Title: I'm Sorry

Author: Ovieee

Cast: Oh Sehun

Oh Ziyu

Xi Luhan

Kris Wu

Pair: SeHunxLuHan; Slight KrisxLuhan

Rated: T

Genre: Sad; Romance; Drama; Family

Disclaimer: Cast milik orang tua, agensi dan diri mereka sendiri. Ovie cuma make namanya aja. Dan tentunya cerita murni milik Ovie '-'

Warning! Yaoi; BL; Shounen-Ai; dan sejenisnya.

Summary: Luhan menikah dengan Sehun, seorang wirausaha dibidang makanan yang tidak terlalu besar dan tidak terkenal namun masih dapat mencukupi kehidupan mereka bersama Ziyu-anak mereka. Dan setelah usaha Sehun hampir bangkrut. Dimulailah Luhan yang bertingkah./"Umma. Jangan pergi"/"Luhan hentikan ini!"/"Aku muak dengan kalian!"/"UMMA! Hiks"

.

.

Happy Reading

.

Terlihat siluet lelaki kurus yang tengah menyiapkan makan siang untuk dirinya juga anaknya. Tidak memasak, hanya beli di pinggir jalan tadi karena anaknya itu yang meminta. Mengingatnya membuat lelaki itu sedikit tersenyum karena anaknya kembali bertingkah manja. Sehun, lelaki itu mondar mandir dari konter ke meja makan. Terus seperti itu sampai semua makanan sudah tersaji di meja. Ia tinggal membuatkan es jeruk untuk Ziyu, karena anak itu sangat jatuh cinta pada jeruk. Sehun kembali tersenyum mengingat anaknya yang berubah menjadi maniak saat melihat jeruk.

Tok.. Tok.. Tok..

Sehun mengernyit, tak biasanya ada yang bertamu di jam seperti ini. Baekhyun? Tidak mungkin karena anak itu pasti akan langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu.

"Siapa yang bertamu Ziyu" Sehun berteriak, oh sungguh ini bukan dirinya sekali. Jika bukan karena jeruk-jeruk ini sudah pasti Sehun tidak mau berteriak seperti tadi. Lalu ia melihat Ziyu yang berlari kearah pintu, ia tersenyum lagi melihat anaknya yang terlihat terburu-buru itu. Kembali pada jeruknya, hampir selesai dan tidak ada suara dari Ziyu yang mengatakan siapa yang bertamu. Dengan heran, Sehun berjalan menuju pintu utama setelah menyelesaikan membuat es jeruknya. Dan mengernyit kala melihat anaknya yang menutup mulut didepan pintu serta- tunggu, kenapa Ziyu menangis pikirnya. Dengan jantung yang berdegup kencang, Sehun mempercepat langkahnya.

"Sayang, siapa yang—" Ucapan Sehun terhenti kala maniknya menemukan orang yang selama ini ia rindukan. Tampak sangat cantik dengan kemeja kotak-kotaknya dan juga rambutnya yang jatuh menutupi dahi. Namun keping-keping terakhirnya bersama orang itu saat pergi dari rumah menghantui otak Sehun. Membuatnya harus menahan geram dengan mengatur ekspresi wajahnya.

"Apa yang kau lakukan?" Sungguh, Sehun ingin memaki dirinya yang berkata demikian. Bukan itu tadi yang ingin dikatakannya, bukan.

Sehun dapat melihat air muka Luhan yang menatapnya sendu. Lalu bibir tipisnya mengeluarkan kekehan yang terdengar sangat jahat ditelinga kecil Luhan. Sehun menarik Ziyu yang masih terisak kecil ke dekapannya. Menyuruh sang anak agar menumpahkan semuanya di perut Sehun mengingat tinggi anak itu. Dan Ziyu melakukannya. Meraung disana sekeras mungkin, tidak menghiraukan ibunya yang sekarang memandangnya sedih. Ia tidak peduli, yang ia inginkan hanya menangis untuk saat ini. Ia sangat rindu pada ibunya, tapi entah kenapa tubuhnya tidak bisa digerakkan kala manik beningnya menangkap siluet ibunya sedang berdiri dihadapannya.

"S-Sehun.." Sehun memandang Luhan dengan pandangan datarnya, tidak berniat menjawab namun ia akan mendengarkan apa yang dikatakan Luhan, "Apa kau Sehun?" Sehun mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan itu. Lalu kelehan lirih terdengar serta senyuman perih menghiasi wajahnya, berpikir kalau saja Luhan sudah lupa dengan wajahnya.

"Apa kau begitu menikmati harimu bersama lelaki brengsek itu hingga kau melupakan wajah suami sah-mu Luhan?" Sakit, lagi-lagi Luhan merasakannya.

"B-Bukan begitu, aku memang lupa wajahmu karena Se-uh maksudku Kris mengatakan kalau aku mengalami amnesia" Tenggorokan Sehun serasa dicekik, ia tercekat. Apa yang dikatakan Luhan? Apa maksudnya, haha lucu sekali Luhan ini. Apa dia berusaha melucu dengan mengatakan dirinya amnesia? Lalu apakah Luhan berpikir kalau dia mengatakan dirinya amnesia ia akan memaafkan Luhan. Haha, sangat lucu.

"A-aku tidak membohongi mu. Aku sungguh-sungguh. Aku mengalami amnesia, dan aku telah dibodohi Kris" Sehun terkekeh mendengarnya. Telapak lebarnya setia mengusap-usap punggung anaknya yang masih bergetar karena tangisnya.

"Aku sudah menceritakan semuanya pada Baekhyun, dan ia membantuku. Malam ini, semuanya akan berakhir dan kumohon maafkan kesalahanku dimasa lalu. Aku memang bodoh, sudah menyia-nyiakan kalian yang sangat berharga dihatiku" Sehun menangkap nada Luhan yang bergetar. Namun ia tetap pada ekspresi yang sama. Menatap datar Luhan yang juga tengah menatapnya dengan pandangan nanar.

"Ziyu, mama kembali sayang.."

"Kau bahkan lupa kalau Ziyu memanggilmu 'Umma'" Luhan tertegun, benar juga, Ziyu melirihkan Umma saat melihat dirinya, kenapa ia bisa sebodoh itu hingga membuat Sehun geram kembali.

"Maaf—"

"Sebaiknya kau pergi. Suamimu mungkin menunggumu dirumah" Sehun menggendong Ziyu yang masih tidak mau menatap Luhan. Hati kecilnya terlalu sakit mendengar umma-nya yang mengatakan kalau ia amnesia.

Luhan hanya diam tak bergerak setelah mendapat kalimat mengusir tersebut. Dirinya paham, sangat paham kalau Sehun tentu saja merasa sakit hati dengan apa yang telah ia lakukan dimasa lalu.

"Baik, aku akan pergi. Aku sungguh minta maaf pada kalian berdua. Aku benar-benar tidak punya otak dan hati saat itu dan-"

"Sudahlah, tidak ada yang perlu dijelaskan Xi Luhan" Luhan tersenyum miris. Sebegitu bencinya kah Sehun padanya.

"Aku permisi" Tanpa menunggu jawaban dari Sehun dan Sehun sendiri sudah pasti tidak akan menjawabnya, maka Luhan pergi dari rumah itu. Kembali duduk pada taksi yang senantiasa menunggunya tadi. Luhan hanya perlu bersabar sedikit lagi maka ia akan kembali pada anak dan suaminya.

Sedangkan Sehun saat ini hanya menatap kepergian Luhan sembari mengelus punggung Ziyu yang sudah berhenti bergetar. Sehun menyibak poni anaknya dan perkiraannya benar, Ziyu tertidur, dengan napas yang sedikit tersenggal—efek menangis. Sehun tersenyum miris, mengingat perkataan Luhan yang mengatakan dirinya amnesia. Namun disisi lain hatinya ia merasa kasihan pada istrinya yang cantik itu, kenapa dirinya bisa mengalami amnesia. Nanti saja dipikirkan, sekarang waktunya Ziyu makan siang.

.

.

.

CKLEK

Luhan masuk kerumah Sehun—Kris- dengan perlahan, ia tahu ia sudah melewati waktu perjanjian mereka semalam. Kris mengizinkannya hanya dua jam, dan Luhan melewati batas waktu dua jam itu menjadi dua setengah jam—karena mengunjungi suami yang sebenarnya.

"Dari mana saja kau?" Luhan berjengit kala dirinya membalikkan badan setelah melepas sepatu kets birunya. Memasang wajah sepolos mungkin agar Sehun—Kris- tidak curiga dengan senyuman khas dan memeluk tubuh sang suami—palsu.

"Aku senang sekali Sehun" ucapnya—sok-bahagia, dan Luhan tersenyum lebih manis kala Kris mengusap punggungnya dengan lembut.

"Kau tahu, aku merindukanmu sayang" Luhan terkikik.

"Aku hanya kelewatan sedikit jam-nya. Maaf karena melanggar janji yang kemarin"

"Oke tidak apa. Jadi kemana saja kau?" Kris menciumi wajah Luhan, membuat pemuda itu berjenggit jijik dalam hati.

"Umm.. Aku ke café dan bertemu dengan Baekhyun" Luhan tersenyum lebar, tak menyadari kalau pria dihadapannya sudah mengeraskan wajahnya. "Dia sangat baik, dia mengatakan kalau aku sahabatnya dan kau tahu—"

"Cukup"

"Uh?" Luhan memandang Kris dengan bingung, membuat Kris memijat keningnya karena merasa tidak tega marah pada makhluk secantik Luhan.

"Tak apa, selanjutnya kau kemana setelah itu?" Luhan berpose berpikir, padahal dalam hati ia menyumpah nyerapahi Kris yang ingin sekali tahu dirinya kemana.

"Um.. tidak kemana-mana, hanya berbicara pada Baekhyun. Sudah"

"Hanya berbicara padanya sampai dua jam?!" Luhan mengangguk.

"Kenapa memangnya?"

"Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja kau tidak boleh lagi bertemu dengannya" Luhan menautkan alisnya, merasa tidak terima tidak diperbolehkan bertemu lagi dengan sahabatnya.

"Kenapa tidak boleh, diakan sahabat ku" Luhan melepaskan pelukannya, menatap marah pada Kris.

"Kalo aku bilang tidak boleh ya tidak boleh. Menurutlah pada suamimu!" Emang dasarnya Kris yang pemarah, maka ia mudah terpancing dengan kemarahan Luhan.

PRANG

Luhan berjenggit kala Kris membanting guci disampingnya, seketika perasaan takut menghantui dirinya. Apa ia salah sudah membentak Kris? Itu guci kesayangan Kris, kalau ia sampai memecahkannya sendiri berarti ia telah sangat marah. "Kau tidak aku ijinkan kemanapun lagi" Mendengar itu perasaan takut Luhan sedikit bergeser, berganti perasaan marahlah yang menguasai dirinya.

"Aku tidak mau! Aku akan menemui Baekhyun jika aku ingin bertemu dengannya!"

PLAKK

"Menurutlah pada suamimu!" Luhan mematung, merasakan panas menjalari pipi sebelah kirinya. Ia telah ditampar, ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini, dan tentu saja ini membuat hatinya terasa di iris-iris. Luhan memegang pipinya yang menjadi sasaran tangan Kris tadi, perlahan liquid itu jatuh menuruni pipi gembilnya. Menatap Kris dengan terluka, berusaha agar Kris luluh dengan tatapannya. Namun usaha itu terlihat sia-sia, karena mata Kris sudah tertutup oleh kemarahannya.

"Kau bukan suamiku Kris!" Kris menegang mendengarnya, namun tak lama kekehan mengerikanlah yang keluar dari mulut berbisanya. "Kau bukan suamiku! Kau telah membohongiku, aku bukan istrimu dan aku sudah memiliki seorang anak bersama Sehun yang asli!" Luhan mundur beberapa langkah saat Kris memajukan langkahnya mendekati Luhan.

"Lalu kenapa? Apa aku salah?" Wajah Kris saat ini tak lain lagi layaknya seorang psikopat. Ia tetap berjalan mendekati Luhan yang berjalan mundur. "APA AKU SALAH?!" Luhan tersentak dan menangis, tidak pernah ia mendapati orang yang ia anggap Sehun—dahulu- ini bersuara dengan nyaring sampai menggema.

"IYA KAU SALAH!" Luhan balas berteriak membuat Kris semakin geram dengan sifat berontak Luhan. Dengan cepat ia berlari mengejar Luhan. Luhan kaget dan ia melarikan diri sampai ia terpojok dan langsung memasuki pintu didepannya, gudang.

"LUHAN! KAU TIDAK BISA LARI DARIKU!" Luhan memeluk tubuhnya yang bergetar, ia ketakutan sekarang. Kris ternyata sangat mengerikan. "LUHAN!" Kris menggedor-gedor dan mendobrak pintu itu berulang kali, namun tak kunjung terbuka juga karena Luhan menguncinya. "Kau tidak bisa lari rusa manis" Luhan bergidik mendengar suara Kris.

Luhan menutup mulutnya rapat agar isakan nyaringnya tak terdengar Kris diluar sana. Luhan segera teringat, ia langsung merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya. Dengan tangan bergetar, ia menghubungi Baekhyun.

Tut..

"Ya Luhan?"

"B-baekhyun..."

"Astaga, apa Kris berlaku kasar padamu?!" Luhan menggeleng tentu saja Baekhyun tidak melihatnya.

"Kris hampir menyerangku, tapi aku masuk ke gudang" Luhan menarik nafasnya yang sesegukan. "Datanglah lebih cepat Baek" Suara Luhan kembali bergetar.

"B-baik. Tunggulah Lu, aku segera kesana" Sambungan terputus, ia berdoa agar Baekhyun lebih cepat datang.

Luhan mengusap wajahnya yang penuh air mata. Ia tempelkan telinganya pada daun pintu dan merasa tidak ada bunyi sedikitpun, ia membuka pintunya dengan perlahan. Tidak ada Kris dimana-mana. Dengan sangat perlahan ia berjalan keluar dan melewati kamar Kris, Luhan berjalan mundur saat melihat layar laptop yang terbuka. Kemudian ia memasuki kamar Kris—yang kemarin juga kamarnya- dan menutup mulutnya secara refleks. Ternyata, foto-foto mereka yang ada di album itu hasil editan dari Kris. Pantas saja saat ia melihat semua foto itu terasa kosong dan ia tidak merasakan apa-apa saat melihatnya.

"Ternyata disini kau sayang" Luhan berjengit dan membalikkan badannya dengan cepat. Ia hendak melarikan diri namun Kris dengan cepat menangkapnya sehingga tubuh kurusnya berada pada dekapan Kris saat ini.

"Lepaass.. Tolong!"

"Haha.. Berteriaklah sayang.. Berteriak sesukamu, tidak ada yang mendengar suaramu di rumah sebesar ini" Luhan bungkam, ia berontak didekapan Kris tapi itu semua tidak ada apa-apanya bagi lelaki itu. "AAGH!" Dekapan Kris terlepas karena Luhan menggigit lengannya dengan kuat hingga membekas.

Luhan lari, berlari secepat mungkin untuk menghindari Kris. Ia keluar dari rumah Kris dan bersyukur saat tidak mendapati Kris dibelakangnya. Luhan sedikit mengutuk rumah Kris yang kelewat besar, halamannya saja sebesar ini. Luhan masih berlari, sesekali menoleh kebelakang untuk mastikan tidak ada Kris. Namun,

BRUKK

"Aghh.." Luhan meringis saat tubuhnya terpental, ia melihat mobil Kris didepannya, astaga kakinya pakai terkilir segala.

"Haha.. Mau kemana rusa yang malang? Kau tidak bisa pergi dari sini" Kris mendekati Luhan yang sibuk meringisi kakinya. Ia berjongkok dihadapan Luhahn dan memegang dagu itu dengan kasar. "Sepertinya ada hal lain yang harus kulakukan agar kau kembali padaku" Kris berdiri, dan siap memukulkan tengkuk Luhan dengan tongkat baseball yang daritadi di bawanya.

"Kris!" Luhan berteriak berusaha menghalau Kris yang hendak memukulnya dengan tongkat yang terbuat dari besi itu.

"Aku tidak dengar.." Kris semakin gila, dengan cepat ia ayunkan tangannya sebelum..

"Jangan bergerak!"

BRUKK

"Agghh.." Kris tersungkur saat salah satu polisi datang dan menindihinya.

"Baekhyun!" Luhan berusaha bangkit dan berjalan pincang kearah Baekhyun yang baru saja turun dari mobil khas rumah sakit jiwa.

"Astaga Lu!" Baekhyun segera menghampiri Luhan dan mendekap pria yang tubuhnya sama dengannya itu. "Kakimu kenapa Lu?" Baekhyun mengusap wajah Baekhyun dengan kalap.

"A-aku tak apa Baek—" Luhan menitikkan air matanya, ia merasa aman sekarang. Melihat Kris yang sedang di borgol oleh polisi ia merasa semuanya terselesaikan dan ia bisa kembali pada suami-nya yang sebenarnya, dan memperbaiki semua yang telah dihancurnya selama ini.

"AKU AKAN KEMBALI MENDAPATKANMU LUHAN!" Luhan memejamkan matanya mendengar teriakan Kris, ada sedikit rasa iba saat melihat pria itu diambil alih oleh beberapa perawat yang berbaju khusus rumah sakit jiwa. "LEPASKAN AKU BRENGSEK AKU INGIN MENGHAMPIRI ISTRIKU!" Baekhyun dengan segera mendekap tubuh Luhan yang kembali bergetar, membiarkan pria manis itu menangis di bahunya.

"Jangan menoleh.. Jangan menoleh.." Baekhyun menepuk-nepuk punggung Luhan dengan lembut yang dibalas oleh lelaki perparas manis itu dengan anggukannya. Hingga mobil tersebut pergi meninggalkan Baekhyun dan Luhan beserta polisi yang membawa mereka.

"Tugas selesai tuan, ada yang harus diselesaikan lagi?" Polisi tersebut bertanya dengan tegas, Luhan merasakan Baekhyun menggeleng dan berkata, "Antarkan saja kami pulang"

"Baik Tuan"

.

.

.

Disepanjang perjalanan, Baekhyun dan Luhan hanya diam di jok belakang bersama dua orang polisi didepan mereka, hingga sampai di flat sederhana Baekhyun yang terlihat nyaman, Luhan hanya diam sembari memperhatikan Baekhyun yang berterima kasih pada si polisi.

"Nah, ayo kita masuk" Luhan mengekori Baekhyun yang berjalan mendahuluinya, mata yang mirip rusa itu menyapu pekarangan rumah Baekhyun yang terdapat banyak bunga dan juga tanaman hias lainnya. Tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat kala mengingat rumahnya dan juga Sehun dipenuhi banyak pepohonan rindang. "Aku pulang..." Luhan tersadar saat mendengar suara Baekhyun yang cukup nyaring, dan tak lama terdengar langkah kaki bersahutan dari arah dalam.

"Baek—"

"Umma—"

"Luhan?"

"Lulu ahjumma?"

Luhan menatap dua orang yang berbeda usia itu dengan bingung, membuat yang paling menjulang disana salah tingkah dan menggaruk tengkuknya dengan canggung, Baekhyun hanya memutar bola matanya malas melihat tingkah kedua malaikat di hidupnya itu.

"Ehmm.. Luhan, selamat datang kembali.." Yang paling tinggi disana membungkukkan badannya yang diikuti oleh yang lebih muda dan juga lebih kecil, membuat Luhan tersadar dan ikut membungkukkan badannya.

"Ahh.. Sudah sudah ayo masuk dulu biar kita bicarakan didalam. Jesper, ajak adikmu tidur oke? Ini sudah malam dan kalian besok ingin ikut appa ke café iyakan?" Baekhyun menggendong anak tertuanya sembari berjalan ke ruang keluarga, dimana Jackson yang masih asik dengan leggo-nya. Jesper mengangguk digendongan umma-nya dan berontak minta diturunkan, lantas Baekhyun menurunkannya dan terkekeh melihat Jesper berlari menghampiri Jakcson.

"Dia anakmu ya?" Baekhyun menoleh dan tersenyum kearah Luhan, lalu mengangguk.

"Kau lupa juga? Bahkan mereka hampir setiap hari mengunjungi rumahmu dulu karena permintaan Ziyu" Luhan hanya diam tak membalas kalimat Baekhyun. Membuat Baekhyun menghela nafasnya pelan. "Yasudah sebaiknya kita beristirahat sekarang. Luhan kelihatan lelah, kau bisa menggunakan kamar kosong disana Lu" Luhan melihat kamar yang ditunjuk Baekhyun dan ia tersenyum.

"Terimakasih Baekkie" Luhan beranjak dan sebelum berjalan ia mendengar suara berat berbicara.

"Kalau kau ingin bertemu Sehun besok kau bisa ikut denganku pagi ke café yang aku kelola bersamanya" Luhan membalikkan badannya cepat mendengar nama Sehun. "Kami memutuskan membuka café karena kami tidak punya penghasilan untuk menghidupi kebutuhan" Luhan hanya diam mendengarkan Chanyeol, tak tahu harus berkata apa. "Hanya itu yang ingin aku sampaikan, kalau kau ingin ikut denganku jam 9 kita sudah harus berangkat dan datang lebih awal. Aku akan menghubungi Sehun agar dia juga datang lebih awal. Kita bicarakan ini terlebih dahulu" Luhan mengangguk semangat dan matanya berair dengan cepat.

"Terimakasih..."

"Chanyeol"

"Terimakasih Chanyeol. Terimakasih Baekkie" dan setelah itu Luhan memasuki kamar yang dtunjuk Baekhyun dan segera menjemput alam bawah sadarnya agar bisa bangun lebih awal. Meninggalkan Baekhyun yang sedang dirangkul Chanyeol sembari menatap pintu kamar yang tadi dimasuki Luhan.

"Aku tak tahu apa tanggapan Sehun setelah melihat Luhan Yeol" Chanyeol mengusap bahu istrinya lembut.

"Aku yakin Sehun tidak menyimpan dendam pada istrinya sendiri sayang" Baekhyun mengangguk.

"Ya, aku harap juga begitu" Dan merekapun memasuki kamar untuk segera mengistirahatkan pikiran dan tubuh mereka yang lelah.

.

I'm Sorry

.

Baekhyun keluar kamar setelah selesai membersihkan diri dan terdiam melihat Luhan yang sibuk berkutat dengan dapurnya.

"Kau yang memasak semuanya Lu?" Pekerjaan Luhan terhenti dan ia membalikkan tubuhnya lalu tersenyum sangat manis pada Baekhyun, senyum yang sangat dirindukan oleh orang-orang terdekatnya.

"Iya, kupikir kalian akan kelelahan jika harus memasak lagi, dan kebetulan aku tidak lelah jadi aku masak sekalian. Dan ini untuk Sehun dan juga Ziyu" Luhan menutup kotak bekal yang sudah disiapkannya dan berisi masakan yang Luhan masak pagi ini. Baekhyun tersenyum pada Luhan.

"Kita bawa saja semua makanannya biar kita makan bersama disana" Luhan mengangguk menyetujui. Dan setelahnya mereka disibukkan dengan beberapa makanan yang dimasukkan kedalam wadah dan mencuci peralatan masak serta mangkuk-mangkuk yang sempat dipakai.

"Sudah siap?" Baekhyun dan Luhan menoleh bersamaan saat mendengar suara berat dari arah ruang santai. Dan mereka mendapati Chanyeol beserta anak kembarnya yang sangat tampan dan juga lucu di genggaman tangan besar Chanyeol. Baekhyun mengangguk.

"Sudah, ayo kita berangkat" Luhan mengeringkan tangannya dan memaksa Baekhyun membiarkan dirinya yang membawa tas berisi banyak makanan tadi. Baekhyun menghela nafas lalu menggendong Jesper berjalan menuju mobil yang sudah dipanaskan oleh Chanyeol.

Luhan melihat keluar jendela, berharap Sehun akan menerima dirinya kali ini. Jantungnya berdegup semakin kencang kala dirinya bersama keluarga kecil Park sudah sampai didepan café yang dikelola oleh suaminya dan Chanyeol itu. Dan badannya seakan tak bisa bergerak saat melihat mobil yang ia ingat terparkir didepan rumahnya bersama Sehun itu sudah terparkir terlebih dahulu disana.

"Lu," Luhan tersentak saat Baekhyun ternyata sudah berada disampingnya dan membuka pintu mobil yang ia duduki sekarang. "Ayo turun," Dan senyum Baekhyun mampu menghangatkan tubuh Luhan yang terasa beku. Dengan uluran tangan Baekhyun, ia menyambutnya dan turun dari mobil.

"Sehun!"

"Sebentar!" Luhan semakin menegang kala mendengar sahutan dari arah dapur. Itu suara suaminya, suara yang kemarin sangat datar padanya sekarang terasa hangat setelah mendengar panggilan dari Baekhyun.

"Kau sedang apa ayo makan bersama!"

"Iya cerewet aku segera kesana" Luhan sedikit terkekeh mendengar sahutan kali ini. Dan kikikannya segera terhenti kala melihat anak kecil yang sangat mirip dengannya sedang berlari kearah Baekhyun namun segera terhenti kala melihat dirinya.

.

.

"Sehun!" Ah sudah datang rupanya. Batin Sehun saat mendengar suara Baekhyun dari arah luar.

"Sebentar!" Sehun mengaduk teh melati yang ia buat didalam teko.

"Kau sedang apa ayo makan bersama!" Sehun sedikit menggerutu, biasanya juga makan bersama kan.

"Iya cerewet aku segera kesana" Sehun kembali merutuki Baekhyun yang sangat cerewet itu. "Ziyu samperin Baek ahjumma duluan ya, appa siapkan teh terlebih dahulu" Ziyu yang sedang asik dengan psp nya hanya mengangguk dan berlari keluar dari dapur, namun langkah kaki kecilnya segera terhenti kala melihat seseorang yang sangat dirindukannya selama ini. Seseorang yang kemarin juga dating kerumahnya namun ia menolak untuk mengatakan kalau itu benar-benar dia. Dan kali ini matanya benar-benar tidak salah lihat lagi, manik yang mewarisi ibunya itu menangkap siluet seseorang yang memang sangat dirindukannya.

"U-umma…" Lirihnya dan tidak ada yang mendengar selain Luhan yang melihat pergerakan bibir mungil itu. Luhan hanya diam tak mampu berkata-kata, jadi benar bocah yang dihadapannya ini adalah anaknya?

"Kenapa Sehun lama sek— Ah! Ziyu, kemari nak" Baekhyun mendekati Ziyu yang masih memandang Luhan tak berkedip, membuatnya terkekeh kecil lalu menggendong tubuh yang semakin kurus itu kegendongannya. "Ziyu merindukan umma kan?" Ziyu hanya diam dengan pandangan masih menatap Luhan tanpa berkedip. "Sekarang, umma Ziyu ada didepan Ziyu jadi, peluk umma sayang" Baekhyun berjalan mendekati Luhan dengan Ziyu digendongannya, Baekhyun dapat merasakan tubuh Ziyu yang menegang kala mereka sudah didepan Luhan.

"Ziyu.." Luhan berusaha memasang senyum terbaiknya untuk anaknya, dan mengusap pipi yang terasa tirus itu dengan lembut.

"Umma.."

"Umma disini sayang"

"Hiks.."

BRUKK

Luhan hampir terjungkal kala Ziyu melompat digendongan Baekhyun dan beralih memeluk dirinya dengan erat. Beruntung Luhan mempunyai refleks yang cukup baik walaupun tubuhnya masih terasa lelah, Luhan memeluk Ziyu tak kalah erat.

"Umma.. Ziyu rindu.. Ziyu rindu umma" Ziyu menyembunyikan wajahnya di leher Luhan dan menangis hebat disana. Luhan ikut meneteskan air matanya karena merasa hatinya seperti terhimpit mendengar tangis Ziyu yang begitu memilukan. Dengan penuh kasih sayang, Luhan mengusap punggungnya dengan lembut dan mengucapkan beribu-ribu permintaan maaf karena sudah meninggalkan Ziyu selama ini. "Umma jangan pergi.. Jangan lagi.." Ziyu menggeleng frustasi karena ia tak ingin kehilangan ibunya lagi suatu saat nanti, membayangkan itu membuat Ziyu kembali meraung hebat dipelukan ibunya.

"Tidak sayang, umma tidak akan kemana-mana lagi" Melihat itu membuat Baekhyun tersenyum haru lantas memeluk lengan Chanyeol dan menangis disana, Jesper serta Jackson yang melihat itu hanya diam menyaksikan seakan mereka mengerti apa yang sudah terjadi disini.

"Ziyu—Apa yang kau lakukan disini?" Luhan mendongak dan melihat Sehun—Sehun yang sebenarnya- berdiri tak jauh didepannya. Suara itu terdengar dingin setelah melihat wajah Luhan. Sehun meletakkan nampan berisi teh hangatnya dimeja terdekat lantas berjalan gusar kearah Luhan dan mengambil Ziyu untuk dipeluknya dengan sekali sentak membuat Ziyu terkejut dan meronta dipelukan Sehun.

"Appa, Ziyu masih ingin memeluk umma" Rengeknya,

"Ziyu mau es krim? Ayo kita kedapur appa bikinkan Ziyu es krim" Sehun berlalu saja dari situ meninggalkan semua orang dengan pandangan tercengang. Luhan meremas dada kirinya kala melihat respon Sehun seperti itu terhadapnya.

"Sehun.."

"Appa, umma memanggil" Ziyu kembali membuka suaranya namun Sehun tentu saja tidak menjawabnya,

"Aku sudah makan dirumah, jika ingin makan silakan saja aku dan Ziyu kedapur" Perkataan dingin itu mampu membuat emosi seorang Byun Baekhyun bangkit.

"Kau keterlaluan Sehun!" Teriaknya menggema, Jesper dan Jackson saja sampai terkejut mendengar teriakan marah ibunya lalu berjalan pelan mendekati Chanyeol dan ayahnya itu lantas berjongkok lalu memeluk mereka berdua. "Kau tidak tahu perjuangan Luhan untuk bisa keluar dari rumah bajingan itu!" Sehun tetap melangkahkan kakinya, dan Luhan menunduk menahan tangis. "Aku perintahkan kau berhenti Sehun!" Dan gertakan itu tentu saja tak dihiraukan oleh Sehun. "Kau tahu jika Luhan hampir mati saat aku datang kerumah bajingan itu?! Luhan hampir dipukul menggunakan tongkat baseball asal kau tahu Oh Sehun!" Sehun menghentikan langkahnya.

"Lalu apa peduliku?"

"Kau—"

"Sehun.." Kalimat Baekhyun terhenti kala Luhan mengusap lengannya dan tersenyum miris setelah memanggil Sehun dengan bergetar dan seperti menahan tangis.

"Terserah!" Baekhyun mendudukkan dirinya disalah satu kursi didekatnya dan menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya dimeja. Luhan melihat Baekhyun lalu melihat Chanyeol yang mengangguk padanya, meyakinkan dirinya untuk maju dan meminta maaf pada Sehun atas perlakuannya selama ini.

"Sehun.." Sehun masih diam ditempatnya dengan Ziyu digendongannya memandang Luhan lalu bergumam 'umma' Luhan tersenyum lalu menaruh jari telunjuknya pada bibirnya mengisyaratkan untuk diam dan Ziyu menurutinya.

"Sehun, aku sungguh minta maaf dengan apa yang aku lakukan dahulu. Tapi, aku benar-benar tidak tahu kalau aku mengalami amnesia dan sialnya Kris mengaku kalau dirinya adalah dirimu" Luhan memulai ceritanya dengan langkah masih mendekati Sehun perlahan. "Aku mengingat ini tadi malam bahwa sebelum aku mengalami amnesia aku sebenarnya ingin keluar dari rumah Kris namun nasib berkata lain padaku, Kris melihatku ingin keluar dari rumahnya dan ia mengejarku lalu aku berlari menghindarinya, sampai saat aku ditangga, Kris dengan sengaja mengaitkan kakinya ke kakiku sampai aku terjatuh dan ya.. Akhirnya aku amnesia lalu Kris mengatakan kalau dirinya adalah Sehun" Sehun masih tak bergerak, Luhan dengan langkah bergetar karena posisinya sudah dekat dengan Sehun ia berjalan kehadapan suaminya yang sedang memandang kosong. "A-aku minta maaf, tolong maafkan aku Sehun" Luhan meneteskan liquidnya dan berusaha memegang tangan Sehun namun ditampiknya membuat Luhan kembali tersenyum miris.

"Aku tahu aku tak termaafkan. Tapi aku mohon jangan benci aku Sehun" Sehun masih tak meresponnya.

"Aku tak tahu harus berbuat apa jika kau membenciku, aku masih menyayangimu dan Ziyu, aku yakinkan itu" Luhan yang sedari tadi menatap mata Sehun hanya bisa tersenyum miris—lagi- karena suaminya itu masih tak memberikan respon berarti untuknya.

"Aku mencintaimu" Luhan kembali menangis kala kalimat itu terucap dari bibirnya. Dan pandangan Sehun kali ini menatap tepat di manik rusa Luhan.

"Aku mencintaimu Oh Sehun. Sangat mencintaimu"

GREPP

Oh, Tuhan, Luhan ingin menangis sekarang. Suaminya yang sebenarnya, yang sudah ia sakiti, yang sudah ia buat merasa kehilangan sekarang tengah memeluknya erat. Baekhyun dan Chanyeol yang sedari tadi menyaksikan hal itu telah menitikkan air matanya.

"Sehun.."

"Sstt.. Biarkan seperti ini sayang" Dan akhirnya air mata yang sempat ditahan oleh Luhan pun kali ini luruh dengan deras karena mendengar panggilan itu dari Sehun yang sebenarnya. Dengan perlahan, Luhan membalas pelukannya dan menciumi pipi Ziyu yang sedari tadi berada dipelukan Sehun.

"Umma jangan tinggalkan Ziyu dan appa lagi" Celetuknya dengan tangan mengelus pipi Luhan.

"Tidak sayang, umma tidak akan kemana-mana lagi" Sehun mengecup lama pipi Luhan lalu menyatukan kening mereka. Bahkan Sehun menitikkan air matanya karena ia telah mengembalikan Luhan kedalam pelukannya.

"Tolong jangan tinggalkan malaikat kecil kita lagi Lu" Luhan mengangguk dengan cepat mendengar permintaan Sehun. "Aku mencintaimu Oh Luhan" Luhan kembali terisak mendengarnya, sungguh ia bahagia sekali. "Jangan ulangi kesalahan yang sama" Luhan kembali mengangguk cepat.

"Aku tidak akan mengulanginya Sehun" Sehun tersenyum tampan lantas mengecup bibir Luhan sekilas, tidak ingin meracuni mata para bocah disini.

Dan mereka semua tersenyum pada akhirnya. Baekhyun dengan hati tenang karena sudah mengembalikan Luhan pada Sehun dan mereka yang bahagia masing-masing tidak ada lagi sedih diantaranya. Café terlihat lebih ramai dari biasanya dan Luhan membantu sebisa dirinya dan sekarang waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam. Luhan mendudukkan dirinya di kursi setelah menyelesaikan pekerjannya membersihkan meja menatap pemandangan laut yang bersinar terkena cahaya bulan. Lalu tersenyum karena kebahagiaan yang sesungguhnya sudah ia dapatkan.

"Lelah hm?" Luhan tersentak kala merasakan sebuah tangan melingkar di lehernya lalu menoleh dan langsung mendapatkan kecupan dibibirnya. Luhan menikmati itu semua. "Ayo kita pulang" Luhan hanya mengangguk lalu menggendong Ziyu yang sudah siap untuk pulang lalu mereka berpamitan pada Chanyeol dan Bekhyun yang sudah berada dalam mobil dan merekapun pulang bersama-sama dengan arah yang berbeda.

.

"Ziyu sudah tidur?" Luhan menoleh dan mendapati Sehun shirtless dengan handuk dikepalanya dan hanya memakai bokser, membuat pipinya entah mengapa terasa panas.

"Iya, baru saja aku dari kamarnya" Luhan yang hendak merebahkan tubuhnya dikasur tiba-tiba terhenti karena Sehun menariknya kedalam pelukan hangat pria itu. Luhan hanya diam lalu membalas pelukannya dan bersandar nyaman pada dada Sehun.

Setelah cukup lama dalam posisi itu, Sehun melonggarkan pelukannya dan menatap wajah yang selama ini sangat ia rindukan berada didepannya, berada dekat dengannya membuat Sehun secara naluriah meniadakan jarak mereka dan mencium bibir yang sangat lama ia nantikan itu dengan lembut. Luhan tersenyum disela-sela ciumannya, meletakkan tangannya di leher Sehun dan menikmati ciuman pria itu. Dan dirinya menyesal karena sudah menyakiti pria yang sedang berada di dekapannya ini.

"Hngh.." Luhan melenguh kala Sehun menerobos mulutnya menggunakan lidahnya. Dan setelah itu Luhan merasakan perutnya yang bergejolak, dengan berat hati ia mendorong Sehun lalu berlari kearah kamar mandi yang ada dikamarnya, berusaha memuntahkan isi perutnya karena sumpah demi apapun perutnya tengah mual hebat namun apa daya hanya air liur yang keluar membuat Luhan kehabisan tenaga lalu bersender pada dinding. Sehun menghampirinya.

"Ada apa Lu? Kau sakit?" Sehun dengan segera membantu Luhan berjalan menuju kasur mereka dan menundukkan Luhan dipinggir kasur lalu ia memberikan segelas air untuk istri cantiknya itu. Namun tiba-tiba Luhan menangis membuat dirinya panic setengah mati lalu memeluk Luhan dan mengusap punggungnya dengan lembut. "Sayang, ada apa hm"

"Sehun.. Maafkan aku"

"Iya aku sudah memaafkanmu sayang" Luhan menggeleng dipelukan Sehun lalu melepaskan pelukan mereka dan menatap Sehun dengan pandangan bersalah.

"Bukan itu, tapi Sehun.. Aku.." Luhan kembali terisak dan Sehun kembali menariknya kedalam pelukannya. "Sehun, apa kau tetap memaafkanku jika sekarang aku tengan mengandung anak Kris?" Sehun terkejut setengah mati mendengar pernyataan Luhan, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal dipunggung Luhan. Namun ia juga tak bisa menyalahkan Luhan atas insiden ini karena ia yakin ini bukan keinginan Luhan dan mengingat kalau Luhan mengalami amnesia bersama bajingan Kris itu. Dan dengan menekan amarahnya, Sehun menenangkan Luhan.

"Tak apa sayang. Kita rawat bersama-sama oke?" Luhan sekali lagi menangis di dekapan Sehun. Merasa Sehun sangat baik terhadapnya. "Kita tidur sekarang, besok kita akan mengantar Ziyu kesekolahnya, sudah jangan menangis" Sehun tersenyum simpul dan menghapus air mata Luhan yang terus-menerus berjatuhan dari manic rusanya. Lalu Sehun menidurkan tubuh mereka dan menarik selimut sampai menutupi dada Luhan dan memeluk istri cantiknya—yang sialnya tengah mengandung anak dari bajingan itu- kedalam dekapannya.

"Kenapa kau terlalu baik padaku Sehun" Tanya Luhan dengan suara lirih, Sehun kembali tersenyum pada Luhan.

"Karena aku mencintaimu sayang" Luhan tak mampu berkata setelahnya dan hanya menyembunyikan wajahnya pada dada Sehun dan setelah itu mereka tertidur dengan perasaan Sehun yang sedikit kecewa karena Luhan tengah mengandung anak Kris. Dan perasaan Luhan yang sangat menyesal karena sudah menyakiti malaikat hidupnya yang kelewat baikpada dirinya yang berlinangan dosa ini.

Maafkan aku, tapi sungguh aku mencintaimu Sehun.

.

FIN

.

.

Haaahhhh… Dan berakhir dengan gajenya. Ovie gatau mau ngapain. Yang pasti Ovie mau minta maaf karena udh anggurin ff ini selama berbulan-bulan. Semoga masih banyak peminatnya ya.

Cuma mau minta tanggapan kalian aja sama chapter ini. Gimana? Apa skill nulis Ovie lumayan baik atau malah tambah buruk karena udah lama ga nulis :(

Yaudah deh, Thanks buat yang udah review di chapter sebelumnya:

ElisYe Het; tiehanhun9094; Arifaohse; panypany; junia. angel. 58; Joan363; khalidasalsa; wenny. widyasari50; deerwinds947; fera95; parkchanhyun21; msluhan87; meliarisky7; BigSehun'sjunior; ramyoon; nisarama; Baby Lu; Sofia; MyNameIsHuang; V3 pitchezta; choiseunghan17; suhokim5; hunhan; Vivi. OH; ghefiraa01

Makasih udah baca ff Ovie yang super duper gaje dan bikin kesel karena wordsnya suka dikit ini.

EXO-L Jjang!