Dan disinilah mereka sekarang. Duduk berhimpitan di dalam mobil yang di bawa Baekhyun. Setelah mencapai kesepakatan yang mereka setujui bersama, Baekhyun, Kyungsoo, duo Kim, Hyuna, dan Hyorin langsung bergegas pergi ke apartemen duo Kim dengan mobil yang Baekhyun bawa. Mereka terlihat seperti anak idiot yang berebut ruang kosong di dalam mobil yang dikendarai Baekhyun dengan Jongdae yang duduk di sebelahnya.
"Menyingkir dari kekasihku, macan betina!" teriak Kai frustasi saat melihat Hyorin mencuri-curi kesempatan untuk menempel pada kekasihnya yang imut.
"Urus saja urusanmu Kim hitam. Aku hanya ingin dekat-dekat dengan makhluk imut ini." Lagi-lagi Hyorin menempelkan pipinya ke pipi gembil Kyungsoo.
Kyungsoo yang berada di antara makhluk dengan kadar kemaniakan yang tinggi itu hanya meringis kesal. Dia tidak bisa menolak Hyorin dan tidak bisa mencegah Kai untuk menjauhkan gadis itu darinya.
"Sebaiknya kalian diam." Kali ini Hyuna angkat bicara setelah bosan mendengar perdebatan dua makhluk yang sibuk bersitegang itu.
"Hei! Jauhkan tanganmu dari milikku!" teriak Kai lagi saat melihat tangan Hyorin mulai berjalan meraba tubuh sang kekasih.
"Hyo-Hyorin-sshi-" dengung Kyungsoo pelan.
"Yak! Ini pelecehan!" teriak Kai frustasi.
Hyorin yang mendengar teriakan Kai tambah terkekeh setan dalam hati. Pikirnya dia berhasil mengerjai lelaki hitam di sebelah si imut Kyungsoo.
CKIITT!
Baekhyun mengerem mobilnya mendadak, membuat empat orang di belakang refleks menabrak kursi di bagian depan dengan posisi mengenaskan. Mereka saling menghimpit karena ruang yang tidak mencukupi.
"Tutup mulut kalian dan segera keluar!" desis Baekhyun tajam. Jujur saja dia terganggu dengan perdebatan tidak bermutu dua orang penumpang mobilnya.
"Kalian sungguh kekanakan." Sambung Jongdae, dan mengambil langkah keluar dari mobil yang menurutnya seperti neraka.
"Katakan itu pada dua orang bodoh ini." Dengus Hyuna sebelum membuka pintu mobil dan keluar menyusul dua teman yang lain.
Keadaan dalam mobil sekarang hening mencekam karna Jongin dan Hyorin masih saling tatap dengan petir imajiner yang saling menyambar keluar dari mata masing-masing. Kyungsoo si polos hanya diam membatu dan membeku berada di antara dua orang idiot yang memperebutkannya. Sama sekali tidak berani membuka suara, bahkan kali ini dia menahan napasnya agar tidak menimbulkan suara.
BRAAK
Pintu mobil terbuka dengan elit, menampilkan Baekhyun dengan wajah seramnya. Anak itu menarik tangan Kyungsoo membawa lelaki imut itu keluar dari kondisi genting yang tidak masuk akal karna di sebabkan oleh dua orang bodoh. Jongin menatap Baekhyun protes dan Hyorin memasang wajah memelas.
"Kalau kalian ingin lanjut bersitegang silahkan. Tapi tidak dengan melibatkan sahabatku ini." Kata Baekhyun datar dan beranjak pergi dengan merangkul Kyungsoo.
Dua mata dengan ukuran berbeda itu melihat kepergian pujaan hati dengan makna yang berbeda. Satu dengan rasa kesal dan satu dengan rasa kagum.
"Aku akan memuja Luhan dari sekarang." kata Hyorin riang.
"Kau dan sifat anehmu!" ejek Kai.
Dan adu mulut terjadi lagi di dalam mobil mewah milik Baekhyun.
.
.
.
Byun?
Main Cast:
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Support cast:
Xi Luhan (Byun Luhan)
Oh Sehun
Do Kyungsoo
Kim Jongin
Kim Jongdae
Wu Kris
Rating:
T (berubah sesuai alur cerita)
Gendre:
Romance/Drama-School live
YAOI
Summary:
Kembar identik tidak membuat sifat keduanya sama. Keadaan yang terjadi membuat mereka tumbuh dengan karakter yang berbeda. Byun Luhan dan Byun Baekhyun. Apa yang akan terjadi jika mereka bertukar peran?
.
.
.
Chapter 11
"Jadi... ini akan menarik jika kalian melakukan sexy dance!" seru Kai bahagia. Berbagai koreo telah ada di dalam kepalanya yang kosong.
"Tidak. Itu akan membuat pandangan mereka tentang Luhan dan Hyuna semakin buruk." Kali ini Kyungsoo yang mengeluarkan suara membantah perkataan kekasihnya.
"Ini akan menarik Kyungie~" rayu Kai lagi.
"Ini tidak akan menarik jika mereka semakin memandang rendah kita." Hyuna mengeluarkan pendapat. "Aku ingin kami memang menari, tetapi tidak mempertontonkan keseksian yang dibuat-buat." Hyorin mengalihkan pandangan matanya pada Baekhyun yang hanya diam saja. "Bagaimana pendapatmu Luhan-ah?" tanya Hyorin tanpa embel-embel sshi, mereka sepakat menghilangkan panggilan formal dan bersikap layaknya teman biasa.
"Ya. Aku setuju denganmu. Lagi pula jika kita melakukan hal seperti sexy dance akan berpengaruh buruk untuk perkembangan otak seseorang." Jawab Baekhyun acuh.
"Ah~ Park Chanyeol!" sambung Hyorin riang. "Aku semakin penasaran bagaimana kalian bisa jadi sedekat ini. Tidak seperti beberapa bulan yang lalu." Jari-jari lentik itu bermain dengan rambut panjanganya.
"Oke! Aku punya ide!" Kai yang sedari diam akhirnya bersuara. "Bagaimana dengan..." dan diskusi mereka berlanjut dengan gerakan-gerakan aneh yang di praktekan Kai tanpa musik yang mengiringi.
Akhirnya mereka membuat dua kelompok. Pertama kelompok dance dan kedua kelompok vokal. Di sisi sebelah kanan terlihat Kai sedang mengajari Baekhyun dan Hyorin dalam hal koreo.
"Yak! Letakkan tanganmu di pundaknya!"
"Jangan disitu!"
"Lu, lebih dekat lagi!"
Barangkali seperti itulah suara-suara yang keluar dari mulut Kai yang sibuk memberi intruksi pada Baekhyun dan Hyorin.
Sedangkan pada kelompok vokal terlihat Chen yang sangat profesional melatih Kyungsoo dan Hyorin yang sedang berduet dengan indah. Sesekali guru vokal Chen menyontohkan bagaimana cara bernyanyi membuatnya mengeluarkan suara yang tidak bisa dibilang jelek itu.
"Kenapa kau tidak menjadi penyanyi saja." Tanya Hyorin di sela-sela waktu istirahat mereka.
"Karna aku tidak tertarik." Jawab Chen cuek dan berjalan menuju dapur.
"Kau mau kemana?" Kai yang saat itu masih asik melatih dua lainnya mengalihkan perhatian pada Chen.
"Tentu saja 'meracik' minum untuk mereka." Chen masih berjalan acuh mengabaikan pertanyaan Kai.
"Jangan!" teriak Kai dan Baekhyun bersamaan membuat Hyuna, Kyungsoo dan Hyorin terkejut.
"Biar aku saja!" dengan tergesa Kai mendahului Chen ke arah dapur.
Tanpa mereka sadari Baekhyun menghela napas lega.
Untung saja Kai peka, batin Baekhyun.
Mungkin untuk kebanyakan orang menyediakan air minum untuk tamu itu adalah hal yang wajar. Tapi tidak untuk Chen. Karna menurutnya menyediakan minuman berupa teh, kopi atau minuman pada umumnya sudah terlalu biasa. Jadi, dengan pengalaman dan keahliannya, Chen berusaha menjamu tamunya dengan minuman yang 'spesial'. Karna hal itulah Kai dan Baekhyun yang sudah lama mengenal Chen berusaha meminimalisir korban percobaan Chen agar tidak terlampau banyak.
Setelah selesai membuat minuman normal, Kai bergabung dengan teman-teman lainnya di ruang tengah.
"Jadi, kita sepakat akan selalu latihan di sini." Hyorin mengambil sebuah biskuit dan memakannya.
"Ya." Jawab Chen singkat.
"Kita akan latihan dari jam 10 pagi sampai selesai. Dan akan terus latihan sampai hari keberangkatan kita." Kai mengedarkan pandangannya menatap satu persatu wajah-wajah itu.
"Oke." Baekhyun bersandar lelah di sofa.
"Pokoknya, tim ini akan membuat kehebohan saat tampil besok." Semangat Kai menggebu.
"YA!" seru mereka bersamaan. Kecuali Baekhyun yang menutup matanya.
Sepuluh hari lagi...
.
.
.
Hari keberangkatan pun tiba. Baekhyun membawa sebuh koper kecil untuk segala perlengkapannya. Pagi ini dia di jemput oleh supir Kyungsoo. Mereka pergi bersama-sama.
Baekhyun dan Kyungsoo sampai di sekolah yang sudah ramai itu. Di sana terdapat dua bus khusus anak tingkat akhir yang akan membawa mereka ke bandara. Para anggota OSIS dan guru sekarang sibuk mengatur siswa siswi agar tertib memasuki bus-bus yang telah di sediakan.
Dengan malas-malasan Baekhyun mengedarkan pandangannya pada kerumunan anak-anak yang sangat bersemangat pergi ke pulau jeju. Dan di sana dia mendapati Chanyeol sedang asik bercengkrama dengan seorang gadis pasangan duetnya. Lama meperhatikan Chanyeol, Baekhyun tidak sadar bila Chanyeol tengah menyeringai, mengetahui tatapan tidak suka dari sang kekasih.
Setelah mendengarkan intruksi, siswa siswi duduk di dalam bus berpasang-pasangan. Baekhyun memilih duduk dengan Chen, karena dia kalah adu argumen dengan Kai saat memperebutkan Kyungsoo. Chanyeol sendiri memilih duduk dengan Kris, tepat di samping tempat duduk Baekhyun dan Chen.
Bus berjalan menuju bandara. Keadaan bus tidak pernah hening, ada saja siswa yang bernyanyi dan melakukan hal konyol, membuat yang lainnya merasa terhibur. Baekhyun hanya memejamkan mata, malas melihat keadaan yang menurutnya mengganggu itu.
"Ini." Chen meyodorkan sepasang earphone yang sedang tidak dia pakai. "Aku tahu ini mengganggu." Chen menggerakkan kepalanya ke arah sumber kebisingan.
"Pasangkan. Aku malas bergerak." Baekhyun masih memejamkan mata.
"Dasar pemalas. Dari dulu tidak pernah berubah." Chen mendengus tetapi bibirnya menyungingkan senyuman maklum.
Chen sangat mengerti bagaimana Baekhyun dan begitupun sebaliknya. Mereka saling mengenal satu sama lain. Keadaan membuat mereka tahu kebiasaan lainnya. Chen sangat tahu Baekhyun sangat tidak suka suara berisik di saat dirinya sedang dalam kendaraan. Itu adalah salah satu hal unik dari Baekhyun.
Tanpa mereka sadari ada sepangan mata bulat yang menatap mereka marah. Dia Park Chanyeol.
Chanyeol mengepalkan tangannya erat. Bagaimana mungkin kekasihnya lebih memilih lelaki berwajah kotak itu untuk duduk di sebelahnya di bandingkan dia yang tampan ini? Salahmu sendiri Park yang menebar bumbu permusuhan kepada Baekhyun.
.
.
.
Mereka telah sampai di salah satu penginapan di pulau Jeju. Anggota osis membagikan satu kunci kamar untuk dua orang siswa. Saat Baekhyun menerima kunci kamar untuknya, Baekhyun merasakan tarikan kuat pada pergelangan tangan yang sedang memegang kunci. Itu Chanyeol.
"Aku denganmu." Kata Chanyeol datar.
"Tidak aku dengan Jongdae." Jawab Baekhyun tidak kalah datar.
"Tidak bisa begitu. Aku sudah memutuskan kau dan aku satu kamar." Chanyeol menatap nyalang.
"Aku tidak mau!" tantang Baekhyun tidak mau kalah.
"Kau kekasihku Luhan!" seru Chanyeol tidak tahu kondisi. Sekarang semua pasang mata sedang menatap mereka.
"Kau raksasa bodoh!" desis Baekhyun sebelum pergi mencari kamarnya. Dia malu sungguh. Bagaimana mungkin Chanyeol tidak sadar situasi?
"Cemburu buta huh?" ini adalah suara Chen yang sedang menatap Chanyeol mengejek.
"Diam kau kotak." Desis Chanyeol berbahaya.
"Yo Jong!" Kris datang meyapa Chen. "Ayo angkut barang kita!"
"Baiklah teman sekamar." Chen mentap tajam Chanyeol sebelum mengikuti Kris mencari kamar mereka.
.
.
.
Malam pentas seni pun tiba. Anak-anak terlihat antuasias dalam menyaksikan penampilan para perserta pentas seni. Acara itu dibuka oleh sambutan kepada sekolah, anggota komite, dan ketua osis sebelum mereka memasuki acara inti.
Kyungsoo dan Hyorin tampil dengan memukau. Mereka menyanyikan lagu I Just Wanna (Amber ft Eric Nam). Suara Kyungsoo dan Hyorin menyatu menjadi satu, ditambah ekspresi mereka yang sangat baik menjadikan penampilan mereka sangat sempurna. Tepuk tangan meriah mengakhiri penampilan mereka.
Penanpil selanjutnya adalah Chanyeol dan pasangannya. Chanyeol membawa sebuah gitar akustik. Chanyeol sangat tampan malam ini, dan gadis di sebelahnya terlihat tersipu saat melihat penampilan Chanyeol. Mereka tampil dengan mesra, Chanyeol sengaja melemparkan padangan memuju pada gadis di sebelahnya yang sedang merona, padahal jika dia tahu ini semua Chanyeol lakukan untuk memanas-manasi kekasih kecilnya yang sedang menatap marah dari ruang tunggu peserta.
Baekhyun terlihat merapatkan rahangnya kesal. Bagaimana mungkin Chanyeol bermesraan dengan gadis lain di hadapannya seperti sekarang. Ini adalah kali ketiganya Baekhyun melihat Chanyeol memanas-manasinya, tapi kali ini Baekhyun benar-benar terbakar.
Banyak peserta pentas seni yang telah tampil, sedari tadi Chanyeol menantikan penampilan Luhan. Sesekali Chanyeol menyeringai, dalam pikirannya Luhan hanya akan menampilkan hal seperti bermain piano atau mungkin mempraktekan gaya membantingnya, atau mungkin meperlihatkan lukisannya. Sekali lagi Chanyeol tertawa mengejek.
Lampu panggung tiba-tiba mati. Tak lama terdengar musik dengan beat seksi (EXO-Artificial Love) mengalun memecah kehebohan yang di akibatkan oleh beberapa siswa siswi. Sebuah lampu sorot menyinari sesosok tubuh dengan kemeja putih dan celana jeans ketat dan polesan eyeliner yang menambah kesan seksi pada dirinya.
Chanyeol membolakan mata saat menyadari sosok yang berdiri di atas panggung ini adalah Luhan. Kekasihnya.
"Shit!" umpat Chanyeol. "Apa ini ajang balas dendam?" desisnya tidak suka.
Musik mengalun dan Baekhyun mulai menggerakkan tubuhnya mengikuti beat musik. Tatapan mata itu tajam dan seksi. Chanyeol memperhatikan bagaimana tubuh itu meliuk-liuk indah. Bagaimana bibir itu terbuka menggoda. Bagaimana jari-jari lentik itu menyihirnya. Ingin rasanya dia menarik miliknya untuk turun dari atas panggung. Atau mungkin dia harus mencongkel satu persatu mata brengsek-brengsek yang sedang menikmati keindahan miliknya.
Saat kata-kata artificial love di ucapkan berulang, Hyuna keluar dengan langkah seksi mulai mendekat dan menepuk-nepuk pundak Baekhyun. Yang menjadi kejutan adalah saat Baekhyun menarik tubuh wanita itu mendekat kearahnya. Merengkuh pinggang sang gadis.
Sorakan dan teriakan frustasi membahana di bagian penonton. Mereka berdua kembali melakukan tariannya masing-masing setelah Hyuna mendorong dada Baekhyun untuk menciptakan jarak. Rasanya Chanyeol ingin gila sekarang saat melihat tangan gadis itu meraba-raba tubuh miliknya.
Pundak kedua penari itu bergoyang mengikuti beat yang mulai meraja lela. Baekhyun tetap berkonsentrasi pada tariannya, dia tidak lupa pada pesan Kai untuk menempatkan tangannya pada pinggang Hyuna, atau pun membuat pose seolah dia ingin mencium Hyuna saat itu juga.
Tarian dengan durasi kurang lebih tiga menit itu berakhir dengan pose Baekhyun merengkuh Hyuna dalam pelukannya. Sorakan dan tepukan tangan menyambut berakhirnya pertunjukkan mereka.
Saat turun dari atas panggung, tangan Baekhyun langsung saja di tarik oleh Chanyeol yang dalam mode cemburu berat.
"Ikut aku." Desisnya tajam
Baekhyun hanya menurut dan membiarkan tangannya di tarik oleh orang labil ini. Mereka melewati beberapa siswi yang berbisik memuji Baekhyun seksi dan akan menjadi penggemarnya. Saat tiba di salah satu tempat yang terbilang sepi, Chanyeol menghentikan langkahnya dan menatap Baekhyun tajam.
"Suka sekarang memiliki banyak penggemar?" desisnya marah.
"Kenapa? Apa masalahmu?" Baekhyun menyilangkan tangannya di depan dada, menantang Chanyeol.
"Aku tidak suka! Kau itu kekasihku!" teriak Chanyeol.
"Jadi kalau aku adalah kekasihmu kau bisa berbuat sesuka hati?" Baekhyun memicing tajam. "Katakan pada seseorang yang mengumbar kemesraan di atas panggung." Sindir Baekhyun tajam.
"Oh... jadi kau berniat balas dendam kepadaku?!"
"Ya! Kau itu tidak adil kau tahu! Kau seenaknya mengaturku! Sedangkan kau berbuat semaumu! Aku juga bisa asal kau tahu!" Baekhyun tidak dapat menahan emosinya selama ini.
"He-hei Lu."
"Apa! Dasar monster gigi menjengkelkan!" teriak Baekhyun kesal.
"Yak! Apa-apaan dengan monster gigi, kurcaci!" balas Chanyeol tidak mau kalah.
"Mwo? Kurcaci?! Kau benar-benar!" Baekhyun mengangkat tangannya tinggi-tinggi hendak menjambak rambut Chanyeol, tapi tidak bisa, Chanyeol terlalu tinggi.
"Lihatlah kurcaci in-AW!" Chanyeol berteriak saat Baekhyun menendang tulang keringnya. Chanyeol membungkukan badan, dan Baekhyun langsung saja menarik rambut itu.
"Yak! Le-lepaskan! Kau-bar-bar- yak!" Chanyeol memegangi tangan Baekhyun, berusaha melepaskan cengkaraman yang ada di rambutnya. Jujur saja itu sangat menyiksa.
"Rasakan! Dasar lelaki menjengkelkan!" desis Baekhyun marah.
"Aku minta maaf! Oke! Yak! Lepaskan!" pinta Chanyeol memohon.
Baekhyun yang tidak tega akhirnya melepaskan cengkaramnnya pada rambut Chanyeol. Lelaki kecil itu membalikkan badan hendak pergi meninggalkan orang yang membuatnya emosi.
"Kajima." Sebuah pelukan hangat mendekapnya. Itu Chanyeol. Lelaki tinggi itu meletakkan kepalanya di bahu Baekhyun.
"Aku tidak suka saat kau bersama dengan orang lain. Aku tidak suka jika kau mengabaikanku. Aku tidak suka itu semua. Aku cemburu." Chanyeol mengaku seperti anak umur lima tahun.
Baekhyun hanya diam. Jantungnya berdetak dengan cepat.
Ini tidak benar.
Batinnya. Saat ingin melepaskan pelukan Chanyeol, lelaki yang lebih tinggi malah tambah erat memeluk perutnya.
"Kau sangat hangat saat di peluk." Lirih Chanyeol.
"Yak! Lepaskan!" ronta Baekhyun mencoba melepaskan diri.
"Tidak sebelum kita berbaikan Lu~ aku tidak bisa jika kau acuhkan terus menerus." Chanyeol semakin mengeratkan pelukannya.
"O-oke." Jawab Baekhyun tergagap. Dia tidak bodoh saat menyadari dirinya telah jatuh untuk lelaki ini.
"Benarkah?" Chanyeol memutar tubuh Baekhyun untuk menghadapnya.
"Ne."
"Gomawo Luhanie~"
Saat mendengar nama Luhan, lagi-lagi hatinya sakit. Dia tidak suka sama sekali jika orang menganggapnya Luhan, terlebih orang itu adalah Chanyeol.
.
.
.
Setelah kejadian malam pentas seni itu, Chanyeol menjadi semakin posesive terhadap kekasihnya. Dia kembali mengikuti kemana Baekhyun pergi dan selalu ada disampingnya. Bahkan chaneyol rela bergabung dengan duo Kim, Kyungsoo, Hyuna dan Hyorin. Hal itu dia lakukan demi melindungi hubungannya dengan sang kekasih.
Seperti saat ini, mereka berdelapan-karna Kris dan Chanyeol ikut bergabung- ada di dalam kamar Kyungsoo dan Jongin. Mereka memutuskan memainkan sebuah game disaat anak normal lainnya sedang berjalan-jalan mencari buah tangan ataupun menikmati malam terakhir mereka di pulau indah ini.
Kai dengan seringaiannya membawa sekotak kartu bridge dan beberapa botol soju yang entah dia dapat darimana. Dengan angkuh Kai meletakkan semua barang itu di tengah-tengah lingkaran yang telah di bentuk oleh makhluk-makhluk yang ada di kamarnya itu.
"Oke! Kita akan bermain kartu!" Kai mengedarkan pandangannya ke arah teman-teman yang lain.
"Oh... orang bodoh ini." Dengus Hyorin jengah. Terang saja mereka akan bermain kartu, karna jelas-jelas dia hanya membawa kartu dan sebotol soju.
"Yak! Berghenti berdebat dengaku!" bentak Kai tidak suka.
"Hei hei... apa kalian tidak bisa akur? Ini malam terakhir kita." Hyuna mencoba menengahi.
"Oke oke. Sekarang kita kembali lagi ke permainan yang akan kita lakukan. Kita akan membentuk 4 kelompok, jadi satu kelompok terdiri dari dua orang. Kita akan memainkan kartu ini bergantian dengan pasangan kita, bagi yang kalah, harus meminum soju~" jelas Kai panjang lebar.
Mendengar kata soju membuat Chanyeol menjadi waspada. Bagaimanapun dia tidak boleh membiarkan Luhan menegak minuman itu walau hanya segelas.
Permainan pun dimulai. Chanyeol tentu saja satu kelompok dengan Baekhyun. Kai dan Kyungsoo. Chen dan Hyorin. Kris dan Hyuna. Permainan berlangsung sengit. Ronde pertama kelompok Kaisoo kalah, dan sebagai gantinya, Kai harus menegak alkohol karna kali ini dia yang memegang kendali. Pada ronde kedua giliran Baekhyun yang kalah. Baekhyun kesal. Ini adalah pengalaman pertamanya karna ronde pertama di mainkan oleh Chanyeol. Chanyeol langsung menerima hukuman yang seharusnya dilakukan oleh Baekhyun. Dan begitu pun seterusnya, Baekhyun sangat keras kepala saat Chanyeol meminta mereka bergantian bermain. Dan berakhirlah Baekhyun yang mengerang kesal dan Chanyeol yang hangover karena kebanyakan minum.
"Ternyata tidak menjamin orang genius akan menang di dalam sebuah permainan." Ejek Chen tajam.
"Tutup mulutmu wajah kotak!" bentak Baekhyun kesal.
"Aku sangat beruntung berpasangan dengan my baby Kyungie~" Kai menempel seperti lintah pada tubuh Kyungsoo.
"Dan Kyungsoo sama sekali tidak beruntung berpasangan dengan mu hitam!" seru Baekhyun seraya melempar kartu-kartu itu.
"Yak!" sentak Kai kesal. "Dari pada kau mengurusi urusanku, lebih baik bawa pacarmu ini pulang." Tunjuk Kai pada Chanyeol. "Bahkan dia sudah tidak bergerak lagi, seperti orang mati."
"Ini salahmu dan soju keparat itu!" Baekhyun berdiri dan mulai menarik tubuh Chanyeol yang hangover.
"Ugh! Berat sekali." Rutuk Baekhyun.
"Perlu bantuan?" tawar Kris pengertian.
"Yeah... aku yakin tidak bisa membawa raksasa ini kekamar." Baekhyun meringis.
Kris yang mendengar ringisan Baekhyun langsung saja membopong tubuh besar Chanyeol ke dalam kamar sepasang kekasih itu. Setelah meletakkan tubuh raksasa itu di ranjangnya, Kris berjalan hendak kembali ke kamarnya sendiri.
"Terimakasih Kris." Baekhyun tersenyum samar.
"Seharusnya aku yang berterimakasih padamu Lu." Kris membalas senyuman Baekhyun lebih lebar.
"Kenapa?" Baekhyun memiringkan kepalanya heran.
"Yahh... setidaknya dia menjadi sedikit lebih baik sekarang." Kris menepuk pundak Baekhyun. "Jangan sampai berpisah, oke!" Kris berjalan meninggalkan Baekhyun yang termanggu.
.
.
.
Hari ini adalah hari kepulangan mereka ke Seoul. Dan Baekhyun harus ekstra sabar mengurusi bayi raksasa yang sedari bangun tidur tadi merenggek sakit kepala. Dia harus menyiapkan koper Chanyeol, membantunya berjalan dan sekarang menjadi seperti guling yang selalu di peluk Chanyeol.
"Hei! Aku kepanasan bodoh!" Baekhyun menggerak-gerakkan bahunya berusaha melepaskan diri dari Chanyeol.
"Hmm... kali ini saja Lu~" jawab Chanyeol manja.
"Oi Park! Setidaknya lepaskan aku sebentar."
Chanyeol melepaskan pelukannya sebentar, ya memang sebentar karena setelah itu dia memeluk Baekhyun lebih erat lagi. Melihat kelakuan Chanyeol Baekhyun hanya bisa menghela napas.
Sebenarnya dia sama sekali tidak kepanasan, tetepi dia hanya tidak ingin Chanyeol membuat jantungnya tambah berdebar tidak jelas seperti ini. Baekhyun takut dengan perasaannya sekarang. Dia telah jatuh cinta pada tunangan hyungnya sendiri.
.
.
.
(listen All With You-Taeyeon, Moon Lovers OST)
Baekhyun termenung di kamarnya. Dengan seksama mengedarkan pandangannya menyeluruh kesetiap sisi kamar yang sedang dia tempati, dengan jelas merekam bagaimana posisi dan letak benda-benda di kamar yang akan dia tinggalkan.
Jujur saja Baekhyun akan sangat merindukan suasana yang ada di Seoul. Setelah bertahun-tahun tidak pulang ke negara asal, akhirnya Baekhyun mempunyai kesempatan untuk pulang kembali. Haruskah dia berterima kasih pada Luhan karena berkatnya membuat Baekhyun bisa melihat apa yang selama ini dia rindukan.
Baekhyun rindu makanan korea, Baekhyun rindu rumahnya, Baekhyun rindu keramahan warga Seoul, Baekhyun rindu Kim ajusshi, Baekhyun rindu kamarnya, Baekhyun rindu Eomma dan Appa, Baekhyun rindu Luhan, dan Baekhyun sangat merindukan kehangatan keluarganya.
Tidak bisakah Baekhyun terus ada di sini? Setidaknya dia bisa mengaku pada Chanyeol, dan menceritakan semua yang terjadi selama ini. Bukankah Chanyeol jatuh cinta pada Baekhyun bukan Luhan? Tidak bisakah Chanyeol menemukannya? Dia ingin Chanyeol menyadari siapa yang selama ini bersamanya. Bagaimana mungkin Chanyeol tidak bisa membedakan mereka?
Banyak kata-kata menyesal dalam batin Baekhyun yang berteriak mengoyak hatinya. Tapi, ini semua adalah salahnya. Jika saja dia tidak bersikap bodoh untuk mengantikan Luhan. Jika saja, dia mendengarkan perkataan Sehun. Jika saja, dia bisa menjaga hatinya.
Ini semua bukan salah Appa dan Eomma nya. Luhan memang ditakdirkan untuk Chanyeol dan begitu pun sebaliknya. Baekhyun hanya seorang yang dengan lancangnya masuk ke dalam cerita mereka dan membuat semuanya menjadi runyam.
Bukan salah Chanyeol jika Chanyeol menganggapnya Luhan. Bukan salah Chanyeol jika dia mencintai Luhan bukan Baekhyun, dan bukan salah Chanyeol jika Baekhyun mencintainya. Ini adalah salahnya. Salahnya yang membuat dirinya sendiri tersiksa.
Tapi sisi egois itu masih tetap menyerang pemikirannya. Bagaimana jika dia mengaku pada Chanyeol. Bukankah dia memiliki kesempatan sekarang? setidaknya jika dia mengaku, Chanyeol akan mempertimbangkan Baekhyun, karena selama ini Chanyeol jatuh padanya bukan Luhan.
Tapi, bagaimana jika dia mengecewakan Luhan? Luhan mencintai Chanyeol. Jika tidak, bagaimana mungkin Luhan menerima perjodohan ini. Dia tidak ingin membuat hyung-nya bersedih. Dan tempatnya berdiri sekarang adalah tempat Luhan. Bukan tempat Baekhyun.
Luhan begitu di cintai orang tua mereka. Luhan memiliki Kyungsoo, sahabat yang sangat menyayanginya. Luhan memiliki Chanyeol yang mencintainya. Dan Luhan sangat di kagumi oleh orang tua Chanyeol.
Sedangkan Baekhyun, hanya seorang anak yang hidup sendiri, terpisah dari orang tua dan menjalani hidup dengan kesendirian dan kesepian yang melingkupi. Dia hanya memiliki Sehun yang menemani hari-harinya tapi tidak dengan orangtua dan Luhan. Tidak mempunyai kenangan indah seperti remaja lainnya dan hanya berkutat degan berbagai pemikiran dan masalah yang harus dia hadapi.
Keputusan terbaiknya adalah dia harus mengakhiri semua ini sekarang. Ini adalah salahnya. Kekacauan ini adalah akibat ketidakwarasannya dalam mengambil keputusan. Karna dia yang memulai maka dia harus mengakhirinya sekarang atau tidak sama sekali.
Baekhyun mengambil koper dan mulai memasukkan baju ke dalamnya. Sesekali air mata itu menetes saat dia tidak mampu menahan rasa sesak di dadanya. Perlahan, semua barang yang akan dia bawa sudah tersusun rapi di dalam koper. Baekhyun mengambil paspornya, meyiapkan segala yang dia perlukan untuk kembali menjalankan hari-harinya di negeri orang.
Baekyun menarik napas. Mencoba mengurangi rasa sesak yang ada di dadanya. Perlahan, jari lentik itu mengambil ponsel dan memanggil kontak dengan nama Park Chanyeol.
"Chanyeol-ah!" sapa Baekhyun serak.
"Wae?" jawab suara di seberang malas. Terang saja, waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam.
"Bagaimana jika besok kita berkencan?" ajak Baekhyun dengan suara yang dibuat semangat.
"Mow?! Jinjaeyo!" seru Chanyeol gembira.
"Tentu saja! Besok jam 10! Jemput aku ya!" balas Baekhyun tidak kalah semangat.
"Assaa! Kau tenang saja! Aku akan membuatmu terkesan dengan kencan pertama kita!"
"Ne –buat aku bahagia Chanyeol..." lirih Baekhyun.
"Kenapa Lu? Apa kau sudah mengantuk?" tanya Chanyeol perhatian.
"Eum!" mendengar nama Luhan sesak di dada Baekhyun datang lagi. Air mata itu menetes. Baekhyun tidak bisa menjawab pertanyaan Chanyeol. Takut jika kekasihnya mendengar isakan itu.
"Geure. Tidurlah. Besok kita akan bersenang-senang." Chanyeol berkata lembut.
Semua itu untuk Luhan
Air mata Baekhyun makin deras mengalir.
"Jalja~ saranghae~" kata suara Chanyeol sebelum panggilan itu berakhir. Ponsel Baekhyun terjatuh di sisinya.
"Hiks... ba-bagaimana hikss... bagaimana ini hikss... sa-sakit sekali hikss! Sa-sangat sakit hikss..."
Anak itu menekuk kedua kakinya, menyembunyikan wajah di lutut dan sesekali raungan sesak terdengar darinya. Untuk kali ini biarkan Baekhyun melepaskan beban yang selama ini dia tanggung sendiri.
Tanpa dia sadari, Victoria berada di depan pintu kamarnya. Sebagai seorang ibu Victoria merasa tidak berguna. Dia sama sekali tidak menyadari bagaimana anaknya tumbuh. Dia tidak ada di saat Baekhyun kecil yang merindukan pelukannya. Dia tidak mengerti bagaimana Baekhyun menyalurkan rasa sayangnya selama ini. Bayi kecilnya yang lucu dan menggemaskan sekarang telah tumbuh menjadi anak yang kuat dan sangat menyayangi keluarga.
Ini adalah pertama kali dia mendengar Baekhyun menangis setelah bertahun-tahun yang lalu. Baekhyun yang sekarang sedang mencoba menghadapi dunianya lagi, dunia yang akan merubahnya kembali menjadi sosok yang kuat atau mungkin sosok yang sangat rapuh dan tenggelam dalam kesendirian.
.
.
.
Baekhyun berdiri di depan cermin besar di rumahnya. Dengan sengaja memilih baju terbaiknya. Pagi-pagi sekali Baekhyun sudah bangun dan menyiapkan bekal makanan yang akan di bawanya saat berkencan dengan Chanyeol.
Setelah lama berkutat dengan cermin di depannya, Baekhyun bergegas turun ke lantai bawah dan dia sudah mendapati Chanyeol sedang menyengir menyambut kedatangannya. Baekhyun tertengun, ini adalah hal yang akan di ingatnya seumur hidup.
"Kenapa melamun Luhan-ah?" Chanyeol memecah keheningan.
Baekhyun tersentak. Seperti baru menyadari kenyataan bahwa cengiran itu bukan untuknya tapi untuk Luhan.
"Tidak apa." Jawabnya pelan dan kembali menapaki anak tangga untuk turun. Dengan refleks, Baekhyun memeluk tubuh Chanyeol erat.
"Hei hei... kenapa ini?" tanya Chanyeol sedikit terkejut tapi masih tetap membalas pelukan Baekhyun.
"Bogoshipo." Jawab Baekhyun lirih.
Kekehan geli terdengar dari yang lebih besar."Ya! Padalah kita baru tidak bertemu beberapa hari." Jawab Chanyeol di sela-sela kekehannya.
Ya... baru beberapa hari dan itu sangat menyiksa.
Baekhyun menegakkan kepalanya dan melihat ke arah Chanyeol dengan pandangan merajuk.
"Lalu. Aku tidak boleh merindukanmu eoh?!" rajuk Baekhyun, mencoba menutupi suasana hatinya.
"Eyyy... kenapa jadi marah-marah begini." Chanyeol kembali membawa Baekhyun ke dalam pelukannya. "Tentu saja boleh.. sangat boleh malah. Aku benar-benar menjadi lelaki yang sangat beruntung mempunyai kekasih sepertimu." Tangan Chanyeol membelai-belai kepala yang tersembunyi di dadanya itu.
"Chanyeol..." lirih Baekhyun sendu.
"Hm?"
"Aku-tidak-bisa-bernafas-." Jawab Baekhyun berpura-pura.
Lantas Chanyeol menguraikan pelukan mereka dan menatap Baekhyun khawatir. "Apa? Apa masih sesak eoh? Kau bisa bernapas sekarang? yak! Jawab aku." Cecar Chanyeol dengan raut cemas yang kentara.
Melihat ekspresi Chanyeol membuat Baekhyun tertawa. Dia sama sekali tidak menyangka akan di pertemukan dengan lelaki idiot seperti Chanyeol.
"Aigooo... aku hanya bercanda eoh! Dasar Park bodoh!" Baekhyun sedikit berjinjit untuk memukul kepala Chanyeol.
"Yak! Jangan memukul kepala calon suamimu!" protes Chanyeol.
Baekhyun hanya tertawa dan berjalan menjauh dari Chanyeol. Jari-jari lentik itu membawa kotak bekal yang sudah dia siapkan.
"Ayo! Aku tidak mau membuang-buang waktu!" ajak Baekhyun.
"Ck, kita masih memiliki banyak waktu untuk berkencan Lu!" jawab Chanyeol tapi lelaki itu tetap merangkul Baekhyun untuk memulai kencan mereka.
"Tentu." Baekhyun menunduk.
Tentu, jika itu untuk kau dan Luhan, tapi tidak untukmu dan aku, Park Chanyeol...
.
.
.
Mereka sampai di taman bermain pada pukul 11 siang. Baekhyun sedikit marah pada Chanyeol saat lelaki itu mengendarai mobilnya dengan sangat pelan. Dan Chanyeol beralasan bahwa semua itu dia lakukan agar dia bisa berlama-lama dengan kekasihnya.
Dan Baekhyun sempat tidak mau turun dari mobil untuk berkencan dengan Chanyeol. Dia kesal, sungguh. Bagaimana mugkin Chanyeol tidak mengerti dirinya yang sangat ingin segera mengabiskan waktu berkencan di taman bermain, bukan di dalam mobil.
Setelah membujuk Baekhyun dengan sedemikian rupa, akhirnya bocah kecil itu luluh juga dan turun dari mobil dengan wajah cemberut. Tapi, tak lama wajah itu kembali ceria. Park Chanyeol sangat senang saat menyadari mood Luhan yang baik hari ini. Dia akan berusaha menjaga mood baik Luhan hari ini dan hari-hari selanjutnya. Tanpa dia sadari, Baekhyun telah berjanji pada dirinya sendiri untuk memberikan Chanyeol kesan terakhir yang manis bagi keduanya.
"Oke! Kita mulai dari mana chagi?" Baekhyun mengerling imut ke arah Chanyeol.
"Ch-chagi?" mata besar itu membola. Dia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan penggilan seperti itu dari kekasihnya.
"Ne! Wae? Chanyeolie tidak suka?" Baekhyun sengaja mempoutkan bibirnya imut.
"Su-suka, sangat suka malah." Chanyeol kembali nyengir lebar. Baekhyun terkekeh melihatnya.
"Jadi? Aku harus memanggilmu baby?" Chanyeol menaik turunkan alisnya.
"Ani... panggil aku baekby!" jawab Baekhyun antusias.
"Baekby?" Chanyeol mengerutkan dahinya.
"Ne! Entah kenapa aku ingin di panggil seperti itu." Baekhyun memasang eyesmile imutnya.
"Baiklah! Kajja! Baekby!"
"Kajja!" sambut Baekhyun dengan riang. Tak lama wajahnya murung kembali.
Tidak apa-apa kan hyung? Untuk hari ini saja aku ingin Chanyeol tidak memanggil namamu dalam kencan kami... walaupun dalam ingatannya aku tetaplah kau.
Tanpa Chanyeol sadari air mata itu kembali menetes
.
.
.
Akhirnya di sinilah mereka sekarang. Chanyeol dengan asiknya mengayuh sepeda sedangkan Baekhyun tertawa-tawa di boncengan Chanyeol. Sesekali Chanyeol memacu cepat sepedanya, membuat Baekhyun memekik senang. Sesekali juga, Chanyeol dengan sengaja mengerem sepeda yang sedang melaju kencang. Membuat pelukan Baekhyun pada pinggang Chanyeol semakin erat.
Ini adalah permintaan Baekhyun. Chanyeol sangat senang saat Baekhyun menginginkan mereka menjadi seperti pasangan romantis lainnya. Dengan semangat penuh, Chanyeol menarik Baekhyun ke stand penyewa sepeda dan berakhir romantis seperti keinginan yang lebih kecil.
"Baekby~ aku lelah..." renggek Chanyeol manja.
"Sekali putaran lagi chagi~" bujuk Baekhyun seraya menempelkan pipinya pada punggung Chanyeol.
"Tapi aku benar-benar lelah sayang~" kali ini Chanyeol menghentikan kayuhan sepedanya.
"Chanyeolie~ ayo jalan~" renggek Baekhyun. "Aku tidak pernah merasakan naik sepeda." Lanjutnya lagi.
"Jinja?" kali ini Chanyeol kembali mengayuh sepedanya.
"Ne." Pelukan pada pinggang Chanyeol mengerat.
"Wae?" tanya Chanyeol penasaran.
"Hanya seperti itu..." lirih Baekhyun dan memejamkan matanya, menikmati hembusan angin yang menerpa wajah cantiknya.
Baekhyun punya alasan sendiri mengapa dia tidak bisa bersepeda. Sejak kecil, Baekhyun telah kehilangan masa anak-anaknya. Dia sama sekali tidak bisa bermain seperti anak lainnya. Setiap hari dirinya selalu sibuk dengan urusan yang seharusnya bukan untuk dilakukan oleh anak seumurannya. Baekhyun kecil hanya asik memecahkan persoalan sulit, dan mengabaikan kesenangan masa kecil yang seharusnya di lakukan oleh anak seusianya.
Hal itu bertambah parah saat dirinya masuk ke dalam organisasi. Baekhyun terus ditempa untuk mempertajam insting dan memperdalam ilmu dalam hal pengembangan otak geniusnya. Baekhyun hanyalah seorang anak yang kurang kasih sayang dan tidak menikmati masa anak-anak pada saat itu.
Mata kecil itu terbuka, menampilakan sorot kosong dan kesedihan yang mendalam. Kali ini dia tidak menangis. walaupun dirinya masih berpikir tentang ketidak adilan yang selama ini dia rasakan.
"Chagi-ah... ayo kita makan siang. Aku lapar.." Baekhyun berkata dengan nada imutnya, tetapi sorot matanya masih kosong.
"Baiklah. Kita ke mobil dan akan mencari tempat yang cocok untuk kita makan siang." Seru Chanyeol.
Chanyeol mengayuh sepedanya dengan semangat ke arah mobil. Mereka mengeluarkan peralatan piknik untuk makan siang. Dengan sengaja, mereka mengelar tikar di bawah sebatang pohon yang terlihat rimbun dan sejuk.
Baekhyun membuka kotak pertama dan di suguhkan pemandangan yang bisa di bilang merusak mata. Isi kotak itu berupa kimbab yang ditata dengan tidak teratur dan berantakan. Chanyeol meringis melihat keadaan isi kotak pertama.
Kotak kedua berisi telur gulung yang gosong dan sosis goreng dengan potongan tidak sama besar. Chanyeol lagi-lagi membolakan mata. Dan kotak terakhir adalah kotak nasi dengan hiasan mata, hidung dan wajah yang sedang tersenyum dengan rumput laut kering sebagai penghias.
"TADAAAA~" teriak Baekhyun bahagia. "Kau harus menghabiskannya okee!"
"Semua ini untukku baekby?" Chanyeol bertanya ragu-ragu. Dan di jawab anggukan dari si imut.
"Ne~ ayo makan!" Baekhyun memasang wajah semangat. Ini adalah pengalaman pertamanya memasak dan menata makanan dalam kotak bekal. Dan Baekhyun sangat menyukai itu.
Melihat wajah semangat sang kekasih, Chanyeol jadi tidak tega untuk menolak. Dengan perlahan, lelaki tinggi itu memakan kimbab. Rasanya tidak terlalu buruk. Hanya saja Baekhyun harus lebih pintar menata masakannya dalam kotak bekal.
Perlahan-lahan, isi kotak itu habis. Walaupun telur gulung itu sedikit pahit, Chanyeol rela menghabiskannya, demi membuat sang kekasih bahagia.
Setelah sesi makan siang mereka memutuskan untuk menikmati siang mereka dengan saling bersandar di bahu pasangan masing-masing. Baekhyun menyandarkan kepalanya di bahu Chanyeol sedangkan Chanyeol menyandarkan kepalanya di atas kepala Baekhyun.
"Hmm... aku suka." Bisik Chanyeol lirih saat indra penciumannya mencium wangi shampoo strawberry yang di kenakan Baekhyun.
"Apa?" lirih Baekhyun dengan mata terpejam masih menikmati waktunya bersama Chanyeol.
"Wangi rambutmu. Aku suka." Ulang Chanyeol lagi.
Baekhyun membuka matanya tanpa merubah sedikitpun posisi mereka. "Benarkah?"
"Ne."
Hening... mereka tenggelam dalam keheningan yang menenangkan satu sama lain. Sesekali Chanyeol mengusak-usak helai rambut Baekhyun yang tampak panjang.
"Apa kau mewarnainya lagi?"
"Eum!" angguk Baekhyun, masih tidak mau meninggalkan bahu kekar Chanyeol.
"Aku suka warna rambut yang seperti ini." Tangan besarnya tidak berhenti memainkan rambut Baekhyun.
"Benarkah?" Baekhyun mendongak dan menatap Chanyeol.
"Ya. Tapi aku penasaran bagaimana perubahanmu jika rambutmu berwarna pink!" Chanyeol menyeringai jahil.
"Aku pasti jelek sekali." Baekhyun cemberut lucu.
"Tidak tidak, kau akan sangat imut baekby!" Chanyeol mencubit pipi Baekhyun, membuat sang korban merenggek minta di lepaskan.
Chanyeol terkekeh dan langsung membawa Baekhyun dalam pelukannya. Dirinya merasa sangat nyaman saat memeluk sang kekasih. Mereka terlihat sangat pas dan serasi jika bersama.
Dalam pelukan Chanyeol, Baekhyun hanya tersenyum miris. Ini adalah hal yang akan sering Luhan dapatkan saat mereka bersama nanti, dan Baekhyun hanya akan menyimpan perasaannya sediri dan kenangan yang tidak akan menjadi kenangan orang lain selain dirinya.
Tidak apa, setidaknya aku bahagia saat ini...
.
.
.
Baaekhyun dan Chanyeol berjalan dengan bergandengan tangan satu sama lain. Sesekali mereka saling menatap dan melempar senyum manis kemudian mengalihkan pandangan dengan malu-malu. Persis seperti orang yang baru saja jatuh cinta.
Chanyeol mengenggam erat tangan Baekhyun. Mengelus-elus tangan berjari lentik itu dengan ibu jarinya. Terkadang juga mengecupi tangan milik yang lebih kecil, membuatnya merona malu. Hari ini Chanyeol merasa sangat bahagia.
"Oh! Baekby! Kau tidak memakai cincin pemberianku eoh?!" tanya Chanyeol dengan tatapan menyelidik.
"Ahh... cincin itu. Ada di sini!" seru Baekhyun saat menunjukkan cincin yang menjadi liontin di kalung yang dia pakai.
"Kenapa tidak di pakai di jari?" Chanyeol menghentikan langkahnya membuat Baekhyun ikut berhenti.
"Karena itu terlihat mencolok." Jawab Baekhyun polos.
Chanyeol terkekeh mendengar jawaban polos sang kekasih. Terang saja itu mencolok jika di pakai saat sekolah. Tapi tidak untuk situasi sekarang bukan?
"Kemarikan." Chanyeol meminta cincin yang ada di liontin kalung Baekhyun.
Dengan sedikit susah Baekhyun membuka kalungnya dan memberikan cincin itu pada Chanyeol.
"Setidaknya pakai ini hari ini." Chanyeol memasangkan cincin itu pada jari manis Baekhyun. "Cincin ini adalah tanda bahwa aku telah mengikatmu, kau boleh menyimpannya di dekat hatimu-dalam artian menjadi liontin kalung- atau memakainya di jarimu, sebelum jari ini mendapat pengganti cincin pertunangan kita." Chanyeol mengucapkan hal yang romantis.
Mungkin bagi kebanyakan orang hal yang diucapkan Chanyeol tadi akan membuat hati sang kekasih berdebar bahagia, tapi tidak dengan Baekhyun. Perkataan Chanyeol tadi seolah membuat dirinya sadar bahwa dirinya adalah seorang pengganti tunangan Chanyeol yang sesungguhnya. Sama seperti cincin yang sekarang sedang dia kenakan.
"Ne, chagi~" Baekhyun tersenyum. Mencoba menyembunyikan perasaan sesaknya.
.
.
.
Puas berjalan-jalan, sekarang disinilah mereka. Menaiki bianglala. Mereka berdua menikmati suasana senja. Baekhyun mengenggam tangan Chanyeol dengan erat. Seolah saat dia melepaskan genggaman tangan itu, Chanyeol akan hilang dari hadapannya.
Bianglala yang mereka naiki berhenti pada puncak yang paling atas. Dari sini Baekhyun bisa melihat pemandangan kota Seoul yang sangat indah. Dia pasti akan merindukan keindahan ini.
"Chanyeol-ah..." Baekhyun mengalihkan pandangannya pada Chanyeol yang sedang tersenyum bahagia.
"Hm?" Chanyeol menaikkan satu alisnya.
"Kenapa... kenapa kau bisa jatuh cinta padaku?" tanya Baekhyun lirih.
"Wae? Itu pertanyaan konyol sayang~ tentu saja karena aku tertarik padamu." Jawab Chanyeol tanpa menghapus senyuman dari wajahnya.
"Jadi begitu..."
"Ya. Saat pertama kali melihatmu, aku pikir 'ah~ini pasti akan menjadi hal yang buruk'. Tapi selama aku membullymu dulu, aku merasa ada sedikit rasa sesal di dalam hatiku. Mungkin aku melakukan pembullyan itu di karenakan merasa bersalah atas meninggalnya Yoona. Kau benar, ini semua bukan salahmu. Ini hanya masalah keadaan yang seakan membuatmu menjadi salah satu penyebab kematiannya. Jika saja kita dipertemukan lebih awal sebelum aku bertemu dengan Yoona. Mungkin dari awal aku sudah jatuh untukmu Byun Luhan." Chanyeol menatap Baekhyun lembut.
Mata Baekhyun berkaca-kaca. Chanyeol salah, yang benar adalah jika saja dia tidak menggantikan posisi Luhan sekarang. Pasti Chanyeol sudah bahagia bersama dengan cinta sebenarnya.
"Chanyeol-ah... ayo berjanji padaku. Kau tidak akan pernah berhenti mencintai seorang Byun Luhan. Apapun yang terjadi. Bagaimana nantinya aku. Kau harus tetap mencintaiku, mengerti." Setitik air mata Baekhyun jatuh mengalir di pipinya.
"Hei... tentu saja. Aku akan terus mencintaimu, tidak ada yang lain hanya dirimu. Sayangku." Chanyeol menatap Baekhyun penuh cinta, dan menghapus air mata yang mengalir di pipi lelaki kecilnya itu.
"Saranghae." Kata Baekhyun sebelum menghapus jarak di antara mereka. Baekhyun menempelkan bibirnya di bibir Chanyeol dengan lembut. Tidak ada lumatan, tidak ada hisapan, hanya saling menempel dan saling menyalurkan perasaan cinta masing-masing.
Berbahagialah untukku Park Chanyeol...
.
.
.
Keadaan bandar udara di jam tiga dini hari terlihat sepi. Hanya ada beberapa penumpang pesawat yang lewat tanpa saling peduli satu sama lain. Baekhyun duduk di dalam ruang tunggu keberangkatan luar negeri sendiri. Tangan mungilnya mengelus jari manis yang tersemat cincin pemberian Chanyeol. Saat mendengar perintah keberangkatan Baekhyun berdiri dan berjalan pergi mejauh. Ini adalah keputusannya.
"Selamat tinggal Park Chanyeol..."
.
.
.
END
.
.
.
Saya kembali membawa penderitaan pada Baekhyun...
Mianheyo baby Baek! .
Nih... saya bawa lanjutannya bagi yang udah nungguin~ lama kan? tuhkan... saya bilang juga apa, saya mah orangnya jujur. Hahaha...
Makasih bagi yang udah nunggu, yang udah review, yang udah baca cerita ini tapi gak review juga makasih, yang foll/fav juga makasih, yang baca aja juga makasih... saya cinta kalian...
Maaf yang nungguin Luhan atau Sehun, saya simpen dulu mereka berdua ya~ besok-besok saya keluarin lagi. Tenang aja~
Itu tulisan end Cuma gaya-gayaan aja kok, udah kepingin buat kata end, jadi ya saya buat aja.. hahahah... aslinya masih ada lanjutannya kok... saya gak suka gantung...
Typo maklumin yah...
Review?
