Maaf kalau chapter kemarin kurang memuaskan! . Saya juga merasa kurang, jadi saya berusaha membenahinya di chap ini. Happy reading!
/Chapter 13/
"Naru-chan!"
Naruto yang seperti biasa, sedang menyalin catatan milik Sasuke kali ini, mendongak dari kegiatannya begitu namanya dipanggil. Ia tak tampak heran ketika Ino menghampirinya dengan tampang cemberut plus sebal.
"Ada apa, Ino?" tanya Naruto, walaupun sebenarnya dia sudah punya dugaan tentang apa yang akan dikatakan Ino dengan tampang jelek begitu.
"Aku kemarin mencari sepupumu, tapi dia tidak ada. Dan dia juga belum meneleponku atau mengirimkan satu pesanpun padaku. Padahal dulu kau bilang kalau dia akan menghubungiku begitu pementasan kita selesai. Dan itu sangat menyebalkan! Katakan padaku, Naruto, jangan-jangan dia sudah punya cewek? Jawab dengan jujur."
Naruto hanya bisa mengedipkan matanya beberapa kali, kagum akan keahlian Ino yang bisa mengatakan keseluruhan kalimat tadi dalam satu tarikan napas. Sasuke yang duduk diam di sebelah Naruto, membaca bukunya seperti biasa, mulai memasang telinganya untuk mendengarkan setiap detail pembicaraan mereka. Ia ingin tahu reaksi Naruto.
Naruto menghela napas, meletakkan penanya dan memandang Ino dalam-dalam. "Ino, maaf, aku baru dengar semalam kalau kemarin dia baru saja jadian dengan seseorang, jadi dia tidak bisa menghubungimu," kata Naruto, berusaha membuat wajahnya sememprihatinkan mungkin. "Maafkan aku."
Ino menggigit bibirnya, matanya berkaca-kaca. Sasuke tidak mengerti kenapa ia bisa sesedih itu.
"Kau harusnya bilang lebih awal!" seru Ino, kelihatan jelas dia kecewa. "Kau harusnya bilang sejak awal kalau aku tidak ada harapan dengannya! Aku benci kau, Naruto!" dan dengan itu, ia berbalik ke tempat duduknya di samping Sakura sambil terisak.
Naruto menggeleng dan kembali melanjutkan kegiatan mencatatnya yang tidak kalah menyebalkannya dengan insiden barusan. Memang sih, tulisan tangan Sasuke lebih rapi dan lebih bagus daripada Hinata, catatannya juga lebih lengkap, tapi tetap saja, apa sih yang menarik dari menyalin catatan matematika tentang statistika yang isinya angka dan grafik semua???
"Bukan sifatmu membuat cewek lain menangis dan bisa tetap bertampang tenang seperti itu," celetuk Sasuke tiba-tiba. Bukunya sudah tergeletak di atas meja sementara dia menatap Naruto.
Naruto menoleh menghadap Sasuke. "Mau bagaimana lagi, Teme? Kau mau aku menghubunginya sekarang sebagai sepupuku?"
Sasuke menggeleng, "Nggak sih. Tapi aku suka caramu menolaknya tadi. Semuanya nyaris jujur."
Naruto menghisap ujung penanya. "Sudahlah, aku nggak mau ngomongin itu lagi. Kasihan Ino. Aku mau minta Shikamaru-kun menerangkan catatanmu yang tulisannya kecil-kecil ini saja," kata Naruto seraya bangkit dari kursinya, hendak menghampiri Shikamaru yang sedang melakukan acara tidur pagi di kursi di depan Naruto.
Tapi refleks Sasuke yang sangat luar biasa itu langsung bereaksi. Ia menarik lengan Naruto, membuatnya kembali terduduk dengan suara 'buk' keras. Mengabaikan tatapan marah dari Naruto, "Kau sama sekali tidak boleh kemana-mana. Aku pemilik catatan itu. Aku lebih paham isi catatan itu daripada siapapun di dunia ini. Sekarang, bagian mana yang kau nggak paham, Dobe?" tanya Sasuke langsung pada intinya. Ia mulai merasa kalau dirinya jadi banyak bicara akhir-akhir ini, dan itu semua salah Naruto.
Naruto memutar bola matanya. "Teme, aku tahu ini catatanmu dan pasti kau lebih mengerti isinya. Tapi," Naruto memberikan tekanan kejam pada kata hubung itu, "aku benci caramu mengatakan 'usuratonkachi' atau 'dobe' atau 'baka' atau 'idiot' atau 'moron' atau kata-kata ejekan lainnya tiap kali aku nggak mengerti satu penjelasan dan meminta kau mengulanginya. Jadi," Naruto kembali memberi penekanan, "aku lebih suka Shikamaru yang mengajariku karena walaupun dia gampang tidur, dia sangat sabar, tahu?" Naruto bohong tentu saja. Ia sama sekali tidak keberatan dengan semua panggilan penuh cemooh itu walau memang kadang membuatnya jengkel. Tapi sebenarnya alasan dia tidak mau diajari Sasuke adalah : ia yakin ia takkan bisa berkonsentrasi dengan Sasuke yang ada dihadapannya begitu dekat, berusaha menjelaskan apapun itu. Ia pasti akan lebih fokus mengamati pemuda berkulit pucat itu.
Sasuke memandang Naruto, mengangkat sebelah alisnya. "Oke kalau itu maumu, aku nggak akan mengejekmu, Dobe."
Naruto mencibir. "Berita bagus, sayang, kau baru saja melakukannya, jadi aku akan tetap ke Shikmaru dan kau nggak bisa mencegahku. Teme sialan," balas Naruto. "Lepaskan tanganmu dariku, Mesum."
Kilat di mata Naruto membuat Sasuke melepaskan tangannya, membiarkan gadis itu bangkit berdiri dengan gaya anggun yang tidak bisa ditolak cowok manapun, bahkan Sasuke, lalu pindah duduk di samping Shikamaru, membangunkan cowok itu dengan satu tusukan di punggung.
Sasuke, masih duduk diam di tempatnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada, hanya bisa memandang Naruto sebal. Ia heran kenapa ia bisa menyukai cowok-maniak-bodoh-itu.
Naruto yang masih mengamati Sasuke dari sudut matanya, setengah mati menahan tawa. Ia sangat suka ekspresi Sasuke ketika cemburu.
-
"Kau kenapa?" tanya Sakura begitu Ino duduk di sebelahnya dengan isakan hebat.
Ino menutupi wajahnya dengan tangannya, hanya menggeleng pelan dan melanjutkan tangisannya.
Walaupun Sakura bisa menjadi sangat menyebalkan kalau sudah menyangkut urusan Sasuke, tapi ia tetap merupakan sahabat yang baik. Cewek berambut pink itu merangkul sahabatnya. "Kenapa, Ino? Kau bisa cerita apapun padaku..."
Ino menghapus air matanya dan memandang Sakura. "Ini tentang sepupu Naruto..." Ino memulai. Sakura diam, mendengarkan. Ino terisak pelan, tapi melanjutkan, "Aku sudah sangat menyukainya sejak pertama kali melihatnya di Hinamizawa dulu itu..."
Sakura sedikit terkejut mendengar fakta ini. Ino sama sekali tidak pernah cerita tentang hal ini padanya, tapi ia tidak berkomentar.
"Aku minta tolong pada Naruto untuk membantuku mendekatinya sepupunya itu... soalnya mereka berdua kelihatan sangat dekat... dan Naruto bilang sepupunya berjanji akan menghubungiku begitu pementasan drama kita selesai... tapi ternyata dia bohong... mereka berdua bohong..." Ino kembali terisak hebat, "Sepupu Naruto itu sudah jadian dengan orang lain, tepat di hari pementasan, jadi dia nggak menghubungiku... kenapa dia kelihatan kayak memberikan harapan sejak awal kalau memang begini akhirnya??"
Ino menangis lagi. Sakura mengeratkan rangkulannya, berusaha menenangkan Ino.
"Sudah, nggak apa-apa. Tapi tadi kau bilang sepupu Naruto itu sudah jadian dengan orang lain?" tanya Sakura, Ino mengangguk dalam tangisnya. "Kebetulan sekali," lanjut Sakura, suaranya bergetar marah kali ini. "Naruto-chan juga baru saja jadian dengan Sasuke-kun kemarin, tepat setelah pementasan."
Saking terkejutnya, Ino mendongak dan menghentikan tangisnya. "Hah? Yang benar? Darimana kau tahu itu?"
Sakura melepaskan rangkulannya pada Ino, dan melempar tatapan membunuh ke Naruto yang sedang berkutat memahami rumus-rumus statistika dengan Shikamaru. "Aku melihat mereka ciuman di belakang audit kemarin." Mata biru Ino semakin membulat. "Dan dilihat dari gerak-gerik Sasuke-kun yang tampaknya sekarang tak bisa melepaskan diri dari Naruto, mereka memang benar jadian. Tunggu saja sampai satu sekolahan tahu tentang itu. Mampus kau, Naruto."
Ino mengikuti arah pandang Sakura. "Wow, aku nggak menyangka akhirnya Sasuke-kun memilih cewek juga."
Sakura memutar bola matanya, menatap sahabatnya. "Ino~, apa kau nggak sadar?"
Ino kembali menoleh ke Sakura. "Sadar apa?"
Sakura menghela napas, berusaha sadar. "Sepupu Naruto jadian dengan seseorang di hari pementasan. Naruto jadian di hari pementasan juga. Aku tahu mereka berdua sangat dekat, tapi masa jadian juga harinya bareng? Yang benar saja..."
"Apa maksudmu, Sakura?"
Sakura menunduk, mendekatkan kepalanya ke arah Ino. "Dengar, kau masih ingat insiden gelang di Hinamizawa itu? Jelas-jelas sepupu Naruto membawanya, dan esok harinya aku menemukan gelang itu di tas Naruto. Lalu mereka berdua jadian di hari yang sama. Dan aku yakin, Naruto pasti selalu beralasan ketika kau minta ingin bertemu dengan sepupunya atau semacamnya?"
Ino tampak berbikir sejenak sebelum mengangguk pelan. "Dia bilang biar sepupunya saja yang menghubungiku agar aku nggak perlu tahu nomor ponselnya."
"Tepat," ucap Sakura, menjentikkan jarinya. "Dan bahkan nama mereka sama. Rambut pirang yang sama. Mata biru yang sama. Hanya ada dua kemungkinan, dan sepupu bukan salah satunya. Yang pertama," kata Sakura, "mereka kembar. Dan yang kedua..."
"Mereka orang yang sama?" lanjut Ino.
Sakura mengangguk dengan seringai puas.
Ino kembali mengedarkan pandang ke Naruto yang wajah cantiknya masih tampak sebal karena tidak kunjung paham dengan apa yang dijelaskan Shiikamaru. "Tapi... itu mustahil, Sakura. Dia jelas-jelas cewek dan sepupunya jelas-jelas cowok. Kau terlalu paranoid."
"Memangnya, tadi apa yang Naruto katakan padamu tentang sepupunya yang sudah jadian?" pancing Sakura.
"'Aku baru dengar semalam kalau dia baru saja jadian dengan seseorang'?" kutip Ino.
Sakura mengangguk. "Dia nggak bilang jadian dengan 'cewek' kan? Dia bilang dia jadian dengan 'seseorang' kan? Bagaimana kalau yang dimaksud kalau dirinya sendiri yang jadian dengan Sasuke-kun?"
Ino benar-benar ternganga sekarang. "Sakura, kalau ucapanmu tentang Naruto dan sepupunya adalah orang yang sama, berarti kau menduga kalau Naruto itu aslinya cowok dan itu juga sekaligus berarti kau menduga Sasuke dan Naruto homo?"
Sakura menghela napas, tapi tidak menanggapi.
"Entahlah, Sakura..." kata Ino pelan.
Sakura mengangkat bahu, kembali duduk dengan posisi yang benar ketika bel berbunyi. "Terserah kau. Tapi lihat saja tinggi badannya yang luar biasa. Staminanya yang kayak kuda waktu main dodgeball dulu. Pokoknya aku akan mampir ke sekolah lamanya untuk menyelidiki lebih jauh pulang sekolah nanti. Kau ikut?"
Ino hanya bisa menatap Sakura.
-
"Selamat pagi," sapa Kakashi yang seperti biasa baru datang setengah jam setelah bel berbunyi. Murid-muridnya menjawab dengan malas. "Nah, minggu depan, aku akan mengadakan tes mengenai bab statistika ini," lanjutnya dengan tampang santai, seakan ia baru saja mengatakan kalau minggu depan ia akan membagi-bagikan permen gratis, bukannya tes matematika. Ia mengabaikan tampang horor yang mucul di wajah murid-muridnya dan kembali berkata, "Dan kalian semua benar-benar harus mendapat nilai bagus karena ini materi gampang. Bagi yang tidak lulus, kalian tidak diizinkan mengikuti kegiatan ekstrakurikuler apapun, dan harus mengikuti pelajaran tambahanku sepulang sekolah."
Wajah Naruto benar-benar langsung berubah pucat.
"Ini penting," tambah Kakashi. "Karena kalian akan menghadapi ujian nasional tahun depan dan aku benar-benar ingin mempersiapkan kalian sematang mungkin. Nah, kalau begitu, kita mulai saja pelajarannya..."
Naruto masih belum bergerak dari posisinya walaupun anak-anak lain sudah mulai membuka buku mereka, mencatat apa yang Kakashi terangkan di papan tulis.
"Dobe? Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke, memandang Naruto dengan sebelah alis terangkat.
Naruto menoleh ke arah Sasuke dengan gerakan slow motion. "Aku. Sama. Sekali. Tidak. Mengerti. Statistika. Dan. Aku. Pasti. Tidak. Lulus. Tes. Dan. Itu. Hanya. Berarti. Satu. Hal. Aku. Tidak. Bisa. Ikut. Ekskul. Drama. Lagi," ucap Naruto, terputus-putus. Tidak heran karena tampaknya dia memang sudah kesulitan bernapas sejak mendengar Kakashi akan mengadakan tes.
Sasuke mendengus geli. "Makanya belajar, Dobe."
Naruto tidak menanggapi ucapan itu. Ia sudah membenturkan kepalanya ke meja dengan frustasi.
"Oh, ya, aku lupa," kata Kakashi mendadak, membalikkan badannya menghadap murid-muridnya lagi. "Ada seseorang yang harus kuperkenalkan."
Kakashi berjalan keluar kelas, dan beberapa saat kemudian ia kembali dengan seseorang mengikuti di belakangnya.
"Nah, ini yang akan kuperkenalkan."
Terdengar suara pekikan dari semua cewek di kelas, membuat Sasuke mendongak untuk melihat siapa yang dibawa Kakashi.
Kali ini giliran Sasuke yang sulit bernapas.
"Ini Uchiha Niero. Dia memang kakak Sasuke, tapi dia akan menjadi guru Bahasa Inggris kalian yang baru selama sembilan bulan ini karena Mitarashi-sensei cuti hamil," Kakashi memperkanalkan, diiringi bungkukan singkat dari Uchiha Niero.
/tbc/
*dirajam readers karena bersambungnya nggak enak banget*
Mind to review? ^^
