Hei... aku balik lagi, dan sorry banget kalo kelamaan. Hm... kayak yang udah aku bilang di chap kemaren, aku pengen bikin tentang keluarga Lupin, tapi aku gak jadi... Sorry... banget! abis aku gak ada ide sih... tapi aku janji aku bakal bikin, walaupun aku gak tahu bakal muncul kapan. Oke? Semoga kalian suka, soalnya disini ber-genre Romance. Fokusnya ke semua kok, gak ada yang utama. Tapi... kayaknya kalo ditanya yang paling utama, aku jawabnya Harry/Ginny. Canon Ships!

Lots of Love,

Raiha


'Mission Complete!'

Acara makan malam Barbeque itu diakhiri dengan Lily dan Hugo yang sudah terlelap dipangkuan ibu masing-masing dengan tangan yang masih memegang 3 tusuk Barbeque, Victioire yang mulai marah-marah karena ulah Fred dan George, dan Sirius yang mulai mengambil daging milik semua orang sebagai 'Padfoot' atau 'Snuffles'.

Akhirnya setelah banyak teriak-teriak dan lari-lari, semuanya naik ke kamar masing-masing dan tidur lelap. Aturan kamar tidak dipergunakan lagi, semua tidur sesuka mereka.

Karena terlalu lelah, Molly menyerahkan tugas beres-seresnya kepada anak-anak yang sudah dewasa, atau sudah akil balig. Seperti Teddy, Victoire, Remus, Tonks, Sirius, Lucy, Arthur, Bill, Fred, dan George, yang semuanya dengan ogah-ogahan mematuhi permintaan, atau mungkin lebih tepatnya perintah Molly, sang Ratu Weasley.

Lima menit belum ada, sudah terdengar keluhan dari sana sini, yang membuat semuanya setuju untuk diundi saja siapa yang akan membereskan semuanya.

Semua mengumpulkan kayu, satu orang satu. Lalu masing-masing menyihir kayu tersebut menjadi warna merah, sedangkan Arthur menyihir kayunya menjadi warna emas. Lalu kayu itu disebarkan kesegala arah dengan jentikan malas dari tongkat masing-masing.

"Accio, Kayu!" kata semuanya ogah-ogahan, siap menerima yang terburuk.

Kayu-kayu tersebut meluncur kearah mereka, dan dengan sigap mereka menangkapnya dengan mata tertutup. Lalu dengan perlahan, mereka membuka mata, dan melirik warna kayu masing-masing, siap untuk yang terburuk.

Semua yang mendapat merah langsung bersyukur sepenuh hati, dan dengan segenap kekuatan, jiwa, dan raga, mereka lari ke kamar masing-masing entah kamar milik siapa, yang penting tidur, dan meninggalkan Teddy sendirian dihalaman kosong itu, yang sedang menyalah-nyalahi Merlin dan Dumbledore atas nasibnya yang buruk. Dan untuk sementara, sepertinya baik Victoire, maupun Remus dan Tonks, lupa kalau orang yang mererka tinggalkan adalah seorang Teddy Lupin

.

.

.

Pagi hari yang gerimis itu datang dengan sangat, sangat, dan sangat cepat bagi Teddy. Dia tidak bisa tidur semalam karena dia memilih kamar yang dihuni oleh James dan Fred Jr. Tapi toh, mau bagaimana lagi?

Teddy memilih kamar tanpa melihat tujuan. Menemukan kamar pun sudah kenikmatan yang amat sangat besar bagaikan surga bagi Teddy. Tapi begitu dia menjejakkan kaki di kamar itu, barulah dia sadari kalau tempat yang dia huni adalah neraka yang paling kejam diantara semua neraka.

"Hoaaaaah" Teddy menguap.

"Tidur nyenyak, Teddy Bear?" kata Sirius usil dari belakangnya.

Teddy ingin sekali melakukan sesuatu, yang menurutnya kejam, tapi dia mengurungkan niat itu karena tidak ada tenaga, dan hanya membalas Sirius dengan seulas senyum sangar.

"Sudahlah Teddy, terima sajalah nasibmu apa adanya" kata Albus masih menguap juga.

"Aguamenti" kata Victoire mengacungkan tongkatnya ke muka Teddy.

"Ap— Ukh! yang kau lakukan?" kata Teddy kesal.

Victoire tidak menjawabnya, dia hanya menciumnya di mulut dan melepaskannya setelah beberapa detik, "Menyegarkanmu" katanya lalu.

Teddy mengedip satu, dua, tiga kali.

"Uh...? Veela?" kata Teddy akhirnya.

Semuanya tertawa terbahak-bahak, pastilah mereka menganggap kalau Teddy itu masih berada di alam mimpi.

"Argh!" kata Victoire kesal, "Episkey!"

Teddy lalu mengerjap, mengelus-elus hidungnya yang bernasib malang itu.

"V-Victoire? Ada apa, er... dear?" kata Teddy berusaha romantis, tapi hanya ditanggapi oleh juluran lidah Victoire, jitakan Victoire, dan ciuman Victoire, dan pada akhirnya, segenap jurus Victoire barusan telah membuat Teddy segar kembali 100%, mungkin jaga-jaga kalau Victoire akan menyerangnya lagi.

Sarapan berlangsung dengan lumayan ramai, berhubung ada 5 orang pembuat onar di meja itu, jadi memang wajar. Sirius memakan semua makanan yang ada dihadapannya, begitu juga dengan sisa pembuat onar lainnya. Tonks ikut untuk sarapan bersama mengingat dia adalah anak yang ceroboh.

"Anu... kurasa kita belum mengetahui tentang Hugo...?" kata Bill tiba-tiba.

"Oh yeah! Benar juga, bagaimana kita bisa lupa?" kata Ron.

"Jahat sekali, Dad... kau melupakan anak laki-lakimu sendiri..." kata Hugo muram.

"Tidak apa-apa Hugo, jadi... silakan, perkenalkanlah dirimu" kata Hermione.

"Er... Well, seperti yang kalian semua tahu, aku Hugo, adik dari Rose dan anak dari Ron dan Hermione Weasley. Aku seumuran dengan Lily, dan aku sudah mengalahkan Dad main catur sejak saat aku berumur 8 tahun. Aku bermain Quidditch sebagai keeper, sama seperti Dad" katanya cepat.

Telinga Ron memerah, "Aku menjadi keeper Griffindor? Kau yakin?" kata Ron.

"Tentu saja, untuk apa aku bohong?" kata Hugo memutar bola matanya.

"Ma-maksudku... aku 'kan tidak pernah ikut uji coba Quidditch, jadi..." kata Ron gagap.

"Yeah, aku tahu, tunggu saja sampai kau mendapat sapu baru" Hugo maju dan membisikkan kata ini kepadanya, yang membuat Ron mengerjap senang.

Krieeet...

Otomatis semua menoleh kearah pintu dan menemukan Kreacher di ambang pintu sambil bergumam-gumam yang tidak jelas tanpa memerhatikan sekelilingnya.

"...darah-campuran kotor, darah lumpur, para penghianat darah murni mereka, oh, apa yang akan dikatakan nyonya majikan Kre—"

"Kreacher! Senang bertemu denganmu, apa kabar? Tentu kau terlihat lebih kotor saat ini, tapi setelah Sirius me—" potong James.

"James!" semua anak dari next gen serentak memeringatinya.

"Apa...? apa yang terjadi padaku?" kata Sirius bingung.

"Bukan apa-apa, lupakanlah" kata Teddy.

Kreacher menggerutu lagi, "...dan siapa lagi ini? Anak ini mirip dengan Harry Potter, anak yang mengalahkan Dark—"

"Ayolah Kreacher, berhenti menggerutu seperti itu, itu sangaaaat membosankan, ayolah, main bersama kami" kata Lucy mengangkat Kreacher dan menggendongnya, mengabaikan reaksi Kreacher yang sulit dijelaskan

Anak Weasley, terutama Ron menyerngit, sedangkan Sirius melongo tidak percaya.

"Kreacher adalah makhluk gila! Kau gila kalau kau bahkan ingin menyentuh dan mengajaknya main!" Sirius mengerjap.

"Lucy tidak gila!" bentak Molly, yang berhasil membuat Sirius menciut.

"Tapi yeah, mungkin Lucy agak gila, tapi Kreacher sangat menyenangkan! Dan aku tahu apa yang harus kulakukan untuk membuatnya senang" kata Fred Jr. tersenyum jail.

"Kau membaca pikiranku, Fred" kata James nyengir, "Kreacher, kemarilah kami ingin membisikkan sesuatu"

Kreacher hanya diam melongo tidak percaya di gendongan Lucy, sedangkan Lucy sedang nyengir lebar.

"Oh, ayolah... jangan mengambil kesempatan bagus ini sendirian, apakah kalian tidak ingin mangajak saudara kalian yang pintar ini untuk ikut... ehm, ...bermain?" kata Lucy, kilatan jail melintas dimatanya yang berwarna coklat itu.

"Tentu saja kami— ehm, kita akan melakukannya bersama!" kata Fred buru-buru.

"Yeah, benar, kami tidak mungkin meninggalkanmu 'kan?" kata James cepat.

Lucy terkikik, "Kalau begitu, ayo Kreacher!"

...

James dan lain-lain keluar dari ruangan itu dan naik keatas dengan langkah penuh semangat diikuti oleh Fred dan Lucy, yang masih menggendong Kreacher. Kilatan jail masing-masing terpancar di mata mereka, kecuali Kreacher, yang masih suntuk dan tidak mengerti.

James membuka pintu salah satu kamar dengan perlahan, dan bergumam, "Mufliato"

"Nah, sekarang, Lucy, turunkan Kreacher" kata James.

Lucy menurunkan Kreacher dari tangannya.

"Siapa tuan-tuan dan nyonya?" cicit Kreacher parau.

"Aku Fred, orang jelek di sebelahku ini James, dan cewek yang di sana itu Lucy" Fred menunjuk orang yang dia sebut.

"James...? Kreacher pernah mendengarnya, oh ya, tentu saja pernah. Kreacher yang malang pernah mendengar nama itu saat tuan Sirius kabur, berkata ingin pergi ke rumah James. Oh ya... dia melu—"

"Stop Kreacher, sekarang, aku ingin bertanya kepadamu. Kenapa kau selalu membungkuk didepan Sirius?" tanya Lucy.

Kreacher mendongak menghadap Lucy, dan dengan perlahan dia berkata, "Karena tuan Sirius tidak menyukainya saat ada peri-rumah yang membungkuk kepadanya"

"Benar. Dan apakah kau tidak menyukai Sirius?" tanya Lucy lagi.

Kreacher dengan suara parau menjawab, "Kreacher bukan tidak menyukai tuan Sirius, Kreacher membencinya karena dia adalah anak yang menyebalkan, menya—"

Kreacher mengigil, menaruh tangannya di mulutnya, dan berlari kearah lemari dan mulai memukuli dirinya sendiri.

"Kreacher nakal, Kreacher nakal, Kreacher nakal..."

"Stop! Oi, Kreacher, Stop!" Fred menjangkaunya dan mengangkatnya.

"Baiklah, kalau kau sebenci itu terhadap Sirius, mau menjahili Sirius bersama kami?" tanya James jail.

Kreacher langsung mendongak menghadapnya dengan cepat, matanya bersinar.

"Apa yang barusan tuan katakan?" kata Kreacher cepat.

"Apakah kau mau menjahili Sirius bersama kami? Dengan begitu aku yakin kau akan merasa lumayan lega. Kau membencinya, kan?" kata James.

"Tuan... Kreacher sungguh menghargai tawaran itu, tapi Kreacher tidak bisa, karena—"

"Karena omong kosong ini dan itu tentang peri-rumah. Yeah, kau sering menyebutkannya" potong James cepat.

"Tuan, itu semua bukan omong kosong. Itu adalah—"

"Sampah buatan kementrian tolol. Yeah, aku mengerti maksudmu" kata Fred.

"Bukankah dengan bengini nyonyamu akan senang?" kata Lucy.

Kreacher terdiam, tampak sedang memikirkan sesuatu, yang menurut James, Fred, dan Lucy adalah skakmat untuk Sirius.

"...baiklah" kata Kreacher akhirnya.

"BENARKAH?" teriak Lucy, Fred, dan James serentak, walaupun mereka tahu dia akan berkata seperti itu, tapi tetap saja...

"Tentu saja! Kreacher akan dengan senang hati melakukannya, dan kalau Kreacher sampai gagal, Kreacher akan melempar dirinya dari sapu terbang milik tuan!" cicit Kreacher, suara senang terdengar sedikit dari suaranya yang parau.

"Bagus!" kata James agak keras.

"Hahaha, untung kita membawa sesuatu dari Sihir Sakti Weasley. Kau membawa ramuan itu Fred?" tanya Lucy.

"Yeah, aku selalu membawa stok-nya. Mau yang terbaru atau yang terlama?"

"Hmmm... bagaimana kalau kita kejutkan tuan Sirius dengan menjadi Marauders?" kata suara parau Kreacher.

"Astaga Kreacher... kalau kau memiliki otak sebrillian kami, kenapa tidak bilang dari dulu? Justru yang kau ajukan adalah sesuatu yang ingin kita lakukan" kata James.

"Tapi—"

"Bagaimana? Tenang, aku membawa stok ramuan polijus" kata Fred tenang.

"Tapi tuan dan nyonya sekalian sama sekali tidak memili—"

"Kalau yang kau maksudkan adalah rambut, kita sama sekali tidak memerlukannya. Asalkan kita berkonsentrasi penuh pada siapa kita akan menjadi, masalah rambut sama sekali tidak penting" kata Lucy.

"Tidak ada ramuan seperti itu" kata Kreacher pelan.

"Oh yeah, ada saja. Bukankah tadi aku bilang kalau aku mengambil ramuan ini dari toko Sihir Sakti Weasley? Slogan mereka adalah 'Jadikan sesuatu yang menurutmu mustahil menjadi mungkin!' tapi kadang-kadang mereka menggantinya menjadi 'Ayo! Beri kami Galleon!' atau mungkin 'Voldy hilang, ayo bersenang-senang!' atau—"

"Sudahlah Fred, kami tahu persis apa slogan mereka, dan kau baru saja menyebutkan 3 slogan yang baru muncul belakangan ini. Mereka mengganti slogan setiap minggu, kan?" kata Lucy.

"Guys, ayolah... jadi, kalian akan menjadi...?" kata James.

"Aku akan menjadi Snape, lalu Lucy akan menjadi Lily. Dan kau pastinya akan menjadi James Sr. kan?" kata Fred.

"Yeah, lalu Kreacher akan...?"

"Ugh... aku tahu apa yang ingin kalian lakukan, tapi bukankah ini semua malah akan membuat Uncle Harry muntah?" kata Lucy.

"Kenapa jadi Dad? Bukankah tujuan kita adalah Sirius?" kata James.

"Benar juga sih... lalu Kreacher akan menjadi...?" kata Lucy.

"Pengatur pernikahan Severus dan Lily Snape, tentu saja. Serta bunga, baju, background, segalanya dia yang atur. Oh, dan penyihir barambut sejumput yang menanyai kita pertanyaan nonsense, yang pasti hanya itu itu doang" kata Fred cepat.

"Baik" kata Kreacher tersenyum.

"Baiklah, jadi pertama..."

...

"Hmmm... apa yah, kira-kira yang akan mereka lakukan?" Lily menatap pintu tempat dimana James, Fred, dan Lucy sambil menggendong Kreacher keluar.

"Apapun yang ingin mereka lakukan, aku yakin pasti tidak akan menyenangkan. Dan aku berkata bagitu bukan karena membencinya, tapi itu kenyataan" kata Albus.

"Sepertinya menyenangkan" kata Sirius.

"Uh... aku yakin kau akan menarik kata-kata itu saat mereka melakukan Dumbledore-tahu-apa itu" kata Teddy.

"Oh ya? Kenapa begitu, Lupin?" tanya Sirius.

"Yang mana?" tanya Teddy.

"Huh?" balas Sirius.

"Kau berkata 'Lupin'. Dan jelas sekali bahwa ada 3 orang Lupin disini. Well, 4 sebentar lagi" kata Teddy.

"Tiga?" ulang Sirius.

"Benar, Siri. Aku, Mum, dan Dad. Tiga kan?" jelas Teddy layaknya mengajari anak TK.

"Benar! Aku lupa kalau Dora akan menjadi Lupin. Nyonya Lupin" kata Sirius nyengir.

Tonks dan Remus memberi deathglare kepada Sirius, keduanya tidak bisa menyembunyikan semburat merah di wajah masing-masing.

"BENARKAH?"

"Huh?" semuanya langsung bertatapan, lalu mendongak menghadap langit-langit.

"Ajalmu sudah dekat, Siri" Victoire terkikik.

"He-hei! Kau kan tidak tahu apa yang ingin mereka lakukan!" kata Sirius panik.

"Yeah, tapi hidup dengan nama yang sama biasanya akan membuatmu tahu apa yang biasanya mereka lakukan, 'kan?" kata Rose tertawa pelan.

"Anu... Rose? Bagaimana aku bisa bertahan menjadi ayah yang baik dan sabar?" kata Harry bego, membuat Lily, Albus, dan Ginny tertawa.

"Hahaha, lucu sekali Uncle Harry, tapi sepertinya Weasley dan Potter memang sudah diwarisi darah onar dari Griffindor sendiri" kata Rose lancar.

"Tapi... bagaimana kau tahu?" kata Ron melongo.

"Lucu, Dad. Tapi hanya karena kau tidak pernah melihat buku sejarah dalam seumur hidupmu, bukan berarti orang lain tidak pernah" kata Hugo.

"Diam" kata Ron telinganya memerah.

"Nice shoot, Hugo" Rose bertosan dengan Hugo.

"Cih... kenapa Fred tidak mengajakku? Kukira dia anakku" gumam George.

"Karena Fred hanya mencuri sedikit sekali ramuan joke polijus dari persediaan milik Uncle George. Mungkin hanya 4 atau 5" kata Albus

"Apa lagi itu?" sambar Molly cepat.

"Oh sudahlah, Nan tidak bisa mengingkari bahwa Uncle Fred dan George memiliki toko lelucon kan?" kata Victoire.

"Lagipula tadi kau masih cengo dan mulutmu terbuka sebesar ini nih" Albus memeragakan orang yang mulutnya terbuka lebar dengan tangannya.

"Aku masih tidak mengerti, bagaimana bisa kalian melakukan sihir seperti itu, sedangkan OWL's kalian masing-masing hanya 3?" tanya Molly.

"4 sebetulnya—" kata Fred malas.

"—Yeah, kalau kita agak serius dipelajaran Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam—" sambung George.

"—tapi kita hanya mengambil pelajaran yang memang kami butuhkan untuk toko lelucon, yaitu—"

"—Transfigurasi, Mantra, dan Ramuan" George menyudahi.

"Tapi... berapa nilai kalian masing-masing?" tanya Hermione.

"Outstanding" jawab Fred dan George serempak.

"Tunggu! Snape—

"Profesor Snape" koreksi Molly

"—Yeah, dia memberi kalian Outstanding setelah kalian melakukan segala macam kekacauan di kelasnya?" tanya Harry.

"Bukan dia yang memberi nilai, nanti ada petugas dari kementrian yang akan memeriksa hasil OWL's kalian" kata Remus.

"Berapa nilaimu? Dapat berapa OWL's?" tanya Hermione penasaran.

"Aku dapat 9 OWL's. PTIH, ramuan, herbology, mantra, astronomi, rune, transfigurasi, satwa gaib, dan arithmancy. Hanya mendat O di PTIH dan Transfigurasi, sisanya Exceeds Exception, di luar dugaan" jawab Remus.

"Apakah tesnya sulit?" tanya Hermione lagi.

"Sudahlah Hermione, kita masih memiliki berbulan-bulan lagi sebelum ujian. Kita bahkan belum dapat surat buku, dan kau sudah mengkhawatirkannya?" kata Ron.

"Oh, tapi aku tahu aku pasti tidak lulus! Terutama pelajaran PTIH, bagaimana kalau kita disuruh menghadap bogart? Kau tahu betul kalau aku sangat parah dalam menghadap bogart, ingat Remus? Bagaimana kalau nanti bogartnya berubah menjadi Pak Mentri, lalu berkata kalau nilai-nilai OWL ku sangat parah, lalu—"

"Sudahlah Hermione, kita semua tahu betul kalau kau akan lulus dengan nilai sempurna, dan aku bukan berkata begitu karena aku temanmu, aku berkata begitu karena ini semua kenyataan, jadi tenanglah" kata Ginny.

"Great, Mum" Lily tersenyum, mengelus-elus punggung tangan Hermione dengan gestur menenangkan.

"Aw... manisnya..." goda Teddy.

"Diam!" Lily menendang kaki Teddy.

"Uh... apa itu?" kata Bill tiba-tiba.

"Huh? Apanya apa?" tanya Victoire.

"Itu... coba dengar!"

Semuanya langsung terdiam, berkonsentrasi akan apa yang akan mereka dengar. Sirius berubah menjadi 'Padfoot' agar terdengar lebih jelas, sisanya menangkupkan tangannya dibelakang telinga masing-masing, lalu terdengarlah langkah-langkah yang keras menuju ke ruang makan.

"Oh tidak" gumam Sirius, yang sudah kembali dari 'Padfoot'.

"Apa? Tadi kau bilang apa, Siri?" tanya Tonks nyengir.

"Oh, apa? Oh... tidak, bukan apa-apa..." kata Sirius gelisah.

"Ajalmu sudah tinggal beberapa meter lagi, Siri, bersiaplah..." kata Remus tersenyum.

"Baiklah saudara-saudara, mari kita hitung mundur!" terdengar suara James dari luar.

"Tiga!" teriak Albus, Lily, dan Victoire.

"Dua!" disambung oleh Ginny, Hermione, Harry, dan Ron.

"SATU!" teriak semuanya.

Pintu menjeblak terbuka, banyak kertas kelap-kelip beterbangan disana sini, lalu muncullah sosok James Potter senior dari pintu, lalu berlari memeluk Sirius yang cengok dengan penuh semangat.

"Hai Pads! Apa kabar? Kau terlihat kurus kering sekarang, sudah berapa banyak cewek yang menolakmu? Skill mu hilang, Pads!" kata James.

"Prongs...?" ucap Sirius hampa.

"Hei Pads, dengar, aku sudah membuat rencana onar yang baru, lalu aku akan melakukannya di Hogwarts, nah..." katanya panjang lebar.

"Dad?" kata Harry melongo, yang lain pun begitu, bahkan Molly sudah hampir menangis.

"Daddy! Karena mu aku hilang 3 Galleon, bayar!" kata Lily kesal.

"Kalian tidak boleh bertaruh, lagipula... bertaruh karena apa?" kata Ginny.

"Aku bertaruh dengan Lily tentang James dan Dad. Aku bertaruh bahwa suatu saat pasti Dad akan memanggil James 'Dad', dan aku sendiri tidak tahu kenapa aku berkata begitu, yang penting aku dapat 3 Galleon" kata Albus nyengir, sedangkan Ginny hanya menggelengkan kepalanya.

Pintu menjeblak terbuka lagi, kali ini Lily— Lucy masuk dengan tubuh Lily.

"M-Mum?" kata Harry tersenyum.

"James Potter! Cukup sudah ulahmu, aku sudah muak dengan semua permainanmu selama ini! Kukira kau sudah merubah sikapmu sedikit dari sejak aku setuju akan menikahimu, tapi sekarang sudah cukup, aku muak denganmu, aku menceraikanmu! Lebih baik aku menikah dengan Sev daripada denganmu!" teriak Lily-Lucy.

Lalu Lily-Lucy berjalan menuju pintu, tempat dimana Snape-Fred berdiri, meninggalkan James-James yang sedang berpura-pura shock dan Sirius dan Harry yang benar-benar shock, masing-masing sudah berada di alam sana.

Semua terpana, sementara Kreacher muncul, mengubah tembok menjadi warna putih dengan hiasan bunga Lily, mengubah baju Lily-Lucy dan Snape-Fred menjadi baju pernikahan berwarna emas pucat, memunculkan radio kecil yang melantunkan sebuah lagu, dan mengubah dirinya sendiri dengan Ramuan Polijus yang sudah diberikan oleh Fred.

Lily-Lucy dan Snape-Fred berdiri di ambang pintu, tersenyum dan begandengan tangan, siap untuk menyetujui sumpah setia. Kreacher berdiri dan mengucapkan sumpah setia, "Kau, Severus Snape, apakah kau bersedia menjadi suami dari Lily Evans?"

"Aku bersedia" ucap Snape-Fred.

"Dan kau, Lily Evans, apakah kau bersedia menjadi istri dari Severus Snape?"

"Ya, aku bersedia" ucap Lily-Lucy nyengir.

"Kalau begitu saya menyatakan Anda terikat seumur hidup" Kreacher menjentikkan jarinya, dan keluarlah bintang-bintang kecil mengelilingi pasangan palsu itu dari atas sampai bawah, lalu hilang.

Pemandangan yang indah, tapi amat sangat menyakitkan bagi Sirius dan Harry. Faktor-faktor atas sakitnya pemandangan itu adalah :

Untuk Sirius, pertama, dia membenci Snape. Kedua, Lily masih dan tetap istri James sampai akhir hayatnya.

Untuk Harry, pertama, dia membenci Snape. Kedua, Lily adalah ibunya, dan James adalah ayahnya. Ayah dan Ibu terbaik yang pernah ada menurut Harry.

Dan pemandangan itu makin menyakitkan saat mereka menyaksikan Lily-Lucy dan Snape-Fred berpelukan, yang ditanggapi dengan tepuk tangan tidak antusias dari yang lain dan tawa dari Kreacher yang telah melihat wajah sekarat Sirius.

Beberapa saat kemudian, efek Ramuan Polijus yang James gunakan habis. James kembali menjadi James asli dengan cengiran yang besar. James disambut dengan sorakan dari Fred, George, Bill, Remus, dan Tonks.

Radio mulai melantunkan lagu muggle...

Snape-Fred mengulurkan tangannya, "Mau berdansa?"

"Mau sekali" desah Lily-Lucy.

Lalu Snape-Fred dan Lily-Lucy mulai berdansa di halaman yang basah karena hujan.

Take my hand, Take a breath

Pull me close, And take one step

Keep your eyes locked on mine

And let the music to be your guide

Ginny menatap kedua pasangan palsu itu dengan iri, berharap Harry akan mengajaknya untuk berdansa. Ginny mengerling kearah Harry, dan menemukannya sudah mengulurkan tangan kepadanya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan dan dengan senyum kecil. Harry menatapnya, Hijau bertemu Coklat, hanya ada satu jawaban untuk ini— ya. Ginny meraih tangan Harry dengan senyum malu dan pergi ke halaman menyusul Snape-Fred dan Lily-Lucy, dengan mata indah yang terus menghadap tidak ingin lepas, mengunci mata masing-masing, dan berdansa mengikuti alunan lagu.

Won't you promise

(NowWon't you promise me, that you'll never forget?)

To keep dancing

(To keep dancing)

Where ever we go next

Ron memandang Harry yang sedang berdansa dengan Ginny dengan kesal, telinganya memerah. Memang dia sudah tidak begitu akur lagi dengan Ginny sejak dia bersahabat dengan Harry dan Hermione, tapi Ginny tetaplah adik perempuan satu-satunya yang ia miliki. Muak memandang mereka lebih lama, Ron memilih untuk memandang bidadari yang sedang duduk manis disebelah Ron, —Hermione.

Hermione ternyata sedang memandang penuh harap, dan begitu Ron memandangnya, Hermione segera memalingkan wajahnya, mencoba menyembunyikan semburat kemerahan yang muncul dipipinya.

Ron menyeringai, "Berharap aku akan mengajakmu berdansa, eh?"

"Ap- apa yang kau bicarakan? Aku sama sekali tidak, aku hanya... aku cuma... m-maksudku—"

Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Ron sudah mengangkatnya, lalu menggendongnya dengan bridal style dan membawanya ke halaman yang masih hujan itu, tempat dimana para pasangan-pasangan sedang berdansa. Keduanya merona namun senang.

"Tu-tunggu Ron, apa yang—"

"Bukannya kau mau dansa?" kata Ron nyengir.

"A-aku... yeah" kata Hermione tersenyum, memegang tangan Ron dan mulai berdansa.

"Tapi dengan satu syarat" kata Ron.

"Apa itu?"

"Kau harus tahan berdansa denganku sampai 15 menit kedepan tanpa masuk angin, dan kau harus berjanji kau tidak akan melepaskan tanganku"

"Ron, pernahkah kau belajar? Siapapun akan masuk angin kalau berdansa ditengah hujan seperti ini selama 15 menit"

"Jadi?"

"Kuterima tantanganmu, tapi kalau aku sakit kau yang harus merawatku. Dan yeah, aku berjanji tidak akan melepaskan tanganmu sampai kita selesai berdansa"

"I'll keep your words, princess" bisik Ron, membuat Hermione merona, namun tersenyum juga.

Langit semakin gelap, awan mendung semakin tebal. Hujan turun semakin deras, tapi tidak satupun dari pasangan-pasangan yang sedang berdansa itu berpikir masuk kedalam rumah untuk berteduh. Mereka semua sudah terhanyut dalam pikiran masing-masing. Efek dari Ramuan Polijus pun menghilang, Fred dan Lucy kembali seperti semula dengan pakaian seperti semula. Fred dan Lucy berpisah, berganti pasangan. Fred berdansa dengan Rose, sementara Lucy berdansa dengan James.

Ctar!

Petir menyambar, tapi sama sekali tidak membuat takut para prajurit Griffindor yang sedang berdansa di halaman. Kebalikannya justru, mereka malah lebih bersemangat, menunggu horror apa yang berikutnya akan terjadi.

It's like catching lightning the chances of finding someone like you
It's one in a million, the chances of feeling the way we do
And with every step together, we just keep on getting better
So can I have this dance (can I have this dance)
Can I have this dance

"Teddy?" kata Victoire

"Hm?" balas Teddy.

"Anu... itu... hanya saja aku... mau dansa?" tanya Victoire akhirnya.

"Tentu saja aku mau, kenapa tidak?"

"Tapi... sekarang sedang hujan..."

"Bukankah itu akan membuat semuanya semakin seru? Ayo!" Teddy menarik tangan Victoire.

Victoire terkikik, lalu berkata "May i have this dance?"

Yang hanya dibalas oleh kecupan dari Teddy.

Take my hand, I'll take the lead
And every turn will be safe with me
Don't be afraid, afraid to fall
You know I'll catch you threw it all

Remus melihat Teddy dan Victoire yang baru saja bangkit dan menuju halaman. Lalu dia memutuskan untuk ikut berdansa. Awalnya dia berpikir untuk mengajak Molly saja, namun dia berubah pikiran begitu dia melihat Tonks yang sedang mengambil minum.

"Hei, Dora"

"Akh! Remus, kau mengagetkanku! Ada apa?" kata Tonks, berhasil mempertahankan gelas yang sedang dipegangnya.

"Kau mau dansa?"

1 detik... 2 detik... 3 detik...

"Kau barusan bilang APA?" kata Tonks.

"Aku bilang, mau dansa denganku tidak?" Remus mengulangi, berusaha tidak tertawa.

Tonks merona, "Kau tahu betul aku itu orang seperti apa, Remus"

"Maksudmu?"

"K-kau mungkin hebat dalam hal seperti ini, tapi aku anak yang ceroboh! Maksudku, aku tidak pernah melakukan..."

Tonks panjang lebar berceramah, membuat Remus agak meringis.

"Tonks, aku akan menuntunmu dansa. Dan kalau kau tersandung kakimu sendiri, aku hanya tinggal menangkapmu, kan? Apa susahnya?" kata Remus santai.

"Tapi..."

"Semuanya akan baik-baik saja, ayo" Remus menggandeng tangan Tonks, mengabaikan protes dan ejekan dari Sirius.

"Baiklah" kata Tonks ceria.

It's like catching lightning the chances of finding someone like you
It's one in a million, the chances of feeling the way we do
And with every step together, we just keep on getting better
So can I have this dance (can I have this dance)
Can I have this dance

Semuanya mulai bangkit dan berdansa, yang sedang berdansa pun sekali-sekali berganti pasangan. Bahkan Dumbledore dan Mcgonnagall yang tadinya datang untuk urusan Orde pun akhirnya ikut berdansa bersama.

Oh no mountains too high enough, oceans too wide
'Cause together or not, our dance won't stop
Let it rain, let it pour
What we have is worth fighting for
You know I believe, that we were meant to be

Hanya Fred dan George yang tidak berdansa. Tetapi mereka melemparkan balon air ke segala jurusan, mengenai orang-orang yang sedang berdansa, jugga melempar lumpur, dan tepat mengenai wajah Snape yang baru saja datang, namun pulang lagi dengan keadaan yang kotor dan ditertawai oleh Sirius.

Ginny dan Harry sudah cukup hafal chorus dari lagu ini karena dari tadi selalu diulang-ulang. Setelah nyengir, mengetahui apa yang ada di pikiran masing-masing, mereka akhirnya benyanyi lagu ini bersama sambil berdansa,

"It's like catching lightning the chances of finding someone like you (like you)
It's one in a million, the chances of feeling the way we do (way we do)
And with every step together, we just keep on getting better
So can I have this dance (can I have this dance)
Can I have this dance"

Can I have this dance
Can I have this dance

Sisa lagu itu mengalun diiringi oleh tepuk tangan yang meriah untuk Harry dan Ginny yang memerah, namun tertawa. Telinga Ron, Bill, Fred, dan George agak merah karena marah, namun tersenyum juga.

Fred Jr., James, Lucy, dan Kreacher bertosan, lalu bersorak,

"Mission Complete!"


Song : Can I Have This Dance - High School Musical 3, Senior Year. Lagunya bagus kok! bagi yang penasaran, denger aja ya!