abaikan typo2nya dan aku kasih tahu kalau chap depan (end chap) bakalan rada panjang.
Terakhir, yang selama ini nunggu2 banget gimana endingnya, ayo dong jangan cuman jadi penggemar rahasia…. Review? sekalian aku pengen tahu pada saranin apa buat pair di ending? tebak-tebak juga boleh.. kekeke
