Hallo minna-saaaan! Ketemu lagi bersama Ley-chan di sini! Ternyata Ley bisa update 27 DIH lebih cepat dari dugaan Ley hohoho. Hebat ya? *bah (Reader : Terus kita harus bilang wow?)
Ehem, sebelum masuk ke ceritanya, Ley mau balas review kalian dulu ;)
X-Eddreine-X : Hahaha, sebenernya emang ada beda nya pas Ley ngetik ronde ke-2 *senyumnistapenuhmaksud* Jujur Ley juga sempet lupa lho cerita chapter sebelumnya kaya gimana (Ini author gak bertanggung jawab sama sekali), jadi Ley harus baca lagi biar Day 13 masih rada-rada nyambung. Karena dirimu reviewer pertama, Ley kasih spoiler deh, *kedip-kedipin mata* Kekuatan Enma yang pindah-pindah dimensi itu emang ilang n gak bisa balik lagi, tapi nanti dia bakal sadar kalau dia punya bakat terpendam buat 'mensesuatukan' orang lain (lho kok jadi menjurus?). Apakah itu kekuatannya? Yah kita lihat saja nanti hoho *plak. Hahaha sebelum ngepost fic isi lemon juga dosa Ley udah menggunung, kan sebelum ngepost harus mikirin n ngebayangin dulu adegannya kaya gimana, terus juga harus belajar langkah-langkah yang benernya dari doujin berating R-18. Wahaha (fujo akut) 8D. Puasa kayanya bakal cepet update malah, soalnya Ley lagi libur n gak ada kerjaan buat ngabuburit fufu. Anyway, thank u reviewnya sayang~ muaach~ *ngek.
charaven : Haha, ampe berbulan-bulan ya? Gak nyadar *w* Tsuna jadi keliatan kaya maniak yah di Day 12? Haha Ley emang punya bakat buat menghancurkan image tokoh ciptaan Amano Akira rupanya. *disembelihAmano-sensei* Btw makasih buat review dukungannyaaa~ *bighug*
felicia phantomhive : Ehmm...kependekan ya? ^^a Gomen. Pagahal udah lama nungguin ya? Tapi tenang aja, habis ini Ley bakal publish kilat kok 8'D. Arigatou buat review nya ^^
fajrikyokya: Iyaaaaaa! Ada Enma! 8D *ikutanguling-guling*. Kyaa makasih udah dibilang keren ihiii~*gigit2fajri* *ditebas* Tenang aja, masih belum end kok, malah bakal muncul konflik baru nih hoho. Poor Tsuna. Anyway sankyuu for the review :') *sobs*
Lavenz Aru: m(_ _)m Gomen, lama banget ya bikin nunggu? Untuk sementara hot-hotannya distop dulu huhu, tapi kalo Ley lagi mood mungkin ntar diadain lagi :D (author gak bener yang cuma tergantung mood). And so, thank u for ur precious review *bows*
icha22madhen : Iya, masih TBC kok, tenang aja, kayanya masih jauh dari kata tamat. Uuuh padahal pengen cepet-cepet tamat terus lanjut fic yang lain *gigitjari* Wah, pengen lebih? Pengen lebih apanya tuh? Jangan-jangan~? *ifyouknowwhatimean* Hahah, makasih dah review yaa ^^
AN Kozato Gravity Spheres : Ley baru nyadar barusan, nama pena anda bagus sekali OwO Keren n keliatan macho gtu *plak. Iya, tenang aja, Enma gak akan kenapa-kenapa kok haha, dia bakal tampil keren di chapter depan malah. Makasih reviewnya ya
alwayztora : Haha, it can't be helped. Soalnya Day 12 sebenernya cuma anti-klimaks, jadi pendek banget. Tapi yang berikutnya Ley janji ngepanjangin deh :D. Sama-samaaa makasih juga ya buat review nya.
Okay, now... TO THE STORY! Sorry ya kalo masih banyak typo hehe, males ngecek ulang, suka bikin ngantuk *beh
.
Day 13. Invasion
...di balik kegelapan hutan, mereka mengendap-endap secara rahasia...
"Tsuna-kun."
Suara itu sayup-sayup terdengar oleh telinga Tsuna. Suara lembut yang sangat jauh, seperti sebuah gema yang secara tak sengaja terbawa oleh angin. Nada khas pada suara itu terlalu familiar untuk diabaikan, membuat Tsuna membuka matanya secara perlahan dan bangkit dari ranjang yang ia tiduri.
Tsuna melirik sosok yang masi tertidur lelap di sampingnya, pria berambut indigo yang memegangi tangan kiri Tsuna dengan erat. Selimut tebal yang menutupi setengah bagian tubuhnya nyaris tak mensensor bagian privasi Mukuro, membuat Tsuna tersenyum tipis saat menyadari betapa cerobohnya sang kekasih.
Tsuna melepaskan genggaman tangan Mukuro dan menarik selimut tebal hingga menutupi tubuh mereka berdua. Ia merebahkan diri dengan hati-hati agar tak membangunkan kekasihnya. Suasana nyaman di ranjang berkanopi itu membuat Tsuna menutup mata dan bersiap untuk kembali dibuai alam mimpi, sampai kemudian terdengar suara asing yang kembali memanggil namanya.
"Tsuna-kun."
Yakin seseorang benar-benar memanggil namanya, Tsuna segera bangun dan turun dari ranjang. Ia mengambil pakaian terdekat yang bisa dikenakan sementara matanya tertuju pada Mukuro, memastikan agar pria itu tak terbangun karena suara berisik yang ia hasilkan.
Selesai berpakaian, Tsuna segera melihat ke sekeliling sambil menajamkan pendengarannya, menatap semua perabotan dan ornamen di kamar itu dengan teliti. Rasa tegang mulai merasuki seluruh nadi, dan saat itu juga jantung Tsuna berdegup lebih kencang.
Hampir semenit ia berdiri mematung dalam hening. Namun suara misterius yang sempat hinggap di kepalanya itu tak lagi terdengar, hanya suara gemeletuk jendela dan hembusan angin dari beberapa ventilasi yang berada dalam jangkauan gendang telinganya.
Aneh.
Tsuna yakin ia mendengar seseorang—atau mungkin sesuatu—memanggil namanya seakan-akan si pemilik suara tersebut sedang mencari dirinya. Rasanya tidak mungkin kalau Demon Spade melakukan hal iseng dengan menciptakan ilusi suara di pagi buta seperti ini. Sementara Byakuran mustahil bangun mendahului matahari, dan suara-suara itu sama sekali tak terdengar seperti suara Enma atau Chrome.
Bluebell? Itu lebih mustahil.
Lalu suara siapa?
Dua menit berlalu sepi dan Tsuna mulai menyerah mencari asal suara asing tersebut. Berkhayal. Ya, mungkin ia hanya sedikit letih setelah semalaman penuh melakukan aktivitas seksual bersama Mukuro. Siapa tahu terlalu banyak bercumbu cinta ternyata bisa memengaruhi kondisi psikologis seseorang hingga menyebabkan halusinasi?
Tsuna menghela nafas lelah sambil memegangi kepala. Rasanya pening. Jam dinding klasik yang tergantung di seberang tempat tidur menunjukkan waktu tepat pukul empat pagi. Berarti ia baru tidur selama satu jam setelah klimaks terakhirnya. Tak heran bila rasa kantuk mulai menguasai kedua matanya sekarang.
Laki-laki itu berjalan ke ranjangnya yang hangat. Ia duduk sambil membetulkan posisi bantalnya. Bersiap untuk kembali tidur dan melupakan perihal mengenai suara misterius yang tak jelas asal usulnya tersebut. Namun baru saja Tsuna akan berbaring, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara gemeletuk dari bingkai jendela di samping tempat tidurnya.
'GREEK GREEK GREEK GREEK'
Jendela tinggi yang tertutup tirai merah itu bergetar hebat sampai-sampai menghasilkan suara berisik yang mendominasi seluruh ruangan gelap tersebut. Tsuna diam sambil berusaha menerawang jendela di balik tirai mewah itu. Ia menelan ludah. Ketegangan yang sempat hilang pun kembali menggentayangi nyalinya. Tsuna mungkin tidak pintar, tapi ia tahu angin sekeras apapun tak akan membuat suara berisik yang seperti itu.
Seolah-olah ada seseorang yang hendak membuka jendela dengan paksaan keras.
Tsuna melirik Mukuro yang masih terlelap. Diávolos itu terlihat begitu nyaman dengan tidurnya, sama sekali tak terpengaruh suara gemeletuk yang semakin lama semakin menggemuruh. Haruskah ia membangunkannya?
Tsuna bingung. Ia takut, tapi ia juga tak ingin mengganggu tidur Mukuro hanya karena suara horor dari sebuah jendela tua.
Setelah 30 detik mengumpulkan keberanian, Tsuna bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju jendela yang masih bergemeletuk ria. Tangannya bergetar hebat. Jantungnya serasa melompat-lompat dan matanya sama sekali tak berkedip saat ia meraih tirai tebal yang menutupi suara berisik itu. Tsuna menarik nafas dalam-dalam, kemudian mulai berhitung dalam hati.
Di hitungan ke-3, ia akan membuka tabir misteri itu dalam satu gerakan.
.
.
.
Satu
.
.
.
Dua
.
.
.
Tiga
.
.
.
'SREEEK'
Dan suasana kembali hening.
Tsuna berdiri di depan jendela dengan tirai terbuka di kedua tangannya. Ia tak melihat apapun di luar. Tak ada siapapun. Tak ada hal aneh apapun yang ia saksikan dari lantai 3. Fenomena janggal itu membuat Tsuna melotot tak percaya. Ke mana perginya suara horor yang barusan?
Tsuna menggeser kunci dan membuka jendela tinggi itu pelan-pelan. Angin malam yang masih tersisa seketika menyapu wajah pucatnya. Ia merinding. Tiap nafas yang dihembuskannya berubah menjadi kabut putih. Sementara hawa dingin yang menggelitik kulit membuat Tsuna memeluk tubuhnya erat-erat. Kedua matanya yang masih menyimpan kantuk mulai berkeliling memperhatikan suasana malam di luar.
Gelap sekali.
Mata Tsuna menyipit. Ia juga kembali menajamkan pendengarannya, siapa tahu suara asing yang sempat memanggil namanya tadi sekarang bisa—
"Tsuna..."
—terdengar.
"Tsuna-kun."
Tsuna menahan nafas. Ya, kali ini tak diragukan lagi.
"Tsuna."
Tak salah lagi, memang ada seseorang yang memanggil namanya. Siapa itu?
"Tsuna."
Siapa?
"Tsuna-kun."
Siapa yang memanggil?
.
.
.
"Tsunayoshi."
.
.
.
Di tengah kegelapan yang membayangi puluhan hektar hutan, pandangan Tsuna mendarat pada sebuah sosok di bawah pohon Oak yang rindang. Pohon yang paling mencolok itu menyembunyikan wajah misterius yang melempar seringai dingin ke arahnya. Otak Tsuna segera menyimpulkan bahwa sosok itu lah yang sedari tadi menyisipkan suara-suara asing ke kepalanya—suara yang hampir saja membuatnya frustasi.
Tak sampai tiga detik kemudian, sosok terbalut bayangan itu menghilang di balik batang pohon Oak. Rasa kantuk Tsuna hilang dalam sekejap. Ia berlari ke luar kamar dengan terburu-buru. Tiga belas hari berada di mansion tua ini rupanya membuat Tsuna hafal segala lika-liku lorong yang menuju ke lantai dasar. Hanya dalam waktu kurang dari delapan menit, Tsuna sudah berdiri di depan pintu utama dengan sebuah lampu lentera yang membantu penglihatannya. Dan ia harus berterima kasih pada Dewi Fortuna karena pintu jati penuh ukiran gothic itu tak terkunci, ia bisa keluar mansion dengan mudah tanpa perlu melompat dari jendela.
Deretan hutan di seberang danau membuat Tsuna bergidig ngeri. Efek angkernya terasa kental. Sambil mencoba mengalihkan pikirannya dari pengaruh buruk film horor, Tsuna mulai berjalan menuju jembatan yang menghubungkan hutan dengan mansion tua Mukuro. Lentera yang menjadi satu-satunya sumber cahaya terdekat ia genggam erat-erat di tangannya. Sesekali Tsuna berhenti untuk mengatur nafas, berusaha mengendalikan rasa takutnya yang meluap-luap.
Jembatan tua yang Tsuna lewati menghasilkan bunyi decit tajam tiap kali ia melangkah. Laki-laki itu menunduk sesaat. Merasa khawatir bilamana jembatan tua itu ambruk hingga ia tenggelam di danau hitam untuk yang kedua kalinya. Oh, jangan sampai!
Tsuna mempercepat langkah ketika ia menyorot sebuah gerbang tinggi yang sudah berkarat. Tanda peringatan 'dilarang masuk' membuatnya teringat dengan momen saat pertama kali menemukan mansion tua Mukuro. Waktu itu—dua belas hari yang lalu—Chrome berdiri di tempat ia berdiri sekarang, menyambut Tsuna dengan kata-kata semanis madu. Kalau dipikir-pikir hal apa gerangan yang membuat Tsuna terpikat ucapan Chrome waktu itu? Sampai-sampai ia nekat masuk ke dalam mansion tua yang dihuni iblis.
...
Oh baiklah— lupakan soal Chrome. Sekarang, pohon Oak. Ia harus mencari pohon Oak yang menyembunyikan sosok misterius yang dilihatnya tadi.
Tsuna mendorong pintu besi karatan itu kuat-kuat kemudian mengangkat lenteranya tinggi-tinggi. Matanya menyipit sambil melihat ke sekelilingnya dengan hati-hati. Ia memang tidak menemukan pohon Oak di sana, tapi matanya menangkap sekelebat bayangan yang menghilang di balik pohon tinggi tak berdaun.
"Siapa itu?"
Meski takut, namun rasa penasaran yang tinggi mendorong Tsuna untuk mengikuti gerakan bayangan yang dilihatnya. Tapi ia tak menemukan siapapun di sana. Lentera di tangannya ia angkat lagi tinggi-tinggi, dan bayangan hitam itu kembali menampakkan diri dalam hitungan mili detik, berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lain sebelum akhirnya menghilang di balik pohon tinggi yang lebih jauh. Tsuna buru-buru pergi ke lokasi bayangan terakhir yang dilihatnya. Cahaya dari lentera yang dijinjingnya bergoyang-goyang tak stabil, mempersulit pandangannya yang tetap terfokus ke depan. Tapi ia tak begitu peduli. Yang penting sekarang ia bisa menangkap bayangan yang sedari tadi meloncat-loncat seperti kutu.
Tsuna berhenti di depan pohon tinggi itu, kemudian dengan hati-hati mengintip ke balik batangnya. Ketegangan membuatnya gentar. Tapi rasa penasaran memaksanya untuk terus mencari tahu. Apa gerangan yang bersembunyi di balik batang tinggi itu? Hantu kah? Atau monster barangkali?
Seperti remaja pada umumnya, otak Tsuna mulai berfantasi yang tidak-tidak. Namun ia harus kembali dihadapkan pada kenyataan ketika mengetahui bahwa usaha pengejaran bayangan yang dilakukannya ternyata sia-sia.
Tak ada siapapun di sana.
Nihil.
Tsuna merasa lega, tapi juga sedikit kecewa. Bayangan-bayangan nista itu seolah sedang mempermainkannya. Padahal tadi mereka jelas-jelas memanggil namanya tapi sekarang mereka bahkan sama sekali tak menampakkan diri.
"Tsuna-kun."
Suara ajaib itu kembali terdengar, hanya saja kali ini terasa lebih dekat dan jelas. Seolah-olah ada seseorang yang berbisik di balik punggungnya. Suara itu dari belakang.
Tsuna spontan membalikkan badan.
"Hai."
Dan sapaan lembut dari wajah itu sukses membuatnya shock hingga ia menjatuhkan lentera dalam genggamannya. Cahaya pun padam seketika. Semilir angin kencang berhembus menggetarkan ranting-ranting pepohonan. Dedaunan yang berguguran di tanah saling berterbangan mengikuti arah hembusan angin.
Takut.
Tsuna takut.
Bukan suasana yang bagaikan setting film horor yang membuat bulu kuduknya berdiri. Bukan juga kegelapan pekat yang menyelimuti hutan angker itu yang membuat tubuhnya gemetaran, melainkan senyuman lembut yang melengkung sempurna di bibir manis seorang gadis di depannya.
Mustahil.
"K-Kyoko-chan?"
Gadis itu tersenyum saat Tsuna menyebut namanya dengan ragu-ragu. Kening Tsuna berkerut. Keringat dingin mengalir laun di tengkuknya. Ia sangat yakin, bahkan berani bersumpah bahwa dua belas hari yang lalu, ia menyaksikan potongan tubuh Kyoko dilalap api bersama tubuh teman-teman wanitanya yang lain. Api yang begitu ganas, menghanguskan puluhan potong mayat yang telah tewas hanya dalam satuan menit.
Ya, seharusnya Sasagawa Kyoko sudah tewas.
"Tsuna-kun, kenapa lama sekali?" Gadis itu berjalan mendekat, sementara Tsuna melangkah mundur dengan hati-hati. "Yang lain sudah lama menunggumu."
Tsuna tak bereaksi. Diam. Ia menelan ludah.
"Waktumu sudah habis, kau tahu?" Kyoko meletakkan kedua tangan di pinggangnya dalam gelap. Gadis itu menunjukkan ekspresi jengkel yang terlalu manis. "Kau membuat yang lainnya khawatir, ayo segera kembali ke tenda."
Tenda? Tunggu! Apa yang ia katakan?
"Ah, Tsuna! Akhirnya ketemu juga!"
Suara ceria yang tiba-tiba terdengar membuat Tsuna dan Kyoko menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Sosok itu menampakkan diri dari balik kegelapan. Wajah familiar, tubuh tinggi atletis dengan paras rupawan. Tsuna pernah mengenalnya, namun ia lupa. Kemudian Kyoko memanggil nama lelaki itu dengan suara bersahabat, dan mata Tsuna melebar saat ia menyadari bahwa sosok yang berusaha diingatnya itu adalah salah satu sahabat terbaiknya.
"Yamamoto!" teriak Tsuna.
Yamamoto tersenyum cerah. Sayangnya hal itu tak berpengaruh apapun bagi Tsuna. Senyum secerah matahari itu sama sekali tidak mengusir rasa takut Tsuna. Sebaliknya, Tsuna malah mengambil jarak dengan mereka.
"Kau baik-baik saja?" Yamamoto tampak memperhatikan Tsuna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tubuh Tsuna gemetaran. Yamamoto tertawa menghiburnya, "Kau tak perlu ketakutan seperti itu, Tsuna. Uji nyali ini hanya game kok."
Uji nyali? Game? Apa maksud mereka?
Tsuna tertegun dengan pemikirannya sendiri. Ia lengah. Yamamoto maju dan menarik tangan Tsuna kuat-kuat, memaksanya berjalan ke arah yang berlawanan dengan mansion Mukuro.
"Ayo kita pergi, Tsuna. Kalau tidak cepat-cepat, nanti Gokudera bisa mati khawatir."
"T-Tunggu! Lepaskan aku!" Tsuna berontak begitu ia mendengar nama Gokudera disebut, tapi Yamamoto tak melepaskan genggamannya, dan Rasa panik mulai mengambil alih pikiran Tsuna, "LEPASKAN AKU!"
Ia menginjak kaki Yamamoto dengan kuat hingga atlet baseball itu meringis kesakitan. Kesempatan tak akan datang dua kali, Tsuna langsung melarikan diri begitu ia terlepas dari cengkraman Yamamoto. Kyoko menjerit histeris. Yamamoto meneriakkan nama Tsuna berulang-ulang. Namun Tsuna hanya berlari secepat yang ia bisa. Berlari sejauh yang ia mampu, sambil sesekali menoleh ke belakang kalau-kalau dua orang itu mengejarnya.
Kyoko-chan sudah mati. Gokudera-kun sudah mati.
Batinnya berulang kali membuat pernyataan persuasif. Tapi ia tak bisa menghindar dari rasa panik, bingung, dan takut yang membuat kepalanya berdenyut-denyut. Tsuna kembali menoleh ke belakang, dan kesialan seolah menabrak tubuhnya dengan keras saat ia jatuh tersandung oleh sebuah akar pohon.
Tsuna merintih. Air mata mulai berkumpul di sudut matanya karena rasa sakit dan perih. Ia bangkit secara perlahan-lahan, kemudian mendongak.
Pohon Oak.
Angin liar berhembus kencang tiba-tiba di tempat itu, menghancurkan gaya rambut Tsuna yang melawan gravitasi. Mata karamelnya berair, terpaku pada sosok yang berdiri tegak di bawah pohon Oak. Sosok itu tak bergerak, menatap Tsuna dengan pandangan tajam yang sanggup membunuh nyalinya.
Tsuna menahan nafas ketika ia dengan nekat membalas tatapan tajam bayangan hitam itu. Mata hitam yang mengeluarkan kilat-kilat nafsu membunuh—membuat Tsuna membatu dan kehilangan seluruh tenaganya, seakan-akan sosok yang terus menghujaninya dengan tatapan tajam itu adalah malaikat kematian.
Angin kencang masih berhembus dan berputar-putar di sekeliling tubuh yang tetap mematung di bawah pohon Oak, kemudian Tsuna melihat malaikat tak bersayap itu membuka mulutnya, menggumamkan sesuatu dengan suara dinginnya yang berbahaya.
.
.
.
"Sawada Tsunayoshi—"
.
.
.
Aku tersentak bangun sambil berteriak.
Terlonjak, hingga nyaris terjatuh dari ranjang mewah yang kutiduri.
Nafasku memburu, terasa sesak dan sulit. Seluruh tubuhku basah oleh keringat dingin yang masih mengalir, jantungku berdegup sangat kencang dan cepat. Sementara kedua mataku melotot ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul lima pagi. Aku menelan ludah. Memegangi kepala sambil berusaha mengatur nafasku.
"Tsunayoshi-kun?" Suara lembut itu membuatku menoleh ke samping. Ia menatapku dengan perasaan heran campur khawatir. "Mimpi buruk?"
Aku mengangguk pelan, kemudian Mukuro bangun dan menyibakkan poni yang menghalangi pandanganku. Ia menatap wajahku lekat-lekat sambil mengusap keringat dingin di sekitar leherku.
"Aku mendengar suara." Hanya tiga kata yang kuucapkan namun tenggorokanku terasa sakit. Aku terbatuk sekali. Mukuro langsung mengelus punggungku pelan-pelan.
"Suara siapa?" tanyanya.
Aku memejamkan mata. Berusaha mengingat dengan keras namun yang tergambar di benakku hanyalah bayangan kelabu dan siluet sebuah pohon tinggi yang besar.
"Aku tidak ingat." Kedua tanganku yang masih gemetaran mencengkram sebagian rambutku. Aku menunduk, masih berusaha mengingat, namun yang terjadi malah sebaliknya. Semakin berusaha aku mengorek ulang mimpi yang kualami, semakin kabur bayangan yang sempat terekam otakku. Dan hal itu membuatku takut.
"Tsunayoshi-kun." Mukuro mendekap seluruh tubuhku. Suara detak jantungnya yang tenang terdengar cukup jelas. Tangan kanannya membelai kepalaku dengan lembut. Ia mendekatkan wajahnya ke telingaku kemudian membisikkan kata-kata yang jernih,
"Aku di sini bersamamu, kau tidak perlu takut."
Suara yang tenang bagai kabut, seolah menghipnotis alam sadarku. Aku menutup mata, membiarkan diriku tenggelam dalam kehangatan dekapan Mukuro yang begitu erat. Nafas dan detak jantungnya terdengar seperti lagu pengantar tidur bagiku. Rasa takut itu sirna dalam sekejap, dan aku tak lagi mempermasalahkan mimpi buruk yang baru saja kualami.
Inikah rasanya didekap oleh orang yang kau cintai? Begitu tenang dan damai, memberikan rasa aman tak terbatas, mengusir segala kegelisahan yang meneror.
Rasanya nyaman sekali.
Aku bahkan tak ingat kapan aku tertidur di pangkuannya.
.
.
.
Malam itu jam dinding menunjukkan pukul sepuluh lebih delapan. Aku memandangi Chrome lewat pantulan cermin di depanku.
Cantik.
Chrome mengenakan sebuah gaun malam hitam yang sangat 'dewasa'. Lehernya yang ramping berhiaskan kalung berliontin batu Ruby.
Indah sekali.
Rasanya tak ada kata bosan yang terlintas saat aku memperhatikan wajah cantik Chrome. Aku memperhatikan segala keindahan yang ia miliki dengan teliti. Mata ungu yang cemerlang, bibir mungilnya yang manis, dan jemari lentiknya yang sibuk menata rambutku.
Chrome tampil sempurna malam ini. Bagai bintang yang menarik segala perhatian lelaki. Jujur, aku sedikit iri dibuatnya. Bukan iri karena menginginkan paras cantik seperti Chrome. Namun iri karena Chome adalah seorang wanita.
Wanita dilahirkan dengan segala 'perhiasan' memukau di tubuhnya. Lekuk-lekuk indah yang tak bisa diabaikan itu adalah kelebihan yang tak dimiliki kaum pria. Wanita ditakdirkan untuk cantik. Untuk menarik lelaki yang mereka cintai. Untuk menjadi harta paling berharga yang bisa dimiliki oleh kaum adam.
Aku juga—ingin tampil secantik itu di depan Mukuro. Setidaknya untuk malam ini. Malam terakhir bagi kawan-kawan Mukuro untuk tinggal di Mansion.
Sepuluh hari yang terasa singkat telah berlalu. Setelah ini Enma dan yang lainnya akan pulang ke dunia bawah dan tak akan kembali ke sini lagi untuk sementara waktu.
"Banyak hal yang harus kami kerjakan, Tsuna-kun." Itu adalah jawaban yang kudapat dari mulut Enma saat aku menanyakan kapan ia akan mengunjungi mansion tua ini lagi. Enma tak mengatakan apapun mengenai 'hal' yang perlu mereka kerjakan itu. Lagipula sebenarnya aku tak begitu peduli kalau Demon Spade atau Byakuran tak akan kembali lagi. Hanya saja aku merasa sedikit kehilangan saat mengetahui bahwa Enma akan pergi—untuk waktu yang lama.
Aku memberi sugesti kekanak-kanakan untuk menyuruh Enma tetap tinggal. Ia tertawa renyah. Aku memasang wajah cemberut hingga ia terpaksa menghentikan tawanya. Kemudian laki-laki yang baru pulih itu tiba-tiba memelukku dengan erat sambil membisikkan kalimat yang membuatku terharu.
"Aku menyayangimu, Tsuna-kun. Baik-baik selama aku tidak ada ya."
Aku mengangguk dan membalas pelukan Enma, dan saat itulah Chrome masuk ke kamar, menyuruhku untuk segera bersiap.
Malam terakhir para Diávolos itu akan diisi dengan acara makan malam bersama, sama seperti saat upacara penyambutan mereka waktu itu. Kami akan makan di ruang makan super luas dengan berbagai hidangan ala restoran bintang lima. Berpakaian seperti bangsawan sambil membicarakan hal-hal ringan. Yah, semoga saja kali ini tak ada obrolan mengenai seks atau semacamnya.
"Sekarang kau sudah siap." Kata Chrome sambil meletakkan sisir yang baru saja digunakannya untuk menata rambutku. "Sebentar, aku akan memanggil Mukuro-sama."
Sesuai perkataan Chrome, tak lama kemudian Mukuro masuk ke kamar. Aku berdiri dari kursi untuk menyambutnya, namun Mukuro malah berdiri mematung sejenak di ambang pintu sambil memperhatikan tubuhku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"A-ada apa?"
"Bukan apa-apa." Jawab Mukuro sambil tersenyum. "Warna putih memang selalu cocok untukmu, kau cantik sekali."
Aku bisa merasakan pipiku memerah karena sepatah pujian yang diucapkan Mukuro. Rasanya senang sekali melihat ia memandangku dengan mata terpesona seperti itu.
Mukuro berjalan mendekat lalu berlutut ala ksatria di depanku. Ia meraih tangan kiriku dan menciumnya dengan lembut. Sebuah adegan yang sama persis dengan masa lalu yang kulihat.
"Ayo kita pergi, amore mio."
Mukuro menggandeng tanganku. Aku menunduk, merasa malu dan senang sekaligus. Laki-laki beraura Pangeran kerajaan itu terus menggandengku hingga akhirnya kami tiba di ruang makan.
.
.
.
"Omong-omong, Tsunayoshi-kun manis sekali malam ini~." Goda Demon Spade sambil bersiul. Aku memberi senyuman kecut ke arahnya sebelum melahap potongan Beef Wellington dengan garpu antik. Aku senang saat Mukuro memanggilku cantik, tapi saat Demon Spade menyebutku manis, entah mengapa rasanya aku ingin sekali melempar tiga pisau sekaligus ke arah wajah mesumnya.
"Jangan menggoda kekasih orang lain, Spade." Tegur Mukuro.
"Nufufu, sejak kapan kau jadi mudah cemburu seperi itu, Rokudo Mukuro-kun?" Spade menyeringai ke arah adik tirinya. "Lagipula kau curang sekali memonopoli Tsunayoshi sendirian. Kemarin saja aku sampai tak bisa tidur gara-gara semalam mendengar Tsunayoshi merintih 'ahhh Mukuro...ahhh...sudah, hentikan...'."
...
Sumpah, melihat wajah Demon Spade saat ia meniru suaraku dengan menjijikan seperti itu benar-benar membuatku ingin membunuhnya.
"Tsunayoshi-kun adalah 'yang terkasihku satu-satunya'. Memonopolinya sudah menjadi hakku."
"Hmmm, kau selalu pelit terhadap kakakmu sendiri." Gerutu Spade. Kemudian laki-laki berambut doublezig-zag itu menyeringai ke arah Chrome yang duduk di sebelahnya. "Bagaimana kalau kau jadi 'yang terkasihku satu-satunya'?"
Sebelum Chrome sempat berkata apa-apa, sebuah pisau menancap tepat ke sandaran bangku Spade, hanya berjarak sesenti dari kepalanya.
"Oya oya. Berani sekali kau menggoda Nagi di depanku, Spade."
"Sudah punya Tsunayoshi tapi Chrome pun tak boleh kuambil, kau ini serakah sekali!"
"Aku tak peduli." Sahut Mukuro.
"Pelit!"
"Biar saja."
"Dasar nanas."
"Semangka."
"Nanas psycho."
"Semangka cabul."
"Nyuuuu! Kalian berisiiiik!" teriak Bluebell. Anak berambut biru itu melemparkan buah tomat ke arah Mukuro dan Spade. Mukuro berhasil menghindar sementara Spade kena telak. Byakuran tertawa. Enma-kun yang berada di sebelahnya tersenyum puas. Sementara Chrome hanya menghela nafas sambil melanjutkan makan malamnya.
Ah, ya ampun, aku baru tahu kalau ternyata suasana makan malam dengan para iblis bisa sehangat ini. Rasanya mereka sudah seperti keluarga bagiku.
'DRAAAAAAAAAAAAAAKKKK BRAAAK'
.
.
.
Waktu terasa begitu lambat
Aku tak tahu berapa detik waktu yang kuhabiskan untuk terkejut
Sosok tinggi berpakaian serba hitam itu tiba-tiba saja jatuh dari langit-langit
Berdiri dengan kedua kakinya yang jenjang di atas meja penuh hidangan.
.
.
.
Aku melihat ke sekeliling.
Semua orang di ruangan itu mendongak dengan wajah shock yang berlebihan. Semua sayap hitam yang menjadi identitas kebanggan kaum hitam mencuat keluar dari tiap-tiap punggung mereka. Merobek pakaian bangsawan yang tak ternilai harganya. Sementara makhluk yang berdiri di atas meja makan itu menyeringai tajam, ia hanya mengatakan satu kata dan acara makan malam terakhir kami hancur seketika.
"Ciaossu!"
"ANGELOS!" Byakuran berteriak. Sedetik kemudian terdengar rentetan peluru yang membahana, memporak-porandakan ruang makan mewah bergaya Eropa tersebut. Aku kaget dan terjengkang dari kursi. Kau tidak tahu sesakit apa tubuhmu ketika kau jatuh menimpa puluhan garpu dan kepingan piring gelas yang tajam.
Sambil menahan sakit, aku bergerak merangkak mencari-cari Mukuro. Suara tembakan yang seolah tanpa henti ini membuat kepalaku sakit. Aku berguling ke bawah meja makan. Dari bawah sini aku masih bisa mendengar suara jeritan Bluebell dengan jelas.
Sambil membersihkan serpihan piring dan gelas yang menancap di lenganku, Aku memaksa tubuhku untuk bergerak merayap ke tepi. Sakit memang, tapi ini satu-satunya cara teraman agar tak terkena tembakan. Begitu sampai di tepi kolong, aku menyibakkan taplak emas yang menghalangi pandanganku.
"Mukuro!" Aku berteriak keras saat melihat diávolos yang kucintai tersungkur di dekat dinding dengan dua luka tembakan di bahu kanannya. Cairan kental berwarna merah segar mengalir membentuk genangan darah di lantai. Dua lubang yang mengenai tulang selangkanya mengeluarkan asap seperti bekas terbakar.
Mukuro menoleh ke arahku, ia merintih kesakitan namun masih sanggup berteriak nyaring.
"Enma! Chrome! Bawa Tsunayoshi-kun pergi!". Dua orang yang namanya dipanggil Mukuro langsung menghampiriku. Enma membantuku duduk sementara Chrome yang memegang trident persis seperti milik Mukuro bersiaga melihat keadaan sekitar.
"Spade-san dan Byakuran-san sedang membuat penyusup itu sibuk, ini kesempatan kita untuk lari." Seru Chrome.
"T-Tapi, Mukuro—" Aku sudah hampir menangis saat itu, melihat Mukuro merintih dan menderita karena tertembak dua peluru membuat hatiku perih."K-Kita tidak bisa meninggalkan Mukuro!"
"Pergi, Tsunayoshi." Mukuro terbatuk. Ia berdiri susah payah dengan bantuan trident-nya. "Tunggu apa lagi? Cepat pergi!"
"Ayo Tsuna-kun!" Enma menarikku dari bawah meja makan. Chrome menunjukkan jalan keluar sedangkan Enma berlari sambil memegangi tanganku. Suara tembakan peluru semakin menjauh. Kukira kami sudah aman saat itu. Namun ketika berbelok di salah satu persimpangan lorong, seseorang tiba-tiba menerobos masuk lewat jendela, menyebabkan serpihan kaca bertebaran di udara dalam gerakan lambat.
Kami berhenti seketika saat si pelaku berpakaian hitam itu berdiri. Laki-laki itu lebih pendek dari penyusup sebelumnya, namun auranya sama-sama memberi sinyal bahwa ia sangat berbahaya.
"Sawada Tsunayoshi—"
Laki-laki berambut hitam legam itu menoleh perlahan-lahan. Suaranya dingin dan dalam, seolah terdengar seperti sedang membisikkan kematian. Dan bola matanya—bola mata hitam itu lurus menatapku bagaikan hewan buas yang mengintai mangsa. Tajam dan berbahaya.
Malaikat kematian. Itulah istilah yang paling cocok untuk menggambarkan figur laki-laki tersebut. Aku diam membatu melihat sang malaikat menyeringai, memperkuat aura mematikan dari tatapannya sebelum bergumam dengan nada menantang.
.
.
.
"Kami korosu."
.
.
.
Fiuhhh, ternyata Day 13 lebih cepat selesai dari dugaanku, padahal Ley kira yang Collapse bakal selesai duluan hahah. Mungkin gara-gara Ley lagi galau, jadi aja bisa menginspirasi fic ini (apa hubungannya coba?)
Daaaaan! Jeng jeng! Akhirnya Yamamoto muncul, yah meski cuma bentar banget sih, jadi hantu pula (I'm sorry Yamamotooo). Terus kalian bisa nebak kan siapa 2 sosok hitam yang berperan sebagai Angelos di sini? Hayo hayo? Siapa cobaaa? :D Kufufu.
Ok, segini dulu deh, moga-moga Day 14 sama fic Ley yang lain bisa update kilat. Nah, sekarang—review please? ;D
