hai, apa kabar kalian?

jumpa lg dengan ku :)

ya udh lh ya gk ush bnyk bachot, lgsg aja ke cerita :D


Spoiled Prince

Disclaimer : om Masashi Kishimoto

Story by : Pinky Rain

Pairing : SasuSaku

Warning : gaje, abal, norak, alay, typo(s) menari-nari

Rated : M (jauhkan dari jangkauan anak-anak)

Don't Like Don't Read

.

.

.

.


.

.

Chapter 13

.

"Bisakah lebih cepat lagi Juugo-san." panik gadis merah muda itu. Iris emerald-nya menatap nanar jalanan yang ada di sampingnya. Kenapa laju mobil ini terasa begitu lama?

"Tenanglah Sakura." pemuda yang duduk di sebelahnya mencoba menenangkan.

"Bagaimana aku bisa tenang Sasuke-kun. Dia berniat meninggalkan negara ini. Tanpa mengatakan apapun." dumel Sakura. Sasuke hanya bisa menghela napas sembari merangkul pundak Sakura.

"Kuharap kita masih sempat bertemu dengannya sebelum pesawatnya berangkat." timpal pemuda yang duduk di sebelah Juugo.

"Jangan membuatku takut Gaara-kun. Juugo-san cepatlah." Sakura semakin panik. Dan Sasuke merutuki si panda merah itu karena membuat Sakura semakin panik.

Juugo mempercepat laju mobilnya atas desakan Sakura. Dia bahkan tak menghiraukan saat umpatan atau sumpah serapah terlontar dari bibir pengendara lain.

"JUUGO-SAN AWAAAS!

Ckiiiitt

Brraak

.

.

.

.

Braak

Kendaraan beroda empat itu sukses menabrak pagar pembatas yang ada di tepi jalan, membuat empat kepala yang ada di dalam sana terlonjak karena guncangan yang sangat keras.

"Apa yang kau lakukan Juugo, kau hampir membunuh kita semua." amuk pemuda bermata onyx yang duduk di bangku belakang.

"Maafkan saya Sasuke-sama. Saya benar-benar tidak melihat ada truk yang melintas." sesal Juugo.

"Kau tidak apa-apa Sakura?" pemuda berambut merah melongokkan kepalanya ke belakang.

Sasuke yang sedari tadi memeluk Sakura, memandang khawatir padanya.

"Sakura..." panggilnya. Sakura tertunduk dengan tubuh sedikit bergetar seperti menahan suatu gejolak.

Merasa khawatir, Sasuke kembali memanggil namanya. "Sakura..."

"Kau..." suara parau Sakura membuat Sasuke dan dua penghuni mobil lainnya mengernyit.

"KAU HARUS MEMBAYAR UNTUK INI SEMUA SASORI!" histeris Sakura membuat ketiga pria yang ada di sana memandang horor padanya. Bahkan Sasuke melepaskan pelukannya dan kini telah beringsut menjaga jarak darinya.

'Dia menakutkan.' batin ketiganya.

Sebenarnya apa yang terjadi? Mari kita kembali ke beberapa jam sebelum insiden.

Beberapa jam sebelum insiden.

Sakura sedang menyiram tanaman saat ponselnya berdering. Dia segera menekan tombol hijau pada ponsel itu kemudian menjawab teleponnya.

"Moshi-moshi. Ada apa Gaara-kun?" serunya.

"Bisa kita bertemu sekarang? Ada sesuatu yang ingin kubicarakan." kata suara di seberang sana.

"Sepertinya penting sekali." ujar Sakura.

"Memang. Ini tentang Sasori."

Deg

Tentang Sasori? Hal penting apa yang berhubungan dengan pemuda itu?

"Sakura kau masih di sana?" nada khawatir terdengar dari suara Gaara.

"Ya. Kau ingin bertemu dimana Gaara-kun?"

"Datanglah ke caffe yang biasa kita kunjungi."

"Oke. Aku akan segera ke sana."

Kemudian sambungan ditutup. Sakura menghentikan kegiatan menyiramnya kemudian bergegas untuk menemui Gaara.

"Kau mau kemana Pinky?" suara berat Sasuke menghentikan langkah Sakura. Perempuan itu mengalihkan pandangan pada pemuda yang sedang berjalan ke arahnya, diikuti Kabuto dan Juugo yang mengekor.

"Aku mau pergi menemui Gaara." jawabnya. Ekspresi tidak suka jelas sekali terpancar dari wajah Sasuke, dan Sakura tidak bodoh untuk tidak menyadarinya.

"Untuk apa kau menemuinya?" tanya Sasuke sebal.

"Dia bilang ada hal penting yang ingin dibicarakan."

"Hal penting apa itu sampai membuatmu buru-buru begitu?" Sasuke kembali bertanya dengan nada sebal.

"Aku juga tidak tahu. Tapi dia bilang ini tentang Sasori." jawab Sakura dengan santainya. Sedikit pun tidak mempedulikan Sasuke yang kini menggertakkan gigi marah. Entahlah, hanya mendengar namanya saja sudah membuat pemuda itu begitu kesal. Tampak jelas dari ekspresinya.

"Ayolah Sasuke-kun. Kau tidak sedang cemburu lagi kan." timpal Sakura.

"Aku kan sudah bilang, aku tidak suka kau bertemu dengan si Panda Merah itu atau si Boneka Berjalan itu." sergah Sasuke.

"Oh iya aku lupa. Memang tidak ada yang kau sukai kan. Kau membenci semuanya." dengan kesal Sakura membalas perkataan Sasuke.

"Setidaknya ada hal yang juga kusukai." bantah pemuda emo itu.

"Oh, apa itu?" sindir Sakura. "Ah aku tahu, tomat." cibirnya.

"Aku menyukaimu." perkataan Sasuke tersebut membuat Sakura terdiam dengan wajah yang merona.

"Aa, aku juga suka saat memelukmu. Aku suka saat menciummu. Saat mencumbumu. Dan yang paling aku sukai adalah saat kita—"

"Wakatta." potong Sakura sambil menutup mulut Sasuke dengan kedua tangannya. Sekilas dia melirik Kabuto yang berdehem dan Juugo yang pura-pura tidak mendengar.

"Aku mengerti. Tidak usah dijelaskan." dengan wajah merona merah Sakura memalingkan wajahnya malu. Sementara Sasuke menyeringai puas melihat reaksi Sakura.

"Ba—bagaimanapun juga aku akan tetap pergi. Dengan atau tanpa izinmu." setelah berhasil menguasai diri, Sakura kembali berkata.

Sasuke kembali cemberut. "Kalau begitu aku ikut." serunya. Sakura hendak protes, namun segera dipotong oleh Sasuke.

"Sekarang aku kekasihmu. Aku berhak ikut saat kau hendak bertemu lelaki lain."

"Gaara adalah sahabatku, Sasuke-kun." protes Sakura.

"Dia tetap lelaki." timpal Sasuke.

Sakura menghela napas. Tidak ada gunanya terus berdebat dengan Sasuke. Lelaki itu akan tetap memaksa. Dengan terpaksa akhirnya Sakura mau tidak mau mengizinkan Sasuke untuk ikut. Kalau tidak diizinkan pun, Sasuke tetap akan mengikutinya. Jadi percuma saja dia menolak.

.

.

Sakura dan Sasuke memasuki sebuah caffe. Sakura melihat seorang pemuda berambut merah sedang duduk dengan pandangan mata yang menerawang. Segera saja ia hampiri pemuda itu.

"Gaara-kun." panggil Sakura. Dia segera duduk dihadapan Gaara. Gaara memandang penuh tanya pada pemuda bermata onyx yang tanpa dosa duduk di sebelah Sakura.

"Jangan hiraukan aku. Anggap saja aku tidak ada." utarnya cuek.

"Dia memaksa ikut." Sakura memandang Gaara dengan tatapan minta maaf.

"Tidak apa-apa. Akan lebih baik jika dia juga mengetahuinya." ucap Gaara kemudian menyesap moccachino yang tadi dipesannya. "Mau pesan sesuatu?" tawarnya.

"Tidak, terima kasih. Kita langsung saja. Hal penting apa yang ingin kau bicarakan?" tolak Sakura dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan.

Gaara menghelas napas sebelum menjawab.

"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakan hal ini padamu karena Sasori sendiri yang memintanya. Tapi aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja tanpa memberitahukan hal yang sebenarnya." Gaara memulai pembicaraan.

Sakura masih belum mengerti arah pembicaraan Gaara, sehingga dia mengerutkan keningnya bingung. "Aku tidak mengerti." akunya.

Gaara menghela napas kemudian menghembuskannya. Berusaha menguatkan hatinya sendiri sebelum mengatakan hal yang sebenarnya pada Sakura.

"Ini tentang perasaan Sasori yang sebenarnya padamu."

Deg

Sakura meloloskan satu detakan jantungnya. Keningnya semakin berkerut. Memang Gaara tidak tahu bahwa saat itu Sakura telah mencuri dengar pembicaraan mereka. Tapi apa maksudnya Gaara ingin mengatakan perasaan Sasori yang sebenarnya padanya? Mengatakan bahwa Sasori hanya menganggapnya sebagai adik?

"Yang sebenarnya adalah bahwa Sasori mencintaimu."

Deg

Detakan kembali lolos dari jantung Sakura. Permainan macam apa ini? Apa Gaara sedang berusaha memberikan sebuah lelucon padanya? Jika benar, ini sama sekali tidak lucu.

"Mencintaimu dengan teramat sangat sampai membuatnya merasa sakit." imbuhnya.

"Gaa—Gaara, apa maksudnya ini? Kau sedang bergurau kan?" Sakura tertawa dibuat-buat. Sekilas dia menoleh pada Sasuke yang hanya memandang datar meja caffe. Kembali dia mengalihkan pandangan pada Gaara yang memandangnya penuh kesungguhan. Tak ada sedikit pun gurauan yang tampak di wajah datarnya.

"Gaara—"

"Dia tahu." Sakura tak menyelesaikan kalimatnya karena keburu dipotong oleh Gaara. Dan apa maksud Gaara dengan dia tahu?

"Dia tahu saat kau mencuri dengar percakapan kami."

Deg

Satu detakan lagi lolos dari jantung Sakura. Sakura tak tahu harus berekasi seperti apa, jadi dia memilih diam. Jadi saat itu Sasori tahu?

"Dan dia juga tahu bagaimana perasaanmu terhadapnya. Karenanya dia berkata seperti itu." Gaara melanjutkan ucapannya. "Dia sengaja berkata seperti itu untuk membuatmu pergi. Untuk membuatmu menyerah."

Sakura semakin bingung. Ini benar-benar tidak masuk akal. Dia mendengar sendiri ketika Sasori mengatakan bahwa dia hanya menganggap Sakura sebagai adik, dan sekarang Gaara mengatakan kalau Sasori mencintainya? Sasori mengatakan itu dengan sengaja? Tapi kenapa? Untuk apa Sasori melakukan itu?

"Berhentilah bercanda Gaara-kun. Ini benar-benar tidak lucu." Sakura mencoba menyangkal.

"Aku tidak sedang bercanda Sakura." tegas Gaara. "Sasori benar-benar mencintaimu."

"Aku mendengarnya sendiri saat dia mengatakan bahwa dia hanya menganggapku adik. Mana mungkin dia mencintaiku." suara Sakura meninggi.

"Aku kan sudah bilang dia sengaja mengatakannya untuk membuatmu menyerah." suara Gaara pun tak kalah tinggi.

"Tapi kenapa? Kenapa dia mengatakan hal itu?"

Brak

Sakura dan Gaara terdiam. Keduanya melirik pada pemuda yang kini tengah menatap mereka dengan tatapan onyx-nya yang tajam.

"Ini adalah tempat umum. Tidak seharusnya kalian membuat keributan seperti itu." ketusnya.

Sakura juga Gaara kini melirik pada orang-orang yang juga tengah menatap mereka. Sebenarnya mereka menoleh bukan karena suara ribut Gaara dan Sakura, melainkan suara gebrakan meja yang ditimbulkan oleh Sasuke. Jadi sebenarnya siapa yang membuat keributan di sini?

Sakura mengisi paru-parunya dengan udara kemudian menghembuskannya. Begitu juga dengan Gaara. Sementara Sasuke kembali menyedekapkan kedua tangannya di dada. Tampak tak peduli dengan keributan yang baru saja dia perbuat.

"Sasori mempunyai kelainan jantung. Dia tidak akan bisa hidup lebih dari 20 tahun." Gaara kembali berkata setelah sebelumnya menghela napas berat.

Deg

Entah sudah berapa detakan yang lolos dari jantung Sakura dalam waktu kurang dari 30 menit ini.

"Dia tidak ingin membuatmu terluka jika suatu saat nanti dia pergi meninggalkanmu. Dia bahkan memintaku untuk membuatmu menyukaiku dan melupakannya." Gaara tersenyum miris. "Tentu saja aku tidak bisa melakukannya."

Jeda sejenak.

Sakura mendengarkan penjelasan Gaara dengan kening yang semakin berkerut. Perasaannya saat ini benar-benar kalut. Semua penjelasan ini semakin membuatnya pusing dan juga bingung. Bagaimana bisa hal tidak masuk akal ini terjadi. Logikanya benar-benar tak bisa mencerna dengan baik penjelasan Gaara.

Sementara Sasuke hanya bisa diam sembari memandang Sakura yang sedang mengerutkan kening sembari mencukil-cukil kukunya dengan kukunya yang lain. Dia bukannya tidak menyadari kekalutan wanitanya itu, bahkan dia sangat tahu karena Sakura akan melakukan gerakan itu tanpa sadar saat dia sedang gelisah. Hanya saja dia tidak tahu harus mengatakan apa.

"Dan alasannya datang ke Konoha adalah untuk bertemu denganmu." Gaara kembali berkata, yang tentu saja semakin membuat pening kepala Sakura. "Untuk melihat keadaanmu sebelum dia pergi."

"Pergi?" tanya Sakura dan di balas dengan anggukan Gaara. Dia teringat kembali pada percakapannya dengan Sasori beberapa hari yang lalu.

Flashback on

"Aku memberimu kesempatan, tapi kau malah memberikannya pada orang lain."

"Kau yang membuatku tak bisa mendekatinya Sasori." geram Gaara. "Lagipula Sakura mempunyai hak untuk menyukai siapapun." timpalnya.

Sasori terdiam kemudian menghembuskan napas putus asa.

"Alasanku ke Konoha adalah untuk menemuinya dan memastikan kalau dia baik-baik saja." dia memandang Gaara yang mengerutkan kening tak mengerti.

"Aku akan pergi ke Amerika Gaara." Sasori tersenyum pahit.

"Apa?" apa Gaara tak salah dengar?

"Aku mendapat donor jantung di sana. Aku pergi ke sana untuk melakukan pencangkokan jantung." terangnya. Gaara membuka mulutnya untuk bicara namun tidak jadi karena dia sendiri bingung akan mengatakan apa.

"Meski begitu, kemungkinan aku akan meninggal tetap ada." sambung Sasori, membuat pemuda tanpa alis di hadapannya mengernyit bingung. Jika dia mendapat donor jantung, bukankah itu artinya dia akan hidup? Tapi kenapa Sasori bilang begitu?

"Jika ternyata jantung yang aku terima tidak dapat diterima oleh tubuhku, maka itu akan mengakibatkan kematian untukku." seperti mengetahui isi kepala Gaara, Sasori menjelaskan.

"Dan kau tetap ingin melakukannya meski resikonya adalah nyawamu sendiri?" Gaara bertanya.

"Ya." jawab Sasori. "Karena itulah aku kemari. Dengan mengambil kemungkinan terburuk aku datang ke Konoha untuk menemuinya. Karena bisa jadi aku akan mati setelahnya, jadi aku ingin bertemu dengannya untuk yang terakhir kali."

"Tapi rupanya fakta yang kudapatkan benar-benar diluar perkiraanku." jeda sejenak. "Kupikir Sakura akhirnya bisa melupakanku karena dirimu. Tapi nyatanya justru ada pemuda lain yang menempati posisi itu." Sasori mendengus, sementara Gaara masih memasang wajah datar.

"Aku tahu dia memiliki perasaan khusus pada Sakura. Terlihat jelas dari caranya memandang dan juga memperlakukan Sakura. Dan rupanya Sakura pun memiliki perasaan yang sama padanya," Sasori tersenyum miris. "Sayangnya karena ulahku Sakura menjadi gadis yang tidak peka. Dia sama sekali tidak menyadari bahwa si Uchiha itu memiliki perhatian yang lebih terhadapnya." dia memandang Gaara sebelum kembali berkata.

"Aku senang karena setidaknya sekarang Sakura telah menemukan kebahagiaannya meski melenceng jauh dari harapanku karena aku berharap kaulah orang itu." Gaara mendengus. "Tapi...hatiku juga terasa sakit saat mengetahui bahwa di hatinya tak lagi ada aku." Sasori memandang sendu pada sepupu merahnya itu.

"Yaah...setidaknya aku bisa pergi dengan tenang kan." seulas senyum ia paksakan tersungging dari bibirnya. Kemudian Sasori terdiam dengan pandangan yang begitu terluka.

Gaara memandang Sasori yang kini terdiam. "Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiranmu Sasori." utarnya.

Sasori mendengus, "Aku pun tidak mengerti dengan diriku Gaara." dia tersenyum pahit kemudian berjalan keluar rumah.

"Mau kemana kau?" tanya Gaara.

"Tenang saja, aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya ingin mengunjungi seseorang." kemudian Sasori menghilang di balik pintu.

Flashback off

"Ke Amerika?" Sakura memastikan pendengarannya tidak salah. Meski masih merasa bahwa semua ini tidak masuk akal, namun Sakura berusaha untuk mempercayainya. "Sasori akan pergi ke Amerika?" Gaara hanya mengangguk memberi jawaban.

"Kapan? Kapan dia akan pergi?" tanya Sakura lagi.

"Kalau tidak salah..." Gaara melihat jam ada pergelangan tangannya. "Oh, Shit!" umpatnya panik serta merta berdiri dari kursi. Sakura dan Sasuke jadi ikut panik saat Gaara berjalan cepat keluar caffe.

"Ada apa Gaara-kun?" tanya Sakura penasaran sembari mengikuti pemuda itu berjalan menuju tempat parkir.

"Pesawatnya akan berangkat 30 menit lagi." utarnya. Dia berjalan menuju motornya yang terparkir.

"Apa?" panik Sakura. "Kita harus ke sana sebelum pesawatnya berangkat. Aku tidak mau berpisah dengan cara seperti ini." timpalnya.

"Kita ke sana dengan mobilku saja." tawar Sasuke. Hei, hari ini dia lumayan dermawan kan.

"Kita tidak punya waktu untuk berpikir." kesal pemuda raven itu saat melihat Gaara yang tampak seperti sedang mempertimbangkan tawaran Sasuke.

Akhirnya dengan mempertimbangkan ekspresi Sakura yang memohon Gaara terpaksa meninggalkan motor kesayangannya dan memilih ikut bersama Sasuke. Dengan tergesa mereka berlari menuju mobil Sasuke lalu masuk ke dalamnya. Juugo yang sedari tadi menunggu di tempat parkir memandang pada tiga orang yang tampak panik itu.

"Kita ke bandara Juugo." titah Sasuke tanpa mempedulikan raut bingung Juugo. Dan detik berikutnya, AC Schnitzer ACS7 itu telah melesat meninggalkan area caffe.

.

.

Sakura berlari secepat yang ia bisa setelah dirinya keluar dari mobil. Tanpa mempedulikan Sasuke dan Gaara yang ikut berlari di belakangnya.

Tidak. Dia tidak bisa membiarkan Sasori pergi seperti ini. Apa-apaan Sasori itu? Dia dengan keegoisannya itu telah membuat Sakura patah hati hanya karena berpikir Sakura akan menderita karena penyakitnya. Dan sekarang keegoisan pemuda itu kembali ia tunjukkan dengan dirinya yang akan pergi diam-diam ke Amerika?

Sakura tidak akan membiarkannya. Meski saat ini telah ada Sasuke yang mengisi hatinya, tapi Sasori tetap cinta pertamanya. Meski dia tidak bisa menahan Sasori pergi, tapi setidaknya dia ingin bertemu dengannya sekali saja. Sekali saja. Dia ingin melihat wajah itu lagi. Senyum itu. Tawa itu.

Sakura bersyukur karena Gaara pada akhirnya memilih untuk mengatakan yang sebenarnya padanya. Karena jika tidak, mungkin dia akan menyesal seumur hidupnya jika mengetahui kenyataan itu setelah Sasori tiada. Bukan berarti dia berharap Sasori meninggal.

Tidak. Dia berharap pemuda itu akan berumur panjang dan mendapat kebahagiaannya. Karena sekarang Sakura tahu bahwa selama ini Sasori menyimpan lukanya sendiri. Menanggung kesedihannya sendiri. Tanpa seorang pun yang bisa dijadikannya penopang.

Sakura mempercepat laju larinya saat melihat seorang pemuda berambut merah yang tengah berjalan membelakanginya sambil menyeret koper. Dia kepalkan tangannya sembari menghembuskan napasnya keras-keras.

"SASORI!" panggilnya, membuat pemuda yang merasa namanya dipanggil itu menoleh.

Buaagh

Pemuda berwajah imut itu terjungkal ke belakang setelah mendapatkan bogem mentah dari Sakura. Mata hazelnya memandang tak percaya pada objek yang kini tengah berdiri dengan aura kemarahan yang menguar di tubuhnya.

Sasuke dan Gaara sweatdrop melihat aksi bak film action yang baru saja dilakonkan Sakura. Oh, mereka lupa kalau Sakura bukanlah gadis biasa.

"Sakura..." seru pemuda itu saat mendapati Sakura telah berdiri di hadapannya dengan ekspresi orang yang sedang menghadapi sakaratul maut karena kelelahan. Dia bersyukur setidaknya jantungnya tak berhenti berdetak saat itu juga ketika tiba-tiba mendapat 'hadiah' dari Sakura.

Sambil mengembalikan kesadarannya yang sempat limbung akibat tonjokan maut yang mendarat di pipi kirinya, Sasori berdiri. Dia memandang bingung Sakura yang masih ngos-ngosan mengatur napasnya. Tak luput juga dari pandangannya dua pemuda dengan warna rambut berbeda yang berdiri tak jauh dari Sakura. Dia sangat tahu siapa mereka. Sepupunya yang menyebalkan dan si Uchiha yang selalu memandangnya sebagai rival.

"Apa yang kau lakukan di sini Sakura?" tanya pemuda itu setelah berhasil menguasai dirinya dari rasa terkejut.

"Menemui seorang teman yang sangat bodoh." jawab Sakura kesal. Sasori mengalihkan pandangan ke arah lain. Pandangannya kemudian beralih pada Gaara dan Sasuke, lalu kembali lagi pada Sakura.

"Bagaimana kau tahu kalau—"

Perkataan Sasori terputus karena Sakura tiba-tiba memeluknya. Cukup membuat pemuda beriris hazel itu terkejut setelah tadi mendapat 'hadiah' yang begitu mengejutkan. Oh, jangan lupakan pemuda raven yang berdiri di sebelah Gaara. Mimik wajahnya sudah sangat murka melihat adegan bak film India di hadapannya.

Sret

Lilitan lengan Sakura terlepas dari leher Sasori.

"Eh?" Sakura kini telah berdiri di belakang seorang pemuda dengan rambut pantat ayam.

"Apa-apaan kau?" geram Sasuke tidak suka dengan apa yang baru saja dia lihat. Sakura hanya memutar bola matanya. Sementara Gaara dan Sasori hanya mendenguskan tawa.

"Sasuke-kun." nada protes terdengar dari seruan gadis musim semi itu. Sasuke hanya melengos kesal. Tak mempedulikan protes Sakura.

"Jadi...dari mana kau tahu aku akan pergi?" Sasori bertanya pada Sakura sambil melirik Gaara. Memastikan bahwa dugaannya benar.

Sakura kembali mendekati Sasori tanpa mempedulikan Sasuke yang semakin kesal.

"Gaara yang memberitahuku." jawab Sakura. Sasori menghela napas. Benar dugaannya, Sakura tahu dari Gaara.

"Gaara juga sudah menceritakannya padaku." Sakura menyambung. Kerutan di kening Sasori kembali terlihat.

"Dia sudah menceritakan semua tentangmu. Semuanya tanpa terkecuali."

Kini lirikan tajam Sasori lontarkan pada sepupunya itu. Gaara membuang muka menghindari tatapan maut Sasori dengan wajah tanpa dosanya. Sementara Sasuke mencoba mengawasi interaksi mereka berdua, jika terjadi hal-hal seperti tadi.

Sasori kembali menghela napas. Gaara benar-benar membuat rencananya jadi berantakan. Jika begini kejadiannya untuk apa dia berkorban selama ini. Lagipula kenapa sepupunya itu begitu banyak bicara? Tidak bisakah dia hanya diam dan menyimpan semuanya? Toh sekarang Sakura telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Sasori menyesal telah mengamanatkan semuanya pada sepupunya yang tak berguna itu.

"Jadi kau bermaksud untuk pergi tanpa mengatakan apa-apa? Pergi tanpa berpamitan seperti dulu? Meninggalkanku dengan semua katidaktahuanku?" kata Sakura bertubi-tubi.

Sasori mengusap rambut merahnya yang sedikit berantakan kemudian menghembuskan napas berat. Dia memandang Sakura lembut.

"Sakura." katanya. "Kau pasti sudah tahu bagaimana keadaanku."

Sakura mengangguk. "Gaara juga sudah mengatakan padaku."

"Saat itu yang terbaik yang dapat terlintas dalam benakku adalah meninggalkanmu sebelum aku menyakitimu. Aku hanyalah seorang yang penyakitan yang akan segera meninggal. Tidak ada kebahagiaan yang bisa kuberikan padamu selain penderitaan dan rasa sakit. Aku harus mengakhirinya. Aku harus membunuh perasaanmu padaku sebelum penyakitku membunuhku." jelas pemuda dengan senyum manis itu. Hazelnya menatap meminta pengertian pada Sakura.

"Tapi—"

"Lagipula itu bukan hal yang penting sekarang." potong Sasori. "Kau telah menemukan orang yang benar-benar mencintaimu dan menemukan kebahagiaanmu sendiri." imbuhnya tersenyum tipis sambil melirik ke arah Sasuke yang sedang membuang muka dengan semburat tipis di wajahnya.

Sakura memandang Sasori sedih. "Apa kau harus pergi?" tanya gadis itu.

"Ya. Kalau aku masih ingin hidup tentu aku harus pergi." jawab Sasori dengan nada jenaka.

"Tapi Gaara bilang resiko kau meninggal tetap ada meski kau melakukan operasi."

"Memang. Karena itulah aku harus pergi. Aku tidak mau mati di sini dengan kau yang menangisiku." kembali Sasori menjawab setengah bercanda.

"Bisa-bisanya kau mengatakan tentang kematian dengan nada bercanda begitu." protes Sakura, membuat Sasori tertawa.

"Bagaimanapun aku harus pergi Sakura. Tugasku di sini sudah selesai." kali ini Sasori melirik Gaara.

"Tugas?" tanya Sakura tak mengerti.

Sasori hanya tersenyum, namun tidak menjawab. Kemudian sebuah ide jahil terlintas dalam kepala merahnya.

"Sakura." panggilnya. Sakura yang tadi menundukkan kepalanya, mendongak. "Berhubung kau sudah tahu semuanya, jadi kurasa tidak ada salahnya kalau aku menyimpan satu kenangan tentangmu kan." Sasori menyeringai jahil.

Sakura mengernyit tak mengerti. Namun detik berikutnya dia merasakan pinggangnya di tarik dan di dekap erat, serta emerald-nya membulat sempurna saat merasakan benda kenyal hangat dan sedikit basah menyentuh bibirnya.

Dua orang yang berdiri tak jauh darinya memberikan reaksi yang tidak jauh berbeda. Gaara melotot melihat adegan itu, sementara Sasuke merasakan onyx-nya seperti akan terlepas dari rongganya.

Benda kenyal itu melumat lembut bibir ranum Sakura sebelum melepas tawanannya dan menjauh dari sana. Kelopak Sasori perlahan terbuka, memperlihatkan hazel miliknya. Dia tersenyum lembut menatap Sakura.

"Aku akan menyimpan kenangan ini di dalam ingatanku dan tidak akan pernah melupakannya." sebuah seringai puas terpatri di wajah baby face milik Sasori.

Sakura berdiri mematung sambil menutup mulutnya yang menganga dengan tangan. Benar-benar tak percaya akan apa yang baru saja ia alami. Sasori menciumnya? Ini pasti mimpi.

Dia mengerjap-erjapkan matanya, berusaha menguasa diri. "Sa—sasori..." gumamnya.

Lagi-lagi Sasori tersenyum. "Aku harus pergi, Sakura." ucapnya saat suara yang berasal dari microphone mengatakan bahwa pesawat yang ia naiki akan segera berangkat.

Dia berjalan mundur sambil melambaikan tangannya pada Sakura. Sakura turut melambaikan tangannya, dan detik berikutnya ia merasakan sebuah benda cair mengalir dari pelupuk matanya. Sasori telah pergi. Sasori yang mencintainya dengan begitu tulus telah pergi meninggalkannya.

"Apa kau tidak apa-apa?"

Gaara menoleh saat suara berat menginterupsi lamunannya. Diamatinya baik-baik sosok pemuda berambut mencuat itu. Wajahnya masih menunjukkan kekesalan, namun sepertinya dia berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak mengamuk di tempat ini.

"Bukankah kau juga menyimpan perasaan yang sama pada Sakura. Kita bertiga mempunyai perasaan yang sama padanya, itulah sebabnya kita dapat merasakannya." sambung Sasuke.

Dia menghela napas sebelum akhirnya kembali mengalihkan pandangan pada Sakura yang masih memandang kepergian Sasori.

"Bagaimanapun kau lebih beruntung daripadaku. Kau tidak mengetahui masa lalunya. Lagipula dari awal aku memang sudah tidak memiliki harapan karena Sakura sudah terlanjur menganggapku sebagai sahabat." jelas Gaara.

Sasuke mendengus. "Bodoh." ejeknya. Gaara mengernyit memandang Sasuke.

"Jika itu aku, maka aku tidak akan pernah melepaskannya. Aku akan berusaha merebut hatinya dengan tetap menjadi sahabatnya. Aku akan berusaha mencintainya dan juga berusaha untuk selalu menjadi sahabat baginya. Yang jelas aku tidak akan menyerah dan melepaskannya. Hanya orang bodoh yang melepaskan cinta demi sebuah ikatan bernama persahabatan. Dan aku bukan orang bodoh." terangnya.

Gaara tersenyum pahit mendengar penuturan Sasuke.

"Ya. Mungkin aku memang bodoh." gumamnya kembali tersenyum pahit.

.

.

.

Sakura melenguh tertahan. Napasnya bahkan sedikit tersengal dengan perlakuan Sasuke. Pemuda itu terus melumat bibirnya tanpa ampun. Menjilat dan menghisap benda kenyal itu seolah-olah benda itu adalah makanan yang sangat nikmat. Sasuke bahkan mendominasi ciuman mereka dengan tak membiarkan Sakura membalas. Terus ia hisap bibir itu sembari memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Lidahnya yang telah berada dalam mulut Sakura mengobrak-abrik isinya. Ia jilat langit-langit mulut gadis musim semi itu, membuat Sakura mengerang merasakan sensasi geli pada rongga mulutnya.

Sakura gelapagan karena mendapat ciuman yang bertuti-tubi dari Sasuke. Ia merasakan tubuhnya lemas hanya karena ciuman yang diberikan Sasuke. Sekuat tenaga dia berusaha mendorong tubuh pemuda yang kini menindihnya itu karena merasakan oksigen dalam paru-parunya mulai menipis, dan berhasil. Tubuh Sasuke menjauh dengan kedua tangannya berada di dada pemuda tersebut.

"Haah...haah...apa yang kau lakukan Sasuke-kun?" tanya Sakura masih terengah-engah. Wajahnya pasti sudah sangat memerah sekarang.

Sasuke memandangnya dengan tatapan tanpa dosa.

"Aku sedang melakukan sterilisasi." jawabnya cuek. Sakura mengerutkan alis tak mengerti.

"Sterilisasi?" tanyanya.

"Hn. Aku tidak suka milikku disentuh oleh orang lain. Dan tadi si boneka merah itu dengan beraninya menciummu. Dan kau juga berpelukan dengannya. Jadi aku harus mensterilkan semuanya. Sehingga tidak ada yang tersisa dari orang itu di tubuhmu ini." jelas Sasuke, kembali melumat bibir Sakura dengan ganasnya.

Sakura kembali mendorong tubuh Sasuke untuk menjauh, sehingga terlepaslah ciuman mereka. "Kau tidak bisa melakukannya Sasuke." protes Sakura.

"Tenang saja sayang. Aku tidak akan menelanjangimu di sini." terang Sasuke mengingat mereka saat ini masih berada di dalam mobil yang membawa mereka pulang ke rumah. Jangan tanyakan Gaara ada dimana, karena Sasuke menginggalkannya di bandara tanpa mempedulikan si panda itu akan pulang dengan apa. Kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun dan dia harus segera melampiaskannya.

"Aku akan bersabar hingga kita sampai di rumah, dan akan kupastikan setelah itu kau tidak akan sempat untuk makam malam, atau bahkan tidur." seringai kemenangan muncul di bibir tipisnya. Tak dipedulikannya Juugo yang sedang menyetir di depan, dan dia kembali melumat bibir Sakura yang mulai membengkak.

Sakura mengerang saat merasakan sapuan bibir Sasuke di lehernya. Oh tidak. Sakura lupa kalau pemuda yang tengah mencumbunya ini sangatlah berbahaya. Sungguh sebuah kesalahan telah membuatnya kesal.

Seringai di bibir Sasuke semakin lebar ketika mobil yang membawa mereka berhenti. Dia melepas ciumannya di leher Sakura dan memandangnya. Gadis itu tengah berbaring pasrah di bawahnya, dengan baju yang kusut dan rambut yang berantakan. Juga wajahnya yang telah memerah sempurna saat memandang Sasuke.

Pemuda itu turun dan membuka pintu mobil lebar-lebar. Dia tarik lengan Sakura kemudian membopong tubuh mungil itu di pundaknya, kemudian dengan langkah yang lebar-benar dia membawa Sakura masuk ke dalam mansion.

"Lepaskan aku Sasuke. Aku minta maaf karena telah membuatmu kesal." Sakura memohon di balik punggung Sasuke.

"Kau tidak hanya membuatku kesal, Sakura. Kau juga membuatku cemburu, kau tahu." timpal Sasuke, jelas sekali menolak permintaan maaf Sakura.

"Baik, baik. Aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Sakura kembali memohon. Ya. Dia tidak akan mengulanginya lagi. Beberapa hari yang lalu Sasuke bahkan membuat dirinya sendiri terluka karena rasa cemburunya pada Sasori. Bisa dibayangkan apa yang akan dilakukannya saat ini?

"Sudah terlambat untuk meminta maaf Preman Pinky." utarnya dengan nada penuh penekanan.

Para pelayan dan bodyguard yang melihat hanya bisa menatap heran serta geleng-geleng kepala melihat aksi tuan muda mereka. Tak mau ikut campur jika tidak ingin merasakan kemarahan sang pangeran manja.

Sasuke menendang pintu kamarnya dengan kasar, kemudian menjatuhkan tubuh Sakura di atas ranjang king size-nya.

Emerald Sakura memandang penuh permohonan pada onyx Sasuke. Dia beringsut menjauh dari pemuda yang mulai merangkak menaiki ranjang itu.

"Maafkan aku Sasuke-kun. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji." mohonnya, namun Sasuke tak peduli dan tetap merangkak mendekatinya.

"Kau memang tidak seharunya melakukan itu." ucapnya kemudian menindih tubuh Sakura.

"Apa kau benar-benar tidak akan membiarkanku tidur?" tanyanya takut-takut. Membayangkannya saja sudah membuatnya lelah, apalagi jika Sasuke benar-benar melakukannya. Bisa dipastikan dia tidak akan bisa berjalan selama berhari-hari.

"Tergantung." Sasuke menjawab. "Yang jelas aku akan menguasaimu sampai amarahku ini hilang, dan tentu saja setelah tubuh cantikmu ini benar-benar steril dari boneka berjalan itu." katanya lagi.

"Ta—tapi..."

"Ssstt...kau nikmati saja sayangku." potongnya dengan nada sensual. Entah apa yang salah dengan dirinya, wajah Sakura justru merona mendengar perkataan Sasuke itu.

Sasuke kembali menyerangnya dengan ciuman penuh hasrat pada bibir ranum Sakura. Dia juga memberikan kecupan-kecupan pada seluruh permukaan wajah Sakura tanpa terkecuali. Bahkan hingga surai merah mudanya pun tak luput dari ciumannya. Benar-benar melakukan sterilisasi.

Sakura mengerang saat merasakan lidah Sasuke menjilati daun telinganya. Pemuda itu mencium kemudian mengulum lembut benda itu. Tangannya yang bebas, mulai membuka pakaian Sakura agar dia bisa lebih bebas melakukan sterilisasi pada tubuh kekasihnya itu.

Ciumannya turun ke leher Sakura dan berlanjut di bahu gadis tersebut. Membuat tanda-tanda kemerahan di sana sebelum akhirnya bibir itu menyapu area di sekitar payudara Sakura.

Erangan Sakura kian menggema saat Sasuke memanjakan gundukan kenyal itu menggunakan lidahnya. Ingin sekali Sakura menghentikan aksi Sasuke ini, tapi sebagian dirinya merasakan gelenyar yang begitu memabukkan. Dan itu membuatnya semakin menginginkan sentuhan dari kekasih emo-nya tersebut.

'Mungkinkah aku sama mesumnya dengan pantat ayam ini?' jerit inner-nya, menikmati segala sensasi dari bibir Sasuke di tubuhnya.

Sasuke menyeringai puas dengan kepasrahan Sakura. Saat ini kekasihnya itu sudah tidak berusaha melawan lagi. Dan hal itu tentu saja membuatnya semakin leluasa menguasai tubuh yang ditindihnya ini.

.

.

.

.

Sakura menggeliat. Seluruh tubuhnya terasa nyeri dan pegal. Dia mengerjapkan matanya sebelum dengan perlahan menyingkirkan lengan yang memeluk posesive pinggangnya. Sasuke benar-benar gila. Dia benar-benar menguasai Sakura dengan dalih sterilisasi gilanya itu. Mereka bahkan baru tidur jam 3 dini hari. Bisa dibayangkan betapa lelahnya Sakura.

Sakura menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh Sasuke, kemudian tereksposlah tubuh telanjangnya. Perlahan dia menuruni ranjang, dan detik berikutnya dia merasakan nyeri yang luar biasa.

"Kyaaa..."

Gubraak

Tubuh polos itu jatuh terduduk di atas lantai di sisi ranjang. Sakura merasakan tubuhnya begitu lemas dan nyeri yang sangat hebat pada tubuh bagian bawahnya. Sekali lagi dia mencoba untuk berdiri—

Bruuk

Tubuhnya kembali jatuh ke lantai. Oh tidak. Ini tidak boleh terjadi. Dia harus menyiapkan segala keperluan Sasuke, membuat sarapan dan pergi ke sekolah. Tapi sekarang untuk berdiri pun dia tak bisa. Dasar pantat ayam menyebalkan. Ini semua gara-gara dia sampai Sakura tidak bisa berdiri begini. Sakura mengumpat-umpat dalam hati.

Sasuke yang mendengar suara benda jatuh, mengerjap-erjapkan matanya. Dia mengernyit saat meraba sisinya, namun tidak mendapati Sakura di sana. Matanya langsung terbuka dan dia langsung terduduk. Sekali lagi dia mengernyit saat melihat surai merah muda yang terkena sorotan sinar matahari yang menelusup lewat jendelanya.

'Sakura, kenapa dia ada di bawah?' batinnya. Dia teringat suara benda jatuh dan langsung tersadar. "Jangan-jangan..." gumamnya langsung melompat turun menghampiri sosok Sakura yang terduduk di lantai.

"Ada apa sayang? Apa kau terjatuh?" tanyanya sarat dengan kekhawatiran. Sakura pasti jatuh dari ranjang, pikirnya.

"Sakit." gumam Sakura lebih menyerupai bisikan. Namun masih cukup tertangkap indra pendengaran Sasuke.

"Mana yang sakit? Apa kau terluka?" semakin panik Sasuke meraba-raba seluruh tubuhnya. Memeriksa siku, lutut, bahkan mengelus kening lebar Sakura. Memastikan apakah ada benjolan di sana.

"Bukan di situ Sasuke-kun." Sakura menyingkirkan tangan Sasuke dari keningnya. Sasuke memandang Sakura dengan tatapan seolah bertanya 'lalu dimana?' pada gadis itu.

"Rasanya sakit sekali Sasuke-kun. Aku bahkan tidak bisa berdiri." bukannya menjawab, Sakura malah mengeluhkan kesakitannya.

Sasuke lagi-lagi mengernyit, mencoba mencerna ucapan Sakura. Jika dia tidak terluka tapi mengeluhkan rasa sakit, maka itu berarti...

"Aa, begitu rupanya." utarnya ketika mengerti dengan keadaan Sakura.

"Sepertinya aku sedikit keterlaluan semalam." Sasuke kembali bergumam.

"Sedikit kau bilang? Kau bahkan tidak membiarkanku istirahat Pantat Ayam menyebalkan. Dan sekarang aku bahkan tidak bisa berdiri." amuk Sakura. Bagaimana bisa Sasuke begitu santainya mananggapi hal ini. Dia begini kan gara-gara pemuda semaunya ini.

"Baik, baik. Aku minta maaf. Hari ini kau tidak usah sekolah. Aku akan mengurus surat izinmu." ucap Sasuke lalu menyapukan lengannya di punggung dan lipatan lutut Sakura kemudian mengangkatnya. Dia baringkan tubuh polos Sakura dan kembali menyelimuti tubuh itu. Dia bahkan lupa kalau sendirinya tidak pakai baju.

Sasuke mengecup kening kekasihnya itu sebelum meninggalkannya masuk ke dalam kamar mandi. Sebenarnya dia juga masih lelah dan mengantuk, tapi hari ini dia harus mengikuti ujian rutin tiap minggu yang selalu diberikan oleh Iruka-sensei.

"SASUKEEEE!"

Brruuusshh...

Sasuke yang sedang berkumur, menyemburkan air dari dalam mulutnya. Dia segera berlari keluar kamar mandi saat mendengar teriakan Sakura.

"Ada apa Sakura?" paniknya. Dilihatnya Sakura yang terduduk di depan cermin.

"SIALAN KAU SASUKE! DASAR PANTAT AYAM MENYBALKAN! AKU AKAN MEMBUNUHMU!" pekik Sakura penuh kemurkaan.

Sasuke yang tadinya begitu khawatir terpaksa harus melengos ke kanan dan ke kiri karena Sakura mengamuk sembari melemparinya dengan benda-benda apa saja yang dapat ia jangkau yang ada di sana. Dia bahkan bertanya-bertanya bagaimana benda-benda itu bisa ada di sana.

"Ada apa denganmu Sakura? Kenapa kau melempariku seperti ini?" tanya Sasuke bingung sambil terus menghindar.

"KAU MENYEBALKAN SASUKE!" Sakura hendak melempari Sasuke lagi, namun dia tidak menemukan benda yang bisa di lempar. Akhirnya dia hanya bisa mendengus kesal.

"Ada apa denganmu?" tanya Sasuke setelah Sakura sedikit tenang.

"Apa yang kau lakukan pada tubuhku, Pantat Ayam?" teriak Sakura geram. Sasuke menilik keseluruhan tubuh Sakura yang masih telanjang.

"Wow, karya yang sungguh indah." komentarnya tanpa dosa saat mendapati tubuh Sakura penuh dengan tanda kemerahan.

"Apanya yang indah. Ini mengerikan tahu!" Sakura kembali mengamuk. Dadanya naik turun karena napasnya yang ngos-ngosan sehabis marah-marah.

"Ambil saja sisi positifnya. Sekarang tubuhmu benar-benar steril." dengan santainya Sasuke berucap tanpa mengindahkan kekesalan sang kekasih.

"BRENGSEK KAU SASUKE! DASAR MESUM!" teriak Sakura.

Sasuke menghela napas. "Mesum itu memang diperlukan agar manusia dapat bereproduksi, Sakura." katanya santai sembari mendekati Sakura yang masih duduk di depan cermin.

"Tapi kalau begini aku tidak bisa ke sekolah Sasuke." suara Sakura memelan. Wajahnya tampak murung.

"Aku kan sudah bilang, kau tidak perlu ke sekolah hari ini. Berdiri saja kau tidak bisa, bagaimana caranya kau akan ke sekolah?" utar Sasuke yang kini telah berlutut di hadapan Sakura. Masih mengenakan handuk.

"Maaf. Aku memang keterlaluan semalam." sesalnya sembari membelai pipi Sakura. "Hari ini kau istirahat saja di rumah. Kau juga tidak perlu mengerjakan pekerjaan rumah. Biar maid yang lain saja yang melakukannya." Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan membawanya kembali ke ranjang.

Dia berjalan ke lemari dan melemparkan sebuah kaos ke arah Sakura, sebelum akhirnya mengambil seragamnya sendiri.

.

.

.

.

Sakura tengah mengaduk-aduk benda cair berwarna coklat saat dirasakannya sepasang tangan kekar melingkari pinggangnya dari belakang. Tidak perlu ditanya, karena Sakura sudah tahu siapa orangnya. Pemuda itu menyandarkan dagunya di pundak Sakura.

"Apa yang kau lakukan?" tanya pemuda itu.

"Membuat coklat panas." jawab Sakura tanpa menghentikan kegiatannya.

"Untuk?" tanya pemuda itu.

"Untuk Fugaku-sama." jawab Sakura.

"Tou-san? Untukku mana?" tanya Sasuke lagi dengan nada manja.

Sakura melepaskan pelukan Sasuke dan berbalik menghadapnya.

"Sasuke-kun juga mau?" Sakura balik bertanya.

Sasuke angkat bahu. "Tidak juga. Sebenarnya aku menginginkanmu." kata Sasuke disertai seringai mesumnya. Sakura mendelik.

"Dasar mesum. Apa kau lupa kalau seminggu yang lalu kau membuatku tidak bisa berjalan sampai berhari-hari?" Sakura mengingatkan.

"Tentu aku sangat ingat. Karena setelah itu aku tidak menyentuhmu demi mempertimbangkan kesehatanmu. Dan sekarang aku sangat menginginkanmu Sakura." bisik Sasuke di telinga Sakura. Hembusan napas Sasuke yang menerpa kulitnya, membuat Sakura sedikit menggeliat. Sasuke meraih pinggang Sakura dan mendekapnya erat. Dia mendekatkan wajahnya pada Sakura dan mempersempit jarak di antara mereka—

"Ehem." suara deheman menghentikan kegiatan mereka. Sakura segera mendorong tubuh Sasuke menjauh darinya saat melihat Fugaku berjalan mendekati meja makan. Pria paruh baya itu menarik sebuah kursi dan duduk di sana.

"Kau mengganggu Tou-san." gerutu Sasuke, dibalas dengan cubitan Sakura di pingganggnya. Sasuke mendelik sebal dengan aksi Sakura itu.

"Oh, maaf. Aku memang sengaja." ujar Fugaku cuek.

"Cih." Sasuke mendecih tak suka.

"Apa coklat panasku sudah jadi?" tanya Fugaku pada Sakura, mengabaikan kekesalan Sasuke.

"Su—sudah Fugaku-sama. Ini silahkan." dengan gugup Sakura meletakkan mug berisi coklat panas itu di atas meja di depan Fugaku. "Ka—kalau begitu aku permisi dulu." Sakura segera meninggalkan ayah dan anak itu di dapur. Merasa canggung dengan suasana yang tercipta.

Sasuke yang masih kesal karena kegiatannya diinterupsi, berjalan menuju kulkas dan membukanya. Dia mengambil sebuah apel dan menutup kembali pintu kulkas itu. Sasuke bermaksud kembali ke kamarnya ketika suara Fugaku kembali terdengar.

"Jangan sampai membuatnya hamil Sasuke. Kalian masih sekolah." ujar Fugaku tanpa mengalihkan perhatiannya dari gelas coklatnya.

Sasuke melirik sekilas ayahnya. "Aku aku." katanya kemudian benar-benar pergi meninggalkan Fugaku.

.

.

.

.

Klinting

"Selamat datang," Ino menoleh ke arah pintu masuk toko bunganya. "Kau..."

Seorang pemuda tersenyum manis ke arahnya. "Halo Ino-san." sapanya.

"Halo juga Sai." balas Ino ikut tersenyum. "Kau ingin membeli bunga?" tanya gadis itu.

Pemuda itu mengangguk.

"Bunga apa yang ingin kau beli?" Ino kembali bertanya sembari berjalan menuju sekumpulan bunga-bunga yang ia susun rapi.

"Berikan aku sebuket bunga ini." jawab Sai sambil menunjuk sekumpulan bunga dalam keranjang.

"Ranunculus?" tanya Ino. Dia melirik jail pada Sai. "Hinata benar-benar beruntung ya. kau begitu romantis Sai." serunya seraya menata bunga-bunga Ranunculus itu dalam sebuah plastik transparan yang sebelumnya bunga tersebut telah ia balut dengan tisu basah.

"Bunga itu bukan untuk Hinata." sangkal Sai. Ino menoleh dan memandang Sai dengan tatapan bertanya. Nyata sekali kalau dia penasaran.

"Bukan untuk Hinata?" tanyanya. Sai kembali mengangguk. "Wah rupanya ada gadis lain yang menarik hatimu ya." goda Ino. Dia berjalan menghampiri Sai dan memberikan buket bunga Ranunculus tersebut. Setelah membayar, Sai menerima bunga itu. Dia tatap manik biru milik Ino. Membuat Ino jadi salah tingkah dibuatnya.

"Bunga ini untukmu, Ino-san." kata Sai kembali menyerahkan bunga itu pada Ino.

Ino memandang Sai dan bunga di hadapannya itu secara bergantian. Sorot matanya tampak tidak percaya dengan yang baru saja dikatakan Sai. Apa Sai sedang bercanda dengannya?

"Sebagai orang yang mengerti tentang bunga, tentu kau sangat paham apa bahasa bunga Ranunculus Ino-san. Terimalah." kata Sai lagi.

Ino menerima bunga itu kemudian tersenyum. "Apa kau ingin merayuku dengan memberikan bunga ini Sai?" guraunya. Sai terkekeh.

"Seandainya saja kau mudah dirayu." timpal Sai. Ino tertawa, dan detik berikutnya Sai pun ikut tertawa.

"Baiklah, aku terima bunga ini. Sebagai ucapan terimakasihku, aku ingin mengajakmu ke festival kembang api besok lusa. Kau mau?" tawar Ino.

Sai menyunggingkan senyum termanisnya, "Dengan senang hati." ucapnya, membuat senyum di wajah cantik Ino semakin lebar.

Ino melambaikan tangannya setelah Sai berpamitan dan keluar dari toko bunganya. Sekali lagi ia pandang bunga yang ada dalam dekapannya itu. Entah mengapa hatinya dijalari rasa hangat yang begitu menyenangkan. Senyum kecil kembali tersemat di bibir merah itu, sebelum akhirnya ia meletakkan bunga dari Sai dalam sebuah jambang berisi air. Benar-benar lucu. Dia adalah penjual bunga, dan sekarang dia menerima bunga dari toko bunganya sendiri.

.

.

.

.

"Sasuke-kun." panggil Sakura. Sasuke menoleh. "Bagaimana penampilanku?" tanyanya pada pemuda itu sembari merentangkan kedua tangannya membentuk sebuah pose.

"Kau terlihat cantik dengan yukata itu." puji Sasuke. Menciptakan senyum lebar di wajah manis Sakura. Sasuke tidak bohong. Sakura memang tampak cantik dengan yukata berwarna orange dengan motif bunga krisan putih yang menghiasi bagian ujung lengan dan bagian bawahnya.

"Tapi sebenarnya aku lebih suka rambutmu tergerai." komentarnya lagi. "Lagipula kenapa kau harus mengenakan yukata? Ini kan hanya festival kembang api. Selalu diadakan tiap tahun." sambungnya. Dia saja hanya mengenakan kaos dan celana jeans.

"Aku kan ingin tampil maksimal Sasuke-kun." cetus Sakura.

"Kenapa kau harus tampil maksimal? Apa kau mau menggoda laki-laki di sana?" gerutu Sasuke kesal. Sebenarnya dia sedikit khawatir dengan penampilan Sakura itu. Sudah bisa dipastikan kalau kekasih merah mudanya itu akan menarik perhatian dari kaum adam karena penampilannya saat ini begitu cantik.

"Aku tidak ingin menggoda siapa-siapa. Satu-satunya orang yang ingin kugoda adalah kau Sasuke-kun." gurau Sakura.

Sasuke segara menarik pinggang Sakura dan mendekapnya erat. Sebuah seringai muncul di bibirnya.

"Kau tidak perlu melakukannya Sakura. Apapun yang kau pakai selalu tampak menggoda di mataku. Tapi tentu saja dirimu yang tidak pakai bajulah yang paling menggoda—"

Serta merta Sakura menutup mulut Sasuke dengan kedua telapak tangannya.

"Berhentilah mengatakan hal vulgar seperti itu Sasuke." suruhnya berusaha menyembunyikan wajahnya yang telah merona. Seringai di wajah Sasuke semakin lebar. Pemandangan Sakura yang seperti ini benar-benar memberinya kesenangan tersendiri.

"Oh iya, aku dengar saat para perempuan mengenakan yukata, mereka tak lagi memakai pakaian dalam. Apa itu benar?" kata Sasuke. Dia selalu penasaran dengan kebenaran hal tersebut. Tapi tak pernah bisa membuktikannya.

"Aku bilang berhenti mengucapkan hal vulgar Sasuke." Sakura memalingkan wajahnya yang kian merona. Sementara Sasuke merasa semakin senang dengan reaksi Sakura.

"Aku selalu penasaran Sakura. Boleh aku membuktikannya?" godanya semakin menjadi-jadi. Seringainya semakin lebar, dan Sakura harus mendorongnya menjauh ketika melihat jemari Sasuke yang hendak menarik obi-nya.

"Hentikan Sasuke-kun. Kita haru segera pergi." ucapnya sebelum mereka berakhir di atas ranjang dan melewatkan festivalnya.

Dengan perasaan sedikit kecewa, Sasuke akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan sang kekasih untuk segera pergi ke festival.

.

.

Konoha's Park penuh sesak dengan lautan manusia. Orang-orang yang mengenakan yukata, pedagang-pedagang yang berderat di sepanjang jalan yang diterangi ratusan lampion, tak lupa juga diramaikan dengan berbagai permainan tradisional maupun modern.

Sakura menatap kagum sekelilingnya. Meski tiap tahun dia selalu kemari, tapi tidak pernah dia merasa bosan. Dulu dia selalu datang kemari bersama ayah dan ibunya, namun setelah ibunya meninggal, dia selalu kemari berdua dengan Ino.

Ngomong-ngomong soal Ino, sahabatnya itu bilang dia juga akan kemari bersama Sai. Sakura sedikit tidak percaya Ino akan datang bersamanya. Dia tidak menyangka kalau mereka jadi sedekat itu setelah Sai pindah sekolah ke Konoha. Apa sahabatnya itu sedang membuat kisah cinta? Sakura terkikik geli saat membayangkannya.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya seseorang yang berjalan di sisinya. Sakura menoleh, kemudian tersenyum.

"Tidak ada." jawabnya sok misterius.

"Cih." pemuda itu mendengus kesal.

Dia meraih sebelah tangan Sakura kemudian menggenggamnya erat. Sakura sempat bereaksi namun tidak menolak. Dia melirik tautan tangannya dan Sasuke, kemudian kembali tersenyum. Sasuke ikut tersenyum ketika Sakura turut mengeratkan genggaman tangannya.

.

.

Sakura mengayun-ayunkan gandengan tangannya dan Sasuke. Senyum tak pernah surut dari wajahnya. Sambil bersenandung kecil, sesekali dia mengigit tusukan takoyaki yang ia genggam di sebelah tangannya yang bebas. Sasuke melirik kekasihnya itu, dia ikut tersenyum ketika melihat ekpresi Sakura yang tampak begitu bahagia.

Dia tidak menyesal selama berjam-jam ini harus menuruti kemauan gadis itu untuk mengelilingi festival ini. Meski kakinya pegal harus berjalan kesana-kemari, namun semua itu terbayar saat melihat senyuman bahagia Sakura di sepanjang festival ini.

Duk

Pegangan tangan Sasuke terlepas saat ada yang menyenggol punggungnya. Karena sebentar lagi kembang api akan dinyalakan, kerumunan orang pun semakin ramai. Sasuke jadi panik karena dirinya terpisah dengan Sakura.

"SAKURA!" teriaknya. Namun suaranya tenggelam oleh riuh rendah orang-orang yang makin memadati area festival. Dia celingak-celinguk mencari Sakura yang kini tidak tampak ada dimana.

"Sial!" umpatnya kemudian mulai berdesak-desakan dalam kerumunan.

.

Sakura tampak panik. Tiba-tiba saja Sasuke melepaskan tautan tangannya dan mereka jadi terpisah. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari pemuda itu, namun tak menemukannya. Perasaan takut menyelimutinya. Tempat ini begitu ramai, pasti susah mencari Sasuke.

Sakura menerobos kerumunan untuk mencari Sasuke. Dia mengernyit saat melihat siluet yang begitu dihapalnya itu. Senyumnya kembali muncul ketika kepala sosok yang dicarinya menyembul di jauhan di antara kerumunan orang-orang sedang celingak celinguk.

"Sasuke—"

Loh?

Bukan?

Tangan Sakura yang terulur berhenti ketika sosok itu berbalik memunggunginya. Dia yakin seratus persen bahwa yang tadi dilihatnya adalah Sasuke sebelum pria itu membelakanginya. Tapi Sasuke tidak berambut panjang. Sedangkan orang itu memiliki rambut panjang yang diikat. Jadi sudah bisa dipastikan dia bukan Sasuke. Tapi wajahnya begitu mirip. Apa dia salah lihat? Apa rasa takutnya membuatnya salah mengira orang lain sebagai Sasuke?

"Ketemu." seru seseorang dari arah belakang sambil menggenggam erat jemari Sakura. Gadis itu menolehkan kepalanya dan serta merta menghambur ke arah pemuda itu.

"Sasuke-kun, kemana saja kau?" paniknya sembari mengeratkan pelukannya.

Sasuke yang masih mengatur napasnya membalas pelukan Sakura tak kalah eratnya. Dia benar-benar lega. Beberapa waktu lalu dia merasa sangat cemas karena tak menemukan gadis dalam pelukannya ini. Dia bahkan berkali-kali mengutuk dirinya sendiri karena tidak menggenggam tangan Sakura dengan erat. Dia takut terjadi sesuatu padanya. Tapi syukurlah dia berhasil menemukannya.

"Maaf. Maaf Sakura." bisiknya di telinga Sakura, kian ia eratkan pelukannya.

Syuuut... Blaar...

Ledakan kembang api menghiasi angkasa. Membuat langit malam kini gemerlap dengan warna-warni yang dihasilkan kembang api. Sakura melepaskan pelukannya dan memandang ke angkasa. Emerald-nya tak berkedip menyaksikan kembang api yang sambung-menyambung di langit malam.

Sasuke yang berdiri di sampingnya pun turut mengagumi keindahan langit malam yang gemerlap itu. Pandangannya beralih pada Sakura yang sedang memandang lagit. Senyum tersemat di bibirnya, kemudian sembari menggenggam erat jemari Sakura, dia kembali mengalihkan pandangannya pada kembang api.

.

"Ino-san, jalannya pelan-pelan saja. Bagaimana kalau kita terpisah?" seru Sai sambil mempercepat langkah kakinya mengejar Ino yang sudah berjalan mendahuluinya.

"Kalau terpisah ya tinggal telpon saja. Kita harus cepat, sebentar lagi kembang apinya diluncurkan Sai, aku harus menemukan tempat yang bagus untuk melihatnya." jawab Ino tanpa memelankan langkahnya.

Saat melewati kedai bunga, pandangan Sai tertuju pada sebuah bunga di sana. Dia mempercepat langkah kakinya dan setelah dekat dengan Ino, pemuda itu segera mencekal pergelangannya. Membuat Ino terhenti dan memandangnya.

"Ino-san. Bisakah kau menunggu di sini sebentar?" tanya pemuda itu.

"Tapi kembang apinya—"

"Aku mohon." pinta Sai sarat dengan permohonan. Ino jadi tidak tega dan akhirnya mengiyakan permintaan Sai. Mungkin melihat kembang api dari sini tidak buruk juga.

Sai berjalan menuju kedai bunga yang ia lewati tadi, kemudian memasukinya. Beberapa menit kemudian dia kembali menemui Ino dengan sebuket bunga berwarna merah. Ino menatap bingung saat Sai menyerahkan bunga itu padanya.

"Ino-san. Apa kau tahu bunga apa ini?" tanya Sai sambil menunjuk bunga dalam dekapan Ino. Ino melihat bunga itu sejenak.

"Anemone merah." jawab Ino. Dia tidak mengerti kenapa Sai menanyakan hal itu padanya. Jika dia membeli bunga itu harusnya dia sudah bertanya pada sang penjual kan.

"Tentu kau juga tahu bahasa bunga Anemone merah ini kan." Ino mengangguk. Dia semakin tidak mengerti. Kenapa Sai malah membicarakan tentang maknanya.

"Aku memberimu bunga ini sebagai ungkapan dari perasaanku padamu Ino-san." Ino melotot. Apa dia tidak salah dengar? Benarkah saat ini Sai sedang menyatakan cinta padanya?

"Aku tidaklah seromantis yang kau bilang. Saat ini bahkan aku merasa sangat gugup. Sangat sulit bagiku untuk mengatakannya padamu, karena itu aku memberikan bunga ini padamu." Sai menarik napas lega setelah mengatakannya. Ada semburat tipis di kedua sisi wajahnya. Tak berbeda jauh dengan Ino. Ini memang mengejutkan untuknya, tapi tak ayal juga membuatnya gugup.

"Sai, aku—"

"Kau tidak harus menjawabnya. Aku hanya ingin mengatakannya padamu. Aku tidak berharap kau akan membalasnya." potong Sai. Dia memang tidak mengharapkan Ino membalas perasaannya. Karena perasaannya pada gadis itu tulus tanpa pamrih.

Syuuut Blaaarrr

Suara ledakan kembang api membahana di segala penjuru.

"Wah, kembang apinya sudah dimulai." gumam Sai mengalihkan pandangannya pada kembang api. Pemuda itu tersenyum.

Ino yang masih shock hanya bisa terpaku pada sosok Sai yang sedang memandang kembang api. Pikirannya saat ini benar-benar kacau. Dia benar-benar tidak menyangka Sai akan menyatakan perasaannya padanya.

"Indah sekali ya. Bagaimana menurutmu Ino-san?" pertanyaan Sai membuyarkan lamunannya.

"I-iya. Indah sekali." gumamnya kemudian mengalihkan pandangan dari Sai untuk melihat kembang api yang menerangi langit malam.

.

.

.

Langit malam kembali gelap. Suasana riuh rendah yang terdengar berangsur-angsur hilang. Kini yang terdengar hanyalah gumaman-gumaman dari pengunjung festival yang bersiap-siap hendak pulang. Tak berbeda jauh dengan muda-mudi yang kini sedang berjalan sambil bergandengan tangan ini. Mereka juga bermaksud untuk pulang mengingat waktu yang sudah semakin larut.

"Kau senang?" tanya pemuda berambut mencuat bak pantat ayam.

"Hm. Aku senang sekali Sasuke-kun." jawabnya. Dia menghentikan langkah saat teringat sesuatu. Sasuke ikut menghentikan jalannya.

"Oh iya Sasuke-kun. Tadi saat kita terpisah aku melihat orang yang sangat mirip denganmu." cetusnya.

"Benarkah?"

"Hm." Sakura mengangguk. "Aku hampir saja memanggilnya, karena kukira itu kau."

Sebuah seringai jahil muncul di wajah Sasuke.

"Apakah kau begitu mencintaiku Pinky? Sampai-sampai kau melihat semua orang mirip denganku." godanya.

"Aku serius Sasuke-kun. Dia benar-benar mirip denganmu." kilah Sakura.

"Aku mengerti kalau kau sangat takut tadi, tapi aku tidak menyangka kau sampai berhalusinasi." ledek Sasuke.

"Aku tidak berhalusinasi. Aku—"

"Sudahlah Sakura. Sekarang aku kan sudah ada di depanmu." Sasuke memotong sembari menangkup wajah Sakura dengan kedua tangannya. Sakura cemberut. Dia kesal karena Sasuke tidak percaya pada ucapannya.

"Yang lebih penting, aku masih penasaran dengan pertanyaanku sebelum berangkat tadi Sakura." ucapan Sasuke itu membuat wajah Sakura memanas. Kenapa ingatannya begitu tajam jika menyangkut hal-hal mesum.

"Pe—pertanyaan yang mana?" tanya Sakura pura-pura tidak mengerti. Sasuke mengeringai. Jelas sekali dia tahu kalau Sakura hanya pura-pura.

"Apakah di dalam yukata ini, kau masih memakai pakaian dalam atau..." Sasuke sengaja tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia mendekati Sakura yang sudah sangat merona.

"A—aku tidak akan memberitahukannya padamu. Kau menyebalkan." Sakura segera mendorong tubuh Sasuke menjauh kemudian meninggalkannya.

"Kau harus membiarkanku membuktikannya Sakura." teriak Sasuke segera menyusul Sakura yang sudah berjalah menjauh.

"Jangan harap." tolak Sakura kesal, dia terus berjalan meninggalkan Sasuke.

"Kau tidak bisa seperti itu Pinky. Biarkan aku melihatnya." bujuknya, namun tetap tak digubris Sakura. Dia malah semakin mempercepat langkahnya. Sasuke tidak pantang menyerah dan mengerjar Sakura sambil terus membujuknya.

.

.

.

TBC

.

.

Ranunculus= "Kamu Menarik"

Anemone merah="Aku Cinta Kamu"

.

.

chap 13 yg cukup menguras tenaga #ngelap keringet

di sini aku tetap menggunakan kata gadis untuk Sakura mengingat umur ny yg msh remaja, ehehe

oke kita bls review dulu :)

Y.O.G: wah km kok malah mengharap yg gk2, ahaha kasian dong nanti sasu, ehehe ini udh lanjut, selamat membaca

rainy de: ini udh lanjut, selamat membaca, hehehe

Guest1: makasih udh setia menunggu, ini udh apdet

Hatake aira: ini udh dilanjut, semoga gk mengecewakan km ya

Guest2: ahaha sasu emg mesum #ditampol sasuke, ehehe pertanyaanmu udh terjawab kn, semoga gk mengecewakan ya

bluestar2604: pertanyaanmu udh terjawab tuh, ehehe kerennya dibagian mana ya, ahaha

Guest3: ini udh apdet, semoga km suka ya, aku gk bs pastiin smpe brpa chap yg jelas ini udh mendekati ending kok, ehehe

Fina Imama: ahaha, iya chap ny emg paling panjang, terima gaji jg, ahaha

nakayama uci: ini udh keluar sayang, wah itu belum terpikir kn, tp bs jd pertimbangan, ehehe

potato: entah knp wkt baca pen name km aku jd pengen makan keripik kentang, ahaha #abaikan

wah kalo soal itu... *sasuke dateng #duak *author ditendang

Sasuke: kl sakura hamil ya tinggal nikahi saja *pergi dg tawa nista

Author: maaf ya potato #bungkuk2

.

.

kalo ada yg gk kebales review ny ato salah penulisan pen name ny blg aja, maklum mata ku rada eror jd ny ya begitulah, hehehe #dikeroyok

kasih kalian masih setia menanti fic ini, #terharu

akhir kata sampai jumpa chap depan :)

boleh minta tanggapannya? :)