Tales Of Darkness And Light
By : Razux
.
.
.
.
Disclaimer : Gakuen alice belong to Higuchi Tachibana
Chapter XII
DUAR!
DUAR!
DUAR!
Suara petir yang menggema di hutan membuat Mikan menangis ketakutan. Badannya yang kecil gemetar karena ketakutan dan kedinginan. Dia duduk seorang diri di dalam sebuah gua dan menutup kedua telingannya dengan kedua tangannya. Dia sangat ketakutan dengan suara petir maupun kegelapan yang sedang menyelimutinya sekarang.
"Natsume….. Natsume….. Kau di mana?" panggilnya sambil terisak-isak.
Tiba-tiba dia mendengar seseorang berjalan memasuki gua tersebut. Dia mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu gua, cahaya kilat membuat dia dapat melihat siapa yang memasuki gua tersebut. Seorang anak laki-laki berambut hitam seusianya berjalan dengan pelan memasuki gua tersebut. Kain putih yang menutup mata serta baju yang dikenakannya basah akibat air hujan.
Mikan berlari mendekati anak laki-laki itu dan memeluknya.
"Lepaskan aku, idiot. Badanku basah!" Perintah Natsume.
Mikan mempererat pelukannya, dia sama sekal tidak mempedulikan bajunya akan basah jika dia terus memeluk Natsume seperti itu.
"Natsume, kau… kau ke mana? Aku takut sekali… Jangan tinggalkan aku sendirian seperti ini lagi…" Ujarnya sambil terisak-isak.
Natsume merasakan badan yang memeluknya gemetar, dia menghela napas dan melepaskan dirinya dari pelukan Mikan dengan pelan "Badanku basah. Biarkan aku mengeringkan diriku dulu."
Natsume menatap kayu kering yang berada tidak jauh darinya, tiba-tiba muncul api membakar kayu kering dan menerangkan gua tersebut.
Natsume berjalan mendekati api tersebut sambil menggengam tangan Mikan.
"Duduk dan hangatkan dirimu." perintah Natsume.
Mikan mengangguk kepalanya dan menuruti apa yang diperintahkannya.
Natsume membuka bajunya yang basah dan berusaha mengeringkannya. Mata Mikan yang duduk di depannya membesar karena terkejut begitu menatap punggung Natsume yang membelakangginya. Dia melihat sebuah tanda berbentuk sepasang sayap yang mengelilingi sebuah lingkaran sihir dengan sebuah symbol aneh di tengah lingkaran sihir tersebut. Dia pernah melihat tanda itu, tanda itu mirip sekali dengan tanda yang ada di punggungnya, kecuali warna dan bentuk symbol ditengah lingkaran sihir itu. Tanda di punggung Natsume berwarna hitam, sedangkan miliknya berwarna kemerahan dan symbol di tengah lingkaran mereka benar-benar mirip, hanya saja milik Natsume terbalik.
Karena penasaran, Mikan mendekati Natsume dan mengangkat tangannya menyentuh punggungnya. Natsume yang menyadari tangan Mikan memalingkan wajahnya menatapnya.
"Apa ini Natsume?" tanya Mikan.
Natsume tidak menjawab pertanyaan tersebut.
"Natsume?" panggil Mikan, dia mengangkat tangannya dan melepaskan kain yang menutup matanya.
"Itu tanda lahir…" Jawab Natsume pelan sambil menatap Mikan.
"Tanda lahir?"
"Iya…"
"Aku juga punya tanda lahir itu di punggungku,Natsume. Yang berbeda hanyalah warna dan bentuk symbol di tengah lingkaran itu." Tawa Mikan gembira.
Natsume sama sekali tidak mengatakan apa-apa, dia hanya diam menatap Mikan. Tiba-tiba dia mengangkat kedua tangannya dan memeluk erat tubuh Mikan yang kecil.
"Natsume…" Panggil Mikan bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba itu.
Natsume melepaskan pelukannya tidak lama kemudian sambil menatap wajah Mikan. Dia bisa melihat dengan jelas mata merah Natsume. Pandangan matanya sangat lembut. Namun, juga kelihatan sangat sedih.
"Ada apa Natsume? Kenapa kau kelihatan sedih sekali?" tanya Mikan begitu melihat ekspresi Natsume. Dia kembali mengangkat kedua tangannya dan menyentuh wajahnya.
"Aku tidak apa-apa."
"Benarkah? Kau.." Balas Mikan. Namun, kalimatnya terputus karena dia terus bersin.
Melihat Mikan yang terus saja bersin, Natsume menariknya duduk di depan api unggun kecil yang dinyalakannya. Dia duduk di belakangnya dan melingkarkan kedua tangannya pada badan Mikan. Dia mengangkat dagunya dan meletakkannya tepat di atas kepala Mikan.
"Natsume…" Panggil Mikan dengan wajah memerah dan berusaha untuk berdiri.
"Jangan bergerak, Mikan… " Ujar Natsume dan mempererat pelukannya.
"Eh!"
"Jangan bergerak lagi…"
"Ba..baiklah…" Balas Mikan pelan dan membiarkan Natsume memeluknya. Dia sebenarnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Natsume. Namun, pelukan Natsume membuatnya sangat nyaman, dia merasa sangat aman, hangat dan damai di dalam pelukan Natsume. Dia sama sekali tidak takut lagi dengan suara petir maupun kegelapan yang ada di sekelilinnya. Mikan mengangkat kedua tangannya dan memegang kedua lengan Natsume yang memeluknya.
"Tidurlah, Mikan. Tidak perlu takut.. Aku ada di sampingmu…" Bisik Natsume pelan.
Mikan tersenyum mendengar ucapan Natsume.
"Tidurlah… Mikan…
"Tidurlah…."
"MIKAN, BANGUN!" teriak Hotaru mengagetkan Mikan yang sedang tidur. Dia membuka kedua kelopak matanya dan tiba-tiba dia merasakan badannnya bergoyang ke kiri dan kanan.
"Apa yang terjadi Hotaru?" tanya Mikan panik.
"Keluar dari kabin ini, bodoh. Kapal ini terjebak dalam badai. Aku khawatir kapal ini tidak akan bisa bertahan untuk menghadapi badai ini." Jelas Hotaru sambil menarik tangan Mikan.
Mereka berdua berlari keluar dari kabin kapal. Mata Mikan membesar karena terkejut. Dia bisa melihat dengan jelas ombak tinggi yang terus menghamtam kapal ini. Air laut terus masuk ke dalam geladak kapal akibat hamtaman ombak. Angin kuat yang bertiup memperparah keadaan. Dia bisa mendengar dengan jelas teriakan Sumire, Koko, Kitsuneme dan yang lainnya berusaha mengendalikan keadaan.
Mikan mengangkat kepalanya menatap langit gelap di atasnya. Selama tiga hari semenjak mereka berlayar dari kota pelabuhan Denethor, cuaca biasa-biasa saja, sama sekali tidak ada tanda-tanda akan adanya badai. Dia sama sekali tidak menyangka mereka akan terjebak dalam badai.
"LIPAT LAYAR KAPALNYA! KOKO, KAU KENDALIKAN KAPAL INI!" teriak Sumire.
Mendengar teriakan Sumire, Mikan dan Hotaru berlari untuk membantu mereka melipat layar kapal tersebut. Namun, hembusan angin yang kuat membuat mereka kesulitan untuk melipat layar kapal. Kapal itu terus terombang-ambing di dalam badai.
"SEMUANYA BERPEGANGLAH PADA SESUATU ERAT-ERAT!" Teriak Sumire tiba-tiba begitu melihat ombak tinggi yang meluncur ke arah kapal mereka.
Semua yang mendengar teriakan Sumire segera berpegang erat pada tiang ataupun benda-benda di samping mereka yang bisa menahan tubuh mereka terlempar keluar dari ombak tinggi itu.
Namun, Mikan yang berdiri di ujung geladak kapal sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berpegangan pada tiang kapal atau benda lainnya. Ombak tinggi itu menghamtam kapal itu dengan kuat dan dengan sukses melemparkan tubuhnya keluar dari kapal.
"MIKAN!" teriak Hotaru dan Sumire begitu melihat apa yang terjadi dan berlari ke ujung geladak kapal tempat Mikan tadi berdiri.
"MIKAN!" panggil mereka berdua dengan wajah pucat. Mereka berdua melihat sekeliling mereka berusaha untuk mencari keberadaan Mikan.
"HOTARU… SUMIRE… TO..TOLONG…" teriak Mikan terputus-putus. Suara teriakannya sama sekali tidak terdengar jelas karena air laut yang terus menerus menerjangnya. Dia berusaha keras untuk berenang ke arah kapal.
"MIKAN!" Panggil Hotaru dan Sumire lagi. Tiba-tiba mata Sumire menemukan Mikan yang berusaha berenang ke arah mereka.
"ITU DIA! DIA DI SANA!" teriak Sumire gembira sambil menunjuknya "Berikan aku pelampung atau tali. Aku akan menolongnya."
Namun sebelum Sumire sempat menolongnya. Sebuah ombak besar kembali menghamtam kapal mereka dan Mikan. Saat dia dan Hotaru mengangkat kepalanya menatap laut di depan mereka. Mikan telah menghilang dari pandangan mereka.
"TIDAK! TIDAK! MIKAN!"
Mikan yang terseret ke dalam laut berusaha untuk berenang ke atas permukaan. Namun, terjangan ombak membuat apa yang dilakukannya sia-sia. Dia akan terseret kembali kedalam laut. Dia merasa sangat ketakutan.
"TOLONG! TOLONG!" teriaknya dalam hati dan wajah Natsume pun terlukis dengan jelas di dalam pikirannya "NATSUME! NATSUME TOLONG…."
"Mikan…." Ujar Natsume tiba-tiba sambil berdiri.
Ruka, Tsubasa dan Yoichi mengangkat kepala mereka menatap Natsume. Mereka masih berada di dalam kereta kuda yang melaju menuju kota Pelabuhan Denethor.
"Ada apa Natsume?" Tanya Ruka.
Natsume sama sekali tidak menjawab pertanyaan Ruka.
"Mikan…. Mikan…." Panggil Natsume. Namun, suaranya biasanya sangat tenang itu terdengar sangat khawatir. Dia mengangkat kedua tangannya menyusuri rambutnya. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyerangnya. Perasaan tidak enak itu terasa seperti campuran perasaan khawatir, gelisah dan ketakutan yang bercampur menjadi satu. Dia sama sekali tidak pernah merasakan perasaan seperti ini. Wajah Mikan muncul di dalam pikirannya.
"Ada apa Natsume?" tanya Tsubasa khawatir, begitu juga dengan Ruka dan Yoichi. Mereka sama sekali tidak pernah melihat Natsume seperti ini. Natsume biasanya sangat tenang, penuh kepercayaan diri, dan tidak berekspresi. Namun, Natsume yang ada di depan mereka sekarang kelihatannya sangat gelisah dan ketakutan.
"Ada apa Kak Natsume?" tanya Yoichi sambil menatap wajah Natsume.
Natsume sama sekali tidak mendengar pertanyaan Yoichi. Pikirannya sekarang penuh dengan Mikan. Telah terjadi sesuatu terhadap Mikan dan dia sama sekali tidak bisa berbuat apapun. Memikirkan telah terjadi sesuatu terhadap Mikan membuat Natsume sangat ketakutan, badannya bergemetar begitu dia membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya jika dia tidak pernah bertemu lagi dengan Mikan? Apa yang akan dilakukannya jika dia kehilangan Mikan?
"Mikan… Mikan… Mikan…."
Sementara itu Hotaru dan Sumire yang berada di dalam kapal terus saja berusaha mencari Mikan. Mereka terus melihat ke laut yang sedang mengamuk di depan mereka berharap akan menemukan Mikan.
Mikan mulai kehilangan napas dan tenaganya. Dia merasakan kaki serta tangannya mulai melemah dan rasa dingin menyerang seluruh tubuhnya. Dia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk menentang ombak itu lagi. Kedua kelopak matanya terasa sangat berat.
"Mikan… "
"Mikan…."
Di antara kesadarannya yang mulai menipis, Mikan yakin sekali, dia mendengar suara Natsume yang memanggilnya. Suara yang sangat dirindukannya.
"Natsume…." panggil Mikan lemah sambil menutup kedua matanya dan menyerahkan dirinya pada kegelapan.
Badan Mikan yang sudah kehilangan kesadaran dirinya tenggelam semakin dalam ke dasar laut , tiba-tiba badannya bercahaya. Seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya putih yang semakin lama semakin kuat sehingga memancar keluar ke permukaan laut.
Hotaru, Sumire dan yang lainya sangat terkejut begitu melihat cahaya yang tiba-tiba muncul dari dalam laut gelap itu. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan mata mereka. Mereka semua mengangkat tangannya untuk melindungi mata mereka dari cahaya itu.
"APA INI?" teriak Sumire terkejut.
Hotaru sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sumire itu. Tapi, dia tahu. Cahaya putih ini mirip sekali dengan cahaya putih yang muncul saat Mikan melindungi dirinya dari serangan sihir laba-laba raksasa di hutan terlarang. Dia yakin cahaya ini pasti bersumber dari Mikan.
Cahaya putih semakin kuat dan terang sehingga Hotaru, Sumire dan yang lainnya memejamkan mata mereka. dan tiba-tiba mereka merasakan hembusan angin yang sangat kuat dari dalam laut.
Saat mereka membuka mata mereka, mereka sangat terkejut. Cahaya itu telah menghilang, begitu juga dengan badai yang menerjang kapal mereka. Laut di depan mereka tidak lagi mengamuk seperti tadi, laut di depan mereka sekarang sangat tenang seakan tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang terjadi?" ujar Sumire bingung dan menatap laut dengan wajah tidak percaya.
"Cahaya apa tadi itu?" tambah Kitsumene yang berdiri tidak jauh dari mereka berdua.
Hotaru sama sekali tidak mempedulikan apa yang dikatakan Sumire dan Kitsumene. Dia berlari ke sekeliling geladak sambil menatap laut yang telah tenang itu untuk mencari Mikan. Namun, sejauh matanya memandang Mikan sama sekali tidak terlihat.
"MIKAANNNNN!"
"Aku sama sekali tidak percaya, kita benar-benar berhasil." Tawa Tsubasa senang saat melihat pintu gerbang kota pelabuhan Denethor. Mereka telah berhasil mencapai kota pelabuhan Denethor hanya dalam jangka waktu tiga hari. Sesuatu yang menurutnya mustahil. Namun berhasil mereka tempuh sehingga rasa bangga dan juga gembira memenuhi hatinya.
"Benar sekali, kak Tsubasa. Kurasa kita telah berhasil memecahkan rekor." Tambah Ruka sambil tersenyum, begitu juga dengan Yuu.
"Ayo, masuk dan cari kapal menuju kerajaan Orthanc." Ujar Natsume dan berjalan masuk diikuti Yoichi.
"Eh! Bagaimana kalau kita beristirahat sebentar Natsume? Apa kau tidak lelah?" tanya Tsubasa terkejut.
Mereka telah melakukan perjalanan selama tiga hari tanpa henti. Mereka sama sekali tidak beristirahat di kota maupun desa yang mereka lewati. Mereka hanya singgah di kota ataupun desa yang mereka lewati untuk mengganti kuda mereka yang kelelahan dan menyuplai makanan.
"Aku tidak peduli. Kita akan melanjutkan perjalanan sekarang juga." Jawab Natsume dingin sambil menatap mereka.
Ruka, Tsubasa dan juga Yuu hanya diam membisu mendengar jawaban Natsume. Mereka sama sekali tidak berani membantah apa yang dikatakan Natsume sekarang. Mereka merasa ketakutan terhadapnya. Dia kelihatan sangat aneh, sekelilingnya memancarkan aura yang menakutkan dan menitimidasi siapapun yang melihatnya.
Mereka sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Pada hari kedua perjalanan mereka menuju Kota pelabuhan Denethor , Natsume tiba-tiba bersikap aneh, dia kelihatan sangat gelisah, khawatir serta ketakutan. Dia terus memanggil nama Mikan dan sama sekali tidak menjawab pertanyaan mereka yang menanyakan apa yang terjadi. Setelah kejadian itu, dia berubah, dia kelihatan sangat marah dan tidak bisa diajak berkompromi.
"Sebaiknya kalian langsung ke pelabuhan saja. Aku akan mencari walikota ini. Aku akan memintanya meminjamkan Silphi." Ujar Tsubasa sambil menghela napas.
"Silphi?" Tanya Yuu bingung.
"Itu adalah nama kapal tercepat yang dimiliki kerajaan Arathorn." Jelas Ruka.
"Oo…" Ujar Yuu begitu mendengar penjelasan Ruka.
"Kalian tunggu aku di pelabuhan. Aku akan segera menyusul kalian di sana." Ujar Tsubasa tersenyum dan berlari masuk ke dalam pintu gerbang Kota Denethor melewati Natsume dan Yoichi.
"Sebaiknya kita turuti saja apa yang dikatakan Kak Tsubasa." Ujar Ruka.
Yuu mengangguk setuju sedangkan Natsume sama sekali tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam saja dan berjalan masuk ke dalam kota diikuti Ruka, Yuu dan Yoichi.
Seorang gadis cantik berusia sembilan belas tahun berjalan menikmati angin laut. Rambut hitam ikal panjangnya terbang dimainkan angin. Matanya yang berwarna biru menatap pasir putih di bawahnya.
"Putri…." Panggil seseorang dari belakang.
Gadis itu berhenti berjalan dan menoleh ke belakang menatap sumber suara itu.
Seorang wanita berjalan mendekatinya "Putri, sebaiknya anda segera pulang ke istana."
"Ba…baiklah… tapi, biarkan aku menikmati laut ini sebentar lagi…." Balas gadis pelan.
Wanita itu menghela napas "Baiklah. Tapi, hanya sebentar saja..."
Gadis itu mengangguk kepalanya cepat-cepat dan berjalan meninggalkan wanita itu. Dia mengangkat kepalanya menatap sekelilingnya dan tiba-tiba matanya menangkap bayangan seseorang wanita yang diseret ombak laut.
Rasa terkejut memenuhi hatinya dan tanpa disadarinya, dia telah berlari ke laut untuk menolong wanita tersebut. Dia sama sekali tidak mempedulikan teriakan ketakutan wanita di belakangnya yang terus menyuruhnya berhenti.
