"Pink?" Namjoon mengerutkan kening bingung setelah ia mendudukan diri di ranjang sementara tangannya sibuk mengusak rambutnya dengan handuk kecil berwarna hitam "Kau – yakin?"
"Apa maksudmu?" Seokjin justru berbalik bertanya namun atensinya kembali pada kotakan di depannya sembari tersenyum.
"Kau yakin akan memberikan ini? Hampir semua yang kau berikan berwarna pink Jinnie? Bahkan kita tidak tahu apa jenis kelamin anak Jimin nantinya. Bagaimana kalau lelaki?"
"Ey, kata siapa? Memang lelaki tidak boleh suka pink? Sekarang pink justru terlihat imut. Taehyungie saja suka pink-"
"TAEHYUNG SUKA BIRRUUU." Suara keras Taehyung terdengar sontak membuat Namjoon dan Seokjin terlonjak kaget, tersadar bahwa Taehyung juga tengah tiduran di ranjang mereka memainkan salah satu baju bayi pemberian Seokjin untuk anak Jimin nantinya.
"Oh- maaf sayang. Mama lupa." Taehyung hanya menampakkan wajah datar seolah tidak peduli lagi. "Kira-kira apa yang tengah mereka lakukan? Mungkin tidak anak mereka kembar? Ahjumma samping rumahku saat aku masih tk melahirkan anak kembar, bisa saja dia menular padaku kan- maksudnya mungkin tertunda saat Taehyung tapi kalau Jimin-"
Namjoon menghela nafas "Amen-" Sudahi saja omong kosong Seokjin karena kalau tidak di potong akan meleber kemana-mana. "Jadi bagaimana perkembangan Jimin dan Yoongi?" Mendengar pertanyaan Namjoon, senyum Seokjin seolah merekah, bahunya terangkat terkesan ia menyukai pertanyaan Namjoon.
"Namjoon. Kau tak akan menyangka." Namjoon mengangkat alis bingung "Sepertinya Jimin sudah mulai menyukai Yoongi."
"Suka bagaimana?"
"Euum, menjurus ke cinta? Entah si, tapi Jimin pernah menanyakan suatu hal padaku yah, bisa di sebut kalau dia menyukai Yoongi."
Namjoon mengangguk mengerti, lalu menarik diri agar ia berbaring di samping Taehyung. Melirik anak sulungnya yang sama sekali tak terusik padahal tangan Namjoon melingkar pada perut Taehyung, karena biasanya si anak akan selalu mengerang jika Namjoon sudah mulai jahil "Lalu apa yang Yoongi rasakan pada Jimin?"
Seokjin berdiri, meletakkan seluruh kado yang akan ia berikan untuk anak Yoongi ke atas meja riasnya lalu berbalik dan ikut berbaring di sisi Taehyung "Cinta Namjoon. Orang awam pun tahu, mereka mulai memiliki satu sama lain." Seokjin menarik selimut dan menarik mainan Taehyung.
"Maaaamaah ih." Seokjin hanya tersenyum mengecup kening Taehyung.
"Tidur sayang. Ayo mimpi indah, kau juga Namjoon. Juga untuk Yoongi dan Jimin, semoga mimpi indah mereka tak akan pernah sirna."
.
.
.np: ending scene by Jk
.
Jimin kembali dengan berkas yang sudah ia print bersama pengacaranya tadi. Helaan nafas keluar saat ia sampai di ruang tamu dimana Yoongi sedang menunggunya. Yoongi tertidur. Kepalanya bertumpu pada telapak tangannya yang berdiri sedikit miring di sehingga Yoongi dapat menopangkan kepala di telapak tangannya.
Jimin menghela nafas. Terlihat sekali Yoongi pasti kelelahan. Matanya melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah tengah malam, memang waktunya untuk Yoongi – tidak, untuk semua orang tidur. Jimin menoleh mendengar suara langkah kaki yang ternyata adalah pengacaranya sendiri membawa dua cangkir dengan asap yang masih berkebul.
"Yoongi tidur." Lirih Jimin berbalik kembali menatap Yoongi.
"Sepertinya kelelahan Jimin-ssi, Ibu hamil biasanya memang gampang lelah apalagi memang sudah larut seperti ini." Jimin mengangguk menyetujui dan kembali menghela nafas.
"Bolehkah aku meminjam kamarmu? Ku jamin jika ia terus tertidur seperti ini hingga pagi, lehernya akan sakit." Ucap Jimin tanpa mengalihkan pandang dari wajah Yoongi. Jimin diam, seolah ia menyesapi semua udara di sekeliling Yoongi. Yoongi terlihat begitu lugu, manis dan menggemaskan saat tertidur. Apa wanita semanis ini dapat menjadi iblis yang berhasil menghancurkan seluruh hidupnya?
"Tentu Jimin-ssi, kamar tamu sudah selalu siap. Haruskah ku bangunkan Yoongi-ssi?"
"Biar aku yang menggendongnya."
Dengan lembut Jimin menempatkan tangan pada bawah lutut dan leher belakang Yoongi, berharap Yoongi tak akan bangun. Benar saja, Yoongi kalau sudah tidur memang seolah nyawanya tengah tamasya entah kemana, dan bangun jika nyawanya sudah pulang. Yoongi memang lumayan berat, namun itu masih sanggup untuk Jimin membawa Yoongi ke kamar tamu.
Sang pengacara yang berada di ambang pintu setelah membukakan pintu untuk Jimin terdiam menatap sepasang suami isteri itu. Mungkin ia harus member Jimin beberapa tepukan bahu, menyalurkan rasa simpatinya. Karena jujur, ia dapat melihat kasih sayang dari Jimin untuk Yoongi, sekalipun ia tahu, Yoongi mengacaukan semuanya.
"Aku akan tidur di ruang tamu, bolehkah?"
Pengacara diam sesaat lalu tersenyum "Tentu Jimin-ssi, maafkan aku hanya memiliki satu kamar tamu, nikmati teh panasmu, akan ku ambilkan selimut. Kita akan membahas semuanya besok setelah kalian merasa segar." Jimin tersenyum mengangguk lalu mengucapkan terimakasih. Ia kembali menoleh pada Yoongi yang tengah berbaring memejamkan mata. Tanpa suara Jimin menutup pintu lalu berjalan menuju ruang tamu.
Jimin mengangkat teh yang sempat di bawa pengacaranya, lalu menatap kertas yang sudah ia buat tadi. Surat perceraian dan kontrak sebuah perjanjian. Ia tak menyangka, jika kisahnya dengan Yoongi akan secepat dan semengenaskan ini. Ia kira mereka akan berpisah secara baik-baik, saling mengurus anak bersama, dan membiarkan Yoongi tertawa riang di apartemennya.
Nyatanya? Yoongi tak sebaik yang ia kira.
Jimin membuang pandang dan seolah hilang minatnya pada secangkir teh panas yang baru sesesap ia rasakan. Dadanya mendadak nyeri, nafasnya menjadi sangat berat dan kepalanya terasa akan meledak sekarang juga.
Sial.
Yoongi membuat hatinya menjadi rumit.
.
.
.
.
Mata kecil Yoongi terbuka dengan pelan, udara terasa begitu dingin, ia menatap pada gaun putih yang tengah ia pakai. Gaun baru yang bahkan Yoongi tak ingat kapan ia membelinya. Netranya mengedar menatap ke sekeliling ruangan, terasa begitu familiar dan terasa begitu hangat, badannya berputar cepat saat ia mendengar tawa kecil dan suara langkah yang begitu cepat.
Yoongi melihat dirinya yang begitu kecil tengah tertawa sambil berlari di susul Ibunya. Mata Yoongi tak pernah lepas menyaksikan dirinya penuh gelak tawa dan Ibunya yang ikut tertawa tengah berusaha menangkapnya. Bibirnya tersenyum dan dadanya terasa begitu hangat.
Lalu tiba-tiba ia berada dalam halaman depan sekolahnya, ia menyaksikan dirinya yang sudah belasan tahun membawa tiga buket bunga besar dan berada di tengah-tengah Ibu dan Ayahnya. Mereka tengah tersenyum bahagia dengan mata tertuju pada kamera dan si Ayah yang membuka lebar-lebar map kelulusannya. Itu adalah hari yang sangat berkesan baginya.
Dunia seolah berputar dengan cepat, ia berada tepat dimana foto Ayah dan Ibunya dan serangkaian tumpukan bunga. Menyaksikan dirinya yang kecil itu menangis dengan balutan kain hitam tanpa bisa memandang foto kedua orang tuanya. Min Yoongi meneteskan air mata tanpa sadar. Menyaksikan hari terberat dalam hidupnya, menyaksikan bagaimana menderitanya Min Yoongi kala itu.
Tubuh Yoongi seolah tertarik, udara menjadi lebih dingin sebelumnya, ia melihat dirinya yang hanya berdiam diri di dalam kamar, dengan setumpuk foto orang tuanya. Kamarnya begitu gelap, tapi ia dapat melihat jelas dirinya yang hanya bisa menangis sesenggukan malam itu. Yoongi ingin berjalan menghampiri dirinya yang masih remaja lalu mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, bahwa ia tak boleh larut terlalu lama.
Namun seolah dunia tak pernah memihak padanya, saat ia mencoba menjangkau dirinya yang remaja, kegelapan seolah kembali menariknya masuk lebih dalam. Ia berada di atap – entah dimana namun ia bisa merasakan angin kencang berembus menerbangkan seluruh helai rambutnya. Tak ada siapapun yang lihat disini.
Terasa aneh, Yoongi memilih berjalan lurus, tubuhnya terasa ringan angin kencang yang berhembus sama sekali tak membuatnya risih. Yoongi merasa asing disini, atau memang otaknya yang tak dapat mengingat apapun. Namun kakinya tanpa bisa ia kendalikan terus berjalan, melangkah dan tiba-tiba terduduk di besi yang terasa begitu dingin, dan Jimin tiba-tiba berada tepat di sebelahnya.
"Jimin?" Jimin seolah tak mendengar apapun. Pria itu hanya diam memandang lurus ke depan. Yoongi dapat menatap dengan dekat bibir tebal Jimin, hidung mancung Jimin dan tatapan kosong Jimin. Yoongi menaikkan alis saat mendengar bunyi ponsel, ponsel Jimin, ia mencondongkan badan ikut membaca pesan yang di terima Jimin. Sebuah pesan manis dari Seulgi, mengatakan bahwa wanita itu sangat mencintai Jimin dan mengatakan Jimin untuk bersabar. Tetapi wajah Jimin tanpa ekspresi, pria itu hanya membaca sekilas lalu mengunci ponselnya kembali dan menatap ke arah depan. "Jimin?" Saat Jimin menoleh padanya, tiba-tiba Yoongi kembali di tarik entah kemana.
Kali ini kakinya tak beralaskan sandal. Lantai keramik yang ia pijak terasa begitu dingin. Tak jauh darinya, ada Min Yoongi yang sudah berbadan dua tengah mengistirahatkan badan di sofa kamar. Ini ruangan Yoongi, ada dua mangkok berisi melon dan anggur di dekat Yoongi. ah Yoongi ingat, senyum itu dan kertas foto di tangan Yoongi. Adalah foto bayi yang masih berada dalam kandungan Yoongi. "Jadi Jimin yang membelikan semua buah itu?" Yoongi mengangguk dengan pipi yang memerah. "Dia yang menemanimu mengecek kondisi kandungan?" Yoongi kembali mengangguk. "Perubahan yang sangat bagus. Kau.. bahagia?"
"Eonnie?"
Seokjin tersenyum begitu teduh "Aku tahu kau menyukainya Yoongi-ah. Mungkin jika kau bertahan sedikit lagi, ia juga akan menyukaimu." Seokjin menggeserkan badan agar lebih dekat dengan Yoongi "Aku ingin kau selalu ada di keluarga ini Yoon. Aku ingin anak itu memiliki keluarga yang utuh."
Yoongi terdiam. Ia memutus pandangannya pada Seokjin lalu menunduk. Terlihat foto calon bayinya yang sedari tadi ia genggam. Ada rasa sesak yang menyelimuti dirinya. Sembari menahan nafas, ia kembali menatap Seokjin dengan wajah begitu tegang.
"Eonnie. Aku ingin berkata jujur." Seokjin hanya mengangkat alis "A-aku, a-aku sudah mengenal Jimin bahkan sebelum kami bertemu. A-aku adalah salah satu wanita yang mengidolakannya. A-aku, bolehkah aku berkata apa isi hatiku?"
Yoongi membuka matanya dengan perlahan. Dadanya naik turun dengan cepat dan keringat mengucur deras pada tubuhnya. Ia bermimpi buruk. Buruk seolah ia melihat dirinya pada masa lalu. Tangan kurusnya memegang dadanya yang terasa sesak lalu dengan susah payah ia mencoba untuk duduk.
Ia bukan berada di ruang tamu. Melainkan di dalam sebuah kamar, di atas ranjang empuk bukan sofa. Apa Jimin yang membawanya kesini?
Yoongi menoleh pada pintu kamar yang ia tempati. Apa Jimin berada di luar? Apa yang pria itu tengah lakukan? Dengan pelan ia mulai menurunkan kaki, menampaki lantai ruangan dengan kaki polosnya. Terasa begitu dingin, tapi Min Yoongi tak ingin memakai alas apapun. Ia membuka pintu dengan perlahan, ruangan sudah gelap berbeda saat ia masuk tadi. Matanya mengedar, kakinya terus melangkah. Benar, Jimin ada di ruang tamu. Tengah tertidur, masih memakai pakaian yang sama seperti tadi. Yoongi melangkah mendekat, namun tak berani begitu dekat dengan Jimin. Ia hanya berdiri dengan tangan saling terpaut dan menatap Jimin begitu dalam.
Yoongi melirik pada kertas yang berada di atas meja. Matanya dalam beberapa detik hanya memandangi kertas yang ia yakini adalah kertas perjanjian – oh atau tepatnya kertas perceraiannya dengan Jimin. Dengan ragu Min Yoongi mengambil kertas lalu membacanya dengan teliti.
Sebuah kertas bertuliskan bahwa pernikahan mereka berakhir, berikut dengan komunikasi mereka, juga tentang perjanjian bahwa mereka harus saling menutupi ini satu sama lain, Min Yoongi tak boleh menyebarkan apapun yang berkaitan dengan Park Jimin, dengan Jimin yang akan memberikan beberapa uang untuk kelahiran Yoongi namun setelah itu mereka akan memutuskan kontak hanya nanti akan ada seseorang yang mengurus masalah biaya kehidupan si anak tanpa melibatkan Jimin, dan.. tidak ada tuntutan anak yang akan Yoongi atau si anak layangkan pada Jimin.
Semua berakhir.
Yoongi tersenyum lalu kembali meletakkan kertas dan duduk tak jauh dari Jimin. Ia bisa menatap wajah Jimin yang hampir tenggelam oleh lengan Jimin. Ada raut gelisah bahkan saat Jimin tertidur. Dan Yoongi merasa begitu salah, ia meremas tangannya dengan kuat. Ia menunduk, menatap pada perutnya yang sudah besar, Yoongi merasa bertambah bersalah.
Ia sempat – kembali – menyalahkan bayi yang ada dalam perutnya. Menyalahkan bayi yang bahkan belum bernafas di dunia bahwa ialah penyebab kesialan pada hidupnya. Namun Yoongi tersadar, bahwa dari awal hanya Yoongi lah yang salah. Jika Yoongi membenci anak ini, siapa yang akan menyayanginya nanti? Setelah ini ia akan pergi dari kehidupan Jimin, bayinya akan kehilangan sosok Ayah kandungnya, ia jelas akan memutus kontak dengan keluarga Namjoon, dengan kata lain bayinya tak akan sempat merasakan sapaan manis dari Paman dan Bibi serta ciuman manis dari Taehyung.
Maka Min Yoongi tak akan pernah lagi membenci bayinya.
Jari telunjuk kanannya terangkat, berada tepat di depan wajahnya, ia tersenyum menujuk tepat pada mata Jimin, seolah jemarinya tengah menyentuh mata pria yang tengah terpejam "Baby, kau tahu? Jika mata itu terbuka, itu adalah mata kesukaan Ibu. Mata itu.. pernah memandang Ibu begitu dalam, dia memang tak mengatakannya, tapi Ibu merasakan, kedua mata lucu itu, menatap Ibu dengan tulus." Bisiknya bagaikan ia tengah mengajak bayinya berbicara.
Lalu jemarinya berpindah pada bibir Jimin "Dan bibir itu.. Bibir itu pernah mencium Ibu."Yoongi terkekeh lirih "Rasanya sangat lembut Baby, begitu menguatkan Ibu. Dan saat bibir itu menyebut nama Ibu, rasanya sangat manis hingga Ibu terus ingin mendengar nama Ibu terucap dari bibirnya." Yoongi memiringkan sedikit kepalanya, "Lalu tangan itu? Tangan itu pernah memegang tangan Ibu dengan begitu halus membuat Ibu dapat berdiri dengan kokoh. Dan tangan.. yang membawakan Ibu setangkai mawar kuning, manis bukan?"
Yoongi terus memperhatikan wajah Jimin, "Aku tak pernah memintamu datang ke hidupku, kau yang tiba-tiba datang pada diriku di saat aku akan membunuh diriku sendiri. Aku tak pernah meminta sesuatu darimu, tapi kau yang datang dan memberiku sesuatu yang bahkan tak pernah terbayangkan olehku. Semua selalu berasal darimu Jimin. Dan berakhir darimu juga. Aku bahkan tak pernah memanfaatkanmu, jika aku dapat memilih, aku masih ingin menjadi Min Yoongi yang bekerja di sebuah club, mendengar nyanyianmu setiap hari dan tengah memasuki tiap kantor untuk melamar kerja. Bukan berada di rumahmu, mengandung bayi dan mengancam karir juga.. Seulgi. Aku memang mengagumimu, dulu.." Yoongi terkekeh "Hingga saat ini." Ia berdiri dari tempatnya "Pastikan kau bahagia Jimin. Kau harus bahagia. Dan lupakan semua ini, anggap saja kau terbangun dari mimpi burukmu. Esok, lusa dan seterusnya, jadilah Park Jimin yang dicintai banyak orang." Yoongi hendak berbalik namun terhenti dan kembali menatap Jimin "Pastikan aku mendapat kabar baik darimu dan Seulgi. Percayalah. Semua orang akan bahagia tentang itu." Lalu ia melangkah kembali menuju kamar.
Dengan langkah yang begitu halus tanpa suara, Min Yoongi melangkah menuju ruangan yang tadi ia gunakan untuk ia tidur. Jika nanti Jimin bangun dari mimpi buruknya, bagi Yoongi, ini semua bukan mimpi buruk, mungkin, setelah anak ini lahir, bukan hanya bagi si bayi, itu juga seolah Min Yoongi kembali – lahir .
.
.
.
Jimin membuka matanya perlahan, kepalanya pusing bukan main, ia bahkan merasa, ia tidak tertidur. Setelah mendudukan diri, hal pertama yang ia lihat adalah pengacaranya yang tengah duduk tak jauh darinya.
"Pagi Jimin-ssi."
"Ah ya Pengacara Lee. Pagi." Pengacara Lee mengangguk tersenyum. Jimin melirik pria yang lebih tua darinya itu tengah memegang selembar kertas.
"Dimana Yoongi?" tanyanya dengan suara serak dan menyandarkan kepala pada punggung sofa.
"Di luar, menyiapkan sesuatu katanya." Wajah Pengacara Lee tiba-tiba berubah menjadi serius. Dan sebenarnya Jimin merasa penasaran dengan yang dikatakan Pengacaranya tentang Min Yoongi yang tengah menyiapkan barang, namun melihat wajah Pengacara Lee yang lebih serius, Park Jimin memilih menunggu Pengacaranya berbicara. "Min Yoongi bangun sangat pagi, setelah aku keluar dari kamar, ia meminta sesuatu." Park Jimin memerengkan kepala bingung "Untuk merevisi surat yang sudah kita buat. Awal, aku sangat menolaknya, karena yeah, kau klienku, tapi wajahnya begitu pucat dan ia juga berkata bahwa ia tak akan menandatangani surat jika belum di revisi, dan aku juga melihat keuntungan untukmu disini." Jimin benar-benar tidak mengerti.
"Oh Yoongi-ssi.." Jimin segera menoleh mendengar Pengacara menyebutkan nama Yoongi. Yoongi berjalan dari arah luar dengan wajah datar, seolah ia melihat Min Yoongi seperti saat mereka bertemu untuk pertama kalinya. "A-ada baiknya jika kau yang mengatakannya sendiri." Pengacara Lee menyerahkan suratnya pada Yoongi.
"Aku langsung pada inti saja." Yoongi bahkan tak menatap Park Jimin "Perjanjian ini aku buat lagi karena aku tak terlalu setuju dengan yang kau buat. Untuk.. bagian tuntutan bayi, aku menjadikannya bahwa anak itu akan memiliki kehidupan sendiri, kau tenang saja, maka dari itu aku menghilangkan tentang kau yang akan membiayai kelahiran dan member beberapa uang untuk anak ini kelak." Yoongi mengangkat wajahnya hingga mata mereka saling bertemu. "Jimin-ah. Aku datang padamu karena aku meminta Marga darimu. Namun aku tak akan mendapat itu bukan? Maka aku pun tak akan mendapat uang darimu. Dari awal yang kuharapkan hanya marga bukan uang. Aku bisa membesarkan anakku sendiri nanti." Jimin hanya terdiam.
"Aku sudah menandatanganinya, Pengacara Lee setuju. Tak ada bagian yang merugikanmu Jimin. Aku jamin itu. Kau boleh menandatanginya sekarang. Aku akan kembali ke rumahku, kau boleh mengirimkan surat perceraian kesana. Jadi.. bolehkah aku pergi sekarang? Aku sudah menghubungi Chanyeol." Min Yoongi berdiri dari duduknya "Aku sudah mengambil bajuku dari mobilmu. Kurasa tak ada yang perlu ku ambil dari apartemenmu, maafkan aku jika merepotkan karena kau harus membuangnya sendiri, tenang saja Jimin-ah, aku tak akan melakukan sesuatu yang membahayakanmu. Mungkin memang terdengar gila, bahwa sejatinya aku adalah fansmu, terdengar mengerikan bahwa aku datang padamu mengaku hamil demi bersamamu, aku tak mau membela diri, karena sejatinya, aku sama sekali tak mengharapkan bahwa aku akan bisa masuk dalam hidupmu. Aku pergi." Min Yoongi membungkuk seolah itu perpisahan formal. Meninggalkan Jimin yang berdiri sigap dengan alis terangkat, dan hanya bisa menatap Yoongi melangkah menjauh lalu menatap Pengacara Lee yang hanya diam.
Dengan cepat Jimin mengambil kertas perjanjiannya, sudah ada tanda tangan Yoongi di atas materai, tanda tangan Pengacara Lee juga cap Pengacaranya. Hanya tinggal bubuhan tinta dari Jimin. Dan di akhir syarat, kening Jimin mengernyit. Min Yoongi tak menyebutkan, tapi perjanjian terakhir adalah
Jimin harus bahagia.
Jimin hanya diam. Dan semua sudah berakhir.
.
.
.
.
.
Dua hari sudah berlalu, Jimin menghela nafas, ternyata terlalu banyak barang milik Yoongi yang berada di apartemennya, kemungkinan semua barang Yoongi sudah di pindah di apartemen Jimin, jadi hanya beberapa di apartemen bekas milik Yoongi.
Dan entah kapan Jimin dapat membereskan semua ini.
Nyatanya semua masih berada di tempat yang sama tanpa bergeser sedikitpun. Setelah ini mungkin Jimin akan sibuk mengurusi segala tetek bengek perceraian. Ia menatap layar ponselnya, tak ada pesan dari siapapun, termasuk Seulgi. Wanita itu entah sejak kapan begitu sibuk akhir-akhir ini. Jimin pun tak dapat menyalahkan kekasihnya, itu hidup Seulgi, wanita itu tengah mencoba membuat dirinya lebih baik, Jimin tak akan melarang itu.
Bosan hanya duduk, Jimin memutuskan ke dapur untuk membuat segelas kopi, dan toples isi kopinya sudah mendekati kata kosong. Ia membuka rak atas untuk menemukan kopi lain, namun yang ia temukan adalah beberapa kotak susu untuk Yoongi. Jimin sempat terdiam, lalu hanya menggeser kotak-kotak tersebut dan mengambil kopinya. Baru sempat ia menuang kopi, bel apartemennya berbunyi.
Jimin menaikkan bola mata berpikir, siapa yang mungkin datang di pagi hari seperti ini? Setelah meninggalkan cangkir dan kopinya, Jimin bergegas menuju pintu dan tanpa berpikir panjang, ia membukanya dan mendapati Seulgi yang tengah menurunkan masker dan tersenyum lebar padanya serta menerjangnya dengan pelukan erat.
Setidaknya ada Seulgi yang menjadi sandarannya untuk saat ini.
.
.
.tbc..
.
.
.
Kadang cerita happy ending juga tergantung kebahagiaan setiap karakter kan? Hehe. Min Yoongi will find another happiness^^
. jadi nulis ini tuh nyicil, dari lamaaa. Dan tadi ngintip lagi pas part Yoongi yang datengin Jimin malem2 itu, nangis masaaa sambil ndengerin ending scene. Kasdjkasdkas, see ya
