TIGA "M"
By Itachannio
Vocaloid
Disclaimer: Yamaha, Crypton Future Media, and fans all over the world
Main Characters: Kaito Shion, Rin Kagamine, Miku Hatsune.
Other Characters: Find by yourself J
Author's Words:
Moshi-moshi, annyeonghaseyo, halo, hi Readers di mana pun anda berada!
Mohon bantuannya ya untuk para readers ataupun senior yang membaca fanfic ini. Dengan banyaknya saran dan kritik yang masuk pada kantung review, saya bisa mengetahui seberapa banyak kesalahan, juga seberapa besar peluang saya untuk memperbaikinya.
Terima kasih dan selamat membaca!
Enjoy
Chapter thirteen: Ikatan
Summary:
"Berandalan" adalah satu kata yang pas untuk mendeskripsikan sosok muda yang tampan dan jenius itu; Kaito Shion. Dia adalah sesosok anak laki-laki yang sangat kekanak-kanakan, sering bermalas-malasan, dan suka berkelahi hanya untuk kesenangan dirinya. Namun, keluarganya yang kaya membuat anak itu menjadi "Rock Star" di sekolah sehingga tidak ada yang berani mengganggunya. Hingga suatu hari, sesuatu mengubah garis kehidupannya.
Sejak Kagamine dan Hatsune memutuskan untuk bekerja sama dalam rangka menemukan Kaito yang mendadak hilang, mereka langsung melakukan pencarian secara intensif.
Pencarian pertama-tama dilakukan di lingkungan terbuka; seperti taman kota, pusat belanja, tempat wisata dengan tingkat pengunjung yang tinggi, dan masih banyak tempat lainnya. Setelah tak menemukan hasil yang memuaskan, mereka sepakat untuk mencari Kaito di tempat-tempat sepi atau kompleks perumahan yang memiliki gang dan jalanan kecil. Biasanya di sana sering terjadi kasus perkelahian antar siswa, dan mereka berspekulasi akan bisa menemukan Kaito di tempat seperti itu.
Namun setelah tiga hari mencari-cari dari satu tempat ke tempat lain–bahkan hampir seluruh kota sudah mereka jelajahi–mereka tidak juga mendapatkan satu petunjuk pun tentang keberadaan Kaito. Hal ini membuat semua orang semakin cemas.
Rin mendesah panjang sambil memandang keluar jendela. Sekarang sudah hari keempat setelah dua hari libur kemarin–plus hari Jumat bertepatan dengan hilangnya Kaito–mereka pakai untuk mengitari seluruh penjuru kota. Seharusnya mereka sudah mempunyai suatu petunjuk soal keberadaan Kaito, sekecil apa pun itu. Namun tak ada yang mereka dapat. Di mana pun mereka mencari, hasilnya selalu nihil.
Sekarang Rin merasa hampir putus asa. Duh, di saat-saat begini, mengapa dia masih harus ikut belajar sih? Lebih baik membolos saja sampai benar-benar menemukan Kaito.
"Kagamine-san!"
Merasa namanya dipanggil, Rin menoleh ke depan. Lebih tepatnya, ke arah guru yang daritadi sedang menjelaskan materi–plus yang Rin acuhkan semenjak awal kemunculannya di depan kelas. Nah, ini dia hal yang paling Rin benci kalau dia sedang banyak memikirkan masalah rumit, tapi masih saja harus mengikuti sesuatu yang bahkan membuat masalah jadi semakin rumit–pelajaran.
"Bisa jelaskan kembali apa yang baru saja saya jelaskan?" suruh sensei terkait. Rin melirik ke samping, tak sengaja melihat Mikuo yang sedang menggeleng-gelengkan kepala prihatin.
"Ck," Rin mendecak pelan, "Sensei, saya ijin ke UKS. Sedang tidak enak badan."
Semua murid yang ada di kelas langsung berbisik-bisik mengatai Rin ini dan itu. Tapi siapa peduli. Sekarang suasana hatinya memang sedang buruk, jadi tanpa perlu diijinkan si sensei, gadis itu segera melangkahkan kaki keluar kelas.
"Cho–! Kagamine-san!"
Ah, entahlah apa katanya. Paling-paling Rin hanya akan mendapat semacam 'kartu kuning' di pelajaran Geografi kali ini.
Rin menggeser pintu UKS dengan wajah lesu. Dia memutuskan untuk mengunjungi tempat ini dan menjadikannya area meditasi dalam rangka memikirkan langkah selanjutnya utuk menemukan Kaito.
Beruntung saat pintu dibuka, ruangan itu sedang kosong sehingga Rin bisa dengan bebas melakukan apa pun. Salah satu kasur bersprai putih yang ada di dalam langsung mengundang gadis itu untuk merebahkan diri. Ah, ini memang lebih baik daripada harus berada di kelas seperti tadi.
Cklek!
Rin langsung bangkit dari posisi tidurnya saat mendengar pintu kamar mandi dibuka. Ternyata dia tidak sendirian. Dari balik pintu, muncul seorang gadis dengan wajah yang sedikit familiar.
"Are? Kagamine-san?"
"Kimi wa..." Rin berusaha mengingat nama dari wajah tak asing di hadapannya itu; seorang gadis berambut hijau lumut dengan potongan pendek di atas bahu yang tingginya hampir sama dengan Rin sendiri.
"Gumi. Gumi Megpoid," ucap gadis yang ternyata adalah Gumi itu sambil berjalan mendekati Rin, "Kita sempat bertemu beberapa hari yang lalu. Kau tidak ingat, Kagamine-san?"
Rin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, "Oh, iya ya. Kau pernah datang ke kelasku. Em... maaf waktu itu aku langsung pergi."
Gumi menggeleng sambil tersenyum, "Aku tidak apa-apa. Sepertinya waktu itu Kagamine-san sedang ada keperluan penting ya?"
Rin hanya nyengir sedikit menanggapinya.
"Oh ya, apa Kagamine-san sedang tidak enak badan? Aku juga merasa tidak sehat dari pagi," ucap Gumi sambil mengusap-usap belakang kepalanya. Rin sedikit mengernyit begitu menyadari kalau seragam gadis itu hampir semuanya basah.
"Kenapa seragammu–"
"Tadi aku terpeleset di kamar mandi. Hehe..." Gumi memotong perkataan Rin sambil mengusap-usap roknya. Rin menatap gadis itu ragu. Dia yakin bukan itu alasannya. Apa pem-bully-an lagi?
"Oh ya, aku belum tahu di mana kelasmu," ucap Rin, mencoba mengalihkan diri dari pemikiran negatif yang sempat muncul di kepalanya.
"Aku kelas 1-B!" jawab Gumi antusias.
"Apa kau tinggal di sekitar sini?" tanya Rin. Gumi menggeleng sambil mendengungkan suaranya.
"Aku tinggal di Furuoka," jelasnya, "Jadi aku biasa naik kereta."
Rin mengangguk-angguk. Ternyata rumahnya lumayan jauh juga. Setahu Rin, Furuoka itu cukup jauh dengan Crypton. Kalau naik kereta biasanya perjalanan dari Furuoka ke Crypton membutuhkan waktu sekitar dua jam. Kenapa gadis itu tidak bersekolah di sana saja ya? Padahal Furuoka itu sebuah kota yang cukup keren meskipun tidak sepopuler Crypton.
"Ah iya, apa Kagamine-san pernah ke Furuoka?" tanya Gumi. Rin menggeleng.
"Katanya Furuoka itu punya taman bunga terluas ketiga setelah kota Metoro dan Venne. Apa itu benar?" Rin mulai tertarik dengan Gumi.
"Wah, ternyata Kagamine-san tahu banyak tentang Furuoka," senyum Gumi, "Ya. Taman bunganya indah sekali. Kalau Kagamine-san mau, aku bisa mengantarmu ke sana."
Rin tersenyum. Yah, sayang sekali sekarang bukan waktunya untuk memikirkan jalan-jalan ke taman bunga.
"Oh ya, tapi akhir-akhir ini kita harus hati-hati," lanjut Gumi. Rin mengerutkan alisnya heran.
"Di Furuoka berita tawuran antar siswa sedang marak, jadi sebaiknya kita tidak berjalan-jalan seorang diri. Bahkan berbagai media cetak pun sampai mem-posting beritanya," jelas Gumi.
Rin hanya ber-oh-ria sambil mengangguk-angguk karena tak tahu harus berkomentar apa. Yang pasti tawuran antar siswa itu sangat berbahaya.
"Jadi begitulah, sisanya kalian urus sendiri. Kalau sudah selesai, Furukawa-san, tugasnya harap dikumpulkan. Sekarang saya punya urusan penting sehingga tidak bisa menemani kalian sampai akhir. Harap maklum dan kerjakan tugasnya dengan baik ya," ucap Kiyoteru-sensei setelah memberikan sebuah penjelasan singkat mengenai materi pembelajaran hari ini.
Beliau langsung menyuruh para siswanya untuk mengerjakan sebuah latihan yang cukup banyak untuk menghabiskan jam pertama pelajaran Biologi.
"Lalu, Len-san dan Miku-san, harap ikut saya ke kantor," suruh Kiyoteru-sensei sambil menujuk Miku dan Len, lalu berjalan keluar kelas. Sementara yang lain mulai berbisik-bisik, Miku dan Len hanya saling lirik tanpa mengatakan apa pun.
"De," Kiyoteru-sensei menaikkan batang kacamatanya sambil duduk bertumpang kaki di depan Len dan Miku, "Kalian bintang utama kelas 1-C pasti tahu apa yang terjadi pada Kaito. Kuharap kalian punya jawaban bagus tentang kasus absennya si rocky merepotkan ini."
Kiyoteru-sensei kemudian memicingkan matanya menatap Miku, "Terutama kau, Miku-chan. Kau yang diserahi tugas untuk menjadi 'pengasuh' Kaito oleh Kepsek seharusnya tahu sesuatu 'kan? Masalahnya dia sudah dua hari tidak masuk. Kalian juga mencurigakan karena waktu hari Jum'at kemarin, kalian main kabur saja dari sekolah."
Miku melirik ekor matanya dengan alis berkerut selama beberapa lama seakan tengah memikirkan sesuatu, lalu menatap Kiyoteru-sensei dengan serius.
"Sebelumnya saya ingin menanyakan sesuatu, Sensei," ucap Miku, "Apa Sensei tahu banyak tentang keluarga Shion?"
"Cukup banyak," balas Kiyoteru-sensei, "Aku punya informasinya dari berbagai sumber."
"Apa hubungan Sensei dan Bossu-san...?" tanya Miku dengan nada curiga. Len menatap Miku dan Kiyoteru-sensei bergantian. Hoh...? Ternyata keluarga Shion juga melibatkan pihak lain diluar Kagamine dan Hatsune? Dia baru tahu.
"Kazuto Shion?" tanya Kiyoteru-sensei sambil mengangkat sebelah alisnya. Miku dan Len saling lirik sebentar.
"Sebenarnya dari awal Sensei sudah sangat mencurigakan," celetuk Miku, "Apa Bossu-san yang menyuruhmu bekerja di sini?"
Kiyoteru-sensei terkekeh singkat, "Sebenarnya aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan kalian berdua. Aku melakukan ini dengan sukarela."
"Sukarela?" tanya Miku dan Len sambil saling pandang heran. Kiyoteru-sensei tersenyum sambil bersandar pada kursinya.
"Jadi, mau dengar?"
Cerita bermula dari enam tahun silam.
Kiyoteru Himaya muda berjalan santai menuju ke sebuah dojo yang merupakan tempatnya tinggal selama beberapa tahun. Yah, sudah lama sejak terakhir kali melihat pemandangan lama itu. Sekarang bangunannya sudah terlihat sangat tua. Heran, kenapa tidak dicat saja ya?
"Mattaku..." Kiyoteru geleng-geleng kepala.
Ah, jadi ingat. Dia mulai meninggalkan di dojo ini setelah lulus SMP. Kalau sekarang dihitung-hitung, baru setahun yang lalu dia pergi dari rumah berhubung sekarang ini dia sudah beranjak ke kelas dua SMA. Karena beberapa alasan, dia bersekolah di luar negeri sehingga harus meninggalkan kampung halamannya seperti ini. Berhubung sedang libur semester, sebaiknya dia mempergunakan kesempatan itu untuk pulang.
"Cuma segini saja?!"
"Apa...?!"
"Ada apa dengan orang ini?!"
Kiyoteru berhenti mengamati bangunan yang masih dibatasi tembok lusuh itu. Dia mulai penasaran dengan apa yang terjadi di balik tembok saat mendengar suara berisik anak laki-laki. Berhubung suara-suara itu berada di dekat gerbang utama, Kiyoteru pun berjalan mengikuti pendengarannya menuju sumber suara. Hee... pasti itu murid-murid ayahnya sedang berlatih.
BRUAK!
"Eh...?"
Kiyoteru bengong sesaat ketika melihat seorang anak berbaju cokelat tua terbanting keluar gerbang. Beberapa detik kemudian, empat orang anak seumuran menyusul yang menyebabkan nasib naas bagi anak pertama karena badannya secara otomatis tertimbun tiga anak yang lain.
"HORA! Kau lagi ya?!"
Wah. Kali ini suara seorang Himaya tua terdengar menggelegar dari dalam. Rencananya Kiyoteru ingin menolong keempat anak malang yang terlempar keluar tadi, tapi karena anak-anak itu terlihat kaget dan buru-buru berdiri tegap, Kiyoteru memutuskan untuk menonton saja. Heh. Boleh juga. Bisa melempar empat anak orang yang kira-kira berumur 10 tahun sekaligus, apa dia manusia? Tidak mungkin masih seumuran dengan keempat anak muda di hadapannya ini.
"Kuso!"
Kiyoteru merasa heran begitu melihat seorang anak berumur 10 tahunan dengan tinggi dibawah rata-rata keluar dari gerbang sambil meleletkan lidahnya ke arah seseorang di dalam, lalu berlari ke arah yang berlawanan setelah memberi keempat anak yang lebih tinggi darinya itu sebuah "cih". Hee... ternyata dia. Boleh juga, pikir Kiyoteru.
"Ah, Himaya-san!" salah satu anak melihat kehadiran Kiyoteru.
"Waah! Sudah pulang ya?" tiba-tiba seorang kakek tua melongok daribalik gerbang, lalu melambaikan tangannya pada pemuda berambut cokelat itu.
"Yo!"
"Kenapa kau tidak memberitahu kami saat tiba di bandara? Kami 'kan bisa menjemputmu," sungut kakek tua berwajah hampir mirip dengan Kiyoteru. Orang-orang memanggilnya Komuro-san.
"Hahaha," Kiyoteru hanya tertawa, "Oh ya Oyaji, daripada itu aku ingin tahu siapa anak yang tadi?"
"Siapa? Kaito Shion?" tanya Komuro dengan nada setengah jengkel, "Dia itu anak aneh. Entah sudah berapa kali–yang pasti sering sekali–dia datang dan menantang murid-murid di sini berkelahi. Dari rumor yang kudengar, dia itu seorang anak berandalan dari keluarga Yakuza."
"Hmm... dia pasti selalu menang ya melawan murid-murid di sini?" tebak Kiyoteru yang memang tepat sasaran. Terlihat dari wajah Komuro yang bertambah masam. Kiyoteru tertawa kecil.
"Padahal selama ini kau sudah mendidik murid-muridmu dengan baik, tapi masih saja mereka kalah dengan anak nakal seperti dia."
"Urusai!" dengus Komuro.
Tiba-tiba seorang murid berlari ke arah Kiyoteru dan Komuro.
"Komuro-san! Ada yang datang mencarimu!" dia melapor. Komuro sempat melirik Kiyoteru yang hanya angkat bahu karena tidak tahu menahu soal apa-apa.
"Perkenalkan, saya Kazuto Shion," seorang pria paruh baya membungkuk dengan sopan setelah memperkenalkan diri di depan Komuro dan Kiyoteru.
Yah, sebenarnya Kiyoteru sempat protes karena dia dipaksa untuk mendampingi ayahnya di pertemuan mendadak itu. Padahal dia tidak tahu menahu masalah dojo atau apa pun yang ada sangkut pautnya dengan itu. Yang jelas, dia tidak mau berurusan dengan kekerasan. Tapi sekarang, pemuda itu sedang berhadapan dengan pimpinan Yakuza yang katanya paling ternama di kota Crypton. Peduli amat sih. Dia hanya ingin cepat-cepat pergi dari sana.
"Saya sering mendengar kalau Kaito suka mengunjungi tempat ini," ujar Kazuto Shion, memulai percakapan. Komuro hanya berdehem.
Kiyoteru sedikit mengangkat alis saat menyadari kalau ayahnya 'mungkin' sedikit merasa malu karena murid-murid yang berada di dojo Himaya selalu dikalahkan oleh anak si Yakuza Shion. Meski begitu, sepertinya orang bernama Kazuto tersebut tidak mengetahui hal ini. Sedikit banyak Kiyoteru ingin tertawa juga melihat sang ayah sesusah payah itu menyembunyikan rasa malunya.
"Sebenarnya saya ingin agar anda memperbolehkan anak itu belajar di sini. Yah, setidaknya biarkan dia terus datang kemari," ucap Kazuto sambil menyodorkan sebuah koper mencurigakan yang lumayan besar. Komuro pun menatap orang bernama Kazuto itu dengan pandangan dengan heran bercampur bingung.
"Oh, jadi sekarang kau mau melanjutkan ke universitas di luar negeri ya," ucap Kazuto. Kiyoteru hanya mengangguk-angguk saat Kazuto mengajaknya mengobrol di teras rumah. Ini aneh.
Sebenarnya ayah pemuda berkacamata tersebut sempat heran dengan apa yang dilakukan Kazuto. Tapi setelah melihat isi koper yang merupakan kesukaan setiap orang di dunia–yaitu uang–, pria tua itu tanpa pikir panjang langsung menyetujui permintaan Kazuto. Kiyoteru sih tidak bisa membantah kalau ayahnya sudah memutuskan sesuatu. Kalau dia membantah, bisa-bisa yang ada nanti ayahnya itu akan terus mengeluarkan ocehan panjang lebar siang dan malam tanpa henti selama tiga hari penuh. Sang ayah memang tipe orang yang selalu banyak bicara dan merepotkan.
Karena itulah sekarang Kazuto Shion bersikap seolah-olah sudah berteman akrab dengan Komuro sehingga dia bisa dengan bebas menganggap dojo Himaya itu seperti rumahnya sendiri. Kiyoteru kira orang bernama Kazuto ini merupakan seseorang yang mudah bergaul dengan orang lain. Dilihat dari cara bicaranya pun, dia terdengar sangat ramah.
"Hei, kalau boleh tahu, apa cita-citamu?" tanya Kazuto. Kiyoteru sedikit menimbang-nimbang sebelum menjawab.
"Menjadi guru sepertinya boleh juga," gumamnya. Kazuto-san tersenyum.
"Kenapa kau ingin jadi guru?"
"Yah, aku hanya ingin menjadi seseorang yang berguna dan dibutuhkan, kupikir," jawab Kiyoteru sambil mengedikkan bahu, "Lagipula ada banyak sekali hal yang harus diluruskan. Saat ini sudah banyak terjadi keributan antar sekolah lantaran masalah yang terjadi di antara para siswa mereka. Hal ini benar-benar tidak wajar. Aku ingin membuat semua orang bisa hidup dengan damai. Salah satu caranya adalah dengan mengajari para siswa itu lewat pendidikan."
"Kalau begitu, hubungi aku kalau kau sudah menjadi guru yang hebat," ujar Kazuto sambil tersenyum lebar, "Kau tahu Kaito? Anak yang katanya sering membuat keributan di sini?"
Kiyoteru terdiam sebentar, lalu mengangguk-angguk, "Aku baru diberitahu ayahku."
"Bagaimana dia menurutmu?" tanya Kazuto. Meskipun masih bingung kenapa tiba-tiba lawan bicaranya membahas itu, Kiyoteru tetap menjawab.
"Yah, dia hebat dalam ilmu bela diri, dan masih akan terus berkembang," kata pemuda berambut cokelat itu sedikit asal. Yah, dia tidak terlalu mengenal anak bernama Kaito sih. Melihatnya saja baru siang ini. Lagipula yang dia lihat tadi bukan yang lain, tapi hanya soal ilmu bela diri.
"Ternyata kau punya mata yang bagus," puji Kazuto sambil menepuk-nepuk punggung Kiyoteru, "Dulu dia itu anak yang baik, tapi sejak ibunya meninggal beberapa tahun yang lalu, dia jadi seperti ini."
Kiyoteru hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita teman ngobrol di sebelahnya. Sebenarnya dia bingung kenapa Kazuto mau menceritakan hal-hal 'sedekat' ini dengan orang yang baru saja dikenalnya. Orang ini benar-benar ramah.
"Dari dulu aku ingin ada seseorang yang benar-benar mempunyai keinginan murni untuk bisa membantunya, mendidiknya, dan mengajarinya segala hal yang baik," ucap Kazuto, "Kupikir orang sepertimu bisa melakukan ini. Kau punya motivasi yang murni untuk menjadi seorang guru."
Kiyoteru hanya tersenyum sedikit mendengar pujiannya. Tentang anak beliau yang bernama Kaito itu, sedikit banyak Kiyoteru juga sudah bisa menebak orang macam apa dia saat pertama kali bertemu. Bisa dibilang, Kaito Shion itu terlihat seperti calon 'sampah masyarakat' yang nantinya hanya akan dibuang dan ditinggalkan.
Kalau dipikirkan baik-baik, kasus seperti ini menarik sekali untuk diteliti seorang guru. Ah, seandainya dia bisa sedikit mempecepat waktu untuk menuntut ilmu, tentu dia sudah menjadi seorang guru elit yang dapat dengan mudah mengurusi hal-hal seperti ini.
"Hm..." Kiyoteru tersenyum, "Yah, kupikir aku bisa melakukannya."
"Kenalilah dulu Kaito," ujar Kazuto, "Kuharap nanti kau tidak menganggapnya terlalu merepotkan."
Kiyoteru hanya tertawa kecil.
Seperti yang dikatakan ayahnya beberapa waktu lalu, Kaito Shion memang merupakan seorang pembuat onar yang sangat merepotkan. Sejak anak itu semakin sering datang, dia membuat hampir sebagian murid bimbingan dojo Himaya absen di hari berikutnya akibat luka yang mereka derita setelah berlatih dengan anak berbahaya tersebut.
Keadaan sudah berbeda semenjak kedatangan keluarga Shion ke dojo dan memberikan semacam uang kompensasi untuk 'kehadiran Kaito dalam kelas'. Sebenarnya anak bernama Kaito ini tidak pernah menyatakan diri untuk menjadi seseorang yang terdaftar sebagai murid di dojo Himaya. Dia tidak setiap hari berada di dojo. Bahkan anak tersebut muncul pada saat-saat tertentu saja. Itu pun hanya untuk menantang murid-murid yang lain berkelahi. Hanya saja, sang ayah pemuda berkacamata ini membuat Kaito seolah-olah menjadi 'murid transparan' dan bisa hadir kapan saja karena dia sudah dibiayai dengan anggaran yang bisa dibilang pas.
Kalau boleh jujur, keadaan ini benar-benar tidak etis. Pasalnya, jumlah murid yang hadir di dojo setiap hari berkurang karena ulah Kaito. Anak itu memang jadi semakin sering muncul, dan alasan yang paling mungkin adalah karena pihak Himaya telah 'menyambut' kehadirannya dengan membiarkan anak tersebut merajarela menekan murid-murid seperguruan yang lain.
Setelah memperhatikan Kaito dalam waktu singkat ini, Kiyoteru langsung teringat dengan perkataan Kazuto tempo hari.
Kuharap nanti kau tidak menganggapnya terlalu merepotkan.
Heh. Menarik. Meskipun belum melakukan kontak apa-apa dengan anak bernama Kaito itu, Kiyoteru jadi merasa tertantang. Dia ingin segera menyelesaikan studinya dan datang kembali ke kota ini untuk berhadapan dengan anak nakal tersebut. Pasti akan ada banyak anak merepotkan seperti Kaito di suatu tempat, dan dia akan mengubah mereka. Lihat saja tanggal mainnya.
Dua tahun masa SMA berakhir, tiga tahun masa kuliah pun selesai dengan cepat.
Karena memiliki otak yang lumayan cemerlang, Kiyoteru bisa dengan cepat menyelesaikan kuliahnya dan selangkah lebih maju dari yang lain. Saat ini Kiyoteru Himaya sudah menjadi sesosok manusia sempurna dengan predikat lulusan terbaik di universitas tempatnya ini menuntut ilmu. Di sana, dia mendapatkan tawaran pekerjaan dengan sangat mudah semudah membalikkan telapak tangan.
Suatu hari, Kiyoteru memutuskan untuk pulang ke negaranya dan bekerja di sebuah sekolahan mewah dan memulai status baru sebagai seorang pendidik tingkat elit. Namun hal itu tak bertahan lama. Hari demi hari Kiyoteru terus dihadapkan pada sebuah situasi di mana dia harus menjadikan segalanya 'sempurna'; saat itu dia diangkat menjadi seorang kepala sekolah dalam usia yang masih sangat muda, yaitu 20 tahun.
Selama masa jabatannya, Kiyoteru tidak bisa melangkah lebih jauh jika ada sesuatu yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Semua orang harus mengikuti aturan yang dia buat untuk membuat sekolah maju dan mencetak anak-anak yang terpelajar. Saran yang tak mendukung pendapatnya dia tolak dengan tegas. Protes dari para guru dia abaikan. Suara rakyat dia tutup rapat-rapat. Dia terlalu terobsesi untuk membuat dunia pendidikan yang sempurna dengan caranya sendiri.
Sejak saat itu, Kiyoteru mulai disegani, atau bahkan ditakuti. Karena selain sikapnya yang sangat tegas, dia juga terkenal mahir bela diri. Semua orang mengetahui hal ini karena mereka pernah suatu kali melihat Kiyoteru marah. Dia merusak sebuah meja kayu dengan tangan kosong saat tengah mengadakan sebuah rapat penting untuk membahas keadaan sekolah yang kualitasnya semakin menurun akibat stress yang diderita pihak guru dan murid–karena aturan-aturan ketat sepihak yang dibuat sang kepala sekolah. Kiyoteru merasa tidak setuju dengan suara para guru yang mengajukan keringanan jadwal mengajar.
Keadaan sekolah semakin memburuk saat satu demi satu siswa dikabarkan mentransfer diri ke sekolah lain. Sebagian guru juga mengajukan surat pengunduran diri. Hanya sedikit guru yang mau bertahan di sekolah. Hal ini membingungkan Kiyoteru sampai kemudian salah seorang guru yang sudah tua dan lama mengabdi di sekolah itu dengan berani mengkritik sang kepala sekolah yang tak lama kemudian membuatnya terbaring di rumah sakit.
Banyak guru yang menyalahkan Kiyoteru karena saat itu dia langsung membentak-bentak tanpa tahu kondisi sebenarnya dari guru yang malang ini, sehingga saat itu juga si pak tua ambruk tak sadarkan diri di hadapan Kiyoteru. Rupanya dia memiliki penyakit jantung.
Tak lama kemudian, guru tersebut meninggal dunia; hal yang tak pernah diduga Kiyoteru akan terjadi sedemikian cepat. Setelah peristiwa itu, Kiyoteru memutuskan untuk mengajukan surat pengunduran diri dan berhenti menjadi kepala sekolah.
Mulai dari kejatuhannya di sini, Kiyoteru bertekad untuk berubah. Dia harus memulai semuanya lagi dari awal. Lagipula sekarang dia sudah mengatahui letak kekeliruannya. Karena itulah, kali ini dia tidak boleh jatuh ke lubang yang sama.
.
.
.
Dasar.
Nampaknya nasib baik sedang memusuhi Kiyoteru sehingga setiap lamaran pekerjaan yang dia ajukan satu per satu bernasib sama; ditolak. Semuanya. Semangat yang semula membara mulai redup perlahan-lahan. Yah. Pada akhirnya semangat itu pudar hampir selama satu tahun.
Tiba-tiba seolah menghargai kerja kerasnya selama ini, nasib mempertemukan Kiyoteru dengan Kazuto Shion secara kebetulan. Pemuda berkacamata itu langsung teringat dengan Kazuto Shion yang pernah meminta dia untuk menjadi semacam guru bagi anaknya, Kaito Shion. Dia juga ingat dengan motivasinya yang dulu sempat terkubur untuk membuat perubahan pada diri anak-anak semacam Kaito.
Saat itu, dia melihat Kazuto bersama para pengawalnya sedang berada di sebuah cafe. Kiyoteru yang kebetulan sedang ada di dalam menyapa Kazuto yang langsung mengenali wajahnya.
Setelah itu Kazuto mengajak Kiyoteru untuk pergi ke rumah. Di sana mereka mengobrol panjang lebar. Kiyoteru mengeluarkan semua keluh-kesah yang dia rasakan pada Kazuto, tentang apa pun; tentang bagaimana sulitnya dia menjadi seseorang yang dicap terlalu perfeksionis sehingga bahkan tidak ada satu sekolah pun yang mau menerima lamaran yang dia ajukan, atau pun tentang keadaannya yang sudah menganggur selama hampir satu tahun.
Kiyoteru seakan mendapat sebuah harapan saat Kazuto mengatakan kalau beliau ingin dia menjadi guru pembimbing Kaito. Orang tua itu menceritakan bagaimana sikap dan perilaku Kaito yang semakin hari semakin tidak terkontrol, dan dia membutuhkan seseorang yang tepat untuk bisa mengurusnya dengan benar. Dia bilang jika Kiyoteru orangnya, maka pasti berhasil. Kiyoteru pun sedikit banyak bersyukur dengan kehadiran Kaito dan Kazuto yang merupakan kunci untuk sebuah kehidupan baru setelah lama bergelut dalam masa-masa pahit.
Kazuto kemudian membawa Kiyoteru ke Voca High School yang ternyata dulu pernah menjadi sasaran Kiyoteru melamar menjadi guru–hasilnya saat itu dia ditolak. Kemudian Kazuto memperkenalkan Kiyoteru secara langsung pada kepala sekolah dan mengutarakan permintaannya untuk menjadikan pemuda berkacamata ini sebagai seorang guru di Voca High.
Awalnya pihak sekolah berniat menolak, namun mengingat yang meminta merupakan Kazuto Shion, seseorang yang sudah berjasa banyak soal administrasi sekolah, plus beliau bilang kalau hanya Kiyoteru yang mampu menangani si biang onar di sekolah–yaitu Kaito–, akhirnya sensei berkaca mata itu diterima.
Yang harus dilakukannya pertama kali adalah menjadi penanggung jawab–guru wali–Kaito Shion. Dia juga harus bisa mendidik anak itu dengan baik dan mencegahnya berkelakuan kasar karena semua penghuni sekolah sudah tahu siapa dan bagaimana itu Kaito Shion secara kasar.
Setelah menyanggupi syarat-syarat yang diajukan, Kiyoteru pun diperbolehkan untuk mulai bekerja. Kazuto kemudian memberi Kiyoteru beberapa informasi mengenai seseorang yang juga sengaja dia selipkan di Voca High untuk menjadi 'penjaga' Kaito di sekolah bernama Miku Hatsune. Sebagai sentuhan terakhir, Kazuto memberinya beberapa data mengenai Kaito dan Miku untuk mempermudah pekerjaan barunya.
"Begitulah," Kiyoteru-sensei menutup ceritanya sambil menaikkan batang kacamata yang merosot sedikit.
"Hm... jadi begitu ya," gumam Miku, "Aku tidak menyangka kalau Sensei ternyata sudah mengenal Bossu-san sejak lama. Lagipula, Sensei..."
Kiyoteru mengangkat kedua alisnya saat melihat air muka Miku yang tiba-tiba berubah.
"Kurasa bukan sukarela namanya kalau kau sendiri yang meminta dipekerjakan Bossu-san," katanya setengah mengejek, "Tak kusangka Sensei sampai merengek meminta Bossu-san memperkerjakan Sensei."
"Ap–?!" Kiyoteru-sensei langsung berurat, "Apanya yang merengek?! Aku hanya menceritakan masalahku pada Kazuto-san, dan beliau bersedia membantuku! Begitu saja kok!"
"Ooh, begitu ya?" Miku geleng-geleng kepala menyebalkan di depan Kiyoteru-sensei yang jadi sedikit terbakar, "Jadi meminta untuk dipekerjakan itu namanya sukarela? Bukannya memaksa ya?"
"Hahaha, kau pandai bercanda juga rupanya, Hatsune-san..." guru berkacamata itu mulai terlihat menyeramkan.
"Mi-Miku-chan..." Len merasa tidak enak pada Kiyoteru-sensei selaku pihak yang diolok-olok. Bukan apa-apa, masalahnya ini murid yang mengolok-olok. Ternyata gadis Hatsune itu memiliki kepribadian yang lumayan merepotkan juga.
"Tch, sudahlah! Pokoknya kuberitahu ya, aku juga tahu soal keluarga Hatsune dan Kagamine yang sedang bekerja sama dengan Shion," dengus Kiyoteru-sensei, "Jadi pada dasarnya kita semua sedang bekerja pada Kazuto-san. Dan karena itulah, aku ingin kita berada dalam satu tim."
"Oh, apa Anda punya rencana, Sensei?" tanya Len. Kiyoteru-sensei menutup matanya sambil menyilangkan tangan di dada.
"Untuk saat ini, belum," akunya, "Tapi menurut informasi yang kudapat, Kaito tidak ada di Crypton."
"Eh?!" Miku dan Len berseru kaget.
Untunglah sekarang para guru sedang mengajar di kelas sehingga tidak ada yang mendengar ribut-ribut di tempat ketiga manusia itu berkumpul saat ini–ruang guru.
"Tapi Sensei," sela Miku, "Kalau Sensei sudah tahu Kaito tidak ada di kota ini, kenapa malah bertanya pada kami?"
"Hanya untuk memastikan sudah sejauh mana kalian maju," seringai Kiyoteru-sensei, "Ternyata, aku ini memang lebih hebat dari kalian."
Miku hanya garuk-garuk kepala, sedangkan Len mengangguk-angguk dengan wajah merenung.
"Tapi, apa Sensei benar-benar sudah mengecek keberadaan Kaito? Misalnya di dojo Himaya?" tanya Len.
"Kupikir tidak akan ada gunanya dia pergi ke sana," jawab sensei berkacamata itu, "Lagipula dia tidak punya kenalan sama sekali. Aku juga ragu kalau ayahku masih mengingat wajah anak itu untuk menampungnya."
Len mengangguk-angguk. Memang benar, tapi satu-satunya tempat yang paling masuk akal untuk didatangi Kaito yang sedang labil tentu saja 'arena' berkelahi bukan? Mungkin saja anak itu menyembunyikan diri di sekitar sana. Lagipula letak dojo Himaya juga tidak terlalu jauh dari taman kota.
"Seberapa bagus pelacakan Sensei?" tanya Len.
"Kau mempertanyakan hal itu?" Kiyoteru-sensei tertawa mistis, "Ya sudah, kalau memang kalian mau memastikan, pergi saja ke sana."
Miku menatap Len dan Kiyoteru-sensei bergantian. Jadi di mana Kaito itu sebenarnya? Si sensei bilang tidak mungkin kalau dia ada di kota, tapi menyuruh Len memastikan untuk pergi. Jadi?
"Sensei, apa kami boleh pergi sebentar?" tanya Len.
"Eh?" Miku bingung.
Kiyoteru-sensei menyeringai, "Beberapa menit saja ya."
.
.
.
Len dan Miku melangkah di sebuah jalanan tak beraspal yang mengarah ke hutan. Mereka berhasil sampai ke sana berkat peta singkat yang dibuat Kiyoteru-sensei sebelum pergi menyelinap keluar dari sekolah.
"Rupanya ada juga tempat beraroma pedesaan di kota ini. Aku baru tahu," ucap Len sambil melihat-lihat sekeliling. Miku hanya mendengungkan suaranya sambil terus berjalan menatap tanah.
"Are, Miku-chan? Ada apa?" tanya Len, menyadari sikap Miku yang mendadak jadi pendiam. Gadis itu hanya garuk-garuk kepala, lalu sedikit menengadah untuk menatap langit.
"Aku hanya bingung bagaimana harus bereaksi kalau bertemu dengan Kaito," desahnya. Len menyeringai jahil.
"Iya juga ya, mengingat orang yang meninggalkannya tiba-tiba datang mencarinya," cengir si shota tanpa dosa. Miku langsung cemberut.
"Tenang saja. Belum tentu dia ada di sana kok," lanjut Len, "Tapi kita memang butuh kepastian kalau Kaito tidak ada di Crypton seperti perkiraan Kiyoteru-sensei."
Miku mengangguk ragu. Yah, tapi mudah-mudahan saja perkiraan Sensei salah, doanya dalam hati. Masalahnya kalau Kaito tidak ada di kota ini, itu berarti akan lebih sulit lagi mencari jejak. Pasti juga akan memakan waktu lebih lama untuk sekadar bisa mendapatkan informasi tentang letak kota yang ditempati oleh makhluk biru tersebut.
Ngomong-ngomong, Miku benar-benar takut dan gugup setelah Len menunjuk-nunjuk sebuah bangunan tua yang merupakan dojo Himaya. Bagaimana kalau ternyata doanya terkabul? Bagaimana kalau Kaito ada di sana? Apa yang harus dia katakan? Apa yang mesti dia lakukan?
"Tu-tunggu, Len!" Miku mencekal pergelangan tangan Len sebelum anak itu sukses menekan bel di gerbang cokelat dojo.
"A-apa tidak apa-apa kalau aku menunggu di sini saja?" rengek Miku dengan wajah memelas yang menjadikan Len tidak mungkin bisa menolaknya.
"Ya ampun Miku-chan," Len mengusap wajahnya sendiri, "Ya sudah. Tunggu di sini, aku juga sepertinya tidak akan lama."
Miku hanya mengangguk mengiyakan.
Setelah Len pergi, gadis itu diam-diam berdoa dalam hati agar perkiraan Kiyoteru-sensei tentang Kaito yang tidak ada di sana memang benar. Aku ini bagaimana sih, baru saja beberapa detik yang lalu ingin agar perkiraan Sensei benar! Tapi mau bagaimana lagi? Rutuk batin Miku.
Gadis itu tahu ini salah, namun dia benar-benar belum siap untuk bertatap wajah dengan Kaito. Tentu saja. Dia tiba-tiba menghilang dan mungkin membuat Kaito kebingungan. Apalagi saat itu ceritanya Kaito sedang tinggal bersama Miku. Saat tiba-tiba dia menghilang, Kaito yang tidak punya tempat kembali pasti tidak tahu ke mana harus pergi. Ah, memikirkan ini saja sudah membuat Miku cukup merasa bersalah. Tapi di saat yang bersamaan tumbuh perasaan ge-er memalukan yang entah dari mana datangnya. Yang pasti, gara-gara masalah ini Miku jadi berpikiran kalau mungkin Kaito punya sedikit perasaan padanya.
"Uwaaah..." Miku langsung memegangi wajahnya yang memerah.
Gawat. Hal ini sungguh tidak benar. Dia tidak boleh kegirangan seorang diri. Di lain tempat masih ada Rin. Mungkin gadis itu juga merasakan hal yang sama. Benar juga. Kalau Miku merasa punya secercah harapan dari Kaito, maka Rin pun pasti mendapatkan hal serupa.
Oh iya, ngomong-ngomong soal Rin... Miku jadi teringat dengan perdebatan gadis itu dan Kaito beberapa waktu lalu. Saat itu kalau tidak salah, Rin membahas sesuatu tentang kematian ibunya Kaito, lalu dia bersikap aneh pada Miku. Tatapan matanya itu benar-benar mencurigakan; seolah-olah berkata agar Miku menghilang saja dari dunia ini. Yah, itu sih hanya anggapan Miku, dan dia juga tidak ingin berpikir demikian. Tapi...
"Miku-chan."
Suara Len membuat Miku kaget. Gadis itu menoleh ke arah Len yang kini sudah berdiri di sampingnya. Wajahnya kelihatan tidak puas. Sekali lihat saja Miku langsung tahu kalau Kaito memang tidak berada di sana. Mendadak dadanya terasa lega. Ya ampun, harusnya dia panik sekarang.
"Ayo pergi," ajak Len, "Ternyata Kiyoteru-sensei memang benar. Kaito tidak datang kemari."
Miku mengangguk, lalu berjalan mengikuti Len. Sekarang gadis itu jadi penasaran apa anak lelaki di sampingnya ini mengetahui sesuatu seperti Rin yang mengetahui banyak tentang kematian ibu Kaito.
"Ano... Len," panggil Miku. Len menoleh sambil menaikkan kedua alisnya.
"Apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Miku.
"Tanya saja," jawab Len.
"Apa kau pernah dengar sesuatu soal kematian ibunya Kaito?"
Len langsung menatap Miku dengan heran. Miku garuk-garuk kepala. Sudah kuduga, pertanyaan ini terlalu aneh untuk Len, batinnya. Tapi dia benar-benar penasaran. Mengingat reaksi Len yang seperti tidak tahu apa-apa, mungkin saja Rin tidak memberitahu anak itu.
"Kenapa kau menanyakannya?" Len balik bertanya. Miku langsung menggeleng cepat sambil tersenyum.
"Tidak, tidak, kupikir kau tahu," sahutnya, "Maaf ya sudah bertanya yang aneh-aneh. Hehe..."
Len terdiam sebentar sambil memperhatikan Miku, lalu mendesah pelan. Ini pasti ulah Rin. Mungkin dia mengetahui sesuatu yang tidak diketahui Miku? Dan Miku berpikir kalau Rin akan berbagi cerita dengannya. Kalau tidak begitu, mana mungkin Miku mau menanyakan ini pada Len. Dia memang tidak tahu apa-apa soal Kaito selain dari informasi umum yang Rin berikan padanya. Hmm... kalau begini sih, Len jadi penasaran.
Kematian ibu Kaito ya...? Aneh kalau Rin tidak memberitahunya jika gadis itu tahu sesuatu.
"Oh ya Miku-chan, hubungi Mikuo-san dan bilang apa yang dikatakan Kiyoteru-sensei. Sekarang kita kembali ke sekolah," kata Len, sekalian mengalihkan arah pembicaraan. Miku pun mengangguk.
"Oke!"
"Oi."
Rin menutup pintu loker setelah mengambil sepatunya, lalu menoleh saat merasa dipanggil orang.
"Kenapa kau bolos seharian ini?" tanya Mikuo dengan sebelah alis terangkat, "Kuharap kau tidak jadi gila hanya karena putus semangat. Ini baru empat hari."
"Apa maksudmu 'baru'? Bukankah ini sudah terlalu lama?!" dumel Rin. Dia lalu memakai sepatunya dengan cepat, "Ayo cepat. Kita harus segera mencari Kaito!"
"Hei, sebaiknya kau beristirahat sebentar! Mengesalkan sekali," dumel Mikuo, "Miku bilang dia dapat informasi kalau Kaito tidak ada di Crypton. Jadi kuminta kau tenanglah sedikit."
Rin mengerjap kaget, "Apa?"
"Dasar tuli!" sungut Mikuo sambil berjalan mendahului Rin keluar bangunan sekolah. Rin langsung membuntutinya.
"Kenapa Miku bisa tahu?" tanya gadis itu. Mikuo mengedikkan bahu.
"Shiruka," jawabnya cuek, "Pokoknya setelah tahu masalah ini, untuk sekarang kita bisa libur dulu. Besok kita akan membicarakannya lagi."
Rin hanya terdiam sambil terus berjalan di belakang Mikuo saat tiba-tiba sesuatu menarik perhatiannya dari kejauhan.
"Hei, kau pulang dulun saja!" ucap Rin, lalu pergi meninggalkan Mikuo.
Makhluk berambut hijau itu hanya terbingung-bingung saat melihat si gadis berlari menjauh begitu saja. Yah, sudahlah. Membiarkannya seperti itu lebih baik daripada harus melihat dia stress sepanjang waktu.
"Miku-chan! Jadi, ada apa?" Yukari langsung mengambil tempat pertama di depan meja Miku tepat saat gadis itu hendak beranjak dari kelas.
"Kau dan Len punya masalah?" tanya Megumi yang muncul di balik punggung Yukari.
"Kalian ketahuan pacaran atau apa? Selama jam pelajaran pertama tadi, kalian pasti benar-benar diceramahi!" kali ini SeeU yang bersuara. Dia geleng-geleng kepala, "Ya ampun, memangnya apa sih yang kalian lakukan sampai dipanggil begitu? Apa Len melakukan sesuatu yang buruk padamu? Ekstrim misalnya–"
"Stop! Stop! Stop!" Miku menyela dengan getas. Aduh, untung orang yang dibicarakan sudah keluar duluan. Gawat kalau anak itu mendengar perkataan aneh teman-temannya.
"Dengar ya," kata Miku, "Pertama, aku dan Len itu tidak punya hubungan apa-apa. Kedua, Kiyoteru-sensei hanya ingin menanyakan tentang Kaito yang sudah dua kali absen di kelas!"
"Ketiga, Miku-chan itu hanya suka Kaito. Jadi tidak mungkin dia mau melakukan hal-hal yang aneh–seperti pacaran–dengan Len," tukas Yukari sambil nyengir kuda ke arah Miku, "Iya 'kan?"
"Na–?!" wajah Miku langsung memerah. Gadis itu sangat terlihat ingin menyanggah, tapi anehnya dia tak mampu. Teman-teman si gadis hanya cekikikkan menyadari hal itu.
"De, kenapa hari ini dia juga tidak masuk?" tanya Yukari. Miku tidak menjawab dan hanya melirik ekor matanya.
"Daripada itu Miku-chan, kudengar Kiyoteru-sensei mempercayakan Kaito padamu," ucap SeeU, "Kalian dijodohkan ya?"
Miku melotot hebat, "Apa? Siapa yang bilang begitu?!"
"Yah, pantas saja sih," kata Megumi sambil duduk di bangku Kaito yang kosong, "Soalnya yang mau bicara dengan dia di sini hanya Miku-chan saja 'kan? Kalau tidak ditambah Kiyoteru-sensei dan Len."
"Jadi benar kalian dijodohkan? Bagaimana ceritanya, Miku-chan? Kau tidak takut pada Kaito?" tanya SeeU antusias.
Miku bingung menjawab. Dijodohkan...? Kalau tidak salah itu perkataan Kiyoteru-sensei saat dia membuat sebuah taruhan konyol dengan Kaito. Kenapa bisa menyebar, ke tukang gosip pula?!
"Tuh 'kan benar mereka dijodohkan!" seru Megumi, seenaknya, "Pantas saja Kiyoteru-sensei menanyakan soal Kaito pada Miku-chan."
"Ke Len juga kok," tambah Yukari.
"Mungkin karena dari semua anak cowok, hanya dia yang mau bicara dengan Kaito," sela Megumi, "Jadi secara tidak langsung, Sensei menganggap mereka berteman 'kan?"
Miku hanya garuk-garuk kepala mendengar ocehan teman-temannya. Duh, sama sekali tidak membantu. Entah mengapa hari ini dia lelah sekali. Len juga langsung pulang setelah bel berbunyi. Anak itu bilang untuk sekarang mereka berempat–Rin, Mikuo, Len dan juga Miku sendiri–bisa beristirahat sebentar karena Kiyoteru-sensei mengatakan beliau akan membantu dengan memulai pencarian Kaito esok hari.
"Hei, aku mau pulang ya," kata Miku yang daritadi hanya diam mendengarkan obrolan teman-temannya.
"Pulang? Wah, tunggu dulu! Kalau dipikir-pikir ini pertama kalinya kita kumpul berempat dengan Miku-chan sepulang sekolah!" seru Yukari bersemangat, "Bagaimana kalau hari ini kita main dulu? Ke rumah Miku-chan?"
"Eeeeh?" Miku langsung merasa keberatan.
"Setuju! Kita pasti tidak akan punya kesempatan untuk main ke rumah Miku kalau Kaito sudah kembali!" tukas SeeU.
"Ayo pergi!" Megumi langsung menarik lengan Miku keluar kelas, diikuti Yukari dan SeeU yang tertawa-tawa geli melihat tampang super mengerikan yang dipasang Miku sekarang.
BRUK!
Gumi merasa punggungnya didorong dengan sangat keras sampai dia terjatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, terdengar suara tawa dua tiga orang gadis.
"Besok aku pinjam sepatu ya," kata salah seorang gadis ponytail berambut merah panjang sambil berjongkok di depan si gadis malang yang hanya bisa terdiam seribu bahasa, "Sepatu pestaku sudah rusak sementara aku harus menghadiri pesta ulangtahun pacarku besok malam. Jadi, kuharap kau mau membawanya besok."
"Kalau aku..." teman si rambut merah yang penampilannya paling rapi di antara mereka mengeringai lebar, "Karena mama-ku besok sepertinya tidak akan ada di rumah, jadi aku minta tolong untuk membawakan satu bentou buatku ya."
Gumi hanya terdiam sambil menunduk. Kali ini giliran orang ketiga. Entah sudah berapa kali hal ini terjadi padanya. Mereka semua selalu melakukan itu, mereka memerasnya. Sebenarnya Gumi pernah melawan, tapi ketiga gadis itu yang dikenal Gumi bernama Cul, Yufu, dan Lily, selalu melakukan kekerasan. Mereka menampar dan memukul Gumi tanpa ampun. Karena itulah, gadis malang ini tidak bisa menolak permintaan mereka.
"Benar-benar tidak tahu malu."
Tiba-tiba terdengar dua buah suara berkalimat sama dari arah yang berbeda. Sekarang Gumi dan ketiga gadis pembuli itu sedang berada di belakang gedung olahraga, dan dua suara itu berasal dari arah kiri dan kanan gedung seolah-olah mengepung mereka.
"Apa? Kau lagi?!" Cul, gadis pertama yang berbicara pada Gumi, merasa kaget begitu melihat kedatangan seorang gadis pirang–yang mungkin pernah ditemuinya beberapa waktu lalu–berikut sebuah tongkat baseball plus bolanya yang sedang berada di tangan gadis tersebut. Tongkat baseball itu tergenggam dengan manis, tapi sang bola melompat-lompat di tangannya yang lain.
"Siapa itu? Hei, kau! Mau main baseball di sini?"
Ketiga gadis pembuli itu langsung menoleh ke asal suara kedua yang merupakan suara seorang anak lelaki. Lelaki itu terlihat menarik dengan seragam basket biru yang sedang dia pakai. Ah, tentu saja di tangannya bola basket ikut andil sehingga menjadikan anak tersebut benar-benar terlihat seperti atlit basket sekolah.
"A-apa-apaan ini...?" Cul, Yufu dan Lily nampak sedikit ketakutan dengan kedatangan orang-orang itu, sementara Gumi hanya bisa memasang wajah kaget karena melihat Rin bersama seseorang yang tak dikenalnya datang di saat-saat seperti ini.
"Hah? Kau juga, mau main basket di sini?" seru Rin. Orang di seberang hanya tertawa sambil menepuk-nepuk bolanya.
"Saa, aku mulai duluan!" tanpa ba-bi-bu lagi, Rin segera melempar bola tinggi-tinggi, dan di saat yang tepat–
Bang!
Cul terbelalak kaget. Tadi... dia pikir dia akan mati saat bola dengan kecepatan tinggi itu melewati telinganya dengan angin yang sangat kencang. Tadi itu... tadi itu si gadis baseball tidak main-main.
"Cu-Cul...?" Yufu dan Lily ikut kaget karena bolanya juga sempat melewati wajah mereka. Tadi itu benar-benar nyaris.
"Hee..." Rin menyeringai lebar yang langsung membuat Cul dan kawan-kawan spontan menggigil di tempat, "Maaf ya aku meleset. Lain kali akan kupastikan tepat sasaran."
Anak lelaki dengan seragam basket yang berada di seberang Rin bersiul panjang begitu melihat permainan bagus si gadis pirang.
"Kau keren!" pujinya.
"Sorea doomo," balas Rin dengan bangga.
Sedetik kemudian, ketiga gadis pembuli itu langsung lari terbirit-birit sambil menjerit tak jelas lalu hilang dari pandangan. Rin tertawa kecil melihat ketidakberdayaan mereka. Baguslah, dengan ini mereka tidak akan bisa menganggu Gumi lagi.
"Gumi-san, kau tidak apa-apa?" Rin buru-buru mendekati Gumi yang belum mengeluarkan sepatah kata pun dari tadi, "Gumi -san?"
"Ya ampun, rencananya aku mau pamer soal basket pada mereka, tapi ternyata aku tak punya kesempatan," anak lelaki berseragam basket itu berjalan mendekati Rin dan Gumi, lalu menatap Gumi yang sepertinya masih kebingungan dengan peristiwa beruntun barusan, "Ngomong-ngomong, namamu Gumi ya?"
Anak itu memperhatikan Gumi sebentar, "Whoa, kalau dilihat-lihat kau mirip sekali denganku!"
Rin menatap Gumi dan orang itu bergantian. Hei, itu benar! Wajah mereka hampir mirip, hanya saja panjang rambutnya saja yang membedakan. Tiba-tiba Rin merasa bodoh karena baru menyadarinya. Mereka itu seperti dirinya dan Len; dengan kata lain, kembar. Tapi yang ini aneh sekali. Mereka tidak saling kenal. Jadi, mereka ini saudara jauh atau apa?
"Namaku Gumiya, namanya Gumi," atlit basket itu memperkenalkan diri dan menunjuk Gumi, lalu menatap Rin, "Namamu?"
Rin sedikit banyak merasa heran dengan anak lelaki di hadapannya itu. Sepertinya dia memiliki kepribadian yang hangat dan menyenangkan, juga bisa langsung bersikap akrab seperti ini. Rin sendiri bingung, dia sempat terbawa-bawa suasana sebelum mempertontonkan pertunjukan baseball tadi dengan bersikap seolah-olah mereka sudah saling kenal. Apa itu juga disebabkan aura orang bernama Gumiya ini ya?
"Aku Rin Kagamine," ucap Rin, lalu berdehem karena merasa sedikit kikuk saat berkenalan dengan seseorang yang baru seperti Gumiya, "Kalau begitu, ayo Gumi-san. Kau bisa berdiri?"
"U-un..." gumam Gumi sambil berusaha bangkit saat Rin membantunya berdiri.
"Hei, kenapa wajahmu?" tiba-tiba Gumiya menangkap dagu Gumi dan menariknya mendekat, lalu mengamati wajah pias tiba-tiba si gadis, "Mereka memukulmu ya?"
"Ti-tidak," balas Gumi sambil memalingkan wajahnya, "Kalau begitu, terimakasih sudah membantuku, Kagamine-san, a-ano... Gu-Gumiya-san!"
Rin dan Gumiya keheranan saat Gumi langsung berlari menjauhi mereka berdua.
"Sepertinya dia belum terbiasa jika ada orang yang membantu," komentar Gumiya.
Rin yang tidak tahu harus berkomentar apa diam saja. Dia juga bingung apa sekarang dia harus pergi atau bagaimana.
"Apa kau ikut klub baseball?" tanya Gumiya.
"Ah, tidak, tidak, aku hanya kebetulan saja melihat peralatan baseball saat sedang berjalan kemari, kupikir itu akan berguna," jawab Rin.
"Ooh..." Gumiya mengangguk-angguk, "Kau tahu ya kalau gadis itu sering di-bully?"
"Eh? Aaa, sebenarnya tidak," jawab Rin sambil garuk-garuk kepala, "Tadi aku tidak sengaja melihatnya dibawa kemari, jadi sekalian saja kuikuti."
"Kau punya hati yang baik ya. Kalau begitu sampai ketemu lagi ya, Rin-chan! Sayonara!" kata Gumiya sebelum melambaikan tangannya dan pergi dari sana. Rin hanya bengong di tempat. Baru kali ini ada orang baru yang langsung memanggilnya begitu.
"Rin-chan...?"
"Heee... jadi ini rumahmu, Miku-chan?"
Yukari, SeeU dan Megumi dengan asyik berlari-lari di sekitar ruang tamu-dapur-ruang TV seperti anak kecil sedang mencari-cari harta karun. Miku sih hanya bisa selonjoran di atas sofa untuk melepas lelah karena di perjalanan dia terus-terusan diganggu ketiga bocah pencari harta karun tersebut.
"Miku-chan bisa main gitar?" suara Yukari terdengar jauh. Mungkin sekarang dia sedang berada di kamar Miku.
"Heee... keren!" seru Megumi yang juga sepertinya sedang berada di dalam kamar.
"Waa! Ada jaket siapa ini?!" kali ini suara SeeU.
Ya ampun. Mereka benar-benar kurang kerjaan. Masa' menggeledah kamar orang seenaknya? Mana sekarang ini Miku sedang ingin tidur-tidurnya lagi. Eh, ngomong-ngomong soal jaket...
"HAAAAH...?!"
Suara SeeU, Megumi dan Yukari langsung membuat Miku terjatuh dari sofa. Kenapa mereka sepertinya terkejut begitu?! Ampun, jangan bilang–!
Miku segera berlari ke dalam kamar dan langsung cengo melihat SeeU, Megumi dan Yukari sedang memandangnya dengan mata melotot lebar dan mulut ternganga. Miku pun tak punya pilihan lain selain menepuk jidatnya sendiri.
"Miku-chan..."
"I-ini tidak seperti yang kalian pikirkan kok! Sungguh!" Miku mencoba menganggah sesuatu yang sebenarnya masih belum meyakinkan untuk diberi penyanggahan. Sedangkan Megumi, SeeU dan Yukari masih saja menatap Miku tanpa berkedip.
"Lagipula ini sudah lama sekali! Sudah lama! Sekarang sudah tidak lagi! Serius!" tambah Miku.
Dia ketahuan! Padahal dia sama sekali tidak berniat untuk mengingat secuil pun soal rahasia ini. Gawatnya, Yukari, Megumi dan SeeU malah membongkar rahasia itu.
Miku masih ingat saat dia menerima sebuah amplop dan bingkisan dari Bossu. Saat membuka amplop, di dalamnya ada sejumlah uang, plus secarik kertas berisi pesan untuk Miku. Isi surat tersebut kurang lebih menyatakan kalau uang yang ada dalam amplop tersebut adalah untuk Kaito, dan Miku harus menjaga si pemilik uang dengan baik dan membuatnya terbiasa "hidup berdampingan" dengan Miku di sana–di apartemen. Lalu ada satu hal kurang penting yang mengharuskan Miku untuk memberikan sebuah bingkisan pada Kaito. Di akhir surat, tercantum nama pengirimnya–Kazuto Shion–sehingga jelaslah sudah kalau surat itu memang berasal dari keluarga Kaito yang secara resmi ditujukan untuk Miku. Nah, benda itu yang sekarang sedang dipegang-pegang ketiga teman gadis negi tersebut. Dan ini kacau sekali.
Miku benar-benar bodoh sudah menggantungkan jaket Kaito–yang sudah lama dia pinjam dan belum sempat dikembalikan–di dinding. Sudah begitu, gadis ini sama sekali tidak ingat kalau rupanya surat dari Bossu dia simpan dalam saku jaket. Rasanya kurang kerjaan sekali menyimpan benda tak penting seperti itu di sana. Lebih kurang kerjaan lagi 'memajang' jaket Kaito di dalam kamar untuk bisa dipandangi setiap hari–yang merupakan salah satu aktivitas Miku akhir-akhir ini, kira-kira semenjak kepergian Kaito. Gyaaah! Memalukan!
"Mi-Miku-chan... kau..." Yukari mendekati Miku, lalu meremas kedua pundak gadis hijau itu sambil melotot, "Hebat sekali bisa tahan tinggal satu atap dengan seorang kriminal!"
"Eh...?" Miku langsung berkedip heran. Apa? Apa katanya? Hebat?
"Ya ampun, kami tidak menyangka Miku-chan bisa tahan tinggal satu rumah dengan berandalan seperti dia," kata SeeU sambil geleng-geleng kepala, mengekspresikan ke-tidak-habis-pikir-annya atas kejadian ini.
"Memangnya sudah berapa hari kalian tinggal bersama? Kau benar-benar berani Miku-chan," ujar Megumi. Wajahnya kelihatan biasa-biasa saja.
Miku pun merasa ada yang tidak beres di sini. Meski begitu, dia tidak bisa bicara apa-apa saat Yukari, SeeU dan Megumi memutuskan untuk memujinya atas sesuatu yang tidak pasti semacam 'keberanian' atau 'kehebatan'. Apa mereka benar-benar tidak bertanya-tanya soal kejadian ini?
Bisa sangat berbahaya kalau berita tidak normal semacam itu menyebar ke publik. Apa yang akan dilakukan pihak sekolah jika mereka mengetahuinya? Mengeluarkan Miku mungkin merupakan satu-satunya jawaban yang paling masuk akal. Kaito sih mungkin tidak akan sampai mengalami kejadian seperti itu mengingat kedudukan keluarganya yang sudah berjasa banyak untuk sekolah. Lalu kalau Miku sampai dikeluarkan, keadaan bisa jadi lebih rumit dan kompleks dari yang sudah-sudah.
"Te-teman-teman, aku..." Miku mengusap-usap lengannya kikuk.
Dia agak takut kalau-kalau teman-temannya tidak mau tutup mulut soal kejadian aneh ini. Yang Miku khawatirkan adalah, mereka itu biang gosip. Pasti mudah 'kan untuk menyebarkan kejadian ini di sekolah? Bagaimana kalau mereka keceplosan misalnya?
"Jangan khawatir, Miku-chan!" SeeU mengacungkan jempolnya di depan wajah Miku sambil nyengir lebar seakan bisa membaca kebingungan yang sedang melanda gadis itu, "Kami tidak akan mengatakan yang aneh-aneh!"
"Ya, ya!" timpal Megumi sambil merangkul bahu Miku, "Paling-paling berita ini hanya akan menjadi trending topic yang dimuat di mading sekolah besok pagi."
"HAAAH?!" Miku langsung panik, "Kalian jangan main-main!"
SeeU dan Megumi tertawa melihat ekspresi Miku yang kacau. Sedangkan Yukari terlihat sibuk memainkan ponselnya sambil mengacung-acungkan surat dari Bossu. Tunggu, apa yang dia lakukan?
"Yukari, kau sedang apa?" tanya Miku, was-was.
"Tenang saja, blitz kameraku tidak aktif, jadi kata-katanya bisa terbaca dengan jelas," cengir Yukari sambil menunjukkan layar ponselnya yang berisikan foto isi surat Bossu.
"Gyaaaaaah! Hapus foto itu!" Miku langsung berteriak histeris sambil mengejar Yukari yang refleks berlari menjauhi Miku sambil tertawa-tawa mengerikan.
SeeU dan Megumi ikut-ikutan tertawa melihat Yukari susah payah menghadapi kejaran Miku yang lumayan cepat. Mereka berdua langsung saling tatap dan mengangguk bersamaan, lalu berlari ke arah Miku yang sekarang sedang berusaha mengambil ponsel Yukari setelah berhasil menjatuhkannya ke lantai.
"Se-no!"
BRUGH!
"Aduh! Ada apa dengan kalian?! Beraaaat...!"
Yukari langsung mengeluh saat merasakan berkilo-kilo tumpukan daging menimpa punggungnya. Kalau dihitung-hitung, berat badan SeeU itu sekitar 43 kilogram, Megumi 43 kilogram, dan Miku kira-kira 42 kilogram. Lengkap sudah 128 kilogram daging manusia menimpa badannya yang mungil.
"Kalian! Ayolah, jangan main-main!" omel Miku, "Kalian tidak akan mengatakan yang aneh-aneh 'kan?! Tidak 'kan?!"
"Semuanya ada di bawah kendali! Tak usah khawatir, Miku-chan!" kata SeeU sambil mengedipkan sebelah matanya pada Miku.
"Hei, berhentilah mengkhawatirkan itu! Sekarang nyawaku lebih penting tahu!" protes Yukari yang masih belum lepas dari beban 128 kilogram di atas punggungnya. SeeU dan Megumi yang memang sedang berada di atas punggung Miku dan Yukari hanya tertawa-tawa lepas.
"Ya ampun, kalian masih belum membuatku merasa tenang," desah Miku yang sepertinya pasrah saja saat Megumi dan SeeU malah tertawa-tawa tanpa dosa.
Gumi berjalan cepat dari stasiun kereta. Langit sudah semakin gelap saat dia tiba di jalan raya yang akan mengantar gadis itu ke rumahnya. Ah... hari ini benar-benar penuh dengan hal tak terduga. Setelah tadi pagi bajunya basah akibat air kolam–atau lebih tepatnya lagi, dia dipaksa menceburkan diri ke kolam renang hanya untuk mengambilkan sebuah tas milik Cul yang tak sengaja terlempar saat sedang bermain-main di sekitar kolam sana–, lagi-lagi dia harus kembali ditolong orang. Dia ini memang merepotkan.
Sebenarnya orang yang pertamakali menolong Gumi dari pembulian itu adalah Rin. Paling tidak, hanya gadis itulah yang berani menunjukkan pembelaan terhadapnya sekali pun mereka tidak saling kenal. Atau apakah karena mereka tidak saling kenal, sehingga Rin mau membelanya? Ah, tentu tidak. Pertemuan mereka pun terjadi secara kebetulan.
Saat itu seperti biasa, Cul dan kedua temannya sedang asyik menjahili Gumi dengan memaksa gadis itu untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Kejadian menyedihkan ini berlangsung di belakang gedung sekolah saat jam istirahat. Entah apa yang membuat Rin muncul, tapi gadis itu langsung bereaksi saat melihat dirinya di-bully. Saat itulah pertamakali Gumi merasa sangat bersyukur telah dipertemukan dengan seseorang.
Selama ini Gumi selalu sendirian. Semenjak SD, dia tidak pandai bergaul ataupun mengobrol. Yang bisa dia lakukan hanyalah berdiam diri tanpa berusaha untuk menonjol di dalam kelas, tapi walau bagaimana pun kemampuan otak si gadis yang berada di atas rata-rata menjadikannya dikenal orang banyak. Dan karena dikenal orang banyak itulah, akhirnya dia merasakan penderitaan.
Orang-orang itu tak tahu berterima kasih. Mereka selalu mengambil keuntungan dari apa yang Gumi lakukan. Mereka bersikap seenaknya dan menyuruh-nyuruh gadis malang itu mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan sendiri. Mereka bilang, inilah gunanya teman. Kami mengandalkanmu. Hal-hal itu terus berlanjut dan tak pernah berakhir. Akhirnya Gumi meninggalkan mereka semua dan memulai hidup sendiri, mencoba mengabaikan beberapa orang yang tetap ingin memanfaatkannya sampai gadis itu berakhir dalam kesendirian hingga menginjak usia SMP.
Di SMP ini, Gumi ingin memulai kehidupan barunya sebagai seorang 'siswi normal yang disukai banyak orang'. Gumi mulai membaca beberapa buku untuk melancarkan komunikasi, berhias dan menjadi anak yang sering tersenyum. Selama beberapa bulan, kehidupan barunya itu berhasil terlaksana, hingga semakin hari, jumlah teman perempuannya berkurang dan berganti dengan teman laki-laki.
Gumi yang dipandang cantik dan pintar pun akhirnya dijauhi anak-anak perempuan, karena itulah si gadis mulai menjauhi anak laki-laki. Setelah berhasil menjauhkan diri dari kaum adam, ternyata tak satu pun orang yang mau menjadi temannya lagi. Itulah nasib yang sudah merekat padanya semenjak dahulu kala; bahwa mungkin dia diciptakan hanya untuk sendirian. Bahkan di rumah pun, dia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia hanya tinggal bersama beberapa pengasuh yang setia semenjak dia kecil.
Kehidupan itu kejam. Selama masa SMP-nya Gumi tumbuh tanpa ditemani siapa pun. Bahkan saat si gadis berpikir ada yang berbaik hati mau mengajaknya bicara, orang-orang itu berakhir dengan memerasnya; mereka meminta Gumi melakukan ini dan itu, membelikan itu dan ini, pinjam ini, pinjam itu, dan sebagainya.
Sejak saat itu, jika Gumi tidak memenuhi permintaan mereka, dia akan ancam dan disakiti. Tak pernah ada seorang pun yang mau membantu atau pun bersikap sedikit simpatik padanya. Seperti itulah kehidupan sang gadis.
Tidak ada seorang pun yang berharga untuk dijadikan teman. Itu yang Gumi pikirkan, setidaknya sampai Rin muncul bak seorang pahlawan dalam hidupnya. Yah, gadis pirang itu sudah memberinya sedikit harapan untuk bisa memulai kembali rasa percaya pada seseorang. Itu adalah pertama kali di mana ada orang yang mau membelanya secara terang-terangan. Dan lagi... Rin melakukannya dua kali. Tentu saja hal ini membuatnya senang sampai-sampai tak bisa berkata-kata.
Saat itu sebenarnya Gumi benar-benar kaget dengan kedatangan Rin. Dia tidak menyangka kalau Rin akan repot-repot menolongnya lagi. Dia bingung bereaksi, ditambah lagi tadi ada orang asing yang juga ikut membantu dan membuat Gumi senang bukan main.
BRUK!
Tiba-tiba Gumi menabrak seseorang karena kurang fokus pada jalan yang sedang dilaluinya. Akh, gawat. Dia terlalu memikirkan kejadian tadi sore. Rupanya gadis itu secara tidak sadar sedang berjalan di belakang sekumpulan geng anak sekolah yang mungkin sama sekali tidak menyadari keberadaannya. Kenapa harus di saat-saat seperti ini?
Gumi langsung teringat dengan berita yang sedang marak di berbagai media; tentang tawuran antar anak sekolah. Apa gerombolan ini juga...
"Heh, sebaiknya kau melihat ke arah mana kau berjalan!" ucap orang yang ditabrak Gumi dengan nada terganggu, tapi saat menoleh dan melihat siapa pelaku yang menabrak, orang itu tiba-tiba saja menyeringai, "Eeh? Ternyata cewek cantik. Mau kemana? Mau pulang ya?"
Gumi langsung mundur beberapa langkah. Benar-benar gawat. Di sekitar sini jarang ada orang yang lewat. Lagipula, jalan raya sudah tertinggal jauh di belakangnya. Tak disangka gerombolan seperti mereka bisa berkumpul di jalanan sempit seperti ini.
"Hei, hei, bagaimana kalau kita mengantar nona ini sebentar? Kasihan 'kan, kalau dia pulang sendirian. Sudah gelap begini," orang itu malah mengerling ke arah teman-temannya.
"Iya, iya! Ayo kami antar, bahaya lho kalau jalan-jalan sendirian!"
"Mau kami antar tidak? Kalau tidak, ikut saja dengan kami! Hahahaha!"
Tentu saja Gumi ketakutan mendengar omongan mereka. Saat berencana untuk mengambil langkah seribu, tiba-tiba terdengar seseorang mendengus di belakangnya.
"Dasar pecundang..." orang itu menggumam yang bisa didengar Gumi dengan jelas. Walaupun tak menoleh, Gumi tahu kalau orang tersebut sedang berdiri tiga langkah di belakangnya. Yang pasti, sekarang ini si gadis merasa kalau orang itu adalah musuh dari gerombolan di depan sana.
"Hah? Apa kau bilang, brengsek?! Tak usah ik–"
"KUBILANG DASAR PECUNDANG!"
Deg!
Gumi langsung bergidig di tempat. Em... sepertinya orang-orang di depan si gadis juga mengalami hal yang serupa. Suara itu... benar-benar keras dan menyeramkan. Seolah-olah sesuatu sudah sengaja dipasang dalam suara tersebut agar dapat mengintimidasi orang yang mendengarnya. Spontan Gumi menggigil meskipun tidak melihat wajah orang yang jelas-jelas berbahaya itu di belakangnya. Berlari pun dia tak bisa.
"A-apa-apaan kau...?" si berandalan terlihat sedikit mengkeret.
Gumi merasa aura sekeliling berubah saat si pemilik suara keras tadi berdiri di sampingnya. Benar-benar mencekam. Bahkan Gumi merasa tak bisa bergerak sedikit pun.
"Kalau berani, jangan dengan makhluk rendahan begini, dasar sampah!" dengus orang itu sambil mengangkat sebelah tangan. Entah apa yang dilakukannya, tapi hal yang paling mungkin adalah menunjuk Gumi.
"A-apa katamu?!" urat orang-orang di depannya langsung mencuat.
"Heh, minggir!"
Merasa diperintah, Gumi memaksakan diri untuk melangkah mundur sedikit demi sedikit sambil berusaha sebisa mungkin agar tidak bertatapan dengan orang menyeramkan di sampingnya itu. Tapi entah apa yang membuat Gumi tak sengaja melihat wajah orang tersebut. Sesaat Gumi hanya bisa melongo. Wajahnya...
"Che! Apa ini? Ternyata hanya seorang bocah karatan yang sudah babak belur? Hahahaha! Kau pikir apa yang–"
BUAAAKH!
Gumi terbelalak saat melihat gerakan tiba-tiba orang itu. Dengan sekali hentak, dia bergerak secepat angin dan memukul dengan keras lawan di depannya yang langsung jatuh terlentang. Sepertinya anak itu jago berkelahi, tapi kondisinya sekarang benar-benar terlihat buruk. Apalagi kalau harus berhadapan dengan orang yang kira-kira berjumlah belasan seperti ini.
"Brengsek...! Semuanya, serang dia! Dia hanya sendiri!"
"Uwooo...!"
Gumi tak sanggup melihat apa yang selanjutnya terjadi. Dia segera berlari sejauh mungkin dari gerombolan beringas itu dan kembali ke jalan raya untuk mencari pertolongan.
Saat bertemu dengan seorang polisi, Gumi melaporkan kejadian yang dialaminya. Setelah itu para polisi berdatangan ke tempat yang dikatakan Gumi, dan mereka terkejut setelah melihat para siswa yang tumbang di tengah jalan. Hal ini bahkan lebih mengejutkan untuk si gadis karena dia tidak menemukan orang penuh luka yang tadi sempat menolongnya itu di antara mereka yang tumbang.
Jangan-jangan dia sendiri yang melakukan semua ini? Tidak, tidak mungkin. Kondisinya saja tadi sedang sangat buruk. Kalau boleh dibilang, orang yang tadi itu seperti baru dipukuli petinju profesional. Wajahnya penuh dengan luka memar dan bengkak, lalu ada banyak luka basah yang sepertinya tidak diurus dengan baik. Pasti orang itu sudah berkelahi dengan banyak orang siang ini.
Gumi benar-benar penasaran. Orang itu seharusnya masih ada di sekitar sini. Jika dia sudah benar-benar menghilang, ini absurd namanya. Baru saja beberapa menit yang lalu dia tinggal, dan orang misterius itu sudah bisa menghajar habis semua anak berandalan tadi. Gumi yakin lukanya pasti bertambah parah. Dia harus cepat-cepat menemukannya!
Yukari dan kawan-kawan berjalan pulang dari apartemen Miku yang jaraknya sudah mencapai 48 langkah di belakang mereka. Mereka sibuk mendiskusikan sesuatu di sepanjang perjalanan.
"Kalian juga pasti berpikir ada yang aneh 'kan?" tanya Yukari, "Ini masalah serius!"
"Tidak usah terlalu dipikirkan Yukari-chan," kata SeeU, "Justru ini hal yang jarang sekali terjadi. Malah bagus 'kan? Sudah lama aku tidak melihat drama 'seorang gadis manis jatuh cinta pada seorang anak nakal' begitu."
"Tapi serius," sela Megumi, "Kupikir Miku-chan dekat dengan Kaito hanya di sekolah saja. Tak kusangka dia sudah berhubungan baik dengan keluarga anak itu. Sampai menitipkannya pada Miku-chan segala 'kan?"
"Kalau begitu, berita perjodohan itu benar dong?" tanya SeeU.
"Tunggu kawan-kawan," sela Yukari, "Sepertinya kita kelupaan sesuatu."
SeeU dan Megumi saling pandang, "Apa?"
"Hari ini Kaito tidak masuk sekolah, dan Miku-chan sepertinya tidak tahu kemana dia pergi," jelas Yukari, "Kalian tidak ingat saat di sekolah kita menanyainya soal Kaito? Dia sama sekali tidak menjawab."
SeeU menyimpan sebelah tangan di dagunya sambil mengangguk-angguk, "Kau benar. Hei, jangan-jangan mereka sedang bertengkar?"
"Kaito dan Miku-chan bertengkar? Bukannya itu hal yang biasa terjadi ya?" celetuk Megumi. Yukari dan SeeU mendecak berbarengan sambil memandang remeh Megumi. Pihak tertatap hanya garuk-garuk kepala kurang mengerti.
"Ini masalahnya lain," ucap Yukari, "Kalian tahu tidak sih, Miku-chan mulai berubah saat Kaito tidak ada."
"Iya, iya," SeeU mengangguk setuju, "Kemarin saja Kiyoteru-sensei sampai melempar penghapus bor ke wajahnya."
Megumi merenung, "Benar juga. Tapi apa Kaito tidak masuk sekolah hanya gara-gara sedang ribut dengan Miku-chan?"
"Belum tentu, tapi cukup masuk akal," balas Yukari, "Hubungan mereka dekat sekali 'kan? Aduh, aku jadi ingin melakukan sesuatu."
"Eits! Sebaiknya tidak usah melakukan apa-apa, Yukari-chan. Aku tidak akan sanggup membantu kalau kau sampai kenapa-napa," cegah SeeU.
"Iya. Kau tahu kalau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan Kaito itu selalu berbahaya!" peringat Megumi. Yukari mendesah mendengar omongan teman-temannya.
"Benar juga sih, tapi apa kalian tidak khawatir soal sesuatu?"
Megumi dan SeeU saling pandang heran, "Memangnya kenapa?"
"Ya ampun, kalian sadar tidak kalau Len itu menunjukkan tanda-tanda 'suka' pada Miku?" tanya Yukari, "Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi!"
"Lho? Kenapa?" tanya Megumi dan SeeU.
"Ya ampun! Memangnya siapa yang kalian dukung? Kaito atau Len?" Yukari balik bertanya sedikit kesal.
"Tentu saja..." Megumi dan SeeU menyimpan telunjuk mereka di bibir sambil berpikir. Lalu keduanya nyengir lebar, "Len!"
"Kalian..." Yukari menunjuk kedua temannya dengan kesal, "Saiaku!"
Miku menjerit pelan sambil berguling-guling di atas tempat tidurnya. Ya ampun! Miku masih belum menerima kalau teman-temannya itu mengetahui rahasia sebesar ini tentang dia dan Kaito. Kalau tentang dirinya sendiri sih tidak masalah, tapi ini menyangkut Kaito. KAITO. Miku tidak tahu apa yang akan terjadi padanya kalau sampai Kaito tahu ada orang yang tak sengaja membongkar rahasia mereka. Apa Miku akan mati? Ah, ya. Semua orang pasti mati. Tapi bukan itu masalahnya! Argh!
Sekarang sudah tidak ada yang bisa dilakukan Miku selain berharap kalau ketiga temannya itu memang dapat dipercaya. Dia tidak bisa terus-terusan memikirkan ini. Masalah hilangnya Kaito harus lebih penting. Meskipun sekarang bisa beristirahat, bukan berarti dia boleh bersantai-santai mengurusi hal yang lain.
Yah, kalau dipikir-pikir Miku jarang ada di rumah semenjak tiga hari yang lalu, jadi rasanya aneh kalau harus berdiam diri seperti sekarang. Dan kalau berdiam diri seperti ini, Miku tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain memikirkan Kaito. Dan saat mengingat anak itu, Miku juga langsung teringat Rin. Akhir-akhir ini hubungan mereka sedikit renggang. Bicara pun seadanya saja. Beruntung mereka masih bisa melakukan komunikasi. Apa Rin masih marah soal Kaito yang tinggal di apartemennya ya?
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Miku ketahui soal Kaito dan Rin. Dia ingat benar saat Mikuo pernah bilang kalau Kaito kabur dari rumah setelah mengetahui Rin tidak ada. Memang ada pendapat lain yang menyatakan kalau dirinya juga ikut terlibat menjadi tersangka penyebab kepergian Kaito, namun tetap saja gadis itu menganggap Rin-lah pelaku utama dalam kasus ini.
Kalau dilihat-lihat dari segi pelaku, sepertinya Rin memang merupakan salah satu kelemahan Kaito. Mungkin kehilangan Rin membuat Kaito kesal dan marah sehingga dia memutuskan untuk pergi saja dari tempat yang membuatnya terus mengingat sang gadis.
Miku menghembuskan napas panjang. Aaah... hidup ini curang. Hanya dengan spekulasi sepihak saja, hati bisa terasa begitu sakit. Dilihat dari sisi mana pun, yang tadi itu tak lebih dari sekedar isi kepala. Dan gadis itu percaya dengan mudah sehingga dadanya terasa sesak sekali.
Rin Kagamine. Gadis itu benar-benar berbahaya. Selain berada paling dekat dengan Kaito, dia juga sepertinya mengetahui lebih banyak hal tentang Kaito dibanding Miku. Itulah satu-satunya hal yang sangat ingin Miku kuak segera.
Apa hal yang tidak diketahuinya tapi diketahui Rin? Sesuatu tentang kematian ibu Kaito. Ampun deh. Miku benar-benar penasaran! Semoga saja suatu hari nanti dia bisa mengetahui kebenaran akan hal ini.
Rin menghempaskan diri di atas tempat tidur. Akhirnya dia bisa pulang dan berisirahat. Hari ini cukup melelahkan. Selain hampir merasa putus asa dalam proses pencarian Kaito, gadis itu juga berpikir kalau dia sudah menambah jumlah musuh dengan hal yang terjadi tadi siang; membela Gumi dari pem-bully-an. Yah, tentu saja secara otomatis para pem-bully itu akan mencapnya sebagai seorang musuh. Ck, sudahlah. Lagipula bukan itu yang seharusnya dipikirkan sekarang.
Yang penting itu adalah Kaito, Kaito, dan Kaito. Ah... orang itu benar-benar menyebalkan. Mau ada, mau tidak, tetap saja bikin repot! Sudah empat hari, tapi Rin sama sekali belum menemukan petunjuk apa-apa tentang keberadaan Kaito. Bossu juga sebentar lagi akan pulang. Bagaimana cara mengatakan masalah pelik ini padanya? Kuyashii.
Rin pun berjalan keluar dari kamar, lalu menatap pintu kamar Kaito. Setelah celingak-celinguk sedikit, gadis itu membuka pintu, lalu masuk ke dalamnya. Ya ampun... dia benar-benar merindukan pemilik kamar ini.
Si gadis melangkahkan kakinya dan menjatuhkan diri di atas tempat tidur Kaito. Memikirkan ulang apa yang sudah terjadi di antara mereka membuat perasaannya didera gundah. Ada banyak hal yang sudah mereka lalui bersama. Banyak sekali. Dan meskipun sudah banyak, mengapa dia bisa pergi semudah itu? Seperti tidak pernah ada sesuatu pun yang terjadi di antara mereka.
Bukankah seharusnya mereka memiliki suatu hubungan? Paling tidak, teman–meskipun Rin sendiri tidak ingin mengakui sebatas itu saja. Ikatan seperti ini tidak akan hancur dengan mudah. Kaito tidak boleh sembarangan memutusnya. Ah, dada jadi terasa sesak.
Walaupun Len bilang kalau mungkin penyebab kepergiannya adalah karena Rin sendiri–dan tentu saja Miku–, hipotesis hanyalah hipotesis; belum dapat dibuktikan kebenarannya. Kalau dilihat dari sisi kepribadian, Kaito bukan orang yang akan melakukan hal semerepotkan ini–meninggalkan rumah sendiri demi meninggalkan orang-orang yang juga meninggalkannya. Masalah memang selalu ditakdirkan untuk menjadi rumit. Tak banyak yang bisa langsung diselesaikan secepat membalikkan telapak tangan.
Rin pun mendesah pelan. Yah, untuk sekarang dia hanya ingin cepat-cepat bertemu dengan hari esok. Sekarang yang jadi masalah adalah dia dan teman-temannya belum membuat rencana apa-apa. Rapat pun tidak. Apa mereka hanya akan bergantung pada bantuan orang yang dikatakan Miku itu saja? Rasanya tak akan cukup.
Kalau Kaito benar-benar tidak ada di Crypton, mereka besok pasti akan mulai mencari keluar daerah kota. Tapi, di mana?
"Ooh!" Rin berseru saat tiba-tiba teringat dengan Gumi yang tinggal di Furuoka.
Benar juga! Bagaimana kalau ke Furuoka saja? Apa yang lain akan setuju ya? Tapi meskipun mereka tidak setuju, Rin tetap akan pergi sih. Lagipula, ini hanya pendapat Rin saja. Kalau tidak bisa menemukan Kaito di sana, mereka semua hanya akan melakukan hal yang sia-sia.
Untuk saat ini, entah mengapa Rin merasa jaraknya dengan Kaito semakin memendek. Apa pun itu, pokoknya firasat seorang wanita Rin berkata kalau akan ada sesuatu yang terjadi besok. Sesuatu yang berhubungan dengan Kaito. Ngomong-ngomong, kenapa dia bisa merasakan hal seperti ini ya? Apa karena perasaannya untuk Kaito terlalu kuat? Atau sesuatu yang lain, seperti ikatan abstrak yang tak kelihatan itu misalnya? Un. Sepertinya pilihan terakhir adalah yang paling tepat.
Akhirnya, Rin benar-benar memutuskan untuk pergi ke Furuoka. Namun untuk suatu alasan, hatinya berkata agar dia pergi sendirian saja. Ini hanya untuk memastikan apa benar Kaito memang ada di sana. Rin hanya perlu mengumpulkan data dari berbagai tempat yang mungkin akan didatangi Kaito. Pergi seorang diri memang beresiko. Tapi bukankah sebaiknya pergi sendirian jika ingin melakukan hal yang belum pasti? Rin juga tidak ingin membuat yang lain merasa kerepotan.
Yosh. Sudah diputuskan!
Gumi berlari-lari kecil menyusuri setiap jalan yang dia temui sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pulang ke rumah. Dia benar-benar tidak bisa menemukan laki-laki misterius tadi dimana pun. Sebenarnya Gumi tidak perlu melakukan hal-hal merepotkan ini, seperti mencari si sosok yang menolongnya sampai harus mengitari area sekitar, tapi dia sedikit banyak merasa berhutang budi. Belum lagi kalau mengingat wajahnya yang penuh luka itu. Akh... Gumi jadi gelisah.
Saat sedang berbelok ke area menuju rumahnya, si gadis melihat sesuatu di pinggir jalan. Tepat di depan gerbang rumah.
"Eh...?!" Gumi langsung melotot saat mengenali 'sesuatu' yang mirip dengan manusia itu.
Si gadis langsung berlari untuk memastikan. Dia pun terkejut demi melihat sosok laki-laki yang tadi sudah menolongnya. Ya ampun... tuh 'kan benar! Luka anak ini bertambah parah. Darah ada di mana-mana. Dia harus segera dirawat!
"Bagaimana keadaannya, Sensei?!" Gumi langsung menanyai dokter yang baru saja keluar dari kamar setelah diminta untuk memeriksa keadaan orang misterius yang jatuh pingsan di depan gerbang rumahnya tadi.
"Lukanya banyak sekali. Dia butuh banyak istirahat. Jadi tolong jangan membiarkannya banyak bergerak dulu untuk sementara," jelas si dokter. Gumi mengangguk-angguk paham.
Gadis itu kemudian menyuruh salah seorang pelayan di rumahnya untuk mengantar dokter tersebut ke luar rumah setelah berterimakasih telah berkenan datang ke kediaman Megpoid.
Kini si gadis memutuskan untuk mengintip ke dalam kamar penolongnya dan melihat keadaan orang tersebut yang sedang tertidur pulas.
"Ojou-sama."
Gumi yang kaget karena mendengar bisikan tiba-tiba itu spontan berbalik. Dia mendesah lega setelah mengenali orang yang sedang berdiri di hadapannya sekarang.
"Tonio, jangan mengagetkanku seperti itu!" omelnya.
"Maafkan saya, Ojou-sama. Tapi sebaiknya Anda juga beristirahat untuk sekarang," ujar seorang pelayan paruh baya bernama Tonio yang baru saja terkena omelan Gumi.
Oh ya, sebenarnya orang tidak banyak tahu kalau Gumi itu merupakan seorang Ojou-sama yang memiliki mansion mewah sebagai tempat tinggal. Orang-orang tidak banyak mengenalnya sehingga Gumi diperlakukan sebagai seorang siswi biasa di sekolah. Bahkan dia terkesan dikucilkan dan suka di-bully.
Adapun mereka yang membuli, biasanya akan menyuruh Gumi membawa barang-barang yang bagus karena mereka sering melihat penampilan si gadis yang serba cute, bukan karena mereka tahu kalau sebenarnya Gumi itu anak orang kaya. Yah, orang kaya pun punya banyak masalah tersendiri dalam hidup mereka.
"Aku mau menungguinya sebentar," ujar Gumi sambil melirik pintu di belakangnya, "Kau tidak perlu khawatir."
"Tapi..."
"Daijoubu," potong Gumi, "Dia sudah menolongku sampai babak belur begitu. Aku harus merawatnya."
Tonio ragu sejenak sebelum kemudian membungkuk, mempersilahkan Gumi untuk masuk ke dalam kamar. Si gadis tersenyum.
"Tidak perlu menungguiku," pesan Gumi sebelum masuk ke dalam.
Gumi melipat kedua tangannya di atas tempat tidur, tepat di samping kepala si orang misterius yang babak belur itu. Sekarang luka-lukanya sudah dirawat dengan baik. Tapi bengkak di wajah orang tersebut masih terlihat benar-benar besar dan biru. Itu pasti sakit sekali.
Dari dulu Gumi selalu bingung dengan yang namanya anak laki-laki. Mereka suka sekali melakukan hal-hal berbahaya seperti berkelahi. Memangnya apa yang bisa mereka dapatkan dengan saling melukai begitu? Bekas luka?
Gumi memang pernah dengar tentang banyak anak perempuan yang menyukai dengan laki-laki dengan bekas luka, tapi perkataan itu tidak seluruhnya benar. Malah ada juga anak gadis yang tidak suka laki-laki kasar, apalagi yang sering berkelahi. Mana mereka masih anak SMA.
"Ng? Benar juga," Gumi sepertinya baru menyadari sesuatu.
Dia memperhatikan wajah si orang tidur dengan seksama. Kalau dilihat dari dekat, mereka sepertinya seumuran. Apa anak ini juga masih sekolah ya? Tapi Gumi tidak pernah melihat wajah anak sekolah yang seperti itu di sekitar kota. Memang sih, dia tidak mungkin ingat wajah anak sekolah di Furuoka satu-satu, tapi setidaknya dia akan tahu wajah mana yang 'orang sini' dan wajah mana yang 'orang luar'.
Yappa, dilihat dari sisi mana pun sepertinya dia bukan penduduk Furuoka. Wajahnya itu, kalau tidak dipenuhi luka pasti akan terlihat tampan sekali. Gumi bisa menebaknya karena dia punya pipi yang cukup tirus dengan alis yang sedikit tebal, hidung mancung, plus rambut acak-acakan yang kebanyakan selalu disukai anak perempuan.
"Mm..."
Gumi langsung duduk tegap saat melihat kepala orang itu bergerak sedikit. Dia melirik orang tersebut yang kelopak matanya sudah setengah terbuka. Syukurlah, dia sudah sadar.
"A-ano..." Gumi mencoba untuk berkomunikasi dengan melambai-lambaikan tangannya di depan orang itu. Tapi ada yang aneh. Sepertinya dia merasa kebingungan; seakan-akan tidak bisa melihat sesuatu dengan jelas, atau...?
"Oi...!" orang itu terlihat panik. Gumi langsung kaget dan bingung.
"A-ada apa?! Ada apa?!" tanya gadis itu dengan panik.
Untuk sesaat, orang itu mengangkat sebelah tangan, lalu membalik-baliknya seperti sedang meyakinkan sesuatu. Gumi masih memandanginya yang terlihat sedang kesulitan melihat. Apa ada gangguan pada mata orang misterius ini?
"A-ano..." Gumi kebingungan saat si orang misterius tiba-tiba menatapnya dengan kedua alis berkerut.
"Ada yang salah...?" tanya si gadis, hati-hati.
Orang itu tidak menjawab dan hanya memandangi Gumi. Tentu saja pihak terpandang merasa lebih bingung dan heran.
"Ano, terimakasih sudah menolongku tadi sore. Sekarang kau sedang berada di rumahku. Aku melihatmu pingsan di depan rumah, jadi aku membawamu kemari," jelas Gumi saat merasa perlu mengatakan sesuatu.
"..."
Keadaan yang hening membuat Gumi merasa tak nyaman. Dia harus segera pergi dari sana. Mungkin orang itu merasa kaget karena terbangun di rumah orang asing. Sebaiknya ditinggal sendirian saja dulu.
"Kau harus banyak istirahat. Kalau begitu, oyasumi," kata Gumi, lalu bergegas pergi keluar kamar.
Cuit... cuit... cuit...
Rin terbangun dari tidurnya kala mendengar alarm alami berupa suara cicit burung di pagi hari. Saat membuka mata, sesuatu yang mengerikan tiba-tiba saja muncul di depan wajahnya; hidung Mikuo.
Rin spontan menjerit kaget sambil menjauhi Mikuo. Akibatnya, kepala gadis itu terbentur dinding yang tak jauh berada di belakangnya. Mikuo hanya geleng-geleng kepala sementara Rin mengaduh dan mendumel atas kelakuan si makhluk hijau yang tidak sopan karena sudah seenaknya masuk ke dalam kamar seorang gadis.
"Heh, siapa bilang ini kamarmu?" sinisnya, "Awalnya kupikir ada maling super yang bisa menyelinap masuk ke rumah saat melihat seseorang sedang asyik-asyikkan tidur di kamar Kaito."
"Hah?" Rin langsung mengedarkan pandangannya. Ya ampun! Apa semalaman dia tidur di kamar Kaito? Tidaaaak! Memalukan sekali! Rin langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil meringkuk di pojokan.
"Ini kecelakaan!" dalihnya. Mikuo geleng-geleng kepala.
"Pantas saja kamarmu tak punya hawa keberadaan, rupanya kau malah tiduran di sini," katanya, "Daripada itu, Bossu-san ternyata pulang lebih cepat. Beliau sampai tadi malam. Kau harus bersikap biasa saja ya, dan jangan bilang apa-apa soal Kaito."
"Apa?!" Rin langsung melotot, "Bossu-san sudah pulang?"
"Berisik!" omel Mikuo, "Pokoknya jangan mengatakan ataupun bertingkah mencurigakan!"
"Tapi kalau mendadak begini ya tidak mungkin tidak bertingkah mencurigakan!"
Mikuo menggaruk-garuk kepalanya kesal, "Hei! Kau ini mau Bossu-san tahu ya?!"
Rin menghela napas berat. Ya ampun... bersikap biasa saja saat ada sesuatu yang tidak biasa itu sulit tahu!
"Oh, Rin-chan, tadaima!" Bossu tersenyum lebar di depan meja makan saat melihat Rin muncul dan duduk di depan meja yang sama. Gadis itu hanya tersenyum sambil menjawab 'okairi' seadanya.
"Are? Ada apa, Rin-chan?" tanya Bossu, "Hari ini kau pendiam sekali?"
"Eh? Aaa... pagi ini aku masih sedikit mengantuk, hehe..." kekeh Rin dibarengi garuk-garuk kepala. Bossu mengerutkan alisnya, memasang wajah tak percaya dan heran.
"Hari ini mood-mu sedang jelek ya?" tebak orang tua itu.
Rin hanya tekekeh-kekeh tanpa berhenti garuk-garuk kepala. Di saat-saat seperti ini, beruntunglah Mikuo segera hadir dan mencegah Bossu bertanya lebih banyak pada gadis itu.
"Ohayo," sapanya sambil mengambil posisi duduk di depan Bossu.
"Hei, kalian berdua baik-baik saja 'kan selama aku tidak ada?" tanya Bossu. Rin melirik Mikuo, sedangkan yang dilirik hanya tersenyum singkat.
"Ya begitulah, Bossu-san," jawabnya, "Ngomong-ngomong, kenapa Bossu-san pulang lebih cepat?"
"Iya benar," timpal Rin, "Kalau menghitung sampai seminggu, seharusnya besok baru bisa pulang ke rumah 'kan?"
Mikuo langsung memelototi Rin yang tidak bisa membaca situasi. Seharusnya gadis idiot itu tidak bertanya demikian. Kesannya jadi seperti melarang sang pemilik rumah untuk pulang lebih cepat. Padahal suka-suka Bossu sendiri mau pulang lebih dari seminggu atau kurang dari seminggu. Dasar aho!
"Heee..." Bossu tersenyum sambil mangut-mangut sendiri, "Begitu ya. Begitu ya..."
Mikuo dan Rin langsung saling lirik.
"Jangan bilang kalau kepulanganku ini mengganggu kalian berdua...?" tanyanya dengan nada usil yang sengaja dibuat-buat, "Maaf ya, di sana ternyata aku cepat bosan sehingga memutuskan untuk segera pulang. Jadi..."
"Ano, Bossu-san," sela Mikuo dengan tampang datar, "Bossu-san sama sekali tidak mengganggu. Yang mengganggu adalah makhluk yang di sana itu."
Bossu tertawa saat Mikuo menunjuk Rin yang tentu saja tidak terima diperlakukan begitu. Hei, setahunya Rin dan Mikuo sudah berteman akrab. Setelah ditinggal sebentar mereka jadi semakin akrab–sampai dibumbui pertengkaran segala. Ternyata rumah memang selalu memberikan suasana terbaik. Apalagi kalau anggotanya lengkap semua. Jujur saja, selama di luar kota untuk pergi meliburkan diri, Bossu sama sekali tidak merasa sedang liburan. Pikirannya tetap tertuju ke rumah.
"Kalau Kaito, Len dan Miku ada di sini sekarang, mungkin akan tambah ramai ya," ucap Bossu yang spontan menghentikan acara pertengkaran Rin-Mikuo.
"Ada apa?" tanya Bossu.
"Tidak ada apa-apa!" jawab Rin dan Mikuo serempak. Keduanya langsung saling pandang, lalu berdehem–bersamaan pula. Bossu memperhatikan kedua orang itu bergantian, lalu tersenyum simpul.
"Ayolah kita makan! Nanti kalian terlambat," katanya, lalu merapatkan kedua tangan di depan wajah, "Ittadakimasu!"
"I-ittadakimasu..." gumam Rin dan Mikuo, bersamaan lagi.
Hari ini Gumi nyaris saja tertinggal kereta karena banyak hal yang harus dilakukan di rumah. Untunglah ternyata masih sempat mengejar. Gadis itu pun berakhir dengan berdiri berdesakan dalam kereta. Pagi hari memang selalu menjadi jam-jam sibuk yang menandakan berawalnya segala aktivitas sehingga kereta selalu dipenuhi dengan manusia. Kalau ingin dapat tempat duduk, seseorang harus datang lebih pagi dari yang lain.
Saat tiba di depan sekolah pun, orang-orang sudah datang bergerombol memasuki pintu gerbang. Syukurlah Gumi masih bisa datang ke sekolah seperti biasa. Maksudnya tanpa lebih lambat dari jam biasanya dia datang.
"Gumi!"
Tiba-tiba seseorang memanggil akrab namanya saat dia sedang berjalan memasuki gerbang sekolah. Aneh sekali saat ada orang yang menyapa seperti ini. Gumi masih belum terbiasa, tapi dia memutuskan untuk berbalik dan langsung terkejut saat melihat Rin Kagamine sedang berlari-lari kecil menuju ke arahnya dengan seorang cowok yang setahu Gumi biasa mengekor kemana saja gadis itu pergi.
"Kagamine-san?" tanya Gumi.
Rin mengatur napasnya sambil membungkuk di depan Gumi. Saat Mikuo juga sampai, gadis itu menyuruhnya untuk pergi duluan. Anak bernama Mikuo itu sempat mendumel tak jelas, tapi akhirnya dia pergi juga.
"Ah!" Gumi baru ingat kalau dia belum mengucapkan terimakasih dengan benar pada Rin soal kejadian kemarin sore, "Kagamine-san, terimakasih untuk yang kemarin."
"Tenang saja Gumi, aku yakin mereka tidak akan mengganggumu lagi," ucap Rin, "Oh ya, pulang sekolah nanti kau ada waktu?"
"Eh?"
Miku berjalan mengendap-endap dari gerbang sekolah, berharap tidak ada orang lain yang memperhatikannya. Hei, ayolah! Siapa tahu dia sudah menjadi selebriti sekolah yang sangat terkenal sekarang ini. Miku terus mengendap-endap sampai dia tiba di depan pintu kelas. Jantungnya benar-benar dag-dig-dug saat hendak menggeser pintu.
"Miku-chan, ohayou!"
"GYAAAH!"
Miku langsung tersentak kaget saat pundaknya ditepuk dari belakang. Saat berbalik, gadis itu melihat SeeU sedang memandanginya dengan heran.
"Miku-chan, kau tidak apa-apa?" tanya SeeU, sedikit dengan nada khawatir.
"SeeU!" seru Miku. Yang dipanggil hanya nyengir Lebar.
"Are...? Hari ini kau tidak bareng Kaito lagi? Lagipula, tumben kau datang pagi," cengir gadis itu. Miku garuk-garuk kepala.
"Ano... SeeU," Miku berbisik di telinga SeeU, "Kalian tidak membeberkan 'hal itu' 'kan...?"
SeeU hanya tertawa, lalu menggeser pintu, "Kenapa tidak coba cari tahu sendiri?"
"Eeeh, cho–?!" Miku kaget saat SeeU mendorongnya ke dalam kelas. Sesaat gadis itu memperhatikan sekelilingnya yang nampak tak berubah.
Hm... semuanya normal. Tidak ada kesan 'Miku dan Kaito dijodohkan dan tinggal serumah' di dalam kelas. Yokatta... dia kira teman-temannya akan langsung menyebarkan berita itu kemana-mana. Rupanya mereka bisa sedikit diandalkan.
"Ohayou, Miku-chan!"
Yukari dan Megumi yang sudah ada di dalam kelas menyapa Miku saat melihat gadis itu diam saja di depan kelas. Jujur, Miku merasa tidak nyaman dengan sikap mereka yang tidak seperti biasanya. Yah, jarang-jarang ada yang menyapa gadis itu dengan sebuah ohayou selain Len. Ngomong-ngomong, si bocah shota belum kelihatan. Biasanya dia sudah berada di kelas sebelum Miku.
"Lihat Len?" tanya gadis itu saat berjalan melewati Yukari.
"Oh, tadi Kiyoteru-sensei menyuruh Len untuk menemuinya. Mungkin sekarang mereka ada di ruang guru," jawab Yukari. Miku mengangguk-angguk mengerti, lalu berjalan ke bangkunya.
"Miku-chan!" Yukari, Megumi dan SeeU mengerubungi Miku saat gadis itu sudah duduk manis.
"Ada apa?" tanya Miku sedikit was-was. Ada apa ini? Perasaannya tidak enak.
"Tenang saja, kami tidak akan membocorkan rahasiamu," bisik Yukari, "Tapi kami benar-benar penasaran. Apa kau sedang bertengkar dengan Kaito? Kami tak sempat menanyakannya kemarin."
"Eh?"
"Sudah kuduga," ucap Yukari, "Dia tidak datang ke sekolah gara-gara ini 'kan?"
"Eh? Eh? Apa?" Miku kelabakan sendiri, "Kenapa kalian bicara begitu?"
"Soalnya Miku-chan jadi sering melamun sejak Kaito tidak ada," jawab SeeU.
Megumi dan Yukari mengangguk-angguk setuju dengan perkataan SeeU. Miku memandangi orang-orang di hadapannya satu per satu. Waah... mereka memang berbahaya, tapi ternyata perhatian sekali.
"Hei, Miku-chan," tegur Megumi saat Miku diam saja.
"Yaaaah..." Miku menopang dagunya dengan kedua tangan, "Sepertinya 'pertengkaran' memang kata yang paling bagus ya?"
Yukari, Megumi dan SeeU saling pandang.
"Daripada itu, aku ingin bertanya pada kalian," ucap Miku. Yukari dan kawan-kawan langsung memasang wajah serius.
"Kalau di sekitar kalian ada orang yang mungkin kalian sayangi..." kata Miku, "Apa yang akan kalian lakukan seandainya dia pergi?"
"Ng?" Yukari, SeeU dan Megumi kembali saling pandang. Apa ini masalahnya? 'Kalian' adalah 'Miku', sedangkan 'orang yang mungkin kalian sayangi' adalah Kaito. Begitu?
"Aku tidak meminta kalian menyangkutkannya dengan masalah ini!" sembur Miku yang bisa menebak pikiran ketiga temannya saat air muka mereka tiba-tiba berubah, "Aku hanya ingin kalian menjawab saja."
"Baiklah, kalau aku..." Megumi berpikir sebentar, "Yah, aku mungkin akan mencari orang itu sampai dapat."
"Aku juga sepertinya akan terus mencari sampai menemukannya," timpal SeeU.
"Tentu saja aku tidak akan menyerah sampai bisa bertemu kembali! Tapi walau bagaimana pun, sudah pasti akan kutemukan dia karena kami memiliki suatu ikatan!" seru Yukari. Megumi dan SeeU tertawa mendengar jawaban menggebu dari Yukari.
"Ikatan?" tanya Miku, bingung.
"Iya. Kalau kita menyayangi seseorang, itu artinya secara tidak sadar kita sedang berusaha untuk menyampaikan perasaan kita 'kan?" kata Yukari, "Agar perasaan bisa tersampaikan, pertama-tama kita harus saling terhubung dengan suatu ikatan."
"Begitu ya... tentu saja," Miku tersenyum hambar, "Ikatan..."
Sebenarnya yang ingin Miku cari tahu adalah dari sudut pandang Kaito. Lebih jelasnya, 'kalian' merupakan 'Kaito', sedangkan 'orang yang mungkin kalian sayangi' adalah 'dirinya' dan 'Rin'. Yah, mungkin Miku salah alamat bertanya pada Yukari dan kawan-kawan yang merupakan cewek-cewek tulen. Harusnya dia bertanya pada anak lelaki ya? Haaah... lagipula dia tidak yakin kalau Kaito mau berikatan dengan siapa pun.
"Ohayou gozaimasu!"
Suara Kiyoteru-sensei membuyarkan lamunan Miku. Ah, sekarang kelas akan dimulai. Len juga sudah kembali. Megumi, SeeU dan Yukari segera kembali ke bangkunya masing-masing.
"Miku-chan," panggil Len, "Pulang sekolah nanti, kita akan diskusi lagi dengan Kiyoteru-sensei."
Miku mengangguk paham. Dia juga penasaran dengan apa yang baru saja didiskusikan Len dan Kiyoteru-sensei di ruang guru.
Kaito membuka matanya yang terasa sedikit berdenyut dan berat. Sialan. Pasti kedua mata itu sudah bengkak sebesar kue bakpao dan akan terkesan menjijikkan jika dilihat. Padahal semalam sepertinya tidak terasa seberat ini. Tapi baguslah, dia sudah dapat melihat alam sekitar meskipun pandangannya masih terasa sangat sempit.
Tch... Kaito masih ingat semalam, saat dia membuka mata, pemandangan terlihat samar. Bahkan Kaito mengira kalau kedua matanya itu hampir buta. Tapi untunglah beberapa lama kemudian, penglihatannya berangsur-angsur normal. Dan satu hal yang dia tidak mengerti; waktu itu dia melihat sesosok anak gadis yang sedang duduk di sampingnya.
Ah, ya... ya... mungkin dia merupakan gadis yang kemarin diganggu preman-preman brengsek itu. Heh. Padahal Kaito sama sekali tidak ada niat untuk menolongnya. Dia hanya ingin menghabiskan waktu luang saja dengan menghajar para pecundang itu.
Hal yang paling menyenangkan adalah hari pertama saat dia berhasil mengalahkan segerombolan anak sekolah yang sama sekali tidak tahu cara berkelahi, tapi berani sekali menantangnya adu tinju. Sudah pasti mereka semua kalah dan tak ada satu pun yang luput dari kepal tangan Kaito. Dan di hari pertama itu, dia sama sekali tidak terluka.
Di hari kedua, Kaito bertemu dengan gerombolan lain yang lebih besar. Mereka menyatakan balas dendam untuk teman-teman mereka yang dihajar Kaito di hari sebelum ini. Brengseknya, mereka semua membawa senjata, sedangkan Kaito tidak. Yah, saat itu dia memang sedang berjalan tanpa arah–seperti biasa–sambil melihat-lihat apa ada hal menarik yang bisa dilakukan.
Rupanya memang ada meskipun sedikit berbahaya. Yap. Gerombolan itulah 'hal menarik' yang dimaksud. Akhirnya Kaito menghadapi mereka dan berhasil mengalahkannya dengan mendapat beberapa luka meskipun tidak terlalu serius. Tapi siapa peduli dengan luka-luka sialan itu. Kaito hanya ingin terus melakukan ini untuk melupakan hal-hal suram dan bodoh yang sepertinya masih sangat menempel di kepala.
Pada hari berikutnya, Kaito bertemu dengan gerombolan anak yang berbeda dari gerombolan pertama. Mereka juga sama sok-nya dengan gerombolan pecundang yang pertama itu.
Kali ini, yang salah adalah salah seorang dari gerombolan tersebut. Waktu itu, Kaito sedang berjalan di sebuah jembatan, lalu dia berpapasan dengan gerombolan ini. Kemudian salah seorang dari mereka secara tidak sengaja beradu pundak dengan Kaito. Tentu saja dia langsung besar kepala karena sedang bersama dengan teman-temannya. Saat itulah Kaito mulai bersenang-senang. Dan akibat luka yang dideritanya kemarin, gerakan Kaito sedikit terhambat sehingga meskipun kali ini menang, dia mendapat luka yang cukup serius.
Hari keempat mungkin merupakan hari yang paling menarik dari hari-hari sebelumnya. Kali ini dia bertemu dengan dua gerombolan anak sekolah yang sepertinya hendak melakukan tawuran. Jumlah mereka banyak. Parahnya, masing-masing dari kelompok itu merupakan anggota dari gerombolan yang Kaito hajar habis tempo hari.
Hal brengsek yang menarik dari kejadian ini adalah, kedua kelompok yang hendak melakukan tawuran itu malah kompak menyerang Kaito sehingga anak itu terpaksa harus sedikit 'undur diri' mengingat dirinya benar-benar kalah jumlah dan perlengkapan. Heh... meski begitu ini bukan kabur, hanya siasat untuk menang. Mundur untuk mengatur strategi juga merupakan bagian dari perang.
Setelah sedikit melakukan trik, Kaito berhasil membuat kedua gerombolan sial itu berpencar untuk mencarinya. Setelah memastikan gerombolan yang satu sudah pergi jauh, Kaito menampakkan diri untuk menghadapi gerombolan yang pertama. Ah, tentu saja kali ini dengan sedikit persiapan. Ini terdengar gila memang, tapi kegilaan sudah menjadi hal biasa dalam kamus kehidupan Kaito Shion. Dia menyerang dan bertahan menggunakan sebuah tongkat panjang yang biasa digunakan anak sekolah untuk lompat tinggi. Anak itu melawan mereka semua dengan metode bertarung jarak jauh. Oh, dan pastinya, selama tiga hari ini Kaito sudah berhasil mendapatkan 'anak buah' sehingga mereka bisa cukup membantu untuk mengalahkan kelompok itu.
Tentu saja kemenangan melawan satu gerombolan yang siap tawuran itu menciptakan sebuah hal besar dan cukup merepotkan. Semua anak buah Kaito menderita luka parah, dan tentu saja pimpinan mereka juga. Dan saat itu, Kaito memutuskan untuk membebaskan semua anak buah yang 'terpaksa' ikut dan menyuruh mereka agar tidak berhubungan lagi dengannya. Anak itu lalu mencoba pergi jauh-jauh dari kompleks sekitar dan berhasil menghindari gerombolan lain yang masih memburunya sampai senja menjelang.
Saat itulah dia bertemu dengan sekumpulan kecil preman sekolah yang sedang mengganggu seorang 'gadis cilik'. Menghajar orang-orang seperti ini cukup bagus juga. Sekalian mengganti perangnya yang tidak selesai dengan gerombolan tadi siang. Yah, akhirnya setelah perang kecil dengan para brengsek 'pengganggu gadis cilik', Kaito melasa kelelahan. Lalu dengan konyolnya dia ambruk di tempat orang asing tanpa sempat berniat untuk kembali ke penginapan yang dia sewa kemarin-kemarin.
Dan inilah yang terjadi sekarang. Dia sedang berada dalam rumah seorang gadis asing yang tidak dia ketahui asal-usulnya sama sekali. Tch... pasti gadis itu sangat polos dan bodoh sampai berani membawa orang yang baru saja dia temui ke rumahnya.
Sial. Meskipun sangat ingin pergi, tapi badan Kaito masih terasa lemas dan sakit semua. Terpaksa anak itu tiduran saja sambil memandangi sekelilingnya.
Kalau melihat kondisi kamar yang semuanya terkesan serba mewah, sepertinya gadis bodoh itu lumayan kaya. Bisa gawat kalau orang yang ditolongnya ini merupakan seorang penjahat bermuka dua. Hah. Cewek-cewek memang makhluk yang lemot dan merepotkan, juga menyebalkan dan brengsek! Tch! Kaito jadi emosi sendiri saat membicarakan anak perempuan. Dia datang ke kota sial itu seharusnya untuk melupakan dua orang anak perempuan brengsek, tapi sang 'kebetulan' malah terus saja mengingatkan. Sial. Adakah cara yang ampuh untuk benar-benar bisa melupakan mereka?
Kaito memutar kepalanya ke kiri dan melihat sebuah baki yang berisi satu mangkuk tertutup dan segelas penuh air mineral. Anak itu berani bertaruh kalau isi mangkuk di sana itu bubur. Dan dia benci bubur.
"Ck...!" Kaito pelan-pelan mengangkat badannya, lalu duduk berselonjor di atas tempat tidur. Sial. Dia bosan sekali. Apa tidak ada yang bisa dilakukannya selain tiduran menatap langit-langit atau duduk seperti itu tanpa melakukan apa-apa?!
Tok... tok... tok...
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Tanpa harus Kaito mengatakan sesuatu, pintu pun terbuka dan muncullah seorang paman berjenggot dan berambut pirang–yang aslinya merupakan Tonio–dengan membawa sebuah panci mengepul halus di atas baki beserta sebuah handuk kecil yang terselempang di bahu kanannya. Isi panci itu pasti balok es.
"Oh, ternyata anda sudah siuman," sapanya sambil tersenyum ramah.
Hm... entah mengapa Kaito sedikit ingin 'bermain' dengan orang-orang di rumah ini. Kalau dipikir-pikir sebentar, dia bisa menumpang untuk tinggal di sana selama beberapa hari. Makan pun pasti akan enak dan dia tidak perlu 'menuntut gaji' dari 'orang-orang yang sudah mempekerjakannya' sebagai tukang pukul mereka–dengan kata lain, tidak perlu mengambil isi dompet para berandalan yang sudah habis itu. Heh. Layak dicoba.
"Terima kasih," Kaito akhirnya tersenyum sedikit dan mencoba membuatnya terlihat sealami mungkin. Tonio balas tersenyum.
"Sepertinya anda tidak sempat sarapan dan makan siang ya. Sayang sekali sekarang sudah hampir waktunya makan malam," canda Tonio sambil melirik makanan yang nampak masih utuh belum terjamah di atas meja.
Pagi tadi saat sang Ojou-sama mengantar sarapan ke kamarnya, anak itu masih belum bangun, dan saat gilirannya mengantar makan siang, anak ini juga masih belum membuka mata.
Kaito hanya tertawa sedikit menanggapinya, kemudian merutuk dalam hati karena kesakitan sendiri.
"Wah, sepertinya anda belum boleh banyak bicara," Tonio tersenyum, lalu berlutut di samping tempat tidur Kaito dan menyimpan baki berisi panci itu di atasnya, "Ini es balok untuk mengompres lukamu yang bengkak. Sekarang berbaringlah."
Kaito mengangguk, dia menuruti perkataan Tonio. Sang pelayan kemudian mulai mengompresi luka bengkak di wajah Kaito sambil mengajukan beberapa pertanyaan padanya. Soal di mana dia tinggal, kenapa dia bisa sampai pingsan di depan rumah, atau bagaimana dia menyelamatkan si tuan puteri dari para preman itu. Kaito hanya menggumam karena tidak sanggup banyak bicara. Si pelayan pun tertawa karena menyadari keteledorannya untuk mengajak pasien babak belur ini mengobrol.
"Oh ya, aku punya sesuatu untukmu," ujar Tonio.
"De, begitulah," Kiyoteru-sensei mengakhiri acaranya bercerita hari ini.
Miku dan Len hanya memasang tampang datar.
"Apa maksudnya itu, Sensei! Apa kau benar-benar serius mengerjakannya?!" Miku menuding hidung Kiyoteru-sensei dengan kesal.
"Tadi pagi, Sensei bilang akan melakukannya dengan baik!" kali ini Len juga ikut-ikutan marah.
Wajar Miku dan Len marah. Seharusnya Kiyoteru-sensei bisa mendapatkan sesuatu kalau dilihat dari sisi hebatnya mengumpulkan informasi. Tapi si guru berkacamata itu malah dengan entengnya bilang kalau dia gagal menemukan Kaito di mana pun.
Sebenarnya sekarang sudah waktunya pulang sekolah, tapi Miku dan Len diminta untuk menghadap Kiyoteru-sensei seperti kemarin. Dan mereka menantikan jawaban yang bagus dari sensei muda itu karena selama pelajaran, beliau terlihat sibuk membuka-buka ponsel–untuk orang suruhannya yang sedang menjalankan misi pencarian Kaito–di tengah-tengah kegiatan belajar-mengajar. Tapi saat pelajaran sudah berakhir begini, yang ada malah cerita gagal yang membosankan. Tidak ada hasil apa pun. Memang sih pencarian itu butuh proses dan waktu yang panjang. Tapi untuk seseorang seperti Kiyoteru-sensei...? Kanbenshite yo!
"Hei, hei! Jangan kecewa dulu! Begini-begini, aku juga ahlinya kalau soal analisis!" tahan Kiyoteru-sensei sebelum Miku dan Len meledak-ledak lebih dari ini, "Menurut info yang sampai padaku, di Furuoka sedang terjadi konflik antar anak sekolah. Yang kutahu, beritanya sampai dimuat di media massa. Kejadiannya juga baru-baru ini."
"Apa hubungannya?!" tanya Miku, tak sabaran.
"Ya karena itu, dengarkan dulu!" sela Kiyoteru-sensei, "Memang anak buahku tidak dapat menemukan Kaito di Furuoka, tapi kemungkinan besar Kaito ada di kota itu. Setidaknya pernahlah."
Len merenungkan perkataan Kiyoteru-sensei. Miku juga ikut-ikutan meskipun belum bisa sepenuhnya mencerna.
"Jangan-jangan Sensei mengira kalau konflik antar anak sekolah itu... ulah Kaito?" tebak Len. Kiyoteru-sensei spontan menjentrikkan jarinya, membenarkan tebakan si shota.
"Tapi Kaito 'kan tidak sekolah di sana?" tanya Miku.
"Singkatnya, kemungkinan besar Kaito membuat masalah dengan anak sekolah di sana," jawab Kiyoteru-sensei, "Kalau dia sampai kabur keluar kota, pasti mentalnya juga sedang ternganggu 'kan? Kalau benar begitu, mungkin dia sengaja berkelahi dengan mereka."
"Kalau beritanya sampai dimuat di media masa, berarti jumlah anak yang berhadapan dengan Kaito itu banyak sekali," gumam Len, "Atau Kaito punya teman di sana–ah tidak mungkin..."
"Bohong!" seru Miku, "Kaito sendirian berkelahi dengan sebanyak itu?!"
"Hei, hei, jangan dulu menanggapinya dengan serius," sela Kiyoteru-sensei, "Walau bagaimana pun, ini hanya sebuah teori."
"Tapi...!" Miku hendak protes kalau Len tidak segera menghalanginya.
"Kurasa Sensei benar. Berarti pencarian di Furuoka harus lebih ditingkatkan lagi," katanya. Si Sensei mengangguk-angguk.
"Sekarang akan benar-benar kuurus," putusnya, "Kalian istirahat saja–"
"Tidak!" getas Miku, "Kita harus pergi ke Furuoka!"
"Miku-chan, seperti yang Sensei bilang. Kemungkinan Kaito ada di Furuoka memang besar, tapi itu tetap hanya kemungkinan. Kita belum bisa memastikannya, jadi lebih baik kita menunggu informasi lebih lanjut," urai Len, mencoba mencegah Miku bertindak sembarangan. Bisa bahaya nanti.
"Tapi dari kemarin kita diam saja. Kalau begini terus, kita sama sekali tidak berguna 'kan?!" cecar Miku.
"Lalu mau apa kita saat sampai di Furuoka nanti? Mencarinya di seluruh sudut kota lagi? Kalau dia tidak ada, itu hanya akan membuang-buang waktu dan tenaga," tandas Len. Miku terdiam.
Kiyoteru-sensei tersenyum dalam diam sambil memandangi murid-muridnya, "Hee... aku tidak tahu kalau ternyata kalian sepeduli ini pada Kaito."
"Apa?" tanya Miku.
"Aku hanya tidak menyangka saja," cengir si sensei berkacamata, "Kupikir Miku-chan tidak mau berhubungan dekat dengan Kaito sampai-sampai kau menolak saat aku berusaha menjodohkan kalian."
"Sensei!" wajah Miku langsung memanas.
"Dan Len, kupikir kau hanya ingin memanas-manasi Kaito saja dengan bersikap ingin mengambil Miku. Ternyata kau sudah benar-benar mempedulikannya ya? Aku terharu," kata si Sensei dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
Len hanya bisa memandangi Kiyoteru-sensei dengan tampang enggan. Tapi serius, apa si Sensei menyadari kalau Len selama ini sedang mencoba menjauhkan Miku dari Kaito ya? Meskipun maksudnya untuk membuat Kaito lebih dekat dengan Rin sih. Yah, apa pun itu, Kiyoteru-sensei tahu kalau tugasnya di sini hanyalah sebagai seorang Kagamine, sama halnya seperti Hatsune yang ditugasi menjaga Kaito. Tapi daripada menjaga, sebenarnya Len lebih seperti mengganggu. Lihat saja pekerjaannya setiap hari, mendekati Miku terus-terusan. Tapi daripada mengurusi itu, sekarang masih ada hal yang lebih penting untuk dibicarakan.
"Pokoknya sekarang kita mengandalkanmu, Sensei," kata Len. Kiyoteru-sensei menyeringai sambil menaikkan batang kacamatanya.
"Tolong ya, Sensei..." Miku akhirnya pasrah dan mempercayakan sisanya pada Kiyoteru-sensei.
"Makasero!"
"Oi, oi! Kau ini kenapa sih? Kita harus membicarakan masalah Kaito sekarang! Jangan pergi seenaknya begitu," omel Mikuo saat sedang mengejar Rin yang sedang berjalan cepat ke tempat loker.
"Sudah kubilang hari ini aku tidak ikut!" tegas Rin sambil mengeluarkan sepasang sepatu dari loker, lalu memakainya dengan cepat.
"Miku dan Len bilang hari ini kita tidak perlu pergi kemana-mana! Kita off!"
Rin menatap Mikuo bingung, "Maksudnya?"
"Katanya Kitoyeru-sensei–atau siapalah itu–bilang kalau dia sedang melakukan pencarian intensif di kota Furuoka. Mereka bilang kemungkinan besar Kaito ada di sana," jelas Mikuo, "Kita menyerahkan pencarian pada si Kitoyeru-sensei itu. Jadi sekarang kita off lagi."
"Eh? Furuoka?" tanya Rin.
"Iya, Furuoka."
Tiba-tiba saja Rin bersorak dalam hati. Tuh 'kan...! Rin jadi sedikit merasa yakin kalau dia akan segera menemukan Kaito–yah paling tidak informasi tentangnya di Furuoka.
"Baiklah!" sahut Rin sedikit ceria, "Oh ya, hari ini aku ada urusan, jadi pulangnya sedikit telat. Tolong beritahu Bossu-san!"
Gadis itu kemudian berlari keluar bangunan sekolah. Mikuo hanya ber-ckck sambil mengusap-usap kepalanya. Eh, tapi kalau dipikir-pikir, selama ini bocah Kagamine sok itu tidak pernah punya acara sepulang sekolah. Bahkan seorang teman untuk melakukan 'suatu urusan'-pun tak ada. Lalu, kemana dia pergi?
Heeeh... mencurigakan.
"Gumiii!"
Gumi yang sedang berdiri di pinggir gerbang sekolah langsung menoleh saat seseorang memanggilnya. Wah, sudah datang!
"Kagamine-san!" sapa Gumi sambil tersenyum senang.
"Ayo kita pergi!" ajak Rin, bersemangat.
"Kagamine-san! Sebenarnya aku sangat senang Kagamine-san mau main ke Furuoka! Apalagi sampai bisa mengantarmu berkeliling! Aku sudah menunggu hal ini. Pokoknya aku bahagia, Kagamine-san!" ucap Gumi bertubi-tubi nan berbunga-bunga. Rin tersenyum melihat Gumi sebahagia itu.
"Baguslah!" sahutnya, lalu menarik lengan Gumi, "Kalau begitu ayo!"
"Oh ya, memangnya Kagamine-san ada urusan apa di Furuoka?" tanya Gumi saat mereka sudah keluar dari stasiun dan sekarang sedang berjalan santai ke arah rumah Gumi.
"Aaa... itu..." Rin mengusap-usap tengkuknya sambil berusaha memikirkan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Gumi, "Yah, aku hanya ingin tahu tempat-tempat keren di kota ini. Ah, dan kuharap kau tidak merasa kerepotan menemaniku."
"Tentu saja tidak! Aku akan mengajakmu berkeliling kota. Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita ke rumahku dulu?" ajak Gumi.
Rin hanya tersenyum. Sebenarnya dia ingin Gumi mengantarnya ke tempat-tempat yang ramai dan banyak orang. Mungkin saja Kaito ada di sana, sedang menyamar atau apa kek. Tapi berhubung gadis itu sedang berada di Furuoka, rasanya kurang sopan juga kalau menolak ajakan Gumi–yang memang tinggal di kota ini–untuk bertandang ke rumahnya. Jadi Rin rasa tidak masalah kalau hanya sebentar.
"Baiklah," balas Rin sambil mengangguk. Gumi langsung tersenyum lebar.
Kedua gadis itu pun berjalan selama beberapa menit sampai mereka melihat sebuah gang yang di sekitarnya terdapat banyak anak sekolah sedang berkumpul. Mungkin mereka anak berandalan biasa yang suka berkelahi dengan anak sekolah lain. Terlihat dari penampilan mereka.
Oh ya, Rin pernah dengar dari Gumi kalau di Furuoka sekarang ini berita tawuran antar anak sekolah sedang marak dibicarakan. Apa gerombolan di depan sana juga termasuk anak-anak yang suka tawuran ya? Hm... polisi-polisi seharusnya berjaga di dekat-dekat kompleks perumahan seperti ini juga, bukan hanya di jalan raya saja kalau berita tawuran sedang marak dibicarakan.
"Aduh, mereka semakin banyak saja," gumam Gumi, lalu menoleh pada Rin, "Kagamine-san, kita putar arah."
"Putar arah?" tanya Rin.
Gumi segera menggamit lengan gadis itu, lalu mengajaknya berbelok ke arah yang lain, "Lewat sini!"
"Jalan rahasia?" tebak Rin. Gumi mengangguk-angguk.
Gadis itu terlihat sangat waspada. Dia celingak-celinguk ke kiri dan ke kanan, lalu mengajak Rin berlari-lari kecil sampai tak lama kemudian, setelah melewati jalan berkelok-kelok yang sangat ribet, mereka sampai di depan sebuah rumah mewah yang megah. Mungkin sedikit lebih mewah daripada rumah Kaito. Wow.
"Ini... rumahmu?" tanya Rin, sedikit menggunakan nada tak percaya bercampur takjub.
Gerbang depannya besar. Halaman depan rumah juga benar-benar indah. Banyak bunga berbeda jenis dan warna yang tertata rapi di pekarangan. Jalan berbatu bundar yang biasanya dibuat untuk di vila-vila pun sudah menjadi jalanan umum untuk masuk ke rumah. Belum lagi ada pemandangan yang luar biasa indah di halaman sampingnya yang terbuka.
Di sana ada sebuah air mancur kecil yang banyak didatangi burung merpati, juga sebuah kursi taman panjang terbuat dari kayu tebal dan bercat cokelat kehitam-hitaman. Di sekitarnya terdapat bunga berwarna-warni yang terhampar. Ah... tempat itu benar-benar cocok jika dipakai hunting foto untuk pra-wedding.
Interrior rumah juga didesain sedemikian rupa sehingga rumah ini benar-benar terlihat seperti istana kecil. Ruang tamunya punya dua buah sofa panjang yang diletakkan berhadapan. Di tengah-tengahnya terdapat sebuah meja kaca berbentuk persegi panjang yang penyangganya terbuat dari kayu. Di atas meja tersebut terpajang cantik sebuah bunga dalam vas yang Rin pun tak pernah tahu apa namanya. Di kedua ujung meja ada lagi sofa pendek yang terlihat sejenis dengan sofa panjang. Tak lupa, sebuah karpet tebal berwarna merah marun terhampar di lantai ruang tamu. Di setiap ujung ruangan terdapat sebuah vas besar berisi bunga-bunga tinggi yang beraneka macam warnanya. Rin pun sulit membedakan apakah itu asli atau buatan manusia.
Saat Rin mulai mengkhayal, tiba-tiba dia dikejutkan dengan sesuatu yang sangat tak terduga. Sebenarnya bukan sesuatu yang besar. Tapi saat masuk ke dalam rumah, gadis itu seperti melihat sosok siluet yang sangat dia kenali. Siluet itu sedang berjalan memunggunginya lalu menghilang karena terhalang tembok. Apa itu tadi...?
"Eh?!" tiba-tiba Gumi yang sedang berada di depannya berseru. Sepertinya gadis itu kaget.
"A-ada apa?" Rin refleks bertanya.
"Kagamine-san sebaiknya tunggu dulu di sini," kata Gumi, "Silakan duduk. Aku akan segera kembali!"
"Ah!" Rin tak sempat bertanya lebih jauh karena Gumi sudah menghilang duluan.
Kini dia hanya duduk ditemani beberapa orang pelayan yang sili berganti membawakannya makanan dan minuman. Ya ampun, memangnya ini hotel apa? Ah, tapi yang lebih penting... tadi sepertinya Rin melihat sosok Kaito. Ya, ya. Kaito Shion. Siapa lagi? Tapi apa itu mungkin? Dunia kecil sekali kalau dia bisa langsung bertemu Kaito di tempat seperti ini. Ck, Rin pasti benar-benar sedang mengkhayal.
"A-ano!" Gumi menyapa seorang anak muda yang berpakaian layaknya seorang waiter di dapur.
Apa dia tidak salah lihat? Bukannya semalam orang itu masih belum bisa banyak bergerak? Benar, dia orang yang semalam! Lagipula Gumi tidak pernah punya pelayan berusia muda seperti ini.
Gumi berani bertaruh kalau orang itu berbalik, wajahnya pasti akan terlihat berantakan karena plester dan bengkak. Seharusnya dia tidak berjalan-jalan seperti itu. Apa yang dia pikirkan?
Awalnya Gumi hendak menegur orang tersebut dengan sedikit marah-marah, tapi saat melihat orang itu menoleh, mendadak suara Gumi hilang bagai ditelan bumi. Wajahnya... tuh 'kan! Dia benar-benar tampan! Tapi Gumi merasa ada yang aneh. Seharusnya wajah anak itu masih dipenuhi bengkak, tapi sekarang bengkak-bengkaknya sudah mulai hilang. Lalu, badannya juga terlihat baik-baik saja. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Ah, kau sudah pulang," orang itu menyapa dengan ramah. Gumi spontan berkedip tak percaya. Eh? Apa? Kenapa? Ada apa dengan sikapnya?!
Sang gadis hanya bisa terbengong-bengong selama beberapa saat.
"Ah, Ojou-sama!" suara Tonio langsung membuat Gumi tersadar, "Dia bilang untuk berterima kasih pada Anda, dia ingin bekerja di sini selama beberapa minggu. Jadi kupinjamkan saja bajuku yang dulu. Terlihat pas, bukan?"
"Tonio!" seru Gumi dengan nada menentang, "Dia itu sedang sakit–"
"Tidak apa-apa," sela orang yang dimaksud Gumi, "Berkat obat yang diberikan Tonio-san, lukaku sudah terasa membaik sekarang."
"Ah ya, Kento, bisa tolong antar ini ke ruang tamu? Ada teman Ojou-sama di sana. Kita harus memperlakukannya dengan sangat baik," ujar Tonio sambil memberi orang yang dipanggilnya 'Kento' itu sebuah baki berisi puding berbau mangga.
"Apa tidak terlalu berlebihan, Tonio-san? Tadi sepertinya sudah banyak yang mengantar makanan ke sana," ujar Kento.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa," balas Tonio, "Ojou-sama juga pasti ingin temannya merasa senang berada di sini. Iya 'kan?"
Gumi hanya menatap Tonio dengan bingung, sedangkan Kento tertawa kecil.
"Baiklah, akan kuantar," katanya, lalu pergi dari dapur.
Sepeninggal Kento, Gumi langsung menanyai Tonio soal anak lelaki tersebut. Rupanya pria paruh baya itu sudah memberikan Kento suatu obat khusus yang dibuat ibunya–plus mengompresi bengkak di wajah Kento dengan balok es. Obat itu benar-benar manjur untuk mengurangi rasa sakit pada luka memar. Siapa sangka si obat bekerja dengan cepat sehingga Kento sudah bisa berjalan-jalan. Tonio juga memberitahu soal Kento yang memutuskan untuk bekerja di rumah keluarga Megpoid demi membalas kebaikan Gumi karena sudah menolongnya.
Yang Gumi bingungkan adalah kenapa orang itu bisa tiba-tiba bersikap baik sampai-sampai mau menjadi seorang pelayan di rumahnya. Seingat Gumi, sikap orang tersebut yang kemarin dan yang sekarang benar-benar sangat berbeda dan bertolak belakang. Ah, Gumi jadi curiga dengan si misterius 'Kento' itu. Pasti ada sesuatu tentang dia.
Kaito berjalan sambil membawa baki berisi puding mangga dengan santai. Heh. Sebenarnya sandiwara ini cukup payah mengingat Kaito sendiri tidak memperhitungkan reaksi Gumi tentang perbedaan sikap yang sangat signifikan ini. Tapi sepertinya gadis polos bernama Gumi Megpoid itu merupakan tipe-tipe cewek bodoh yang sangat mudah dibohongi sehingga Kaito yakin kalau dalam beberapa hari, si cewek bodoh ini sudah bisa menerimanya sebagai 'Kento yang baik hati' dan melupakan orang kasar yang sudah menolongnya dari kumpulan bajingan waktu itu. Lagipula, nama palsu dan kepribadian baru tidak terlalu merepotkan untuk dimainkan.
Saat ini Kaito hanya ingin hari-harinya berubah. Dan menurutnya tidak buruk juga menjadi 'orang lain'. Lama-lama dia akan terbiasa dan mulai melupakan kemelut masalah yang belakangan ini sedang melanda.
Setidaknya sampai dia memasuki ruang tamu dan melihat sesosok gadis brengsek yang saat ini benar-benar tidak ingin ditemuinya di mana pun.
Rin sedikit banyak merasa senang dengan macam-macam makanan yang dibawakan para pelayan, tapi dia juga tidak enak pada Gumi. Ditambah lagi waktunya berada di rumah itu juga sangat terbatas. Dia harus segera mengajak Gumi keluar rumah. Kalau tidak, hari akan bertambah gelap dan hal itu akan menyusahkan. Nanti Rin tidak akan dapat kesempatan apa-apa untuk beraksi.
"Aduh, Gumi..." Rin menengok ke kiri dan ke kanan dengan resah sambil berharap Gumi segera muncul di hadapannya. Keinginan Rin untuk segera pergi keluar lumayan besar juga sehingga dia mulai tidak sabaran.
Karena itulah, saat mendengar suara langkah kaki mendekat, Rin langsung berdiri hendak memanggil nama Gumi, tapi...
"Ah..."
Mulut Rin mendadak menganga lebar, "A..."
Suaranya tercekat di tenggorokan. Gadis itu seolah-olah kehilangan kemampuan untuk merangkai kata dalam otaknya saat melihat sosok yang selama ini sedang dia cari. Ke-KENAPA DIA ADA DI SINIIIIIIII...?!
"Kento-san!"
Tiba-tiba Gumi muncul di belakang Kaito dan membuat Rin semakin bengong. Kento...?
"A-ah, Gumi," ucap sosok Kaito yang terbalut kostum 'Kento' tersebut sambil tersenyum. Eh?
TERSENYUM?!
Sebentar! Rin butuh beberapa menit untuk mencerna apa yang sedang terjadi di sini. Baru saja Kaito tersenyum dan memanggil seorang manusia dengan nama aslinya?! Belum lagi... langsung nama depan! Nama depan, hei! Nama depan! Dan yang paling parah adalah dia sudah membuat Gumi salah tingkah saat itu juga.
"Ke-Kento-san! Kesini sebentar!" Gumi langsung menarik lengan Kaito dan hampir saja meninggalkan Rin di ruang tamu kalau gadis pirang tersebut tidak segera berjalan mendekat dan menarik lengan Kaito–yang sedang memegang baki–sebelum anak itu mengikuti langkah Gumi.
"Kagamine-san...?" tanya Gumi begitu melihat Rin memandangi 'Kento' dengan... em... bagaimana ya? Sulit digambarkan.
Satu hal yang bisa Gumi tangkap adalah, dari sorot mata gadis pirang itu terlihat jelas ada kerinduan yang memancar. Mungkin ini hanya perasaan Gumi saja yang selama ini selalu merasa kesepian, jadi dia bisa tahu perasaan orang dari raut wajah. Atau ada sesuatu yang lain...?
"Kai...to..."
Terdengar Rin menggumam.
Kaito?
Gumi langsung memandang orang bernama Kento itu dengan seksama. Wajahnya sedikit berubah. Ada apa ini? Siapa itu Kaito? Dan lagi...
Apa Kagamine-san dan Kento-san itu saling mengenal?
Chapter thirteen's finished.
By Itachannio
Aduh entah mengapa akhir-akhir ini sinyal Author sedang mengalami gangguan sehingga cerita agak loading apdetnya~! *agakdarimanawoy!#kicked* XD
Harusnya ini cerita diapdet kemarin (hari Senin), tapi entah kenapa fanfiction-nya error. Apa sinyal otak Author dan sinyal modem nyatu gitu ya, jadi sama-sama loading?! XD
Pokoke hontou ni gomeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen readers! Mudah-mudahan yang menunggu masih banyak-nyak-nyak! XD
Doakan ya kawan-kawan, mudah-mudahan sinyal di kepala Author ini segera berubah jadi 4G, soalnya dari kemarin error mulu! XD XD
Soshite, nantikan hari senin ya readers tercinta, soalnya ini cerita bakalan diapdet di hari senin terus seperti yang kemarin*?* (kalau chapter yang ini rada error) ^^'a
Oh! Satu lagi info terkini! Cerita ini paling cepat apdet dua minggu sekali, paling lama enam minggu! Hahahaha! Yang pasti, Author gak berniat untuk hiatus. :D
Terima kasih, arigatou, khamsahamnida, dan thank you untuk para dokter tercinta yang telah bersedia memberikan resep obatnya terkait penyakit"Typoleosis" yang diidap Author! :D
Mudah2an kebaikannya dibalas lebih! XD
Next Chapter
Kau... Siapa?
Reviews reply:
Kurotori Rei
Okairi, Rei~
Hahaha! Benarkah nyesek?! Masalahnya ribet banget ya di sini. Kasian si Kaito ditinggalin sendiri! XD
Oke lanjut coy~ XD
Shintaro Arisa-chan
Hahahahaha! Aduh, lagi-lagi saya telat apdet! XD
Oooh Gumi itu di sana lagi diperkenalkan ceritanya. Sekarang dia ikut jadi tokoh penting kok! XD
Hahahay! Makasih banyak yaa Arisa-chan! Setidaknya beberapa penyakit saya bisa terobati dengan baik! XD mudah-mudahan gak kambuh lagi! XD
Arigatou, lanjuuut~XD
Muni
Maaf lama banget nih apdet-nyaaa~ hiks. Mudah-mudahan rasa penasarannya masih tertanam dengan baik di dalam hatimu ya. Hahaha! XD
Btw mudah-mudahan do'anya terkabul. :D
Arigatou naa~ XD
Hatsune 01 Story
Arigatou, Hatsune-san! :D
Dilanjut niii~ XD
Satsuki21as
Hahahaha! Tenang, tenang broh, saya gak mau hiatus kok. Merepotkan kalau tiba-tiba hiatus. Cuman ni Author kena penyakit baru, yakni lama apdet! XD
Hahahaha! Sekarang gak ada adegan romantisnya. Jadi aneh kayaknya nih, tapi gapapa deh chapter depan mudah-mudahan ada lagi! XD
Btw soal musuh, hahaha! Sang musuh belum menampakkan dirinya di sini XD bisa jadi karena masalah dendam (bisa juga bukan) *iniAuthorbikinbingungaja*XD
Bossu-san juga hadir sekilas di sini. Sekilas doang, soalnya belum terlalu penting untuk dibicarakan! *ditinju* XD
Alasan si Kaito milih untuk pergi ke kota Furuoka (ceritanya) masih belum disebutkan di sini sih. Hehehe... kalau si Bossu mah cuman buat menenangkan diri saja, gak berniat mendatangi si 'musuh'! XD Keren euy analisisnya *?* Author aja gak kepikiran ampe sana! XD XD berkat Satsuki-san, saya jadi dapet ide! Gyahahahahahaha! Arigatou gozaimasu!
Oke, lanjuuut~ XD XD
Kagamine Marry
Oke dilanjut nih Marry-san! XD
Btw ceritanya udah di-post belum? Kasih tahu! Kasih tahu! XD
Arigatou masih menunggu~~ XD
Rini desu
Hahahaha! Masih belum berakhir, Rini-san! Author masih ingin melanjutkannya! XD btw maaf nih apdetnya kelamaan. Sinyal di otak baru bisa berjalan setelah enam minggu soalnya. Error detected! XD
Btw, mudah-mudahan ending-nya memang tidak mengecewakan! XD
Arigatou naa~~! XD
Agnuslysia
Iya yang kemarin dikit! Dapet inspirasinya juga dikit! *Emangyanginikagakdikit* XD
Dan ampuun apdetnya lama-lama mulu nih, sinyalnya lagi error seperti yang di sebutkan di atas! XD mudah-mudahan nggak lagi dah di chapter depan *aaamiiinaaamiiinaaamiiin* :D
Sankyuu naa! Update niii~! XD
Ramenrider Chikenbutt
Yang mana saja boleh, yang pasti mudah-mudahan dirimu tak kecewa, saya berdoa dalam hati. Huahahahahahaha! XD
Len? Oh... Len... bisa jadi sendirian, bisa jadi sama Miku atau sama cewek lain *? *–yang mana pun itu, mudah-mudahan Len bahagia! XD
Btw jangan khawatir! Lama-lama semua rahasia bakalan terkuak secara beruntun! :D lihat saja tanggal mainnya! XD
Hubungan mereka berdua? Bisa membaik, bisa juga memburuk. Tergantung situasi! Ahahahahaha! XD Pokoknya nantikan saja ya~~! :D
Datang lagi yaa, arigatou~~! XD
Kaiko-Chan
Hahahahaha! Nyaris saja ada tsunami yang melanda Crypton ya?! Untung Miku datang menyelamatkan situasi! Hahahahaha! *apaansihgaje* XD XD
Kaito mah kabur dia. Menurut dia mencari 'orang gak penting' model Bossu-san gak ada gunanya! Huahahahahahaha! #digetok Bossu XD
Aduh gapapa telat ripiu Kaiko-chan, daripada Author, telat apdet! Gomen ne! Gomen! Mudah-mudahan yang selanjutnya bener-bener lebih cepat! v^^v
Arigatou~!
Kagamine 02 Story
Kaito masih berandalan di sini! XD
Dia mah emang minta dihajar secara gak langsung. Main tarik-tarik tangan cewek seenaknya kayak tu tangan dia aja yang punya! #digilingKaito XD XD
Btw, mudah-mudahan do'anya terkabul ya Kagamine-san! :D
Hikayami Ryuusei
Hahahahaha! Kisah Kaito-Rin itu memang ribet banget yah, ampun dah! XD XD
Waaaah? Ada juga scene yang engkau nantikan?! Emang scene yang mana gitu?! *kenapajadihisteris * XD XD
Rin dan Miku. Hehehe. Mereka itu pada dasarnya memang musuh yang sedang bersaing sih. Tapi marilah untuk sementara kita memanggil mereka dengan sebutan rival. Kesannya lebih halus daripada musuh. Huahahahahahaha! XD XD
Btw Kaito lari ke Furuoka. Nama kota, tuh, nama kota! Author payah soal penamaan tempat. Hahahahahaha! XD
Yosh! Mudah-mudahan apdet cerita yang berikutya lebih cepat dari yang ini, huwaaa!
Sankyuu~~ datang lagi ya! XD XD
Nyang
Ini udah lama nggak apdet! Huweee~~~ DX DX
Arigatou selalu menunggu ya kawan! Updated niiii~ XD XD XD
