Title:I LIKE YOU THE BEST
Pairing : Meanie (main), Verkwan, Soonseok, Jeongcheol
Author: David Rd
Language: Indonesian, Rating: Rated: T
Genre: Romance/Drama
Chapters: 13/14
Note:
Kesamaan cerita hanyalah ketidaksengajaan semata. Pernah baca cerita serupa anggap saja nasib.
Warning! Alur cerita membosankan alias gampang ditebak, banyak tipo, cerita nggak mutu, cerita terlalu pendek, bahasa terlalu formal, dll.
Don't like don't read! Comment is appreciated while no room for bashing!
The characters here belong to God and their parents.
Finally happy reading and I hope you'll enjoy it.
©Davidrd copyrights©
2011 productions
PLEASE CALL ME... FATHER
"JUNGAH," Yunho dan Jaejoong mengucapkan nama perempuan itu bersamaan.
"YUN.. JAE?" Kim Jungah terkejut.
.
.
.
Suasana tegang menyelimuti ruang tunggu di UGD Seoul Hospital. Lima orang yang berada di tempat itu tidak tahu harus berbuat apa. Dua orang pemuda yang lebih tidak tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi semakin sulit mencerna kejadian yang baru saja berlangsung. Tiga orang dewasa yang kelihatannya memiliki permasalahan pelik ini pun hanya bisa mematung sesaat sebelum akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan UGD.
"Ehm, maaf sebelumnya. Tapi, di antara kalian siapakah keluarga si pasien?" pertanyaan dokter itu memecah keheningan.
Namun, bukannya suasana menjadi cair, justru semakin kikuk saat Yunho dan Jungah menjawab secara bersamaan,"Saya, Dok."
Lagi-lagi Soonyoung dan Wonwoo terperangah akan jawaban mereka. Walaupun mereka berdua bisa mengambil kesimpulan dari ini semua, tapi tetap saja bagi mereka hal itu terasa aneh. Selama ini mereka tidak pernah mengetahui siapa ayah Mingyu dan sekarang tiba-tiba Mr. Jung datang dan mengaku sebagai ayah Mingyu. Bukannya mereka tidak percaya, hanya saja hal ini terlalu mendadak dan mereka masih belum terbiasa dengan hal itu.
"Baiklah, sebaiknya kalian berdua ikut dengan saya," Dokter Shim mengajak kedua orangtua Mingyu untuk membicarakan masalah kesehatan putra mereka.
Di dalam ruangan Mr. Shim
"Baiklah, sebelumnya perkenankan saya untuk memperkenalkan diri terlebih dulu. Saya Dr. Shim yang akan menangani pasien Kim Mingyu," ucap dokter yang sekarang duduk di hadapan Yunho dan Jungah.
"Ehm, Mr. Kim sangat beruntung sekali Anda membawa pasien kesini tepat waktu. Ya, walaupun kondisi pasien bisa dianggap sudah sangat parah, tapi setidaknya kami masih bisa menyelamatkannya. Perlu saya informasikan bahwa pasien mengalami luka parah tulang pada bagian tulang rusuknya dan luka yang agak serius di bagian lututnya."
Yunho tidak peduli apakah dokter di hadapannya itu memanggilnya Mr. Kim atau apapun itu, karena satu hal yang ia pedulikan hanyalah keselamatan Mingyu. Begitu juga dengan Jungah. Wanita berumur tiga puluhan ini terlihat pucat dan bekas air mata di pipinya masih terlihat jelas menunjukkan betapa khawatirnya ia.
"Mr. Shim, hal itu tidak akan berpengaruh pada kesehatan Mingyu kalau ia sudah sembuh bukan?"
"Kemungkinan besar tidak Mr. Kim. Tetapi, kami masih belum bisa memastikannya secara pasti. Saya sarankan Mingyu untuk rajin melakukan check up sehingga kami bisa memantau perkembangannya," dengan bijak Mr. Shim memberikan saran pada kedua orangtua di hadapannya.
.
.
.
Wonwoo POV
Sesaat setelah kedua orangtua Mingyu pergi mengikuti dokter yang menangani kekasihku itu, kini tinggal kami bertiga di depan ruang UGD, aku, Soonyoung dan juga seorang ahjussi yang dipanggil Jaejoong oleh Mingyu eomma. Aku mengenal sosok itu sebagai seorang artis terkenal yang sangat berbakat. Tidak hanya sebagai artis, suaranya pun sangat merdu. Sudah banyak album yang dihasilkannya dan kesemuanya sukses di pasaran.
Jaejoong ahjussi yang masih mengenakan seragam pasien rumah sakit menatap ke arahku lemah dan berjalan ke arah kami berdua. Tubuhnya terlihat lemah, namun wajahnya menampakkan senyum yang bersahabat. Soonyoung yang terduduk di sebelahku segera berlari ke arah Jaejoong ahjussi dan membantunya untuk duduk di kursi di sebelahku.
"Eh, gomawo...," belum selesai mengucapkan satu kalimat penuh, Soonyoung menyela perkataan pria yang bisa dibilang sangat cantik ini.
"Aku Soonyoung, ahjussi," sambil menunjukkan eye smile-nya, Soonyoung memperkenalkan diri pada kekasih Mr. Jung.
"Ah ne, Soonyoung. Bagaimana kalau jangan memanggilku ahjussi? Kalau kalian memanggilku demikian, aku merasa sudah sangat tua. Padahal aku masih muda begini," Jaejoong ahjussi berusaha mencairkan suasana.
"Baiklah, kalau begitu kami akan memanggilmu hyung," sekali lagi Soonyoung menjawab dengan mantap.
"Itu lebih baik," tatapan Jaejoong hyung beralih ke arahku sesaat setelah berkata demikian.
Tiba-tiba saja Jaejoong hyung menghapuskan airmata yang mengalir di pipiku. Seolah mengetahui apa yang sedang kurasakan, ia tiba-tiba saja menarikku ke dalam pelukannya. Dekapannya hangat seperti pelukan eomma. Sambil terus membisikkan kata-kata penenang, ia membelai pelan punggungku dan entah bagaimana aku merasa sedikit tenang.
"Mingyu akan baik-baik saja," ia kembali berkata sebelum akhirnya menatap mataku.
Soonyoung yang kebetulan ada di dekatku hanya terbengong.
Aku merasa sangat dekat dengan Jaejoong hyung. Walaupun aku baru kenal dengannya beberapa menit yang lalu, tapi rasanya aku sudah mengenalnya sangat lama. Aku bisa merasakan pandangannya yang menembus mataku dan menyiratkan kesedihan, luka, perih dan kebahagiaan pada saat yang bersamaan. Aku tak tahu bagaimana mengekspresikannya dalam kata-kata saat melihat tatapan itu.
"Hyung, kamsahamnida," aku memberanikan diri untuk menghentikan tangis yang sudah menguras hampir keseluruhan energiku.
"Ne."
End of Wonwoo POV
.
.
.
Yunho POV
Setelah mendengar penjelasan dari dokter Shim, aku hanya bisa berdoa sepenuh hati agar anakku satu-satunya bisa diberi kesembuhan oleh Tuhan. Aku tak bisa berbuat banyak untuknya, dan itu semua salahku. Aku merasa bersalah. Aku benar-benar tak bisa memaafkan diriku sendiri jika sesuatu yang buruk menimpa Mingyu.
Tatapanku bertemu dengan sosok Jungah yang sekarang hanya bisa menundukkan kepalanya dan berusaha untuk menahan tangis. Wanita ini. Seandainya saja aku tak pernah menyetujui perintah ayah untuk menikahinya, pasti semua ini tak akan terjadi. Ia tak harus menderita karena aku. Ia tak harus berusaha seorang diri untuk membesarkan dan merawat Mingyu, buah hati kami. Tapi harus bagaimana lagi? Semua yang sudah terjadi biarlah terjadi.
Perlahan aku mendekati mantan istriku itu dan kutepuk pelan pundaknya seraya berkata,"Jungah, mianhae. Jeongmal mianhae, tidak seharusnya aku membiarkan semua ini terjadi. Semua ini salahku."
Jungah berbalik menghadapku dan berkata dengan suaranya yang sedikit parau karena tangis,"Ani, Yunho. Kau telah berusaha semampumu untuk menyelamatkannya. Aku sangat berterima kasih karena itu," jeda sesaat karena ia harus menghapus air mata yang kembali menetes dengan sapu tangan yang dibawanya.
"Aku tak pernah mengijinkanmu untuk menemuinya sekalipun. Aku sangat menyesal karena sikap kekanak-kanakanku itu. Karena kebodohankulah Mingyu tidak bisa bertemu denganmu dalam keadaan yang lebih baik dari ini," dia kembali menangis.
"Aniya. Jungah, aku rasa semua yang telah berlalu biarlah berlalu. Kita semua sudah cukup tersiksa dengan apa yang terjadi selama ini. Bukankah ada baiknya kalau kita memulai semuanya dengan hal baru? Bukankah ada baiknya jika kita saling memaafkan dan hidup bahagia mulai dari sekarang?" aku berusaha untuk menenangkan wanita yang pernah menjadi istriku itu.
"Kau benar Yunho. Kita tak akan mendapatkan apa-apa jika kita terus-terusan bersikap seperti itu."
Dua jam kemudian di salah satu kamar pasien
Kususuri pemandangan di depanku. Seorang pemuda terbaring lemah di atas tempat tidur rumah sakit. Kepalanya terbalut perban dan beberapa luka lebam dan luka sayatan tergambar jelas di wajahnya. Aku hanya bisa berjalan mendekat ke arah anakku yang terbaring lemah itu dan duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang pasien.
Kuperhatikan dengan seksama pemuda di depanku ini. Belum pernah aku berada sedekat ini dengan anakku, selain saat aku membawanya ke rumah sakit. Aku tak pernah memperhatikannya sedekat ini, tapi kenapa di saat aku bisa memperhatikannya seperti ini, anakku berada dalam kondisi yang tidak baik.
"Mingyu-ya, mianhae.. jeongmal mianhae," aku tak kuasa menahan airmata yang kutahan dari saat aku membawa Mingyu.
"Aku memang bodoh. Seharusnya aku bisa menyelamatkanmu sehingga kau tak perlu mengalami hal seperti ini. Aku memang ayah yang bodoh. Sangat bodoh," kepalaku tertunduk di samping tubuh anakku yang terbaring lemah. Aku sangat menyesal. Amat sangat menyesal.
Selama ini, aku tidak pernah ada di sisinya, tidak pernah mengetahui bagaimana ia tumbuh, bagaimana ia berkembang. Selama ini, aku hanya mempedulikan kepentinganku sendiri. Aku sangat egois. Setelah aku meninggalkannya begitu saja, sekarang aku datang dan mengakui bahwa dia anakku. Aku datang dan menginginkan agar ia mau memaafkanku, memaafkan semua kesalahan yang telah kulakukan padanya dan juga pada ibunya.
Bagaimana bisa itu tidak disebut egois? Apakah aku pernah berlaku selayaknya seorang ayah? Apakah aku pernah memperlakukan ia sebagai anakku? Tidak. Dia tak akan pernah memaafkanku. Pasti dia sangat membenciku. Seberapapun usahaku untuk mendapatkan hatinya, ia pasti sudah menutup pintu hatinya rapat-rapat. Ia bahkan mungkin tak pernah akan membukanya lagi.
"Aku tak pantas menyebut diriku sebagai seorang ayah," hatiku sangat hancur memikirkan semua kemungkinan yang akan terjadi. Seberapapun besarnya niatku minta maaf, aku sudah tak mungkin mendapatkannya.
Kuputarbalikkan tubuhku hendak meninggalkan kamar rawat Mingyu, namun aku terhenti ketika tepat di depanku berdiri seorang pemuda. Dia adalah anak Mr. Jeon, rekan bisnisku. Wajahnya terlihat murung dan sedih. Dia terlihat sangat sedih dan putus asa.
"Ahjussi," dia mendongakkan kepalanya dan menatapku.
"Ne."
"Jangan tinggalkan Mingyu untuk kedua kalinya, aku mohon padamu ahjussi," anak ini. Dia menyuruhku untuk tetap di sini. Kenapa?
"Apa maksudmu Wonwoo?" karena heran akan permintaannya, aku berusaha mencari tahu alasannya kenapa anak Mr. Jeon bersikap seperti ini.
"Mingyu," tatapannya beralih pada Mingyu yang masih belum sadarkan diri sesaat, kemudian ia kembali berujar,"Dia sangat merindukan Anda ahjussi. Dia ingin melihat Anda."
"Wonwoo, dia pasti sangat membenciku. Kau sudah tahu kalau aku meninggalkan Mingyu dan ibunya. Aku bahkan tak pernah menemuinya sekalipun," tanganku ingin sekali rasanya mengacak-acak rambut di kepalaku saking frustasinya.
"Tapi Anda sudah berusaha menemuinya. Anda ingin menemuinya. Anda ingin menemui Mingyu."
Iya, tentu aku sangat ingin menemuinya. Memang benar aku sudah mengusahakan segala hal untuk menemuinya. Bahkan aku rela menyelinap ke rumahnya untuk meletakkan surat bagi anakku. Aku akan melakukan apapun untuk bisa bertemu dengannya. Tapi, apakah hanya karena aku sudah berusaha menemuinya, anakku akan memaafkan semuanya? Aku rasa tidak.
"Mingyu menunjukkan surat yang ditujukan oleh Anda padanya beberapa waktu yang lalu. Dia menjaga surat itu dengan sangat hati-hati. Dia menganggap surat itu sangat berharga. Aku ingat ekspresinya saat menceritakan bahwa surat itu dari Anda. Dia sangat bahagia."
Haruskah aku mempercayai kata-katanya?
"Bisakah Anda tinggal disini sementara waktu dan menunggunya hingga sadar?"
"Wonwoo, aku tidak bisa melakukan hal itu."
"Ahjussi."
"Wonwoo, dia tak akan pernah bisa memaafkanku. Aku adalah ayah terburuk yang pernah ada. Aku ayah yang ya, tidak akan ada seorangpun yang mau memanggilku ayah. Aku harap kau bisa menjaga Mingyu dengan baik," kutepuk pelan pundak anak muda di hadapanku.
Dengan langkah berat kutinggalkan pemuda yang masih terdiam itu. Pikiranku sangat kacau. Aku sangat ingin berada di sisi anakku hingga ia siuman, namun di sisi lain aku sangat takut. Takut kalau ia tidak mengizinkanku berada di dekatnya. Apa yang seharusnya kulakukan?
"Appa," secepat kilat aku berbalik mendengar kata itu. Di sana, di atas tempat tidur, anakku sudah membuka matanya dan dia memanggilku ayah. Apakah aku bermimpi?
"Appa," dia berkata untuk kedua kalinya. Aku hanya terdiam dan tak bergerak.
"Ka...kau... kau memanggilku apa?"
"Gajima, appa?" kali ini aku percaya bahwa Mingyu benar-benar memanggilku appa. Dia benar-benar mengatakannya. Aku tidak bermimpi. Ingin rasanya aku berlari ke arahnya dan memeluknya erat. Tapi, beruntunglah karena aku ingat kondisinya sekarang. Aku tak mungkin melakukan seperti apa yang ada dalam fantasiku, maka kuputuskan untuk mendekatinya. Perlahan tapi pasti aku sampai di dekatnya. Tubuhku gemetaran setengah mati menunggu respon Mingyu.
"Mi..min...gyu?" lidahku serasa kelu dan ucapanku terbata-bata.
Tangannya yang terkulai lemah terangkat sedikit meraih tanganku yang secara otomatis langsung kugenggam. Inikah rasanya menggenggam tangan anak kandung? Inikah rasanya? Tangannya besar dan hangat, sama sepertiku.
"Appa, jebal gajima," suaranya terdengar parau dan berat.
.
.
Mingyu POV
Aku mencoba memejamkan mataku sebentar karena Wonwoo mengatakan bahwa ia akan keluar sebentar untuk menemui Soonyoung yang sedang bersama eomma. Dia ingin mengabarkan bahwa aku sudah sadar. Tadinya aku berpikir, kenapa ia tidak menelepon mereka saja. Tapi, kemudian aku teringat bahwa Wonwoo diculik oleh Jooheon dan pastinya handphonenya tidak ada bersamanya sekarang.
Kuhembuskan napas lega karena semuanya sudah berakhir. Tidak ada lagi yang akan mencelakai Wonwoo. Tak ada lagi yang akan melukainya, menyakitinya atau bahkan menindasnya. Sejenak, aku teringat akan mimpiku barusan. Si bangsat Jooheon itu sudah berani mencelakai Wonwoo dari dulu. Bukan hanya menyakiti fisiknya, tapi juga mentalnya. Itulah sebabnya kenapa Wonwoo yang awalnya memang pendiam menjadi semakin pendiam dan tertutup.
Aku berjanji, mulai sekarang aku akan menjaga Wonwoo. Aku akan berusaha sekuat tenagaku agar kekasihku itu bahagia. Dialah orang yang telah menyadarkanku, betapa pentingnya agar kita bisa terbuka pada orang lain. Dan yang terpenting lagi adalah, menyadarkanku bahwa menjadi seorang gay bukanlah hal yang perlu dibenci. Dia menyadarkanku bahwa ayahku bukanlah orang yang harus kubenci.
Ngomong-ngomong tentang ayahku, tiba-tiba pintu kamarku terbuka perlahan. Aku tahu, tidak seharusnya aku bersikap seperti ini padanya. Tapi, sungguh aku belum siap. Walaupun dalam hatiku aku ingin sekali bertemu dengannya, bertatapan dan bercengkerama langsung, tapi aku takut untuk melakukan itu semua. Bagaimanapun kami belum pernah bertemu secara langsung dalam keadaan yang baik.
Lelaki itu mendekatiku dan mengatakan penyesalannya telah meninggalkan aku dan eomma. Lelaki itu menangis sambil meminta maaf padaku. Aku bisa merasakan rasa sakitnya, penyesalannya. Namun tak berselang lama, ia berniat pergi meninggalkanku. Ia merasa bahwa ia sudah tak pantas berada di sampingku. Apa itu semua benar? Tapi, dia ayahku. Bagaimanapun juga dia adalah ayah dari seorang Kim Mingyu.
Suara Wonwoo tiba-tiba terdengar. Dia pasti baru saja kembali dari menemui eomma dan Soonyoung. Sejenak dia berbincang dengan ayahku agar beliau tidak meninggalkanku. Namun tampaknya penyesalan ayahku sudah sangat dalam sehingga ia masih merasa bahwa aku tidak akan pernah bisa memaafkannya.
"Appa," secepat kilat aku memanggilnya sebelum ia benar-benar pergi dari hidupku. Aku tak ingin dia pergi untuk kedua kalinya dariku. Aku tak ingin kehilangan ayah untuk kedua kalinya. Aku sangat ingin mempunyai seorang ayah.
"Appa," kukerahkan semua sisa tenaga yang kumiliki untuk memanggilnya. Seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya, ayahku diam tak bergerak.
"Ka...kau... kau memanggilku apa?"
"Gajima, appa?" kali ini aku percaya bahwa apa yang harus kulakukan hanyalah jujur. Yang perlu kulakukan hanyalah jujur bahwa aku memang membutuhkannya.
"Mi...min...gyu?"
"Appa, jebal gajima."
.
.
.
Sudah satu minggu aku berada di rumah sakit, dan selama itulah aku tidak berangkat ke sekolah. Walaupun aku tidak menginjakkan kakiku di sekolah selama satu minggu, tapi teman-temanku yang sudah berbaik hati selalu menyalinkan catatan dan memberitahuku setiap ada tugas maupun ujian.
"Mingyu-ya, dimana kingka sekolah yang menakutkan itu pergi?" Hansol menatapku sambil mengejek karena sekarang aku hanya bisa terbaring di atas tempat tidur dan kursi roda jika ingin berjalan-jalan keluar.
"Yah, kau akan melihatnya kalau aku sudah keluar dari rumah sakit," sambil melemparkan tatapan galak padanya aku juga melemparkan buah apel yang ada di keranjang buah yang baru saja mereka bawakan.
"Hansol-ah, jangan main-main dengan Mingyu! Dia bisa menghajarmu seperti yang dilakukannya pada Jooheon," Seokmin menimpali perkataan si bule.
Wonwoo yang sedang mengupas apel di sampingku berhenti sesaat mendengar Seokmin menyebut nama Jooheon. Kugenggam tangannya untuk memastikan kekasihku itu bahwa sekarang ia sudah aman dan tak perlu mengkhawatirkan Jooheon lagi. Dia sudah mendekam di penjara dan satu hal yang membahagiakan adalah bahwa Wonho hyung berjanji ia akan mulai mengawasi Jooheon mulai saat ini. Dengan mengangguk kecil dan tersenyum, aku tahu bahwa Wonwoo mengerti maksudku sehingga ia melanjutkan pekerjaannya.
"Ngomong-ngomong dimana Seungkwan?" Hansol celingukan mencari keberadaan pacarnya itu.
"Baboya, dia pergi tadi."
"Adeura, makanan datang," Seungkwan yang datang dengan muka ceria menjinjing tinggi-tinggi tas plastik berisi makanan. Di sampingnya, Soonyoung hanya tersenyum dan menutup pintu kamar.
"Wah, kebetulan sekali baby, kau datang pada waktu yang tepat... kemarikan makanannya," Hansol memberikan aba-aba pada kekasihnya agar memberikan makanan yang ia bawa padanya. Namun, bukan makanan yang ia dapat malahan lemparan kulit apel dari Seokmin.
"Makan saja kulit apel itu kau bule tukang gombal!"
"Yah hyung! Kau juga lapar kan? Kenapa kau melempar kulit apel itu padaku? aku bukan kelinci hyung," sambil mendengus marah Hansol memalingkan mukanya dan memonyongkan bibirnya.
"Aku tak pernah berkata kalau kau itu kelinci. Kau itu bule, ingat?"
"Aish, haruskah kalian berdua bersikap kekanak-kanakan seperti ini?" Soonyoung yang biasanya tidak pernah mengurusi pertengkaran mereka sekarang bersuara.
"Soonyoung benar. Kalian itu sudah tua, bagaimana bisa tingkah kalian masih seperti anak lima tahun yang bertengkar karena berebut permen?" Seungkwan berkata sambil mengeluarkan makanan dari dalam kantong plastik dan menatanya di meja.
"Dia yang memulainya baby!" telunjuk Hansol sibuk terarah pada Seokmin, persis seperti anak kecil yang mengadukan temannya yang nakal pada ibunya.
"Aigoo, kenapa kau bisanya cuma mengadu bule?" Seokmin kembali mengejek Hansol yang terlihat semakin kesal.
PLAK
Lee Seokmin memegangi kepalanya yang kesakitan karena dipukul Soonyoung.
"Hyung, wae?" tanpa rasa bersalah sahabatku itu menanyai kekasihnya.
"Wae? Hentikan sikap bodohmu! Bantu aku menata makanan ini!"
"Sejak kapan kau jadi seperti ahjumma tukang ngomel seperti ini hyung?"
PLAK
"Mwo? Kau bilang aku seperti ahjumma?"
"Mian... hehehe."
"Hahahaha, rasakan itu hyung. Salahmu sendiri kau menyiksaku, hahahaha," Hansol tertawa melihat Seokmin dipukul berulang kali oleh Soonyoung.
PLAK
"Puahahahahaha, bagaimana rasanya bule?"
"Yah baby, wae?"
PLAK
"Aish, arraseo."
Aku sangat senang sekarang. Semuanya kembali normal, bahkan berjalan lebih baik daripada yang pernah ada. Seokmin sudah kembali ke tim sepakbola sekolah dan mulai sibuk untuk mempersiapkan turnamen yang akan berlangsung sebentar lagi. Selain itu juga, dia sudah mengutarakan perasaannya pada Soonyoung dan sekarang mereka berdua sudah jadian. Aku bahkan tak tahu menahu bahwa sahabatku itu menaruh hati pada temanku yang memiliki eye smile itu. Padahal kan, aku selalu bersama dengannya.
Lain lagi dengan Hansol. Aku sudah menangkap lagat anehnya semenjak kami pergi MT. Aku sudah bisa mencium gerak-gerik mereka yang sedang kasmaran sejak saat itu. Dan benar saja, akhirnya mereka mengakui kalau mereka sudah pacaran sejak sebelum MT. Hm, kedua orang itu. Kenapa mereka tidak pacaran saja dari dulu sehingga Seungkwan tidak perlu menempel-nempel terus padaku.
Karena keempat sahabatku itu sudah mengakui status mereka, aku jadi tidak ragu lagi untuk mengatakan pada mereka kalau aku dan Wonwoo juga pacaran. Aish, akhirnya mereka benar-benar mengolok-olokku karena dulu aku menyatakan kalau aku itu pemuda baik-baik dan tidak gay. Ah senjata makan tuan rupanya. Oh bukan, tapi menjilat ludah sendiri, betapa memalukannya. Tapi, itu semua tak masalah. Selama kami semua bahagia tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Hubunganku dan ayah juga membaik. Aku dan eomma sudah memaafkan kesalahan ayah. Walaupun eomma dan ayah sudah bercerai, tapi aku bersyukur karena ayah sudah mendapatkan kebahagiaan yang ia cari selama ini. Karena melihat ayah yang bahagia itulah, aku menyarankan agar eomma segera mencari pasangan. Sudah cukup selama ini beliau menderita dan kesepian, tak ada salahnya mencari suami baru.
"Hm, ngomong-ngomong bagaimana dengan acara ulang tahun sekolah?" Wonwoo tiba-tiba berkata membuyarkan semua lamunanku.
"Ah, iya. Aku hampir saja lupa. Waktunya tinggal dua minggu lagi."
TBC
