A/N: Hanya saran. Bacanya pelan-pelan saja. Pelan... pelan~ sekali. Pokoknya hati-hati pas baca chapter ini. Kuroki takut lidah atau hati kalian keseleo (?). Soalnya beberapa kata/kalimat di chapter ini agak sedikit rada-rada (?). Intinya, selamat membaca :3
-Flashback-
-Yukki's POV-
353 tahun telah berlalu sejak eksekusi Minana. Tidak ada hal yang bisa kulakukan. Pekerjaan shinigami di dimensi ini sudah dialihkan dengan "proyek". Proyek adalah benda berbentuk dadu yang berfungsi untuk menutup paksa kuumon agar tidak ada hollow yang datang dan mengirim roh plus ke Soul Society/Neraka. Yang bisa melihatku hanyalah Hagaromo dan bount. Di dunia ini, tidak ada hal yang bisa kulakukan...
Aku sedang duduk di bawah pohon, dekat pinggiran sungai. Sambil menikmati (?) keindahan alam, aku memakan buah beri yang baru dipetik. Tempat ini sangat nyaman karena tidak ada manusia dan mudah menemukan makanan. Beginilah caraku melewati hari demi hari.
"Woaahh, si Putih!"
Kecuali satu orang...
'Jangan bilang dia lagi.' Ingin sekali aku mengatakannya langsung, tapi aku tahu kalau itu tidak ada untungnya.
Aku pura-pura tidak dengar. Ini sudah yang ke-273 kalinya dia datang menghampiriku. Tidak peduli berapa kali aku 'membasmi' ingatannya, tapi dia selalu datang... dan selalu mengatakan hal yang sama. Aku seperti terjebak dalam infinity time loop.
"Jangan mengabaikanku!" serunya seraya melompat ke depanku. Kemudian mengambil beberapa beriku. Lalu memakannya.
"Namaku ******** ******. Namamu siapa?" Dengan wajah tidak bersalah, ia memperkenalkan diri, menanyai nama, dan makan buah beri yang kupetik.
Aku tidak ingat bagaimana penampilannya saat itu. Ciri fisik, pakaian yang dikenakan, dan nama..., aku tidak ingat. Hanya suaranya yang khas... yang masih kuingat. Mungkin karena saat itu aku memakai gigai..., jadi dia bisa melihatku. Gigai adalah tubuh buatan yang biasanya digunakan oleh shinigami saat tinggal di dunia manusia. Ketika menggunakan gigai, shinigami dapat dilihat dan berkomunikasi dengan manusia biasa.
"Namikaze Yuuki," jawabku.
"Namikaze Yukki?" tanyanya dengan nada bingung yang dibuat-buat.
"Yang benar Yuuki," jawabku membenarkan.
"Yukki?"
"Yang benar Yuuki."
"Yukki?"
"Yuuki."
"Yukki?"
"Yuuki."
"Yukki?"
"Yang benar Yuuki. Yuuki artinya adalah keberanian."
"Kau itu putih. Wajahmu juga terlihat dingin karena tidak berekspresi. Kau lebih cocok dipanggil Y-u-k-i yang berarti salju. Tapi karena lidahku pasti kepeleset kalau nyebut itu, jadi kupanggil Yukki saja. Lagipula 'Yukki' mudah disebut."
Alasan yang terlalu logis. Pada akhirnya, aku menyerah.
"Iya, baiklah. Namaku Namikaze Yukki. Tapi aku sudah terbiasa dengan 'berani' daripada 'saleju' yang kau plesetkan itu."
Ia terseyum puas saat aku mengatakan hal itu. Ekspresinya menyerukan kemenangan. "Jangan khawatir, kau akan terbiasa."
Bahkan jika tidak ingat rupanya, tapi aku masih ingat senyum puas yang ia tunjukkan saat itu.
"Baiklah, Yukki, aku ingin bertanya sesuatu padamu!" serunya. Ia benar-benar tidak tahu malu.
Perkataan serupa untuk yang ke-273 kalinya. Jika sudah sebanyak itu, secara teori, harusnya aku sudah mulai merasa bosan. Meski begitu, tapi tanda-tanda bosan itu masih belum muncul.
"Silahkan," balasku.
"Apa kau tahu kenapa belakangan ini aku sering lupa?"
Ia masih tersenyum, tapi entah kenapa, suaranya terdengar aneh (?). Maksudku, suaranya seperti suara seseorang yang sedang marah atau kesal. Apa itu artinya ia sedang marah? Tapi ia sedang tersenyum.
"Mungkin kepalamu terbentur sesuatu," jawabku dengan nada seperti biasanya.
Saat aku mengatakan hal itu, ia malah menjambak rambutku. Jawabanku tidak salah, kan? kenapa dia masih marah?
"Aku tidak terbentur! Bahkan jika iya, tidak ada luka atau benjolan di kepalaku! Kalau mau bohong, lakukanlah dengan benar, Yuk-ki!"
Saat mendengar jawabannya, aku sadar kalau ia sudah ingat. Meski begitu, aku yakin kalau itu tidak semuanya.
"Kalau sudah tahu penyebabnya, kenapa masih tanya?" tanyaku bingung. Jika sudah tahu, harusnya ia segera menjauh dariku.
"Aku hanya tahu dalangnya, bukan penyebabnya! Paham?!"
Dengan wajah tersenyum, ia masih menjambakku.
"Oh, kalau itu, aku menggunakan zanpakutou-ku untuk membuatmu lu–"
"Masih tidak paham? Harusnya kau minta maaf atas semua perbuatanmu itu!
"Maaf."
Sesuai permintaan, aku melakukan apa yang ia katakan, tapi...
"Aku tidak bisa merasakan penyesalanmu!"
Pada akhirnya, ia melepaskanku. Dengan perasaan marah, ia pergi.
Kupikir, gadis berusia 15 tahun ini tidak akan datang lagi, tapi sepertinya aku salah.
...
Keesokan harinya, ia datang lagi..., sambil membawa sesuatu di balik tangannya. Sebelum aku melihat apa yang ia bawa, dengan cepat ia mencoba memasukkan benda di tangannya itu ke mulutku. Aku segera mengindar. Setelah jarak kami cukup jauh, aku melihat tangan yang ia genggam. Ada sesuatu yang menonjol dan berwarna merah di tangannya. Aku langsung tahu itu apa.
"Kenapa menghindar?!" teriaknya kesal.
"Tentu saja aku menghindar," jawabku datar.
Bukan hanya aku, siapapun pasti akan menghindar jika seseorang mencoba memasukkan cabai ke mulutmu.
"Habisnya..! Ekspresimu terlihat dingin! Tanganku jadi gatal, nih!" serunya.
Mendengar hal itu, aku berjalan mendekatinya. Lalu mengambil semua cabai di tangannya. Kemudian, aku mengaruk telapak tangannya yang gatal.
"Ngapain?" tanyanya. Entah kenapa nada bicaranya terdengar tidak semangat.
"Menggaruk tanganmu," jawabku.
"Kau ini tidak mengerti kata kiasan, ya?!"
Pada akhirnya, dia datang setiap hari. Dia terus melakukan banyak hal untuk memancing emosiku. Tidak seperti Lucky yang melakukannya karena keisengan, yang gadis itu lakukan adalah murni keingintahuan. Saat kutanya kenapa melakukan ini, ia bilang ia penasaran apa yang terjadi padaku jika aku terlihat seperti manusia.
Benar.
Aku memberitahunya soal jati diriku yang merupakan shinigami. Lalu anehnya, semakin banyak yang kukatakan, semakin banyak yang ia tanyakan. Jika aku tidak menjawab, ia akan melakukan apapun agar aku menjawab. Untuk pertama kalinya, aku tahu bagaimana rasanya merinding. Gara-gara harus menjawab semua pertanyaannya, aku jadi membeberkan semuanya —SEMUA informasi pribadiku—, seperti informasi bount ciptaanku, Minana, dan bertemu dengan diriku yang datang dari masa depan.
Lalu, ada satu hal pasti yang baru kuketahui saat bersama dirinya..., "Wanita selalu benar". Tidak peduli berapa kali kami berdebat, aku selalu kalah. Ia selalu mematahkan argumenku seperti mematahkan ranting pohon. Padahal saat di Soul Society dulu, jika adu argumen, aku tidak pernah kalah sekalipun. Bahkan jika lawan argumenku adalah Central 46.
..
Lalu, saat dirinya berumur 22 tahun, ia mengatakan sesuatu yang membuatku cengo setengah mati.
..
Sudah 7 tahun aku tinggal bersamanya. Karena di dunia ini aku tidak punya rumah, ia menyuruhku untuk tinggal bersamanya. Ia hanya tinggal sendiri di rumah kayu, tepatnya rumah kayu yang kuperbaharui dengan meniru jurus mokuton milik seseorang dari masa depan yang dipanggil Yamato. Ia bilang, ia kabur dari klannya. Alasan kaburnya karena selalu dimarahi atau dipukul saat ia tanya kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa kenapa dan kenapa.
Yah, itu alasannya yang dulu. Sekarang, bahkan jika ingin, ia tidak bisa kembali. Seluruh keluarganya sudah terbunuh. Pertanyaan yang selalu ia tanyakan pada keluarganya dulu adalah 'kenapa kita harus bertarung jika masalah tersebut bisa diselesaikan baik-baik?' Aku tidak bisa komentar apapun tentang nasib klannya. Habisnya, sejak ada chakra dan ninjutsu, dunia ini sudah berubah menjadi dunia yang penuh dengan konflik.
Sudah 7 tahun kami tinggal bersama. Banyak hal yang sudah terjadi dan ia lakukan padaku. Jika dibandingkan dengan diriku yang dulu, aku bisa merasakan adanya perbedaan. Sekarang, aku bisa berekspresi, meski itu karena disuruh, terpaksa, atau sesuai situasi. Bahkan jika hanya paksaan, tapi itu terlihat alami. Aku sudah bisa berekspresi seperti manusia, tapi perempuan itu bilang kalau dia tidak puas. Dia bilang, dia tetap akan melakukan apapun agar aku bisa berekspresi sesuai dengan suasana hati yang kurasakan.
'Dasar keras kepala.' Begitulah kesanku padanya.
"Yukki..."panggilnya.
"Hm?" responku.
"Nikah, yuk!"
"Hah?"
Kata-katanya membuatku cengo setengah mati. Otakku langsung kosong melompong (?) saat dia mengatakan hal itu.
"Moshi-moshi?" panggilnya karena aku tidak merespon.
Panggilannya membuatku kembali sadar ke dunia nyata.
"A-a-apa kau sadar dengan yang kau katakan itu?" tanyaku panik.
Akhirnya aku tahu makna kata 'panik' yang sebenarnya.
"Tentu saja aku sadar," jawabnya.
"Apa kau lupa?! Aku ini Shinigami!" ujarku mengingatkannya lagi.
"Aku tahu itu, Bodoh!" balasnya tidak mau kalah.
Dilihat dari sudut pandang manapun, ini sangatlah tidak rasional. Dari sekian banyak ratusan juta manusia laki-laki yang ada di dunia ini, kenapa harus memilih laki-laki yang merupakan shinigami?
"Lalu kenapa? Kau tahu,kan? Jika shinigami menikah dengan manusia, maka–"
"Anak kita akan jadi setengah shinigami," potongnya. Ia senyum-senyum saat mengatakan hal itu.
'Percuma. Tidak ada harapan.' Begitulah pkirku saat itu.
Aku menepuk jidatku saat ia mengatakan hal itu. Jika dipikir-pikir, mungkin ini adalah pertama kalinya aku ingin menolak permintaan seseorang.
"Itu memang benar, tapi bukan itu maksudku," jawabku tidak semangat.
Nada bicara tanpa intonasi —datar— dan nada bicara saat tidak semangat. Aku baru tahu kalau keduanya terdengar sama. Meski begitu, saat ini, aku akhirnya tahu kalau sekarang ini aku sedang tidak semangat
"Pilihannya cuma 2. Mau atau iya?"
'Percuma. Tidak ada harapan,' pikirku saat mendengar 2 pilihannya itu. "Itu pilihannya hanya ada 1."
"Sekarang kau memang bisa berekspresi, tapi itu tidak lebih seperti topeng. Aku ingin melihatmu berekspresi sesuai dengan apa yang kau rasakan. Keluarga adalah sumber emosi. Perasaaan sedih, bahagia, marah, takut, muak, kaget, cinta, dan kasih sayang, semuanya ada dalam keluarga. Jika dipikirkan secara logis, ini adalah cara terbaik. Dan lagi, kau tidak ingat kasih sayang yang ada dalam keluarga, kan? Ini seperti sekali menembak kena 2 burung."
Rasanya aku ingin menghapus ingatannya tentangku. Namun aku tahu kalau itu tidak ada gunanya. Kepalanya penuh kenangan bersama diriku. Membuatnya lupa hanya akan memperburuk keadaan.
Aku ingin kabur. Namun aku tahu kalau itu juga tidak ada gunanya. Waktu itu, aku pernah kabur ke suatu tempat di dunia shinobi. Jauh... jauh dari hadapannya. Lalu tiga bulan kemudian, ia menemukanku. Jika dibandingkan dengan kemampuan manusia di dunia ini, kemampuannya hanya rata-rata. Namun instingnya terlalu bagus.
"Baiklah," jawabku. Aku menyerah. Untuk diriku yang ingin punya emosi dan perasaan, alasan yang ia berikan terlalu logis. "Tapi, kita tidak akan tinggal di sini. Kalau mau berkeluarga, kita harus tinggal di tempat yang banyak orangnya. Tentu saja cari tempat yang tidak ada konfliknya," saranku padanya. Jika kupikir-pikir, ini juga pertama kalinya aku menyarankan sesuatu sesuai keinginan tanpa paksaan situasi.
"Okeeee~~. Berarti sekarang nama belakangku berubah jadi Namikaze, ya? Hihihi..."
Apa demi diriku? Atau demi dirinya sendiri? Yah, aku tidak tahu kenapa ia melakukannya sampai sejauh ini. Kau tahu, kan? Menikah itu bukanlah sesuatu yang bisa di permainkan. Menikah itu harus dengan orang yang kau cintai. B-bukannya aku tidak cinta dengannya. H-hanya saja, aku ini shinigami. Dulu, aku sudah membiarkan Minana menciptakan bount. Jika Kakek Gunung (baca: Yama-jii a.k.a Genryusai Yamamoto, kapten divisi 1) tahu aku menikahi manusia...
Saat itu, apa yang kubayangkan tidak sebanding dengan apa yang terjadi nanti. Jika saja aku menggunakan kemampuan melihat masa depan setelah menerima pernyataan nikahnya, aku pasti akan menarik kata-kataku lagi. Masa depan adalah sesuatu yang terjadi karena tindakan di masa lalu. Karena aku memilih untuk menikah dengannya, maka masa depan yang menungguku adalah...
...
...
Aku memilih untuk menikah dengannya. Kami dikaruniai 3 anak. Selisih umur anak pertama dengan anak kedua adalah 3 tahun dan anak kedua dengan anak ketiga adalah 1 tahun. Lalu akhir yang menunggu keluarga 'kecil'ku ini adalah...
Seperti yang ia katakan, keluarga adalah sumber emosi. Kau bisa merasakan semua perasaan jika berkeluarga. Aku tahu bagaimana rasanya takut saat ia melahirkan. Aku tahu rasa bahagia saat ia melahirkan anak kami dengan selamat, tentunya ia selamat juga. Aku tahu rasanya khawatir saat melihat ia dan anak kami sakit. Lalu, aku akhirnya tahu bagaimana rasanya kaget. Aku sangat terkejut saat melihat nama istriku di denreishinki —ponsel yang biasa di pakai shinigami—. Ia meninggal pada umur 62 tahun pada tanggal x bulan y karena sakit, tepatnya 3 bulan lagi.
Tanggal dan bulan berapa ia meninggal, aku juga tidak ingat. Akhirnya aku mengerti bagaimana perasaan Yukki masa depan pada istrinya. Kenapa ia sampai bertindak sampai sejauh itu hanya untuk manusia.
Semakin lama, tubuhnya semakin lemah. Semua aktivitasnya hanya bisa dilakukan di atas futon. Yang bisa kulakukan hanyalah membantu aktivitasnya itu, dan berada di sampingnya. Di masa ini, obatnya belum ada. Dengan pengetahuanku dan ingatan dari masa depan, aku bisa membuat obat tersebut. Namun ia melarangku untuk membuatnya. Ia melarangku menyembuhkannya jika cara atau obat tersebut berasal dari masa depan.
"Yukki..."
Suaranya membuyarkan lamunanku.
"Apa?"
"Ini!" ujarnya seraya memberikan sebuah buku padaku.
Aku mengambilnya. Itu adalah buku, tepatnya buku bergambar. Aku langsung tahu karena ada gambarku dan dirinya di cover depan, meski gambarnya itu terlihat seperti coretan anak kecil.
Buku itu masih ada sampai sekarang. Aku masih menyimpannya, bahkan menganggapnya sebagai pedoman hidup. Meski di cover dan dalam buku tersebut ada gambar dirinya, tapi aku tidak bisa melihatnya. Semua yang berhubungan dengannya, aku tidak bisa melihatnya. Menyuruh orang untuk mendeskripsikan penampilan dirinya dari buku gambar ini juga percuma. Aku tidak bisa mendengarnya.
Kubuka lembar demi lembar. Jujur saja, gambarnya jelek sekali. Mataku sakit saat melihat gambarnya ini. Meski begitu, aku bisa mengerti isinya. Buku ini berisi poin-poin penting tentang kisah hidup kami sejak pertama kali bertemu.
"Jangan memaksakan diri hanya untuk membuat benda jelek ini," komenku. Aku masih melihat isi buku ini.
"Kasarnya! Padahal sudah susah-susah kubuatkan untukmu!"
Dari ekspresi di wajahnya, aku tahu kalau ia tidak berbohong. Aku mengelus kepalanya. Lalu mengembalikan buku gambar ini.
"Aku pasti akan menyelamatkanmu," gumamku sambil tersenyum.
"Jangan la–"
"Jangan khawatir. Aku tidak akan menggunakan cara, metode, atau obat yang berasal dari masa depan. Aku juga tidak akan memundurkan waktumu. Ada beberapa hal lain yang terpikirkan olehku," potongku.
Meski itu adalah cara terlarang, aku sudah membulatkan tekadku untuk melakukannya.
Saat itu, aku mengurung diri di gudang belakang. Kugunakan tempat itu sebagai lab rahasia sementara. Tidak boleh menggunakan metode penyembuhan dari Soul Society, jikugan ninjutsu, maupun masa depan. Kalau aku tidak bisa menyembuhkannya, berarti pilihanku adalah membiarkannya mati. Jika aku tidak bisa menyembuhkannya, hidupkan saja kembali.
Hollow memiliki kemampuan untuk menarik jiwa manusia dan memasukkannya ke media atau makhluk hidup lain. Namun cara itu hanya akan bertahan sementara. Jiwa yang dipindahkan, perlahan akan mati. Karena itu, jika aku bisa meniru kemampuan tersebut dan menyempurnakannya, aku bisa menyelamatkannya dari kematian tanpa perlu melanggar janji kami.
Jauh-jauh aku pergi ke Hueco Mundo untuk menangkap beberapa 'spesies segar' yang bisa mengajariku. Kupakai semua jenis segel agar makhluk-makhluk ini tidak bergerak sedikitpun. Lalu kubuat mereka membeberkan cara menarik jiwa manusia dan memasukkannya ke media lain.
Bahkan jika aku memiliki mata iblis, meniru teknik dari ras lain sangatlah sulit. Mengatur jumlah reiryoku di tangan untuk menarik jiwa tanpa memutuskan rantai takdir didada mereka, jujur saja, ini sangat sulit. Cara pengandalian kekuatan rohku benar-benar diuji.
Saat itu, entah butuh berapa ribu kali aku mencoba agar bisa menguasainya.
Menguasai, membuat teori baru, serta mencari manusia lain untuk menampung jiwa istriku, semua itu membutuhkan waktu hampir 3 bulan. Benar-benar nyaris sekali.
Besok adalah hari kematiannya. Tapi, semua orang melarangku saat ingin memindahkan jiwanya, SEMUANYA... termasuk dia sendiri. Aku sudah berusaha sekuat tenaga menjadi suami baik. Aku bahkan mati-matian menemukan cara lain untuk menyelamatkannya, cara yang tidak termasuk dalam perjanjian kami. Meski begitu, ia, anak-anakku, dan menantu-menantuku..., semuanya melarangku memakai cara tersebut. Pada akhirnya, ia meninggal. Tanpa bisa melakukan apapun pada jiwanya, 'proyek' sudah mengirimnya ke Soul Society.
Setelah ia meninggal, tidak ada alasan bagiku untuk tinggal. Anak-anakku sudah besar, berkeluarga, bahkan punya anak. Diriku yang awet muda membuat anak-anakku dibenci oleh para tetangga, serta kerabat dari istri/suaminya. Aku memutuskan untuk pergi..., dan meninggalkan gigai-ku di sana. Manusia yang disebut tetangga dan kerabatku pasti akan menganggap diriku sudah meninggal, tapi untuk keturunanku —untuk mereka yang bisa melihatku—, mereka akan menganggapku masih hidup dan berpikir kalau aku melanjutkan tugas sebagai shinigami.
Lalu, hari yang kutakutkanpun akhirnya datang...
Tidak terasa 200 tahun telah berlalu sejak kematian istriku. Kakek Gunung a.k.a Genryusai Yamamoto mengirim pesan ke denreishinki-ku kalau 3 hari lagi ia akan datang ke dunia ini. Ternyata butuh waktu 200 tahun agar nama istriku a.k.a Namikaze sampai ke telinga Kakek Gunung. Mengetahui hal itu, spontan aku menggunakan kemampuan untuk melihat masa depan. Masa depan adalah sesuatu yang terjadi akibat tindakan di masa lalu. Jika Kakek Gunung tidak berubah pikiran, maka 3 hari nanti adalah akhir dari keluarga 'kecil'ku.
Kepalaku langsung sakit saat mengintip kejadian di masa depan. Berjuta-juta hal yang akan terjadi di masa depan, semua informasi itu masuk ke dalam otakku. Karena hal itu, aku jarang menggunakan kemampuan ini. Lebih enak memprediksi apa yang terjadi di masa depan dibanding melihatnya secara langsung. Lagipula, prediksiku jarang meleset.
'Apa tidak ada yang bisa kulakukan?' pikirku.
Sambil menunggu kedatangan Kakek Gunung, yang bisa kulakukan hanyalah membaca buku bergambar yang dibuat istriku dulu.
3 Hari Kemudian...
Tiga hari telah berlalu. Aku menunggu di tempat dimana Kakek Gunung akan datang. Tidak perlu menuggu lama, Kakek Gunung pun datang tepat waktu. Ekspresi di wajahnya terlihat marah. Atau kesal? Yah, apapun itu, sepertinya ia sudah kehilangan respek padaku. Setelah apa yang terjadi di masa lalu, kupikir wajar saja jika ia marah.
"Aku benar-benar terkejut saat ada jiwa di Rokungai yang memiliki nama belakang seperti dirimu, Yuuki."
"Namaku sekarang adalah Namikaze Yukki, Kakek Gunung..." ujarku memberitahu namaku.
"Sepertinya manusia itu sudah mempengaruhimu, ya? Ekspresi di wajahmu tidak sama seperti dulu."
Perlahan Kakek Gunung berjalan mendekatiku. Atau... itulah yang kupikirkan. Aku sudah melihat masa depan. Harusnya aku tahu kalau yang ia tuju adalah Klan Namikaze yang ada di belakangku, tepatnya 1000km di belakangku.
"Haruskah mereka dibunuh? Mereka tidak melakukan apa–"
"Dimensi ini sudah 'ternoda'. Lalu kau malah ikut 'menodainya'. Selagi masih sedikit, aku akan memusnahkannya. Tidak hanya itu. Aku juga akan mengeksekusimu. Percuma punya 'tangan kanan' yang bisa melihat masa depan dan memanipulasi waktu suatu objek jika tidak bisa diatur," potongnya.
Tangan kanan itu adalah aku, meski kenyataannya tidak seperti itu. Kakek Gunung adalah orang yang merawatku sejak masih kecil.
Makhluk yang bukan berasal dari dimensi tersebut, dilarang mencampuri kehidupan manusia dimensi tersebut. Apalagi sampai menikahi dan memiliki keturunan. Itu akan mengganggu jumlah roh dan mengacaukan sistem reinkarnasi. Jika ada yang melanggar, maka harus dimusnahkan. Lagipula, siapapun yang lahir dari 2 manusia di dimensi tersebut, jika meninggal, maka ia akan bereinkarnasi ke dimensi itu lagi. Hal itu sesuai dalam reihou (baca: hukum roh).
"Jika 'makhluk asing sepertiku menikahi manusia dari dimensi ini' disebut menodai, maka bukan aku saja yang menodai dimensi ini. Berarti para bount yang Uzumaki Minana ciptakan itu juga harus dimusnahkan, ya? Saat melihat masa depan, ada 20 dari 97 bount ciptaannya yang sudah berkeluarga dan membentuk klan baru di dimensi ini."
600 tahun lalu, aku sengaja membantu Minana menciptakan bount. Dari sudut pandang Kakek Gunung, saat tahu kalau Minana adalah pendatang dari masa depan, tindakanku yang membiarkan Minana membuat bount adalah hal yang tak bisa di maafkan. Tapi dari sudut pandangku, tindakan Minana adalah hal yang sia-sia. Alasan kenapa aku membiarkannya membuat bount, aku tahu kalau bount-bountnya tidak akan bertahan sampai ke zaman saat ia hidup.
Saat itu, aku tidak menyangka kalau akulah penyebab musnahnya bount buatan Minana.
"Apa maksudmu?"
Kugunakan informasi itu untuk bernegosiasi dengan Kakek Gunung.
"Aku yang akan membunuh semua anggota Klan Namikaze, kecuali 1 anak. Jika anak ini sudah besar, menikah, dan memiliki anak, aku akan membunuhnya beserta istrinya. Lalu aku akan merawat anaknya sampai usia tertentu. Setelah anak itu besar, menikah, dan memiliki anak, aku akan membunuhnya seperti membunuh orang tuanya. Lalu aku akan merawat anaknya sampai umur tertentu. Aku akan terus melakukan itu sampai bosan," ujarku menjelaskan.
"Jika sudah bosan?"
"Aku akan membunuh keturunan terakhirku. Dengan begitu, manusia yang disebut Namikaze akan musnah," jawabku.
"Lalu, sebagai ganti dari 1 nyawa manusia yang kau selamatkan itu?"
"Aku akan menyebarkan rumor agar para bount diburu oleh semua manusia di dimensi ini. Bount ciptaan Minana sedikit berbeda dengan bount milikku. Aku sudah 'mendesainnya' agar mati jika mereka bosan hidup. Lalu, aku juga akan 'menghapus' emosi manusia yang kudapatkan dengan bankai. Aku akan melupakan istri dan anakku, menganggap semua ini tidak pernah terjadi. Jika masih belum cukup, aku–"
"Sudah cukup. Aku akan menyetujuinya," potong Kakek Gunung. "Namun ini akan sama seperti sebelumnya, kau harus menyelesaikan misi yang sebelumnya. Kau juga dilarang kembali ke Soul Society. Sudah 750 tahun sejak aku menyuruhmu untuk menemukannya. Jika kau tidak malas-malasan, seharusnya ada 1 atau 2 petunjuk tentang keberadaannya," tambahnya.
"Jika 1 petunjuk, aku sudah mendapatkannya. Orang itu akan muncul 200 tahun lagi. Saat itu, aku pasti akan membunuh dan membawa rohnya ke hadapanmu," balasku.
Sejak awal, misi itulah alasan kenapa aku datang ke dunia ini.
"Ini akan menjadi kesempatanmu yang terakhir! Jika kau melakukan kesalahan lagi, akan kubakar kau jadi abu!" ancamnya.
"Hanya aku yang boleh membunuh keluargaku sendiri. Jangan biarkan shinigami lain menggangguku, Kakek Gunung. Akan kulenyapkan shinigami itu beserta divisinya jika berani menggangguku," 'pinta'ku juga. "Aku serius."
Selama permintaannya masuk akal dan ada alasan yang logis, aku akan menurutinya. Jika berbuat salah, aku akan menerima hukumannya. Tentu saja mereka harus menyertakan alasan yang tepat kenapa tindakanku disebut salah. Aku ini seperti anak kecil yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Karena tidak tahu, yang bisa kulakukan hanyalah mengikuti aturan yang ada. Untuk diriku yang tidak punya tujuan hidup, begitulah caraku menjalani hidup. Kakek Gunung tahu itu.
Jika mempertimbangkan kerugian yang terjadi pada Klan Namikaze saat itu, aku senang karena masih bisa menyelamatkan beberapa hal. Meski yang bisa kuselamatkan hanya beberapa saja, jika memperhitungkan apa yang akan terjadi di masa depan, harusnya kerugiannya akan tertutup.
"Kau pikir aku sudi mengirim shinigami lain ke dunia penuh konflik ini? Hmph, tidak akan! Kuharap kau mati dibunuh manusia atau bount ciptaanmu!"
Aku mengembalikan denreishinki (baca: ponsel shinigami) pada Kakek Gunung. Karena aku diasingkan, misiku sudah jelas, dan tidak ada hollow yang bisa kubasmi, tidak ada gunanya menyimpan benda itu.
Meski Kakek Gunung bilang begitu, tapi dia tahu kalau aku tidak akan mati semudah itu. Meski kemampuan zanjutsu-ku dibawah standar, terlebih lagi kemampuan zanpakutou-ku tidak bisa dipakai dalam pertarungan, tapi ia tahu kalau kekuatanku setara dengan semua shinigami yang ada di Seireitei —atau mungkin lebih.
Jika aku mau, aku bisa saja membunuh Kakek Gunung dan semua shinigami di Soul Society agar klanku bisa selamat. Tapi sayangnya, aku tidak mau melakukannya. Menurut perhitunganku, lebih banyak ruginya daripada untungnya. Aku juga tidak mau menggantikan tugas shinigami mereka.
Setelah Kakek Gunung pergi, aku melakukan tugasku. Aku membunuh mereka seperti orang gila. Kau tahu? Ini adalah keluarga yang ingin istriku bangun, tapi aku malah menghancurkannya. Bagi diriku yang tidak memiliki perasaan, itu adalah pertama kalinya aku menangis dari lubuk hatiku, dan mungkin juga terakhir kalinya.
Setelah sekian lama, aku akhirnya tahu apa yang namanya keputusasaan. Padahal dulu, saat semua keluargaku di Seireitei menghilang, aku tidak merasakan apapun.
Namikaze adalah orang-orang yang lahir dengan ciri fisik rambut kuning dan mata biru. Apakah warna rambut dan mata mereka adalah turunan dari istriku atau diriku? Atau mungkin campuran dari kami berdua? Yah, entahlah. Yang pasti, aku membunuh semua anggota Klan Namikaze yang memiliki ciri fisik tersebut, hingga tersisa 1 orang/anak. Sedangkan keturunanku yang tidak memiliki ciri fisik tersebut, kukumpulkan mereka jadi 1 dan membentuk klan baru. Kubatasi kekuatan klan mereka menjadi 5 orang. Maksudku, hanya 5 orang di klan itu yang memiliki reiatsu yang lumayan. Sedangkan sisanya, kuhilangkan kekuatan spiritual mereka. Aku melakukannya agar Soul Society tidak bisa menemukan mereka —jika sewaktu-waktu ada shinigami lain atau Kakek Gunung datang lagi. Tentu saja aku menghapus (baca: membuat lupa) ingatan dan mencampurkan ingatan lain pada mereka yang selamat. Tidak akan kubiarkan klan baru itu mengingat tentangku maupun klan Namikaze.
Klan baru itu bernama Yamanaka.
Setelah menyelesaikan semua urusan, tinggal 1 hal lagi yang perlu kulakukan, yaitu menghapus ingatanku tentang mereka, tentang istri dan anak-anakku.
"Tolong, ya?" gumamku sambil mengenggam erat zanpakutou-ku. Air mataku tidak mau berhenti saat melakukan hal itu. Lalu aku mengucapkan, "Bankai..."
Semua emosiku hilang. Aku kembali seperti diriku yang dulu, diriku yang tidak tahu kenapa seseorang harus menangis jika sedih, tersenyum jika bahagia, merintih jika kesakitan, mukanya penuh keriput jika marah, dan sebagainya. Pipiku yang basah karena air mata.., aku tidak mengerti kenapa air mata ini bisa mengalir keluar.
Lalu...
Harusnya aku tidak ingat pernah punya istri ataupun anak. Padahal aku sudah 'meminta' untuk menghapus semua hal tentang istri dan anakku. Namun yang kulupakan hanyalah penampilan fisik mereka dan.. beberapa hal kecil lain. Semua hal yang kualami dengan mereka, semua kenangan itu masih ada dalam ingatanku.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Aku selalu bersamamu sejak saat itu. Keberadaanku sudah membuatmu kehilangan banyak hal, seperti keluarga, emosi, perasaan, dan ingatan. Karena itu, setidaknya, aku ingin kau tetap mengingat kenangan manis bersama keluargamu. Tapi, meski aku berkata begitu, kau pasti tidak mengerti maksudku, ya?" Suara gadis kecil. Itu adalah suara zanpakutou-ku.
Sejak 'kecelakan kecil' di masa lalu, zanpakutou-ku tidak mau memberitahu namanya lagi. Karena hal itu, aku tidak bisa mengeluarkan kekuatan zanpakutou-ku sesuka hati. Dia (baca: zanpakutou) bilang, jika aku ingin memakai kekuatannya, tinggal bilang saja. Dia akan mengendalikannya untukku.
"Iya, benar, aku tidak mengerti. Kenapa kenangan bersama keluargaku bisa disebut manis? Apakah kau menjilatnya? Atau mungkin memakan dan memuntahkannya lagi sehingga kau bisa bilang itu manis? "
"..." Zanpakutou-ku tidak menjawab saat aku menanyakan hal itu.
-End of Yukki's POV-
-End of Flashback-
..
Rated: T
Genre: Adventure, Hurt/Comfort
Warning: OC, Death Character, Naruto/Bleach Fusion
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto, Bleach milik Tite Kubo
Main Chara: Namikaze Minana (OC), Lucky (OC), Namikaze Naruto
Pembuat fic: Kuroki
..
Chapter 13: Klan Namikaze
.
Seseorang yang dipanggil Yondaime Hokage, Namikaze Minato. Ia sekarang sedang membaca gulungan yang diberikan oleh Namikaze Yukki. Gulungan tersebut berisi 'sedikit' penjelasan yang mungkin perlu diketahui oleh Minato.
Aku membunuh semuanya..., aku membuang semuanya hanya agar keturunan-keturunan terakhirku bisa sedikit menikmati kehidupan di dunia ini. Keberadaan dan sejarah Klan Namikaze, semuanya berubah menjadi samar. Tidak ada satupun yang curiga, ataupun mencoba mencari info klan tersebut. Manusia di dimensi ini mungkin hanya sekedar tahu bahwa 'Namikaze' adalah nama klan, tapi tidak akan ada yang mencari tahu detailnya.
Saat kau lahir, aku membunuh kedua orang tuamu. Lalu aku merawatmu sampai berusia 5 tahun. Kemudian membuatmu lupa tentang diriku.
Lalu, saat waktunya tiba untuk membunuh dirimu dan Namikaze Kushina, seseorang sudah mendahuluiku. Kau masih ingat orang yang membunuh kedua Minana, kan? Rasanya aku ingin sekali membunuhnya karena sudah mengganggu pekerjaanku. Namun pada akhirnya, aku memanfaatkan kematian Minana dan tujuan tersembunyi shinigami itu untuk membujuk Kakek Gunung agar mengampuni nyawamu, Kushina, dan kedua anakmu. Berkat itu, aku jadi terbebas dari tugas untuk membunuh keturunan-keturunanku. Aku baik, kan?
Baiklah, sudah cukup cerita masa lalunya. Aku akan kembali ke topik utama. Akan kuberitahu tentang 'musuh alami' yang tadi sempat kusinggung. Informasi ini juga mengandung sesuatu yang ingin kau ketahui.
Musuh alami adalah orang-orang yang membunuhmu saat di masa depan. Bisa dibilang, musuh alami adalah orang yang ditakdirkan untuk membunuhmu.
'Keluarga berbagi takdir yang sama.' Jadi, musuh alamimu juga musuh alami keluargamu, begitu pula sebaliknya, meski persentasenya berbeda untuk setiap orang.
Contohnya, dalam kasus dirimu, Namikaze Minato:
1. Kyuubi adalah penyebab utama kau terbunuh. Persentasenya adalah 98,9%.
2. Karena kau adalah suami dari Namikaze Kushina, berarti kau juga berbagi takdir dengannya. Jika Kyuubi tidak membunuhmu, maka Uchiha Obito adalah penyebab lain kau terbunuh. Persentasenya adalah 90%.
3. Uchiha Madara dan Namikaze Minana adalah musuh alami Namikaze Naruto. Persentase kau terbunuh oleh salah satunya adalah adalah 81%.
4. Lalu orang yang ditakdirkan untuk membunuh Namikaze Minana adalah Namikaze Naruto, Lucky, atau Zetsu. Persentase kau dibunuh oleh salah satu dari mereka adalah 58%.
Kenapa Namikaze Naruto memiliki 2 musuh alami? Karena 2 hal itu pernah terjadi di masa depan.
Kenapa Namikaze Minana memiliki 3 musuh alami? Kenapa Namikaze Naruto dan Lucky menjadi musuh alami Minana? Untuk yang ini, jawabannya sederhana. Itu adalah kutukan yang dibawa oleh Minana masa depan. Alasan ia datang ke masa lalu itulah yang akan menghancurkannya. Selama anakmu melanjutkan tujuan Minana masa depan, meski ia belum melakukan perjalanan ke masa lalu, kutukan tersebut tetap berpengaruh padanya.
Setelah membaca ini, kau mungkin ingin tahu dimana Minana (anakmu) berada, kan? Dia ada di 5h(sp)2h(sp)4h. Aku sudah kasih petunjuk. Tebak sendiri, sana. Kau itu keturunanku. Harusnya kau bisa menebak teka-teki ini. Kuharap kau tidak terlambat *lol*
..
P.S.: Hanya saran. Jika kau tidak mau dianggap aneh atau gila, jangan membeberkan apa yang tertulis digulungan ini pada orang lain.
P.P.S.: Terimakasih sudah menghancurkan denreishinki yang diberikan Kakek Gunung padaku 16 tahun lalu. Dengan hancurnya benda itu, aku punya alasan untuk tetap tinggal di sini sampai bulan depan. Karena kau menghancurkan denreishinkiku sebelum aku menjawab perintah Kakek Gunung, itu berarti aku tidak akan dimarahi karena melanggar perintah. (Note: chapter 7)
-Minato's POV-
Aku membacanya dengan seksama sampai habis. Aku tahu kalau apa yang tertulis di sini bukanlah kebohongan. Klan Namikaze. Aku tidak menyangka kalau dia adalah kakek buyutku. Kupikir hanya kebetulan saja ia memiliki nama marga yang sama denganku.
Saat menjabat menjadi Hokage, aku pernah mencari info tentang klan dan kematian orang tuaku. Informasi tentang Klan Namikaze yang kutemukan sangatlah sedikit. 'Klan Namikaze adalah klan yang berasal dari Konoha'. Hanya itu info yang kutemukan. Tidak lebih. Lalu infomasi tentang kematian orang tuaku juga tidak menjelaskan apapun. Di dokumen yang kutemukan, orang tuaku meninggal beberapa hari setelah aku dilahirkan. Tidak ada detail kenapa mereka bisa meninggal.
353 tahun telah berlalu sejak eksekusi Minana.
353+7+40+200+200=800
Jika dihitung-hitung, berarti sudah sekitar 800 tahun sejak hari dimana Minana dieksekusi. Aku tidak tahu apa yang terjadi 800 tahun silam, tapi satu hal yang dapat kusimpulkan..., bukan 1 atau 2 kali Minana melakukan perjalanan ke masa lalu. Minana yang dieksekusi 800 tahun lalu, Minana yang tinggal bersama diriku dan Kushina, dan Minana yang kutemui bersama Fugaku 8 tahun lalu, kemungkinan mereka adalah Minana yang datang dari masa depan yang berbeda. Yang diketahui hanya 3, tapi mungkin masih ada lagi.
Kenapa Namikaze Naruto dan Lucky menjadi musuh alami Minana? Untuk yang ini, jawabannya sederhana. Itu adalah kutukan yang dibawa oleh Minana masa depan. Alasan ia datang ke masa lalu itulah yang akan menghancurkannya.
Apakah itu alasan sesungguhnya Minana kembali ke masa lalu? Untuk menyelamatkan Naruto dan Lucky? Tapi dari apa? Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan.
Sejak awal, misi itulah alasan kenapa aku datang ke dunia ini.
Aku tidak tahu misi apa yang ia lakukan di dunia shinobi ini. Apakah misi itu berhubungan dengan kematian Naruto dan Lucky di masa depan? Jika iya, kenapa dia repot-repot merawat 1 keturunannya dan menyelamatkan nyawa kami? Dia bisa melihat masa depan. Jika pada akhirnya ingin membunuh Naruto, harusnya ia membunuh semuanya saat dulu membantai anggota Klan Namikaze atau saat penyerangan Kyuubi.
Apa misinya adalah membunuh Minana masa kini? Tapi...
750+200=950
Ia mendapatkan misi tersebut sejak 950 tahun lalu. Jika eksekusi Minana masa depan adalah 150 tahun sejak ia mendapatkan misi, berarti membunuh Minana masa kini bukanlah misinya yang sebenarnya.
Meski Namikaze Yukki memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, tapi masa depan yang bisa ia lihat adalah masa depan yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan di masa lalu. Harusnya ia tidak bisa melihat masa depan tentang kedatangan seseorang dari masa depan. Dengan kata lain, ia dan Soul Society tidak tahu tentang kedatangan Minana masa depan.
Setelah membaca ini, seperti yang ia bilang, aku ingin sekali menemui Minana (kecil). Aku ingin ia memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi di masa depan. Namun aku tidak tahu dimana Minana berada.
Setelah membaca ini, kau mungkin ingin tahu dimana Minana (anakmu) berada, kan? Dia ada di 5h(sp)2h(sp)4h. Aku sudah kasih petunjuk. Tebak sendiri, sana. Kau itu keturunanku. Harusnya kau bisa menebak teka-teki ini. Kuharap kau tidak terlambat *lol*
Saat tadi membaca bagian ini, aku langsung sweatdrop. Aku tidak mengerti maksud sebenarnya Namikaze Yukki. Sebenarnya ia ingin memberitahu lokasi Minana atau tidak?
TAP
Saat aku sedang memikirkan petunjuk yang Yukki berikan, aku bisa mendengar keberadaan seseorang. Itu adalah kagebunshin-ku dan Godaime Hokage, Senju Tsunade-sama. Setelah menjemput Tsunade-sama, kagebunshin-ku menghilang. Begitu sampai, Tsunade-sama memeriksa keadaan Naruto.
"B-bagaimana, Hokage-sama?" tanyaku sedikit panik. Setelah membaca gulungan ini dan tahu kalau Naruto akan meninggal, aku jadi khawatir.
Meski tahu kalau kematian pasti akan menjemput, tapi aku tidak mau jika anakku terbunuh saat umurnya masih sangat muda.
Setelah memeriksa Naruto secara keseluruhan, Tsunade-sama menjawab pertanyaanku. "Jangan khawatir. Naruto tidak apa-apa. Ia hanya kelelahan saja."
"Syukurlah."
Aku sangat lega saat tahu Naruto tidak apa-apa.
"Dan lagi, bukankah sudah kubilang untuk berhenti memanggilku begitu? Rasanya agak aneh dipanggil 'Hokage-sama' oleh orang yang pernah menjabat sebagai Hokage."
"B-baik, Tsunade-sama."
"-san! Bukan -sama!"
"B-baik, Tsunade-san."
Untukku, rasanya aneh jika harus memanggilnya seperti ini. Apalagi Tsunade-sama itu seumuran dengan Jiraiya-sensei. Tapi jika ia tahu alasan utama kenapa aku memanggilnya '-sama' karena perbedaan umur kami, err... aku pasti akan dipukul sekuat tenaga.
"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Minato?" tanya Tsunade-sama dengan wajah serius.
Aku mulai menceritakan apa yang terjadi pada Naruto saat di Gunung Myoboku, seperti Naruto yang tiba-tiba hilang kendali sampai mengeluarkan 8 ekor, serta kedatangan shinigami yang membantu menyegel kembali chakra Kyuubi dan memperbaiki kalung Yin milik Naruto yang berisi chakra Minana.
"Begitu. Saat sedang tidur, tiba-tiba Naruto hilang kendali. Entah apa yang Naruto mimpikan, tapi jika mimpi itu adalah sesuatu yang akan terjadi nanti..."
Aku mengangguk pelan, bermaksud untuk membenarkan perkataannya itu.
"Baiklah, aku akan melakukan persiapan. Lalu soal shinigami bernama Namikaze Yukki–"
"T-tunggu. Lebih baik tidak membahasnya atau mencoba mencari tahu. Percuma saja karena dia pasti akan membuat kita lupa. Meski dia bilang sedang sibuk, tapi siapa tahu dia berubah pikiran."
Tanpa bertanya, Tsunade-sama mengangguk mengerti. "Sebelum pergi, dia (baca: Yukki) memberikan sebuah gulungan. Apa kau sudah membacanya?"
"Sudah. Gulungan ini berisi informasi tentang sejarah klanku. Lalu, gulungan ini juga berisi–"
"Ada apa, Minato? Kenapa hanya diam?"
DEG
Aku sangat terkejut saat Tsunade-sama berkata seperti itu. Padahal aku sedang menjelaskannya. Apa dia tidak dengar? Tapi kalau tidak dengar, harusnya ia tahu aku sedang bicara dari gerak bibirku.
"S-sebaiknya dibaca sendiri saja."
Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi. Pada akhirnya, aku menyuruhnya untuk baca sendiri. Aku tahu kalau ini tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi.
Lalu, Tsunade-sama membuka gulungan itu.
"Kosong?" Sambil terus menarik gulungannya, Tsunade-sama menunjukkan isinya juga padaku.
DEG
'Tidak, itu tidak mungkin!' teriakku dalam hati.
Aku benar-benar terkejut saat Tsunade-sama bilang itu kosong. Saat ia menunjukkan isinya padaku, aku bisa melihat tulisan pada gulungan ini. Sebelum sempat kubaca, Tsunade-sama terus menarik gulungan ini.
"Sudah cukup, Tsunade-san," ujarku seraya mengambil gulungan itu. Lalu aku menggulungnya kembali.
P.S.: Hanya saran. Jika kau tidak mau dianggap aneh atau gila, jangan membeberkan apa yang tertulis digulungan ini pada orang lain.
Sekarang aku ingat kalau Namikaze Yukki menulis sesuatu seperti ini. Saat ia bilang (baca: nulis) aneh atau gila, kupikir orang lain tidak akan percaya dengan apa yang kukatakan. Namun melihat reaksi Tsunade-sama saat aku menceritakan atau menyuruhnya membaca gulungan ini, aku tahu kalau aku salah.
Ini adalah kemampuan zanpakutou Namikaze Yukki.
Aku sadar kalau posisiku mirip dengannya. Seperti dirinya yang tidak bisa mendengar suara seseorang yang ia suruh untuk mendeskripsikan penampilan istrinya dari buku bergambar, seseorang disekitarku tidak bisa mendengar apa yang kukatakan atau melihat isi gulungan ini.
Ini sudah bukan lupa lagi, tapi terlihat seperti... melamun, melamun dalam keadaan sadar. Informasi yang mereka lihat atau dengar tidak sampai ke otak. Hal itu membuat mereka berpikir kalau mereka sedang tidak melihat atau mendengar apapun, meski itu ada di depan mata.
"Itu tidak kosong, kan? Apa hanya kau yang bisa melihatnya?"
"Sepertinya begitu," jawabku sambil mengangguk pelan. Aku tidak tahu apakah Tsunade-sama bisa mendengar dan melihat jawabanku atau tidak.
"Kalau begitu, bisa kau beritahu apa isinya?"
"Gulungan ini berisi informasi tentang sejarah–"
"Masih tetap diam, ya? Yah, tidak apa-apa."
Suaraku masih tidak sampai. Aku jadi merasa bersalah.
"Kalau begitu, aku akan pergi. Jika yang datang adalah Akatsuki, kita harus bersiap-siap dari sekarang."
Aku mengangguk pelan, seraya berkata, "Maafkan aku, Tsunade-san."
"Tidak apa-apa. Mungkin hanya Namikaze saja yang bisa membacanya," ujarnya santai.
Setelah mengatakan hal itu, aku mengirim Tsunade-sama ke Kantor Hokage dengan hiraishin.
"Eh?"
Saat Tsunade-sama pergi, aku baru menyadari sesuatu. Sebelum pergi, Tsunade-sama berkata, "Tidak apa-apa. Mungkin hanya Namikaze saja yang bisa membacanya." Dari kata-kata dan ekspresi Tsunade-sama, apakah ia tidak berpikir bahwa aku dan Namikaze Yukki memiliki hubungan darah?
Keberadaan dan sejarah Klan Namikaze, semuanya berubah menjadi samar. Tidak ada satupun yang curiga, ataupun mencoba mencari info klan atau anggota klan tersebut. Manusia di dimensi ini mungkin hanya sekedar tahu bahwa 'Namikaze' adalah nama klan, tapi tidak akan ada yang mencari tahu detailnya.
Aku jadi ingat kalau ada tulisan seperti ini di dalam gulungannya. Saat ia bilang (baca: nulis) 'samar', mungkinkah maksudnya ini? Tidak ada satupun orang yang akan mengaitkan kami —Namikaze yang sekarang— dengan Namikaze Yukki. Mereka tidak sadar dengan apa yang mereka pikirkan atau katakan jika berhubungan tentang Namikaze.
"Entah kenapa ini terasa... menyedihkan," gumamku pelan sekali.
-End of Minato's POV-
-Di Kediaman Yukki-
-Pukul 5 Pagi-
Gadis kecil berambut merah; mata kiri berwarna biru; memakai jaket, celana panjang, dan syal hitam; dan mata kanannya ditutup perban. Ia sedang berdiri depan tolet —cermin.
"Bagaimana perasaanmu, Minana-chan? Apa masih sakit?" Seorang pria berambut hitam; memiliki mata berwarna merah; serta memakai kaos dan celana panjang hitam, ia menanyakan hal itu sambil membereskan peralatan bekas operasi.
"Berkat obat penghilang rasa sakit, jadi tidak terasa sakit. Tapi, entah kenapa, rasanya agak aneh. Apa karena pertama kali mentransplantasi mata ini, ya, Lucky?" jawab dan tanya gadis kecil yang di panggil Minana.
Sedangkan pria yang dipanggil Lucky hanya menjawab, "Err... entahlah."
Minana masih memperhatikan dirinya yang ada di pantulan cermin. Lalu ia meraba perban yang menutup mata kanannya.
"Padahal saat di masa depan, Madara langsung main copot dan pasang saja, tidak melakukan operasi mata. Terus kenapa aku harus repot-repot–"
"Mau diulang? Sini kucopot lagi matanya. Terus dipasang lagi tanpa–"
"Mau kuhajar sampai mati?"
Lucky langsung terdiam saat mendengar ancaman Minana. Kalau jawab 'mau', itu artinya dipukul selamanya.
"Ng-ngomong-ngomong, Minana-chan, apa kau lapar?" tanya Lucky mengganti suasana.
"LAPAAARR~~! DARI KEMARIN BELUM MAKAN!" jawab Minana dengan semangat. 'Benar juga. Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah makan masakan buatan Lucky. Menurut ingatan Minana Besar, masakan Lucky rasanya teramat-sangat enak sekali.'
"Hahaha, begitu, ya? Yuk, kita makan," balas Lucky.
Setelah selesai membereskan peralatan bekas operasi, Lucky berjalan menuju dapur. Minana mengikutinya.
"Memangnya di rumah ini ada makanan, ya? Apa shinigami juga butuh makan? Kalau iya, makan apa? Oh, batu? Diakan shinigami batu," tanya Minana bertubi-tubi.
"Hahaha!" Lucky tertawa mendengar kata-kata Minana.
Mereka sudah sampai dapur. Tepatnya, mereka sekarang berdiri di depan kulkas.
"Kau akan terkejut saat melihatnya, Minana-chan!" seru Lucky seraya membuka kulkas.
"WOOAAAHHH!" seru Minana. Matanya berbinar-binar saat melihat isi kulkasnya. "'Wooaaahh' dengkulmu!" ekspresi dan sikapnya berubah 180 derajat.
"Ha..ha..ha..." Lucky menggaruk kepala belakangnya saat melihat perubahan sikap Minana.
Kulkas itu penuh dengan ramen cup. Tidak ada celah. Semua sisi dipenuhi oleh ramen cup, bahkan di dalam freezer juga.
"Wow, kolektor ramen cup, ya? Dia punya semua rasa dari setiap merek. Bahkan dia punya ramen cup edisi terbatas dan yang tidak diproduksi lagi," komen Lucky sambil mengeluarkan dan melihat ramen cup yang ada di kulkas.
"Tidak hanya dalam kemampuan, dia juga mengalahkanku dan Naru-nii-chan dalam hal kegilaan pada ramen," ujar Minana sweatdrop.
"Mau yang mana, Minana-chan?"
"Yang normal saja," jawab Minana tidak semangat.
"Hai', hai'!" balas Lucky semangat.
Setelah mengambil 2 ramen cup dari kulkas, Luckypun memasak air.
"Kalau begitu, aku mandi dulu," lanjutnya seraya berjalan ke kamar mandi.
"Hai', ha– eh?" Kata-katanya terpotong karena teringat sesuatu. 'Saat kagebunshinku memeriksa rumah ini, kalau tidak salah, di kamar mandi ada–'
"HUUWAAAAAAAAAAA!" teriak Minana seraya berlari kencang menuju Lucky.
"Mi-Mina–"
Sebelum selesai bicara, Minana sudah memeluk kakinya duluan.
"Lima huruf! Lima huruf!" gumam Minana yang ketakutan.
'Apa? Tuh makhluk masih di sana? Kupikir dia sudah pindah. Dan lagi, lima huruf? Maksudnya hantu, iblis, atau setan? Tapi, 'musuh' juga bisa dibilang lima huruf.'
Dari pengalaman kagebunshin-nya, Lucky tahu kalau ada sesuatu di dalam kamar mandi. Namun kagebunshin-nya menutup lagi pintu kamar mandi saat tahu ada 'benda besar' di dalamnya. Melihat Minana yang ketakutan, Lucky bermaksud pergi ke kamar mandi untuk mengusir 'benda besar' itu.
"TIDAAKK! JANGAN KESANA!" teriak Minana ketakutan. Pelukannya semakin erat.
Melihat Minana yang teriak ketakutan, Luckypun berhenti. Dari posisinya, ia tidak bisa bertatap muka dengan 'benda besar' itu. Pada akhirnya, ia menggunakan mata iblis untuk melihat situasi di kamar mandi.
Pintu kamar mandinya masih terbuka. Lalu 'benda besar' itu berjalan menuju pintu kamar mandi. Ia memakai dress (?) berwarna cream, gelang besi hitam di tangan kanannya, kalung merah yang terlihat seperti kalung anjing di lehernya, dan wajahnya tertutup oleh rambut panjang yang lurus. Jika dilihat dari belakang dengan mengabaikan 'aksesoris' di tangan dan lehernya, ia seperti perempuan cantik, tapi amit-amit mau muntah kalau sudah tahu atau lihat wajah aslinya. Lalu ada satu hal yang tidak bisa kau diabaikan saat melihat gadis (?) itu, yaitu ada rantai di dadanya.
"Fufu, apa aku menakutinya?" ujar gadis (?) tersebut tanpa merasa bersalah.
Lucky langsung menepuk jidatnya saat melihat gadis (?) itu keluar dari kamar mandi. "Minana-chan, jangan takut. Itu cuma mbah Orochi, bukan hantu toilet atau sejenisnya," kata Lucky tidak semangat.
.
.
Bersambung . . .
A/N: Chapter 13... done. Yo, Reader-san. Sudah selesai bacanya? Bagaimana menurut Reader-san tentang chapter ini? Apa kalian suka?
Oh, iya, pas pertama Yukki keluar (atau chapter apa/berapa ya? lupa), Kuroki malah menganggap kalau "Yukki" itu artinya keberanian. Lalu salah satu Reader mengingatkan kalau yang benar itu "Yuuki".
Sejujurnya, alasan Kuroki kasih namanya" Yukki", saat itu, pas nonton suatu anime, ada chara di anime tersebut ngomong yuki yuki terus (fansub-nya kasih keterangan kalau yukki = keberanian). Berhubung kuping Kuroki agak rada-rada, jadi Kuroki percaya aja kalau char itu ngomongnya yukki, bukan yuuki. Kuroki suka kata "Yukki", terlebih karena katanya artinya keberanian, jadi spontan Kuroki kasih nama Yukki karena pengucapannya sama kayak Lukki (baca: Lucky :v) *kayaknya Kuroki pernah bilang begini juga, tapi lupa chapter mana*
Tapi setelah tahu kalau yang benar itu "Yuuki"... T.T
Karena sudah terlanjur jatuh cinta sama kata "Yukki", dan lagi tidak mau ganti jadi "Yuuki" meski ingin arti namanya adalah keberanian, jadi beginilah akhirnya. Maafkan Kuroki karena saat itu kurang mencari informasi T.T
Btw, jika ada bagian di chapter ini yang membuat Reader-san bingung, silahkan katakan/tanyakan saja.
Jika ada bagian yang salah atau semacamnya dalam cerita ff ini, silahkan katakan saja. Silahkan bilang juga jika ada typo, miss typo, dan autocorrect yang terlalu pintar (?).
Kuroki minta maaf kalau ada kata yang membuat Reader-san tersinggung. Arigatou karena sudah mau mampir ke sini. Sampai ketemu di chapter selanjutnya *BOFF*
