Chapter 12
[REMAKE] Unforgiven Hero
By Santhy Agatha
Cast: Park Chanyeol - Byun Baekhyun and others
Rated: M
Disclaimer: Aku hanya nge-remake dan membuang sedikit kalimat yang menurutku sulit untuk diubah/? Dan aku juga menambah sedikit. Cerita asli adalah milik Santhy Agatha. Jadi, ini bukan cerita aku, ya? Aku hanya nge-remake, oke?
YAOI . Typo(s) . M-preg
.
Perkataan Kris itu membuat Baekhyun terperanjat kaget, wajahnya memucat,
"Apa katamu?"
"Aku tidak asal bicara, Baek. Aku mempunyai bukti." Kris mengeluarkan berkas-berkas dari tasnya. "Kau tentu punya beberapa pertanyaan, kenapa kau bisa dengan mudahnya masuk ke perusahaan milik Chanyeol, kenapa dia dengan mudahnya menikahimu, semuanya ada alasannya. Chanyeol adalah orang yang sama, yang mobilnya menabrak mobil ayahmu hingga tewas sepuluh tahun lalu."
"Apa?" Baekhyun sebenarnya sudah bisa mencerna seluruh perkataan Kris. Benaknya sudah menemukan kesimpulan dari apa yang dikatakan Kris. Tetapi hatinya berteriak, menolak untuk percaya begitu saja.
"Kau ingat kan? Orang yang menabrak ayahmu itu juga bernama Chanyeol, anak pengusaha kaya yang lolos begitu saja karena mereka mempunyai banyak uang." Kris memberondong Baekhyun dengan semua informasi, "Chanyeol yang kau nikahi itu adalah Chanyeol yang sama, anak kaya yang mabuk dan mengebut, lalu menerobos lampu merah dan menabrak ayahmu yang tidak bersalah."
"Tidak. Tidak mungkin..."
"Aku sudah menyelidikinya untukmu." Kris membuka berkas-berkasnya dan menunjukkannya kepada Baekhyun dengan bersemangat, "Lihat artikel koran ini. Ini beberapa artikel yang aku cetak dari data history di perpustakaan nasional, artikel- artikel ini membahas tentang kecelakaan yang dialami oleh ayahmu dan Chanyeol, lihat di sini, disebutkan, 'Putra milyuner bernama Park Chanyeol' Kau pikir ada berapa milyuner yang bernama Park Chanyeol di negara ini? Kau harus mengerti, semua ini adalah rencana gila Park Chanyeol, dia mungkin ingin menguasaimu ke dalam pernikahan entah dengan tujuan apa. Yang pasti, selama ini dia membohongimu."
Ingatan Baekhyun melayang ke masa samar sepuluh tahun lalu. Ketika dia sedang berduka luar biasa, atas kematian ayahnya yang tidak adil, disusul oleh kematian ibunya yang sakit sejak ditinggalkan ayahnya. Baekhyun sebatang kara di dunia dan merasa benci kepada pria bernama Chanyeol, anak orang kaya yang telah menghancurkan hidup keluarga kecilnya. Kemudian pria itu datang dengan sombongnya ke rumahnya, membawa bunga. Dan Baekhyun menyerangnya, dia tidak ingat masa itu, dia tidak memperhatikan wajah pria itu, yang diingatnya adalah dia melampiaskan seluruh kemarahan dan kebenciannya kepada pria yang membunuh ayahnya. Dan kemudian pria itu pergi. Tidak pernah muncul lagi di dalam kehidupannya. Park Chanyeolㅡsuaminya?
Jantungnya berdegup dengan kencang dan tangannya mulai gemetaran. Oh Astaga. Seharusnya dia menyadarinya. Nama mereka sama. Dan sikap Chanyeol seharusnya membuatnya curiga. Pria itu terburu-buru menikahinya, untuk apa? Chanyeol mengatakan mencintainya, dan sekarang Baekhyun ragu. Baekhyun meragukan semuanya. Karena semuanya hanyalah kebohongan.
"Chanyeol sudah mengatur semuanya Baekhyun. Malam itu aku dijebak. Tao sendiri yang mengatakan kepadaku bahwa Chanyeol menyuruhnya membuatku mabuk dan merayuku. Dia ingin memisahkan kita berdua." Suara Kris terdengar muak, "Sepertinya dia memiliki obsesi terpendam untuk memilikimu. Dan rupanya dia berhasil. Karena dia berhasil menikahimu Baek. Tetapi aku mencari tahu dan aku menemukan rahasia ini. Kau hanya diperalat Baek, dan pria itu membohongimu."
Baekhyun terpaku dengan wajah memucat. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang. Ditatapnya Kris tanpa ekspresi.
"Terima kasih atas informasi yang kau berikan, Kris."
Reaksi tenang ini tentulah bukan yang diharapkan oleh Kris. Kris mengira Baekhyun akan menangis kemudian dia bisa memeluknya dan menghiburnya, membuat Baekhyun jatuh ke dalam jeratnya lagi. Tetapi Baekhyun begitu tenang meski wajahnya pucat pasi dan matanya berkaca-kaca,
"Kau tidak apa-apa?" Kris berusaha meraih jemari Baekhyun, tetapi Baekhyun menghindarinya.
"Aku tidak apa-apa, terima kasih atas informasi yang kau berikan kepadaku. Aku juga berterimakasih karena kau begitu perhatian dan mencemaskanku." Baekhyun menghela napas panjang. "Setelah ini aku harap kita tidak akan bertemu lagi."
"Apa?" Kris terperanjat, setengah berdiri karena kaget, "Kenapa kau berkata begitu, Baek? Tidak tahukah kau kalau aku sangat mencintai dan mencemaskanmu? Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Apakah kau akan kembali kepada Chanyeol yang jelas-jelas sudah menipumu?"
Baekhyun memasang wajah datar, "Urusanku dengan Chanyeol akan kami selesaikan nanti. Maafkan aku, Kris."
"Kau bisa pergi bersamaku." Kris mengubah strateginya menjadi memohon, "Kumohon Baekhyun, pria itu sudah menipumu. Kau bisa meninggalkannya dan pergi bersamaku. Aku akan menjagamu. Aku bersumpah."
Baekhyun menggelengkan kepalanya dan tersenyum meminta maaf kepada Kris, "Perasaanku kepadamu sudah mati, Kris. Mungkin juga perasaan itu sebenarnya tidak pernah ada." Baekhyun menatap Kris dengan pandangan sedih, "Maafkan aku."
Kris terdiam lama dan menatap Baekhyun dalam-dalam, mencoba mencari sesuatu yang bisa menunjukkan kalau Baekhyun berubah pikiran. Tetapi wajah Baekhyun tetap datar dan dia tidak menemukan apa-apa.
Akhirnya dia menghela napas panjang, "Kurasa aku harus menyerah."
Baekhyun mengangguk, mengulangi permintaan maafnya, "Maafkan aku, kau pria yang sungguh baik, dan aku yakin, kau akan menemukan orang yang tepat untukmu nanti."
Kris menghela napas lagi, sepertinya membawa beban yang sangat berat, "Aku hanya ingin kau bahagia." pria itu beranjak dari tempat duduknya, "Sebaiknya kutinggalkan berkas-berkas ini di sini, kalau-kalau kau ingin membacanya lebih lanjut. Selamat tinggal, Baek."
Dengan langkah gontai, Kris melangkah meninggalkan Cafe itu. Meninggalkan Baekhyun yang mulai merasakan pertahanannya runtuh, air mata mulai mengalir di pipinya, Tetapi dengan cepat dia mengusapnya, menyadari kalau dia berada di tempat umum.
Dengan cepat dia menelepon supir pribadinya, minta dijemput. Dia akan pulang, dan menghadapi Chanyeol.
.
Dalam perjalanan pulang Baekhyun menangis, tertahan. Supir pribadinya berkali-kali melirik dari kaca spionnya, tetapi tidak berani mengganggu majikannya yang sedang menangis.
Baekhyun menangis mengenang semuanya, mengenang segala kebaikan dan kelembutan Chanyeol, malam pertama mereka, percintaan-percintaan panasnya dengan Chanyeol sesudahnya. Semuanya ternyata berdasarkan atas kebohongan yang dibangun oleh Chanyeol.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia mengerikan. Rahasia yang tak termaafkan. Baekhyun mengingat malam itu. Ayahnya sebenarnya sedang sakit batuk, tetapi dia tetap berangkat membawa taksi karena butuh uang untuk membayar uang sekolah Baekhyun, sementara sang ibu juga sedang demam di rumah.
Ingatannya melayang ke masa sepuluh tahun yang lalu,
"Ayah akan tetap berangkat?" Baekhyun menyerahkan segelas teh panas kepada ayahnya, menatap cemas ayahnya yang terbatuk-batuk tanpa henti. Ayahnya sudah tua tetapi tidak bisa berhenti merokok. Sekarang paru-parunya yang ikut menua tidak bisa menanggung kalau harus berkubang asap setiap hari, sehingga membuat ayahnya batuk-batuk setiap saat.
Sang ayah tersenyum dan menatap Baekhyun dengan lembut. Baekhyun adalah puteri satu-satunya. Dan anaknya itu sungguh cemerlang di sekolahnya. Dia berjuang mati-matian untuk menyekolahkan anaknya itu, setidaknya Baekhyun harus lulus sehingga bisa mencari pekerjaan yang lebih baik, masa depan yang lebih baik. Tidak seperti dirinya.
Uangnya sudah habis, kemarin untuk mengobatkan istrinya ke dokter dan membeli beberapa liter beras dan kebutuhan makanan di rumah. Dan besok Baekhyun harus membayar uang sekolah. Mereka sudah terlambat membayar beberapa kali dan sekolah sudah mengeluarkan surat peringatan. Kalau sampai Baekhyun tidak membayar lagi, dia akan dikeluarkan dari sekolahnya.
Ini malam minggu. Pasti ramai dan banyak yang akan menggunakan jasa taxinya. Uang pendapatannya bisa dia pinjam dulu untuk membayar uang sekolah Baekhyun. Besok dia akan berputar seharian mencari pelanggan untuk mengganti uang setorannya itu kepada perusahaan Taksi.
"Uang ayah masih kurang untuk membayar sekolahmu, nak. Ayah akan mencari beberapa pelanggan malam ini. Malam ini pasti ramai. Badan ayah tidak apa-apa kok." pria itu tersenyum lalu mengusap rambut Baekhyun dengan penuh sayang, "Jagalah ibumu baik-baik ya."
Dan kemudian ayahnya pergi, Baekhyun masih mengamati kepergian ayahnya waktu itu, melangkah melalui gang sempit di depan, menuju perusahaan taksi tempat taksinya diparkir.
Tubuh ayahnya sedikit bungkuk dan menua sebelum waktunya, karena beban hidup.
Dan Baekhyun mengamati punggung ayahnya yang makin jauh dan menghilang di ujung gang dengan menahan pedih. Betapa inginnya dia segera dewasa, bisa mencari uang sendiri sehingga bisa membantu kedua orang tuanya.
Tak diduganya itu adalah saat terakhir dia melihat ayahnya. Dini hari, pintunya diketuk oleh tetangga dan beberapa orang yang mengabarkan bahwa ayahnya meninggal karena kecelakaan. Ditabrak oleh pengemudi mabuk tak bertanggung jawab yang menerobos lampu merah.
Ayahnya pulang sudah menjadi jenazah yang tak bernyawa. Dalam peti mati yang disegel rapat. Bahkan Baekhyun tidak boleh melihat jenazah ayahnya di saat terakhirnya.
Dan saat itu ketika pemakaman ayahnya. Baekhyun berjanji dalam hati. Dia tidak akan pernah memaafkan orang yang membunuh ayahnya...
.
Park Chanyeol adalah pembunuh ayahnya. Orang yang dia nikahi, yang dia kira dia cintai dan mencintainya adalah pembunuh ayahnya...
Pria itu merekayasa semuanya. Menjebak Baekhyun ke dalam sebuah pernikahan yang entah dengan tujuan apa. Semua kebaikannya, semua kata-kata cintanya. Semua itu penuh kebohongan dan kepalsuan.
.
Chanyeol menyetir dalam perjalanan pulang, penuh tekad. Dia membawa seikat bunga mawar dan sekotak cokelat mahal berbungkus kertas keemasan dan berpita merah.
Malam ini dia akan mengaku kepada Baekhyun.
Dia akan mengaku, lalu menyerahkan semua keputusan di tangan Baekhyun. Dia akan menjelaskannya sejelas mungkin agar Baekhyun tidak salah paham dan mengambil kesimpulan yang salah. Dia akan meyakinkan bahwa semua yang dilakukannya berasal dari rasa bersalah yang kemudian berkembang menjadi cinta. Pada akhirnya Baekhyun akan menghargai kejujurannya, Chanyeol yakin itu. Chanyeol bergantung kepada keyakinan itu.
Sejujurnya dia ketakutan setengah mati, tidak tahan kalau harus menghadapi kebencian Baekhyun. Kebencian yang menghancurkannya. Sama seperti sepuluh tahun yang lalu. Membuat hatinya hancur lebur.
Ketika mobilnya diparkir di garasi, dia menatap ke arah rumah dan jantungnya berdegup kencang. Malam ini adalah malam penentuan. Diraihnya kotak cokelat dan bunga itu, lalu melangkah memasuki rumah.
Rumah sepi dan gelap. Chanyeol mengernyit. Biasanya Baekhyun sudah menunggunya di ruang tamu, menyambutnya dengan ceria sambil bercerita tentang harinya lalu menodong Chanyeol untuk bercerita tentang harinya juga. Tetapi rumah terasa lengang dan sepi. Para pelayan pasti sudah tidur di bagian belakang rumah, di mana Baekhyun?
Chanyeol melangkah menaiki tangga, membuka pintu kamarnya dengan pelan. Kamar itu gelap, dan setelah Chanyeol menyesuaikan matanya dengan kegelapan ruangan, dia menemukan Baekhyun duduk di pinggir ranjang, menatapnya dengan ekspresi yang tidak terbaca.
"Baekhyun? Kenapa?" Chanyeol melangkah masuk, dan seperti biasa berlutut di depan Baekhyun, disentuhnya dahi Baekhyun dengan lembut, "Kau sakit?"
Baekhyun memiringkan kepala, menghindari Chanyeol, sebuah gerakan refleks yang sama sekali tidak diduga oleh Chanyeol, Baekhyun menghindari sentuhannya? Kenapa? Apa yang terjadi?
"Baek?"
Ruangan itu gelap. Tetapi tatapan Baekhyun yang ditimpakan kepada Chanyeol begitu tajam, penuh luka. Membuat jantung Chanyeol berdenyut cemas.
"Aku hanya menginginkan sebuh kebenaran. Jawab pertanyaanku, Yeol..." Baekhyun menghela nafas dalam-dalam, "Apakah kau orang yang menyebabkan kematian ayahku?"
Dunia seakan runtuh di bawah kakinya. Seketika itu juga. Seakan menelannya dan membuat rongga dadanya terasa sesak, sesak yang menyedihkan. Baekhyun sudah tahu. Baekhyun sudah tahu entah dari siapa, dan dia terlambat.
Apa yang harus dia lakukan? Baekhyun pasti sekarang sangat membencinya, menolak sentuhannya. Muak kepadanya. Chanyeol menundukkan kepalanya, suaranya keluar penuh kepedihan.
"Ya ."
Jawaban singkat itu sudah cukup. Hati Baekhyun hancur seketika itu juga. Air mata mengalir deras di pipinya, seluruh pertahanannya hancur, membuatnya luluh dan tidak berdaya. Jadi semuanya benar. Semua ini hanyalah kebohongan yang dibangun Chanyeol. Semua ini hanyalah kepalsuan.
"Kenapa kau membohongiku..." Baekhyun terisak-isak dalam kepedihan, "Kau membohongiku, kau menipuku selama ini, dan akuㅡ aku bahkan mencintaimu! Oh Ya ampun! Betapa bodohnya aku!" Baekhyun berdiri, menghindari kedekatan Chanyeol dan melangkah ke dekat jendela,
Chanyeol merasakan kesakitan luar biasa melihat kesedihan Baekhyun. Yah. Pada akhirnya yang dilakukannya hanyalah membuat Baekhyun menangis sedih. Sama seperti sepuluh tahun lalu, yang bisa dilakukan Chanyeol hanyalah menghancurkan kehidupan Baekhyun, membuat pria mungilnya menangis. Dia memang jahat, dan sekuat apapun dia mencoba, dia memang tak termaafkan.
"Aku memang jahat. Akㅡaku tidak pernah bermaksud membohongimu. Aku hanya takut mengungkapkan semua kebenaran kepadamu, takut kau akan membenciku."
Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun, mencoba menyentuh dagu Baekhyun, tetapi pria itu menepiskannya. Chanyeol tidak menyerah, dipegangnya kedua bahu Baekhyun, cukup lembut tetapi kuat sehingga Baekhyun tidak bisa melepaskan dirinya,
"Tatap aku sayang. Lihat aku. Biarpun semuanya hanya kebohongan. Tetapi cintaku padamu itu nyata. Tidak berartikah itu semua kepadamu? Aku membohongimu karena aku mencintaimu, karena aku sangat mencintaimu!"
"Aku tidak akan menerima cinta dari pria yang membunuh ayahku!" Baekhyun berteriak, setengah menjerit, tidak tahan menerima pernyataan cinta Chanyeol yang bertubi-tubi, membuat hatinya lemah, "Pernikahan kita sudah berakhir, aku akan pergi."
"Jangan!" Mata Chanyeol menyala, "Kau sudah berjanji bahwa kau tidak akan meninggalkanku, seburuk apapun keadaan di antara kita. Kau sudah berjanji kepadaku!"
"Janji itu dibuat di atas kebohongan yang kau bangun!" Baekhyun berteriak marah. "Kau pikir dengan melakukan semua ini aku akan memaafkanmu? Dengan menipuku? Berpura-pura mencintaiku? Kau pikir aku akan memaafkanmu karena telah membunuh ayahku?"
"Aku tidak berpura-pura mencintaimu!" suara Chanyeol meninggi. "Dan Demi Tuhan, aku tidak pernah menuntut maafmu atas dosaku kepadamu. Tidak, Baek. Aku tidak pernah menuntut maafmu karena aku tidak pantas, karena aku menyadari bahwa aku tak termaafkan!"
"Kau memang tidak termaafkan. Dan bagiku semua sudah selesai. Aku akan pergi." Baekhyun melangkah hendak meninggalkan kamar itu. Tetapi Chanyeol menangkap tangannya dengan cepat, menahannya dengan keras.
"Lepaskan aku! Park Chanyeol! Kau menyakiti tanganku!" Baekhyun menjerit berusaha meronta dari pegangan Chanyeol, tetapi pria itu menggenggam kedua lengannya dengan begitu kuat, pandangan pria itu tampak nyalang.
"Maafkan aku, Baek. Tetapi aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau milikku! Kau tidak boleh meninggalkanku!" Chanyeol memegang lengan Baekhyun dengan kencang, berusaha meredakan rontaannya.
"Pernikahan kita palsu, aku menganggapnya tidak pernah ada!"
"Teganya kau mengatakan itu!" Mata Chanyeol menyala marah, "Lalu kau anggap apa semua hal yang kita lalui kemarin? Malam pertama kita? Percintaan kita yang panas? Kasih sayang dan cinta yang kita bangun selama ini? Kau anggap apa itu semua?"
Baekhyun merasa sakit mendengarkan perkataan Chanyeol itu, yang mengingatkannya akan saat-saat indah mereka. Rontaannya sudah berhenti. Tetapi Chanyeol masih mencekal kedua tangannya dengan kencang, takut dia melarikan diri. Air matanya masih mengalir, air mata sakit karena pengkhianatan sekaligus kepedihan yang dirasakannya.
"Semua itu sudah musnah, Yeol. Aku membencimu. Amat sangat membencimu."
Baekhyun melemparkan kata-kata itu hanya untuk menyakiti Chanyeol, dan efeknya sungguh luar biasa. Wajah Chanyeol pucat pasi. Ekspresinya seperti seseorang yang dihancurkan dari dalam. Lalu pandangan matanya menjadi kosong. Dia tersenyum pahit.
"Aku memang pantas untuk dibenci." Dengan tenang dia melepaskan cekalannya pada lengan Baekhyun, "Dan kurasa tidak masalah kalau kau tambah membenciku. Toh kau sudah membenciku." pria itu melangkah menuju pintu, dan menatap Baekhyun dengan tajam, "Kau tidak akan kuizinkan meninggalkanku. Sampai kau tenang dan menuruti perkataanku. Aku terpaksa mengurungmu di kamar ini."
Lalu pria itu melangkah pergi meninggalkan kamar.
Baekhyun masih tertegun di tengah ruangan mendengar perkataan Chanyeol ketika bunyi 'klik' terdengar dari pintu. Dia tersadar dan setengah berlari menuju pintu. Mencoba membuka pintu itu, tetapi tidak bisa. Pintunya dikunci dari luar, Chanyeol benar-benar mengurungnya!
"Buka pintunya!" Baekhyun berteriak, menggedor-gedor pintu itu, "Buka pintunya Park Chanyeol! Kau jahat! Aku benci padamu!" Baekhyun memukul dan menendang pintu itu sebagai pelampiasan rasa frustasinya. Pada akhirnya dia kelelahan dan jatuh terduduk, bersandar di pintu lalu menangis terisak-siak.
Kemarin kehidupannya terasa begitu sempurna dan indah. Kemarin sepertinya semuanya baik-baik saja. Dan dalam sekejap dia disadarkan bahwa semuanya tak seindah yang kelihatannya. Istana kebahagiaan itu perlahan-lahan runtuh dan hancur, hanya menyisakan puing-puingnya.
.
Chanyeol melangkah berderap meninggalkan kamar Baekhyun, berusaha menulikan telinganya atas gedoran dan teriakan- teriakan Baekhyun di pintu. Dia melangkah menuju ruang kerjanya. Duduk di sana dengan segala emosi memuncak di kepalanya.
Teriakan Baekhyun terngiang-ngiang di telinganya. Pernyataan bahwa Baekhyun membencinya. Sangat membencinya. Sama seperti sepuluh tahun lalu. Pada akhirnya Baekhyun akan selalu membencinya. Dengan frustasi Chanyeol memukul tembok ruang kerjanya sekuat tenaga, membuat buku-buku jarinya terluka, tetapi dia tidak mempedulikannya. Pria itu lalu jatuh terduduk di lantai. Dan menangis
Ini adalah kali kedua seorang Park Chanyeol menangis. Dan penyebabnya sama : Byun Baekhyun.
.
Chanyeol sebenarnya tidak ingin meninggalkan rumah, dia sudah bilang kepada kakaknya untuk menggantikannya hari itu, karena dia ingin menjaga Baekhyun. Dia tidak mungkin mengurung Baekhyun terus-terusan. Mereka harus bicara. Nanti, setelah emosi Baekhyun mereda. Tetapi pagi itu dia menemukan berkas-berkas di dalam map itu di meja ruang tamunya. Berkas itu berisi artikel- artikel yang memuat berita kecelakaan sepuluh tahun lalu.
Ada yang sengaja memberitahu Baekhyun, untuk merusak pernikahan mereka. Dan ia tahu siapa orangnya. Di dalam map itu terlampir kartu anggota perpustakaan nasional atas nama Kris. Kurang ajar. Pria itu ternyata masih menjadi duri dalam daging dalam pernikahannya bersama Baekhyun.
Dengan langkah berderap, Chanyeol turun dari mobilnya dan membiarkan supirnya memarkir mobilnya. Kemarahannya bergolak, seluruh emosi dan frustasinya bertumpuk, mencari pelampiasan. Langkahnya semakin cepat ketika dia mendekati ruangan IT Manager, tempat Kris seharusnya berada.
Kris ada di sana. Pria itu bahkan tidak sempat mengucapkan satu patah katapun karena Chanyeol langsung menerjangnya hingga terjengkang di lantai dan menghajarnya habis-habisan. Kris yang meskipun kaget pada awalnya, mencoba memberontak dan melawan, berhasil melemparkan satu atau dua pukulan ke bahu Chanyeol, yang kemudian dibalas dengan pukulan keras yang menohok mukanya, membuat kepalanya berdentam-dentam. Pada akhirnya, Kris bukan tandingan Chanyeol kalau harus bertarung satu lawan satu. Hasil akhirnya sudah bisa ditebak. Kris kalah, babak belur di lantai dengan wajah penuh lebam.
Chanyeol menarik kerah baju Kris dengan kasar, kemarahan menyala di matanya, membuat siapapun yang melihatnya takut. Begitupun Kris, Chanyeol seperti ingin membunuhnya, "Jangan pernah berani muncul lagi dalam kehidupanku dan Baekhyun, aku akan mengawasimu mulai saat ini. Dan aku tidak akan segan- segan melenyapkanmu." Chanyeol menggeram dengan nada mengerikan penuh ancaman kepada Kris, lalu membanting tubuh Kris yang terkulai ke lantai, dia melangkah dengan marah. Sebelum keluar, Chanyeol menoleh lagi dan menatap Kris dingin, "Oh ya. Ngomong-ngomong, kau dipecat."
Setelah itu Chanyeol meninggalkan ruangan Kris dengan pintu dibanting.
.
"Kau bisa dituntut atas penganiayaan terhadap anak buah." Yoora menempelkan es batu di atas sudut bibir Chanyeol yang lebam, "Ya Tuhan Yeol, kau adalah pria paling berkepala dingin yang pernah kukenal, tak kusangka kau memilih menyelesaikan ini dengan cara barbar."
Chanyeol mengernyit dan memegang es batu di sudut bibirnya. Rasanya sakit. Pria sialan itu berhasil memukul bibirnya dalam usahanya membela diri tadi. Brengsek.
"Kris pantas menerimanya. Dia memberitahu Baekhyun semuanya dengan tujuan jahat, dan entah racun apa lagi yang dia tanamkan ke dalam pikiran Baekhyun." Chanyeol mendesis marah. "Sekarang Baekhyun membenciku."
"Kita kan sudah menduga ini akan terjadi, Yeol." Yoora menarik napas panjang, "Sekarang apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan pulang, dan menunggu sampai Baekhyun sudah tenang. Semoga dia bisa menerima penjelasanku ketika dia sudah lebih berkepala dingin."
"Apakah menurutmu dia akan bisa memaafkanmu?"
Chanyeol mengernyit sedih, "Aku tidak tahu. Tetapi aku tidak bisa melepaskannya, noona. Aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya untuk melepaskannya." Chanyeol mengusap wajahnya dengan frustasi. "Kalau dia tidak bisa menerimaku, kalau dia tetap berusaha pergi dariku, aku akan membawanya ke pulau pribadiku dan menahannya di sana. Di sana dia tidak akan bisa pergi kemanapun." Gumam Chanyeol penuh tekad.
"Astaga, Park Chanyeol." Yoora menggeleng-gelengkan kepalanya, "Kau tidak akan bisa mempertahankan pernikahan atas dasar pemaksaan."
"Aku tidak tahu harus bagaimana." Chanyeol menghela napas panjang, "Aku tidak tahu harus bagaimana, noona. Dia bilang dia membenciku dan akan meninggalkanku."
Yoora mendekati Chanyeol dan menepuk pundaknya lembut untuk memberikan dukungan,
"Pulanglah. Mari kita berdoa semoga Baekhyun bisa melupakan kemarahannya dan memikirkan semuanya dengan logika."
.
Ketika sampai ke pintu rumahnya, Chanyeol disambut oleh pelayannya yang tergopoh-gopoh menghampirinya dengan cemas.
"Tuan Chanyeol!"
Firasat buruk langsung memenuhi benak Chanyeol, "Ada apa?" suaranya menjadi parau.
"Tuan Baekhyun, beliau pergi dari rumah. Kami sudah mencoba menahannya. Tetapi ketika salah satu pelayan mengantarkan makanan ke kamarnya, dia memaksa mengambil kunci kamar. Kemudian pergi meninggalkan rumah!"
::
TO BE CONTINUED
::
Well, aku fast update lagi. Karena, aku bentar lagi mau liburan jadi aku hiatus sementara ya. Mungkin aku bakal update minggu depan dua chapter sekaligus sebelun hiatus.
Oh ya, aku mau bahas sesuatu disini. Ada review yang menanyakan apakah aku sudah mendapatkan izin dari kak Santhy atau belum. Dan memang belum. Tetapi, aku sudah meminta izin yang aku tulis melalui komentar yang aku cantumkan di wattpad atau blognya. Kenapa aku berani nge-remake tanpa izin resmi? Karena, sudah banyak yg nge-remake sebelum aku dan maka dari itu aku berani (aku sudah meminta pendapat beberapa author yang juga nge-remake novel kak Santhy dan jawaban merekapun begitu)
Aku nge-remake cerita ini bukan karena aku tidak memiliki ide untuk membuat cerita sendiri. Tetapi, aku nge-remake ini dengan alasanㅡaku ingin mencoba-coba jika cerita ini aku rubah menjadi percintaan sesama jenis dan memakai tokoh chanbaek. Itu aja.
Aku bakal ngehapus ff ini jika memang kak Santhy menegur atau tidak mengizinkan karyanya remake. Dan terima kasih untuk beberapa author yang membantu aku menjawab pertanyaan ini. Aku mungkin ga bisa menjawab pertanyaan ini tanpa kalian hehehe Terima kasih ya!
Terima kasih juga buat yang udah baca/fav/foll/review ff ini. I love you guys!
