"Sudah lama tidak melihatmu tersenyum seperti ini." Suara tersebut membuat Jongin membuka matanya. Orang itu tersenyum tipis, kemudian duduk di sebelah Jongin yang tiduran di bawah pohon besar di belakang sekolah yang jarang dikunjungi murid-murid. "Boleh bukan aku duduk disini?" tanyanya.

Jongin mengangguk, sedikit menggeserkan dirinya supaya orang itu bisa leluasa duduk disebelahnya.

"Kau masih marah padaku?"

Jongin menggeleng, kembali menutup kedua matanya. Menikmati semilir angin musim panas yang akan berakhir. Hari masih panjang bahkan langit belum berubah warna, tidak ada awan yang menutupi langit biru muda yang cerah hingga panasnya matahari begitu menyengat.

Sehun terdiam, sudah lama sekali ia tidak berbicara panjang dengan Jongin sekitar setahun yang lalu. Tidak menghabiskan waktu bersama sepanjang itu membuatnya sedikit canggung. Melirik, Sehun dapat melihat bekas seperti cekikan yang ada di leher sahabatnya ini. Tunggu apakah Jongin masih bisa ia katakan sahabat?

"Apa bekas itu bisa hilang?" Sehun menyenderkan tubuhnya ke pohon yang kokoh yang sudah tumbuh dua puluh tahun yang lalu.

Jongin mengangguk sebagai balasannya, merasa risih dengan pertanyaan itu.

"Bisakah kau berbicara padaku? Kau bukan patung pajangan!" Suara Sehun sedikit meninggi, merasa sebal dengan keacuhan Jongin terhadapnya. "Kau masih marah padaku?"

"Terimakasih sudah perhatian. Puas?" tiba-tiba Jongin bangun dari tidurnya, membersihkan celananya yang kotor akibat debu dan rerumputan yang menempel. Melangkahkan kakinya namun lengannya di tarik, membuat tubuhnya jatuh di atas Sehun yang memandangnya tajam tepat di kedua matanya.

"Lepaskan aku!" Jongin memberontak tapi usahanya sia-sia, Sehun terlalu kuat menahanya.

Kedua manik coklat itu masih tetap menatapnya tajam, membuat dirinya tidak bisa berkutik dan merasa tidak nyaman. Jongin berusaha menghindar dari tatapan makhluk albino itu, tapi ia tidak bisa. Seolah-olah ia dihipnotis.

Demi Tuhan! Jongin merasa pipinya panas. Jantungnya berdetak lumayan kencang hingga ia bisa mendengarnya sendiri. Apa yang harus Jongin lakukan!

"Jawab pertanyaanku Kim Jong In! Apa kau masih marah padaku?" suara berat itu pun melembut di akhir kalimatnya, tatapannya melembut seiring dengan hembusan nafas yang ia keluarkan.

Jongin terdiam, tubuhnya bergetar pelan. "A-aku—

Jongin menggantungkan suaranya, "Aku tidak marah padamu." Cengkraman di kedua tangannya mulai melemah.

"Lalu?" tanya Sehun menuntut.

"Aku, aku tidak tau."

"Pembohong," Sehun menarik tubuh Jongin kedalam pelukannya. Tersenyum kecil ketika ia dapat melihat jelas wajah Jongin yang memerah. "Kau itu payah dalam hal berbohong." Sehun berbisik kecil di telinganya, memeluk tubuhnya erat dan mengusak rambut hitamnya.

"Karena kau tidak punya alasan yang kuat untuk tidak marah kepadaku." Bau harum langsung tercium olehnya. Bau wangi yang sudah tidak ia cium tapi masih ia ingat betul, bau buah strawberry. "Aku tau itu dan ngomong-ngomong shampoomu tidak pernah berubah ya, bau anak kecil."

"Suka-suka aku! Dasar menyebalkan!" Jongin berusaha melepas pelukan Sehun yang semakin lama membuatnya gerah.

"Kumohon seperti ini dulu." Sehun menahannya, semakin erat memeluk tubuhnya. "Sebentar saja."

Jongin kembali jatuh kedalam pelukan Sehun yang seakan tidak akan membunuhnya dengan panasnya musim panas ini.

"Tunggu, ini salah." Jongin menarik paksa tubuhnya. "Kau sudah memiliki Luhan, Sehun."

Dengan kasar Jongin mendorong tubuh Sehun, berdiri dan langsung berlari kencang. Sehun tidak mengejarnya, ia hanya menatap diri Jongin yang mulai menghilang dari pandangannya.

"Sial!" upat Sehun dengan memukul batang pohon cukup kuat. Pikirannya kalut sekarang, kepalanya terasa panas seperti ketel air yang mendidih.

Mengacak-acak rambutnya, ia berjalan kembali ke kelasnya. Perkataan ibunya saat minum teh saat itu membuatnya sedikit kacau-coret-sangat kacau. Ia sendiri juga bingung dengan perasaannya. Perasaannya terhadap Jongin maupun Luhan.

Sesekali mengupat ia menendang-nendang rerumputan yang tidak bersalah. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang, terlalu kacau untuk memikirkan apa yang tengah ia alami sekarang.

Sakunya bergetar, merogoh saku celananya dan menatap layar handphonenya dengan kerutan di dahinya. Membaca pesan yang ia terima, ia kembali melangkahkan kakinya sedikit terburu-buru ke kelasnya.

.

.

.

Hari ini hari kesialan Jongin—menurutnya.

Setelah kejadian tadi siang, ia meruntuki dirinya dan tentu saja meruntuki Oh Sehun yang membuatnya hilang pemikiran sesaat. Memikirkan kejadian tadi membuatnya tidak fokus. Sebenarnya ia tidak marah dengan Sehun, hem~ sedikit, hanya beberapa persen saja. Ia juga telah melupakan apa yang terjadi saat itu, lagi pula untuk apa ia memikirkannya.

Membenarkan letak poninya, Jongin berjalan menuju perpustakaan untuk meminjam beberapa buku untuk referensi tugasnya. Mendorong pelan pintu kayu tersebut dan memasuki ruangan yang penuh dengan tataan buku di setiap rak.

Menelusuri setiap rak, ia berhasil mendapatkan buku yang hendak ia gunakan. Menoleh kesana-kemari, Jongin mencari tempat yang pas dan nyaman untuk mengerjakan tugasnya. Dan pilihannya jatuh di bagian kanan dekat jendela yang sudah memperlihatkan gedung-gedung tinggi.

Jongin mengeluarkan alat tulisnya, membuka lembaran-lembaran kertas yang mulai mengeluarkan bau khas dengan pelan. Mulai menyalin dan merangkum tulisan-tulisan tersebut dalam bukunya, terkadang menghapusnya pada bagian-bagian yang kurang memuaskan baginya.

Gerakan pada tangannya terhenti ketika kursi di sebelahnya di tarik pelan, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Tidak terlalu memikirkan siapa yang ada di sebelahnya.

Jam istirahat kedua ini terasa begitu lama baginya, tidak seperti biasanya. Dahinya berkerut, merasa bingung dengan apa yang harus ia tulis lagi sebagai lanjutannya.

"Perlu bantuan?"

Jongin sedikit membulatkan matanya, merasa tidak asing dengan suara tersebut.

Sial! Batinnya sebelum memalingkan kepala.

Oh Sehun, makhluk yang sedang ingin ia hindari saat ini. "Kau mengikutiku?" tanya Jongin pelan.

Sehun menggeleng, kembali membuka buku yang tengah ia baca. "Tidak untuk apa aku mengikutimu?"

Jongin menatap sengit Sehun, tapi ia kembali fokus pada pekerjaannya setelah menggeser sedikit kursinya tanpa suara.

"Bisakah kau tidak menghindariku?"

"Maumu apa?"

"Seperti dulu. Sebelum kita menjauh." Sehun menggenggam tangan kiri Jongin. "Itu mauku."

"Kalau begitu lakukanlah."

"Dengan kau menjauh apa kita bisa seperti dulu?"

Jongin mulai merasa tidak nyaman dengan situasi ini. Ia terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Sehun. "Apa bisa?" Sehun mengulang pertanyaannya. "Kalau begitu apa maumu?"

Jongin menggeleng, "Aku tidak mau apa-apa."

"Aku tidak tau harus bagaimana, tapi apa yang harus aku lakukan supaya kita bisa seperti dulu?"

Dada Jongin sedikit sakit untuk mengungkapkan apa yang ia mau. Lidahnya juga terasa kelu, jadi ia seperti biasa ia hanya diam.

"Jawab Jongin," Sehun mengguncang sedikit kasar tubuhnya. "Kenapa kau hanya diam saja?"

Seperti tadi Jongin melepaskan kedua tangan Sehun di pundaknya kasar. Cepat-cepat merapikan alat tulisnya dan beranjak pergi.

"Tunggu," Sehun menarik lengan Jongin. "Apa aku punya kesempatan?"

Kedua mata Jongin sudah berair, "Jangan membuatku bingung, Jongin. Jawab pertanyaanku!"

"A-aku bisakah kau melepasku?"

"Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku."

Reflek, Sehun menarik Jongin kedalam pelukannya lagi. "Jangan mempersulitku."

Bahunya sedikit terasa basah. Jongin menangis tanpa suara di dalam pelukannya. Sehun semakin mempererat pelukannya, mengusap punggung Jongin pelan.

"Ma-maafkan aku," suara Jongin serak.

Sehun melepaskan pelukannya, menghapus air mata itu dengan ibu jarinya. Jongin menunduk, menyembunyikan wajahnya yang basah. "Aku tidak tau." Jongin menatap lantai putih perpustakaan.

Sehun mengangkat dagu Jongin, melihat wajah sembab itu dan tersenyum lembut. "Ikuti kata hati kecilmu," dan kembali memeluknya. "Karena ia akan mengatakan hal yang sejujurnya."

.

.

.

Langit kembali mendung, tetapi tidak seperti hari kemarin. Kali ini awan berwarna hitam pekat, mungkin hari ini akan hujan disertai angin kencang seperti yang dikatakan acara cuaca hari ini. Luhan menatap luar cafe yang sekarang kacanya mulai di hantam bertubi-tubi oleh air hujan.

Uap dari kopi yang ia pesan mengepul, pertanda masih hangat. Sesekali ia memutar-mutar gelasnya, menunggu kedatangan Sehun di acara kencannya hari ini. Ia menidurkan kepalanya, merasa bosan dengan suasana cafe yang membuatnya mengantuk.

Ia mengecek jam tangannya. Ini sudah lewat dari sepuluh menit dari perjanjian. Ia meniup poninya kesal, melipat kedua tangannya dan menumpuknya di atas meja. Ia berinisiatif untuk mengirim pesan, tetapi ia urungkan. Mungkin saja Sehun terlambat karena ada acara mendadak, tapi acara apa? Apa Sehun lupa kalau ia sudah berjanji untuk kencan dengannya?

Sedikit menyeruput kopinya, Luhan membuka handphonenya. Mengetik pesan sebelum sebuah notifikasi datang. Sebuah pesan dari Sehun.

Ia membukanya, menghela nafas panjang karena merasa kecewa.

Sehun tidak datang karena ibunya sedang demam.

Tapi sebenarnya di tempat lain, Sehun sedang menatap tetesan air hujan yang mulai deras turun ke bumi dari halaman belakang. Musim panas sudah hampir selesai, tinggal mengitung hari dengan menyilang kalendernya dengan spidol hitam.

Dengan segelas coklat panas yang ia buat, Sehun duduk di balkon belakang rumahnya, mencium bau khas hujan yang membuatnya rilex. Menghirup uap coklat juga termasuk membuatnya rilex. Ia masih memikirkan kejadian di sekolah tadi. Berhadapan dengan Jongin sekarang membuatnya bingung. Bingung harus berkata dan berbuat apa. Apa karena hubungan mereka renggang?

Sehun meletakkan gelasnya di atas meja kecil di sebelahnya. Menarik ujung lengan kaos panjangnya dan melipat kedua tangannya. Hari ini dia sendirian di rumah. Kedua orang tuanya pergi entah kemana tanpa memberi tahunya. Setidaknya ia bisa bebas di rumah, bisa melakukan apa saja walau hanya sekedar menonton tv atau menghabiskan isi kulkas sendirian tapi ia tidak serakus itu untuk menghabiskannya.

Sedikit melirik ponselnya, Sehun menghela nafas panjang. Setelah mengirim pesan singkat kepada Luhan, ia sedikit merasa lega. Ia masih melirik handphonenya, kemudian menyambarnya dan mencari kontak seseorang. Memencet tombol panggilan dan mendekatkan pada telinga kanannya.

Ia bangkit dari kursinya dengan gelasnya tadi ke dalam rumah sembari menunggu sambungan telponnya.

"..."

Sehun hanya terdiam ketika seseorang berbicara di seberang sana.

"..."

Diam.

"..."

"Tunggu," ahkirnya Sehun mengeluarkan suara. "Jangan di tutup." Perintahnya.

Sehun hanya diam dan orang di seberang sana juga ikut terdiam, hanya terdengar suara angin dan hujan yang menjadi backsound mereka.

"..."

"Sebenarnya," Sehun meletakkan gelasnya ke atas wastafel. "Tidak apa-apa, maaf kalau aku mengganggumu."

Secara sepihak, Sehun memutus sambungannya. Mengacak rambutnya frustasi dan menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Meraih remote control dan mencari channel secara acak. Pilihannya jatuh pada acara komedi, tetapi ia tidak tersenyum atau tertawa. Ia hanya menatap datar benda kotak itu.

Ia tidak fokus pada acara itu, pikirannya terus melayang kemana-mana. Memikirkan berbagai cara untuk bisa kembali dekat dengan Jongin dan niatnya sudah bulat.

Matanya terasa berat, semakin lama kelopaknya menurun tetapi ia tahan. Secara terus menerus terjadi dan akhirnya ia tertidur dengan televisi yang menyala.

Lain halnya dengan Jongin yang tengah menatap layar handphonenya bingung. Secara tiba-tiba Sehun menelponnya. Tentu saja ia senang, tapi ia tidak tau harus bagaimana terlebih Sehun hanya diam saja di telpon tadi. Ia merebahkan tubunya di atas kasur empuknya, memeluk erat bantal putihnya.

Ia merasa senang Sehun memeluknya, senang sekali Sehun ingin kembali memperbaiki hubungannya. Jongin senang, walau ia pikir hari ini adalah hari sial baginya. Sebenarnya ia ingin mengatakan apa yang ia rasakan, tapi ia merasa tidak bisa mengatakannya.

Ia takut apa yang ia katakan akan memperburuk situasi.

Ada apa dengan hari ini? Semalam ia bermimpi apa? Seingatnya ia tidak bermimpi, mungkin faktor ia terlalu kelelahan latihan dance karena ia hanya berhasil menyabet juara ke dua pada lomba antar sekolah.

Udara begitu dingin dan ini masih terlalu sore untuk mengistirahatkan tubuhnya. Tapi waktu seperti ini pas untuk tidur panjang dan terbangun di malam hari karena udara dingin seperti ini membuatnya ingin bergelung diatas kasur atau menonton youtube dengan minuman hangat atau camilan.

Memikirkannya saja membuat Jongin menguap lebar, menarik selimutnya lebih keatas lagi hingga menutupi seluruh tubuhnya. Memiringkan tubuhnya dan bersiap untuk mengarungi dunia mimpi. Tapi suara ponselnya mengurungkan niatnya.

Menyibak selimutnya sedikit, Jongin meraih benda persegi panjang itu. Membaca sebuah pesan yang membuatnya tersenyum kecil.

Kris mengirim sebuah pesan untuknya, pesan berisikan rindu dan curhatan seorang naga galak yang di dalamnya lembut. Jari-jarinya dengan cepat mengetik balasannya, bangun dari tidurnya dan berjalan menuju balkon.

Tubuhnya sedikit basah akibat pantulan air hujan pada pagar balkonnya. Bau khas hujan tercium olehnya dan menghirup udara sebanyak mungkin dengan meregangkan tubuhnya. Ia sedikit mundur kebelakang, menyenderkan tubuhnya pada ambang pintu dan memeluk tubuhnya erat karena dinginnya udara namun ia melihat seseorang dengan payung transparan berdiri agak jauh dari rumahnya.

Jongin memincingkan matanya, mencoba melihat sosok itu lebih jelas.

"Kris ge!" pekik Jongin langsung turun ke bawah. Mengambil payung merahnya dan berlari keluar rumah.

Langkahnya memelan begitu ia sudah berada di depan Kris yang tersenyum kepadanya.

"What's up teddy bear?" sapa Kris dengan merentangkan tangannya.

Jongin tersenyum, berjalan menuju Kris.

"AKH!" teriak Kris merasa sakit pada kaki kanannya. "Kau tega sekali menginjak kakiku!"

Jongin melipat tangannya, "Sejak kapan gege ada di sini?"

"Baru saja!" balas Kris dengan wajah kesakitan dan kesal. "Memangnya kenapa?"

Jongin menggeleng, "Di luar sangat dingin, ayo masuk." Ia menarik salah satu tangan Kris.

"Tunggu," Kris berganti menarik tangan Jongin. "Aku kesini datang untuk mengajakmu kencan."

"Kencan? Di hari hujan seperti ini?"

"Lalu apa lagi? Kau tidak mau kencan denganku, lagi pula sepertinya menyenangkan kalau kita kencan di hari ini." Kris menarik Jongin lebih dekat lagi, memeluk pinggang Jongin. "Bersiap-siaplah, aku akan menunggumu." Bisik Kris dan melepaskan pelukannya, mengusak rambut Jongin pelan.

"Hei, sejak kapan—" Jongin menjeda kalimatnya, kemudian menggelengkan kepalanya cepat.

Tak butuh waktu lama Jongin sudah kembali dengan jaket hangatnya dan sepatu kets merahnya. Kris tersenyum meraih tangan Jongin dan menggenggamnya erat.

"Kau mau kemana?"

Mereka sudah masuk kedalam mobil Kris. Jongin berfikir sejenak setelah memasang sabuk pengaman, "Aku mau makan ice cream," ucapnya enteng. "Gege tau tempat ice cream yang enak?"

"Dingin-dingin seperti ini?" Kris mulai menjalankan mobilnya, melewati gang yang bisa di lewati mobilnya. "Bagaimana kalau kopi dan makanan manis?" Kris memberi tawaran.

Jongin mengangguk pelan dan mulai menikmati perjalanannya. Ia menyenderkan kepalanya ke jendela, tersenyum kecil mengingat kejadian hari ini. Kris dapat melihatnya, sesekali ia melirik Jongin yang lebih memilih melihat dunia luar sana. Ia juga ikut tersenyum, membaca pesan Jongin tadi membuat hatinya sedikit lega. Mengetahui Jongin sudah berbaikan hanya dengan ibunya saja, tapi ia tidak begitu yakin. Ia ingin bertanya tetapi masih fikir panjang.

Jalanan mulai macet jika hujan seperti ini. Para pengemudi akan melajukan pelan kendaraan mereka masing-masing karena jalanan licin. Lampu lalu-lintas masih berwarna merah dan hujan semakin deras, membuat Kris lebih berhati-hati mengendarai mobilnya.

"Sepertinya hari ini kau senang?" Kris membuka pembicaraan.

"Ya, sepertinya."

"Sepertinya?" kedua alis Kris saling bertautan, "Maksudmu?"

Jongin menggeleng membuat Kris mengerti, artinya Jongin tidak mau membicarakannya.

Mungkin aku salah memilih topik, batin Kris melajukan mobilnya setelah beberapa menit ia menunggu lampu berubah warna. Memutar kemudinya dan memarkirkan mobilnya tepat di depan cafe yang ingin sekali ia kunjungi.

"Bagaimana di cafe ini?"

"Ini cafe langganan kami," suara Jongin terdengar gembira. "Ah apa kita perlu mengundang Sehun, Baekhyung hyung, dan Chanyeol hyung?"

"Kalian masih saling berkomunikasi?" Kris melepas sabuk pengamannya, membuka pintu dan membuka payungnya. Berjalan cepat menuju sisi lain mobil dan membukakan pintu untuk Jongin. "Tapi sebaiknya kau tidak perlu mengundang mereka, kau tidak ingat kalau aku mengajakmu kencan?"

"Ya, tapi karena kami sudah di tingkat terahkir Baekhyun hyung jarang mengajak kami hangout ke cafe ini. Baiklah aku tidak akan mengundang mereka."

Bunyi lonceng kecil terdengar ketika Kris membuka pintu kaca tersebut. Suasana hangat langsung menyapa mereka, begitu juga dengan aroma bermacam kopi menyambut indra penciuman mereka.

"Kau mau pesan apa?"

Mereka berdua melihat papan menu di atas meja kasir dengan tulisan yang terbuat dari kapur berbagai warna.

"Ah, Jongin! Akhirnya kau kelihatan juga." Sapa seorang pegawai setelah memberikan dua cup kopi kepada pelanggan yang ada di depan mereka. "Pesan seperti biasa?"

Jongin mengangguk, "Dan..." Jongin melirik Kris yang hanya memandanginya bingung. "Jangan melihatku seperti itu ge, ini Ahyoung nuna dan nuna ini Kris ge sunbaeku waktu SMP. Kami hanya kenalan saja." Jongin menjelaskan hubungan mereka yang sepertinya tidak penting bagi Kris sekarang.

"Nuna aku pesan dua saja. Ah dan makanan manis, tolong pilihkan ya nuna~" sedikit mengeluarkan aegyo Jongin menarik Kris untuk mencari tempat duduk setelah Ahyoung tertawa pelan dan memberikan sign ok kepadanya.

"Kau tidak pernah menunjukkan aegyomu kepadaku sampai saat ini." Protes Kris dengan suara yang datar.

"Itu suka-suka aku!"

"Ah Jongin!" Jongin menoleh kesebelahnya dan menemukan Luhan tengah tersenyum kearahnya dan melambaikan tangannya.

Jongin hanya tersenyum palsu, tapi bisa Kris ketahui dengan cepat. Luhan semakin dekat ke arahnya dan Jongin semakin tidak suka dengan kehadirannya di sini. Bahkan ia menggenggam tangan Kris agak kuat. Kalau saja Kris adalah tembok, ia akan bersembunyi di baliknya dan segera menghilang dari tempat ini. Dan pemikiran Jongin terjadi. Kris menariknya untuk berada di belakang tubuhnya yang tinggi menjulang, menatap tidak suka Luhan yang sudah berada di depan mereka.

"Sepertinya kau sedang kencan ya?" tanya Luhan seolah tanpa dosa dengan memiringkan tubuhnya sedikit. Kemudian ia menatap Kris, "Kau pasti temannya Jongin? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."

"Apa maumu?" suara Kris mengisyaratkan ketidak sukaannya.

"Temanmu ini galak sekali ya Jongin," Jongin hanya dapat bersembunyi di balik tubuh Kris. Entah kenapa sikap Luhan kali ini berbeda dari biasanya, bahkan tatapannya menyiratkan kemarahan. "Lebih baik aku pergi saja, aku tidak suka mengganggu kencan kalian."

"Pergilah yang jauh, jangan menampakkan wajahmu lagi."

Sebuah kerutan terbentuk di dahi Jongin. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kris begitu marah dengan adanya Luhan di sini, terlebih mereka menampilkan wajah tidak suka dan kemarahan. Jongin tidak pernah mengatakan apapun tentang Luhan kepada Kris. Apa mereka saling mengenal?

"Sudahlah ge jangan galak seperti itu. Dia ini salah satu temanku di sekolah." Jongin menarik lengan Kris pelan. Menyadarkan Kris untuk tidak terbawa emosinya. "Dan Luhan kau bisa pergi sekarang, maaf dia sedikit temperamen sekarang."

Luhan tersenyum lebar dan mengangguk, "Baiklah, selamat bersenang-senang," Ia melewati mereka dan berhenti tepat di sebelah Jongin. " .In" bisiknya dengan penekanan.

TBC


Late post!

Maaf buat kalian semua kalau kalian protes karena nggak ada HunKai momentnya :(. Sekali lagi aku minta maaf, untuk meluangkan waktu buat nulis ada tapi buat nulis selanjutnya itu yang langsung blank. Huhuhu maafkan aku, tapi terima kasih kalian udah protes dan maaf di chapter ini HunKainya dikit lagi :(

Ah ada yang bingung ya sama umur di karakter ini, maaf ya kalau ceritanya membingungkan. Sehun, Luhan, Kyungsoo, sama Jongin itu seumuran dan bentar lagi mereka bakalan lulus. Luhan itu lebih tua dari Jongin sekitar 3-2 bulan. Kalau untuk Baekhyun sama Chanyeol mereka seumuran, 1 tahun lebih tua dari Jongin dkk. Buat Kris dia itu lebih tua dari semuanya. Bisa di bayangin? Semoga nggak bingung sama penjelasanku ini.

Sekali lagi aku minta maaf sebesar-besarnya kepada kalian semua. Maaf kalau ff ini buruk sekali, maafkan aku.

VampireDPS | eatertane | saya sayya | RyanryanforeverYaoi | ariska | laxyovrds | jonginisa | anak udik | Jung NaeRa | enchris.727 | byuntaebaek | exolafh | kuwonjiyong | Name melin993 | wijayanti628 | Puji Haruharu | chanzhr | SecretVin137 | KaiNieris | Hun94Kai88 | | ucinaze | Nam Jung | SJMK95 | 1234 | Xinger XXI | kthk2 | miyuk | Dhara432 | jjong86| kimkai88 | jumee | geash | winter park chanchan | novisaputri09 | realstb -Hiatus | yuvikimm97 | alv | cute | sayakanoicinoe | Siangels kai |