20 Minutes During Rain

( • )

Fang memperhatikan Boboiboy yang baru keluar dari kamar mandi. Boboiboy mengenakan hoodie hitam milik Fang yang tampak pas di tubuh pemuda itu, padahal hoodie itu kebesaran jika Fang yang memakainya. Rambut pemuda itu tampak basah dan berantakan—Fang baru sadar kalau pemuda itu tidak mengenakan topi dinosaurusnya.

Perfect!—untuk sesaat Fang terpesona.

Suasana di antara keduanya jadi canggung, Fang mengisyaratkan agar Boboiboy duduk di sofa. Fang mengulurkan secangkir coklat panas pada Boboiboy dan duduk di samping pemuda itu.

"Minumlah, itu akan membuatmu merasa lebih baik."

Boboiboy mengangguk pelan, "Terimakasih."

Keheningan tercipta di antara mereka, baik Fang maupun Boboiboy tidak tahu cara membunuh rasa canggung di antara mereka. Mengingat hubungan keduanya yang tidak begitu baik, Boboiboy tidak menyangka dirinya kini berada di tempat tinggal Fang.

Gemuruh petir yang tiba-tiba terdengar di sela-sela keheningan mereka, membuat keduanya terkejut. Barulah mereka sadari jika di luar hujan masih mengguyur bumi dan tak kunjung reda.

"Hujannya akan sampai malam," ucap Fang, "kamu tidak akan bisa pulang jika harus menunggu hujan reda."

Boboiboy diam sejenak sebelum menanggapi ucapan Fang hingga pemuda itu berucap, "Tidak ada rumah untukku pulang."

Fang mengerjap, apa maksud pemuda ini?

"Orangtuamu pasti khawatir," Fang berucap, "setidaknya kabari mereka."

Fang tertegun melihat Boboiboy yang tersenyum tipis dan menatap lurus padanya, jelas terlihat luka di manik mata itu.

"Mereka tidak akan khawatir, Fang."

Kenapa? Fang bertanya dalam hati.

"Karena tidak satupun dari mereka yang peduli."

( • )