©Angelsoo Proudly Present
LONG TIME COMING (REMAKE)
Chapter 13
-Do Kyungsoo, Park Chanyeol, dan Oh Sehun-
Rated T-M
Warn : Do Kyungsoo GS!; Remake; typo(s); OOC; sedikit perubahan untuk mendukung jalannya cerita; DON T BASH PLEASE!
Genre : Romace, Family
Desclaimer : All characters belong to their agency; original story belongs to Sandra Brown
.
Kurang dari setengah jam sejak Sehun meneleponnya, Chanyeol sudah tiba di pintu depan.
Selama itu Kyungsoo membuang makan malam yang sudah setengah matang ke tempat sampah.
Sehun pergi ke atas untuk mandi dan berganti pakaian. Segera setelahnya, ia berjalan mondar-mandir di depan pintu, menunggu suara mobil yang mendekat, jauh sebelum mobil Land Rover Chanyeol berhenti di belokan. "Dia sudah datang!" pekik Sehun sambil menengok ke belakang sebelum berlari menuju pintu.
Dari kaca ruang tamu Kyungsoo memperhatikan Chanyeol berlari mengelilingi kap mobilnya.
Keduanya bergegas untuk bertemu, berhenti, ragu-ragu, dengan sopan berjabatan tangan, lalu detik berikutnya berpelukan erat.
Mata Kyungsoo basah oleb air mata, tapi ia menghapusnya. Ia turut bahagia bagi Sehun karena Chanyeol cukup baik untuk menganggap anaknya sebagai berkah dan bukan malapetaka. Tapi melihat mereka berjalan ke rumah sambil berangkulan, dirinya disayat rasa cemas.
Namun demikian, ia tetap tampil tenang ketika mereka bergabung dengannya di ruang tamu. "Terimakasih karena mengizinkanku datang mendadak begini," ujar Chanyeol sopan.
"Kurasa Sehun takkan mengizinkanku untuk mengatakan tidak."
"Aku hanya senang karena Ayah tidak punya acara," timpal Sehun.
Suasana canggung mewarnai pembicaraan mereka. Akhirnya Chanyeol dan Sehun bertukar pandang dan mulai tertawa terbahak-bahak, dengan kebahagiaan yang tumpah ruah. Chanyeol mengatupkan kedua belah tangannya dan menggosokkannya dengan bersemangat. "Jadi, bagaimana kalau kita makan malam sekarang?"
"Asyik, aku sudah kelaparan nih," ujar Sehun, melesat keluar.
"Kyungsoo?" Suara Chanyeol terdengar lembut, bertanya, sensitif pada apa yang ia tahu pasti sedang dirasakan oleh Kyungsoo.
Ia mencintai pria itu karena tidak bersikap mencemooh, dan membencinya karena alasan yang sama. Menghadapi pencemooh akan lebih mudah daripada menghadapi pria yang kau cintai yang sedang mencoba merampas pusat kehidupanmu.
"Malam ini aku tidak ikut."
"Apa? Kenapa? Memangnya Sehun tidak memberitahumu bahwa undangan makan malam ini berlaku bagi kalian berdua? Kupikir aku sudah mengatakannya dengan jelas."
"Memang. Kau baik sekali mengajakku ikut, tapi kurasa kau dan Sehun lebih baik menikmati malam ini berdua saja."
"Kurasa kita bertiga perlu menikmati malam ini," protesnya pelan.
"Hei, ada apa?" tanya Sehun, kepalanya menyembul dari balik pintu. "Kok lama sih?"
"Aku tidak ikut."
"Kenapa tidak, Ibu? Kenapa Ibu tidak mau ikut?" Tampaknya Sehun tidak bisa percaya ada orang yang mau melewatkan kesempatan untuk makan malam bersama Chanyeol.
"Aku sangat lelah."
"Apa gara-gara masalah buku telepon itu?" tanya Sehun, kembali memasuki ruangan.
"Memangnya kenapa?" tanya Chanyeol ingin tahu.
"Tidak apa-apa."
"Ibu tidak berhasil mendapatkannya."
Mereka menjawab bersamaan, tapi jawaban Sehun-lah yang didengar Chanyeol. Ia langsung menatap Kyungsoo, lalu menatap lantai, lalu kembali menatap wanita itu. "Aku turut prihatin. Aku tahu kau sangat bergantung pada pekerjaan itu."
"Bukan sangat bergantung," ujarnya membela diri. "Hanya saja pekerjaannya lumayan. Karyaku bisa dikenal, belum lagi honor dan yang lainnya. Tapi begitulah hidup," ujarnya tersenyum palsu.
"Ibu kan salah satu dari tiga finalis" ujar Sehun berusaha menghibur. "Itu bagus sekali."
Tapi bukan yang terbaik. Dan apa pun selain yang pertama tidak masuk hitungan. Walaupun begitu, ia tersenyum demi Sehun. "Aku akan terus-menerus mengulang kata-kata itu selama kalian berdua pergi makan malam. Selamat bersenang-senang."
"Ibu yakin tidak mau ikut?"
"Yakin. Pergilah. Kalau Chanyeol sudah memesan tempat, sebaiknya kau tidak terlambat."
"Nih, Sehun," ujar Chanyeol, melemparkan kunci mobilnya, "hidupkan mobilnya."
"Asyik!" Sehun menangkap kuncinya dan langsung melesat keluar.
Chanyeol tidak mengalihkan tatapannya dari Kyungsoo. Si gadis sendiri merasa tidak nyaman ditatap tajam oleh mata kelam itu, sementara Chanyeol berjalan menyeberangi ruangan menghampirinya. "Kau kecewa?"
"Karena tidak berhasil mendapatkan kontraknya? Tidak."
"Omong kosong, Kyungsoo. Kau kecewa. Jangan menahan kemarahan itu di dalam. Lepaskanlah. Silakan marah, menjerit, atau meninju sesuatu. Jangan pasrah seperti itu setelah kehilangan kesempatan kerja yang bagus."
"Apa gunanya berbuat itu?"
"Tidak ada gunanya sama sekali, tapi kau akan merasa lebih baik."
"Tidak akan. Aku malah akan merasa tolol."
"Minimal kami bisa tahu bahwa kau masih manusia, bahwa kau masih punya perasaan." Chanyeol mendekat maju dan menyapukan ibu jarinya di atas tulang pipi Kyungsoo. "Tapi aku tahu kau punya perasaan. Kelihatan di matamu. Dan saat ini matamu seperti mataku seandainya aku tersedot kelubang hitam saat aku di luar angkasa sana. Aku tidak pernah melihat sepasang mata yang tampak begitu suram. Apakah karena Sehun tahu tentang aku?"
Kyungsoo mengangguk, berharap ia dapat menyerah pada godaan untuk menempelkan pipinya di telapak tangan pria itu. Yang perlu dilakukannya hanyalah memalingkan wajahnya sedikit. Ia melarang dirinya untuk bersikap seintim itu dengan Chanyeol. Sebaliknya, ia menjauhkan wajahnya dari sentuhan pria itu. "Hal itu tak dapat dihindari," ujarnya. "Aku sudah mengetahuinya sejak kau pertama kali datang ke sini. Anak itu terlalu pintar." Napas Kyungsoo bergetar. "Yah, sekarang semuanya sudah terjadi dan aku tidak perlu takut akan hal itu lagi."
"Kau melihatnya sebagai tragedi? Sehun tidak."
"Dia sangat senang," ujarnya tertawa pahit. "Bocah mana yang tidak akan kegirangan mengetahui ayahnya adalah pahlawan nasional?"
"Oh, begitu. Tapi yang membuatnya senang bukan semata-mata siapa aku. Bisa saja ayahnya bukan orang terkenal."
"Chanyeol, jangan." Kyungsoo mengerang. "Jangan cari gara-gara. Aku terlalu letih untuk bertengkar denganmu malam ini."
"Bagaimana dia bisa tahu?"
"Dia menebaknya. Dia melihat kacamata hitammu di sini dan bertanya padaku mengapa kau mampir di siang bolong. Kyungsoo memalingkan wajahnya. "Dia langsung menyimpulkan bahwa kita berpacaran."
"Apa yang kau katakan padanya?"
"Aku bilang tidak!"
"Maksudku bagaimana dia tahu aku ayahnya."
"Semuanya. Dia juga salah menyimpulkan bahwa aku adalah ibu kandungnya."
Chanyeol menyentuhnya lagi, kali ini menyelipkan jari-jarinya ke belakang leher Kyungsoo, melingkarinya. "Kau memang ibunya. Aku tidak akan melupakan itu. Sehun pasti tidak akan melupakannya. Saat ini dia sedang girang tentang aku. Tapi itu tidak akan menghapus rasa cintanya padamu."
Chanyeol semakin mendekat, hingga Kyungsoo dapat merasakan embusan napas pria itu di wajahnya. "lni acara keluarga. Mari kita merayakannya bersama. Ikutlah makan malam dengan kami."
Untuk beberapa detik lamanya Kyungsoo seakan tersihir oleh tatapan mata pria itu dan suaranya yang membujuk. Lalu ia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Chanyeol. Setelah enam belas tahun, kurasa kau dan Sehun pantas menikmati saat ini berdua saja."
"Ada yang pernah mengatakan padamu bahwa kau keras kepala?"
"Hampir semua orang yang pernah kutemui."
Chanyeol tersenyum sinis dan menurunkan tangannya. "Baiklah, tapi kami takkan pergi lama."
"Tidak usah buru-buru."
Kyungsoo mengantarnya hingga ke pintu.
Sehun melambai padanya dari kursi pengemudi mobil Land Rover "Cepat Ayah, aku kelaparan nih" serunya dengan gayanya yang khas.
Kyungsoo menutup pintu depan dan bersandar di sana. Rasa nyeri di tenggorokannya karena menahan tangis nyaris tak tertahankan. Lega rasanya ketika ia menyerah. Isak tangisnya mengguncang tubuhnya yang kecil. Air mata mengalir menuruni wajahnya. Ia kembali ke ruang tamu sambil meraba-raba dan menjatuhkan diri ke salah satu kursi... kursi tempatnya nyaris bercinta dengan Chanyeol.
Ia tidak tahu berapa lama ia duduk bergelung di kursi itu, menangis terisak-isak. Akhirnya tangisannya berhenti. Ia pergi ke atas dan membasuh wajahnya dengan air dingin. Pipa-pipa ledengnya berderak, mengingatkannya pada nasihat tukang ledeng terakhir kali ia memanggilnya. Tukang ledeng itu menyarankannya untuk mengganti semua pipanya.
Rumah ini sudah tua dan semakin reyot. Kyungsoo berusaha membuatnya menarik sejauh kemampuannya, tapi jelas rumah ini sama sekali bukan tandingan rumah Chanyeol yang didekor dengan sempurna. Di sini tidak ada kolam renang, tidak ada akuarium yang dibangun di dinding, tidak ada anjing ramah yang menanti kedatangan tuannya.
Kyungsoo keluar dari kamar mandi dan berjalan menyusuri lorong menuju kamar Sehun. Lama ia berhenti di muka pintu. Akhirnya ia melangkah masuk, melihat pakaian kotor yang ditinggalkan Sehun sebelum mandi. Pakaian itu tergeletak sembarangan di lantai.
Dimulai dari pakaian kotor itu ia mulai mengumpulkan barang-barang dan pakaian-pakaian lalu meletakkannya di atas tempat tidur. Ia berharap punya cukup waktu untuk menyelesaikannya sebelum mereka kembali.
Long Time Coming - Sandra Brown
"Menurut Ayah, kenapa Ibu melakukannya?" tanya Sehun pada ayahnya beberapa jam kemudian saat mereka berbelok di tikungan.
Chanyeol yang menyetir, tapi matanya menatap kaca spion, di mana ia bisa melihat Kyungsoo berdiri di ambang pintu yang terbuka, sebuah bayangan kecil yang kelihatannya bakal ditelan rumah itu.
"Kurasa seperti yang dikatakannya tadi," jawab Chanyeol. "Dia merasa kita perlu menghabiskan waktu bersama." Ia melirik Sehun di kursi sebelahnya. "Apakah gagasan tinggal bersamaku untuk sementara waktu membuatmu senang?"
"Ya, tentu saja," jawab Sehun, kegembiraan tampak jelas di matanya yang berbinar-binar. "Kurasa semuanya bakal menyenangkan." Pelan-pelan senyumnya memudar. "Aku hanya terus memikirkan Ibu yang tinggal sendirian. Memang cuma sebentar sih. Aku tidak mau Ayah merasa terikat denganku selamanya," tambahnya cepat.
"Kau boleh tinggal selama yang kau mau, Sehun. Sungguh."
Senyum Sehun meninggalkan kesan mendalam di hati Chanyeol. Orang-orang di kantor bisa mengejeknya habis-habisan kalau mereka tahu bahwa beberapa kali sepanjang malam ini, Park Chanyeol yang penuh percaya diri harus menahan air matanya atau berisiko membuat dirinya menjadi tontonan umum.
Ia dan Sehun telah menghabiskan beberapa jam menikmati makan malam yang menyenangkan. Semakin ia mengenal anaknya, semakin ia menyukainya, dan ia semakin bangga karena bibitnya telah menghasilkan pemuda yang hebat. Rasanya ia ingin memberitahu semua orang, "Hei, ini anakku."
Sehun anak yang ramah, sopan, dan tahu bagaimana bersikap dengan pantas. Atas sikap anak itu, Kyungsoo layak mendapatkan penghargaan. Wanita itu sangat hebat dalam mendidik anak seorang diri. Zaman sekarang orangtua yang lengkap saja sudah jarang berhasil, renung Chanyeol. Ia mengetahui hal itu dari cerita-cerita mengerikan yang dikisahkan para rekan kerjanya tentang anak-anak mereka.
"Seandainya Ibu tidak kelihatan begitu sedih waktu kita pergi," ujar Sehun, mengembalikan perhatian Chanyeol padanya lagi. "Tapi Ibu sendiri yang mengusulkanku untuk tinggal bersama Ayah. Ibu sudah mengemas segalanya waktu kita sampai di rumah."
Mereka nyaris tersandung koper-koper di jalan masuk ketika mereka melewati ambang pintu depan setelah makan malam tadi. "Siapa mau pergi ke mana?" tanya Sehun, merasa dirinya sedang melontarkan gurauan.
Dengan serius Kyungsoo mengatakan pada mereka bahwa menurutnya lebih baik jika Sehun tinggal bersama Chanyeol untuk sementara waktu.
Awalnya mereka terlalu terkejut untuk berkata-kata. Tapi setelah memikirkan gagasan itu, mereka sangat menyukainya dan langsung setuju.
"Menurut Ayah, Ibu bersungguh-sungguh tidakbwaktu dia bilang dia tidak keberatan, bahwa dia memang menginginkanku pergi?" tanya Sehun ragu.
"Kita cuma bisa mempercayai kata-katanya, Sehun. Dia mengulanginya beberapa kali." Chanyeol terdengar jauh lebih yakin daripada yang dirasakannya.
Kyungsoo tampak seperti nyaris tersungkur ke jurang emosional sewaktu memeluk Sehun, walaupun wanita itu tampak tabah.
"Dia tahu kalau ini hanya untuk sementara, kan?"
"Tentu," jawab Chanyeol.
"Dia tahu kalau aku akan pulang di hari ulang tahunku. Aku sudah janji."
"Janji yang akan kita tepati bersama."
"Kalau begitu kurasa Ibu akan baik-baik saja."
"Kurasa begitu."
Kyungsoo sama sekali tidak tampak baik baik saja sewaktu mereka pergi. Tapi ia menegaskan bahwa Sehun harus segera m pergi. Malam ini. Seolah-olah ia tidak mau ada waktu untuk memikirkannya kembali.
Chanyeol mengaku pada dirinya sendiri bahwa ia senang dengan gagasan ini. Begitu juga dengan Sehun. Lalu kenapa masing-masing merasa dirinya, entah bagaimana, menelantarkan Kyungsoo?
...
Venus melonjak-lonjak kegirangan bertemu Sehun lagi. Anjing itu mengejar ekornya sendiri, berpu tar-putar dengan heboh sebelum akhirnya menyudahibaksinya dan kembali tenang.
"Aku boleh berenang?" tanya Sehun segera setelah ia menaruh koper-kopernya di salah satu kamar tamu yang kosong.
"Silakan saja. Tapi ada beberapa peraturan di rumah ini. Tidak boleh meninggalkan handuk atau pakaian basah di tepi kolam. Letakkan di ruang cuci."
"Sama seperti di rumah."
"Pastikan juga pintu gerbangnya terkunci dan matikan lampunya sebelum kau masuk."
"Ya, Tuan." Kata Sehun dengan nada bercanda.
Hampir satu jam setelahnya Sehun memasuki ruangan kecil yang dipakai Chanyeol sebagai ruang kerjanya di rumah. Dinding-dindingnya dipenuhi foto-fotonya sebagai pilot pesawat jet Angkatan Laut yang diambil di atas pesawat di berbagai pangkalan udara di seluruh dunia.
Foto-foto lainnya merekam kariernya sebagai astronot. Melihat pesawat ulang-alik Victory, Sehun mengomentarinya.
"Ibu membangunkanku pagi itu untuk menonton peluncurannya. Aku nyaris takut untuk menontonnya. Kami bersorak ketika semuanya berjalan lancar."
"Aku juga," ujar Chanyeol tersenyum menertawakan dirinya sendiri. "Aku akan memberimu salah satu foto itu dan meminta semua awak pesawat untuk menandatanganinya supaya bisa kau pajang di kamar."
"Terimakasih. Pasti keren."
"Apa Venus ikut masuk denganmu tadi?"
''Ya."
"Aku belum melihatnya. Biasanya dia berusaha naik ke pangkuanku di saat seperti ini."
"Dia, eh, ada di tempat tidurku."
Chanyeol mengangkat kedua tangannya ke atas. "Dasar wanita!"
Sehun tertawa, tapi seperti dipaksakan. "Kurasa kau sudah banyak berhubungan dengan mereka."
"Apa, wanita?"
Sehun berdeham. "Ya."
Chanyeol berusaha untuk menatap matanya, tapi Sehun tidak mau membalas tatapannya. "Ada yang mau kau tanyakan padaku, Sehun?"
Anak itu mengangkat bahu, membuat bahunya yang kurus terangkat naik, lalu turun. "Ibu dan aku sering membicarakannya. Tentang seks, maksudku."
"Dan?"
"Well, aku kan bukan anak kecil lagi. Aku tahu semuanya."
"Hmm."
"Aku belum pernah melakukannya, tentu saja, tapi aku sudah bertahun-tahun melakukan french kiss."
Chanyeol berusaha untuk menahan wajahnya agar tetap datar. Bersandar di kursi kulitnya yang berwarna krem, ia menautkan jari-jarinya di atas perutnya yang rata dan berkata, "Tentu saja."
"Dan ada beberapa gadis yang membiarkanmu, Ayah tahu kan, menyentuh mereka... di tempat-tempat tertentu."
"Hmm."
"Ibu tidak bodoh. Dia bilang dia tahu bahwa aku ingin, Ayah tahu kan... tidur dengan gadis."
"Ya."
"Ibu bilang aku tidak normal kalau tidak meng inginkannya. Ya ampun!" Sehun mengerang. "Aku kedengaran seperti orang brengsek saja."
"Kebanyakan dari kita merasa seperti itu kalau kita membicarakan masalah ini, Sehun. Lupakan kau kedengaran seperti apa. Lanjutkan dan keluarkan apa yang ada di pikiranmu."
"Well, Ibu bilang aku seharusnya tidak melihat wanita hanya dari tubuhnya saja, tapi aku juga harus mengagumi pikiran dan kepandaian serta hal-hal lainnya, Ayah tahu kan, segala hal yang membuatnya menjadi manusia. Bahwa aku harus menghargai wanita dan tidak melakukan apa pun untuk mengeksploit... eksplo—"
"Eksploitasi?"
"Iya, itu. Aku tahu artinya, aku hanya tidak bisa mengucapkannya."
"Ibumu benar, Sehun."
Sehun menatapnya dengan tatapan yang persis sama dengan tatapannya sendiri. "Ayah tidak melakukannya. Tidak dengan Ibuku."
Chanyeol-lah yang pertama kali mengalihkan pandangannya setelah mereka lama bertatapan. Biasanya ia tidak suka ditegur dan akan marah mendengarnya. Ia mengkritik dirinya sendiri dengan keras dan jarang mau menerima kritikan dari orang lain. Apalagi dibuat merasa bersalah. Tapi di bawah tatapan tajam anaknya, ia merasa tidak nyaman dan sangat berdosa.
"Tidak, aku tidak melakukannya, Sehun. Aku berharap kau lebih bertanggung jawab dalam menjalin hubungan daripada yang kulakukan dengan Baekhyun."
"Ayah tidak marah karena aku mengatakan hal itu, kan?"
"Tidak. Justru sebaliknya, aku menghargaimu karena menegurku mengenai hal itu. Baekhyun tidak jujur padaku, tapi seharusnya aku sendiri berjaga-jaga supaya dia tidak sampai hamil."
"Aku bahkan tidak mengingatnya, kurasa karena itulah aku tidak terlalu marah mengenai hal itu. Seandainya Ayah menyakiti Ibu, Ibu Kyungsoo maksudku, itu lain masalah." Ia tersenyum lebar. "Lagi pula, kalau Ayah memakai kondom, aku tidak akan ada di sini."
"Untuk alasan itu, dan hanya karena alasan itulah, aku senang aku tidak memakainya."
Sehun menundukkan kepalanya dan bergumam malu. "Yah, sekali lagi, selamat malam."
"Kita harus berangkat pagi supaya kau tidak terlambat sekolah."
"Aku pasti bangun. Ibu sudah membawakan jam bekerku."
Anak itu bersandar di sisi pintu,vmenelusuni serat kayu dengan ujung jarinya. "Ada lagi Sehun?" tanya Chanyeol, melihat keengganannya untuk pergi. "Peraturan lain di rumah ini adalah siapa pun yang memikirkan sesuatu harus mengungkapkannya."
"Aku hanya bertanya-tanya mengapa Ayah sering menemui Ibu akhir-akhir ini. Apakah karena aku?"
"Kami banyak menghabiskan waktu membicarakan tentang dirimu," Chanyeol mencoba mengelak.
"Oh," ujar Sehun, tampak kecewa. "Aku pikir karena Ayah menganggapnya cantik."
"Aku menganggapnya cantik."
"Benarkah?" Wajah Sehun berseri-seri.
"Sangat cantik."
"Ah, yah, baguslah kalau begitu. Aku harus tidur sekarang. Selamat malam. Senang berada di sini, Ayah."
"Aku juga senang kau ada di sini."
Selama beberapa menit setelah Sehun meninggalkan ruangan, Chanyeol masih terus tersenyum. Tiap kali ia mengingat beberapa bagian khusus dari perbincangban mereka, ia tersenyum lagi.
Ia terkejut mendapati dirinya begitu puas dengan percakapan dari hati ke hati itu. Ia mematikan lampu di ruang kerjanya dan pergi ke kamar tidurnya, menanggalkan pakaian dan naik ke tempat tidur. Chanyeol melipat tangan di bawah kepalanya, lalu menatap kipas angin yang berputar perlahan di langit-langit dan merenungkan betapa akhir-akhir ini segi-segi lain dan kehidupannya, terutama kehidupan seksnya, begitu tidak memuaskan.
Dipikir-pikir lagi, ia tidak memiliki kehidupan seks setelah bertemu kembali dengan Kyungsoo Do.
Sudah berapa lama, satu, dua minggu? Park Chanyeol menjalani dua minggu tanpa bercinta? Keterlaluan! Mana ada yang seperti itu! Kalau sampai orang-orang kantor tahu, ia akan menjadi bulan-bulanan. Tapi anehnya, ia tidak merasa terdorong untuk melakukan sesuatu tentang hal itu. Ia lebih suka menunggu. Ia lebih suka menunggu wanita itu.
Gairahnya begitu kuat hingga sering terasa menyakitkan, tapi pada saat-saat tertentu begitu manis hingga gairah itu sendiri sudah terasa memuaskan.
Baling-baling kipas angin membentuk bayangan berputar di dinding. Bayangan itu sama kelabunya dengan warna mata Kyungsoo. Dari matanya, angan Chanyeol melayang ke bibirnya, bentuknya yang menggoda, rasanya yang manis, responsnya yang tanpa paksaan, bahkan gairah Kyungsoo yang ditahan terhadap ciuman-ciumannya.
Ia membayangkan payudara wanita itu, kecil, namun sangat sensitif akan sentuhannya. Dan rasa kulitnya. Membayangkan pusarnya. Pekik kecil dan seksi yang disuarakan Kyungsoo ketika bibir Chanyeol...
Ketika ia mulai terlelap, angan-angan itu mengikutinya hingga ke alam mimpi.
.
.
TBC
.
.
A/N : Ih, Chansoo gak di real life, gak di ff, bikin aku greget. Aku udah liat 9888767801 kali potongan video Chansoo yang di Sohu interview, tapi pas liat lagi masih aja greget.
.
Terimakasih readers, reviewers, likers, dan followers ff remake ini. Saya pengen namatin ini sebelum liburan berakhir.
MAAF GAK BISA UP BEBERAPA CHAP, SAYA GAK PENGEN BEBERAPA MOMEN SETELAH INI (SAMPAI END) KEPOTONG. JADI DITUNGGU YA...
Dan jangan lupa untuk review
Remake karya orang lain ternyata juga butuh energi, dan review kalian adalah salah satu sumbernya
.
.
Kecup basah,
Angelsoo
01262017
