"Uchiha memang sebuah kutukan." Homura ikut bicara, "Tidak leluhur, tidak keturunannya, semuanya selalu membuat masalah. Madara, Itachi dan Sasuke!"
Tsunade baru akan membuka suara, namun suara Barithon kecil membuatnya menutup kembali mulutnya.
"Kau tua bangka jangan bicara macam-macam!" ucap Yuki setengah berteriak, "Ayahku orang baik. Kau tidak berhak menghinanya."
"Yuki …" seru Naruto tidak suka ketika putranya bicara kurang sopan.
"Tapi itu memang benar, aku tidak suka orang lain menjelek-jelekkan ayah."
"Kau, bocah!" seru Koharu, "Tahu apa tentang penghianat Uchiha Sasuke."
Emosi Yuki semakin naik. Sudah ia bilang kalau ia tidak suka ayahnya dihina. Namun dua tua bangka di depannya semakin membuat telinganya panas. Perlahan pupil matanya berubah, sementara itu ia tidak berhenti bicara.
"Kau … mata itu …." Seru Koharu dan Homura bersamaan. "Tidak mungkin!" ucap mereka tidak percaya.
"Aku tidak akan memaafkan mereka yang menghina ayah. Kalian pantasnya pergi ke neraka. Ka-"
"NAMIKAZE YUKI … BERHENTI BICARA KATAKU!" sela Naruto dengan berteriak, "Berhenti mengumpat. Ayahmu tidak pernah mengajarimu berkata kasar kepada orang tua," lanjut Naruto sedikit menurunkan nada bicaranya.
Semua yang ada di situ semakin terkejut ketika mendengar nama marga Yuki. Namikaze … bukankah itu nama marga Hokage keempat? Astaga … ada apa ini sebenarnya?
"Tapi mereka keterlalauan ibu! Aku tidak suka-"
"Berhenti kata ibu! Atau ayahmu akan semakin sakit."
"Aku tidak suka-" ucap Yuki menoleh ke belakang, membuat Naruto terkejut ketika melihat mata Yuki berubah. "-mereka menghina ayah!" lanjut Yuki.
Sharingan! Naruto menatap mata penuh kebencian yang pernah ia lihat di mata Sasuke. Anaknya mempunyai Sharingan! Tapi sejak kapan? Ia segera menggendong Yuki dan membawanya keluar dari rumah sakit. Ia harus membantu Yuki untuk mengembalikan pupil mata anaknya seperti semula. Tidak ada yang boleh tahu tentang Yuki yang seorang Uchiha.
.
.
.
Naruto Fanfiction
Present
Naruto shippuden © Masashi Kishimoto
Truth, That I Love You © Ran Hime
Twitter: ranhimeuchiha
M Rated
Romance, Angst
OOC, Canon, Typo, Shonen-ai, Alur cepat dan alur maju mundur xp.
.
.
.
Chapter 13
.
Sesekali Naruto menghela nafas sembari mengelus kepala Yuki yang kini ada di dada bidangnya itu. Bocah itu belum juga mau menjawab pertanyaan darinya. Bocah itu sedari tadi tetap berada di posisinya, merangkul pinggangnya dan menyembunyikan wajahnya di dada sang ibu. Sekali lagi Naruto menghela nafas. Sejak kapan putranya bisa mengeluarkan Sharingan. Kenapa ia tak pernah tahu tentang hal itu.
"Katakan pada Ibu, Yuki! Sejak kapan kau bisa mengeluarkan mata itu?" tanya Naruto lirih. Matanya kosong menatap dedaunan yang sedang dipermainkan sang bayu.
"Satu tahun yang lalu. Sebelum Ayah pergi bekerja jauh." Jawab Yuki setelah lama terdiam dalam pelukan Naruto.
"Dan berapa kali kau memperlihatkan mata itu?"
"Dua…" seru Yuki sembari mengingat hal itu, "bukan, tapi empat kali!" ralat Yuki kemudian.
"Dan Ayahmu-"
"Ayah sudah tahu!" potong Yuki, "bahkan ayah yang selalu membantu Yuki untuk menghilangkan mata itu."
Naruto merasa tertohok mendengar pengakuan sang anak yang bahkan tak pernah bisa berbohong itu. Astaga… empat kali Yuki memperlihatkan Sharingan tapi ia tak pernah tahu. Naruto merasakan sesak di ulu hatinya ketika mengingat bahwa Sasuke sudah mengetahui itu, namun tak berniat memberitahukan hal tersebut kepada dirinya. Sebenarnya, apa yang ada di pikiran Uchiha itu? Bukankah dia adalah orang tua Yuki juga!
"Ayah bilang, Ibu tidak boleh tahu karena Ayah tidak ingin Ibu sedih melihat Yuki aneh." Seru Yuki mulai keluar dari dekapan Naruto. Ia mendongak dan menatap Uzumaki tersebut, "Ibu tidak membenci Yuki 'kan karena ini?"
Naruto menatap wajah Yuki. Ia menggeleng pelan lalu tersenyum. Sejujurnya ia hanya sedikit terkejut karena putra semata wayangnya bisa mengeluarkan Sharingan lebih dari tiga kali tapi ia tak pernah tahu.
"Sebaiknya kita jenguk Ayahmu dulu."
Yuki turun dari pangkuan Naruto. Naruto bangkit lalu mereka melangkah bersama ke dalam gedung rumah sakit.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
Naruto membuka pintu kamar dimana Sasuke di rawat. Di sana, di atas ranjang itu, Sasuke tengah tertidur dengan lelap. Ia terlihat sedikit baik.
Perlahan Naruto melangkah mengikuti Yuki yang telah ada di samping Sasuke. Ia terlihat ingin menangis lagi, namun sebisa mungkin ia tahan.
"Ayah…" seru Yuki sembari memeluk pinggang Sasuke, "Ayah baik-baik saja, kan?"
Sasuke membuka mata perlahan lalu menatap wajah sedih anaknya. Ia meraih wajah Yuki lantas mengusap pipi yang kini mulai basah.
"Maaf!" seru Sasuke lirih, "Ayah sudah membohongi Yuki.
Yuki menggeleng. Ayahnya tidak pernah membohongi dirinya. Ayahnya tidak pernah bilang kalau dia bukanlah Shinobi.
"Ayah ingin bicara dengan ibumu!"
Yuki mengangguk mengerti maksud sang ayah.
"Kau ikutlah dulu dengan paman yang ada di pintu"
Mendengar ucapan Sasuke, Yuki dan Naruto segera menoleh ke arah pintu. Di sana nampak Konohamaru tengah berdiri. Naruto sedikit terkejut karena tidak menyadari kedatangan mantan muridnya itu. Sedangkan Konohamaru yang sedari awal memang telah berbicara dengan Sasuke, hanya tersenyum menatap bocah raven tersebut.
"Kami pergi dulu!" seru Konohamaru sembari meminta ijin untuk membawa Yuki.
Sasuke dan Naruto hanya mengangguk.
Setelah kepergian Konohamaru dan Yuki, Naruto mulai mengambil duduk di kursi di samping ranjang Sasuke. Ia meletakkan kepalanya di pinggiran ranjang Sasuke lalu memeluk pinggang suaminya tersebut.
"Kenapa kau tidak pernah bilang tentang semuanya?" ujar Naruto lirih, "Kau sakit parah dan anak kita bisa mengeluarkan Sharigan."
Sasuke nampak tidak terkejut mendengar kalimat terakhir dari Naruto. Pada akhirnya Naruto memang akan mengetahui semuanya sendiri. Itulah sebabnya ia memilih merahasiakan hal itu.
"Dari awal aku memang sudah sekarat." Ucap Sasuke.
Mata Naruto melebar mendengar itu. Dari awal? Apakah dari mereka bertemu kembali. Ataukah dari terakhir kali mereka berpisah setelah perang 19 tahun yang lalu. Jika selama itu, mengapa Sasuke mampu bertahan hingga belasan tahun. Tubuh Naruto bergetar mengingat Sasuke bertahan dengan bantuan orang lain. Ia terlihat bodoh mengingat ketika mengetahui semua itu terakhir kali. Suaminya sakit tapi ia tidak pernah curiga.
"Apa yang dikatakan Itachi memang benar," lanjutnya sembari mengusap kepala Naruto, "Mata itu terkutuk, Sharingan itu kutukan. Dan seharusnya aku tidak pernah menggunakan mata itu."
"Apa maksudmu?" tanya Naruto sedikit bingung. Ia mengangkat kepalanya dan menatap Sasuke.
"Mangekyu Sharingan bisa membuat pemiliknya buta." Ucap Sasuke menatap wajah Naruto yang nampak mengabur dipandangannya.
"Tapi kau sudah mendapatkan mata Itachi. Dan seharusnya setelah transplantasi hari itu, kau tidak akan kehilangan penglihatanmu."
"Tapi Madara, maksudku Tobi, tidak pernah memberiku mata Itachi. Mata kakakku sampai saat ini ada di suatu tempat."
"Apa?" Naruto tampak terkejut mendengar penuturan dari Uchiha di depannya.
Jika selama ini mata Itachi tak pernah ditransplantasi ke mata Sasuke, lantas di mana mata itu. Lalu bola mata milik siapa yang kini ada di mata Sasuke. Naruto merasakan kepalanya semakin berdenyut menerima kenyataan demi kenyataan yang selama ini Sasuke sembunyikan.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Tak ada yang membuka suara satupun. Sedari keluar dari rumah sakit, Yuki sepertinya enggan untuk bicara. Ia tidak suka dengan Konoha dan juga seluruh penghuninya. Sejujurnya, ia enggan berada di sini kalau bukan karena ayahnya sakit. Yuki memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di pasar. Ia menghela nafas, seharusnya hari ini ia bisa jalan-jalan bersama sang ayah ke pasar seperti yang mereka rencanakan empat hari yang lalu. Tapi semuanya harus tertunda karena keadaan yang tidak memungkinkan.
"Emm… ka-"
"Yuki… namaku Namikaze Yuki!" seru Yuki memotong kalimat Konohamaru.
"Benar kau anak kak Naru!" ucap Konohamaru tanpa basa-basi.
"Hn!" jawan Yuki singkat seperti ayahnya. Ah, iya! Pernah sekali ia melihat ayahnya mengatakan kata itu dan langsung membuat ibunya marah. Mengingat itu, tanpa sadar membuat Yuki tersenyum.
"Tapi kau tidak mirip sama sekali!"
"Hn!"
Tiba-tiba muncul kedutan di kepala Konohamaru ketika mendengar bocah berambut raven itu hanya mengeluarkan kata 'Hn' andalan milik Sasuke.
"Kau…"
"Aku mirip Ayah, paman!" seru Yuki sembari menghentikan langkahnya. Ia menatap sesuatu yang kini sedang diperjualbelikan oleh pedagang kepada seorang wanita.
Konohamaru mengikuti Yuki yang tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia mengikuti arah pandangan yang bocah berumur 9 tahan tersebut, yang tengah memandang ayam-ayam. Ayam…. Ingin rasanya Konohamaru tertawa, namun sebisa mungkin ia tahan. Ayam… Konohamaru baru sadar kalu bocah itu memang mirip Sasuke yang mempunyai gaya rambut seperti ayam.
"AYAAAAMMMM ….. MATI KALIAN!" seru Yuki sembari berlari ke arah ayam-ayam tersebut tanpa bisa dicegah oleh Konohamaru.
Bocah Sarutobi tersebut terkejut dan tak percaya akan tingkah anak Uchiha-Uzumaki yang dapat menghabisi ayam-ayam dengan kayu yang entah di dapat dari mana itu, dalam hitungan menit.
"Astaga, kau membuat masalah dengan nenek galak, Bocah!" seru Konohamaru sembari menepuk jidatnya.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
Tsunade tak menyangka akan kondisi Sasuke yang sebenarnya. Awalnya ia tak percaya akan hal tersebut. Namun setelah ia memeriksanya dan mendapatkan hasil pemeriksaan dari ninja medis yang lainnya, ia baru percaya akan hal itu.
Sejujurnya ia bingung, mengapa Uchiha tersebut malah menyembunyikan tentang kesehatannya yang sedang buruk itu dari Naruto. Ya, ia tahu akan hal itu dari Ino. Ino bilang, Naruto tidak tahu sedikitpun akan sakitnya Sasuke.
"Lalu bagaimana ini, Hokage?" tanya Ino membuat Tsunade terbangun dari lamunannya.
Senju terakhir itu mendongak, menatap Ino yang nampak cemas akan Kondisi Sasuke. Sejujurnya masih ada satu harapan aagar Sasuke bisa selamat. Tapi apakah 'dia' mau membantu. Apakah istri Hyuuga Neji itu mau membantu untuk mengobati Sasuke, mengingat perempuan itu selama ini adalah pihak yyang tersakiti.
Tsunade memijat pelipisnya, mencoba mengurangi rasa sakit di kepalanya. "Kita akan meminta bantuan 'dia'!"
"Tapi, Hokage?" seru Ino yang seakan tidak setuju akan keputusan Tsunade.
Perempuan itu tak akan mau membantu. Bahkan selama ini perempuan itu seolah ingin membuat hidup mantan orang yang ia sayangi menjadi berantakan.
"Naruto yang harus meminta bantuan 'dia' sendiri!" ucap Tsudane sembari menghela nafas. Sebagai ninja medis menolong Sasuke bukanlah hal berat, namun karena usianya yang semakin bertambah itu yang tidak memungkinkan dirinya membantu Sasuke.
Tok … tok… tok
Semua pasang mata menatap ke arah pintu yang sedang diketuk seseorang. Tak berapa lama kemudian pemuda berambut pirang melangkah ke arah Ino dan bergabung bersama yang lainnya di ruangan Tsunade.
"Anda memanggil saya Hokage sama?" seru Naruto memberi hormat kepada Senju terakhir tersebut.
Tsunade nampak terkejut mendengar kata sapaan untuknya. Hogake sama? Di mana panggilan yang biasanya. Nenek atau apalah yang biasanya Naruto tujukan kepada dirinya. Benarkah Naruto telah berubah. Apakah hidup bertahun-tahun dengan Sasuke telah mempengaruhi sifatnya yang ceroboh.
Tsunade mmenghela nafas, "Aku ingin membicarakan soal Sasuke."
"Saya akan membawanya pulang setelah keadaannya membaik," seru Naruto dengan mimic yang datar.
"Berhentilah bersikap seolah kita tidak pernah mengenal, Naruto!" seru Tsunade sedikit berteriak. Tidak bisakah Naruto seperti dulu. Ia sudah amat lelah menghadapi tetua desa yang semakin cerewet itu, dan kini Naruto membuat hatinya sesak. Pemuda yang dianggapnya cucunya sendiri itu seolah tak mengenal dirinya.
Naruto menghela nafas. Sejujurnya ia enggan berhadapan dengan Konoha. Ia tidak mau lagi berhubungan dengan Shinobi.
"Lalu aku harus bagaimana?" ucapnnya sambil menarik nafas panjang, "Aku bukan lagi bocah 16 tahun yang selalu berbuat ceroboh, aku sudah menikah dan menjadi seorang 'ibu'." Lanjutnya sembari menatap Tsunade.
Tsunade menutup kedua matanya. Apakah jika dari awal Sasuke mengatakan niatnya untuk bersama dengan Naruto tanpa membawanya kabur, semuanya tidak akan serumit ini. Apakah Naruto tidak akan berubah sedingin ini dengan dirinya? Apakah? Sungguh konyol seorang Tsunade masih mengharapkan masalalu bisa ada dihadapannya lagi. Karena ia tahu semua tak mungkin terulang. Sama tidak mungkin juga orang-orang yang ia sayangi bisa kembali.
"Aku tidak bisa membantu Sasuke!" ucap Tsunade membuka matanya.
Naruto tersenyum miris. Ia seolah mengejek pada kenyataan. Konoha memang tak pernah menginginkan Uchiha, hingga untuk menolong Sasuke saja mereka tidak mau.
"Tapi ada yang bisa membantu Sasuke-" lanjut Tsunade, "-tapi aku tidak yakin dia mau membantu."
"Nona Tsunade!" seru Ino merasa tidak suka dengan kalimat terakhir Tsunade.
"Itu memang kenyataan Ino."
"Siapa?" sahut Naruto ingin tahu.
"Haruno Sakura!"
Tanpa sadar bola mata Naruto melebar mendengar nama yang lama tidak ia dengar. Haruno Sakura … mantan tunangannya dan juga gadis yang begitu mencintai suaminya sejak di Akademi.
.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
.
Konohamaru menyeret anak Sasuke ke arah gedung kantor Hokage. Sepanjang perjalanan ia memasang ekspresi yang tidak bisa diartikan. Ada baiknya ia memang memberitahukan lebih dulu kepada Hokage, tentang perbuatan bocah 9 tahun yang ada di sampingnya itu yang telah memporak-porandakan pasar hanya demi membunuh ayam-ayam yang ada di sana.
Konohamaru masih memasang wajah tanpa ekspresi ketika di pikirannya masih memutar aksi Yuki yang begitu brutal membantai ayam-ayam itu. Ia mendengus, Uchiha memang mengerikan. Setelah Itachi dengan tanpa perasaan membantai klannya dan Sasuke yang membalas dendam ke Konoha, lalu kini Yuki, bocah yang masih sembilan tahun itu tega membantai ayam-ayam yang tidak bersalah. Tiba-tiba saja ekspresi Konohamaru menjadi tegang. Sebisa mungkin ia berharap Konoha tidak akan mengulangi hal yang sama dan menyebabkan Yuki menjadi seperti ayahnya yang dulu. Masih sembilan tahun saja, Yuki sudah semengerikan itu, apalagi jika bocah itu sudah besar.
.
.
"Nona Tsunade!" seru Ino merasa tidak suka dengan kalimat terakhir Tsunade.
Konohamaru menghentikan niatnya mengetuk pintu di depannya, membuat Yuki bingung lalu memandang pemuda Sarutobi tersebut.
"Itu memang kenyataan Ino."
"Siapa?" sahut Naruto ingin tahu.
Yuki mengerjap mendengar suara ibunya yang ternyata ada di dalam. Ia menatap pintu coklat di depan wajahnya. Pikirannya mencoba menerka apa yang sedang terjadi di dalam sehingga ibunya berbicara dengan nada yang dingin.
"Haruno Sakura!"
Yuki dapat merasakan tubuh pamannya bergetar marah ketika mendengar sebuah nama disebut. Yuki mengalihkan pandangannya dan menatap wajah Konohamaru yang mengeras dari samping. Lalu tangan yang bebas itu perlahan mengetuk pintu di depannya dan membukanya.
Konohamaru memasang wajah biasanya kembali ketika ia berjalan masuk bersama Yuki menuju hadapan Hokage.
"Yuki!" seru Naruto terkejut ketika putranya berada di kantor Hokage.
Bocah itu berlari ke arah Naruto lalu memeluk manja ibunya, "Ibu, ayo pulang!" rajuknya manja, "aku tidak suka di sini." Ia menenggelamkan wajahnya di perut ibunya.
"Kau tidak berbuat ulah lagi, kan!" seru Naruto curiga. Ia hapal sekali dengan tingkah laku putranya. Jika suka bertingkah seperti ini, biasanya putranya habis membuat masalah di sekolah.
Yuki tetap diam tidak menjawab pertanyaan ibunya. ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Ia membantai habis ayam-ayam di pasar dan membuat kacau pasar hanya untuk membantai satu ayam yang masih tersisa." Seru Konohamaru sembari melapor kepada Hokage.
Mendengar kalimat membantai ayam, muncul kedutan di kening Naruto. Ia jadi ingat jika putranya paling benci dengan ayam dan selalu membantai ayam-ayamnya. Tersadar dari lamunannya Naruto menatap horror ke pucuk kepala Yuki.
"NAMIKAZE YUKI! SUDAH IBU BILANG BERAPA KALI, KAU HARUS MENGHILANGKAN PHOBIAMU!" teriak Naruto membahana di dalam kantor Hokage, "BAHKAN KAU TIDAK HANYA MEMBUNUH AYAM-AYAM IBU."
"Sudah Yuki bilang Yuki tidak suka ayam yang mirip model rambut Yuki." Dengan enteng bocah itu membela diri, "lagipula paman itu sudah membayar kerugiannya." Ia melepas pelukannya di pinggang Naruto. "kalau aku jadi Hokage, aku pasti menyuruh semua orang agar tidak memelihara ayam di sini," lanjutnya ngaco dan membuat semua orang yang ada di ruangan menjadi syok.
"NAMIKAZE YUKI, KAU DI HUKUM." Seru Tsunade dan membuat Konohamaru melemas. Nenek tua itu, kenapa selalu saja teriak-teriak," berlutut selama tiga puluh menit."
Yuki berbalik, menatap wanita cantik berambut kuning yang ada di balik meja. Ia tersenyum sinis lalu menatap datar Tsunade, "Siapa kau? Ayah saja tidak pernah menghukumku."
Konohamaru dan Ino menepuk jidatnya. Rasanya … Yuki tidak lebih seperti Naruto. Sikapnya bahkan nyaris seperti ibunya. Hanya saja terkadang kesadisannya mirip Sasuke. Yuki akan menjadi bocah yang melelahkan bagi Hokage ke lima tersebut.
.
.
.
ooO~ Ran Hime~Ooo
.
.
.
Setelah berdebat dengan Hokage, akhirnya Yuki kelelahan. Bocah itu merancau dan akhirnya tertidur di gendongan Naruto. Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas. Kenapa semua harus seperti ini? Apakah tidak ada yang bisa dilakukan selain meminta pertolongan dari wanita itu. Sungguh mustahil jika tiba-tiba ia datang dan memohon bantuan kepada Sakura setelah apa yang ia lakukan terhadap wanita itu. Naruto bukan hanya telah mempermainkan perasaannya Saukra, tetapi juga ia telah mengambil pemuda yang paling Sakura cintai.
Naruto membuka pintu kamar rawat Sasuke. Ia dapat melihat suaminya tengah duduk di atas ranjang sembari menatap ke arah jendela. Dengan perlahan Naruto berjalan mendekat ke arah Sasuke. Ia tersenyum ketika suaminya itu mengalihkan pandangannya lalu menatapnya.
Naruto mencoba merebahkan Yuki yang tengah terlelap ke samping Sasuke. Namun bocah itu malah terbangun lalu mengucek matanya perlahan.
"Ayah!" lirihnya lalu merengkuh pinggang Sasuke.
"Tidurlah!" seru Sasuke lalu mengelus rambut putranya tersebut hingga Yuki perlahan tertidur kembalii.
Sasuke menatap Naruto meminta penjelasan atas Yuki yang bisa terlihat selelah itu.
"Ia membantai ayam-ayam di pasar lalu berdebat dengan Hokage," serunya menatap mata kelam Sasuke," aku tidak habis pikir, sampai kapan ia akan bersikap seperti itu setiap kali melihat ayam."
Sasuke hanya tersenyum, membuat Naruto sebal. Bisa-bisanya suaminya hanya tesenyum menanggapi perilaku tidak wajar putranya. Uchiha bungsu itu terlalu memanjakan putra mereka.
"Naruto!" Sasuke menatap dalam Naruto, "untuk sementara waktu ajaklah Yuki tinggal di rumahmu yang dulu," ujarnya membuat Naruto hampir tersedak. Apakah itu berarti jika Sasuke memutuskan untuk tinggal di Konoha? "rumah sakit tidak baik untuk Yuki. Tidak akan lama. Hanya sampai kita bisa pulang ke rumah kita."
Naruto terdiam. Ia ingin menangis mengingat apa yang telah dijelaskan oleh Tsunade atas Kondisi Sasuke. Masihkah ia berharap bisa pulang lagi ke rumah mereka?
.
.
.
To be Continue…
.
Maaf! Saya sungguh minta maaf karena baru bisa update. Bukan maksud saya untuk menelantarkan ff ini. Hanya saja saya sedikit kehilangan feel untuk melanjutkan ff ini. Tapi karena kalian masih setia menunggu ff ini, akhirnya saya bisa melanjutkan ff ini. Dan untuk seseorang yang mengirmi saya pesan dan terus saja menanyakan kapan ff ini update, ini saya sudah update, dan mana reviewnya. Giliran saya yang nagih. -,- awas saja kalau tidak review. hehe
Kepada reader sekalian saja berterima kasih karena kalian masih setia menunggu kelanjutan ff ini. Dan masih mendukung kelanjutan ff ini.
.
Tanks to:
Ca kun, RANadAU, CCloveRuki, Aristy, Yue. Lawliet, MJ, Icha Clalu Bhgia, Armelle Aquamar Eira, Kizuna89, 989seohye, hanazawa kay, widi orihara, TheBrownEyes'129, LadyShapireBlue, Naomi uchikaze, Imperiale Nazwa-chan, Akira Veronica Lianis, Dark kitsune, livia. Alicani, collitha, kkhukhukhukhudattebayo, Virid ,Valvida the dark knight, EstrellaNamikaze, meymey fujoshi, Ellesar Berry, ila, sanaki chan, Angel Muaffi, lupilupiLove, ila hunter, haruna aoi, amour-chan, oka, one D piece.
