Title : Honey
.
Author : pinkypapers a.k.a Kika a.k.a Lee Tae Min's yeojachingu a.k.a Kim Hee Chul's concubine a.k.a Jung Yun Ho's second wife *killed by Taemints, Petals and Kim Jae Joong* XD
.
Disclaimer : The story idea belongs to Yutaka Tachibana, this story belongs to me, Kyuhyun belongs to Sungmin and Sungmin belongs to Kyuhyun.
.
Main Cast :
Lee Sung Min [Super Junior] as yeoja 23 years old
Cho Kyu Hyun [Super Junior] as namja 17 years old
Kim Hee Chul [Super Junior] as yeoja 17 years old
Lee Dong Hae [Super Junior] as namja 16 years old
Han Geng | Tan Han Kyung [Super Junior] as namja 17 years old
.
Sub Cast :
Choi Si Won [Super Junior] as Sung Min's ex-boyfriend (death character)
Sandara Park | Dara [2NE1] as Sung Min's friend
Hee Soong [OC] as Sung Min's friend
Hye Myung [OC] as Sung Min's friend
Jung Suk [OC] as Sung Min's friend
.
Main Pair : KyuMin [Kyu Hyun – Sung Min]
.
Genre : Romance, School life, a bit Humor, Drama, Slice of Life, Angst, Hurt/Comfort
.
Rating : T
.
Warning : Gender Switch; Cover Story; A bit cheesy; Bad Language; Typo
.
Summary :
Kyuhyunmenyadari keanehan tingkah laku sang guru perawat, Sungmin.Tidak kuat menerima kenyataan bahwa kekasihnya telah tiada, Sungmin mengalami shock yang membuatnya sampai kehilangan suara. Lalu, tindakan apa yang diambil Kyuhyun, yang sebenarnya ingin menghancurkan hubungan "Guru dan Murid" antara dirinya dan Sungmin? Bagaimana jadinya hubungan mereka berdua?
.
Note : Hanya sebuah remake fanfiction dari Manga Honey by Yutaka Tachibana. Dedicated for all KyuMin shipper ^-^ Cast akan bertambah seiring jalan cerita. Just repost 1-16 chapter.
.
Background Music : Super Junior (슈퍼주니어) K.R.Y feat. Super Junior's Sungmin (성민) & Donghae (동해) - In My Dream (잠들고 싶어)
.
Happy Reading and of course, please left a comment or thumb/kudos and NO BASHING & COPAST!
.
.
CHAPTER THIRTEEN
Ruang kesehatan yang biasanya berisik kini hening. Sang penghuni tetapnya─Sungmin─hanya duduk diam dibalik meja kerjanya. Matanya kosong. Wajah aegyo yang biasanya selalu ceria kini tak menampakkan emosi apapun.
Didalam pikirannya hanya ada satu nama.
Choi Siwon.
Entah kenapa kali ini Sungmin tidak bisa mengontrol dirinya seperti yang sudah dilakukannya selama tiga tahun ini.
Bayangan kenangannya bersama Siwon terus berkelebat dibenaknya. Seakan-akan menyeretnya ke lautan kesedihan yang tak berujung.
Memaksanya membuka mata untuk melihat sebuah fakta─yang tak mampu ia terima selama tiga tahun terakhir.
Fakta bahwa namja yang sangat dicintainya memang tak berada lagi disampingnya. Dan tidak akan pernah kembali. Sama seperti kedua orang tuanya.
.
Ini hari ketiga Sungmin resmi mengenakan seragam SMA khusus putri. Ia memilih sekolah khusus putri karena ia sudah lelah menjalani kehidupan normal disekolah reguler. Setiap hari ada saja namja yang berdiri didepan rumahnya atau sekolahnya, hanya sekedar menggodanya, memberinya hadiah atau sekedar mengajaknya berkenalan.
Ia melangkahkan kaki masuk ke sebuah perpustakaan besar didekat sekolahnya.
Sudah 10 menit Sungmin berusaha mengambil buku yang letaknya di rak atas itu. Tapi tubuh kecilnya sungguh tidak mendukung. Tiba-tiba datang seorang namja tampan bertubuh atletis berdiri disampingnya dan mengambilkan buku yang Sungmin maksud. "Karena badanmu kecil, akan lebih praktis kalau kau punya namjachingu yang tinggi."
"Eh?"
"Misalnya namja yang seperti aku ini."
Sungmin hanya bisa memutar bola matanya mendengar ucapan namja itu. Dia sudah bosan digoda. Tidak mendapatkan respon, namja itu tersenyum lembut padanya, "Namaku Choi Siwon. Panggil saja aku Siwonnie."
Siwon memberikan buku yang tadi diambilkannya untuk Sungmin. "Nih"
"…"
Sungmin tetap diam. Ia malah meremas roknya kesal. Ingin marah tapi ia tidak terbiasa untuk kasar pada orang lain.
"Kau bukannya tidak suka pada manusia kan?"
Mata Sungmin membulat. Apa-apaan maksud namja ini? "Hah?"
Siwon tersenyum melihat respon yang diberikan Sungmin. Ekspresi kekagetannya itu membuat ia ingin sekali menyentuh pipi mulus yang putih itu. Mata foxy-nya yang jernih seakan memiliki kemampuan menenangkan bagi siapapun yang memandangnya.
"Begini.. Bagaimana kalau kau coba jalan denganku?"
.
Donghae melangkahkan kakinya dengan penuh semangat kearah ruang kesehatan. Ia sudah memutuskan untuk tetap memperlakukan Sungmin seperti biasa─seolah tidak mengetahui apa-apa tentang masa lalunya.
Dari awal Donghae memang sudah bertekad untuk mendapatkan Sungmin─yang telah mengobati luka hatinya─walaupun hatinya mendukung Kyuhyun yang notabene adalah rivalnya untuk mendapatkan Sungmin.
Donghae menggeser pintu ruang kesehatan dengan tidak sabar─seperti biasa.
"Sungmin-ah! Pulang yuk! Aku lihat rok yang cocok sekali untukmu di toko! Kita mampir lihat ke sana ya! Terus, kita pergi ke Hands untuk minum teh dan makan dulu baru pu─"
Kehebohan yang dibuat Donghae hanya disambut dengan keheningan pekat. Donghae mengernyitkan dahinya. Sebenarnya apa yang terjadi?
"Sungmin-ah." Panggil Donghae lembut pada Sungmin.
Sungmin tetap tak bergeming dari kursinya, masih menatap kosong dan sama sekali tak terusik dengan suara berisik Donghae.
Donghae melangkah mendekatinya, menurutnya situasi ini sangat mengundang. Tidak mendapatkan respon, ia mencoba memanggilnya sekali lagi.
"Sungmin-ah."
Perlahan Sungmin menatapnya, tapi tak berkata apapun─seakan nyawanya tidak sedang berada ditubuhnya.
Donghae mendekat untuk menciumnya, jarak antara mereka semakin dipersempit oleh Donghae tapi Sungmin tetap tidak menunjukkan reaksi apapun.
DUAGH!
Kali ini ia ditendang lagi, dengan siapa lagi kalau bukan si anjing penjaga─Cho Kyuhyun. "STOP! Dasar namja berotak yadong!"
"Habis situasinya sangat mengundang sih." Donghae duduk di kursi terdekat. "Eh, Sungmin-ah? Hari ini kau pakai make up?"
Setelah terdiam cukup lama, Sungmin menjawab. "Aku selalu pakai." Gumamnya pelan.
"Tapi kok hari ini sedikit lebih tebal?" tanya Donghae polos.
"Kau ini memang namja kurang ajar." Komentar Kyuhyun pedas yang diacuhkan oleh Donghae.
Dengan terburu-buru Sungmin memasukkan mantel putihnya kedalam tas. Seolah berusaha menghindar dari pertanyaan beruntun Donghae. "Ng─nggak begitu ah!"
"Tapi, tetap saja make up-mu itu nggak bisa menyembunyikan bengkak.. bekas menangis diwajahmu dengan sempurna. Apa kemarin ada sesuatu yang terjadi?"
Hening.
Keheningan canggung menyeruak diantara mereka bertiga. Donghae masih diam untuk menunggu jawaban dari Sungmin.
Dibenak Kyuhyun berkelebatan semua scene yang terjadi tadi malam. Yang mampu membuatnya tidak tidur hanya karena tidak bisa mengenyahkan rasa sakit yang mendera hatinya.
"Mereka semua mengatakan hal yang sangat jahat. Katanya Siwonnie sudah tidak ada!"
"Padahal Siwonnie ada disini."
"Padahal luka yang kau dapat demi aku itu masih ada disini."
"Mereka semua pembohong!"
"Mereka semua berbohong dan mengatakan Siwonnie sudah mati."
"Sungmin-ah?" panggil Donghae lagi.
Perlahan Sungmin mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk dan tersenyum getir. "Nggak kok. Nggak ada apa-apa."
Senyum yang menurut Kyuhyun dan Donghae mengerikan. Entah kenapa senyum itu berbeda dengan yang biasa mereka lihat, senyumnya kali ini tampak jelas seperti sebuah kamuflase untuk kepedihan dihatinya.
Senyum itu sama sekali tidak menyentuh matanya.
"Kemarin, aku langsung pulang kerumah begitu selesai mengantar Hankyung ke rumah sakit." Jelasnya lagi. Berusaha menutupi perasaannya yang mendung.
"Hah? Tapi kemarin, Chullie bilang, kau pergi makan bertiga dengan Kyuhyun dan rekan sesama guru."
Sungmin terdiam sejenak lalu senyum kamuflase itu tergambar lagi diwajahnya. "Ah.. Iya iya. Aku pergi makan kare dengan Chullie."
"Sungmin-ah. Bukan begi─"
"Kare yang dibuat orang india memang sangat lezat."
"Sungmin-ah?"
Sungmin terus saja berbicara mengenai hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan kejadian semalam.
Kyuhyun hanya bisa diam. Dan entah kenapa sekalipun Sungmin tidak pernah menatap ke arahnya lagi. Sungmin memperlakukannya seolah-olah dia tidak ada disana.
Dan itu cukup menorehkan luka baru dihati seorang Cho Kyuhyun.
.
.
.
Yeoja yang bernama lengkap Sandara Park itu berdecak kesal didepan pintu rumah Sungmin. "Sungmin masih belum pulang juga? Padahal aku sudah bilang hari ini aku akan datang jam 6 untuk menjemputnya!" keluhnya pada Heechul seraya memainkan handphone touch screen-nya.
Heechul berusaha bersikap sopan karena mengingat yeoja dihadapannya ini adalah teman sekolah Sungmin. Jika tidak, sudah dari tadi ia usir yeoja ini karena berani-beraninya bersikap tidak sopan padanya. "Mi─mian."
"Memangnya guru perawat itu sibuk sekali ya? Terus jam berapa baru dia akan pulang?" tanya Dara tak sabar.
Heechul mengepalkan tangannya. Mencoba menahan amarahnya yang ditahannya sejak tadi. Mana kutahu! Aku sendiri juga bingung kenapa dia belum pulang! Dasar yeoja sialan! Ingin sekali Heechul balas berteriak, tapi diurungkannya lalu ia tersenyum sopan pada Dara. "Entahlah."
Heechul menghela napas panjang seraya melihat jam tangannya. Kemarin juga sama. Dia pulang larut malam diantar oleh Kyuhyun dengan tampang seperti orang yang baru menangis habis-habisan. Kalau tidak hati-hati.. bisa-bisa nanti Minnie akan kembali pada kondisinya seperti waktu itu..
Dara melipat kedua tangannya. "Padahal hari ini aku sudah bertekad untuk menyeretnya ikut apapun yang terjadi."
Heechul tersentak mendengarnya. "Jangan-jangan anda mau pergi goukon?"
Dara memainkan rambutnya sembari menggeleng pelan. "Bukan kok. Cuma reuni biasa dengan anak-anak seangkatan waktu SMP dulu. Selama ini dia selalu absen hadir sih."
"Re─reuni?"
"Yaah.. sebenarnya kali ini juga dia menolak hadir. Tapi karena aku dimintai tolong oleh koordinator reuni. Ada namja-namja yang masih penasaran pada Sungmin dan menyuruhku untuk membawanya ke tempat reuni. Bukannya ini kesempatan yang baik? Siapa ya namanya? Namja pacar Sungmin waktu zaman SMA dulu, yang tubuhnya atletis itu." Dara terdiam sejenak. "Oh iya.. Choi Siwon.. Karena namja yang namanya Siwon itu sudah meninggal jadi mere─"
"Ja─jangan ajak Minnie hanya karena alasan seperti itu dong! Dasar office lady pabboya!" bentak Heechul kasar. Sungmin sama sekali tidak boleh mendengar apapun tentang Siwon. Kalau sampai salah satu saja dari mereka membicarakan Siwon dihadapan Sungmin, bisa-bisa Sungmin kembai hancur seperti dulu.
"Ya! Aku cuma dimintai tolong saja kok! Lalu orang yang minta tolong padaku itu sekarang sudah pergi menjemput Minnie ke sekolah tempat kerjanya!"
.
.
.
Sungmin tetap diam selama perjalanan pulang walaupun dibelakangnya Donghae dan Kyuhyun mengikuti─layaknya bodyguard. Pandangan matanya tetap kosong. Tiba-tiba ia berhenti melihat poster. Poster sebuah tour melihat matahari terbit.
"Hng? Ada apa Sungmin-ah? Sungmin-ah, kau mau jalan-jalan? Apa boleh buat deh. Aku akan cari kerja part-time dan mengajakmu pergi jalan-jalan. Kau mau kemana? Gimana kalau kepantai di pulau Jeju? Aku ingin lihat Sungmin -ah dengan baju renang."
Cerocosan Donghae hanya dianggap angin lalu oleh Sungmin. Hanya Kyuhyun yang menyadarinya─tatapan mata Sungmin yang tadinya kosong berubah setelah melihat poster itu. Apa hubungannya poster itu dengan masa lalunya?, batin Kyuhyun.
"Sungmin! Akhirnya ketemu juga." sapa seorang yeoja yang berpenampilan seperti business woman. Dibelakangnya tampak seorang namja dan beberapa orang yeoja yang sepertinya juga mengenal Sungmin.
"Waah! Kau tetap nggak berubah ya." Sambung yeoja yang menyapanya tadi.
"Ah iya benar Soongie! Kita-kita ini sudah nggak bisa jadi tandingannya lagi nih." Balas yeoja yang berdiri dibelakangnya sembari tersenyum menatap Sungmin yang tidak berubah sama sekali sejak beberapa tahun yang lalu.
"Ya apa boleh buat Hye Myung. Sungmin ya memang seperti ini deh." Jawab Hee Soong lalu ia melirik namja yang berdiri dibelakangnya dengan malu-malu. Dengan cepat ia mendorong namja itu kearah Sungmin.
"Begini nih, hari ini kami datang menjemputmu. Waktu acara kumpul-kumpul yang terakhir kali itu, kau kan nggak datang. Jung Suk dan kawan-kawan jadi kesepian tuh! Ayo sana!"
Namja yang bernama Jung Suk itu terlihat gugup dihadapan Sungmin. "Su─sudah lama nggak ketemu ya Sungmin."
"Oh annyeong haseyoJung Suk-ssi." Gumam Sungmin pelan seraya membungkukkan badannya sopan.
Jung Suk menunduk. Sama sekali tidak punya nyali untuk menatap Sungmin. "Mianhae. Tiba-tiba datang seperti ini. Tapi apa hari ini kau benar-benar nggak bisa datang? Kalau kau nggak keberatan ayo kita pergi sama-sama."
Jung Suk mengangkat kepalanya, menunggu respon Sungmin. Tapi yang didapatnya hanyalah deathglare dari kedua 'anjing penjaga' Sungmin yang membuatnya ciut seketika.
"Mian." Jawab Sungmin lirih.
"Sungminnie, anak-anak itu mereka apamu?" komentar yeoja bernama Hee Soong itu dengan nada bercanda lalu melirik Kyuhyun dan Donghae yang berdiri dibelakang Sungmin dengan tatapan iri.
"Dari dulu, kau selalu saja dilayani namja-namja cakep! Benar-benar nggak berubah. Hanya karena cantik, kau bisa lakukan apapun tanpa kesulitan. Padahal kau beken, tapi malah benci namja sehingga meneruskan ke SMA khusus yeoja. Nggak tahunya, disana kau malah pacaran dengan mahasiswa yang jangkung itu. Kabarnya hubungan kalian sangat baik, sehingga otomatis kami mengira kalian akan melanjutkan sampai jenjang pernikahan. Kalau nggak salah namanya Choi Siwon ya? Benar-benar sangat disayangkan. Dia meninggal karena kecelakaan akibat dam yang rusak kan? Tapi syukurlah, kelihatannya kau baik-baik saja. Kalau dipikir-pikir, kejadian itu sudah 3 tahun lebih berlalu. Nggak pada tempatnya kau terus memi─"
Mendadak, ocehan Hee Soong dihentikan oleh tangan Donghae. Donghae tersenyum penuh pesona yang mampu meluluhkan Hee Soong saat itu juga tanpa perlawanan berarti. "Tunggu sebentar."
"A─Apa?" jawab Hee Soong dengan wajah memerah.
"Bisa tolong diam sebentaaar saja?" ujar Donghae dengan nada genit yang profesional (?)
"Ke─kenapa?"
"Bisa-bisa nanti aku jadi benci noona lho."
Dibalik senyuman genitnya, Donghae benar-benar khawatir dengan keadaan Sungmin. Ia ingat sekali kata-kata Heechul kemarin.
"Minnie tidak boleh mendengar apapun tentang kematian Siwon oppa. Bukannya aku ingin menutup-nutupinya, tapi aku tidak mau dia bunuh diri. Selama ini ia berusaha menutupi kenyataan pahit itu. Sampai sekarang ia masih belum bisa menerimanya."
Sementara Donghae mengurus yeoja itu, Kyuhyun menatap cemas pada Sungmin yang kini diam mematung. Airmatanya tak berhenti sejak tadi.
"Seonsaeng?" Kyuhyun mencoba menyentuh lengannya tapi dengan cepat ditepis oleh Sungmin.
"Ha.. aa.. u.. uu.." Kepedihan mengoyak hati Sungmin saat ia mendengar tentang Siwon. Tentang fakta kematiannya.
"Suara anda?" Kyuhyun memegang kepalanya frustasi. "Kehilangan namja itu.. membuat anda sedemikian terpukul, sampai-sampai kehilangan suara?"
.
Sungmin duduk sendirian dirumah duka. Rasanya ingin sekali ia menyusul kedua orang tuanya yang kini telah meninggalkannya sendirian. Kecelakaan yang merenggut nyawa orang tuanya dan menyisakan kepedihan mendalam dihatinya.
Ingin ia memaki Tuhan atas permainan takdir yang menimpanya. Kenapa hanya dirinya yang selamat. Kenapa Tuhan tidak membiarkannya bersama orang tuanya sampai akhir. Entahlah. Ini terlalu berat untuknya.
Bahkan kulitnya tak mampu merasakan dingin yang menusuk. Seakan-akan ia tidak sanggup bahkan hanya untuk bernapas.
"Setelah ini, bagaimana jadinya dengan anak itu?"
"Bukannya dia akan pergi kerumah harabeojinya? Kabarnya, keluarga harabeojinya itu sangat kaya raya."
"Bagaimana ya? Harabeojinya itu bahkan nggak hadir dipemakaman putri dan menantunya sendiri lho."
"Eh kalau begitu.. sekarang Sungmin sebatang kara?"
Sungmin menulikan pendengarannya. Ia tidak ingin mendengar apapun lagi tentang kata-kata orang lain tentang dirinya. Tentang keluarganya.
"Minnie.. Minnie.. Jangan cemas! Chullie ada disini kok. Chullie akan selalu berada disampingmu. Kau nggak akan kesepian." Ucap gadis kecil itu sambil terisak-isak. Ia menggenggam erat tangan eonninya, mencoba menguatkannya.
"Gomawo Chullie."
Sejak hari itu Sungmin bertekad untuk jadi kuat. Ia berusaha bekerja, demi menghidupi dirinya sendiri. Demi Heechul yang selalu menemaninya. Dia berusaha keras agar tidak bergantung pada siapapun.
"Mianhae.. Aku tidak bisa melakukan apapun untukmu." Kata Siwon pelan dengan wajah penuh penyesalan.
"Gwaenchanha."
Sungmin sedikit merasa aneh dengan namja satu ini. Sudah satu tahun berlalu dan selama itu jugalah Siwon diacuhkannya. Tapi dia tetap setia berada disamping Sungmin
Mengungkapkan perasaan sayangnya tapi tidak menuntut jawaban apapun.
Sama sekali tidak berusaha menyentuhnya.
Membiarkan hubungan mereka mengalir pelan tanpa sedikitpun sentuhan.
Hubungan mereka sama sekali tidak jelas. Tapi bagi orang lain yang melihat hubungan mereka, mungkin akan berpikir bahwa mereka memang sepasang kekasih.
Sungmin memasuki rumahnya perlahan. Baru satu minggu ia hidup sendiri. Ia masih tidak terbiasa dengan keheningan pekat yang menyambutnya dirumah. Ia masuk kekamarnya dan terkesiap kaget.
Kamarnya berantakan. Belum sempat ia meminta tolong, dari belakang ia serang oleh seorang namja. Namja yang ia ingat yang cintanya bertepuk sebelah tangan padanya.
.
Siwon menatap nanar pada Sungmin yang kini tengah duduk diranjang rumah sakit dengan tatapan kosong. Penjelasan dokter padanya masih kental ditelinganya. Sungmin mendapat guncangan psikologis yang membuatnya tidak bisa berbicara.
Ia kepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melindungi Sungmin, sejak hari pertama mereka bertemu.Tapi ia merasa gagal. Gagal melindunginya.
Ia melangkah masuk dan tersenyum lembut pada Sungmin, berusaha menutupi kekecewaan mendalamnya. Yeoja yang mengisi hatinya selama setahun belakangan ini tampak menyedihkan. "Min-ah?"
Sungmin tersenyum senang melihat kedatangan Siwon. Ingin sekali ia menyapanya. Tapi ia tidak mampu berbicara. Sungmin hanya dapat menganggukkan kepala dengan imut, berharap Siwon mengerti ia sangat senang dijenguk olehnya.
Siwon duduk disamping ranjangnya . Tersenyum penuh pengertian. Tanpa kata-kata ia memperhatikan sosok yeoja yang kini tengah menatapnya bingung. Setelah agak lama, ia memberikan sebuah boneka bunny kecil yang diletakkannya dikepala Sungmin.
"Itu buatmu. Kiriman buat si sakit. Nah aku pergi dulu. Mulai sekarang, aku yang akan melindungimu Min-ah."
Wajah Siwon sontak berubah saat ia menutup pintu. Dari tatapan lembut menenangkan berubah menjadi tatapan yang siap membunuh siapa saja. Kali ini ia harus membuat perhitungan kepada namja yang berani menyentuh Sungmin-nya.
Sungmin masih sibuk memainkan boneka yang tadi diberikan Siwon padanya. Tidak tahu bahwa sang pemberi boneka kini hampir membunuh namja yang kemarin menyerangnya. Tidak tahu bagaimana perasaan namja berlesung pipi itu saat melihat kondisinya.
Tidak tahu betapa besar rasa sayang Siwon kepadanya.
"Minnie!" Sungmin menoleh kearah Heechul. Yeoja itu kini tengah menangis sesenggukan. Lalu dengan cepat ia menarik Sungmin keluar untuk menemui Siwon yang kini duduk dikoridor rumah sakit.
Sungmin menjatuhkan dirinya disamping Siwon. Wajah mulus namja itu kini dihiasi bekas-bekas pukulan. Belum lagi lengan kirinya yang terus meneteskan darah akibat luka sayatan.
Tapi wajah Siwon menatap lembut pada Sungmin yang tengah menangis seraya berusaha berbicara padanya dengan bahasa isyarat yang mampu ia gunakan.
"Aku sudah nggak apa-apa. Kau nggak usah minta maaf Min-ah. Hanya karena dilahirkan dengan kelebihan fisik, bukan berarti semuanya akan jadi mudah. Kalau yang ada disekelilingmu cuma namja-namja macam dia, nggak heran kau jadi nggak bisa percaya pada namja. Aku berusaha menjadi namja yang bisa kau andalkan. Makanya aku mencoba pelan-pelan mendekatimu. Tapi aku terlalu lamban, dan malah nggak bisa apa-apa saat kau sangat membutuhkan pertolongan. Begini.. sekarang memang nggak mungkin. Aku akan menunggumu sampai kapanpun. Suatu saat nanti, apa kau mau mengizinkanku berdiri disampingmu?"
4 tahun berlalu sejak hari itu. Saat itulah Choi Siwon resmi menjadi namjachingu dari Sungmin, tepat pada saat pemberitahuan penugasan dirinya keluar negeriVietnam.
Hari-hari Sungmin kini lebih berwarna dengan adanya Siwon disampingnya.
Tapi 5 hari setelahnya, Sungmin mendapati Heechul yang tengah menangis menggenggam telepon ditangannya karena kabar kematian Siwon.
Satu-satunya hal yang ia takutkan telah terjadi. Ia harus kehilangan orang yang disayanginya, ia kembali seorang diri.
.
"Dasar namja nggak berguna! Mati saja kalian sana!" bentak Heechul kasar pada Kyuhyun dan Donghae. "Mengawasi Minnie saja kalian tidak bisa! Sekarang cepat cari dia!"
"Mian.." jawab Donghae sambil berusaha mengatur napasnya yang memburu.
"Sekarang ini Minnie bukan Minnie yang biasanya! Minnie itu setengah mati berusaha melupakan kematian Siwon oppa! Cepat cari dia sebelum semuanya terlambat!"
Situasi makin menegang diantara mereka bertiga. Heechul sudah tak mampu meredam kepanikannya─takut Sungmin kembali seperti dulu lagi.
Kyuhyun pun tak kalah paniknya dengan Heechul dan Donghae, namun ia masih bisa mengontrolnya emosinya dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan dimana Sungmin saat ini.
"Pokoknya, kita berpencar mencarinya!" komando Kyuhyun tegas.
"Aku akan cari ke sekitar rumah mantan namjachingunya Sungmin-ah! Chullie, beritahu aku alamatnya!" sahut Donghae seraya menarik tangan Heechul.
"Ne. Oh ya, Kyuhyun. Minnie nggak akan kembali kerumahnya. Tadi aku keluar rumahnya dengan mematikan semua lampu. Sekarang sudah hampir malam, jadi Minnie nggak akan mungkin bisa masuk dengan keadaan gelap begitu." Ujar Heechul terburu-buru─karena ditarik Donghae.
Tiba-tiba Kyuhyun mengingat saat Sungmin memandangi sebuah poster dengan tatapan sendu─sesaat sebelum yeoja yang mengaku teman SMPnya itu menyapa. Poster tour melihat matahari terbit.
"Chullie, beritahu aku dimana Sungmin pernah melihat matahari terbit bersama namja itu."
Heechul membeku. Kenangan bersama Siwon dan Sungmin disebuah pantai─tepatnya di Busan─terlintas. Hari terakhir dia─dan Sungmin─bertemu dengan Siwon.
"Pergi lihat matahari terbit yuk!" ajak Siwon dengan penuh semangat pada Heechul yang masih setengah sadar dari tidurnya. Heechul membuka matanya dengan malas. Namja bertubuh atletis yang kini resmi menjadi namjachingu Sungmin itu kini sudah berada dihadapannya dengan mengenakan tuxedo lengkap.
Tuxedo lengkap di pagi hari seperti ini? Benar-benar namja gila kerja, batin Heechul.
"Shireo oppa. Aku ngantuk. Pergi saja sana sama Minnie."
Merasa tidak menerima penolakan, dengan sigap Siwon menggendong Heechul yang masih mengenakan piyama kemobilnya─dimana Sungmin sudah menunggu dengan manis.
Perjalanan selama 15 menit terasa sangat singkat bagi Heechul─yang tertidur di jok belakang. Dan lagi-lagi tidur cantiknya mulai diusik lagi oleh suara merdu sang calon kakak ipar.
"Ya! Chullie-ya. Ayo kita turun. Sudah sampai." Kata Siwon seraya membukakan pintu mobilnya untuk Sungmin layaknya seorang tuan putri.
"Oppa.. ngantuk nih. Biarkan aku tidur dimobil. Huh Oppa persis seperti ajeosshi-ajeosshi cerewet." gerutu Heechul sambil mengeratkan pelukannya keguling yang tidak sengaja terbawa saat Siwon menggendongnya.
Siwon menggembungkan pipinya dan memilih untuk meninggalkan Heechul di mobil. Ia menggamit tangan Sungmin. Mereka berjalan mendekati pantai sambil menunggu matahari terbit.
"Wonnie, sebenarnya ada apa? Kenapa pagi-pagi begini? Kenapa kau pakai tuxedo segala?" tanya Sungmin bingung. Sesekali angin yang berhembus dari arah pantai membelai lembut rambut hitam panjangnya.
Siwon melepaskan genggaman tangannya pada Sungmin. Ia berdiri menghadap pantaimembelakangi Sungmin seraya menyelipkan tangannya kedalam saku celananya. "Aku ditugaskan ke Vietnam."
Kecemasan menyeruak secara tiba-tiba kedalam hati Sungmin. Siwon sudah sering sekali pergi keluar negeri karena hobinya travelling. Seharusnya ia sudah terbiasa, mengingat Siwon pasti akan kembali kesampingnya. Lengkap dengan senyum lembutnya.
Entah kenapa kali ini rasanya berbeda. Sungmin menatap punggung kekasihnya itu tanpa bernapas, "Eh.."
"Aku akan kesana sebagai salah satu anggota tim pengawas. Perusahaanku sekarang sedang membuat dam disana. Aku nggak tahu kapan akan bisa kembali ke Seoul."
"Ja.. Jangan."
Mendengar penolakan dari kekasihnya, dengan cepat Siwon berbalik dan tersenyum mengejek. "Hng? Kenapa kok 'jangan'? Bukannya kita ini cuma teman biasa?" rayu Siwon pada yeoja yang resmi menjadi kekasihnya tiga hari yang lalu ini.
Semburat merah mulai terlihat jelas dipipi putih Sungmin. Membuat Siwon yakin ia akan sangat merindukan semburat merah itu selama beberapa minggu ini. "Walau pergi kesana, 3 minggu juga aku sudah kembali lagi, Jagiya."
"Kau bohong eoh?" rajuk Sungmin. Ia mempoutkan bibirnya plumpnya.
Siwon tersenyum gemas dan merengkuh tubuh Sungmin kepelukannya. Mencium puncak kepalanya dengan penuh sayang. "Min-ah, coba bilang dong. Kenapa kau nggak mau aku pergi? Coba bilang, Jagiya."
Sungmin membenamkan wajahnya didada bidang Siwon. Ingin sekali ia menahannya untuk pergi. Tapi ia sungguh malu mengatakannya. Mereka baru resmi berpacaran 3 hari dan ini pengalaman pertamanya.
Sifat yang wajar bagi gadis sepolos Sungmin, tapi ia tidak tahu bahwa ini akan menjadi penyesalan terbesarnya di suatu hari nanti.
.
.
.
Sungmin menatap nanar pada hamparan laut biru dihadapannya. Disini adalah tempat terakhir kali ia memeluknya─Siwon. Kakinya sudah tak mampu menopang berat tubuhnya.
Ia hempaskan tubuhnya ke pasir putih yang menjadi saksi bisu─tiga tahun yang lalu. Saksi bisu saat Sungmin tidak mampu mengucapkan kata-kata apapun untuk menahannya pergi dan sebuah kalimat yang menggambarkan betapa cintanya ia pada namja berlesung pipit itu.
"A..Aku.. hiks.. Saranghae.. Siwonnie." Ucap Sungmin terisak-isak. Tangannya meremas pasir putih dengan kuat, ia sungguh menyesal. "Saranghae.. Siwonnie.. hiks kembalilah.. untukku."
Tangisnya tumpah. Tangis yang sudah ia tahan selama tiga tahun ini. Kepedihan seakan mengoyak-ngoyak hatinya.
Kepergian Siwon benar-benar sudah merampas keinginannya untuk hidup. Ia merogoh jimatnya dengan kalut. Mengeluarkan perbannya─tepatnya perban yang pernah digunakan Siwon. Ia cium dengan penuh sayang, seolah menumpahkan segala perasaannya pada perban itu.
"Itu adalah perban yang dikenakan namja itu.. pada luka yang didapatnya karena melindungi anda ya." Kyuhyun sudah berdiri beberapa langkah dibelakang Sungmin, rambut cokelat karamelnya sedikit berantakan akibat tertiup angin.
"Sudah kucari-cari dari tadi. Mereka semua mengkhawatirkan anda. Pulang yuk seonsaeng." Ujar Kyuhyun dengan nada lembut yang sangat menenangkan. Sedikit mengabaikan hatinya yang terenyuh melihat kondisi Sungmin saat ini, yang merasakan cemburu pada namja itu dan yang ingin sekali memilikinya.
"Ah! Itu dia!" Donghae menyusul dari belakang bersama Heechul.
Heechul berlari mendekati Sungmin, melewati Kyuhyun yang berdiri beberapa langkah dibelakang Sungmin, "Syukurlah, aku cemas se─"
"Atau.. anda masih mau lari lagi?" tanya Kyuhyun dingin.
Donghae menarik kerah baju Kyuhyun dengan geram, "Neo! Apa maksudmu? Kau ngerti apa yang barusan kau bicarakan? Jawab!"
Kyuhyun masih tetap menatap Sungmin dengan tatapan dinginnya, tak menghiraukan Donghae yang siap memukulnya kapan saja. "Kalau memang anda nggak punya keberanian untuk menghadapi kenyataan, silahkan saja anda terus melarikan diri."
BUGH!
Tinju Donghae menghantam rahang Kyuhun dengan keras─membuat namja itu terjungkal ke hamparan pasir putih dibawahnya. Donghae menatap Kyuhyun─yang menghapus darah disudut bibirnya─dengan geram. Bagaimana bisa seorang Kyuhyun yang dihormatinya─dan diakuinya─sebagai rival yang seimbang untuk mendapatkan Sungmin berbicara seolah-olah tak mengerti apa yang dirasakan Sungmin? "Dia melarikan diri bukan karena memang ingin lari kan? Kau pikir gimana susahnya terus hidup sambil menanggung luka yang terus berdarah-darah? Namja berdarah dingin sepertimu nggak mungkin bisa mengerti! atau─"
"Sudahlah Donghae! Daripada itu lebih baik bantu aku bawa Minnie." Heechul beranjak pergi dari tempat itu untuk mencari taksi sedangkan Donghae berusaha menenangkan Sungmin yang dari tadi tak bergeming sedikitpun. Kalimat-kalimat Donghae hanya dianggap angin lalu─tak mendatangkan respon apapun dari Sungmin.
Kyuhyun tahu, saat ini Sungmin sudah sampai batasnya. Ia mungkin akan seperti itu sampai Siwon yang datang untuk menenangkannya.
Tapi apa yang bisa dilakukannya? Membangkitkan orang yang sudah matikah? Kyuhyun menatap penuh arti ke lengan kirinya yang diperban.
Lengan kiri.
Luka sayatan.
Darah yang terus menetes.
Ingatannya kembali pada malam itu─saat Sungmin memanggilnya dengan nama namja itu. Membuat ia ingat bagaimana jantungnya tak ingin berdetak lagi, dihantam rasa sakit yang menyerang dari hanya sebuah panggilan 'sayang' Sungmin pada namja itu yang malah ditujukan padanya.
Tapi apa artinya rasa sakit karena cemburu dibandingkan dengan rasa sakitnya saat ini melihat malaikatnya tak berdaya─seolah hanya tubuh tanpa jiwa.
Dengan cepat ia membuka perbannya, menampakkan segaris luka sayatan yang belum menutup sempurna. Luka itu masih basah─karena belum genap berumur 24 jam.
Ia meneliti ke sekitarnya, berusaha mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membuat luka itu 'hidup' kembali. Jika memang ini satu-satunya cara untuk mendatangkan respon dari Sungmin, dengan senang hati akan ia lakukan.
Kyuhyun meraih sepotong kaca kecil, lalu menggoreskan kaca itu tepat diatas lukanya tadi. Sakit? Apa kalian bertanya bagaimana sakitnya?
Kyuhyun terlalu mencintai Sungmin dibanding seluruh rasa sakitnya saat ini. Tak satupun suara keluar dari bibirnya. Bahkan meringis pun tidak─seakan syaraf-syaraf kulitnya sudah lumpuh.
Darah mulai menetes dari ujung jarinya, lengan yang tadinya berwarna putih itu kini sudah terlukis beberapa garis merah─aliran-aliran darah─yang berujung ke jarinya. Luka ini telah memberikannya jawaban─untuk selalu berusaha melindungi Sungmin. Dengan lengan itulah ia merengkuh Sungmin, berharap bahwa Sungmin akan sadar dari shocknya.
"Silahkan saja kalau anda mau lari, dan terus lari. Silahkan saja, bahkan sampai anda nggak punya tempat lagi untuk bisa lari. Kalau luka seperti ini bisa membuat anda merasa tenang, aku nggak keberatan bila harus terus menorehkan luka ini. Kami selalu disampingmu."
Mata foxy itu kini membulat lebar. Pelukan Kyuhyun dan luka sayatan dilengan kirinya seakan menariknya kembali kealam nyata─dimana semua orang yang disayanginya sudah pergi meninggalkannya. Tapi ada sedikit rasa aman dipelukan Kyuhyun─pelukannya seolah menjanjikan bahwa dia tidak akan meninggalkannya sendirian lagi.
"Semua.. se.. mua.. orang yang penting bagiku sudah hilang! A.. ku.. aku nggak mau sendirian lagi. Kenapa.. selalu aku yang ditinggal sendirian? Padahal Siwonnie bilang akan selalu disampingku.. padahal.. sudah janji.. padahal.. dia bilang suka padaku. Padahal aku selalu menunggu.. Kumohon.. Jangan biarkan aku sendirian lagi.." ucapan Sungmin yang terisak-isak membuat hati Kyuhyun terenyuh.
Tapi ia pastikan kali ini ia yang akan menjaganya. Ia mengeratkan pelukannya pada Sungmin, seolah membiarkan yeoja itu melepas semua beban yang ditahannya selama tiga tahun. Menggantikan posisi Siwon tidaklah terlalu buruk jika harus dibandingkan melihatnya yang seperti ini.
.
.
.
"Begitu ya.. jadi Minnie punya masa lalu seperti itu. Kasihan sekali Minnie." Komentar Hankyung setelah mendengar ceritanya dari Heechul.
Heechul menyelipkan tangannya kedalam saku roknya. "Tapi berkat kejadian itu, akhirnya dia bisa lepas dari Siwon. Tapi.. Aku jadi merasa, aku sendiri nggak cukup kuat untuk menyokong Minnie. Dan pemikiran itu membuatku jadi agak kesepian."
Hankyung menatap Heechul dalam. "Kau ngomong apa sih Chullie? Waktu orang tuanya meninggal, yang membuat Minnie bisa bangkit kembali, bukan karena Siwon tapi karena ada kau sebagai keluarga terdekatnya kan?"
Kalimat menenangkan dari Hankyung membuat semburat merah mulai terlukis diwajah arrogantnya. Sudut bibir Heechul terangkat. "Mungkin ya."
Hankyung tersenyum. Baru kali ini ia melihat senyuman di wajah Heechul yang memang benar-benar ditujukan untuknya. Membuat hatinya bergetar karena perasaan bahagia yang tak terlukiskan. "Iya kan. Ngomong-ngomong, nggak apa-apa nih. Kok sekarang kau ada disini? Nggak ketempat Minnie?"
"Nggak apa-apa kok. Pokoknya, sekarang ini satu masalah sudah selesai. Minimal, aku harus memberinya sedikit kebebasan. Eh tapi apa kabar dengan Kyuhyun ya?" Heechul terdiam sejenak.
"Hmm, aku pergi dulu ya Hankyung. Terima kasih sudah menemaniku."
.
.
.
Sungmin membalut lengan Kyuhyun dengan penuh sayang. Diwajahnya terlukis senyuman lembut seperti biasanya. Membuat Kyuhyun ingin selamanya berada diposisi seperti ini─duduk dihadapan Sungmin dengan akses yang terbuka lebar untuk melihat senyumnya.
Ia pandangi mata foxy itu yang kini dengan telaten memperhatikan detail perbannya, rambut hitam halus yang tergerai indah dan bibir semerah plumpnya yang mengulum senyum.
"Kyuhyun, diluarnya kau kelihatan seperti orang yang berkepala dingin. Tapi sebenarnya kau bisa melakukan hal-hal yang mengejutkan dengan tenang ya." Ujar Sungmin canggung tanpa mengalihkan pandangannya dari lengan Kyuhyun yang sudah selesai diperbannya sedari tadi.
Entah kenapa Sungmin merasa sangat malu hanya untuk menatap wajah stoic Kyuhyun setelah kejadian dipantai tempo hari.
Kyuhyun tercekat. Ia tidak tahu harus bilang apa. Dari tadi ia terlalu sibuk memandangi wajah Sungmin sehingga otaknya sedikit membeku. "Mianhae."
"Kenapa kau minta maaf? Kau kan nggak salah! Jangan minta maaf dong!" kata Sungmin dengan nada tinggi. Bukannya dia yang menyusahkan Kyuhyun hingga sampai seperti ini?
"Lalu kenapa anda marah?" tanya Kyuhyun mulai kesal. Maunya gimana sih..
Sungmin menatap sepasang mata onyx itu dengan canggung. Semburat merah mulai terlukis diwajah Sungmin, "Mianhae. Ini semua salahku kan? Tapi kau jangan melakukan hal seperti itu lagi ya. Aku.. mengerti sekali bagaimana perasaanmu."
DEG
DEG
Kyuhyun membeku. Jantungnya berdegup makin cepat. Apa ini tandanya Sungmin mengerti perasaan Kyuhyun yang sangat mencintainya?
Sedangkan didepan pintu ruang kesehatan, Donghae dan Heechul dengan setia menguping pembicaraan mereka. Jantung Donghae pun tak kalah cepat dengan Kyuhyun.
Tadinya ia kesini ingin mengunjungi his lady, tapi melihat suasana Sungmin dan Kyuhyun yang penuh bunga-bunga─bagi Kyuhyun, ia mengurungkan niatnya. Ia juga ingin tahu bagaimana perasaan Sungmin yang sebenarnya pada Kyuhyun─yang sudah begitu berjasa.
Heechul? Tumben sekali yeoja ini terlihat santai. Ia tidak berusaha mengganggu momen KyuMin couple seperti biasanya. Ia hanya berdiri disamping Donghae dengan cuek sambil mengunyah permen karet sugar freenya. Sepertinya ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya dengan couple itu.
"Pe..ra..saanku?" hanya itulah yang mampu dikatakan Kyuhyun dengan kondisi jantungnya yang sudah tidak karuan.
Sungmin mengangguk pelan, "Aku senang sekali dengan perasaanmu itu."
Kata-kata Sungmin membuat wajah stoic itu memerah. Apa ini tandanya Sungmin menerimanya? Demi apapun, rasanya bahagia sekali mendengarnya.
"Seonsaeng.. Aku.." Kyuhyun tak mampu lagi meredam rasa bahagianya, tangannya bergerak untuk memeluk Sungmin dan tiba-tiba Sungmin berteriak kegirangan seperti seorang ajumeoni yang mendapat arisan.
"AKU SENAAAANG! MURIDKU MEMIKIRKAN AKU SEBAGAI GURUNYA SAMPAI SEPERTI INI! KYAAA!"
Kyuhyun membatu. Hatinya hancur seperti baru saja dijatuhkan dari atap apartemen berlantai 13.
Sedangkan Donghae berusaha membungkam mulutnya agar tidak tertawa keras. Ia bisa membayangkan bagaimana perasaan Kyuhyun yang tadinya sudah berharap Sungmin akan membalas perasaannya. Ingin sekali ia tertawa habis-habisan melihat ekspresi Kyuhyun yang melongo saat ini.
Tapi demi kesopanan dan demi keselamatan dirinya─yang terancam diamuk namja miskin ekspresi itu, ia mengurungkan niatnya.
"Habisnya Siwon oppa saja perlu waktu 5 tahun untuk menjatuhkannya. Nggak mungkinlah, hanya dengan sekejap mata begitu." Komentar Heechul santai.
Semua kembali lagi ketitik awal.
.
.
.
TO BE CONTINUE..
