Disclaimer: I do not own Naruto
Read on my beautiful readers :)
-00000-
Chapter 13
Sometimes you have to be apart from people that you love,
but that doesn't mean you love them any less.
Sometimes it makes you love them even more
- The Last Song, Nicholas Sparks
Jam besar di ruang utama berdentang dua kali, menandakan waktu baru saja memasuki pukul dua. Diluar langit masih berwarna hitam, awan-awan gelap yang membawa badai saling bergumul satu sama lain, menutupi separuh cahaya bulan yang bersinar memasuki jendela kaca di kamar utama. Jendela kaca tersebut terbuka lebar, membiarkan angin malam berhembus masuk ke arah dua orang yang sedang tertidur diatas ranjang.
Ketika angin dingin tersebut menerpa wajahnya, Hinata mengernyit. Ia berbalik kearah sebuah sumber kehangatan disampingnya, kemudian mencoba menyembunyikan wajahnya disana. Namun sayang, posisinya tersebut malah menyebabkan punggungnya yang telanjang kedinginan. Perempuan itu menggigil sebentar, dalam hati bertanya-tanya mengapa angin bisa masuk ke kamarnya. Karena tak bisa mengingat jawabannya, ia akhirnya memutuskan untuk membuka mata.
Saat kedua mata pucatnya terbuka, ia pun sadar bahwa sumber kehangatan tempatnya menyembunyikan wajah ternyata adalah dada yang bidang ―dada laki-laki yang bidang. Sebuah senyuman lebar serta-merta terbentuk di bibirnya. Ia mendongak untuk melihat si pemilik dada tersebut, dan matanya bertemu wajah tampan seorang pria berambut merah yang masih tertidur.
Ia pun tak bisa menahan dirinya untuk tidak mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibir pria itu.
Hinata terkekeh saat melihat Gaara tak bergeming. Ia menatap wajah tidur pria itu lama-lama. Ketika tidur wajahnya begitu polos seperti malaikat. Malaikat? Yang benar saja? Hinata terkikik. Mana ada malaikat seliar orang ini?
Angin kencang bertiup lagi, membuat punggung Hinata kembali menggigil. Ia menghela napas dan menengok ke belakang. Dan benar dugaannya, ternyata pintu kaca menuju balkon terbuka lebar. Mungkin Gaara lupa menutup pintu itu semalam saat ia menggendong Hinata masuk melewatinya.
Hinata senyum-senyum sendiri karena pikiran tersebut. Ia merasa sangat tersanjung, karena Gaara begitu terpaut pada dirinya hingga ia lupa menutup pintu itu.
Si wanita berambut indigo pun akhirnya turun dari tempat tidur, lalu melilitkan sprei di sekeliling tubuh telanjangnya untuk mencegah angin dingin menusuk kulitnya. Ia berjalan menyeberangi kamar menuju balkon. Namun, saat hendak menutup pintu, kedua matanya menangkap sesuatu diluar hingga membuatnya membatalkan niatnya.
Dengan hanya berlilitkan sprei dan tanpa alas kaki, Hinata melangkah keluar. Dan hampir seketika, pintu pun terlupakan. Kepalanya menengadah keatas sambil mengamati titik-titik air yang perlahan-lahan jatuh mengenai wajahnya.
Gerimis!
Ternyata prediksi Gaara salah! Angin rupanya membawa awan hujan ke selatan, membuat hujan turun di atas rumahnya!
"Ah..."
Hinata mencondongkan tubuhnya diatas pagar balkon saat ia menghirup udara dalam-dalam. Campuran antara bau dedaunan dan air hujan adalah yang terbaik. Ia rasanya ingin loncat dari balkon tersebut dan menjejakkan kakinya pada tanah yang basah. Dan jika memungkinkan juga berbaring diatas rumput yang lembap sambil membiarkan air hujan membasahi tubuhnya.
Ia sudah siap memanjat pagar balkon saat sepasang lengan yang kuat tiba-tiba melingkar di pinggangnya kemudian menariknya ke belakang. Hinata menoleh dan tersenyum lebar saat menyadari bahwa pemilik lengan tersebut adalah Gaara, pria yang mengambil keperawanannya di malam sebelumnya.
"Selamat pagi, Gaara-kun."
Dia sedikit merengut, "Ini bahkan belum jam lima, dan kau sudah mau loncat ke bawah." Suaranya terdengar seperti setengah mendengkur, menandakan bahwa ia masih sangat mengantuk. Hinata terkikik mendengarnya.
"Baiklah, selamat malam kalau begitu." katanya dengan nada main-main. Pikiran akan loncat ke bawah pun terlupakan, karena pria dibelakangnya ini jauh lebih menggoda daripada tanah basah. Hinata menyandarkan tubuhnya pada Gaara, lalu menelengkan kepalanya ke samping, memberikan lelaki itu akses penuh ke lehernya.
"Hn..." Gaara tak bisa menahan godaan untuk tidak menenggelamkan wajahnya pada leher Hinata kemudian menghujaninya dengan kecupan-kecupan ringan. "Selamat malam," gumamnya diantara kecupannya.
"Gaara... P-Prediksimu salah..." Hinata mulai terkikik tak karuan akibat bibir Gaara yang berulang kali menekan kulit lehernya. Ia mengerang saat kecupan-kecupan tersebut mulai berubah menjadi gigitan-gigitan kecil, dan tangan pria itu mulai merayap ke atas, ke arah tangannya yang menahan sprei didadanya.
"Hmm? Prediksi apa?" tanya Gaara cuek. Ia melepaskan pegangan Hinata pada sprei, lalu membiarkan kain putih tersebut jatuh ke lantai.
Wajah Hinata sontak memerah saat ia merasakan angin dingin menerpa tubuh telanjangnya. Giginya bergemeletuk karena kedinginan. "H-Hujan Gaara... A-Angin ternyata membawa awan ke arah sini." Butuh perjuangan bagi Hinata untuk mengucapkan kalimat tersebut. Dengan gigitan pria itu yang tak berhenti di lehernya, tangannya yang terus-terusan menjelajahi payudaranya, serta angin dingin yang tanpa ampun menusuk kulitnya, cukup membuat pikiran Hinata berkabut. "B-Bagaimana menurutmu?"
Gaara menghentikan gigitannya sebentar, "Menurutku... mungkin kita bisa masuk angin kalau melakukannya disini."
Tawa Hinata meledak mendengar jawaban lelaki tersebut, "Benarkah?" Ia perlahan-lahan berputar untuk menghadap Gaara, dan rona merah di pipinya makin menggelap. Ada dua hal yang ia sadari saat itu; pertama, tidak seperti dirinya, lelaki itu memilih melangkah ke balkon dengan tetap telanjang seperti sebelum ia terbangun. Kedua, dia sangat bergairah. Sangat, sangat bergairah.
Sama seperti malam sebelumnya, begitu kedua mata mereka bertemu, Gaara langsung menunduk dan mencium Hinata. Mulutnya membuka mulut wanita itu dengan ganas. Hinata pun secara otomatis melingkarkan lengannya di leher pria itu dan ciuman mereka semakin kencang dan dalam. Ia melingkarkan kedua kakinya disekeliling pinggang Gaara, membuat pria itu mengerang. Hawa panas yang keluar dari mulit mereka yang penuh gairah sangat berbeda dengan udara dingin di balkon.
Ditengah-tengah ciuman panas tersebut, Gaara melangkah mundur dan membawa mereka berdua kembali ke kamar. Begitu keduanya kembali dalam kehangatan kamar, Hinata melepas ciumannya, lalu dengan terengah-engah berkata, "P-P-Pintunya. N-Nanti anginnya..." Namun Gaara tak membiarkannya menyelesaikan kata-katanya, karena mulutnya lagi-lagi membungkam mulut wanita itu dengan ciuman. Meskipun demikian, ia tetap mengerti apa yang ingin dikatakan Hinata, kemudian menggunakan pasirnya untuk merapatkan pintu balkon tersebut, lalu menguncinya.
Begitu merasakan kakinya menyentuh tempat tidur, Gaara menjatuhkan Hinata keatas matras, membuat gadis itu memekik lalu tertawa. Disela-sela tawanya ia berkata, "Pasirmu betul-betul praktis ya."
Gaara menggeram saat melihat Hinata yang berbaring terlentang dengan posisi menggoda diatas ranjang. Kulitnya yang pucat membuat tubuh wanita itu seakan-akan bercahaya dalam kegelapan. Perlahan-lahan, ia pun naik keatas ranjang, lalu memposisikan dirinya diatas Hinata. Wanita itu menenggelamkan jari-jarinya dalam rambut merah Gaara, kemudian menarik kepala lelaki itu turun. Gaara tak membuang waktu dan langsung melumat bibir Hinata kembali dalam ciuman penuh hasrat. Tangannya yang besar menyentuh dan membelai setiap inci tubuh Hinata. Membuat liingkaran-lingkaran lembut dengan jari-jarinya yang panjang dan sensitif di atas kulit wanita itu, wajahnya, lehernya, lengannya. Kemudian Gaara membelai perut Hinata hingga ke bagian bawah payudaranya. Ia menyeringai saat wanita itu mengerang dalam mulutnya.
Mereka kembali bercinta untuk yang kesekian kalinya malam itu. Diluar hujan deras menyamarkan suara-suara yang mereka buat dari dalam. Hinata Hyuuga merasa dirinya berada di langit ketujuh, sementara Sabaku no Gaara merasa seolah dirinya kerasukan. Jauh dalam benaknya ia merasa terbang melintasi padang yang penuh warna. Belum pernah dalam hidupnya ia merasa sebahagia itu. Mereka sama-sama berpikir bahwa penderitaan yang telah mereka alami selama ini setimpal dengan kebahagiaan yang mereka rasakan saat berada dalam pelukan satu sama lain.
Keduanya juga sama-sama berpikir bahwa saat itu hidup mereka begitu sempurna, tanpa tahu tak berapa lama lagi takdir mereka akan segera berubah.
Pada saat yang sama, jauh beberapa mil diseberang hutan belantara dari tempat Gaara dan Hinata berada, berdiri seorang pria misterius bermantel hitam. Ia berhenti persis di depan pintu gerbang Desa Konoha. Rambutnya yang sewarna langit di malam hari basah dan menempel pada wajahnya. Matanya yang sama gelapnya dengan rambutnya mengawasi gerbang dihadapannya dalam diam.
Perlahan-lahan, ia berjalan melewati gerbang tersebut. Bibirnya yang sedari tadi membentuk garis tipis, kini membentuk sebuah senyuman yang lebih dingin dari hujan.
"Aku pulang..." bisiknya pelan pada derasnya hujan.
-00000-
Setelah terbangun dan bercinta lagi dengan Gaara, Hinata terjaga dalam pelukan pria itu. Karena tahu si Kazekage akan pulang setelah matahari terbit, dia menolak untuk tidur. Ia tak ingin menghabiskan setiap detik yang tersisa dengan berada dalam mimpi. Akhirnya, mereka berdua pun hanya berbaring disana, menatap langit-langit sambil mendengarkan suara napas masing-masing. Hinata menyukai saat-saat seperti itu. Sesekali Gaara akan menggumamkan sesuatu ditelinganya, kemudian ia akan menjawab pria itu sambil berbisik, layaknya sepasang kekasih yang baru saja menghabiskan satu malam rahasia bersama. Pikiran tersebut membuatnya terkekeh.
"Hinata, boleh aku bertanya?"
Hinata membuka mata saat mendengar pertanyaan Gaara. Tidak biasanya pria itu meminta izinnya dulu sebelum menanyakan sesuatu. Biasanya dia langsung saja bertanya tanpa basa-basi.
"Tentu saja." Ia merapatkan tubuhnya pada pria itu, "Tentang apa?" Kedua matanya berbinar hangat saat kepalanya mendongak untuk menatap kekasihnya.
"Mengapa diatas perapian sana tidak ada fotomu?"
Pertanyaan tersebut seakan-akan memadamkan sumber cahaya dibelakang mata Hinata, karena mendadak kilauan di matanya memudar dan digantikan oleh ekspresi muram. Wanita itu menurunkan pandangannya, kemudian berbalik memunggungi Gaara. Ia begitu terlena pada momen-momen yang dihabiskannya bersama si Kazekage hingga ia lupa dimana ia berada sekarang, juga seluruh cerita yang disimpan oleh tempat ini. Hinata menghela napas, lalu memejamkan matanya. Ia benci harus mengingat hal tersebut disaat-saat seperti ini. Kenangan tersebut seperti sisa anak panah yang tertinggal dalam dagingnya, akan terasa sakit jika ia mengingat keberadaannya.
"Tidak apa jika kau tak mau jawab. Aku hanya bertanya-tanya saja." kata Gaara sambil menarik tubuh Hinata agar kembali merapat padanya. Ia tak ingin kenangan indah malam itu dirusak oleh satu pertanyaan bodoh darinya.
Hinata masih tetap memunggungi Gaara meskipun ia tidak keberatan dengan lengan pria itu disekelilingnya. "Cepat atau lambat... kau juga akan tahu." ujarnya pelan sambil menarik selimut ke dagu. "Dariku... ataupun dari orang lain. Tapi lebih baik kalau kau tahu dariku."
Gaara terdiam saat Hinata mulai berbicara. Jari-jarinya memainkan ujung rambut gadis itu.
"Kurasa kau sudah tahu kalau ayahku tak begitu mencintaiku..."
Gaara bergumam agar Hinata melanjutkan.
"Alasan ayahku tidak mencintaiku... semua orang membuat dugaannya masing-masing. Ada yang berkata karena aku begitu lemah dan tak pantas menjadi penerusnya. Ada yang bilang adikku lebih berbakat dariku. Bahkan belakangan ini ada rumor yang menyebut-nyebut kalau aku anak yang tertukar." Hinata tertawa hampa setelah mengatakan kalimat terakhir.
Tangan Gaara yang bermain dengan rambut Hinata kini berhenti dan mulai mengelus kepalanya.
"Mereka tidak salah, tapi juga tidak benar. Aku memang lemah, tapi bukan itu yang membuat ayahku begitu membenci keberadaanku."
Hinata terdiam selama beberapa menit lamanya hingga Gaara berpikir ia tertidur. Saat Gaara hendak memastikan apa wanita itu benar-benar tertidur, dia mendadak berkata.
"Tahukah kau Gaara, meskipun ayahku seperti itu, tapi percaya atau tidak, dia dulu sangat mencintai ibuku. Mereka berdua saling mencintai satu sama lain melebihi apapun di dunia ini. Jarang sekali ada perjodohan dalam Klan Hyuuga yang berhasil seperti perjodohan mereka.."
Suara Hinata mulai memelan, "Jauh sebelum mereka menikah, ibuku memang sudah sakit-sakitan. Badannya sangat lemah. Dokternya waktu itu berkata, tubuhnya hanya mampu mengandung sekali, karena beban saat mengandung itu sangat besar dan ia tak yakin apakah tubuh ibuku akan sanggup menghadapinya."
"Saat ibuku mengandung, klan begitu bersemangat menanti kelahiranku, karena akulah yang kelak akan menjadi pemimpin mereka selanjutnya. Mereka sangat terkejut ketika aku lahir. Mereka semua sangat senang karena ibuku selamat, tapi mereka juga kecewa karena anak yang lahir... perempuan. Ayahku berusaha meyakinkan mereka kalau aku bisa menjadi pemimpin yang baik, karena dalam sejarah Hyuuga juga pernah ada dua atau tiga pemimpin wanita sebelumnya. Namun harapan mereka langsung sirna karena seiring aku tumbuh besar, ternyata aku lebih banyak membawa sifat ibuku." Dia mendesah muram, "Meskipun begitu... ayah dan ibu tetap menyayangiku... " Hinata tersenyum kecil karena pikiran tersebut. Ya, walaupun sebentar, tapi ia pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
"Para tetua Klan Hyuuga mendesak ayahku untuk menikah lagi demi seorang pewaris laki-laki. Namun ayahku menolak, karena cintanya pada ibuku begitu besar. Bahkan ibuku sendiri mendesaknya untuk menuruti kata-kata para tetua... Saat itu ayahku memang berada dalam posisi paling sulit. Ia harus memilih antara cintanya dan tanggung jawabnya pada Klan. Ibuku sangat mengerti bagaimana beratnya hidup Ayah saat itu. Ibu tahu ayah sangat menginginkan anak laki-laki, tapi ia tidak tega kalau harus meminta ibu mengandung lagi..."
"Tanpa mendengarkan kata dokter, ibuku akhirnya kembali mengandung. Hati ayahku hancur saat melihat ibu yang harus terbaring ditempat tidur selama berbulan-bulan. Setiap hari seluruh anggota klan berdoa untuk keselamatan ibuku dan agar anak yang terlahir laki-laki. Mereka menggelar banyak upacara, membangun kuil, memberi sumbangan disana-sini, berharap untuk menyenangkan hati para dewa. Namun, begitu harinya tiba... yang lahir tetap anak perempuan..."
"Hari itu mungkin hari terburuk bagi Ayahku..." Suara Hinata mulai pecah, "Ia sudah mengecewakan klannya, dan pada saat yang sama harus kehilangan orang yang paling dicintainya. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, ibu meminta maaf pada ayah karena tak bisa memberinya pewaris laki-laki. Dia juga berpesan, meskipun Hanabi perempuan, ia ingin ayahku tetap menyayanginya sepenuh hati... Akhirnya, Ibuku pun meninggal... dalam pelukan ayahku... di kamar ini..."
Gaara memutar tubuh Hinata agar wanita itu menghadapnya. Dan benar dugaannya, wajah perempuan itu sudah basah oleh air mata. Dengan bibir bergetar, ia melanjutkan ceritanya.
"S-Setelah kematian ibu, a-ayah mengurung diri d-di ruangannya berminggu-minggu. M-Menyalahkan dirinya sendiri atas kematian istri yang paling dicintainya. B-Begitu seterusnya, s-sampai suatu hari... S-Suatu hari di musim panas, ia tiba-tiba keluar dari kamarnya, m-masuk ke kamar Hanabi, dan menggendong anak itu. A-Aku waktu itu yang berumur enam tahun melihat saat ayah tiba-tiba tersenyum kemudian menangis saat memeluk Hanabi yang masih bayi. A-Aku j-juga sangat iri pada Hanabi kecil... K-Karena ayahku hanya melihat anak itu... i-ia tidak melihatku sama sekali."
"T-Tiba-tiba sejak hari itu, ayah mengirimku ke akademi. P-Padahal seharusnya seorang pewaris mendapat latihan khusus oleh orang-orang klan. A-Ayah pun mulai mengabaikanku, berkonsenterasi sepenuhnya pada Hanabi... k-kasih sayangnya hanya untuk Hanabi. I-Ia tiba pada suatu kesimpulan bahwa bukan dirinyalah yang patut disalahkan atas kematian ibuku..." Hinata mulai terisak sekarang. Gaara ingin sekali menyuruhnya berhenti bercerita. Bukan karena dia tidak mau mendengarkan kisahnya, tapi ia benci harus melihat wanita itu menangis.
"...t-tetapi... a-aku."
Gaara merengkuh kepala Hinata di dadanya.
"S-Semuanya m-memang salahku... S-Seandainya saja... a-aku terlahir sebagai laki-laki, k-klan tidak akan memaksa ayahku m-menikah lagi, d-dan ibu pun t-tak akan m-mengandung lagi..."
"S-Seandainya saja a-aku tak begitu lemah... Aku pasti tak akan mempermalukannya. D-Dan pengorbanan i-ibu tak akan s-sia-sia... K-Karena itulah ayahku membenciku... Ia tak suka melihat wajahku... A-Aku adalah orang y-yang m-membuat istrinya meninggal..."
Setelah mengatakan kalimat terakhir, tangisnya langsung meledak. Gaara menghembuskan napas, kemudian mengelus kepala gadis itu dalam diam. Ia merasa sangat bersimpati pada wanita dalam pelukannya itu. Ia pikir sebagai seorang pewaris klan yang paling dihormati di Konoha, Hinata akan memiliki kehidupan yang glamor. Kisah ini sama sekali diluar perkiraannya.
"Aku mengerti..." bisiknya di telinga Hinata, "Aku mengerti..." ulangnya lagi. Ia tak tahu harus mengatakan apa disaat-saat seperti ini. Ia memang tidak terlahir dalam sebuah klan yang sangat konservatif seperti Klan Hyuuga, tapi Gaara sepenuhnya mengerti bagaimana rasanya dibenci oleh orang tua sendiri. Ia rasa dirinya dan Hinata dalam beberapa hal tak begitu berbeda. Tapi bukan seperti dia yang memberontak pada ayahnya, wanita itu malah menerima apapun itu yang ayahnya lemparkan padanya.
"M-Maaf a-aku jadi e-emosional b-begini..." katanya terbata-bata sambil mengelap air matanya dengan selimut.
"Tidak apa-apa." Gaara bangkit duduk, kemudian membawa Hinata dalam pangkuannya. Ibu jarinya menghapus air mata yang menggenang di kelopak mata wanita itu. Walaupun ia tak suka melihat Hinata yang menangis seperti ini, dalam hati ia tetap tak bisa mencegah dirinya untuk merasa senang. Perempuan ini bersedia berbagi rahasia dengannya, lalu menunjukkan sisi dirinya yang paling rapuh. Bagi Gaara hal itu hanya berarti satu hal; Hinata Hyuuga sudah mempercayainya.
Gaara mencium kening Hinata, lalu bergumam, "Ayahmu tak akan menyesal sudah membesarkanmu sampai sekarang. Aku janji."
Hinata tersenyum kecil mendengar janji pria itu. Sesuatu dalam dirinya mengatakan ia bisa mempercayai Gaara. Meskipun ia tahu ada beberapa hal di dunia ini yang tak bisa diubah, tapi ia tetap ingin percaya pada kata-kata itu.
Hinata menyandarkan kepalanya di dada Gaara. Dalam posisi seperti itu, ia dengan jelas bisa mendengar irama detak jantung pria itu. Suaranya sangat menenangkan hingga membuatnya terbuai. Menangis menyebabkan matanya sembab dan terasa berat. Rasanya sangat nyaman saat ia memejamkan matanya.
"Ya..." Ia mempercayai Gaara, ia yakin pria itu bisa menjadi tempatnya berpegang, "Semoga saja...".
Karena dia, Hinata Hyuuga, si calon pemimpin Klan Hyuuga, sudah jatuh cinta pada Sang Kazekage.
-00000-
Sinar matahari yang jatuh di wajahnya membuat Hinata Hyuuga menggeliat. Ia menelengkan kepalanya ke kanan dan kiri, berusaha untuk mengusir sinar itu. Namun sinar tersebut tetap bersikeras menyilaukan matanya yang terpejam. Perlahan-lahan, ia pun membuka matanya dan mendapati kamarnya sudah dibanjiri cahaya matahari pagi. Hal tersebut lebih ampuh dari jam weker manapun karena si gadis indigo langsung sontak terduduk. Jantungnya berdetak satu juta kilometer per jam saat menemukan dirinya sendirian diatas ranjang.
Gaara sudah pergi.
Hinata merasa seperti seseorang baru saja meninju wajahnya.
Sisi sebelahnya di tempat tidur begitu kosong, tak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa sisi tersebut pernah ditiduri. Bahkan bau Gaara dari malam sebelumnya pun hilang. Rasanya seperti ia tak pernah tidur disana sama sekali.
Ketakutan pun menjalari Hinata seperti virus.
Tidak, tidak, tidak! Semalam itu bukan mimpi! Semalam sama nyatanya seperti sekarang. Apa yang terjadi antara dirinya dan Gaara adalah sesuatu yang nyata. Seperti cintanya pada pria itu...
Hinata meloncat turun dari tempat tidur, lalu secepat kilat berlari menuju kamarnya untuk berpakaian. Setelah selesai ia melesat ke bawah untuk mencari Nemu, dan kalau dia beruntung, ia mungkin akan menemukan Gaara sarapan di bawah. Sayangnya, keberuntungan tak berada di pihaknya, karena saat tiba di dapur, ia hanya menemukan pengurus rumahnya sedang memasak telur orak-arik.
Begitu menyadari majikannya memasuki dapur, wanita itu berbalik dan memberi salam dengan sopan. "Selamat pa..."
"Ya, selamat pagi." jawab Hinata cepat. "Mana Kazekage?" Hinata menarik napas dalam-dalam beberapa kali untuk menenangkan jantungnya.
"Kazekage baru saja pergi beberapa menit yang lalu, Nona. Beliau menitip pesan jika anda terbangun, ia meminta maaf karena tidak membangunkan anda. Katanya tidur anda sangat pulas dan ia merasa tidak enak kalau harus mengganggu anda."
Hinata merasa dunianya siap runtuh saat itu juga. Ini semua salahnya! Padahal semalam ia sudah bersumpah tak akan tertidur sekejap mata pun agar bisa melihat Gaara pulang. Tapi bukannya mengucapkan selamat jalan pada si Kazekage, dia malah enak-enakan tidur.
"Aku... Aku harus mengejarnya. Dia pasti belum jauh!" seru Hinata sambil berlari keluar lewat pintu belakang.
Nemu mengikutinya dengan khawatir, lalu berseru "Tapi Nona... Tadi Kazekage-sama tidak lewat hutan! Beliau langsung menghilang begitu saja dalam pusaran pasir!"
Bisakah pagi ini jadi lebih buruk lagi? pikir Hinata frustasi.
"Sampai jumpa Nemu!" serunya sebelum dia bergegas berlari menembus hutan menuju Konoha.
Bukan hanya selamat jalan yang rencananya akan ia ucapkan sebelum pria itu meninggalkannya. Hinata menggigit bibir bawahnya. Ada sesuatu yang lebih penting.
Jauh lebih penting.
Ia belum menyatakan perasaannya pada Gaara...
Begitu sampai di pintu gerbang selatan Konoha, kedua mata Hinata Hyuuga langsung nanar mencari-cari rambut merah. Ia nyaris berteriak saat tak menemukan apapun. Secepat kilat ia langsung menghampiri pos penjaga yang ditunggui oleh seorang chuunin yang Hinata kenali satu tahun dibawah angkatannya. Kalau ia tidak salah namanya Honjo.
Honjo yang melihat sang pewaris klan Hyuuga menghampirinya, langsung berdiri dan tersenyum ramah. "Ada yang bisa saya ban...?"
Belum lagi dia menyelesaikan pertanyaannya, Hinata sudah nyerocos, "Di pintu mana Kazekage akan berangkat?"
Honjo terbelalak melihat sikap si pewaris Hyuuga yang begitu tegas. Dari rumor yang didengarnya, wanita itu seharusnya kunoichi pemalu yang tidak bisa melihat kedalam mata lawan bicaranya. Tetapi, bukannya menghindari matanya, sepasang mata pucat milik wanita itu malah menatapnya dengan tajam dan mengintimidasi. Saat ia tak berkata apa-apa, wanita itu memelototinya, membuatnya menjawab dengan terbata-bata, "D-Di... Di pintu barat... K-Kalau tidak salah."
Setelah mengucapkan terima kasih dan membungkuk singkat, Hinata langsung melanjutkan marathonnya ke pintu barat, tempat yang menurut si Honjo itu Gaara seharusnya berada. Saat ia tiba di jalanan Konoha yang sibuk di pagi hari, Hinata tanpa pikir panjang langsung mengalirkan chakra ke kakinya dan melompat ke atas atap terdekat. Jalanan di atas jauh lebih lengang daripada jalanan di bawah.
Akhirnya, setelah beberapa menit Hinata bisa melihat gerbang besar tersebut. Namun, ia tak melihat sedikit pun adanya tanda-tanda rambut merah disana. Hinata meloncat turun ke jalanan dibawahnya, lalu sambil terengah-engah berlari menuju pintu gerbang. Bukannya menemukan Gaara, dia malah menemukan sesosok wanita berambut hitam pendek sedang asyik mengobrol dengan ninja yang sedang piket di gerbang.
"Shizune-san!" teriak Hinata memanggil asisten sang Hokage. Wanita yang lebih tua tersebut menengok, kemudian melambai pada Hinata.
"Selamat pagi, Hyuuga-san!" sapanya ramah. Terlalu ramah sebenarnya. Namun Hinata tak memperhatikan hal tersebut karena pikirannya sedang terfokus hanya pada satu hal.
Suara menguik kecil terdengar dari arah kaki Shizune. Hinata melihat ke bawah dan menemukan Tonton, babi peliharaan wanita itu, sedang menguik kearahnya. "Oh, selamat pagi Tonton." Babi itu menguik lagi membalas sapaan Hinata.
"Apa yang sedang kau lakukan disini sepagi ini?" tanya Shizune memancing. Dari penampilan si gadis Hyuuga yang acak-acakan; rambut berantakan, keringat bercucuran di dahi, wajah memerah seperti habis lari marathon, dan napas yang ngos-ngosan, ia kira-kira bisa menebak apa yang sedang dikejar gadis itu.
"S-Saya... Saya..." Hinata menundukkan wajahnya yang memerah, "S-Saya h-hanya be-berjalan-jalan..." Tiba-tiba kepalanya tersentak ke atas, "B-Bagaimana dengan anda? Apa yang anda lakukan disini?" tanyanya cepat.
Gadis ini pintar mengalihkan pembicaraan, pikir Shizune. Ia harus lebih licin!
"Aha... Aku sedang menjalankan misi dari Hokage-sama..." Shizune sengaja tidak langsung menjawab pertanyaan Hinata, ia ingin melihat reaksi gadis itu. "Aku menggantikan beliau untuk..." Ia sengaja berhenti, dan nyaris menyeringai saat melihat wajah Hinata yang frustasi, "...mengucapkan selamat jalan pada Kazekage-sama." jawabnya lambat-lambat. Matanya yang hitam mengamati setiap perubahan ekspresi di wajah si Hyuuga muda.
"D-D-Dia sudah pergi?" seru Hinata tak percaya.
Shizune tersenyum. "Ya, lima belas menit yang lalu. Bersama para pengawalnya."
Hinata tak memerlukan penjelasan lebih lanjut. Ia mengucapkan terima kasihnya kemudian langsung berlari secepat mungkin keluar melewati gerbang barat.
-00000-
Shizune mengamati hal ini dengan penuh ingin tahu. Awalnya tadi saat ia mengucapkan selamat jalan pada Kazekage dan kakaknya, ia sempat bingung karena Hinata tak ada disana. Setelah diskusi bersama semalam, kelompok penggosip pun akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Gaara memang berkencan diam-diam dengan Hinata. Dua orang itu adalah orang yang cukup penting bagi negaranya masing-masing. Mereka selebritis. Jadi tidak heran kalau mereka menyembunyikan hubungannya, atau setidaknya begitulah yang dikatakan Hokage.
Shizune hampir merasa kecewa ketika Hinata tak berada disana untuk mengantar kepergian Gaara. Ia rasa Hinata adalah tipe wanita emosional yang akan mengantar kepergian kekasihnya dengan linangan air mata. Jika gadis itu tidak ada disana, hanya ada satu penjelasan. Dugaan tim penggosip semalam salah. Si Kazekage tak mengencani si Hyuuga.
Semua kesimpulan negatif tersebut langsung sirna begitu Shizune melihat si pewaris Hyuuga berlari kearahnya.
Gosip mereka telah terkonfirmasi.
Gaara memang mengencani si pewaris Hyuuga.
"Ayo, Tonton." Babi kecil itu mengekori majikannya. Shizune mengambil rute menuju Menara Hokage, tak sabar untuk membagi penemuannya dengan atasannya.
Menara Hokage saat ini memang sedang disibukkan oleh kepulangan seseorang yang tak terduga. Ia sendiri harus bangun subuh-subuh tadi untuk menolong Hokage menginterogasi laki-laki 'itu'. Atasannya sendiri saat ini sedang berunding dengan para Dewan mengenai status 'orang itu'. Tapi, meskipun sedang sibuk bukan berarti mereka harus ketinggalan gosip 'kan?
Shizune terkekeh. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah si Hokage begitu mendengar berita ini.
-00000-
"Sebenarnya... Ada sesuatu yang belum sempat kulakukan di Konoha. Kau tahu, terakhir kali waktu si Nara datang ke Suna, dia kalah saat adu minum denganku. Kemudian dia berjanji kalau aku datang ke Konoha ia akan membawaku ke suatu tempat. Mungkin si pemalas itu sengaja ikut misi karena ingin menghindariku ya?"
Gaara hanya mendengar ocehan kakaknya dengan sebelah telinga. Sejak mereka meninggalkan gerbang Konoha, Temari tak berhenti membicarakan si Nara. Si Nara beginilah, si Nara begitulah. Gaara jarang berbicara dengan si Nara ini, tapi hanya dengan mendengar kakaknya bercerita saja ia merasa sudah sangat mengenal si Nara.
Tapi Gaara lebih tahu, pembicaraan kakaknya yang makin lama makin ngelantur ini terkesan sangat dipaksakan. Ia tahu, kakaknya ngotot membicarakan si Nara karena ingin menghindari suatu topik yang sangat menggugah keingintahuannya. Lagipula, kakak macam apa sih yang tidak penasaran kalau adiknya tak pulang semalaman?
"Jadi... Menurutmu Gaara, sebagai seorang pria, secara umum apakah kau lebih memilih wanita dengan tubuh kurus kerempeng seperti orang sakit atau wanita dengan tubuh atletis? Aku kadang-kadang memergoki si Nara menatap si Yamanaka terlalu lama. Tapi menurutku cewek itu sangat kurus. Terlalu kurus malah, sampai-sampai..."
Gaara menghela napas. Ia tahu kakaknya tak akan berhenti nyerocos sampai dia gila. "Temari, sudahlah..." Ia mengangkat sebelah tangannya. Gerakan tersebut membuat ocehan Temari berhenti di tengah jalan.
Wanita pirang itu mendengus. "Baiklah kalau begitu..." katanya lambat-lambat. Ia menyeringai, "Kita berdua sama-sama tahu kalau saat ini hal yang ingin kuketahui cuma satu."
Gaara menggeram.
"Oh ayolah Gaara! Jawab saja yang jujur."
Gaara mengabaikan kakaknya.
"Sama si Hyuuga 'kan?"
Gaara tidak menjawab apa-apa selama beberapa saat. Saat ia mendengar Temari berdecak tak sabar, ia menjawab "Mungkin."
Tori, yang dari tadi berjalan beberapa meter di belakang Sabaku bersaudara tak bisa menahan tawanya saat melihat Temari yang menarik rambutnya dengan frustasi ketika mendengar jawaban adiknya.
"Baiklah, baiklah." Temari menarik napas untuk menenangkan dirinya. "Semisalnya 'mungkin' itu berarti 'ya'. Kemana kalian semalam?"
"Aku tidak tidur di bawah langit jika itu yang kau khawatirkan."
Temari memutar matanya. "Oh tentu saja. Mana mungkin orang sepertimu mau tidur di udara luar. Lagipula semalam hujan. Kau 'kan benci air."
Gaara ingin sekali membetulkan kata-kata kakaknya. Tapi ia menahan diri. Kalau dia bilang ia tak lagi membenci air, pasti kakaknya akan semakin mencecarnya dengan pertanyaan menjengkelkan.
Yang dikatakan Temari sebenarnya tidak salah. Gaara dari dulu memang tak begitu menyukai air. Kecuali untuk makan, minum, mandi atau mencuci, Gaara lebih memilih tak berurusan dengan air. Air adalah sesuatu yang dapat membuat pasir, senjata utama Gaara, menjadi tidak berfungsi. Saat terkena air, pasirnya akan menjadi lumpur, dan lumpur bukanlah suatu elemen yang dikuasai Gaara. Dengan kata lain, Gaara dan air bukanlah dua hal yang bisa bersahabat.
Namun semalam... pandangan Gaara terhadap air sedikit berubah.
Semuanya karena Hinata Hyuuga.
Wanita itu sangat menyukai air. Hal tersebut tak bisa dibantah lagi. Dari caranya menciptakan bola air di tangan, caranya berenang, dan bagaimana indahnya ia terlihat saat sedang mengambil napas di permukaan, Gaara tahu bahwa Hinata Hyuuga memuja air.
Mungkin air memang membuat pasirnya jadi setumpuk lumpur, tapi berenang dalam air tak diragukan lagi adalah sesuatu yang menyenangkan. Gaara merasa sangat sehat, sangat hidup, saat ia dan Hinata saling kejar-kejaran dalam air. Ia sangat berterima kasih pada wanita itu karena sudah menunjukkan sisi lain dari air yang tak diketahuinya.
Tapi, bukan berarti sekarang Gaara langsung menyukai air. Ia masih tetap tak suka air. Hanya saja rasa tak sukanya sedikit berkurang.
"Ada seseorang yang mengikuti tak jauh di belakang kita." Temari tiba-tiba berkata. Gaara menoleh dan mendapati wajah kakaknya berubah serius.
"Dari mana kau tahu?"
"Anak buahku melihatnya."
Tidak mungkin orang sepenting Gaara dan Temari berjalan melintasi hutan Negara Api tanpa pengawalan sama sekali. Sekilas kelompok si Kazekage memang terlihat seperti terdiri hanya dari tiga orang. Tapi sebenarnya di sekeliling mereka, dibalik dedaunan dan diantara pepohonan, lima orang ANBU sedang mengawasi Sang Kazekage dengan seksama.
"Berbahaya?"
"Kelihatannya tidak. Perempuan."
Gaara menaikkan sebelah alis penuh tanya. Perempuan? Mengikutinya? Jangan-jangan... Gaara berkedip beberapa kali, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin Hinata. Wanita itu masih tidur tadi ketika ia meninggalkannya.
"Biarkan saja. Kita lihat apa maunya." perintah Gaara.
"Baik." Temari mengangguk kemudian memberikan sinyal pada anak buahnya.
Gaara merasa agak bersalah karena meninggalkan wanita itu sendirian tanpa mengatakan apapun. Bukannya ia tidak mau membangunkannya karena melihat tidurnya yang pulas. Pada kenyataannya, Gaara sebenarnya takut. Ia takut melihat wajah bangun tidur wanita itu, melihatnya terbaring diatas ranjang dengan pandangan sayu dan tersenyum seperti malaikat penggoda. Gaara takut ia akan kehilangan kontrol dirinya. Wanita itu seperti alkohol, sangat memabukkan. Berada bersamanya membuat Gaara terlena dan bahkan terancam melupakan tanggung jawabnya. Membatalkan kepulangannya ke Suna adalah hal terakhir yang ia inginkan.
"Dia semakin mendekat..."
Gaara tidak mendengarkan Temari saat pikirannya dikuasai oleh si Hyuuga. Ia bahkan bisa mendengar suara wanita itu yang memanggil-manggil namanya. Gaara mengernyit, apakah ia sebegitu rindunya pada Hinata hingga ia berimajinasi mendengar suara wanita itu?
Sebuah tangan mendadak menepuk bahunya, membuatnya berhenti melangkah. Gaara menoleh dan melihat Temari nyengir lebar kearahnya. Hidungnya mengerut melihat ekspresi abnormal kakaknya.
"Apa?"
Temari terkekeh, kemudian mengedikkan kepalanya ke samping. "Kau tak ingin menyapa pacarmu yang sudah capek-capek lari kesini?"
Gaara sontak berbalik, dan benar saja. Ia menemukan Hinata tergopoh-gopoh berlari sambil memanggil-manggil namanya. Tanpa pikir panjang Gaara langsung melesat untuk menghampiri wanita itu. Keduanya berhenti dihadapan satu sama lain. Hinata masih mencoba menenangkan napasnya, sementara Gaara masih tak percaya wanita itu berlari sampai kesitu untuk mengejarnya.
"Gaa...ra..." kata Hinata disela-sela usahanya untuk menarik napas dalam-dalam.
"Apa yang kau lakukan disini?" Gaara meletakkan kedua tangannya di lengan Hinata. Ia mencondongkan badannya sedikit agar wajahnya selevel dengan wanita itu.
"Kau... Kau..." Si Kazekage menyadari kesulitan Hinata dalam berbicara. Ia hanya menggelengkan kepala.
"Tenangkan dirimu dulu." Hinata mengangguk. Kemudian setelah Gaara mendengar napas perempuan itu lebih teratur, ia melanjutkan, "Jangan bilang kau lari dari villa sampai kemari?"
Wajah Hinata merah padam mendengar tebakan jitu Gaara. Ia menundukkan wajahnya dengan malu. "H-Habisnya... K-Kau... m-meninggalkanku begitu saja..."
Gaara menghela napas. Inilah sebenarnya yang ingin ia hindari. Hinata dengan wajah polos serta kedua mata lavendernya yang besar. "Aku 'kan sudah titip pesan pada Nemu..."
"K-Kau 'kan bicaranya dengan Nemu... b-bukan denganku..." bisik Hinata pelan.
Tunggu, apa itu nada cemburu yang ia dengar? Untuk apa Hinata cemburu pada pelayannya sendiri? Apalagi yang sudah nenek-nenek seperti itu.
"Baiklah, baiklah." Gaara meremas bahu Hinata, lalu menyentuh dagu gadis itu dan membuatnya mendongak. "Aku memang salah sudah meninggalkanmu begitu saja. Tapi itu yang terbaik."
"Terbaik untukmu... tapi bukan yang terbaik buat kita..." Hinata mengatakan hal tersebut dengan suara berbisik sambil memandang tato di dahi Gaara. Ia tidak berani menatap mata pria itu. Ia menyebut mereka dengan 'kita', seakan-akan mereka berdua telah menjadi pasangan.
Gaara terkekeh mendengar argumen Hinata. Ia menyandarkan dahinya di dahi gadis itu. "Jadi... apa yang terbaik untuk kita?"
Sepasang mata lavender itu menatap lurus kedalam mata azure dihadapannya. "Kita... harus mengucapkan salam perpisahan dengan benar."
Keduanya terdiam selama beberapa saat. Dibelakang mereka, Temari dan Tori menonton dengan penuh ingin tahu. Temari menangkupkan tangan di pipinya. Kedua matanya berbinar-binar melihat perkembangan adiknya yang begitu pesat. Sementara itu, Tori menatap adegan tersebut dengan takjub. Sang Kazekage sangat jarang, bahkan mungkin tak pernah, menunjukkan sikap penuh kasih sayang seperti itu, apalagi di depan publik.
"Baiklah... Sampai jumpa, Hinata." Gaara manarik kepalanya menjauh, namun tak beranjak dari tempatnya. Ia menunggu Hinata mengatakan hal yang sama. Namun gadis itu tetap membisu. "Well?"
Hinata menghela napas, kemudian menunduk lagi, "S-Sampai jumpa, Gaara."
Gaara kembali menyentuh dagu Hinata untuk membuat gadis itu mendongak. Ia menganalisa wajah perempuan itu, mengamati matanya, membaca raut wajahnya, kemudian mengernyit saat tak bisa menebak apa yang ada dipikirannya.
"Aku pulang ya?" bisiknya pada Hinata.
Hinata tak menjawab. Setelah beberapa saat, Gaara pun menganggap kebisuan gadis itu sebagai persetujuan. Ia perlahan-lahan mundur menjauhi Hinata, lalu berbalik memunggungi gadis itu untuk kembali ke rombongannya.
Namun, belum lagi ia bisa melangkah lebih jauh, sebuah tangan menarik lengan bajunya dan menahan gerakannya. "Tunggu," Ia menengok ke belakang dan menemukan Hinata. Gadis itu menunduk, poninya yang panjang menyembunyikan wajahnya.
Gaara berputar untuk menghadapinya lagi. "Ada apa?"
"Aku... Aku..." Ia sudah melepaskan tangannya dari lengan baju Gaara, kemudian tanpa sadar mulai memainkan jari-jarinya. Sebuah kebiasaan yang dilakukannya saat ia sedang gugup. "Aku..."
"Kau?"
"Aku... ada s-sesuatu yang ingin kukatakan padamu..." bisiknya malu-malu.
Kedua alis Gaara terangkat penasaran. Apa yang mungkin ingin Hinata katakan padanya? Sesuatu yang membuat gadis itu terlihat begitu gugup pasti penting. "Apakah itu?" tanyanya.
"Eh... itu... umh..."
Hinata masih sibuk mencari kata-kata yang tepat. Dengan gelisah ia menggigit bibir bawahnya. Ia sadar kalau ia tak segera mengatakannya, Gaara mungkin bisa jengkel karena menunggu terlalu lama.
"S-Sebenarnya... G-Gaara..."
Mendadak tanpa Gaara duga, Hinata tiba-tiba menyentakkan kepalanya. Kedua tangannya mencengkeram bagian depan baju Gaara. Wajahnya semerah tomat.
"Aku... Aku... Aku... sebenarnya." Jantungnya berdetak liar dalam tulang rusuknya. Apakah ia akan mengatakannya sekarang? Sanggupkah ia mengatakannya sekarang? Bagaimana reaksi Gaara nanti setelah mengatakannya? Apakah ia siap menghadapi reaksi lelaki itu?
Hinata memejamkan mata. "Aku... Aku..."
"Kau mau apa, Hinata?" Suara Gaara pelan, tapi Hinata tetap bisa mendengar nada ketidaksabaran di dalamnya.
Ia menelan ludah dan akhirnya memutuskan, "Aku... punyasesuatuuntukmu." katanya cepat.
"Apa?"
"A-Aku ingin memberimu s-sesuatu..." Hinata meraih lilitan kain sutera di lehernya, lalu melepaskannya. Gaara mengenali kalung itu. Hinata tak pernah melepaskannya karena itu peninggalan ibunya. Lalu mengapa ia melepaskannya sekarang? Apakah ia berniat untuk...
Hinata mengalungkan bandul tersebut di leher Gaara. Si Kazekage terpana melihatnya, tak mampu berkata apa-apa.
"Kau... yakin?"
Setelah selesai mengalungkan bandul itu, Hinata meletakkan kedua tangannya dibahu Gaara lalu mendongak untuk menatapnya. "Sangat yakin." katanya sambil mengangguk-angguk kecil.
"Tapi... Bukannya ini...?"
"Peninggalan ibuku? Ya. Tapi kalung ini lebih lama bersamaku, jadi dia lebih banyak membawa memori tentang diriku." Hinata meletakkan tangannya di pipi Gaara. "Kalung itu sudah menjadi bagian dari diriku. Aku ingin kau memilikinya. Dengan membawa sebagian dari diriku, aku akan merasa seperti selalu bersamamu, meskipun kita terpisah jauh..."
Gaara tertegun mendengar kata-kata Hinata. Berbagai hal yang dikatakan perempuan itu terasa seperti mimpi. Tetapi... semua hal yang dirasakannya saat ini; aroma vanilla yang familiar milik wanita itu, kehangatan telapak tanganya di pipinya, serta beban kecil yang tergantung di lehernya mengatakan bahwa semua ini nyata.
"Umm... Kalau-kalau suatu saat kau merasa stress dengan pekerjaanmu, kau bisa meniup cairan sabun yang didalamnya. Aku selalu melakukannya jika merasa stress dengan... hidupku." Ia tertawa kecil setelah mengatakannya. "Jadi... umm... kau tidak keberatan untuk memakainya setiap saat 'kan?"
Gaara tak mampu berkata apa-apa selama beberapa saat. Karena ia tak kunjung bersuara, Hinata mencubit pipinya. Si Kazekage pun tersenyum kecil, lalu menutupi tangan wanita itu dengan tangannya.
"Akan kujaga dengan nyawaku."
Hinata tersenyum lebar mendengar jawabannya. "Tidak usah sampai seperti itu, Gaara. Aku sangat senang kalau kau memakainya setiap saat, sehingga kau akan terus mengingat waktu-waktu yang kita habiskan di..."
Kalaupun Hinata menyelesaikan kalimatnya, kata-kata tersebut pastilah sudah tertelan saat bibir Gaara melumat bibirnya dengan ganas. Tangannya meraih tubuh Hinata, menekan tubuh lembut tersebut pada tubuhnya. Hinata mengerang saat tangan Gaara merayap ke belakang tubuhnya, sebelum naik dan menenggelamkan jari-jarinya di rambutnya. Pria itu pun menekan kepalanya agar semakin mendekat. Hinata mencengkeram bahu lelaki itu, berpegangan disana, sambil membalas ciumannya dengan gairah yang sama, layaknya ciuman terakhir sebelum mereka berpisah.
Tori dan Temari terkesiap melihat adegan ini. Si sulung Sabaku tak menyangka adiknya akan bertindak sejauh itu, yakni mencium Hinata habis-habisan di depan umum; di depan dia dan bawahannya.
"Tutup matamu, Tori!" seru Temari saat ia berbalik memunggungi kedua pasangan yang sedang berciuman. "Tak seharusnya kau melihatnya dengan bernafsu seperti itu. Tidak sopan! HEY KALIAN JUGA!" seru Temari pada ANBU lain yang menonton Kazekage mereka dari atas pohon. Seruan Temari menyadarkan para ninja tersebut, membuat mereka membungkuk malu-malu.
Baik Gaara dan Hinata sama sekali tak mendengar suara Temari yang meneriaki anak buahnya. Mereka berada dalam dunia mereka sendiri. Gaara menekan jarinya semakin dalam di rambut Hinata, membuat ciuman mereka semakin dalam. Tangannya yang lain mencengkeram pinggang wanita itu, menekan bagian bawah tubuhnya ke arahnya. Gerakan tersebut membuat Hinata mengerang sambil menggumamkan nama Gaara.
Si Kazekage hampir gila akibat gerakan pinggul Hinata serta suara-suara yang diciptakan perempuan itu. Pinggangnya menggesek tubuh Gaara dengan gerakan yang berbahaya, membuat pria itu mendesah nikmat dan nyaris kehilangan kendali.
Dengan seluruh sisa kontrol diri yang ia miliki, Gaara akhirnya menghentikan gerakan pinggul Hinata. Ia memejamkan mata, kemudian perlahan-lahan menjauhkan dirinya dari gadis itu. Hinata terengah-engah sambil memandang lelaki itu dengan pandangan bernafsu.
Gaara menggelengkan kepala, kemudian memberikan kecupan ringan di bibir Hinata. "Tidak," katanya.
Hinata mengernyit sedih saat Gaara melepaskan dirinya kemudian melangkah mundur.
"Jangan memberiku pandangan seperti itu. Kau tahu aku tak bisa menolak... Tapi ini bukan waktu yang tepat."
Hinata tahu itu bukan waktu yang tepat. Mereka berada di tengah hutan, dihadapan Temari dan Tori. Sangat tidak pantas sebenarnya ia berciuman dengan Gaara seperti tadi. Tapi Hinata tidak bisa menahan dirinya. "Aku... Aku akan m-merindukanmu..." bisiknya.
"Aku juga..."
"Dua minggu lagi, ya?" Hinata mengacungkan dua jarinya pada Gaara. Ia tersenyum sekarang, meskipun air mata menggenangi kedua matanya.
"Dua minggu lagi." Gaara mengangguk mengiyakan sebelum berbalik untuk bergabung dengan rombongannya dan meninggalkan Hinata.
Si pewaris Hyuuga menunggu hingga punggung Gaara tak terlihat lagi di kejauhan sebelum ia sendiri menyeret langkahnya kembali ke Konoha.
Belum pernah ia merasa sesendirian ini sepanjang hidupnya.
-00000-
Oke, mungkin chapter ini agak sedikit dramatis dan emosional. Sejujurnya, ini adalah chapter paling sulit yang pernah aku buat. Bagian paling sulitnya adalah pas mengeditnya. Entah mengapa saat dibaca ulang semua kalimatnya jadi terasa salah =/. Diantara kalian mungkin masih ada yang bingung dengan perasaan Hinata dan Gaara. Tapi aku janji seiring dengan perkembangan cerita, kalian akan mengerti.
Kuharap adegan pertama dan terakhir tidak terlalu eksplisit (?) dan masih memenuhi standar rated-T. Jika menurut kalian saya terlalu berlebihan dengan deskripsinya, mohon tegurannya. *NO FLAMES YA, FLAMES BAKAL DICUEKIN*
Anyway, di chapter sebelumnya... banyak diantara para readers sekalian yang protes karena Gaara gak perjaka lagi. Sekarang akan aku jelaskan. Kita semua tahu kalau Gaara jadi Kazekage waktu umur 15 tahun. Waktu itu dia mungkin belom mikirin cewek banged. Tapi aku yakin waktu umur 18 tahun dia pasti udah... puber (?) dan eventually dapat mimpi basah (bener ga sih?) Sebagai orang paling penting di Suna, Gaara ga bisa sembarangan pacaran sama cewek-cewek di desanya. Anak yang labil kayak Gaara kalo ga hati-hati bisa-bisa hamilin anak orang (amit-amit deh). Trus pas hamil tar ceweknya minta tanggung jawab. Kan Dewan juga yang repot (aku juga gamau Gaara hamilin anak orang). Makanya untuk menghindari hal-hal tak diinginkan tersebut, Dewan ambil inisiatif buat siapin gundik kualitas terbaik supaya Kazekage kita ga melampiaskan nafsunya sama sembarangan orang. Di kerajaan-kerajaan jaman dulu juga banyak yang kek gitu. Anak raja, pangeran, yang baru akil balig biasanya punya berapa puluh gundik gitu. hahahaha. Yang perlu diingat adalah walopun Gaara ga perjaka lagi... tapi hatinya tetap cmn milik satu orang *wink wink* Oke deh, semoga penjelasanku membantu yaa. (kalo kira-kira belom memuaskan, lampiaskan saja di review. hehe.)
Yak, sekarang balesan reviewnya:
TheEmma1412: Waah seneng deh, jadi aku punya ciri khas sendiri yaa? *blush* aaa maksud kamu adegan sexnya GaaHina dibikin cerita sendiri gitu? Hmm...aku ga janji ya. ehehe. Kalo aku dalam pervert mode mungkin tar aku coba. lol.
ck mendokusei: wah desti jangan ketularan! ga baik masih muda tidur malem-malem *kicked* haha. aku seneng deh kalo ceritaku lucu dan menghibur xD artinya aku juga bisa ngelawak nyehehehe.
ms sabaku: Hinata lagi jatuh cinta sama Gaara hehe.
Azalea ungu: waa iya kamu pereview pertama ehehe. aku ga bales soalnya ga tau mau bales apa (?) *kicked* aduh bahasanya ketinggian yaa? masa sih? aku akan berusaha buat lebih natural lagi! thanks buat kritikannya.
Rishawolminyu: Iya sama-sama. NejiTen kayaknya belakangan deh. eheheh.
uchihyuu nagisa: kamu ga salah karena berpikiran mesum, aku yang salah karena bikin adegan kek gitu. hahahah.
lemon lover: wih namamu jujur banged. haha. aku ga bisa nulis lemon. kalo foreplay sih masih bisa. tapi kalo udah bener" BEGITU... aku ga yakin.
hina-chan: sikap hinata yang aneh karena dia lagi jatuh cinta sama Gaara. orang yang lagi jatuh cinta bisa melakukan apa saja. (itu terbukti).
Ai HinataLawliet: iya dasar kakashi tukang gosip ckck. malam itu emang bukan pertama kalinya Gaara begituan sama cewek, tapi itu pertama kalinya buat dia begituan sama orang yang disukainya. Melakukan itu sama orang yang kita sayangi itu kayaknya lebih bermakna daripada sama orang yang bukan siapa" kita *sotooooooy, padahal sendirinya masih bocah* mau pm? monggoooo. aku suka baca PM hehe.
miss lavender: iyaa rate nya masih T kok.. ehehe. kecuali aku berubah pikiran.
chibi tsukiko chan: wah inget dongg. jelek-jelek gini tapi aku selalu inget kok siapa yang review ceritaku. ehehehe. wah kamu anak kuliahan yaa? aku calon mahasiswa baru lohhh. ga sabar mau coba kehidupan kampus. kyakyakya xD
ririrea: karena kamu sekarang border antar cerita udah aku ganti. hehe.
lawliet cute: rate m? hmm aku masih bimbang. aww makasihh. aku cinta deh sama kamuu.
Yukishiro Seiran: hello, aku seneng deh baca review kamu. Gaara kita emang udah dewasa (secara udah 22 tahun) wkwk. yah, apa yang dilakukan Dewan Suna itu demi kebaikan smua orang. Karena kalo Gaara dibiarin bebas bisa berabe. iya, hiashi emang ga sayang anak. dasar orang tua aneh. tapi ga akan gitu selamanya kok, tenang aja. hehe. Ya, Gaara akan melakukan hal-hal rate-M, tapi disensor. nyehehehe. baca terus yeaa.
arukaschiffer: haaa kenaikan rating nanti aku pertimbangkan. ehehe.
MeraiKudo: ahahahah, meydey meydey! aaa bukan bekas kok. Gaara-kun bukan bekasan. Yang penting kan pengalamannya eheheh. iya nih Kakashi ternyata diluar dugaan seneng ngegosip juga yah. maklum udah tua. hahaha.
ulva-chan: iyaa saya yang nulis juga heboh denger gosipan mereka. ada-ada aja emang kelakuan Tsunade. maklum udah tua dia. awww kenapa ga rela? yang penting kan hati Gaara-kun untuk Hinata seorang. hehe.
Zaskey-chan: aduh dipanggil shiorin-sama *blush* wah emang aku pernah janji ga bakal ganti rating ya? Hinata mabuk kok. Mabuk cinta. wahahahah. Dia jatuh cinta sama Gaara-kun yang baik sama dia xD
OraRi HinaRa: Ya, mengutip kata Tsunade, "mereka seperti selebritis." wajar kalo digosipin. nyehehehe. Iya, bikin gregetan ya. Aku malu ngeliat GaaHina begituan, makanya ga bisa ditulis. *ditimpuk*
shirayuki nao: sesuatu yang buruk? wah itu masih rahasia. kita lihat saja nanti apakah Hinata akan ke Suna atau tidak *smirk*. Sakura bukannya ga peka. Sakura disini aku bikin sebagai satu-satunya orang yang berkelakuan dewasa dan ga mau langsung main ambil kesimpulan kalo GaaHina pacaran. Aneh kan kalo semuanya aku bikin tingkahnya kekanakan. hahaha.
ageha-davis: aku sangat menikmati nulis kaka shizu dan tsunade yang OOC. wahaha. ayo, ayo, direview direview biar aku makin semangat nulis. nyehehehe.
Welovegaahina: kita sehati. aku juga pasukan berani matinya GaaHina xD Lawless sih masih entaran diupdatenya. Aku mau fokus Broken Arrow dulu hehe. Iyaa, kalo ada ide aku pasti nulis lagi tentang GaaHina xD
Dee: nyehehehe penasaran ya apa maksud kata-kata bijaknya? Kalo penasaran baca terus Broken Arrow xD *promosi*
YamanakaemO: ah Kakashi juga kekanakan karena ikutan ngegosip. hahaha. wahaha engga apa"curcol kok. aku seneng bacanya. kalo masalah adegan yang kek gitu, aku ga bisa janji. karena apapun yang kutulis semuanya berdasarkan apa yang ada dalam imajinasiku J ehehe temennya suruh baca Broken Arrow ajaah *promosi lagi*
Nanairo Zoacha: Waduh, hamil? Wah aku aja ga kepikiran sampe situ. Entar aja kali ya hamilnya. Nih masalah mereka aja belon selesaiii. wkwk.
mayra gaara: aduh aduh mayraa jangan sedih dong ntar aku bikinin lemon squash deh nyehehehe. anyway, Gaara itu ga mesum (yah dia mesum sih, tapi aku sangat hati-hati disini bikin dia mesum cuman sama Hinata doang hahaha). kalo kamu punya saudara laki-laki lebih tua, coba tanya deh. aku udah tanya kakakku (emang aku ini adek gatau malu). jadi yang Gaara lakuin itu sebenernya wajar karena dia udah dewasa, dan dia memang membutuhkan penyaluran untuk nafsunya J
Uzumaki Panda: aduh aduh Panda, kamu ga bodoh kok. kamu baca cerita aku juga aku udah senenggg. selow aja. tak ada yang perlu dimaapkan. ehehehe.
vifa schiffer: wahaha mabuk cinta stadium lima kali tuh si Hinata. hehe. masalah rate sih aku masih bimbang dan belom nentuin. tergantung imajinasiku entar-entar aja deh. ehehehe. Smoga chapter ini kamu nunggunya ga terlalu lama yaa J
kamikaze: wiw ayo dong bikin account. gratis kok ga bayar *kicked* iyaa aku sadar sepenuhnya kalo mereka OOC, dan aku seneng buatnya.. haha. happy ending kok, tenang aja. aku bukan penggemar sad ending :') baca terus yaa
urva –chan: aduh urva-chan tercintaku... hahahahahy. lagi? implikasi dari lawless nih? wkwkwk. Jarang sih ada cowok yang umur 22 kek Gaara yang masih perjaka wkwk. tapi tenang aja, hatinya Gaara buat Hinata kok :) baca terus ya urvaa xD
Rei-kun: aduh aku tersanjung deh Rei-kun review sampe dua kali. ahahaha. panjang banged lagi reviewannya. wahaha. Rei-kun udah kuliah yaa? no wonder lah ure so busy. Btw, Rei-kun ini... laki-laki ya? Bukannya diskriminasi tapi pembaca laki-laki di FFN ini sangat-sangat-sangat jarang. Aku seneng deh Rei mengerti mengapa Gaara seperti itu (pasti karena sesama laki-laki ya?) ahaahaha. ehem, masalah menyatakan cinta... itu nanti. Dan ya, perasaan Gaara pada Hinata memang masih belom jelas. Orangnya sendiri menganggap perasaannya itu sebagai suatu 'obsesi'. Mudah-mudahan di chapter mendatang Gaara sadar. ehehe. review lagi yaaa! yang panjang! xD
zoi hyuuga: aduh aku sedih deh kamu ga pernah review sbelumnyaa hiks hiks. anyway, kalo kamu baca chapter ini tolong di review yaa :D
finestabc: Mengutip kata-kata Hinata... "Iyaa.. semoga saja yaa..." *mata berkaca-kaca karena air mata* ehehehe.
Dae Uchiha: tidak pernah ada kata terlambat kok. apalagi di fanfic aku. ehehe. iya Hinata mabuk.. mabuk cintaaa xD dia lagi jatuh cinta ama Gaara. makanya begitu kelakuannya. iyaa Gaara udah ga perjaka lagi hahaha. Salam kenal juga loh.
Wew, daftar yang suanguat puanjuang. Maaf kalo di balesan review aku ga meratiin tanda baca, huruf besar, dan segalanya, karena saat ini (seperti biasa) jam sudah berdentang empat kali. Entah kapan jam tidurku bakal bener lagi. Buat yang sudah kasih semangat ke aku makasih yaa *hugs*
Okay, last but not least, Review! Reviews are what keeping this story alive. Pendapat kalian mengenai chapter sangat-sangat-sangat ditunggu.
Makasih ya udah baca cerita ini,
xoxo
shiorinsan
