.
Our Destiny
Suho : Girl (GS) | Kris : Boy | Yixing : Girl (GS) | Kai | Chanyeol | lead+
Warning : Typo's , Absurd , No Feel
Rated : T+ - M
...
BunnyJoon's Present
...
.
.
.
"Ingin bertemu Suho kecil ?" Chanyeol bertanya –lagi ".. untuk yang terakhir kalinya ?" pertanyaan itu begitu pelan, lirih nyaris hilang tertelan derasnya hujan.
"Maksudmu ?" Suho menatap Chanyeol tak mengerti dan entah atas dasar apa air mata itu telah menganak sungai begitu deras tak dapat berhenti.
.
.
.
"Temui Pria itu, dia .."
".. begitu kacau"
Seharusnya Suho tak bodoh untuk tahu apa makna dari kalimat 'baik-baik' milik Jongin terhadapnya pagi tadi. Harusnya dia sedikit saja lebih pintar menganalisa seluruh kejadian hari-hari belakangan ini.
Semua ketenangan yang Ia dapat selama 5 hari kebelakang, Chanyeol yang membiarkannya diam tanpa menuntut jawaban, juga Jongin yang begitu tenang di atas seluruh emosinya. Seharusnya Suho tahu bahwa ada yang tak beres di sini.
Namun ketika akhirnya mobil atas kemudi Chanyeol itu sampai, dan tungkainya berjalan bergetar di sisa-sisa kekuatan lemah miliknya dan Suho datang dengan keterlambatan yang tak mungkin bisa diperbaiki lagi. Waktu tak akan bisa berputar ulang, apapun jaminannya.
Di depan pemujaan terakhir seorang gadis kecil, yang bingkai fotonya terpajang jelas di kelilingi mawar putih segar. Gadis kecil dengan senyum damai yang mampu menghangatkan badai salju di malam gelap, Wu Suho.
Kakinya nyaris lumpuh, tak lagi mampu berdiri di atas semua duka ini ..
Tangannya bergerak kebingungan, mencari-cari sebuah pegangan ..
Bibirnya meracau kata-kata di atas kesadarannya yang nyaris hilang ..
Bola matanya berpendar linglung, air mata terlalu murahan untuk menjelaskan perasaannya ..
Suho benar-benar kehilangan jiwanya, ketika sebuah tangan bertaut menarik tangannya dalam sebuah genggaman hangat, menopang sedikit banyak tubuhnya yang nyaris ambruk bersama deraian air mata yang entah sejak kapan membasahi wajahnya.
"K-Kris .."
Suho menarik tangannya cepat, melangkah mundur tiba-tiba menciptakan sebuah jarak besar antara dirinya dengan Pria berjas hitam bersama raut wajah hancur sejadi-jadinya –Wu Yi Fan.
Wanita itu memandang tak senang, dengan segenap luka dan kekecewaan dalam dirinya ada rasa marah yang enggan Ia sembunyikan "Kalian semua berkomplot untuk ini ?" ujarnya di atas nada dingin, jemarinya yang Ia kepal kuat-kuat di sisi tubuh tak mampu menyembunyikan getaran hebat pada tubuh ringkihnya.
"Kalian semua berkomplot dengan pikiran licik untuk menutupi semua ini, dariku ? IYA ?" tangisnya pecah, memeluk dirinya sendiri dengan kedua lengan ranting yang terlihat lemah, melangkah mundur semakin jauh hingga terpojok di sudut ruangan.
Bagaimana bisa ? Kematian gadis kecil itu mengapa bagai lelucon murahan bagi Pria-Pria ini ? Mungkin mereka memang Kris, mungkin memang Kim Jongin, tapi Park Chanyeol ? Demi Tuhan! Dia tahu seluruhnya, hingga butiran uap perasaannya pun Suho yakin Chanyeol mengetahuinya. Lalu ? Kenapa harus begitu terlambat ? Kenapa menyadarkannya setelah semua benar-benar sangat terlambat ?
Rasa takut tiba-tiba naik dari ujung jemari kakinya, mengguncang seluruh tubuhnya dengan getaran halus menyakitkan, memporakporandakan hatinya. Takut akan rasa bersalah yang tiba-tiba datang merayap bertanya-tanya mengenai siapa penyebab dari seluruh kekejaman takdir ini.
Rasa bersalah ..
Jika diingat lagi, jika kembali lagi ke hari-hari sebelum ini maka Suho adalah satu-satunya 'tersangka' atas kejadian hari ini. Penolakan yang Ia berikan pada gadis mungil itu beberapa hari lalu, kemudian berlari pergi tanpa menoleh bahkan menulikan pendengarannya atas panggilan namanya yang begitu lirih dari bibir gadis kecil itu, rasa bersalah menggulung bak bola salju.
Menggenggam rasa egois dan menggadang-gadangkan kejamnya takdir sebagai alasannya mempertahankan egoisme dalam bungkusan wanita pembangkang, menepis perasaan orang lain dan mengutamakan air matanya di atas apapun, batu hati pembangkang yang Ia pelihara akhirnya menciptkan dentuman besar sebuah penyesalan dan tak ada yang bisa Ia lakukan selain mempertontonkan bulir air mata terus jatuh menderas disusul bulir-bulir yang lain.
"A-aku mem-membunuhnya ?!"
"Kim Junmyeon!" Chanyeol berteriak dengan nada keras, nyaris melesatkan langkahnya ke arah wanita itu jika saja gerak Kris untuk menarik tubuh Suho yang nyaris rubuh tak mendahului langkah pertamanya.
Chanyeol mematung, tak berani menarik langkahnya lagi terlebih tak melihat ada sedikitpun perlawanan Suho atas lengan Kris yang merengkuh tubuhnya begitu posesif. Mungkin terlalu lemah, pikirannya telah begitu kusut sehingga tak lagi memiliki kekuatan untuk berontak, atau justru memang sebenarnya rengkuhan itulah yang wanita itu butuhkan ? Entahlah ..
Apa aku telah selesai di titik ini, Kim Junmyeon ? –Park Chanyeol
"T-tapi .. tapi .. –tapi .. –aku .." Suho hancur sehancur-hancurnya, jika bukan karena rengkuhan erat Kris pada pinggangnya, mungkin tubuhnya telah luruh di lantai dingin itu sejak tadi dan Chanyeol tanpa alasan begitu murka atas kenyataan itu.
"Wu Yi Fan!" pekik Chanyeol berang "Katakan sesuatu!" Chanyeol ingin pergi, seharusnya Pria itu berbalik dan pergi setelah Kris seolah mengambil alih semuanya. Pria itu seharusnya tak perlu peduli lagi, tak perlu bersusah payah memikirkan kehancuran siapapun saat ini karena sungguh, hatinya pun begitu nyeri hanya untuk melihat Kris merengkuh tubuh Suho begitu posesif.
Sayangnya, Chanyeol tetaplah Chanyeol, tak peduli betapapun hatinya perih bahwa janjinya untuk menghantarkan Suho pada sebuah kebahagiaan tetaplah janji, janjinya sebagai seorang Pria "JELASKAN SEMUA SEKARANG JUGA WU YI FAN!"
Mereka –Chanyeol, Jongin dan YiFan– telah menyepakati ini bersama. YiFan sendiri yang datang tepat di hari itu, memohon dengan merendahkan harga dirinya yang Ia letakkan di bawah sepatu basah miliknya, kemudian Ia pijak hancur lalu mengemis permohonan ampun dari Jongin dan menjelaskan semuanya. Benar-benar semuanya, termasuk apa yang terjadi hari ini –kematian Wu Suho, sejujurnya tak lagi membuat Jongin atau Chanyeol begitu kaget meskipun awan sedih ikut mengaraknya.
Tapi apa yang terjadi ? YiFan memilih diam seribu bahasa dan hanya terpaku menyaksikan kehancuran Suho atas seluruh dugaannya sendiri, menyaksikan betapa hancurnya wanita dalam rengkuhannya itu terus terisak dalam tangis tanpa sebuah penjelasan akan kebenaran.
.
.
.
"Memang apa yang kalian harapkan dari gadis kecil yang terlahir dari seorang Ibu penyakitan ?"
Begitu kira-kira kalimat nanar yang Kris ucapkan malam kemarin di hadapan Chanyeol dan Jongin dengan sekujur tubuh basah, tepat di hari Ia mengatakan nyaris seluruhnya termasuk kematian Yixing dan surat terakhir wanita itu.
"Gagal ginja di usia dini, kelainan jantung dan nyaris menghabiskan masa kecil dengan berbagai alat bantu jantung, juga sistem imun yang lemah"
"Aku bahkan tak tahu apa Tuhan masih bersedia memberinya hidup hingga hari ini berganti" Pria itu tertawa kecut atas kalimatnya, mengejek tadirnya sendiri, entahlah ..
"Setelah kepergian Junmyeon, Tuhan menitipkan Yixing dan Suho dalam hidupku untuk memberiku pelajaran atas semua kebejatan yang telah aku lakukan pada Kakak perempuanmu, tak bisakah kau menganggap itu semua sebuah pembalasan yang setimpal dan menitipkan ampunan padaku, Kim Jongin ?"
Hening setelahnya, Kris dengan raut penuh sesal, sendu, gundah, kecewa sekaligus minta dikasihani sedikit banyak menggugah hati Park Chanyeol, tapi Jongin ? Lagi-lagi Pria itu dengan rapi membungkus segala emosi dalam raut wajah tenang tanpa sedikitpun kerutan.
"Lalu kau meminta Kakak-ku bertanggungjawab atas anak penyakitanmu itu ?" Kalimat kelewat kurang ajar itu tak bisa Jongin tahan, senang melihat Pria ini menderita setelah kebrengsekan apa yang telah Ia ledakkan dalam hidup Kakak perempuan satu-satunya.
"Tidak !" ujar Kris nyaris berteriak.
"Tidak, sama seperti bagaimana kau membiarkan bayiku hidup tanpa ayahnya tahu dan juga mati tanpa sang ayah tahu!" ada raut marah yang tak bisa Kris simpan apik kali ini, ketika tahu bahwa Jonginlah alasan semua rahasia besar itu tersimpan hingga bertahun lamanya. Chanyeol yang menceritakan rahasia itu padanya.
"Biar Junmyeon satu-satunya orang yang akan menjadi si dungu dalam masalah ini, membiarkan dirinya larut dalam rasa bersalah seperti aku"
Harusnya Kris benar-benar menanggalkan seluruh egonya malam itu, harusnya Ia tak berbelit-belit dan menjawab "IYA!" atas pertanyaan Jongin. Demi Tuhan! Anak perempuannya detik itu tengah meregang nyawa di balik alat bantu medis, bahkan jika Suho memutuskan pergi dari hidupnya setelah ini paling tidak temui malaikat kecil tak berdosa itu.
Sayangnya, Kris melupakan fakta Jongin adalah orang yang menyimpan dendam paling besar atas dirinya, orang yang juga paling bahagia di atas penderitaan dirinya.
"Okay, hubungi aku jika telah terjadi sesuatu. Kakak perempuanku jelas butuh istirahat dengan segala ketenangan. Jangan berani-berani menyentuhkan kakimu lagi di sini, apapun alasannya!"
"Terkecuali jika semuanya telah .." Pria itu menyunggingkan sudut bibirnya "... selesai" Jongin hanya tak tahu, bahwa ucapannya akan terwujud begitu cepat.
Jongin ingin semuanya begitu impas, kejam memang tapi kau harus tahu bagaimana sulit dirinya dan Kakak perempuannya coba bangkit dan menjalani hari-hari setelah segala keterpurukan itu selama bertahun-tahun.
Balasan dengan membiarkan Pria itu –Wu Yi Fan, lagi-lagi meneguk pahit sesalnya ..
.
.
.
Suho mengusap wajahnya kasar, bagaimana pun Ia ingin memungut akal sehat dan pikiran jernihnya mereka semua benar-benar tak ada di sana. Satu-satunya hal yang Ia butuhkan hanyalah pergi. Di atas kuasa emosi, kekecewaan dan kemarahan dalam dirinya Ia ingin melarikan diri sekali lagi, benar-benar ingin.
Dengan meraih sisa-sisa kekuatan yang hanya sedikit lebih baik dari akal sehatnya, Ia menguatkan tumpuan akan dirinya, melepaskan pelukan hangat milik Kris.
"Biarkan aku pergi" namun tubuh Kris lebih dulu bersimpuh, memeluk satu kaki Suho memohon mengenyahkan harga diri.
"Tak habiskah seluruh dosaku padamu, Kim Junmyeon ?" Kris berujar diatas getaran halus nada bicaranya, mendongak, menatap wajah penuh keterkejutan atas sikapnya dengan tatapan begitu sendu, semakin mengeratkan rengkuhannya.
"Telah menyakitimu di masa lalu, menghancurkan hidupmu dan mengubur semua cinta di bawah puing-puing luka lalu menggantinya dengan ini semua, telah termaafkan kah seluruh dosaku padamu, Kim Junmyeon ?"
Ini bukan hanya sekedar obsesi belaka bagi Pria itu –Wu Yi Fan, Kim Junmyeon berkedudukan lebih tinggi dari sekedar obsesi picisan tak bermakna, wanita itu hidupnya. Tak peduli Tuhan telah mengganti wanita itu dengan wanita manapun, tak peduli sosok malaikat apa yang dititipkan dalam hidupnya, keberadaan Kim Junmyeon dalam hidupnya tak pernah bisa digantikan.
Bukan dia membenci kehadiran Zhang Yixing dan menjadikannya titik permasalahan atas kekacauan ini, bukan pula karena dia tak mencintai dan tak menginginkan kehadiran malaikat kecilnya Wu Suho. Ia sejujurnya tak pernah mengerti, mengapa semuanya terasa begitu tak cukup ketika sosok itu bukan Kim Junmyeon. Kenapa harus Kim Junmyeon.
Dan wanita di ciptakan bersama seluruh kebaikan hati, kebesaran jiwa, kelemahan bernama cinta dibumbui jutaan maaf beserta air mata –termasuk dirinya. Dengan membiarkan Kris menekuk lututnya lalu merengkuh pingganganya dan menyimpan wajah sendu di perut rata miliknya bersama deraian air mata, Kim Junmyeon tahu itu adalah awal kekalahannya, kalah untuk pergi –lagi.
"Appa dan Oemma pergi bersama seluruh kekecewaan atas dosaku padamu dan sesal mendalam untukmu .."
"Zhang Yixing pergi bersama seluruh luka juga rasa bersalahnya padamu .."
"Dan .. –dan Wu Suho .. dia bahkan pergi setelah berucap maaf karena tak bisa menjadi anak baik dan manis untukmu .."
"Anak kita, Aku bahkan tak pernah tahu dirinya pernah ada" Kris terisak parah, semakin membenamkan wajahnya di perut datar milik Suho, coba membungkam isakannya meskipun nyatanya tak berhasil.
Junmyeon sudah bilang bahwa akal sehat sedang tak berada bersamanya, berlama-lama terjebak dalam keadaan ini maka satu-satunya yang akan mengambil alih semua keputusan adalah hatinya, cintanya.
Kim Junmyeon ingin memenangkan cintanya di atas takdir ..
Satu cinta di atas seluruh takdir kejam ..
Kim Junmyeon ingin meraihnya, menggenggamnya, merengkuhnya dan memilikinya ..
Cintanya, Wu Yi Fan ..
"Kris, Aku– .."
"Bisa kita hentikan semua ini Kim Junmyeon ?"
Kris tak akan melepas wanitanya lagi kali ini, tidak dan tak akan pernah lagi. Karena membiarkan Suho pergi 6 tahun lalu, sama dengan mengantarnya ke gerbang penderitaan. Siksaan tiada henti .. Luka tanpa nanah .. Denyut tanpa lebam .. Tangis tanpa air mata ..
"Seluruh perjuanganmu yang begitu mengagumkan itu, bisa kau berhenti sampai di sini ?"
"Dan .. –dan tanggung semua rasa bersalah ini, bersamaku. Bisakah ?"
Dan memang seharusnya Chanyeol mengikuti pikirannnya, untuk melangkah pergi dan meninggalkan semuanya sedaritadi, bukannya terbuai oleh kata hatinya untuk tinggal dan menyaksikan semuanya benar-benar selesai.
Harusnya Ia benar-benar melakukan itu, harusnya .. seharusnya!
Hingga Ia tak perlu berbalik dan melangkah sembari menyeka air mata yang turun di sudut matanya, tepat setelah Ia menyaksikan tubuh Suho ikut luruh, merengkuh Pria putus asa itu begitu hangat, mendekapnya penuh cinta dan berakhir menyaksikan betapa lembut pertemuan bibir pria itu dengan wanitanya terekam begitu jelas bersama getaran menghancurkan dalam hatinya.
Kita telah sampai Kim, tak ada lagi jalan untuk kembali.
Ini kesempatanmu untuk bahagia, kau berhak untuk itu ..
Dan tugasku, telah selesai!
.
.
.
6 Month Later, Mid-Autumn
Sama sekali tak ada yang berubah dari apartment mewah ini tepat ketika Suho masuk kembali ke dalamnya. Semuanya masih sama persis seperti ketika Junmyeon meninggalkannya enam tahun lalu. Sama sekali tak ada perabot yang di ganti dan pindah dari posisinya, lukisan favorite-nya pun masih menempel di dinding yang sama.
"Nyonya Wu .. Aku sudah memindahkan semua barang kita ke kamar, apa ada lagi ?" pertanyaan bernada manis mengalun disusul sebuah lengan kekar menelusup diantara pinggan ramping milik Kim Junmyeon.
Seminggu lalu, semua kisah rumit di atas takdir kejam itu telah berakhir, tepat satu minggu yang lalu. Di Altar gereja yang sama, dengan gaun dan tuxedo yang sama, dengan pendeta yang sama, mereka mengikat kembali janji suci pernikahan dengan orang yang sama.
Yang berbeda kini hanya tersisa Kim Jongin sebagai saksi pernikahan mereka. Yang berbeda bahwa ada hati yang diam-diam terluka di sana –Park Chanyeol merajut senyum setulus mungkin. Dan yang paling berbeda kali ini mereka menikah atas dasar cinta, atas rasa ingin memiliki, mengasihi dan saling menjaga satu sama lain seumur hidup,.
Cinta yang telah terbangun di atas pondasi kuat nan kokoh, cinta yang telah selamat keluar dari pusaran badai, cinta yang nyatanya masih hidup di tengah keringnya gurun pasir dan tak sama sekali tenggelam terseret kerasnya gelombang.
.
"Lukisan favoritemu" Kris ingat "Kau masih menyukai lukisan itu kan ?" tanya Pria itu –Wu Yi Fan menunjuk lukisan di hadapan mereka yang terletak tepat di ruang keluarga, di dinding atas televisi layar datar dan jika kau duduk di sofa santai menikmati tayangan televisi, kau dapat melihatnya.
"Aku sengaja tak pernah melakukan apapun pada tempat ini selain meminta orang membersihkannya"
"Kenapa ?"
"Karena ini rumahmu, dan hanya kau yang berhak melakukan apapun"
"Terima Kasih" jemari tangan Junmyeon mengusap lembut punggung tangan Kris yang tengah memeluk pinggangnya erat "Berarti aku bisa mengganti lukisan itu kan ?" tanya Junmyeon ceria.
"Ganti ?" Yi Fan melepaskan pelukannya "Kenapa ? Apa ada lukisan lain yang lebih kau suka ?" Junmyeon mengangguk dua kali, tersenyum semangat "Dimana kau letakkan bingkai besar berbungkus kertas coklat tadi ?"
"Ahh dua bingkai besar itu ? Di sana" Yi Fan menunjuk dua bungkusan kertas coklat bersender rapi di samping pintu masuk. Tanpa aba-aba Kris dengan suka rela mengambilnya, membawanya ke hadapan Suho.
"Akan ku ganti dengan ini, tak apa kan ?"
Kris terkekeh "Kan sudah ku bilang kau pemilik tempat ini Sayang .." mengusap puncak kepala Junmyeon gemas. Setelahnya wanita itu bergegas menurunkan lukisan favoritenya dari dinding "Bisa tolong bantu aku memasangnya ?"
Namun anggukan dan gerak tangan Kris berhenti, senyumnya luntur tepat ketika kertas pembungkus berwarna coklat itu Ia robek dan menunjukkan lukisan baru apa yang telah menjadi lukisan favorite wanitanya.
Junmyeon tahu reaksi apa yang akan ditunjukkan Prianya "Aku menyukai lukisan itu, lebih dari apapun di dunia ini Sayang .." bisiknya lembut, menghadiahi kecupan manis di dahi Yi Fan "Masih mau membantuku memasangnya ?"
"Ya, tapi setelah kau berjanji .."
Dahi Junmyeon berkerut "Janji apa ?"
"Bersumpah kau tak akan pernah lagi menangisi ini"
Junmyeon terkekeh lucu "Mereka berdua adalah kebahagiaan, kebahagiaanmu juga kebahagiaanku Sayang .. Mengapa harus di tangisi ?"
"Malaikat kecil dengan senyum hangat itu, Aku mencintainya .. sama besar dengan cintaku padamu Sayang .."
"Juga wanita itu, aku bukan satu-satunya orang yang telah berkorban, dia bahkan berkorban hingga akhir demi aku, demi kau, demi kebahagiaan ini"
"Dan telah kuputuskan keduanya adalah lukisan favoriteku yang baru"
Foto mendiang Zhang Yixing dan Wu Suho.
Wu Yi Fan tak bisa untuk tak menangis, menahan isakan itu mati-matian tetap saja tak berguna. Pasalnya perasaan bersalah telah menyakiti wanita di hadapannya kembali menyeruak begitu menyesakkan.
Bahkan setelah semua yang telah Ia lakukan padanya, masih dengan senyum tulus dan hati yang begitu besar Junmyeon sanggup mengatakan bahwa kesalahan masa lalu itu adalah sebuah kebahagiaan, bagaimana bisa dosa itu Ia gumamkan begitu manis seolah kebejatan Yi Fan sama sekali tak pernah melukainya ?
Sampai titik mengagumkan seperti apa yang bisa wanita ini lampaui bersama seluruh kebaikan dan kebesaran hatinya ? Pantaskah Yi Fan mendapatkannya kembali ? Pantaskah Yi Fan memilikinya kembali setelah semua penderitaan melelahkan ini ?
"Hey, kenapa jadi kau yang menangis ?" Junmyeon mencebik, berujar dengan nada menyindir membuat rasa haru dalam diri Yi Fan hilang tak berbekas.
"Nyonya Wu, Ke sini kau" geram YiFan.
Selanjutnya yang terdengar adalah melodi merdu tawa keduanya, berlarian membelah lantai apartemen bersama teriakan nyaring keduanya menggema kekanakan ke se-isi ruangan, Junmyeon yang coba melarikan diri dari YiFan yang jahil menggelitiki pinggangnya dan menciumi seluruh bagian wajahnya.
"Jangan menjilatkuuuu .."
"YiFan jorookkkkk !"
Takdir telah membawa wanita manja dengan rajuk menggemaskan itu kembali, Wanita satu-satunya milik Wu Yi Fan, Kim Junmyeon-nya telah kembali ..
.
.
.
Aku, Wu Yi Fan bersumpah akan meletakkan seluruh kebahagiaan wanita di hadapanku ini, Kim Junmyeon di atas segala-galanya, di atas bumi dan langit ini, di atas dunia ini dan di atas nyawaku sendiri.
.
Dan Aku, Kim Junmyeon bersumpah jika rumah cintaku satu-satunya hanyalah Pria di hadapanku ini, Wu Yi Fan. Bahkan nanti ketika takdir mungkin akan kembali menjerat kami dalam nestapanya, Aku tak akan pernah pergi –lagi– dari rumahku.
.
.
.
-END-
.
.
.
"Sir, sekertaris baru anda telah datang"
"Biarkan dia masuk"
"Permisi"
"Y-ya ?"
"S-saya sekertaris anda y-yang baru"
Chanyeol mengerutkan dahinya "Korea ?"
"Ya!" wanita itu mengangguk kaku
Chanyeol meraih map di depannya, data diri wanita di hadapannya
"Byun Baekhyun"
"Salah satu lulusan terbaik Konkuk University"
"Jabatan terakhir Manager Marketing ?"
"Rekomendasi, WU YI FAN ?"
.
.
.
"Fan .."
"Eumm .."
"Faaannn .."
"Iya Sayang .."
"Kau akan menepati janjimu soal hadiah untuk Chanyeol kan ?"
"Tentu, dan dia tengah menikmatinya Sayang .. Jangan khawatir"
.
.
.
Joon suka yang menggantung, Kkkkk~
Kalo 'Proposal Skripsi' berjalan tampan, se-tampan wajah Kim Junmyeon.
Joon bakal ngasi sekuel ^^
.
Ohya, yang mau fangirling all about EXO, especially all about ,
boleh sapa Joon by PM loh~ Hihi ^^
.
.
.
HAPPY READING ^^
