Touch
Disclaimer: Harry Potter © J.K Rowling
Author: MilesMalfoy
Rated: MA (Please be careful)
Pair: Dramione
Warning: this book has an 18+ content so please be wise. Typo, OOC, Muggle World
Tidak ada keuntungan apapun yang saya ambil dalam pembuatan fic ini.
Summary: Dan ketika Draco menjadi orang yang dipilih oleh Hermione dan teman-temannya sebagai partner s*eks Hermione, Draco mendapati dirinya tak pernah merasa cukup dengan Hermione. Lalu Hermione mulai tak bisa berhenti memperhatikan Draco jika Draco muncul di dibaca dengan bijak oleh mereka yang cukup umur. No judge please.
Touch
Dehaman yang mengisi atmosfer di sekeliling Hermione dan Nate membuyarkan obrolan keduanya di depan loker Hermione. Ketika keduanya sama-sama menoleh ke sumber suara dehaman tersebut, mereka menemui sosok Debby Fleming ada di depan mereka.
Debby tampak tersenyum masam sambil melipat bibir ke dalam, terlihat tidak senang. Satu tangannya berkacak pinggang, matanya menatap kemana-mana sebelum akhirnya beradu pandang dengan Hermione.
"Hai." sapa Hermione berusaha untuk tidak terbawa atmosfer canggung dan tegang di sekelilingnya. Beberapa murid yang kebetulan berada di koridor yang sama dengan Hermione mengamati keadaan menarik ini dengan berbisik-bisik, ada pula yang memilih diam namun memperhatikan.
Hermione berusaha tidak terlihat kecil meski dia tampak disudutkan sekarang. "Deb, ada apa?" Nate yang tidak mengerti dengan kehadiran Debby segera bertanya. Terlebih air muka Debby terlihat tidak bersahabat.
Debby tidak menoleh pada Nate ketika dia bertanya, matanya masih menatap dan memperhatikan Hermione yang tampak tidak gentar dipandang penuh intimidasi seperti itu. "Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi kau salah paham." tukas Hermione langsung pada intinya. Dia jelas tahu mengapa Debby datang padanya, semuanya tergambar jelas di mata perempuan itu.
"Oh ya?" Debby tampak angkuh dan arogan. Seandainya saja Hermione adalah orang yang frontal, dia akan mengatakan secara terang-terangan dan jelas bahwa dia benar-benar membenci etika Debby sekarang ini. Sungguh menjengkelkan.
"Deb," Nate memegang siku Debby, seolah menahan perempuan itu sekaligus memperingati.
Debby Fleming, selain dia populer karena kecantikannya dan terkenal picky dalam memilih pacar atau orang yang bisa dekat dengannya, dia juga terkenal punya jiwa arogan. Sikapnya itu sangat jelas terlihat ketika memilih pacar atau ketika saat ini. Ketika dia jengkel dan tidak menyukai sesuatu, dia akan menunjukkannya dengan jelas namun dengan cara yang halus. Dia tidak akan menghabiskan tenaganya untuk menunjukkan betapa jengkelnya dia. Dia punya cara sendiri, seperti memberi tahu secara jelas dan tegas langsung kepada orang yang bersangkutan.
Dia tidak seperti kebanyakan perempuan yang akan marah dan membuat kehebohan. Itu sungguh bodoh bagi Debby.
"Aku dan Nate adalah teman. Hanyalah teman. Kau tidak perlu mencemaskan pertemanan kami. Kami punya beberapa kelas yang sama dan punya tugas kelompok. Jadi, tidak usah paham."
"Kau pikir aku bodoh? Nate secara tiba-tiba mendekatiku padahal dia digosipkan dekat, bahkan pacaran denganmu. Aku jadi pelarian karena dia tidak ingin terlibat drama cinta segitiga. Oh astaga, aku pelarian?! Yang benar saja!"
"God! Dam nit, Deb! I told you already!" Nate seketika tampak frustasi begitu mendengar Debby. Dia mengusap wajahnya, mencoba menahan diri.
Debby mendengus kesal. "Aku tidak begitu peduli pada awalnya karena tampaknya Nate acuh pada semua itu. Jadi aku tidak mempermasalahkan. Namun akhirnya aku mengetahui bahwa kalian seringkali chatting."
Hermione tergelak sarkastik. "Kau cemburu karena itu? Seriously?! Tentu aku chatting dengan Nate, apa kau tidak baca bahwa kami membicarakan tugas kelompok kami?!"
"Kalian tidak sekedar membahas tugas kelompok!"
"Of course! We're friends! Kami pasti bertanya kabar dan lain-lain." Hermione tampak menggelengkan kepala tidak percaya, mengalihkan pandangannya pada objek lain sesaat. "Kau benar-benar pencemburu! Dengar, tidak ada cinta segitiga di antara kami. Drama itu tidak ada, semua gosip! Bagaimana bisa kau percaya pada gosip murahan semacam itu?! Pakai otakmu lebih keras lagi sebelum melakukan hal bodoh secama ini." Hermione benar-benar tidak suka jika seseorang mulai menindasnya atau mengganggunya seperti ini. Emosinya jadi cepat tersulut. Hermione merasa dia tidak pernah mengganggu atau cari masalah dengan orang lain. Jadi, jika itu terjadi padanya, dia marah dan tidak terima.
"Kau benar-benar mempermalukan dirimu sendiri, Deb. For god's sake, I told you she's my friend!" Nate menghela nafasnya mencoba menahan kekesalannya terhadap Debby. Debby benar-benar mempermalukan dirinya sendiri dan juga Nate karena hal konyol semacam ini.
Sebuah tangan muncul di siku Debby, memegangnya cukup erat, dalam satu kali gerakan tangan tersebut menarik mundur Debby beberapa lama. Sontak Hermione menoleh pada sang pemilik tangan dan menemukan Dracolah pelakunya. Di belakang Draco ada Theo dan Blaise.
Kedatangan tiganya membuat beberapa murid menahan nafas, seolah terkecat karena situasi terasa jadi lebih menegangkan.
"You're over reacting, Fleming." tutur Draco.
"Baru saja sekolah kita tenang tanpa Parkinson, sekarang muncul orang baru lagi. Ck," sahut Blaise. "Kau juga mau sok berkuasa dan bossy?" Blaise mungkin salah satu dari sedikit siswa yang berani berkata demikian pada Debby Fleming. Kebanyakan murid memilih untuk tidak mencari perkara dengan perempuan itu. Bukan karena dia bisa mem-bully, tetapi karena Debby punya kekuatan menghasut yang luar biasa. Dia bisa membuat orang-orang di sekitarnya ikut membenci orang yang dibencinya.
"Shut up, Zabini!" Debby tampak tidak gentar.
"Sudah, hentikan. Kau hanya salah paham, Fleming. Kau terlalu mudah cemburu karena perkara kecil. Nate dan Hermione berteman, apa yang salah dari itu?" Theo akhirnya menimpali. "Hanya karena kau pacar Nate bukan berarti kau bisa melarangnya dan berhak merasa cemburu lalu menyalahkan orang lain."
"Menjauhlah dari pacarku." Debby menatap tajam penuh ancaman tepat di mata hazel Hermione. Sementara Hermione menatap Debby tegas, terlihat kuat dan tidak terintimidasi. Setelah adu tatap sebelah beberapa detik, Debby membalikkan badan dan mulai melangkah pergi dengan santai. Sangat santai, seolah dia tidak melakukan apa pun.
Nate membuang nafasnya, sekali lagi merasa frustasi. Tangannya menyentuh lengan Hermione. "Forgive her, Hermione. I'm sorry." Setelah berkata begitu Nate pergi, berlari menyusul Debby, pacarnya. Entah sejak kapan mereka sudah resmi pacaran, Hermione tidak peduli. Lagipula itu juga bukan urusannya.
Hermione mendesahkan nafasnya, memejamkan mata sejenak mencoba meredakan emosinya. "Kau baik-baik saja?" Draco bertanya yang diberi Hermione anggukan.
"Ayo ke kelas." ajak Hermione, mengalihkan pembicaraan supaya dia bisa melupakan kejadian barusan. Bibirnya tersenyum kecil pada Draco dan mereka berempat pergi ke kelas yang sama karena keempatnya dijadwalkan demikian.
"Hei!" sebuah tangan tiba-tiba saja ada di bahu kanan Hermione, merangkulnya. Lalu sosok Ginny muncul di sisi kirinya.
Senyum Hermione seketika terkembang. "Hei."
Keduanya kini berjalan kembali ke asrama setelah bel pulang dibunyikan. Saat ini, di kepala Hermione sedang berlarian banyak hal, membuatnya merasa bahwa hari ini sedikit kacau. Sejujurnya dia masih memikirkan kejadian tadi siang saat Debby menghampirinya dan membuat keributan kecil. Dia masih tidak mengerti bagaimana bisa Debby semudah itu cemburu? Bukankah dia orang yang selalu terkenal dengan ke-stay cool-annya?
"Kau baik-baik saja?" tanya Ginny setelah beberapa saat memperhatikan raut wajah Hermione yang terlihat berpikir keras.
Mendengar pertanyaan Ginny, Hermione hanya melirik sahabatnya dengan bingung karena dia tidak mengerti arti pertanyaan tersebut.
"Aku dengar soal Debby."
"Ah, well, sedikit menjengkelkan sebenarnya. Aku masih agak kesal karena alasannya sungguh konyol tapi aku baik-baik saja." Hermione memberikan senyumnya di akhir kalimat sebagai tanda bahwa dia benar-benar baik-baik saja saat ini.
"Aku tidak menyangka, sungguh. Bagaimana dengan Nate?"
Hermione berpikir beberapa saat. "Dia terlihat kesal dengan Debby, tapi aku tidak tahu lagi setelahnya. Dia juga minta maaf."
"Seharusnya Debby yang minta maaf. Dia mempermalukanmu, demi tuhan. Beruntung bahwa tidak banyak anak yang terpengaruh dengan kejadian tadi. Mereka jadi tidak menganggap kau sebagai perusak hubungan orang."
Seketika Hermione melongos mendengarnya. "Aku bersumpah, mereka benar-benar bodoh jika pikir akulah perusak hubungan Nate dan Debby. Apa mereka pernah lihat aku merayu Nate? Tidak, bukan? Astaga." Hermione memutar mata, benar-benar tidak percaya dengan keadaaan ini.
Ginny mendorong pintu asrama begitu mereka tiba di depan gedung. Keduanya langsung melangkah menaiki tangga setelah melirik ruang rekreasi asrama. Tidak begitu ramai, ada beberapa anak yang mengobrol disana. Filch masih belum berjaga, dia akan mulai berjaga setelah lewat pukul enam petang. Dan hari ini Filch kedualah yang dijadwalkan menjaga gedung asrama perempuan. Entah mengapa Hermione merasa lebih baik begitu tahu bahwa giliran Filch kedua yang menjaga.
Hermione dan Ginny sama-sama menghela nafas begitu mereka tiba di kamar mereka. Keduanya sama-sama langsung membaringkan diri di ranjang begitu sudah meletakkan buku-buku dan tas sekolah mereka. Hermione bergerak malas membuka simpul dasinya lalu melepas dua kancing seragamnya.
"Kau masih belum bercerita tentang obrolanmu dengan Draco di danau hitam." tutur Ginny setelah beberapa saat. Ginny mulai mendudukkan diri sambil membuka jas sekolahnya.
"Akan kuceritakan saat ada Astoria jadi aku tidak perlu mengulang dua kali."
"Akan kutelepon dia."
Setelahnya Hermione membiarkan Ginny berusaha menghubungi Astoria, sementara dirinya mulai membuka jas sekolahnya lalu menggantungnya dengan hanger di dekat lemari pakaiannya. Begitu selesai Hermione kembali berbaring sembari berpikir tentang bibinya. Keinginannya untuk mengetahui lebih banyak tentang bibinya sedikit menggebu, jadi Hermione nyaris tidak bisa memikirkan hal lain selain mencari cara untuk bisa mengenal bibinya. Sesekali dia juga terpikirkan oleh percakapannya dengan Draco di danau hitam kemarin sore.
Dia sungguh tidak menyangka Draco akan menyatakan perasaannya. Dia bahkan tidak pernah berpikir jika Draco akan menyukainya –siapa yang mengira? Bahkan Astoria dan Ginny saja mengira bahwa dirinyalah yang menyukai Draco dan bukan sebaliknya. Tapi kenyataannya?
Memang harus diakui bahwa dia merasa nyaman dengan Draco. Lelaki itu bisa tahu sesuatu yang dalam tentangnya tanpa dia pernah memberi tahu. Seolah Draco selalu berada satu langkah lebih depan dibanding Astoria dan Ginny. Dia bisa memahami Hermione dengan caranya. Tetapi apakah itu cukup jadi alasan untuk menyukai seseorang?
Hermione tidak tahu.
Dan apa yang Draco sukai dari dirinya? Hermione bertanya-tanya dalam hati.
"Astoria kemari sebentar lagi." ucapan Ginny segera mengembalikan kesadaran Hermione. Perempuan itu mengerjap sekali.
"Oh ya," jawabnya singkat.
Hermione kembali termenung beberapa saat, namun terbuyarkan dengan suara derakan pintu kamarnya yang terbuka dan Astoria akhirnya datang. Seketika Hermione mendudukkan dirinya dan bersandar di dipan ranjang. Mungkin bercerita pada sahabatnya adalah hal yang memang dia butuhkan. Itu bisa mengurangi bebannya, membuatnya merasa lega, dan dia bisa dapat solusi dari keduanya.
Astoria duduk di kursi meja belajar Ginny. Sebelah tangannya memegang bungkus keripik kentang yang sudah terbuka. "Oke, mulailah." titah Astoria yang terdengar seperti sebuah perintah bagi Hermione. Ginny juga sudah duduk di ranjang, bersandar di dinding.
Hermione lalu mulai menceritakan obrolannya dengan Draco. Namun dia melewatkan bagian bahwa Draco mengetahui bahwa dirinya diam-diam menangis di danau. Menurut Hermione hal tersebut tidak perlu diketahui kedua sahabatnya. Lagipula Hermione tidak punya alasan jika nanti ditanyai hal tersebut.
Setelah beberapa menit dia menceritakannya, Ginny mulai tampak berpikir. "Lalu kau jawab apa padanya?" tanyanya.
Hermione membuang nafasnya lewat mulut. "Kubilang aku perlu waktu padanya."
Setelah mendengar jawaban itu, Astoria meletakkan bungkus keripik kentangnya lalu bertepuk tangan. Membuat Ginny dan Hermione bingung. "Bravo, Hermione. Selamat. Kau jadi satu-satunya perempuan yang berani menggantung seorang Draco."
"Haruskah aku merasa bangga atau tersanjung?"
"Mungkin kau harus. Draco pasti frustasi karena kau tidak langsung menerimanya. Kalian pasti tahu bahwa banyak perempuan yang ingin sekali berada di posisimu, Hermione. Mereka tidak akan menunda untuk jadi milik Draco. Terlebih kita tahu Draco jarang berususan dengan hal-hal yang mengandung romance."
"Aku jadi teringat obrolan kita kemarin." Sahut Ginny. "Tori, kau ingat ketika kau bilang mereka punya semacam koneksi? Kau bilang Draco menolongnya dan segala macam."
Astoria mengangguk menoleh pada Ginny. "Ya. Jadi?"
"Kita mengira bahwa selama ini Hermione-lah yang menyukai Draco. Tapi sebenarnya, tanpa kita sadari Draco-lah yang selalu datang pada Hermione. Dia yang sebenarnya lebih dulu menyukai Hermione. Dia yang selalu menolong Hermione, padahal Hermione tidak pernah meminta padanya. Bukankah itu jelas?"
Astoria butuh beberapa detik mencerna, lalu dia mengangguk mantap. "Right. Kau benar. Hmm, kenapa aku tidak menyadarinya?"
"Karena kau terlalu fokus pada keinginanmu yang ingin aku segera punya pacar, Tori. Itu sebabnya kau justru jadi melewatkan poin pentingnya." Jelas Hermione.
"Jadi kau mau menggantung Draco berapa lama?"
"Aku tidak tahu, aku butuh waktu untuk mencari tahu perasaanku sendiri." Kepala Hermione menggeleng. Dia sebenarnya ragu dengan semua ini. Dia tidak tahu perasaannya sendiri, tidak tahu apa yang hatinya inginkan, tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memahami hatinya. Karena, sungguh, masalah hati tidak sesederhana itu. Bagaimana jika telah berlalu beberapa waktu ternyata Hermione tidak kunjung menyukai Draco dan Hermione masih mencari jawaban bahwa dia akan menyukai Draco hingga dia tidak sadar bahwa sebenarnya dia telah memiliki jawabannya?
Astoria bangkit dari duduknya, lalu berpindah ke ranjang Hermione, duduk di depan sahabatnya itu. "Dengar baik-baik. Sebuah perasaan bukanlah pelajaran sekolah yang bisa kau selesaikan dengan mencari jawabannya, Hermione. Dia bukan matematikan yang perlu dicari tahu. Jika kau belum merasakan apa pun pada Draco, itu berarti memang kau belum menyukainya. Jangan cari tahu bagaimana perasaanmu terhadap sesuatu karena itu berarti kau mengandalkan otak dan pikiranmu, bukan hatimu.
Jika tiba waktunya, kau pasti akan merasakannya. Kau akan sadar dengan sendirinya ketika hatimu akhirnya jatuh untuk seseorang. Mungkin pikiranmu akan membuatmu menyangkal jika yang kau rasakan adalah rasa suka. Tapi, hati selalu menang. Pada akhirnya semua orang akan melakukan hal yang dia inginkan. Karena keinginan itu timbul dari hati, bukan dari hasil pemikirannya.
Intinya, kau akan menyadari perasaanmu sendiri tanpa kau harus mencari tahu. Hati itu kuat, Hermione. Kau akan takjub saat tahu seberapa kuat hatimu. Aku bahkan takjub dengan hatiku sendiri. Meski sering sakit terluka, dia tidak pernah ingin menyerah. Ketika hatimu menginginkan sesuatu, dia akan mengakar sangat kuat."
Hermione hanya bisa tersenyum mendengar penjelasan panjang lebar Astoria. Dia memajukan tubuhnya lalu memeluk sahabatnya itu.
Apa yang bisa Hermione lakukan tanpa perempuan ini?
Setelah selesai makan malam, banyak dari para murid kembali ke kamarnya. Mereka memilih mengerjakan tugas mereka di kamar. Hanya ada sedikit penghuni ruang rekreasi, salah satunya Hermione. Dia memilih duduk di sofa depan perapian sambil menekuk kedua lututnya di depan dada. Di tangannya ada ponsel dan Hermione menatapinya lamat-lamat. Astoria dan Ginny tidak menemaninya karena mereka memiliki tugas yang harus dikerjakan.
Saat akhirnya dia sudah membulatkan tekad, Hermione mendial nomor ayahnya. Hermione menunggu selama beberapa saat, lalu saat nada tunggu keenam akhirnya ayahnya menjawab panggilannya itu. "Halo. Hermione?"
"Dad. Apa aku mengganggu?"
"Tidak, ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
"Um, aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang Bibi Melissa."
"Oh, kau bisa bertanya pada ibumu mengenai hal itu."
Senyum Hermione terukir kecil. "Baiklah, aku akan tanya ibu besok. Bye dad."
"Bye, Hermione."
Hermione memutuskan panggilan teleponnya lalu meletakkan ponselnya di sebelahnya, tepat di atas laptopnya yang sedang di-charge-nya. Hermione menghela nafas, lalu diam. Dia ingat bahwa dia belum berbaikan dengan ibunya setelah dia bertengkar dengan ayahnya di rumah tempo hari.
Hermione kembali mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi chatting-nya. Dia membaca satu-satu daftar kontak yang dimilikinya, mencoba mencari seseorang yang sekiranya bisa diajaknya chatting. Lalu nama Draco terlintas di layarnya sekilas. Hermione berhenti, lalu menekan kontak Draco dan terbukan kolom chatting mereka. Hermione mengetikkan pesannya.
Hermione: Draco.
Sembari menunggu balasan dari Draco, Hermione membuka laptopnya lalu membuka program pemutar musik. Dia memilih lagu I Never Told You dari Colbie Caillat untuk diputar. Setelah terputar, Hermione langsung memakain headset-nya dan kembali memegang ponsel.
Pesan balasan dari Draco sudah ada, jadi Hermione langsung membukanya. Tidak seperti perkiraan Hermione, Draco justru membalasnya dengan cepat, seolah lelaki itu memang tengah memegang ponselnya.
Draco: Hermione.
Hermione tersenyum kecil.
Hermione: apa yang sedang kau lakukan?
Draco: bernafas. Kau sendiri?
Hermione: Duduk. Jadi, kau tidak ada kegiatan malam ini?
Draco: Tidak, aku sedang malas menyetir. Kau juga bukan? Tidak ada kegiatan?
Hermione: Bagaimana kau tahu?
Draco: *smile* telepati? Hahaha
Hermione: aku serius :/
Draco: aku juga serius, sayang.
Hermione kembali tersenyum, pipinya sedikit memerah karena senang mendapat panggilan tersebut dari Draco. Bagaimana bisa dia senang hanya karena itu? Apa aku menyukainya? Tanyanya dalam hati.
Hermione: :/ boleh aku bertanya?
Draco: silahkan
Hermione: apa yang kau rasakan waktu aku bilang aku butuh waktu?
Draco: hmm, sebenarnya terkejut. Aku tidak pernah dibuat menunggu atau digantung seseorang *roftl*
Astoria benar. Hermione membatin lagi.
Hermione: maaf.
Draco: jangan. kau membuatku seolah aku tidak punya harapan
Hermione: kemarilah. Aku di ruang rekreasi asrama. Kita nonton film bersama di laptopku.
Draco: Filch mana yang menjaga asramamu?
Hermione: kedua
Draco: nice. Aku kesana.
Setelah membaca pesan Draco, Hermione tidak lagi membalas. Dia meletakkan ponselnya dan menunggu Draco datang. Dia mengklik dua kali lagu Phantogram milik Bill Murray yang di-cover oleh Daniela Andrade. Seketika musik di dalam telinga Hermione berganti menjadi lagu yang lebih lambat dari sebelumnya. Suara Daniela Andrade dan petikan gitar memenuhi gendang telinganya.
Hermione suka lagu-lagu slow karena baginya itu menenangkan. Tidak berisik dan lembut.
Sembari menunggu Draco, Hermione membuka file berisi koleksi film di laptopnya. Ada beberapa yang baru yang belum sempat ditontonnya, hanya sempat di-download saja waktu itu. Mungkin juga ini kesempatan bagus baginya untuk tahu lebih banyak tentang Draco. Mereka tidak pernah bersantai berdua seperti ini sebelumnya. Bahkan acara berenang kemarin juga ramai-ramai dengan teman-teman dekat mereka, begitu pikir Hermione.
"Hei." Suara sapaan yang datangnya dari balik sofa yang diduduki Hermione membuat perempuan itu menoleh ke belakang. Senyumnya terangkat naik begitu melihat Draco sudah datang.
Beberapa murid yang kebetulan berada disana cukup terkejut ketika melihat sesosok Draco datang masuk ke ruang rekreasi. Ketika mereka akhirnya sadar bahwa Draco menghampiri Hermione, mereka seketika berpikir bahwa gosip tentang Draco yang pacaran dengan Hermione mungkin saja benar. Kenyataannya, mereka melihat sendiri secara langsung saat ini.
Ada juga yang mengirim pesan teks pada temannya yang lain, meminta mereka untuk turun ke rekreasi supaya mereka bisa melihat bukti gosipnya.
"Hei." Hermione membalas sapaannya sambil memperhatikan Draco yang berjalan ke arah sofa lalu mulai duduk di sebelahnya. Laki-laki itu terlihat tampan –sebenarnya memang selalu begitu, tetapi Hermione baru kali ini memperhatikan penampilan Draco− dengan kaus v neck polos berwarna putih yang dilapisi lagi dengan kemeja flannel dan celana panjang warna hitam.
Keduanya duduk di depan perapian, memunggungi murid lain yang duduk di sofa lain yang berada di belakang sofa mereka. Mereka tampak acuh dengan orang-orang di belakang mereka. Draco mendaratkan satu ciuman di pipi Hermione, membuat pipi tersebut bersemu merah. Orang-orang di belakang mereka terpekik pelan, ikut tersipu. Entah mengapa mereka senang melihatnya.
Hermione melepas headset-nya. "Kubawakan beberapa cemilan." Draco menunjukkan kantung plastik yang dibawanya. Isi di dalamnya ada beberapa cemilan. Sebenarnya semuanya milik Theo, tapi Draco mengambilnya. Tentu dia sudah bilang pada Theo sebelum mengambilnya. Dan sahaatnya tersebut tidak berdaya selain merelakannya. Setidaknya dia dijanjikan Draco gantinya nanti.
"Kau memang pintar. Oh ya, mau teh hangat?"
Draco mengangguk sambil mengangkat kedua alisnya sebagai jawaban. "Baiklah, aku ke pantry dulu." Hermione langsung bangkit berdiri dan melesat ke pantry untuk membuat Teh.
Sementara Hermione di pantry, Draco mengambil alih laptop Hermione, melihat program apa yang sedang dibukanya. Di depan mata Draco, ada begitu banyak folder dengan berbagai jenis judul film. Draco membacanya satu per satu hingga Hermione kembali dengan dua cangkir teh hanga yang diletakkannya di meja dekat perapian.
"Kau mengoleksi banyak film." Komentar Draco menatap Hermione.
"Yah, begitulah." Hermione tertawa kecil dan kembali duduk.
Draco meletakkan laptop Hermione di sisi kanannya yang kosong, jadi laptop tersebut tidak menjadi beban atau halangan di antara dirinya dan Hermione. Dia ingin bicara dulu dengan Hermione sebelum mereka nonton film bersama, itu sebabnya dia memindahkan laptop Hermione supaya tidak menjadi pengganggu.
Draco mengambil tangan Hermione, mengamitnya dengan jemarinya. "Kita bicara dulu sebentar."
Hermione mengangguk kecil. "Tentang?"
"Kau masih belum cerita alasanmu menangis di danau kemarin, kau belum cerita tentang pembicaraanmu dengan ayahmu."
Seketika Hermione menghela nafas, dia menunduk menatapi jemarinya yang tertaut sempurna dengan milik Draco. Untuk beberapa detik dia tetap menunduk, menyiapkan hati dan pikirannya untuk bercerita. Begitu siap, dia memulainya.
Draco tampak mendengarkan dengan seirus dan dia mengamati setiap perubahan pada mimic wajah Hermione ketika dia bercerita. Dia tampak sedih ketika membahas hal tentang bibinya, tapi jadi lebih sedih lagi ketika dia menceritakan masalah tentang Ayahnya yang dipindah tugaskan ke Australia.
Saat Hermione mengatakan hal itu, Draco merasa terkejut. Sesaat kemudian mulai merasa sedih, hatinya pelan-pelan berharap bahwa Hermione bisa tetap tinggal dan tidak ikut orang tuanya pindah. Australia sangat jauh dari London, dari Inggris. Tetapi Draco tidak mengatakannya. Terlalu awal, terlalu cepat, dan terlalu egois jika dia harus mengatakannya sekarang. Lagi pula yang terutama disini adalah Hermione.
Begitu Hermione selesai bercerita, Draco memusatkan atensinya pada tangan Hermione yang digenggamnya. Tangan perempuan itu secara sempurna sangat pas mengisi sela-sela jarinya. Jari-jari Hermione tidak terlalu kecil, juga tidak terlalu besar. Dengan jari Draco lainnya yang tidak menggenggam tangan Hermione, Draco mengusap tangan tersebut. Mengusapnya pelan secara berulang.
"Lalu, kau sudah memikirkan sesuatu?" tanya Draco sambil kembali menatap Hermione.
"Untuk saat ini, yang kupikirkan hanya bibiku. Terkadang aku juga memikirkan masalah pindah itu, tapi waktunya masih lama."
"Kau pasti bingung."
Sekali lagi Hermione menghela nafas. "Ya, aku sangat bingung. Aku sangat suka tinggal disini, tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana tinggal sangat jauh dari orang tuaku."
Draco menganggukkan kepala, mengerti yang Hermione katakan. "Jadi besok kau akan ke rumah dan menemui ibumu?"
"Mungkin aku bisa menunggu hari Jumat. Hari Sabtu libur, jadi ada banyak waktu untuk bicara."
Draco mengangguk lagi. "Aku akan mengantarmu besok Jumat, kebetulan juga aku akan pulang dan tidur di Manor."
"Oke, itu bisa diatur."
Draco tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, membuat posisi kepalnya sedikit miring sambil memandang Hermione. "Oh ya, sampai kapan kau mau menggantungku?"
Seketika Hermione tertawa. "Ya ampun, baru sehari, Draco."
"Aku tahu, aku hanya bertanya. Tapi, jangan terlalu lama, oke?"
"Memangnya kenapa?"
"Um," Draco bergumam, berpikir mencari alasan yang tepat. "Because the worst feeling ever is not knowing wheter you should wait or give up."
Hermione tampak diam sejenak saat mencerna kalimat itu. Kalimat terakhir yang diucapkan Draco seperti memberi kesan tersendiri baginya. Itu sungguh sebuah penjelasan dan seperti mengenainya secara telak –begitu yang Hermione rasakan−. Tentu Hermione sadar dia tidak bisa membuat seseorang menunggu terlalu lama untuk dirinya.
"You know, I wonder what goes through your head when you hear my name." lanjut Draco lagi dan berhasil membuat bibir Hermione melengkung naik membentuk sebuah senyuman.
"So, you want an answer?"
"Ya."
"Um, when I hear you name, I think about an intimidating boy, but sweet."
Seketika Draco tergelak. "Ya, memang. Aku memang mengintimidasi dalam situasi tertentu."
"Kau mengakuinya. Jadi itu benar." Hermione mengangguk sebagai tanda bahwa hal yang dia katakan sudah terbukti dan itu tidak salah.
"Yep."
"Aku merasa senang saat kau mencium pipiku tadi. Juga seperti ini, saat kau menggenggam tanganku." aku Hermione sambil menahan rasa sedikit malunya yang membuat pipinya merah. Dia menundukkan kepala memperhatikan tangan Draco yang tersemat di antara sela jarinya. Tangan Draco terasa sangat cocok dan pas.
"I know it takes time for you, but, why don't you give it a try?"
Hermione memandang mata Draco ketika Draco menanyakan pertanyaannya. "I want to make it sure before we try, Draco. Because I don't want to be a heartless girl," jelas Hermione. Setelah Draco mengutarakan perasaannya malam itu, Hermione memang memikirkan kata-kata Draco. Setiap kata itu secara berulang terputar di kepalanya.
Hermione sadar setelah malam itu bahwa dia bukanlah perempuan yang peka yang bisa menyadari bahwa Draco mendekatinya. Dia bukanlah perempuan yang mengerti ketika seseorang mendekati dirinya karena orang tersebut menyukainya. Semua itu dibenarkannya. Dia mengakui bahwa dirinya memang seorang heartless girl.
"Be patient with me, please." sambung Hermione lagi.
Draco mengangguk pelan lalu berkata, "I will."
Kembali Hermione tersenyum lagi, senyum yang diungkapkannya sebagai ucapan terima kasih. Lalu dia bergerak mendekatkan wajahnya dengan wajah Draco. Hermione tidak tahu mengapa dia melakukan ini, yang dia tahu dia hanya ingin melakukannya, dia hanya ingin mencium Draco. Dia hanya ingin merasakan ciuman Draco. Jadi dia semakin mempersempit jarak wajah mereka, lalu melabuhkan sebuah ciuman di bibir Draco dengan mata terpejam.
Saat itu pula Hermione menyadari bahwa kata-kata Astoria benar.
Hati selalu menang. Pada akhirnya semua orang akan melakukan hal yang dia inginkan. Karena keinginan itu timbul dari hati, bukan dari hasil pemikirannya. Ketika hatimu menginginkan sesuatu, dia akan mengakar sangat kuat.
Tetapi, Hermione masih belum menemukan keinginan untuk memiliki Draco. Itu artinya, hatinya belum jatuh untuk Draco, bukan?
Yak, 3903 words. Lumayanlah ya. Jangan bilang saya PHP atau merasa ter-PHP-kan ya karena belom bikin mereka jadian meski pun Draco udah nembak. Muehehe. Realistis aja gaes, beberapa dari kita pasti juga begitu, ada yang gak langsung nerima kalo abis ditembak. Apalagi kalo posisinya lagi gak tau sama perasaan sendiri.
Hermione gak mau nyakitin Draco atau bikin Draco kecewa, itu sebabnya mereka gak cepet-cepet jadian.
btw, mana suaranya yang kangen Nateeeeeee?
Jadi menurut kalian, sejauh ini, bagaimana ceritanya? Membosankan? Alurnya kelambatan? Kecepetan? Pas? Karakternya kurang kuat? Atau…? Coba tolong dijawab ya apa aja opini kalian tentang Touch sejauh ini.
Oh ya, kalau kalian mau bayangin Nate, coba aja liat Nathan Sykes. Saya membayangkan dia yang jadi Nate.
Oh ya lagi, kalau kalian bisa bertanya atau ngomong sesuatu ke setiap karakter di Touch ini, adakah yang mau kalian omongin/ tanyain? Kalo ada, tolong jawab ya. Kalo banyak yang mau, mungkin saya akan buka question&answer untuk para karakter Touch.
Terima kasih untuk semua yang sudah review dan selamat datang untuk kalian semua yang baru pertama kali meninggalkan review di Touch. Semoga betah tinggal di imajinasi saya. Hahahaha.
Balasan semua review:
AuroraDM: thank youuuu *shy*
puma178: yah batal officialy together :'v draco chatting sama siapa, itu rahasia ya :3
RyuuSei428: nah pertanyaanmu sudah terjawab di chapter ini. tak jawab siapa itu nina, tapi ngga sekarang2 yaa :3 btw, selamat datang di Touch ^^
Riska662: wahh tebakanmu tentang saya hampir bener loh. bener loh saya kurang tinggi, malah bisa dibilang pendek (hanya 155cm), langsing? saya kurus :'v nggak bisa gemuk. warna kulitnya kuning langsat? ya, saya agak sedikit kuning :'v cenderung putih sih (kata orang) tapi saya nggak ngerasa putih2 amat juga.
k1ller: tenang sajaaaaaa, ngga gantung wkwk
Miss Darkness: thank you, welcome to Touch, ini sudah dilanjut ^^
usherone: jadi berapa chapter sudah yang kamu lewatkan? btw, reviewmu membuat hari saya berwarna lho, senang sekali rasanya (karena reviewmu panjang) hahaha. mungkin saya ini mirp denganmu, kamu bilang baru di ff ini kamu menyukai karakter Astoria. saya juga jarang menyukai karakter Astoria di ff lain, disini juga sebenarnya saya agak jengkel sama Astoria karena dia terlalu memojokkan Hermione dengan Draco, tapi overall saya suka karakter dia hahaha (yaiyalah saya sendiri yg bikin kok) kamu membayangkan saya ideal? saya kayaknya belom ideal deh dear :(
megisuwari: nah kamu sama seperti beberapa reader lain yang menemukan karakter Draco sedikit janggal. peka sekali ya! :D wah kamu juga nyaris tepat membayangkan bentuknya saya. tinggi standar? saya belum masuk tinggi standar deh :( postur berisi? nah. saya kurus wkwk. wajah oval? maybeee (gak bisa menilai bentuk wajah sendiri hahaha) dan YAP! ini benar banget! saya pake kacamata B)
Mhey-chan805: saya lagi nonton drakor Uncontrolllaby Fond. kemarin baru selesai nonton Cheese in The Trap, sama W. ini juga sama lagi nonton episode barunya Jealousy Incarnate. kalau kamu nonton apa? pertanyaamu tentang Draco-Hermione sudah terjawab di chapter ini, selamat! :D
aquadewi: ini sudah terjawab kan :))
Cius: hay, welcome to Touch, sudah di next nih :)
Yosh: hay, welcome to Touch, sudah di next nih :)
mmalfoy: sudah di next :)
Mamang: aawww thank youuu sudah diupdate nih ya :)
Swift: wkwkw coba gebetannya dikodein yang keras :'v
rikarika: nah saya suka review mu, sangat menjelaskan karakter D-T-B (Draco-Theo-Blaise). yap, begitulah mereka. heheh
hening: saya update setiap seminggu/ dua minggu sekali :)
rinna: hehehe ya, begitu lah dia :D
Guest: hehehe selamat membaca yaaa :)
