Disclaimer:

Naruto © Masashi Kishimoto

Art Not A Crime © Furasawa99

.

.

Happy Reading!

.

.

Deidara dan Neji berdiri di dalam lift yang bahkan tombol tujuannya mereka tekan asal. Sebelumnya Neji berencana membuat dua tim yang berpencar untuk mencari Konan. Naas kesesatan membawa mereka dalam keheningan di seisi lift. Ya, mereka bahkan tak tahu mau mencari kemana dan memilih lokasi pencarian yang mana di saat gedung yang dipijakinya saat ini adalah gedung yang terbilang besar.

"Kenapa dia pergi, hm?" tanya Deidara heran. Kini dia memijat pelipisnya dengan alis tertaut. Neji hanya menggeleng pertanda tak punya jawaban. "Mencurigakan sekali, hm," imbuhnya lagi.

Mata ungu Neji terbelalak. Neji segera menatap horror Deidara.

"Kau mencurigai dia? Untuk apa juga kau mencurigainya?" Neji membela Konan. Pemilik manik lavender itu tetap merasa bahwa wanita yang ditemuinya sejak kemarin tidak punya kaitan apa-apa.

Pemilik manik cornflower blue yang diberi pertanyaan sakratis dan berintonasi tinggi kini menghela napas dan balik menatap Neji.

"Justru kau yang aneh, Hyuuga. Kau percaya pada wanita yang baru kau kenal, hm. Bukankah aku sudah pernah bilang jika aku hanya mempercayai apa yang kulihat langsung, hm?"

.

.

.

Sakura hanya melongo di depan receptionist. Mata hijaunya diedarkan ke penjuru dengan tatapan kosong. Kemudian dirinya kembali menatap Gaara yang berdiri dengan kedua tangan dipangku di meja receptionist. Sakura sedikit terkekeh mendapati raut kesal Gaara yang terlihat lucu di matanya. Sakura pun menarik ujung jas lelaki beriris azure itu.

"Kau kenapa, Gaara-san?"

Gaara segera berdiri mendekati Sakura dan menatap gadis itu sambil menggaruk helaian merahnya yang tak gatal.

"Aku kesal, kenapa Neji bisa sebodoh itu?! Untuk apa mereka mengajak berpencar? Padahal aku sedang minta lokasi Konan pada receptionist yang menjaga di sini."

Sakura mengerjapkan mata sejenak. Sejak tadi dia memang melihat pekerja lab. yang lalu-lalang di sini dengan id card tersemat di depan saku jas mereka. Beberapa orang yang datang ke receptionist -yang Sakura perhatikan- juga ada yang menanyakan lokasi pekerja lab tertentu dan semacamnya. Kalau ada teknologi GPS yang disediakan KIL untuk mengetahui lokasi pekerja di kawasan gedung, untuk apa Neji memutuskan untuk berpencar?

"Rei-san," panggil wanita penjaga meja lobby.

Gaara dan Sakura sama-sama memperhatikan wanita itu. Wanita itu segera mencetak gambaran GPS yang sudah dimonitorinya beberapa menit yang lalu. Kemudian menyerahkan hasil print out kepada Gaara. Setelah berterima kasih, pemilik manik azure itu tak sungkan melangkah pergi usai meraih telapak tangan gadis bersurai soft pink di dekatnya. Mereka segera berjalan menuju apa yang ditandai simbol Konan pada lembaran denah.

Kantin. Setelah beberapa meter melangkah mengikuti arah denah, kaki dua insan berbeda gender itu berhenti di sebuah kantin yang terbilang cukup luas. Sakura sedikit mencibir.

"Ck, haruskah kita cari perempuan itu di kantin yang luas ini? Omong-omong, dimana Neji?" Sakura memalingkan wajahnya menghadap Gaara.

Setelah berdecak geram, Gaara mengambil ponsel di saku jasnya dan segera menghubungi Neji. Untuk pertama kalinya, Gaara geram oleh tingkah sok tahu Neji. Di saat Gaara sedang mendengarkan nada sambung ponselnya yang teleponnya belum diangkat Neji, Sakura kembali menarik pelan ujung jas lelaki beriris azure itu. Gaara segera menghela napas pasrah dan menoleh pada Sakura yang didapatinya sedang menatapnya lekat-lekat.

"Ano, Gaara-san. Memangnya kita tau ciri wanita bernama Konan itu seperti apa?"

.

.

.

Neji dan Deidara hanya memandang kosong seisi koridor lantai tempat lift mereka berhenti. Deidara yang berderap sambil celingukan tak mendapati apa pun di koridor yang hening dengan deretan pintu lab. yang asing di matanya. Kemudian, dering ponsel Neji memecah keheningan. Neji segera mengangkatnya acuh, dia bahkan tak melihat dulu siapa peneleponnya.

"Moshi-mos-"

[Kau kemana, huh? Cepat ke kantin! Bantu aku dan Sakura mencarinya! Jika kalian berpencar itu hanya akan merepotkan.]

Tut Tut Tut

Lelaki beriris lavender yang baru menutup percakapan teleponnya kini melangkah menghampiri Deidara yang masih celingukan. Bahu Deidara pun bergedik begitu Neji menepuk pundaknya dari belakang. Kemudian lelaki beriris cornflower blue itu meneguk ludah begitu melihat Neji menatapnya dengan wajah suram.

"Ka-kau kenapa, hm?"

Tanpa berpikir untuk menjawab, Hyuuga muda itu hanya menarik lengan Deidara dan berjalan ke arah lift. Neji terlanjur cemberut akibat dibentak Gaara. Seakan-akan dia lupa kalau memang dia yang salah.

.

.

.

Rei Gaara ingin sekali membanting ponselnya ke atas aspal. Dia kembali dibuat geram oleh Neji yang tiba-tiba menutup percakapannya. Sesaat kemudian, mata Gaara terbelalak begitu menyadari tidak ada Sakura di dekatnya.

Tuk

Sakura meletakkan segelas strawberry latte yang baru dibelinya di salah satu counter. Terkutuk Gaara yang tak mengajaknya ikut minum di cafe tadi.

Kini Sakura duduk santai dan menyedot minumannya. Sambil menikmati pemandangan sekitar kantin, Sakura mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Seketika atensinya jatuh pada seorang wanita berjas dokter yang duduk di meja seberang. Name tag Konan yang tersemat di jas putih wanita itu membuat mata Sakura terbelalak. Sakura pun meninggalkan mejanya dan menghampiri wanita yang duduk menikmati waffle.

Konan yang sedang menyuapkan waffle ke mulutnya sontak mendongak. Dahinya berkerut bingung begitu Sakura tersenyum canggung di depannya.

"Ano, bolehkah aku duduk di sini?" tanya Sakura akhirnya. Jujur saja, Sakura seperti tidak bernapas saat mengatakannya. Dia benar-benar gugup harus mulai berinteraksi seperti apa.

Seketika, mata hijaunya kembali membulat sempurna. Wanita bersurai cornflower blue itu mengangguk antusias dengan senyuman hangat di bibirnya. Tentu saja itu membuat Sakura tak sungkan mendudukkan dirinya di depan Konan. Kini dua wanita berbeda karakter itu duduk berhadapan berbatas meja makan.

"Apakah anda mengenal Hidan?"

"Uhuk! Uhuk!"

.

.

.

Gaara berdiri dengan tangan terlipat di depan dada. Terlampau dua puluh menit sejak menunggu Neji dan Deidara kembali dari...

"Lantai 26? Untuk apa kalian jauh-jauh ke sana?" Gaara ingin sekali membentak. Namun berhubung dua lelaki di depannya punya peran penting, maka hanya pertanyaan geram lah yang dilontarkannya.

Deidara bermaksud menjawab namun kemudian gumaman Neji menginterupsinya.

"Konan-san." Deidara dan Gaara pun mengarahkan pandangan mengikuti arah Neji memandang.

"Jadi itu yang bernama Konan, hm?" tanya Deidara sambil menyikut lengan Neji. "E-eh?!"

Deidara terhampas ke samping. Dia nyaris terjatuh sebelum Neji menopang tubuhnya yang sempat kehilangan keseimbangan. Jelas saja, tiba-tiba Gaara melesat pergi menuju atensi mereka sebelumnya. Ya, Gaara lari ke tempat Sakura duduk. Yang tidak lain duduk berhadapan dengan Konan.

Langkah Gaara semakin pelan begitu mendekati tempat mereka duduk. Dua perempuan yang dihampirinya sama-sama merasakan kehadirannya. Namun Konan sendiri masih mengetuk-ngetukkan garpunya pada piring waffle. Sakura yang sebelumnya menoleh pada Gaara, kini beralih menatap Konan sendu. Kemudian tangan pemilik manik emerald itu segera meraih telapak tangan kiri wanita berjas dokter.

"Konan-san, terimakasih atas informasinya," ujar Sakura yang sukses membuat dahi Gaara berkerut bingung.

FLASHBACK

"A-apakah aku salah tanya?" tanya Sakura canggung.

Konan yang sebelumnya tersedak segera meneguk minumnya. Setelah minum, wanita berhelaian biru dengan jepit rambut mawar itu tersenyum simpul.

"Bisa aku tahu siapa namamu?" tanya Konan ragu. Sakura mengangguk cepat.

"Haruno Sakura. Maaf tak berkenalan sejak awal," jawab Sakura diselingi tawa hambar. Dia salah tingkah karena kelepasan memberikan pertanyaan yang to the point.

"Baiklah, Hidan itu adalah..."

[Sakura mulai masuk dalam sudut pandang Konan]

Namaku Konan. Aku sedang duduk di salah satu bangku cafe di kawasan Konoha Street. Aku sedang ada janji dengan seseorang yang sudah lama ingin kutemui.

Hidan, pemilik manik magenta yang kutunggu baru saja membuka pintu cafe dan menghampiri mejaku. Dia sahabatku. Sudah satu semester sejak kelulusan kami, dan aku baru bertemu dia sekarang.

Setelah makan malam sebentar, aku yang sedang menikmati hidangan pencuci mulut hendak memberikan pertanyaan yang padanya.

"Hidan-"

"Kau sudah lolos tes lamaran kerja di KIL, huh?" Aku tersentak. Pertanyaannya menginterupsiku begitu saja. Aku pun mengangguk mengiyakan.

"Omedetou." Aku kembali dibuat mendongak. Lelaki bersurai bak pahatan perak itu kini kupandangi lekat-lekat. Tatapan ramah dari manik magentanya, senyum ramah yang merekah di bibirnya, itu semua benar-benar terlihat tulus. Seperti biasa. Itu membuatku tak mampu berpikir banyak untuk membalas senyuman tulusnya.

Aku pun berpikir untuk memberikan pertanyaanku, "Dimana kau bekerja, Hidan-kun? Sudah lama aku tak dengar kabarmu."

Entah kenapa, aku merasa itu menjadi pertanyaan abadiku. Maksudku, sejak diberikan pertanyaan seperti itu, lelaki beriris magenta itu tak pernah memberikan jawaban apa pun. Suasana hening sampai dia meninggalkanku di cafe yang sudah sepi itu. Bahkan, mungkin itu terakhir kali aku berjumpa dengannya.

Berselang empat bulan sejak pertemuanku itu, sebuah kabar mengejutkanku. Aku yang kala itu sedang menikmati waktu senggang di gedung KIL dan memutuskan untuk membaca surat kabar, terpaksa menelan pil pahit atas kabar mengejutkan itu. Perampokan sebuah bank terjadi di dekat gedung Akasuna Corp. Semua pelaku tertangkap dan dipenjara sesuai hukuman. Namun satu yang menjadi buronan adalah sosok yang kukenal. Sontak terdengar kabar bahwa Hidan lah dalang perampokan sekaligus salah satu pembunuh seluruh korban tewas di bank itu. Benar saja, orang-orang tak berperikemanusiaan itu membakar gedung bank setelah merampok semuanya.

Dan untuk pertama kalinya, aku menutup diri darinya. Aku dan dia tidak saling berhubungan lagi. Pekerjaanku dan dia yang saling berlawanan juga adalah faktornya. Setidaknya berharap bisa bertemu dengannya di saat yang benar bukan hal yang salah, bukan?

[Cerita Konan berakhir]

Gaara berjalan mendekati Konan dan Sakura yang masih duduk berhadapan. Diletakannya telapak tangannya di atas meja yang dihuni dua perempuan itu. Gaara menatap Konan intens. Dia bahkan mengabaikan derap langkah Deidara dan Neji yang kini sudah berdiri di dekatnya. Semua atensi jatuh pada Konan.

"Ano, bisakah kau menjelaskan ciri-ciri Hidan?"

Neji menatap Gaara dan Konan bergantian. Deidara masih tak melepas perhatiannya dari Konan, dia masih menganalisis gestur kejujuran dari Konan. Sakura menatap sendu Konan yang kini memijat pelipisnya. Pertanyaan Gaara mungkin terdengar ringan, namun butuh kekuatan besar bagi Konan untuk menjawabnya. Lambannya Konan merespon membuat Gaara menghela napas kasar.

"Jika kau tak mau bicara di sini, akan kupastikan kau akan mengatakan semuanya di pengadilan-"

BRAK

"Jangan bawa-bawa aku dalam kasus itu!" Konan menggebrak meja geram. Tatapan dinginnya pada Gaara kian melunak digantikan tatapan sendu. "Kumohon, aku tak mau berurusan dengan kasus ganda yang sedang kalian tangani itu. Aku akan bicara saat aku bisa."

Sakura segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Konan. Sakura menenangkannya dengan menepuk pelan pundak wanita bersurai cornflower blue itu. Gaara masih menatap Konan datar. Kini tangan kanannya terkepal erat.

"Katakan apa yang anda tau, Konan-san." Gaara mendelik ke arah lain. Menunggu jawaban dari narasumbernya.

"Hi-Hidan, adalah lelaki berambut perak berperawakan tinggi. Dan kalau aku tidak salah..." Konan menggantung kalimatnya. Lisannya serasa lemas saat mengatakannya.

"Dan kalau kau tidak salah Hidan adalah pemilik sampel rambut yang kau uji, hm?"

Konan terduduk lemas. Tebakan dengan rincian yang tepat membuatnya ikut kaget. Pada kenyataannya, memang rambut Hidan lah yang diujinya di lab. forensik. Sakura menangkupkan mulutnya tak percaya. Gaara yang ikut terkejut segera menoleh pada Neji. Dilihatnya Neji yang menatap Konan dengan tatapan setengah percaya.

"Kenapa kau tidak bilang saat kita bicara di lobby? Kenapa tidak bilang kalau kau memang kenal pemilik rambut itu?" tanya Neji datar. Konan hanya menunduk dan menggeleng lemah sambil menggigit bibir bawahnya.

"Maaf," gumam Konan lirih.

"Itu artinya OB itu juga yang membunuh Hinata. Konan, berikan aku alamatnya," pinta Gaara cepat.

.

.

.

"Tidak. Rumah kost ini sudah tua, mengerikan. Kau tidak mungkin mencarinya di sana kan, Gaara?" ujar Sakura yang menatap cemas Gaara yang masih memandang rumah kost itu.

Deidara yang duduk di jok sebelah Gaara mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban Gaara. Pemilik manik cornflower blue itu sesekali memandang ke arah rumah kost tua di tikungan dekat tepi jalan dimana mobil diparkir. Rumah itulah yang diinformasikan Konan sebagai rumah Hidan. Jujur Deidara percaya apa yang menjadi kata-kata Konan saat itu. Namun begitu disini, dia ragu kalau Hidan masih tinggal di rumah kost setua itu. Bahkan pintu rumahnya terlihat sudah reot, catnya kusam dan justru dindingnya banyak ditumbuhi lumut.

Sakura menunduk lemas begitu Gaara mengangguk dan hendak membuka pintu mobil, "Kalau aku tak menemukan Hidan di sini, aku harap aku dapat jejak yang membantu."

CKLEK

"Gaara- Hey! apakah kau membiarkannya pergi sendirian? Kau itu kan laki-laki!" Sakura menatap horror Deidara yang masih duduk di tempatnya.

"Iie. Aku cuma psikolog, aku tak bisa pakai senjata, hm. Lagipula Gaara pergi mengantongi pistol dengan peluru yang lengkap, hm."

Sakura kembali menangkupkan mulutnya tak percaya. Sebahaya apa rumah kost itu hingga Gaara tak lepas dari senjata? Sakura semakin khawatir.

.

.

.

Rei Gaara berderap pelan mendekati rumah kost. Dia sudah memasuki halaman depan dan tinggal beberapa langkah lagi mendekati pintu.

"Sedang mencari siapa tuan?"

Gaara tersentak. Suara wanita mengejutkannya dari belakang. Pemilik manik azure itu baru akan memegang knop pintu. Setelah mendelik, Gaara mencoba berbalik menghadap pemilik suara.

Tidak ada siapa-siapa. Mata hijaunya bergulir ke kanan dan kiri namun tak ada siapa pun yang bisa diduganya sebagai pemilik suara tadi. Bagus. Dia mengepal tangannya erat berharap bulu kuduknya tak perlu meremang.

"Aku di sini."

DEG

Tanpa diminta pun Gaara berbalik kembali menghadap pintu dan didapatinya seorang wanita berdiri tersenyum hangat di depan pintu. Rahang Gaara mengeras, dia menatap wanita itu dengan tajam. Wanita bersurai dark khaki yang diikat longgar di belakang masih tak memudarkan senyumannya pada Gaara. Gaara sedikit mengernyit melihat luka sayatan di pelipis wanita itu. Napasnya seolah tercekat begitu mata hijaunya mendapati luka bakar di telapak tangan kiri wanita itu. Wajah pucat wanita itu juga membuatnya heran.

"Aku mencari Hidan," jawab Gaara.

Wanita itu melebarkan senyumannya, membuat matanya membentuk eyesmile.

"Jangan cari dia. Dia penjahat yang menjadikan pembunuhan sebagai hobinya. Kalau tetap berpikir untuk mencarinya, kau akan dalam bahaya."

Kata-kata wanita itu membuat Gaara kembali tersentak. Dia semakin mengeratkan kepalannya. Gaara membuang muka.

"Aku mencarinya karena akan menghentikannya. Jangan bicara seolah-olah kesadisannya membuatku mundur. Dia sudah bunuh banyak orang di sekitarku dan aku akan mencukupkan hobinya sampai di situ."

Wanita berpakaian serba putih itu memudarkan senyumnya. Dia berjalan ke depan hingga berhenti saat memunggungi Gaara.

"Baiklah. Kalau kau bertemu dengannya, titipkan salamku ya. Namaku Nii Yugito, ngomong-ngomong."

Gaara membelalakkan matanya dan dengan cepat berbalik.

"Hah?" Gaara melangkah mundur penuh kejut. Tidak ada siapa pun begitu dia berbalik.

DOR

"KENAPA KAU MENCARIKU KESINI, HUH?!"

Suara dengan intonasi tinggi dan penuh emosi itu membuat Gaara membulatkan matanya. Di depannya, lelaki beriris magenta berdiri terengah-engah dengan dua tangannya yang menggenggam pistol. Tidak salah lagi, dia Hidan. Dan dia yang baru saja nyaris menembak Gaara.

.

Di dalam mobil, Sakura yang sempat menunduk dan menutup rapat telinganya akibat suara tembakan, kini perlahan memandang ke sekitar. Matanya terbelalak mendapati dua lelaki berdiri berhadapan beberapa meter dari mobilnya. Salah satunya menggenggam pistol dan salah satunya...

"Gaara!" Sakura meronta hendak membuka pintu mobil sebelum Deidara menguncinya dari jok supir.

"Tidak ada dari kita yang boleh ke sana, hm!"

"Jangan bodoh! Gaara sendirian."

"Tapi Hidan juga sendirian, hm," balas Deidara ketus.

.

Gaara mengepal erat tangannya. Di hadapannya sosok tersangka percobaan pembunuhan jaksa sedang berdiri. Hidan menatap tajam Gaara seperti tak berkedip. Gaara meraih pistol dan mengacungkannya juga ke arah Hidan. Ini terlalu berisiko. Gaara sendiri juga tak berpikir akan menembak Hidan duluan atau apa. Dia hanya berharap tindakan nekat Hidan tak dilakukannya kali ini.

Genggaman pada pistol Gaara semakin erat. Itu terjadi tepat saat Gaara melihat jari Hidan hendak menarik pelatuknya. Jujur saja, kalau Hidan menembak pun Gaara tak punya tekat yang sama untuk saling menembak.

DOR

"Argh!" Gaara terhempas namun sebelum benar-benar jatuh, dia turut menembak ke arah Hidan.

DOR

.

"Gaara!" Sakura berseru hebat. Matanya berkaca-kaca melihat Gaara tersungkur sambil meringis akibat luka di bahu kanannya. Pelurunya memang tak menusuk ke sana, hanya ke atasnya dan sempat memberi robekan pada kemejanya dan memberi luka sedalam separuh diameter peluru di atas bahunya.

Yang benar saja. Ini semua terjadi karena kasus money laundry Akasuna Corp. Bukan ini yang Sakura harapkan. Dia tak pernah berharap Gaara terlibat tembak-menembak seperti ini demi menuntaskan kasus kakaknya.

Deidara yang menatap datar adegan tembak menembak dari jok depan kini menekan nomor panggilan cepat pada ponselnya.

.

JLEB

BRUK

Manik magenta itu membulat sempurna. Bahkan lebih terlihat seperti akan keluar. Hidan menatap nanar tembakan di dada kanannya begitu terduduk di atas tanah. Mulutnya mengeluarkan darah. Dia pastikan paru-paru kanannya luka. Sesaat kemudian Hidan menatap tajam Gaara. Walau begitu apa yang dilihatnya tinggal pandangan berbayang. Kemudian dia menoleh lemah begitu suara sirine terngiang di telinganya. Itu ambulans. Apakah ini sudah direncanakan?

Hidan mengangkat sebelah sudut bibirnya. Hal itu dilakukannya begitu melihat sejumlah orang berjas dokter turun dari dua ambulans yang datang, dan salah satunya adalah...

"Konan," gumam Hidan pelan.

Gaara yang terduduk di seberangnya menatap Hidan sendu. Konan yang berjalan turun dari ambulans berhambur memeluk Hidan.

"Kau akan sembuh. Kau tidak boleh begini lagi, Hidan-kun. Kau bodoh!"

.

SAKURA POV

Setelah ambulans yang dihubungi Deidara datang, aku segera keluar dari mobil bersama Deidara. Aku ingat perjanjian antara Gaara dengan pimpinan KIL untuk meminjam ambulans dan sejumlah dokter handal membuat mereka juga bertindak cepat. Tentu saja aku langsung berlari ke arah Gaara yang dibantu berdiri oleh beberapa dokter.

"Kau tidak apa-apa?" ujarku cemas.

Gaara mengangguk tersenyum. Oh, aku tahu betapa dia benci membuatku khawatir. Dia memang benci untuk dibuat khawatir maupun membuat orang lain khawatir. Namun tetap saja luka di bahunya membuatku gagal menyembunyikan kekhawatiran ini. Sesaat Gaara menoleh ke arah Hidan. Konan dan tim medis lain membantu Hidan berbaring di atas tandu. Gaara melepas pegangan tim medis dan berjalan tertatih ke arah Hidan. Tentu saja aku tak membiarkannya dan langsung menggenggam lengannya membantu langkahnya. Begitu kami berdiri di dekat Hidan yang tandunya siap diangkat, Gaara menatapku sebelum bicara pada Hidan.

"Hidan, kau dapat salam dari Nii Yugito. Entah kenapa aku merasa harus menyampaikannya. Tadi aku menemukannya saat akan mencarimu."

Aku menatap Gaara dan Hidan bergantian. Kudapati Hidan meringis sambil memegang dadanya yang luka. Lalu kulihat Konan menatap horror Gaara. Apa yang salah?

"Kau pasti bercanda," ujar Hidan yang menatapnya tak percaya. Napasnya tersengal-sengal saat mengatakannya.

"Kenapa kau berpikir kalau aku bercanda?" tanya Gaara heran. Aku pun heran kenapa Hidan bilang begitu.

Kemudian Konan yang sejak tadi mengusap tengkuknya, kini menatap Gaara dengan tatapan sendu. "Rei-san, itu pasti mustahil. Nii Yugito sudah mati. Dia salah satu teller bank yang mati dalam kebakaran bank yang dirampok Hidan."

.

.

.

AUTHOR POV

Sakura berdiri duduk di sofa kamar rawat Gaara. Dia baru meletakkan punggung telapak tangannya di kening Gaara untuk keempat kalinya namun suhu tubuh Gaara masih tinggi. Dia tak habis pikir Gaara jatuh demam akibat pernyataan horror itu. Ya memang tak heran, Gaara bertemu orang yang sudah mati di dunia yang normal, tentu itu mengerikan. Sakura kembali mendekati ranjang Gaara yang masih tertidur pulas. Sakura menggigit bibir bawahnya begitu melihat lilitan perban pada pundak Gaara.

"Gaara-kun, ayo sembuh. Aku mau-"

"Kau berisik."

Sakura mengerjapkan matanya heran. Gaara menggerutu tepat sambil menyela Sakura. Rupanya dia tidak sedang tidur.

"Eh? Maaf. Kupikir kau tidur." Sakura melangkah mundur dan membungkuk meminta maaf.

"Kalau tau aku tidur, kenapa kau bicara sendiri? Kau memang gadis cerdas," balas Gaara yang sukses membuat Sakura mencibir kesal. "Lagipula aku mana bisa tidur kalau ingat wanita berpakaian serba putih itu?!"

Sakura ingin terjungkal dalam waktu yang sama. Dia sadari lelaki berambut merah maroon ini memang penakut. Sesaat kemudian, Sakura menatap intens Gaara yang kini beranjak duduk bersandar.

"Gaara-kun,"

"Hn," sahut Gaara yang sedikit menyeringai begitu menyadari Sakura menggunakan suffix baru untuknya.

"Lain kali kau harus izinkan aku membantumu. Jangan buat aku duduk manis sampai kau jatuh dan luka."

Spontan Gaara tertawa. Dia tertawa lepas membuat Sakura menatapnya jengkel. Setelah puas, Gaara menatap Sakura dan menggeleng.

"Itu tidak mungkin. Aku bukan orang bodoh yang membuat perempuan sepertimu dalam bahaya, Sakura."

Spontan rintihan Gaara menyusul kalimatnya sendiri. Sakura menjambak rambut merahnya geram. Gaara terus mengerang sampai Sakura melepasnya.

"Kau semakin sopan ya, Haruno Sakura," gerutu Gaara yang mengusap kepalanya yang sakit.

"Cih, setidaknya buat Deidara memberanikan diri turun tangan membantumu! Dia itu kan laki-laki. Alasannya yang mengatakan sekedar membantu sebagai psikolog membuatku muak."

.

.

.

Hidan terbaring kaku di atas ranjang. Di ruangan serba putih ini, Konan berdiri di sisinya berdampingan dengan Neji. Sejak operasi pengangkatan peluru yang bersarang di dadanya, Hidan masih belum siuman. Beruntung pelurunya tak bersarang di organ dalam. Itu membuat Neji menghela napas lega karena setidaknya Hidan tak mati seketika. Konan yang sejak tadi mencuri pandang pada Neji, mulai khawatir.

"Neji, maafkan Hidan." Konan bergumam pelan. Neji menghela napas sejenak.

"Setidaknya keselamatannya bisa membuatnya diikutkan sebagai saksi dalam sidang." Neji menunduk dengan tangan terkepal. "Dan kuharap keadilan yang akan diterima Sasori akan membuat kematian Hinata dan semua kerabatku tak disebut sia-sia."

Konan mengangguk paham. Sejak awal, memang itulah tujuan Neji dan Gaara sama-sama bertahan. Mereka sama-sama mengharapkan bisa menjatuhkan hukuman seadil-adilnya pada pelaku yang juga pelaku sebenarnya. Mereka sudah berkorban banyak. Mereka sudah kehilangan banyak saudara dan kolega baik yang mati dibunuh maupun yang mundur enggan terbunuh.

Hidan yang baru membuka mata kini menyeringai. Neji yang melihatnya hanya menatapnya datar.

"Perlu kau tau Hyuuga. Tidak akan mudah menemukan satu lagi pembunuh dan pelaku money laundry yang sebenarnya. Pada akhirnya kalian akan merasakan lagi ditinggal mati oleh orang yang akan dibuat terbunuh."

Neji segera berbalik mengacuhkan kata-kata Hidan. Kata-kata itu lebih terdengar seperti ancaman. Namun Neji terlalu enggan untuk memikirkan omong kosong itu lebih jauh.

"Kau boleh bilang apa pun, Hidan. Aku tidak takut."

TBC

A/N: Sebenarnya Gaara di rumah sakit itu topless, jadi tubuh bagian atasnya tuh diperban semua. Maaf tak mampu buat definisi yang baik. Tadinya aku mau tulis lebih banyak scene tembak menembak, tapi tak jadi. Aku tak mau melukai Gaara dan Hidan(?) Serius. Kalau beneran tembak-tembakan terus ada yang kena, mau gak mau harus ada yang mati pan. Kalo Gaara mati, nanti ceritanya gimana? Bang Kise Ganteng juga gak mau aku bunuh Gaara XD

Dan, kalian bisa tunggu kematian karakter lainnya. Pasti. Gak mentok di Shisui. Kupastikan akan ada yang menyusul Shisui. Woahahaha(?)

Terima kasih Josephine La Rose99, Bang Kise Ganteng, & Brokoro yang RnR chapter lalu. Terima kasih juga para FnF-ers yang masih baca ini. Semoga ini tak mengecewakan.

Mind to review?