12
Lachrymose
.
.
.
Senja mulai menapaki horizon. Biru terang mulai memiliki semburat jingga tipis. Luhan menatap gemericik air yang jatuh ke kolam. Menatapnya dengan tatapan kosong menyedihkan. Setahunya, ia akan merasa sedikit lebih baik. Tapi tidak, semuanya malah terasa lebih rumit dan menyesakkan.
Bagaimana ia akan menjelaskan pada Sehun, setelah semua hal yang Sehun perjuangkan untuknya? Kapan ia akan mendapatkan keberanian?
Begitu banyak penyesalan, tapi sekalipun itu akan membunuhnya nanti, ia akan bertahan.
Luhan berusaha menepis semua pikiran tentang betapa menderita hidupnya nanti setelah semua ini berakhir.
"Jangan melamun terlalu banyak, Lu." Sehun datang dengan seulas senyum, duduk di sampingnya sambil mengambil tangannya untuk digenggam. Luhan tertusuk rasa bersalah. "Apa kau menginginkan sesuatu yang hangat?"
Luhan menggeleng pelan, mencoba tidak menatap Sehun. Karena itu hanya membuat matanya makin pedih.
"Luhan, kau sangat kelelahan…"
Luhan menarik nafas. "Sehunna—"
"Tuan Sehun."
Paman Seo datang dengan raut wajah tenang tapi tak menyembunyikan emosi yang bergulung di sana. Sehun menoleh, bertanya tanpa kata tapi Paman Seo hanya membuat gestur dengan sorot matanya dan Sehun mengerti.
"Tunggu sebentar, Luhan."
Luhan hanya mengangguk saat Sehun pergi, menjauh membicarakan sesuatu dengan Paman Seo. Seharusnya Luhan bisa mendengarnya, dan itu membuatnya mulai gelisah saat ia tahu ia tak bisa mendengar apapun.
Sehun kembali dengan wajah pucat dan tegang.
Luhan hanya bisa merasakan bahwa sesuatu telah terjadi.
"Luhan, ikut denganku sebentar."
Luhan merasakan tangan Sehun begitu dingin saat meraih lengannya. "Katakan padaku ada apa?" Bisiknya. Sorot mata Sehun penuh dengan emosi yang tak dapat Luhan artikan satu per satu.
"Luhan, aku akan menjelaskannya nanti. Sekarang ikutlah denganku dan—"
"Sehun katakan padaku ada apa?!" Luhan meninggikan suara, ia gemetar.
"Berjanjilah kau akan baik-baik saja," Luhan mulai merasa tubuhnya mendingin. "Kepolisian sudah meringkus mereka."
Pupil mata Luhan melebar penuh keterkejutan,. "A-apa… Apa yang—"
Sehun meraih wajahnya, mendekatkan dahi mereka dan memeluk pinggangnya mendekat. Sehun begitu mengerti bahwa Luhan mulai kehilangan keseimbangan.
"Shia kembali… Dia kembali, dan kau akan segera melihatnya."
.
.
.
Segala sesuatu berjalan sesuai skenario. Ada beberapa detil yang terlewat, tapi tak berpengaruh begitu besar.
Kris bahkan tak perlu merasakan sedikitpun kekhawatiran, semuanya akan sempurna. Kilasan memori beberapa saat lalu berputar, membuahkan sedikit kekehan tentang bagaimana semua ini berjalan. Petang itu sesuai rencana, mereka—Kris, Tsali, Seungho dan si Gadis Kecil yang Malang, Shia—keluar dari bangunan itu dengan mata menatap awas. Atau sejujurnya hanya Seungho yang melakukannya.
Seungho bertanya tentang bagaimana mereka akan melakukannya, tapi Kris hanya berkata semuanya telah diatur dan dia tak perlu ambil pusing.
Mereka berniat mengendarai mobil menuju suatu daerah sepi di mana Seungho berpikir mereka akan meletakkan Shia dan membiarkan seseorang menemukannya dan melaporkan ke polisi; terdengar sedikit kaku dan mencurigakan, akan menimbulkan spekulasi yang membuat media ramai. Tetapi tentu saja, itu hanya sebatas niat. Tak perlu susah payah menyusun rencana yang tak akan terlaksana, bukan?
Kris nyaris tertawa keras saat mereka dikepung belasan mobil dengan senjata api mengarah mereka. Kris sempat melirik sebentar pada Tsali, gadis itu tersenyum separuh dengan Shia di pelukannya. Sementara di sana Seungho terlihat panik, marah juga ketakutan.
Detektif Kim, salah seorang kenalan mereka di balik layar, mendatangi dengan langkah tegap menyodorkan surat perintah penangkapan yang tak begitu penting. Mengatakan sesuatu tentang jangan melakukan perlawanan apapun atau akan ditindak tegas—ah, ya ya ya.
Tentu tak ada perlawanan berarti di sana, itu hanya akan menghabiskan banyak tenaga. Seungho pasih saat ia digiring menuju mobil polisi lalu sepersekian detik setelahnya, dia mengamuk ingin menghajarnya. Matanya memerah nyalang dan dia terus berteriak kesetanan.
Kris tak menampakkan ekspresi apapun.
Dan saat ini, di saat di ruang interogasi lain Seungho tengah menggeretakkan gigi penuh amarah; ia duduk menyilangkan kaki ke atas meja dengan Detektif Kim yang meminum kopi dengan tenang di hadapannya.
"Tsali mendapatkan mojito-nya di sana?" Kris bertanya.
Detektif Kim mengangguk. "Tentu. Dia langsung tertidur setelah gelas keduanya habis. Apa pekerjaan kalian begitu berat sampai dia begitu kelelahan?"
Kris terkekeh, menyamankan posisi dan memejamkan mata. "Yah, terlalu banyak melibatkan emosi. Bagaimana dengan gadis kecil itu? Apakah dia sudah baik-baik saja?"
"Dia sedang ditangani, aku yakin dia akan baik-baik saja karena ada Baekhyun di sana. Lebih dari itu semua; kau juga terlihat kelelahan."
Kris membuka sebelah mata, tersenyum separuh. "Percayalah, jika kau melihat gadis kecil itu, kau juga akan kelelahan. Aku berpikir akan mengambil liburan ke Vancouver setelah kau menjalankan semua prosedur. Bagaimana dengan brengsek itu?"
"Brengsek?" Detektif Kim melempar tatapan kau-juga-brengsek dan Kris hanya tertawa.
"Yoo Seung Ho, dia hanya diam," Detektif Kim hanya mengedikkan bahu, lalu menyesap kopinya sebentar. "tapi entah bagaimana caranya dia akan kubuat membuat pengakuan. Media akan memanas, ini kasus yang menggemparkan." Detektif Kim menyeringai.
Kris mendengus.
"Tch, kau akan mendapatkan promosi besar-besaran setelah kasus ini selesai."
"Bayaran yang pantas?" Mereka melempar tawa ringan.
"Baiklah," Kris kembali memejamkan mata. "aku akan mengikuti semua prosedur. Tapi lakukan dengan cepat. Aku benar-benar kelelahan."
.
.
.
Saat Luhan sampai, ia tak bisa melakukan apapun selain menunggu. Di lorong IGD Luhan duduk tak tenang dengan Sehun yang memeluk bahunya. Tak ada ketenangan, yang ia pikirkan hanyalah segera melihat Shia, segera merengkuhnya. Luhan makin tertekan dengan suasana lorong yang terasa dingin dan mengerikan ini.
"Apakah Shia baik-baik saja?" Bisiknya.
"Dia akan baik-baik saja. Shia gadis kecil kita yang kuat." Sehun gagal menutupi getar kekhawatiran dalam suaranya, tetapi ia pun tak bisa apa-apa.
Hening panjang mengelilingi mereka.
Luhan memejamkan mata, menangkupkan tangan dan berdoa akan keselamatan putri kecilnya. Sementara di sisinya Sehun hanya bisa merangkulnya dengan raut wajah kusut dan lelah.
"Luhan, Sehun."
Suara itu menyentak kesadaran Luhan, wanita itu refleks berdiri dan mendekat pada Baekhyun yang keluar dari ruang IGD bersama seorang dokter pria lain di belakangnya.
"Bagaimana keadaan putriku?" Luhan bertanya dengan jemari gemetar, jujur ia takut mendengar kemungkinan buruk yang bisa saja menimpa putrinya.
"Luhan, tenanglah sebentar." Baekhyun mengulas senyum tipis. "Shia akan segera baik-baik saja."
"Akan?"
Baekhyun terlihat begitu menyesal mendengar lirihan Luhan itu.
"Kami belum bisa memastikan keadannya, kita masih harus menunggu hasil test darah dari lab." Dokter pria di belakang Baekhyun menjelaskan. "Dari keadaan fisiknya kami menduga dia banyak mendapat dosis obat bius dan masih belum dipastikan apakah itu akan berdampak serius pada anak Anda atau tidak."
Luhan nyaris limbung.
"Shia memiliki beberapa memar, tetapi berdasarkan hasil rontgen tidak terindikasi luka dalam parah. Dia masih di ambang kesadaran karena obat bius, jadi kami membiarkannya tidur secara alami sampai semua residu dalam tubuhnya ternetralisir. Yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunggu dan berdoa, aku yakin, aku sangat yakin Shia akan baik-baik saja. Dia pasti baik-baik saja." Baekhyun melanjutkannya dengan suara yang ia usahakan terdengar profesional, tetapi itu semua runtuh saat ia merasa pedih melihat Luhan menangis tanpa suara.
"Luhan…" Baekhyun memeluk Luhan yang gemetar. "Shia akan baik-baik saja, aku berjanji… Kumohon jangan terlalu banyak menangis… Kau tidak ingin dia melihatmu seperti ini saat dia sadar nanti, kan? Heum?"
"Apakah… Apakah aku bisa melihatnya sekarang?"
"Dia sedang dipindahkan ke ruang perawatan, kita bisa kesana sekarang."
Ruang itu ada di lantai 6, di salah satu ruang rawat kelas VVIP. Lorongnya sangat sepi, putih dan dingin, mendekap Luhan dengan atmosfer menakutkan. Sesampainya di depan pintu kamar rawat Luhan terdiam, ia menatap handle pintu yang terlihat dingin. Sejujurnya Luhan takut melihat keadaan Shia. Tetapi ia akan segera mati jika ia tetap di sini.
"Luhan?"
"Aku baik-baik saja." Katanya.
Luhan masuk dengan mata terpejam, dan saat ia bisa merasakan atmosfer hangat yang familiar di antara aroma resik khas rumah sakit, Luhan membuka matanya. Menemukan Shia terbaring di atas ranjang dengan kulit nyaris sepucat kertas. Luhan membekap mulutnya menahan tangis, langkah gemetar membawanya mendekati ranjang. Luhan menyentuh wajah Shia yang begitu ia rindukan, merasakan kehangatan samar di bawah kulit dingin itu. Luhan mencium kening putri kecilnya yang telah begitu banyak menderita.
"Shia…"
Semua perasaan bercampur aduk menjadi satu. Rindu, pedih, rasa bersalah menyayat dalam juga penyesalan yang amat besar. Luhan merasakan dadanya sesak, ia tak bisa bernafas dengan baik tetapi ia juga merasakan setitik kelegaan mulai membesar dalam hatinya. Di antara semua itu, Luhan sangat bersyukur Shia selamat, ia begitu bahagia ia masih diberi kesempatan untuk melihat putri kecilnya lagi.
"Shia, Sayang…" Luhan tercekat tangis, mencium kening Shia dengan mata pedih. "Kamu selamat, Sayang… Kamu selamat… Mama sangat bersyukur…" Luhan menggigit bibir. "Tolong cepat membuka mata, Mama sangat merindukanmu… Mama sangat ingin mendengar suara Shia…"
Luhan hanya bisa menangis.
"Maafkan Mama… Maafkan Mama telah membuatmu merasakan semua ini…"
Di luar ruang kamar rawat itu, tiga orang menatap dari celah kaca pintu dengan perasaan tak dapat terdefinisi.
Baekhyun menatap nanar dengan tangan terkepal, sorot matanya dipenuhi rasa bersalah dan juga kemarahan.
Sementara Sehun di sana hanya kosong, tak terlihat riak emosi di mata kelamnya. Tetapi jauh di dalam batinnya sedang berkecamuk.
"Bagaimana dengan para bajingan itu?"
Baekhyun berjengit mendengar nada dingin keluar dari Sehun. Meskipun ia merasa gemetar ketakutan, ia tak punya kekuatan untuk melarikan diri dari sana, kakinya terpaku.
"Sedang dalam proses interogasi. Apa kau akan membawa Luhan menemui mereka?" Paman Seo menjawab di belakangnya.
"Tentu tidak sekarang, Paman Seo. Biarkan Luhan bersama Shia, biarkan dia sedikit menyembuhkan luka."
"Kau akan memberitahu Luhan perihal—"
"Tidak sekarang." Sehun mengucapkan hal yang sama. "Emosinya masih tidak stabil, mungkin aku akan bicara padanya segera setelah Shia membuka mata. Atau setidaknya saat Luhan sedikit lebih tenang." Lanjut Sehun. Ia menghela nafas begitu berat.
"Aku akan menyiapkan barang-barang milik Luhan, dia tak akan mau beranjak dari sini, kan? Aku tahu kau kelelahan, setidaknya duduklah sebentar."
Sehun mendapatkan tepukan di bahunya dan ia sangat menghargai itu. "Terimakasih, Paman Seo."
Sehun ditinggalkan sendiri di sana dan setelah beberapa saat, ia masuk menyusul Luhan. Sehun datang memeluk bahu Luhan, berdiri di sebelahnya dan membiarkan Luhan yang kelelahan menyandar pada tubuhnya.
"Kau baik-baik saja?" Sehun bertanya pelan, meremat bahu Luhan dengan lembut.
"Aku akan baik-baik saja." Kata Luhan.
Sehun merendahkan tubuh, mencium puncak kepala Luhan cukup lama. Sehun hanya ingin mengatakan bahwa ia akan berada di sini, apapun yang terjadi, sampai kapanpun. Aku di sisimu, Luhan… Aku akan selalu ada di sisimu…
"Shia ada di sini." Luhan membisik pelan. "Aku sudah melihatnya di depan mataku, aku sangat ingin memeluknya tetapi aku takut aku akan membuatnya terluka. Aku merasa sangat bersalah, aku yang membuatnya merasakan semua ini. Apakah dia akan memaafkanku?" Luhan merasa ia tengah meracau.
Sehun tersenyum kecil. "Apa yang kau bicarakan, Luhan? Dia akan segera baik-baik saja, dan dia pasti membutuhkanmu untuk pulih. Lebih dari semuanya; Shia kecil kita akan sangat membutuhkanmu. Jangan mengkhawatirkan sesuatu seperti itu; kau tahu Shia sangat menyayangimu."
Luhan menunduk, menyembunyikan wajahnya. Luhan kembali menangis, bahunya gemetar. "Aku takut… Aku sangat takut, Sehun…"
Sehun melepaskan pelukannya, merendahkan tubuh dengan lutut menyentuh lantai dan membuat Luhan menghadapnya. Dia masih menunduk, wajahnya basah dan memerah, tetapi kini Sehun dapat melihatnya dengan baik. Sehun mengusapnya lembut, menggenggam telapak tangan yang terasa dingin itu.
"Jangan takut. Bukankah Shia sudah kembali? Kita hanya harus berdoa dan menunggunya, Lu. Tidak akan terjadi sesuatu yang lebih buruk setelah ini, percayalah padaku."
Luhan menatap Sehun dengan emosi campur aduk. Sehun langsung menghentikan semua kalimat yang ingin Luhan katakan begitu melihat sesuatu yang tidak ia sukai di mata basah itu.
"Sehun, aku ingin—"
"Jangan memikirkan sesuatu yang sulit, Luhan." Sehun mencoba membalut kalimat penuh kekhawatirannya dengan suara lembut. Dia bisa melihat Luhan tampak makin bersalah dan menahan diri, tetapi jika Luhan melanjutkan kalimatnya, semuanya akan menjadi lebih buruk. Dan Sehun sedang tak ingin berkonfrontasi, yang ada dalam pikirannya hanyalah Shia. Gadis kecil itu harus segera pulih, membuka matanya dan membasuh semua lara yang Luhan rasakan.
Sehun sangat tersiksa jika ini berlanjut lebih lama.
"Yang paling penting sekarang adalah Shia. Percayalah padaku, akan ada saat untuk meluruskan semuanya. Jangan berpikir terlalu keras, nanti kau jatuh sakit. Dan bukankah Shia akan sedih jika saat pertama kali ia membuka mata ia malah melihat Ibunya sakit?"
Luhan mengusahakan senyum dan balas menggenggam tangannya erat. "Maafkan aku, Sehun."
"Jangan meminta maaf." Sehun mengambil sebelah tangan Luhan untuk ia cium. "Kau ingin istirahat? Aku akan meminta ranjang tambahan; aku tahu kau tak ingin berpisah dengan gadis kecil kita."
Luhan tersenyum antara sedih dan bahagia. Lalu tiba-tiba Luhan memeluknya, menenggelamkan wajahnya di antara perpotongan bahu dan lehernya, menumpukan beban di sana dan seketika Sehun diserang rasa bersalah. Luhan begitu kelelahan dan bersedih karena semua ini.
"Gadis kecil kita…"
Bisikan lirih Luhan yang tersisip rasa bahagia membuat Sehun membalas pelukan itu lebih kuat. Sehun gemetar mendengarnya. Sehun tersenyum. Batinnya penuh sesak dengan bermacam-macam perasaan. Matanya tiba-tiba basah.
"Tentu saja, Shia gadis kecil kita, kan?"
.
.
.
Luhan nyaris tak bisa tidur semalaman. Ranjang tambahan yang Sehun janjikan terlihat nyaman dan mengundang, Luhan tahu punggungnya butuh diluruskan tetapi ia tak bisa memejamkan mata meski matanya berat. Yang ia lakukan hanya menggenggam tangan Shia dengan terkantuk-kantuk. Katakan dia konyol, tetapi ia benar-benar takut jika ia melepaskan tangannya Shia akan menghilang. Lenyap tersapu angin.
Di tengah malam, di antara temaram lampu yang menyinari.
Luhan menatap Sehun yang memejamkan mata di sofa. Pria itu menyandar tak nyaman dan begitu gelisah dalam tidurnya. Seperti tengah mendapat mimpi buruk. Luhan merasa nyeri pada ulu hatinya.
Luhan melepaskan genggaman tangannya dan mendekat pada Sehun. Luhan merendahkan tubuh dan mengusap wajah berkeringat itu.
"Sehun, Sehun… Bangunlah sebentar. Kau baik-baik saja? Sehunna?"
Sehun terkesiap, matanya mengedar panik sebelum akhirnya perlahan tenang saat melihatnya. Sehun menangkup telapak tangannya, bergerak mencari kenyamanan dari sana. Luhan tersenyum kecil.
"Apa ada sesuatu?" Sehun bertanya, menarik tubuhnya dan memeluknya di atas pangkuan. Luhan menggeleng, lalu menyandarkan kepala pada bahu Sehun.
"Aku membangunkanmu karena kau terlihat gelisah dalam tidurmu; apakah kau mendapat mimpi buruk?"
Sehun menghela nafas. "Maafkan aku membuatmu khawatir, tetapi aku baik-baik saja. Apa kau bisa tidur?" Sehun melihat jam tangannya. "Ini tengah malam. Terakhir kuingat kau masih membelai Shia."
Luhan menatap Shia yang masih terdiam di atas ranjang. "Tidak, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mata."
"Kau akan jatuh sakit, Luhan."
"Maafkan aku."
"Tolong jangan minta maaf."
Luhan memejamkan mata ketika mendengar nada yang Sehun gunakan; sedih, marah tetapi juga menahan diri. Luhan baru akan kembali melanjutkan kalimatnya ketika pelukan Sehun di pinggangnya mengerat sampai tahap nyaris menyesakkan. Luhan terkesiap.
"Sehunna—"
"Jangan katakan apapun tentang permintaan maaf." Nada bicara Sehun berubah dan Luhan merasa dia tak diperbolehkan untuk membantah sama sekali. "Shia sudah kembali; bukankah kau harusnya memikirkan kesembuhannya? Jika kau terus bersedih, terus menangis dan merasa bersalah, kau pikir itu akan membuat Shia cepat pulih?"
Luhan meremat bahu Sehun cukup kuat mendengar semua itu. Kalimat itu benar, tetapi terdengar begitu menyakitkan.
"Aku tidak memintamu melakukan hal mustahil seperti banyak tersenyum dan bersikap seolah semua baik-baik saja. Setidaknya pikirkan hal lain saat Shia sudah pulih. Apa kau melupakan trauma psikis yang mungkin datang? Shia akan menjadi sangat rentan dan dia akan membutuhkanmu. Jangan pikirkan hal bodoh."
Luhan menegang. "Sehun—"
"Lu Han, namamu berasal dari bahasa Mandarin, kan?" Luhan tak tahu mengapa Sehun tiba-tiba mengubah topik. Tetapi itu mungkin karena akan terjadi perselisihan jika pembicaraan mereka berlanjut. "Siapa namaku dalam bahasa Mandarin?"
Luhan menjauhkan sedikit tubuhnya untuk bisa melihat Sehun. Sehun memiliki senyum di wajahnya, tetapi tak tampak seperti yang biasa ia lakukan.
"Namamu dalam bahasa Mandarin?"
"Ya."
Luhan berpikir sejenak, kemudian tersenyum kecil setelah mendapatkannya. "Shixun. Shixun adalah namamu dalam bahasa Mandarin."
"Aku akan senang jika sesekali kau memanggilku dengan nama itu."
Luhan ikut tersenyum, kembali menenggelamkan wajah ke perpotongan leher dan bahu Sehun. "Eum."
"Lebih baik kau tidur sekarang. Shia aman, tak akan ada yang bisa menyakitinya sekarang."
Suara itu tegas dan penuh otoritas, dan semudah itu pula Luhan menemukan ketenangan. Sehun mengangkat tubuh Luhan begitu pria itu merasa Luhan tak menolak permintaannya. Mereka berbaring berdekatan dengan Sehun memeluk Luhan dari belakang. Mungkin ranjang itu tak begitu luas, tetapi itu lebih dari cukup.
"Shia akan baik-baik saja, kan?" Luhan menatap putri kecilnya yang masih saja tertidur.
"Berapa kali kau akan menanyakan hal yang sama? Sekarang tidurlah."
.
.
.
Pagi itu Shia masih belum mendapatkan kesadarannya, tetapi Luhan bersyukur pucat wajahnya sudah berkurang. Baekhyun datang bersama satu dokter pria lain, yang memperkenalkan diri sebagai Dokter Yoon. Mungkin mereka akan memberitahu kemungkinan-kemungkinan buruk yang mereka tahan kemarin.
"Kau bisa tidur semalam?" Baekhyun bertanya penuh perhatian.
Luhan hanya tersenyum tipis. "Kurasa aku baru bisa tidur setelah Sehun memaksaku." Baekhyun balas tersenyum maklum.
Sehun datang dengan penampilannya yang lebih rapi dan mereka memulainya.
Mulai dari kondisi fisik Shia, luka-luka yang ia dapatkan dan kemungkinan untuk sembuh. Luhan mendengarkannya dengan hati teremat. Lalu Baekhyun memulai bagiannya.
"Shia gadis yang masih kecil, hal ini akan menimbulkan trauma psikis yang sangat dalam. Berdasarkan keterangan yang kami dapat dari pihak kepolisian," Baekhyun menjeda melihat Luhan berjengit. "maafkan aku harus mengatakannya, tetapi ini harus kau ketahui. Shia mendapat beberapa perlakuan yang memperbesar kemungkinan traumanya, beberapa penyiksaan fisik dan psikis. Kami belum tahu akan seperti apa dampaknya karena sampai sekarang Shia masih belum sadar."
"Apa yang akan terjadi padanya?"
"Kemungkinan pada awalnya dia akan shock, histeris dan ketakutan, tetapi terapi akan membantunya lebih baik. Kami belum bisa memastikan apapun selama Shia belum sadar, dan dia akan sangat membutuhkan dirimu dan orang-orang terdekatnya."
Luhan menundukkan wajah, mengusap air matanya kasar. Baekhyun menggigit bibir pedih, dengan tangan gemetar ia menepuk bahu itu menguatkan meski dirinya tahu ia seharusnya tak memiliki hak sama sekali.
"Aku berjanji akan membuatnya pulih, jangan khawatir. Shia akan kembali sebagaimana Shia yang kita kenal."
Luhan hanya mengangguk. Merasa tak bisa lagi mengatakan apa-apa.
"Luhan, kau belum sarapan, kan?" Luhan mengusap air matanya dan balik menatap Baekhyun. "Bagaimana jika kau ikut aku keluar? Sehun akan menjaga Shia di sini."
"Pergilah, kau butuh udara segar."
Luhan merasa khawatir meninggalkan Shia, ia ingin tetap disisinya, tetapi memikirkan Sehun ada di sini untuk menjaga cukup membantu. Jadi Luhan mengangguk.
Luhan bangkit dan sementara Baekhyun dan Dokter Yoon berbicara beberapa hal dengan Sehun, Luhan mencium kening Shia dan membisikkan doa kecil sebelum ia pergi.
"Mama pergi sebentar, Sayang."
Luhan meninggalkan kamar rawat itu dengan Baekhyun yang menggandeng lengannya seolah takut ia tiba-tiba limbung dan jatuh. Luhan tersenyum menghargai itu.
Luhan tak tahu bagaimana Sehun mencium kening Shia dalam-dalam, membisikkan kata-kata permintaan maaf dengan mata berlinang.
Baekhyun membawanya ke café di sebelah rumah sakit, berkata kantin rumah sakit tidak menyediakan sesuatu yang hangat. Luhan memilih tempat duduk dan membiarkan Baekhyun memesan sarapan untuknya. Luhan menggumamkan terimakasih saat dua potong croissant dan ham juga secangkir teh Earl Grey datang. Di seberang sana Luhan menemukan Baekhyun hanya dengan secangkir kopi hitam.
"Kau mengajakku sarapan tetapi kau sendiri tidak memakan apapun."
"Aku sedang tak nafsu makan." Baekhyun mengerling jenaka.
Mereka menikmati sarapan masing-masing dalam hening, sampai Baekhyun suka suara saat croissant-nya habis. "Kau belum mendengar apapun dari Sehun?"
Luhan merasa ia mengerti apa yang Baekhyun maksud. Lalu ia menggeleng.
"Sehun menyerahkannya padaku, kurasa dia takut tak bisa menahan emosi saat mengatakannya padamu." Baekhyun menyelipkan sedikit kekehan untuk mencairkan suasana. Lalu dokter muda itu menghela nafas berat.
"Media sedang sangat panas dengan kasus yang menimpa Shia ini. Aku memilih jalan samping untuk ke café ini karena pintu utama sedang penuh dengan wartawan." Luhan baru menyadari riuh rendah yang menggantung di udara. "Kusarankan jangan menonton berita apapun, kau akan tertekan dan itu buruk karena kau tak boleh, mengingat kau harus ada untuk Shia. Maafkan aku mengatakan sesuatu yang membebani seperti ini."
Luhan menggeleng, mengulas senyum terimakasih. "Tidak, aku tahu itu tanggung jawabku sebagai Ibunya. Yah, meski aku tak begitu berguna karena membuatnya merasakan semua penderitaan ini."
Baekhyun menggenggam sebelah tangannya di atas meja. "Luhan, jangan berkata seperti itu. Berapa kali harus kukatakan untuk jangan menyalahkan dirimu sendiri?"
Mata Luhan kembali basah. "Jika saja… Jika saja aku…"
"Tak ada yang bisa kau ubah untuk masa lalu. Kau tak bisa melakukan apapun untuk itu. Tetapi Shia sudah ada disampingmu sekarang, dia akan segera membuka mata dan akan segera pulih. Dia sangat merindukanmu." Luhan tercekat mendengar kalimat terakhir.
"Kau tidak berpikir dia akan membencimu atau apa, kan? Dia merindukanmu, dia membutuhkanmu. Sebaik apapun aku melakukan terapi nanti, remedi yang ia butuhkan adalah kau. Dan bukankah Shia sendiri adalah remedi untukmu, Luhan?"
Luhan menunduk, mengangguk kacau mencoba menghalau air matanya. "Terimakasih."
"Ini sama sekali bukan apa-apa." —bukan apa-apa jika dibandingkan dengan semua yang telah aku lakukan.
"Luhan," Baekhyun menjeda kalimatnya, tampak kebingungan juga ragu. Jadi Luhan mempermudahnya dengan mengatakan apa yang mungkin ingin Baekhyun bicarakan.
"Kau ingin memberitahuku siapa yang melakukan ini?"
Baekhyun tersenyum pedih. "Maafkan aku, Luhan."
"Tidak, katakan saja." Lagipula ia sudah tahu siapa yang melakukannya, lagipula ia hampir melakukan tindakan bodoh yang mungkin akan menghancurkan hidupnya.
"Yoo Seung Ho."
Luhan meremat cangkir tehnya begitu nama itu meluncur keluar dari mulut Baekhyun. Baekhyun yang tak menuntut tanya ataupun kalimat-kalimat macam "Apakah kau terkejut?" membuat Luhan menyadari, mungkin Baekhyun sudah mengetahui apa yang pernah ia lakukan. Tetapi Luhan tak bisa bertanya, ia tak memiliki keberanian.
"Bersama satu pria blasteran Asia-Amerika bernama Kris Wu dan satu orang wanita Kanada bernama Tsalia Vern." Luhan tersenyum pahit mendengarnya. "Mereka sedang dalam proses penyelidikan. Detektif Kim berkata padaku dia akan berusaha sebaik mungkin untuk menyelesaikan kasus ini, dia berjanji akan membuat mereka mendapat hukuman setimpal."
"Kurasa aku tak ingin tahu menahu tentang itu." Sejujurnya Luhan merasa sangat tersakiti, hatinya sudah tak kuat untuk mendengar semua hal yang berkaitan dengan Yoo Seung Ho. Ia merasa benar-benar muak. "Aku akan merasa cukup jika dia tak lagi bisa melihatku, melihat Shia dan melakukan apapun terhadap kami."
Baekhyun menggenggam tangannya.
"Aku hanya ingin Shia pulih. Aku ingin kehidupan kami kembali karena aku sangat lelah dengan semua ini. Aku hanya merasa Shia sudah cukup menderita. Aku tak ingin pria itu menyentuh kehidupan kami lagi."
"Tentu, Luhan."
Baekhyun menggenggam tangan Luhan erat. Aku bertanya-tanya, apa hukuman yang akan aku terima karena telah melakukan semua ini?
.
.
.
Seorang wanita paruh baya tampak gelisah mengemas tasnya. Ia berjalan ke sana kemari di kamar bernuansa klasik itu mengambil beberapa barang secara sembarang sembari bergumam sendirian.
"Aku harus cepat… Luhan membutuhkanku." Matanya basah.
Nyonya Xi, wanita paruh baya itu baru akan keluar saat pintu kamar sudah lebih dulu terbuka dan menampakkan seorang pria paruh baya dengan wajah keras ke hadapannya.
"Kau akan pergi kemana?" Suara itu dingin dan keras, dan Nyonya Xi merasa hatinya teremat menyakitkan. Ia merasa darahnya mulai mendidih karena intonasi kejam itu.
"Pikirmu aku akan kemana?!" Dia sama sekali tak menyembunyikan kebenciannya.
Nyonya Xi didorong masuk secara paksa. Tuan Xi menatap dengan sorot mata marah dan benci, tetapi ada setitik pedih yang ditutupi kekeraskepalaan.
"Jangan temui dia. Dia sudah bukan lagi urusan kita."
"Dia anakku!" Nyonya Xi meraung marah. "Aku telah melakukan dosa besar dengan menerima keputusanmu dan membiarkan Luhan menderita sendirian selama bertahun-tahun!"
"Jangan sebut namanya di hadapanku!" Pria baya itu menggeram berbahaya.
Nyonya Xi berlinang, terisak dengan mata menyorot kecewa. "Sampai kapan kau merasa hukumannya masih belum cukup? Dia pergi dari rumah ini dengan keadaan hancur. Kau mengusirnya seperti mengusir anjing berpenyakit, kau mengusirnya seakan kau tidak mengingat dia pernah membuatmu bangga dan bahagia. Bagaimana bisa kau melakukan ini pada anak kita?"
Tuan Xi memalingkan wajah, masih bertahan dengan raut wajah kerasnya.
"Luhan sangat menderita, anak kita sangat menderita. Kehidupannya sudah sangat menyedihkan tetapi dia masih mencintaimu! Dia masih menghubungimu meski tahu dia hanya akan mendapat caci maki dan kutukan, bagaimana bisa kau melakukan ini? Apakah delapan tahun masih tak bisa membuatmu memaafkannya?"
"Dia mencoreng wajahku dengan arang. Dia mempermalukan keluarga ini."
Nyonya Xi mengerang pasrah, terisak makin parah. "Dan apa artinya itu dibanding belasan tahun yang kita habiskan untuk membesarkan dan merawatnya? Apakah itu jauh lebih penting daripada kenyataan bahwa dia adalah darah dagingmu? Apa artinya kehormatan yang kau junjung itu jika bertahun-tahun kita juga hanya menderita?"
Tuan Xi mengepalkan tangannya erat, hendak menyemburkan kemarahan sebelum sang istri menyela lebih dulu dengan kalimat yang membunuh semua argumentasi.
"Luhan baru bisa kembali melihat anaknya, cucu perempuan yang bahkan tak pernah kita lihat atau kau ketahui siapa namanya! Jabang bayi yang kau kutuk sampai neraka walau dia sama sekali tidak berdosa! Apakah kau masih sekeras kepala ini?"
Nyonya Xi mengusap air matanya. "Biarkan aku menemuinya, aku tak peduli jika kau masih enggan melihat wajahnya, tapi tolong biarkan aku kesana."
Tuan Xi tak menjawab, hanya meninggalkan kamar itu dan menguncinya dari luar. Pria baya yang mulai memiliki rambut putih itu menulikan diri dari gedoran pintu dan teriakan marah dari istrinya. Berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa yang selalu ia gunakan untuk menonton televisi, membaca koran ataupun … membacakan dongeng di malam musim dingin dengan perapian menyala dan juga … seorang anak gadis berambut panjang yang menyamankan diri, duduk menumpukan dagu di pangkuannya dengan senyum kekanakan.
Mata itu menatap kosong.
Televisi menyala, dan menampilkan berita yang diam-diam selalu ia ikuti.
"…pihak Kepolisian Seoul menyatakan bahwa mereka sedang melakukan penyelidikan dan interogasi pada ketiga pelaku penculikan dan pembunuhan yang disinyalir merupakan bagian dari sindikat penculikan dan perdagangan manusia internasional. Salah satu dari ketiga pelaku adalah pria berkebangsaan Korea, dua pelaku lain merupakan pria dan wanita berkebangsaan asing yang masuk ke dalam daftar buron Internasional. Pelaku berkebangsaan Korea ini diduga memiliki hubungan dengan ibu dari satu korban yang selamat, yaitu Ny. Luhan. Pelaku diduga melakukan ini dengan motif pribadi…"
Tuan Xi memejamkan mata dengan tangan meremat sandaran sofa.
"…Keterangan tentang korban selamat diperoleh dari pihak kepolisian yang mengatakan bahwa korban sedang mendapatkan perawatan intensif dan dijaga dengan ketat, namun belum didapat keterangan resmi dari pihak Rumah Sakit Swasta Hansung yang merawatnya. Perkembangan kasus ini akan terus di…"
Tuan Xi menghela nafas berat, terus mendengarkan berita itu dengan mata terpejam.
.
.
.
Kamar rawat luas bernuansa kayu yang hangat itu lengang. Hanya terdengar suara samar dari alat pengatur kelembaban udara yang menguarkan aroma menenangkan dan desah nafas dari Shia yang masih betah tertidur dan Luhan yang sama sekali tak beranjak dari samping Shia. Luhan terus menggenggam tangan Shia, menunggunya membuka mata. Sesekali mengusap rambut coklat kehitaman yang lepek dan kusam itu.
Hatinya masih terluka, Luhan terus merasa dadanya diremat tangan tak kasat mata.
Namun ia sudah berjanji akan menjadi seseorang yang Shia butuhkan nanti. Luhan mencoba menguatkan diri meski sejujurnya ia masih ingin menangis.
Pintu ruangan itu terbuka dan Luhan refleks menoleh cepat.
Luhan tersenyum ketika melihat Kyungsoo datang dengan satu kotak besar yang dibalut kain. "Apakah kau mengharapkan Sehun yang datang?"
Luhan bangkit, mendekat pada Kyungsoo dan mendapat satu pelukan erat setelah Kyungsoo meletakkan kotak besarnya di satu meja. "Terimakasih telah datang, Soo-ya."
"Apa yang kau katakan? Tentu saja aku datang, Dasar Bodoh. Apakah kau baik-baik saja?"
Luhan terkekeh, menumpukan dahinya di bahu Kyungsoo yang gemetar. "Kau bertanya seperti itu padahal kau sendiri sedang tidak baik-baik saja; kenapa malah kau yang menangis?"
Kyungsoo melepas pelukannya. Mengusap air mata sembari menatap Shia di atas ranjang. "Aku sangat bahagia Shia sudah kembali." Kyungsoo mendekat dan memberikan satu kecupan hati-hati pada pelipis Shia yang berkeringat.
Luhan tersenyum tulus, kembali ke kursinya sementara Kyungsoo masih mengelus wajah Shia dengan sorot mata pedih, seolah mengatakan kau sudah terlalu banyak menderita…
Kyungsoo segera menghapus air mata, melempar senyum kecil pada sahabatnya. "Nyonya Jang dan yang lainnya menitipkan salam dan doa untuk Shia, mereka sangat ingin menemuimu tetapi merasa akan cukup terbatas. Kau tahu, Luhan, aku harus menjalankan serangkaian interview pada pihak kepolisian hanya untuk berkunjung." Luhan tertawa kecil. "Jika aku tidak bertemu Sehun di resepsionis mungkin aku akan tertahan lebih lama. Dan penjaga di depan sana masih juga menatapku curiga." Kyungsoo bermain dengan intonasinya dan membuat Luhan sangat bersyukur memiliki Kyungsoo.
"Terimakasih, Kyungsoo."
Kyungsoo tersenyum penuh kasih. "Apakah kau ingin makan? Aku membawa banyak sekali untukmu. Sehun berkata pasti kau akan melupakan makan jika tak ada yang mengingatkanmu."
"Dia selalu berkata seenaknya. Tidak sekarang, tapi nanti aku pasti akan memakannya."
"Apakah Ibumu sudah menemuimu?"
Luhan terlihat sedikit mendung dan kecewa. "Belum, Ibu belum menemuiku. Tapi aku yakin dia akan datang."
"Luhan," Kyungsoo tampak kebingungan juga gelisah. "Maafkan aku membahas ini sekarang, aku tahu kau sama sekali tak ingin melihat berita, tetapi apa kau tahu bahwa…" Kyungsoo kesulitan melanjutkan dan Luhan tersenyum maklum.
"Tentang siapa yang membuat Shia menderita seperti ini?"
"Luhan, maafkan aku…" Kyungsoo tampak menyesal.
Luhan menggeleng. "Jangan meminta maaf, Soo." Luhan menghela nafas berat, memalingkan pandangan pada Shia. "Sejak aku mendapat mimpi buruk di pagi itu, saat aku melihat potongan jasad Nara dan mendengar semua yang Detektif Kim katakan padaku, tentang mungkin saja seseorang melakukan ini padaku untuk terror atau peringatan, yang bisa aku pikirkan hanya pria itu. Yoo Seung Ho memiliki alasan paling besar untuk melakukannya."
"Aku benci mengatakannya, tetapi bagaimana bisa seorang ayah melakukan ini pada anaknya sendiri?" Kyungsoo menggigit bibir, matanya berkaca-kaca. "Apa yang sebenarnya brengsek itu pikirkan? Bagaimana bisa dia melakukannya pada Shia? Bukankah seharusnya dia—"
"Seungho tak pernah menginginkannya, dia tak pernah menyayanginya." Kata Luhan, mungkin suaranya terdengar pahit. Tetapi tak ada kekecewaan berlebih di sana, karena sudah sejak awal Luhan membunuh perasaannya. Hanya ada kebencian yang mengakar dalam, melebur bersama amarah. "Dia tak pernah menjadi ayah untuk Shia, sedetikpun tak pernah. Dia hanya tak terima ada Sehun di sampingku."
Luhan menarik nafas, menghalau air matanya. "Aku merasa sangat bodoh, tetapi juga merasa semua yang aku alami sudah cukup menyakitkan."
"Luhan…"
"Kyungsoo," Luhan menjeda. "aku pernah melakukan hal bodoh saat aku terlalu putus asa. Aku menemui Seungho, bertanya padanya apakah dia bisa mengembalikan Shia kepadaku."
Kyungsoo sangat terkejut, dia seperti ingin mengatakan sesuatu tetapi tak tahu harus bagaimana. Dan Luhan sangat mengerti, ia sangat mempercayai Kyungsoo dan merasa ia tak bisa memendam kebodohannya ini sendirian.
"Dia hanya berkata Shia akan kembali kalau aku berjanji akan bersamanya."
"Demi Tuhan, Luhan apa yang—"
"Aku benar-benar putus asa saat itu." Luhan menunduk, menyembunyikan wajahnya. "Dan sekarang aku merasa lega, aku merasa berdosa tetapi juga sangat lega. Shia masih menderita, tetapi aku bisa merasa sangat bersyukur kami tak harus menghabiskan hidup bersama brengsek itu. Aku merasa sangat bersalah pada Sehun pernah memiliki niat untuk meninggalkannya, tetapi aku tak bisa jujur dan mengakui kebodohanku padanya. Kyungsoo, aku tak tahu harus bagaimana…"
Kyungsoo meraih Luhan dan memeluknya. "Tak ada yang menyalahkanmu. Semua itu sudah terlewat, semuanya sudah menjadi terang. Shia kembali padamu. Itu yang paling penting."
"Bagaimana dengan Sehun? Apa yang harus aku lakukan?"
"Itu menjadi keputusanmu, Luhan. Tentang apakah kau akan mengatakannya pada Sehun atau tidak. Dan aku tahu kau pasti bisa menemukan pilihan yang terbaik."
Luhan terdiam dan memikirkan kalimat Kyungsoo.
Lalu ia mendengar suara serak yang sangat lirih. Luhan segera mengalihkan pandang pada Shia dan mendapati putri kecilnya mulai sadar. Kelopak matanya mengerjap lemah.
"Shia? Shia?" Luhan bangkit, meraih wajah putrinya dengan mata berlinang dan dada membuncah bahagia. "Shia?" Luhan menepuk lembut pipi yang menirus itu dengan senyum penuh syukur.
"Oh, Tuhan… Terimakasih…"
Kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Segera setelah Shia bisa menatap dengan sedikit fokus, gadis kecil itu berontak dan berteriak sangat keras. Suaranya tercekik. Shia begitu ketakutan. Berusaha melepaskan pelukan dan menolak Luhan. Gadis kecil itu sampai membusurkan punggung, terlihat begitu kesakitan.
"Shia? Ini Mama, Sayang… Ini Mama…"
Luhan benar-benar panik.
"Tidak! Tidak! Shia nakal… Shia nakal… Shia nakal… Shia nakal… Tidak menuruti Ayah… Tidak menuruti Ayah… Mama pergi… Mama pergi…." Shia kembali berteriak dan berontak. Shia menangis ketakutan dan sorot matanya benar-benar menyayat.
Hatinya mencelos sakit.
Luhan terus memeluk Shia meski ia ditolak, Luhan terus menggumamkan kalimat yang sama.
"Ini Mama, Sayang… Jangan takut. Mama tak akan pergi kemanapun. Mama bersama Shia… Mama tak akan pergi, jadi jangan takut…"
Shia masih menangis ketakutan saat Kyungsoo datang bersama Baekhyun yang terburu. Baekhyun menatapnya panik tetapi tak bisa melakukan apapun begitu melihat Shia masih berusaha melepaskan pelukan Luhan. Luhan benar-benar tersayat, hatinya luka melihat Shia masih ketakutan bahkan saat ia sudah memeluknya. Seberapa besar trauma yang ia rasakan?
"Shia nakal… Jadi Mama pergi… Mama pergi karena Shia nakal… Shia tidak menuruti Ayah… Jadi Mama pergi…"
Gumaman serak itu mulai melemah dan Luhan memberanikan diri melonggarkan pelukannya dan menatap Shia. Luhan menggigit bibir pedih saat mendapati sorot mata lemah dan penuh rasa takut itu.
"Ini Mama, Sayang… Ini Mama. Mama tidak akan pergi kemanapun. Mama bersama Shia. Shia bukan anak nakal, jadi Mama tak akan pergi." Luhan terus menggumam seperti mantra meski batinnya tercabik-cabik.
"Mama… Mama…"
Luhan merasa sedikit terobati setelah Shia tak lagi memberontak, gadis kecilnya mulai membalas pelukannya meski masih begitu lemah.
"Iya, ini Mama. Mama tidak akan pergi, Mama bersama Shia. Jadi jangan takut, hmm?"
Baekhyun mencoba mendekat dan menyentuh Shia, tetapi Shia berjengit dan kembali berteriak ketakutan. "Tidak! Tidak!"
"Sshhh… Jangan takut, Mama bersama Shia." Luhan kembali mendekap putri kecilnya.
Luhan menatap Baekhyun yang masih dihantui panik dan membaca pergerakan bibirnya.
"Shia hanya menginginkanmu, dia hanya membutuhkanmu sekarang. Aku akan berjaga di luar."
Luhan hanya mengangguk pelan, kemudian ruangan luas itu hening. Menyisakan dirinya dan Shia yang masih terisak lemah.
Luhan terus memeluknya untuk waktu yang lama. Tidak mengatakan apapun selain bahwa dirinya tak akan pergi kemanapun. Luhan memeluk dengan lembut, menggerakkan tubuhnya dengan pelan untuk menenangkan putrinya yang ketakutan meski batinnya sendiri berkecamuk.
Luhan berkali-kali mencium puncak kepala Shia, tak melepaskannya barang sejenak.
"Shia?"
Shia tak menjawab apapun untuk beberapa waktu, hanya terisak lemah dengan sekujur tubuh gemetar dan menggigil. Luhan nyaris kembali menangis, tetapi ia tahu itu hanya akan memperburuk kondisi Shia jadi ia menguatkan diri.
"Shia?"
Shia masih tak menjawab apapun setelah waktu berlalu lama.
Luhan menatap ke kaca pintu saat ia melihat seseorang berkelebat, ia menemukan Sehun yang terengah dengan wajah panik luar biasa di celah kaca itu. Luhan mencoba tersenyum meski ia tahu itu hanya akan terlihat begitu pedih.
Luhan melihatnya berbicara dengan Baekhyun. Wajahnya masih panik dan seakan ingin menerobos masuk, tetapi tampak mengerti dan kemudian menahan diri.
Luhan membaca gerak bibir Sehun dan kemudian tersenyum dan mengangguk.
"Aku akan menunggu di sini."
Setelah beberapa waktu berlalu, Luhan mencoba kembali memanggil putrinya.
"Shia?"
Hening beberapa saat, lalu ia mendengar suara lirih.
"Mama…"
Luhan tersenyum penuh syukur, air matanya kembali meleleh.
"Hm-mm… Ini Mama, Sayang."
Shia mulai mendapat ketenangannya, dia tak lagi menggigil dan gemetar meski masih terisak lemah. Luhan perlahan melonggarkan pelukannya agar Shia tak kembali diserang panik. Luhan mencoba tersenyum selembut mungkin.
"Shia baik-baik saja. Shia bersama Mama sekarang."
"Jangan… pergi." Sorot mata Shia masih kosong, Shia masih belum bisa menatap sepenuhnya tapi Luhan bersyukur Shia mulai bisa mengenali suara dan pelukannya.
"Mama tidak akan pergi."
Luhan mendekatkan wajah sampai dahi dan hidung mereka bersentuhan. Luhan menangkup wajah pucat itu dan berbisik. "Shia baik-baik saja. Tidak perlu merasa takut."
Menginjak petang hari Shia baru bisa sedikit lebih tenang dengan keberadaan orang lain di ruangan itu. Shia masih tak ingin melepaskan pelukan Luhan, tak ingin melihat siapapun selain Luhan dan enggan bicara apapun selain kalimat-kalimat yang sama sebelumnya.
Shia gemetar saat Baekhyun dengan sangat lembut menyentuh pergelangan tangan dan memeriksa denyut nadi, hampir menangis saat kondisi vitalnya diperiksa. Tetapi Luhan sama sekali tak bisa apa-apa selain memeluk dan menenangkan.
Tak ada yang bersuara di sana selain Luhan karena Shia kembali menjerit ketika Baekhyun mencoba berbicara.
Luhan membaca tulisan yang Baekhyun perlihatkan padanya di papan pemeriksaan.
"Tanyakan padanya apa yang ia inginkan, apa yang ingin ia makan atau minum."
Luhan mengangguk kecil.
"Shia, Sayang…" Luhan mencoba mendapat perhatian Shia yang masih sedikit gemetar. "Apa yang Shia inginkan?"
Cukup lama sampai Shia menjawab. "Mama."
Luhan tersenyum pedih tetapi tetap melanjutkannya.
"Mama tak akan pergi, Sayang. Mama di sini. Apa Shia ingin makan sesuatu?"
Anggukan kecil yang Luhan rasakan membuat Luhan sangat lega. "Apa yang Shia ingin makan?"
"Pudding. Pudding cokelat buatan Mama."
Luhan sedikit terkesiap mendengarnya. Itu adalah salah satu hal yang pernah ia janjikan pada Shia di hari Shia menghilang; Luhan berjanji akan membuat pudding spesial untuk Shia sepulang sekolah. Luhan merasa benar-benar sedih.
"Eum, pudding cokelat buatan Mama."
"Shia akan segera mendapatkannya. Apakah Shia ingin minum sesuatu?" Luhan menjeda. "Susu? Atau teh?"
"Teh … lemon."
"Baiklah, teh lemon."
Baekhyun segera memberi kode pada Perawat Kim untuk menyampaikannya pada Kyungsoo yang masih menunggu di luar kamar rawat.
Hari sudah malam ketika Luhan akhirnya bisa melepaskan Shia dari pelukannya; gadis kecilnya tertidur cukup nyaman diantara tumpukan bantal dan selimut. Luhan menatap Kyungsoo yang masuk ke kamar rawat dengan senyum kecil.
"Aku yang akan menjaga Shia, kau istirahat sebentar. Sehun dan Baekhyun menunggumu di luar."
Luhan mengangguk, tersenyum penuh terimakasih sebelum mengecup kening Shia hati-hati lalu keluar dari kamar rawat.
Luhan menemukan Sehun berdiri menyandar pada dinding koridor dengan raut wajah khawatir dan lelah. Sehun segera memeluknya begitu ia keluar.
"Kau baik-baik saja? Apa kau membutuhkan sesuatu? Apa yang bisa aku lakukan untukmu dan Shia?" Sehun memberondong pertanyaan, sangat kentara ia ingin segera masuk dan mencapai Shia. Luhan terenyuh.
"Aku baik-baik saja, jangan khawatirkan aku. Shia sudah membuka mata, tak ada lagi yang aku inginkan."
Sehun menggumamkan syukur di perpotongan leher dan bahunya.
"Kau perlu istirahat, Luhan. Sehun akan membawamu untuk membersihkan diri dan makan."
Luhan menggeleng saat mendengar Baekhyun mengatakannya. Luhan melepaskan pelukan Sehun dan beralih pada dokter muda itu. "Tidak, aku ingin mendengar tentang Shia."
Baekhyun tersenyum lemah. "Kenapa kau sama keras kepalanya dengan Sehun ketika kuminta untuk istirahat?"
Luhan bertukar pandang pada Sehun yang juga tersenyum lemah.
"Maafkan aku, tetapi aku tak bisa tenang selama aku belum mengetahui kondisi Shia."
Baekhyun menyerah dan meminta mereka berdua duduk.
"Kondisi vitalnya masih belum bisa dikatakan stabil. Dia mengalami peningkatan sensitivitas sensor tubuh; dia mudah terkejut dengan hal-hal kecil, denyut jantungnya meningkat dan cepat, pupil matanya membesar, dan sekresi keringat yang berlebih. Respon kognisinya mengalami penurunan. Aku khawatir dia akan kerap mengalami rasa takut dan cemas berlebih jika ada orang lain di dekatnya selain dirimu. Namun aku tidak bisa segera menangani post-trauma yang mungkin menimpanya melihat dia begitu ketakutan dengan kehadiran orang lain."
Mata Luhan basah.
"Apakah dia akan baik-baik saja?" Bisiknya serak.
"Ada kemungkinan besar Shia akan mengalami PTSD, atau Post-Traumatic Stress Disorder. Tetapi kita masih harus mengamati gejala dan kondisi Shia selama empat minggu ke depan, jika dia terus menunjukkan perilaku ketakutan dan cemas berlebih, mendapat mimpi buruk berulang-ulang, atau bahkan mengalami amnesia psikologis terhadap kejadian yang menimpanya. Jika Shia kerap menunjukkan emosi negatif selama empat minggu kedepan maka kemungkinannya untuk menderita PTSD sangat besar."
Luhan nyaris limbung jika saja Sehun tidak menyokongnya dengan benar. Tubuhnya lemas mendengar semua yang Baekhyun katakan. Apakah Shia bisa kembali seperti dulu?
"Tenanglah, Luhan… Shia akan baik-baik saja." Sehun dengan pengertian mendekap dan menenangkannya.
Baekhyun nampak begitu terluka dan juga pedih, tetapi ia harus menjaga profesionalitasnya dan memaparkan semua yang harus ia katakan.
"Kondisinya mungkin akan diperparah dengan masa kecilnya yang kurang menyenangkan," Luhan membeku. "maafkan aku mengatakan ini, tetapi lingkungan keluarga yang tidak berfungsi baik saat ia tumbuh membuatnya kesulitan untuk mengekpresikan emosi. Hal ini bisa memicu alam bawah sadarnya untuk melepaskan semua emosi yang terpendam, tetapi di saat yang sama ia mendapat tekanan besar dari kejadian ini."
"Apakah dia bisa sembuh? Apakah dia akan baik-baik saja?" Luhan gemetar saat bertanya.
"Selama empat minggu kedepan kita hanya harus memantau kondisi fisik dan psikologisnya, mengamatinya dan kemudian mendiagnosis apakah ia benar terkena PTSD atau tidak. Jika benar Shia menderita PTSD, maka aku akan melakukan serangkaian terapi untuk membantunya meringankan trauma. Kita belum bisa melakukan apapun selain menjaga dan menenangkan Shia sekarang." Baekhyun meraih tangan Luhan yang berkeringat dingin, menggenggamnya dengan erat.
"Percayalah padaku, Luhan. Aku akan melakukan yang terbaik untuk Shia dan dirimu. Aku berjanji, Shia akan kembali seperti sedia kala."
.
.
.
Jam menunjukkan pukul dua dini hari, dan Sehun sama sekali tak bisa memejamkan mata pun duduk mengistirahatkan fisiknya yang kelelahan. Sehun tak bisa merasa tenang. Shia terbangun dan menjerit ketakutan tengah malam tadi dan membuat Luhan panik dan kesulitan menenangkannya, gadis kecil itu baru bisa tenang dan kembali memejamkan mata setelah satu jam penuh menangis dan memberontak, kembali menolak ibunya.
Sehun menggigit bibir. Berjalan cepat menyusuri koridor kantor Kepolisian Seoul yang sangat sepi bersama Detektif Kim dan Paman Seo di sampingnya. Sehun benar-benar tak bisa menahan emosi. Ia benar-benar kacau melihat bagaimana Shia sangat menderita dan bagaimana Luhan kesulitan dan juga bersedih dengan kondisi Shia.
Sehun nyaris tak bisa berpikir jernih, dan hal yang ingin ia lakukan adalah segera menghabisi orang yang membuat bencana ini terjadi.
"Dua pelaku sudah membuat pengakuan dan pernyataan. Sementara satu pelaku lain, Yoo Seung Ho, masih bungkam dan bertahan untuk tidak mengatakan apapun."
"Kami tidak berharap kasus ini dapat cepat terselesaikan, tetapi setidaknya apakah Anda dapat membantu agar media tidak terlalu menggemparkan berita ini? Nyonya Luhan tak berniat mengikuti media, tetapi hal itu tentu akan memberi tekanan besar. Begitupun dengan kondisi Nona Shia jika dia pulih nanti."
Detektif Kim tersenyum simpati. "Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk itu."
Mereka berhenti di ruang interogasi di ujung koridor dan tanpa basa-basi Sehun langsung menjeblak pintu itu. Beberapa opsir yang berjaga di depan monitor tampak ingin menahannya, tetapi urung ketika melihat Detektif Kim memberi gestur dengan matanya.
Sehun berhenti sejenak, melihat di balik kaca satu arah di mana Seungho duduk lunglai dengan wajah marah bersama satu petugas kepolisian yang tengah menginterogasi di depannya.
"Paman Seo, tolong jangan hentikan aku."
Paman Seo hanya membungkuk sebagai jawaban.
Sehun masuk ke ruang itu dan langsung memukul Seungho sampai terlempar ke dinding. Petugas muda yang menginterogasi itu tampak terkejut dan berusaha menghentikan Sehun, tetapi Sehun tidak sedang dalam kondisi bisa mendengarkan orang lain. Petugas itu berakhir ikut terhempas ke dinding sebelum Sehun kembali menghajar Seungho.
"Bajingan!" Sehun menggeram murka melepaskan amarahnya.
Sehun terus memukul wajah Seungho sampai membiru dan berdarah. Sama sekali tidak menahan diri. Seungho mulai membalas setelah tahu siapa yang menghajarnya. Mereka berakhir berkelahi hingga membuat meja dan kursi terguling dan nyaris remuk.
"Jika saja kau tidak muncul maka semua bencana ini tidak akan terjadi!" Sehun melayangkan pukulan keras pada Seungho sampai pria itu kembali menghantam dinding dan merosot.
Sehun baru akan kembali memukul ketika Seungho buka suara.
"Aku?" Nada bicara itu sinis juga penuh amarah.
Di luar bilik interogasi, Detektif Kim mematikan mikrofon dan kamera perekam.
"Detektif Kim, apa yang Anda—"
"Kau ingin menghentikanku?" Detektif Kim menatap dengan sorot mata khas pada opsir muda yang tampak tak terima itu. "Atau kau ingin mencoba menghentikan mereka berdua?"
Detektif Kim kembali menatap ke balik kaca pembatas.
Seungho tertawa susah payah, bibirnya sobek dan wajahnya penuh luka lebam. "Aku yang bertanggung jawab terhadap semua ini?!" Desisnya.
Sehun masih terengah, tetapi tak lagi menampakkan gejolak mendidih. Dia perlahan tenang, tatapannya berganti tajam dan dingin.
"Jika kau tidak berniat mengambil mereka, jika kau tidak menantangnya, jika kau tidak menyulutnya; mungkin saat ini kau masih bisa bernafas, kau masih punya peluang untuk hidup. Bukankah aku sudah berbaik hati memberikanmu celah agar kau menyerah dengan Luhan dan Shia?"
Seungho menunduk, mengepalkan tangannya yang berdarah erat-erat. "Brengsek." Seungho kemudian terkekeh dengan seringai di sudut bibir. "Apa yang akan Luhan katakan jika dia—"
"Jangan khawatir," Pupil matanya melebar begitu mendengar suara itu. Seungho tiba-tiba merasa tersudut dan terhimpit oleh udara yang mengelilinginya. "kau tak akan memiliki waktu sedetikpun untuk melihat Luhanku. Bahkan menyebut namanya pun kau tak akan bisa."
Sehun kembali melayangkan pukulan pada Seungho.
"Tuan Seo, kurasa aku mengerti kenapa Anda diminta untuk tidak menghentikan Tuan Oh tadi."
Pria baya yang dimaksud hanya tersenyum, senyuman tua itu terbelah antara sedih juga tak berdaya melakukan apa-apa. "Saya sudah terbiasa, Detektif Kim."
"Apakah Anda juga berniat menemui dua pelaku lain?"
Paman Seo menatap Detektif Kim dengan senyum sopan. "Tidak. Biarkan Tuan Wu dan Nona Vern diinterogasi sebagaimana mestinya."
.
Tbc
.
Enam bulan nggak update ya, wkwkwk. Maafkan saya, semester ini beneran hectic sekali. Yang lupa bisa baca ulang mumpung liburan haha. Yah, mungkin nggak serapi chapter2 lalu karena saya menulis ini pun tersendat, dan Chi sedang tidak bisa full-beta karena kesibukannya. Untuk chapter depan saya tinggal editing sedikit-sedikit, tetapi masih belum tahu kapan update selanjutnya.
Ini tidak akan discontinue, seenggaknya saya harus punya chaptered yang sampai END wkwkwk. :"D Selama ini sering sekali khilaf nulis oneshot-twoshot (Yah, mungkin ada 6 judul, siapa tahu besok2 saya publish hehe).
Saya tahu pembaca HunHan makin berkurang— tapi saya akan sangat senang jika masih ada yang membaca dan mengapresiasi. Saya agak sedih yang review sedikit di Fic yang baru2 ini saya publish :"D (Maafkan saya, pengakuan dosa macam apa ini *headbang)
Terimakasih yang sudah menunggu, membaca dan me-review. Semoga ini bisa menjadi apologi saya, ya. :")
.
Anne, 2019-06-29
