SPRING LOVE
By Ansianner
Aku mengakuinya,
aku hanyalah seorang gadis yang tak tahu diri karena terjerat dalam pesonamu hingga sejauh ini.
Tapi tolong, jangan sebut aku sebagai gadis murahan.
Mengapa? Sedalam apapun aku mencinta, maka akhirnya aku akan melepas.
Karena aku akan pergi setelah kau menjatuhkanku hingga nyaris terluka sangat dalam. – Spring Love 2017
.oOo.
Mentari perlahan terbenam, menutup hari yang penuh dengan luka ini. Semburat lembayung terhampar di penghujung hari, memberikan kesan selamat tinggal yang luarbiasa indahnya. Sementara itu, perlahan rembulan menampakkan sinarnya yang temaram, mengajak semua orang untuk segera beristirahat.
Suasana kamar Baekhyun terlihat lebih dingin dari biasanya. Padahal kala itu lampu memancarkan sinar yang terang benderang. Bahkan jendela kamar tampak tertutup rapat oleh tirai, dan jangan lupakan selimut tebal yang menutupi tubuh mungilnya. Seharusnya tak ada hawa dingin yang terasa dari kamar kecil dan begitu indah ini. Akan tetapi, hawa dingin itu bukan berasal dari hawa yang biasanya datang dari celah jendela, melainkan hawa dingin dimana tak nampak kehidupan di kamar itu. Ya, Baekhyun masih nyaman memejamkan matanya semenjak ia pingsan di Club kemarin.
Dokter dan para Suster yang sudah biasa merawat Baekhyun berhasil dibuat angkat tangan. Kondisi gadis itu benar-benar mengerikan, sehingga mereka mau tak mau menghentikan pemeriksaannya daripada mengambil resiko yang membahayakan gadis cantik itu. Dengan demikian, beginilah keadaan Baekhyun dari kemarin. Tertidur lelap dengan sebuah mimpi yang tak pernah diketahui orang lain. Tangan kanannya di infuse, bukti nyata bahwa ia dalam kondisi yang rapuh.
"Hyun- Hyunnie-yah…"Panggil Nyonya Byun yang menatap Baekhyun di ambang pintu, beliau takut untuk sekedar menghampiri anak cantiknya itu –lebih tepatnya khawatir jika ia bisa menurunkan kondisi Baekhyun secara tiba-tiba, "bangunlah, sayang. Eomma disini, Appa juga menunggumu… Bangunlah sayang…"
"Sayang,"
Nyonya Byun menolehkan pandangan pada asal suara, Tuan Byun memanggilnya dengan lembut. Keadaan beliau juga terlihat sama buruknya dengan Nyonya Byun.
"Biarkan Baekhyun beristirahat terlebih dahulu, hari sudah malam. Dan lagi, jangan menyiksa dirimu sendiri dengan terjaga sepanjang malam dengan keadaan terus menangis." Tuan Byun mengusap surai Nyonya Byun dengan penuh kasih sayang, beliau berharap bisa memberikan setidaknya sedikit tenaga untuk sang Istri dengan perlakuannya ini.
"Aku benci dengan dunia ini! Kemana mereka yang selama ini selalu disamping Baekhyun ketika ia tertawa?! Apakah mereka tidak merasa kehilangan Baekhyun bahkan untuk sehari saja?! Apa mereka tidak penasaran dengan kabarnya Baekhyun meskipun nyaris setiap saat melihatnya?! Keadaan Anak ku saat ini tengah sekarat, dan mereka sama sekali tak menyadari itu. Ia saat ini terbaring lemah! Kamarnya terlihat sangat dingin! Ia kesepian dalam mimpinya, aku yakin itu! Aku benar-benar membenci diriku sendiri yang tak mampu membuat hal banyak demi kesembuhan puteri semata wayangku ini." Maki Nyonya Byun sembari memukul kepalanya dengan keras, melampiaskan segala kekesalan yang terbelenggu dalam benak dalam bentuk menyiksa diri.
"Hentikan Sayang! Jika kau memang menginginkan kesembuhan Baekhyun, maka jangan membuatnya semakin tertekan karena melihat keadaanmu seperti ini! Alih-alih lebih kuat, mungkin dia akan memiliki pikiran bahwa selama ini ia hanya menjadi beban untuk kita." Pekik Tuan Byun yang menahan lengan Nyonya Byun sekuat tenaganya, tak perduli jika itu artinya ia beradu kekuatan dengan sang Istri, yang ia inginkan saat ini adalah menjaga Istrinya dan Baekhyun, "sekarang lebih baik kita tinggalkan Baekhyun untuk beristirahat, dan kita juga harus beristirahat. Kau tidak bisa menjaganya dengan keadaan menggila seperti ini." Titahnya kemudian tanpa bantahan.
Dalam keadaan terisak, Nyonya dan Tuan Byun melenggang pergi meninggalkan kamar Baekhyun. Hati kedua orang tua itu sudah tak berupa ketika melihat mutiara tercantiknya kini terbaring tak sadarkan diri 24 jam lamanya. Disadari atau tidak, bahkan tubuh Baekhyun terlihat lebih kurus dibanding beberapa hari sebelumya.
Setidaknya biarkan Baekhyun istirahat. Ia terlalu rapuh. Setiap harinya pikiran mengerikan selalu menyempatkan diri untuk mengganggu jiwa Baekhyun, dan tak selamanya gadis itu bisa menahannya. Tanpa sepengetahuan siapapun, Baekhyun sering merasakan sesak nafas yang hebat bercampur kepalanya yang pusing.
.oOo.
Drrt.
Chanyeol mengernyitkan dahinya ketika ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Dengan malas, tangannya segera mengambil ponselnya dan lekas membuka pesan masuk itu. Untuk beberapa detik Chanyeol terdiam, ia mendapatkan pesan dari seseorang yang sudah jarang menghubunginya, Luhan.
From : Luhan
Selamat malam bedebah murni~
Aku tebak, sepertinya saat ini kau tengah bercumbu dengan para jalang-jalang, bukan? Wah wah, selamat. kau berhasil berbahagia di atas penderitaan Baekhyun. Bahkan aku yakin kau sudah tak mengingat gadis itu lagi hahahaha! Baekhyun menghilang, dan itu semua gara-gara perilaku bajinganmu itu! Jujur saja, aku tak berharap mendengar penyesalanmu setelah ini. Nikmati hari-hari kebebasanmu yang sebentar lagi berubah menjadi hari yang paling menyesakkan dada!
Setelah membaca pesan itu, Chanyeol mengusap wajahnya kasar seraya tertawa miris. Luhan yang sudah menjadi sahabatnya itu kini berpihak pada seorang gadis penipu seperti Baekhyun. Dunia dan para penghuninya benar-benar sudah tak waras. Berpihak pada orang yang jelas-jelas sudah melukainya. Dan yang paling mengejutkan adalah ia korban sebenarnya disini, tapi justru sang penjahatlah yang dibela. Semakin pintar otak manusia, maka manusia itu sendiri akan semakin licik jika ia tak bisa menahan dirinya sendiri, benar bukan?
Detik selanjutnya, Chanyeol membantingkan ponselnya ke dinding. Retakan pada layar ponselnya terlihat sudah, tanda bahwa ia benar-benar mengerahkan tenaganya hanya untuk membantingkan benda tak bersalah itu. Tidak, mungkin Chanyeol melampiaskan rasa kesal dan bencinya dengan bantingan itu.
"Terima kasih Baekhyun. Kau berhasil mengukir luka yang aku takutkan. Kau menutup harapanku lagi untuk jatuh cinta pada seorang perempuan, meskipun tak menutup kemungkinan di luar sana ada seorang perempuan yang tak akan membohongiku lagi. Kau penipu ulung, Baekhyun-ssi." Geram Chanyeol yang mengepalkan tangan kanannya hingga urat tangannya terlihat.
.oOo.
Beberapa hari sudah berlalu. Nyonya dan Tuan Byun kini lebih over-protektif terhadap Baekhyun. Bahkan, gadis itu tak lagi diizinkan untuk homeschooling. Kepercayaan Nyonya dan Tuan Byun pada orang luar sirna sudah. Mereka hanya tak mau membuat Baekhyun kembali tersakiti, meskipun itu bukanlah kesalahan mereka.
Satu hal yang menjadi misteri besar bagi Nyonya dan Tuan Byun adalah apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun, hingga menyebabkan puteri cantiknya berada di kondisi paling mengkhawatirkan sepanjang ia hidup?
Beberapa kali Nyonya dan Tuan Byun berusaha mendapatkan informasi apapun tentang Baekhyun, tapi selalu saja digagalkan oleh Baekhyun sendiri. Gadis itu selalu berusaha dengan keras agar kedua orang tuanya tidak menghukum orang-orang yang telah melukainya, terlebih jika kedua orang tuanya berhasil mendapatkan informasi mengenai Luhan, Kyungsoo, Yixing, dan terakhir orang yang ia cintai Chanyeol Park.
Baekhyun selalu berdalih jika bukan orang lain yang menyakitinya, akan tetapi dirinya sendiri. Tentu saja pengakuan Baekhyun yang terkesan polos itu berhasil membuat Nyonya dan Tuan Byun cemas jika suatu saat Baekhyun memiliki pikiran untuk membunuh dirinya sendiri. Daripada melihat puterinya tewas dengan cara yang sadis, lebih baik Nyonya dan Tuan Byun menyerah untuk menghukum orang-orang yang berani menyentuh Baekhyun selama ini.
"Hyunnie-yah.. Eomma dan Appa memiliki jadwal rapat hari ini dan tak bisa diwakilkan, jadi kami terpaksa berangkat. Kamu tidak apa sendiri, eum?" Tuan Byun mengelus surai Baekhyun yang tengah duduk di hadapan pianonya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Baekhyun tersenyum, "Pergilah, aku baik-baik saja. Jangan lupa membeli sushi ketika kalian pulang nanti," Jawabnya dengan senang hati.
Nyonya Byun yang mendengar obrolan antara Suaminya dan Baekhyun tanpa ragu masuk ke dalam ruang musik pribadi puterinya itu, "Kami akan membawakan sushi yang paling enak dan banyak untukmu. Jadi kamu harus berjanji untuk menghabiskannya? Eomma ingin melihat pipi chubbymu yang dulu." Ujar beliau dengan suara yang terdengar sangat resah dan penuh harap.
"Baiklah! Aku akan menghabiskannya! Aku berjanji." Baekhyun memegang tangan Tuan Byun dan Nyonya Byun, "pergilah, atau kalian akan telat."
"Ini terpaksa, Sayang. Kami pergi." Tuan Byun lekas merangkul punda Nyonya Byun dan sesegera mungkin keluar dari ruang musik Baekhyun.
Setelah kepergian Eomma dan Appanya, Baekhyun menghembuskan napasnya perlahan. Matanya beralih pada sebuah foto yang sedari tadi ia sembunyikan dibalik buku musiknya. Ia mengusap foto itu sekilas lalu tersenyum. Ia bersyukur masih bisa memandang wajah orang yang dicintainya meskipun hanya dalam sebuah kertas. Ya, wajah kekasihnya, Chanyeol Park.
Sejujurnya Baekhyun selama ini memendam rindu yang teramat dalam pada Chanyeol. Namun, ketika ia hendak menghubungi pemuda tampan itu, yang ia dengar hanyalah nada jika nomor itu tidak terdaftar. Sepertinya Chanyeol sudah mengganti nomornya, dan Baekhyun tak tahu itu. Entah suatu kebetulan atau mungkin sudah direncanakan, Baekhyun juga tak lagi bisa menghubungi Luhan, Kyungsoo, ataupun Yixing karena alasan yang sama. Dengan begitu, berakhirlah Baekhyun yang sering menangis karena merasa ditinggalkan dengan sejuta rindu dalam benaknya.
Sesekali Baekhyun berharap bisa keluar dari rumahnya ini, namun itu hanyalah kemustahilan belaka. Selankah saja Baekhyun keluar dari gerbang, maka para bodyguard yang menjaga Baekhyun langsung menyeret gadis itu kembali ke dalam rumahnya. Melarikan diri? Baekhyun sering mencobanya, dan itu semua gagal karena para bodyguard itu.
"Yeollie Oppa, Luhan Eonni, Kyungsoo-yah, Yixingie Eonni, aku sangat merindukan kalian. Apa kalian berbahagia tanpa ku di luar sana?" Monolog Baekhyun dengan tatapan yang terpaku pada piano di hadapannya itu.
Perasaan adalah perasaan yang sampai kapanpun membutuhkan waktu untuk membenahinya.
.oOo.
Sinar Mentari menerobos masuk lewat celah tirai kamarnya dan mampu membuat Chanyeol terusik dari tidur lelapnya. Beberapa kali ia mengusap wajahnya, setelah itu meregangkan tubuhnya sejenak. Baru saja ia terlelap sekitar pukul 03.00 dini hari. Bukan. Bukan karena ia baru saja menghabiskan malam yang panjang dengan kegiatan dengan jalangnya, akan tetapi menyelesaikan materi apa yang akan ia siapkan untuk beberapa calon didiknya nanti.
Mengingat calon didiknya seketika melintaskan wajah cantik Baekhyun saat tersenyum dalam benak Chanyeol, dan hal itu sering terjadi pada dirinya. Setelah kesadarannya terkumpul, Chanyeol menatap kosong udara di hadapannya.
Jujur saja, Chanyeol tak mudah untuk melupakan kejadian dimana ia bisa menatap Baekhyun untuk terakhir kalinya di Club itu. Karena tak mau terbelenggu dalam masa lalunya yang kelam, Chanyeol menghapus semua tentang Baekhyun dari ponselnya bahkan mengganti nomor dan segala akunnya demi mencegah Baekhyun menghubunginya lagi. Satu hal yang Chanyeol tak ketahui adalah semakin ia berlari dari hal-hal yang diinginkan oleh hatinya, maka saat itulah kekalahan tengah menanti di penghujung jalan.
Sebelum Chanyeol bangkit dari tidurnya, ia tiba-tiba merasakan dadanya kembali sesak. Ya, rasa sesak itu selalu menyerangnya secara tiba-tiba. Meskipun tidak setiap hari, tapi Chanyeol menyadari jika rasa sesak itu nyaris selalu menyerang dadanya. Pada saat itulah, bayang-bayang Baekhyun mengantui benaknya, dan berhasil membuat Chanyeol sendiri menitikan air matanya. Tak bisa dipungkiri, menjauh dari gadis yang pernah mengisi hatinya membuat Chanyeol akhirnya mengaku jika merindukan Baekhyun. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menikmati rasa sakit itu.
"Aku menyerah. Semakin aku berusaha melupakanmu, maka saat itulah bayangmu akan menghampiriku seolah mengajakku untuk berkelana mencari dimana keberadaanmu saat ini, Baekhyun-ah.." Gumam Chanyeol sembari menutup kedua matanya dengan lengannya, ia ingin menangis tanpa diketahui siapapun.
.oOo.
Kafe yang penuh cerita, meja yang penuh cerita, dan benak mereka yang penuh cerita.
Luhan, Kyungsoo serta Yixing menghabiskan waktunya bersama di tempat dimana dulunya pernah di duduki oleh seorang Baekhyun. Melihat salah satu bangku kosong sering membuat ketiganya menangis tanpa di duga. Posisi yang dulu sering diisi oleh Baekhyun kini kosong. Menyisakkan ruang yang menganga meskipun kehangatan bertebaran disana-sini.
Luhan terisak. Terpukul karena kehilangan kabar Baekhyun begitu lamanya. Ini jelas kesalahannya, karena mengganti nomor tanpa memikir ulang. Jujur saja, kala itu emosinya tersulut dan enggan berhubungan dengan Chanyeol lagi. Tapi justru ia menghapus semua kontak yang berhubungan dengan Baekhyun. Akhirnya, ia kehabisan akal untuk mencari tahu keberadaan gadis itu. Meminta informasi pada Chanyeol? Luhan tak pernah memiliki niat itu. Ia terlalu membenci Chanyeol.
Sementara Kyungsoo dan Yixing kehilangan kontak Baekhyun karena mereka lupa dengan salah satu sahabatnya itu, akibat jarang bertemu, dan hal itu membuat Luhan naik pitam dan kesal pada mereka seminggu lamanya. Tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan kecuali memandang foto cantik Baekhyun yang tersenyum dalam ponselnya masing-masing. Setidaknya foto itu menjadi bukti nyata bahwa ketiganya dan Baekhyun pernah saling mengenal. Meskipun ketiganya masih begitu penasaran dengan jati diri Baekhyun yang sebenarnya. Hal yang paling mereka sesali adalah bahkan mereka tak tahu siapa Baekhyun yang sebenarnya, dimana tempatnya tinggal dan bagaimana kabar gadis itu setiap harinya, tapi sekarang perpisahan justru menyapa hubungan yang terlampau begitu kecil itu.
"Hyunnie-yah, kami merindukanmu! Tak bisakah kau datang ke kafe ini seperti biasanya? Bahkan dulu kau sering datang disaat kami lupa padamu. Tapi –tapi kemana kau sekarang?! Kau mengesalkan Hyunnie!" Gerutu Yixing dengan tangisan sebagai penutup kalimatnya.
Luhan dan Kyunsoo menundukkan kepalanya dalam, menyembunyikan air matanya. Baekhyun, mereka benar-benar merindukan sahabat cantiknya itu.
~Next or End?~
Pesan Author : Terima kasih atas dukungan yang kalian sampaikan lewat komentar-komentar manis itu. Aku sering membacanya berulang-ulang, dan entah mengapa itu tidak membosankan bahkan memberikan semangat setiap kali aku membacanya. Aku juga berpikir bahwa presepsiku tentang FF ini GAGAL adalah tidak benar, iya kan? Atau itu hanya perasaanku saja? Entahlah.
Terima kasih atas kehadiran kalian yang selalu menjadi alasan mengapa aku bisa terus menulis cerita sampai saat ini. Kalian terlalu berharga untuk aku sia-siakan. Cahaya kalian berhasil menjadi penerang kala aku mulai kalut akan segala hal. Sekali lagi terima kasih dan aku harap aku bisa mengenalkan diriku sendiri di hadapan kalian secara langsung kelak.
Aku harap kalian tidak melupakanku meskipun aku menyembunyikan identitas asliku. Ingat aku sebagai Myeonhan (ansianner), seseorang yang selalu berterima kasih pada kalian dan menyayangi kalian meskipun jarak terbentang entah seberapa jauh. Terakhir, aku mencintai kalian dan aku akan merasa terhormat dengan semua semangat manis yang kalian tulis untukku
