THE BEAST
Nagato memperhatikan setiap orang yang berbincang mengenai bahasa yang tidak ia mengerti dengan tatapan yang err sulit di artikan. Antara takut dan cemas ketika orang di sini akan menanyakan sesuatu padanya dan ia pastilah bingung harus menjawab apa. Setidaknya ia lancar berbahasa Inggris. Naruto tampak santai melenggang di koridor sebuah tempat Akademi Pelatihan Opra mendahuluinya.
Mereka mendarat di Roma sekitar pukul 3 subuh tadi. Dan memutuskan untuk beristirahat di dalam pesawat pribadi hingga pukul 7. Sesuai intruksi Yahiko jika mereka akan di sambut oleh staff dan pelatih nyanyi di Akademi mereka ketika tiba di Aula.
"Tou-chan. Doushite?." Sepertinya Naruto menyadari kegelisahaanya. Jujur saja Nagato baru pertama kali menginjakan kaki di Roma. Nagato selalu menghindari Negara yang bahasanya tidak ia kuasai. Untuk menyewa translator? Itu terlalu merepotkan apa lagi identitas Nagato benar – benar harus terlindungi.
"Ie nanimo. Aku hanya sedikit cemas jika mereka berbicara padaku nanti." Nagato menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Naru? Kau bisa berbahasa Itali?"
"Ah jadi itu yang Tou-chan cemaskan. Tenang saja aku bisa berbahasa Itali. Lagi pula di sini tidak masalah jika berbahasa inggris." Naruto mengendikan bahu.
"Hee? Honto?" Nagato tak percaya. Bagaimana bisa? Siapa yang mengajarinya? Pertanyaan – pertanyaan berkecamuk di kepalanya. Naruto benar – benar mempersiapkan segalanya tampa dirinya dan Conan. Nagato sedikit merasa kecewa di buatnya.
"Ne Tou-chan. Kau sudah berjanji akan mendukungku kan?" Naruto melirik Nagato dengan ekor matanya tanpa menghentikan langkahnya.
"Tentu saja." Nagato menjawab pasti tanpa keraguan.
"Apa pun jalan yang aku pilih, apa pun langkah yang aku lalui?." Naruto kembali menatap kedepan.
"Ya." Nagato mulai menatap heran Naruto. "Ada apa dengan pertanyaan – pertanyaan mu itu?." Nagato merangkul Naruto.
"Tidak. Aku hanya takut jika Tou-chan sendirilah yang akan menjadi penghalangku." Naruto menghela nafas lega.
"Itu tidak akan terjadi." Ucap Nagato pasti.
"Tou-chan tahu apa yang akan terjadi pada orang yang menghalangi ambisiku?" Naruto kembali mendelik.
"Hm?" Nagato memiringkan kepala.
"Mereka akan aku lenyapkan." Nagato tercekat mendengar ucapan Naruto. Ini benar – benar parah, pikirnya. Naruto benar – benar gadis ambisius yang parah. Apa Naruto sampai hati melenyapkan dirinya? Tapi Nagato sudah memantapkan hatinya untuk membantu Naruto apa pun yang terjadi.
"Jangan khawatir." Nagato mengacak sayang rambut pirang Naruto. "Itu tidak akan terjadi. Aku adalah ayahmu. Tugasku adalah mendukung kesuksesan dan kebahagiaanmu." Jawab Nagato mantap.
Naruto tersenyum di dalam rangkulan Nagato. Tentu saja ia merasa senang. Memiliki tameng seperti Nagato benar – benar sesuatu. Apalagi tipikal Nagato yang hampir sama seperti dirinya. Ia akan melakukan apa pun pada orang yang mengancam dirinya dan orang kesayangannya bahkan jika harus melenyapkannya dari muka bumi. Itu juga adalah alasan kenapa Nagato dengan mantap akan mendukung Naruto apapun yang terjadi. Karena mereka sebenarnya adalah sama. THE BEAST.
Well tidak hanya Naruto yang tersenyum puas mendengar jawab Nagato. Kushina yang sedari tadi di samping Naruto ikut tersenyum puas.
Tidak pernah Naruto dan Nagato duga jika mereka akan di sambut dengan begitu istimewa oleh para staff Akademi. Di sambut dengan musik klasik indah, nyanyian seriosa merdu dan makan siang mewah.
Itu terjadi karena mereka mendengar bakat mengagumkan Naruto sebelumnya dari Yahiko. Dan terlebih lagi ketika Yahiko mengatakan pada mereka jika Naruto adalah putri kandung dari Diva mereka yang menghilang Uzumaki Kushina. Mereka menjadi begitu antusias dan memperlakukan Naruto begitu istimewa. Berharap jika Naruto akan menjadi penyanyi yang melebihi Kushina.
Ini yang membuat Naruto begitu menyenangi Roma. Tidak satupun dari mereka di Akademi dan masyarakatnya melupakan Kushina. Naruto tersenyum puas. Beginilah Ibunya di perlakukan seharusnya. Kushina sama sekali tidak pantas di permalukan, dilupakan dan di campakan.
Naruto berdiri tegak di depan Direktur akademi. Menampilkan keangkuhan, keyakinan, ambisi, dan kepercayaan diri sebagai seorang penyanyi. Sang direktur hanya tersenyum puas dibalik tanganya.
"Seperti yang anda bilang Yahiko-san." Ujar Sang Direktur.
"Tentu saja Killer Bee-Sama." Yahiko membungkuk penuh hormat. "Saya tidak pernah melebih – lebihkan kemampuan Naruto walaupun ia sejatinya adalah keponakan saya." Ucap Yahiko penuh keyakinan.
"Aku tahu." Jawabnya. "Dan sulit di percaya jika anda juga ada di sini Pain-san. Anda-..."
"Saya adalah ayah angkat resmi dari anak ini Bee-san." Nagato merangkul Naruto. "Dan sudah lama kita tidak bertemu."
"Ahahaha kau sama sekali tidak berubah. Tetap saja seenaknya. Ya jika kau bukan pemilik perusahaan besar Akatsuki mungkin aku akan menendangmu keluar. Kita sederajat." Killer Bee tertawa lepas. "Di tambah lagi kau adalah teman lama ku. Menendangmu keluar? Itu tidak akan mungkin terjadi."
"Kau juga tidak berubah Bee-san." Nagato tersenyum kesal.
Mereka berdua serta Yahiko dan Conan berteman sejak SMU hingga Kuliah. Mereka terpisah ketika wisuda. Bee yang memutuskan untuk merintis bakat bernyanyi dan menjadi Direktur Akademi di Roma dan Yahiko ikut serta bersamanya menjadi pelatih sedangkan dirinya memutuskan untuk membangun sebuah perusahaan senjata terbesar di dunia. Lalu Conan? Tentunya menjadi pelatih atau guru di Dream High sekolah lama Kushina.
"Kalian saling mengenal." Naruto memperhatikan Nagato dan Bee secara bergantian.
"Tentu saja." Bee bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri Yahiko, Nagato dan merangkul mereka beserta Naruto. "Kami adalah teman lama. Karena kesuksesan ini kami lantas tidak akan saling melupakan." Ucap Bee. Nagato akui kesetiakawanan Bee memang sangatlah luar biasa.
Wohoo ini jack spot untuk Naruto. Pelatih ternama adalah pamannya dan Nagato adalah sahabat dari Direktur Akademi. Siapa yang bisa menghalangi Naruto saat ini?
"Tentu saja. Aku tidak akan memperlakukan mu secara special Uzumaki. Aku akan menuntut bakat yang kau miliki." Bee memberi peringatan pada Naruto.
"Tentu saja Danna." Naruto membungkuk. "Saya bukan orang seperti itu. Yang meminta belas kasihan pada anda hanya karena anda adalah sahabat Tou-chan. Karena saya memiliki kemampuan."
Bee tersenyum lebar mendengar ucaapan Naruto. "Ahaahahahah itu yang ingin aku dengar." Ia menepuk bangga pundak Naruto.
"Baiklah kami pamit undur diri." Yahiko membungkuk hormat. "Saya harus membantu Naruto menuju asrama yang akan ia tempati."
"Baiklah – baiklah."
Yahiko dan Naruto berbalik dan hendak meninggalkan ruangan. "Tou-chan?" Naruto melirik Nagato yang tetap berdiri di samping Bee.
"Aku akan menyusul nanti. Aku masih ada hal yang perlu di bincangkan dengan orang ini." Nagato menunjuk lancang Bee dengan jempolnya.
"Ingin sekali aku putuskan jari mu ini." Geram Bee kesal.
"Oh baiklah." Naruto dan Yahiko menghilang di balik pintu.
"Kau lihat ia bersikap sangat formal." Bee masih menatap pintu besar yang di lalui Naruto dan Yahiko barusan.
"Bukannya memang seharusnya begitu. Naruto adalah anggota pelatihan baru."
"Bukan itu BAKA." Bee memukul keras kepala Nagato. "Yang aku maksud itu Yahiko."
"Itte." Ringisnya. "Kau tidak perlu memukul kepalaku, BOGE!!." Raungnya sembari mengusap kepalanya yang berdenyut sakit. "Ya aku akui Yahiko memang berubah. Padaku sahabat dekatnya bahkan pada Istrinya."
"He? Pada istrinya juga?"
"Hm. Miroku sepertinya sangat bersabar menghadapi Yahiko. Miroku bilang jika Yahiko mulai berubah setelah kematian Kakaknya."
"Aku berharap dia akan tetap ceria seperti dulu. Itu sebabnya aku sangat mengupayakan agar nama Kushina tidak benar – benar di lupakan di sini. Dia benar – benar berterimakasih padaku tentang itu dan dia semakin mengabdikan dirinya padaku tapi kau bisa lihat sendiri sikapnya, Nagato." Nagato mengangguk paham atas perkataan Bee.
"Yang lebih mengejutkan lagi. Tiga belas tahun yang lalu Yahiko mengatakan jika keponakannya akan datang kemari."
Hening...
"Huh?" Nagato menatap Bee heran.
"Dan dia benar – benar datang." Bee hanya mengangkat ringan bahunya. "Aku juga sudah melihat penampilannya. Naruto benar – benar memukau. Bakatnya benar – benar murni." Aku Bee pada Nagato.
"Hn tak terbantahkan." Jawab Nagato penuh rasa bangga.
"Aku sangat senang jika kau yang mengurus anak dari Kushina Nagato." Bee menepuk pundak sahabatnya itu.
"Hm. Aku juga berterimakasih karena kau sudah menjaga Yahiko Bee. Dan aku juga akan menitipkan putriku padamu. Karena aku tidak akan berada lama di sini. Ku mohon awasi Naruto dan Yahiko, aku merasa cemas pada mereka berdua." Bee mengangguk paham.
Suasana serius menyelimuti kamar asrama Naruto. Yahiko menatap dirinya dengan tatapan menusuk. "Paman, aku sudah melakukan apa yang kau perintahkan dengan sempurna." Jelas Naruto.
"Haah baiklah. Kau benar – benar keponakan ku yang cerdas." Yajiko menepuk sayang pucuk kepala Naruto. Wajah nya yang mengeras kembali melunak.
Sebenarnya tadi Yahiko mempertanyakan pada dirinya kenapa Nagto bisa pergi bersama dengannya. Yahiko merasa jika Nagato akan menggagalkan rencana balas dendam mereka atas Minato. Seperti yang ia tahu jika perusahaan Akatsuki menjalin kerja sama dengan Namikaze Corp. Namun Naruto sudah menegaskan dan merasa pasti jika Nagato berada di pihaknya.
"Sesuai rencana aku membuat Minato menjadi sponsor ku dan membuat aku bisa berada di sini sekarang." Ucapnya dengan nada yang terdengar complicated.
"Aku tahu kau tidak akan menerima ini." Yahiko tersenyum lembut. "Tapi dengan ini kita akan membuatnya menyesal seumur hidupnya." Yahiko mengangkat dagu Naruto dan menatap lekat iris safirnya. "Fisikmu tidak seperi Uzumaki. Aku akui aku membencinya." Naruto mengerutkan dahinya ketika mendengar ucapan sang paman. "Tapi kau adalah harta kakak ku yang paling berharga dan sifat mu benar – benar Uzumaki sejati." Senyuman kembali terukir di bibir manis Naruto.
"Tugasku sudah selesai. Sekarang kau yang harus melatih Naruto, Yahiko." Yahiko sontak menoleh kearah sumber suara.
"Nee-san." Panggilnya.
"Hm. Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" Kushina tersenyum lembut menatap sang adik.
"Aku baik – baik saja." Jawabnya. Air mata Yahiko bercucuran. Tergambar di wajahnya rasa rindu yang begitu besar untuk sang kakak. Kushina dapat merasakannya, dan kushina mendaratkan pelukannya ke pada Yahiko.
"Bagaimana dengan Karin?"
"Dia akan kembali. Dia pergi untuk mempersiapkan segalanya. Untuk harta kita, harapan kita." Yahiko melirik Naruto, Kushina sontak mengikuti arah pandang Yahiko. "Naruto. Perjalanan mu yang sesunggunya akan segera di mulai. Dengan ini aku harap kau tidak terikat dengan hubungan apapun di luar Uzumaki." Yahiko menegaskan sesuatu pada Naruto.
"Aku mengerti."
"Semua yang menjadi saingan mu adalah penghalang dan penghalang adalah musuh. Dan musuh harus di enyahkan." Naruto mengangguk mengerti mendengar ucapan Yahiko. "Tidak ada kata teman. Buang semua perasaan mu pada setiap orang yang pernah dekat dengan mu. Karena mereka semua akan lenyap satu persatu nantinya. Dan hanya kami yang akan selalu berada di sisimu. Selalu mendukung mu dan melindungimu."
Sudah seminggu Dream High tanpa Naruto. Sudah seminggu juga Uchiha Sasuke tidak keluar dari Guardian Room. Ya walau memang saat ini mereka sedang di hadapkan oleh setumpuk berkas para siswa dan kegiatan sekolah sebelum mereka melepas jabatan nantinya.
Namun aura gelap yang keluar dari Sasuke sangat – sangat terasa oleh orang – orang sekitarnya. "Oh ayolah Sas. Di tolak itu bukan masalah yang besar. Kau bisa mencari yang baru."
"Bukan itu masalahnya Kiba. Sasuke itu tidak pernah di tolah sebelumnya." Deidara mengibas – ngibaskan tanganya.
"Aku benar – benar tidak menyangka jika Sasuke akan di tolak." Ucap Shikamaru yang mendapat anggukan dari Gaara.
"Apa lagi dengan cara yang kejam seperti itu." Timpal Kiba.
"Kalian bisa hentika itu?" Neji mulai risih karena ia mulai merasa sesak akibat aura yang di keluarkan Sasuke.
"Tapi aku benar – benar penasaran. Apa yang di pikirkan gadis itu benar – benar tidak terduga. Di saar semua wanita di sekolah mengejar – ngejar dan ingin menjadi kekasih Sasuke dia malah menolaknya." Deidara menghempaskan berkas kemeja dan menyandarkan tubuhnyanya yang kelelahan kesofa.
"Naruto itu gadis yang luar biasa hebat. Bakatnya mengangumkan mungkin saja ia mencari pria yang luar biasa juga." Terang Shikamaru.
"Jadi kau pikir teman mu ini yang seorang UCHIHA SASUKE kurang luar biasa?" Kiba tak percaya dengan apa yang di katakan Shikamaru.
"Menurut prediksi ku masa depan Naruto akan sangay cemerlang. Dengan bakat dan ambisinya yang seperti itu. Walaupun aku tidak memungkiri jika ada keanehan padanya." Shikamaru menggaruk kepala.
"Naruto memecahkan rekor. Baru beberapa minggu bersekolah di DH ia sudah di sponsori oleh Namikaze Corp untuk debut di Roma." Gaara meletakan koran yang sedari tadi di bacanya ke meja.
"Hooh. Suge na. Naruto memang sesuatu." Puji Kiba.
"Kapan Namikaze akan menyusul ke Roma. Bukankah beliau adalah sponsornya?." Neji melirik kearah Kurama yang sedari tadi diam seribu kata.
"Hm besok ia akan berangkat." Jawabnya.
"Tunggu! Jadi Naruto tidak berangkat dengan paman Minato?" Sasuke yang juga sedari tadi diam dan sibuk dengan berkasnya akhirnya membuka mulut. "Lalu dengan siapa ia pergi? Ah jangan bilang..."
"Dengan siapa?" Kiba penasaran.
"Ayahku tidak tahu. Dia bilang jika Naruto meninggalkannya dan pergi mendahuluinya ke Roma."
"Naruto kemungkinan bersama ayahnya." Sasuke kembali melanjutkan pekerjaannya. "Ah aku benar – benar tidak mengerti dengan jalan pikirannya."
"Tentang Naruto. Apa kau akan menyerah?" Deidara melirik Sasuke.
"Itu tidak akan mungkin." Shikamaru mengibas – ngibaskan tangannya.
"Tentu saja tidak." Sasuke memejamkan matanya sekilas. "Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan."
"Nah itu dia Uchiha yang kami kenal." Shikamaru tersenyum sembari menyikut Deidara.
"Nah. Kami mendukung mu. Naruto itu bukan wanita biasa yaa aku pikir kalian sangat serasi." Deidara mengangguk yakin. Kiba, Gaara dan Shikamaru pun menyetujuinya.
Neji hanya bisa menghela nafas. Ia tidak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya pada Sasuke. Jika ia mengatakan jika ia tidak setuju tentu saja ia akan kalah suara.
"Oh ya kita akan segera lulus dari DH. Kalian akan melanjutkan kemana?"
"Waah tumben sekali Kiba. Kau bertanya mengenai hal yang berkaitan dengan masa depan. Lol." Deidara mengacak – acak rambut Kiba.
Shikamaru menunjuk Kurama dengan jempolnya. "Aku dan Kurama akan melanjutkan ke Universita seni di Eropa."
"Aku akan ke Rusia." Deidara menjawab penuh semangat. "Kau Kiba?"
"Aku memutuskan untuk melanjutkan ke Universitas ternama Konoha. Aku terlalu malas untuk keluar negri."
"Bilang saja kau tidak bisa berbahasa asing Kiba." Cibir Deidara.
"URUSAI DEI." Smack. Kepala Deidara berdentuman dengan kepalan tangan Kiba.
"Dan kau Sasuke?" Shikamaru menatap Sasuke yang terlihat serius dengan berkasnya.
Sasuke menarik sudut bibirnya. "Tentu saja. Roma." Sasuke mengangkat sebuah berkas yang terdapat tulisan informasi mengenai Kampus – Kampus ternama di sana.
"Wah – wah kau benar – benar ingin mengejarnya." Shikamaru tersenyum geli.
Dan Neji hanya bisa menatap Sasuke dengan tatapan horror. Ia tidak menyangka jika Sasuke benar – benar akan mengikuti Naruto. Setelah sebelumnya ia merasa lega karena Naruto menolak Sasuke. Tapi nyatanya sekarang jika Sasuke tetap masih akan mengejar Naruto.
"Kau tidak perlu mencemaskan ku Neji. Aku tahu persis apa yang kau takutkan." Ucap Sasuke tanpa menghentikan kegiatannya. "Aku juga memiliki kemampuan yang sama sepertimu. Aku juga bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat sama sepertimu." Neji tak bergeming.
"Tentu saja aku tahu. Karena semua Uzumaki memiliki hawa yang seperti itu. Itu yang Aniki katakan padaku." Neji membenarkan apa yang Sasuke katakan. Jika Uchiha juga memiliki kemampuan yang hampir sama seperti dirinya, terutama mata mereka. Dan tentunya Uchiha lebih kuat. Sepertinya Neji memang harus berhenti untuk terlalu mencemaskan Sasuke.
"Hm baiklah." Jawab Neji pasrah tanpa mengurangi kekhawatirannya walau ia sudah mencoba untuk mengenyahkan perasaan itu dan mempercayaai insting Uchiha dari Sasuke.
Bersambung...Review?
