.

Monster in Me

Lee HyukJae & Lee DongHae

Rated M .:. YAOI

By : Misshae D'cessevil

.


.:. Monster in Me .:.


.

LubDugLubDugLubDug…

Detak jantung Donghae melebihi batas normal, tubuhnya menegang dan berekeringat, beberapa kali juga ia menghela nafas. Tuan Jung barusaja keluar dari ruangannya, Donghae bukannya tidak suka atau merasa takut pada namja paruh baya itu, ia malah mengartikan sesuatu tak beres telah ia dengar.

"Kenapa mereka semua malah terlihat mendukung pernikahanku, Aish…", Kembali Donghae menghela nafas. Sungguh demi tuxedo mahalnya ini, lebih baik ia dipukuli atau ya Changmin datang lagi dan menendangi seluruh tatanan hall mungkin.

"Ya Tuhan, Aku tidak bisa berpikir, Astaga…", Perasaannya tidak enak, ia baru sadar dari koma dan tiba-tiba sudah dihadapkan dengan hari pernikahan, tidak lucu dan bukan kenyataan yang indah.

"Arghhh… astaga, ayolah…", Tangan Donghae meraih rambut yang telah ditata rapi dan dijambaknya sendiri, keinginan besar untuk menggagalkan acaranya sendiri begitu tinggi.

Tap..Tap..Tap

Seseorang mendekat dan Donghae masih belum bisa berpikir bagaimana caranya menyelesaikan ini.

Cklek

"Tuan sudah waktu—"

BRAKK

'Awww…', Donghae menggeram dalam hati karena kepalanya benar-benar terantuk meja, pura-pura pingsan, not bad.

"Ya Tuhan, Tuan Donghae… Tuan !", Seseorang yang merupakan salah satu orang Sandara ini terlihat panik dengan kondisi Donghae, tangannya mengguncang tubuh Donghae namun tak membuat namja yang pura-pura ini membuka matanya, rencana sialan yang brilliant.

"Omo… omo… omo, Eotokhae…", Pria dengan stelan hitam ini akhirnya keluar untuk meminta bantuan, sedikit lega untuk Donghae membuka mata sebentar dan memikirkan rencana selanjutnya untuk membuat orang-orang semakin yakin jika ini bukan buatan. Andai ia memikirkan ide ini bersama Kyuhyun, mungkin tidak akan rumit dan lebih cepat selesai sedari tadi.

.


.:. Monster in Me .:.


.

TRIIING

Eunhyuk masuk saat seseorang dengan heels tinggi dan kacamata hitam keluar lift.

Tap

"Heh… Jung Eunhyuk ?", Wanita ini berhenti dan membuat Eunhyuk berhenti pula.

"Sandara… Lee ?", Eunhyuk sedikit tak yakin saat dirinya menyapa dengan marga itu, akan tetapi harusnya memang Lee bukan. Keduanya terdiam cukup lama, Eunhyuk memang tidak ada kalimat yang ingin ia ucapkan pada gadis di depannya itu, sedangkan Sandara dengan sangat kurangajar berdecih, ia sedikit menurunkan kacamatanya dan memperhatikan penampilan Eunhyuk dari alas kaki hingga rambut.

"So bad !", Gadis yang terlihat jahat ini berani mengatakan dua kata yang membuat Eunhyuk mengepalkan tangannya. Mengagumkan jika Eunhyuk dapat mengontrol dirinya dan tidak langsung menjambak rambut yeoja di depannya.

"Kau tidak dengar ?", Sandara bertanya seakan menyulut Eunhyuk lebih. Eunhyuk juga sama, kenapa kakinya terasa berat sekali untuk segera pergi dari wilayah laknat ini. Ia menghela nafas sekali dan maju selangkah lebih dekat pada Sandara.

"So bad bukan ?, astaga, kalau berkaca jangan di mataku, Aku bahkan belum mandi dan ughh…", Eunhyuk menutup hidungnya, merendahkan diri sebentar untuk mempersiapkan balasan tajamnya.

"Tapi memang benar sih, lipstick mu sedikit overlap, eyeliner mu meluber dan Aku rasa bedakmu terlalu tebal, ehm… so bad !", Eunhyuk terkikik melihat Sandara yang terlihat percaya dengan ucapannya.

"KAU !",

"Ya Aku ?", Eunhyuk membalas santai, ia tidak akan kalah untuk yang kedua kali dan selama ini memang tidak ada yang anak ini takuti selain Tuhan, Appanya dan hantu.

"KAU !", Sandara maju dan mencengkeram kerah kemeja Eunhyuk.

"DARA, Lepaskan !", Suara seseorang yang sedari tadi masih berdiri untuk memastikan Eunhyuk masuk lift dengan selamat menginterupsi.

"Ini di kantor jika Kau lupa", Donghae mendekat dan melepaskan tangan Sandara dari kerah Eunhyuk.

"Wae ?, Kenapa memperingatiku ?, Dia mengataiku dan Kau membelanya ?", Dara menampik tangan Donghae, wajah yeoja ini terlihat memerah dan mulai berkeringat yang menunjukkan ia tidak suka dengan situasi sekarang. Donghae diam, alasannya jelas kenapa ia membela Eunhyuk, sesalah apapun Eunhyuk ia selalu demikian, akan tetapi bibirnya terkatup tanpa bisa mengeluarkan jawaban kalau tingkah Sandara memang di luar batas.

"Kenapa diam ?", Sandara kembali bertanya dengan nada tinggi.

DUG

"Kau brengsek Donghae !", Sandara mendorong dada Donghae, tanpa mau terlalu berbelit-belit ia memilih meninggalkan dua makhluk yang terlihat saling diam tersebut. Eunhyuk tidak tahu juga harus bersikap seperti apa, tidak mungkin ia berterimakasih pada Donghae, itu hanya cengkeraman dari yeoja, tenaganya bahkan juga lebih kuat dari Sandara, mungkin Donghae sedikit berlebihan dengan membentak istrinya, menurut Eunhyuk.

"Hyung, semua orang menunggumu", Donghae menoleh mendengar suara Kyuhyun memecah keheningannya dengan Eunhyuk.

"Eeh, Hyukkie Hyung…", Eunhyuk yang berada di belakang Donghae tertangkap oleh mata Kyuhyun begitu Donghae bergerak miring.

"Ha—hai Kyu…",

"Wohoo… tambah cantik saja, Bagaimana kabarmu ?",

'Matamu, baru kemarin kita bertemu, Sinting', Dalam hati Eunhyuk.

"Eh Hyung, segera masuk saja, Kau ditunggu Jung Sajangnim", Kyuhyun menepuk pundak Donghae dan anak ini mendekati Eunhyuk.

"Kyu, ant—",

"Aku akan mengantarnya, jadi Aku tidak iku meeting", Kyuhyun memotong kalimat perintah Donghae, anak ini sangat cerdas dan tidak ingin kesalahpahaman terjadi.

"Geure, hati-hati", Kyuhyun melambai begitu Donghae menjauh.

"Ughhh…", Eunhyuk menghela nafasnya panjang.

"Ayo princess, ingin diantarkan kemana ?", Kyuhyun menggandeng lengan Eunhyuk tanpa memperhatikan ekspresi masam Eunhyuk.

"Tidak perlu", Eunhyuk berbalik dan bersiap kembali untuk masuk lift.

"Hei, Kau akan kemana ?", Kyuhyun menahan pergelangan tangan Eunhyuk.

"Ke ruangan Jungsoo Hyung dan Kau jangan ikuti Aku !",

"Keunde Hyung…",

"Apalagi ?", Eunhyuk terdengar ingin cepat-cepat pergi.

"Hyung mu…",

"Kenapa ?", Balas Eunhyuk cepat, gelagat Kyuhyun juga sedikit aneh saat mengatakannya.

"Ternyata… lebih seksi darimu",

BUG

"BRENGSEK !", Eunhyuk mendorong Kyuhyun keluar dan segera menekan-nekan tombol supaya pintu lift segera tertutup, akan tetapi Kyuhyun malah menahan dengan berada di tengah pintu tepat, ia terbahak-bahak dengan keras, ia jujur untuk yang satu itu, Sungmin memang lebih berisi dan menurut Kyuhyun itu seksi.

"Hei, jangan marah… astaga ha..ha..ha perutku",

"Kau keterlaluan Kyuhyun, kalau memang Hyung ku seksi kenapa, Kau suka ?",

"Hmm Aku rasa boleh juga, apalagi Dia hot mother, Aku belum pernah dengan yang lebih tua dariku sih, overall Hyung mu Okay",

BUG !

"Keluar Kau !, Keluar dan jangan menggangguku !", Kembali Eunhyuk mendorong Kyuhyun, momen mereka yang seperti ini tidak pernah bisa berakhir, apalagi setiap bulan Kyuhyun selalu mengunjungi Eunhyuk, mereka benar-benar menjadi dekat dan saling ada untuk sesama.

"Baiklah, Aku akan kembali ke hall, oh iya Hyung…",

"Apalagi Kyu~ ?", Eunhyuk merengek, ia ingin cepat-cepat mandi di ruangan Jungsoo dan terlihat segar, tapi kembali Kyuhyun mencegah pintu untuk tertutup.

"Ngomong-ngomong, Jas itu terlihat hangat Kau pakai, nyaman ya merasakan masa lalu ?",

SEEETT

"FUCK !", Wajah Eunhyuk memerah dengan pertanyaan atau entah sindiran dari Kyuhyun, Eunhyuk langsung melepas dan melempar jas milik Donghae yang tidak disadari masih ia pakai tersebut pada Kyuhyun.

"Ha…ha…ha Hyung, Ayolah… Aku hanya bercanda, tapi wajahmu serius memerah lo",

"Kau brengsek, Kau brengsek…", Eunhyuk berujuar lirih tanpa mau mendengarkan Kyuhyun kembali, kali ini ia mengibaskan tangannya di depan wajah, rasanya sedikit panas dan "Kyuhyun sialan !", Umpatnya setelah ia merasakan lift yang membawanya bergerak turun.

.


.:. Monster in Me .:.


.

"Moni…", Minho yang duduk di pangkuan Jaejoong memanggilnya dengan nada lirih, mungkin ia sadar jika Kakeknya yang ada di depan dan sedang menjelaskan sesuatu tidak akan nyaman dengan suara cemprengnya.

"Iyaa Sayang ?, ingin susu ?", Minho menggeleng, pipinya yang tembam terlihat lucu saat digelengkan.

"Itu… Ahjuci tampan itu telus melihat Minno", Minho sedikit berbisik di telinga sang nenek untuk menyampaikan maksudnya. Jaejoong pun mengikuti arah pandang Minho dan menemukan Donghae di sana. Menyadari Jaejoong tengah menatapnya membuat Donghae sedikit gugup dan membungkukkan tubuhnya, Jaejoong tersenyum menanggapi.

"Mungkin karena Minho tampan", Jaejoong menjawab dan memunculkan kikikan dari anak kecil di pangkuannya.

"Ahjuci itu juga tampan",

"Tampan mana dengan Haraboji ?", Jaejoong bertanya begitu saja, tidak ada maksud lain, mungkin untuk membuat dirinya tidak bosan dengan acara perusahaan seperti ini.

"Ahjuci hi..hi", Jaejoong menutup bibirnya, anak kecil memang begitu jujur, hampir saja ia tertawa keras.

"Ahjushi itu namanya Donghae, Dia orang yang baik",

"Tidak sepelti Ukkie ?", Astaga anak dipangkuannya memang sangat menggemaskan.

"Hmm… Hyukkie kan baik juga, Minho", Minho menggeleng, ia tidak setuju dengan pernyataan Jaejoong, namja cantik itu sering menjewer telinganya, mencubiti pipinya, mengatai gendut, meneriakinya dan masih banyak hal lainnya.

"Tapi Minho sayang kan dengan Hyukkie ?", Anak ini mengangguk dan membuat Jaejoong tersenyum.

Cklek

Seseorang membuka pintu dan membuat sebagian orang mengalihkan pandangan. Mata Minho berbinar melihat sosok namja dengan ikal yang tertata di depan sana.

"KYUNIE AHJUCIII",

Kyuhyun berhenti, ia tahu benar suara anak kecil mana yang memanggilnya keras dan menimbulkan ruangan yang awalnya tenang menjadi sedikit gaduh. Ia yang awalnya masih membungkuk perlahan menegakkan tubuhnya, bukannya melihat ke arah Minho, ia justru melayangkan tatapan ke arah Donghae.

'Mati Aku !', Simpul Kyuhyun begitu ia melihat mata Donghae yang penuh pertanyaan. Nampaknya kali ini ia harus duduk berjauhan untuk bersiap-siap dengan segala macam alibinya.

.


.:. Monster in Me .:.


.

Eunhyuk melilitkan handuknya di pinggang dan keluar dari kamar mandi yang ada di ruangan Jungsoo. Siapapun akan menyebutnya seksi dengan pemandangan ini, ia membiarkan dadanya terekspose di depan Jungsoo tanpa malu. Melihat apel merah yang ada di meja kerja Jungsoo, reflek tangannya mengambil satu.

"Cepatlah berpakaian, tidak menutup kemungkinan orang akan datang ke ruangan ku",

"Selama Aku bekerja tidak ada yang datang kemari kecuali Aku atau Appa", Eunhyuk berbicara santai sembari mengunyah.

"Oh iya, Kenapa Kau tidak kembali bersama Changmin ?",

"Ia mengurusi pamerannya, ia benar-benar menjadi sibuk dan sangat sukses dengan impiannya", Eunhyuk membayangkan betapa Changmin adalah sosok lain selain Kyuhyun yang benar-benar mendukungnya ketika ia terjatuh. Status kekasih, entahlah apa itu masih berlaku yang jelas mereka masih berhubungan seperti dahulu.

"Kau masih menyukainya ?",

"Masih", Respon Eunhyuk lumayan cepat, tangannya menyambar kaos berbulu merah yang telah disiapkan untuknya.

"Serius ?", Eunhyuk menoleh, justru sebagai penanya Jungsoo lah yang menunjukkan wajah tidak serius.

"Hmm… Dia obyek yang pantas untuk disukai, banyak sekali yang mengidolakannya saat masih Tingkat Atas dulu",

"Darimana Kau tahu kehidupan sekolah Donghae ?",

"Apa ?", Eunhyuk terkejut dengan pertanyaan Jungsoo, tidak ada pembicaraan sebelumnya tentang namja itu.

"Ehm ya, Aku menanyakan Donghae bukan Changmin", Wajah Eunhyuk sangat masam mendengar pernyataan Jungsoo.

"Hyung please, kenapa semua orang begitu menyebalkan hari ini",

"Wae, Aku hanya bertanya Hyukkie, kenapa serius sekali", Jungsoo tersenyum kemudian, jelas namja ini mengerjai modelnya itu.

"Kita sedang membicarakan Changmin bukan si Bangsat itu",

"Omo..omo..omo, Dia akan sedih mendengar Kau kembali berbicara liar begitu",

"HYUNG !", Eunhyuk menghentakkan kakinya merasa kesal.

"Astaga, Aku hanya bercanda",

"Kau dan Kyuhyun sama saja, jangan-jangan kalian sengaja", Eunhyuk tidak mendengarkan Jungsoo berpendapat, ia hanya mendengar tawa berikutnya. Ia menoleh sebentar ke arah jam dinding dan segera memakai jeansnya di depan Jungsoo tanpa sungkan juga.

"Kau akan kemana setelah ini ?",

"Mengunjungi Hoonnie", Eunhyuk menjawab dengan senyuman yang merekah.

"Kau harus dandan yang cantik",

"Sure, ia pasti ingin melihat mommy nya datang dengan tampilan yang cerah", Jungsoo ikut tersenyum.

"Bawakan ia makanan manis",

"Aku sudah menyiapkannya Hyung", Eunhyuk memperlihatkan isi tasnya penuh permen dan coklat yang ia ambil dari snack Minho. Ia kembali bersiap-siap dengan merias dirinya, mungkin mengunjungi yang ia maksud akan menjadi rutinitas ke depan nantinya.

"Hyuk…",

"Iya ?",

"Jangan terus merasa bersalah, Tuhan tahu Kau mencintainya, Kau tidak perlu sampai sejauh ini, cukup Kau doak—",

"Aku tahu apa yang harus Aku lakukan dan tebus Hyung", Eunhyuk berhenti mematut diri.

"Terserah Kau saja, ada yang lebih penting lainnya untuk disayangi jika Kau lupa",

"Sayang?, Aku sudah bilang berkali-kali kalau untuk menumbuhkan sayang yang Kau maksud, sama sekali tidak terlintas di benakku. Bagaimana dengan kasih dan apalah nama bodohnya kalau setiap saat Aku menatapnya yang ada di mataku adalah Donghae dan Donghae, Aku membencinya, sangat-sangat membencinya", Eunhyuk berdiri dan mengatur nafas.

"Itu bukan benci, hati Jung mu tidak pernah membenci. Umma, Appa mu dan Sungmin bahkan tidak masalah, itu hanya pengakuan tubuhmu saja, Kau berlagak demikian karena malu pada dirimu sendiri dan terus merasa bersalah",

"Kau tidak tahu Hyung !",

"Aku tahu, Donghae ya Donghae, Min—",

"Minhoon sudah menungguku dan Aku harus segera bergegas", Eunhyuk menutup pembicaraannya dengan sedikit tak bagus. Ia memakai sepatu dengan terburu dan segera pergi dari tempat Jungsoo.

Drrrt—drrrt

"Yeoboseyo", Jungsoo menggeser ke arah angkat pada smartphone nya.

"Jungsoo Hyung, kontrak dan jadwal untuk Jung Eunhyuk sudah ku siapkan, besok datanglah ke ruanganku",

"Oh ndee Lee Sajangnim, Kenapa tidak jadi hari ini ?",

"Maaf, hari ini peringatan meninggalnya kedua orangtuaku jadi Aku tidak bisa",

"Ahh seperti itu, baiklah akan Aku sampaikan pada Eunhyuk",

Panggilan tersebut berakhir setelah Donghae menyampaikan informasi singkatnya.

"Dia akan pergi ke tempat peristirahatan ?", Jungsoo memberi pertanyaan angin, tak lama ia pun mengendikkan bahunya.

"Tuhan memang yang paling hebat".

.


.:. Monster in Me .:.


.

Eunhyuk duduk di kursi penumpang dengan senandungan lirih, biasanya ia akan mengajak Pak Kim berbicara atau sedikit berbasa-basi, akan tetapi kali ini ia lebih memilih memperhatikan kanan-kiri nya. Hari tidak begitu pagi, akan tetapi jalanan daerah ini memang sedikit sepi, jarang sekali ia lihat kendaraan berlalu-lalang, mungkin hanya satu-dua mobil yang mendahului atau ada di belakangnya.

"Omo !", Eunhyuk melebarkan mata kecilnya, ia baru menangkap sesuatu di spion kanannya.

"Kenapa Tuan ?", Tanya Pak Kim melihat Tuan mudanya tiba-tiba berseru.

"It—itu…", Eunhyuk tidak tahu harus melanjutkan seperti apa, matanya yang tadi melihat spion kini berpindah dengan menolehkan kepalanya ke belakang.

"Mob—mobil itu kan…",

"Ada apa Tuan ?", Pak Kim ikut melirik ke spion dan menemukan mobil putih di belakang yang tidak terlihat aneh menurutnya selain lebih mahal dari yang ia kemudikan ini.

"Dia mengikuti kita jangan-jangan",

"Maaf ?", Pak Kim tidak mengerti dengan maksud Jung bungsu ini.

"Benar, Dia mengikuti kita sedari tadi, tidak ada mobil lain dan sedari tadi mobil itu terus di belakang kita", Eunhyuk menaruh kecurigaan pada mobil yang sangat ia kenal tersebut, mimiknya terlihat tidak senang, meskipun belum tahu pasti siapa yang mengemudikannya akan tetapi ia sangat yakin.

"Tambah kecepatannya !", Perintah Eunhyuk yang hanya diangguki oleh Sang supir.

"Omo..omo..omo !, Tidak, ia juga semakin kencang, astaga… Pak Kim lebih cepat lagi", Mungkin Eunhyuk terlalu paranoid dan mengira Maserati di belakangnya juga menambah kecepatan, mungkin saja kan memang tujuan mereka satu tempat yang sama.

"Tidak bisa Tuan, Tuan Jung tidak memperbolehkan Saya menyetir terlalu kencang, itu berbahaya untuk Anda",

"Ck… Ayolah Pak Kim, lihat mobil di belakang itu terus membuntuti Kita", Eunhyuk terdengar membuat-buat nada permohonannya.

"Lagi pula Kita sudah akan sampai Tuan, maafkan Saya", Eunhyuk membenarkan, ia menoleh ke kiri dan menyadari jika ia telah sampai.

"Awas saja orang itu memang kemari, Apa Dia mengirim suruhan untuk mengikutiku ?", Eunhyuk menggerutu setelah Pak Kim turun dan berjalan membukakan pintu untuknya.

Tap…

Eunhyuk baru memijakkan satu kakinya ke tanah dan telinganya yang sangat sensitif mendengar deru mobil berbelok ke arahnya.

"Shit !", Anak manis ini mengumpat dan sedikit mendorong Pak Kim, ia tidak sabar keluar dan meneriaki orang yang menurutnya mengikutinya. Dengan tidak sabar Eunhyuk menenteng tas dan mendekati mobil yang membuatnya geram.

Tok…Tok

Eunhyuk mengetuk kaca dan tidak lama,

Klek

"Kau suruh— Donghae ?", Eunhyuk mundur begitu orang yang mengoperasikan kendaraan mewah itu membuka pintu dan turun. Hanya kata sial yang Eunhyuk katakan dalam hati, ia pikir suruhan dari namja yang berdiri memakai kacamata hitam di depannya itu.

"Hyukkie…", Donghae menggumamkan panggilan Eunhyuk lirih, di balik kacamatanya ia dengan intens memandangi manik yang menatapnya tajam dan sedikit tak nyaman dengan jarak yang tidak kurang dari 50 cm ini.

"Kau sengaja mengikutiku ?",

"Apa ?", Donghae tidak mengerti maksud makhluk indah di depannya, sungguh ia tidak menyadari jika mobil yang di depannya dari Seoul adalah milik Eunhyuk.

"Cih, jangan berpura-pura!, Kau pasti mengikutiku kan ?, Kau pikir Kau siapa seenaknya begitu ?, Seseorang mempunyai privasi dan—dan siapa Kau berani-beraninya membuntutiku ?", Donghae paham dengan pertanyaan sengit Eunhyuk, namja manis ini tidak berubah, Donghae menarik senyuman kecil untuk menanggapi, namun Eunhyuk tidak memperdulikan hal itu.

"Eee… sepertinya Kau salah paham", Donghae menggaruk rambutnya.

"Salah paham Apa ?, Mobilmu—", Telunjuk Eunhuk menuding tumpangan Donghae tadi, sedikit tak yakin ketika mengatakan kepemilikan 'mu', bukannya Maserati itu miliknya, diberikan untuknya.

"Aish… terserahlah mobil siapa yang Kau tumpangi ini terus berada di belakang mobilku sedari tadi, Kau juga berbelok ke arah yang sama setiap kali Aku berbelok, lalu apa namanya itu selain mengikuti ?", Donghae ingin sekali tersenyum lebar, sangat mudah marah, curiga dan masih manis tentunya.

"Ehm, Aku kemari karena—", Donghae mengangkat dua botol soju di genggaman tangan kanannya, berharap Eunhyuk mengerti maksudnya.

"Omo!, Dimana moralmu di tempat peristirahatan mengajak seseorang untuk minum, jangan banyak beralasan!", Dagu Donghae serasa jatuh, Eunhyuk belum juga mengerti maksudnya, malah menghubungkan moral lagi.

"Mengajakmu minum sepertinya ide yang bagus dan akan Aku pertimbangkan, akan tetapi Aku kemari untuk mengunjungi mediang Appa dan Umma ku, Cantik",

"Bohong!",

"Aku pernah berbohong, tapi sungguh kali ini di tempat itu...", Donghae menunjuk tempat di depannya.

"Aku ada perlu di sana", Ia menambahkan penjelasan. Jatuh sudah harga diri Eunhyuk, anak ini memang terlalu nekat dan sangat percaya diri, hasilnya sangat berantakan dan menghancurkan nilainya yang tinggi.

"Ka—Kau tidak bohong ?", Masih saja ia ingin meninggi.

"Hmm…", Donghae tersenyum melihat Eunhyuk yang merasa malu.

"Aish…", Eunhyuk buru-buru berbalik, bayangannya selama di Korea ia tidak bertemu atau berhubungan dengan namja penghancurnya itu, tetapi interaksi barusan saja sudah mampu membuat pipinya menghangat, selain malu karena ia salah, ingat Donghae juga memanggilnya cantik.

"Keunde…", Donghae bersuara dan membuat Eunhyuk berhenti berjalan tanpa berbalik, ia masih sangat malu.

"Memangnya Kenapa kalau Aku mengikutimu ?",

Eunhyuk meremas kaosnya kasar, sedikit menghentakkan kaki dan melanjutkan jalannya.

'Siaaaal !', Telinganya memerah, ia masih belum bisa mempertahankan perasaannya jika berdekatan dengan Donghae atau mendengar namja itu bersuara, terlebih selalu terdengar seperti godaan.

"Untuk siapa Kau datang kemari ?",

Deg

Eunhyuk merasa ada yang salah, ia kembali berhenti, pertanyaan Donghae membuatnya merasa tertampar. Harusnya dari awal ia tidak perlu memperdulikan atau berani mendekati Donghae di radius terdekat, ia gampang terjatuh pada namja itu dan tentunya gampang sekali terpuruk seperti sekarang.

'Minhoon, mian',

"Berhenti bertanya yang tidak perlu padaku jika Kau rasa bukan urusanmu !", Nada Eunhyuk berubah, tidak terdengar kesal akan tetapi penuh peringatan, ia melakukan ini dengan masih memunggungi Donghae.

"Berhenti merasa kenal denganku, ingat jika kita sudah bukan apa-apa sejak tiga tahun yang lalu, urusanku bukan lagi urusanmu, berhenti berbicara yang tidak perlu selain masalah perusahaan, Aku harap Kau paham dan menghormatiku", Eunhyuk meremas dada kirinya yang berdenyut menahan gugup saat mengatakan kalimat panjang barusan.

"Pak Kim, Kita pulang saja, Kita kembali besok", Eunhyuk memutuskan untuk tidak masuk, Donghae padahal cukup senang bisa berinteraksi seperti tadi, sedikit tidak mudah dan semakin membuatnya pesimis.

.


.:. Monster in Me .:.


.

Pemandangan pagi yang luar biasa terlihat di kediaman Jung. Sungmin membantu Jaejoong menyiapkan makanan, ia terlihat rapi walaupun lengan kemejanya sedikit ia gulung. Berbeda halnya dengan Jung bungsu yang belum membersihkan diri, masih dengan piama yang sama dengan milik Minho. Mereka berdua tiduran di karpet depan televisi, Minho menyedot susu pisangnya dan sesekali tertawa karena kartun yang ia tonton. Pandangan Eunhyuk kosong walaupun matanya tertuju pada televisi.

"Ukkie, minum ini!", Minho menyodorkan minumannya berniat menawari Eunhyuk.

"Shireo!", Tolak Eunhyuk tanpa mau melihat Minho.

"Minum ini!, ini manis Ukkie", Minho kembali menggoyang-goyangkan kotak susunya di depan Eunhyuk.

Prakk

"Aku sudah bilang tidak mau ya tidak mau!", Eunhyuk menampik dan membuat susu tersebut tercecer di lantai. Tentu saja anak kecil akan sangat sensitif, dadanya mengembang-kempis, raut wajahnya juga mulai berubah, nada Eunhyuk barusan sedikit menakutkan.

"Huks—hueeeee", Anak ini menangis sembari berlari ke arah dapur, tempat Umma dan Halmoni nya berada.

"Astaga, Jung Eunhyuk!", Sungmin pasrah.

"Umma—huks… Ukkie jahat—huks…", Minho tidak bercanda dengan tangisannya atau sengaja mendramatisir sesuatu, yang Sungmin tangkap sedari tadi memang adiknya sangat aneh.

"Kau bantu Umma menyiapkan ini, hanya diminta menjaga bayi saja malah membuat masalah", Sungmin menggendong Minho dan membawanya keluar, Eunhyuk memejamkan matanya, ia mungkin sedikit keterlaluan.

"Sayang, Kenapa sebenarnya eoh?", Jaejoong mendekati Eunhyuk, ia mengangkat kepala anak manisnya yang masih berada di atas karpet ke pangkuannya.

"Umma, Ak—Aku…", Eunhyuk tergagap sulit sekali untuk mengatakan apa yang ia rasakan.

"Kenapa Hm ?", Jaejoong mengelus surai kecoklatan Eunhyuk.

"Aku belum bisa…",

"Umma tahu, semua butuh waktu, kalau tidak dicoba ya tidak akan pernah berhasil", Jaejoong seakan sangat tahu apa yang dikeluhkan anaknya.

"Sulit sekali menyamakan diri seperti Hyungie", Eunhyuk mengatakan pendapat pribadinya tentang Sungmin.

"Jika hanya memikirkan hambatan atau kepura-puraan ya hasilnya akan sepertimu, Hyung mu hanya melakukan apa yang harus ia lakukan",

"Dan ia harus menanggung semua karm—",

"Tidak ada yang seperti itu, sudah lebih baik bersihkan dirimu, Umma harus menyiapkan makanan sebelum Appa mu bersiap",

"Bersiap kemana?",

"Kami hari ini akan ke Jepang kembali",

"Mwo?", Eunhyuk segera bangun untuk duduk, dari keterkejutannya ia merasa ingin sekali ikut kembali.

"Ada urusan Sayang, Kau tidak bisa ikut karena hari ini sudah bekerja kembali bukan?", Eunhyuk mendesah mendengar ini.

"Cha—changkaman, bukannya Hyung ada urusan di luar kota juga, lalu kalian membaw—",

"Annio, mana bisa Kami membawa Minho, Kau harus mengurusnya dengan baik, ada bibi Jang juga yang akan membatumu",

"Umma~ aish", Eunhyuk menggerutu yang tidak ditanggapi serius oleh Jaejoong, yeoja cantik itu justru kembali berjalan santai ke dapurnya.

.


.:. Monster in Me .:.


.

"Sejak Jung Eunhyuk kembali Kau justru semakin buruk, Hyung", Kyuhyun membuka pembicaraan pagi ini, tangannya memberikan mug berisi kopi untuk yang ia ajak bicara, Donghae.

"Entahlah, Apa pekerjaanku begitu buruk, Kyu?", Pertanyaan yang baru pertama kali didengar Kyuhyun, sebelumnya Donghae tidak pernah semenyedihkan ini.

"Kau benar-benar bukan Donghae",

"Aku seperti kehilangan kepercayaanku dulu, Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi saat Aku ingin memperbaiki semua, masalahnya sudah semakin rumit",

"Jadikan dirimu pemecah kerumitan itu, lakukan seperti gayamu menyelesaikan atau membuat masalah, mungkin dengan cara itu akan berhasil mengatasi", Donghae tidak memberikan balasan, namja yang barusaja melepas dasi karena merasa sesak ini menunjukkan wajah yang serius, mencerna perkataan Kyuhyun yang tingkat kebenarannya selalu tinggi.

Di tempat lain, Eunhyuk terlihat sedikit berlari, ia terlambat pagi ini dan sudah bisa ditebak seberapa kesal dirinya mendapat tugas lain menjaga Minho selama beberapa hari ke depan. Dan entah bisa dikategorikan di rank tega keberapa jika ia menambah masalah dengan meninggalkan Minho di rumah pagi ini, ia bahkan sampai memohon-mohon pada bibi Jang untuk menjaga Minho di rumah saja, akan sangat merpotkan membawa anak kecil di tempat kerja menurutnya.

"Hyukkie!", Jungsoo memanggilnya, managernya itu seperti sudah menunggunya lama.

"Maaf Hyung, Kau tahukan Aku sulit sekali untuk tepat waktu",

"Dan kita sudah ditunggu setengah jam yang lalu, Kau kapan sih tidak membuatku malu hah?", Jungsoo terdengar marah dan Eunhyuk sudah biasa diperlakukan demikian, toh memang salahnya.

"Kita pergi sekarang, jangan membuat masalah kali ini, Kau mau kontrak yang tinggi kan?", Eunhyuk tidak yakin tidak membuat masalah, namun kepalanya mengangguk. Keduanya berjalan menuju lift sedikit terburu, Eunhyuk yang matanya tidak sengaja memperhatikan food court di samping kanannya berhenti.

"Hyung", Ia memanggil Jungsoo yang kini ikut berhenti dengan wajah menunjukkan pertanyaan 'apalagi?'.

"It—itu seperti Aku mengenal siapa", Eunhyuk menunjuk obyek di depannya, Jungsoo mengikuti arah tunjuk Eunhyuk.

"Omo, Jung Minho!", Jungsoo dan Eunhyuk gelagapan setelah memastikan anak kecil yang sedang melahap sesuatu disana adalah Minho.

"Ya! Ya! Ya!, Minhooo~", Eunhyuk berlari mendekat, benar jika anak kecil yang duduk dan belepotan krim di tangan juga bibirnya itu memang Minho.

"Astaga, Kau baru makan tadi~", Eunhyuk geram dan merebut cup cake di tangan anak ini.

"Ukkie~", Minho merengek, menengadahkan tangannya meminta kembali makanannya.

"Aish, Kau kemari dengan siapa sih?, merepotkan kan jadinya",

"Huks—cake Mino mau cake, Ukkie—huks", Eunhyuk menjauhkan cake Minho dan mengambil beberapa lembar tisu di tasnya, ia perhatian juga jika seperti ini. Tangannya berubah menjadi cekatan dan melap bibir anak tampan itu.

"Minho dengan siapa kemari eoh?", Jungsoo yang sekarang bertanya, anak kecil di depannya mulai sesenggukan dan pasti akan menangis.

"Bibi—huks…",

"Ck, Kenapa sih diajak kemari, kan Aku sudah bilang untuk menjaganya di rumah", Eunhyuk yang menangkap bibinya itu sedang membayar sesuatu di tempat sebelah seakan bersiap untuk mendekati dan memarahi.

"Hei sudahlah, sudah terjadi juga",

"Lalu sekarang bagaimana, Hyung?",

"Aku akan menjaga Minho, Kau bisa berjalan kesana sendirian kan?",

"Mwoya~ lebih baik Aku yang menjaga Minho dan Kau yang kesana kan", Eunhyuk menganggap tujuan yang akan ia datangi seperti neraka yang sangat dihindari.

"Yang dibutuhkan itu tanda tanganmu, Kau juga bisa membaca dengan baik isi kontraknya, apabila ada yang kurang berkenan langsung Kau tanyakan, sudah jangan manja",

"Tapi Hyung",

"Kau memilih membawa Minho kesana atau sendirian?", Pertanyaan yang entah kenapa harus Eunhyuk jawab sendirian lebih baik daripada dengan Minho.

"Baiklah baik, Aku akan kesana dan Kau menjaga Minho", Eunhyuk menghela nafasnya sebelum berbalik dan meneruskan langkah.

"Aku bisa gila dan tua dengan sangat cepat", Eunhyuk sedikit gugup saat tangannya sudah berada di atas handle pintu.

"Masuk sekarang dan semakin cepat Aku tanda tangan akan semakin cepat pula Aku keluar", Eunhyuk meyakinkan dirinya sendiri sebelum menarik handle pintu tersebut.

Cklek

Pintu sedikit terbuka, dari sini Eunhyuk bisa melihat sofa dan sedikit sisi meja kerja.

'Kenapa masih terlihat sama?',

"Siapa?", Suara yang Eunhyuk tidak ragukan adalah pemilik ruangan ini sendiri.

"Ak—Aku ingin pembaharuan kontrak", Eunhyuk melangkah lebih dalam, seperti biasa ia mencoba tenang, style nya kan tidak berubah, masuk sebelum dipersilahkan.

"Ahh… duduklah, ehm terlambat tiga puluh delapan menit", Donghae mengayunkan jam nya di udara. Eunhyuk tidak memperdulikan itu dan malah langsung duduk, harusnya namja tampan itu tahu kebiasaannya bagaimana.

'Tunggu, Aku menyebutnya tampan, aish', Eunhyuk menggelengkan kepalanya lucu dan Donghae yang menangkap itu tersenyum mengagumi.

"Orange jus?", Tawar Donghae mendekat ke lemari es kecil di sudut.

"Terserah", Jawaban yang sangat umum, tapi Eunhyuk tidak sedikitpun menangkap jika Donghae mungkin memang telah merencanakan hal sekecil minuman, apa mungkin jus itu sudah ada beberapa hari yang lalu atau ia suka meminum makanan asam, sangat mustahil jika memang bukan telah dipersiapkan.

"Minumlah!", Donghae mendekat dan memberikan segelas jus yang Eunhyuk tatapi.

"Ehm, tidak Aku campur racun kok dan gelasnya masih bersih",

'Sial!', Maksud Eunhyuk memandangi bukan karena ia curiga, malah dengan kalimat Donghae barusan membuat ia berubah waspada.

"Cepat keluarkan kertasmu dan akan segera Aku tanda tangani", Eunhyuk memerintah, sedangkan Donghae hanya tersenyum, ia mencari sesuatu pada beberapa tumpukan berkas.

"Buru-buru sekali, setelah ini Kau kan belum ada pekerjaan",

"Aku menjaga anakm—kecil, bodoh!", Eunhyuk mengerem kalimatnya di akhir.

"Maaf?",

"Sudahlah keluarkan kontraknya", Ucap Eunhyuk tidak sabar.

'Astaga, hampir saja'.

"Ini…", Donghae tersenyum misterius, entah kenapa mengingat sesuatu yang barusaja ia serahkan itu terasa sangat menggemaskan. Eunhyuk menerima tanpa curiga, anak ini malah mengeluarkan penanya.

"Tidak Kau baca dulu?",

"Aku tidak suka terlalu lama berada di ruangan yang beberapa tahun lalu membuatku terusir", Donghae menyeringai, ia tahu namjanya itu tengah menyindirnya, tapi yang lebih membuat ia melebarkan seringainya adalah Eunhyuk yang benar saja langsung tanda tangan di kertas itu.

Seeet

Donghae merebut kertas yang barusaja Eunhyuk tanda tangani. Ia berdiri dan memutari sofa yang awalnya ia duduki hingga berada di belakang Eunhyuk.

"Terimakasih sudah mau bekerjasama kembali, keunde…", Donghae yang berdiri di belakang sofanya menunduk hingga membuat jarak keduanya dekat, kepala Donghae berada di samping kanan kepala Eunhyuk.

"Apa yang sudah disetujui tidak bisa dirobek atau dibatalkan, bukan?",

"Mwo?", Eunhyuk menoleh.

Chup

Ternyata tujuan Donghae adalah untuk ini. Eunhyuk mematung dengan ekspresi lucunya, Donghae barusaja menciumnya tepat di bibir setelah ia menoleh.

"Akan Aku bacakan isinya jika Kau penasaran kenapa ini tidak bisa dirobek", Donghae semakin berani, dua tangannya ia sampirkan di pundak Eunhyuk, seperti adegan back hug, Eunhyuk diam saja karena ia masih terkejut dengan ciuman kecil yang ia terima. Saran Kyuhyun membuat Donghae kembali gila, walaupun sedikit.

"Aku Jung Eunhyuk yang bertanda tangan di bawah ini setuju dengan semua persyaratan kontak yang terlampir di halaman lain, serta kembali beraktivitas menjadi seorang model secara professional dengan payment yang sudah disetujui sebelumnnya. Yang terakhir dan sangat utama, Aku akan patuh pada apapun yang dikehendaki Lee Donghae sehingga Aku bisa mendapatkan apapun juga yang Aku inginkan, Otte?",

"Mwo—it itu apa-apaan?", Eunhyuk masih jet lag dengan keadaannya, bicaranya saja belum lancar.

"Ini adil kan?, seperti yang lalu", Donghae mengingatkan dulu juga seperti ini. Tidak ada yang berubah dari posisi mereka berdua, malah Donghae semakin mengeratkan tangannya yang memenjarakan tubuh kecil Eunhyuk.

"Tap—tapikan Aku tidak membac—",

"Aku sudah memperingatkan untuk membaca bukan, Sayang?", Benar dan Eunhyuk hanya diam dengan pertanyaan Donghae, ia terlihat bingung, rasa kecupan di bibirnya saja masih belum hilang apalagi dengan posisi yang bisa dikatakan intim ini.

"Bagaimana Kau setuj—",

Cklek

"Hyung jam Sembilan Kau har—ups… Ak—Aku datang di saat yang tidak tepat ya?", Kyuhyun yang barusaja datang dan mengingatkan Donghae merasa kaget namun juga bahagia melihat pemandangan di depan sana.

"Ehm, silahkan dilanjutkan", Pamitnya sebelum menghentikan posisi manis di depan sana.

SEETT

"Ck, LEPAS!", Eunhyuk melepaskan tautan Donghae, ia juga berdiri setelah berteriak. Wajahnya memerah, rasa hangat tangan Donghae bahkan masih sangat terasa di bahu juga dadanya.

"Tidak usah tersenyum!", Eunhyuk protes karena wajah Donghae tetap saja sumringah, kenapa juga tidak sedari tadi ia melepaskan diri, ia merasa dibodohi.

"Pelan saja, Babe. Aku mendengar kok",

"Gila!", Eunhyuk buru-buru menyambar tasnya dan berjalan menjauhi Donghae.

"Hei, Kau setujukan artinya?", Pertanyaan Donghae membuat Eunhyuk menghentikan langkahnya.

"Kau gila gila gila!, Aku kemari untuk mengatur kontrakku dan malah Kau perlakukan tidak adil, awas saja Aku akan mengadukan pada Appa ku!", Eunhyuk tidak pernah seputus asa ini, ia tidak pernah berbesar diri atas nama Jung Yunho, tapi sekarang untuk mengatasi Donghae, ia bahkan sampai menyebut Jung agung.

"Oh begitu, tidak perlu Kau adukan, kontrakmu bahkan sudah diatur oleh Appa mu, ini hanya kontrakmu denganku dan yah… Kau sudah menyetujuinya", Donghae menunjukkan kertas yang berisikan tanda tangan Eunhyuk.

Tidak ada jawaban dari Eunhyuk, wajahnya sudah sangat kesal, anak tidak dewasa ini hanya menghentakkan kakinya dan melangkah keluar.

BRAAK

"Omo! Hyuk, Apa yang Kau lakukan?", Dari luar ia sudah disambut Jungsoo yang tengah menggendong Minho dan bersandar di dinding. Caranya menutup pintu dengan bantingan sangat elit untuk orang yang tengah emosi.

"Hyung, Kau ada disini, Kenapa tidak masuk?", Eunhyuk bertanya tak sabar, aneh saja rasanya melihat managernya hanya berdiri di luar.

"Kyuhyun bilang Aku harus menunggu di luar, Dia menyebut ada acara pribadi antara Kau dan pemilik ruangan",

"Kalian semua sama saja!", Eunhyuk mendengus dan berjalan lebih dulu, Minho yang ada di gendongan Jungsoo diam saja menikmati susu kotaknya.

"Setelah ini Kau akan kemana?", Jungsoo bertanya.

"Entahlah, Kenapa juga Kau harus menyuruhku ke ruangan Donghae jika kontrakku sudah diurus Appa, Hyung?",

"Oh ya?, Aku tidak tahu hal itu", Jungsoo biasa saja, ia tidak mempermasalahkan hal sekecil ini.

"Aku titip Minho dulu",

"Kau akan kemana?", Tanya Jungsoo sedikit khawatir.

"Mengunjungi anakku", Jawab Eunhyuk seadanya.

"Ingin mengajak Minho kesana?",

"Biar denganmu saja, Aku akan segera kembali, oh iya… jangan belikan ia macam-macam, hutangku akan semakin banyak nanti",

"Ha..ha.. Kan sekarang ada Appanya, mana Appanya orang yang berad—",

"HYUNG!",

"Mian", Jungsoo tersenyum, entah kenapa ia jadi tertular virus menggoda modelnya itu, ditambah Eunhyuk yang mudah sekali terpancing.

Donghae yang masih berada di dalam ruangannya terus saja tersenyum mengingat keberanian yang telah ia lakukan. Langkahnya tidak terlalu cepat ia rasa dan kini satu per satu langkah selanjutnya akan ia susun sedemikian rupa hingga tujuannya dapat terlampaui.

"Ehrm, kemajuan ya?", Kyuhyun barusaja masuk setelah memastikan jika orang manis yang membuat sepupunya terlihat cerah telah pergi.

"Berkatmu, brengsek".

"Ehm… bagaimana jika kita saling menawarkan sesuatu?", Untuk Donghae ini terdengar seperti tantangan, akan tetapi maksud Kyuhyun benar-benar suatu kerjasama yang saling menguntungkan.

"Aku merasa Kau akan memploroti uangku lagi", Tanggapan Donghae mengarah pada kecurigaan.

"Aih, bukan lagi uang atau mobil bahkan rumah",

"Lalu?", Donghae belum menunjukkan nada tertariknya.

"Kau kubantu mendapatkan Jung Eunhyuk kembali",

"Asal?", Donghae merespon cepat.

"Asal Kau bantu Aku pula untuk mendapatkan Hyung nya", Alis Donghae naik sebelah, bukan hal yang buruk, tapi mungkin sedikit tidak mudah.

"Itu saja?",

"Itu saja?, Kau jangan meremehkan sesuatu, deal atau tidak ini?", Kyuhyun terburu-buru bertanya kesediaan Donghae.

"Hmm Okay, Aku mau mulai hari, Kau atur sedemikian rupa supaya Dia terus bergantung kepadaku dan Kau akan mendapat informasi tentang Jung Sungmin", Kyuhyun tersenyum mendengar ini, ia menyodorkan tangannya untuk mendapat jabatan persetujuan.

Drrrt—drrrt, Smartphone Donghae bergetar dan tanpa melihat siapa yang sedang menghubunginya, langsung saja ia menggeser tanda terima.

"Yeoboseyo?",

"Hae, bis—bisakah Kau pulang sekarang?", Nada tidak tenang terdengar dari seberang, Donghae tahu jika ini adalah suara Sandara.

"Ada masalah Apa?", Tanya Donghae ikut cemas.

"Appa—Appa ingin bertemu denganmu, sekarang juga",

"Baik, Aku akan pulang sekarang", Donghae menutup panggilan tersebut, Kyuhyun tidak bertanya apapun, ia harus mengakui jika ia tidak suka melihat Donghae yang buru-buru mencari jas nya dan segera pergi tanpa berpamitan padanya.

"Hyung, Aku sudah menyusun rencana untukmu, Kau pilih tinggal dan menjalankan rencanaku atau pergi dan—",

"Aku tetap harus pergi Kyu, sepertinya ini mendesak", Donghae tidak mendengarkan rencana apa yang Kyuhyun maksudkan.

"Wanita sialan!".

.


.:. Monster in Me .:.


.

Sudah beberapa jam sejak Eunhyuk meninggalkan kantor yang artinya meninggalkan Minho dengan Jungsoo. Kali ini ia telah menyelesaikan urusannya, namun nasib sedikit tak baik sedang menimpanya, mobil yang ia tumpangi tiba-tiba mogok di perjalanan pulang. Dari pagi hingga sore hari ini ia terus mendapatkan masalah, inginnya menenangkan fikiran, justru sekarang makin menambah kerumitan. Ia khawatir jika sampai di kantor pada malam hari, apalagi dengan Minho yang mungkin saja akan rewel.

"Pak Kim, tidak bisakah bantuan itu datang lebih cepat?", Gusar Eunhyuk terus menanyakan hal ini.

"Maaf Tuan, tapi memang Tuan tahu sendirikan jalanan di sini sepi sekali dan sedikit jauh",

"Aku khawatir jika Minho mencariku, apalagi smartphone ku sudah mati sedari tadi", Eunhyuk benar-benar memperlihatkan kekhawatiran kali ini.

"Tuan, tunggu sebentar lagi, Saya sudah menelphonkan taksi sehingga Tuan bisa kembali lebih dulu", Eunhyuk mengangguk, ia tidak yakin jika akan sampai dengan cepat.

Kembali ke kantor, benar saja akan kekhawatiran Eunhyuk, saat ini tangisan Minho terdengar memenuhi lantai dua puluh empat gedung besar ini.

"Astaga, Eotokhae?, Kenapa lama sekali sih Dia itu?", Ini bukan Jungsoo lagi, akan tetapi Kyuhyun. Jungsoo sudah pergi setengah jam yang lalu karena ada meeting penting yang tidak bisa ia tinggalkan sehingga ia harus menitipkan Minho pada Kyuhyun yang memang sedang menganggur.

"Hueeeee—Ahjuchi huks—Ukkie… Mino mau ukkie—huks", Kyuhyun tidak bisa mengatasi ini lebih lama lagi. Minho memberontak dalam gendongannya, ia tidak bisa melakukan apapun lagi, menghubungi Eunhyuk juga percuma karena nomornya tidak aktif.

"Donghae Hyung, Kenapa tidak ku hubungi sedari tadi, Dia kan sangat akrab dengan anak kecil, apalagi Minho kan—Aish…", Kyuhyun terlalu lama berpikir, ia langsung saja mengotak-atik nomor di smartphone nya.

"Iya Kyu?",

"Sekarang kembali lah ke kantor, Aku yakin Kau akan suka dengan hal ini",

"Maksudnya?", Donghae terlalu lamban.

"Pokoknya Kau kembali ke kantor sekarang, tinggalkan apapun yang sedang Kau lakukan saat ini, sungguh ini bisa meluluhkan hati angel mu",

"Ehm Eunhyuk?", Tanya Donghae, memang namja ini tidak pernah bisa berpikir cepat.

"IYA BODOH!",

"Ba—baiklah, Aku kesana sekarang",

"Eits Hyung tunggu, bawakan mainan mahal yang sekiranya bagus untuk anak laki-laki",

"Apa?",

"Sudahlah, lakukan saja", Kyuhyun tidak peduli Donghae mendengarnya atau tidak, ia sudah mematikan panggilan tersebut karena Minho semakin brutal menangis di gendongannya.

.


.:. Monster in Me .:.


.

Eunhyuk turun dari taksi setelah menyerahkan beberapa lembar uang, wajah cemasnya masih terlihat. Kaki langsingnya langsung berlari ke arah lift, ia benar-benar harus menemukan Minho dengan cepat. Jari-jari kurusnya sangat tidak sabar ketika menekan tombol agar pintu cepat terbuka.

"Aish, Kenapa lama sekali sih?",

TRIING~

Deg

"Hyukkie…", Eunhyuk tidak jadi memasuki lift begitu pintu terbuka. Orang di depannya ia perhatikan dengan wajah serius, apalagi dengan yang dibawa namja tersebut.

"Kau, Kenapa—", Eunhyuk tidak bisa meneruskan pertanyaannya, kesimpulannya jelas ia tidak suka ketika melihat anak kecil yang ada digendongan Donghae dan mungkin sudah tertidur tersebut adalah Minho. Donghae berjalan keluar dari lift dan ingin menjelaskan sesuatu pada Eunhyuk.

"Ehm, it—itu Jungsoo Hyung menitipkan Minho padaku karena ia ada urusan dan anak ini barusaja tertidur, Aku berniat mengantarnya pulang, tap—tapi syukurl—",

"Kemarikan!", Eunhyuk memerintah dengan dingin. Donghae tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia tiba-tiba menjadi bodoh. Kyuhyun bilang sangat sulit membuat anak kecil itu berhenti menangis, tapi baginya tidaklah demikian, ketika ia datang entah kenapa Minho langsung menghambur ke pelukannya dan tidak lama tertidur dalam gendongannya.

"Lepaskan Dia dan kemarikan!", Eunhyuk mengulangi perintahnya.

"Ah i—iya…", Donghae memindahkan Minho pelan, tidak ingin anak itu terbangun.

"Aku akan mengantarkanmu, ini sudah malam",

"Aku akan menunggu supirku",

"Tidak baik untukmu menunggu lebih lama, kasihan Minho", Donghae benar, jika ia menunggu Pak Kim, tidak tahu lagi akan selama apa, tapi masa iya sekarang ia harus menurut pada Donghae.

"Aku sungguh berniat membantu, Kau juga sudah terlihat lelah", Tanpa mendengar jawaban Eunhyuk, Donghae kembali mengambil Minho dari gendongan namja ringkih yang terlihat keberatan itu. Akhirnya dengan berat hati, Eunhyuk mengekor di belakang untuk menemukan mobil Donghae.

'Sial, Kenapa harus mobil ini sih?', Jelas sudah jika yang dipakai Donghae adalah Maserati yang pernah ia tabrakkan beberapa tahun lalu.

"Masuklah!", Donghae membukakan pintu dengan masih menggendong Minho, jiwa manly nya begitu terlihat. Setelah memindahkan Minho pada pangkuan Eunhyuk, tampan ini melajukan mobilnya. Tidak ada perbincangan apapun sampai pada kediaman Jung, Eunhyuk diam karena lelah dan merasa tidak ada yang harus disampaikan, walaupun dengan ucapan sesederhana terimakasih, sedangkan Donghae merasa harus diam karena ingin membiarkan dua orang tersebut beristirahat.

"Kau sepertinya lelah sekali, biar Aku yang menggendong Minho ke dalam", Donghae menawarkan diri, Eunhyuk tidak menjawab dan hanya mengangguk, energinya berkurang drastis mengingat ia yang juga belum makan. Tanpa bersuara, Eunhyuk menunjukkan kamar dimana Minho harus ditempatkan. Setelahnya sebagai ucapan terimakasih, ia mengantarkan Donghae ke depan walaupun ya tetap dengan tidak bersuara.

"Ehm, ini…", Eunhyuk mendongak, Donghae memberikan kunci mobil padanya. Wajah Eunhyuk terlihat bingung sehingga Donghae harus menjelaskan.

"Ambilah, ini kan harusnya memang milikmu",

"Itu sudah lama sekali dan Aku sudah lupa, ini sudah malam, Jangan memainkan drama, Aku lelah sekali untuk berperan", Eunhyuk menanggapi sinis, sungguh ia ingin segera tidur, tapi Donghae memancing emosinya kembali.

"Annia, Aku bukan seseorang yang tidak menepati janji",

"Heh… Kau melawak ya?", Eunhyuk ingat sekali apa yang sudah Donghae lakukan dan kini malah Donghae mengatakan fakta yang menyimpang.

"Maaf untuk itu, mungkin Kau masih salah paham, sebenarny—",

"SUDAHLAH!", Suara Eunhyuk meninggi, ia tidak ingin mendengarkan apapun.

"Maaf, sungguh Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya, Aku di masa lalu mem—",

"AKU BILANG SUDAH!, Tidak penting untukku tahu apa masalahmu, Kita selesai ya selesai, tidak usah memulai untuk mendekatiku lagi, Kau sudah ku blacklist dari daftar apapun di duniaku",

"Hyuk, izinkan Aku untuk menjelas—",

"Aku tidak butuh, Donghae. Bisakah Kau segera pergi, Aku berterimakasih karena telah mengantarku dan ini…", Eunhyuk merebut kunci yang diberikan untuknya.

Pyak

"Aku tidak butuh", Eunhyuk membuangnya.

"Tapi Hyuk…",

"PULANGLAH!, Percuma Kau jelaskan jika Aku tidak ingin mendengar apapun, penjelasanmu basi, Tahu?", Eunhyuk berbalik, ia tidak peduli Donghae masih tinggal di tempat atau tidak, ia tidak bisa bertahan lebih lama untuk saling berinteraksi. Air matanya bahkan sudah menggantung, berbicara dengan Donghae memang membuatnya semakin lemah, ia memilih pergi sebelum terlihat sangat menyedihkan.

"Oke, Aku akan pulang dan tidak akan menjelaskan apapun, tapi jawab pertanyaanku", Eunhyuk berhenti melangkah, ia ingin semuanya cepat selesai.

"Boleh Aku tahu dimana—dimana anak kita?", Kali ini Eunhyuk tidak mampu menahan air matanya, pertanyaan inilah yang sebenarnya paling ia hindari.

"Hah...", Eunhyuk berbalik tanpa mengusap air matanya.

"Kau belum mendengar sesuatu ya?", Eunhyuk bukan memberikan pertanyaan, tapi layaknya tebakan, ia menyampaikan sembari sesenggukan, Donghae tidak tahu apa yang terjadi sehingga hanya diam saja.

"Kau lucu, tahu?, pertanyaanmu haruskah kujawab—hiks…", Donghae maju selangkah, ia tidak tega melihat Eunhyuk yang seperti itu.

"Berhenti!, hiks—Kau tidak tahu kah apa yang terjadi—hiks… Kau mempertanyakan hal gila",

"Maaf", Donghae menunduk, apa ia sesalah itu.

"Maaf mu tidak penting",

"Apa Minho it—",

"Bodoh—hiks… Minho bukan siapa-siapa mu, jangan berpikir jika ia anakmu, bahkan Aku tak mengakuinya sebagai anakku",

"Apa?, Lalu ia siapa?",

"Dia anak Hyung ku—hiks…",

"Kau berbohong, Sungmin tidak pernah menikah", Donghae sudah menyelidiki hal ini selama beberapa hari dan menahan pertanyaan mungkin, mungkin dan mungkin tentang Minho yang anaknya.

"AKU BILANG MINHO BUKAN ANAKMU—hiks",

"Lalu siapa Dia?", Donghae ikut tersulut mendengar Eunhyuk yang berteriak padanya.

"DIA ANAK YANG HYUNG KU AMBIL DARI PANTI ASUHAN, Kau puas—hiks… Anakmu sudah meninggal—hiks… Dia benar-benar meninggal dan—hiks…",

"Ap—Apa?", Donghae lemas mendengarkan ini, melihat Eunhyuk yang terisak hebat, tidak mungkin namja itu berbohong padanya.

Brug

Eunhyuk tersimpuh, ia tidak bisa menahan berat tubuhnya.

"Kau puas sekarang—hiks?, APA KAU PUAS?, Ak—aku hiks—Aku mewujudkan keinginanmu untuk memusnahkannya, Kau puas sekarang—hiks?".

.

.


TBC


.

.

Guys, mungkin ini sedikit kepanjangan, tapi yah mumpung bisa nulis banyak sih.

Terimakasih untuk yang sudah mereview sebelumnya, pertanyaan kalian akan terjawab seiring berjalannya chapter. Di chap kemarin Saya juga sudah meminta maaf kalau kiranya itu terburu-buru dan kehilangan angel menulis Saya sebelumnya, tapi Saya berusaha memunculkan gaya penulisan Saya kembali, silahkan diapresiasi.

INFO!

Saya mempunyai FF baru Money Honey rate M, HaeHyuk. Bagi yang belum membaca silahkan dibaca dan direview.

Thanks :*