A/N : HALOO MAAF BARU BISA UPDATE! LAGI DALAM MINGGU UAS SOALNYA ;w; ini aku juga update ditengah-tengah UAS. Hfft... maaf ya makin lama makin 'lama' dan 'pendek'. Thank you untuk yang sudah review :3 maaf nggak bisa balas satu-satu. Lagi nggak ada waktuuuu banget, tapi terima kasih semua dan happy reading!


"Moshi-moshi!" kata Miku mengangkat HP-nya.

"Hai, Miku!" seru Meiko dengan tenang. "Bagaimana audisinya? Berjalan lancar? Kau dimana sekarang?"

"Aku sedang di jalan menuju ruang audisi nih," jawab Miku.

"He? Memangnya kau habis darimana?"

"Ke kamar mandi tadi, hahaha! Oh ya, aku sudah di depan ruang audisi nih. Kumatikan dulu, ya! Dadah, Meiko-chan!" Miku langsung menutup teleponnnya. Meiko melepaskan HP-nya dari telinga dan melirik ke sekeliling arah.

"Kamar mandi katamu?" geram Meiko. "Kau baru saja ngobrol di ruang serbaguna D, Miku. Dan tidak ada kamar mandi disini kecuali di bagian utara Yokohama!"

Tanpa ba-bi-bu lagi, Meiko langsung menelpon Gakupo dan Gakupo mengangkatnya. "Gakupo! Kau harus tahu tentang ini!"

"Tentang apa?"

Sambil menarik napasnya. "Tentang sahabat kita sekaligus ketua kita, Hatsune Miku!"


.

.

~ Crypton Life ~

Disc : Yamaha Corp

Pairing : Len x Rin (NOT INCEST)

Genre : Romance, Friendship, Slice of Life

Rate : T

Warning : LenXRin! Typo(s)! Rude Word(s)!

Note : Sekali lagi ditekankan, di dalam cerita ini Len dan Rin sama sekali tidak ada hubungan darah. Jadi bagi yang tidak suka dengan pairing ini, bisa stop scroll dan klik tombol back. Dan terdapat BANYAK KATA KASAR disini.

Tambahan Khusus : Download/Putarkan lagu Eternal Flame (The Bangles) dan Mirai (Kobukuro) untuk bisa lebih menikmati. Kalau bisa lagunya dilain device yang untuk baca fanfic, soalnya ada beberapa bagian yang dipotong. Nanti dikasih tahu, kok. Thank you.

.

.


"So, care to explain about earlier?"

Rin menghempaskan dirinya di sofa yang tidak terlalu panjang namun cukup empuk dan lembut untuk di duduki.

"Uh...," Len hanya tertawa sambil membolak-balikkan menu. Ya, karena menurut Len audisi mereka berjalan cukup sukses, akhirnya Len mentraktir Rin di kafe mahal yang 'biasa' Len kunjungi. "Coba, disini ada cordon bleu, terus aglio olio, terus..."

"Gue stamppot aja. Minumannya vanilla cream," ujar Rin cepat.

"There's no vanilla cream in here."

"Milkshake vanilla kalau gitu."

"Oke oke," Len mengangguk-angguk lalu dia melambaikan tangannya, memanggil pelayan untuk mencatat order-an mereka.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya pelayan bercelemek merah itu.

"Oh ya, kita mau order," Len menyodorkan menunya. "Stamppot satu, salmon scramble satu, milkshake vanilla satu, dan air putih satu. Dessert-nya apple pie dan 3 scoop es krim rasa vanilla dua dan stroberi satu."

"Baiklah. Saya ulangi lagi, ya. Stamppot satu, salmon scramble satu, milkshake vanilla satu, air putih satu, apple pie satu, satu porsi es krim satu. Itu saja? Ada tambahan lagi?"

Len menggelengkan kepalanya. "Itu saja."

"Baiklah. Estimasi kedatangan makanannya setengah jam dimulai dari sekarang, ya. Mohon ditunggu," pelayan itu memberi hormat sebelum melenggang pergi ke dapur untuk memberi tahu orderannya.

"Air putih lagi?" Rin bertanya sambil meletakkan tangannya di dagu.

"Yup," jawab Len singkat. "Air putih itu bagus untuk kesehatan.

"Apa rasa air putih... memang, sih bagus untuk kesehatan," komentar Rin dengan menurunkan volumenya, takut menyinggung orang yang duduk didepannya ini. Sayang kan baru masuk ke kafe bagus terus ditendang sama yang mengajak gara-gara menghina minuman kesukaannya? "Jadi, kenapa 'midori' diganti jadi 'kiiroi'?!"

"Pengen tahu banget, sih! Lagian udah lewat juga itu audisi," Len memicingkan matanya.

"Lo itu pernah bilang, kan jangan pernah keluar dari lirik?! Dan lo baru aja melanggarnya!"

"Siapa yang bilang seperti itu?" tanya Len cuek.

"LO, LEN KAGAMINE YANG DIPUJI-PUJI OLEH SELURUH CEWEK!"

Len menaikkan alisnya. "Emang lo nggak tergila-gila sama gue? Kan, lo ngefans sama gue."

Pipi Rin memerah. "I-itu dulu! Kenangan terburuk gue yang bahkan nggak mau gue ulangi lagi!"

Len terdiam namun kemudian tertawa terbahak-bahak membuat gadis malang yang satu ini bingung dibuatnya. Len menunjukkan handphone yang berisi wallpaper Len sedang bermain gitar dan manggung di konser dua tahun yang lalu.

Dan itu...

Handphone Rin.

...

"KAMVRETTO LEN BALIKKIN HP GUEEE WOOOOYYY!" teriak Rin sambil berusaha meraih handphone malangnya yang dipegang-pegang Len.

"Eh, jangan malu-maluin napa!" balas Len mengecilkan suaranya.

"BODO AMAT, SIAPA SURU-MMMFFFFH!"

Len mendekap mulut Rin dan gadis korban yang malang ini meronta-ronta minta dilepaskan. Len memutarkan bola matanya lalu dari arah seberang meja, ia menarik tangan Rin secara paksa dengan tangan kirinya dan membuat Rin kaget bukan kepalang. Jarak wajah mereka hanya beberapa inchi dan mata mereka saling bertautan. Len menyeringai sambil menaruh handphone Rin ber-casing hard dan melepaskan dekapan mulutnya.

"Sudah puas?"

Rin menatap tajam Len sambil kembali duduk ke tempat semula. Rin mengotak-atik HP-nya dan mengganti wallpapernya menjadi pemandangan alam yang berbentuk lukisan. "Nih, gue ganti!"

"Terpaksa, kan itu? Sudah ketahuan, sih!" ejek Len membuat Rin semakin panas.

"SIALAN LO, SINI MANA HP LO?!"

"Nggak jaman bajak-membajak please. Kalau mau bajak mah di sawah sendiri, bukan sawah orang. Malu ah ketahuan sama petani karena nggak tahu yang mana sawah sendiri yang mana sawah orang," cengir Len tak lupa membagi seringainnya yang bisa membunuh cewek-cewek sekejap.

"Receh lu ah!" Rin melipat tangannya. "Oh ya, lo belum kasih tahu kesalahan lo tadi! Kenapa lo ganti dari midori jadi kiiroi?!"

"Ke-na-pa yaa?" Len memutarkan bola matanya. "Rin kepo banget, deh!"

Rin mendesis kesal. Awas saja kau, dasar Len, umpat Rin dalam hati sambil menatap Len dengan tajam.

"Permisi," seorang pelayan menghancurkan suasana yang sangat dingin ini (seriusan lho, di kamarku dingin banget sekarang T_T) sambil meletakkan makanan-makanan yang mereka pesan. "Stamppot satu..."

"Ya..."

"Salmon scramble satu..."

"He'eh..."

"Seporsi es krim satu..."

"Ya ya..."

"Milkshake vanilla satu..."

"Yup!"

"Lemon squash satu..."

"Iya!"

Pelayan itu mengangguk-angguk sambil mencontreng-contreng di struk khusus untuk pelayan. "Semua makanan sudah disajikan di table ya. Jika butuh apa-apa, tekan saja tombol disini dan kami akan menghampiri meja anda. Terima kasih dan selamat menikmati."

"Yeaahhh!" Rin langsung mengangkat garpu dan sendoknya. "Saatnya makaaann!"

"ITTADAKIMASU!" seru mereka berdua serempak lalu menyantap makanan yang mereka pesan.

"Uhuk!" Len langsung tersedak. "Tunggu, tunggu..."

"Ada apa, Len?" Rin yang khawatir langsung menyodorkan tisu ke arah Len. "Jangan terburu-buru, tersedak lagi tahu rasa kau!"

"APAAN NIH?!" teriak Len sembari mengangkat gelas ramping nan panjang ke depan wajah Rin. Terlihat jeruk nipis sedang mengambang-ngambang dengan nyamannya di dalam gelas bening itu. "Asem banget rasanya, udah gitu nggak ada manis-manisnya lagi!"

"Woah!" kata Rin sambil mengunyah pelan makanannya. "Namanya lime squash, atau lemon squash juga bisa," jelas Rin.

Len memicingkan matanya. "Gue nggak nanya namanya, orange freak."

"Gue ngasih tahu, banana freak."

"Intinya, kenapa lo nge-iya-iyain pas pelayan itu bilang lemon squash?! Lo nggak tahu apa gue benci banget sama yang namanya asem-asem! Hidup gue manis gini diasemin pake lemon, ewh...," ujar Len sambil melipat tangannya. "Pokoknya gue gak mau minum ini!"

"Dih, siapa lo, siapa gue," Rin memutarkan bola matanya. "Bodo amat, mau lo minum, mau lo nggak, sampai tenggorokan lo seret gue no problem aja sih ya."

"Tcih!" desis Len. "Yaudah, gue panggilin pelayannya lagi aja!"

"ET ET ET!" potong Rin sembari menahan tangan Len menekan tombol di samping meja makan mereka. "OKE FINE, kita tukeran minuman, gimana? Lo vanilla milkshake, gue lemon squash."

"Tapi gue gak suka manis, Kagamine Rin!"

"Lo mau gue sumpelin lemon dipotong-potong tiap hari, atau minum vanilla milkshake sekali ini aja?"

"Ahh baiklah, BAIKLAH. Okay, okay," dengus Len sambil menyodorkan lemon squashnya ke arah Rin.

"Nah, itu baru anak baik," senyum Rin sembari melakukan apa yang Len lakukan.

"Anak baik, my shoes. Jijik tau nggak, sih," Len mendelik kesal.

"Jeruk, atau diam?"

"S-sip! GUE DIEM NIH, GUE DIEM."

"..."

Len meraih milkshake vanilla-nya dan meneguknya. Rasanya manis dengan rasa vanilla yang khas. Len tiba-tiba tersadar akan sesuatu yang sudah melenceng dari garis lurus. Ibaratnya, lo yang harusnya jalan lurus buat sampai tujuan, tapi tiba-tiba belok gara-gara lo liat spanduk K*C gedeee banget dan lo saat itu lagi laper-lapernya.

Dan Len nggak bakal membiarkan lo semakin jauh dari jalan yang salah.

"Ahem!" Len berdeham. "Lo nggak sadar sesuatu?"

Rin menaikkan alisnya. "Hah? Sadar apaan?"

Mata Len tertuju pada lemon squash itu, membuat bola mata indah Rin ikut-ikutan ke objek yang diperhatikan lawan bicaranya ini.

"Kenapa sama lemon squash-nya?"

"Lo polos apa sok polos apa emang sengaja sih?!" dengus Len tidak sabar.

"Hah, apaan sih?! Kok, tiba-tiba marah?!" Rin berbalik mendengus kesal.

Len langsung memijit keningnya. "Ternyata lo beneran polos."

"Hah?" Rin memasang wajah yang bingung. "Apaan, sih? Polos apa maksudnya?"

"Nggak, nggak jadi," Len menarik nada suaranya lalu melanjutkan menyeruput milkshake vanilla-nya.

"Ih, cepetan!" Rin langsung menginjak kaki Len sampai yang diinjak itu meringis kesakitan.

"A-aduh, iya iya!" Len menatap tajam Rin. "Itu, sedotan gue!"

"Kenapa sama sedotan lo?" tanya Rin.

"Tcih!' Len kembali berdecih. "Gue kan pakai itu juga sebelumnya."

"...terus?"

"Terus?" Len langsung tertawa dipaksakan. "Lo polos banget, sih?"

"CEPETAN, KASIH TAHU NGGAK?!" Rin semakin keras menginjak kaki Len.

"I-iya!" Len kembali meringis. "Itu namanya indirect kiss, kamvretto Rin!"

"...hah?!"

"Indirect kiss!" seru Len meninggikan suaranya.

"..."

"..."

"DASAR MESUM!" teriak Rin kembali menginjak kaki Len sampai Len meringis kembali.

"KAN, LO YANG MAKSA GUE BUAT JAWAB!" balas Len dan terjadilah keributan yang tidak kecil di kafe tersebut. "Gue nggak ngerti beneran sama cewek. Apa, sih mau mereka. Nggak dikasih tahu, ngambek. Dikasih tahu, mukul. Dijailin, nyubit."

"Heh? Apa lo bilang?"

"NGGAK ADA!" balas Len. "Sekarang, angkat kaki lo."

"..."

"..."

"Apa lo bilang?"

"ANGKAT KAKI LO, AYAM!"

"OH!" teriak Rin. "Jadi lo sekarang ngusir gue, gitu?" Dan darimana sebenarnya inspirasi sebutan Ayam yang diberikan dari Len untuk Rin? Tiba-tiba nggak ada hujan, nggak ada angin.

"B-BUKAN! INI, KAKI LO, NAUDZUBILLAH. KAKI GUE SAKIT, NYET!"

"Oh," jawab Rin mengangkat kakinya. "Sorry, sorry, haahahaha! Gue nggak sengaja."

Gue nggak sengaja.

Gue nggak sengaja.

Gue nggak sengaja.

GUE NGGAK SENGAJA.

SENGAJA.

"Dasar ketupat, lontong sayur, pakai kecap, sambel. Sialan itu anak, wedus gembel," bisik Len dari dalam lubuk hati yang tidak bisa diukur dengan penggaris pun.

"Dasar ketupat, lontong sayur, pakai kecap, sambel. Sialan itu anak, wedus gembel, siapa tuh yang bilang gitu," Rin mendelik kesal memicingkan matanya ke arah Len.

...

tapi bisa didengar oleh Kagamine Rin.


"Aku nggak percaya, Meiko," ujar Gakupo sambil menopang dagunya di meja khusus, wakil OSIS, di ruang osis. Mendengar kabar seperti itu, mereka bergegas kembali ke sekolah dan berniat untuk melaporkan kepada Kiyoteru Sensei, tapi ternyata beliau tidak ada di sekolah. "Kok, bisa-bisanya Miku seperti itu? Yakin kamu dengar itu semua? Siapa tahu kamu salah dengar atau apa?"

"Nggak, kok!" sanggah Meiko sambil duduk diatas meja Gakupo dan menyilangkan kakinya. "Aku benar-benar dengar dan tidak mungkin aku salah dengar! Seharusnya aku ngerekam itu semua supaya bisa jadi barang bukti."

"Hmm...," Gakupo terdiam sebentar. "Meiko, kita butuh bukti bukan hanya dari satu orang saja."

"Benar," jawab Meiko. "Tapi kalau Miku dan anak itu hanya membicarakan itu baru hari ini?"

"Tunggu, sebenarnya siapa 'anak itu'?" potong Gakupo.

"Sudah kubilang, itu Mayu."

"Kamu benar-benar yakin itu Mayu?" klarifikasi Gakupo.

"Tentu saja! Aku mendengar dan melihat dengan mata sendiri!" seru Meiko. "Pokoknya kita harus bisa mengatasi masalah ini sebelum pemilihan ketua! Karena kalau kita gagal, siapapun yang disukai juri, Mayu-lah yang pasti menang!"

Gakupo terdiam lalu menghembuskan nafas. "Yah, bagaimana ya... kau tidak bisa meminta OSIS mengirikan surat dan semacamnya ke yang bersangkutan. Kita harus membuat sidang dulu dan itu harus disetujui oleh Ketua OSIS."

"Ya sudah, sidang dia secepatnya!" seru Meiko tidak sabaran.

"Meiko, jika tidak banyak bukti, tidak mungkin dilakukan secepat itu. Butuh observasi dan semacamnya. Lagipula, Ketua Osis yang menyelenggarakan. Aku, wakil ketua OSIS tidak bisa berbuat banyak," ujar Gakupo.

"Cih!" Meiko mendengus. "Gakupo! Tapi ini genting!"

"Aku tahu! Tapi hargai peraturan!"

"HARGAI PERATURAN DI SAAT-SAAT SEPERTI INI?!" Meiko mengacak-acak rambutnya frustasi.

"Hei, Meiko, tenang-

"Haha!" potong Meiko. "Tenang?! Kaupikir aku bisa tenang disaat ketua kita dengan senang hati menerima uang sogokkan itu?! Dan kita tidak tahu uang itu dipakai untuk apa, kan?"

"Meiko, duduk dan-

"Aku tidak tahu lagi! Biarkan-

"BAIK, BAIK!" Gakupo berdiri, menghentakkan kaki membuat wanita berambut cokelat itu berhenti ngedumel. "Aku akan coba telpon Luka."

"Kok, Luka?" tanya Meiko.

"Tentu saja, kita harus tanya satu per satu anggota, bukan mengenai Miku?" tanya Gakupo sambil mendekatkan HP-nya ke telinganya.

Meiko menatap Gakupo dengan raut wajah aneh. Iya sih tapi kenapa harus Luka duluan, batin Meiko dalam hati.

"Hai, Luka, ini aku, Gakupo. Sedang sibuk tidak?"tanya Gakupo sambil mengaktifkan speaker, dengan tujuan agar Meiko bisa mendengarkan jawaban Luka.

"Oh halo, Gakupo. Kami baru saja selesai audisi. Aku sedang makan bersama Kaito sekarang di kantin Yokohama. Ada apa?"

Mendengar Luka bersama 'laki-laki' lain, Gakupo mendelik kesal. "Apa-apaan tuh? Kau nggak ngapa-ngapain, kan? Awas aj- AAWW!"

Meiko yang mengerti maksud Gakupo langsung menjitak kepala laki-laki berambut ungu panjang itu.

"Eh, ada apa, Gakupo? Kau baik-baik saja?"

"I-iya! Aku baik-baik saja!" seru Gakupo sambil melirik Meiko kesal. Yang dilirik malah melotot, menyuruh Gakupo langsung masuk ke inti. "Nah, kau tahu. Meiko barusan cerita padaku tentang... um, Miku."

"Tentang... dia? Oh, um... ada apa dengannya?"

"Miku... sepertinya sedang melakukan sesuatu dengan Mayu."

"... begitu, ya?"

"He? Jangan-jangan kau tahu apa yang kumaksud?" tanya Gakupo membelakakkan matanya.

"Tidak begitu," jawab Luka. "Memangnya apa yang dilakukan Miku sampai menyeret-nyeret Mayu?"

"Dia-

"Lebih tepatnya Mayu yang menyeret-nyeret nama Miku sehingga membuat Miku berada di posisi ini!" serobot Meiko menarik handphone Gakupo. Gakupo hanya menatap Meiko kesal namun tidak digubris.

"Oh... Meiko? Kau disana?"

"Dengar, Luka! Apapun yang terjadi, jika kau mencium bau-bau kecurigaan, segera lapor aku! Mengerti?!" seru Meiko.

"He? Baik, baik. Tapi bau-bau kecurigaan? Apa maksudnya?"

"Amplop! Kau tahu amplop tebal?!" seru Meiko.

"Oh my god! You mean... nyogok?!" seru Luka.

"BINGO!"

"Tunggu-tunggu... darimana kau tahu kalau si Ma- anu... mmf, maksudku, dia menyogok?" tanya Luka dengan suara yang hati-hati, karena disamping Luka sekarang ada Kaito yang merupakan pacar Miku sekarang.

"Akan aku ceritakan selengkapnya tapi tidak di telepon, Luka," ucap Meiko. "Cerita yang panjang."

"Aku... sebenarnya juga sudah merasakan keanehan semenjak pergantian pelatih yang kedua. Aku pikir aku hanya emosi saja pada saat itu...," cerita Luka dengan suara yang pelan.

"Pergantian pelatih yang kedua?!" seru Meiko dan Gakupo saling berpandangan.

"I... iya."

"Kenapa kau baru memberi tahu kami sekarang, Luka," ucap Gakupo lemas.

"Sial...," Meiko memijit keningnya. "Aku tidak tahu kalau mereka sudah merencanakannya sudah cukup lama."

"M-maaf!"

"Luka," sahut Meiko. "Kemarilah dan ceritakan pada kami apa yang kau alami itu."

"Oke, tunggu, ya!"

PIIIPP!

"Gila!" Gakupo menghembuskan nafasnya. "Nggak pernah aku bayangkan Vocaloid bakalan seperti ini."

"Iya, kan? Bukan cuma fantasi seorang Meiko saja?!" seru Meiko melipat tangannya. "Aku tidak akan pernah rela jika Mayu lah yang dipilih, apapun yang terjadi!"

"Aku akan mencoba bilang ke Ketua OSIS untuk mengadakan sidang buat mereka berdua," kata Gakupo beranjak dari kursi.

"Tidak perlu repot-repot, lho, Gakupo-san."

"He?"

Laki-laki berambut pink itu memasang cengiran khas-nya. "Aku sudah menyimak obrolan kalian yang cukup menarik itu, dan aku pikir, tidak masalah membantu Vocaloid yang sedang berada dalam keadaan genting."

"Ketua!" seru Gakupo.

"Yuuma!" seru Meiko kaget.

"Wah, namaku disebut oleh artis Vocaloid," Yuuma tersenyum. Yah, aku mau membantu kalian hanya karena Rin juga ikut menjadi korban, ujar Yuuma di dalam hati sembari menghampiri Gakupo dan Meiko. "Jadi, Miku dan Mayu, ya yang bermasalah disini?"


"Hei, gue bosan," seru Len sambil memegang gitar. "Lo nggak mau nyanyi atau apa?"

Mereka berdua setelah selesai menghabiskan makan siang, berniat untuk pulang ke rumah-masing-masing. Awalnya, Len menawarkan untuk mengantarkan Rin pulang ke rumah dengan gaya tsundere-nya seperti biasa, tapi Rin menolak dan malah menganggap Len sedang demam. Namun Len bersikukuh mengantarkan Rin pulang dan akhirnya Rin mengalah dan menyetujuinya.

Tapi, baru Rin dan Len sampai di depan apartemen, hujan besar dan lebat tiba-tiba datang. Akhirnya, Rin terpaksa mengajak Len masuk dengan gaya tsundere-nya Rin seperti biasa. Awalnya, Len dengan gaya sok menolak untuk masuk, tapi si Rin ini entah punya tenaga darimana berhasil menjepret kaki Len dan menyeretnya ke dalam kamarnya Rin.

"Hah, nyanyi apaan, ya?" ucap Rin sambil duduk di sofa pendek, sedangkan Len duduk di sofa panjang. "Gimana kalau... eternal flame?"

"Um... yang nyanyi The Bangles, ya? Itu, kan lagu lama!"

"Biarin!" cibir Rin. "Gimana?! Jadi nggak?"

"Iya iya!" Len membalas mencibir. "Satu... dua... tiga."

[ETERNAL FLAME]

Len memainkan gitarnya dengan gaya petikkan khas Len dan dapat membuat semua orang terhipnotis dengan suara yang dikeluarkan dari gitar tersebut.

Rin menarik napas, bersiap-siap bernyanyi.

Close your eyes, give me your hand, darling.

Do you feel my heart beating?

Do you understand?

Do you feel the same?

Am I only dreaming, is this burning an eternal flame?

I believe, it's meant to be, darling.

I watch you when you are sleeping,

you belong with me.

Do you feel the same?

Am I only dreaming, but is this burning an eternal flame?

Say my name, sun shines through the rain

A whole life so lonely

And then you come and ease the pain

I don't want to lose this feeling, oh...

Say my name, sun shines through the rain

A whole life so lonely

And then you come and ease the pain

I don't want to lose this feeling, oh...

Close your eyes, give me your hands.

Do you feel my heart beating,

Do you understand?

Do you feel the same?

Am I only dreaming, but is this burning an eternal flame!

"Eh?" Rin langsung berhenti tatkala Len menghentikan petikkan gitarnya. "Ada apa, Len? Lo kesambet apaan sampai tiba-tiba berhenti kayak gitu?"

"Umm... nadanya monoton! Biasa aja. Males tahu ngejreng-ngejreng dengan chord yang sama," jawab Len dengan cepat. "Ganti lagu! Gue sekarang yang nyanyi."

"Tapi gue ngga bisa main gitar," keluh Rin.

"Dih, siapa yang nyuruh lo main gitar?" tanya Len. "Gue yang nyanyi, sama main gitarnya."

"Oke deh, gue dengerin ya berarti?"

"Iya, pasang kuping lo baik-baik."

[MIRAI - KOBUKURO]

Boku ga yume o wasuresou na toki.

Kimi no namida de omoidasu

Nan no tame ni, aruite kita no ka.

Nando demo oshiete kureru.

Dote ni shi tareta nidome no haru o.

Tsurete aruita koatakoi kaze.

Kimi to ito itsuka onaji eda no ue

Naran de saite mitai.

Toki doki setsunai hitomi de warau no wa

Mada miserarenai kokoro ga arun da ne.

Konna ni kabosoku ore sou na

Eda no saki ni mo kimi no mirai ga

Umareteru imada minu hibi o

Kiriotosanai de

Ima wo waratte

Furikaeru, kimi o mamoritai.

Soba ni itai kara.

Soba ni itai kara.

Plok! Plok! Rin bertepuk tangan setelah Len menyelesaikan lagu yang bermakna itu. "Keren, keren! Itu original soundtrack-nya anime Or*nge, ya?!"

Len menaikkan alisnya. "Kok, lo tahu? Lo otaku, ya?"

Rin memberikan cengirannya. "Iya, dong! Gue mah update sama yang namanya anime. Apalagi, kalau... ehem... ala-ala Yuri On I*e gitu deh, sama T*uken Ranbu. Gila, gila, mereka cakep-cakep banget!"

"Ya ilah," Len mendelik kesal.

"Eh tunggu-tunggu, tapi lo tahu lagu itu berarti lo nonton Or*nge itu ya?" tanya Rin. "Itu drama romantis gitu! Gue pikir nggak bakal ada cowok yang nonton."

"Ya nggak lah," sanggah Len. "Hujannya udah berhenti, gue pulang, ya?"

"Oh...," Rin terdiam sebentar. "O-oke..."

Len berdiri dan mengambil gitar miliknya lalu memasukkannya ke dalam sarung gitarnya. "Oke, gue pulang dulu ya!"

"A-ah... sip sip...," Rin berjalan mengikuti Len ke arah pintu keluar.

"Anyways...," Len tiba-tiba terdiam sebelum menutup pintu kamar Rin. "Lagu tadi... coba liat lagi liriknya. Karena itu gue nyanyiin buat lo."

"Ah..., oke," balas Rin dengan senyumannya.

Len membalas dengan senyumannya dan menutup pintu.

Rin terdiam sebentar, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh si banana freak itu sebelum pulang. Dan dia teringat akan sesuatu, yang menurutnya itu bodoh sekali. Bodoh. Tanpa ba-bi-bu lagi, Rin langsung membuka pintunya lagi dengan paksa dan mendapati Len masih berjalan, tidak jauh dari kamarnya. Dan karena hentakkan pintu Rin yang luar biasa kencangnya, membuat Len berhenti melangkah dan berbalik badan.

Len tampak membuka mulutnya, "Ada ap-

"Heh, BODOH!" seru Rin.

"...hah?" Len menatap Rin kebingungan.

"Kenapa lo nggak ingetin gue kalau lo bawa mobil!" kata Rin.

"G-gue-

"Tapi, TERIMA KASIH!" Rin menundukkan kepalanya, membuat Len semakin dibuat bingung.

"O-oke..."

"Dan... hati-hati di jalan."

BRAK!

Pintu kembali digebrakkan oleh Rin membuat Len kaget untuk sekian kalinya.

Tapi sekarang, Len menampilkan senyuman yang tidak biasa ia tampilkan. Senyuman bahagia, yang mampu menghipnotis semua orang didekatnya. Tapi bukan itu maksud tujuannya menampilkan senyuman seperti itu. Ia terlalu bahagia, bahagia akan kenyataan yang dialaminya.

Konna ni kabosoku ore sou na

You seem to break so delicately

Eda no saki ni mo kimi no mirai ga

Your future is born on these branches

Umareteru imada minu hibi wo

Don't prune off the days you've not seen

Kirioto sanai de

Ima o waratte furikaeru

I want to protect you now

Kimi o mamoritao

As you laugh looking back

Kokoro fukaku ni mi o shiru ame

The rain knows our bodies deep to the heart

Dakishimeru

Hold me

Soba ni itai kara

Because I want to be by your side.

Rin yang mendengarkan lagu itu hanya tersenyum kecil. Kenapa sekarang dia merasa bahwa menghabiskan waktu bersama Len, tidak seburuk yang dia pikirkan? Rin membuka HP-nya dan memutuskan untuk menge-chat Len duluan karena biasanya Len-lah yang inisiatif mengambil langkah duluan.

kagarin : Hey, online?

kagaminesan : hey, rin. ada apa?

kagarin : hey

kagaminesan : uh... hey?

kagarin : gue bosen.

kagaminesan : haha, bosen ya gaada gue :

kagarin : idih, ngarep lo. Btw, hang out lagi yuk!

kagaminesan : cie :v tiba-tiba ngajak.

kagarin : dibilangin, lagi bosen.

kagaminesan : oke deh! lusa, di mall yg pertama kita kunjungi.

kagarin : oke oke. ntar gue kesana?

kagaminesan : iya.

kagarin : sip sip.

[kagarin off]

.

.

~ To Be Continued ~