Love matematic
.
.
HunHan
.
.
E
.
.
.
.
Seorang namja duduk berkutat dengan handphonenya. Ekspresi wajahnya yang berubah-ubah menandakan ia sedang sangat serius. Entah apa yang dilakukannya dengan benda persegi empat itu tak menghiraukan keberadaan orang lain disana yang tengah berbicara atau lebih tepatnya menerangkan dan menjelasan soal mata pelajaran.
Hanya saja, ini bukan gedung sekolah, namja yang tengah menjelaskan itu tidak lain merupakan guru private pemuda yang tengah sibuk dengan handphonenya.
Oh Sehun, siswa kelas 12 Seoul Performing Art School, mempunyai banyak fans, tampan, tinggi, kaya dan sedikit nakal. Sehun tengah dalam masa-masa persiapan ujian.
Ia dapat mempertahankan semua nilainya dengan baik, tapi, manusia tetap memiliki kekurangan, begitu pun Sehun yang lemah dalam matematika. Sehun tidak pernah menyukai pelajaran ini, dan tentu saja. Nilai matematikanyalah yang paling anjlok dari seisi sekolah. Dan lebih parahnya lagi, ia sama sekali tak memperdulikan itu.
Sudah suratan takdir. Begitu pikirnya
Sehun seperti orang gila saat berhadapan dengan layar handphonenya. Pemuda itu membuat banyak ekspresi wajah, bahkan tak jarang ia tertawa sangat keras dan berteriak. Sebenarnya apa yang dilakukannya dengan benda mati itu…? Sesekali ia juga mengalihkan pandangannya pada namja yang tengah menjelaskan tanpa minat
.
.
.
Sehun POV
Hahaha…, oh astaga. Orang-orang di dunia cyber benar-benar kurang ajar. Sebenarnya aku lebih kurang ajar, menjadikan orang didepanku itu sebagai topik pembahasannya. Dan kalian tau…? responnya sangat mengelikan
Yeah…, kalian benar. Aku tengah berkutat dengan internet di layar I-phoneku karna itu duniaku. Aku.. tidak, maksudku kami tengah membahas topik tentang mahkluk yang ada didepanku saat ini. Dia guru private pilihan eomma
Sebenarnya aku ingin temanku saja yang mengajari soal ini. Tapi soal matapelajaran ini, teman yang mana yang bisa diharapkan? Kalian bertanya pelajaran apa? U'um matematika, aku benar-benar benci pelajaran ini. Aku heran kenapa ada orang yang menciptakan matematika dengan rumus yang begitu rumit. Memangnya kalau sudah bekerja saat lulus sekolah aku akan menggunakan semua rumus itu? Tidak kan.?
Ck! Merepotkan dan memusingkan otak saja. selain itu juga membuat lelah dan menguras tenaga otak
Aku punya teman yeoja yang pintar dengan rumus-rumus itu. Tapi aku terlalu sungkan dan tidak mungkin membawa seorang yeoja kerumahku. Pasti orang-orang dirumah akan bergosip dan bicara yang tidak-tidak pada eomma. Ke rumahnya, err…. Ada yang bilang kalau appanya sangat galak
Dan bicara soal eomma. Aku punya orang tua yang super-super sdi atas sibuk. Eomma pintar dalam rumus matematika. Tapi ia tak punya waktu untuk itu dan jadilah orang yang ada di depan sana sebagai pengganti
Aku benar-benar tidak menyukai orang ini. Aigoo… lihatlah, dia benar-benar merusak mataku. Bagaimana bisa ada pemandangan sedemikian buruknya seperti itu? Tak ada unsure keindahan sama sekali.
Rambutnya yang sangat rapi, ditarik kesamping belakang sangat licin dan mengkilat, jangan lupa kacamata besar dan tompel diwajahnya, tidak ketinggalan cara berpakaiannya benar-benar siswa teladan. Bahkan teladan diatas yang paling teladan dengan celana yang ditarik mencapai dada. Dan aku harus terjebak dengan orang seperti itu selama 2 minggu?
Aku ingin menjadi buta…
Ini semua gara-gara kesalahanku yang menuruti panggilan wali kelas untuk orang tuaku. Ternyata mereka membicarakan soal nilai matematikaku. Ini sudah tahun 2013, tidak bisa dipercaya masih ada orang seperti namja didepanku ini aigooooo…. Mama dapat dari mana orang seperti ini?
"apa kau mengerti Sehun-sii…?" tanyanya. Aku hanya diam dan kembali dengan I-phoneku
"baiklah, akan aku jelaskan lagi"
Hah? Selain itu aku rasa dia sangat bodoh. Sudah belasan kali dia mengulangnya, apa dia tidak mengerti kalau aku tidak ingin belajar? Terserahlah, mau sampai mulutmu berbusa aku tidak akan mau mendengarmu, cih.
.
.
.
Malam sudah tiba. Tapi ia masih setia menerangkan panjang lebar materi yang tadi. Apa dia tidak berniat pulang?
Cklek..
Pintu depan terbuka. Yeah… aku tidak bisa belajar dikamar, eomma tidak mengizinkannya dengan Alasan agar aku bisa dipantai oleh maid-maid rumahku
"eomma" aku berdiri dan hendak menghampirinya. Tapi kulihat eomma terburu-buru
"maaf Sehun-ah…, eomma hanya sebentar mengambil berkas yang harus diusrus minggu ini" selalu seperti itu. Kapan? Kapan aku bisa memeluknya lagi?
Aku kembali duduk dan kupandangi buku tulisku, tak lama kulihat mama turun dari tangga hendak keluar. Tapi saat ia melewatiku dan guru privateku itu. Mama sangat memperhatikan guruku itu intens
"Luhan-sii. Kau Luhan-sii-kan….?" Tanya mama memperhatikan guru private yang bernama Luhan itu
"ah. Ne Mrs. Oh" jawab Luhan ramah
"aigoo…, ada apa denganmu Luhan-sii…?" tanya mama lagi masih memperhatikan Luhan. Aku bingung, dengan tatapan mama seperti terkejut. Ada apa…? Kenapa ekspresinya seperti itu…? Bukankah dia sudah pernah bertemu…? Dia yang meminta sendiri, lalu kenapa dengan ekspresi itu..?
"gwenchana Mrs. Oh, saya hanya mencegah seseorang agar tidak jatuh cinta pada saya" jawabnya. Hah..? jatuh cinta padanya…? Siapa orang bodoh itu…?
"ah. Ne, ne" mama terlihat berfikir, sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya padaku "ah, Sehun-ah. mama akan ke Canada 2 minggu. Mama harap kau belajar dengan baik dan tidak membuat masalah selama mama dan papamu tidak ada" apa…? Keluar negeri lagi…? 2 minggu…? Aku hendak membuka mulutku untuk bicara tapi…
"dan selama 2 minggu kau akan bersama dengan Luhan-sii saat pulang sekolah. Terserah kalian mau belajar dimana. Dan ingat, kau harus mendengarkannya. Luhan-sii, laporkan padaku jika dia membuat masalah selama aku tidak ada." Luhan mengangguk. Mama melihat arloginya "aku harus pergi, ingat pesanku" setelah itu kudengar pintu ditutup. Lihat, bahkan dia tidak menciumku lagi. dan apa katanya tadi…? Aku harus bersama Luhan kodok selama 2 minggu…? Full time dia mengawasiku…?
"ya. Apa kau juga akan tidur disini..?" tanyaku sinis
"ah, tidak. Aku akan pulang dan kembali besok siang."
"oh" syukurlah, setidaknya dia tidak akan didekatku selama 24 jam
Sehun POV end
.
.
####LOVEMATEMATIC####
.
.
12-C
"yo. whatsup" sapa seorang namja tampan bernama Chanyeol menepuk bahu Sehun. Sehun hanya menatap Chanyeol malas dan menghembuskan nafasnya
"waeyo…? Kau kenapa…?" tanya Chanyeol yang duduk di bangku sebelah Kai
"ck. Hahhh…." Lagi, Sehun tidak menjawab dan hanya berdecak sambil menghembuskan nafas
"ahh. Aku lupa" chanyeol kelihatannya menemukan masalah yang membuat Sehun murung pagi ini. Sehun hanya memutar bola matanya melihat chanyeol yang tiba-tiba berteriak aneh
"hari ini ada jadwal matematika. Ck, pantas saja kau tidak bersemangat" tebak Chanyeol dan membuat Sehun semakin mendengus kesal karena sebenarnya dia juga tidak tau kalau hari ini ada jadwal matematika
"ya, kenapa kau mengingatkanku…?" seru Sehun dengan nada kesalnya
"eoh…? Kupikir dari tadi kau memikirkan itu
"kau sok tau phabo" seru Sehun sambil menjitak kepala Chanyeol
"ya, ya. Kau harus bicara sopan padaku. Bagaimanapun aku lebih tua darimu" bantah Chanyeol tidak terima
"jadi kalau bukan soal jadwal hari ini. lalu apa yang membuatmu tidak bersemangat eoh..?"
"hahhh…, mama" jawab Sehun dengan raut muka lebih murung lagi
" keluar negeri lagi…? kali ini berapa lama…?"
"2 minggu"
"hei… hei, bukankah ini bagus…? Kau tanpa pengawasan. Mamamu tidak ada dirumah, dan tentu saja tidak akan ada yang berani membantah atau melawanmu dirumah bukan…? Maid-maid itu mana berani." ujar Chanyeol bersemangat
"2 minggu kita bisa bersenang-senang"
"ck. Tapi guru private itu…" Sehun masih dengan raut muka yang sama
"guru private…?" tanya chanyeol tampak bingung
"ne, mama menyewa guru private untuk mengajariku matematika dan sekalian mengawasiku 2 minggu selama mama pergi"
"tenang saja. Kenapa kau jadi penurut begini…? Dia hanya guru private, tidak ada bedanya dengan maid-maid di rumahmu itu"
Sehun nampak berfikir sejenak "benar juga. Kenapa aku harus menurutu kodok itu..?" Sehun mengalihkan pandangannya pada chanyeol dengan smirk diwajahnya "ayo bersenang-senang" yang dibalas smirk juga oleh chanyeol
1234567890lovematematik0987654321
Suara dentuman musik yang keras mengajak pengunjung tempat itu untuk menari. Membuat tempat itu ramai akan aktivitas manusia yang ingin bersenang-senang melepas kepengatannya tak terkecuali seorang Sehun yang ikut meramaikan tempat itu
Suara berisik, bau alkohol serta perbuatan tak senonoh selalu mendominasi tempat itu membuat salah satu dari ketiga namja itu agak risih dengan tempat tersebut
"Sehun-sii, kenapa kesini…? Bukankah Kau bilang akan belajar kerumah temanmu." Tanya Luhan yang agak risih dengan tempat itu
"hah…? Apa…? Aku tidak mendengarmu" seru Sehun yang terus saja melirik yeoja-yeoja sexy berkeliaran ditempat itu
"aku bilang kenapa kesini…? Bukankah kau bilang kita akan belajar dirumah temanmu itu…?" ulang Luhan sedikit mengeraskan suarannya sambil menunjuk Chanyeol dengan dagunya
"kau tenang saja…, kita akan belajar dirumahnya setelah ini" jawab Sehun yang pergi meninggalkan Luhan menghampiri Chanyeol yang sibuk dengan aktivitasnya
"shit. Seharusnya aku tidak mengikutinya, awas saja akan aku laporkan pada Mrs. Oh." Rutuk Luhan yang hanya duduk di sofa memperhatikan sekelilingnya
"kalau tidak sedang berpenampilan seperti ini. mana mungkin aku hanya duduk dan diam disini, ck. Menyebalkan"
.
.
%%%%%%LOVE MATEMATIC%%%%%%
.
.
"Sehunn-sii. Bukankah kau bilang akan belajar..?" tanya Luhan yang sekarang ini mereka sudah berda dirumah, tepatnya apartemen milik Chanyeol
"diamlah sebentar. Kau tidak bisa melihat orang senang…?" seru Sehun yang duduk disofa memangku seorang yeoja yang tampak mengodanya. hal itu membuat Luhan merasa malu karena melihat perbuatan didepannya, belum lagi suara-suara aneh dari kamar Chanyeol. Luhan duduk tidak nyaman dengan semua ini
'bagaimana ini…? kalau dia tidak belajar dan meningkatkan nilai matematikanya pasti gajiku tidak akan bertambah. Ck, aku tidak bisa diam saja. Hah.., maaf Sehun-sii, kau yang memaksaku merubah strategi belajarmu' rutuk Luhan dalam hati
Luhan berdiri menghampiri Sehun yang tengah berciuman panas dengan yeoja dipangkuannya itu. Dengan paksa Luhan menarik yeoja itu otomatis melepas pangutan Sehun dan yeoja itu
"maaf. Tapi sepertinya kami akan pulang" seru Luhan pada yeoja itu dan langsung menarik tangan Sehun untuk keluar apartemen
"hei, apa-apaan kau ini eoh…? Kau berani melawanku…?" seru Sehun dengan raut wajah marah menghempaskan tangan Luhan yang menariknya. Tapi Luhan kembali menarik paksa dengan sekuat tenaga melihat perbedaan fisik mereka Luhan menrik Sehun pulang
"kau seharian tidak belajar. Waktuku mengajarimu hanya 2 minggu. Dan aku harus berhasil meningkatkan nilaimu, kalau kau tidak ingin melihatku lagi dihadapanmu tolong turuti dan belajarlah" seru Luhan yang kini mereka sudah berada di depan mobil Sehun. Sehun mulai berfikir
'benar juga. Sebaiknya aku bersabar, bukankah hanya 2 minggu…? Setelah itu, semua akan berakhir bukan..?' batin Sehun
.
.
$$$$$$$$$LOVE MATEMATIC$$$$$$$$$
.
.
Sehun POV
Sudah seminggu aku belajar matematika dan tidak kusangka aku memperhatikan penjelasan Luhan yang awalnya menurutku sangat rumit tapi baru kusadari cara menjelaskannya mudah dimengerti. Dan tidak kusangka, saat ulangan 3 hari yang lalu nilai matematikaku B. perkembangan yang luar biasa bukan…? Ternyata matematika tidak terlalu buruk
"misalkan kau melempar sekeping koin sebanyak 12 kali dan muncul gambar (G) 7 kali dan angka (A) 5 kali, maka frekwensi relatif (Fr) dari A= dan G= atau dapatuheuygssbakjwdywi72yw"
Entah kenapa aku jadi tertarik belajar matematika seperti ini. tapi sejujurnya, disekolah saat belajar matematika aku tidak memperhatikan pelajaran atau guru yang sedang menerangkan itu. Apa aku tertarik karena Luhan yang mengajariku…? Ah, andwe. Tidak mungkin aku tertarik karena kodok itu yang mengajariku
Tapi sejujurnya kalau makin diperhatikan dia tidak terlalu buruk. Yah, setidaknya giginya tidak tonggos. Tapi benar, kalau diperhatikan sebenarnya dia tidak jelek, tapi terlihat manis.
Manis…?
Apa, apa yang baru saja aku katakan…? Manis…? Kubilang sikodok manis…?. Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku, membuyarkan semua lamunan aneh itu
"Sehun-sii. Kau baik-baik saja" tanyanya yang melihat kelakuan anehku
"a-ah. Ne, bisa kau ulang…? Aku belum mengerti" ujarku dia hanya mengangguk dan menjelaskan lagi
Sekarang waktu sudah menunjukan pukul 10 KST tepatnya malam hari. Dan seharusnya dijam seperti ini Luhan sudah pulang, tapi entah kenapa aku terus menahannya dengan alasan 'bisa ulangi..? aku tidak mengerti' dan dia mengulanginya berkali-kali tanpa bosan dan dengan sabar
"apa kau sudah mengerti…?" tanyanya lagi
"ah, itu. Lalu bagaimana sehingga itu bisa jadi n(A)=1…?" tanyaku lagi. sebenarnya aku sudah mengerti dari tadi. Tapi entah kenapa aku tidak ingin dia pulang dulu dan menyudahi belajar ini
"Sehun-sii. Bukankah tadi kau baru saja menanyakan itu…?"
"a-ah, benarkah…?" dia mengangguk, aku hanya menggaruk tengkukku yang tidak gatal
"jadi apa kau sudah mengerti…?" tanyanya lagi memastikan. Phabo, kali ini aku tidak tau alasan apa lagi yang harus aku gunakan. Semua pertanyaan soal apa yang dijelaskannya itu sudah aku tanyakan semua
"baiklah. Aku rasa kau sudah paham. Kalau begitu aku harus pulang, ini sudah sangat larut cepatlah tidur Sehun-sii, aku pulang anyeong…" katanya yang sudah merapikan barangnya dan berjalan menuju pintu depan. Tapi aku mencegahnya saat ia memutar knop pintu
"eh.? Ada apa…?" tanyanya heran melihatku memegang knop pintu itu
"biarku antar. Tunggu sebentar" entah apa yang merasukiku aku berlari mengambil jaket dan kunci mobilku segera menghampirinya. Dan entah dari mana pemikiran ingin mengantarnya pulang itu
Sekarang kami dalam perjalanan menuju rumah Luhan. Yeah, mungkin sebaiknya aku juga harus tau rumah guruku bukan…? Tapi hanya guruku yang satu ini, Luhan. Aish, aku rasa aku sudah gila. Mungkin karena terlalu sering bersama kodok ini, aku jadi ikut tidak waras. Apa aku juga akan merubah penampilanku menjadi sepertinya…? Andwe
Aku memang tidak sopan. Dia guruku, dan aku tau pasti lebih tua dariku karena dia seorang guru. Aku juga tidak tau guru dari sekolah mana, atau mungkin hanya guru private saja. Dia memang guruku dan lebih tua dariku tapi aku tidak pernah memanggil orang lebih tua dariku dengan panggilan hyung, sunbae atau lainnya
"dimana rumahmu…?" tanyaku memecah keheningan
"berhentilah didepan situ"
Aku menghentikan mobilku tepat didepan sebuah rumah minimalis yang kuyakini ini rumahnya. Hmm, kelihatannya nyaman didalam sana. Ia keluar mobil setelah mengucapkan terimakasih lalu berjalan endak masuk kerumahnya
"Luhan" panggilku dari kaca mobil menghentikan langkahnya. Ia menoleh
"wae…?"
Oh tuhan…, aku kenapa…? Entah apa yang membuatku memanggilnya. Tapi aku rasa aku ingin masuk kerumahnya. Yah, sekedar melihat-lihat, sepertinya dia tidak mengerti maksudku.
"ada apa Sehun-sii…? Sebaiknya kau segera pulang, bukankah ini sudah sangat larut..?" ujarnya.
Tuhkan, Luhan aku ingin mampir kerumahmu. Setidaknya tawarkan aku untuk masuk. Benar-benar tidak menyambut tamu dengan baik. Segera kututup kaca mobil dan kuinjak gas mobil, kupacu mobil dengan kecepatan tinggi. Dapat kulihat keterkejutan Luhan dari kacaspion saat aku melesat dari hadapannya dengan tiba-tiba
.
.
LOVE MATEMATIC
.
.
"Sehun-sii, kenapa kita kesini…? Bukankah kau bilang belajar ditaman..?"
"ini taman. Kita belajar disini" ujarku sambil menarik tangan Luhan mengikutiku
"tapi kau tidak bilang taman bermain…" rutuknya tak henti-hentinya. Aku berhenti dan berbalik menghadapnya
"Luhan. Apa kau tidak kasihan denganku…? Tiap hari aku belajar, tidak ada waktu bersenang-senang. Setidaknya walaupun hanya 2 minggu aku juga butuh refreshing, kau ingin aku setres dengan semua rumus itu eoh…?" kataku dengan ekspresi merajuk yang dibuat-buat
"bukan begitu…, tapi tinggal beberapa hari lagi. dan tinggal 1 minggu lagi kau ujian. Setidaknya jangan sia-siakan waktumu" ceramahnya. Aku hanya menghela nafas dan memasang wajah kecewa. Kulihat sepertinya dia tidak tega
"hahhh…, baiklah. Hari ini saja" lanjutnya pasrah
"jeongmal..?" tanyaku memastikan bersemangat. Dia mengangguk aku segera menariknya mengikutiku dan menaiki beberapa wahana. Hari ini sangat menyenangkan
"Luhan. Ayo beli ice cream" ajakku setelah puas dengan beberapa wahana
"ne. kajja"
Kamipun pergi kesebuah kedai ice cream yang ada ditaman hiburan itu. Kami sama-sama memesan ice cream rasa cokelat. Sementara kami menunggu dengan berdiri saat koki ice cream itu menyediakan pesanan kami. Seseorang menepuk bahu Luhan, dan sedetik kemudian ia menoleh
"Luhan…?" sapa orang itu memastikan. Dia melihat Luhan intens, entah kenapa aku tidak suka melihatnya melirik Luhan intens seperti itu, sedetik kemudian ia terlihat menahan tawa. Aku rasa dia mengejek Luhan
"pphhtt.. phht… ahahahahaha….. Luhan hahaaha…" tawa orang itu sangat keras. Kulihat Luhan mencoba menutup mulut orang itu
"ahahaha…, ada apa denganmu eoh..? hahaha" tanyanya memperhatikan Luhan intens. Memangnya ada apa…? Bukankah ini penampilan biasanya Luhan…?
"Baekhyun-ah…, berhenti menertawaiku. Ck" kesal Luhan yang mengerucutkan bibirnya. Haha, dia semakin manis saja
"arraso…, arraso. Tapi kena—"
"diamlah Baekhyun-ah…, aku akan jelaskan padamu. Kenapa kau ada disini…?" tanya Luhan. Kelihatannya orang bernama Baekhyun itu teman Luhan. Lihatlah, mereka bahkan sangat akrab dan Luhan mengabaikanku
"ah…, iya. Aku sedang bersama Kris hyung tapi dia ketoilet tadi dan kebetulan aku melihatmu disini. Kuhampiri saja" jawab orang bernama Baekhyun itu. Luhan hanya mengangguk-angguk. Setelah itu, Baekhyun mengalihkan pandangannya padaku
"dia siapa…? Namjachigumu…? Aigo, kalian sedang kencan…?" tanya Baekhyun. Luhan hendak membuka mulutnya untuk bicara tapi aku menyelahnya
"anyeong~…, Oh Sehun imnida kau bisa memanggilku. kau benar aku namjachigunya dan kami sedang kencan" aku memperkenalkan diri lalu tersenyum pada Baekhyun dan Luhan. Kulihat Luhan memelototiku, aku rasa dia kaget dengan apa yang baru saja aku katakan hahaha.
"jinjja…? Luhan kenapa kau tidak pernah cerita kalau namjachigumu sekeren dan setampan ini eoh…? Kau menganggapku sahabat atau bukan..? aish.." oceh Baekhyun
"bukan begi—"
"Baekhyun" panggil seseorang dari kejauhan. Mungkin itu yang dimaksud Baekhyun tadi yang bernama Kris
"ah. Kris hyung memanggilku, bersenang-senanglah. Kalian sangat cocok" ujar Baekhyun sebelum berlalu menghampiri Kris. Luhan mengalihkan pandangannya padaku penuh tanda tanya. Aku hanya menatapnya dan tersenyum, dapat kulihat sedikit semburat merah diwajahnya yang membuatnya bertambah manis dimataku
"wae…?" tanyaku lalu mengambil ice cream yang kami pesan tadi dan berjalan didepan Luhan. Setelah puas dengan kegiatan kami ditaman, kami langsung pulang dan bisa kulihat Luhan masih dengan tanda tanya besar dikepalanya, aish… tidak bisakah dia mengerti itu…?
"wae..?" tanyaku tanpa mengalihkan pandanganku dari jalanan
"kenapa kau berkata seperti itu pada Baekhyun…?"
"memangnya kenapa…?"
"apa maksudmu..?"
"menurutmu..?" kulihat ia hanya menghela nafas dan mengerutu tidak jelas
.
.
LOVE MATEMATIC
.
.
"ck. Hahh…" aku berjalan kaki menuju halte bis bersama Chanyeol sahabatku
"wae…?" tanya Chanyeol yang melihatku tidak bersemangat dan beberapa kali menghela nafas. Yeah, aku tidak bersemangat hari ini. alsannya, Luhan. Luhan tidak akan mengajariku hari ini katanya dia ada urusan penting dikampus
Aku baru tau Luhan itu masih seorang mahasiswa, dan dia menjadi guru private untuk membiyayai kuliahnya. Mandiri bukan…? Yah, disamping dia juga mendapat beasiswa
"tidak ada apa-apa" jawabku segera menaiki bis yang berhenti tepat kami sampai
Chanyeol sudah turun duluan karena rumahnya lebih dekat dari pada rumahku. Aku masih harus berhenti dipemberhentian berikutnya dan saat aku tirun, aku rasa melihat sosok Luhan dihalte itu. Kulihat ia berjalan hendak menyusul bis yang baru saja aku naikki tapi bis itu sudah jauh. Dia berdiri tepat disampingku, kuperhatikan lekat-lekat
'hanya badan dan cara berjalannya saja yang mirip' gumamku dalam hati. Yeah, hanya bentuk tubuh dan cara berjalan saja yang mirip Luhan, orang ini tidak cupu, dan rambutnya memang sama warnanya dengan rambut Luhan. Tapi dia punya foni dan rambutnya model mangkuk, selain itu dia tidak memasukkan kamejanya kedalam celana
Aku rasa dia menyadari aku sedang memperhatikannya. Ia menoleh dan membelalakkan matanya
"anyeong…" sapaku membungkukkan badanku. Kulihat ia memalingkan wajahnya tanpa membalas sapaanku dan berjalan cepat menghindariku. Ada apa…? Akukan hanya menyapanya kenapa dia menghindariku…?
.
.
LOVE MATEMATIC
.
.
"kau sudah mengerti Sehun-sii….?" Tanyanya. Kami berada ditaman bunga dan sedang belajar
"ani" jawabku singkat. Dia menghembuskan nafas dan menutup bukunya
"Sehun-sii. Kapan kau akan mengerti…? Aku sudah menjelaskannya berulang-ulang dan kau sama sekali tidak mengerti…? Tinggal 2 hari lagi aku mengajarimu dan setelah itu kau akan terbebas, setidaknya kau harus menyimakku" dia menghela nafas
"ok. Daritadi kau memang menyimak dan memperhatikan, tapi kenapa tidak ada yang kau mengerti…? Sebenarnya apa yang kau pikirkan…?" marahnya kesal. Kalau marah seperti itu ia bertambah manis
"kau" jawabku tersenyum padanya. Dia mengerutkan dahinya tidak mengerti
"aku memikirkanmu" lanjutku. Dia mengalihkan pandangannya dariku dan dapat kulihat semburat merah diwajahnya
"a-apa yang k-kau katakana Sehun-sii. Lebih baik kita belajar" ujarnya membuka kembali bukunya. Dapat kulihat dia gugup, segera kuraih buku itu. Tapi dia masih belum mau mentapku, kuraih bahunya dan menuntunya mengahadapku. Dapat kulihat rona merah diwajahnya yang sangat kontras meski ia menundukkan kepalanya. Aku meraih dagunya agar dia menatapku, oh tuhan…, lihatlah dia sangat manis dengan malu-malunya itu
"Luhannie…, bolehkan aku memanggilmu begitu…?" kulihat ia mengerjapkan matanya
"baiklah. Aku rasa aku tidak bisa menahannya lagi, aku ingin jujur padamu Luhanie~" aku sedikit membenarkan posisiku dan menarik nafas dalam
"Luhanie hyung. Aku bukan orang yang pintar mengukir kata-kata. Aku tidak bisa mendreskripsikan perasaanku dengan kata-kata tapi… saranghae Luhanie hyung, jeongmal jeongmal saranghae" final, sudah kukatakan akhirnya. Dapat kulihat wajahnya semakin merah.
Sehun POV end
Normal POV
'omo. Apa dia baru saja mengungkapkan perasaannya padaku…? Apa dia tidak terganggu dengan penampilanku seperti ini…? kenapa dia bisa mencintai aku yang berpenampilan seperti ini…? tapi sejujurnya aku juga mencintainya, sejak awal. Sejak awal aku melihatnya. Sejak awal aku menjadi guru privatenya aku sudah menyukainya dan lama kelamaan aku mencintainya. Kau tau Sehun, aku sangat senang saat kau mengajakku ketaman bermain waktu itu. Dan aku senang kau memperhatikanku saat mengajarimu. Aku tau kau tidak melihat penjelsanku soal rumus-rumus itu tapi melihatku. Hanya saja aku tidak ingin berharap karena aku yakin orang sepertimu sama saja. Tapi ternyata tidak, kau berbeda Sehun. nado…, nado saranghae Sehun-ah"
Luhan larut dalam fikirannya sendiri dan tidak menyadari Perlahan Sehun semakin mendekatkan wajahnya. Semakin dekat dan seketika Luhan merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Matanya membelalak, Sehun menciumnya dengan lembut. Hanya menempelkan bibirnya selama beberapa detik dan menarik wajahnya melihat Luhan yang kini wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Sehun tersenyum
"jadi…, hyung mau menjadi namjachiguku…?" Tanya Sehun penuh harap. Luhan masih mematung, tapi seketika ia sadar
"kau bersunguh-sunguh..?" Tanya Luhan memastikan. Sehun mengangguk
"apa kau tidak malu mempunyai namjachigu sepertiku…?" Tanya Luhan lagi memperhatikan dirinya sendiri
"Luhanie hyung…, aku tidak perduli dengan penampilanmu. Aku tidak perduli kau sejelek apapun dimata orang lain. Dimataku kau yang paling sempurna, kau sangat manis hyung. Selain itu kau juga sangat rumit seperti rumus matematika membuatku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku tidak perduli dengan penampilanmu. Bagiku adalah perasaan yang aku miliku untukmu hyung. Jadi….." ujar Sehun panjang lebar masih dengan ekspresinya penuh harap. Wajah Luhan semakin memerah, sedetik kemudia ia tersenyum
"kau benar-benar ingin memilikiku…?" Sehun mengangguk. Luhan tersenyum
"baiklah, aku mau menjadi namjachigumu dengan syarat" Sehun tersenyum senang seketika raut wajahnya berubah setelah mendengar Luhan memberikan syarat
"a-apa. Aku akan melakukan apapun syaratnya" tutur Sehun serius
"begini. Aku tau seminggu ini kalian ada ulangan setiap hari, dan setelah itu ujian menyusul diminggu berikutnya. Aku ingin kau mendapat nilai A+ disetiap ulangan dan kau harus masuk 5 besar siswa kelulusan terbaik disekolahmu otte…?" Sehun sepertinya ingin protes. Tapi seketika ia terpikir ucapannya kalau apapun akan ia lakukan
"Baiklah, akan aku lakukan. Lihat saja Luhanie hyung. Aku akan mendapatkanmu" ujar Sehun penuh keyakinan
"jangan hanya bicara. Buktikan"
"sudah kubilang bukan…? Aku tidak pandai berkata-kata akan aku buktikan"
"tapi selama itu aku tidak akan bertemu denganmu. Jika kau tidak memenuhi syarat, aku tidak akan pernah lagi menemuimu"
"wae…? Kenapa seperti itu…? Bukankah hyung bi—"
"setiap tantangan ada resikonya" Sehun hanya menarik nafas dalam dan mengangguk
"tapi lihat saja hyung. Aku tidak akan menyerah"
"besok terakhir kau belajar denganku. Selanjutnya adalah usahamu sendiri"
.
.
.
.
Sejak saat itu Sehun tidak pernah lagi bertemu dengan Luhan dan belajar dengan keras. Ia meminta bantuan guru-guru disekolahnya untuk mengajarinya
Setiap malam ia hanya memandang papan tulis yang biasa Luhan gunakan. Rasa rindu merasukinya setiap hari, tapi bukankah dia tau resikonya jika dia melanggar…? Kalau dia gagal atau melangar perjanjian. Luhan tidak akan mau menemuinya lagi untuk itulah ia harus berusaha dan usahanya tidak sia-sia. Setiap ulangan ia mendapat nilai A+ hingga hari ini tiba
Hari pengunguman kelulusan. Jantungnya berdebar kencang saat nama-nama 5 besar kelulusan terbaik mulai dibacakan dan satu persatu maju kealtar untuk berpidato dan mengucapkan terimakasih sampai nama kelulusan terbaik urutan ke-2 Kai mulai kehilangan harapannya karena keyakinannya pupus sudah.
Itu berarti dia harus rela melepas Luhan. Tapi dia tidak mau, dia berencana jika dia tidak masuk 5 besar dia akan mengulang tahun ini disekolah itu biarpun dia dinyatakan lulus
"baiklah tadi adalah pidato dari lulusan terbaik ke-2 Seoul Performing Art School dan sekarang mari kita dengarkan dari beri selamat kepada lulusan terbaik sekolah ini dengan nilai diatas rata-rata bahkan mencapai sempurna" kata seorang guru yang menjadi host acara kelulusan
"sebenarnya aku tidak menyangka anak ini akan menjadi lulusan terbaik. Bahkan dia adalah lulusan terbaik seKorea Selatan dengan nilai sempurna tanpa cacat sedikitpun. Dia adalah murid yang bermasalah disekolah, dan bermasalah dengan saya sebagai guru matematika. Entah apa yang merubahnya, dia pernah berkata pada saya bahwa ia membenci matematika dan tidak suka belajar saat jam saya dikelasnya… tapi beberapa hari yang lalu saat dia meminta saya mengajarinya, dia berkata bahwa ia menyukai saya dan matematika. Sunguh saya berterimakasih pada orang yang telah merubah murid nakal ini" terlihat para hadirin acara kelulusan berbincang-bincang sambil menyimak ucapan sang guru. Mereka menerka-nerka siapa yang dimaksud
Sementara Sehun. dia merasa kata-kata itu ditunjukan untuknya, tapi dia tidak mau terlalu berharap, ia hendak berdiri pergi dan tidak mau mendengar kekecewaan bahwa dia gagal. Saat kakinya mulai melangkah
"Oh Sehun. Kupersilahkan untuk naik kealtar dan sampaikan apa yang ingin kau sampaikan" ujar sang guru membuat langkah Sehun terhenti dan berbalik melihat sang guru yang tersenyum padanya
.
.
LOVE MATEMATIC
.
.
Terlihat seorang namja tampan berdiri disekitar kolam ikan sebuah taman. Namja tersebut mondar-mandir memandangi handphonenya terlihat menunggu seseorang
Namja tampan itu adalah Oh Sehun, dia sedang menungu Luhan ditaman itu tapi sudah 45 menit menunggu ia tak kunjung melihat keberadaan Luhan. Dia hanya melihat orang-orang berlalu lalang ditaman dan seorang namja yang sedari tadi berdiri disebelahnya. Sudah lama namja itu berdiri disitu bersama Sehun
"menunggu seseorang tuan…?" tanya namja itu tiba-tiba
"ah ne. kau sendiri…?" tanya Sehun balik masih mondar-mandir
"tadinya" jawab namja itu. Sehun hanya bergumam kecil masih mondar-mandir
"apa kau sering ketaman ini…?" tanya namja itu lagi
"ne" jawab sehun masih mondar-mandir mengecek handphone
"bersama siapa…? Kau sendiri..? kekasihmu…?" tanya namja itu lagi
"Luhanie hyung…, kemana dia…" gumam sehun tanpa memperdulikan pertanyaan namja disampingnya itu
"apa kau menungu seorang namja berkaca mata dengan tompel diwajahnya lengkap dengan rambut licin dan pakaian rapi…?" tanya namja itu lagi. kali ini menarik perhatian Sehun dan menatap namja itu
"ne, ne. apa kau melihatnya…?"
"ne" jawab namja itu tersenyum, entah kenapa sehun merasa familiar dengan senyum itu. Dia akui namja didepannya itu memang sangat mempesona. Tapi tetap baginya hatinya milik Luhan
"dimana…?" tanya Sehun antusias
"disini" jawab namja itu. Sehun mengalihkan pandangannya kesegala arah
"dimana kau melihatnya…?" tanya sehun melihat sekeliling
"disini. Kau sudah melihatnya" ucap namja itu tersenyum melihat Sehun yang kelihatan menelfon seseorang
"jangan bercanda cepat katakan dima—" seketika Sehun memutuskan kalimatnya saat mendengar nada dering yang ia kenal berasal dari namja itu
Namja itu hanya tersenyum lembut kearah Sehun dan mengambil benda persegi empat yang berbunyi itu dari saku celananya dan menggeser tombol hijau di layar handphone itu lalu menempelkan benda itu ditelinganya
"halo…" saut namja itu menjawab telfonnya. Sehun tidak berkedip dan berjalan semakin mendekati namja itu
"halo…" saut namja itu lagi. sekarang ini Sehun sudah berada dihadapannya dan menatapnya lekat
"ha-halo…, Lunaie… hyung" jawab Sehun dengan benda persegi 4 itu masih menempel ditelinganya
"ne…? jadi bagaimana…? Apa kau gagal…?" saut namja itu masih menggenggam handphonenya yang menempel ditelinga. Seketika Sehun memutuskan kontak panggilan itu dan menurunkan tangannya masih menatap namja itu yang tersenyum sangat manis padanya
"bu-bukankah ka-kau namja di halte itu…?" tanya Sehun tergagap tanpa berkedip melihat namja didepannya itu. Namja itu hanya mengangguk
"wae…? Sehun-ah…, kenapa melihatku seperti itu eum..?" tanya namja itu. Sehun masih tak berkedip perlahan ia mengarahkan telapak tangannya menyentuh pipi namja itu. Namja itu tersenyum dan memegang punggung telapak tangan Sehun yang menyentuh pipi kirinya. Sehun berkedip dan tersenyum lalu membawa namja itu dalam pelukannya
"apa ini benar kau hyung…?" tanya Sehun masih memeluk Luhan
"wae…? Kau tidak percaya…?"
"tap-tapi bagaimana…?"
"aku yang menjadi gurumu itulah yang palsu. Ini aku sebenarnya, wae Sehun-ah…, kau tidak suka aku yang seperti ini…?" tanya Luhan yang masih dalam pelukan Sehun. Sehun menggeleng cepat
"ani. Bagaimanapun dirimu aku tetap mencintaimu hyung. Tapi kenapa kau berpenampilan seperti itu…?"
"aku tau. agar kau tidak jatuh cinta padaku" jawab Luhan. Sehun melepas pelukannya dan menatap Luhan
"Tapi tetap sajakan berpenampilan seperti itu tak mengurangi pesonamu dan membuatku terikat pesona cintamu hyung. apa kau tidak mencintaiku hyung…?"
"jadi apa kau gagal…?" Luhan tersenyum. Sehun hanya menghela nafas
"hyung. Tak taukah kau betapa hebatnya aku ini…? aku lulusan terbaik di Korea Selatan dengan nilai paling sempurna. bahkan aku mendapat nilai A+ setiap harinya bukan hanya saat ulangan. Dan taukah kau betapa tersiksanya aku 2 minggu tak melihatmu…? Dan kau tau hyung aku sempat berfikir untuk mengulang masa pembelajaranku di SMA setahun lagi kalau aku tidak masuk dalam 5 besar lulusan terbaik biarpun aku dinyatakan lulus. Aku sangat takut tak bisa menemuimu lagi hyung. Lagi pula kenapa harus ada syarat seperti itu…? Tapi sudahlah, yang penting aku sudah melakukan apa syarat yang hyung berikan" Sehun berhenti sejenak
"jadi. Apa sekarang aku bisa memilikimu hyung…?" lanjutnya dengan senyuman menawan diwajah tampannya
Luhan terdiam dengan wajah serius. Sehun dengan sabar dan tegang menunggunya untuk bicara. Setelah beberapa detik kemudian Luhan menghela nafas dan tertawa terbahak-bahak, tentu saja membuat Sehun heran
"apa kau yakin mereka tidak keliru memilihmu sebagai lulusan terbaik…?" Sehun semakin heran
"kau membuktikan kau pintar dan nilai akademikmu diatas rata-rata bahkan sempurna. tapi ternyata siswa lulusan terbaik korea selatan bisa tertipu semudah itu oleh seorang kutu buku culun hahaha…."
"maksudnya…?" sehun mengerutkan alisnya tidak mengerti
"Oh Sehun, Oh Sehun. Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri untuk mengikuti syarat yang aku katakan…?"
"tentu saja agar aku bisa memilikimu hyung. Aku berusaha keras agar bisa memiliki dan mendapat cintamu hyung~"
"jadi selama ini kau merasa tidak memilikiku dan cintaku…?" sehun semakin bingung
"Sehun-ah…., saat kau bilang kau mencintaiku. Sebenarnya aku sudah menjawabnya" sehun tambah bingung
"kau tidak menjawabnya hyung. Kau mengajukan syarat jadi aku rasa kau tidak menerimaku waktu itu"
"bukankah kau bilang kau tidak pandai berkata-kata…? Kau tidak tanya padaku apa aku pandai berkata-kata untuk membalas cintamu…?"
"jadi…?" sehun mengerutkan alisnya
"jika aku tidak mencintaimu. Kenapa aku mau saja dicium olehmu waktu itu eum…?" Sehun berfikir dan mengerjapkan matanya
"ck… kau hyung" Sehun berdecik dan menghela nafasnya. Seketika ia memeluk Luhan kembali dan Luhan membalasnya
"saranghae Sehunie~"
"nado sarangheo Luhanie hyung~.. jeongmal, jeongmal… jinjja.. jinjja saranghae Luhanie hyung~"
"karna kau berhasil melakukan syarat yang aku ajukan. Kau mau hadiah apa dariku eum…? Ini juga sebagai ucapan selamat atas kelulusanmu"
"aku tidak ingin apapun. Aku hanya ingin hyung sebagai hadiahku" mereka terus berpelukan tanpa mengindahkan orang-orang disekeliling mereka yang memperhatikan
.
.
.
'aku benci matematika
aku benci rumus-rumus memusingkan itu
tapi sekarang
aku menyukainya
aku suka karena itu menyenagkan
menyenagkan saat bersusah payah akhirnya mendapat hasil yang benar
dan bagiku, rumus matematika itu kau
kau yang aku benci
kau yang rumit
tetapi menyenagkan saat aku menyadarinya
kau rumus yang membuatku bersusah payah untuk mendapatkan hasilnya
dan yang menyadarkanku, bahwa rumus matematika tidak serumit dan sesusah yang aku kira jika menyukainya
karena kaupun rumus yang paling sulit aku pecahkan, bisa aku dapatkan
saranghaeyo Luhanie hyung~'
*sehun
.
.
.
END
.
.
Ell note :
Yeah~ ini FF tahun kemarin, bisa di bilang salah satu FF debut Ell, jadi bahasa dan cara nulisnya bikin sakit mata sama kepala. Abis Ell belum bisa buat FF dekat-dekat ini, so update yang udah jadi aja walau sebenarnya ancur
Gini, bukannya mau nyia-nyiain FF yang lain. Ell tetap lanjutin kok. Tapi tunggu Ell punya waktu luang biar gak macet-macet updatenya. Kedepan mungkin Ell lebih sering update yang oneshoot biar Cuma sekali update dan gak macet-macet bikin readers cepat lupa sama chapt sebelumnya.
Ell gak masalahin reviewnya yang gimana-gimana. buat, Ell, yang penting ada yang baca. Lagian, Ell gak pernah balas review, jadi kalau readersnya males ninggalin jejak juga gak terlalu ngaruh. Tapi terimakasih banyak buat yang udah bersusah-susah ikut ngisi kotak review. Ell selalu nimbang dan mikirin saran sama kata-kata kalian kok. Ell juga pengen lakuin apa kata kalian, Cuma….. bukannya juga harus sesuai? Jadi, yeah~~
Oyah, di sini… ada readers yang dari manado? Atau yang sekitar Sulawesi utara? Terus udah kuliah atau gimana? kuliah di mana? Ell punya perlu sedikit, jadi…. bisa respon gak? Kalo nimbole nda apa ley no nda ba paksa ^^)V
Yaudah, sayonara~
