Fantasos.. Dewa mimpi satu lagi yang baru-baru ini telah kuketahui.
Jika dia hadir di dalam kehidupanku bersama dengan Naruto-kun, apa yang akan terjadi pada Naruto-kun?
Apa ia akan marah seperti disaat dewi Afrofid datang menghampiriku?
Kalau Naruto-kun marah, seperti saat itu. Semoga aku dapat meredakan kemarahannya..
•¤• Blue Devil •¤•
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto-sensei
Genre: Romance, Fantasy & Friendship
Pairing: Naruto Uzumaki & Hinata Hyuuga
Rated: Teen
::
::
"Fantasos.." mata Naruto memerah seketika. Gigi taringnya yang tidak terlalu terlihat kini terlihat sangat jelas sekali. Raut wajahnya juga sangat menyeramkan. Hinata menjadi takut karenanya.
Ia menatap seseorang yang mirip seperti Naruto. Saat diperhatikan lebih jelas, ternyata ia tidak terlihat sama dengan Naruto karena ia memiliki rambut bewarna hitam. Hinata kembali menatap Naruto, ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Suaranyapun tidak dapat keluar karena saking ketakutannya.
Kemarahan Naruto sepertinya lebih besar dibandingkan saat bertemu dengan dewi cinta itu. Sehingga Hinata tidak tahu harus berbuat seperti apa.
"Hei nona." merasa dirinya dipanggil, akhirnya Hinatapun menengokkan kepalanya kepada dewa yang sekarang berada di pojok ruangan tersebut.
"Selama bersama dengan saudaraku, kamu pasti penasaran dengan wujud asli saudarakukan? Kalau begitu akan kutunjukkan kepadamu sekarang." Naruto begitu terkejut disaat Fantasos mengatakan hal itu. Tapi yang hanya ia lakukan hanya menatap saudaranya itu dengan tatapan tajam. Tatapan seperti ingin membunuh.
"Naruto-kun.." Hinata tidak dapat melakukan apapun. Ia hanya memanggil nama Naruto, berharap supaya suaranya terdengar oleh Naruto sehingga kemarahan Naruto dapat mereda.
"Oh ya satu lagi. Kamu pasti penasaran kesalahan apa yang diperbuat oleh saudaraku sehingga ia disegel, kan?" Hinata kembali menatap Fantasos. Benar, selain wujud asli dari Naruto, Hinata juga ingin mengetahui kesalahan dari Naruto.
Tapi apa itu adalah kejahatan jika ingin mengetahui rahasia seseorang dan orang yang ingin kita ketahui tidak menginginkan kita mengetahui rahasianya? Tapi, apakah Hinata boleh sedikit egois? Jika ia mengetahui segalanya dan dapat menerima semuanya, pasti ini dapat diselesaikan dengan baik.
Hinata meneguk ludahnya. Kejadian di pagi ini membuat Hinata mengeluarkan keringat padahal ia sedang tidak membuat apapun yang dapat membuatnya menjadi merasa lelah.
"Oke, aku akan mengatakannya. Sebenarnya.. Kesalahan saudaraku sehingga ia disegel adalah.."
"JANGAN KATAKAN ITU!" tiba-tiba Naruto berubah wujud menjadi sosok sebenarnya. Badan dipenuhi dengan aliran seperti aliran berwarna merah sehingga wajah Naruto tidak terbentuk. Muncul telinga dan sembilan ekor hewan yang dapat dikatakan ekor rubah.
Hinata sangat terkejut, mulutnya terbuka kaku karena keterkejutan yang ia rasakan. Itukah wujud sebenarnya dari Naruto? Kenapa.. Rasanya begitu menyeramkan? Ternyata wujud yang ia temui dalam mimpinya saat ia sakit itu adalah wujud asli dari Naruto. Tapi kenapa auranya sangat berbeda? Dalam mimpi wujud tersebut memiliki aura yang lembut sehingga Hinata merasa nyaman. Tapi wujud ini..
"Ya seperti yang kukatakan. Dia bukanlah blue devil. Tetapi disaat ia melepaskan kekuatan yang terpendam didalam dirinya, itulah wujud aslinya. Monster merah dan mengerikan bukan?" keringat dingin semakin mengalir deras di pelipis Hinata. Ketakutannya semakin menjadi-jadi dikala Naruto menyerang Fantasos sehingga mereka berdua terlibat dalam pertempuran.
"Aku takut." Hinata takut, ia sangat takut. Ia takut jika salah satu diantara mereka berdua ada yang terluka ataupun terbunuh. Hinata tidak tahan lagi, ia harus melakukan sesuatu.
"Bagaimana? Apakah kamu dapat menerimanya?" sambil menghindari serangan dari Naruto, Fantasos memberikan kata-kata yang membuat Hinata bimbang.
Dibalik lubuk hatinya, ia mengakui dirinya menyukai Naruto. Tapi jauh di dalam hatinya, Hinata ingin sekali berteriak sekencang-kencangnya bahwa ia takut. Kenapa.. Naruto yang selalu tersenyum dan baik itu memiliki sosok yang sangat menyeramkan?
Hinata menggeleng-gelengkan kepalanya, walaupun ia takut, tapi rasa sukanya kepada Naruto lebih besar dari pada rasa takut. Ia mengangkat kepalanya menatap Naruto yang sedang bertarung dengan Fantasos.
"Hentikan Naruto-kun!" sukses sudah teriakan Hinata membuat Naruto berhenti dari apa yang dilakukannya sebelumnya.
Naruto menatap Hinata sebentar, Fantasospun ikut menghentikan langkahnya. Ia menatap Naruto yang perlahan-lahan berjalan mendekati Hinata. Hinata bergetar karena ia masih merasa takut. Dengan jarak yang sedekat itu, sosok Naruto terlihat sangat menyeramkan.
"Ini wujudku yang sebenarnya. Bagaimana? Apa kamu takut?" Naruto mulai berbicara, walaupun ekspresi wajah yang ditunjukkan olehnya tidak terlihat karena sosoknya yang seperti itu.
"Aku takut." tidak dapat berbohong, kenyataannya Hinata memang takut.
"Setelah mengetahui wujudku yang sebenarnya, apa kamu menyesal sudah mengenalku? apa kamu masih ingin bersama denganku? Haha, kurasa tidak."
"Tidak." mendengar hal itu, perasaan Naruto menjadi tidak karuan.
"Sudah kuduga." Naruto memalingkan wajahnya. "Apa kamu ingin lari? Silahkan saja, aku tidak akan menahanmu." kemudian Naruto membalikkan badannya membelakangi Hinata.
"Tidak, aku masih ingin selalu bersama dengan Naruto-kun. Melakukan semua hal bersama, menemaniku disini. Berada di samping Naruto-kun membuatku merasa senang." Naruto tersentak, ia kembali menengokkan kepalanya menatap ke gadis dihadapannya. Gadis itu tersenyum dengan tulus, seolah senyuman itu dapat membuat kemarahan di hati Naruto lenyap.
"Ini mimpiku yang ketiga. Kembalilah seperti Naruto-kun yang kukenal, Naruto-kun berjanji untuk mengabulkan mimpiku apapun itu kan?" tidak dapat ditahan lagi, Hinata memeluk Naruto. Membenamkan kepalanya di dada bidang milik Naruto. Perasaannya berderbar sangat kencang, ia ingin Naruto merakan perasaan itu juga.
"Ah.." perasaan hangat yang dapat membuat semua orang menjadi senang.
"Panggil namaku sekali lagi dong."
"Sampai lima permintaanmu terkabulkan, aku adalah milikmu."
"Memiliki rasa dendam kepada orang tua sendiri itu tidak baik loh."
"Maafkan aku Hinata." kejadian-kejadian masa lalu yang pernah mereka alami bersama kembali teringat oleh Naruto. Naruto melepaskan pelukan Hinata dan perlahan-lahan wujud Naruto kembali ke wujud manusianya.
"Aku menyukai semua sosok Naruto-kun, walaupun itu sosok yang menyeramkan, ataupun sosok apapun, aku akan menerimanya." perkataan Hinata membuat perasaan Naruto menjadi hangat. Sehingga Naruto tidak dapat menahan senyumnya untuk tidak keluar.
"Ya walau dapat dikatakan itu bukan mimpi, tapi terima kasih karena kamu membuat permintaan untuk diriku, Hinata." Hinata tersenyum.
"Mimpi ketiga terkunci."
::
::
"Ya, kamu tetap emosional saudaraku." Fantasos yang tengah duduk di ranjang Hinata dengan seenaknya menatap Naruto yang sudah memanyunkan bibirnya kesal sampai-sampai tidak ingin menatap saudaranya.
"Apa yang kamu lakukan sehingga datang kesini?" mau juga akhirnya Naruto berbicara sejak sejam lalu ia membungkam mulutnya tidak ingin berbicara dengan Fantasos.
"Aku datang kesini hanya untuk memberitahukan sesuatu." Fantasos menatap Hinata dan tersenyum. Hinata sedikit berdebar karena wajah dari dewa itu sedikit mirip dengan Naruto. Sehingga Hinata menundukkan wajahnya karena malu.
Naruto yang melihat Hinata seperti itu makin tambah kesal dengan saudaranya tersebut."Apa?" dengan kasar Naruto membalas perkataan dari Fantasos.
"Kamu diperintahkan untuk ke Olimpus oleh ayah." Naruto terkejut. Apa maksudnya dengan ke Olimpus? Bukannya ia sudah dilempar dari sana? Untuk apa ia kembali? Memangnya disana masih ada yang mengakui Naruto?
"Apa kau bilang? Ke Olimpus? Untuk apa? Tidak akan pernah! Kembali ke dunia bawah saja aku tidak mau!" Naruto menggebrak meja yang ada di sebelah sofa tersebut.
"Tenang Naruto-kun." Hinata memegang pergelangan tangan Naruto. Naruto yang awalnya sangat kesal kini dapat menahan amarahnya dan segera duduk disamping Hinata.
"Ya itu terserah kamu saudaraku. Tapi katanya ada yang ingin disampaikan oleh ayah kepadamu." Naruto kembali memalingkan wajahnya kesal.
"Disampaikan? Apa lagi? Bukannya dia sudah tidak menganggapku sebagai anaknya? Kesalahan yang tidak kulakukanpun ia tidak memberikan aku kesempatan." Hinata menengok ke arah Naruto. Naruto tidak terlihat seperti orang yang benar-benar sedang marah, melainkan orang yang ngambek. Hal itupun membuat Hinata tertawa pelan.
"Kenapa ketawa?" Naruto yang awalnya kesal kini salah tingkah karena ia merasa yang diketawai oleh Hinata adalah dirinya. Sehingga Naruto tidak dapat menahan semburat merah untuk keluar dari kedua belah pipinya.
"Hm.. Menarik." perkataan Fantasos membuat Naruto memalingkan wajahnya menghadap ke arahnya sambil memincingkan kedua matanya seperti diberikan untuk seorang musuh.
"Apanya yang menarik?"
"Gadis ini untukku saja ya." dengan cepatnya Fantasos menarik tangan Hinata dan menjatuhkannya kedalam pelukannya. Hal itu membuat Hinata menjadi sangat malu sehingga ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat.
"Tidak boleh!" Naruto kembali menarik tangan Hinata dan melingkarkan tanggannya di leher Hinata. "Hinata adalah milikku, lihat kalungnya!" Naruto memegang kalung yang telah dikenakan oleh Hinata dan mengangkatnya supaya Fantasos dapat melihat dengan jelas.
"Apa.. Apa maksud Naruto-kun dengan milik? Aku ini bukan benda Naruto-kun! Dan bukan hanya karena aku memiliki kalung yang awalnya milikmu, aku akan menjadi milikmu!" kemarahan Hinata memuncak. Seenaknya saja Naruto berkata seperti itu seakan Hinata adalah benda yang dapat diperebutkan.
Hinata mengembungkan pipinya kesal dan memalingkan wajahnya dari Naruto. "Ma.. Maafkan aku Hinata." berusaha menghilangkan kemarahan Hinata kepada dirinya, Naruto memegang pundak Hinata. Tapi langsung ditepis oleh Hinata dengan cepat.
"Haha, aku hanya bercanda. Ternyata reaksi saudaraku bisa seperti itu juga ya." Fantasos kembali melayang di udara. Sepertinya ia akan segera pergi. Perjumpaan kedua saudara yang lumayan singkat juga.
"Pikirkanlah sekali lagi tentang Olimpus. Aku akan menjemputmu dalam waktu tiga hari dan setelah itu keputusanmu ingin ikut atau tidak." kembali asap hitam mengelilingi tubuh Fantasos dan perlahan-lahan sosok itupun menghilang dari hadapan mereka berdua.
Seperti sebuah mimpi tentang kejadian sebelumnya. Hinata dapat bertemu dengan saudara Naruto dan melihat wujud asli dari Naruto. Hanya saja Hinata belum mengetahui kesalahan yang diperbuat oleh Naruto. Tapi Naruto berkata itu bukan kesalahannya, oleh sebab itu Hinata tidak akan menanyakan hal tersebut lagi kepada Naruto.
"Naruto-kun." Hinata memanggil Naruto. Naruto yang sedikit melamun karena kejadian tadi kini kembali tersadar.
"Apakah Naruto-kun akan pergi?" kembali Hinata melanjutkan kalimatnya setelah Naruto menatapnya.
Naruto menggeleng, "Aku tidak tahu. Keputusan bisa saja berubah jika masih ada waktu tiga hari lagi." Naruto berjalan ke beranda kamar Hinata. Dengan segera ia melompat turun ke bawah. Hinata yang melihat itu langsung terkejut dan berlari ke beranda untuk melihat Naruto.
Setelah sampai di beranda, Hinata melihat Naruto yang sudah berjalan menjauhi rumah Hinata. "Naruto-kun!" panggil Hinata, Narutopun berhenti dari langkahnya dan berbalik menatap Hinata yang memanggilnya.
"Mau kemana?" tanya Hinata.
"Aku mau jalan-jalan sekaligus memikirkan hal tadi." mendengar hal itu Hinata hanya bisa menatap kepergian Naruto yang perlahan-lahan menghilang dari hadapannya.
Setelah Naruto benar-benar hilang, Hinata kembali memasuki kamarnya. Ia melihat sekeliling kamarnya. Kejadian barusan masih sangat teringat di benak Hinata. Juga bahwa Naruto dipanggil oleh ayahnya untuk datang ke Olimpus.
Sepengetahuan Hinata, Olimpus itu kan ada di puncak gunung olimpus di Yunani. Jika Naruto pergi, berarti jarak antara dirinya dengan Naruto akan sangat jauh. Sudah begitu Hinata tidak tahu cara ke Yunani, masa Hinata harus pergi dengan pesawat? Berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai disana?
Sudah begitu pula, disana walaupun dikatakan di puncak gunung Yunani, pasti manusia tidak akan bisa masuk ke tempat itu karena itu adalah tempat para dewa. Dan sudah pasti itu adalah tempat keramat yang akan sulit untuk diketahui dimana keberadaannya dan dijangkau oleh manusia seperti Hinata.
Hinata menatap jam dindingnya, jam sudah menunjukkan tengah hari. Matahari sudah berada di atas kepala dan cahaya itu membuat Hinata yang berada di dalam kamar merasa kepanasan. Padahal hari juga sudah mau memasuki musim dingin. Dan anehnya di musim gugur seperti ini bisa-bisanya matahari masih bersinar dengan terangnya.
Sekarang sudah memasuki bulan Oktober, dan mungkin sebentar lagi Hinata akan menghadapi ujian kenaikan. Jika hal itu benar-benar terjadi, Hinata harus belajar dengan sekeras mungkin.
Hinata membuka pintu kamarnya dan keluar dari sana. Dilihatnya ke kiri dan ke kanan tidak ada siapa-siapa. "Kemana Hanabi dengan ayah?" tanya Hinata. Biasanya kalau hari libur seperti itu Hanabi akan bolak-balik depan kamar Hinata karena ia bosan tidak ada yang ia kerjakan saat hari libur, sedangkan ayahnya, mungkin ayah Hinata sudah bersantai di kamarnya.
"Hah.." Hinata menghela nafas. Ia berjalan menuruni tangga dan berniat untuk pergi jalan-jalan saja karena hari juga belum terlalu sore. Setelah sampai di depan pintu, ia membukanya dan keluar dari rumah itu. Karena suasana rumah yang sepi ntah kenapa, Hinatapun tidak mengatakan bahwa ia akan keluar.
Hinata berpikir, tahu saja jika ia jalan-jalan, ia dapat bertemu dengan Naruto secara tidak sengaja. Ya walaupun di rumah pasti dia juga akan selalu menemukannya.
Pertama-tama Hinata berjalan ke arah kanan, mungkin Hinata ingin jalan jauh-jauh. Hinata berpikir ia ingin mampir ke distrik H dengan jalan kaki. Rumahnya ada di distrik B, jadi kalau jalan kaki dari rumah sampai sana kira-kira membutuhkan waktu tiga puluh menit.
Disana juga banyak tempat jualan dan mall, mumpung libur, Hinata ingin merefreshingkan diri walaupun hanya sendirian. Dalam hati Hinata, ia ingin jalan-jalan berdua saja dengan Naruto di tempat seperti itu. Karena disana pasti sangat banyak pasangan kekasih yang kencan. Tapi ya sudahlah, tujuan awal Hinata ke sana bukan untuk berkencan kan, tapi hanya ingin menghilangkan kejenuhan yang melanda.
Setelah sampai disana, Hinata mulai mengelilingi toko buku, toko perhiasan, cafe, dan lain-lain. Tapi sayangnya tidak ada yang menarik minat Hinata untuk membeli satu barangpun untuk dibawa pulang.
Hinata menengok ke kanan, ia melihat sebuah cafe yang disana menyediakan berbagai macam teh. Sudah begitu pelayang disana menggunakan pakaian maid dan butler, sepertinya menarik. Akhirnya Hinata memutuskan untuk bersantai disana terlebih dahulu untuk sekiranya menyeruput segelas sampai dua gelas teh.
Suara bel saat Hinata masukpun terdengar, dengan segera ia disambut oleh maid yang bekerja disana. Maid itu tersenyum dan Hinata ikut tersenyum, dari awal memasukinya saja sudah disambut dengan ramah. Sepertinya Hinata akan betah jika mampir ke cafe tersebut.
Hinatapun duduk di tempat yang sudah diberikan oleh maid tersebut, dan Hinata memesan pesanan yang akan diseruput oleh dirinya. Setelah pelayan itu pergi Hinata melihat ke kiri dan ke kanan. Suasana merah mendominasi ruangan tersebut. Hinata yang duduk di pojok ruangan sungguh amat terkesan dengan dekorasi ruangan tersebut.
Sebelumnya ia tidak pernah mengunjungi cafe ini, baru sekarang ia memasukinya dan memesan minuman disana. Hinata melihat ke pojok ruangan di sebelah kirinya, matanyapun tertuju kepada sebuah lukisan besar yang menggantung. Dilihatnya lukisan tersebut. Seperti lukisan dewa, Hinatapun menghitung berapa jumlah orangkah dalam lukisan tersebut.
Dua belas, berarti lukisan yang sekarang ia lihat ini adalah lukisan dari ke duabelas dewa Olimpus. Ternyata di tempat seperti ini ada juga yang menyukai mengenai dewa-dewi. Dan sudah pasti yang menyukainya adalah pemilik dari usaha cafe disini.
Setelah minuman yang dipesan Hinata datang, Hinata memulai meminumnya. Aroma teh yang dihirup sungguh membuat perasaan Hinata nyaman. Dan rasa yang telah dikecap oleh Hinata membuat pikiran Hinata menjadi relaks. Sungguh pengaruh yang luar biasa.
Kembali lagi Hinata mengunjungi tempat lain, setelah mengunjungi cafe tersebut, Hinata memutuskan untuk kembali kerumahnya saja dulu karena hari juga sudah mau menunjukkan pukul empat sore.
Hinatapun berjalan kembali untuk menuju rumahnya, tetapi saat ia melihat bukit yang terlihat dari depan rumahnya, Hinata jadi memutuskan untuk mampir ke bukit itu dulu.
Tau saja Naruto juga berada di bukit itu. Beranda kamar Hinata tidak ada lampu yang menyala, itu berarti Naruto juga belum kembali ke rumah. Jadilah Hinata berjalan secara perlahan sembari menengok ke arah langit yang masih terlihat kuning walaupun hampir sore.
Hinata tidak tahu, sebelumnya ia khawatir karena takut pulang sendirian karena ia tidak tahu jalan pulang dari bukit tersebut. Tapi kali ini entah kenapa memorinya mengingat secara jelas likuk-likuk jalan menuju bukit itu.
Kini Hinata sudah menaiki tanjakan yang menuju ke atas bukit itu. Disekeliling bukit tersebut yang ada hanya pepohonan dan rumput-rumput liar. Walaupun kadang-kadang Hinata juga mendengar suara hewan-hewan serangga dan juga ada kelinci liar yang lewat di hadapannya.
Melihat cahaya matahari yang sedikit mencuat di depannya, Hinata tahu bahwa itu adalah puncak dari bukit ini. Hinata melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima. Lalu ia kembali berjalan dan akhirnya sampai juga ia di atas bukit.
Benar seperti apa perkiraan Hinata, Hinata dapat melihat Naruto yang sedang berbaring di atas rerumputan sambil menatap ke arah langit yang sudah mulai menjingga itu.
"Naruto-kun." panggil Hinata, Hinata berjalan mendekati Naruto yang masih tiduran tanpa bangkit sedikitpun dari sandarannya.
Setelah sampai di samping Naruto, ternyata Naruto sedang tertidur. Ya mungkin karena hampir setengah hari Naruto berbaring disana, tanpa sadarpun akhirnya Naruto tertidur.
"Naruto-kun." Hinata memanggil sekali lagi, kali ini Naruto menunjukkan reaksinya. Berarti suara Hinata terdengar sehingga dapat membuat Naruto bangun dari tidurnya.
Naruto mengerjap-ngerjapkan matanya secara perlahan, cahaya sedikit memasuki pandangannya. Perlahan-lahan, sosok Hinatapun terlukiskan dengan jelas di matanya.
"Hinata!" Naruto terkejut. Ia langsung bangkit dari sandarannya dan duduk bersimpuh disamping Hinata yang juga duduk seperti Naruto.
Hinata tersenyum. "Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Naruto setelah kesadarannya benar-benar terkumpul seutuhnya.
"Aku hanya mencari Naruto-kun sehabis mampir ke distrik H." masih tetap dengan posisinya, Hinata menatap Naruto yang sudah mengacak-ngacak rambutnya sehingga rambut jabriknya tersebut berantakan.
"Kenapa mencariku?" tanya Naruto lagi. "Kamu tidak usah mencariku karena aku pasti akan kembali ke rumah." seru Naruto kemudian.
"Setelah mampir ke distrik H, aku sempat berpikir, dan ada yang ingin kusampaikan kepada Naruto-kun." Hinata merubah posisinya menatap matahari, tatapan mata Narutopun mengikuti arah wajah Hinata.
"Apa itu?"
"Setelah kupikirkan, Naruto lebih baik pergi ke Olimpus. Karena pasti yang ingin disampaikan oleh orang tua Naruto-kun kepada Naruto-kun adalah hal yang penting." Naruto tidak membalas perkataan Hinata, ia juga masih memikirkan apa yang diucapkan Hinata barusan.
Jika ia pergi ke Olimpus, maka ia akan meninggalkan Hinata. Dan jika itu terjadi, berarti mimpi Hinata tidak dapat dikabulkan semuanya. Tapi jika setelah itu Naruto kembali menemui Hinata, sudah pasti Naruto dapat mengabulkan mimpi Hinata yang tidak sempat dikabulkan.
"Sebenarnya, seharian ini aku sempat memikirkan hal itu." akhirnya Naruto mau juga angkat bicara mengenai hal tersebut. Naruto kembali berbaring dan menggunakan kedua tangannya sebagai penyangga kepalanya.
"Yang kamu katakan itu benar Hinata, aku akan pergi ke Olimpus." Hinata menengokkan kepalanya menatap Naruto. Mata Naruto menunjukkan tekad yang bulat mengenai keputusannya tersebut.
Lalu ia tersenyum, kembali lagi Hinata menengokkan kepalanya melihat matahari. Setelah itu, tidak ada yang saling berbicara. Keheningan mendominasi bukit tersebut yang memang dapat dikatakan tempat yang sepi.
Dari bukit tersebut, seperti pertama kali Hinata mengunjunginya bersama dengan Naruto, yang ia lihat adalah kota-kota yang kecil. Lampu-lampu di kotapun sudah ada beberapa yang dinyalakan. Apa sebentar lagi matahari akan tenggelam?
"Naruto-kun." panggil Hinata. Setelah keheningan melanda, akhirnya Hinata membuat keheningan itu sedikit berkurang.
"Ada apa?" masih tetap bersandar di bukit tersebut sambil menatap matahari yang sudah tenggelam sehingga kegelapan yang sekarang menjadi background kota itu, Naruto membalas panggilan Hinata.
"Ada yang ingin kukatakan kepada Naruto-kun."
::
::
Tiga haripun telah berlalu, dan saat ini Naruto telah dijemput oleh saudaranya Fantasos. Hinata menatap Naruto yang berjalan menuju beranda kamar Hinata, diikuti oleh Hinata yang mengantar kepergian Naruto dengan perasaan yang tidak menentu.
"Baiklah, aku pergi dulu ya Hinata." Naruto sudah mengubah wujudnya kembali menjadi wujud seorang dewa. Kini ia melayang bersama dengan saudaranya Fantasos di sebelah beranda kamar Hinata. Narutopun siap untuk pergi ke Olimpus.
"Naruto-kun!" mendengar Hinata memanggilnya, Naruto menghentikan teleportasinya terlebih dahulu.
"Ya?" Naruto menengok ke arah Hinata.
"Berjanjilah Naruto-kun akan mengabulkan mimpiku yang keempat ya." Hinata menatap Naruto yang ada di atasnya, dengan senyum ia harus melepaskan kepergian Hinata.
Naruto tersenyum. "Sebisa mungkin aku akan mengabulkannya. Sampai berjumpa lagi." perlahan, sosok itupun menghilang dari hadapan Hinata. Sosok yang awalnya berada di hadapannya, kini menghilang digantikan dengan birunya langit yang memberikan keindahannya bagi seseorang yang dapat menikmatinya.
"Iya, sampai bertemu lagi." perasaan Hinata gundah. Air matanya tidak dapat berhenti karena kepergian Naruto. Ia tidak tahu kapan ia dapat bertemu dengan Naruto kembali. Hinata terduduk di berandanya, menundukkan kepalanya sedih.
Hinata jadi semakin sadar, perbedaan sejauh apapun, itu semua pasti dapat dilengkapi jika kita bersama dengan orang yang kita cintai. Jadi.. Kini Hinata yakin. Ia mencintainya, mencintai Naruto. Perasaan yang meluap-luap itu sudah tidak dapat ditahan lagi.
"Aku akan mengatakan perasaanku saat kamu sudah kembali Naruto-kun." awal dari penantianpun baru saja dimulai. Mimpi yang dialami oleh Hinata, apakah akan dialaminya sekarang dalam dunia nyata? Apakah selama sebulan Naruto tidak akan kembali menemuinya? Yang dapat dilakukan Hinata adalah menunggu.
"Aku akan selalu menanti kehadiran Naruto-kun kembali."
"Ini mimpiku yang keempat." Naruto menengokkan kepalanya menghadap Hinata. Ia bangkit dari tidurannya di bukit tersebut dan duduk menghadap ke arah Hinata.
"Apa itu?" tanya Naruto. Setelah pagi ini Hinata membuat mimpi ketiga, akhirnya mimpi keempatpun tidak membutuhkan waktu yang jauh untuk ditentukan.
"Aku ingin, setelah Naruto-kun selesai mengurusi urusan Naruto-kun di Olimpus, Naruto-kun kembali menemuiku. Berjanjilah."
Naruto termenung sementara, tapi yang pasti, Naruto kembali tersenyum lebar seperti dirinya yang biasa. Sebuah senyuman khas yang selalu terukir di wajah tannya tersebut.
"Tentu saja."
To Be Continue
(Ch. 13 end)
Wah~ Tidak terasa sebentar lagi akan tamat. Pertama-tama aku mengucapkan aku update lebih cepat satu hari ya karena ada sesuatu~ #YouknowwhatImean?
Awalnya chapter ini mau kubuat angst, tapi sayang sekali angstnya tidak terasa. Huhuhu~
Yosh! Ini dia balasan review untuk yang tidak login.
Guest I : ini udah, oh iya, soal pertanyaanmu sebelumnya, cerita ini akan tamat di ch. 15~
puchan : ini udah,~ di chapter ini ada kan?~
Nervous : ini udah~
Setsuna-yami : ini udah~
namikaze hinata : arigatou~ ini udah kok~
ms. x : arigatou atas sarannya~ gomen kalau kau merasa begitu~ aku kurang bisa membuat konflik~
Guest II : ini udah, arigatou~
Spesial Thanks to:
huddexxx69, kirei-neko, Guest I, Blue-senpai, Utsukush hana-chan, syiis nurhadi, Mangekyooo JumawanBluez, puchan, Nervous, Hikaru-Ryuu Hitachiin, a first letter, Setsuna-yami, bala-san dewa, Akira no Rinnegan, El Ghashinia, namikaze hinata, mr. x, Guest II, Ayon R. Marvell
::
::
V
