Sakura masih terus menangis saat dirinya didudukan dibangku taman. Orang itu masih terus mengusap punggung Sakura mencoba menenangkannya.
"Hiks... Gaara.. Hiks.. Sakit.." cicit Sakura disela isakannya.
"Maaf.. Aku tidak tahu jika itu sesakit itu. Apa terkilir?" ucap Gaara khawatir.
Sakura menggeleng, lalu menenggelamkan wajah pada dekapan Gaara. Tidak apa apa seperti ini sebentar bukan?
Gaara mengeratkan dekapannya saat Sakura semakin menenggelamkan wajahnya. Dia berusaha untuk menenangkan Sakura, walau dirinya tidak tahu apa yang terjadi. Mereka tetap berada diposisinya tanpa menyadari tatapan seseorang yang mengarah kepada mereka.
.
.
.
Karin melihat segalanya. Sakura, Sasuke, Hotaru. Dia menyeringai saat sebuah pemikiran jahatnya terlintas.
Dengan santainya dia berjalan menuju meja tempat minuman dekat Sasuke. Lalu mengambil segelas minuman dan mencampurkannya dengan sebuah obat.Dan Karin menghampiri Sasuke.
"Sasuke-sama.. Mau minum?" tawar Karin dengan suara yang dibuat buat
Sasuke melirik gelas yang ditawarkan Karin terhadapnya. Anggur. Mungkin sedikit alkohol dengan kadar rendah dapat membuatnya lebih tenang. Tanpa ragu Sasuke mengambil gelas tersebut dan menghabiskannya dalam sekali tenggak.
Karin yang melihat itu hanya tersenyum miring. Rencana pertama berhasil. Saatnya melancarkan aksi selanjutnya.
Sasuke merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Dia merasa gerah disini. Melihat kesekelilingnya, banyak orang disini. Apa mugkin karena itu?
Dengan langkah cepat ia segera berjalan ke arah balkon hotel. Dia butuh udara segar sekarang.
Sekarang ini, Karin sedang melancarkan aksi selanjutnya. Dia menghampiri Hotaru yang baru selesai berbincang dengan seorang pria yang tidak dikenali oleh karin. Dengan sedikit basa basi dan akhirnya dia menawarkan minum terhadap Hotaru. Minuman dengan kadar alkohol tinggi.
Saat melihat Hotaru yang mulai agak mabuk, Karin menyeret Hotaru ke balkon tempat Sasuke berada. Dan mendorong Hotaru saat dia melihat Sasuke yang sepertinya obat yang dia masukan. Telah bereaksi.
.
.
Hotaru merasakan pusing dikepalanya. Dia merasa tubuhnya sangat ringan. Dia juga merasa tubuhnya seperti sedang ditarik lalu didorong. Dan saat ini dia seperti sedang berhalusinasi jika Sasuke ada didepannya berjalan mengahmpirinya. Sungguh sangat indah.
Sasuke melihat Hotaru yang berjalan seperti orang mabuk kearahya. Dengan cepat ia menghampiri Hotaru. Dia harus segera membawanya pergi dari sini. Jika orangtua Sakura melihatnya Sasuke yakin Hotaru akan dimarahi oleh Kizashi dan Mebuki akan kecewa pada Hotaru. Dan Sasuke tidak mau itu terjadi.
Sasuke memapah Hotaru menuju meja resepsionis. Sasuke bermaksud membiarkan Hotaru bermalam diHotel ini dan menghindari amukan Kizashi.
Saat sudah mendapatkan kamar, Sasuke mebawa Hotaru ke kamarnya tanpa mempedulikan tubuhnya yang sangat panas saat ini. Dan pemikiran pemikiran aneh yang hinggap dikepalanya.
Mebaringkan Hotaru diatas ranjang kamar hotel dan menyelimutinya. Sasuke terus memandangi Hotaru yang tengah terbaring saat inu dan meracau tidak jelas. Dan ia hendak berbalik namun tertunda saat mendengar racauan Hotaru.
"Sasuke.. Hik.. Kenapa??.. Kenapa kita tidak bersama hik. Aku masih menyukaimu.. Hik.. Tapi.. Sakura juga menyukaimu.. Hik.." belum sempat Hotaru menyelesaikan ucapannya namun Sasuke telah membekap bibirnya dengan bibir Sasuke.
Saat ini Sasuke tidak tahu apa yang tengah ia lakukan. Dirinya sudah tidak bisa menahan gejolak pada dirinya. Apalagi saat mendengar racauan Hotaru. Dia tahu ini salah tapi sungguh dia merasa untuk saat ini adalah yang terbaik. Biarlah malam ini Sasuke dan Hotaru saling meluapkan cinta mereka yang terpendam. Tanpa adanya orang lain dalam hubugan mereka.
Sakura. Entah kenapa saat ini dia Sakura terlintas dibenaknya. Sasuke segera menghentikan aksinya saat melumat bibir Hotaru. Apa yang telah ia lakukan? Dimana Sakura sekarang? Kenapa dia baru mengingat Kouhainya itu.
Saay Sasuke hendak beranjak dari tepi ranjang, tangannya ditahan oleh Hotaru.
"kenapa? Apa kau akan meninggalkanku? Apa kau sudah berpaling pada Sakura? Apa kau tidak mencintaiku lagi? Hiks" isak Hotaru yang tengah mabuk.
Entah Hotaru akan mengingat perkataannya atau pun tidak. Namun, ucapannya membuat Sasuke menjadi bergairah sekarang. Hasrat yang tadi sempat menghilang sekarang terasa bangkit kembali. Persetan dengan apapun itu.
Namun saat ia mengingat kejadian dipesta tadi saat melihat Hotaru tengah berbicara dengan seorang pria membuatnya tanpa sadar melakukan hal yang terlarang terhadap Hotaru yang saat ini sedang mabuk. Dan malam itu mereka melakukannya.
.
.
.
Karin yang mengikuti mereka sedari tadi memotret saat mereka akan memasuki kamar hotel. Dia akan mengirimkannya kepada Sakura. Kenapa seperti itu? Dia bisa membayangkan murkanya Sakura saat melihat itu. Dan akan membuat Sakura meninggalkan Sasuke. Dan disaat itu tiba Karin akan dengan senang hati menghampiru Sasuke dan menggantikan posisi Sakura.
.
.
.
Sakura tengah tertidur dipelukan Gaara. Sedari tadi dirinya hanya menangis dan mungkin sekarang dia lelah dan tertidur. Gaara enggan melepaskan dekapannya pada Sakura. Biarlah seperti ini. Jujur, Gaara masih mengharapkan Sakura. Dan ucapan Sasori waktu itu membuatnya masih ada kesempatan untuknya. Tidak apakan?
Sedangkan Sasori sedang mencari Sasuke keasana kemari ditengah tengah pesta. Dia ingin menghajar pria itu. Sasori melihat semuanya. Saat Sasuke memandangi Hotaru. Saat Sakura yang menatap pedih Sasuke. Saat Sakura berlari dan menabrak Gaara. Saat Sakura menangis dalam dekapan Gaara. Semuanya.
Dalam sekali lihat saja Sasori sudah mengerti situasi Sakura saat ini. Dia selalu mengetahui apapun tentang Sakura. Bahkan hanya dalam sekali lihat.
Lelah mencari Sasori berniat menemui Sakura dan Gaara. Apakah Sakura masih menangis? Jika iya, Sasori akan menghabisi Sasuke saat ini juga.
Sasori berdiri didepan Gaara yang masih setia menemani Sakura. Dia menatao Gaara dengan intens seperti Gaara yang sedang menatapnya. Mereka seperti berbicara dalam tatapan mereka.
Gaara mengalihkan tatapannya pada Sakura. "Apa aku masih mempunyai kesempatan?" tanya Gaara.
"Pasti. Jika tidak, aku yang akan memberikannya padamu" ungkap Sasori tegas.
Sekarang apapun yang akan Sakura lakukan, ia adalah orang pertama yang akan mendukung Sakura. Dan ia juga akan memberikan dukungan pada Gaara. Ia tidak akan membiakan Sakura menelan pahitnya sendiri.
Gaara membawa Sakura dalam gendongannya. Sasori menyuruhnya membawa ke apartemen Sasori dan pergi duluan. Sasori sedang meninta izin dan memberi alasan kepada orangtua Sakura.
.
.
.
Sakura mengelub dalam tidurnya. Perlahan ia membuka matanya dan menatap sekelilingnya. Dimana dia sekarang? Jam berapa sekarang? Mencoba duduk dari tidurnya dan melihat jam digital disampingnya. 03.45 am. Masih pagi untuk bangun bukan?
Tanpa mempedulikan tempatnya sekarang Sakura mencoba untuk tidur kembali. Namun suara handphonenya menghentikan niatnya. Siapa yang mengirim pesan sepagi ini? Dengan malas ia membuka isi pesan tersebut. Dan matanya membulat sempurna saat melihat foto tersebut. Kantuknya sudah hilang sekarang.
Sakura menyibak kasar selimut yang dipakainya tadi dan sedikit berlari menuju pintu kamar. Yang ada dipikirannya saat ini adalah pada foto yang baru saja ia terima. Untung orang yang mengirimkan foto itu mengirimkan alamatnya.
Sasori terlelal disofa ruang tamunya saat mendengar suara pintu dibanting dan saat itu pula ia melihat Sakura yang berlari tergesa gesa dengan wajah cemas dan seperti mau menangis.
Sakura mengetahui tempat ini saat keluar dari kamarnya. Apartemen Sasori. Dengan cepat ia berjalan menuju pintu, namun Sasori menahanya.
"Mau kemana? Ini masih pagi. Apa terjadi sesuatu?" tanya Sasori khawatir.
Sakura hanya menggeleng lemah dan menatap Sasori nanar.
"Aku harus segera pergi memastikan sesuatu. Aku janji setelah itu akan memberitahukan semuanya padamu. Aku mohon biarkan aku pergi" jelas Sakura. Dia yakin Sasori akan mencegahnha pergi.
Sasori hanya mengangguk. "Jika terjadi sesuatu kau tau siapa yang harus kau datangi" ucap Sasori memberi kekuatan pada Sakura. Sakurapun tersenyum tulis dan segera pergi.
.
.
Sakura berlari menuju lift hotel semalam bekas pesta ayahnya. Dia segera mencari kamar yang diberitahukan orang misterius itu.
403. Sekarang Sakura berada didepan pintu kamar hotel itu. Tangannya bergetar. Setelah tadi dengan paksa dan sedikit ancaman akhirnya dia mendapatkan kunci cadangan kamar ini.
Sakura membukanya perlahan. Dia tidak sanggup jika semua yang ada dipikirannya adalah benar.
Namun nyatanya itu semua benar. Sakura tercekat melihat dua orang diatas ranjang itu. Dalam selimut yang sama, tanpa pakaian dan pakaian mereka yang berceceran disana sini.
Sedih. Kecewa. Marah. Sakura menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nafasnya pelan. Sakura tidak sanggup mengeluarkan airmatanya sekarang. Ini seperti kejadian dirumahnya saat itu. Tetapi ini lebih oarah dari itu.
Menangis? Sakura lelah setelah semalaman ia menangis. Marah? Untuk apa? Apa akan ada yang berubah. Yang bisa Sakura lakukan sekarang hanya diam berdiri diujung ranjang yang di tiduri Sasuke–suaminya– dan Hotaru–kakaknya.
Sasuke membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa pusing. Dan ia perlahan mengingat kejadian semalam lalu ia membulatkan matanya. Apa yang telah ia lakukan? Dia menolehkan kepalanya kesamping. Dan benar saja. Semalam bukanlah mimpi. Lalu ia meluruskan pandangannya saat merasa ada orang yang menatapnya.
Sasuke sangat terkejut sekarang. Ia merasa jantungnya seakan berhenti berdetak. Sakura sedang berdiri diujung ranjang dengan tatapan datar dan dingin. Suaranya menghilang sekarang saat menatapnya seperti itu.
Hotaru terbangun dan ia terkejut dengan keadaannya dan dimelihat kesamping, ada Sasuke disampingnya. Apa yang terjadi? Akh.. Kepalanya seperti mau pecah dan perutnya terasa tidak nyaman. Namun melihat Sasuke yang diam dan menatap lurus ketepi ranjang dengan tatapan sulit dimengerti oleh Hataru.
Hotaru mengikuti pandangan Sasuke dan dia serasa ingin mati sekarang. Sakura. Dia melihat Sakura. Apa yang telah diperbuatnya? Sekarang sakura menatapnya datar dan dingin. Namun Sakura tidak bergerak sedikitpun.
Pluk..
Pandangan Sakura langsung menggelap saat merasakan sebuah jaket menutupi kepalanya dan pandangannya.
Grepp..
Sakura dapat merasakan tangannya ditarik paksa keluar dari temoat tersebut. Dan tanpa penolakan ia mengikuti orang tersebut. Karena sejujurnya ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
Ting..
Suara pintu lift terbuka. Dan orang itu masih tetap menggenggamnya erat memasuki lift tersebut. Saat didalam lift, Sakura dapat merasakan orang itu melepaskan jaket dari kepalanya. Dan sekarang dia dapat melihat orang yang telah menyelamatkannya.
"Gaara" lirih Sakura.
Kenapa harus selalu Gaara yang terus menyelamatkannya?.
Tbc
Met weekend aja. Dan aku SANGAT SANGAT MINTA MAAF aku ngg up udah seminggu.. Aku tadinya mau up minggu kemarin tapi keabisan kuota.. Maaf banget. Dan maaf untuk typo-nya.
