Hore ku update akhirnya !
Rufus : sedikiit info, cerita mengenai underworld express akan ada 2 versi.
Author : Maaf ya jika ada kekurangan T T
i don't own KOG or Grand chase
Chapter 12 : Underworld Express 301 (part 1)
Berjam-jam Rufus berjalan tanpa henti sampai ia tak sadar bahwa ternyata sudah malam. Langit yang begitu gelap jutaan butiran bintang di langit, dan awan. Rufus berhenti di tepi jurang, lalu ia duduk di dekat pohon.
"Indahnya ternyata underworld. "kata Rufus. Lalu melihat sebuah cahaya dari berbagai tempat. "Cahaya apa itu?" Lalu ia melihat asap, karena tertutup awan ia tak bisa melihat dengan jelas dari mana asal asap itu.
Lalu ia melompat dari jurang yang ketinggiannya sekitar tujuh ribu kaki. Menembus awan-awan, setelah beberapa ribu ketinggian ia melihat daratan, dan juga pohon. Lalu ia menangkap pohon itu dann lalu turun ke daratan.
Ia melihat sebuah bangunan yang besar dan terdapat kereta di sana. Dan beberapa orang, bukan tapi jiwa. Di tuntun oleh beberapa pengawal tiap per jiwa. Dan ada beberapa demon naik kereta itu. Karena Rufus penasaran lalu ia masuk, tapi ia di tahan oleh cabin defencer.
"Tahan… siapa kau? Apa tujuan mu ke sini?" tanya defencer pada Rufus, "aku ingin menaiki kereta ini." Jawab Rufus. "Apakah kamu punya tabung kecil berisi jiwa?"
Mendengar itu Rufus lalu mencari-cari di sekitar jubah hitamnya dan menemukan sebuah tabung kecil yang berisi cairan hitam.
Lalu defencer itu mengecek, "baik lah kau boleh naik." Kata nya mengijinkan. Lalu Rufus memasuki tempat itu dan mencari tempat duduk. Beberapa menit kemudian, kereta nya pun mulai berjalan, dan meninggalkan stasiun itu.
Rufus menoleh ke kanan dan kekiri, ada beberapa demon dan para jiwa yang duduk. Lalu ada seorang wanita yang mengenakan seragam, yang seperti yang mengurus kereta ini. "Permisi nona, sebenarnya ini kereta apa?" tanya Rufus pada wanita itu, "Ini namanya underworld Express 301, kereta yang mengantar dan membawa para jiwa ke abbys." Kata wanita itu, "lalu para demon di sini, apa tujuannya menaikki kereta ini?" tanya Rufus,
"mereka hanya pergi ke tempat tujuan, ada yang ke Aernas, ada yang ke Nether World, ada yang pergi ke Ellyos." Jawab wanita itu, lalu duduk di sebelah Rufus.
"Lalu cahaya yang bersinar lurus ke atas itu apa?" tanya Rufus, "itu adalah tempat pemberhentian bisa di bilang itu adalah tempat para jiwa yang mati dan berdosa/ tidak menunggu di sana, lalu di berikan pada clan Haros untuk di adili, jiwa itu pantas masuk underworld dan di siksa atau ke tempat yang lebih baik." Jawab wanita.
Mendengar kata-kata wanita itu, Rufus pun akhirnya tahu, "oh iya waktu itu pernah ada Bounty hunter naik kereta ini. Dan tujuannya adalah menuju Aernas." Kata wanita itu pada Rufus.
Lantas Rufus kaget mendengar perkataan wanita itu, dan berkata dalam hatinya "Bounty hunter? Mungkin kah itu ayah, yang sedang pergi untuk bertugas mengumpulkan jiwa, dan kembali ke sana untuk bertemu wanita itu?!"
"Ada apa? Apakah kau mengenali bounty hunter itu?" tanya wanita itu pada Rufus, "Err… tidak kok, aku malah baru tahu bahwa ada Bounty hunter naik kereta ini." Kata Rufus. "Oh iya, sebenarnya tujuan mu ingin ke mana, anak muda?" tanya wanita itu. "Aku ingin ke Aernas." Jawab Rufus, lalu wanita itu berdiri dan memanggil deceases,
"katakana lah pada masinis tuan Jack, bahwa ada penumpang yang ingin pergi menuju Aernas." Perintah wanita itu, lalu deceases itu pergi kea rah ruang Kondekturnya.
"Karena perjalanan menuju Aernas sangat jauh sekali, akan membutuh kan waktu kira-kira dua hari untuk sampai ke sana." Kata wanita itu, "tak apa, lagi pula aku ingin melihat tempat-tempat yang tak pernah ku lihat." Kata Rufus, "baiklah kalau begitu, selamat menikmati perjalanan mu." Kata wanita itu, lalu berjalan pergi menuju ke gerbong lain.
.
.
.
Beberapa jam pun berlalu, Rufus tetap melihat pemandangan yang berada di balik kaca kereta. "Hmph… ternyata pemberhentiannya banyak juga." Kata Rufus.
"Hohoho… siapa ini? Demon muda? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang masinis. Rufus lalu menoleh kea rah orang itu, "siapa kau?" tanya Rufus. "Aku masinis kereta ini, Deputy Jack." Kata nya yang bernama Jack. "Senang berkenalan dengan mu." Kata Rufus datar.
Lalu Jack melihat penampilan Rufus, dan berkata "Hohoho… kau ternyata seorang bounty hunter ya? Menarik, masih muda sudah menjadi bounty hunter. Itu adalah sesuatu yang langka! Tak pernah ada bounty hunter muda selama ini yang ku ketahui dalam clan haros." Kata Jack.
"Err… lalu apa istimewanya?" tanya Rufus, "Hohoho… aku kurang tahu juga, Karena saya hanya tinggal di underworld Express 301, sebagai masinis. Maka karena itu saya tak tahu banyak mengenai clan Haros yang terkenal pembunuhannya dan keinginan yang besar. Sekaligus yang mengatur dan mengadili para jiwa yang sekarang sedang menumpang di sini."
"Begitu ya. Baiklah." Kata Rufus datar, "tujuan mu ke Aernas kan? Apa tujuan mu ke sana?" tanya Jack, "aku mengincar seseorang." Kata Rufus. "Ohh… jiwa maksud mu? Bagus, semangat anak muda seperti kau patut di puji hohoho. Baiklah waktunya ke kembali ke gerbong pengaturan. " kata Jack lalu meninggalkan Rufus.
.
.
.
Berjam-jam kereta tersebut berhenti dan berjalan. Rufus pun merasa bosan dan berjalan melihat-lihat gerbong per gerbong, "tak jauh yang kulihat hanyalah para penumpang dengan jiwa yang di kawal dan beberapa demon." Batinnya.
Tiba-tiba terjadi guncangan yang sangat besar dan membuat kereta tersebut berguncang, dari pintu pengaturan yang terbuka keras-keras terlihat Jack yang kaget, "Ada apa?! Apa yang terjadi ?!"
"Jail breaker lepas dari kurungannya, pak!" kata defencer yang memberitahu dari sebuah speaker. "A..apa ?! Sial, makhluk itu memang susah di tenangkan." Gerutu Jack, mendengar kata-kata itu Rufus langsung berlari ke tempat di mana Jail breaker itu berada.
.
.
.
Ternyata Jail breaker itu berada di gerbong penyimpanan. Makhluk bertubuh besar, dengan rantai yang mengikat tangannya dengan beban bola besi yang bisa di bilang sangat berat. Makhluk yang bernama Jail breaker itu sangat mengamuk, membunuh setiap para cabin defencer yang hendak menghalangi makhluk itu.
Dalam saat keadaan situasi seperti itu, Jack memerintah para deceases, untuk membawa beberapa cabin defender yang terluka parah dan di beri perawatan oleh para cabin crew.
Sementara itu, Rufus melihat kejadian seperti itu dari balik pintu. Ia ingin menolong pak masinis dan yang lainnya. Tapi ia tak punya keberanian, ia takut karena makhluk itu sedang sangat mengamuk. Jika tidak di hentikan maka ia akan membunuh lebih banyak nyawa.
"A…apa yang harus ku lakukan? " kata Rufus batinnya dengan rasa takut, "kenapa kau pedulikan mereka? Biarkan saja mereka. Mereka tidak ada hubungannya dengan kau."
Kata suara yang mendengung di kepala Rufus, yang entah dari mana asal suara itu.
"Aku hanya benci pengkhianat dan aku paling tak suka dekat, maksud ku di dekati oleh semua termasuk mereka." Batin Rufus. "Aku lebih suka sendiri."
"Tapi, karena mereka melayani penumpangnya dengan baik. Maka akan ku balas hanya untuk sekali…", Rufus menyipitkan matanya, dan berkata "… dan lagi pula, aku bisa mengasah kemampuan ku dengan melawan monster ini, kan? Maupun harus punya sedikit rasa takut."
Tak ada respon dari suara itu, Rufus pun tersenyum sinis. Lalu ia mengambil ke dua eye toothnya yang di selipkan, dari jubah hitamnya. Ia lalu mengarahkan eye toothnya ke arah monster itu, tepat sasaran di kepalanya. Lalu ia menembakannya, "Empower…."
Sebuah cahaya merah keluar dari eye tooth itu dan melaju dengan cepat ke arah kepala monster itu dan tertembak. Monster itu pun tumbang, lantas Jack kaget melihat nya lalu ia menoleh kea rah belakang. Ia tak melihat siapa-siapa.
.
.
Sementara Rufus berjalan pergi dari gerbong itu dan kembali ke gerbong sebelumnya tempat di mana ia duduk dan menunggu, untuk sampai ke tempat tujuan.
Sebelum ia duduk, ia sempat bingung. Ia tidak melihat satu penumpang jiwa maupun demon. "Apa yang terjadi? Seharusnya di sini banyak penumpang kan?" kata Rufus, lalu ia berjalan menuju ke gerbong selanjutnya, dan sampai lah ia di depan ruangan masinis Jack.
Rufus hendak mencoba membuka pintu itu, tapi sebelum ia membukanya, gerbong di sekitarnya berguncang, dan hancur. Rufus pun mencoba melindungi diri dari puing-puing hancurnya ruangan itu. Ia lalu melihat sebuah mesin lokomotif mengamuk.
"Ciiikkkkk…"
"Ehk?! Mesin lokomotifnya ?!" kaget Rufus.
Lokomotif itu lalu menyerang Rufus, ia yang tak sempat menghindar dan terkena serangan itu dan di siksa. "Arghhhh!" teriak Rufus kesakitan. Lokomotif yang satunya pun muncul dan menyemburkan bola api nya ke Rufus. Tapi Rufus bisa menghindari serangannya.
"Se…sebenarnya apa yang sedang terjadi ?!" kata Rufus. Lalu Rufus mendengar suara anak perempuan, ia melihat di mana asal suara itu. Dan akhirnya ia menemukannya, anak itu sedang dalam kondisi luka. Lalu Rufus berlari ke arah anak perempuan itu.
Lokomotif atau bisa di bilang steam engineer menjatuhkan gerigi mesin dari atas, dan mencoba menimpa nya ke anak perempuan itu. Sebelum anak itu terkena gerigi tersebut, Rufus sudah berhasil menyelamatkannya.
Sementara itu steam engineer satu lagi sudah sangat mengamuk dan melempar bola api lagi kea rah Rufus dan anak perempuan itu. Tapi serangan itu berhasil di tangkisnya dengan mudah oleh Rufus.
Tiba-tiba Jack datang dan melihat pemandangan yang sangat mengerikan. "Ga…gawat, steam engineer mengamuk!" Beberapa cabin crew dan cabin defender takut untuk mendekat. Jack lalu melihat Rufus yang sekarat itu tapi masih berdiri.
"Apa yang kau lakukan di sana, anak muda! Terlalu berbahaya di sana, menjaulah !" teriak pada Rufus. Tapi Rufus hanya diam. Jack lalu mengerutkan dahinya, ia kaget melihat jiwa seorang anak perempuan di dekatnya.
"Sekarang aku baru tahu kenapa, steam engineer mengamuk. Ternyata ada jiwa anak itu yang mendekat. Berarti jiwa anak itu…." Batinnya, "Anak muda! Segera tinggalkan tempat itu! Terlalu berbahaya jika kau terlalu dekat dengan lokomotif itu!" teriaknya lagi pada Rufus.
Rufus pun lalu menoleh ke belakang dan melihat masinis Jack dengan tatapan kosong, dan berkata, "aku akan menghancurkan lokomotifnya." Jack kaget mendengar kata-kata yang barusan di katakana Rufus. Tapi memang cara menghentikan steam engineer hanya dengan cara menghancurkannya dan diganti dengan yang baru atau di perbaiki.
"Jika jiwa itu tidak dekat dengan steam engineer, mungkin tidak perlu ada kejadian seperti ini kan?" batinnya. Lalu Rufus berjalan ke arah steam engineer, Jack kaget melihat apa yang di lakukan Rufus, "Apa yang kau lakukan!? Jangan terlalu dekat dengan mesin itu!" teriaknya lagi untuk yang ketiga kalinya.
Tapi Rufus tak mendengarnya, dan tetap berjalan. Tiba-tiba steam engineer pertama membuka tungku panasnya dan menghisap segala apa yang ada di sekitarnya. Rufus pun tak menduga akan kejadian itu dan berusaha menahan dari angin yang sangat kuat itu. Jack, cabin crew dan defender mencoba bertahan, termasuk anak perempuan itu.
Rufus tak sanggup menahannya dan akhirnya terhisap ke dalam tungku panas itu. Jack shock melihatnya, "celaka, anak muda itu bisa mati di dalam tungku panas steam engineer. Panasnya mencapai lebih dari seribu derajat Celsius." Kata Jack.
.
.
Sementara itu juga, Rufus terjebak di dalam steam engineer. "Ugh… panas sekali di sini. Rasanya seperti mau mati!" keluhnya dengan penuh rasa sakit yang dasyhat. "Gunakanlah kekuatan mu…" kata suara yang mendengung di kepala Rufus. "Ke…kekuatan apa ?!"
"Yang ada di tangan mu. Kekuatan itu belum sepenuhnya sempurna. Masih dalam tahap berkembang, lihat lah tangan mu." Kata suara itu, lalu Rufus melihat tangannya dan terdapat sebuah tattoo dengan garis biru yang belum penuh sepenuhnya termasuk dua lingkaran yang menyatu dengan garis itu.
"lepaskan sarung tangan mu, blue flame itu akan menyala jika tangan mu menyentuh eye tooth mu." Kata suara itu, lalu Rufus mencoba menaruh eye tooth yang ada di tangan kirinya. Tiba-tiba sebuah api panas muncul dari baju nya, Rufus kaget melihat nya. "Gawat, sepertinya aku akan di bakar hidup-hidup oleh api mesin ini." Keluhnya, lalu ia cepat-cepat ia menggigit sarung tangannya dan mengambil eye tootnya kembali.
Setelah ia menyentuh eyetoothnya, tiba-tiba tattoo biru itu menyala dan munculah blue flame yang menyelimuti tangannya. Rufus sempat kaget, tapi ia mencoba untuk tenang. Api mesin itu yang mencoba membakar Rufus sedikit demi sedikit tiba-tiba menghilang.
"Serang lokomotifnya sekarang dengan blue flame dan eyetooth mu." Kata suara itu pada Rufus. Ia lalu mengarahkan tangannya yang diselimuti blue flame dan yang sedang menyentuh eyetooth ke atas. "Make…" sebuah energi muncul dan lingkaran sihir hitam dengan jarak yang sangat besar. "…It Rain!" lalu energi itu pun meledak menjadi sebuah hujan berwarna biru dan menembak di sekitar kawasan target.
.
.
.
Sementara Rufus masih di dalam steam engineer, Jack sedang sangat kesusahan untuk melindungi diri dan sisanya, dari serangan steam engineer kedua. Tiba-tiba, steam engineer pertama merasakan sesuatu yang tidak enak. Jack bingung sekaligus kaget melihatnya. Sebuah api biru muncul dari luar besi steam engineer.
Api itu membesar, dan membesar melahap steam engineer pertama, dan membuat steam engineer kedua mati. Jack hanya bisa terdiam melihat kejadian itu, dan melihat Rufus terkulai lemah. "Anak muda! Kau selamat?!" Jack berlari kea rah Rufus.
"Ugh….". "Sepertinya, anak ini pingsan. Tapi apa yang sebenarnya terjadi saat berada di dalam steam engineer? Dan kenapa dia bisa bertahan hidup tanpa terbakar sekalipun?"
.
.
Beberapa jam kemudian, Rufus pun terbangun. "Ugh… aku ada di mana?" tanya Rufus.
"Kau berada di tempat duduk mu, tapi sedang dalam perawatan." Kata wanita yang salah satu bagian dari cabin crew. Dan sebelah nya, anak perempuan duduk di sebelah Rufus.
"Kau anak perempuan yang tadi. Kau selamat." Kata Rufus. "I…iya, ini berkat kakak. Terima kasih kakak." Kata anak itu. Rufus hanya terdiam, "jiwanya, sangat membuatku ingin membunuhnya." Batin Rufus.
"Tahan jiwa anak itu!" perintah Jack pada cabin defender. Mereka lalu menahan anak itu. "Apa yang kau lakukan?!" bentak Rufus. "Jiwa anak ini, harus di adili." Kata Jack lalu berjalan membawa anak itu.
"Tunggu, sebelum itu saya ingin mengetahui namanya." Kata Rufus, membuat jack menghentikan langkahnya. "Baiklah."
"Nama mu siapa, nak?" tanya Rufus pada anak perempuan itu. "Nama ku, Calecia." Jawab anak perempuan itu. "Kenapa kau bisa berada di sini?"
"Aku tidak tahu, yang kuingat aku ditembak dan dibunuh oleh seseorang bisa dibilang kekasih ku. Karena aku mengasingkan anak ku dan 'dia'. Dan tiba-tiba saja aku berada di sini dalam wujud anak-anak. Dan ditarik masuk ke dalam kereta ini." Kata anak perempuan itu menjelaskan.
Mendengar perkataan itu, Rufus lalu mengeluarkan eye toothnya dan mengarahkan ke kepala anak itu. Jack lantas kaget melihat tindakan Rufus dan berkata, "apa yang kau lakukan?!"
"Kakak? Apa yang kakak lakukan?!" kata anak itu ketakutan. Rufus menatap anak itu dengan tatapan seolah-olah membuat atmosfer di sekitarnya menjadi sangat menyakitkan.
"Kau…kau… yang merebut ayah ku. Kau! Kau memang pantas dibunuh oleh ayah! Dasar kau wanita tidak tahu diri!" Lalu Rufus menembak anak perempuan itu, dan menghilang.
Jack hanya terdiam melihat kejadian yang baru saja terjadi. Lalu Rufus menaruh eyetoohnya ke dalam jubah hitamnya. Lalu terduduk.
"Kau sangat mengerikan anak muda." Batin Jack.
.
.
Setelah beberapa jam lamanya, steam engineer diperbaiki dan ditenangkan. Lalu melanjutkan perjalanannya. Sementara Rufus, hanya terduduk diam. "Akhirnya, kau telah membunuh wanita itu. Sekarang tinggal mengincar anak dari kedua orang tua itu." Kata suara itu yang mendengung di kepala Rufus.
Rufus lalu melihat tangan kirinya, tattoo biru nya pun mulai berkembang. "Hmm… tinggal anak itu dan ayah." Kata Rufus.
