~13~
.
.
.
All Character belong to Masashi Kishimoto
This Story belong to My imajination
.
Hope you Like It!
.
.
.
Normal POV
Neji melirik jam dinding rumahnya. Jam delapan lewat sepuluh menit. Dan adik perempuannya belum juga bangun.
Memang sih, Hinata pasti masih mengantuk karena Neji tau gadis itu baru tidur dini hari tadi. Entah apa yang dilakukannya sampai lewat tengah malam.
Tapi gadis itu tidak bisa lolos kali ini. ia sudah tidak mengerjakan tugasnya selama dua minggu sebelumnya kemarin. Dan ia janji akan melakukan tugasnya minggu ini. jadi, gadis itu tidak bisa lolos kali ini.
Neji membuka gorden kamar adik bungsunya itu, membuat kamarnya yang tadinya gelap, menjadi terang karena banyaknya cahaya yang masuk.
Hinata menggeliat dalam tidurnya lalu menarik selimutnya hingga menutupi kepala. Menolak cahaya yang masuk.
"Bangun!" seru pemuda itu sembari menarik selimut Hinata, membuat gadis itu mengerang kesal.
"Aah apasih Nii-san?!" teriaknya kesal.
"Bangun! Kau harus membersihkan rumah hari ini!" balas Neji tak kalah kesal dengan nada tegasnya.
"Aah, nanti saja. Aku ngantuk mau tidur! Nii-san tau sendiri 'kan aku baru bisa tidur tadi pagi?"
"Aku tak peduli. Itu urusanmu. Kau janji akan mengerjakannya hari ini, jadi bangun!"
"Berishkan saja dengan Shion, kenapa sih?!" ujarnya bersikeras. Tak mau turun dari tempat tidur.
"Turun atau…"
"Atau apa?!" potong gadis itu.
"Atau kau tidak akan dapat makan malam selama sebulan penuh!" jawab Neji.
Hinata mendengus. "Silahkan saja. Aku bisa memasak ko. Tak perlu Nii-san membuat makan malam untukku," ucapnya sombong.
"Aku tau. Silahkan saja. Tapi jangan pakai bahan makanan yang kubeli. Kau harus membelinya sendiri. Dan… uang jajanmu kupotong," balas Neji, menatap Hinata dengan seringai liciknya.
Hinata mengerang kesal. Kakaknya ini benar-benar menyebalkan disaat-saat tertentu. Seperti saat ini, misalnya.
"Apa-apaan itu?!" Gadis itu menatap tajam kakaknya, begitu pula sebaliknya.
"Baik baik! Aku bangun! Argh!" ucap gadis itu pada akhirnya. Menyerah. Uang jajannya dipotong dan ia harus membeli bahan makanan sendiri? Yang benar saja! Ini tidak adil!
"Pagi, Hina!" seru Shion setelah ia turun ke bawah. Sepertinya gadis itu habis berkebun. Oh ya, Shion pintar berkebun. Gadis itu pintar dalam segala hal. Hebat sekali.
Masih dengan muka cemberut, Hinata membantu Neji membersihkan rumah, sedangkan Shion membereskan taman di luar. Sekalian berkebun, katanya.
"Hei, Hinata." Hinata menoleh ketika namanya dipanggil.
Shion mengelap keringatnya sebelum kembali menatap sepupunya iu. "Dari kemarin aku penasaran.. kenapa kau dan Naruto naik bianglala? Bukannya kau takut ketinggian?"
"Ya. Aku juga penasaran," ujar Neji yang tiba-tiba muncul di belakang.
Hinata menelan ludahnya, bingung mau menjawab apa. "Ya.. ya tidak apa-apa. Memangnya kenapa?"
Shion dan Neji saling pandang sebelum kembali menatap Hinata. "Hee, jawaban apa itu?" tanya Shion.
"Mencurigakan," sahut Neji.
"A-apasih?! Memangnya kalian mengharapkan jawaban apa?" Hinata gelagapan.
"Ya misalnya, apa yang kalian lakukan disana. Aku yakin Naru pasti memelukmu. Iya 'kan?" tanya Shion dengan nada menggoda.
"Dia benar-benar memelukmu, Hinata?" tanya Neji yang mulai penasaran.
"Ti-tidak!" jawab Hinata gelagapan. Wajahnya memerah malu mengingat kejadian kemarin saat ia dan pemuda Uzumaki itu naik bianglala.
"Oh, jadi benar ya." Shion manggut-manggut.
"Wah, cepat juga Naruto." Kali ini Neji yang angkat bicara.
Wajah Hinata semakin memerah ketika kakak dan sepupunya itu menatapnya dengan tatapan jahil. "A-aku mau ke kamar!" serunya lalu segera pergi dari sana.
"Menurutmu apa dia sudah menyadarinya Nii-san?" tanya Shion, menatap Hinata yang berlalu di tangga.
"Entahlah. Kurasa sudah."
"Ya. Sepertinya begitu."
Mereka berdua tersenyum sebelum menghela nafas.
.:0o0:.
'BRAK!'
"Kenapa sih? Daritadi marah-marah terus," ujar Ino. Gadis pirang itu duduk di hadapan Hinata sembari menyeruput susu coklatnya.
Hinata tidak menjawab. Gadis itu membuat tangannya menjadi bantal dan menenggelamkan wajahnya disana.
Kejadian saat di Amagi Park kemarin masih terus terngiang di pikirannya. Diputar berulang-ulang seperti kaset rusak. Ia bahkan ingat dengan jelas setiap percakapan mereka kemarin.
Rasanya ia frustasi dengan semua ini. kenapa ia tidak bisa melupakannya? Apalagi perihal orang yang disukai pemuda Uzumaki itu. Ia tidak tahu siapa dan ini membuatnya penasaran.
"Apa mungkin… Sakura?" gumamnya pelan lalu mengerang. Ia menggeleng, berusaha mengenyahkan pemikiran itu. Lagipula Naruto yang bilang sendiri saat itu kalau ia hanya menyukai Sakura sebagai teman. Berarti bukan dia. Lalu… siapa?
"Kenapa dia?" tanya Tenten pada Ino yang hanya mengendikkan bahunya pelan, tanda tak tahu.
Tenten baru saja duduk di kursi di samping Hinata ketika gadis Hyuuga itu mengangkat kepalanya tiba-tiba.
"Ah, terserahlah!" teriaknya frustasi sebelum kembali ke posisinya tadi.
Dia gila, batin Tenten dan Ino bersamaan.
.:0o0:.
"Aku lapar," ucap Ino sembari memegangi perutnya. Ia memandang orang-orang yang sedang bermain basket di lapangan dengan tatapan bosan.
"Kau baru saja makan tadi," sahut Tenten. Sahabatnya yang satu ini memang suka sekali dengan makan.
"Ini giliran kita," ujar Hinata malas.
"Aku ingin pulang," ucap Ino dan disetujui oleh kedua sahabatnya itu.
Mereka sedang pelajaran olahraga sekarang, dan dalam pelajaran ini mereka akan main three on three dengan tim yang mereka buat sendiri.
Hinata, Ino, dan Tenten sebenarnya, tidak terlalu suka berolahraga, tapi mereka rutin melakukannya setiap minggu jika ada waktu senggang dan sedang tidak malas. Jika dibilang tidak bisa, mereka cukup bisa, jadi yah.. lumayan bisa lah jika harus bermain three on three seperti ini.
"Baiklah. Ayo kita selesaikan ini dan segera pulang," ucap Ino dengan seringaian menghiasi wajahnya. Mereka sudah ada di lapangan bersama tim lawan.
Permainan berlangsung selama dua puluh menit dengan kemenangan di tim Hinata. Mereka menang telak dengan skor 25-14.
Ino bersorak senang. Mereka hendak ke ruang ganti untuk berganti baju jika saja Hinata tidak dipanggil Guy. "Apa kau ada acara setelah ini?" tanya guru olahraga itu, membuat Ino berpikir macam-macam. "Apa Guy-sensei mau mengajak Hinata berkencan?" Dan berkat pertanyaannya itu ia kena cubit keras si bungsu Hyugga itu.
"Tidak. Ada apa, Sensei?" jawab gadis Hyuuga itu. Ino mengelus pinggangnya yang sakit karena cubitan Hinata tadi.
Raut wajah Guy cerah seketika mendengar jawaban Hinata. "Baguslah kalau begitu. Kau piket hari ini 'kan?" Hinata menggangguk pelan, tapi pasti. Firasatnya mengatakan hal buruk akan terjadi setelah ini. "Bisa bantu Sensei mengumpulkan bola basket? Setelah itu taruh di gudang. Yaah, tadinya Sensei tak mau meminta bantuanmu, tapi ini sangat mendesak. Mau ya?"
Hinata meringis pelan. "Hanya aku?"
"Oh, kau boleh mengajak temanmu yang lain kok."
Hinata menoleh pada kedua temannya. "Aduh, sepertinya aku harus menjaga toko hari ini," ucap Ino.
"Aku juga sepertinya ada les." Kali ini Tenten.
Hinata memandang kedua sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya. Apa-apaan ini? mereka sama sekali tak mau membantunya? "Kalau begitu, selamat berjuang Hinata! Dah!" Itu kalimat terakhir Ino dan Tenten sebelum mereka pergi dari sini.
Jadi… Hinata harus mengerjakan semuanya sendirian. Awas saja kalian nanti, batin gadis itu kesal.
Hinata akhirnya dengan terpaksa menyetujui permintaan Guy. Yah, lagipula terkadang ia kasian pada guru itu. Tak ada yang mau membantunya membereskan lapangan. Selalu pria itu yang melakukannya sendirian. Yah, memang permintaannya juga sih tak mau dibantu. Lagipula, bukankah dia terlalu energik? Sudahlah untuk apa juga memikirkannya.
Hinata menatap sekeliling lapangan dengan tatapan malas. Bola basket dan voli berserakan dimana-mana. Jadi, ini aku harus mengumpulkan bola voli juga begitu? Batinnya menatap kesal bola-bola voli yang berserakan di sekeliling lapangan. Entah siapa pelaku yang menyebarkan bola voli ke sekeliling lapangan. Padahal tadi mereka sedang pelajaran basket. Menyebalkan. Untung saja lapangannya indoor.
Hinata berjalan malas memunguti bola-bola basket di lantai dan melemparkannya ke keranjangnya di sisi lapangan. Ini sulit, karena sering kali lemparannya tidak masuk karena ia melemparnya asal-asalan, jadi yang terjadi adalah ia harus bekerja dua kali untuk mengambil bola itu dan mengumpulkannya di keranjang.
Hinata berjalan gontai ke sisi lapangan. Ia lelah setelah berlari mengejar bola basket dan voli yang tiada habisnya daritadi. Kini ia ingin istirahat. Matanya mencari sebotol minuman untuk melegakan dahaganya, tapi nihil. Tak ada minuman sama sekali.
Ia mengumpat dalam hati. Disenderkannya kepalanya ke dinding lalu ia meutup matanya, berusaha mengatur nafasnya. "Ah.. capeknya.. aku haus.." gumamnya pelan.
Tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh dahinya yang berkeringat, membuatnya membuka matanya dan menengadah. Matanya menatap datar orang yang menempelkan botol air mineral dingin di dahinya. "Mau apa kau?"
"Hee, galak sekali kau Indigo." Yap. Itu Naruto. Ia duduk disamping Hinata lalu menyerahkan air mineral yang dibawanya pada gadis itu. "Untukmu. Kelihatannya kau lelah."
Hinata ragu-ragu menerima pemberian pemuda Uzumaki itu sebelum mengucapkan, "terima kasih." Lalu meminumnya hingga habis setengah. Naruto tersenyum melihatnya.
"Sedang apa kau disini?" tanya gadis itu pada akhirnya.
"Hm.. jalan-jalan? Aku bosan."
"Kalau bosan kenapa tidak pulang?"
"Aku malas pulang." Naruto meluruskan kakinya, mengikuti Hinata. "Kau sendiri kenapa disini? Masih pakai baju olahraga pula. Sedang olahraga, eh?" tanyanya balik.
"Guy-sensei menyuruhku mengumpulkan bola basket dan menaruhna di gudang. Kalau tidak juga aku sudah pulang daritadi."
"Oh."
Tidak ada percakapan setelahnya. Hinata merasa risih dalam keadaan seperti ini. Ia tidak pernah bisa diam-diaman seperti ini. Lebih baik ia pergi daripada berada di situasi seperti ini terus.
"Jadi, Indigo…" Suara pemuda itu membuatnya menoleh. Naruto memalingkan wajah menatap Hinata. "Apa kau menyukaiku?" lanjutnya. Wajahnya menampakkan raut wajah serius.
"Pertanyaan macam apa itu?" tanya gadis itu datar.
Naruto menghela nafas sebelum kembali menyenderkan kepalanya di dinding. "Haa aku bosan dan bingung. Daritadi kau diam saja habisnya. Aku bingung apa yang harus kubicarakan denganmu." Jadi… Uzumaki juga merasakan hal yang sama?
"Um.. Uzumaki…" panggilannya membuat pemuda itu menoleh. Sebenarnya, Hinata bingung harus menanyakan ini langsung padanya atau tidak, tapi ia benar-benar penasaran dan tak bisa berhenti memikirkannya sejak kemarin-kemarin. "Kenapa?" tanya pemuda itu bingung karena ia tak kunjung melanjutkan kalimatnya.
"…soal kemarin… siapa orang yang… kau sukai itu…? Selain Sakura?" tanya Hinata pada akhirnya.
Naruto menyeringai menatap gadis disampingnya. "Hee, jadi kau penasaran, eh?" Tapi gadis itu enggan menjawab. Wajahnya perlahan memerah. Naruto tersenyum geli menatapnya. Lucu sekali. Rasanya ingin kugigit. "Aku tidak akan menjawab kecuali kau menghadap kesini," ujarnya. Sukses membuat gadis itu berbalik menghadapnya, pelan tapi pasti. Naruto tersenyum puas karenanya.
"Hm.. Shion?" Hinata sontak langsung menengadah menatap Naruto yang ternyata sedang menatapnya juga. "Tapi tidak mungkin 'kan? Dia sudah punya Menma," lanjutnya, terkekeh pelan.
Hinata seketika kesal. "Apa maksudmu?" Ia menatap Naruto kesal. Padahal Hinata bertanya serius tadi. Kenapa pemuda itu menjawabnya dengan bercanda?
"Maksudnya, aku menyukaimu, Hinata-chan."
Satu detik
Tiga detik
Lima detik
'BLUSH'
Hinata memundurkan wajahnya. "A-a-apa katamu?" Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya tadi.
"Hm? Aku bilang aku menyukaimu, kenapa?" Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu, membuatnya semakin memerah. Lucu sekali.
"I-ini tidak lucu, Uzumaki!" Hinata semakin memundurkan wajahnya.
"Siapa yang bilang ini lucu?" Yah, wajahmu lucu sih, batin pemuda itu, masih terus mendekat.
Naruto mengubah posisinya. Ia berada di hadapan gadis itu sekarang. Kedua tangannya mengunci pergerakan Hinata yang terpojok di dinding. "Jadi… apa jawabanmu?" tanyanya. "Apa kau menyukaiku juga, eh Hyuuga?"
"A-aku tidak…" Hinata benar-benar bingung apa yang harus dilakukan dan diucapkannya sekarang. Wajahnya sudah benar-benar panas sekarang dan ia terpojok, tidak bisa kemana-mana, dan otaknya benar-benar tak bisa berpikir saat ini.
"Yo, Naruto!"
Naruto menoleh ketika mendengar namanya dipanggil. Pemuda itu mengernyitkan kening tak suka kala melihat siapa orang yang memanggilnya tadi.
'BUGH!
"Aw!" Perhatiannya kembali teralih pada Hinata yang memukul wajahnya. Gadis itu cepat-cepat melarikan diri dari sana ketika ia memundurkan badannya. Naruto mendecih melihat punggung Hinata yang semakin menjauh. Ia mengelus pipinya yang masih sakit karena pukulan gadis indigo itu tadi. kuat juga dia, batinnya.
"Waw." Ah, ia lupa. Masih ada Kiba disini.
"Mau apa kau kemari?" tanyanya, sama sekali tak menyembunyikan nada kesalnya.
"Ya, sebenarnya sih, aku mencari Hinata tadi. Tapi dia sudah pergi. Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan dengannya tadi?" jawab pemuda Inuzuka itu.
"Bukan urusanmu. Lagipula, ada urusan apa kau mencari Hinata?"
"Yah, aku mau mengajaknya jalan-jalan sore seperti biasa. Sepertinya Akamaru merindukannya."
"Cih, kau apa Akamaru yang merindukannya?" Naruto menatap sinis Kiba.
Kiba mengangkat alisnya. "Hee, kenapa kau jadi emosi seperti ini? Yah, kalau boleh jujur aku juga merindukannya sih sedikit."
"Oh, kalian sedekat itu ya?"
Kiba menyeringai. "Ya. Kami sedekat itu, kalau kau mau tau. Ah, sudah ya. Aku mau mengejar Hinata dulu. Dah!" Ia lalu meninggalkan Naruto yang masih kesal karena kedatangannya.
Naruto membaringkan tubuhnya di lantai. Ia menghela nafas, berusaha menenangkan dirinya. "Menyebalkan!"
.:0o0:.
Hinata mengatur nafasnya setelah tadi berlari dari gym. Pikirannya masih belum menangkap apa yang terjadi tadi. Masih memprosesnya. Pikirannya sedang benar-benar lambat memproses apa yang terjadi. Naruto bilang kalau pemuda itu menyukainya. Naruto menyukainya. Orang yang ia sukai menyukainya. Apa ini benar? Atau hanya bercanda? Aah, Hinata benar-benar tidak bisa berpikir.
Ia benar-benar payah jika menyangkut masalah seperti ini. Aah, lebih baik ia pulang dan tidur. Ya, itu terdengar lebih baik.
"Yo, Hinata!"
"Kiba? Ada apa?"
"Aku mencarimu tadi, tapi kau malah pergi."
Hinata menggaruk tengkuknya pelan. "Ah.. ha-ha maaf. Kenapa mencariku?"
"Ya, tadinya sih aku mau mengajakmu jalan-jalan sore bersama Akamaru. Sepertinya dia merindukanmu. Tapi sepertinya kau sedang sibuk ya?" jawab Kiba.
"Ah, ti-tidak kok, tapi maaf ya.. mungkin lain kali.." Sebenarnya, Hinata juga merindukan Akamaru, tapi hari ini ia sedang benar-benar lelah karena olahraga tadi dan tugas dari Guy-sensei, juga pikirannya sedang kacau karena omongan Naruto tadi.
Kiba tersenyum kecil. "Ya, aku sudah tau jawabanmu sih. Kalau begitu, mau pulang denganku?" tawarnya.
Hinata membalas senyumnya lalu menggangguk pelan, "tentu. Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu." Ia lalu segera pergi mengganti bajunya setelah itu.
.:0o0:.
"Nii-san," panggil Hinata. Neji menggumam tanpa menoleh pada adiknya itu. Ia terlalu focus pada film di layar TV-nya.
Hinata gelisah sendiri. Ia benar-benar tak tahu harus menanyakan ini atau tidak, karena ia tak pernah membicarakan hal seperti ini dengan kakaknya. Sahabatnya sendiri saja jarang, bahkan hampir tidak pernah. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya gadis itu memberanikan diri membuka mulutnya, bertanya. "Apa Nii-san pernah menyatakan suka pada seseorang?"
Akhirnya Neji menoleh. Merasa heran dengan adiknya yang tiba-tiba bertanya seperti itu. "Tidak. Kenapa memangnya?"
Shion yang baru saja dari dapur membawa cemilan, ikut duduk di sisi lain sofa disana.
"Ti-tidak ada. Hanya bertanya." Hinata mengalihkan perhatiannya ke TV, berpura-pura menonton.
"Kau menyatakan suka atau ada orang yang bilang suka padamu, hm?" Shion angkat bicara. Meski gadis pirang itu tidak bilang pada siapa ia berbicara, tapi Hinata yakin, itu pasti ditujukan padanya.
Hinata terkesiap. Feeling Shion memang tajam. "Ti-tidak kok. Aku hanya bertanya karena penasaran saja."
"Hee, siapa yang bilang suka padamu?" Shion bertanya lagi, seakan tak mempedulikan ucapan sepupunya itu tadi.
Neji menatap adiknya itu, mulai penasaran. "Jangan-jangan… Natuto?" tanya Shion lagi.
Seketika gadis bungsu Hyuuga itu terlonjak kaget. Ugh, sial. Harusnya aku tidak bertanya tadi. "Apa maksudmu?"
"Kau tau jelas maksudku Hinata." Shion menyenderkan punggungnya ke sofa.
"Apa itu benar, Hinata? Naruto bilang suka padamu?" Kali ini Neji yang bertanya.
"Ugh… tidak Nii-san… itu… hanya…" Hinata benar-benar tak bisa berpikir sekarang.
"Tak apa. Bilang saja padaku. Lagipula aku tak akan menertawakanmu kok," ucap Neji. Akhirnya bungsu Hyuuga itu menggangguk pelan.
Shion dan Neji yang melihatnya, melebarkan matanya. Tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. "Lalu.. apa jawabanmu?" tanya Shion.
"Aku… memukulnya…"
"Hah? Tunggu.. dia menyatakan suka padamu lalu kau pukul?" tanya Shion tak percaya.
"Bu-bukan begitu! A-aku tidak sengaja memukulnya! Dan juga… aku belum bilang apa-apa tentang pernyataannya…"
"Aku tau kau kasar, tapi jangan sampai memukul orang yang kau sukai juga dong Hina," ujar Neji.
Yang dimaksud menatap Neji kesal. "Apa maksudmu aku kasar?" tanyanya tak terima.
"Apa? Kau memang kasar 'kan. Pintu mobilku saja sering dibanting, sampai aku harus beberapa kali memasukkannya ke bengkel."
Shion menatap kagum sepupunya itu. Hebat sekali dia bisa membanting mobil Neji sampai segitunya, pikirnya.
"Sudah sudah. Yang penting Hinata, nanti kau harus memberinya jawaban. Dan jangan coba-coba bilang tidak!" ucap Shion.
Hinata hanya memutar mata mendengarnya. Memangnya kenapa kalau ia bilang tidak? Yah, lagipula, Hinata tidak ada rencana untuk menolak pemuda Uzumaki itu sih.. jadi mungkin ia akan bilang ya? Entahlah.
.:0o0:.
"Kenapa?" Hinata menoleh ketika sahabat pirangnya itu bertanya padanya. Menatapnya bingung. "Kau daritadi menghela nafas terus," lanjut Ino.
Hinata mengalihkan pandangannya keluar jendela, tak menghiraukan pertanyaan Ino.
'BRAK!'
Semua pasang mata mengarah pada asal suara. Menatap heran Shion yang baru saja menggebrak pintu dengan nafas terengah-engah. Gadis itu berlari menghampiri Hinata. Hinata yang tak mengerti hanya bisa menatapnya dengan pandangan bingung sekaligus heran.
"Naru… Naru…"
Hinata mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa dengan Uzumaki?"
"Naru… di UKS. Penyakitnya kambuh…" Seketika dadanya berdegup kencang. Naruto… ada apa dengannya?
Gadis Hyuuga itu langsung pergi ke UKS sesaat setelah Shion mengatakan itu. Sedangkan Shion mengistirahatkan dirinya di tempat duduk Hinata.
Tenten dan Ino saling memandang heran. Apa yang sebenarnya terjadi? "Mau mencari tau?" ajak Ino.
"Boleh juga. Ayo." Mereka berdua langsung meninggalkan kelas, mengikuti Hinata.
Langkah Hinata terhenti tepat di depan pintu UKS. Entah kenapa ia ragu untuk masuk. Tangannya tak kuasa untuk menggeser pintu itu. Ia takut Naruto tidak menginginkan kehadirannya disana. Ia takut pemuda itu akan memarahinya karena kelakuannya kemarin. Ia bahkan belum sempat minta maaf.
Tiba-tiba pintu terbuka. "Hinata?" Itu Neji. "Kau tidak masuk?"
"Aa.. itu…"
"Masuklah. Naruto pasti senang melihatmu," ucap Neji dengan senyum tipis di bibirnya. Ia mengelus pucuk kepala Hinata pelan sebelum pergi meninggalkan gadis itu disana –kembali ke kelas.
Hinata ragu-ragu melangkahkan kakinya masuk. Ia memasuki bilik yang tertutupi tirai. Naruto disana. Sedang berbaring, tak sadarkan diri. Ngomong-ngomong… sepertinya ia pernah melihat pemuda itu di UKS seperti ini, tapi kapan? Ah… ingatannya terlalu payah.
Tangannya ragu-ragu memegang tangan pemuda itu. Panas. Apa dia demam? Sebenarnya, kenapa dengannya? Kenapa ia bisa seperti ini? Begitu banyak pertanyaan di benak Hinata. Tangannya mengelus pelan tangan pemuda itu. "…maaf…" bisiknya sangat pelan. Entah kenapa matanya panas, rasanya ia ingin menangis.
"..baiklah.. aku maafkan…" Eh?
Hinata langsung sadar. Ia melepaskan tangannya pada pemuda itu dan mengusap matanya yang sudah basah. Matanya menatap pemuda Uzumaki itu. Dia sudah sadar. Dan dia sedang menatapnya dengan cengirannya seperti biasa, tapi kali ini, wajahnya tak secerah biasanya. Dia pucat dan sakit. "S-sejak kapan kau bangun?"
"Hm.. sejak kau memegang tanganku dan bilang maaf. Oiya, kenapa kau minta maaf?"
Sekarang Hinata kebingungan. "I-itu…" Ayolah Hinata, bicara! "U-untuk… yang kemarin karena.. telah memukulmu…" Kepalanya menunduk malu, mengingat kejadian kemarin.
Senyum mengembang di wajah pucat Naruto. "Ya.. tidak apa-apa. Maaf juga ya, aku terlalu tiba-tiba kemarin…"
Hinata hanya diam, bingung mau menjawab apa. Melihat gadis itu diam, Naruto akhirnya memutuskan membuka suara, "jadi… apa aku boleh tau apa jawabanmu untuk pernyataanku kemarin, hm?"
Gadis itu menegang seketika. Apa jawabannya? Apa yang harus ia jawab? Ia berkeringat dingin. Tangannya bertaut, gugup. "I-itu… apa kau… sungguh-sungguh mengatakannya padaku kemarin?"
"Tentu saja. Apa menurutmu aku bohong ketika aku bilang aku menyukaimu, hm? Apa… kau membenciku?"
"Tidak!" jawabnya refleks dengan suara yang sedikit meninggi, membuat Naruto tersenyum. "Jadi…?" tanya pemuda itu lagi.
"Ja-jadi… itu…"
Naruto menghembuskan nafas pelan. "Apa kau menyukaiku, Hinata?"
Hinata menelan ludahnya. Wajahnya memerah malu. Ia menundukkan kepalanya lalu mengangguk pelan. "Jadi ini artinya kau menerima perasaanku, hm?" Ia mengangguk lagi.
"Mendekatlah," titahnya, dan gadis itu mendekat. Naruto meraih tangannya, menggenggamnya lembut. Hinata yang terkejut akan hal itu tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan pasrah menerimanya. "Sebut namaku," titahnya lagi.
Gadis itu mengangkat kepalanya, menatapnya heran. "Uzuma..ki?" Naruto menampakkan raut wajah kecewa. "Eh? Ke-kenapa?" tanyanya bingung.
"Aku tanya padamu, siapa namaku?"
"Eh? Na..naru..to Uzuma..ki..?"
"Siapa namaku?" tanya Naruto lagi.
"Naruto Uzuma..ki..?"
"Ulangi."
"Na-naruto.."
"Ulangi. Dan jangan sebut margaku."
Hinata baru sadar. Wajahnya langsung memerah setelah itu. Ternyata pemuda itu ingin ia memanggil namanya. Bukan marganya seperti yang selama ini ia lakukan. Tanpa sadar, tangannya balas menggenggam tangan pemuda itu erat, membuat Naruto tersenyum karenanya. "Na-naru..to.."
"Pintar. Mulai sekarang panggil aku Naruto." Naruto mengelus tangan Hinata yang ada di genggamannya, membuat gadis itu semakin merona.
"Ke-kenapa aku harus?" Hinata benci dirinya yang selalu gagap saat sedang gugup.
Naruto terdiam sejenak sebelum kemudian raut wajahnya berubah kesal –pura-pura. Ia memalingkan wajahnya. "Kau memanggil Kiba, Kiba. Sedangkan aku Uzumaki."
Jangan bilang dia… cemburu? "…baiklah…"
Naruto dengan cepat kembali memalingkan wajahnya menatap Hinata, matanya seolah berkata ayo-coba-panggil-namaku pada gadis itu. Kali ini gentian Hinata yang memalingkan wajahnya. "Na-Naruto…"
"Apa?" tanyanya pura-pura tidak dengar.
"Na-Naruto…"
"Coba katakan sekali lagi. Aku tidak mendengarmu. Suaramu itu kecil sekali, Indigo."
Hinata kesal dibuatnya, jadi tanpa sengaja ia berucap dengan suara yang agak tinggi. "Naruto!"
Pemuda Uzumaki itu nyengir lebar, sedangkan Hinata masih dengan wajah meronanya.
.:0o0:.
"Tenten, katakan padaku…"
"Telingamu normal, dan yang tadi itu kenyataan," sahut Tenten.
Ino memijit pelipisnya pelan. Masih tak percaya dengan apa yang didengarnya beberapa saat yang lalu. Jadi ini benar-benar terjadi? Wow, benar-benar tak bisa dipercaya.
Tenten menarik Ino menjauh dari UKS supaya mereka bisa bicara dengan jelas. "Aku benar-benar tak percaya ini.. jadi selama ini mereka…"
"Ya. Saling suka."
Ino menatap Tenten. Sahabatnya yang satu ini santai sekali, seperti ia sudah tau segalanya sejak awal. "Jangan bilang kau.. sudah tau semua ini?"
Tenten mengalihkan pandangannya dari Ino, menghindari tatapannya. "Ha! Jadi kau memang sudah tau ya?! Kenapa tidak memberitahuku?!" seru Ino kesal. Hanya ia yang tidak tau apa-apa disini, dan ia kesal akan fakta itu.
"Aku tidak tau. Aku hanya menduga kalau Naruto-senpai menyukai Hinata. Itu saja," jawab Tenten.
Ino masih tidak percaya, tapi sebelum ia kembali bersuara, suara pintu geser menginterupsi mereka. Itu Hinata. Gadis itu sudah keluar dari UKS.
Tenten dan Ino saling pandang. Gawat kalau dia sampai melihat kita dan tau kalau kita tadi menguping! Batin mereka. Ino dan Tenten langsung mengambil langkah seribu ke kelas sebelum gadis Hyuuga itu melihat mereka disana.
Tenten dan Ino terengah begitu mereka sampai kelas sembari berucap dalam hati, semoga Hinata tidak melihat mereka berdua tadi. Selang lima menit kemudian, bungsu Hyuuga itu datang. Ia duduk di kursinya, tanpa mengatakan sepatah katapun. Wajahnya merona. Tangannya bertautan, tak bisa diam. Ino dan Tenten saling pandang sebelum mereka mengalihkan pandangannya pada Hinata.
"Ja-jadi… bagaimana keadaan Naruto-senpai?" tanya Ino lalu berdehem.
Hinata tidak menjawab, ini membuat kedua sahabatnya mengerutkan kening. "Hinata." Tak ada jawaban. "Hinata." Masih tak ada jawaban. Ino menampakkan raut wajah kesal. "Hinata Hyuuga!"
Seketika Hinata mengangkat kepalanya, menatap Ino. "A-apa?"
"Aku bertanya padamu, Nona muda."
"Ah.. itu.. sepertinya, keadaannya sudah membaik," jawab gadis itu pelan.
"Ada apa denganmu?" Kali ini Tenten yang bertanya.
"Ada apa apanya?"
"Kau jadi aneh setelah kembali dari UKS. Apa ada yang terjadi disana?"
Hinata tidak menjawab, otaknya kembali memutar kejadian beberapa saat lalu saat ia di UKS. Wajahnya langsung berubah merah padam. Hinata menyembunyikan wajahnya dibalik tangannya di atas meja. Ia benar-benar malu mengingat kejadian tadi.
"Hei, jangan bilang kau ketularan sakitnya Naruto-senpai, Hina." Ino sudah mulai tenang sekarang. Gadis itu membuka lollipop di sakunya dan memakannya.
"Apa yang terjadi?" tanya Tenten lagi. Masih berusaha mengorek informasi dari sahabat indigonya itu.
"Tidak ada apa-apa," jawab Hinata. Suaranya samar-samar karena tertutupi tangan.
"Kau tidak bisa membodohiku, Hinata. Kau tau itu. Katakan, apa yang terjadi?" desak Ino.
Memang benar sih, Hinata tidak bisa menyembunyikan apapun dari sahabatnya yang satu ini, karena Ino selalu bisa mengetahuinya. Tapi terkadang, Gadis Yamanaka ini juga bisa dibodohi. Meskipun tidak mudah sih.
Hinata mengangkat kepalanya. Menatap kedua sahabatnya yang sedang menatapnya juga. "Uh.. apa kalian benar-benar ingin tau?" Mereka mengangguk. Hinata menampakkan wajah cemberut. Bingung mau cerita darimana. Karena otaknya juga sedang tidak bisa berpikir saat ini.
"Singkatnya… Naruto…"
"Tunggu," potong Ino. "Sejak kapan kau memanggil Naruto-senpai dengan sebutan Naruto?"
Hinata baru sadar. Ia langsung menutup mulutnya. Wajahnya kembali memerah. Ino menyeringai. Tatapan matanya jahil menatap Hinata menggoda. "S-sudahlah, kau mau dengar tidak?!" ucap Hinata akhirnya.
"Yaya lanjutkan."
"Si-singkatnya… Uzumaki… juga menyukaiku…"
"Hee, jadi dugaanku benar ya? Lalu kau bilang apa?" Ino bertanya, meskipun sebenarnya ia sudah tau apa jawabannya. Hinata menerima perasaan Naruto. Karena jelas-jelas perasaan mereka saling berbalas.
"Aku bilang… ya…"
"Wah, jadi akhirnya perasaanmu terbalas," ucap Tenten. Gadis bercepol dua itu tersenyum pada Hinata.
Hinata membalas senyumannya. Ya. Akhirnya. Akhirnya perasaannya terbalas. Dan ia sangat bahagia saat ini.
Terima kasih Tuhan…
A/N:
Ini… gak ngegantung 'kan? Hehe. Peace ^^V.
Buat readers yang udah ngikutin fic ini sampe sejauh ini dan suka review makasi banyak yaa! Aku seneng banget baca review dari kalian! Hehe. Berasa.. ada yang nungguin ceritaku buat apdet gituu. Meskipun kalo apdet suka lama buanget, tapi thanks banget yaa buat yang uda baca dan review! (meskipun yang review ga sebanyak yang baca T3T #pukpuk) hahaups.
Jadi, um.. rencananya fic ini bakal selesai antara satu sampe dua chapter lagi! Yey akhirnya fic aku ada juga yang selesai #terharu. Semoga masih mau ikutin sampe akhir, dan semoga nanti suka sama endingnya ya! (meskipun aku masih bingung mau bikin ending kayak gimana hehe :v)
Pokoknya, see you in the next chapter! Jangan lupa review ya!^^
Love,
Nx
