Tales of the Steel Flower Princess.
[Hohoho, bagaimana kabar readers sekalian? :D Kaien sengaja update hari ini karena kemungkinan Kaien akan sangat sibuk pada hari sabtu jadi tidak bisa update. Baiklah, mungkin sekian pesan dari saya lol. Sekarang repliesnya...
1. BlackRoses: Hohoho, kalau liburan memang membuat seseorang gampang lola hahaha. XD Makasih untuk reviewnya. Hehehe
-o-
2. Saika: Makasih untuk reviewnya hahaha. Oh, kesalahan kata-kata yang mana maksud Saika-san ya? Harap diberi tau ^^
-o-
Let's go to the story! XD]
Chapter 13: Left the alliance and aftermath
[Two days after the defeat, Cao Cao's healing tent]
"Bagaimana keadaan yi fu?"
"Kau tidak perlu khawatir, Yin." Ia menggerakkan lengannya yang masih belum sembuh total. "Aku sudah merasa jauh lebih baikan. Lihatlah." Tiba-tiba ia merintih, membuatku kaget hingga langsung berdiri dan memegang lengannya.
"... Lebih baik yi fu jangan terlalu banyak menggerakkan lengan sampai luka yi fu sembuh sepenuhnya." Saranku.
Yi fu mengangguk setuju. Aku kembali duduk di hadapannya.
"Bagaimana dengan tangan kananmu?"
Aku menunduk untuk melihat telapak tangan kananku. "Tangan kananku sudah tidak sakit lagi." balasku sambil menengadah ke yi fu. "Meskipun begitu, lukanya belum sepenuhnya tertutup."
"Oh."
Yi fu lalu berdiri dan berjalan ke belakangku. Aku berbalik lalu berdiri di belakangnya.
"Yin, tolong panggil Xuande dan Wentai. Bilang pada mereka aku menunggu mereka di paviliun belakang perkemahan kita."
'Eh? Untuk apa yi fu memanggil mereka berdua?' batinku.
Meski aku tidak tau apa tujuannya, aku hanya membungkuk hormat dan menyatakan kesediaanku. Aku beranjak keluar dari tenda ini dan langsung berjalan menuju tenda Sun Jiangjun.
"Mungkinkah yi fu ingin membicarakan soal itu?" Gumamku pada diri sendiri.
-X-
Sesampainya di sana, aku melaporkan pada prajurit yang bertugas menjaga pintu tenda bahwa aku ingin bertemu dengan tuannya. Prajurit itu membungkuk hormat lalu masuk ke dalam, mengabari Sun Jiangjun akan kedatanganku. Aku menunggu dengan sabar selama beberapa saat. Prajurit tadi keluar bersama Sun Jiangjun dan beberapa Jiangjun di bawah pimpinannya.
"Selamat pagi, Sun Jiangjun." sapaku sambil membungkuk hormat.
"Selamat pagi, Cao Yin Jiangjun." sapanya balik dengan ramah. "Bagaimana kabarmu?"
"Baik-baik saja, terima kasih. Bagaimana dengan anda?"
"Seperti yang kau lihat, aku sehat-sehat saja." Ia akhiri dengan tawa ramah. "Ada keperluan apa Jiangjun kemari? Lebih baik kita beicarakan di dalam." Ia mengajakku masuk ke tendanya.
Aku membungkuk hormat. "Terima kasih tetapi aku tidak akan masuk. Maksud kedatanganku adalah untuk memberitau Jiangjun bahwa yi fu mengundang Anda ke paviliun di belakang kemah kami."
"Hmm... Mengde xiong mengundangku?"
Aku mengangguk.
"... Baiklah. Kalau begitu aku akan bersiap-siap terlebih dahulu. Ada urusan yang harus kuselesaikan sebentar."
Aku membungkuk hormat. "Baiklah. Kalau begitu, aku permisi dulu."
"Cao Yin Jiangjun, jaga diri." Ia membalas membungkuk.
Aku berbalik dan beranjak pergi dari hadapannya sementara ia sendiri kembali ke tendanya. Mendengar suara-suara berisik dari kiri, aku pun berhenti melangkah, memutuskan untuk melihat sebentar dan menemukan para prajurit Sun Jiangjun sedang mengangkat tiang-tiang penyangga tenda. Terlintaslah di benakku bahwa Sun Jiangjun juga akan pergi meninggalkan aliansi ini, kembali ke daerah asalnya - Jiangdong. Melihat pasukan Sun yang sudah membereskan beberapa tenda membuatku terpikirkan akan Liu Bei bersaudara. Aku langsung mempercepat langkahku, berharap setidaknya masih sempat menyampaikan undangan yi fu sebelum mereka pergi. Ya Tian... tolonglah aku kali ini...
-X-
Saat aku sampai, aku tidak melihat seorang prajurit pun di dekat rumah kecil mereka. Suasananya sunyi senyap, hanya desiran angin dan suara ringkikan kuda dari kejauhan yang terdengar. Aku berdiri di depan pintu rumahnya, menatap pintu kayu yang menghalangiku untuk masuk ke dalam. Awalnya aku ragu untuk menggetuk pintu itu, takut kalau orang yang kucari sudah tidak ada tetapi aku memutuskan untuk mengetuknya juga pada akhirnya. Mungkin memang tidak sopan karena siapa tau mereka sedang tidur tetapi ya... terpaksa kuketuk.
Tok! Tok! Tok!
Tidak ada jawaban dari dalam. Aku kembali mengetuk pintu itu.
Tok! Tok! Tok!
"Liu da ren?"
Tidak ada jawaban lagi. Aku mulai cemas mereka sudah tidak ada di sini. Kembali kuketuk pintu kayu yang ada di hadapanku ini.
"Liu da ren!" Karena sangking paniknya, aku pun berteriak.
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari balik pintu. Aku langsung menjadi semakin panik dan gusar. Aiya! Kalau mereka sudah pergi, aku sudah gagal dalam melaksanakan perintah yi fu!
Aku langsung berbalik dan berlari pergi dari sana untuk mencarinya. Saat aku baru berlari tiga meter, aku bertabrakan dengan seseorang hingga kami berdua terjatuh.
"A-aduh!" rintihku.
"A-! Cao Yin Jiangjun!"
Aku menoleh ke arah orang yang kutabrak dan ternyata dia adalah Liu da ren. Oh Tian! Terima kasih karena telah membantuku kali ini! Ingin sekali rasanya aku berkowtow seribu kali pada Tian Yang Agung karena hal ini!
Ia langsung bangun dan membantuku berdiri.
"Cao Yin Jiangjun, apakah Anda tidak apa-apa?" tanyanya.
"A-aku tidak apa-apa. Maaf aku sudah menabrak da ren." Aku membungkuk dan meminta maaf.
"Seharusnya aku yang meminta maaf karena telah menabrakmu." Ia meminta maaf.
"Tapi aku yang salah karena suda-"
"Sudah, sudah! Kalian itu saling meminta maaf terus, kapan selesainya? Sampai langit runtuh dan dunia terbelah jadi dua?" potong Zhang Fei.
"San di, kau tidak sopan!" tegur Liu Bei.
"Maafkan aku, da ge." Ia menunjukkan seulas senyum.
Liu Bei menghela nafas. "Baiklah. Aku maafkan kau kali ini. Jangan kau ulangi lagi, hao ma?"
Zhang Fei mengangguk-angguk.
"Yin Jiangjun, ada keperluan apa kemari? Apakah ada yang Anda ingin bicarakan dengan kami?" tanya Liu Bei dengan ramah seperti biasa disertai senyuman.
Aku mengangguk penuh semangat. "Begitulah. Yi fu mengundang Anda sekalian ke paviliun di belakang kemah kami."
"Oh?"
"Kelihatannya ada sesuatu yang yi fu bicarakan dengan anda dan Sun Jiangjun."
"... Baiklah. Katakan pada Cao da ren, kami akan datang sebentar lagi."
Aku membungkuk hormat. "Kalau begitu, aku permisi dulu, Liu da ren, Guan Jiangjun, Zhang Jiangjun."
Mereka membungkuk hormat lalu aku berjalan kembali ke paviliun di mana ia menunggu kedatangan tamu-tamunya. Selusin prajurit pilihan berjaga di sekitar paviliun di tepi kolam itu dan yi fu duduk membelakangi kolam itu.
"Yi fu, mereka akan datang sebentar lagi." Aku mengabarkan. "Lalu, kelihatannya mereka akan meninggalkan aliansi ini."
Yi fu mengangguk pelan lalu menawarkan secawan arak padaku. Tentu saja aku menolaknya.
"Yi fu, aku tidak bisa minum arak."
Ia tertawa. "Oh iya. Maafkan yi fu yang lalai ini, hahaha!"
"... Yi fu, kenapa kalian semua sangat suka minum arak?" tanyaku.
"Hmm...," Ia berpikir sebentar. "Karena arak itu minuman yang bisa membuatmu tenang." jawabnya enteng.
"Tapi, ia dapat merusak tubuh?"
"Oh ya?"
"Wo sui ran shi ge Jiangjun, zai jiu ba zhi dian niu nai. Wei shen me bu he pi jiu? Yin wei pi jiu shang shen ti."
(A.N: "Meskipun saya seorang jendral, aku memesan susu di bar. Kenapa tidak minum bir? Karena bir merusak tubuh.")
Ia tertawa terbahak-bahak mendengarnya. "Kau benar Yin. Kalau begitu, yi fu tidak akan sering-sering minum arak lagi." janjinya.
Aku hanya tertawa kecil mendengarnya. Yi fu... yi fu...
-X-
[Cao Cao P.O.V]
Beberapa menit kemudian, Liu Bei datang bersama kedua di di-nya sedangkan Sun Jian bersama dengan Sun Ce, anak sekaligus jendral di bawah pimpinannya dan selusin prajuritnya. Aku langsung berdiri dan menyambut mereka lalu duduk kembali. Wentai duduk di bagian timur meja persegi ini sedangkan Xuande duduk di seberang Sun Jian. Sementara Yin, Yunchang, Yide dan Sun Ce berdiri di belakang masing-masing orang yang dikawalnya. Prajurit yang mengikuti Wentai langsung ikut berjaga bersama prajuritku.
Aku menuangkan arak hangat untuk mereka kemudian mempersilahkan mereka minum. Setelah minum seteguk, kuletakkan cangkirnya lalu mulai membuka topik pembicaraan.
"Wentai xiong dan Xuande xiong, apakah kalian berdua hendak meninggalkan aliansi ini?"
Orang yang ditanya diam sebentar. "Begitulah, Mengde xiong." jawab Wentai.
"Bagaimana denganmu, Xuande xiong?"
"... Semua tergantung Gongsun da ren." Liu Bei meletakkan cangkir yang sedari tadi ia pegang. "Kalau Gongsung da ren hendak pergi, kami bertiga juga akan pergi dari sini." jawabnya dengan nada berat hati.
Aku menatap isi dari cangkir yang kupegang sekarang. "Sayang sekali kita harus bubar juga pada akhirnya. Padahal tinggal selangkah lagi waktu itu." keluhku diakhiri dengan sebuah desahan.
"Yah... mau diapakan lagi? Yang memimpin kita saja orang seperti itu." Sun Jian mengangkat cangkirnya lalu memutarnya pelan-pelan. "Sudahlah, Mengde xiong. Lebih baik kita kembali dan bangun kekuatan kita sendiri untuk menaklukkan tiran itu."
Tiba-tiba seorang anak lelaki kecil berusia 8 tahun datang dan langsung memeluk Sun Jian.
"Fu qin!" Teriaknya dengan riang sambil memeluk Sun Jian.
"Quan 'er, kau membuat fu qin kaget sampai fu qin hampir melompat." Sun Jian mengelus rambut anak kecil itu.
"Anakmu, Wentai xiong?"
Sun Jian mengangguk lalu menoleh ke anaknya. "Oh iya, Quan 'er. Ayo, sapa mereka."
Anak kecil ini langsung berdiri tegak dan membungkuk hormat. "Selamat pagi, Cao shu shu dan Liu shu shu." Ia lalu menengok ke arah Yin. "Selamat pagi, er...,"
Yin berjalan ke arahnya lalu berjongkok di depannya untuk menyamakan tingginya dengan anak itu. "Namaku Cao Yin." Ia memperkenalkan diri.
Ia langsung membungkuk hormat lagi. "Selamat pagi, Yin jie jie!" sapanya disertai dengan sebuah senyuman.
"Pagi, Quan di." Balasnya sambil menepuk pundak Sun Quan tiga kali.
"Quan 'er, maukah kau bermain bersama Yin jie jie dan ge ge?"
Sun Quan mengangguk dengan semangat.
"Cao Yin Jiangjun, kuharap Anda tidak keberatan untuk mengajaknya bermain sebentar."
Cao Yin tersenyum. "Tidak masalah, Sun Jiangjun. Ayo, Quan di." Ajaknya.
"Aku duluan ya, fu qin!" Sun Quan pamit lalu bersama ge ge-nya dan Yin pergi dari tempat itu. Ia berbalik dan melambaikan tangannya sebelum kembali melanjutkan perjalanannya.
"Hahaha, anakmu sangat bersemangat, Wentai xiong." Pujiku.
Sun Jian hanya tertawa saja.
"Suatu saat pasti akan menjadi orang yang hebat pastinya, seperti fu qin-nya di sini." Liu Bei menambahkan.
Ya... mungkin orang hebat yang nantinya akan menjadi lawanku.
Aku menoleh ke arah Sun Jian. "Wentai xiong, aku ingin bertanya sesuatu padamu."
"Oh, apa yang ingin kau tanyakan, Mengde xiong?"
Aku terus menatap kedua matanya. "Apakah... Wentai xiong benar-benar menyimpan stempel kerajaan?"
Ekspresinya tiba-tiba berubah, seperti orang yang baru saja tersambar petir. Ia hanya menghela nafas sebagai balasannya.
"Tetapi... Wentai xiong, kau sudah menyatakan sumpah itu. Bagaimana kalau yang kau sumpahkan itu benar-benar terjadi?" Liu Bei bertanya dengan prihatin.
"... Yah... kalau itu memang benar terjadi, apa boleh buat. Memang itu takdirku mungkin." Ia lalu mengangkat cangkirnya. "Mari, Mengde xiong, Xuande xiong."
Kami bertiga lalu meminum arak masing-masing.
"Kalau begitu, aku harus cepat kembali ke Jiangdong. Tempat ini sudah tidak aman bagiku."
"Hmm... kalau kau kembali ke Jiangdong, berarti harus melewati daerah Jingzhou, ya 'kan?" Tanya Liu Bei.
"Benar sekali."
"Kalau begitu, sekalian titip salam pada Liu Jingzhou."
"Baiklah." Ia tertawa.
"Wentai xiong." Aku memanggilnya.
"Ada apa, Mengde xiong?"
"Kalau kau melewati Jingzhou, sebaiknya secepat mungkin pergi dari sana dan jangan berhubungan dengan Liu Biao."
Ia terlihat heran dengan kata-kataku. "Memangnya ada apa, Mengde xiong?"
"Lebih baik kau jangan banyak tanya." Aku meletakkan cangkirku. "Kau ikuti saja saranku."
Mereka berdua menatapku dengan bingung. Aku hanya menghela nafas dan menatap cangkirku.
-X-
[Sementara itu di sebuah hutan di dekat benteng, third person P.O.V]
"Jadi, siapa namamu?" Pemuda yang adalah kakak dari Sun Quan bertanya pada Cao Yin.
"Margaku Cao dan namaku Yin." Yin membalas sambil menoleh ke arahnya."Kau?"
"Margaku Sun, namaku Bofu alias Ce." balasnya.
"Hmm... apakah aku harus memanggilmu Ce-Ce?" tanyanya dengan bercanda.
"Hahaha! Aku lebih pilih dipanggil Sun Ce daripada Ce-Ce." balasnya sambil tertawa. "Aku dengar kau itu punya hobi menyingkat nama orang, ya?"
Rasanya Cao Yin hendak tertawa saat itu juga. "Kau dengar dari mana?"
"Aku kenal dengan seorang jendral perempuan yang sangat pendiam tetapi bisa diajak berbicara dan dia memberitauku kalau kau suka memberi orang nama panggilan." jelasnya.
'... Lie-Lie pasti orang yang memberitaunya. Jendral perempuan di pihakku kalau bukan dia selain aku?' Batin Cao Yin.
Mereka bertiga berhenti lalu bertanya pada Sun Quan permainan apa yang ia ingin mainkan.
"Emm... bagaimana kalau petak umpet?" Tanyanya dengan ceria dan tak berdosa.
'Petak umpet?' Batin Cao Yin. 'Mengingatkanku pada kejadian waktu itu saat aku selesai melatih prajuritku. Aku jadi teringat seberapa merah wajah Cao Pi waktu itu karena menahan marah akibat katanya aku tidak mengajaknya 'bermain petak umpet'.' Lanjutnya dalam hati. 'Berbicara tentang Cao Pi, bagaimana keadaannya sekarang, ya?'
"Petak umpet? Baiklah jika itu maumu, Quan di." Sun Ce menepuk kepala adiknya. "Jadi, siapa yang jaga?"
"Ge ge saja!" Ia menunjuk Sun Ce.
"Hao a... ge ge yang jaga. Kalian sana pergi bersembunyi, ge ge hitung sampai 10 dan kalian harus sudah dapat tempat bersembunyi, hao ma?"
"Ge ge tidak akan menemukanku dengan mudah kali ini!" Sun Quan tampak sangat yakin akan kata-katanya itu.
"Tenang saja, ge ge akan menemukanmu dalam waktu tiga menit seperti waktu itu." Sun Ce berkata dengan yakin dan tersenyum menyeringai untuk menakut-nakuti Sun Quan.
"Weee! Tidak akan!" Sun Quan berkata sambil menjulurkan lidahnya.
"Hao le, hao le. Kalau kalian terus seperti ini kapan mau main?" Cao Yin menegur.
"Ahahaha, maaf." Sun Ce lalu berbalik dan menutup kedua matanya. "Baiklah, aku mulai menghitungnya. Sepuluh!"
Mereka langsung pergi mencari tempat untuk bersembunyi.
Sembilan.
"Yin jie jie, mari bersembunyi di atas pohon itu." Ia menunjuk sebuah pohon setinggi lima meter yang ada di depannya.
"Tapi itu berbahaya."
Delapan.
"Ah, Yin jie jie tidak pelu khawatir! Aku akan baik-baik saja kok." Tukasnya. "Ayolah, jie jie..." Rengeknya kali ini dengan puppy eyes.
"... Baiklah...," Cao Yin setuju sangking tidak tahan melihat ekspresinya yang sungguh imut itu.
Tujuh.
Ia mengangkat Sun Quan kecil ke pohon dan Sun Quan langsung naik ke dahan yang paling dekat dengannya. Cao Yin lalu naik dan berdiri di dahan yang lain tetapi tidak terlalu jauh dari Sun Quan. Ia takut kalau Sun Quan akan berbuat hal nekat seperti yang sedang terlintas di benaknya.
Enam.
Sun Quan berjinjit dan berusaha meraih dahan yang ada di atasnya tetapi sia-sia. Tiba-tiba, dahan yang ia injak retak dan Cao Yin langsung menarik tangannya dan mendudukkannya di sebelah Cao Yin. Untung saja dahan itu cukup kuat untuk menopang dua orang. Kedua orang itu lalu melihat dahan yang retak itu, bersyukur karena dahan itu tidak patah dan jatuh ke tanah.
Lima.
"Quan di a, kau hampir saja membuat jantungku keluar dari mulut sangking kagetnya tadi!" bisiknya.
"Maafkan aku, jie jie."
"Hah... jie jie maafkan tapi kau jangan ulangi lagi, ya?"
"Hao a!" Sun Quan mengangguk.
Empat.
Mereka hanya menunggu dengan sabar sampai Sun Ce yang masih menghitung selesai. Sun Quan hanya tertawa kecil membayangkan bagaimana reaksi ge ge-nya jika ia tidak berhasil menemukan dirinya dalam waktu tiga menit.
Tiga. Dua.
Sun Ce mulai berbalik.
Satu.
"Siap tidak siap, aku datang!" Teriaknya dan ia langsung beranjak pergi dari tempat ia berdiri tadi.
"Quan di! Cao Yin! Dimana kalian?"
Sun Quan terkekeh-kekeh. "Aku tidak akan termakan oleh jebakanmu lagi, ge ge!" bisiknya.
Yap, sewaktu kecil, Sun Quan yang masih berusia lima tahun pernah bermain petak umpet dengan kakaknya, Sun Ce dan saat Sun Ce berteriak 'Dimana kau, Quan di?', Sun Quan yang tidak tau bahwa itu adalah jebakan ge ge-nya langsung keluar dan berteriak 'Di sini!', membuat Sun Ce berhasil menemukannya tanpa perlu capai-capai menguras tenaganya hanya untuk mencari Sun Quan sampai ke seluruh pelosok rumahnya. Dasar Sun Quan...
"Quan? Yin? Dimana kalian?"
Sun Ce memeriksa daerah di dekat pohon yang menjadi tempat bersembunyi kedua orang itu. Ia lalu melihat ranting-ranting di tanah sekitar pohon itu dan mengetahui bahwa kedua orang yang sedang dicarinya sedang bersembunyi di atas pohon, membuat Yin tersadar kalau tempat persembunyian mereka sudah diketahui. Tetapi Sun Ce berpura-pura tidak menyadarinya dan berjalan ke tempat lain. Cao Yin merasa kalau tempat yang mereka jadikan tempat persembunyian sudah tidak aman, begitu pula dengan Sun Quan. Sun Quan langsung ingin turun tetapi saat ia menginjak dahan di bawahnya, ia terpeleset dan terjatuh, tak sempat tertolong oleh Cao Yin. Sun Ce langsung berlari ke arah di di-nya dan berhasil menangkapnya sebelum Sun Quan mencapai permukaan tanah.
'Nyaris saja.' batin kedua Sun bersaudara dan Cao Yin bersamaan.
Sun Ce menurunkan di di-nya yang sudah ketakutan itu. Cao Yin melompat turun dan mendarat dengan mulus.
"Syukurlah kau tidak apa-apa!" Cao Yin berkata dengan panik.
"Untung saja aku menyadari tempat kalian bersembunyi dan belum berjalan jauh karena takut hal ini terjadi. Siapa sangka, apa yang kupikirkan benar-benar terjadi." Sun Ce mengelus-elus dadanya. Ia lalu berjongkok dan menepuk kepala di di-nya. "Quan, lain kali kau jangan bersembunyi di atas pohon. Berbahaya tau." Ia memperingatkan.
"Tapi kalau sembunyi di atas pohon, pasti ge ge tidak akan tau." Sun Quan menjawab.
Kedua orang yang jauh lebih tua dari bocah itu hanya menepuk jidat masing-masing dan menghela nafas.
"Quan di, kalau kau sampai kenapa-kenapa, Sun Jiangjun pasti akan mengambil kepala kami." Cao Yin berkata.
Sun Quan meminta maaf karena telah membuat kedua orang itu khawatir sampai mereka merasakan bahwa roh mereka hampir melompat keluar dari tubuh mereka. Ketiga orang itu memutuskan untuk kembali ke paviliun. Dalam perjalanan, Cao Yin yang penasaran bagaimana Sun Ce bisa menemukan mereka bertanya pada Sun Ce.
"Sun Ce, bagaimana bisa kau mengetahui bahwa kami bersembunyi di pohon itu?"
"Mudah saja. Aku melihat ranting-ranting di sekitar pohon itu dan berasumsi kalian bersembunyi di sana."
Cao Yin hanya tersenyum.
"Ah! Lain kali akan kutemukan ge ge dalam waktu satu menit!" Teriak Sun Quan dengan semangat yang bercampur kesal karena berhasil ditemukan dalam waktu dua menit oleh Sun Ce.
"Bagaimana kau bisa menemukan ge ge dalam waktu satu menit?" Sun Ce menyengir.
"Aku tau kok di mana tempat persembunyian terfavorit ge ge!" serunya dengan kesal dan gemas sambil melompat kecil.
"Memangnya di mana tempat pesembunyian terfavoritku?"
"Di kamarnya Shangxiang mei mei!"
Sun Ce hanya diam saja mendengarnya dan Cao Yin tertawa terbahak-bahak bersama Sun Quan.
-X-
Merasa sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, Sun Jian memutuskan untuk meninggalkan paviliun itu setelah kedua anaknya sudah kembali dari hutan. Sun Quan langsung menghampiri ayahnya dan seperti biasa, memeluknya dan langsung menceritakan kejadian yang ia alami saat bermain petak umpet tadi. Anehnya, Sun Jian tertawa dan menepuk pundak Sun Quan. Ia lalu berdiri dan membungkuk hormat pada kedua panglima yang sudah berdiri. Kedua Jiangjun itu membungkuk dan Sun Jian meninggalkan tempat itu, disertai dengan prajurit mereka. Cao Yin hanya memandang kepergian mereka yang semakin menjauh. Ia lalu bertolak dan menantap ayahnya.
"Yi fu, apa yang kau bicarakan dengan Sun Jiangjun?" tanyanya dengan heran.
"Orang itu benar-benar menyimpan benda itu." Ia menyipitkan matanya.
"Eh? Benda apa?"
"... Sudah, lebih baik jangan kau pikirkan."
Liu Bei lalu menoleh ke arah Cao Cao dan membungkuk hormat. "Kelihatanya Gongsun da ren sudah hendak pergi. Kalau begitu, kami bertiga permisi dulu."
"Xuande xiongdi, hati-hati di jalan." Cao Cao membalas sambi membungkuk hormat.
Liu Bei lalu meninggalkan paviliun bersama kedua saudaranya.
"Yin, kalau begitu ayo kita juga bersiap-siap kembali ke Chenliu." Ia lalu melangkah pergi.
"Tapi, yi fu-"
Ia berhenti melangkah. "Aliansi ini sudah tidak bisa diandalkan!" Cao Cao berkata dengan nada marah dan kecewa.
Cao Yin terkejut mendengar perkataan yi fu-nya itu. Ia tidak pernah melihatnya semarah dan sekecewa itu. Cao Yin membungkuk hormat dan berjalan bersamanya kembali ke kemah.
Cao Cao langsung memerintahkan pasukannya untuk membereskan perkemahan Cao dan kembali ke Chenliu untuk membangun ulang kekuatan mereka.
-X-
[Sementara itu di Bingzhou...]
"Akhirnya aliansi itu hancur juga pada akhirnya, Xu-Xu." Seorang pemuda yang sedang duduk di depan sebuah kuil bergumam pada dirinya sendiri. Ia lalu menatap sekumpulan bunga teratai yang masih kuncup di tengah-tengah sebuah kolam kecil.
To Be Continued...
Kaien: Wah... akhirnya Aliansinya hancur juga.
Sun Jian: Gimana ga hancur? Yang mimpin aja si Yuan Shao.
Cao Yin: Menyesal lah mereka tidak memilih yi fu!
Cao Cao: *sighs*
Liu Bei: Ya sudah... yang lalu biarlah berlalu.
Cao Cao: Lebih baik kita kembali ke daerah masing-masing dan memperkuat armada perang kita. Nah, sudah dulu ya diskusinya. Aku ingin tidur siang dulu. *berdiri dan pergi meninggalkan ruangan*
Cao Yin: Mind to RnR?
~Finishing Notes~
1. Sun Bofu (孙伯符) alias Sun Ce (孙策) adalah anak tertua dari Sun Jian. Sun Ce adalah seorang jendral muda yang sangat berambisi dan seorang petarung yang hebat. Ia memiliki seorang teman terbaiknya yang bernama Zhou Gongjin (周公瑾) alias Zhou Yu (周瑜). Karena prestasinya dalam perang, ia mendapatkan julukan 'Xiao Ba Wang (小霸王)' yang berarti 'Little Conqueror' atau 'Raja Penakluk Kecil'. Xiao (小) artinya kecil, Ba Wang (霸王) artinya conqueror, Ba artinya menaklukkan. Sayang sekali ia meninggal pada usia yang muda karena pembunuhan yang menimpanya saat ia berburu.
2. Sun Zhongmou (孙仲谋) alias Sun Quan (孙权) adalah adik dari Sun Ce dan kakak dari Sun Shangxiang (孙尚香). Dia adalah pendiri sekaligus kaisar pertama kerajaan Wu Timur / Eastern Wu. Ia meninggal pada usia 70 tahun. Sun Quan memang tidak jago bertarung seperti ayah dan ge ge-nya tetapi dia bisa memerintah lebih baik dibandingan mereka.
3. Mengde xiong artinya saudara Mengde. Jadi 'xiong (兄)' artinya saudara.
4. "Wo sui ran shi ge Jiangjun, zai jiu ba zhi dian niu nai. Wei shen me bu he pi jiu? Yin wei pi jiu shang shen ti." sebenarnya ini adalah bagian dari lagu 'Niu Zai Hen Mang (The Cowboy's very busy)' yang dinyanyikan oleh Jay Chou, lalu saya edit dibagian 'niu zai' menjadi 'Jiangjun'. Sebenarnya, seharusnya itu "Wo sui ran shi ge niu zai, zai jiu ba zhi dian niu nai. Wei shen me bu he pi jiu? Yin wei pi jiu shang shen ti." yang artinya "Meskipun saya seorang cowboy, di bar saya pesan susu. Kenapa tidak minum bir? Karena bir merusak tubuh."
Wo 我 - saya, sui ran 虽然 - meskipun, shi 是 - adalah, ge 个 - satuan, niu zai 牛仔 - cowboy, zai 在 - di, jiu ba 酒吧 - bar, dian 点 - memesan, niu nai 牛奶 - susu sapi, wei shen me 为什么 - kenapa, bu 不 - tidak, he 喝 - minum, pi jiu 啤酒 - bir, yin wei 因为 - karena, shang 伤 - menyakiti, shen ti 身体 - badan.
#Author digebuk Jay Chou karena edit-edit lagunya.
Disclaimer: [Niu Zai Hen Mang] bukan punya saya...
5. Liu Biao atau Liu Jingsheng adalah seorang gubenur daerah Jingzhou (Provinsi Jing). Dia memiliki 2 anak yaitu Liu Qi si sulung dan Liu Cong si bungsu.
Quiz: Apakah sumpah yang diucapkan Sun Jian ada hubungannya dengan stempel kerajaan dan apakah yang diucapkan Sun Jian? (untuk apa yang ia ucapkan, Anda boleh menjawa langsung ke intinya saja. Tidak usah full sentencenya hahaha).
Jawaban akan diberitau di episode selanjutnya. Selamat menjawab~
Zai jian.
