Konnichiwa minna-san! Author Nirina kembali lagi di fic yang sama dan berchapter baru :D langsung saja, happy reading!

.

Disclaimer : Naruto punya Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Romance, Mystery, Drama

Warning! : AU, OOC, typo, gaje, dll.

Main Pair: SasuSaku

Slight: NaruHina

.

.

.


.

.

.

Seorang gadis berambut bubble gum itu mengendap-endap mengikuti seseorang. Beberapa kali ia bersembunyi ketika target yang ia ikuti melihat kebelakang. Memastikan bahwa tak seorangpun yang mengikutinya. Beberapa orang yang lalu-lalang melewati gadis ini merasa heran dan menganggap gadis itu sedikit aneh.

Haruno Sakura, gadis yang tengah berlibur di Filipina itu tengah mengikuti seseorang yang membuat ia penasaran, Karin. Warna rambutnya yang merah gelap itu membuat Sakura mudah menemukannya jika ia lengah. Kakinya sudah mulai pegal mengikuti Karin. Dan sekarang ia berada di rute yang ia kenal. Tempat ia dan Sasuke selama ini menginap di Filipina.

Sakura segera menyimpan fakta yang barusan ia ketahui tentang Karin. Bahwa ia dan Karin menginap di hotel yang sama.

Ia tetap mengikuti Karin, hingga memasuki lift. Berbekal sebuah topi baseball berwarna abu-abu, ia mampu menyembunyikan rambutnya Karin kenal. Dan kacamata yang membuat wajahnya sedikit berbeda.

TING!

Lantai 9. Satu fakta lagi yang ia ketahui, mereka berada di lantai yang sama. Mungkin, kamar mereka berdekatan. Dengan gerakan yang tidak mencolok dan berusaha bersikap biasa saja, ia mampu mengetahui kamar Karin. 103. Dugaan Sakura benar, kamar mereka berdekatan.

Sakura memasuki kamar hotelnya yang beda 4 kamar dari kamar Karin. Ia segera menyiapkan revolver dan menyelipkannya di balik jaket putih yang ia kenakan. Mengambil sebilah pisau dan ia sembunyikan di balik rok birunya. Serta menyimpan lencana polisi di kantong jaketnya. Kini, dia telah siap untuk berwaspada.

Selanjutnya, ia kembali ke rumah sakit untuk menemui Sasuke. Kini, ia harus merelakan beberapa peso untuk menaiki bus menuju rumah sakit itu. Lebih cepat lebih baik. Itu yang ia pikirkan.

Beberapa menit lagi ia sampai di tujuan. Ia tak sabar menunggu bus yang ia tumpangi berhenti. Saat bus berhenti, dengan cepat ia turun dari bis dan melesat memasuki rumah sakit. Ia begitu tergesa-gesa. Ia memasuki lift dan menekan tombol angka. Ia tak sabar ingin mengabari Sasuke tentang ini.

TING!

Sakura dengan tidak sabar menekan tombol pintu terbuka berkali-kali hingga pintu terbuka. Ia berlari menyusuri koridor rumah sakit. Tak perduli ia menabrak beberapa pasien dan suster yang sedang berlalu-lalang melewatinya. Ia tak memikirkan tentang maaf lagi, karena hal ini sangat genting.

BRUK!

Ia menabrak seorang pasien hingga terjatuh dan buku bawaannya jatuh. Sakura berhenti dan terdiam sebentar. Ia melihat pria itu membungkuk mengambil buku-bukunya. Merasa tak enak, Sakura membantunya. Namun, sesuatu membekap mulutnya dan membuat pandangannya mengabur.

"Haruno Sakura, lama tidak bertemu."

Dan pandangan Sakura seketika menghitam, gelap. Ia tak sadarkan diri.

.

.

.


.

.

.

Sore datang menyapa. Langit jingga itu tergores indah di tangan Sang Pencipta. Burung-burung merpati terbang dengan bebas dan bercanda tawa dengan ria. Angin berhembus tenang menghanyutkan suasana. Mengajak manusia untuk beristirahat setelah sibuknya aktivitas yang di lakukan seharian.

Tapi, sore ini tengah bersedih. Ia melihat seorang gadis tengah terlelap di sebuah rumah kosong yang jauh dari kawasan keramaian. Kini, kelopak mata terbuka menampilkan pancaran hijau bening yang menyejukkan. Kesadarannya mulai terkumpul. Ia menggerakkan tangannya namun tak bisa. Ia baru ingat, kalau ia tengah di sandera.

Ia melihat kondisinya yang menyedihkan. Mulut yang dibungkam dengan sehelai kain. Kedua tangan dan kaki yang terikat dengan tali tambang. Posisi duduk yang tak nyaman. Membuat badannya merasa pegal-pegal. Ia mengamati sekitarnya. Tak ada sebuah benda yang berada di dekatnya yang bisa membantunya keluar dari rumah yang tak terurus lagi. Ia merasa panik, namun mencoba untuk tenang.

KRIETT!

Sakura mendengar suara pintu terbuka. Pintu yang berada di seberangnya itu menampilkan sosok wanita berambut magenta, kacamatanya terlihat silau tertimpa cahaya terbenamnya matahari, senyuman sinis yang selalu terukir di wajah antagonisnya. Sakura mengenalnya.

"Halo, Sakura-chan. Kita bertemu lagi setelah sekian lama tak berjumpa. Filipina menyatukan kita." Karin mengembangkan seringaiannya. Sakura menatapnya tajam dan mencoba melepaskan ikatan tali di pergelangan tangannya.

"Kau tak sanggup melepas tali itu? Kemana Sakura yang kuat? Apa perlu aku beri dorongan, hm?"

Karin mengeluarkan ponselnya, jarinya menari-nari di depan layar ponselnya yang bisa touchscreen. Ia tertawa jahat, dan maju beberapa langkah mendekati Sakura.

"Aku yakin, dengan ini, kau pasti akan melepaskan tali tambang itu."

Karin menunjukkan layar ponselnya dan memutar sebuah video. Sakura dengan penasaran melihat video itu dengan berlinang air mata.

CTAS!

CTAS!

CTAS!

Sakura melihat Sasuke yang di keroyoki dengan beberapa cambuk. Suara cambuk itu begitu kuat, menunjukkan bahwa cambuk itu melibas kuat tubuh Sasuke yang masih memakai seragam rumah sakit. Bekas lukanya yang masih di perban di pukuli dan diinjak. Begitu sadis dan Sakura tak sanggup melihatnya.

Manik hijau Sakura yang terlapisi airmata itu kini menatap Karin tajam. Kilatan api seakan membara di dalam tubuhnya, rasanya ia ingin menerkam wanita iblis di depannya. Dengan sekali hentakan ia pergelangan tangannya telah terbebas dari ikatan tali tambang. Dengan cepat ia membuka tali yang mengikat kakinya dan berdiri di depan Karin.

"Kau sudah menyakiti keluargaku, menarik paksa nyawa mereka. Kau boleh mengambil nyawaku. Kau boleh mengulitiku. Tapi, jangan sentuh Sasuke-ku!" kata Sakura dengan amarah yang menggebu-gebu darinya.

"Wow, video ini bekerja dengan hebat," ia tertawa puas, "kau mengorbankan nyawamu demi dia? Wanita macam apa kau ini, heh."

"Aku rela mati demi dia! Dia adalah orang yang sangat berharga, pengganti orang tuaku. Dia adalah partner terhebatku. Dia adalah jiwa ragaku. Aku telah melibatkannya dalam hal ini!"

"Haha, dasar gadis remaja. Sepertinya, akan lebih seru jika aku membuatmu tersiksa, Sakura-chan." Ia berjalan meninggalkan Sakura. Secepat kilat ia meraba jaketnya. Namun, betapa terkejutnya dia, senjatanya telah dilucuti oleh Karin.

Ia menatap Karin penuh amarah. Ia mengepal tangannya hingga buku-buku putih muncul di tangannya. Api kemarahan semakin berkoar-koar dalam dirinya. Ia mengejar Karin dan melayangkan tinju di punggung belakang musuhnya itu. Tinju yang begitu kuat, membuat Karin jatuh seketika.

Karin terjatuh. Ia meringis kesakitan sambil mengelus-elus punggung belakangnya yang sakit luar biasa. Dia kesal, amarahnya mulai menumpuk. Ia mengepal tangannya dan segera bangkit. Ia menatap Sakura dengan tatapan yang tak kalah tajam dari Sakura. Magenta-nya seakan-akan ingin menusuk Sakura.

"Beraninya kau!" bentaknya.

Karin mengeluarkan pisau lipatnya dan menggoreskannya di pipi Sakura dengan gerakan cepat. Saking cepatnya, Sakura tak bisa menghindari itu. Perihnya mata pisau menggores pipinya itu membuat ia berteriak kesakitan. Karin tersenyum senang. Sementara Sakura menahan perihnya pipi putihnya yang tergores pisau lipat itu. Darah mulai mengucur dari pipinya.

"Apa kau tak pernah diajarkan arti kesopanan, Sakura-chan? Kau berasal dari keluarga terpandang, tapi kau beraninya membentak wanita yang lebih tua darimu!" Karin menampar pipi Sakura yang terluka itu. Membuat Sakura berteriak kesakitan lagi.

Karin menoleh ke sebuah pintu di belakangnya. Ia memberi isyarat kepada anak buahnya yang berdiri di depan pintu sedari tadi. Pria itu mengangguk paham dan menarik seorang pemuda. Pemuda berseragam rumah sakit yang di nodai banyak darah di sekitar tubuhnya. Baju yang terkoyak-koyak karena libasan cambuk. Pemuda itu, Uchiha Sasuke.

Pria itu mencampakkan Sasuke di dekat Sakura dan Karin. Sasuke menahan sakit yang luar biasa saat lukanya bergesekan dengan debu di lantai. Wajahnya penuh keringat dan berair muka kesakitan. Kelihatan ia menahan sakitnya cambuk selama proses itu berlangsung tadi. Manik hitam yang pudar itu menatap nanar Sakura yang tergeletak di sampingnya.

Sakura melihat kondisi yang mengerikan pada kekasihnya itu. Setetes airmata meluncur dari matanya, melewati luka goresan di pipinya. Tak perduli perih yang ia rasakan, ia justru merasakan perihnya Sasuke. Keperihan yang lebih mendalam darinya.

"Ooh, lihatlah kalian. Bagaikan Romeo dan Juliet yang siap menghadap ke kematian dengan berbekal cinta. Sungguh dramatis."

Karin menoleh kebelakangnya lagi. Memberi isyarat lagi kepada anak buahnya, tentunya dengan isyarat yang berbeda. Setelah bos mereka member isyarat, pria itu memanggil kawanannya yang menenteng jerigen berisi minyak lampu ke ruangan tempat Sasuke dan Sakura terkapar. Mereka mulai menumpahkan minyak lampu itu ke segala sudut ruangan. Sasuke dan Sakura saling berpandang, mereka terlihat sedikit panik.

Melihat itu, Karin menyeringai senang. Ia merasa puas melihat pemandangan yang ironis di depannya. Hal ini memacu rasa senangnya sehingga begitu menggebu-gebu. Karin meninggalkan mereka dan berdiri di depan pintu bersama para anak buahnya.

"Kini, dendamku terbalas sudah. Aku begitu senang bisa menghabisi keluarga Haruno. Sekarang kita impas. Dan rumah sakit milik keluargamu akan menjadi milikku. Haha, sekarang sudah waktunya. Selamat tinggal, Haruno Sakura."

Karin mengeluarkan pemantiknya, memantik api dan menyeringai dengan sangat lebar. Ia melemparkan pemantik itu tak jauh dari Sasuke dan Sakura.

BYAR!

Seketika api melebar mengikuti alur minyak yang di tumpahkan. Hawa di sekitar mereka mulai memanas, pernapasan mereka mulai sesak. Sakura dengan cepat mencari jalan keluar. Klorofil itu gencar mencari celah yang bisa ia dan Sasuke lewati.

Gotcha!

Ia melihat sebuah jendela reyot di belakangnya. Ia mendekati jendela itu dan berusaha merusaknya dengan tenaganya yang diluar batas kemampuan setiap perempuan. Berkali-kali ia tending dan ia pukul, juga beberapa kali ia dobrak. Sakura mengambil nafasnya yang terengah-engah dan sesak. Ia melihat sejenak kedua tangannya, berdarah dan biru. Kakinya sudah mulai sakit. Punggungnya seakan ingin retak. Ia berbalik melihat Sasuke yang terkapar pingsan, semangatnya kembali bangkit. Dengan segenap tenaga yang ia punya, ia mendobrak jendela itu.

BRAK!

Sakura tersenyum lega. Kini ia dan Sasuke bisa meloloskan diri. Ia berlari mendekati Sasuke dan merangkul Sasuke, membantunya berdiri. Ketika ia berjalan mendekati jendela itu, sesuatu menimpa Sakura.

BRUK!

Pandangan Sakura mengabur gelap. Dirinya yang menimpa Sasuke itu ingin bangkit kembali. Namun, sesuatu menahan punggungnya, sesuatu yang berat sehingga tak bisa di geserkan. Tiba-tiba ia merasa lelah.

"Mungkin, disinilah takdirku untuk menghadap ke kematian. Bersama Sasuke-kun."

Dan akhirnya, Sakura tak sadarkan diri.

.

.

.


.

.

.

Malam kini dihiasi oleh rintik-rintik hujan. Menambah dinginnya suasana malam. Suasana yang pas untuk cepat mengistirahatkan diri. Sama halnya seperti Hinata, ia mulai merasakan kantuk menggelitiknya. Ia tau ia tengah lelah, tapi ia memaksakan diri untuk mempelajari kasus Sasori yang merumitkan dirinya. Tangan yang menopang dagunya itu mulai tak kuat. Hingga tangan itu menyenggol segelas cangkir kopi miliknya.

PRANG!

Terjatuh dan pecah.

Hinata tersentak dan melihat cangkir kopinya yang pecah. Tumpahan kopi itu membuatnya sedikit merasakan sesuatu. Sesuatu yang buruk.

"Ada apa ini? Kenapa aku merasa mengkhawatirkan Sakura-san?"

Ia segera beranjak dari duduknya dan mengambil jaket kuningnya. Tak menghiraukan kopinya itu, karena Naruto adalah tujuannya kali ini.

TBC

A/N:

Celamat malam cemuaa~ /alaalachibi/xD

Akhirnya update:D Ya, tumben banget aku update cepet yak hahaxD Udah panjangkan? /Readers: Belom Na, masih pendek!-_-/ Setidaknya udah panjanglaah, nambah 200-an wordsxD Sesuai janji, ini Full SasuSaku, tapi nggak full-full amatxD /ketaboksendal/ Yaa, kan Hinata cuma nyempil doang:D

Udah ah bacotnya! Mind to review?