Terima kasih... terima kasih telah membaca dan me-review chapter 11. Phieranpoo: thanks; Ochan Malfoy: sori, nggak da lemon. M untuk kedewasaan karakter :D; Guest: Sori, aku nggak bikin tentang pernikahan Scorose, tapi kuharap epilog ini cukup bagus. Widy: Thanks :D


Disclaimer: J. K. Rowling

Pre-story: Rose Weasley dan Iris Zabini, Rose Weasley dan Iris Zabini 2, Lima Tahun: Lily dan Alan, Apa yang Terjadi di The Cannons?

PERGI UNTUK MELUPAKAN

Epilog

Godric's Hollow adalah sebuah desa yang indah dan nyaman. Jalanan desanya sempit dengan rumah-rumah kecil berderet rapi sepanjang jalan. Pada ujung jalan terdapat pepohonan dengan berbagai jenis pohon yang tumbuh teratur, menambah hijau daerah pedesaan itu. Setiap rumbah terdapat taman bunga kecil yang di tata sendiri oleh pemilik rumah. Mereka tidak terlalu mempercayai penatanan tamannya pada tukang kebun karena menurut mereka taman yang baik adalah taman yang dirawat oleh pemiliknya sendiri.

Warga desa Godric's Hollow tidak terlalu banyak menuntut sesuatu untuk kebutuhan mereka. Lagipula desa itu hanyalah sebuah desa kecil dengan jumlah penduduk di bawah luas wilayah. Desa itu punya sebuah supermarket, beberapa toko yang menjual barang-barang sejenis, sebuah kantor pos, sebuah bar dan sebuah restoran cepat saji. Masyarakat di desa ini sangat ramah dan hidup bertetangga dengan rukun dan damai. Mereka tidak menyadari bahwa beberapa dari tetangganya adalah penyihir.

Keluarga Malfoy tinggal di salah satu rumah mungil di desa itu, berdekatan dengan rumah keluarga Potter. Rumah mereka adalah rumah dua lantai yang nyaman dengan taman bunga kecil di depannya. Pagi itu sebuah teriakan keras terdengar di lantai dua rumah itu, membangunkan Rose dan Scorpius yang masih terlena dalam dunia mimpi di ranjang mereka.

"Ada apa?" tanya Scorpius terkejut dan duduk. Dia memandang Rose yang masih meringkuk dengan nyaman di balik selimutnya.

Udara dingin bulan November membuat semua orang ingin meringkuk dalam selimut dan baru akan bangun saat matahari sudah benar-benar terbit di ufuk Timur.

"Hei, Rose bangun," kata Scorpius, mengguncang Rose.

"Ayolah, Rose bangun!"

"Masih subuh, Scorpius," kata Rose dengan mata terpejam.

"Carina menjerit," kata Scorpius, menarik selimut Rose.

"Dia tidak apa-apa... Tidur lagi," kata Rose, menarik selimutnya dari tangan scorpius dan tidur lagi.

Kemudian terdengar jeritan lain, menggema di seluruh rumah. Kali ini Scorpius benar-benar cemas. Dia khawatir terjadi apa-apa pada anak-anaknya. Tanpa menghiraukan Rose yang masih tertidur, Scorpius bangun dan menuju kamar anak-anaknya di tingkat dua. Dia mengetuk pintu kamar Carina dan terdengar suara Carina menyuruhnya masuk. Scorpius membuka pintu dan langsung terkejut melihat Carina, anaknya yang berumur enam tahun, tidak lagi berambut pirang putih sepertinya tetapi berambut hijau menyala.

Carina yang semula sedang berdiri di muka cermin sambil mengamati bayangannya dengan sedih, berlari menghampiri Scorpius dan memeluknya.

"Daddy," kata Carina, menempelkan kepalanya di pundak Scorpius.

"Apa yang terjadi dengan rambutmu, Sayang?" tanya Scorpius, membelai rambut Carina. Dia tahu Carina tampaknya sedih melihat rambutnya berwarna hijau.

Sebelum Carina sempat menjawab, pintu terbuka dan seorang anak laki-laki berumur tiga tahun berdiri di depan pintu yang terbuka, melihat Scorpius dan berlari memeluknya sambil berkata, "Daddy!"

Scorpius berdiri dengan kedua anaknya dalam pelukannya dan duduk di tepi tempat tidur.

"Nah sekarang ceritakan padaku. Apa yang membuat kalian berdua berteriak?" tanya Scorpius setelah mendudukkan Carina dan Orion di masing-masing pahanya.

"Orion membuat rambutku jadi hijau," kata Carina, mendelik pada adiknya.

"Aku tidak melakukannya," bantah Orion tegas.

"Kau yang melakukannya," kata Carina.

"Tidak..."

"Oke... kita dengar dulu apa kata kakakmu. Lanjutkan Carrie!"

"Semalam Orion berkata bahwa aku sangat cocok kalau ditempatkan di Slytherin. Dia bilang Malfoy harus di Slytherin. Karena itulah aku tahu bahwa dialah yang membuat rambutku menjadi hijau supaya sesuai dengan warna Slytherin."

"Benarkah? Nah, sekarang kita dengarkan apa yang akan apa kata adikmu," kata Scorpius, memandang anak laki-lakinya, yang berambut merah ikal dan berbintik-bintik dengan mata abu-abu perak yang sangat mirip dengan matanya.

"Oke, baiklah aku mengaku, aku yang melakukannya, tapi aku tidak sengaja melakukannya. Aku hanya ingin menyentuh rambutmu... eh, tahu-tahu rambutmu berubah jadi hijau," kata Orion menyeringai, dengan seringai yang sangat mirip Draco.

Carina mendelik padanya.

"Tetapi, kau kan tidak perlu mengubah merak albino kesayanganku jadi berwarna-warni," kata Orion.

"Aku memang melakukannya," kata Carina, rona merah menjalar di pipinya yang pucat. Dia menghindari pandangan Scorpius.

"Apakah Daddy akan menghukum kami karena itu?" tanya Orion, memandang Scorpius.

"Aku memang ingin menghukum kalian karena membuatku cemas di pagi hari, tapi aku akan memaafkan kalian, kalau kalian saling meminta maaf dan berjanji untuk tidak bertengkar lagi."

"Baiklah," kata Carina dan Orion bersamaan.

Mereka saling mengucapkan maaf, kemudian Carina memeluk Orion. Setelah itu keduanya memandang Scorpius.

"Bagus," komentar Scorpius, kemudian mengubah rambut Carina menjadi pirang putih lagi.

"Terima kasih, Dad," kata Carina mencium pipinya, kemudian kembali ke balik selimutnya.

Scorpius bangkit sambil berkata, "Sebentar lagi sarapan, kau harus segera turun."

Jawaban Carina terdengar seperti gerutuan yang teredam selimut.

"Merak Albino-ku, Dad," kata Orion sambil menarik-narik pipa celana ayahnya.

"Oke... ayo ke kamarmu!"

Mereka keluar dari kamar Carina dan menuju kamar Orion, yang berhadapan dengan kamar Carina. Kamar Orion lebih kecil dibandingkan kamar Carina dan di kamar itu terdapat poster Quidditch The Tornadoes dan gambar ular perak Slytherin dalam lingkaran hijau yang memenuhi seluruh dinding kamar. Kedua gambar ini sangat menjengkelkan Ron saat dia berkunjung ke Godric' Hollow, namun Dad sangat bahagia dan berkata, "Malfoy memang harus di Slytherin." Diam-diam, sempat terjadi perang mulut antara Dad dan Ron, tapi Rose berhasil menengahinya dengan berkata, "Carina dan Orion adalah milik kami dan kami tidak peduli apa yang mereka suka ataupun tidak suka." Memang benar anak-anak ini adalah miliknya sendiri dan tidak ada yang bisa merebut mereka darinya.

Scorpios memandang Orion, yang dengan semangat bercerita tentang merak albino-nya yang selalu ceria dan bagaimana bahwa Grandpa Draco sangat senang bahwa merak ini sudah lebih gemuk dari sebelumnya, dan menyadari bahwa meskipun penampilan Orion adalah Weasley―rambut merah, bintik-bintik, tinggi dan kurus―tapi kepribadian dan sikapnya adalah Malfoy. Orion kini sedang mencari-cari merak albino-nya di sekeliling kamarnya sambil mengeluhkan tentang merak yang tidak bisa diam.

"Akhirnya ketemu," kata Orion sambil menarik keluar merak berbulu warna-warni dari bawah ranjang.

Scorpius melihat bahwa merak itu terlihat lebih indah dengan bulu warna-warni, namun dia tahu bahwa Orion menginginkan merak albino-nya kembali.

"Ayo, Dad, kembalikan merak albino-ku!" kata Orion.

Scorpius mengayunkan tongkat sihirnya dan mengembalikan warna putih merak itu.

"Hore!" kata Orion sambil memeluk meraknya.

Scorpius tersenyum.

"Dad, kapan aku bisa memiliki tongkat sihir?" tanya Orion, memandang tongkat sihir Scorpius.

"Kalau kau masuk Hogwarts, dan itu masih delapan tahun lagi," jawab Scorpius.

Orion cemberut. Scorpius tertawa kecil sambil mengacak rambut Orion yang ikal. "Ganti piyamamu dan turunlah ke bawah! Sarapan..."

"Oke, Dad..." kata Orion.

Scorpius berjalan keluar kamar dan menuruni tangga menuju dapur. Rose sedang memasak sesuatu di kompor.

"Bagaimana anak-anak?" tanyanya saat melihat Scorpius.

"Baik-baik saja... kurasa mereka hanya ingin memamerkan kemampuan sihir masing-masing," kata Scorpius duduk di depan meja makan, mengambil Daily Prophet yang terletak di atasnya dan mulai membaca.

Scorpius membaca selama lima belas menit kemudian meletakkan korannya. Di depannya telah tersedia kopi dan roti panggang dengan selai marmalade, juga omelette dan susu. Suara Rose terdengar dari tingkat atas membangunkan Carina dan Orion. Beberapa saat kemudian Carina dan Orion memasuk ke dapur dengan ribut diikuti Rose.

"Mom, aku tidak suka telur," kata Orion.

"Aku suka panekuk, Mom," kata Carina. "Dan dengar, Ory, telur itu mengandung protein untuk otakmu, tahu!"

"Jangan memanggilku Ory, dan tetap saja, rasanya tidak seenak daging domba panggang."

"Oke, kalian akan mendapatkan sarapan yang sesuai, dan Orion, tidak ada daging domba panggang, kau akan mendapatkannya saat makan malam."

"Yah, Mom..."

Carina cekikikan.

Setelah ribut-ribut selama lima menit akhirnya mereka berhasil mendapatkan makanan yang sesuai dengan selera masing-masing. Scorpius: roti panggang dengan selai marmalade, daging yang digoreng kecil-kecil dan kopi; Rose: omelette dan teh; Carina: Panekuk dan susu; Orion: roti panggang dengan selai marmalade, daging goreng dan susu.

"Hari ini ke kantor?" tanya Rose, saat Scorpius menghabiskan sarapannya.

"Dad sudah berjanji akan membawa kami ke pantai," kata Carina.

"Pantai... pantai," sambung Orion bersemangat.

"Kau akan membawa mereka ke pantai? Bagaimana dengan pekerjaanmu?" Rose menatap Scorpius.

"Aku ijin sehari... Al dan aku berniat membawa anak-anak ke pantai," kata Scorpius. "Bagaimana denganmu, apa yang kau lakukan hari ini?"

"Aku harus menyelesaikan artikel tentang Kemunduran dalam Sistem Pemerintahan Sihir untuk Daily Prophet, tapi―"

"Tapi kau juga ingin ke pantai," sambung Scorpius tersenyum.

"Ya..."

"Hore..." seru Carina dan Orion bersamaan.

"Aunty Iris juga ikut, Mom, jadi Mom tidak akan bosan," kata Carina.

Rose tersenyum dan Scorpius mendesah lega. Susah baginya menjaga dua ana-anak hiperaktif, yang kekuatan sihirnya muncul tak terduga. Dia memerlukan Rose apapun yang terjadi.


Daerah sebelah selatan Inggris, pantai Cornwall merupakan wilayah pantai yang sering dikunjungi oleh wisatawan Muggle. Pantai itu adalah pantai biru dengan ombak besar untuk berselancar. Di pinggir pantai berpasir putih itu berderet payung-payung lebar sebagai tempat berteduh dari sinar matahari bulan November.

Di bawah salah satu payung tampak Rose dan Iris duduk sambil memandang Scorpius dan Al yang sedang membantu Carina, Orion, Samuel dan Isabella mendirikan istana pasir.

"Bagaimana pekerjaanmu di Gringgots?" tanya Rose, menaikan kacamata hitamnya di atas kepala dan memandang Iris.

"Tidak ada yang menarik... Bagaimana dunia press?" tanya Iris.

"Lebih menarik dari pada mengurus dua anak hiperaktif yang sudah bisa menyihir."

Iris tertawa. "Kemarin aku harus memadamkan api di tempat tidur Samuel karena entah bagaimana Isabella telah membakar tempat tidurnya."

"Apakah Isabella baik-baik saja? Kata Al dia sakit," kata Rose, memandang Isabella, anak perempuan kecil berambut hitam yang sangat mirip Iris dengan mata hijau cemerlang seperti mata Al.

"Dia cuma demam..." kata Iris, menenangkan. "Sebenarnya aku melarangnya ikut ke pantai, tapi dia tidak mau ditinggal."

"Begitulah anak-anak," kata Rose.

Mereka memandang ke pantai dan melihat bahwa istana pasir yang dibangun oleh Scorpius dan Al telah mencapai tinggi Isabella. Mereka bersorak gembira dan memanggil Rose dan Iris untuk berfoto bersama. Beberapa saat kemudian mereka menghabiskan lima belas menit untuk mengambil foto, dan anak-anak yang sudah bosan berfoto memutuskan untuk mencari kerang.

"Jangan jauh-jauh," teriak Rose di belakang Carina, yang memegang ember berwarna cerah dan sekop pasir.

Rose, Iris, Scorpius dan Al segera kembali ke bawah payung dan mengawasi anak-anak dari bawah payung.

"Apakah mereka akan baik-baik saja?" tanya Iris khawatir, memandang ke arah anak-anak.

"Jangan khawatir mereka akan baik-baik saja," kata Rose.

Rose mengalihkan pandangan ke pantai dan memandang para peselancar Muggle yang sedang memamerkan kebolehan mereka berselancar.

"Ada-ada saja cara Muggle menyenangkan diri," komentar Rose.

"Kelihatannya menarik," kata Al. "Dan kita bisa menggunakan Mantra Melayang untuk itu."

"Aku lebih suka naik sapu," kata Scorpius.

"Dan aku lebih suka tetap di tanah," kata Iris.

Rose tertawa. "Ya, kau kan tidak main Quidditch. Ingat waktu kau menjadi aku dan terjatuh dari sapu saat latihan Quidditch?"

Al ikut tertawa dan Iris cemberut.

"Kurasa kita tidak boleh mengingat kisah lama," kata Iris.

"Ya, tapi menurutku karena pengalaman-pengalaman di masa lalulah jadi kita bisa seperti ini," kata Rose.

"Benar, kita tidak menduga kita akan menjadi seperti ini, kan? Seingatku kau pernah mengatakan akan menikah dengan cowok Selandia Baru, Rose," kata Scorpius.

Rose bersemu merah dan berkata, "Scorpius, bisakah kau tidak mengungkit kisah lama?"

"Kau yang mengatakan bahwa kisah lamalah yang menjadikan kita seperti sekarang."

"Tapi aku tidak menyuruhmu mengungkit kisah lama."

"Memangnya mengapa kalau aku mengungkit kisah lama? Itu kan kisah kita berdua," kata Scorpius.

"Benar, itu kisah kita, tapi aku lebih suka kalau kau tidak mengungkitnya dan―"

"Oh ayolah, kalian berdua selalu saja bertengkar dan bertengkar," kata Al, kemudian memberi isyarat pada Iris untuk mengikutinya. "Kami akan mengecek anak-anak."

Iris dan Al meninggalkan Rose dan Scorpius yang saling bertatapan dan tertawa.

"Kau selalu saja mengajakku bertengkar," kata Rose.

"Kau selalu saja membuatku ingin menciummu," kata Scorpius.

Rose bersemu merah lagi.

"Apakah aku pernah mengatakan padamu bahwa kau sangat cantik saat wajahmu memerah?" tanya Scorpius, merangkul puncak Rose dan mencium keningnya.

"Ya, tapi aku suka mendengarmu mengatakannya lagi."

"Oh, baiklah... Kau sangat cantik saat bersemu merah."

"Terima kasih," kata Rose kemudian mencium bibir Scorpius dengan lembut.

"Mom... Dad," suara Orion mengagetkan Rose dan Scorpius.

Mereka melepaskan diri dan memandang Orion yang sedang berdiri memandang mereka dengan cemberut.

"Kalian selalu saja berciuman," kata Orion.

"Itu karena kami saling mencintai," kata Rose sederhana.

"Nah ada apa, Sayang?" tanya Scorpius.

"Samuel menemukan sebuah kerang besar, dia ingin kita semua berfoto bersama kerang itu," jawab Orion.

"Baiklah, ayo kita ke sana," kata Scorpius, menggandengan tangan Orion dan tangan Rose dengan tangannya yang lain.

Rose memandang tangannya yang digenggam Scorpius dan tersenyum. Dia merasa bahwa kebahagian itu sudah ada bersamanya saat ini dan kebahagian itu adalah Scorpius.

TAMAT


Terima kasih untuk semuanya yang telah memberikan Review sehingga FanFic ini bisa selesai. Meskipun mungkin kurang memuaskan, tapi aku senang bisa menyelesaikannya.

Missy Macmilan: Sori, pernikahan Scorose tidak termasuk dalam epilog. Pernikahannya dalam FanFic lain saja, ya :D

Baca dan Tinggalkan Review atau FeedBack, Please! Biar aku tetap semangat... See You in KisahRondanHermione chapter 5.

Riwa :D