Lee : Ituide nyiram Lucius pake air terinspirasi di film barat yang entah saya lupa judulnya. Mereka akan kencan dalam beberapa chapter mendatang. Hueheee ada saran dan masukan mungkin?

Moku-Chan : Tenang kak, insya Allah saya akan selalu update kok. Paling lama mungkin satu bulan. Untuk masalah Luna yang ketahuan hamil atau nggak itu ada hint (lagi) di chap ini. Saya juga udah ngasih hint loh di chapter sebelumnya; yaitu pas nafsu makan Luna tiba-tiba naik :D Untuk reaksi Lucius masih disembunyikan hahahaa! Ada saran dan masukan lagi mungkin?

WolfShad'z

A/N : Kembali lagi dengan saya. Sebenernya, saya udah mikir chapter ini lamaaa sekali tapi baru bisa dituangkan disini *terharu* Daan, bersiaplah, chapter depan mungkin agak angst yang bikin baper. Karena apa? Mood galau saya balik *audience bersorak* and that means, ability saya buat nulis yang galau-galau kembali ahahaa. Give me more support guys!

WolfShad'z xx

.

.

.

Disclaimer : Milik JKR seorang kecuali beberapa OC yang ciptaan saya. Setiap cover di akun ini kepunyaan saya.

Summary : Lucius Malfoy, mau tak mau harus menerima kenyataan jika ia harus menikahi Luna Lovegood. Dibalik aturan yang dibuat oleh kementrian, mereka memiliki perjanjian mereka sendiri. Apakah perjanjian yang mereka buat akan mereka langgar sendiri?

Rating : T+ lah.

Genre : Drama, Romance, Friendship and Family. Drama and Romance mostly.

Note : Snape, Dumbledore dan Fred tidak akan pernah mati di fic saya. Berlawanan dengan buku ataupun film. Lucius 45 tahun, Luna 21 tahun.

Warning : OOC, Typo dan tata bahasa buruk. Kritik dan saran selalu diterima. Flame akan segera dihapus.

Happy Reading!

.

.

.

Hari Jum'at yang tenang, Lucius terbangun dengan kegundahan dihatinya. Entah apa yang membuatnya begitu gundah, ia merasa benar-benar hampa. Setiap pagi ia terbangun dan mendapati dirinya berbaring sendirian. Rasanya aneh, setelah belasan tahun ia terbangun dengan Narcissa disampingnya ia harus bangun di ranjang yang amat besar seorang diri. Lalu lima tahun setelah perceraiannya dengan Narcissa, ia dipaksa menikahi wanita muda yang bahkan tidak ia kenal secara pribadi.

Lucius duduk diranjangnya, memikirkan betapa lucunya tak takdir yang menimpa dirinya saat ini. Pernikahannya dengan Luna tanpa didasari cinta, melainkan sebuah paksaan yang mengikat. Dan mereka berdua, baik Luna maupun Lucius sebenarnya saling membenci. Namun bak disapu oleh ombak, kebencian itu perlahan-lahan memudar dari hati mereka. Kebencian itu digantikan oleh sesuatu yang baru. Sesuatu yang telah lama hilang dari diri Lucius. Sesuatu yang ia rindukan.

Lucius bergegas untuk mandi dan segera turun untuk sarapan. Ia tidak ingin melewatkan sarapan lagi atau ia akan kelaparan lagi. Lucius paling benci dengan segala sesuatu yang tidak tepat waktu, termasuk jam makannya. Bagi Lucius, segala sesuatu harus berjalan sesuai dengan rencana. Selain membenci hal-hal yang diluar rencana, ia juga membenci pembicaraan-pembicaraan yang tidak penting atau bersifat pribadi. Baginya, ada hal yang lebih penting daripada hal tersebut.

Lucius memang terlihat dingin, tanpa emosi, dan nampak tidak peduli hampir dengan apapun yang ada didekatnya. Tapi sebenarnya ia peduli. Ia benar-benar peduli dengan siapapun yang ia kasihi. Sebenarnya, Lucius adalah orang yang menyenangkan, yang ber-cover dingin tak berperasaan. Ia hanya menunjukkan karakter aslinya kepada orang-orang yang ia kasihi. Orang-orang yang ia cintai.

Ia turun untuk sarapan. Saat ia berjalan turun, ia melihat Luna yang sudah berjalan ditangga. Nampaknya ia juga sedang akan berjalan ke meja makan. Ia hanya memandang gadis itu dalam diam sambil berjalan tanpa suara. Tak lama setelah Lucius menuruni anak tangga teratas, Luna mendongak. Ia memberikan sebuah senyum polos pada Lucius sambil berujar, "Ah, kau sudah bangun rupanya."

Lucius menarik sebelah bibirnya, membentuk sebuah seringai. Bibirnya berkedut kemudian menjawab, "tentu. Aku tidak akan membiarkanmu menyiramku dengan air lagi, Luna."

Luna terkekeh. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Jika kau mudah untuk dibangunkan, itu tidak akan terjadi, Lucius."

Mendengarnya Lucius hanya mendengus cepat. Sebenarnya, Lucius selalu merasa senang tatkala mengingat Luna menyiramnya dengan air minggu lalu. Ia begitu bahagia ketika melihat gadis itu tertawa karena hal kurang ajar yang dilakukannya kepada sosok seperti dirinya—seorang Lucius Malfoy. Entah kenapa Lucius tidak bisa marah terhadapnya. Mungkin apa yang dikatakan Narcissa benar; gadis Ravenclaw itu sudah meracuni pikiran Lucius.

Mereka sampai di meja makan hampir bersamaan. Lucius duduk dengan santai sambil menyisip ujung cangkir ditangannya. Ia menikmati kopi panas tanpa gula dihadapannya dengan perlahan. ia merasakan nikmat kopi arabica berusia sepuluh tahun yang meluncur turun melewati tenggorokannya. Lucius benar-benar memilih kopi-kopi terbaik untuk dikonsumsinya.

"Apa rencanamu hari ini, Lucius?" Luna membuka percakapan dengan bertanya kepada Lucius terlebih dahulu. Luna lagi-lagi mengambil porsi makanan yang cukup besar, membuat Lucius sedikit heran. Lucius lebih memilih untuk mengabaikannya dan membuat kesimpulan sendiri; yakni Luna sedang PMS.

Memikirkan itu, otak Lucius tertawa.

Lucius menyelesaikan kegiatannya dengan kopi ditangannya, menaruhnya kembali diatas cangkir berwarna putih. Ia kemudian menjawab, "Aku akan akan ke London untuk memastikan tidak ada karyawanku yang membuat kesalahan merugikan lagi."

"Ah, kau sepertinya benar-benar sibuk. Kau juga terlihat sedikit kacau," Luna mulai mengkritik, terlalu jujur.

"Nampaknya kau benar-benar memperhatikanku. Aku menduga jika kau mulai menyukaiku, my dear,"Lucius berkata, sedikit flirty. Ia benar-benar menyukai saat wajah Luna menjadi merah ketika Lucius mencoba mendekatinya, atau saat tak sengaja bersentuhan.

Luna diam, ia sekeras mungkin mencoba menahan diri untuk tidak memperlihatkan wajahnya yang sudah seperti kepiting rebus. Ia menunduk, menyantap makanannya lagi. Lucius benar-benar menebak isi hati Luna saat ini. Luna berusaha mengatur nafasnya agar tidak terlihat kacau. Lucius nampak menikmati perubahan wajah Luna yang konstan itu, ia kemudian menyahut lagi, "Aku benar, bukan?"

Luna mendesah, "Lucius, mengagumi diri sendiri secara berlebihan itu tidak baik," Luna melemparkan sangkalan yang cukup logis. Tapi masih kurang logis bagi Lucius. Ia masih ingin melihat wajah Luna yang masih merah.

"Orang-orang menyangkal kebenaran, Mrs Malfoy," ia membalas. Lucius mengulangi ucapan Rita Skeeter beberapa hari lalu.

"Nah, sekarang kau terdengar seperti Rita Skeeter," Luna tertawa. Lucius hanya tersenyum tipis melihat Luna tertawa. Ia membatin jika gadis ini mungkin telah mengubah hidupnya selamanya. Lucius menyadari, setelah kontrak berakhir, mereka mungkin akan berpisah dan Luna akan meninggalkannya. Ia—Lucius, berusaha untuk membuat wanita ini tersenyum selagi ia masih bisa.

"Ngomong-ngomong, apa kau akan pergi ke The Burrow?" Lucius mengalihkan topik dengan cepat.

"Ya, aku akan pergi pagi ini," Luna menjawab. Lucius memincingkan matanya.

"Pagi ini?"

Luna sedikit tercekat mendengarnya. Ia lupa tidak bilang ke Lucius jika dirinya akan ke The Burrow pagi ini. ia pun menyahut pertanyaan Lucius dengan cepat, "Astaga! Apa aku belum bilang padamu?"

Lucius menggeleng, kemudian menjawab, "Tidak. Kau hanya bilang jika kau akan pergi ke The Burrow, tapi tak mengatakan detail waktunya kapan," Lucius menjawab dengan ringan. Ia menyelesaikan makannya dengan meletakkan garpu dan pisau dipiringnya.

"Oh, aku benar-benar minta maaf. Aku lupa," Luna menjawab.

Mendengarnya, Lucius mendesah lagi. ia membenahi posisi duduknya yang sudah mulai tidak nyaman, "Tak perlu dipikirkan. Tapi, apa yang kau lakukan di The Burrow?" Lucius bertanya.

"Ginny ingin belajar membuat pudding dariku karena Mr dan Mrs Weasley sedang tidak dirumah. Selain itu, aku juga merindukan Fred dan George," Luna menjawabnya dengan jujur.

Lucius kaget, "kau bisa memasak?" pria itu bertanya. Sebenarnya itu adalah pertanyaan bodoh yang tak perlu ditanyakan. Sudah jelas seorang wanita bisa masak, terlebih Luna tidak memiliki peri rumah di rumahnya.

"Aku seorang wanita, Lucius. Sudah seharusnya aku bisa memasak," Luna menjawab.

Lucius mengangguk, mengabaikan kebodohannya tadi. Ia tiba-tiba merasa penasaran dengan rasa dari masakan Luna. Ia sedikit bosan dengan masakan dari peri rumah. Ia membayangkan dirinya yang tengah sibuk bekerja, tiba-tiba Luna datang mengantarkan makanan hasil masakannya kepada Lucius. Lucius berani menjamin jika dirinya pasti tidak akan segera memakannya, tetapi memandangi makanan itu sambil berangan-angan yang aneh-aneh.

Selain itu, didalam pikirannya ia mendapati dirinya sedang makan makanan yang dibawakan Luna. Ia membayangkan dirinya makan, dengan Luna sedang memandanginya penuh cinta. Ia juga bisa membayangkan Luna melempar gurauan-gurauan yang membuat Lucius merasa bahagia. Didalam pikirannya, Luna berkali-kali melemparkan senyuman yang membuat Lucius terasa meleleh.

"Aku akan kekamar untuk bersiap-siap," Ucapan Luna membangunkan Lucius dari lamunannya itu.

"Oh, uh, ya tentu. Kau berangkat sendiri?" ia bersuara sedikit gugup karena pikirannya sedang tidak siap untuk menerima obrolan baru. Ini pertama kalinya Lucius melamun. Luna tidak menjawab, hanya memberi anggukan pelan kepada Lucius. Ia kemudian bangkit dari duduknya, kemudian mulai berjalan menjauh.

Lucius melihat Luna semakin menjauh. Ia kembali diam, yang tak lama kemudian dikagetkan oleh kehadiran Priam yang tiba-tiba meloncat kepangkuannya. Lucius mulai mengusap-usapkan tangannya dipunggung kucing berwarna hitam dengan loreng kelabu itu dengan lembut. Priam mengeong keras berkali-kali, seakan-akan menarik perhatian Lucius untuk memandangnya.

"Ada apa, Priam?" Lucius bergumam pelan. ia memandang tepat kemanik emas milik Priam.

Priam tak menjawab, hanya memandang Lucius tajam. Priam nampaknya sedang memerintah Lucius untuk melakukan sesuatu. Ia tidak mengerti bahasa kucing, tapi Lucius merasa ada ikatan yang kuat antar dirinya dan kucingnya ini. Konon dalam dunia sihir, kucing bisa membaca pikiran manusia. Bahkan dalam beberapa kasus, perasaan mereka tembus alias nyambung. Dan nampaknya hal ini berlaku terhadap Priam dan Lucius.

"Kau ingin makan lagi?" Lucius bersuara. Ia mencuil sedikit tuna dari sandwich dihadapannya. Lucius kemudian menyodorkannya didepan hidung Priam, namun kucing itu tidak bergeming. Biasanya, Priam menjadi agresif saat Lucius menyantap sandwich tuna. Tapi kali ini Priam nampak sedang tidak minat untuk memakan apapun. Lucius menduga pasti kucingnya ini ingin sesuatu dari tuan-nya. Disamping itu, ekornya berkibas-kibas berkali-kali.

Lucius mendesah, "Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba menjadi aneh. Apa kau memerintahku untuk mengantarnya?" Lucius memandang kucingnya dengan jengkel. Ia mengatakan apa yang tiba-tiba melesat didalam kepalanya, memandang Priam tajam. Lucius, yang tangannya masih diatas punggung Priam bisa merasakan getaran kerr kerr yang tiba-tiba keluar. Lucius memandang mata Priam, ia berkedip satu kali. Kali ini kibasan ekornya juga terhenti.

Lucius kembali mendesah, "Baiklah, baiklah. Aku akan menurutimu kali ini," Lucius berujar pasrah. Getaran yang keluar dari tubuh Priam semakin keras, ia juga menggusel-gusel-kan kepalanya diperut Lucius. ia—Lucius juga mendapati Priam sedang berguling-guling dipangkuannya, membuat Lucius merasa jika kucing ini benar-benar bisa membaca pikirannya.

Ia menarik nafas lagi, "Kau keberatan untuk memberitahuku pikiran Luna?" Lucius bertanya. Kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutnya. Ia mengibaskan ekornya lagi.

"Jangan bilang kau juga menyukai dia! Kau tidak boleh menyukainya, dia milikku, Priam!" Lucius masih berbicara sendiri dengan kucingya. ia benar-benar merasa bodoh sampai berbicara dengan kucingnya. Tapi lebih baik berbicara dengan kucing daripada berbicara sendirian. Toh, berbicara dengan kucing juga membuat perasaan kita lebih baik.

"Kurasa aku sudah benar-benar gila sampai berbicara dengan kucing," kali ini Lucius membatin. Kucing itu melompat turun dari pangkuan Lucius. Lucius terkekeh, kemudian bergumam lagi sambil memandang Priam yang berjalan menjauh sambil mengibaskan ekornya,

Bersamaan dengan perginya Priam, Lucius mendapati Luna sudah mulai berjalan turun. Ia tidak memakai pakaian yang glamor, hanya mengenakan setelan santai. Celana jeans hitam dengan kaos lengan panjang berwarna kuning. Ia juga membiarkan rambutnya terurai dipundaknya. Lucius bisa mendengar Luna bersuara, "Aku akan kembali besok siang atau..sore, Lucius. kau tidak keberatan, kan?"

Lucius memaksakan senyumnya, kemudian menjawab, "Luna, aku tidak akan melarangmu melakukan apapun yang kau inginkan. Lagi pula, kontrak yang kita buat mengatakan untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing. Jadi, tentu aku tidak akan melarangmu."

Ia sebenarnya tidak ingin membiarkan Luna pergi, tetapi ia juga tidak ingin mengekangnya. Lucius tidak ingin kebencian Luna terhadapnya semakin bertambah. Selain itu, Lucius yakin jika para Weasley itu bisa membuat Luna tertawa terbahak-bahak, melupakan hidupnya yang harus berakhir dengan mantan Death Eater menyedihkan sepertinya. Ditambah, Weasley kembar itu lebih menyenangkan daripada dirinya yang selalu serius.

Luna merasa aneh ketika mendengar Lucius menyinggung kontrak yang mereka buat. Luna sudah tidak memikirkan itu, karena banyak sekali aktivitas yang mereka lakukan. Dan hampir empat puluh persennya melanggar perjanjian itu. Luna tidak merasa keberatan jika suatu saat ia harus merobek kontraknya. Ia justru akan merasa senang jika perjanjian-perjanjian itu dilanggar semua. Hahaha, bad girl.

"Aku akan mengantarmu sampai ke The Burrow," Lucius bersuara lagi.

"Bukankah kau harus ke London?" Luna bertanya.

Lucius mengangguk pelan, lalu menambahkan, "aku yakin pekerjaan bisa menunggu. Lagipula, tidak sopan membiarkan seorang wanita bersuami bepergian sendiri."

Luna tersenyum kepada Lucius, kemudian berterima kasih. Tak lama kemudian, Lucius mengangkat tangannya setinggi dada. Luna mengerti maksudnya, ia kemudian mengenggam pergelangan tangan Lucius dengan lembut. Sedetik kemudian, mereka sudah menghilang dan muncul ditempat lain.

-ooOOoo-

Lucius dan Luna muncul di sebuah tanah lapang. Lima puluh meter didepannya, terdapat rumah tua yang tinggi dengan mantra yang menahan agar rumah tersebut tidak roboh. Lucius mengangkat bibir atasnya jijik ketika melihat kandang ayam yang kotor. Ia berusaha untuk tidak mempedulikannya, dan mengikuti langkah Luna yang semakin dekat dengan pintu rumah.

Lucius berhenti didepan pintu, Luna berada tak jauh disampingnya. Tangannya yang berbalut dengan sarung tangan hitam mulai mengetuk pintu kayu jati itu. Lucius mengetuknya beberapa kali hingga akhirnya seorang pria berkacamata membuka pintunya. Pria itu memiliki rambut yang berantakan dengan hidung besar.

"Mr Malfoy? Apa yang kau lakukan disini?" Harry bersuara. Ia kaget melihat mantan musuhnya berada dihadapannya. "Hai, Luna!" ia menyambung.

Luna mengangguk, sementara Lucius belum menjawab, ia mengangkat alisnya sebelah dan memberikan sebuah seringai. Ia memandang mata hijau Harry dengan tajam, "Aku hanya ingin memastikan jika istriku tiba dengan selamat, Mr Potter," ujar Lucius. ia memperlebar seringainya.

"Siapa yang datang, Harry? Apakah Luna?" suara seorang wanita terdengar ditelinga Lucius. ia juga mendengar sebuah langkah yang kian mendekat. Lima detik kemudian, muncullah seorang wanita berambut merah jahe dibelakang Harry. Ia adalah Ginny Potter. Ia pun berteriak senang, "Luna! kupikir kau tidak datang!"

Ginny berubah ekspresi ketika melihat Lucius. Lucius memandang Ginny dengan tajam, ia mendengar Ginny menyapanya, "Mr Malfoy. Silakan masuk."

"Tidak perlu repot-repot, Mrs Potter. Ada hal lain yang menungguku," Ia bersuara dengan nada dingin. Luna memutar bola matanya ketika mendengar nada keangkuhan dari Lucius. ia masih belum berubah juga. Yah, Luna tidak mengharapkan Lucius berubah, justru menghadapi kesombongannya itu merupakan suatu tantangan tersendiri bagi Luna. Dalam beberapa kasus, Luna harus menggunakan trik ke-Ravenclaw-annya untuk menghadapi Slytherin-isme Lucius yang parah. Lucius kemudian menyambung ucapannya, "Aku permisi."

Lucius berbalik setelah melihat Ginny mengangguk. Lucius memberi sebuah anggukan kepada Luna, kemudian berjalan menjauh. Sementara itu, Harry hanya diam. Ia masih tidak percaya jika wanita sebaik Luna harus menikahi orang seperti Lucius. Hey, ayolah! Masih banyak pria yang lebih muda, dan lebih baik dari seorang Lucius Malfoy. Hidup ini terkadang lucu. Lucu sekali. Terdapat misteri-misteri yang tidak terduga seperti ini.

"Lucius,.." Luna memanggil. Lucius berhenti tak jauh dari Luna. Ia tak membalik badannya, hanya menoleh kearah Luna. Ia melihat Luna tersenyum, dirinya hanya mengangkat sebelah alisnya pertanda sedang menunggu lawan bicaranya untuk menyelesaikan ucapannya.

"..jaga dirimu. Jangan lupa makan," Luna menyelesaikan ucapannya. Alis Lucius terangkat semakin tinggi, ia tidak tahu kenapa Luna tiba-tiba begitu perhatian dengannya beberapa hari terakhir ini. Ia tak bisa menyimpulkan arti dari perhatian Luna pada dirinya. Masih terlalu dini untuk membuat sebuah kesimpulan. Lagipula, Lucius tidak ingin terlalu GR.

Lucius mengangguk, kemudian menghilang. Harry dan Ginny melempar pandangan tak percaya. Mereka merasa kaget dengan apa yang ia dengar. Memang adalah hal yang wajar jika seorang istri memperhatikan suaminya. Tetapi aneh saja bagi mereka berdua yang melihat ini. keduanya tahu jika baik Luna maupun Lucius dulunya saling membenci. Atau jangan-jangan memang ada sesuatu yang lain.

"Ayo, masuklah. Ibu dan ayah sedang berada di Perancis untuk mengunjungi besan mereka. Dan aku sedang ingin memasak pudding. Aku dan Harry memutuskan untuk tinggal disini sampai kedua orang tuaku kembali. Aku beruntung Kingsley memberiku ijin cuti selama satu minggu. Kau tahu, harus ada yang mengawasi kedua kakak kembarku itu," Ginny menjelaskan. Harry mengangguk setuju.

"Ngomong-ngomong, Luna, sepertinya kau akrab sekali dengan Mr Malfoy," Harry berujar. Ia memandang Luna dari balik kaca mata bundarnya.

Luna tersenyum, "dia adalah suamiku, Harry. Tentu saja kami akrab," Luna menjawabnya dengan enteng.

"Benar. Maaf," ia menyahut. Kemudian bersuara lagi, "aku akan bersiap kekantor. Ginny, sebaiknya kau segera memasakkan sesuatu untuk Fred dan George sebelum mereka bangun. Atau kau ingin mereka membakar dapur dengan masakan-eksperimen konyol mereka," Harry menambahkan. Ia kemudian berjalan menuju kamarnya untuk mengambil segala sesuatu yang diperlukan.

Dan ini dia, obrolan para wanita dimulai.

Ginny baru membuka suara setelah Harry menghilang dibalik pintu kamarnya. Ia bersuara, "Bagaimana perasaanmu setelah hampir lima bulan menikah dengannya?" Ginny membuka suara. Ia tidak bisa menahan rasa penasarannya terhadap kehidupan Luna. itu hal yang wajar, karena Luna adalah sahabatnya sejak tahun ke-empatnya.

Luna mendesah, ia bingung harus berkata apa. Otaknya masih berputar-putar mencari jawaban logis untuk menjawab pertanyaan Ginny. Luna tidak pernah berbohong kepada Ginny, dan ia juga tidak akan berbohong kali ini. "Ini sedikit rumit. Maksudku, ia orang yang baik; sama sekali tidak seperti yang kubayangkan," Luna menjawab. Sementara Ginny tengah mengernyitkan dahinya bingung.

"Dia tidak memperlakukanmu seperti...tahanan, kan? Aku bia memberikannya hukuman jika dia sampai memperlakukanmu dengan tidak baik," Ginny bertanya lagi.

Luna terkekeh pelan sambil menggeleng kepalanya. Ia teringat pertama kali menerima kabar jika dirinya harus menikah dengan Lucius Malfoy. Ia menjadi begitu paranoid, bahkan menyiapkan mantra-mantra khusus jikalau suatu saat Lucius memperlakukannya dengan tidak baik. Ia—Luna sampai tidak bisa tidur berhari-hari, membuat dirinya kacau.

Tapi apa yang dipikirkan Luna itu tidak benar. Bayangan-bayangan negatifnya juga tidak terbukti kemutlakannya. Malahan, Lucius memperlakukannya dengan amat baik, layaknya seorang wanita bangsawan. Yah, mungkin ada beberapa kasus yang membuat mereka bertengkar. Tetapi tetap saja, Lucius tidak pernah memperlakukannya dengan buruk. Hal ini membuat Luna berpikir, apakah selama ini penilaiannya terhadap Lucius Malfoy itu salah.

Benar salahnya penilaian Luna terhadap Lucius selama ini tidak lagi penting. Ada sesuatu yang lebih penting yang mengganjal di hati Luna. Sesuatu yang tidak ditemukannya didalam buku-buku tebal, ataupun orang lain. Ia melihat sesuatu dari dalam diri Lucius yang membuat jiwanya bergetar. Luna sendiri tidak paham kenapa sesuatu itu muncul hampir bersamaan dengan hatinya yang baru saja dipatahkan oleh Neville Longbottom, yang kabarnya dipasangkan dengan Hannah Abbott oleh kementerian.

"Tidak. Ia memperlakukanku dengan amat baik. Entah hanya perasaanku saja, atau aku bisa merasakan jiwaku bergetar saat ia menyebut namaku," Luna bersuara. Ginny terdiam, setengah terkejut.

"Apa maksudmu? Nampaknya, kau sudah memiliki 'sesuatu' terhadapnya," Ginny bersuara, kemudian tertawa. Ia berniat menggoda Luna, dan mengharap Luna ikut tertawa seperti biasa. Tapi kali ini tidak. Ginny malah mendapati wajah Luna menjadi merah, tiba-tiba menjadi gugup sendiri.

Luna menggaruk hidungnya yang tidak gatal, ia menarik nafas panjang lagi. "Jelaskan padaku arti 'sesuatu' itu, Gin," ujarnya. Setengah memerintah.

"Akan kuperjelas kalau begitu," Ginny menimpali. Ia berdeham beberapa kali sebelum mengeluarkan beberapa patah kata lagi, "Kau jatuh cinta pada Mr Malfoy," Ginny menyelesaikan ucapannya. Luna merasa ada sesuatu yang menohok lehernya.

Ginny memberikan senyuman aneh kepada Luna, matanya menyipit. Ia bersuara lagi, "Haaa, aku benar, kan?"

Mendengarnya, Luna tak mejawab. Ia hanya mengangkat bahu dengan tersenyum malu, menyembunyikan wajahnya yang tiba-tiba merona. Ginny sudah menebak rahasianya, dan ia hanya berharap semoga dirinya tidak terlihat bodoh. Ia memaksakan diri untuk tidak mengumpat.

-ooOOoo-

Malam tiba, Lucius kembali dari London. Ia sebenarnya berniat langsung pulang, tetapi setelah ia teringat jika Luna tidak berada di rumah, ia memutuskan untuk pergi ke The Burrow. Ia tidak ada niatan untuk mampir, ia hanya sedang akan memata-matai Luna. bukan memata-matai, tepatnya melihat apa yang dilakukan Luna di rumah para Weasley itu. ia juga memastikan sesuatu.

Lucius berapparate dibawah pohon besar, cukup jauh dari The Burrow. Ia mengintai dari kejauhan, didalam kegelapan. Ia sudah terbiasa melakukan ini, jadi bukan hal yang sulit untuk tetap tidak terlihat. Apalagi dengan jubahnya yang serba hitam itu memperlancar langkahnya. Matanya masih cukup tajam untuk pria seusianya.

Saat ia berdiri dibawah pohon besar yang rindang, tanpa ada sedikitpun cahaya disekitarnya kecuali dari The Burrow, Lucius memincingkan mata kelabunya. Ia mempertajam fokus matanya, pandangannya menerobos jendela segi empat dari lantai satu. Pupilnya membesar ketika ia melihat Luna sedang tertawa terbahak-bahak bersama si kembar Weasley. Lucius bisa melihat jika para Weasley itu sedang melemparkan lelucon kepada Luna.

Dan dari kejauhan, Lucius bisa melihat kebahagiaan yang terpancar diwajah Luna yang cantik. ia menyaksikan seakan-akan semua kesedihannya, depresinya dan kegundahan Luna menghilang saat dikelilingi para Weasley itu. Lucius bisa merasakan dadanya berdesir. Ia menyadari jika Luna tidak akan pernah bahagia dengannya. Ia tidak bisa membuat Luna tertawa seperti yang dilakukan para Weasley itu. Ia tidak akan pernah bisa membuat lelucon seperti itu.

Demi samudra dan tujuh lautan! Lucius baru saja membanding-bandingkan dirinya dengan Weasley!

Lucius memang tidak mempunyai sisi humor seperti mereka. Lucius memang tidak akan pernah bisa membuat Luna tertawa dengan leluconnya yang sangat garing. Dan Lucius, sadar jika dirinya tidak akan pernah bisa membuat wanitanya bahagia. Tapi, diatas segala-galanya, Lucius mempunyai cinta. Cintanya yang akan senantiasa menunjukkan jalan untuk membuat Luna merasa spesial.

Namun, Lucius masih bersikeras untuk tidak mencampur adukkan antara pikiran dan perasaannya.

Ia menarik nafas panjang, kesedihan terpancar dimata kelabunya. Ia kemudian berbisik kepada dirinya sendiri, sebelum akhirnya ia kembali ke Malfoy Manor, "aku akan senang jika dia senang."

-ooOOoo-

Pagi tiba dengan cepatnya. Harry, Ginny, Fred dan George serta Luna sudah bangun. Mereka tengah menunggu makanan yang sudah disiapkan oleh Ginny dan Luna. Di meja makan hanya terdapat lima orang, tetapi rasanya ramai sekali. Seperti terdapat ratusan orang. Dan kalian jelas tahu sumber keramaian itu dari mana, yakni dari Fred dan George yang sibuk mendebatkan Ramuan Mujarab Penyebab Bisul Buatan yang baru mereka rancang.

Seketika itu pula, mereka berempat dikagetkan oleh Luna yang tiba-tiba mual. Luna mengeluarkan suara hoek-hoek seperti akan muntah. Ginny, yang ada disampingnya kemudian kaget. Ia menghentikan aktivitasnya. Ia kemudian melemparkan pertanyaan kepada Luna, "Luna, kau baik-baik saja?"

"Aku baik-baik saja. Sepertinya aku masuk angin," Luna menjawab. Ia memegangi perut dan kepalanya.

"Luna, kau pasti hamil," Suara Fred menyelinap masuk kedalam telinganya.

"Benar sekali. Mual dipagi hari pertanda jika kau sedang hamil," George menyahut setuju.

"Fred, George, tidak bisa kah kalian serius sehari saja?" Ginny memandang kedua kakaknya geram. Ia melemparkan death glare kepada kakak-kakaknya yang sangat hobi membanyol itu. Diam-diam Harry setuju dengan ucapan Fred dan George, tetapi ia lebih memilih diam dan menahan tawanya. Ia tidak ingin kena sembur Ginny yang sudah mulai terdengar seperti Molly Weasley.

"Kau terdengar seperti mom, Gin," Fred menyahut lagi. George mengangguk setuju.

Ginny memutar bola matanya kesal, ia mendengar Harry bersuara, "mungkin mereka benar. Lebih baik kau periksa ke St. Mungo," Harry menyarankan.

Luna memikirkan kembali ucapan Fred dan George. Mereka mungkin benar, karena ia dan Lucius pernah melakukan 'itu' beberapa bulan lalu. Tapi ia berdoa semoga ucapan Weasley kembar iu tidak benar. Toh, kalaupun itu benar, ia tak yakin Lucius akan menerimanya. Luna masih belum siap untuk terluka lagi. "Tidak. Aku akan langsung pulang saja," Luna menyahut.

"Tidak, aku akan mengantarmu ke St. Mungo hari ini juga," Ginny memaksa. Harry lagi-lagi hanya mengangguk setuju. Luna benar-benar tidak siap. Bukan karena ia tidak siap memiliki anak, tetapi ia tidak siap untuk membayangkan reaksi Lucius. didalam pikirannya, Luna bisa melihat Lucius marah besar, dan merubah sikapnya menjadi dingin kepada Luna. Dan ia tidak siap untuk menerima itu.

BERSAMBUNG

A/N : Okay serius, chapter ini cukup susah. Dan, saya juga mau menginformasikan kalau chapter depan mungkin agak lama updatenya. Saya lagi agak bingung memilih reaksi Lucius nantinya. Kalau ada saran masukan, please monggo silakan ditulis dikolom review. Nanti saya buat bahan pertimbangan ;)

Fyi, chapter Lucius mengintai Luna itu serius bikin saya baper sendiri ;_;

Lucius : "Halah, bilang aja kamu dapet flesbek. You betrayed Jason. Again.

Shad'z : "N-No. I didn't."

Lucius : "Yes you did."

Shad'z: *sigh* "Oh, serius kalian harus lihat foto terbarunya Jason di A Night To Remember. Sumpah, dia ganteng banget. Belum lagi foto terbarunya di twitter. YA TUHAN SUMPAH JASON TAMBAH UMUR TAMBAH GANTENG APALAGI DIA UDAH ADA SILVER HAIRNYA JADI MAKIN ADUHAI AH SIAL SIAL KENAPA SAYA JADI NGE FANGIRL DISINI. (bisa dilihat ditumblr nya misssuzeh)

*TARIK NAFAS PANJANG* *HEMBUSKAN* As always, kritik dan saran selalu diterima dengan baik. Flame akan segera dihapus.

WolfShad'z xx