Title: Friends, Family, and Love
Disclaimer: Saia ingin memiliki Persona Series tapi sayangnya ATLUS tidak mengijinkan…. -dibom ATLUS-
A/N: Ini adalah chapter yang sangat gaje dan abal. Juga sangat lebay dan ancur. Dan chapter ini juga dipenuhi dengan penderitaan Souji~! -dikeroyok fans Souji- Enjoy! -dihajar-

--Amagi Inn--

S.E.E.S. dan I.S. tengah berkumpul di sana, membicarakan mengenai apa yang kira-kira akan dilakukan Kuga dan kelompoknya, sekaligus mendengarkan apa rencana mereka sebenarnya dari Rin.

"Jadi, mereka berniat membangkitkan Nyx dan Ameno-Sagiri?" tanya Mitsuru langsung to the point.

"Kira-kira begitulah. Aku sendiri tidak tau apa sebenarnya maksud dari rencana mereka itu," sahut Rin. Souji tampak berpikir keras.

"Mungkin mereka ada maksud untuk melenyapkan kita...." katanya. Semua menoleh ke arah pemuda berambut abu-abu tersebut.

"Mungkin juga, sebab Kuga waktu itu juga terlihat nafsu sekali untuk membunuh kita," timpal Minato. Naoto mengangguk setuju.

"Lagipula, kalau tidak begitu kurasa Kuga waktu itu—" Souji menghentikan kata-katanya ketika dirasakannya sakit yang teramat sangat di kepalanya, wajahnya seketika berubah menjadi pucat. Souji buru-buru berdiri. "A, aku keluar sebentar, ya." Ia langsung berlari keluar dari Inn itu, meninggalkan mereka yang bingung. Minato melihat dengan diam dari kejauhan.

"Souji kenapa, sih?" tanya Yosuke. Junpei mengangkat bahu.

"Tau, tuh. Ada telpon dari ceweknya kali," jawabnya asal. Naoto langsung memelototi pria bertopi baseball itu dengan death glare. Junpei langsung bersiul-siul dengan wajah pura-pura tidak tau.

-----------------

Souji buru-buru menuju ke tempat yang tersembunyi, dan memuntahkan darah segar di sana. Tampaknya keadaannya semakin parah dari yang kemarin. Kepalanya sakit. Nafasnya sesak.

"Urgh...." erangnya setelah memuntahkan darah tersebut. Tanpa disadarinya, Ken datang dari belakang.

"Souji-san..." panggilnya perlahan. Souji menoleh, dan ia terkejut dengan keberadaan Ken di situ. "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Cu, cuma jalan-jalan biasa..." jawabnya gelagapan. Ken menghela napas.

"Seumur hidupku, aku tidak pernah melihat seseorang yang hanya 'berjalan-jalan' berlutut di tempat sepi sambil mencengkram dada," kata Ken. Souji terbelalak. "Dan jika dilihat dari keadaanmu sekarang, kau sedang dalam keadaan yang bisa dibilang sama sekali tidak bagus.... tapi kenapa kau tidak mengatakannya?"

"....itu...." Souji tidak bisa menjawab.

"Kurasa aku tau jawabannya. Kau tidak ingin membuat kami cemas, terutama teman-temanmu dan keluargamu. Tapi kau tau, tidak seharusnya kau menyembunyikan hal seperti ini...." ujar Ken datar. Souji menunduk, tak bisa berkata apa-apa. "Mungkin sekarang Souji-san bisa menyembunyikan hal ini, tapi bagaimana dengan besok? Keadaanmu hanya akan semakin memburuk bila kau membiarkannya terus seperti ini...." sambungnya panjang lebar.

"Aku tau itu.... tapi...." Souji menghentikan kata-katanya. Ken menghela nafas sekali lagi.

"Souji-san, aku tidak akan memaksamu untuk mengatakan hal ini, tapi tolong ingat kata-kataku," ujar Ken. "Segala sesuatu yang terjadi tidak bisa kita hadapi sendirian. Apabila kau ada masalah jangan pernah ragu untuk mengatakannya pada orang-orang yang kau percayai." Setelah mengatakan itu, Ken berbalik meninggalkannya. Souji terdiam sesaat, kemudian ia juga berdiri, berjalan perlahan menuju pintu masuk inn tersebut.

"Mungkin kau benar," pikirnya. "Tapi untuk sekarang, aku belum siap untuk mengatakannya..."

-------------------------------------

--Dojima Residence--

Souji benar-benar mengalami hari yang buruk. Sekarang ia terkapar di sofa ruang tengah rumah itu dengan kondisi yang mengenaskan— maksud author menyedihkan. Badannya dingin dan kepalanya sakit. Mungkin sekarang Souji kapok untuk terlalu banyak bergerak. Karin sedang belanja bersama Nanako dan tidak melihat keadaan Souji, dan ketika itu, masuklah Dojima yang baru selesai dengan tugasnya.

"Lh— lha, Souji kamu kenapa?!" sang paman buru-buru berlari ke arah Souji yang sedang tergeletak tak berdaya(?) di atas sofa. Souji sendiri kelihatannya malas atau mungkin terlalu lelah untuk menjawab.

"Uh... tidak taulah, tapi aku merasa tidak enak..." jawab Souji seadanya. Padahal yang dia rasakan sudah bukan tidak enak lagi, melainkan jauh lebih parah dari itu.

"Kalau begitu, sebaiknya kau tidur saja sekarang. Besok tidak usah sekolah," kata Dojima. Souji menggeleng lemah.

"Tidak usah. Aku tidak apa-apa," katanya. Dojima sweatdrop.

"Tidak apa-apa darimananya?" batinnya. Souji sendiri sudah hampir terlelap di sofa itu. Dojima membiarkannya, karena keadaan Souji benar-benar tidak bisa dibilang 'tidak apa-apa'.

-------------------------------------

The next day....

--Yasogami High School – 3-E Class--

Miss Kashiwagi baru memberikan perlajaran yang bisa dibilang tak berharga karena tak seorang pun di kelas itu yang memperhatikan.

"Baiklah, kita akhiri pelajarannya sampai di sini. Capek aku. Sudah taukah kalian bahwa wali kelas kalian akan diganti?"

Kelas yang tadinya ribut bak pasar ikan itu langsung hening.

"Ha? Diganti?" tanya sang ketua kelas yang akhirnya dinamain Hotori gara-gara author nggak tau namanya.

"Iya. Jadi mulai sekarang wali kelas kalian adalah guru sejarah. Udah ya, bye!" dan guru nggak bener itu pun berlari keluar kelas, meninggalkan para siswa yang sweatdrop.

"Eh, sesudah ini kan pelajaran sejarah, berarti kita bisa langsung liat dong wali kelas baru kita?" kata seorang siswi yang duduk di belakang Hotori. Sang ketua kelas mengangguk, kemudian mengalihkan pandangan ke arah Yosuke dan Chie yang sediam-diaman dengan wajah masam. Kemudian kepada Yukiko dan Rin yang tengah asyik bercakap-cakap dengan sangat mesra sekali, dan kemudian beralih lagi ke Souji yang sepertinya sedang dalam kondisi yang sangat tidak fit sama sekali. Siapa pun bisa melihat keadaan itu kalau melihat Souji yang sedang memegangi kepalanya dengan wajah pucat, dan dengan nafas yang tersengal-sengal.

GREEEEK.

Pintu kelas terbuka. Seorang pria berperawakan tinggi yang mengenakan topi detektif layaknya Naoto memasuki kelas itu dengan santainya. Satu kelas itu langsung sweatdrop melihat penampilan seorang guru yang tidak biasanya itu.

"Namaku Raidou Kuzunoha. Mulai hari ini saya akan menjadi wali kelas kalian," katanya dengan nada datar. Souji tidak mendengar semua itu, ia masih memegangi kepalanya yang serasa akan pecah saat itu juga. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Ia tak bisa berkata apa-apa. Walau pun ia ingin bicara, tenggorokannya terasa tercekat. Souji betul-betul dalam kondisi yang terbilang gawat.

"Kirain Miss Sophie," batin Yosuke.

"Pak, lebih baik bapak perkenalkan diri lebih banyak lagi, biar nggak usah belajar!" usul seorang siswa yang malas belajar. Raidou sweatdrop sendiri mendengar kata-kata siswa itu.

"Iya pak, biar refreshing gitu," tambah Chie. Raidou sendiri sudah merasa agak ill-feel gara-gara dipanggil 'Pak'. Yah, sesungguhnya ia lebih pantas disebut kakek, mengingat tahun kehidupannya yang jauh dari saat itu.

"Yaah, baiklah. Lagian 5 menit lagi istirahat," sahut Raidou pasrah. Sesungguhnya sih dia tidak memberikan pelajaran karena di samping dia malas, dia juga melihat kondisi Souji yang tidak memungkinkan untuk disumpal dengan pelajaran. Begitu bel berbunyi, seluruh siswa langsung berduyun-duyun meninggalkan kelas dan berlari ke kantin, meninggalkan Raidou, Yukiko, Yosuke, Chie, Rin, dan Hotori yang sweatdrop, beserta Souji yang kelihatannya hampir mati— ralat, pingsan.

"Uh... baiklah, pelajaran akan saya mulai seusai istirahat," kata Raidou kemudian meninggalkan kelas itu. Souji berdiri dengan susah payah, dan dengan langkah gontai berjalan ke arah pintu kelas.

"Lho? Partner? Ada apa denganmu?" tanya Yosuke bak judul lagu Peterpan. Souji menoleh ke arah partnernya itu, menunjukkan wajahnya yang pucat pasi.

"Ti..... dak apa-apa...." jawab Souji yang sudah jelas berbohong. Mana ada orang yang 'tidak apa-apa' berjalan dengan langkah gontai dan dengan wajah pucat pasi sambil memegangi kepala seperti itu? "A, aku ke belakang sebentar, ya...." kemudian Souji buru-buru meninggalkan tempat itu. Sisa manusia yang ada di kelas itu menatap ke arah pintu yang baru ditinggalkannya dengan tatapan cemas.

-------------------------------------

--Backyard--

Souji yang dengan susah payah mencapai halaman belakang akhirnya tidak kuat lagi melangkahkan kakinya. Ia mencengkram dinding yang ada di sampingnya, mencegah agar ia tidak terjatuh di sana. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak, dan lagi-lagi ia memuntahkan darah segar berwarna merah dari mulutnya, menodai rumput-rumput hijau yang ada di sana.

"Aku... tidak boleh... tu—" Souji tidak mampu menyelesaikan kalimatnya. Kesadarannya sudah menghilang terlebih dahulu, menyebabkannya melepas cengkraman di dinding itu. Ia terjatuh, lemas tidak berdaya. Dan satu keberuntungan yang masih dimiliki oleh Souji saat itu, adalah lewatnya Raidou di tempat itu tepat ketika ia kehilangan kesadarannya. Terang saja, Raidou terkejut.

"He— hei, kamu tidak apa-apa?!" Raidou buru-buru berlari mendekati Souji yang tergeletak tak berdaya di sudut taman. Raidou yang menyadari ketidaksadarannya itu, tanpa basa-basi langsung memapah Souji di pundaknya dan membawanya ke UKS.

-------------------------------------

--Corridor--

Para siswa yang melihat Raidou memapah Souji langsung histeris.

"Lho?! Senpai kenapa?!" tanya seorang siswi yang sepertinya adalah fans Souji. Naoto yang kebetulan ada di sana berubah 180 derajat dari Naoto yang biasanya.

"Se— Senpai?! Ada apa dengan senpai?!" jeritnya histeris bak orang yang nemu mayat.

"Tenanglah, untuk saat ini, aku akan membawanya ke ruang kesehatan," kata Raidou menenangkan. Naoto sendiri kelihatannya sudah hampir menangis. "Lebih baik, kau kabari teman-temannya di kelas." Naoto mengangguk kemudian ia berlari ke arah kelas 3-E, sementara Raidou membawa Souji ke ruang kesehatan.

-----------------

"Souji...."

"Sensei...."

"Senpai....."

"Seta-san...."

"Onii-chan....."

Segala macam panggilan itu bisa didengar oleh Souji, namun ia tidak dapat menjawabnya. Kepalanya terasa berat. Ia tidak mampu membuka matanya. Kegelapan menyelimuti sekitarnya. Setelah beberapa saat berlalu, perlahan ia membuka matanya, dan mendapati lingkungan yang asing di sekitarnya. Ia tidak bisa melihat apa-apa, hanya kegelapan dan kegelapan saja yang ada. Ia berdiri, kemudian mencoba memanggil teman-temannya, namun lagi-lagi tenggorokannya tercekat. Tiba-tiba, seorang anak kecil berpakaian seperti narapidana muncul di hadapannya.

"Halo, Souji-san. Senang bisa bertemu denganmu," kata anak itu dengan santainya.

"Si— siapa kau?! Dan darimana kau tau namaku?!" balas Souji yang terbilang panik saat itu. Anak itu tersenyum.

"Tenanglah, Souji-san. Aku tidak akan melukaimu. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu," sahut anak itu tetap tenang.

"Menyampaikan sesuatu?" Souji mengerutkan dahinya, berusaha menerka apa yang akan anak itu katakan padanya. Tapi pikirannya yang sedang kalut menyebabkannya tidak bisa berpikir jernih.

"Ya. Aku hanya ingin menyampaikan, bahwa keadaanmu saat ini disebabkan oleh magic yang dipasang oleh musuhmu, dan magic itu tidak bisa dihilangkan, kecuali...."

"Kecuali apa?" Souji menatap anak itu dalam-dalam.

"....kau akan menemukan sendiri jawabannya. Untuk sekarang, aku cukup memberitahukan hal itu padamu."

"Maksudmu, aku harus 'melakukan sesuatu' kalau ingin terbebas dari hal ini?"

"Kira-kira begitulah."

Percakapan itu terus mengalir, menambah banyak pertanyaan yang ada di dalam benak Souji. Anak itu tersenyum manis ke arahnya, membuat Souji semakin merinding.

"....kalau boleh tau, tempat apa ini sebenarnya?" tanya Souji.

"Ini adalah tempat yang ada di dalam hatimu. Kalau kau ingin bertanya mengapa tempat ini begitu gelap, kau harus lihat isi hatimu."

"Isi hati—"

"Souji...."

"Eh?" Souji menoleh, mencari sumber asal suara itu.

"Senpai...."

"A, apa?"

"Onii-chan...."

Suara-suara itu terus memanggil, dan kemudian ia tertarik ke arah bawah.

"Tu— tunggu! Apa ini?!" katanya agak kaget.

"Sepertinya teman-temanmu memanggilmu. Baiklah, sampai bertemu lagi suatu saat," jawab anak itu.

"Hei, tunggu dulu! Siapa namamu?" tanya Souji yang benar-benar penasaran tentang anak itu. Anak itu kemudian tersenyum.

"Namaku..."

"Pharos...."

-----------------

"Gah!!" Souji terbangun dengan tiba-tiba. Tubuhnya dipenuhi dengan keringat dingin, dan dihadapannya berdiri teman-temannya dengan wajah cemas.

"Senpai!! Syukurlah kau tidak apa-apa!!" teriak Naoto leganya bukan main. Ia betul-betul mencemaskan Souji yang keadaannya sempat mengkhawatirkan. Naoto langsung memeluk Souji dan meledaklah tangisnya di sana. "Aku.... aku takut terjadi apa-apa denganmu!"

"Naoto...." Souji memeluk balik gadis bertopi biru itu. Kemudian pandangannya beralih ke teman-temannya. "Mana Karin?"

"Dia sudah pulang duluan untuk memanggil Dojima-san. Itu pun setelah kami membujuknya mati-matian," jawab Yosuke. "Tapi partner.... apa yang sebenarnya terjadi?"

".....akan kujelaskan nanti di Amagi Inn....." jawab Souji lemas. Nafasnya memburu. Sepertinya keadaannya tidak jauh dari sebelum ia pingsan tadi.

"Jangan-jangan, ini ada hubungannya dengan...." Rin buru-buru menutup mulut Yukiko.

"Sssh, kalau ada orang lain yang dengar, bagaimana?" katanya. Yukiko mengangguk-angguk tanda ia minta dilepaskan. Sementara itu, Raidou mendengar dari luar ruangan.

"Berhubungan dengan 'itu'.... sepertinya ini bakal jadi menarik...." katanya kemudian meninggalkan tempat itu.

-------------------------------------

Loha everyone! -sok akrab- Seperti yang anda ketahui, di chapter ini Souji saia bikin menderita habis-habisan. Soalnya saia suka kalau ada orang yang bagi saia keren atau apalah itu dalam kondisi yang kayak Souji sekarang ini! Mwuahahahaha. -dilindes pake tank- Ehm, wah, Raidou jadi guru sejarah. xD nggak pa-pa, kan? :3 soalnya kalo bukan jadi guru terus dia mau dijadiin apa lagi? xD -dibom readers- Ken juga berperan lumayan banyak di sini, setidaknya bukan cuma sekedar numpang lewat. Kesannya jadi kayak detektif, ya? xD ide itu muncul pas saia lagi gelindingan nggak jelas di atas kasur gara-gara nggak bisa tidur :DD -nggak penting-

Emm, tentang Hotori, nama ketua kelas itu sebenernya siapa, sih? Kalo nama Hotori itu, saia nyolong nama seseorang di Shugo Chara :D yaitu Tadase Hotori :3 -diinjak-injak Tadase, Peach-Pit dan Amu(?)-

Yah, intinya, masih maukah anda menekan tombol review di bawah setelah membaca chapter yang amat sangat gaje ini? -sangat ngarep sekali-