SANG PENCULIK

.

.

.

Chapter 12

.

.

.

CAST

KIM JONGIN

OH SEHUN

PARK CHANYEOL

BYUN BAEKHYUN

DO KYUNGSOO

PEMBERITAHUAN : INI ALURNYA NYANTAE JADI BAGI YANG GAK SUKA AMA ALUR NYANTAE MENDING GAK USAH BACA FF INI DEHHH DARIPADA KALIAN MENCAK MENCAK KARENA ALURNYA YANG NYANTAE...

CERITA SEBELUMNYA

Ketika kesadaran meresap dalam diri Jongin, ia langsung berdiri begitu cepat, Sehun mengira dirinya akan jatuh ke lantai karena pergerakan Jongin yang begitu cepat. Tetapi tidak, Sehun tidak terjatuh karena Jongin langsung memegang tubuh Sehun lalu membawanya dalam pelukan. Jongin membawa Sehun ke sofa dan membaringkan tubuh Sehun dengan hati hati dan perlahan.

Sambil berlutut disamping Sehun, Jongin mulai berkutat dengan kancing kancing jaketnya, " Kau yakin, bukan, Sayang – tidak, tidak, jangan jawab itu. " Jongin mencium Sehun lagi sebelum Sehun bisa menjawab, tetapi Sehun tetap menjawabnya dengan cara melingkarkan lengannya di leher Jongin dan membalas ciuman Jongin sama liarnya.

Sehun tahu benar apa yang sedang dilakukannya sekarang. Ia tidak butuh obat untuk merangsang gairahnya, sentuhan Jongin saja sudah cukup membuatnya bergairah. Jongin adalah pria yang dicintainya tanpa keraguan, Ayah anak yang dikandungnya, pria yang akan menjadi suaminya. Tapi hal itu akan diselesaikan nanti. Masih ada banyak waktu. Sekarang waktunya untuk reuni mereka.

.

.

.

.

HAPPY READING

CHAPTER 12

Secara insting, Sehun menyadari bahwa bercinta lagi dengan Jongin tidak akan membawa masalah ini kemana mana. Ia tahu kalau ia sebenarnya sudah jatuh cinta pada Jongin apalagi ia sedang mengandung buah hatinya bersama Jongin. Setidaknya sekarang ia sudah cukup merasa senang karena mengetahui bahwa Jongin masih tetap tidak sanggup untuk menahan diri jika berada didekatnya.

Kemeja yang tadi dipakainya kini sudah terlepas dan tergeletak di samping tubuhnya dan celananya sudah melayang entah kemana. Sejak tadi Jongin menggerayangi bagian dalam pahanya dan sekarang mulai menyelipkan jari ke Holenya, membuat semua syarafnya berdenyut. Sedangkan mulut Jongin tengah menghisap salah satu putingnya, mengulumnya dengan dalam dan lembut.

" Aaaahhhh... " Sehun tidak akan melawan rasa sensual yang dibangkitkan oleh Jongin dari dalam dirinya, tetapi justru sebaliknya, ia merasa bergetar dengan semua sensasi yang diberikan Jongin.

Sehun menunduk dan mengawasi Jongin. Ia melihat Jongin mengulum putingnya dan ia merasakan nyeri di putingnya karena kuluman Jongin. Ia menyisiri lembut rambut Jongin dengan jarinya, tanpa kata meminta Jongin agar lebih lembut memperlakukan putingnya. Jongin yang menyadari maksud belaian jari Sehun di rambutnya mengurangi intensitas kulumannya pada puting Sehun.

Jongin mendongak dan menatap wajah Sehun lalu ia melepas kulumannya di puting Sehun dan langsung mencium bibir tipis merah Sehun. Jarinya tetap melakukan pekerjaannya di Hole Sehun, keluar, masuk, keluar, masuk, mempenetrasi Hole Sehun. Agar saat ia memasukkan kejantanannya, ia tidak akan menyakiti Sehun.

" Eeuunngghhh... " Sehun mendorong lidah Jongin agar masuk ke dalam mulutnya, menyelipkan lidahnya sendiri ke dalam mulut Jongin untuk bisa merasakan kenikmatan lebih dalam. Sehun melingkarkan lengannya di leher Jongin, memeluknya Jongin dengan erat.

Jongin melepaskan ciuman liar mereka dan melepaskan jarinya yang berada di Hole Sehun secara bersamaan. Membuat Sehun mengerang protes. Sehun menyusurkan jemarinya di sepanjang bahu Jongin lalu beralih ke punggung. Jika ia memiliki kekuasaan, mungkin ia akan mendorong Jongin hingga telentang dan melakukan apa yang dikehendakinya terhadap Jongin.

Jongin mulai membuka lebar kedua kaki Sehun lalu menggerakkan pinggulnya, tangannya menggenggam kejantanannya sendiri dan mulai menggesekkan kepala kejantanannya di depan Hole Sehun.

" Aaahhhhh... Jonginnhhh... " Desah Sehun saat merasakan kejantanan Jongin memasukinya.

" Oh, aku sangat merindukanmu, Sehun. " Jongin mulai menggerakkan pinggulnya dengan lembut tanpa tergesa gesa. Ia ingin menikmati jepitan rektum Sehun di kejantanannya.

" Jonginhhh... AAAHHHHHH... " Sehun langsung mencapai kilmaks saat hunjaman kejantanan Jongin mengenai prostatnya.

" Hun, bertahanlah sebentar lagi. " Jongin makin cepat menggerakkan pinggulnya. Dalam beberapa kali hunjaman akhirnya ia juga mencapai klimaks.

.

.

.

.

Dengan salju yang berputar putar diluar jendela dan api yang menyala di perapian besar, ruang duduk yang luas itu terasa sangat nyaman. Di kejauhan terdengar suara kucing mengeong, pintu tertutup di rumah itu, kereta melaju di depan sana, dari dekat terdengar bunyi api berderak dan debar jantung Jongin.

Sehun setengah berbaring dipinggir sofa dan setengah berbaring di tubuh Jongin. Lengan Jongin yang merangkul punggungnya, mendekapnya terasa hangat dan aman. Jongin menangkap tangan Sehun ketika Sehun dengan sambil lalu membelai dada Jongin. Jongin menciumi setiap jemari Sehun, menggigit dan menghisap jari Sehun.

Sehun hanya menatap Jongin, matanya setengah terpejam, ia takjub melihat apa yang dilakukan lidah, bibir dan gigi Jongin di ujung ujung jarinya yang sensitif.

" Kalau kau tidak berhenti, Sayang, aku terpaksa akan bercinta denganmu lagi. " Jongin mengagetkan Sehun dengan suaranya yang serak.

" Aku? Memangnya apa yang kulakukan? " Tanya Sehun dengan bingung.

" Menatapku dengan mata sensualmu itu. Hanya dengan kau menatapku seperti itu, sudah membuatku bergairah. " Jawab Jongin.

" Omong kosong, " Sehun mendengus, tetapi ia tidak bisa menahan senyumnya. " Dan bagaimana dengan perbuatanmu? Kalau kau tidak berhenti _ " Sehun memberikan peringatan yang sama. " _ aku terpaksa _ "

" Benarkah? Kau akan bercinta denganku lagi kalau aku tetap meneruskan hal ini? " Tanya Jongin dengan sumringah.

Sehun tertawa. " Kau benar benar parah. "

" Apa yang kauharapkan ketika aku sudah menyangkal kenikmatan seperti ini selama berbulan bulan? " tanya Jongin.

" Nah, kenapa aku harus percaya dengan ucapanmu itu? " Sehun bertanya dengan terkejut.

" Karena itu benar... dan aku sudah membuktikan padamu selama beberapa jam terakhir betapa besar kebutuhanku. Bukankah begitu? Atau apakah kau butuh lebih banyak bukti? "

" Jongin! " Sehun terkikik ketika Jongin menggulingkan tubuhnya. Tetapi Sehun sadar Jongin ternyata tidak bercanda dengan ucapannya tadi saat merasakan kejantanan Jongin kembali memasuki Holenya dengan cepat dan dalam. " Jonginnnhhh... " Desah Sehun. Ia mendongak dan langsung mencium Jongin.

.

.

.

.

Ketika napas Sehun kembali normal beberapa saat kemudian, ia hendak berkomentar tentang Jongin yang tidak pernah puas, tetapi Jongin mendahuluinya.

" Kau akan menjadi penyebab kematianku, Sehun. "

" Kau melebih lebihkan lagi. " Sehun tertawa. " Astaga, aku ingat pengalaman kita dulu ketika staminamu cukup luar biasa. "

Jongin menunduk menatap Sehun dengan kaget. " Dan dihargai, mungkin? "

" Saat itu, tentu saja. Aku sangat menghargai bantuanmu saat itu. Yeah, walaupun aku agak sedikit kecewa karena kau memberiku obat. Aku lebih menyukai spontanitas dan kebebasan dalam memilih. " Jawab Sehun.

Jongin tidak bisa mempercayai pendengarannya. Sehun mengungkit soal obat perangsang itu tanpa sedikitpun jejak amarah. Apa Sehun sudah memaafkannya? Dan apa itu tadi, Sehun bilang ia menyukai spontanitas dan kebebasan dalam memilih. Apa sekarang Sehun mengakui bahwa mereka bercinta kali ini karena pilihannya sendiri. Apa Sehun mengakui kalau dirinya menginginkan Jongin?.

Demi Tuhan, berapa kali Jongin membayangkan mendengar pengakuan seperti itu dari Sehun. " Tahukah kau betapa kau membuatku sangat bahagia, Sayang? "

Kini giliran Sehun yang terkejut. Jongin terdengar begitu tulus. " Benarkah? "

" Sudah lama aku ingin memelukmu seperti ini, menciummu. " Jongin mencium Sehun. " Aku sangat ingin menyentuhmu, mencintaimu. Sayang, disinilah tempatmu dalam pelukanku. Aku akan melakukan apapun yang bisa kulakukan untuk membujukmu agar kau mau tetap tinggal di Rusia selamanya. Aku akan melakukan apa saja untuk meyakinkanmu bahwa kau adalah milikku. "

" Apakah - apakah itu lamaran? " Sehun berbisik ragu, tidak percaya.

" Aku ingin kau selalu bersamaku, Sayang. "

" Tapi apakah itu lamaran, Jongin? " Tanya Sehun lebih tegas lagi sekarang.

Sialan!. Umpat Jongin. " Sayang, kau tahu aku tidak bisa menikahimu. Kau tahu apa yang kuminta. "

Sehun menegang, ia merasa seolah dadanya sesak. Temperamennya yang sudah ia simpan sekarang mulai ia tampakkan lagi. " Biarkan aku berdiri, Jongin! "

" Sayang, tolonglah _ "

Sehun mendorong cukup kuat untuk menyelinap keluar dari pelukan Jongin dan bergegas duduk. Sehun berputar menghadap Jongin, ketelanjangan dan kerapuhannya sama sekali tidak ia pikirkan.

" Aku ingin anak anakku memiliki Ayah, Jongin. " Kata Sehun tanpa basa basi.

" Kau bisa hamil? " Jongin bertanya dengan terkejut. Saat tidak mendengar jawaban dari Sehun, Jongin melanjutkan. " Aku akan menyayangi anak anakmu. "

" Itu tidak akan sama dan kau tahu itu. Aku cukup baik menjadi simpananmu tapi tidak cukup baik untuk menjadi istrimu, bukan? Apakah kau tahu itu sangat menghina? " Ucap Sehun dengan dingin.

" Menghina? Tidak, tidak, Sayang. Itu sama sekali tidak menghina karena aku sama sekali tidak peduli dengan seorang istri, karena seorang istri hanya berfungsi sebagai sarana untuk mendapatkan ahli waris dan memenuhi kewajibanku. Kaulah yang kupedulikan. Aku ingin kau menjadi bagian dalam hidupku. " Ucap Jongin.

Sehun membelalak menatap Jongin. Ya Tuhan, Jongin tahu apa yang harus diucapkan untuk menyentuh hatinya. Sehun mencintai Jongin. Yang diinginkan Jongin sama dengan yang diinginkannya. Ketidakpedulian Jongin terhadap seseorang yang akan menjadi istrinya nanti... Well, Sehun pasti akan merasa kasihan pada seseoran itu. Sehun bertekad, bahwa ia tidak akan menyerah. Ia punya waktu lima bulan sampai musim semi untuk mendapatkan hati Jongin, untuk membuat dirinya penting dimata Jongin, membuat Jongin merasa lebih dari sekedar " peduli " tentang dirinya, membuat Jongin begitu mencintainya hingga Jongin berani menentang masyarakat yang menyatakan Pangeran tidak bisa menikahi rakyat jelata, seperti yang dikira Jongin tentang Sehun. Biar saja nanti Jongin terkejut ketika tahu status Sehun setara dengannya.

Sehun mengulurkan tangan dan menyentuh pipi Jongin, lalu Jongin menangkapnya, menciumi telapak tangannya. " Aku minta maaf. " Kata Sehun lembut. " Aku lupa kau punya tanggung jawab. Tapi kalau anak pertamaku lahir, Jongin, aku ingin menikah. Kalau bukan denganmu, maka aku akan menikah dengan orang lain. "

" Tidak. " Ucap Jongin.

" Tidak? "

" Tidak! " Ucap Jongin dengan tegas, ia menarik Sehun kearahnya. " Kau tidak akan menikah, tidak akan pernah menikah dengan orang lain. "

Sehun diam saja menyaksikan sikap posesif liar Jongin. Ia hanya tersenyum, kini ia merasa senang tidak memberitahu Jongin bahwa ia sedang mengandung anak pertama pria itu, well, walaupun tidak lama lagi Jongin akan tahu perihal kehamilannya. Dan ketika Jongin tahu, semoga Jongin ingat apa yang telah ia ucapkan, bahwa ia akan memiliki suami, bagaimanapun caranya. Gertakan yang bagus, tetapi tentu saja Jongin tidak menyadari ancaman terselubungnya.

.

.

.

.

Kemeja dan jas yang sedang dikenakannya kini sangat indah. Pakaian ini tidak seperti yang sering dikenakannya saat berada di estat Jongin. Sekarang ia merasa sangat tampan.

Rambutnya disisir ke belakang, menambah ketampanan wajah Sehun. Sehun merasa sekarang Jongin memperlakukannya seperti seorang simpanan karena sekarang Jongin memanjakannya, sangat memanjakannya dengan barang barang mewah dan pakaian pakaian yang bagus dan indah. Tapi gagasan ia diperlakukan seperti simpanan tidak mengganggunya. Tidak lama lagi pakaian pakaian itu tidak akan cocok lagi dengannya. Sehun ingin melihat bagaimana Jongin memperlakukannya nanti saat pria itu tahu bahwa ia sedang mengandung anaknya. Sehun menatap tubuhnya didepan cermin tinggi, ia memperhatikan pinggang dan perutnya. Pinggangnya masih ramping hanya perutnya sedikit menonjol mengingat kehamilannya masih tiga setengah bulan. Tapi selebihnya tidak ada perubahan yang terlalu jelas, tidak ada yang bisa membuat Jongin menebak bahwa ia akan memiliki salah satu anak yang katanya akan disayanginya.

Oh, kau akan terkejut, Pangeranku. Kau akan segera tahu kenapa perasaan dan sikapku berubah begitu drastis kepadamu. Batin Sehun. Tentu saja Sehun tidak akan begitu santai tentang situasinya saat ini kalau ia sedang berada di Inggris. Di sana akan sangat berbeda. Tetapi selama masih disini, kenapa ia tidak bisa bersenang senang untuk sementara? Bagaimanapun juga, ia tidak perlu mencemaskan kehamilannya tanpa suami disini.

Sehun tersenyum sendiri, ia melirik kamar tidur barunya sekali lagi sebelum keluar. Sekali lagi ia diberi kamar yang biasanya digunakan oleh Nyonya rumah, kamar yang sangat mewah dalam setiap detailnya. Tetapi ia tidak tidur disini kemarin malam, senyumnya kembali melebar, ia ragu kalau ia akan tidur disini malam ini.

Sehun merasa bahagia bisa menghabiskan sepanjang malam bersama Jongin, tidur dalam pelukan Jongin dan terbangun mendapati Jongin masih ada disampingnya. Ia bahagia selalu disambut senyum menawan Jongin saat ia bangun dari tidur nyenyaknya. Ia tidak ragu bahwa ia telah membuat pilihan yang tepat. Ia benar benar bahagia, itulah yang terpenting saat ini.

Sehun berjalan keluar dari kamarnya dan menemukan Jongin yang sedang menunggunya di dasar tangga, Jongin mengulurkan jubah bulu putih berhias satin putih yang disampirkannya di bahu Sehun.

" Kau terlalu memanjakanku, Jongin. " Ucap Sehun.

" Itulah niatku, Sayang. " Sahut Jongin serius, ia memperlihatkan senyum hangat, matanya yang gelap memuji penampilan Sehun.

Jongin sendiri sangat mengesankan dalam balutan jaket putih dengan epolet emas dibahunya, kerah berpinggiran emas, serta selempang biru Orde St. Andrew yang disampirkan didepan dada, medali yang dikenakan tanpa alasan lain selain membuat Sehun terkesan. Tapi ternyata, Jonginlah yang dibuat terkesan saat melihat penampilan Sehun, ia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Sehun selagi ia menuntun Sehun ke kereta dan selama mereka meluncur beberapa blok ke pesta tujuan mereka.

Sehun sangat tampan dan cantik disaat bersamaan, Jongin teringat jelas pada potret yang dilukis Kyungsoo, yang kini tergantung di ruang kerja Jongin dan membuat Jongin resah setiap kali menatap potret lukisan itu. Tidak ada yang akan mengira bahwa Sehun adalah seorang pelayan, aktor, atau apapun dirinya - tidak saat berpenampilan seperti ini. Jika Jongin saat pertama bertemu dengan Sehun dalam keadaan seperti ini, ia pasti akan mempercayai ucapan Sehun perihal status kebangsawanannya.

Bagaimana kalau Sehun memang seorang bangsawan seperti yang diucapkannya?. Batin Jongin. Tiba tiba Jongin merasa perutnya melilit saat memikirkan itu. Tidak, ia tidak mungki salah. Ia yakin Sehun bukanlah seorang bangsawan. Jongin menyesali ajakannya pada Sehun untuk menghadiri pesta besar seperti ini.

Jongin ingin membuat Sehun senang, ia ingin memamerkan Sehun, menuruti saran Kibum, sahabatnya ( Maaf di chapter kemarin aku typo untuk nama sahabatnya Jongin. Ini udah aku ganti, makasih bagi yang udah ngingetin ). Ia akan memperlakukan Sehun seperti seorang bangsawan dan bukannya menyembunyikan Sehun dibalik pintu tertutup. Tetapi sekarang ia merasa menyesal, ia takut membagi Sehun dengan orang lain. Ia ingin menyembunyikan Sehun untuk dirinya sendiri.

" Kurasa kau akan memperkenalkanku kepada orang orang, Jongin. Jadi katakan padaku, aku akan menjadi siapa? " Tanya Sehun menganggu lamunan Sehun.

" Menjadi orang yang kau katakan, Oh Sehun putra dari Earl Of Strafford. " Jawab Jongin.

" Aku tidak akan mengatakannya seperti itu, tapi kalau kau bermaksud memperkenalkanku seperti itu, kurasa tidak sopan kalau aku membantahnya. " Ucap Sehun sambil tersenyum.

Sehun sedang menggodaku. Batin Jongin. Kenapa Sehun menggodanya, apalagi menyangkut identitasnya sendir? " Sayang, apakah kau yakin ingin menghadiri acara ini? "

" Oh, tentu saja aku yakin. Aku merindukan suasana pesta. " Jawab Sehun.

Sehun mulai lagi, mencecerkan sedikit informasi tentang kehidupannya yang tidak mungkin benar, tetapi Sehun mengatakan hal itu secara spontan, tanpa berpikir, tanpa alasan, ia hanya mengobrol secara alami. Kereta berhenti sebelum Jongin bisa menetapkan pikiran apakah ia harus mengecewakan Sehun dengan membawa Sehun pulang atau ia tetap membawa Sehun ke pesta itu.

Mengingat sifat Sehun yang blakblakan, Jongin yakin Sehun pasti akan menyinggung beberapa orang malam ini, dan Jongin yakin spekulasi tentang hubungan mereka akan merajalela.

Bagaimana kalau tiba tiba Sehun emosi di pesta itu? Batin Jongin.

" Kau tahu bagaimana... Maksudku, kau tidak akan menimbulkan _ "

" Apa yang kau cemaskan, Jongin? " Sehun tersenyum lebar pada Jongin, ia menyadari apa yang membuat Jongin resah.

" Tidak apa apa, " Elak Jongin, ia menurunkan Sehun. " Ayo. Aku tidak ingin kau kedinginan diluar sini. "

Jongin menuntun Sehun ke mansion besar, saat masuk mereka menyerahkan jubah bulu mereka kepada pelayan yang sudah menunggu, lalu menaiki tangga ganda dari marmer ke ruang pesta di atas. Tuan rumah pesta tersebut menyambut mereka saat mereka sudah sampai di ruangan pesta. Dan seperti yang dikatakan Jongin tadi, ia memperkenalkan Sehun sebagai Oh Sehun putra Earl Of Strafford.

Sehun terkesan ketika memandang sekeliling. Ruangan itu luar biasa besar, benar benar ruang pesta dan bukannya beberapa ruangan yang dijadikan satu. Enam kandelir menciptakan penerangan yang luar biasa. Dari sekitar dua ratus tamu disana, setengahnya sedang berdansa, yang lain berkumpul disisi ruangan, berbicara dalam berkelompok atau berpasangan, atau berjalan di antara meja meja makanan yang ada di ujung ruangan panjang itu.

Seorang pelayan berseragam datang menghampiri dengan senampan minuman, tetapi Sehun menolaknya saat ini. Jongin mengambil satu gelas dan menghabiskan isinya, ia lalu meletakkan gelas kosong itu kembali ke nampan. Sehun tidak bisa menahan senyum.

" Gugup, Jongin? " Tanya Sehun.

" Apa yang bisa membuatku gugup? " Jongin balik bertanya.

" Oh, aku tidak tahu. Mungkin aku akan membuatmu malu diantara teman temanmu disini. Bagaimanapun juga, apa yang mungkin diketahui rakyat jelata tentang cara bersikap di tengah tengah masyarakat terhormat seperti ini? Walaupun kau memberikan pakaian indah untuk rakyat jelata itu tetapi dia masih tetap seorang rakyat jelata, bukan? " Ucap Sehun.

Jongin tidak tahu bagaimana suasana hati Sehun. Pria itu sedang tidak dalam suasana marah. Ekspresi wajahnya penuh humor, tetapi gurauannya jelas terdengar sangat sinis ditelinga Jongin.

" Teman, kenapa kau tidak memberitahuku kau akan datang malam ini? Aku pasti - oh, apakah aku mengganggu? "

" Tidak, kau tidak mengganggu, Teman, " Sahut Jongin. " Sehun, mari kuperkenalkan dia temanku, Pangeran Kibum. "

" Sehun? " Kibum melirik Sehun sekilas, lalu matanya melebar ketika menoleh kembali kepada Jongin. " Bukan Sehun yang itu, bukan! Tapi aku menyangka... Maksudku... " Melihat Jongin yang terlihat marah, Kibum terdiam, wajahnya merona.

" Kau sudah berbicara tanpa berpikir, bukan, Pangeran Kibum? " Kata Sehun tajam. " Biar kutebak. Jongin sudah bercerita kepadamu tentang aku, kau mungkin mengharapkan seseorang yang lebih dariku? Keherananmu karena minat Jongin padaku tidak lebih besar daripada keherananku sendiri, itu bisa kupastikan kepadamu. "

" Sayang, tolonglah, kau bisa membuat temanku ini memotong lidahnya sendiri demi supaya kau puas. Dia tidak sadar kau sedang menggodanya. " Ucap Jongin.

" Omong kosong, Jongin. Dia tahu aku hanya bercanda. Dia hanya malu karena mengabaikanku pada pandangan pertama. " Sahut Sehun.

" Kesalahan yang tidak akan pernah kulakukan lagi, aku bersumpah pada Tuhan! " Kibum meyakinkan dengan penuh semangat.

Sehun tidak bisa menahan diri lagi. Ia tertawa senang, membuat Kibum tercengang seolah menyadari sesuatu yang baru. Jongin juga terpengaruh suara tawa itu. Jongin suka mendengar suara tawa Sehun, suara tawa Sehun membuat perasaannya terasa hangat.

Jongin menarik Sehun kearahnya, lengannya merangkul pinggang Sehun, ia berbisik serak di telinga Sehun. " kalau kau melakukannya lagi, Sayang, kau akan menempatkanku dalam kesulitan yang selalu kualami ketika aku bersamamu, aku pasti akan menginginkanmu dan aku akan membawamu ke tempat tidur terdekat. "

Sehun berpaling kesamping menatap Jongin, ia terkejut saat mendapati raut serius di wajah Jongin. Ia merasa wajahnya merona mendengar perkataan Jongin tadi. Jongin mendekatkan wajahnya lalu ia mencium Sehun, tidak peduli dimana mereka berada saat itu dan siapa yang sedang menyaksikan mereka. Kata kata Kibum yang datar menghentikan ciuman mereka.

" Aku akan mencegahmu membuat dirimu terlihat seperti orang bodoh yang mabuk kepayang, Teman, dengan berdansa dengan pasanganmu. Itu juga kalau kau tidak keberatan. " Ucap Kibum.

" Aku keberatan. " Sahut Jongin ketus.

" Tapi aku tidak, " Sehun menambahkan, ia melangkah keluar dari pelukan Jongin dan tersenyum hangat kepada Kibum. " Tapi harus kuperingatkan bahwa ada orang yang akan memberitahumu bahwa aku tidak mungkin tahu cara berdansa, Pangeran Kibum. " Sehun menekankan kata " cara " sambil memandang Jongin. " Apakah kau bersedia menanggung resiko kakimu terinjak? "

" Dengan senang hati, aku rela kakiku terinjak kakimu yang indah. " Kibum menuntun Sehun ke lantai dansa sebelum Jongin bisa membuka mulut untuk memprotes.

Jongin menatap mereka, ia tidak sadar wajahnya memberengut, ia berusaha keras tidak menghampiri Sehun dan memnarik pria itu kembali ke sisinya. Itu hanya Kibum, Jongin mengingatkan dirinya sendiri. Kibum tidak akan merayu Sehun, karena Kibum tahu tentang perasaannya terhadap Sehun. Tetapi tetap saja ia tidak suka melihat lengan temannya itu sedang memeluk Sehun.

Sepuluh menit kemudian, ketika Kibum kembali sendirian, Jongin meledak. " Apa maksudmu, menyerahkan Sehun kepada Mino? "

" Tenanglah, Jongin, " Kata Kibum kaget. " Kau melihat pria itu menyudutkan kami sebelum kami meninggalkan lantai dansa. Apa yang bisa kulakukan kalau Sehun setuju berdansa dengan Mino? "

" Seharusnya kau memperingatkan Mino. " Marah Jongin.

" Dia tidak berbahaya, dan _ " Kibum harus memutar tubuh Jongin ketika Jongin hendak berjalan ke lantai dansa. Kibum menariknya ke samping, jauh dari telinga telinga yang penasaran. " Kau sudah gila? Kau akan membuat keributan hanya karena Sehun berdansa dan bersenang senang? Demi Tuhan, Jongin, ada apa denganmu? "

Jongin menatap Kibum dengan tajam, lalu menghembuskan napas dengan pelan. " Kau benar. Aku - oh persetan, mabuk kepayang istilah yang terlalu remeh untuk menggambarkan keadaanku saat ini. " Jongin tersenyum meminta maaf.

" Apakah kau belum berhasil menaklukkan pria itu? " Tanya Kibum.

" Kenapa? Menurutmu hal itu bisa mengurangi obsesiku? Kuyakinkan padamu hal itu tidak akan pernah terjadi. Walaupun aku sudah menaklukkannya, obsesiku akan tetap besar terhadapnya. " Ucap Jongin tegas.

" Kalau begitu yang kau butuhkan, Temanku, adalah gangguan. Sulli ada disini. " Ucap Kibum sambil menunjuk seorang gadis yang sedang mengobrol di pojokan.

" Aku tidak tertarik. " Tolak Jongin.

" Tidak, bodoh, aku tahu itu, " Sergah Kibum tidak sabar. " Maksudku Sulli sudah membantumu untuk mencarikan seorang istri pengganti Krystal. Dia mempunyai calon pengantin sempurna untukmu. Aku menceritakan masalahmu ini padanya. " Ucap Kibum.

" Lupakan saja, " Ucap Jongin dengan tajam. " Aku sudah memutuskan untuk tidak menikah. "

" Apa? "

" Kau mendengarku. Kalau aku tidak bisa menikahi Sehun, maka aku juga tidak akan menikah sama sekali. " Jelas Jongin.

" Tapi kau tidak mungkin serius! " Kibum memprotes. " Bagaimana dengan ahli waris yang kau butuhkan? "

" Tanpa istri, akan sangat wajar kalau aku mengadopsi anak anak yang akan diberikan Sehun kepadaku nanti. " Ucap Jongin.

" Sehun bisa hamil? Kau benar benar serius, bukan? " Tanya Kibum.

" Diam. " Desis Jongin. " Mino membawanya kembali kesini. "

Selama satu jam berikutnya, Jongin tidak membiarkan Sehun luput dari pandangannya dan Sehun sangat menikmati setiap saat itu. Jongin terus berdansa dengannya, menggodanya tanpa ampun tentang menginjak kakinya, dan ternyata Sehun sama sekali tidak pernah satu kalipun menginjak kaki Jongin. Suasana hati Jongin sedang sangat baik dan Sehun bersenang senang – sampai Jongin meninggalkannya dalam pengawasan Kibum, sementara Kibum pergi mengambilkan minuman untuk mereka saat di pertengahan jalan ternyata Kibum dicegat oleh seorang Lady yang cantik dan Kibum tidak bisa menolak ajakan dansa Lady cantik itu.

Sehun berdiri di depan sekelompok tukang gosip yang membicarakan dirinya secara terang terangan. Ia tahu seharusnya ia pergi menjauh dari mereka tapi ia penasaran dengan pembicaraan mereka.

" Tapi, Anna, dia orang Inggris, katanya dia adalah salah satu kerabat Pangeran Jongin dari pihak Ibunya. Kalau tidak, mana mungkin Pangeran menjaganya begitu ketat? "

" Mungkin untuk membuat Krystal cemburu. Tidakkah kau melihat Krystal datang kesini tadi bersama tunangannya? "

" Omong kosong. Kalau Pangeran ingin membuat Krystal cemburu, seharusnya Pangeran mendekati Sulli. Bagaimanapun juga, Krystal tahu kalau Sulli dulu pernah menjadi simpanan Pangeran dan aku yakin setelah Pangeran ditolak lamarannya oleh Krystal. Ia masih kembali mengunjungi Sulli. Katanya Pangeran sangat marah saat ditolak oleh Krystal. "

" Pangeran tidak marah, Anna. Katanya Pangeran begitu tertekan dan mengurung diri di St. Petersburg dan jarang meninggalkan rumah selama tiga bulan terakhir. "

" Well, sepertinya dia sudah sembuh dari depresinya karena bisa datang ke pesta ini. "

" Atau mungkin saja Pangeran datang kemari ingin merebut kembali perhatian Krystal? Aku yakin Pangeran masih mencintai Krystal. "

" Emm, itu mungkin saja. Lihat Krystal, di dekat orkestra sana. Katakan padaku pria mana yang tidak mencintainya? "

Sehun tidak bisa menahan diri dan ikut memandang Krystal. Ia cepat cepat berpaling dan berjalan pergi agar tidak mendengar komentar komentar itu lagi. Tetapi ia sudah terlanjur patah hati. Krystal memang terlihat sangat cantik dan dia terlihat sangat seksi dengan gaun berdada rendah seperti itu. Apakah Jongin masih mencintai wanita itu? Iya dia pasti masih mencintai wanita itu.

Apa Jongin memanfaatkanku? Apa dia berbohong soal kepergiannya ke luar negeri. Kenapa? Kenapa Jongin berbohong? Apakah Jongin begitu kecewa pada wanita itu sampai membuat Jongin lupa untuk memulangkannya? Kenapa dia berpura pura menginginkanku sementara aku bahkan tidak bisa dibandingkan dengan makhluk cantik seperti Krystal? Pikir Sehun.

" Lord Sehun? "

Sehun berbalik saat mengenali suara itu. Ia mengerang dalam hati saat ia melihat Jongin mulai berjalan ke arahnya dan Sehun melihat Jongin terdiam beberapa meter dari tempatnya berdiri saat mendengar pria tadi memanggilnya Lord. Tapi ia tidak bisa mencemaskan Jongin sekarang. Ia harus menghadapi Duta Besar Inggris terlebih dahulu. Duta Besar Inggris ini adalah teman baik Ayahnya.

" Benar benar kejutan. Lord _ "

" Aku tidak mempercayai mataku tadi saat melihatmu berdansa. Aku sempat bertarung dengan pikiranku tadi karena kau tidak mungkin berada disini. Tapi ternyata ini memang kau, Demi Tuhan. Sedang apa kau di Rusia? "

" Ceritanya panjang. Saya rasa Anda belum mendengar kabar dari Ayah saya? " Sehun cepat cepat mengalihkan pembicaraan.

" Sudah, Ayahmu sudah memberitahuku dan aku harus memberitahumu sesua_ "

" Apakah Ayahku menyebut nyebut tentang pernikahan Adikku, mungkin? " Tanya Sehun memotong ucapan Duta Besar. Kali ini sepertinya Sehun berhasil mengalihkan perhatian pria itu.

" Sebenarnya, Lady Luhan sudah kawin lari dengan Lord Yixing. Kau ingat pria itu? Ia sebenarnya pemuda yang baik. Awalnya Ayahmu marah saat mendengar pernikahan Adikmu dengan Lord Yixing karena Ayahmu mengira Lord Yixing hanya memanfaatkan Adikmu tapi ternyata semua informasi itu salah. " Jelas Duta Besar itu.

" Apa?! " Sehun memekik kaget. " Maksud Anda semua ini sia sia? "

" Apanya? Aku tidak paham dengan ucapanmu, " Cetus pria itu. " Ayahmu hanya menyebut pernikahan Adikmu dalam ceritanya dan tentang kau yang tiba tiba menghilang. Ayahmu kira kau juga ikut bersama Adikmu sebagai pendamping. Ayahmu benar benar kalut saat melihat kau tidak kembali bersama pasangan pengantin itu, mereka kembali dua minggu kemudian setelah kawin lari. Jadi Ayah dan keluargamu mengira kau sudah meninggal, My Lord. "

Sehun mengerang sedih. " Saya – ah, surat saya yang menjelaskan semuanya pasti hilang di suatu tempat. Oh, ini benar benar mengerikan! " Sehun hampir berteriak frustasi.

" Mungkin kau perlu menulis surat lagi kepada Ayahmu, " Kata Jongin dengan kaku sambil melangkah mendekati mereka berdiri.

Sehun menoleh dan mendapati ekspresi kemarahan terlihat jelas di wajah Jongin. Nah, kenapa pula Jongin harus marah?

" Oh, Pangeran Jongin. Yah, ternyata kau sudah mengenal Lord Sehun. Aku melihat kalian berdua berdansa tadi. "

" Ya, Lord Sehun dan saya sudah pernah bertemu dan saling mengenal. Kalau Anda tidak keberatan, Duta Besar, saya ingin berbicara sebentar dengannya. " Jongin tidak memberi waktu bagi Duta Besar untuk memprotes, apalagi kepada Sehun. Ia langsung menyeret Sehun keluar dari ruang pesta dan keluar dari mansion itu. Di tangga luar, Sehun menarik napas, bersiap siap hendak mengomeli Jongin, tetapi ketika hendak mengomeli, ia di dorong ke dalam kereta dan Jonginlah yang pertama kali bicara.

" Jadi semua itu benar! Semuanya benar! Apakah kau tahu apa yang sudah kau lakukan, Lord Sehun? Apakah kau tahu akibatnya _ "

" Memangnya apa yang sudah kulakukan? " Sehun terkesiap tidak percaya. " Apa yang kau bicarakan? Aku sudah memberitahumu siapa aku. Kaulah orang yang sok tahu dan orang yang tidak mempercayai ucapanku. "

" Kau bisa saja meyakinkanku! Kau bisa saja memberitahuku apa yang sedang dilakukan putra seorang Earl di tengah jalan, memakai kain rombengan, sendirian! " Teriak Jongin frustasi.

" Tapi aku sudah menceritakan semuanya kepadamu. Dan yang kukenakan itu bukan kain rombengan, tapi seragam pelayanku. Semuanya sudah kukatakan padamu! " Balas Sehun.

" Kau tidak mengatakannya padaku! " Jongin bersikeras.

" Sudah! Sudah kukatakan padamu aku menyamar supaya bisa menguntit Adikku, karena aku merasa dia akan kawin lari. Dan kau tahu? Luhan memang kawin lari. Aku bisa saja mencegahnya kalau kau tidak menculikku saat itu! " Jelas Sehun.

" Sayang, kau tidak mengatakan apapun tentang itu kepadaku. " Ucap Jongin dengan tajam.

" Sudah kubilang aku sudah menceritakannya kepadamu. Pasti begitu. " Sehun membentak karena Jongin terus melotot padanya. " Well, apa bedanya? Aku sudah menyebutkan namaku, statusku. Aku bahkan menyebut keterampilanku dan aku sudah membuktikan beberapa di antaranya dengan baik. Tapi sampai hari ini, kau terlalu keras kepala untuk menerima kenyataan. Demi Tuhan, Baekhyun benar, kalian orang orang Rusia layak mendapat penghargaan tertinggi karena berpegang teguh pada kesan pertama. "

" Kau sudah selesai? "

" Sepertinya begitu, " Sahut Sehun dengan kaku.

" Baiklah. Besok kita akan menikah. " Ucap Jongin.

" Tidak. "

" Tidak? " Jongin berteriak lagi. " Baru kemarin kau ingin menikah denganku. Kau bahkan marah ketika aku menjelaskan bahwa itu tidak mungkin. "

" Tepat sekali, " Balas Sehun, matanya berkilat kilat basah. " Kemarin aku tidak cukup baik bagimu tapi hari ini tiba tiba saja aku cukup baik untuk jadi istrimu? Well, tidak terima kasih. Aku tidak akan menikah denganmu dalam situasi apapun. "

Jongin memalingkan wajah, ia melotot marah keluar jendela kereta dan Sehun melakukan hal yang sama. Kalau saja Sehun mengenal Jongin lebih jauh, Sehun pasti sadar bahwa amarah Jongin tidak ditujukan pada Sehun tapi ditujukan pada dirinya sendiri. Tetapi sayangnya Sehun tidak tahu itu. Dan ia menganggap serius kata kata Jongin.

Berani beraninya Jongin menyalahkan diriku? Berani beraninya Jongin menyarankan agar mereka menikah sekarang. Pikir Sehun marah. Sehun yakin Jongin melamarnya sekarang karena hanya ingin menghilangkan rasa bersalah di hatinya bukan karena Jongin mencintainya. Ia sama sekali tidak bisa terima itu. Ia tidak membutuhkan rasa kasihan Jongin. Sehun tidak membutuhkan suami yang menikahinya hanya karena pria itu merasa terpaksa. Ia punya harga diri, Demi Tuhan.

.

.

.

.

.

Lapisan salju yang mulus, tidak bernoda sejauh mata memandang, memberi kesan tanah yang tidak terjamah oleh manusia, tidak memiliki kehidupan, terasing. Pemandangan ini sangat indah.

Jongin berhenti di tengah jalan itu, karena badai salju yang mengarah ke arah wilayah ini telah menghilangkan tanda apapun yang bisa memberitahunya apakah ia masih berada di jalan yang benar? Ia sebenarnya sudah diperingatkan untuk tidak berangkat secepat ini, bahwa ia seharusnya tinggal sehari lagi setelah badai berlalu tapi Jongin menolaknya.

Jongin sebenarnya hanya berencana sebentar saja pergi, ia ingin berpikir jernih tanpa Sehun berada disampingnya. Tapi karena badai salju ia tertahan lebih lama dari yang seharusnya. Sekarang ia sudah sangat tidak sabar untuk pulang ke rumah. Sehun sudah terlalu lama dibiarkan sendiri dan fakta Jongin yang kabur pada malam pertengkaran mereka sama sekali tidak membantu.

Ada alasan lain sebenarnya kenapa ia meninggalkan tempat peristirahatannya begitu badai reda. Krystal muncul disana bersama rombongan yang terdiri dari sepuluh orang termasuk Minho, karena membutuhkan tempat bernaung dari badai. Situasi dirumah itu tak tertahankan, diperburuk ketika ia harus menyaksikan Krystal yang memutuskan pertunangan dengan Minho. Kalau tatapan bisa berbicara, Minho jelas menyalahkan Jongin karena perubahan situasi tersebut.

Dalam kesunyian, bunyi pistol tiba tiba terdengar memekakkan telinga. Terkejut, Jongin terpental ke belakang ketika kudanya mundur mendadak. Untunglah ia tidak jatuh terlalu jatuh dari kudanya karena ketinggian salju setinggi tiga puluh sentimeter, tetapi ia sempat terguncang sejenak. Ketika mendongak, ia melihat kudanya yang ketakutan menghilang meninggalkannya, tetapi bukan hal itu yang membuatnya cemas.

Jongin berguling berjongkok dan melihat hutan dibelakangnya dimana arah suara pistol terdengar. Ia langsung melihat Minho, karena pria itu tidak berusaha menyembunyikan diri. Jantung Jongin seakan berhenti berdetak. Minho mengacungkan pistol untuk menembak lagi tapi sepertinya ia terlihat sedikit ragu. Mata mereka bertemu di kejauhan lalu Minho menurunkan pistolnya, ia memutar dan memacu kudanya untuk pergi.

Jongin berbalik untuk melihat apakah kudanya berhenti di ujung jalan, tetapi ternyata tidak. Kudanya terlihat dari kejauhan tapi masih tetap berlari. Jongin mendesah lega, bukan ia bukan mendesah lega karena melihat kudanya, ia mendesah lega karena hampir saja tadi ia tertembak. Untung saja Minho sepertinya masih punya hati nurani.

Satu jam kemudian Jongin mendapati kudanya mati dengan kaki yang patah. Ia sama sekali tidak mengenal wilayah ini, ia mendongak ke atas dan melihat langit makin mendung setiap menitnya. Jongin mendapat kesan bahwa ia tidak hanya tersesat tetapi juga berada dalam bahaya karena akan terjebak dalam badai lain tanpa tempat bernaung.

Jongin cepat cepat berjalan untuk mencari tempat berteduh sebelum malam tiba. Ia terus berjalan. Tidak lama kemudian rasa dingin menembus sarung tangan dan sepatu bot kulitnya, tangan dan kakinya mati rasa. Jaket bulunya lumayan membantu, tetapi tidak akan membantu lagi kalau malam menjelang. Tetapi setidaknya salju sudah berhenti turun. Dan tepat sebelum cahaya matahari menghilang sepenuhnya, ia menemukan gudang kecil. Kekuatannya sudah berkurang banyak karena berjalan menembus salju sepanjang hari.

Ternyata bangunan itu gudang kosong. Tidak ada apapun yang bisa digunakan Jongin untuk menyalakan api. Rasa dingin masih berhasil menyelinap masuk melalui celah celah di dinding, walaupun angin tidak masuk. Tetapi tempat ini lebih baik daripada ia berada diluar. Saat pagi menjelang nanti, ia akan mencari rumah penduduk.

Jongin meringkuk di tanah dingin di sudut, ia merapatkan jaket dan tertidur, berharap tubuh Sehun yang hangat ada disampingnya – tidak, sebaiknya ia menyimpan harapannya untuk bangun ketika pagi tiba, karena kebanyakan yang ia tahu kalau berhadapan langsung dengan musim dingin di Rusia seperti dirinya sekarang, orang itu akan jatuh tertidur dan tidak akan pernah bangun lagi.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC / END?

Anyeong... ( / ^ 0 ^ ) / jumpa lagi ama aku hehehehe.

Maaf kemarin kemarin gak bisa post karena yeahhh aku juga punya kehidupan di lain kekekeke.

Otte? Masih pada nunggu kan chapter selanjutnya? Bentar lagi FF ini END lo

Mohon reviewnya yaaaa.. dan untuk para SIDERS ayolaaahhh kasih review.

Oh iya, aku mau berterima kasih sekali lagi buat yang udah ngingetin aku masalah typo nama. Hehehe iyaa Taemin itu nama kakaknya Jongin yang sudah meninggal, akuuu luupppaaaaaa, tapi tadi udah aku ganti yaa nama sahabat Jongin itu jadi Kibum.

Mohon maaf sekali lagi, maklum laahh aku juga manusia yg pasti ada salahnya. Moga di chapter ini gak ada typo.

( ~ . ~ ) Pssttt.. Boleh promosi?

Aku ada FF baru nohh yg Daily SX Life, Hunnie bagi yang belum baca mohon dibaca plus review yaaa. Bagi yg udah baca n review makasihhhhhh pake bangeeetttt.

Tapi bacanya langsung ke chapter 2 aza yaaaa...