Oke, chapter ini adalah epilog! Sengaja Fei post hari ini, soalnya besok selama 3 hari Fei gak akan bisa post di ffn, gara-gara mau pergi :'(
.
Disclaimer: ATLUS
Warning: OC berpotensi (besar) mary-sue, typo(s) bertebaran, (berusaha) mengikuti timeline P3F, (sangat) butuh review #dor. Di chapter ini author sangat sotoy mengenai geografi, tukang koran, kereta. Harap maklum.
.
.
~EPILOG: "Wonderful Journey at the Beginning"~
.
.
Setahun kemudian.
Misaki Ruu yang memiliki nama asli Shirato Ruu sedang duduk manis di kursinya. Ia sedang ada di dalam kereta yang sedang berjalan. Ini bukan pertama kalinya Ruuki menumpangi kereta seorang diri. Waktu ia kecil, ia sering berpergian dengan orangtua dan kakaknya yakni Jin naik kereta. Setelah orangtuanya meninggal dan kakaknya 'menghilang', Ruuki selama sendirian kalau kemana-mana. Saat pertama kali ia harus naik kereta seorang diri, itu membuatnya mual. Tetapi karena ia sudah terbiasa, ia tidak mual lagi.
Perjalanan menuju kota yang Ruuki tuju masih memakan waktu sekitar 1 jam lagi. Gadis yang selalu membawa kucingnya kemana-mana itu sudah menghabiskan 3 jam awal perjalanan dengan tidur. Yah, mau bagaimana lagi. Ia sudah membeli tiket untuk kereta yang paling pagi hari itu, yakni pukul 5 pagi. Dengan kata lain ia harus bangun pukul 3, segera mandi, sarapan, lalu langsung membawa barang-barangnya ke stasiun.
Kini Ruuki bingung mau melakukan apa selama sekitar 1 jam ini. Buku-buku yang ia bawa semuanya ada di dalam koper, terlalu sulit untuk membuka dan mencarinya dalam kereta. Oh, untunglah ada seorang penjual koran yang lewat. Ruuki melihat salah satu gambar besar yang berwarna di halaman depan koran, lalu tertarik untuk membeli koran tersebut. Apa yang membuatnya tertarik? Itu adalah gambar salah satu senpainya setahun yang lalu.
Setelah membeli koran itu, Ruuki langsung membacanya. Di halaman pertama ia melihat judul dengan ukuran tulisan yang besar berbunyi 'Kirijo Mitsuru, peraih penghargaan sebagai 10 direktur tersukses di dunia pada usianya yang masih muda'. Senpainya. Ternyata Mitsuru berkuliah di luar negeri sambil tetap mengerjakan pekerjaannya sebagai direktur Perusahaan Kirijo.
Ruuki membuka dan membaca halaman demi halaman, kemudian sampailah ia di bagian Olahraga, dengan judul besarnya, 'Sanada Akihiko, petinju nasional terhebat'. Senpainya yang lain. Dengan kata lain, kedua senpainya kini sudah menjadi orang hebat. Wow, sebenarnya tidak mengherankan, sih, mengingat betapa ambisius dan pekerja-keras keduanya.
Omong-omong, sudah setahun sejak ia meninggalkan asrama Iwatodai dan kembali ke Hokkaido. Sudah setahun pula ia berpisah dengan SEES. Walau begitu, di hari-hari pertama ia berpisah dengan teman-temannya, Ruuki masih sering mendapat telepon atau pesan dari Yukari, Fuuka, Ken, dan Akihiko. Makin lama gadis itu sudah tidak mendapat kabar apa-apa lagi dari teman-temannya. Tetapi beberapa hari yang lalu Yukari meneleponnya, mengabarkan bahwa gadis berambut coklat itu mendapatkan tawaran untuk bergabung dengan tim pemanah nasional. Ken pun mengabari Ruuki bahwa sekarang anak laki-laki itu tinggal bersama dengan Junpei dan Koromaru di tempat kos Junpei –lelaki yang masih suka mengenakan topi bisbol itu kabarnya tidak mau kuliah, ia lebih ingin bekerja, tetapi masih memikirkan untuk mengambil kelas D3. Fuuka mengirimi kartu pos pada Ruuki, mengatakan ia berhasil diterima di universitas terbaik di Jepang dalam jurusan IT. Rupanya gadis berambut hijau lumut itu masih sangat menyukai hal-hal yang berbau IT.
Ruuki tersenyum sendiri mengingat tentang teman-temannya. Potongan-potongan memori mengenai dirinya dan SEES menyelinap masuk dalam pikirannya. Sedang asyik bernostalgia, tiba-tiba ponselnya berdering, seseorang meneleponnya. Gadis itu melihat nama orang yang meneleponnya. 'Sanada Akihiko'.
"Halo?" kata Ruuki.
"Ruuki?" tanya orang yang diseberang telepon.
"Senpai, ada apa?" tanya Ruuki.
"Hn, memangnya kalau tidak ada apa-apa, aku tidak boleh menghubungimu?"
"Oh, bukan itu maksudku…"
"Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik, seperti biasa. Bagaimana dengan senpai?"
"Aku juga. Hm? Kau sedang dalam kereta, ya? Aku mendengar suaranya."
"Ya. Omong-omong, aku sedang membaca koran yang baru terbit hari ini."
"Begitukah?"
"Mm-hm, aku melihat berita tentangmu. Selamat senpai, sepertinya cita-citamu terwujud," ujar Ruuki tersenyum.
"Siapa bilang itu cita-citaku?" kata Akihiko.
"Eh?"
"Aku ingin menjadi polisi, makanya latihan tinju."
"Ah, begitu rupanya…"
"Ruuki?"
"Ya?"
"Apakah orang itu Arisato Minato?"
"Hm?"
"Orang yang kau sukai…apakah itu Minato?"
"…"
"Ruuki?"
"Ya, dia orangnya."
"Sudah kuduga. Aku sering melihat tatapanmu untuknya, aku sering melihatmu melirik padanya. Ternyata itu sebabnya…"
"Senpai sering melihat itu?"
"Tentu. Karena aku memang selalu melihatmu, Ruuki. Selalu. Karena aku menyukaimu."
"Eh?"
"Aku menyukaimu. Dan aku akan mengatakannya secara lebih pantas jika suatu saat nanti kita bertemu lagi –kuyakin aku akan bertemu denganmu suatu saat nanti."
"Senpai…"
"Ng, manager-ku sudah memanggil. Aku akan meneleponmu lagi kalau ada waktu. Oh, dan Ruuki?"
"Ya?"
"Aku merindukanmu."
"Aku juga."
Ruuki dan Akihiko memutuskan sambungan telepon mereka. Gadis itu menatap layar ponselnya. Mencoba mencerna lagi apa saja yang senpainya katakan. Astaga, kenapa ia tidak pernah sadar kalau Akihiko menyukainya? Mungkinkah ia tidak sadar karena selama ini ia selalu melirik Minato? Astaga.
Pikiran tentang Akihiko dan Minato terpecah saat Ruuki mendengar suara yang menyatakan bahwa kereta yang ia tumpangi akan sampai di stasiun yang dituju dalam waktu 5 menit. Gadis itu langsung memasukkan koran dan ponsel kedalam tasnya, kemudian mengecek barang-barang bawaannya agar nanti tidak ada yang tertinggal.
5 menit kemudian, sampailah Ruuki di kota tempat ia akan melaksanakan misi barunya. Turun dari kereta, ia langsung mencari pintu untuk keluar dari stasiun. Dihirupnya udara segar yang bertiup ke arahnya. Walau namanya kota, itu bukanlah kota besar, lebih tepat kota pinggiran. Bukan menghina, tetapi karena memang tempatnya masih sangat asri, jauh lebih asri dan bersih daripada di Hokkaiddo. Pegunungan, sawah, bukit, sungai, bisa langsung terlihat dari stasiun. Masih sangat alami.
Kini gadis itu mencari-cari orang yang katanya akan menjemput. Katanya sih itu pamannya. Sambil berjalan keluar stasiun, Ruuki masih terus mencari. Sampai tiba-tiba ada yang memanggil,
"Oi! Shirato Ruuki!" panggil seorang laki-laki.
Ruuki melirik ke arah laki-laki tersebut. Dilihatnya pria itu bersama dengan seorang anak perempuan kecil yang sepertinya masih duduk di bangku SD, serta seorang pemuda seusianya berambut abu-abu dan membawa tas besar. Ruuki pun membawa tas dan kopernya menuju ketiga orang itu.
"Ah, kau juga sudah tumbuh besar rupanya," kata pria yang memanggilnya. "Aku Dojima Ryotaro. Gadis kecil ini anakku, Nanako. Dan pemuda ini adalah Seta Souji. Ayahmu adalah kakak dari istriku, sedangkan ibunya Souji adalah kakakku," jelas Ryorato.
Setelah bersalam-salaman satu dengan yang lain, Ryotaro mengajak Ruuki dan Souji naik mobil, lalu membawa mereka ke rumahnya. Rumah kediaman Dojima. Rumah yang menjadi tempat tinggal Ruuki selama ia menjalani misi dari Igor.
.
'Aku sudah siap dengan misi baru, Igor,' kata Ruuki dalam hatinya.
.
.
~TAMAT~
(Nantikan SEKUEL dari Wonderful Journey yang berjudul 'BREAKAWAY'!)
.
.
Akhirnya sekarang bener-bener selesaaaii~~!
Tunggu sekuelnya, ya, entar akan berlatar di Persona 4 –gabungan game dengan animenya.
Sampai jumpa di fict 'Breakaway'!
REVIEW!
