Desclaimer: Naruto's characters belong to Masashi Kishimoto.

A way

Tak seorang pun kuizinkan tahu bagaimana caraku mencintaimu.

Ini jauh lebih indah dari ribuan kali kedipan senja tenggelam.

Ini lirih roman degupku.

Peluk yang tak pernah jatuh ketika merasakan hangat adamu...

o

o

o

o

o

Chapter 13

Ada seseorang yang selalu mengukir almanak di dinding benak, menghitungi hari-hari lamanya ia berada di negri seberang. Bali dan segala keindahannya yang magis. Namun, ada sesuatu yang tak dapat ia hitung, yaitu kerinduannya pada seorang lelaki di negrinya sendiri. Begitu jauh jarak di antara mereka dan yang terjauh adalah saat ia merasa tersiksa akan perasaan yang ia pendam; bahwa lelaki itu tidak mengetahui perasaannya.

Air mata menggenang di pelupuk hingga akhirnya jatuhlah dua bulir air matanya. Sakura sangat merindukan Itachi. Betapa perihnya saat cinta itu hadir di saat yang terbilang kurang tepat, di saat semua konflik belum usai.

Wanita itu memandangi arca lingga yang menyerupai alu dan yoni yang menyerupai lumpang, yang terletak di salah satu pura yang ia kunjungi bersama seorang pemandu wisata siang itu. Ayu, nama pemandu wisata itu, menemaninya sambil menjelaskan arti dari arca tersebut. Sebuah lambang kesuburan dan awal dari penciptaan manusia. Arca tersebut, menurut kepercayaan pemeluk Hindu, merupakan manifestasi dari Siwa dan Parwati.

Meski didera rindu, Sakura masih bisa mendengarkan penjelasan Ayu dengan seksama. Ia memang menyukai perjalanan di mana ia dapat sekaligus belajar banyak hal yang belum ia ketahui. Entah berapa lama mereka berkeliling di pura itu, yang pasti itu cukup lama hingga perut Sakura mulai berontak. Ia lapar.

Kedua wanita itu pun meninggalkan pura dan menuju ke sebuah kedai bebek betutu yang merupakan kuliner andalan di Bali. Mereka menikmati hidangan dengan khidmat tanpa memedulikan beberapa orang yang memandangi Sakura yang sedang makan dengan lahap.

"Anda sepertinya sangat menyukainya," komentar Ayu.

"Ya. Ini sangat enak dan...unik, kupikir," balas Sakura, membuat perempuan Indonesia itu terkekeh manis sambil menggelengkan kepala.

Sayang, ritual makan bebek betutu harus terganggu oleh jeritan dering telepon genggam Sakura. Wanita berambut merah muda itu terpaksa menunda acara makannya sekaligus membiarkan telepon genggamnya mati sebelum berdering lagi karena ia harus mencuci tangannya terlebih dahulu.

Dahinya mengernyit manakala nama Izumi muncul di layar ponselnya. Dengan ragu-ragu, ia pun menjawab panggilan mantan istri Itachi itu.

"Sakura, kau harus cepat kembali!" Suara Izumi langsung menyambar begitu Sakura menjawab teleponnya.

"Aku tak yakin, Kak, karena aku masih punya empat hari untuk berlibur," jawabnya.

"Mungkin kau akan berubah pikiran setelah melihat tautan berita yang kukirimkan padamu,"balas Izumi tegas.

"Akan kulihat," jawab Sakura, kemudian ia matikan sambungan telepon mereka.

Dengan rasa penasaran dan sedikit gugup, Sakura membuka aplikasi messenger dan langsung membuka pesan dari Izumi. Ia abaikan pesan dari yang lain.

Entah. Entah apa yang ia rasakan dan entah bagaimana ia harus merespon berita itu. Rasanya seluruh darahnya mengering hingga wajahnya pasi. Terkejut, takut, dan sekaligus kecewa. Atau mungkin juga patah hati. Ia tak tahu.

"Tidak mungkin," lirihnya.

"Apa Anda baik-baik saja?" Ayu menginterupsi lamunan Sakura.

"Ayu-san, bisakah Anda memesankan tiket untukku hari ini? Aku harus kembali ke negaraku malam ini juga," jawabnya.

Alis Ayu sedikit bertaut sebelum berkata, "Itu sulit, Sakura-san. Untuk memesan tiket pesawat, kita harus melakukannya dua hari sebelum keberangkatan."

Jawaban Ayu membuat Sakura frustrasi hingga ia membuang napas seraya memegangi kening. Dalam situasi seperti ini, dua hari akan terasa seperti dua bulan. Itu terlalu lama, sementara ia benar-benar tak mungkin menunggu.

Sepertinya, Ayu menyadari betapa gentingnya situasi Sakura, maka ia pun ikut memutar otak.

"Akan kucoba mencari seseorang yang membatalkan perjalanan ke sana. Kuharap Anda bisa bersabar," kata Ayu.

"Kau yang terbaik."

XxX

"SIAL!" Ino mengumpat.

Shisui menghela napas sebelum mengusap-ngusap pundak Ino sambil mengingatkan istrinya tersebut bahwa mengumpat tidak baik untuk wanita hamil. Begitulah keistimewaan para lelaki Uchiha, terutama Shisui. Lelaki itu selalu saja dapat mengendalikan diri dalam situasi segawat apa pun.

Suami Ino bukannya tidak merasa tegang. Ia pun merasakan tensi yang sama, hanya saja, ia berpikir bahwa lepas kendali akan memperburuk keadaan. Ia mencoba mencari apa yang janggal dari pemberitaan di media yang mendadak meledak hari itu juga, padahal sebelumnya ia yakin bahwa semuanya baik-baik saja.

"Bagaimana ini bisa terjadi? Sakura sudah bekerja keras untuk menekan segala pemberitaan tentang Itachi. Ada apa sebenarnya?" kata Ino.

"Tenanglah, Ino. Biarkan aku yang berpikir kali ini. Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada anak kita," ujar Shisui, mencoba menenangkan istrinya.

Ino tahu pasti bahwa ketika suaminya berkata sedemikian serius, maka tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan meski itu tidak dapat langsung menghentikan rasa penasarannya. Tak lama, ia menerima pesan dari Sakura yang mengatakan bahwa sahabatnya itu akan kembali ke Konoha malam ini juga. Ia tahu bahwa Sakura sudah mengetahui berita itu.

XxX

Lima belas jam terasa begitu memuakkan dan menjengkelkan bagi Sakura. Itu terasa seperti menunggu selamanya. Sangat lama. Ia sama sekali tak dapat menikmati pemandangan dari jendela pesawat seperti yang biasa ia lakukan. Pun perasaan menyenangkan setelah ia menginjakkan kaki di tanah kelahirannya sendiri, rasa itu tidak ada. Semua hanya perasaan tegang dan perasaan tidak mengenakkan yang berputar-putar di ulu hati.

Seorang porter sampai terengah-engah mengikuti sang pemilik koper yang setengah berlari menuju pangkalan taksi. Setelah memberikan uang jasa kepada lelaki muda itu, taksi yang ditumpangi Sakura langsung melesat meninggalkan bandara.

Wanita itu meminta sang sopir untuk langsung mengantarnya ke rumah dan ia segera mandi, bersiap-siap untuk pergi entah ke mana tanpa sempat membongkar isi kopernya. Satu-satunya hal yang dapat ia pikirkan adalah mencari di mana keberadaan Itachi. Sepertinya lelaki itu sudah mengganti nomor ponselnya sebab ia sama sekali tak dapat menghubungi Itachi.

Sesekali ia mengerang lirih, melepaskan rasa lelah dan putus asanya. Entah di mana pria itu. Berita yang beredar sungguh menjatuhkan Itachi. Pria itu disebut-sebut sebagai lelaki yang suka bermain wanita atau membayar mereka dan itulah penyebab perceraiannya dengan Izumi.

Sakura tidak percaya sebab ia tahu betul siapa Itachi. Ia tak mungkin melakukan hal serendah itu.

Merasa yakin ia mendapati mobil Itachi melintas di seberang jalan, Sakura langsung membanting setir dan mengikuti mobil jeep hitam yang baru Itachi beli beberapa hari setelah ia keluar dari rumah sakit itu. Perasaan Sakura semakin tak enak saat mobil Itachi berbelok ke sebuah hotel yang cukup mewah, sementara air matanya tertahan meski ia ingin menangis.

Ia tahan perasaannya sendiri sambil diam-diam membuntuti lelaki itu. Dan, benarlah dugaannya. Itachi berjalan dengan seorang wanita berambut hitam bertubuh sintal, masuk ke sebuah kamar. Sakura masih menahan gejolak rasa yang menjelma menjadi mual sambil mempersiapkan mentalnya sendiri untuk kemungkinan-kemungkinan yang ada.

Akhirnya, ia mengetuk kamar di mana Itachi dan wanita itu berada. Tak lama pun pintu terbuka dan Itachi berdiri menjulang tepat di hadapannya. Tak ada mimik terkejut di wajah pria itu, malahan, terlalu santai. Tidak. Rautnya begitu dingin, membuat Sakura bertanya-tanya apakah benar pria yang di hadapannya itu adalah Itachi.

"Kau mengikutiku?" Itachi bertanya dengan tenang.

"Ya," jawab Sakura. "Dan aku benar-benar tak percaya berita itu benar. Kak, apakah ..." Sakura mencoba menahan getar suaranya yang sayangnya tidak begitu berhasil. "Apakah kau benar-benar ..."

Gagal. Usahanya benar-benar gagal sebab ia temui dirinya sendiri menangis dengan perasaan sesak yang berdesakan ingin meledak dari dada.

"Katakan padaku kalau ini tidak benar," lirihnya.

Sebuah sunggingan tipis nan sinis pun tergambar di bibir Itachi. "Kalau benar?"

"Kau bukan orang seperti itu," jawab Sakura.

"Kau tidak pernah bersamaku selama 24 jam, Sakura. Bagaimana bisa kau yakin bahwa aku bukan orang yang seperti itu?"

Belum sempat Sakura membalas perkataan Itachi, wanita yang bersama Itachi tadi muncul dan langsung menggelayutkan tangan ke lengan pria itu. Raut putus asa semakin nampak jelas di wajah Sakura.

"Siapa dia, Sayang?" tanya wanita yang ternyata memiliki mata semerah batu rubi itu.

"Temanku. Masuklah, akan kuurus hal ini dulu, baru kuurus kau nanti," jawab Itachi.

"Hmm..." Wanita itu menggumam manja. "Aku sudah tak sabar."

Mendengar hal itu, rasanya seperti sejuntai petir menyambar Sakura. Pikiran buruknya serta berita itu semakin mendekati kebenaran atau itu memang benar, tapi ia masih berusaha menyangkal.Ia tak yakin.

Setelah wanita itu masuk, Itachi kembali memandangi Sakura yang terlihat semakin hancur.

"Kenapa?" Sakura bertanya lirih dengan air mata yang menderas. "Kupikir ... Kau ... Malam itu ..."

Kata-kata terbata Sakura membuat Itachi mendengus sinis sebelum ia terkekeh. Kekehan geli yang sama sekali berbeda dengan kekehan yang ia tunjukkan saat ada beberapa kejadian lucu di antara mereka sebelum Sakura pergi berlibur.

"Kau berpikir bahwa aku akan menciummu karena aku jatuh cinta padamu?" tembak Itachi, membuat Sakura terperangah. "Ah, jangan-jangan kau berharap begitu karena kau mulai menyukaiku?"

"Kau!" erang Sakura geram.

Bukannya gentar atau sedikit saja terkejut, Itachi malah melangkah maju dan membuat Sakura mundur sampai punggungnya menabrak tembok. Itachi membungkukkan badannya sehingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Sakura.

Tetapi, Sakura bukanlah wanita pengecut yang akan memalingkan wajah. Ia justru membalas menatap Itachi dengan tajam.

"Kau berbohong. Kau tidak mungkin serendah ini," katanya lirih, namun ketegasan ada dalam cara bicaranya.

"Hn?" Sebelah alis Itachi terangkat sebelum dengan kecepatan cahaya ia 'menyerang' Sakura dengan menindihnya ke dinding. Tak ada jarak lagi, terlebih saat tiba-tiba Itchi menciumi bibir dan leher Sakura dengan beringas.

Perlakuannya membuat Sakura merasa dilecehkan dan ia pun memberontak, namun usahanya sia-sia sebab Itachi jauh lebih kuat.

"Aku memang serendah ini," bisiknya di telinga Sakura.

Akhirnya, Sakura berhasil lepas saat cengkeraman Itachi melemah. Ia tampar Itachi dengan sangat keras hingga pria itu sedikit terhuyung ke samping.

"Apa kau akan berkata seperti wanita pada umumnya bahwa kau membenciku?" ejek Itachi.

"Ya!" seru Sakura. "Aku memang membencimu!"

Hancur sudah hatinya. Sakura berjalan cepat meninggalkan tempat itu sambil mengusap kasar air matanya, sementara Itachi masih memandang punggung wanita itu dengan dingin sebelum ia masuk ke kamar.

Wanita bermata merah yang datang bersamanya pun mendekati dan menepuk pundaknya. Itachi menoleh.

"Kau memang kejam, Uchiha," ujar wanita itu.

Itachi hanya terdiam, lalu menyulut rokoknya. Wanita itu juga melakukan hal sama.

XxX

Sakura melajukan mobilnya dengan sangat cepat menuju ke suatu tempat. Ia tak ingin bertemu siapa-siapa, bahkan ia merasa tak ada tempat di bumi ini yang mau menerimanya. Ia merasa sangat hancur dan sendirian.

Semua rencananya berantakan, kini hatinya pun remuk redam. Ia memang ingin, sejujurnya, menerima ciuman Itachi sebab ia mencintai pria itu. Namun, bukan ciuman yang seperti tadi. Ciuman Itachi sama sekali tidak memberikannya rasa bahagia sampai membuat kakinya tak menapak bumi.

Itu bukanlah ciuman yang didambakan setiap wanita di dunia ini dan ia mengutuki semua cerita pangeran dan putri dengan ciuman cinta sejatinya. Semuanya dongeng omong kosong!

Ia pernah berciuman dengan Sasuke, namun pria itu mengecewakannya. Kini, ia menerima ciuman dari orang yang membuatnya jatuh cinta, namun orang itu menghancurkannya.

Ia tak pernah menyangka bahwa Itachi memiliki kemampuan luar biasa dalam menghancurkan perasaan wanita. Jadi, jika begini, apakah salah jika Izumi mencari pelarian?

Semuanya menjadi abu-abu, di luar kebaikan dan keburukan. Sebab ... dunia ini memang zona probabilitas. Semua mungkin terjadi, lalu tiba-tiba saja nilai benar dan salah menjadi nisbi.

Dan, tak terasa mobilnya telah jauh melaju sampai ke pinggiran kota. Sebuah laut perbatasan dengan kota Kiri. Laut dengan udara sejuk, bahkan cenderung dingin karena laut itu sering berkabut. Ia pun menepi dan turun dari mobil.

Ini saja sudah cukup untuk sedikit menenangkan batinnya atau malah semakin mendorongnya melepas amarah dan kecewanya. Kini, ia menangis menjadi-jadi seperti anak kecil yang mengadu pada sang ibu, menumpahkan keluh kesahnya. Sakura sedang melempar beban dan keluh kesahnya pada alam semesta.

"Tangisanmu bisa membangkitkan roh-roh di laut ini." Tiba-tiba sebuah suara pria mengejutkan Sakura.

Sakura memicingkan mata, mencoba mendapatkan penglihatan yang lebih jelas tentang siapa sosok di balik kabut itu. Dari suaranya, ia tahu bahwa lelaki itu sudah cukup tua sampai dugaannya terbukti benar saat seorang lelaki tua muncul dengan topi yang biasa digunakan untuk memancing.

"Ma-maaf..." ujar Sakura dengan suara serak sambil menyeka air mata.

"Mengapa kau menangis di sini?"

"Ah..." Sakura bingung hendak menjawab apa. "Itu ... Aku ... Hanya sedikit bermasalah dengan hari ini. Hari burukku, kurasa."

Pria tua itu menggumam, lalu berdiri di samping Sakura.

"Tuhan pun tak pernah menjanjikan bahwa langit akan selalu biru, Nona. Mendung akan membuatmu berjaga-jaga sehingga kau akan menjadi bijak," balas pria tua itu.

Pengacara muda itu memandangi sang pria tua dengan heran. Pria itu bahkan tidak bertanya apa masalahnya dan kemungkinan ia tak butuh tahu, namun ia berkata-kata seakan ia mengetahui segalanya.

"Mendung kadang membuatmu lupa bahwa matahari masih ada sebab ia terselimuti. Bukan berarti matahari benar-benar pergi. Atau ... Apa kau tahu bahwa di depan sana ada dua buah kapal?"

Sakura menggeleng. Ia seakan terhipnotis oleh setiap kata yang diucapkan sang kakek.

"Kabut ini tidak selamanya menutupi apa pun yang ada di sekitarnya. Saat kabut ini berlalu, kau akan melihat banyak hal. Saat mendung usai, matahari itu akan menampakkan dirinya. Beberapa hal boleh saja tertutupi, namun mereka akan nampak saat semua berlalu. Ini soal waktu saja, Nona. Jika kau memaksakan dirimu untuk menemukan hal yang ingin kau ketahui saat mata hatimu sedang buram, kau hanya melakukan kesia-siaan."

Terperangahlah Sakura mendengar penuturan bijak sang kakek. Hal aneh pun terjadi saat tiba-tiba saja kelegaan membanjiri hatinya. Entah mengapa. Mungkin ia sedang menemukan harapan bahwa semuanya akan berlalu.

"Terima kasih," ucapnya.

"Ah, kapalku menungguku. Kuharap suatu hari kita bisa berjumpa dengan situasi yang jauh lebih baik," balas sang kakek.

Sakura mengangguk dan membiarkan pria tua itu pergi meninggalkannya sendiri. Sepeninggal kakek itu, Sakura sejenak berpikir. Apakah sang kakek itu penjelmaan dewa? Atau roh suci? Hantu?

"Hantu kakek-kakek..."

Ia tertawa getir. Kata 'hantu kakek-kakek' kali ini, dan seandainya memang benar kakek tadi adalah hantu, tidak lagi membuatnya takut sebab itu mengingatkannya akan sesuatu. Peristiwa di Kuil Naka. Hatinya terasa teremas dan ia pun meremas dadanya.

"Kak Itachi..."

o

o

o

o

o

Besambung...

A/N: Yo! Hahaha... Chapter ini bikin kesel dan galau yaaaa? Hahaha. Maap, tapi begini dulu prosesnya. Sabar, ini ujian, ini ujian. Saya mohon maaf banget untuk update yang lama banget ini. Ada hal-hal personal yang harus saya hadapi kemarin-kemarin, tapi itu gak menghentikan saya untuk melanjutkan cerita ini. Saya gak mau mengecewakan kalian huhuhu. Dan, kali ini saya gak mention satu-satu dulu untuk balas review. Saya lagi batuk-batuk dan ini menyebalkan. Tapi ini gak mengurangi rasa terima kasih saya pada kalian yang masih setia menunggu kelanjutan A Way. Terima kasih banyak dan saya akan usahakan update lebih cepat dan di chapter selanjutnya kita akan rumpi lagi hahaha. I promise you guys dan kutunggu selalu review kalian. Love you all mumumumuaaachhh...