Title : The Kingka Strawberry and Vanilla

Author : Sulis Kim

Main C : Kim Jaejoong

Jung Yunho

Other

Rate : M

Genre : School life, Family, Comedy (gagal) Friendship.

WARNING

YAOI Boy x Boy, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai.

Ff ini milik saya seorang. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon maaf. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Don't like Don't read.

Alwasy keep the faith.

Happy Reading ...!

Seluruh mata menatap kearah ketiga sekawan yang pagi ini datang lebih awal dari biasanya, mereka bertiga berjalan lunglai menaiki tangga lantai satu menuju ke lift dengan wajah di tekuk sedemikian rupa.

Astaga, apakah mereka bertiga salah makan obat pagi ini sampai mereka datang dua puluh menit lebih awal dari jam masuk berbunyi.

Pintu lift terbuka dan bahu ketiga pemuda itu menegag ketika segerombolan murid sudah mendahuli masuk lift dan sudah penuh, Ya Tuhan, mereka benar benar di kutuk mulai pagi ini setelah kemarin bolos sekolah dan tengah malam baru kembali.

Jangan tanya bagaimana reaksi ibu tiri Cinderella Kim Heechul, ibu dari Jaejoong itu murka dan ceramah selama dua jam penuh dengan membiarkan Jaejoong berdiri tegak di ruang tamu rumahnya. Berterimakasihlah kepada Sang Ayah karena membujuk ibunya untuk memaafkan Jaejoong sampai akhirnya ia naik kekamarnya dalam kondisi telinga panas dan mengenaskan setelah mendapatkan ceramah panjang lebar selama dua jam full tanpa henti. Jaejoong bertanya tanya apakah tenggorokan ibunya itu tidak sakit?

Kedua sahabatnya itu juga tidak jauh beda menyedihkannya.

"Mommy memotong uang jajanku selama seminggu," Jaejoong mengadu. Mereka berjalan menaiki tangga untuk sampai ke lantai berikutnya. "Untunglah Daddy sudah membujuk Mommy yang tadinya akan memotong uang jajanku selama dua minggu."

"Kau beruntung, aku lebih parah satu minggu tanpa uang saku dan kalau sampai dalam minggu ini aku melanggar apapun di sekolahan, Ayahku akan memotong uang jajan selama satu bulan."Yoochun berujar.

Jaejoong dan Yoochun melirik Changmin yang berjalan paling belakang. "Dan kau min, apa hukumanmu?"

Langkah kaki Changmin terhenti, pemuda itu menatap keluar jendela entah apa yang ia lihat diluar sana.

Jaejoong turun beberapa anak tangga dan merangkul bahunya. "Aku akan menyerahkan sisa uang jajanku kalau kau juga mengalami hal yang sama."

Changmin tahu kedua sahabatnya itu memang yang terbaik yang pernah ia miliki. "Aku akan dipindahkan ke Asrama. Mungkin di Jepang atau Australia,,, entahlah." pemuda itu mengedikkan bahu. "Aku terlalu marah dan meninggalkan ruang kerja ayahku sebelum ia selesai melampiaskan amarahnya kemaren malam."

Ya Tuhan, ini lebih dari parah, tetapi benar benar gawat. Ketiganya hanya melempar tatapan ngeri satu sama lain." Sepertinya sudah saatnya kita tidak membuat ulah, Daddy menyuruhku membantu di kantor tiap liburan dan mungkin aku tidak akan bertemu dengan kalian selama hukuman ini berlangsung sepanjang liburan akhir pekan." Jaejoong memeluk pemuda yang lebih tinggi darinya itu.

"Kurasa aku juga akan melakukan hal yang sama, mungkin dengan menghabiskan hari libur di kantor Ayahku dia akan memaafkanku dan melupakan hukuman itu."

"Jaejoongie ..."

Yoochun menegang mendengar suara yang sangat familiar itu memanggil nama Jaejoong. Dan benar saja Junsu muncul dari pintu lantai berikutnya. "Aku dengar kalian berangkat lebih awal hari ini. Oh, aku sangat senang dengan begitu aku akan memiliki waktu lenih banya untuk bermain denganmu." Junsu mengekor ketiga sahabat itu masuk kekelas mereka.

Ketiga sahabat itu akhirnya sampai dikelas yang sudah rame. Jaejoong melempar tubuhnya di bangku dan menaruh kepalanya yang berat di atas tasnya di meja. "Pergilah ke kelasmu Junchan. Aku tidak ingin bermain, ngobrol atau apapun. Aku hanya ingin jadi anak baik hari ini." Jaejoong melambaikan tanganya mengusir Junsu.

Ketika Junsu akan menjawab Yoochun mendahuluinya. "Kami mendapat hukuman dan kami akan menjadi anak yang tenang selama seminggu ini Junsu, jadi pergilah karena jam istirahat kami akan tetap disini sampai kau kesini dan kami tidak akan kabur meninggalkanmu." Bibir pemuda cantik itu mengerucut.

Apakah ia mudah di bujuk, hey ia adalah Kim Junsu. "Seharusnya kalian mengajakku membolos kemaren, pasti seru karena aku belum pernah membolos sebelumnya."

"Tentu saja seru, "Jaejoong memotong. "Hanya saja aku tidak berniat menambah anak buahku, semakin banyak semakin susah di atur sudah cukup dua anak buah yang mebuat kepalaku pusing dan menguras dompetku."

Mengabaikan ocehan Jaejoong Yoochun duduk di sebelah kiri Jaejoong dan Changmin di belakang Jaejoong. Tidak pernah mereka datang sepagi ini sebelumnya dalam keadaan segawat apapun, seingat Changmin hanya sekali ketika penerimaan murib baru di Shinki.

Celotehan yang tadinya rame tiba tiba berubah menjadi kelas yang tenang, Jaejoong mengangkat kepala dan menemukan semua orang menatapnya dengan tatapan yang berbeda beda. Junsu yang duduk di bangku di depan Jaejoong harus rela bangun ketika sang pemilik bangku datang.

Gadis bertubuh kecil bernama Kim Ga Eun, " Maaf, Kau anak baru disini?" Bangun dari duduknya Junsu menatap Ga Eun dengan tatapan memuja seperti biasanya. Dasar anak polos yang bahkan kepolosanya melebihi Jaejoong.

Changmin ingin sekali memukul kepala Junsu karena bocah itu mencoba mengakrabkan diri dengan Ga Eun, apa Junsu benar benar tidak tahu tentang masalah kemarin di perpustakaan, ataukan anak itu belum mendengar gosipnya.

Yoochun mendahului Changmin dan berkata. "Kau, Junsu, kalau mencoba mengajaknya ngobrol maka kau tidak boleh berteman lagi dengan kami." Seluruh kepala di dalam kelas itu mengangguk kecuali Jaejoong.

"Mengapa?"

"Kalau masih bertanya alasanya, kau juga tidak boleh masuk kekelas ini selama kami bertiga masih menjadi murid di kelas ini"

Mata Junsu terbelalak ngeri. Tuhan, Apakah ia sudah mengatakan sesuatu yang membuat Yoohun marah atau yang lainya. Pemuda itu tertunduk lesu merasa bersalah, "Baiklah." pemuda itu berlari keluar kelas dan Jaejoong melihat kedua mata Junsu sudah memerah ingin menangis.

Ya, Tuhan, "Kau sudah keterlaluan Yoochun, Junsu anak baik dan hanya ingin berteman dengan Ga Eun," Jaejoong bangkit dari kursinya dan berlari menyusul junsu keluar kelas.

Kim Ga Eun yang merasa Yoochun sudah menakut nakuti penggemar barunya itu terlihat tidak menyukai kata kata pria itu. Gadis itu berkacak pinggang menantangnya.

"Dengar Park Yoochun, siapapun yang dekat denganku kau tidak berhak menakuti mereka agar menjauh dariku." Tanganya mengibaskan rambut panjangnya kebelakang Pundak dengan nada angkuh

Mengabaikan gadis itu Yoochun tertawa aneh. Ya Tuhan, apa gadis itu berpikir jika dirinya begitu cantik sampai banyak pria yang mengejar ngejarnya termasuk dirinya.

Ia bangkit, kursinya berderit ngeri ketika ia berdiri dengan tatapan yang belum pernah di lihat seluruh isi kelas sebelum saat ini tercetak di wajah tampan pemuda casanova itu. "Dengar Ga Eun, siapapun yang mendekatimu aku tidak peduli, tetapi kalau kau menyakiti Jaejoong, aku tidak akan memaafkanmu tidak perduli kau seorang perempuan atau bukan."

Changmin ikut bangkit dari duduknya dan mengikuti Yoochun keluar kelas." Apa kita akan pindah kelas." Changmin sengaja berbicara keras sebelum dia benar benar keluar dari dalam kelas mengikuti Yoochun. Dan mereka berdua berdiri di samping pintu untuk mendengarkan ereksi terhadap kata katanya.

"Kami dengar kau menyukai Yunho?" Salah satu murid perempuan bertanya.

Dengan mada angkuh yang sama Ga Eun menjawab. "Tentu saja, Yunho tampan dan jangan katakan padaku kalau kalian semua tidak menyukai Yunho. Kalian hanya munafik karena Yunho memilih akrab denganku."

"Yunho milik Jaejoong." Satu lagi gadis berkata.

"Mereka baru pacaran dan Yunho masih milik bersama, kalian hanya iri denganku karena aku lebih cantik dari kalian." suara Gadis itu terdengar saangat percaya diri.

Gadis yang sebangku dengan Ga Eun melempar tasnya sendiri kemeja paling belakang." aku tidak ingin satu tempat duduk denganmu, lebih baik aku duduk dibelakang." Gadis itu benar benar beranjak dari tempat duduknya.

"Ada apa dengan Kalian, kenapa kalian membela Jaejoong, pemuda kecentilan yang cengeng itu, dia sudah putus dengan Yunho dan aku mendengar sendiri Yunho mengatakan itu kemaren di perputakaan."

" Kalau ketiga sahabat itu sampai pindah kelas kami tidak akan memaafkanmu, Kim Ga Eun." Seorang murid laki laki berkata murka.

Changmin dan Yoochun saling menatap dengan mata terbelalak. Ya Tuhan, gadis itu benar benar mengerikan. Dan apakah benar Pasangan populer YunJae telah putus?

.

.

.

Yunho merasa semua orang terus mengamatinya sejak ia turun dari mobil di tempat parkir bahkan sampai seorang anak kutu buku yang terkenal mengabaikan apapun dikeselilingnya jugs meliriknya dengan tatapan mencemoh.

Ya Tuhan, apa yang sudab ia lakukan? Seingat Yunho ia tidak melakukan kesalahan apapun dan ini masih cukup pagi untuk gosip apapun di sekolah pagi ini.

Langkah kakinya berhenti di sisi papan mading ketika matanya menangkap sebuah pengumuman yang menyebutkan namanya dengan huruf yang begitu besar. Yunho menarik kertas itu dan meremasnya kasar.

Brengsek, siapa yang berani menulis gosip tentang kemaren di perpustakaan. Seingatnya tidak ada murid lain disana selain mereka berempat.

Seunghyun berlari seperti orang kesetanan dari ujung koridor sampai di hadapan Yunho diikuti Siwon yang tergopoh gopoh mengikutinya.

"Ya Tuhan, Dude... Aku sarankan kau pulang sekarang juga membolos sehari tidak masalah atau semua murid akan menggantungmu hidup hidup karena kau melukai Kingka mereka." Siwon berkata tanpa titik koma.

"Apa yang kalian katakan?"

Mengabaikan kedua sahabatnya yang terus mengikutinya, Yunho berjalan santai meskipun tatapan tatapan dan aneh meliriknya dengan terang terangan. Belum pernah sebelumnya Yunho merasa dirinya seperti narapidana keji yang akan dihakimi seumur hidup seperti saat ini.

"Kau sudah membaca sendiri di mading, bukan? Kau memutuskan Jaejoong kemaren dan itulah sebabnya Jaejoong membolos." Seunghyun menabrak punggung Yunho ketika pria itu berhenti tiba tiba.

Tubuh tegap Yunho berputar begitu cepat dengan tatapan setajam kuku macan yang siap mencabik cabik kedua sahabatnya itu. "Kami tidak putus dan tidak akan pernah, kau dengar." Suara Yunho menggelegar begitu keras dampai ia yakin seluruh penghuni sekolahan mendengar ucapanya atau lebih terdengar bentakanya.

Astaga, siapa yang menyebarkan gosip konyol seperti itu. "Jaejoong adalah kekasihku, tidak akan aku ijinkan siapapun merebutnya dariku."

Siwon mengerutkan alis penasaran. "Tetapi kami dengar Kau memarahi Jaejoong dan ada orang yang melihat kau membuat Jaejoong menangis, juga Ga Eun mengatakan kalian bertengkar dan putus."

Tuhan, Apakah Jaejoong menangis. Hati Yunho seakan diremas sampai ia sulit bernafas, membayangkan mata yang biasanya bening itu beruraian air mata, Tidak! Jaejoong memang meninggalkanya dengan wajah memerah tetapi tidak menangis...

Tangan Yunho mengacak acak rambutnya sendiri. Apakah ia sedang membela diri karena telah membuat Jaejoong yang manis patah hati.

Tunggu, Yunho menatap Siwon dan Seunghyun bergantian." Siapa itu Ga Eun?"

"Kau tidak mengenalnya?" Siwon menatap Yunho ngeri. Hey anak baru itu lumayan cantik untuk diabaikan.

Yunho menggeleng kepala.

"Banyak pasang mata yang melihat gadis itu mengikutimu ke perpustakaan ketika kau mencari Jaejoong."

Ah, Yunho ingat. Gadis bertubuh kecil rambut panjang yang ia sendiri lupa wajahnya seperti apa. "Seingatku aku membentaknya sampai dia ketakutan setelah Jaejoong dan yang lain meninggalkan perpustakaan." Ya benar, ia ingat gadis itu mencegahnya mengganggu Jaejoong Cs dan setelah mereka semua meninggalkan Yunho seorang diri gadis itu mencoba menghiburnya, tetapi ia terlalu marah dan membentak gadis itu.

Yunho ingat, wajah gadis itu merah padam karena ketakutan dan ia meninggalkan gadis bernama Ga Eun itu untuk mencari Jaejoong di kelasnya dan ternyata Jaejoong sudah tidak ada disana bersama tas dan kedua sahabatnya.

"Sialan, jadi Ga Eun berbohong bahwa ia mendengar kau memutuskan Jaejoong."

"Itu hal yang tidak akan pernah aku katakan kepada Jaejoong, Demi Tuhan aku sangat menyayangi Jaejoong lebih besar dari aku menyayangi nyawaku sendiri. Dan kalian tahu itu."

Siwon terkekeh, ini bukan hal yang baru jika ada seseorang gadis yang menyukai Yunho dan bertindak diluar dugaan, hanya saja gadis itu tidak memikirkan konsekuensi yang akan ia terima dari semua fans YunJae di sekolahan ini.

" Aku harap mereka tidak menyakiti gadis itu,"

"Kau terlalu baik membelanya Siwon, aku tidak punya waktu memikirkan gadis itu semoga saja Yunho bisa menyelesaikan masalah ini secepatnya." Seunghyun melirik Yunho.

"Tentu saja, dan aku harus menemui Kitten terlebih dahulu, sejak kemarin dia selalu menghindariku."

"Dia berada di lapangan kalau kau mencarinya, seingatku dia sedang membujuk Junsu yang menangis..." Siwon terkekeh. "Aku tidak tahu siapa yang patah hati disini dan kenapa Jaejoong harus menenangkan pemuda itu sedangkan dirinya sendiri memiliki masalah yang lebih besar."

Yunho menjawab sambil berjalan. "Karena dia Kim Jaejoong yang selalu bisa membuat suasana hati setiap orang tersenyum, seperti dia tersenyum."

"Ya,,ya ya dan sekarang Jaejoong

Sedang mode buruk sampai sampai aku merasa awan hitam mengelilingi sekolahan ini."

Seunghyun terkekeh mendengar Siwon mengeluh, Demi apa, ini pertama kalinya ia mendengar sahabatnya itu mengeluh.

.

.

.

Jaejoong mengerjapkan bulu mata lentiknya beberapa kali, kepalanya dimiringkan sedimikian rupa memperhatikan sekelompok pemuda dari sekolahan lain yang berada di taman sekolah Shinki,

"Apakah kalian tidak tahu jalan kesekolah kalian sampai kalian semua datang kesekolahan Jongie." Pemuda cantik berambut Coklat terang itu berkacak pinggang tidak suka. Hey hey ini daerah kekuasaanya.

Sebenarnya Jaejoong berniat menenangkan Junsu karena pemuda itu menangis histeris karena Yoochun, ingatkan Jaejoong untuk mencubit pemuda jidat sexy itu karena menyakiti Junsu yang lucu.

Sampai di taman dirinya malah diseret sedemikian rupa oleh beberapa pemuda berseragam berbeda dengan yang ia kenakan ke sudut lain taman yang lebih sepi.

Junsu, jangan di tanya. Pemuda itu bersembunyi di belakang Jaejoong sambil menyembunyikan wajahnya ketakutan, "Jongie siapa mereka?"

"Teman Jongie," Jawaban yang tidak pernah diperkirakan Junsu sebelumnya. Ya Tuhan, dirinya sudah membayangkan diculik di hajar sampai babak pelur sampai mayatnya jadi makanan lumba lumba tetapi TEMAN...?

" Lebih baik aku memanggil Changmin dan Yoochun,"

"Junchan,,, " Junsu sudah melesat melewati setengah taman berlarian ke gedung sekolah. "Anak itu benar benar."

" Younghwa memberitahuku kau mencarinya kemarin," Gdragon pemuda mungil dengan warna rambut berwarna pink itu berkata. "Dengan wajah sedih dan patah hati, Changmin memberitahu Younghwa kau sedang patah hati."

Jaejoong menggeram marah. Oh kedua sahabatnya itu mempermalukan pemimpin mereka yang kuat dan tampan di mata murid lain. "Aku tidak patah hati GD, dan kau ..."

Ia berlari menghampiri GD untuk memainkan rambut pemuda itu yang panjangnya tidak sama. Wajahnya berubah menggemaskan dan menatapnya penuh kagum." Kereeeen, aku juga ingin mewarnai rambutmu maukah kau mewarnai tambutku dengan warna itu." Pemuda cantik itu menghentakan kakinya gemas, jemarinya menarik narik rambut Gd.

Mendorong kening Jaejoong agar pemuda itu mundur Gd berkata." Jangan mengalihkan pembicaraan, Jongie."

Ck, sahabatnya itu memang tidak pernah bisa diabaikan. "Sungri bagaimana kabarmu," Ya Tuhan, Dragon benar benar akan mencekik Jaejoong kalau sampai pemuda itu tidak segera memberitahu siapa gerangan orang yang mengganggunya.

"Brak,,," Suara benda jatuh mengalihkan perhatian lima orang yang berada di taman itu.

Jaejoong mendongak mendapati wajah Younghwa muncul di atas dinding pembatas. "Benar perkiraanku kau ada di sini, Gd. Sialan bahkan kau tidak mengajakku bergabung untuk menghajar laki laki yang sudah membuat Jaejoong kita patah hati." Younghwa berhasil melompat dengan indah kererumputan. Diikuti Minggyu dan dua sahabat lainya.

"Ya Tuhan, satpam kita akan kerepotan untuk mengusir kalian semua." Jaejoong menatap mereka ngeri.

" Delapan orang cukup untuk membuat gaduh sekolahan." Gd berujar sambil merangkul pundak Jaejoong.

"Dan besok kita akan bangun di penjara, kita pernah melakukan itu di sekolahanmu."Jaejoong mengingat ingat. Tepatnya setahun yang lalu mereka menerobos sekolah Beika dan berakhir di penjara bersama kelompok Younghwa.

"Sejak kapan kau takut,"

"Sejak aku akan dikirim ke asrama kalau membuat kesalahan lagi, jadi enyahlah kalian dari Shinki." Changmim datang begitu cepat. Ia pikir Jaejoong benar benar dalam bahaya itulah yang dikatakan Junsu padanya.

"Sebaiknya kalian lewat gerbang, masih lama sampai gerbang itu di tutup,"

"Siapa pemuda itu," Younghwa kembali bertanya.

"Kalau kalian tidak juga pergi aku akan menyuruh Kim Jiji untuk mengigit kalian besok."

Kim Jiji...?

Yoochum menggerang. Tuhan, mengapa kucing itu juga bermarga Kim. Dan sejak kapan hewan peliharaan memiliki marga.

"Kucing kecil itu, bahkan gigitanya tidak lebih sakit dari gigitan nyamuk." Younghwa menyesali ucapanya karena delikan mata Jaejoong yang lebar.

"Pulanglah kalian, aku tidak butuh bantuan kalian." Jaejoong memohon dengan wajah memelas yang membuat mereka semua terdiam.

Sepertinya Jaejoong benar benar tidak membutuhkan bantuan mereka. "Baiklah, Jongie kami akan pergi. Kalau sampai pemuda itu mengganggumu lagi ..."

"Kim Jaejoong ulah apa lagi yang kau rencanakan dan yang akan kalian lakukan, dan siapa mereka?"

Suara yang sangat Jaejoong kenal itu menggema dari sisi taman, Tuhan jangan datang jangan Yunho, atau sahabatnya itu akan menghajar pemuda tercintanya itu sampai babak belur.

Bibir Jaejoong mengerucut imut. Doa anak nakal sepertinya tidak pernah terkabul. Yunho tidak butuh waktu satu menit untuk menyebrangi taman.

"Hi Yunho." Jaejoong tersenyum lebar dan melambai.

Kembali kepada teman teman badungnya Jaejoong mendorong mereka untuk pergi lewat pintu gerbang. "Nanti sore kita bertemu di Cafe Kojje,,,"

"Kau tidak akan kemana mana tanpa seijinku, Jongie. Dan aku tidak mengijinkanmu pergi"

Jaejoong merutuk kasar, mengapa pahlawan kesiangan itu datang disaat yang tidak ia butuhkan. "Diamlah Jung, atau teman temanku akan menghajarmu sampai babak belur." Jaejoong mendorong Gd, akan tetapi pemuda itu tidak berniat pergi.

"Apakah pemuda itu yang membuatmu patah hati?"

Pemuda yang mereka akui tampan dan gagah, pantas saja kucing nakal mereka menyukainya. "Jung Yunho." Ah,, Gd pernah melihat pemuda itu, kalau tidak salah adiknya Jung Jihye satu sekolahan denganya.

"Menyebalkan aku tidak patah hati." Jaejoong berteriak cukup keras. Teman temanya itu ingin membelanya atau mempermalukanya di hadapan Yunho, Ya Tuhan, kepalanya tiba tiba pening.

Berkacak pinggang dihadapan kedelapan temanya dari sekolahan berbeda beda itu Jaejoong menegaskan denga suara yang tidak terbantahkan. "Aku yang memutuskan hubunganku dengan Yunho, dan aku tidak patah hati."

Tangan Yunho terkepal erat mendengar apa yang dikatakan kekasihnya itu. Bagaimama bisa Jaejoong begitu mudah mengatakan mereka putus. "Aku tidak pernah menyetujui itu dan tidak akan pernah, Kim Jaejoong."

Mata Doo Jaejoong mendelik kearahnya, tidak tahukah ia sedang membantu Yunho untuk lepas dari masalah besar yang mungkin akan merenggut nyawa pemuda tampan itu.

Oh Jaejoong merindukan Yunho, sangat merindukan kekasih tampanya itu setelah dua hari mengabaikanya. Dan seperti biasa Yunho masihlah tampan setiap saat.

"Diamlah Jung, aku tidak ingin mendengar suaramu, sekarang pergilah." Jaejoong mendorong teman temanya dengan rasa takut yang tiba tiba muncul. "Kumohon Younghwa bawa Gd pergi."

"Kami bisa menghajarnya sampai dia sekarat, kau tahu? Dan dia tidak akan berani menyakitimu lagi."

Jaejoong menatap ngeri sahabat sahabatnya itu. Ya Tuhan, sekali saja kabulkan lah permintaan anak nakal ini.

Jongie janji akan jadi anak baik dan tidak akan membuat Orang Tua Jongie kebakaran jenggot. Amin.

Doa Jaejoong dalam hati.

~TBC~

Thanks banget yang sudah ngasih tau kesalahan typo dan lainya. juga RCL kalian, maag gx bisa balas satu2

Oh ayolah, Author juga manusia masih banyak kesalahan, klkau Author ini hebat sudah di bukuin ffnya. *plak, mulai nhlantur.